OTAK KANAN : YES !!!… OTAK KIRI : WHY NOT ???






Sejak konsep otak kanan diperkenalkan. Dunia pendidikan kita langsung menyambutnya dengan antusias, plus, seperti biasanya, sedikit latah. Tapi respons ini sangat wajar. Kita sudah letih dengan pendidikan yang extremely otak kiri di sekolah-sekolah kita. Lagipula, kita ini sebenarnya adalah bangsa otak kanan : malas tapi kreatif

Lembaga-lembaga pendidikan berebut mengembangkan otak kanan. Lalu, seorang member di group ini berkata :”Berdasarkan pengamatan, sekolah alam cenderung sangat pas untuk anak2 dengan karakter otak kanan tapi untuk anak2 dengan karakter otak kiri, tidak cocok. Begitu sebaliknya dengan sekolah terpadu”. Maka saya mencoba menjawab :

Tentang otak kanan dan kiri, sebenarnya pembelajaran di alam membutuhkan keduanya secara bersamaan, bahkan seimbang. Saya malah cemas jika sekolah alam kurang mengeksplorasi otak kiri. Jika otak kiri lemah, maka anak kita akan punya masalah besar dalam memahami proses, sistematisasi, analisis, induksi dan sebagainya.

Industri-industri raksasa di muka bumi ini, seperti Microsoft, Apple, Dell dsb adalah indusitri yang besar karena memiliki kompsisi : “Satu jagoan otak kanan dan dua puluh pakar otak kiri”. Teknologi besar karena riset, dan riset adalah pekerjaan kolaboratif kaum otak kiri. Individu-individu otak kanan hanya terlibat di entry dan endingnya saja.

Kebetulan saya adalah orang yang sangat otak kanan dan bangsa ini juga lagi demam otak kanan. Namun, demam ini juga harus segera dinetralisir dan diproporsionalkan. Jika pendidikan kontemporer kita terlalu berorientasi mendewakan otak kanan, maka saya ingin menyampaikan sebuah pesan : “Jika selisih kemampuan otak kanan dan otak kiri pada anak kita lebih dari dua standard deviasi (2 SD), maka anak kita adalah anak yang bermasalah”.

Manusia yang otak kanannya berkembang pesat, namun otak kirinya tak mampu mengimbangi, maka yang akan terjadi adalah : Punya ide tapi nggak punya konsep; Punya konsep tapi nggak punya desain; Punya desain tapi nggak punya produk; Punya produk tapi nggak bisa aplikasi. Karena, memindahkan ide ke konsep, konsep ke desain, desain ke produk, produk ke aplikasi, semuanya butuh dukungan otak kiri. Sebagai orang yang pernah sangat “kanan”, betapa dulu saya kewalahan memindahkan konsep ke desain.

Jadi terkenang dengan seorang adik kelas. Otak kanannya berkembang pesat, namun otak kirinya lemah. Idenya segudang, namun tak mampu menuangkannya dalam kalimat-kalimat yang runtut dan mudah dipahami. Karena menyusun kalimat adalah urusan otak kiri. Saya sering merasakan betapa brilyan gagasannya, tapi sekaligus kesulitan memahami apa maksudnya. Begitu juga dengan seorang teman, almarhum (rahmat Allah semoga melimpah ruah bagi yang mengajariku Sur/petisi), sangat otak kanan dan berakhir sebagai gudang gagasan.

Pernah merasa surprise dengan sebuah billboard : “Matematika Otak Kanan”. Surprise, karena saya tahu bahwa problem matematika memang bisa diselesaikan dengan otak kanan dan akan lebih taktis serta cepat. Namun selanjutnya sedih membaca tulisan dibawahnya : “Bimbingan matematika bagi siswa SD”. Kenapa harus untuk anak SD ? Kenapa bukan untuk anak SMP atau SMA ? Bukankah seharusnya matematika SD harus menggunakan otak kiri, agar anak memahami logikanya, reasoningnya, nalarnya dan prosesnya ?

ust. Adriano Rusfi

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s