Berkiprah dengan Modal Dua Ayat


FOTO: hamaday.wordpress
Tidak lulus Sekolah Dasar tapi mampu mendirikan pesantren di pusat Kota Kudus.
Hari menjelang malam, ketika Iman Syahid menginjakkan kaki di Kota Wali, Kudus, Jawa Tengah setelah menempuh perjalanan selama sembilan jam dari Surabaya. Sebuah perjalanan yang cukup melelahkan.
Ketika peluh belum lagi kering, tangan ayah enam anak ini ditarik begitu saja oleh kernet angkutan kota (angkot) dan disesatkan hingga ke wilayah Demak. “Saya sempat bingung. Karena uang tinggal sedikit, saya memilih mushala untuk beristirahat dan melepas lelah,” ujar Iman.

Untung Iman tidak sendiri, ia ditemani oleh Abdurrahman dan Fatihul Haq, sehingga ada teman untuk berbagi suka dan duka.

Hanya saja, yang membuat mereka berdebar adalah lantaran dipundaknya bergelayut sebuah tanggungjawab untuk mendirikan sebuah pesantren di kota yang sebelumnya bernama Tajug itu. Bahkan dilihat dari nama dan julukannya sebagai Kota Wali, sudah membuat orang tidak boleh gegabah membuat kegiatan yang berkaitan dengan keagamaan tanpa dilandasi oleh ilmu yang mumpuni.

Tentu bagi Iman, dan dua rekannya, tugas dakwah dan mendirikan pesantren di kabupaten berpenduduk 730.290 dengan jumlah santri, pelajar dan mahasiswa yang menekuni ilmu keagamaan mencapai 69.357 bukanlah hal mudah.

Tapi Iman tak mau mundur. Layar sudah telanjur terkembang. “Sekiranya tidak disokong oleh kemauan yang tinggi, rasanya pekerjaan ini mustahil dapat terwujud,” kata suami Umi Kalsum menjelaskan.
Oleh karena itu, segala hambatan tidak dijadikan masalah. Bahkan dalam lubuk jiwa Iman, ada keyakinan bahwa di Kudus ini masih banyak orang yang sehati dengannya dalam mengangkat misi kemanusiaan. Likulli da’watin tujib, setiap ajakan yang baik pasti ada yang menyambut, demikianlah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam (SAW) mengingatkan.

Allah Maha Besar! Benarlah sesampainya di Kudus, setelah melakukan silaturahim ke masyarakat, berbagai tokoh, dan ormas Islam, Allah SWT mempertemukan Iman dengan seorang notaris, yakni Sultan Abdul Malik SH. Selama beberapa hari, Iman dan kawannya diperkenankan menginap secara cuma-cuma di rumahnya.
Namun, seenak-enaknya numpang di rumah orang tentu ada perasaan tidak nyaman. “Kami menyadari. Tentu kehadiran kami, menambah anggota keluarga baru beliau, sekaligus membebani. Tapi alhamdulillah, berkat kedermawanan Ibu Sultan, kami diterima dengan baik,” kata Iman.

Ujian Pertama
Tak ingin berlama-lama menumpang, Iman akhirnya memutuskan berpamitan, sekalipun belum tahu mau pindah ke mana. Syukurlah, tak berapa lama mereka diterima oleh seorang pemuka agama yang mempelopori cikal bakal kelahiran pesantren di daerah Ploso, Ustadz Shonhaji. Tokoh lulusan Pesantren Gontor tersebut selalu memberikan input kepada Iman tentang ketahanan mental dalam menghadapi tantangan.

Di sinilah terjadi pergolakan batin yang serius, khususnya pada diri Iman. Apakah ia akan tetap pada misi yang diamanahkannya untuk merintis berdirinya sebuah Pondok Pesantren Hidayatullah, atau mondok di Ploso, sebagai santri.

Iman sadar, panggilan untuk mondok sangat besar. Akan tetapi, percikan nilai-nilai yang ia peroleh dari Pesantren Hidayatullah tidak kalah kuatnya untuk dipertahankan. Bahkan ada semacam tekad jika tidak berhasil, tidak akan kembali ke Surabaya dan tidak akan pulang ke rumah, begitulah tekat Iman kala itu.
Menjemput Pertolongan-Nya

Suatu hari, Iman bersilaturahim ke Pak Haji, seorang pedagang sendal di Pasar Kliwon, Kudus. Anehnya, sekalipun tak pernah kenal, pertemuan awal itu sangat menyejukkan hati. “Kami berdua, bagaikan pertemuan antara generasi muda Ismail ‘alaihissalam (AS) dengan generasi tua Ibrahim AS,“ kata Iman.

Saat itu, komunikasi Iman dengan Pak Haji Lili –disebut demikian karena beliau terkenal dengan produk sandal ‘Lili’nya– berjalan efektif. “Seakan-akan kami berdua telah saling mengenal sekian lama,” tutur pria sederhana ini. Menurut Iman, suasana akrab melebihi dari keharmonisan dengan saudara sendiri, sulit terungkap dengan kata-kata.

Air mata kebahagiaan Iman mengalir tiada putus. Hatinya larut dalam suasana bahagia. Keyakinan akan dukungan Allah SWT terasa menyertai perjalanannya. Akhirnya, Iman bermarkas di rumah pinjaman Pak Haji. Dari markas ini pula, ia mulai mengajar ngaji anak-anak.

Makin lama anak yang mengaji makin banyak. Menyadari akan keterbatasan kemampuannya, ia pun merekrut beberapa mahasiswa IAIN Kudus untuk membantu menangani program pendidikan anak-anak yang mengaji.

Ujian Kembali Datang
Namun entah bagaimana ceritanya, muncullah ujian terhadap perjuangan Iman dan kawan-kawan. Perkembangan iman yang baru setapak itu dihadang api cemburu dari salah seorang yang ditokohkan. Iman sempat diusir oleh sang tokoh .

Syukurnya, di tengah kerisauan Iman, ternyata Pak Haji sebagai pendukung utama Iman tak terpengaruh. Dia malah makin percaya kepada Iman. Akhirnya, Iman melangkah semakin bulat. Alhamdulillah. Pada beberapa bulan berikutnya Pimpinan Hidayatullah Surabaya, Ustadz Drs Abdurrahman Ec, mengirimkan Ustadz Ir Hanifullah yang memberikan tenaga baru pada gerakan dakwah yang baru dirintis itu.

Hampir bersamaan dengan itu, Iman mendapat hibah rumah seluas 900 m2, di bilangan Grogol Loji, Bakalan Krapyak. “Kondisinya cukup menyeramkan. Kanan-kirinya penuh ilalang yang tinggi,” kata Iman mengenang.
Seiring perjalanan waktu, Iman merasakan tidak ada pekerjaan besar yang mustahil diwujudkan. Di atas pondasi keikhlasan, pertolongan Allah SWT semakin dekat dan terbukti. Kini, kampus Hidayatullah Kudus tidak lagi berupa semak belukar. Sejumlah fasilitas dakwah telah dibangun di dalamnya. Ada gedung serba guna, lima perumahan pengasuh, gedung TPQ, Play Group, TK Ya Bunayya, SDIT dan gedung SLTP Integral sejak tahun 2004. Dan baru-baru ini memperoleh tanah wakaf satu hektar berdekatan dengan jantung kota.
Dalam menekuni dakwah, selain sikap sami’na wa atha’na kepada pimpinan, ada dua ayat yang menjadi sumber semangat Iman. Ayat itu adalah “Hai orang-orang Mukmin, jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu.” (Muhammad [47]: 7).

“…Barangsiapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar. Dan memberinya rezeki dari arah yang tiada disangka-sangkanya. Dan barangsiapa yang bertawakal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan yang (dikehendaki)Nya. Sesungguhnya Allah telah mengadakan ketentuan bagi tiap-tiap sesuatu.” (Ath-Thalaq [65]: 2-3).

Pada awalnya tugas, Iman mengaku merasa berat menjalankan amanah yang di embannya. Akan tetapi, dikemudian hari ia menyadari betapa Allah SWT senantiasa menolong hamba-hamba-Nya yang berjuang di jalan-Nya, dan melimpahkan rezeki dari sumber yang tak terduga.

Menurut Iman, amanah yang semula terasa berat dan menakutkan, kini menjadi indah dan mengasyikkan untuk dijalani. Subhanallah. *Sholih Hasyim, Ali Athwa/Suara Hidayatullah AGUSTUS 2009

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s