PENDIDIKAN YANG TAK MELANGKAHI PROSES


Bangsa ini tak pernah kehabisan manusia-manusia berbakat luar biasa. Dalam sepakbola misalnya, Kita tak hanya punya Andik Vermansyah atau si kecil Alif. Setiap kejuaraan kelompok umur tingkat dunia, para pencari bakat sering terperangah dibuatnya. Betapa tidak : masih sangat muda, tapi tak lagi mahir bermain bola. Ya, karena mereka sudah pada tingkat mempermainkan bola di kakinya.

Lalu pinanganpun berhamburan datang dari berbagai sekolah sepakbola kelas dunia pula. Ada ajakan bergabung dari La Masia, Barcelona. Ada rayuan dari sekolah Ayax, Amsterdam. Begitu pula pinangan dari sekolah Arsenal atau AC Milan. Ya… mata siapa yang tak tergiur dan terhibur dengan dribling ciamik dan gocekan 1000 Volt ala Maradona atau Pele.

Singkat cerita, mereka bawa koper ke daratan Eropa dengan mimpi setinggi langit. Sahih sudah asa untuk menjadi Cruyff, Beckenbauer, Platini atau Zidane. Maka, kini kompetensi mengolah si kulit bundar mulai di audit, agar tahu mana yang lebih dan mana yang kurang. Agar bisa dibuatkan menu pelatihan yang pas untuk membuat mereka manjadi maestro. Lalu mereka mulai menjajal lapangan hijau di Benua Biru bersama pelatih-pelatih yang telah mencetak Messi, Van Persie, atau Maldini.

Tapi, entah kenapa, bulan madu itu berlangsung singkat, dan berakhir dengan berita buruk. Diagnosisnya hampir selalu berbunyi sama : bakat-bakat muda itu sulit berkembang !!! Putra-putra Indonesia yang mahir meliuk-liuk melewati beberapa pemain lawan ternyata mengidap penyakit BURUK DALAM KEMAMPUAN DASAR BERMAIN BOLA. Lagi-lagi cerita lama berulang : bak pesilat, mereka mahir memperagakan jurus-jurus mematikan, tapi buruk dalam kuda-kuda; jago melakukan dribbling, tapi buruk dalam passing; hebat dalam slam dunk, buruk dalam assist. Apa boleh buat, mereka divonis sebagai rumah nan indah namun pondasinya rapuh.

Dan lagu lamapun kembali diputar, judulnya “Layu Sebelum Berkembang”. Bait-baitnya bercerita tentang sebuah proses pendidikan dan pembelajaran yang selalu dilangkahi. Selalu saja ingin cepat berhasil, selalu saja memilih jalan pintas, selalu saja ingin segera menikmati hasil dari setetes-dua keringat, dan selalu saja ingin melompati sebuah takdir keberhasilan. Ya Rabbi… anak-anak negeri ini cenderung mengangkangi sunnahMu : mereka enggan melakukan pemanasan, lalu berkhir dengan ejakulasi dini.

Betapa berbedanya dengan Jepang. Awal tahun 80’an Jepang mulai menegakkan cita-cita untuk membangun peradaban sepakbolanya. Seperti biasa, tak pernah terburu-buru. Karena Jepang selalu percaya bahwa proses adalah sakral. Kaizen mengajarkan etos itu : Continuous Improvement. Maka, otoritas sepakbola Jepang mengundang Tom Byer, dari negeri Paman Sam, USA. Aneh memang, bukan mengundang pelatih yang berasal dari negeri-negeri bertradisi sepakbola semacam Brazil, Belanda, Inggris atau Spanyol.

Alasannya sangat jelas : Jepang belum ingin jago sepakbola, tapi baru pada tataran ingin menguasai dasar-dasar bermain bola. Maka Tom Byer berkeliling Jepang membangun sekolah-sekolah sepakbola dengan membawa metode Will Coerver. Persis, Will Coerver, mantan pelatih PSSI asal Belanda yang metodenya ditolah mentah-mentah oleh PSSI karena dianggap terlalu bertele-tele. Tom Byer, memang tak punya riwayat dan karir kepelatihan yang mempesona. Tapi dia adalah salah seorang pemegang sertifikat kepelatihan sekolah sepakbola terbaik di Dunia.

Jepang memang negeri yang selalu membuat iri. Mereka selalu tahu apa yang diingini dan proses mewujudkannya. Mungkin karena mereka adalah bangsa samurai, yang tahu mana strategi, mana politik, mana taktik dan mana kiat. Mereka mengundang Tom Byer, mungkin mereka belajar dari filosofi para Olimpiad : Jika ingin kuasai olahraga apapun, kuasailah atletik. Maka Jepang mendirikan sekolah sepakbola sebelum mendirikan klub sepakbola. (Ah… jadi teringat wawancara Desi Anwar dengan musisi Jazz favorit saya : Sadao Watanabe. Sadao yang besar karena menikmati proses dan tidak pernah peduli dengan hasil. Sadao yang bermain Jazz hari ini hanya untuk memperbaiki kesalahan kemarin)

Kini, 30 tahun kemudian, Jepang telah menikmati hasilnya, ketika “Seniornya”, PSSI, masih terseok-seok dengan problem internalnya. Sebagai kesebelasan, Jepang semakin ditakuti, setidaknya di ranah Asia. Para samurai mudanya baru saja menaklukkan Kampiun Spanyol 1 – 0 di ajang Olimpiade London 2012. Sedangkan sebagai individu, Jepang telah mengimpor Nakamura, Honda, Kagawa dan sebagainya. Proses selalu saja menjanjikan kenikmatan bagi yang bersabar. Sebuah peradaban tak akan pernah tertarik dengan tagline “Jika bisa sukses di usia muda, kenapa harus menunggu di usia matang” yang ditawarkan oleh acara “Young On Top” di sebuah stasiun layar kaca.

Tampaknya kurikulum peradaban Indonesia harus mengajarkan anak-anaknya untuk menghormati proses dan bersabar untuk menunggu…

Adriano Rusfi

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s