Risalah Lengkap Shalat Jama’ dan Qashar


RISALAH LENGKAP JAMA’ DAN QOSHOR.

Sudah sering kita mendengar tentang bedanya Shalat Jama’ dan Qoshor. . Lalu ada pertanyaan Kapan kita menjama’ ? Kapan mengqashar? Tak ada salahnya kita sedikit belajar tentang Shalat Jama’ dan Shalat QoshorSilahkan membaca atau bila ingin format yang lebih baik ana siapkan dalam format word di attachment silahkan unduh.

Islam adalah agama Allah swt yang banyak memberikan kemudahan kepada para pemeluknya didalam melakukan berbagai ibadah dan amal sholehnya, sebagaimana firman Allah swt :

يُرِيدُ اللّهُ بِكُمُ الْيُسْرَ وَلاَ يُرِيدُ بِكُمُ الْعُسْرَ

Artinya : “Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu.” (QS. Al Baqoroh : 185)

وَمَا جَعَلَ عَلَيْكُمْ فِي الدِّينِ مِنْ حَرَجٍ

Artinya : “Dia sekali-kali tidak menjadikan untuk kamu dalam agama suatu kesempitan.” (QS. Al Hajj : 78)

Begitu juga dalam melaksanakan shalat, ada beberapa rukhsah/keringanan dalam kondisi-kondisi tertentu yaitu dengan jama’ dan qoshor. Menjama’ dan qoshor bukanlah suatu kewajiban namun ia hanyalah keringanan yang disunnahkan bagi mereka yang memenuhi persyaratan untuk melakukannya. Dengan demikian apabila seseorang tidak mengambil keringanan ini atau menjama’ antara dua sholat baik dengan cara taqdim atau ta’khir maka hal itu dipebolehkan dan tidak ada dosa baginya.
Jama’ dan Qoshor itu dua hal yang berbeda, sehingga qoshor boleh dilakukan dengan jama’ atau tidak dengan jama’.

A. MENJAMA’ SHALAT.

Shalat jama’ maksudnya melaksanakan dua shalat wajib dalam satu waktu. Boleh seseorang melakukan jama’ taqdim dan jama’ ta’khir.

Jama’ taqdim adalah menggabungkan dua shalat dan dikerjakan dalam waktu shalat pertama, yaitu; Dhuhur dan Ashar dikerjakan dalam waktu Dhuhur, Maghrib dan ‘Isya’ dikerjakan dalam waktu Maghrib.
Jama’ taqdim harus dilakukan secara berurutan sebagaimana urutan shalat dan tidak boleh terbalik.

Adapun jama’ ta’khir adalah menggabungkan dua shalat dan dikerjakan dalam waktu shalat kedua, yaitu; Dhuhur dan Ashar dikerjakan dalam waktu Ashar, Maghrib dan ‘Isya’ dikerjakan dalam waktu ‘Isya’.
Jama’ ta’khir boleh dilakukan secara berurutan (muwalah) dan boleh pula tidak berurutan akan tetapi yang afdhal adalah dilakukan secara berurutan sebagaimana yang dilakukan oleh Rasulullah shallallahuhu ‘alaihi wa ‘ala alihi wasallam.

Menjama’ shalat boleh dilakukan oleh siapa saja yang memerlukannya -baik musafir atau bukan- dan tidak boleh dilakukan terus menerus tanpa udzur, jadi dilakukan ketika diperlukan saja.

Termasuk udzur yang membolehkan seseorang untuk menjama’ shalatnya dalah musafir ketika masih dalan perjalanan dan belum sampai di tempat tujuan, turunnya hujan, dan orang sakit

Menjama’ (menggabungkan) shalat boleh dilakukan karena beberapa sebab, di antaranya :

[1]. Safar (Perjalanan).

Dari Anas radhiallahu ‘anhu berkata, adalah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam apabila akan bepergian sebelum matahari bergeser ke arah barat, beliau menangguhkan shalat dzuhur kemudian (setelah tiba waktu ashar beliau singgah (di suatu tempat), lalu menjama’ keduanya dan apabila matahari tergelincir sebelum berangkat, maka beliau shalat dzuhur, kemudian berangkat. (HR. Bukhari dan Muslim).

Dari Muadz bin Jabal radhiallahu ‘anhu bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam pada perang Tabuk apabila akan bepergian sebelum matahari tergelincir bergeser ke arah barat, Rasulullah mengakhirkan shalat dzuhur hingga menjama’nya dengan shalat ashar, beliau mengerjakan keduanya secara jama’. Apabila akan berangkat sebelum maghrib Rasulullah mengakhirkan hingga mengerjakannya dengan shalat isya’ yaitu menjama’nya dengan maghrib dan apabila akan berangkat setelah maghrib, Rasulullah menjama’ shalat isya dengan shalat maghrib.” (HSR. Tirmidzi dan Abu Dawud).

[2]. Hujan
Dari Ibnu Abbas radhiallahu ‘anhuma berkata, “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam menjama’ antara dzuhur dengan ashar dan maghrib dengan isya’ di Madinah bukan karena takut dan bukan (pula) karena hujan.” (HR. Muslim).

Riwayat di atas menunjukkan bahwa menjama’ shalat karena hujan sudah dikenal pada masa Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam, andaikata tidak demikian tentu tidak bermanfaat menafikan hujan sebagai sebab bolehnya menjama’ shalat. Demikian menurut penjelasan Syaikh al-Albani dalam Irwa-ul GhaIil III: 40.

”Apabila para amir (imam shalat) menjama’ shalat Maghrib dan Isya’ ketika hujan, Ibnu ’Umar ikut menjama’ shalat bersama mereka.” HR. Malik dalam Al Muwatho’ (1/145). Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih. Lihat Irwa’ul Gholil no. 583.

Hilfaaz Collections

Hilfaaz Collections

Tentang hujan ada beberapa keterangan:

Hanya Boleh Menjama’ Shalat, Tanpa Mengqoshor

Yang dimaksud mengqoshor shalat adalah meringkas shalat yang jumlahnya empat raka’at (shalat Zhuhur, ’Ashar, dan ’Isya) menjadi dua raka’at.

Perlu diperhatikan di sini, bahwa menjama’ shalat ketika hujan adalah hanya menggabungkan dua shalat saja di salah satu waktu, tanpa mengqoshornya. Karena perlu dipahami bahwa menjama’ shalat tidak selamanya digabungkan dengan qoshor. Boleh melakukan jama’ saja tanpa qoshor seperti ketika hujan. Sedangkan ketika safar, boleh menqoshor shalat saja tanpa menjama’.

Syaikh ’Abdul Aziz bin ’Abdillah bin Baz rahimahullah mengatakan, ”Tidak boleh mengqoshor shalat dalam keadaan hujan, yang dibolehkan adalah hanya menjama’ saja kalau kondisinya adalah mukim (bukan bersafar). Mengqoshor shalat merupakan hanya keringanan ketika bersafar. Wallahu waliyyut taufiq.”Lihat Majmu’ Fatawa Ibnu Baz, 12/292, Mawqi’ Al Ifta’.

Jama’ Ketika Hujan Dilakukan dengan Imam di Masjid, Bukan di Rumah

Jama’ ketika hujan ini hanya boleh dilakukan di masjid bersama imam masjid. Karena ketika di masjid barulah ada kesulitan. Sedangkan jika seseorang berinisiatif shalat di rumah ketika hujan, maka ia tidak mendapat kesulitan sama sekali.

Dalam Fatawal Al Lajnah Ad Da-imah (Komisi Fatwa di Saudi Arabia) no. 4554 terdapat pertanyaan,

س: ما حكم الجمع في البيت في أيام المطر أو أيام البرد إذا كنا جماعة؟ والذي نعرفه أن الجمع في المسجد وليس في البيت، أفيدونا.

”Apa hukum menjama’ shalat di rumah ketika hujan atau cuaca dingin apabila kami adalah jama’ah? Yang kami ketahui bahwa jama’ hanya di masjid bukan di rumah.”

Jawab:

”Yang dibolehkan adalah para jama’ah masjid menjama’ apabila mendapatkan sesuatu yang membolehkan untuk menjama’ (seperti hujan, pen) untuk memperoleh pahala shalat berjama’ah dan untuk memberi kemudahan bagi banyak orang. Hal ini dibolehkan berdasarkan hadits yang shohih. Adapun menjama’ dengan berjama’ah di suatu rumah karena ada udzur yang telah disebutkan maka seperti itu tidak diperbolehkan. Karena tidak adanya dalil dalam syari’at yang suci ini dan tidak adanya udzur yang menyebabkan boleh untuk menjama’ shalat. Wa billahit taufiq wa shollallahu ’ala nabiyyina Muhammad wa alihi wa shohbihi wa sallam.”
Fatwa ini ditandatangani oleh ’Abdullah bin Qu’ud dan ’Abdullah bin Ghodyan sebagai anggota, ’Abdur Rozaq ’Afifi sebagai Wakil Ketua, dan ’Abdul ’Aziz bin Baz sebagai Ketua. Fatawa Al Lajnah Ad Da’imah lil Buhutsil ‘Ilmiyyah wal Iftaa’, 8/135, Darul Ifta’.

Ukuran Hujan yang Memperbolehkan Jama’

Dalam Al Mughni disebutkan, ”Hujan yang membolehkan ses
eorang menjama’ shalat adalah hujan yang bisa membuat pakaian basah kuyup dan mendapatkan kesulitan jika harus berjalan dalam kondisi hujan semacam itu. Adapun hujan yang rintik-rintik dan tidak begitu deras, maka tidak boleh untuk menjama’ shalat ketika itu.”Al Mughni, 2/117.

Dalam Kifayatul Akhyar disebutkan, ”Orang yang tidak bepergian jauh dibolehkan untuk menjama’ shalat pada waktu pertama dari shalat Zhuhur dan Ashar atau Maghrib dan Isya’ dikarenakan hujan, menurut pendapat yang benar. Meski ada juga yang berpendapat bahwa menjama’ karena hujan hanya berlaku untuk shalat Maghrib dan Isya’ karena kondisi ketika malam itu memang lebih merepotkan. Hukum ini disyaratkan jika shalat dikerjakan di suatu tempat yang seandainya orang itu berangkat ke sana akan kehujanan sehingga pakaiannya menjadi basah. Demikian persyaratannya menurut Ar Rafii dan An Nawawi.

Namun yang benar meski hujan tidak terlalu deras asalkan membasahi pakaian.

Sedangkan Qodhi Husain memberi syarat tambahan yaitu alas kaki juga menjadi basah sebagaimana pakaian. Al Mutawalli juga menyebutkan hal yang serupa dalam kitab At Tatimmah.Kifayatul Akhyar, hal. 206-207.

Jika Masih Terlihat Mendung, Bolehkah Menjama’ Shalat?

Syaikh Muhammad bin Sholih Al ’Utsaimin rahimahullah pernah ditanya, ”Apabila langit mendung namun hujan belum turun, jalan-jalan juga tidak berlumpur, akan tetapi hujan diperkirakan akan terjadi, bolehkah menjama’ shalat?”

Syaikh rahimahullah menjawab, ”Tidak boleh menjama’ shalat dalam kondisi seperti itu karena sesuatu yang hanya perkiraan adalah sesuatu yang belum pasti terjadi. Dan betapa banyak perkiraan manusia akan terjadi hujan dengan semakin tebalnya awan, ternyata awan menghilang dan hujan pun tidak turun sama sekali.” Majmu’ Fatawa wa Rasail Ibnu ‘Utsaimin, 15/244, Asy Syamilah.

Perhatian: Tidak Boleh Bermudah-mudahan dalam Menjama’ Shalat Ketika Hujan

Dalam khutbah Jum’at pada tanggal 13/7/1412 H, Syaikh Muhammad bin Sholih Al Utsaimin -semoga Allah merahmati beliau- mengatakan,

”Tidak boleh seorang muslim mengerjakan shalat sebelum waktunya berdasarkan ijma’ (kesepakatan) kaum muslimin. Barangsiapa yang melakukan demikian dengan sengaja, maka dia telah berdosa dan shalatnya tidak sah. Barangsiapa yang melakukan demikian karena tidak tahu (jahil), maka dia tidak berdosa. Akan tetapi, ia harus mengulangi shalatnya karena shalat yang ia lakukan sebelum waktunya hanya termasuk shalat nafilah (sunnah) saja.

Termasuk mengerjakan shalat sebelum waktunya adalah menjama’ shalat Ashar di waktu Zhuhur atau shalat Isya di waktu Maghrib tanpa udzur (alasan) syar’i yang memperbolehkan untuk menjama’ shalat. Perbuatan seperti ini termasuk melanggar aturan Allah dan menentang hukum-Nya karena hal ini berarti telah meremehkan perkara yang wajib yang merupakan bagian dari rukun Islam. Perbuatan semacam ini termasuk dosa besar. Umar bin Al Khaththab radhiyallahu ’anhu telah menyatakan,

ثَلَاثٌ مِنَ الكَبَائِرِ: الجَمْعُ بَيْنَ صَلَّاتَيْنِ إِلَّا مِنْ عُذْرٍ، وَالنَّهْبِ، وَالفِرَارِ مِنَ الزَحْفِ

”Tiga perkara yang termasuk dosa besar : [1] Menjama’ dua shalat tanpa ada udzur (alasan), [2] Merampok, dan [3] Lari dari pertempuran.” … Dan sebagian orang menganggap remeh masalah ini, mereka malah menjama’ shalat Zhuhur dan Ashar serta shalat Maghrib dan Isya tanpa ada udzur sama sekali.

Imam Muslim berkata dalam kitab shohihnya (dari Ibnu Abbas, pen), ”Sesungguhnya Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam menjama’ shalat Zhuhur dan Ashar serta Maghrib dan Isya di Madinah bukan karena hujan atau bukan dalam keadaan takut.” Lalu ada yang mengatakan (pada Ibnu Abbas, pen), ”Apa yang Rasulullah inginkan dari hal ini?” Beliau berkata, ”Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam tidak ingin menyulitkan umatnya.” Jika kita betul-betul memperhatikan hadits ini akan jelas bahwa apabila hanya sekedar hujan, maka itu bukan merupakan alasan untuk menjama’ shalat, bahkan ini tidak termasuk udzur (alasan) sampai seseorang mendapatkan kesulitan bila tidak menjama’.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah mengatakan mengenai hadits Ibnu Abbas tadi, ”Jama’ yang Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam lakukan adalah untuk menghilangkan kesulitan dari umatnya. Jama’ diperbolehkan apabila ketika tidak menjama’ akan mendapatkan kesulitan. Padahal Allah ingin menghilangkan kesulitan dari umat-Nya.” Berdasarkan penjelasan Ibnu Abbas radhiyallahu ’anhuma dan perkataan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah, maka jelaslah bahwa tidak boleh seseorang menjama’ shalat hingga mendapatkan kesulitan kalau tidak menjama’nya.”
Dalam lanjutan khutbah di atas, Syaikh Al Utsaimin rahimahullah mengatakan, ”Dan telah dijelaskan oleh para ulama rahimahullah bahwa hujan yang membolehkan seseorang menjama’ dan meninggalkan shalat jama’ah adalah hujan yang menimbulkan kesulitan. Dikatakan Ibnu Qudamah dalam kitab Al Mughni, 2/375,”Hujan yang dibolehkan seseorang menjama’ shalat adalah yang membasahi pakaian dan menimbulkan kesulitan ketika keluar pada saat hujan. Adapun hujan gerimis (rintik-rintik) yang tidak membasahi pakaian maka tidak dibolehkan untuk menjama’ shalat. Adapun semata-mata jalan yang berlumpur (karena sebelumnya telah turun hujan), maka terdapat perselisihan dalam ulama mazhab (Hambali) dan di antara murid-murid Imam Ahmad, apakah termasuk alasan yang bisa dibenarkan untuk menjama’ shalat ataukah bukan? Yang benar kondisi seperti ini termasuk alasan yang dibenarkan ketika memang menimbulkan kesulitan.”

[3]. Kepentingan yang Mendesak.
Dari Ibnu Abbas radhiallahu ‘anhuma berkata, “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam menjama’ shalat dzuhur dengan shalat ashar di Madinah bukan karena takut dan bukan (pula) karena safar.” Abu Zubair bertutur, “Saya pernah bertanya kepada Sa’id, “Mengapa Rasulullah berbuat demikian itu?”, maka jawabnya, “Saya pernah bertanya kepada lbnu Abbas sebagaimana yang engkau tanyakan kepadaku ini, maka jawab Ibnu Abbas, “Rasulullah tidak ingin memberatkan seorangpun dari kalangan ummatnya.” (Shahih : Shahihul Jami’us Shaghir no: 1068).

Namun, dalam kondisi di atas, Imam Nawawi rahimahullah berkata : “Sejumlah ulama’ berpendapat bolehnya menjama’ di waktu muqim karena ada hajat (mendesak) (hukumnya) boleh, asalkan tidak menjadikannya sebagai kebiasaan (Lihat Syarh Muslim, Imam Nawawi 5/219).

Berkata Imam Nawawi rahimahullah: “Sebagian imam (ulama) berpendapat bahwa seorang yang mukim boleh menjama’ shalatnya apabila di perlukan asalkan tidak di jadikan sebagai kebiasaan.”

[4]. Sebab Sakit

Keadaan sakit menurut Imam Ahmad bisa membolehkan seseorang menjama’ shalat. Dalilnya adalah hadits nabawi:

Bahwa Rasulullah SAW menjama’ shalat bukan karena takut juga bukan karena hujan.

[5]. Sebab Haji

Para jamaah haji disyariatkan untuk menjama` dan mengqoshor shalat zhuhur dan Ashar ketika berga di Arafah dan di Muzdalifah.Dalilnya adalah hadits berikut ini:

Dari Abi Ayyub al-Anshari ra. Bahwa Rasulullah SAW menjama` Maghrib dan Isya` di Muzdalifah pada haji wada`. (HR Bukhari 1674).

[5]. Sebab Takut/Kesulitan

Dari Ibnu ’Abbas, beliau mengatakan,

جَمَعَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- بَيْنَ الظُّهْرِ وَالْعَصْرِ وَالْمَغْرِبِ وَالْعِشَاءِ بِالْمَدِينَةِ فِى غَيْرِ خَوْفٍ وَلاَ مَطَرٍ

”Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam pernah menjama’ shalat Zhuhur dan Ashar serta Maghrib dan Isya di Madinah bukan karena keadaan takut dan bukan pula karena hujan.”(HR. Muslim).

Dalam riwayat Waki’, ia berkata, ”Aku bertanya pada Ibnu ’Abbas mengapa Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam melakukan seperti itu (menjama’ shalat)?” Ibnu ’Abbas menjawab, ”Beliau melakukan seperti itu agar tidak memberatkan uma
tnya.”

Dalam riwayat Mu’awiyah, ada yang berkata pada Ibnu ’Abbas, ”Apa yang Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam inginkan dengan melakukan seperti itu (menjama’ shalat)?” Ibnu ’Abbas menjawab, ”Beliau ingin tidak memberatkan umatnya.” HR. Muslim no. 705.

Ahmad bin Abdul Halim Al Haroni –Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah- menjelaskan, “Para pekerja atau petani jika di suatu waktu mereka mengalami kesulitan, misalnya sulit mendapatkan air dan hanya diperoleh jauh sekali dari tempat shalat. Jika mereka menuju ke tempat tersebut untuk bersuci, maka nanti akan hilanglah berbagai aktivitas yang seharusnya mereka jalanin. Dalam kondisi semacam ini, mereka boleh menjama’ shalat. Lebih baik mereka mengerjakan shalat Zhuhur di akhir waktu yaitu mendekati waktu ‘Ashar. Nantinya mereka menjama’ shalat Zhuhur dan Ashar (yaitu jama’ suri), shalat Zhuhur dijama’ suri dengan dikerjakan di akhir waktu, sedangkan shalat ‘Asharnya tetap dikerjakan di awal waktu. Akan tetapi, mereka juga boleh cukup dengan tayamum jika memang harus memperoleh air yang tempatnya jauh. Mereka nanti bertayamum dan mengerjakan shalat di waktunya masing-masing. Namun yang lebih baik adalah melakukan jama’ suri seperti tadi dan tetap berwudhu dengan air, ini yang lebih afdhol (lebih utama). Walhamdulillah.” Majmu’ Al Fatawa, 21/458.

[6]. Hal Menyulitkan Seperti Banjir, Angin Kencang, Lumpur

• Banyak Lumpur/Banjir

Dari Ibnu Abbas, beliau mengatakan kepada mu’adzin pada saat hujan,”Apabila engkau mengucapkan ’Asyhadu allaa ilaha illalloh, asyhadu anna Muhammadar Rasulullah’, maka janganlah engkau ucapkan ’Hayya ’alash sholaah’. Tetapi ucapkanlah ’Sholluu fii buyutikum’ [Sholatlah di rumah kalian]. Lalu perawi mengatakan,”Seakan-akan manusia mengingkari perkataan Ibnu Abbas tersebut”. Lalu Ibnu Abbas mengatakan,”Apakah kalian merasa heran dengan hal itu. Sungguh orang yang lebih baik dariku telah melakukan seperti ini. Sesungguhnya (shalat) Jum’at adalah suatu kewajiban. Namun aku tidak suka jika kalian merasa susah (berat) jika harus berjalan di tanah yang penuh lumpur.”HR. Muslim no. 699.

Hadits ini menunujukkan bahwa hujan dan tanah yang berlumpur (karena sebelumnya hujan, pen) merupakan udzur (alasan) untuk tidak melakukan shalat jum’at. Hal ini dapat dilihat dari perkataan Ibnu Abbas di atas ”Namun aku tidak suka jika kalian merasa susah (berat)” yang merupakan illah (sebab) untuk meninggalkan shalat jum’at ketika hujan dan ketika tanah berlumpur (becek). Dan kedua hal ini termasuk kesulitan.Lihat Al Jami’ Li Ahkamish Sholah, 2/434.

Oleh karena dalam shalat jum’at dibolehkan untuk ditinggalkan ketika jalan becek, maka begitu pula untuk shalat jama’ah lainnya. Maka becek (tanah berlumpur setelah turun hujan) merupakan alasan untuk menjama’ shalat atau meninggalkan shalat jama’ah.
Syaikh Ibnu Baz dalam fatwanya pernah mengatakan ketika menjawab sebuah pertanyaan, ”Yang terpenting adalah apabila di sana terdapat sesuatu yang menyulitkan untuk ke masjid baik hujan deras maupun jalan yang sulit dilewati karena adanya lumpur dan air (setelah turun hujan), maka boleh untuk menjama’ shalat dan ini tidaklah mengapa. Namun jika tidak dijama’, maka bagi mereka terdapat udzur untuk shalat di rumah-rumah mereka karena hujan dan adanya lumpur ketika berjalan

• Angin Kencang dan Hawa Dingin

Di antara udzur (alasan) boleh menjama’ shalat dan tidak melakukan shalat jama’ah adalah adanya angin kencang disertai hawa dingin.

Sebagaimana diriwayatkan dari Ibnu Umar radhiyallahu ’anhu, beliau mengatakan,”

كَانَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ يُنَادِي مُنَادِيْهِ فِي اللَّيْلَةِ المَطِيْرَةِ أَوْ اللَّيْلَةِ البَارِدَةِ ذَاتَ الرِّيْحِ صَلُّوْا فِي رِحَالِكُمْ

”Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam biasa mengumandangkan adzan ketika malam yang hujan dan malam yang dingin disertai angin kencang, lalu diucapkan ”shalatlah di rumah-rumah kalian”.”[HR. Ibnu Majah no. 937. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih.]

Lalu apa batasan angin yang kencang disertai hawa dingin?

Syaikh Muhammad bin Sholih Al ‘Utsaimin mengatakan, ”Yang dimaksudkan dengan angin kencang adalah angin yang di luar kebiasaan. Kalau angin cuma biasa-biasa saja (angin sepoi-sepoi, pen) maka tidak diperbolehkan untuk jama’. Dan yang dimaksudkan dengan angin yang membawa hawa dingin adalah angin yang menyulitkan manusia.”Syarhul Mumthi’, 2/284.

Menjama’ pada kondisi ini dibolehkan apabila terpenuhi dua syarat yaitu:

[1] angin kencang,

[2] hawa dingin.

Ketika angin kencang, namun tidak disertai hawa dingin, maka tidak perlu ada menjama’ shalat. Juga ketika cuaca begitu dingin, namun tidak disertai angin kencang, tidak boleh pula menjama’ shalat karena kondisi sangat dingin bisa saja memakai pakaian tebal atau pakaian yang berlapis-lapis. Akan tetapi, jika ada angin kencang sehingga menerbangkan debu ke mana-mana, maka di sini barulah ada kesulitan dan diperbolehkan menjama’ shalat dalam kondisi semacam ini.Lihat penjelasan Syaikh Muhammad bin Sholih Al ‘Utsaimin di Syarhul Mumthi’, 2/284.

Tentang Pengantin dll

Sayyid Sabiq mengatakan, “Para ulama bermazhab hanbali memiliki pendapat yang longgar terkait dengan masalah menjamak shalat. Mereka membolehkan jamak taqdim ataupun ta’khir bagi orang-orang yang kerepotan untuk shalat di masing-masing waktu shalat dan orang yang diliputi ketakutan. Mereka membolehkan wanita yang sedang menyusui yang kerepotan untuk membersihkan baju yang dia pakai dari najis pada setiap waktu shalat, wanita yang mengalami istihadhah, orang yang memiliki penyakit terus menerus mengeluarkan air seni dan orang yang tidak mampu bersuci (setiap waktu shalat karena sakit atau lainnya, pent)”[Fiqih Sunnah jilid 1 hal 246, terbitan Dar al Fikr Beirut].

Menjamak shalat untuk beberapa shalat wajib adalah sebuah keringanan yang diberikan oleh Islam kepada seorang muslim yang kerepotan untuk mengerjakan shalat-shalat tersebut pada waktunya masing-masing dengan alasan kerepotan yang bisa diterima. Alasan menjadi pengantin untuk menjamak shalat adalah alasan yang mengada-ada dan tidak bisa diterima karena berdandan menor bukanlah sebuah keharusan dalam pernikahan. Banyak orang yang bisa tampil sebagai pengantin yang elegan tanpa harus dandan ‘widodari’ (bidadari).

TATA CARA SHOLAT JAMA’

Dalam melaksanakan shalat jama’, ada beberapa point yang mesti diperhatikan sebagai berikut.

Pertama : Niat Shalat Jama’
Tidak perlu adanya niat di awal ketika hendak mengerjakan shalat yang pertama. Maksudnya, boleh bagi yang ingin menjamak mengerjakan shalat zhuhur terlebih dahulu tanpa mesti ia berniat ingin menjama’ dengan shalat Ashar.
Dalam kondisi jama’ taqdim, tetap dalam keadaan bersafar atau berniat akan bersafar (masih belum bersafar) saat mengawali shalat pertama hingga selesai darinya dan mengawali shalat ke dua. Jika dia berniat menetap disaat shalat pertama atau dia tiba di negerinya sementara dirinya masih melaksanakan shalat pertama atau menjadi orang yang mukim diantara kedua shalat itu maka terputus jama’nya dikarenakan hilang sebab yang membolehkan jama’ itu dan diharuskan baginya untuk mengakhirkan shalat yang kedua.
Kedua: Bolehkah berselang di antara dua shalat jama’?
Disyaratkan bagi sahnya jama’ takhir adalah berniat menjama’ sebelum berlalunya waktu shalat pertama… Dan jika dia mengakhirkannya tanpa berniat jama’ maka ia berdosa dan shalat itu menjadi qodho dikarenakan telah kehilangan waktunya untuk melakukannya atau berniat untuknya.

Para ulama madzhab Safi’i menetapkan persyaratan lainya terhadap jama’ takhir yaitu tetap dalam keadaan safar hingga selesai kedua shalat. Jika dia menetap sebelum selesai melaksanakan kedua shalat itu maka shalat yang perta
ma menjadi qadha.

Adapun para ulama Hambali mensyaratkan keberlangsungan safar hingga masuk waktu shalat kedua. Tidaklah mengapa baginya jika selesai safar sebelum melaksanakan kedua shalat itu dan setelah masuk waktu shalat kedua. (al Mausu’ah al Fiqhiyah juz II hal 5443 – 5444)

Boleh pula dalam menjama dua shalat, kedua shalat tersebut dilakukan tanpa ada selang waktu, artinya setelah menunaikan shalat zhuhur langsung dilanjutkan dengan shalat ’Ashar. Atau boleh juga menjama’ shalat Zhuhur dan ’Ashar dengan ada selang waktu. Kedua cara ini dibolehkan.

Dari Usamah bin Zaid radhiyallahu ’anhu, beliau berkata bahwa tatkala Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam bertolak dari ’Arofah. … Tatkala sampai di Muzdalifah, beliau berwudhu dan menyempurnakannya. Kemudian diserukan iqomah, lalu beliau shalat Maghrib. Setelah shalat Maghrib, para sahabat menderumkan unta mereka di tempat persinggahan. Lalu iqomah dikumandangkan kembali, kemudian shalat Isya. Dan tidak ada shalat di antara keduanya.” HR. Bukhari no. 1672.

Hadits di atas menunjukkan bahwa sebelumnya para sahabat radhiyallahu ’anhum ajma’in tidak berniat untuk menjama’ shalat pada awal waktu. Sehingga ini menunjukkan benarnya penjelasan kami yang pertama di atas.

Hadits tersebut menunjukkan pula bolehnya menjama’ dua shalat dengan dengan ada selang waktu. Ketika selang waktu tersebut boleh diisi dengan aktifitas lainnya. Lihat Al Jaami’ Li Ahkamish Sholah, 2/ 497-499.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah menjelaskan, ”Yang benar, tidak perlu dipersyaratkan tidak ada selang waktu antara dua shalat yang hendak dijamak, baik pada jamak takdim atau pun jamak takhir. Karena syari’at sendiri tidak membatasi hal ini. ” Majmu’ Al Fatawa, 24/54.

Ketiga: Adzan cukup sekali, iqomah untuk masing-masing shalat

Dari Ibnu Mas’ud radhiyallahu ’anhu, beliau mengatakan,

إِنَّ الْمُشْرِكِينَ شَغَلُوا رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- عَنْ أَرْبَعِ صَلَوَاتٍ يَوْمَ الْخَنْدَقِ حَتَّى ذَهَبَ مِنَ اللَّيْلِ مَا شَاءَ اللَّهُ فَأَمَرَ بِلاَلاً فَأَذَّنَ ثُمَّ أَقَامَ فَصَلَّى الظُّهْرَ ثُمَّ أَقَامَ فَصَلَّى الْعَصْرَ ثُمَّ أَقَامَ فَصَلَّى الْمَغْرِبَ ثُمَّ أَقَامَ فَصَلَّى الْعِشَاءَ

”Sesungguhnya orang-orang musyrik telah menyibukkan Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam sehingga tidak bisa mengerjakan empat shalat ketika perang Khondaq hingga malam hari telah sangat gelabp Kemudian beliau shallallahu ’alaihi wa sallam memerintahkan Bilal untuk adzan. Kemudian Bilal iqomah dan beliau menunaikan shalat Dzuhur. Kemudian iqomah lagi dan beliau menunaikan shalat Ashar. Kemudian iqomah lagi dan beliau menunaikan shalat Maghrib. Dan kemudian iqomah lagi dan beliau menunaikan shalat Isya.” HR. An Nasa’i no. 662. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih li ghoirihi (shahih dilihat dari jalur lain).

Dalam riwayat Muslim disebutkan,

حَتَّى أَتَى الْمُزْدَلِفَةَ فَصَلَّى بِهَا الْمَغْرِبَ وَالْعِشَاءَ بِأَذَانٍ وَاحِدٍ وَإِقَامَتَيْنِ

”Ketika beliau sampai ke Muzdalifah, beliau menjamak shalat Maghrib dan ’Isya dengan sekali adzan dan dua kali iqomah.” HR. Muslim no. 1218.

Keempat: Mengerjakan shalat secara berurutan

Jama’ taqdim adalah menggabungkan dua shalat dan dikerjakan dalam waktu shalat pertama, yaitu; Dhuhur dan Ashar dikerjakan dalam waktu Dhuhur, Maghrib dan ‘Isya’ dikerjakan dalam waktu Maghrib.
Jama’ taqdim harus dilakukan secara berurutan sebagaimana urutan shalat dan tidak boleh terbalik.

Adapun jama’ ta’khir adalah menggabungkan dua shalat dan dikerjakan dalam waktu shalat kedua, yaitu; Dhuhur dan Ashar dikerjakan dalam waktu Ashar, Maghrib dan ‘Isya’ dikerjakan dalam waktu ‘Isya’.
Sedangkan untuk jama’ takhir ada perbedaan pendapat:
-Tetap Harus Berurutan
Ketika ingin menjama’ dua shalat, maka disyaratkan dua shalat tersebut dilakukan secara berurutan sebagaimana urutan shalat lima waktu yang ada. Karena urutan tersebut telah ditetapkan oleh syari’at. Misalnya menjama’ shalat Zhuhur dan ‘Ashar, maka shalat yang dilakukan lebih dulu adalah shalat Zhuhur 4 raka’at, setelah itu shalat ‘Ashar 4 raka’at.

Akan tetapi, jika seseorang lupa atau tidak tahu, ia ingin melakukan jama’ takhir. Ketika ada yang mengerjakan shalat ‘Isya’, ia pun berniat shalat ‘Isya’ di belakang imam tersebut. Baru setelah menunaikan shalat ‘Isya, ia menunaikan shalat maghrib yang belum ia tunaikan. Apakah shalat seperti ini sah karena tidak berurutan?

Para pakar fiqih mengatakan, “Shalatnya tidak sah. Shalat ‘Isya yang ia lakukan tidak sah. Dia harus tetap melakukan shalat ‘Isya lagi setelah melakukan shalat maghrib.”[Jama’ ta’khir boleh dilakukan secara berurutan (muwalah) dan boleh pula tidak berurutan akan tetapi yang afdhal adalah dilakukan secara berurutan sebagaimana yang dilakukan oleh Rasulullah shallallahuhu ‘alaihi wa ‘ala alihi wasallam. Penjelasan Syaikh Abu Malik dalam Shahih Fiqh Sunnah, 1/496. Beliau mengolahnya dari Syarhul Mumthi’, Syaikh Muhammad bin Sholih Al ‘Utsaimin.
Begitu juga Syaikh Al-Imam Muhammad Nashiruddin Al-Albani menjawab pertanyaan seseorang yang tertinggal shalat Maghrib dan mendapatkan Imam di masjid sedang shalat Isya, maka yang harus didahulukan oleh orang yang tertinggal shalat tersebut adalah mengikuti Imam yang sedang shalat Isya dengan niat Shalat Maghrib.
-Boleh Tidak Berurutan
Jama’ ta’khir tidak mesti Muwalah ( langsung berturut-turut). Karena waktu shalat kedua dilaksanakan pada waktunya. Seperti orang yang melaksanakan shalat Dhuhur diwaktu Ashar, setelah selesai melakukan shalat Dhuhur boleh saja dia istirahat dulu kemudian dilanjutkan dengan shalat Ashar. Walaupun demikian melakukannya dengan cara berturut –turut lebih afdhal karena itulah yang dilakukan oleh Rasulullah
Diriwayatkan oleh Imam Bukhori dan Muslim dari Anas bin Malik berkata, Dahulu Rasulullah saw jika melakukan safar (perjalanan) sebelum matahari miring, maka beliau mengakhirkan shalat zhuhur hingga waktu ashar, kemudian singgah dan beliau jamak antara keduanya. Namun jika melakukan perjalanan dan matahari telah miring, beliau lakukan shalat zhuhur terlebih dahulu kemudian beliau naik kendarannya.

Namun demikian berurutan didalam melaksanakan shalat jama’ takhir adalah sunnah bukan menjadi persyaratan karena waktu melaksanakan jama’ takhir itu adalah miliki shalat yang kedua sehingga dibolehkan bagi seorang yang melaksanakan jama’ takhir melaksanakan shalat kedua lalu yang pertama, seperti : ashar sebelum zhuhur atau isya sebelum maghrib.
Menjama’ Shalat Jum’at dan Shalat Ashar
Terkait dengan boleh tidak menjamak shalat jumat dan asar para ulama berbeda pendapat. Sebagian membolehkan jamak antara jumat dan asar, sementara sebagian lagi tidak membolehkan. Namun sebagian besar ulama dan ini merupakan pendapat yang terkuat bahwa shalat jumat dan asar tidak bisa dijama’. Menjama’ shalat jum’at dengan ashar, maka hal ini tidak diperbolehkan dengan alasan apapun baik musafir, orang sakit, turun hujan atau ada keperluan dll-, walaupun dia adalah orang yang di perbolehkan menjama’ antara Dhuhur dan Ashar.
Pasalnya, tidak ada dalil yang membolehkan pelaksanaan jama’ antara shalat jumat dan shalat asar. Baik riwayat yang berasal dari Rasulullah saw maupun yang berasal dari para sahabat.

Hal ini di sebabkan tidak adanya dalil tentang menjama’ antara Jum’at dan Ashar, dan yang ada adalah menjama’ antara Dhuhur dan Ashar dan antara Maghrib dan Isya’. Jum’at tidak bisa diqiyaskan dengan Dhuhur karena sangat banyak perbedaan antara keduanya. Ibadah harus dengan dasar dan dalil, apabila ada yang mengatakan boleh maka silahkan dia menyebutkan dasar dan d
alilnya dan dia tidak akan mendapatkannya karena tidak ada satu dalilpun dalam hal ini.

Jadi kembali kepada hukum asal, yaitu wajib mendirikan shalat pada waktunya masing-masing kecuali apabila ada dalil yang membolehkan untuk menjama’ (menggabungnya) dengan shalat lain. (Lihat Majmu’ Fatawa Syaikh Utsaimin 15/ 369-378).

Tentang shalat jumat dalam safar, kebanyakan ulama berpendapat bahwa tidak ada shalat Jum’at bagi musafir, namun apabila musafir tersebut tinggal di suatu daerah yang diadakan shalat Jum’at maka wajib atasnya untuk mengikuti shalat jum’at bersama mereka. [Lihat Al-Mughni, Ibnu Qudamah 3/216, Al-Majmu’ Syarh Muhadzdzab, Imam Nawawi 4/247-248, lihat pula Majmu’ Fatawa Syaikh Utsaimin 15/370].

Dalilnya adalah bahwasanya Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam apabila safar (bepergian) tidak shalat Jum’at dalam safarnya, juga ketika Haji Wada’ beliau Shallallahu ‘alaihi wasallam tidak melaksanakan shalat Jum’at dan menggantinya dengan shalat Dhuhur yang dijama’ (digabung) dengan Ashar [Lihat : Hajjatun Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam Kama Rawaaha Anhu Jabir -radhiallahu anhu, Syaikh Muhammad Nasiruddin Al-Albani hal 73].

Demikian pula para Khulafa Ar-Rasyidun (empat khalifah) radhiallahu anhum dan para sahabat lainnya radhiallahu anhum serta orang-orang yang setelah mereka apabila safar tidak shalat Jum’at dan menggantinya dengan Dhuhur.[Lihat Al-Mughni, Ibnu Qudamah 3/216].

B. SHALAT QOSHOR
MAKNA DAN HUKUM QOSHOR.

Qoshor adalah meringkas shalat empat raka’at (Dhuhur, Ashar dan ‘Isya’) menjadi dua rakaat.[Tafsir Ath-Thabari 4/244, Mu’jamul Washit hal 738.]

Dasar mengqoshor shalat adalah Al-Qur’an, As-Sunnah dan Ijma’ (kesepakatan para ulama).[Al-Mughni, Ibnu Qudamah 3/104 dan Al-Majmu’ Syarah Muhadzdzab 4/165.]

Allah subhaanahu wa ta’ala berfirman:

“Dan apabila kamu bepergian di muka bumi, maka tidaklah mengapa kamu mengqoshor salatmu, jika kamu takut di serang orang-orang kafir.” (QS. 4 An-Nisaa’: 101).

Dari Ya’la bin Umayyah bahwasanya dia bertanya kepada Umar ibnul Kaththab radhiallahu anhu tentang ayat ini seraya berkata: “Jika kamu takut di serang orang-orang kafir”, padahal manusia telah aman”?.
Sahabat Umar radhiallahu anhu menjawab: “Aku sempat heran seperti keherananmu itu lalu akupun bertanya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wasallam tentang hal itu dan beliau menjawab: “(Qoshor itu) adalah sedekah dari Allah kepadamu, maka terimahlah sedekah Allah tersebut.” [HR. Muslim, Abu Dawud dll. Lihat Al-jami’ li Ahkamil Qur’an, Al-Qurthubi 5/226-227.]

Dari Ibnu Abbas radhiallahu anhuma berkata: “Allah menentukan shalat melalui lisan Nabimu shallallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wasallam empat raka’at apabila hadhar (mukim) dan dua raka’at apabila safar.” [HR. Muslim, Ibnu Majah, Abu Dawud dll.]

Dari Umar radhiallahu anhu berkata: “Shalat safar (musafir) adalah dua raka’at, shalat Jum’at adalah dua raka’at dan shalat ‘Ied adalah dua raka’at.” [HR. Ibnu Majah dan An-Nasa’i dll dengan sanad sahih. Lihat sahih Ibnu Majah 871 dan Zaadul Ma’ad, Ibnul Qayim 1/467]

Dari Ibnu Umar radhiallahu anhuma berkata:
“Aku menemani Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wasallam dalam safar dan beliau tidak pernah menambah atas dua raka’at sampai wafat, kemudian aku menemani Abu Bakar radhiallahu anhu dan beliau tidak pernah menambah atas dua raka’at sampai wafat, kemudian aku menemani Umar radhiallahu anhu dan beliau tidak pernah menambah atas dua raka’at sampai wafat, kemudian aku menemani Utsman radhiallahu anhu dan beliau tidak pernah menambah atas dua raka’at sampai wafat. Dan Allah subhaanahu wa ta’ala telah berfirman: “Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri tauladan yang baik bagimu.” (QS. 33 Al-Ahzaab: 21).[HR. Bukhari dan Muslim dll. Lihat Al-Wajiz fi Fiqhis Sunnati wal Kitabil Aziz, Abdul Adhim bin Badawi Al-Khalafi 138.]

Berkata Anas bin Malik radhiallahu anhu: “Kami pergi bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wasallam dari kota Madinah ke kota Mekkah, maka beliaupun shalat dua-dua (qoshor) sampai kami kembali ke kota Madinah.” [HR. Bukhari dan Muslim.]

JARAK SAFAR YANG DIBOLEHKAN MENGQOSHOR.

Qoshor hanya boleh di lakukan oleh musafir -baik safar dekat atau safar jauh-, karena tidak ada dalil yang membatasi jarak tertentu dalam hal ini, jadi seseorang yang bepergian boleh melakukan qoshor apabila bepergiannya bisa di sebut safar menurut pengertian umumnya. Sebagian ulama’ memberikan batasan dengan safar yang lebih dari delapan puluh kilo meter agar tidak terjadi kebingunan dan tidak rancu, namun pendapat ini tidak berdasarkan dalil sahih yang jelas. [Al-Muhalla, Ibnu Hazm 21/5, Zaadul Ma’ad, Ibnul Qayyim 1/481, Fiqhus Sunnah, Sayyid Sabiq 1/307-308, As-Shalah, Prof.Dr. Abdullah Ath-Thayyar 160-161, Al-Wajiz, Abdul Adhim Al-Khalafi 138 dll.]

Namun pendapat yang tepat dalam masalah ini, tidak ada batasan tertentu untuk jarak safar yang diperbolehkan untuk mengqoshor shalat. Seseorang boleh mengqoshor shalat selama jarak tersebut sudah dikatakan safar, entah jarak tersebut dekat atau pun jauh (meskipun hanya 60 km). Karena Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sendiri tidak memberikan batasan dalam hal ini. Begitu pula secara bahasa, tidak disebutkan pula batasannya. Sehingga yang dijadikan patokan adalah ‘urf atau kebiasaan masyarakat setempat. Jika di masyarakat menganggap bahwa perjalanan dari kota A ke kota B sudah disebut safar, maka boleh di sana seseorang mengqoshor shalat dan boleh baginya mengambil keringanan safar lainnya. Atau yang bisa jadi patokan juga adalah jika butuh perbekalan ketika melakukan perjalanan. Inilah pendapat yang dianut oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, Ibnul Qayyim, dan ulama Zhohiriyah
Seorang musafir diperbolehkan mengqoshor shalatnya apabila telah meninggalkan kampung halamannya sampai dia pulang kembali ke rumahnya. [Al-Wajiz, Abdul ‘Adhim Al-Khalafi 138]

Berkata Ibnul Mundzir: “Aku tidak mengetahui (satu dalilpun) bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wasallam mengqoshor dalam safarnya melainkan setelah keluar (meninggalkan) kota Madinah.”

Berkata Anas radhiallahu anhu : “Aku shalat bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wasallam di kota Madinah empat raka’at dan di Dzul Hulaifah (luar kota Madinah) dua raka’at.” [HR. Bukhar, Muslim dll.]

KAPAN DAN SAMPAI KAPAN MUSAFIR BOLEH MENGQOSHOR?
Para ulama sepakat, musafir baru boleh mengqoshor shalat setelah ia berpisah dari negerinya. Namun bolehkah ketika sudah berniat safar dan masih di rumah atau di negerinya, ia sudah mengqoshor shalat? Jawabannya, tidak boleh. Ia masih harus menunaikan shalat secara sempurna (tanpa mengqoshor). Ketika ia sudah berpisah dari negerinya, baru ia mulai boleh mengqoshor shalat. Demikianlah pendapat yang lebih tepat. Dalilnya adalah hadits Anas bin Malik, ia berkata,

صَلَّيْتُ الظُّهْرَ مَعَ النَّبِىِّ – صلى الله عليه وسلم – بِالْمَدِينَةِ أَرْبَعًا ، وَبِذِى الْحُلَيْفَةِ رَكْعَتَيْنِ

“Aku pernah shalat Zhuhur bersama Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam di Madinah (masih belum bersafar, pen) sebanyak empat raka’at. Dan ketika di Dzulhulaifah, dikerjakan sebanyak dua raka’at.” HR. Bukhari no. 1089.
Para ulama berbeda pendapat tentang batasan waktu sampai kapan seseorang dikatakan sebagai musafir dan diperbolehkan meng-qoshor (meringkas) shalat. Jumhur (sebagian besar) ulama yang termasuk didalamnya imam empat: Hanafi, Maliki, Syafi’i dan Hambali rahimahumullah berpendapat bahwa ada batasan waktu tertentu. Namun para ulama yang lain diantaranya Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, Ibnul Qayyim, Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab, Muhammad Rasyid Ridha, Syaikh Abdur Rahman As-sa’di, Syaikh Bin Baz, Syaikh Utsaimin dan para ulama lainnya rahimahumullah berpendapat bahwa seorang musafir diperbolehkan untuk meng-qoshor shalat selama ia mempunyai niatan untuk kembali ke kampung halamannya walaupun ia berada di perantauannya selama bertahun-tahun.
Karena tidak ada satu dalilpun yang sahih dan secara tegas menerangkan tentang batasan waktu dalam masalah ini. Dan pendapat inilah yang rajih (kuat) berdasarkan dalil-dalil yang sangat banyak, diantaranya:

Sahabat Jabir radhiallahu anhu meriwayatkan, bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wasallam tinggal di Tabuk selama dua puluh hari meng-qoshor shalat. [HR. Imam Ahmad dll dengan sanad sahih.]

Sahabat Ibnu ‘Abbas radhiallahu anhuma meriwayatkan, bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wasallam tinggal di Makkah selama sembilan belas hari meng-qoshor shalat. [HR. Bukhari ]

Nafi’ rahimahullah meriwayatkan, bahwasanya Ibnu Umar radhiallahu anhuma tinggal di Azzerbaijan selama enam bulan meng-qoshor shalat. [Riwayat Al-Baihaqi dll dengan sanad sahih]

Dari dalil-dalil diatas jelaslah bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wasallam tidak memberikan batasan waktu tertentu untuk diperbolehkannya meng-qoshor shalat bagi musafir (perantau) selama mereka mempunyai niatan untuk kembali ke kampung halamannya dan tidak berniat untuk menetap di daerah perantauan tersebut. [Lihat Majmu’ Fatawa Syaikh Utsaimin jilid 15, Irwa’ul Ghalil Syaikh Al-Albani jilid 3, Fiqhus Sunnah 1/309-312.]

BILA BERSAFAR APAKAH HARUS JAMA’ QOSHOR?

Asalnya, boleh saja bagi musafir untuk menjamak shalat Zhuhur dan Ashar, atau Maghrib dan Isya’. Sebagaimana diterangkan dalam hadits Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, ia berkata,

كَانَ النَّبِىُّ – صلى الله عليه وسلم – يَجْمَعُ بَيْنَ صَلاَةِ الْمَغْرِبِ وَالْعِشَاءِ فِى السَّفَرِ

“Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa menjama’ shalat Maghrib dan Isya’ ketika safar

Namun mestikah setiap bersafar harus dilakukan jamak qoshor (menggabung antara jamak dan qoshor) atau cukup qoshor saja? Sebagaimana yang telah diketahui bahwa yang diwajibkan pada musafir adalah mengqoshor shalat.
Tidak ada kelaziman antara jama’ dan qoshor. Musafir disunnahkan mengqoshor shalat dan tidak harus menjama’, yang afdhal bagi musafir yang telah menyelesaikan perjalanannya dan telah sampai di tujuannya adalah mengqoshor saja tanpa menjama’ sebagaimana dilakukan Rasulullah shallallahu alaihi wa’ala alihi wasallam ketika berada di Mina pada waktu haji wada’, yaitu beliau hanya mengqoshor saja tanpa menjama [Lihat Sifat haji Nabi shallallahu alaihi wa’ala alihi wasallam karya Al-Albani].

Beliau shallallahu alaihi wa’ala alihi wasallam pernah melakukan jama’ sekaligus qoshor pada waktu perang Tabuk.[HR. Muslim. Lihat Taudhihul Ahkam, Al-Bassam 2/308-309]. Rasulullah shallallahu alaihi wa’ala alihi wasallam selalu melakukan jama’ sekaligus qoshor apabila dalam perjalanan dan belum sampai tujuan.[Lihat As-Shalah, Prof.Dr. Abdullah Ath-Thayyar 181. Pendapat ini adalah merupakan fatwa para ulama termasuk syaikh Abdul Aziz bin Baz].

Perlu diketahui bahwa musafir itu ada dua macam. Ada musafir saa-ir yaitu yang berada dalam perjalanan dan ada musafir naazil yaitu musafir yang sudah sampai ke negeri yang ia tuju atau sedang singgah di suatu tempat di tengah-tengah safar selama beberapa lama.

Menjama’ shalat yaitu menjamak shalat Zhuhur dan Ashar atau Maghrib dan Isya’ boleh dilakukan oleh musafir saa-ir maupun musafir naazil. Namun yang paling afdhol (paling utama) untuk musafir naazil adalah tidak menjamak shalat. Musafir naazil diperbolehkan untuk menjamak shalat jika memang dia merasa kesulitan mengerjakan shalat di masing-masing waktu atau dia memang butuh istirahat sehingga harus menjamak. Adapun untuk musafir saa-ir, yang paling afdhol baginya adalah menjamak shalat, boleh dengan jamak taqdim (menggabung dua shalat di waktu awal) atau jamak takhir (menggabung dua shalat di waktu akhir), terserah mana yang paling mudah baginya.

PILIH SHALAT JAMA’AH ATAU QOSHOR KETIKA DALAM SAFAR

Perlu diketahui, menurut pendapat yang paling kuat di antara para ulama, hukum shalat jama’ah adalah wajib bagi kaum pria. Imam Asy Syafi’i mengatakan, “Adapun shalat jama’ah, aku tidaklah memberi keringanan bagi seorang pun untuk meninggalkannya kecuali bila ada udzur.”[Ash Sholah wa Hukmu Tarikiha, Darul Imam Ahmad, Kairo-Mesir, hal. 107]

Syaikh ‘Abdul Aziz bin ‘Abdillah bin Baz mengatakan, “Apabila musafir berada di perjalanan, maka tidak mengapa dia shalat sendirian. Adapun jika telah sampai negeri tujuan, maka janganlah dia shalat sendiri. Akan tetapi hendaknya dia shalat secara berjama’ah bersama jama’ah di negeri tersebut, kemudian dia menyempurnakan raka’atnya (tidak mengqoshor). Adapun jika dia melakukan perjalanan sendirian dan telah masuk waktu shalat, maka tidak mengapa dia shalat sendirian ketika itu dan dia mengqoshor shalat yang empat raka’at (seperti shalat Zhuhur) menjadi dua raka’at.” [Majmu’ Fatawa Ibnu Baz, Mawqi’ Al Ifta’, 12/243.]

BERMAKMUM DIBELAKANG IMAM MUKIM

Ketika seorang musafir bermakmum di belakang imam mukim (tidak bersafar atau menetap), maka dia tidak mengqoshor shalatnya. Namun dia harus mengikuti imam yaitu mengerjakan shalat dengan sempurna (tanpa diqoshor).

Dari Musa bin Salamah, beliau mengatakan,

كُنَّا مَعَ ابْنِ عَبَّاسٍ بِمَكَّةَ فَقُلْتُ إِنَّا إِذَا كُنَّا مَعَكُمْ صَلَّيْنَا أَرْبَعاً وَإِذَا رَجَعْنَا إِلَى رِحَالِنَا صَلَّيْنَا رَكْعَتَيْنِ قَالَ تِلْكَ سُنَّةُ أَبِى الْقَاسِمِ -صلى الله عليه وسلم-.

“Kami pernah bersama Ibnu ‘Abbas di Makkah. Kemudian Musa mengatakan, “Mengapa jika kami (musafir) shalat di belakang kalian (yang bukan musafir) tetap melaksanakan shalat empat raka’at (tanpa diqoshor). Namun ketika kami bersafar, kami melaksanakan shalat dua raka’at (dengan diqoshor)?” Ibnu ‘Abbas pun menjawab, “Inilah yang diajarkan oleh Abul Qosim (Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam).” [HR. Ahmad 1/216. Syaikh Syu’aib Al Arnauth mengatakan bahwa sanad hadits ini hasan.]

MUSAFIR MENJADI IMAM ORANG MUKIM.

Apabila musafir dijadikan sebagai imam orang-orang mukim dan dia mengqoshor shalatnya maka hendaklah orang-orang yang mukim meneruskan shalat mereka sampai selesai (empat raka’at), namun agar tidak terjadi kebingungan hendaklah imam yang musafir memberi tahu makmumnya bahwa dia shalat qoshor dan hendaklah mereka (makmum yang mukim) meneruskan shalat mereka sendiri-sendiri dan tidak mengikuti salam setelah dia (imam) salam dari dua raka’at.
Hal ini pernah di lakukan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wasallam ketika berada di Makkah (musafir) dan menjadi imam penduduk Mekkah, beliau shallallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wasallam berkata: “Sempurnakanlah shalatmu (empat raka’at) wahai penduduk Mekkah ! Karena kami adalah musafir.” [HR. Abu Dawud..]
Beliau shallallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wasallam shalat dua-dua (qoshor) dan mereka meneruskan sampai empat raka’at setelah beliau salam.[Lihat Al-Majmu’ Syarah Muhadzdzab 4/178 dan Majmu’ Fatawa Syaikh Utsaimin 15/269]

Apabila imam yang musafir tersebut khawatir membingungkan makmumnya dan dia shalat empat raka’at (tidak mengqoshor) maka tidaklah mengapa karena hukum qoshor adalah sunnah mu’akkadah dan bukan wajib. [Lihat Taudhihul Ahkam, Syaikh Abdullah bin Abdir Rahman Al-Bassam 2/294-295]

SHALAT JUM’AT BAGI MUSAFIR.

Kebanyakan ulama berpendapat bahwa tidak ada shalat Jum’at bagi musafir, namun apabila musafir tersebut tinggal di suatu daerah yang diadakan shalat Jum’at maka wajib atasnya untuk mengikuti shalat Jum’at bersama mereka. Ini adalah pendapat imam Malik, imam Syafi’i, Ats-Tsauriy, Ishaq, Abu Tsaur, dll. [Lihat Al-Mughni, Ibnu Qudamah 3/216, Al-Majmu’ Syarh Muhadzdzab, Imam Nawawi 4/247-248, lihat pula Majmu’ Fatawa Syaikh Utsaimin 15/370.]

Dalilnya adalah bahwasanya Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wasallam apabila safar (bepergian) tidak shalat Jum’at dalam saf
arnya, juga ketika Haji Wada’ Beliau shallallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wasallam tidak melaksanakan shalat Jum’at dan menggantinya dengan shalat Dhuhur yang dijama’ (digabung) dengan AsharDemikian pula para Khulafa’ Ar-Rasyidun (empat khalifah) radhiallahu anhum dan para sahabat lainnya radhiallahu anhum serta orang-orang yang setelah mereka apabila safar tidak shalat Jum’at dan menggantinya dengan Dhuhur. [Hajjatun Nabi shallallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wasallam Kama Rawaaha Anhu Jabir -radhiallahu anhu, Karya Syaikh Muhammad Nasiruddin Al-Albani hal 73. dan Al-Mughni, Ibnu Qudamah 3/216.]

Dari Al-Hasan Al-Basri, dari Abdur Rahman bin Samurah berkata: “Aku tinggal bersama dia (Al-Hasan Al-Basri) di Kabul selama dua tahun mengqoshor shalat dan tidak shalat Jum’at.”

Sahabat Anas radhiallahu anhu tinggal di Naisabur selama satu atau dua tahun, beliau tidak melaksanakan shalat Jum’at.

Ibnul Mundzir -rahimahullah menyebutkan bahwa ini adalah Ijma’ (kesepakatan para ulama’) yang berdasarkan hadis sahih dalam hal ini sehingga tidak di perbolehkan menyelisihinya. [Lihat Al-Mughni, Ibnu Qudamah 3/216 ]
SHALAT TATHAWWU’ / NAFILAH / SUNNAH BAGI MUSAFIR.

Jumhur ulama (mayoritas) berpendapat bahwa tidak mengapa dan tidak makruh shalat nafilah/ tathawwu’ bagi musafir yang mengqoshor shalatnya, baik nafilah yang merupakan sunnah rawatib (qobliyah dan ba’diyah) maupun yang lainnya. Dalil mereka adalah bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wasallam shalat delapan raka’at pada hari penaklukan kota Makkah atau Fathu Makkah dan beliau dalam keadaan safar.[HR. Bukhari dan Muslim.]

Sebagian ulama berpendapat bahwa yang di syari’atkan adalah meninggalkan (tidak mengerjakan) shalat sunnah rawatib (qobliyah dan ba’diyah) saja ketika safar, dalil mereka adalah riwayat dari Ibnu Umar radhiallahu anhuma bahwasanya beliau melihat orang-orang (musafir) yang shalat sunnah rawatib setelah selesai shalat fardhu, maka beliaupun berkata: “Kalau sekiranya aku shalat sunnah rawatib setelah shalat fardhu tentulah aku akan menyempurnakkan shalatku (maksudnya tidak mengqoshor). Wahai saudaraku, sungguh aku menemani Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wasallam dalam safar dan beliau tidak pernah menambah atas dua raka’at sampai wafat, kemudian aku menemani Abu Bakar radhiallahu anhu dan beliau tidak pernah menambah atas dua raka’at sampai wafat, kemudian aku menemani Umar radhiallahu anhu dan beliau tidak pernah menambah atas dua raka’at sampai wafat, kemudian aku menemani Utsman radhiallahu anhu dan beliau tidak pernah menambah atas dua raka’at sampai wafat. Dan Allah subhaanahu wa ta’ala telah berfirman: “Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri tauladan yang baik bagimu.” (QS.33 Al-Ahzaab: 21). [HR. Bukhari. Lihat Zaadul Ma’ad, Ibnul Qayyim 1/315-316, 473-475, Fiqhus Sunah 1/312-313, Taudhihul Ahkam, Al-Bassam 2/223-229. Majmu’ Fatawa Syaikh Utsaimin 15/254.]

Adapun shalat-shalat sunnah/nafilah/tathawwu’ lainnya seperti shalat malam, witir, sunnah fajar, dhuha, shalat yang ada sebab -sunnah wudhu dan tahiyyatul masjid- dan tathwwu’ muthlak adalah tidak mengapa dilakukan dan bahkan tetap di syari’atkan berdasarkan hadis-hadis sahih dalam hal ini. [Kitab Ad-Dakwah, Bin Baz, lihat As-Shalah, Prof.Dr. Abdullah Ath-Thayyar 308.]

Sebelum/sesudah berangkat dari rumah(sebelum/sesudah safar) kita qashar atau jama’?

Maksud Menjamak Shalat dan Qoshor

Menjamak shalat artinya menggabungkan dua shalat dan dikerjakan di satu waktu. Shalat yang boleh dijamak hanyalah empat shalat, yaitu shalat zhuhur, ‘ashar, maghrib dan ‘isya’. Shalat zhuhur dijamak dengan shalat ‘ashar, sedangkan shalat maghrib dijamak dengan shalat ‘isya’. Sedangkan mengqoshor artinya meringkas shalat yang jumlahnya empat raka’at menjadi dua raka’at. Shalat yang boleh diqoshor hanya tiga shalat, yaitu shalat zhuhur, ‘ashar dan ‘isya, yaitu masing-masing diringkas dari empat raka’at menjadi dua raka’at.

Sebab Bolehnya Menjamak dan Mengqoshor Shalat

Ibnu Taimiyah rahimahullah memberikan pelajaran berharga yang patut kita perhatikan. Beliau rahimahullah berkata,

وَالْقَصْرُ سَبَبُهُ السَّفَرُ خَاصَّةً لَا يَجُوزُ فِي غَيْرِ السَّفَرِ وَأَمَّا الْجَمْعُ فَسَبَبُهُ الْحَاجَةُ وَالْعُذْرُ فَإِذَا احْتَاجَ إلَيْهِ جَمَعَ فِي السَّفَرِ الْقَصِيرِ وَالطَّوِيلِ وَكَذَلِكَ الْجَمْعُ لِلْمَطَرِ وَنَحْوِهِ وَلِلْمَرَضِ وَنَحْوِهِ وَلِغَيْرِ ذَلِكَ مِنْ الْأَسْبَابِ فَإِنَّ الْمَقْصُودَ بِهِ رَفْعُ الْحَرَجِ عَنْ الْأُمَّةِ

Sebab qoshor shalat khusus hanya karena seseorang itu bersafar. Tidak boleh seseorang mengqoshor shalat pada selain safar. Adapun sebab menjamak shalat adalah karena adanya hajat (kebutuhan) dan adanya udzur (halangan). Jika seseorang butuh untuk menjamak shalat, maka ia boleh menjamaknya pada safar yang singkat atau safar yang waktunya lama. Begitu pula seseorang boleh menjamak shalat karena alasan hujan dan kesulitan semacam itu, karena sakit, dan sebab lainnya. Karena ingat sekali lagi, sebab menjamak shalat adalah untuk menghilangkan kesulitan pada kaum muslimin.[1]

Jika kita benar-benar memperhatikan penjelasan di atas, Ibnu Taimiyah rahimahullah menggaris bawahi bahwa sebab kita menjamak shalat adalah karena adanya kebutuhan, bukan karena seseorang itu bersafar. Sehingga tidak setiap safar itu mesti menjamak shalat. Keringanan yang khusus ada pada safar adalah mengqoshor shalat. Moga Allah mudahkan untuk memahami hal ini.

Mulai Boleh Mengqoshor Shalat Ketika Telah Berpisah dari Negeri

Seorang musafir tidak mendapatkan keringanan safar kecuali jika ia telah keluar dari negerinya. Musafir tersebut terus mendapatkan keringanan safar hingga ia balik lagi ke negerinya. Jadi janganlah musafir tersebut mengqoshor shalat kecuali jika ia telah keluar dari kota atau negerinya (batas kotanya), sehingga tidak boleh ia mengqoshor shalat sedangkan ia masih di sakan, asrama atau rumahnya.

Dalam Syarhul Mumthi’, Syaikh Muhammad bin Sholeh Al ‘Utsaimin rahimahullah mengatakan,

ولذلك لا يجوز أن يقصر الصلاة حتى يخرج من البلد

“Oleh karena itu, tidak dibenarkan seseorang mengqoshor shalat sampai ia keluar dari negerinya.” Asy Syarhul Mumthi’, Syaikh Muhammad bin Sholeh Al ‘Utsaimin, Kitab Ash Shaum

Demikianlah pendapat jumhur ulama (mayoritas ulama). An Nawawi rahimahullah mengatakan,

ذكرنا أن مذهبنا أنه إذا فارق بنيان البلد قصر ولا يقصر قبل مفارقتها وان فارق منزله وبهذا قال مالك وأبو حنيفة واحمد وجماهير العلماء

“Menurut madzhab kami (Syafi’iyah), seorang musafir baru boleh mengqoshor shalat setelah ia berpisah dari negerinya dan tidak boleh ia mengqoshor shalat sebelum berpisah dari negerinya walaupun ia baru saja keluar dari rumahnya. Demikian hal ini juga menjadi pendapat Malik, Abu Hanifah, Ahmad dan mayoritas (jumhur) ulama.”Al Majmu’, Yahya bin Syarf An Nawawi, Mawqi’ Ya’sub, 4/349

Jika Merasa Berat, Boleh Menjamak Shalat Meskipun Masih di Negerinya

Seorang musafir boleh menjamak dua shalat sebelum safar jika ia memang merasa berat menunaikan shalat yang kedua ketika ia dalam perjalanan. Yang tidak diperkenankan dalam kondisi semacam ini adalah mengqoshor shalat. Jadi ketika masih di rumah, baru keinginan untuk bersafar dan merasa sulit mengerjakan shalat kedua saat di perjalanan, maka boleh memajukan shalat kedua ke waktu shalat pertama. Namun ingat tanpa diqoshor, hanya menjamak saja.

Syaikh Muhammad bin Sholeh Al ‘Utsaimin rahimahullah berkata,

وتبدأ أحكام السفر إذا فارق المسافر وطنه وخرج من عامر قريته أو مدينته ، ولا يحل لكم أن تجمعوا بين الصلاتين حتى تغادروا البلد إلا أن تخافوا أن لا يتيسر لكم صلاة الثانية أثناء سفركم

“Hukum safar dimulai jika seorang musafir berpisah dari negeri atau kotanya. Begitu pula tidak boleh kalian menjamak dua shalat kecuali setelah ia meninggalkan negerinya. Hal ini dikecualikan jika kalian tidak mudah mengerjakan shalat kedua di perjalanan.”Majmu’ Fatawa Ibnu ‘Utsaimin, Syaikh Muhammad bin Sholeh Al ‘Utsaimin, 15/346. Artinya di sini, Syaikh rahimahullah membolehkan jika sulit atau merasa berat mengerjakan shalat kedua di perjalanan, maka boleh memajukan shalat kedua ke waktu pertama, dilakukan shalat jamak taqdim.

Syaikh Sholeh Al Fauzan hafizhohullah berkata,

وإذا دخل وقت الظهر وأنت لم تبدأ السفر : فإنه يجب عليك أن تصلي صلاة الظهر تمامًا من غير قصر . وأما صلاة العصر : فإن كان سفرك ينتهي وقت العصر ؛ فإنك تصلي العصر تامة في وقتها إذا وصلت ، أما إذا كان السفر يستمر من الظهر إلى بعد غروب الشمس بحيث يخرج وقت العصر وأنت في السفر ، ولا يمكنك النزول لما ذكرت من أن صاحب السيارة لا يوافق على التوقف : فلا مانع من الجمع في هذه الحالة ؛ لأن هذه حالة عذر تبيح الجمع ، ولكن مع الإتمام . إذا صليت العصر مع الظهر جمع تقديم وأنت في بيتك ، وتريد السفر بعدها : فإنك تصلي الظهر والعصر تمامًا كل واحدة أربع ركعات ، ولا بأس بالجمع ؛ لأن الجمع يباح في هذه الحالة ، أما القصر : فإنه لم يبدأ وقته ؛ لأن القصر إنما يجوز بعد مفارقة البنيان الذي هو موطن إقامتك

“Jika telah masuk waktu Zhuhur dan engkau belum memulai safar, maka hendaklah engkau mengerjakan shalat Zhuhur secara sempurna (empat raka’at) tanpa mengqoshor. Adapun shalat ‘Ashar, jika engkau sampai tempat tujuan dan masih mendapati waktu ‘Ashar, maka hendaklah engkau shalat ‘Ashar secara sempurna (empat raka’at) di waktunya. Namun jika safar tersebut berlanjut mulai dari waktu Zhuhur hingga terbenamnya matahari, artinya sampai waktu ‘Ashar berakhir engkau masih di perjalanan dan sama sekali engkau tidak mampu turun dari kendaraan, juga pemilik kendaraan tidak mau untuk berhenti kala itu, maka tidak mengapa engkau menjamak dua shalat dalam kondisi semacam itu. Karena kondisi demikian masih dibolehkan untuk menjamak shalat, akan tetapi jamaknya tetap sempurna (empat raka’at, tanpa diqoshor). Jika ingin melaksanakan shalat ‘Ashar digabung dengan shalat Zhuhur (jamak takdim) sedangkan saat itu engkau masih di rumahmu dan ingin bersafar setelah itu, maka engkau kerjakan shalat Zhuhur dan ‘Ashar secara sempurna yaitu masing-masing empat raka’at, dan tidak mengapa untuk menjamak shalat saat itu. Karena ingat sekali lagi bahwa ini adalah kondisi yang dibolehkan untuk menjamak shalat. Adapun mengqoshor shalat saat itu (masih berada di rumah, belum berangkat safar), maka belum dimulai. Karena qoshor shalat hanya boleh dilakukan setelah berpisah dari negerimu.

Wallohu a’lam
Ervan 01 Pebruari 2012

Disarikan dari tulisan-tulisan para asatidz, Ust Muhammad Abduh Tuasikal, Ust Ahmad Sarwat, Ust Muhammad Chandra, Ustadz Abdullah Shaleh Al-Hadrami, Ust. Sigit Pranowo, Lc. al-Hafidz.

Link Terkait:
http://rumaysho.com/hukum-islam/shalat/2812-keringanan-menjama-shalat-ketika-mukim.html
http://rumaysho.com/hukum-islam/shalat/3355-bolehkah-menjamak-dua-shalat-sebelum-safar.html
http://rumaysho.com/belajar-islam/amalan/3176-serial-mudik-5-tujuh-permasalahan-seputar-safar.html
http://luruskanlah.blogspot.com/2011/06/seputar-hukum-shalat-jama-dan-qoshor.html
http://www.kajianislam.net/modules/smartsection/item.php?itemid=133
http://ddhongkong.org/seputar-shalat-jama-dan-qoshor/
http://ustadchandra.wordpress.com/2011/09/01/ketika-turun-hujan-diperbolehkan-menjamak-shalat/
http://www.ustsarwat.com/search.php?id=1178464547
http://www.eramuslim.com/ustadz-menjawab/cara-menjama-ta-khir.htm

http://rumaysho.com/hukum-islam/shalat/3355-bolehkah-menjamak-dua-shalat-sebelum-safar.html

//


SavedURI :Show URL

2 thoughts on “Risalah Lengkap Shalat Jama’ dan Qashar

  1. makasih mas, setidaknya 4 hal saya catat niy :1. “Begitu juga Syaikh Al-Imam Muhammad Nashiruddin Al-Albani menjawab pertanyaan seseorang yang tertinggal shalat Maghrib dan mendapatkan Imam di masjid sedang shalat Isya, maka yang harus didahulukan oleh orang yang tertinggal shalat tersebut adalah mengikuti Imam yang sedang shalat Isya dengan niat Shalat Maghrib.”mengingatkan lagi ttg bolehnya sholat jama’ah dengan beda niat dengan imam.2. “Begitu juga dalam melaksanakan shalat, ada beberapa rukhsah/keringanan dalam kondisi-kondisi tertentu yaitu dengan jama’ dan qoshor. Menjama’ dan qoshor bukanlah suatu kewajiban namun ia hanyalah keringanan yang disunnahkan bagi mereka yang memenuhi persyaratan untuk melakukannya. Dengan demikian apabila seseorang tidak mengambil keringanan ini atau menjama’ antara dua sholat baik dengan cara taqdim atau ta’khir maka hal itu dipebolehkan dan tidak ada dosa baginya.”3. “Namun mestikah setiap bersafar harus dilakukan jamak qoshor (menggabung antara jamak dan qoshor) atau cukup qoshor saja? Sebagaimana yang telah diketahui bahwa yang diwajibkan pada musafir adalah mengqoshor shalat.”karena tidak sejalan dengan nomor 2, sepertinya yg di nomor kata “diwajibkan” 3 perlu di edit. cmiww4. Sebagian ulama berpendapat bahwa yang di syari’atkan adalah meninggalkan (tidak mengerjakan) shalat sunnah rawatib (qobliyah dan ba’diyah) saja ketika safar, dalil mereka adalah riwayat dari Ibnu Umar radhiallahu anhuma bahwasanya beliau melihat orang-orang (musafir) yang shalat sunnah rawatib setelah selesai shalat fardhu, maka beliaupun berkata: “Kalau sekiranya aku shalat sunnah rawatib setelah shalat fardhu tentulah aku akan menyempurnakkan shalatku (maksudnya tidak mengqoshor). Wahai saudaraku, sungguh aku menemani Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wasallam dalam safar dan beliau tidak pernah menambah atas dua raka’at sampai wafat, kemudian aku menemani Abu Bakar radhiallahu anhu dan beliau tidak pernah menambah atas dua raka’at sampai wafat, kemudian aku menemani Umar radhiallahu anhu dan beliau tidak pernah menambah atas dua raka’at sampai wafat, kemudian aku menemani Utsman radhiallahu anhu dan beliau tidak pernah menambah atas dua raka’at sampai wafat. Dan Allah subhaanahu wa ta’ala telah berfirman: “Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri tauladan yang baik bagimu.” (QS.33 Al-Ahzaab: 21). [HR. Bukhari. Lihat Zaadul Ma’ad, Ibnul Qayyim 1/315-316, 473-475, Fiqhus Sunah 1/312-313, Taudhihul Ahkam, Al-Bassam 2/223-229. Majmu’ Fatawa Syaikh Utsaimin 15/254.]Nah yang ini berarti ttp boleh rowatib, tapi amal Rasulullah dan khulafaur rosyidin tidak seperti itu. Namun apa yg ditinggalkan mereka tidak serta merta dilarang khan yak.

  2. qwerty88888888 said: makasih mas, setidaknya 4 hal saya catat niy :1. “Begitu juga Syaikh Al-Imam Muhammad Nashiruddin Al-Albani menjawab pertanyaan seseorang yang tertinggal shalat Maghrib dan mendapatkan Imam di masjid sedang shalat Isya, maka yang harus didahulukan oleh orang yang tertinggal shalat tersebut adalah mengikuti Imam yang sedang shalat Isya dengan niat Shalat Maghrib.”mengingatkan lagi ttg bolehnya sholat jama’ah dengan beda niat dengan imam.2. “Begitu juga dalam melaksanakan shalat, ada beberapa rukhsah/keringanan dalam kondisi-kondisi tertentu yaitu dengan jama’ dan qoshor. Menjama’ dan qoshor bukanlah suatu kewajiban namun ia hanyalah keringanan yang disunnahkan bagi mereka yang memenuhi persyaratan untuk melakukannya. Dengan demikian apabila seseorang tidak mengambil keringanan ini atau menjama’ antara dua sholat baik dengan cara taqdim atau ta’khir maka hal itu dipebolehkan dan tidak ada dosa baginya.”3. “Namun mestikah setiap bersafar harus dilakukan jamak qoshor (menggabung antara jamak dan qoshor) atau cukup qoshor saja? Sebagaimana yang telah diketahui bahwa yang diwajibkan pada musafir adalah mengqoshor shalat.”karena tidak sejalan dengan nomor 2, sepertinya yg di nomor kata “diwajibkan” 3 perlu di edit. cmiww4. Sebagian ulama berpendapat bahwa yang di syari’atkan adalah meninggalkan (tidak mengerjakan) shalat sunnah rawatib (qobliyah dan ba’diyah) saja ketika safar, dalil mereka adalah riwayat dari Ibnu Umar radhiallahu anhuma bahwasanya beliau melihat orang-orang (musafir) yang shalat sunnah rawatib setelah selesai shalat fardhu, maka beliaupun berkata: “Kalau sekiranya aku shalat sunnah rawatib setelah shalat fardhu tentulah aku akan menyempurnakkan shalatku (maksudnya tidak mengqoshor). Wahai saudaraku, sungguh aku menemani Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wasallam dalam safar dan beliau tidak pernah menambah atas dua raka’at sampai wafat, kemudian aku menemani Abu Bakar radhiallahu anhu dan beliau tidak pernah menambah atas dua raka’at sampai wafat, kemudian aku menemani Umar radhiallahu anhu dan beliau tidak pernah menambah atas dua raka’at sampai wafat, kemudian aku menemani Utsman radhiallahu anhu dan beliau tidak pernah menambah atas dua raka’at sampai wafat. Dan Allah subhaanahu wa ta’ala telah berfirman: “Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri tauladan yang baik bagimu.” (QS.33 Al-Ahzaab: 21). [HR. Bukhari. Lihat Zaadul Ma’ad, Ibnul Qayyim 1/315-316, 473-475, Fiqhus Sunah 1/312-313, Taudhihul Ahkam, Al-Bassam 2/223-229. Majmu’ Fatawa Syaikh Utsaimin 15/254.]Nah yang ini berarti ttp boleh rowatib, tapi amal Rasulullah dan khulafaur rosyidin tidak seperti itu. Namun apa yg ditinggalkan mereka tidak serta merta dilarang khan yak.

    1. Tentang beda niat antara makmum dan imam, ulama berbeda pendapat tetapi yang rajih adalah boleh beda niat antara imam dan makmum seperti kisah sahabat yang shalat isya berjama’ah dng rasul saw, setelah pulang dia mengimami shalat isya kaummnya (tentu si imam berniat shalat sunnah)2 & 3. diwajibkan disini pilihan pendapat ulama jadi memang tidak serta merta dihapuskan…rukhsoh itu pilihan yg teringan..jadi seperti puasanya orang safar sekiranya memang kalo membatalkan lebih berat dibandingkan berpuasa…maka boleh dia tidak mengambil rukhsoh4. Benar

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s