“Mbah Google”


Dea, seorang anak kelas 3 SMP, mendapat tugas dari guru agamanya: harus menyerahkan laporan intisari ceramah shalat tarawih selama sebulan. Dea membuat laporan yang lengkap dan rapi dalam bentuk dijilid. Melihat laporan itu, siapa pun akan berpendapat bahwa Dea adalah anak yang rajin mengikuti shalat tarawih di masjid. Tapi sesungguhnya tidak begitu. Dea hanya 3-4 kali shalat tarawih di masjid. Ia lebih suka tarawih di rumah. Jadi, bagaimana ia dapat membuat laporan selengkap itu?

Jawabannya: karena Dea tak perlu repot-repot tekun menyimak dan mencatat ceramah di masjid. Ia cukup mengunduh materi khutbah di internet, memolesnya di sana-sini (antara lain mengganti-ganti nama khatib), dan jadilah ia memiliki materi ceramah lengkap sebulan!

Cerita lain, masih tentang Dea. Untuk ujian praktik bahasa Inggris di sekolahnya, Dea diwajibkan membuat satu jenis makanan, menyajikannya di sekolah, dan mempresentasikan resep beserta cara membuat dan kandungan gizi makanan tersebut. Setelah merundingkan dalam kelompoknya siapa membuat apa, Dea memutuskan untuk membuat es buah. Dea meminta tantenya yang memang jago membuat es buah membuatkan untuknya dan ia sama sekali tidak melihat proses pembuatannya. Tapi, Dea tenang-tenang saja. Ia merasa yakin mampu menjelaskan bagaimana resep dan manfaat es buah. Bagaimana bisa?

Jawabannya: lagi-lagi, Dea mencari data di internet! Melalui internet Dea dengan mudah mendapatkan apa yang dicarinya.

Dua Wajah Internet

Internet adalah sistem informasi global yang dapat dihubungkan dengan beberapa jaringan komputer. Internet mempermudah kita dalam mencari informasi dengan jauh lebih praktis dan murah.

Yang dilakukan Dea ketika mencari data di internet adalah menggunakan search engine (mesin pencari). Mesin pencari adalah suatu situs dalam website yang menyediakan akses informasi ke situs-situs berjaringan yang dibutuhkan pengguna internet.

Mesin pencari bekerja berdasarkan kata kunci yang kita masukkan, bisa berupa kata atau frase. Mesin pencari akan menyesuaikan isi halaman situs dengan kata kunci tersebut. Pada kasus Dea di atas, ia cukup mengetik kata kunci ”khutbah” dan “es buah”, maka keluarlah data yang diinginkannya.

Cara mesin menentukan halaman mana yang paling relevan dan bagaimana urutan halaman-halaman itu diperlihatkan, sangat bervariasi. Ketika seorang pengguna mengunjungi mesin pencari dan memasukkan kata kunci, mesin mencari indeks dan memberikan daftar halaman situs yang paling relevan dengan kriterianya, biasanya disertai ringkasan singkat mengenai judul dokumen dan terkadang sebagian teksnya. Beberapa mesin pencari menyediakan perangkat untuk menerjemahkan halaman situs ke dalam bahasa yang diinginkan pengguna.

Jadi, mesin pencari ini ibarat perpustakaan, yang menyediakan kepada kita sumber-sumber rujukan yang kita perlukan sekaligus data yang terkandung dalam sumber rujukan itu. Mesin pencari paling terkenal adalah Google dan Yahoo.

Sebagaimana media lainnya, internet bermuka dua: positif dan negatif. Positifnya, seperti cerita Dea di atas, internet menyediakan informasi yang dibutuhkan. Internet adalah sumber informasi yang amat sangat kaya. Negatifnya, paling tidak ada dua hal kalau kita lihat kasus Dea tadi.

Pertama, menggunakan mesin pencari untuk mencari data apa pun akan dapat menjebak anak untuk masuk pada kebiasaan instan. Anak potensial untuk melupakan proses dan bahkan tidak mementingkannya. Pada Dea misalnya, ia tidak merasa perlu mendengarkan ceramah atau membuat sendiri makanan yang harus dibawanya, karena hasil akhir yang ingin diperolehnya semua telah tersedia di internet.

Kedua, mudahnya seseorang mendapatkan apa pun pada mesin pencari membuat seseorang tidak sensitif untuk merasa bahwa apa yang dilakukannya salah. Pada Dea, tindakannya sebenarnya tidak jujur. Tapi, karena gampang, dan apalagi, kata Dea, “Semua orang juga begitu!” jadilah kesalahan tersebut tidak dirasakan sebagai hal yang keliru ketika dilakukan secara berjamaah.

Hal ini dapat berimplikasi serius. Orang yang terbiasa mencaplok karya orang lain yang tersedia di internet dan mengklaim karya itu sebagai karyanya disebut plagiat. Tindakan semacam ini disebut plagiarisme. Kalau kebiasaan ini terus berlanjut, alangkah buruknya.

Bayangkan tentang anak-anak yang membuat tugas sekolah. Alih-alih membaca sumber-sumber referensi, ia cukup menggunakan mesin pencari. Ia akan mudah mendapatkan bahan yang dicarinya. Ia cukup mengambil bahan tersebut dan menuliskan nama dirinya sebagai penulis pada tulisan itu, mencetaknya, dan menyerahkannya kepada guru. Dengan bangga ia akan mengatakan bahwa ia telah mengumpulkan karyanya. Bukankah itu pencurian namanya?

Dalam dunia akademis, plagiarisme adalah tindakan yang amat tidak terpuji. Pelakunya akan mendapat hukuman berupa sanksi dari pihak sekolah. Bahkan, di kampus-kampus, pelakunya bisa dikeluarkan atau dipecat.

Hindari Plagiarisme

Kini, karena anak-anak makin banyak menggunakan internet untuk pengerjaan tugas-tugas sekolah, kewaspadaan harus ditingkatkan baik pada orangtua ataupun guru. Mau tidak mau, ini adalah PR bagi orangtua dan guru.

Anak-anak harus dijelaskan tentang bagaimana tatakrama menggunakan bahan-bahan referensi. Tentu saja boleh memanfaatkan internet untuk mencari data, tetapi tidak dengan cara mencuri. Semua ada tata caranya. Mereka harus belajar penggunaan berbagai sumber dari internet (tidak hanya satu bahan dan kemudian mengklaim bahan itu sebagai karyanya!), kemudian menuliskan sendiri berdasarkan berbagai sumber tersebut (istilahnya, mengkompilasi), dan kemudian menulis sumber-sumber bahan tersebut di daftar rujukan atau daftar pustaka.

Intinya, anak harus diajarkan tentang kejujuran dalam menggunakan  data. Kita tentu tak mau anak kita menjadi pembohong atau plagiat.

Anak-anak masa kini adalah anak yang terampil menggunakan internet. Tetapi menggunakannya seperti apa, adalah hal yang sangat harus kita perhatikan. Jangan sampai, anak menjadikan mesin pencari sebagai andalannya untuk mencari segala hal yang ia butuhkan dan melupakan berbagai aturan atau etikanya.

Teman saya bilang, saking larisnya mesin pencari, ia ibarat “dukun” yang sering dicari orang. Kalau dulu orang sering menyebut tentang “mbah dukun”, sekarang yang ada adalah “mbah google”. Teman saya memang ada-ada saja. (Nina M. Armando)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s