Jama’ah Ideal


Oleh Musyafa Ahmad Rahim
Jama’ah ideal yang pernah ada secara nyata di suatu fase sejarah ini:

  • Tidak tumbuh dengan tiba-tiba;
  • Tidak ada secara kebetulan;
  • Tidak diciptakan dalam sehari semalam. Begitu pula, ia
  • Tidak muncul dari hasil sebuah anugerah yang mengubah watak segala sesuatu dalam sekejap atau sekilas.

Namun, ia…

  • Tumbuh secara alami, dan
  • Pelan-pelan, sebagaimana pohon yang menjulang dan menghunjam akarnya itu tumbuh.
  • Perkembangannya memakan waktu yang lazim, sebagaimana ia
  • Memerlukan al-juhd (jerih payah) yang:
  1. Al-Maushul (kontinyu),
  2. Ats-Tsabit (Tetap), dan
  3. Al-Muththarid (Konstan) demi perkembangan ini.
  • Ia memerlukan:
  1. Al-‘Inayah as-sahirah (perhatian yang teliti),
  2. Ash-Shabru At-Thawil (kesabaran yang panjang), dan
  3. Al-Juhdu al-bashir (usaha yang jeli) dalam:
  • Tahdzib (membersihkan dan membuang yang tidak baik),
  • Tasydzib (memangkas yang kelebihan),
  • Taujih (pengarahan),
  • Daf’ (mendorong, memotivasi),
  • Taqwiyah (penguatan), dan
  • Tatsbit (peneguhan).
  • Ia memerlukan:
  1. Tajarib waqi’iyyah marirah (pengalaman-pengalaman riil yang pahit), dan
  2. Ibtila-at syaqqah mudhonniyah (ujian-ujian yang berat dan meletihkan); yang tetap disertai pengarahan untuk mengambil pelajaran dari berbagai pengalaman dan ujian ini.

Di dalam semua usaha di atas termanifestasi ri’ayah ilahiyah (maintenance ilahi) terhadap jama’ah pilihan – atas dasar pengetahuan – untuk memikul amanah terbesar ini dan merealisasikan kehendak Allah di muka bumi.

Padahal, pada jama’ah ini terdapat:

  • Al-Fadha-il al-kaminah (berbagai keutamaan), dan
  • Alisti’dadat al-maknunah (potensi-potensi yang tersimpan) di dalam generasi tersebut.

Di samping terdapat al-ahwal al-muhayya-ah (berbagai situasi dan kondisi yang disiapkan untuknya).

Dengan ini semua, cahaya yang mengagumkan itu memancar dalam sejarah manusia; dan terealisir-lah hakikat yang tampak dari jauh seolah-olah mimpi yang mengepak-ngepak di dalam hati, atau mimpi-mimpi yang melayang-layang di dalam imajinasi!

(Sayyid Qutb, Fi Zhilal Al-Qur’an, jilid VI hal. 3337)

…….

Dalam kalimat di atas, Sayyid Qutb –rahimahullah– menjelaskan bagaimana jama’ah Sahabat Nabi Muhammad SAW terjadi pada waktu itu.

Ada empat bagian yang disorot oleh Sayyid Qutb –rahimahullah.

  1. Pertama: Jerih payah dan usaha nabi Muhammad SAW sebagai murabbi yang dikerahkan dalam mentarbiyah mereka.
  2. Kedua: Aspek ri’ayah ilahiyah.
  3. Ketiga: Potensi para sahabat nabi itu sendiri.
  4. Keempat: Situasi dan Kondisi.

Artinya, terjadinya jama’ah sahabat nabi Muhammad SAW (jama’ah yang menakjubkan dalam sejarah umat manusia) terjadi karena:

  1. Pertama: Ada faktor ri’ayah ilahiyah (maintenance ilahi).
  2. Kedua: Potensi dan fadhail sahabat yang luar biasa.
  3. Ketiga: Situasi dan kondisi yang telah disiapkan sedemikian rupa oleh Allah SWT.
  4. Keempat: Sosok sang murabbi, yaitu Rasulullah SAW.

Meskipun demikian lengkap dan dahsyat faktor yang melingkupi terbentuk dan terlahirkannya jama’ah sahabat, namun, tetap saja, mereka memerlukan tarbiyah yang:

  • Tumbuh secara alami, dan
  • Pelan-pelan, sebagaimana pohon yang menjulang dan menghunjam akarnya itu tumbuh.
  • Perkembangannya memakan waktu yang lazim, sebagaimana ia
  • Memerlukan al-juhd (jerih payah) yang:
  1. Al-Maushul (kontinyu),
  2. Ats-Tsabit (Tetap), dan
  3. Al-Muththarid (Konstan) demi perkembangan ini.
  • Ia memerlukan:
  1. Al-‘Inayah as-sahirah (perhatian yang teliti),
  2. Ash-Shabru At-Thawil (kesabaran yang panjang), dan
  3. Al-Juhdu al-bashir (usaha yang jeli) dalam:
  • Tahdzib (membersihkan dan membuang yang tidak baik),
  • Tasydzib (memangkas yang kelebihan),
  • Taujih (pengarahan),
  • Daf’ (mendorong, memotivasi),
  • Taqwiyah (penguatan), dan
  • Tatsbit (peneguhan).
  • Ia memerlukan:
  1. Tajarib waqi’iyyah marirah (pengalaman-pengalaman riil yang pahit), dan
  2. Ibtila-at syaqqah mudhonniyah (ujian-ujian yang berat dan meletihkan); yang tetap disertai pengarahan untuk mengambil pelajaran dari berbagai pengalaman dan ujian ini.

Lalu bagaimana dengan keinginan kita untuk memunculkan generasi baru yang akan memikul amanah da’wah ini?

Tentu, berbagai hal yang diperlukan lebih besar dan lebih hebat lagi, dan yang terpenting:

  1. Perjalanan da’wah dan tarbiyah kita masih panjang, karenanya:
  2. Jangan terburu-buru, serta, jangan lupa, sekali lagi, pada:
  • Al-‘Inayah as-sahirah (perhatian yang teliti),
  • Ash-Shabru At-Thawil (kesabaran yang panjang), dan
  • Al-Juhdu al-bashir (usaha yang jeli) dalam:
  • Tahdzib (membersihkan dan membuang yang tidak baik),
  • Tasydzib (memangkas yang kelebihan),
  • Taujih (pengarahan),
  • Daf’ (mendorong, memotivasi),
  • Taqwiyah (penguatan), dan
  • Tatsbit (peneguhan).

Semoga perenungan ini ada manfaatnya fid-din wad-dun-ya wal akhirah.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s