Hamzah Husain : Bangkit Setelah Gubuk Reot Itu Ambruk


 

FOTO: BLESAK

Kiprah anak muda menebarkan Islam di pedalaman PapuaSejatinya, bangunan itu tak cocok disebut rumah. Ia lebih mirip disebut gubuk.
Bangunan itu berdiri di atas sebidang tanah wakaf, terletak di Kabupaten Teluk Wondama, Papua Barat. Letak kabupaten ini begitu terpencil. Bayangkan, untuk menuju kabupaten ini hanya ada dua pilihan, lewat udara atau lewat laut. Tak ada jalan darat.

Jika melalaui udara, terbang dari Manokwari cuma 50 menit. Jadwal penerbangan hanya sekali seminggu, menggunakan pesawat berkapasitas 18 penumpang.

Jika melalui laut, transportasi dengan kapal kayu tersedia setiap hari. Biaya perjalanan sekitar Rp 150.000. Hampir enam kali lebih murah dibanding lewat udara. Namun, waktu tempuhnya jauh lebih lama.
Jika berlayar dari Manokwari dengan kapal kayu pukul 12 siang, kapal akan bersandar di pelabuhan Distrik Wasior atau Distrik Windesi di kabupaten ini pukul 10 keesokan paginya.
Dari Jayapura ke Wasior dengan kapal laut bisa memakan waktu 48 jam, mampir di beberapa tempat seperti Sarmi, Biak, Yapen, Waropen, Nabire, baru masuk ke Wasior.

Kembali ke cerita gubuk tadi!
Hamzah Husain, pemuda berusia 21 tahun, menempati gubuk tersebut bersama karibnya, Ahmad Sodry. Hamzah adalah kader muda Hidayatullah yang ingin menghabiskan masa mudanya dengan berdakwah di daerah terpencil ketika banyak anak muda yang lain menyerbu kota-kota besar untuk mengadu nasib.
Gubuk itu bukan Hamzah yang membangunnya. Gubuk itu sudah ada ketika tanah wakaf tersebut dipercayakan kepadanya. Baru enam bulan kedua anak muda tersebut menempati gubuk tadi.
Suatu hari datanglah angin kencang menerjang wilayah itu, memporakporandakan apa saja yang dilewatinya. Gubuk reot milik Hamzah tak luput dari amukan sang badai.

Tak urung, gubuk itupun ambruk. Seng-seng yang semula tersusun membentuk atap, berjatuhan ke mana-mana. Begitu juga daun rumbia yang berjalin menyusun atap, ikut berterbangan. Papan-papan yang berbaris membentuk dinding, terlepas. Gubuk itu nyaris tak berbentuk lagi.

Bagaimana nasib Hamzah? Rupanya Allah Subhanahu wa Ta’ala (SWT) masih melindungi pemuda itu. Saat kejadian, Hamzah sedang mengisi pengajian di tempat lain. Begitu juga Ahmad.

Sebagai manusia, Hamzah jelas merasa sedih ketika mendapati rumah tampat ia berteduh selama ini ambruk diterpa badai. Padahal saat itu badan masih terasa letih akibat seharian berpergian.

Namun, Hamzah dan Ahmad sadar mereka tak boleh berlama-lama sedih. Rintangan di depan masih teramat berat. Rubuhnya gubuk reot itu tak seberapa dibanding besarnya harapan melihat tegaknya Islam di Wondama. Siapa tahu, inilah tonggak awal tercapainya harapan tadi. Walau entah kapan!
Hari itu juga semangat mereka kembali bangkit. Kayu-kayu yang berserakan segera mereka kumpulkan. Seng-seng yang sudah tua dipilah untuk dipakai kembali.

Hamzah memutuskan untuk tidak membangun gubuknya di tempat semula. Ia menggeser sekitar 70 meter dari tempat semula. Bahan-bahan bangunan sisa gubuk yang lama ia pakai lagi.

Tapi, tak seperti sebelumnya, dukungan dana dari warga setempat serta ridho dari Allah SWT telah mengubah gubuk tersebut menjadi rumah baru yang lebih besar.

Lama kelamaan rumah tersebut bertambah fungsi, bukan lagi sekadar tempat tinggal, namun juga Taman Pendidikan Al-Qur’an (TPA) dan madrasah untuk anak-anak belajar mengaji. Kini, Hamzah sudah menampung dan membina anak-anak didik dari penduduk asli kurang lebih 20 orang.

Awal Mula ke Papua

Sebelumnya, Hamzah tak pernah tahu di sebelah mana Wondama berada. Juga tak pernah tahu ke mana alamat yang harus ia tuju.

Namun, demi menebarkan ajaran suci Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam (SAW), pemuda ini bulat niatnya, berangkat menuju Wondama bersama Ahmad Sodry. Saat itu bulan Juli 2008.

Hamzah jujur mengakui, dia sempat ragu menjelang pemberangkatan. Ada sejumlah pertanyaan yang bergelayut di pikirannya, antara lain, apa yang akan dia kerjakan di sana? Siapa yang ia temui? Kalau tidak ada kenalan, lantas tinggal di mana?

Tapi Hamzah tidak mau niatnya yang sudah bulat itu surut. Gelora iman dan semangat dakwahnya tetap membara. Ia telah bertekad, jika tak ada tempat yang layak untuk disinggahi di sana, paling tidak masih ada masjid. Soal bagaimana setelah itu, sepenuhnya ia serahkan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala (SWT). Ia yakin Allah SWT akan membukakan jalan.

Pertolongan Allah

Pertolongan itu ternyata benar-benar datang. Di sebuah masjid, Hamzah bertemu seorang pemuda yang pernah nyantri di Pesantren Hidayatullah Gunung Tembak, Balikpapan, Kalimantan Timur. Pemuda itu rupanya bertugas sebagai pengurus di masjid tersebut.

Pertemuan tersebut kian menumbuhkan semangat Hamzah. Ia seakan mendapat “amunisi” baru untuk memperjuangkan dienullah di kabupaten yang beribukota Rasiei ini.

Tak hanya singgah, Hamzah cukup lama tinggal di masjid itu. Maklum, dia memang belum punya tempat tinggal tetap.

Sambil membantu “menghidupkan’ masjid itu, dia datang bersilahturahim ke tokoh-tokoh setempat. “Hitung-hitung memperkenalkan diri,” ujarnya. Saat silahturahim itulah dia menyampaikan missi dan tujuannya.
Suatu saat, usai shalat Ashar berjamaah, tak sengaja Hamzah melihat sosok tua yang agaknya pernah ia kenal. Cukup lama ia memperhatikan wajah laki-laki tua itu.

Barulah ia ingat bahwa laki-laki itu pernah ngobrol dengannya ketika masih berada di Manokwari.
Selesai shalat, Hamzah memberanikan diri menyapa. Laki-laki tua tersebut ternyata masih mengenalnya. Perbincangan pun berlangsung hangat dan bersahabat. Hamzah mengutarakan maksud dan tujuan kedatangannya di Desa Dotir Wasior Kabupaten Teluk Wondama tersebut.

Lagi-lagi, Allah SWT menurunkan pertolongan-Nya untuk hamba yang ikhlas berjuang. Kali ini pertolongan itu datang lewat perantara si laki-laki tua itu tadi.

Oleh laki-laki itu, Hamzah diajak menemui Muhammad Iqbal. Konon, sudah sejak lama Iqbal ingin mewakafkan tanahnya untuk fasilitas ibadah berupa masjid atau pesantren. Tapi, berhubung tidak ada yang bisa mengelola, putra asli Wondama tersebut pun menangguhkannya.

Ketika bertemu Hamzah, Iqbal sekeluarga tanpa ragu mendermakan tanahnya untuk pembangunan Pesantren Hidayatullah di Wondama. Hamzah sepenuhnya diberi wewenang untuk mengelola dengan sebaik-baiknya.

Tentu saja, Hamzah dengan senang hati menerima tanah wakaf tersebut. Yang lebih menyenangkan, di atas tanah wakaf itu terdapat sebuah gubuk sederhana.

”Alhamdulillah, kami lebih leluasa beraktivitas dan tidak perlu memikirkan biaya sewa,” tutur Hamzah yang pernah nyantri di Pondok Pesantren Hidayatullah Bontang, Kalimantan Timur ini. Itulah cikal bakal bangunan yang sekarang ditempati Hamzah.

Mengorbankan Masa Muda

Bagaimana Hamzah membiayai semua kegiatannya? Hamzah yakin dengan janji dan pertolongan Allah SWT bahwa siapa yang menolong agama Allah SWT maka Allah SWT pun akan menolongnya. Janji itu berulangkali dia rasakan buktinya sejak pertama tiba di Wondama.

Tantangan terbesar, aku Hamzah, justru dorongan untuk bisa menikmati masa mudanya dengan berbagai kesenangan sebagaimana pemuda yang lain. Syukurlah, hingga kini Hamzah bisa mengusir dorongan tersebut. Ketika dorongan itu datang ia segera tersadar dengan niatnya. Dia ingin mendermakan masa mudanya dengan perjuangan Islam, tidak dipenuhi aneka kegenitan dan kecentilan.

Bila teringat pesan Rasulullah SAW bahwa akan datang perlindungan di saat tak ada perlindungan lain di hari Kiamat kecuali dari Allah SWT kepada, salah satunya, anak muda yang taat kepada Allah Ta’ala, kian bertambah semangatnya.

Apalagi, kata Hamzah, persoalan di Wondama begitu menantang. Bayangkan, dari kawasan seluas hampir 5 ribu Km2, cuma terdapat 1 masjid. Sedang gerejanya tidak kurang dari 39 buah!

Penduduk Wondama terbilang jarang. Berdasakan sensus tahun 2004, jumlah penduduk Wondama hanya 20 ribu jiwa. Mayoritas berasal dari suku Wamesa (90%), sedangkan sisanya pendatang, antara lain, suku Biak, Bugis, Makassar, dan Jawa.

Hamzah berharap, bisa melakukan sesuatu untuk menanamkan Islam di Wondama. Dia bermimpi, paling tidak, sebuah sekolah Islam bisa berdiri di areal wakaf tersebut.

Persoalan yang cukup mendesak saat ini, kata Hamzah, adalah tidak tersedianya kendaraan bermotor. Hamzah acap kali harus berjalan kaki menempuh jarak berkilo-kilo meter untuk menuju daerah binaannya, sekadar ingin mengisi pengajian atau khutbah Jumat.

Jika ada kendaraan bermotor, gerak dakwahnya bisa lebih cepat. Apalagi, selama ini para dai selalu kalah bersaing dengan missonaris karena keterbatasan fasilitas transportasi. *Ali Atwa dan Ainuddin Chalick/Suara Hidayatullah MEI 2009

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s