Mendidik Anak Itu Mudah



SERIAL OPTIMISTIC PARENTING

PENGANTAR

saat saya mengikuti seminar-seminar parenting, banyak orangtua yang mengeluh,”Ternyata mendidik anak luar biasa sulit ya. Semakin saya ikuti seminar-seminar semacam ini saya jadi semakin takut dan nggak pede dalam mendidik anak”.

Atas dasar keluhan-keluhan ini, maka sejak 2008 di Bandung saya mengembangkan konsep “parenthood”, yaitu konsep yang mengajak orangtua untuk menggali naluri, fitrah, ilham dan hikmah keayahbundaan dari dalam diri kita sendiri sebagai karunia Allah. bukan dari luar. Karena Allah tak akan membiarkan para orangtua sendirian dalam mendidik anaknya. Saya menamakannya optimistic Parenthood

Ada 7 prinsip dalam Optimistic Parenthood :

PERTAMA : Mendidik anak itu mudah

KEDUA : Allah telah mengkaruniai naluri keayahbundaan kepada orangtua untuk mendidik anaknya sendiri

KETIGA : Anak terlahir dalam fitrah kebenaran Islam

KEEMPAT : Sesungguhnya anak hidup dalam lingkungan yang baik, karena alam semesta mayoritas berpihak pada kebenaran

KELIMA : Dalam menjalani kehidupannya, Allah melindungi anak dengan akal, nurani, fitrah, malaikat dan hidayah

KEENAM : Anak adalah makhluk kuat dan tangguh, jasmani dan ruhani, tidak serentan yang kita bayangkan

KETUJUH : Allah membekali anak dengan sistem kekebalan fisik dan moral, sesuai dengan tantangan yang dihadapinya

——————————

SERIAL OPTIMISTIC PARENTING i : Anak itu tak serentan yang kita bayangkan

Dalam sebuah kitabnya, DR. Yusuf AlQaradhawi bercerita :

Tahun1937, terjadi wabah malaria di seluruh dunia. Secara teoritis seharusnya manusia saat itu punah karena malaria : karena baru saja usai Perang Dunia I, obat penangkalnya belum ditemukan, kemiskinan merajalela, dan hidup manusia saat itu sangat kotor dan jorok. Namun yang terjadi adalah bahwa manusia sama sekali tak punah, dan justru malarialah yang hampir punah Penelitian para dokter tentang penyebab daya tahan manusia terhadap malaria membuat mereka terkejut : Ternyata anak-anak yang lahir saat malaria sedang mewabah memiliki antibodi bawaan yang jauh lebih hebat dibandingkan antibodi bawaan anak-anak yang lahir sebelum dan sesudah wabah malaria.

Lalu DR. Yusuf AlQaradhawi berkata :

“Dalam Islam itu bukan hal yang mengejutkan. Karena Islam mengajarkan bahwa Allah itu hidup, berdiri, mengurusi makhluq-makhluqNya. Ia tidak mengantuk dan tidak tidur. Setiap saat Dia dalam keadaan sibuk. Allah tak akan membiarkan hamba-hambaNya berjuang sendirian menghadapi kerasnya kehidupan. Allah tak akan membebani hambanya, kecuali sesuai dengan kesanggupannya”. Maka, begitu pulalah dengan anak-anak kita. Tampaknya ia begitu lemah dan tak berdaya. tampaknya ia begitu rentan, baik secara fisik maupun mental. Tapi, bukankah fakta beribu-ribu kali membuktikan : Betapa sang bocah sering lebih cerdas daripada kita, betapa mereka jatuh dari lantai tujuh dan hanya lecet-lecet saja, betapa mereka lebih tahan penyakit daripada kita yang dewasa. Tentang moralitas ? Percayakah kita bahwa Allah juga membekali mereka dengan “basic moral antibody” yang kadarnya sesuai dengan tantangan ruang dan waktu yang mereka hadapi ? Tapi, kenapa mereka masih bisa ketularan virus moralitas ? Tentu saja bisa. Jika virusnya lebih kuat daripada antibodinya, ya pasti ketularan. Jadi, mari kita optimis terhadap anak-anak kita. Kata Mas Deddy Rahman : Santai aja lah…

——————————————–

SERIAL OPTIMISTIC PARENTING II : Shaleh itu amal, kinerja !!!

Kalau kita bertanya kepada para ayah dan ibu Muslim : Anda menginginkan anak-anak anda menjadi anak-anak yang seperti apa ? Maka saya percaya jawabannya akan sangat kompak :

“Anak shaleeeeeh….”

Namun, jika saya kembali bertanya : “Apa ciri-ciri anak shaleh itu ?” Maka mereka akan cenderung menyebutkan indikator-indikator moral, sangat normatif, dan biasanya menggunakan kata “Tak…” :

Tak durhaka pada orangtua

Tak berzina

Tak berjudi

Tak mencuri

Tak membunuh

tak menggunakan narkoba

Tak meminum khamar

Tak berdusta

Tak….

Lalu, sambil sedikit menahan geregetan, sayapun bertanya lagi penuh heran : Emangnya shaleh itu moral atau amal ? Sambil sedikit terperangah dan tergagap mereka akan menjawab :

“Am… Amal Pak, Amal shaleh…”

Ya, wajar mereka tergagap dan terperangah, karena shaleh adalah amal, kinerja. Bukan moralitas. Shaleh adalah kerja, aktivitas, produktivitas, constructiveness dan kreativitas. Shaleh adalah tancap gas, namun injak rem sebelum menabrak. Shaleh adalah amal, namun harus bermoral.

Dan membentuk anak shaleh adalah adalah membentuk manusia Mu’min yang merdeka dan progresif :

  • Yang Amar ma’ruf – nahi munkar, bukan nahi mukar – amar ma’ruf
  • Yang melaksanakan perintah Allah – meninggalkan larangannya, bukan meninggalkan larangan Allah – melaksanakan perintahNya
  • Yang menegakkan AlHaq – menghancurkan AlBathil, bukan menghancurkan AlBathil – menegakkan AlHaq
  • Yang mengejar pahala – menjauhi dosa, bukan menjauhi dosa – mengejar pahala
  • Yang berlomba-lomba dalam kebajikan

—————————

SERIAL OPTIMISTIC PARENTING III : Datangkan kebenaran, maka kebatilan akan tersingkir

Dulu, saya pernah bertanya kepada guru saya, sebut saja ustadz Lembang :

“Ustadz, saya masih melakukan beberapa maksiat kecil. Apa yang harus saya lakukan untuk menghilangkannya ?”

Lalu, beliaupun menjawab sangat singkat :

“Sibuklah…”

Saya heran dengan jawaban beliau. Yang saya harapkan adalah kiat cespleng untuk membuang sebuah keburukan. Semacam teknik untuk menyingkirkan kutil di kaki : memotong lalu membuangnya.

Tapi akhirnya saya sadar. Menghilangkan minyak dari dalam kaleng tidak harus dengan cara membuangnya. Tapi bisa dilakukan dengan cara terus-menerus menuangkan air ke dalamnya, dan sang minyakpun akan tumpah dengan sendirinya. Karena : air tak akan bercampur dengan minyak, dan berat jenis air lebih tinggi daripada minyak.

Ya, bukankah Allah telah berfirman :

“Katakanlah : telah datang kebenaran dan telah tersingkin kebathilan. Sesungguhnya kebathilan sesuatu yang pasti tersingkir” (AlQur’an)

Maha Benar Allah. Kebathilan dapat dienyahkan dengan cara mendatangkan kebenaran. Lalu, biarkan kebenaran dengan caranya sendiri mendesak kebathilan masuk ke jurang. Bukankah Rasulullah SAW juga bersabda :

“… Dan ikutilah keburukan itu dengan kebenaran, niscaya ia (kebaikan) akan menghapusnya” (AlHadits)

Sejak saat itu, maka saya tak lagi disibukkan dengan upaya mengikis-ngikis keburukan pada anak-anak saya. Tapi saya lebih fokus untuk terus mengisi kebaikan-kebaikan pada diri mereka, agar kebaikan melakukan tugasnya untuk melenyapkan keburukan. Tentunya sesekali saya juga harus terjun langsung melenyapkan keburukan pada mereka. Tapi hanya sesekali.

Dan, bismillah, bermodal keyakinan tersebut pada tahun 2004 saya memberanikan diri mendesain sebuah metode psikoterapi baru : Positive Therapy

Ah… ternyata mendidik anak itu mudah…

——————————————————————

SERIAL OPTIMISTIC PARENTING IV : Life is (still) Beautiful

Benarkah hidup ini jahat, berbahaya, menjerumuskan, melenakan dan penuh kemaksiatan, sehingga kita perlu mendidik anak-anak kita untuk pasang kuda-kuda, menatap dunia dengan mata waspada, dan tangan yang senantiasa siaga menepis godaan ?

Di satu sisi : Ya ! Begitu banyaknya ayat dan hadits yang mengingatkan kita tentang hal ini. Dan, sejumlah hadist juga mengingatkan kita tentang fenomena akhir jaman yang penuh dengan jebakan, godaan dan marabahaya. Muslim yang baik adalah yang sadar akan hal ini, dan antisipatif dalam mengahadapinya. Intinya : dunia ini adalah negeri cobaan (daarul ibtilaa’)

Namun, mari kita segera sadar, setidak-tidaknya untuk dua hal : Pertama, bahwa kita diamanahkan Allah untuk menjadi khalifah di muka bumi, dan; kedua, dunia telah Allah jadikan ladang bagi kita untuk mempersiapkan kehidupan akhirat kita.

Kita diminta oleh agama ini untuk mendidik calon khalifah, agar anak-anak kita mampu memimpin dan mengelola dunia, bukan anak-anak yang lari terbirit-birit ketika berhadapan dengan dunia. Dan untuk itu Allah telah menundukkan untuk mereka apa-apa yang ada di langit dan di bumi (taskhiir). Ajari anak-anak kita untuk optimis terhadap dunia, sehingga mereka mampu berdo’a seperti Umar bin Khaththab ra berdoa :

“Ya Allah, jadikanlah dunia ini ada dalam genggaman tangan-tangan kami, dan jangan Engkau jadikan ia bersemayam di dalam hati kami”

Kalau toh ada peringatan Allah dan RasulNya tentang bahaya dunia, itu karena kita diminta untuk bercocok-tanam di dunia ini. Bukankah di sawah selalu ada bahaya hama tikus, wereng, banjir bandang dan sebagainya ? Tapi, peringatan atas bahaya ini jangan sampai membuat anak-anak kita takut menjadi petani.

Atau, kita akan melakukan kesalahan yang sama dengan media massa ? Ekspose mereka yang berlebihan terhadap derita petani dan resiko pertanian telah membuat anak-anak kita tak mau lagi kuliah di program studi pertanian…

Kehidupan ini selalu saja indah. Dan bagaimana dunia bersikap terhadap anak-anak kita sangat tergantung dari prasangka mereka terhadap dunia. Maka ajarilah anak-anak kita berbaik sangka terhadap dunia. Lalu ajari mereka sebuah do’a sapujagad :

“Wahai Rabb kami, berikanlah kepada kami kebaikan hidup di dunia, dan kebaikan hidup di akhirat. Dan selamatkanlah kami dari azab neraka”.

Ustadz Adriano Rusfi

————————————————————————

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s