Inisiatif dalam kebaikan


*Oleh M. Lili Nur Aulia

Ketika Abu Bakar ra mengetahui wafatnya Rasulullah saw. Ia tiba-tiba saja berdiri dan berpidato. Katanya, “Wahai manusia semua. Barang siapa yang menyembah Muhammad, kini Muhammad telah meninggal dunia. Dan barangsiapa yang menyembah Allah swt, maka sesungguhnya Allah swt hidup dan tidak pernah mati.” Ia lalu membaca kutipan firman Allah swt surat Ali Imran ayat 144 yang artinya :

“Dan tidaklah Muhammad kecuali dia seorang Rasul sebagaimana di masa-masa sebelumnya, Apakah bila ia mati atau terbunuh kemudian kalian kembali ke belakang (menjadi kafir). Dan barangsiapa yang kembali ke belakang, itu tidak akan memberi bahaya apapun kepada Allah. Dan Allah akan membalas orang-orang yang bersyukur.”

Saudaraku,

Sebenarnya, Abu Bakar bisa saja diam dan duduk saat mendengar informasi duka yang sangat menyedihkan itu. Abu Bakar sangat mungkin bahkan mengurung diri dirumahnya lalu menangis atas perpisahannya dengan sang Nabi saw yang begitu mulia akhlaknya, Apalagi, Rasulullah saw sudah menyebut Abu Bakar sebagati kekasihnya, Abu Bakar, sekali lagi, bisa saja melakukan kegiatan yang mungkin untuk sementara tidak terkait dengan orang lain, lantaran kesedihan dan kedukaanya yang mendalam dengan meninggalnya Rasulullah saw. Tapi itu semua tidak dilakukan Abu Bakar. Ia justru melakukan sebuah aksi yang luar biasa untuk menyelamatkan ummat Islam saat itu dari perpecahan dan persengketaan.

Saudaraku,

Mari kita buka kembali lembar sejarah, menjelang terjadinya kecamuk perang di medan Uhud, Saat itum Al Yaman (ayah dari khudzaifah) dan Tsabit bin Qais diminta menetao di kota Madinah, lantaran usia mereka sudah renta. Setelah kepergian pasukan islam ke medan Uhud, salah seorang mereka berkta, “jangan diam, apa yang sedang engkau tunggu” Demi Allah tidak ada lagi yang tersisa untuk salah seorang kita karena usianya yang sudah renta, kecuali melakukan serangan sebagaimana kedelai yang sedang kehausan. Bagaimana kalau kita ambil pedang dan kita susul Rasulullah saw ke bukit Uhud? semoga dengan demikitan, Allah swt memberikan kita karunia mati syahid.” Tak lama setelah itu, keduanya berangkat ke medan perang, meskipun usia mereka sudah tua, Mrereka menyusul Rasulullah saw dan turut terjun didalam kecamuk perang Uhud.

Sayangnya, akibat dahsyatnya peperangan Uhud kala itu, tubuh Al Yaman tersayat beberapa kali oleh pedang pasukan, hingga akhirnya ia jatuh dan meninggal, ditangan pasukan Islam. Tentu tidak dengan sengaja, Khudzaifah bin Ali Yaman yang menyaksikan

kondisi itu berteriak.” Ayahku…ayahku..” Singkat cerita, Rasululah saw memberi santunan kepada Khudzaifah atas kemautan ayahnya, tapi santunan itu disalurkan lagi untuk kaum muslimin. Sedangkan Tsabit bin Qois, akhirnya gugur syahid saat berperang melawan orang-orang musyrikin Makkah

Saudaraku,

Sirah perjalanan para pendahulu ummat ini begitu penuh nilai. Allah swt bahkan menggambarkan kondisi para sahabat dalam surat Al Imran ayat 133 “Wa saari’uu ilaaa maghfiratin..mutaqin. Atau firman Allah dalam surat Al-Baqarah ayat 148, “fastabiqul khoirat..”

Rasulullah saw juga mengajarkan kita untuk tidak menunda dan menyegarakan kebaikan yang mungkin kita lakukan :

“Segeralah melakukan tujuh amalan, apakah engkau akan menunggu masa fakir dilupakan, masa kekayaan yang merongrong, sakit yang merusak, tua yang membelenggu, mati yang sudah pasti, atau dajjal yang berupa puncak kejahatan, atau kiamat yang sangat pedih dan pilu.” (HR. Turmudzi)

Suatu hari Umar bin Khattab ra melihat sekelompok orang yang sedang duduk-duduk disalah satu tiang masjid setelah sholat jumat. Umar bertanya, “siapakah kalian?” Mereka menjawab “ Kami ini orang-orang yang bertawakkal pada Allah swt. Mendengar jawaban itu Umar bin Kahttab ra marah dan mengusir mereka sambil mengatakan

“Jangan sekali kali salah seorang kalian duduk santai tidak mau mencari rizki, lalu mengatakan “Ya Allah berilah rizki kepadaku, padahal ia tahu langit takkan menurunkan hujan emas dan perak. Dan ia tahu bahwa Allah swt berfirman, “ Bila usai sholat maka menyebarlah di muka bumi, carilah keitamaan dari Allah dan berdzikirlah yang banyak agar kalian beruntung (QS. Al Jumu’ah 10)

Saudaraku,

Semoga Allah merahmati Imam bin Hambal yang tidak mau berhenti dan duduk, Seorang ulama yang dalam lembar sejarah tentangya disebutkan sangat aktif begerak dan berpikir. Sampai-sampai Muhammad bin Ismail Ash Shaigh salah seorang muridnya bercerita,”Dalam sebuah perjalanan, kami bertemu Imam Ahmad bin Hambal sedang berjalan dan sandalnya dipegang di tangannya, menadakan is sudah letih. Ayahku lalu membantu menghimpun pakaian Imam Ahmad sambil mengatakan “Ya Abu Abdillah, apakah engkau tidak malu melakukan ini?” Sampai kapan engkau berjalan bersama mereka?,”sampai mati” (Ibnul Qoyyim,Miftah Darussaadah) Jawaban pendek yang menungjukkan keluarbiasaan semangat sang Imam

Saudaraku,

Kematian. Mari waspada dan hati-hati terhadapnya. Kita hanya berharap ia tidak datang saat kita dalam kondisi buruk. Kita hanya bisa berusaha agar ia tidak hadir menjemput ketika ada di titik bakhil. Sekarang, mari kita bergerak dan melakukan amalan yang bisa membahagiakan kita. Bahagia, saat catatan amal kita ditampilkan di akhirat.

2 thoughts on “Inisiatif dalam kebaikan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s