PERAN KELUARGA MUSLIM DALAM DAKWAH


Materi ini adalah materi istri yang digunakan untuk bidang kewanitaan Sukoharjo. Tidak ada salahnya dibagi di blog saya tercinta agar bermanfaat buat yang lain.

 

BAB I

PENDAHULUAN

 

Keluarga adalah unit komunitas terkecil dalam kehidupan sosial masyarakat. Keluarga adalah sekumpulan kapasitas individu dan dari keluarga lah unit-unit yang lebih besar akan dibentuk. Dalam konteks Islam, keluarga digambarkan dalam tiga kata kunci: sakinah mawaddah warahmah yang didalamnya nilai-nilai Islami kental diaplikasikan. Dan keluarga ideal seperti inilah yang menjadi cita-cita kita bersama.

 

Sedangkan kata dakwah secara essensi memiliki satu kata kunci yakni ishlah atau perbaikan. Perbaikan yang dimaksudkan di sini adalah perbaikan dalam perspektif Islam dan perbaikan dalam arti sebuah proses yang terarah dan berkesinambungan. Dalam perspektif Islam dakwah Islam ialah proses menyampaikan Islam kepada umat manusia seluruhnya dan mengajak mereka untuk komitmen dengan Islam pada setiap kondisi dan dimana serta kapan saja, dengan metodologi dan sarana tertentu, untuk tujuan tertentu”.

 

Keluarga dan dakwah adalah dua hal yang sebenarnya sangat berkaitan. Seperti yang kita ketahui dalam berbagai ayat Al Qur’an disebutkan agar kita melakukan dakwah terutama terlebih dahulu kepada keluarga dan kerabat terdekat.

 

$pkš‰r’¯»tƒ tûïÏ%©!$# (#qãZtB#uä (#þqè% ö/ä3|¡àÿRr& ö/ä3‹Î=÷dr&ur #Y‘$tR $ydߊqè%ur â¨$¨Z9$# äou‘$yfÏtø:$#ur $pköŽn=tæ îps3Í´¯»n=tB ÔâŸxÏî ׊#y‰Ï© žw tbqÝÁ÷ètƒ ©!$# !$tB öNèdttBr& tbqè=yèøÿtƒur $tB tbrâsD÷sムÇÏÈ

“Hai orang-orang yang beriman peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu…” [At-Tahrim: 6]

ö‘É‹Rr&ur y7s?uŽÏ±t㠚úüÎ/tø%F{$# ÇËÊÍÈ

Dan berilah peringatan kepada kerabat-kerabatmu yang terdekat” [Asy-Syu’ara: 214]

 

Dalam perkembangannya, proses perbaikan/dakwah dibagi dalam beberapa tahapan-tahapan dakwah Islamiah. Imam Hasan al Banna membagi tahapan-tahapan dakwah menjadi tujuh yang kemudian lebih dikenal dengan istilah maratib al amal.

 

  1. Memperbaiki diri sehingga memiliki 10 karakter mulia (Fisik kuat, akhlak kokoh, wawasan luas, memiliki profesi ma’isyah, aqidah bersih, ibadah benar, mampu mengendalikan syahwat, manajemen waktu baik, urusan teratur dan memiliki tanggung jawab sosial).
  2. Membentuk rumah tangga Muslim sehingga keluarganya menghormati fikrahnya dan konsisten terhadap nilai-nilai Islam.
  3. Mengayomi masyarakat dengan menyebarkan dakwah kebaikan, memerangi keburukan dan kemungkaran serta memotivasi masyarakat terhadap hal-hal yang bermutu.
  4. Memerdekakan tanah air Islam dan membersihkannya dari setiap pengaruh / kekuasaan asing yang tidak Islami, baik politik, ekonomi maupun spiritualitas.
  5. Memperbaiki pemerintahan sehingga menjadi benar-benar Islami. Hanya dengan itulah pemerintah benar-benar mampu menjadi pelayan umat atau pegawai masyarakat.
  6. Mengembalikan bangunan Umat Islam internasional dengan memerdekakan setiap tanah air mereka dan menghidupkan kemuliaannya, menghadirkan budayanya, menghimpun kekuatannya sehingga dengan demikian dapat mengembalikan Khilafah (sistem pemerintahan Islam Internasional) yang hilang dan terjalinnya kesatuan yang diharapkan.
  7. Sokoguru bagi dunia internasional, dengan tersebarnya dakwah Islam di seluruh penjuru bumi sehingga tidak ada lagi kezaliman dan agama ini semuanya milik Allah.”Dan Allah tidak ingin kecuali menyempurnakan cahaya-Nya”. (QS. At Taubah : 32).

 

Dari hal tersebut diatas Imam Hasan al Banna menggambarkan bagaimana proses yang harus ditempuh oleh dakwah untuk menjadikan Islam sebagai soko guru bagi peradaban semesta dan salah satunya membentuk keluarga islami yang menghormati fikrahnya dan konsisten terhadap nilai-nilai Islam.

 

Tidak boleh kita menafikan peran keluarga, karena salah satu faktor penting yang menunjang pelaksanaan dakwah para Rasul adalah dukungan keluarganya. Bagaimana mungkin kita akan mendakwahi dan mengajak orang lain pada kebaikan, sementara keluarga kita sendiri tidak pernah mendapat sentuhan-sentuhan dakwah tersebut, dan membiarkan mereka berperilaku yang bertentangan secara diametral dengan nilai-nilai kebaikan yang kita sampaikan.

 

Seseorang dikatakan sebagai pemimpin yang baik dan berhasil dalam kepemimpinannya, manakala mengusahakan seoptimal mungkin untuk membangun ketakwaan dan kesalehan di dalam keluarganya.


BAB II

PERAN KELUARGA MUSLIM DALAM DAKWAH

 

Dalam buku Hadits Tsulasa, Imam Syahid Hassan Al-Banna memberikan sebuah gambaran tentang Kehidupan rumah tangga adalah ‘hayatul amal’. Ia diwarnai oleh beban-beban dan kewajiban. Landasan kehidupan rumah tangga bukan semata kesenangan dan romantika, melainkan tolong- menolong dalam memikul beban kehidupan dan beban dakwah…”

 

Keluarga haroki adalah keluarga yang seluruh anggotanya adalah orang-orang yang memiliki komitmen pada dakwah (Islam dalam wujud yang aktif dan dinamis). Sekali lagi mereka tak harus selalu atau bahkan (mungkin) malah jarang yang bergelar “Singa Panggung” atau “Singa Podium”. Karena medan dakwah yang hakiki bukanlah di mimbar atau di masjid namun pada seluruh lapangan kehidupan.

 

Bisa jadi keluarga haraki adalah mereka yang sang ayah sehari-hari sibuk dengan kerja profesional namun memiliki komitmen menyisihkan waktu, tenaga dan dana untuk kemajuan dakwah. Atau mereka para ibu yang membuat program silaturrahim ke tetangga untuk memberi hadiah dalam rangka menumbuhkan minat mereka pada Islam dan dakwah.

 

Karena dakwah dan kecintaan pada amar ma’ruf tak membutuhkan banyak syarat dan ketrampilan. namun hanya membutuhkan iman yang mendalam (al-imanul amiiq) yang melahirkan energi ruhiyah untuk mencinta, berkorban dan beramal untuk kejayaan Islam dan umatnya.

 

Kita belajar dari bagaimana kisah keluarga-keluarga yang komitmen dalam jalan dakwah. Ada beberapa penggalan episode dalam kisah dakwah.

 

  1. Kisah Rasulullah dengan Istrinya.

 

Tatkala  Rasulullah  Saw ditemui Jibril di gua  Hira’  -saat turun wahyu pertama kali- persitiwa itu telah mengguncangkan hati dan  pikiran  beliau. Betapa tidak,  bukankah  peristiwa bertemu malaikat itu sesuatu yang tak lazim terjadi? Yang beliau  lakukan kemudian adalah  segera pulang ke rumah, bertemu isterinya! Khadijah, radliyallahu ‘anha, benar-benar tempat pulang yang baik  bagi suaminya. Perhatikanlah betapa kelembutan dan  arifnya Khadijah,  saat  Muhammad Saw  mengatakan  kepadanya  ,”Selimuti aku…selimuti aku…” dengan kekhawatiran telah terjadi sesuatu yang tidak beres pada diri beliau, Khadijah pun lembut menjawab :

“Tidak,  bergembiralah,  demi Allah! Allah sama  sekali  tak akan  membuat  kamu kecewa. Engkau seorang yang  suka  menyambung tali keluarga, selalu menolong orang yang susah, menghormati tamu dan membela orang yang berdiri di atas kebenaran!”

 

Begitupula penggalan kisah perjanjian Hudaibiyah,  antara kaum muslimin dan orang-orang kafir Quraisy. Seusai  dilaksanakan perjanjian  tersebut, hati kaum muslimin masih gerah, disebabkan tingkah laku Suhail bin Amr -wakil pihak Quraisy- yang  dianggap telah  melecehkan kaum muslimin. Tatkala Rasulullah Saw  memerin­tahkan  kepada  kaum muslimin untuk menanggalkan  pakaian ihram, mencukur  rambut dan menyembelih hewan korban, tak  satupun  yang berangkat.  Bahkan perintah itu telah beliau ulang  hingga  tiga kali.  Mereka  tak juga berangkat menunaikan perintah.

Apa  yang beliau lakukan kemudian? Ternyata  beliau masuk ke tenda, menjumpai Ummu Salamah  ra, isteri  beliau yang menyertai dalam perjalanan. Beliau  ceritakan hal  itu  kepada sang isteri. Subhanallah, ternyata ada  sesuatu yang terlupa oleh beliau, dan telah diingatkan oleh Ummu Salamah agar Beliau memberi contoh untuk melakukan hal tersebut dahulu.

Bergegas  beliau  menemui kaum muslimin,  sebagaimana  saran Ummu  Salamah,  kemudian beliau melepas pakaian  ihram,  mencukur rambut,  dan menyembelih hewan korban, tanpa mengulang  perintah. Demi  dilihatnya  sang Nabi telah mencontohkan,  tanpa  dikomando kaum muslimin melakukan hal serupa.

 

  1. Kisah Keluarga Ibrahim

 

Keluarga Ibrahim adalah keluarga dakwah dan keluarga cinta. Betapa hebatnya keluarga ini hingga setiap shalat umat Islam menyebut nama mereka. Dalam tasyahud akhir kaum muslimin di seluruh dunia berdoa agar Allah melimpahkan shalawat dan barakah kepada keluarga Muhammad Rasulullah sebagaimana Allah melimpahkan keduanya kepada keluarga Ibrahim ini.

Keluarga dakwah yang ideal ini bukan hanya karena dipimpin seorang suami yang notabene adalah seorang nabi. Istri-istri dan anak-anaknya juga teladan dalam dakwah.

“Wahai Ibrahim, ke mana engkau hendak pergi? Apakah engkau akan meninggalkan kami di lembah ini yang tidak ada seorangpun dan tak ada sesuatupun di sini?” Hajar memelas ketika sadar Ibrahim meninggalkannya berdua dengan Ismail yang masih bayi di pegunungan Faran.

Ibrahim tidak menoleh. Sebagai suami yang penuh cinta sebenarnya ia tak tega. Namun ia harus kuat. Digerakkannya kakinya untuk terus melangkah. Berkali-kali Hajar mengulang kalimatnya, Ibrahim tetap tak menoleh.

“Apakah Allah yang memerintahkan hal ini?” Hajar akhirnya sadar dengan pertanyaan kunci ini. “Ya”, jawab Ibrahim. “Kalau begitu, Allah takkan menyia-nyiakan kami.” Jika memang itu perintah Allah, memang tak perlu lagi bertanya mengapa. Logika keimanan Hajar sudah tahu apa yang harus dilakukannya; sami’na wa atha’na.

Dari ayah yang teguh dalam mengemban dakwah dan ibu yang memiliki keimanan sempurna ini, Ismail menjadi teladan putra keluarga dakwah. Maka ketika sang ayah mengajaknya bermusyawarah tentang mimpi menyembelihnya, ia dengan mantab menjawab sebagaimana dikisahkan Al-Qur’an dalam QS. Ash-Shafat ayat 103: “Wahai ayahku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar.”

 

C. Dan kisah-kisah tauladan dari keluargaImam Hasan Al Banna, Ust Cahyadi Takariawan, Ustadzah Yoyoh Yusroh, Ust Mutammimul Ula dll setidaknya memberi inspirasi pada kita akan pentingnya peran keluarga dalam dakwah.

Yang menjadi persoalan bagaimana agar suatu keluarga mampu berperan dalam dakwah? Ada beberapa hal yang penting agar suatau keluarga mampu berperan dalam dakwah.

 

Pertama, keluarga harus menjadi citra ideal sebuah keluarga muslim

 

Keluarga adalah citra bagi dakwah Islam. Membangun masyarakat, apalagi negara dan dunia, tak akan  berhasil  tanpa dimulai dengan  pembangunan  dan  pembinaan keluarga.  Ia memang  citra yang membuat  ummat  menyambut  atau menolak dakwah yang disampaikan kepada mereka. Bagaimana orang dapat tertarik hatinya akan dakwah ini apabila dalam kehidupan keluarga kita tidak mencerminkan nilai-nilai Islam. Di masjid, di tempat kerja dan yang pertama di rumah identitas keislaman kita (yang zahir maupun yang batin) mestilah nampak. Dan tujuan itu sulit tercapai manakala tempat bertolak paling awal (keluarga) tidak mendukung. Karena dikeluargalah benih-benih keimanan disemai dan ditumbuhkan.

 

Yang diperlukan agar menjadi keluarga muslim yang ideal

 

  1. Setiap aktivitas rumah tangga dilandasi dengan ibadah

 

Ketundukan sejak langkah-langkah awal  mendirikan rumah tangga (sebelum menikah) setidaknya menjadi pemacu untuk tetap tunduk dalam langkah-langkah selanjutnya. Kelak, jika terjadi permasalahan dalam rumah tangga, mereka akan mudah menyelesaikan, karena semua telah tunduk kepada peraturan Allah dan Rasul-Nya.

 

  1. Pelaksanaan adab syariat dan permberian qudwah dalam keluarga

 

Menurut DR. Sa’id al Qahthani, kata Qudwah berarti : Seseorang yang mengikuti orang lain, terlepas yang diikuti baik atau buruk, merusak atau menyesatkan. Jadi panutan/keteladanan bisa baik atau buruk. Tidak diragukan lagi keluarga muslim yang menyeu ke jalan Allah harus melaksanakan sendiri apa yang diucapakan tentang kebaikan dan meninggalkan lebih dahulu yang dilarang sehingga orang lain mau mengikuti segala nasehat dan seruannya. Karena contoh yang baik akan lebih memberi dampak yang besar dibanding sekedar kata-kata nasehat.

Nilai-nilai Islam secara kaffah (menyeluruh) harus terjadi dalam diri setiap anggota keluarga, sehingga mereka senantiasa komit terhadap adab-adab islami. Di sinilah peran keluarga sebagai benteng terkuat dan filter terbaik di era globalisasi yang mau tak mau harus dihadapi kaum muslimin.

Dalam keluarga muslim terlebih dahulu memerlukan qudwah (keteladanan) yang nyata dari sekumpulan adab Islam yang hendak diterapkan. Orang tua memiliki posisi dan peran yang sangat penting dalam hal ini. Sebelum memerintahkan kebaikan atau melarang kemungkaran kepada anggota keluarga yang lain, pertama kali orang tua memberikan keteladanan.

uŽã9Ÿ2 $ºFø)tB y‰YÏã «!$# br& (#qä9qà)s? $tB Ÿw šcqè=yèøÿs? ÇÌÈ   ¨bÎ) ©!$# =Ïtä† šúïÏ%©!$# šcqè=ÏG»s)ム’Îû ¾Ï&Î#‹Î6y™ $yÿ|¹ Oßg¯Rr(x. Ö`»uŠ÷Yç/ ÒÉqß¹ö¨B ÇÍÈ

“Hai orang-orang yang beriman, mengapa kalian mengatakan sesuatu yang tidak kalian perbuat? Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kalian mengatakan apa-apa yang tiada kalian kerjakan.” (Ash-Shaff: 3-4)

Keteladanan semacam ini amat diperlukan, sebab proses interaksi anak-anak dengan orang tuanya dalam keluarga amat dekat. Mereka melaksanakan tarbiyatul aulad (proses mendidik anak-anak) dengan baik. Begitupula juga dalam mentarbiyah khadimah (mendidik pembantu), selanjutnya ke kerabat dekat dan seterusnya.

 

  1. Ciptakan suasana penuh keimanan, cinta, tarbiyah, dan komunikasi yang lancar

 

Jadikan keluarga harus menjadi tempat kembali utama dalam kehidupan individunya. Nuansa baiti jannati, rumahku surgaku harus dirasakan oleh setiap anggota keluarga. Hal inilah yang akan menjadikan rasa kerinduan yang amat sangat bagi setiap anggota keluarga untuk bertemu dalam satu atap keluarga. Seberat dan sesibuk apapun aktivitas anggota keluarga di luar rumah maka keluarga menjadi tempat kembalinya. Terciptanya suasana yang nyaman dalam keluarga insyaAllah akan membuat sumbat-sumbat dalam berkomunikasi dapat lancar. Ketika ada masalah dalam keluarga maka dapat diselesaikan dengan baik. Semua anggota keluarga paham akan tugas dan kewajibannya masing-masing.

 

“Seorang suami adalah pemimpin atas seluruh anggota rumahnya. Seorang istri adalah pemimpin atas rumah suaminya dan anaknya.” (HR Bukhari – Muslim)

 

“Allah merahmati laki-laki yang bangun malam kemudian sholat lalu membangunkan istrinya hingga dia sholat, jika ia tidak mau maka ia memerciki wajah istrinya dengan air.” (HR Ahmad, Abu Daud)

$pkš‰r’¯»tƒ tûïÏ%©!$# (#qãYtB#uä (#qà)®?$# ©!$# ¨,ym ¾ÏmÏ?$s)è? Ÿwur ¨ûèòqèÿsC žwÎ) NçFRr&ur tbqßJÎ=ó¡•B ÇÊÉËÈ

“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah sebenar-benar takwa kepada-Nya; dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan beragama Islam.” (QS 3/102)

$pkš‰r’¯»tƒ tûïÏ%©!$# (#qãZtB#uä (#qç7Ï^tGô_$# #ZŽÏWx. z`ÏiB Çd`©à9$# žcÎ) uÙ÷èt/ Çd`©à9$# ÒOøOÎ) ( Ÿwur (#qÝ¡¡¡pgrB Ÿwur =tGøótƒ Nä3àÒ÷è­/ $³Ò÷èt/ 4 =Ïtä†r& óOà2߉tnr& br& Ÿ@à2ù’tƒ zNóss9 ÏmŠÅzr& $\GøŠtB çnqßJçF÷d̍s3sù 4 (#qà)¨?$#ur ©!$# 4 ¨bÎ) ©!$# Ò>#§qs? ×LìÏm§‘ ÇÊËÈ

“Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan dari prasangka, sesungguhnya sebagian prasangka itu adalah dosa dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain..” (QS 49/12)

“Segala sesuatu yang di dalamnya tidak ada dzikrullah adalah sia-sia kecuali empat hal : … bercandanya seorang laki-laki terhadap istrinya….” (HR An Nasa’I)

 

  1. Menciptakan Ekonomi yang Kokoh

 

Dakwah Rasulullah saw, hampir selalu ditopang dengan ekonomi yang kokoh baik dari keluarga maupun para sahabatnya. Khadijah adalah saudagar yang kaya raya. Dan hampir sebagian besar sahabat yang dijamin masuk surga tanpa hisab adalah orang yang kuat ekonominya. Tidak bisa dipungkiri bahwa kondisi ekonomi keluarga akan mempengaruhi soliditas keluarga dan kemampuan penetrasi dakwah. Banyak keluarga yang tidak berprestasi bahkan hancur karena menafikan persoalan ekonomi ini. Pentingnya persoalan ini amat diperhatikan dalam Islam.

* 4 ’n?tãur ϊqä9öqpRùQ$# ¼ã&s! £`ßgè%ø—Í‘ £`åkèEuqó¡Ï.ur Å$rã÷èpRùQ$$Î/ 4 Ÿw ß#¯=s3è? ë§øÿtR žwÎ) $ygyèó™ãr 4 ÇËÌÌÈ

Dan kewajiban ayah memberi makan dan pakaian kepada istrinya dengan cara yang ma`ruf. Seseorang tidak dibebani melainkan menurut kadar kesanggupannya.” (QS 2/233)

Rosulullah SAW banyak memuji orang-orang yang bekerja untuk membangun ekonomi keluarga dan membenci orang yang menelantarkan keluarganya :
“Apabila seseorang menafkahkan hartanya untuk keperluan keluarganya hanya dengan mengharapkan pahala maka hal itu akan tercatat sebagai shadaqah baginya.”

(HR Bukhari Muslim)
“Barangsiapa merasa letih di malam hari karena bekerja, maka di malam itu ia diampuni.”

(HR Ahmad)

“Seseorang itu cukup berdosa bila ia menyia-nyiakan orang yang harus diberinya belanja (keluarganya).” (HR Abu Daud)

 

Ekonomi kuat/kokoh bukan hanya semata-mata persoalan banyaknya sumber pendapatan. Tetapi bagaimana mengatur keuangan keluarga agar tidak terlalu boros dan mampu memenuhi kebutuhan rumah tangga.

 

Islam menganjurkan umatnya untuk bekerja secara terencana dalam segala hal termasuk dalam mengatur keuangan keluarga. Perencanaan ini dilaksanakan dengan membuat pos-pos pengeluaran rutin (mis. konsumsi, pendidikan, transportasi, sandang, dakwah dll) dan pos pengeluaran temporer (mis. kesehatan, rekreasi dll). Termasuk perencanaan ini adalah menabung sebagaimana pesan Imam Hasan al Banna :

 

“Hendaklah engkau menyimpan sebagian dari penghasilanmu untuk persediaan masa-masa sulit meskipun sedikit dan jangan sekali-kali menyusahkan diri untuk mengejar kemewahan.

 

Kedua, keluarga menjadi pusat pancaran cahaya/markas perjuangan dakwah.

 

Syaikh Musththafa Masyhur dalam kitabnya Fiqh Dakwah disebutkan bahwa rumah tangga muslim yang sejati sepatutnya menjadi pusat dakwah Islam. Setiap anggota keluarga yang akil baliqh wajib menjadi juru dakwah, pendukung dakwah dan penyeru orang-orang sekelilingnya ke jalan Allah, dengan penuh kesabaran, hikmah dan nasehat baik sehingga mampu kontribusi yang cukup bagi perbaikan masyarakat sekitarnya :

“Serulah (manusia) kepada jalan Rabbmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang lebih baik.Sesungguhnya Rabbmu Dia-lah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dia-lah yang lebih mengetahui orang-orangyang mendapat petunjuk.” (QS. 16:125)

Kita tidak bisa hidup sendirian terpisah dari masyarakat. Betapapun taatnya keluarga tersebut terhadap norma-norma ilahiyah, apabila sekitar lingkungannya tidak mendukung, pelarutan nilai akan lebih mudah terjadi, terutama pada anak-anak.

Oleh sebab itu setiap anggota keluarga islami diharuskan memiliki semangat berdawah yang tinggi, sesuai dengan profesi utama setiap muslim adalah dai. Suami harus dapat mengatur waktu yang seimbangan untuk Allah S.W.T (ibadah ritual), untuk keluarga (mendidik keluarga serta bercengkrama bersama istri dan anak-anak), waktu untuk ummat (mengisi ceramah, mendatangi pengajian, menjadi pengurus mesjid, panitia kegiatan keislaman) dan waktu mencari nafkah. Begitu pula dengan istri harus diberi kesempatan untuk bekiprah di jalan dawah ini memperbaiki muslimah disekitarnya.

 

Hal ini sangat penting mengingat menikah bukan hanya sekedar mencari pendamping hidup namun lebih untuk melanjutkan perjuangan Islam bersama dengan pasangannya. Keluarga lah yang menjadi batu bata dari bangunan Islam. Dan semua aktivitas dakwah tercermin dari aktivitas keluarga. Menurut ustadz Mochamad Bugi dalam artikelnya Misi Keluarga Muslim. Arah kebijakan keluarga tarbiyah antara lain adalah  arus memiliki agenda dakwah di dalam keluarga, untuk masyarakat sekitar, mendidik setiap anggota keluarga untuk mencapai kualitas keluarga sebagai pemimpin umat.

 

Jadi bisa disimpulkan semua anggota keluarga seharusnya berperan aktif dalam misi perjuangan islam. Begitu juga anak-anak sejak masih kecil sudah disiapkan menjadi penerus tongkat estafet dalam dakwah ini.

 

Selain itu keluarga muslim perlu memetakan sebuah wilayah yang akan digarap dan dibina sehingga menjadi basis dakwah. Salah satu upaya dalam membentuk basis sosial dakwah dengan menguatkan ikatan sosial, berinteraksi dengan masyarakat, dan menghisasi dengan akhlaq sosial (bertegut sapa, memberi hadiah, bersilaturahmi, memuliakan tetangga dll)

 

$oY­/u‘ ó=yd $oYs9 ô`ÏB $uZÅ_ºurø—r& $oYÏG»­ƒÍh‘èŒur no§è% &úãüôãr& $oYù=yèô_$#ur šúüÉ)­FßJù=Ï9 $·B$tBÎ)

Wallohu a’lam. 24 Oktober 2012

Referensi :

  1. Syaikh Muhammad Nawawi bin ‘Umar al-Jawi al-Bantani al-Syafi’I,”Uquudu Lujain Fii Bayaani Huquuzzaujaini “, Versi Ebook
  2. Syaikh Musththafa Masyhur, Fiqh Dakwah Jilid 1, Al I’tishom
  3. Hadi Munawar, S.Ag, Tarbiyah Ijtima’iyah, Era Adicitra Intermedia.
  4. Dr. Sa’id al Qahthani, Menjadi Dai yang Sukses, Qisthi Press
  5. Pramana Asmadiredja, Keluarga Haroki, Perannya Dalam Dakwah dan Kehidupan, http://pkspesanggrahan.blogspot.com/2012/01/keluarga-haroki-perannya-dalam-dakwah.html
  6. Cahyadi Takariawan, Keluarga dan Dakwah,  http://cahyadi-takariawan.web.id/?p=60

7.      Mochamad Bugi, Misi Keluarga Muslim, http://www.dakwatuna.com/2007/11/310/misi-keluarga-muslim/

 

 

Kosa Kata

Makna Sakinah

 

Kata sakinah berasal dari bahasa Arab. Dalam bahasa Arab, kata sakinah mengandung makna tenang, tenteram, damai, terhormat, aman, nyaman, merasa dilindungi, penuh kasih sayang, dan memperoleh pembelaan. Dengan demikian keluarga sakinah berarti keluarga yang semua anggotanya merasakan ketenangan, kedamaian, keamanan, ketenteraman, perlindungan, kebahagiaan, keberkahan, dan penghargaan.

 

Kata sakinah juga sudah diserap menjadi bahasa Indonesia. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, kata sakinah bermakna kedamaian; ketenteraman; ketenangan; kebahagiaan.

 

Makna Mawaddah

 

Kata mawaddah juga berasal dari bahasa Arab. Mawaddah adalah jenis cinta membara, perasaan cinta dan kasih sayang yang menggebu kepada pasangan jenisnya. Mawaddah adalah perasaan cinta yang muncul dengan dorongan nafsu kepada pasangan jenisnya, atau muncul karena adanya sebab-sebab yang bercorak fisik. Seperti cinta yang muncul karena kecantikan, ketampanan, kemolekan dan kemulusan fisik, tubuh yang seksi; atau muncul karena harta benda, kedudukan, pangkat, dan lain sebagainya.

 

Makna Rahmah

 

Rahmah berasal dari bahasa Arab. yang berarti ampunan, anugerah, karunia, rahmat, belas kasih, juga rejeki. Rahmah merupakan jenis cinta dan kasih sayang yang lembut, terpancar dari kedalaman hati yang tulus, siap berkorban, siap melindungi yang dicintai, tanpa pamrih “sebab”. Bisa dikatakan rahmah adalah perasaan cinta dan kasih sayang yang sudah berada di luar batas-batas sebab yang bercorak fisik.

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s