Bahaya Memanjakan Anak


 

STF-0889Oleh : Miarti

(Direktur PG dan TK ZAIDAN Alam Mandiri)

Pembaca setia. Ada satu hal yang hampir tidak disadari oleh para orang tua bahwa ternyata, kita terlalu berlebihan dalam memperlakukan anak. Berbagai keinginannya selalu dipenuhi, rengekannya selalu diikuti, setiap permasalahan yang dihadapi anak hampir selalu ditolong secara pragmatis, dll. Bahkan bila ada satu ketidaknyamanan sedikitpun pada diri anak, secepat kilat kita menangkisnya.

Banyak dampak negatif yang akan muncul dari akibat terlalu memanjakan anak. Salah satunya, anak yang terlalu dmanjakan memiliki peluang besar untuk tampil sebagai pribadi yang penakut. Bahkan pada titik ekstrim, anak akan sangat bergantung pada orang lain dan tidak memiliki kepercayaan diri untuk sekadar menyatakan dirinya “mampu” berbuat sesuatu. Sehingga sangat wajar jika kemudian timbul beberapa perilaku yang yang sangat tidak diharapkan seperti;

  • Tidak mampu menyelesaikan masalah
  • Tidak memiliki second opinion
  • Egois
  • Semua keinginannya harus selalu terlayani dan terpenuhi
  • Harus selalu sempurna
  • Keras kepala
  • Emosi tidak stabil
  • Kurang peka terhadap kondisi atau permasalahan yang ada
  • Tidak percaya diri
  • Kurang mampu bergaul dengan baik
  • Penakut

Profil yang cukup dominan pada diri anak yang diakibatkan oleh pola asuh yang memanjakan adalah sifat PENAKUT. Dalam hal ini, takut salah, takut dengan ketidaknyamanan, takut dengan bahaya yang mengancam, takut tidak mampu menyelesaikan masalah, dan lian-lain. Namun walau bagaimanpun, sifat penakut harus dihindari. Karena semakin ia dibiarkan bersama sifat penakutnya, maka ia akan semakin merepotkan kita sebagai orangtuanya.

Berikut beberapa tips dan trik yang wajib Anda pelajari supaya Anda tidak kebablasan memanjakan anak;

1.        Hindari Kebiasaan Mendramatisir Kesulitan

Yakinkan pada anak bahwa segala sesuatu bisa ditempuh dengan mudah.

Pernyataan Anak : “Kakak nggak sekolah Ma… Habis teman-temannya pada nakal semua. Kakak nggak mau sekolah lagi.”
Tanggapan yang harus dihindari : “Ooo gitu ya Nak ya? Ya udah, hari ini boleh Kakak libur dulu. Nanti Mama dating ke sekolah. Mama mau bilang sama Bu guru.”
Tanggapan yang sebaiknya diungkapkan : “Memang siapa aja yang nakal sama Kakak? Pertemanan itu biasa Nak… Kakak juga harus belajar berteman yang baik, biar Kakak lebih nyaman di sekolah.”

2.        Jangan Pernah Mengafirmasi Traumatik

Kadang-kadang para orang tua sering mengulang-ulang, mengomentari, mengingat kembali kejadian pahit atau pengalaman tidak nyaman yang sempat dialami anak seperti kecelakaan dan lai-lain yang pada akhirnya anak menjadi lemah dan mngingat-ingat terus pengalaman pahitnya. Padahal traumatik itu bisa disembuhkan.

Pernyataan Anak : “Bunda, pokoknya aku nggak mau ikut outbound lagi. Takut jatuh kayak dulu.”
Tanggapan yang harus dihindari : “Mmmm… Kakak masih ingat terus ya sama kejadian tempo hari. Ya udah nggak apa-apa. Kalau Kakak masih takut nggak usah ikut aja.”
Tanggapan yang sebaiknya diungkapkan : “Ooo gitu ya? Tapi khan sekarang belum tentu jatuh. Lebih hati-hati aja. Teman-teman juga pada mau ikut semua kok. Gimana? Berani ya…?”

3.        Revisi Semua Pernyataan “Keraguan”

Jangan pernah berhenti membujuk sampai anak merevisi pernyataan keraguan atau ketakutannya. Misalnya, kita belum berhasil memujuk anak (anak laki-laki) sehingga ia mau dikhitan. Ada saja alasan yang diungkapkannya sehingga rencana untuk pelaksanaan khitan tertunda dan tertunda lagi. Nah, sebagai orang tua cerdas, pastika bahwa setiap anak kita memunculkan kalimat-kalimat keraguan, segera tangkis dan luruskan dengan kalimat-kalimat yang lebih optimistis. Ingat, setiap anak itu bisa dikondisikan.

4.        Berikan hanya kalimat-kalimat positif yang membangun

Ingat, kalimat-kalimat negatif itu melemahkan. Kalimat-kalimat negatif itu justru membuat anak tak berdaya.

5.        Terbukalah untuk menjadi orangtua yang selalu memberi kesempatan.

Pada umumnya, karena alasan ingin segera rapi dan atau dikejar waktu, banyak orang tua yang akhirnya menyelesaikan hal-hal yang sebetulnya bisa dijadikan sebagai media pembelajaran anak. Misalnya merapikan tempat tidur, memakai sepatu, menyiapkan bekal, dll. Bila hal-hal demikian pada akhirnya serba ditangani orang tua, dan kesempatan anak untuk mencoba semakin tipis, maka berpotensilah untuk tampil sebagai pribadi yang serba bergantung.

6.        Hindari pencegahan yang berlebihan

Perlu disadari bahwa semakin dicegah apalagi ditekan, maka ada satu ketidakpuasan pada diri anak yang tidak terekspresikan yang sebenarnya bisa ia ledakkan atau lampiaskan pada tempat, waktu, kondisi atau kesempatan yang lain.

7.        Berikan Peluang untuk Berkompetisi

Jangan pernah membiarkan anak kita merasa cukup dan merasa puas dengan kemampuan yang dimilikinya. Dan disinilah salah satunya mengapa anak perlu bergaul, bersekolah, mengenal komunitas, dll.

8.        Ajak ia beradaptasi di medan yang Menantang

Kehidupan itu, belajar menghadapi tantangan. Dan ini berlaku secara fitrah bagi setiap manusia sejak lahir ke dunia hingga  kematian tiba. Semakin anak berada di zona aman dan terus-menerus berada pada kondisi super nyaman, sesungguhnya akan semakin menyulitkan dirinya untuk menghadapi tantangan hidup dan memiliki imunitas yang sangat lemah.

Semoga bermanfaat. Allohu’alam bish showaab.

 

al-Intima on February 25, 2013.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s