Redy Dunggio Ustadz, Kucing Saya Disembelih!


Inilah suka duka menjadi Pak RT di dearah yang masih banyak masalah.

Suatu ketika, Redy Dunggio didatangi seorang warga yang melaporkan telah kehilangan seekor kucing kesayangannya. Setelah dicari-cari rupanya kucing itu telah dibunuh oleh seseorang. Tetangganyalah yang menceritakan kejadian ini.

Mandapati kucingnya mati dengan kondisi mengenaskan, emosi warga tersebut meledak. Ia segera mencari si pembunuh kucing kesayangnnya untuk membuat perhitungan.
Redy merasa galau. Apa jadinya jika warga tersebut benar-benar bertemu si pembunuhnya, yang juga adalah warga di RT tersebut? Pertumpahan darah pasti akan terjadi.

Redy mencari akal agar pertumpahan darah tak terjadi. Ia putuskan segera bertindak cepat, menemui si pembunuh sebelum keduluan si empunya kucing. Berhasil! Rady mengajak si pembunuh itu berbicara baik-baik, menyadarkan kesalahannya, dan memintanya untuk memohon maaf kepada si pemilik kucing.

Setelah itu, Rady ganti menemui si empunya kucing dan berupaya menahan emosinya seraya meminta keikhlasannya atas peristiwa tersebut.

Langkah cepat Rady rupanya berhasil. Allah Subhanahu wa Ta’ala (SWT) mencabut kemarahan pada hati orang itu. Alhamdulillah, pertumpahan darah bisa dicegah.
Selesai satu masalah, muncul lagi masalah baru. Suatu hari Redy mendapati salah seorang warga non-Muslim tergeletak di tengah semak akibat kebanyakan minum munuman keras. Parahnya, si pemuda teller itu ternyata tengah berurusan dengan pihak kepolisian karena terlibat sebuah kasus.

Ketika aparat hendak menaikkan pemuda mabuk itu ke dalam mobil, tanpa pikir panjang Redy mencegahnya. Ia meminta penahanan ditangguhkan. Sebagai jaminan, Redy mengorbankan dirinya sendiri sebagai penjamin.

Setelah aparat pergi, Redy menggotong pemuda itu ke rumahnya. Sejak hari itu Redy mendapat pekerjaan baru: memulihkan kondisi si pemuda mabuk plus masalah yang menimpanya.

Tak Bisa Baca Qur`an

Begitulah suka duka seorang ketua RT sekaligus dai di sebuah komunitas yang masih suka kekerasan, mabuk-mabukan, dan bergaya hidup bebas. Komunitas itu berada di Wangurer Barat, Kecamatan Madidir, Bitung, Sulawesi Utara.

Tidak mudah, memang. Tapi Redy ikhlas menjalankannya. Apalagi masyarakat begitu berharap Redy mau menerima amanah ini karena mereka yakin Redy bisa membuat perubahan.

Redy sendiri tak sampai hati membiarkan anak-anak Muslim di sana tak mendapat bimbingan rohani yang layak. Rentetan kejadian sebelumnya kian membulatkan tekadnya untuk mengubah kondisi kaum Muslim —umumnya anak-anak – agar menjadi lebih baik. Rentetan kejadian itu bermula ketika
listrik belum masuk di daerahnya. Alat penerangan cuma lampu petromak dan lampu tempel.

Ketika hari menjelang Maghrib, sepulang dari tempat kerja, seperti biasa Redy telah membawa lampu petromak untuk menuju mushola terdekat. Mushola itu tanpa dinding. Yang ada hanya atap dan lantai.

Usai shalat Maghrib berjamaah, datanglah puluhan anak mendatanginya. Mereka meminta Redy mengajari mengaji. Redy agak panik. Sebab, saat itu ia sama sekali belum bisa baca tulis al-Qur`an. Ya, sama sekali tak mengenal huruf-huruf hijaiyyah, kecuali satu atau dua saja.

Tapi, ia juga tak mampu menolak keinginan anak-anak itu. Apalagi bila memandang wajah polos mereka, membuat Redy yang kala itu masih bujang, kian bertekad untuk bisa baca tulis al-Qur`an dalam waktu cepat. Tentu tidak mudah. Solusi sementara, Redy pergi ke toko buku. Di sana ia menemukan buku panduan membaca huruf hijaiyyah. Setiap satu huruf hijaiyyah ada huruf latin di bawahnya.

Setelah membawa pulang buku itu, Redy langsung bisa mengajar. Caranya, ia membaca keras-keras satu huruf, yang dibaca tentu huruf latinnya, lalu diikuti oleh semua anak. Begitulah Redy melewati malam demi malam.

Awalnya tak ada masalah. Namun, setelah halaman berganti halaman, huruf yang dibaca pun kian sulit. Bukan lagi huruf demi huruf, namun sudah menjadi kata demi kata. Redy mulai kewalahan. Ia pikir, cara mengajarnya harus segera diubah.

Buru-buru ia mencari ustadz. Setelah ketemu, ia mulai menyisihkan waktu di antara pekerjaannya sebagai karyawan di sebuah perusahaan penangkap ikan untuk belajar mengaji.

“Alhamdulillah, Allah memberikan kemudahan kepada saya untuk belajar!” katanya. Dalam waktu singkat, Redy sudah bisa membaca ayat demi ayat al-Qur`an meski masih terbata-bata.

Kedatangan Ustadz

Di antara segala keterbatasan itu bantuan Allah SWT tiba-tiba datang. Seorang ustadz tiba di daerah itu. Tak sekadar ingin mengajar ilmu-ilmu Islam, sang ustadz juga berencana mendirikan sebuah pondok pesantren. “Allahu Akbar, segala puji bagi-Mu ya Allah!” kata Redy ketika mengetahui informasi ini.

Tugas pembinaan kepada anak-anak sementara teratasi. Redy mulai fokus kepada penempaan dirinya sendiri. Setelah merasa lebih siap dengan ilmu yang seadaanya, ia memberanikan diri mendirikan majelis taklim di perusahaan tempatnya bekerja. Tak kurang dari 60 karyawan ikut bergabung. Redy sendiri yang memimpin majelis tersebut.
Redy juga mendirikan Sekolah Taman Kanak-kanak Islam Al-Amanah pada tahun 1999 bersama sejumlah tokoh masyarakat seperti Hasan Harun, Suadi Latibi (alm), dan Ishak Napu. Saat ini, TK yang berlokasi 500 meter dari jalan raya menuju kota Bitung itu telah memiliki 4 orang guru dan 30 murid.

Adil dengan non-Muslim

Kini, Redy telah memikul amanah sebagai Ketua RT di Lingkungan III Wangurer Barat, Bitung, sekaligus dai. Pria yang lahir di Gorontalo ini tidak pernah membedakan pelayanan antara warga Muslim dan non-Muslim. Ia terapkan pola pelayanan yang seimbang.

Ketika walikota memberikan lahan hunian cuma-cuma untuk masyarakat RT tersebut, Redy membaginya secara adil kepada warga Muslim dan non-Muslim. Sebagian besar warga non-Muslim malah ikut pindah ke tempat yang baru.

Sikap yang adil ini membuat warga non-Muslim tidak membolehkan Redy untuk mundur dari jabatannya sebagai ketua RT. Sikap ini juga yang melunakkan hati Lurah ketika Redy mengusulkan untuk mendirikan menara di dekat masid di kampung tersebut. Lurah malah mengatakan, ”Umat beragama lain di daerah itu tidak perlu takut kepada Islam karena sesungguhnya Islam cinta damai.”

Menambah Ilmu

Untuk menambah ilmu agama dan memelihara semangat dakwahnya, Redy menggabungkan diri dengan Yayasan Al-Muhtadin, Pondok Pesantren Hidayatullah, Bitung. Suami dari Rahmawati M Keloay, mualaf asal Minahasa ini mengaku interaksinya dengan Al-Muhtadin memberi makna spiritual yang mendalam.
“Saya merasa Allah itu dekat. Saya tidak perlu lagi cemas menghadapi aneka masalah apapun,” kata ayah empat anak ini.

Ketika malam telah jatuh, Redy acap kali bangun dan merengkuh nikmatnya bermunajat kepada Allah SWT. Dalam doanya Redy menyelipkan harapan agar ia bisa berdakwah lebih lama di daerah itu.

Kini, Redy telah mempersiapkan sebidang tanah di Erfak, kampung Combat, untuk dibangun musholla. Musholla ini akan menggantikan fungsi balai RT, bangunan semi permanan, yang selama ini dipakai untuk kegiatan Taman Pendidikan Anak.

“Insya Allah, kalau mushalla sudah jadi, akan kami gunakan sebagai tempat pembinaan dan pendidikan anak-anak,” ungkap Redy. Mudah-mudahan Allah SWT akan mengabulkannya. Amin! *Ismail Irfanjani/

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s