Golden Age ada Pada Semua Usia : Temukan Cara yang Tepat


DSC00425
Mitos bahwa Golde Age ada pada usia 1 – 5 tahun kehidupan, menurut beberapa penelitian ternyata tidak benar. Justru Golden Age terjadi tidak hanya pada rentang usia tersebut, namun justru terjadi pada setiap periodisasi rentang usia sepanjang hayat. Penelitian-penelitian dalam tulisan ini nantinya sedikit banyak membuktikan kebenaran tsb.

Masalahnya adalah harus ditemukan cara belajar dan tujuan belajar yang tepat sesuai dengan masing-masing rentang usia tersebut. Jika salah cara dan salah tujuan maka proses belajar tidak hanya akan menyebabkan kemubadziran namun bisa mendatangkan mudharat lainnya, seperti frustasi, stress, jenuh, mental block dsbnya.

Dalam konteks belajar, manusia adalah makhluk yg dirancang sebagai pembelajar yang tangguh yang tidak bisa dilakukan makhluk lainnya yang memang tidak disiapkan untuk menjalani misi sebagai khalifah di muka bumi. Kemampuan mengelola pengetahuan hanya ada pada manusia, bukan pada Jin, Hewan maupun Malaikat. Kemampuan belajar ini sejalan dengan perintah belajar dari buaian hingga wafat.

Buku Quantum Learning bahkan menyebutkan bahwa semakin bertambah tua usia seseorang, maka kemampuan belajar justru lebih meningkat, namun tentu saja dengan cara belajar yang juga unik dan spesifik yang berbeda dari rentang usia sebelumnya. Dalam konteks siroh Nabi Muhammad saw, bahkan dijumpai loncatan-loncatan besar terjadi justru pada periode rentang usia di atas 40 tahun.

Allah swt mengkarunia setiap fase kehidupan sesuatu yang unik dan spesifik, yang bila tepat mengenali dan mensyukurinya, lalu memberikan stimulus belajar dengan cara dan tujuan yang tepat maka akan memberikan keberkahan dan kemuliaan yang luar biasa.

Pro Kontra Glenn Doman

Menggegas bayi (balita) untuk belajar dengan cara dan tujuan yang tidak tepat atau tidak alamiah bahkan mengkhianati karunia “Golden Age” pada rentang usia tersebut. Bagai kisah Angsa bertelur Emas, yang disembelih untuk mendapatkan semua telur emasnya, maka alih-alih dapat golden nya, malah kehilangan semua golden sesungguhnya.

Bagi dunia industri, tema Baby Genius adalah komoditas untuk menciptakan dollar dengan memanfaat kepanikan persaingan dan obsesi orangtua memiliki bayi jenius sedini mungkin. Munculah berbagai alat bantu stimulus berupa film, permainan dsbnya.

Dalam dunia parenting anak usia dini dikenal alat bantu mendidik anak supaya cerdas seperti flashcard. Kartu-kartu kecil yang seukuran tangan orang dewasa dengan tampilan gambar dan nama gambar. Dibalik kartu tersebut juga terdapat nama gambar yang sama.

Anak usia dini sejak umur 1 hingga 5 tahun dapat diperkenalkan dengan kartu-kartu ini. Terdapat berbagai macam jenis kartu seperti flashcard suku kata dsbnya.

Ini merupakan salah satu metode yang dikembangkan oleh Glenn Doman sebagai salah satu cara untuk membuat bayi yang jenius. Banyak orangtua yang sudah menggunakannya. Metode ini juga populer diberbagai negara seperti jepang dan amerika.

Meski sudah banyak orang tua yang berhasil mengajar balitanya membaca dengan teknik Glenn Doman, ada pula yang memilih berpendapat lain. Kontra terhadap metode Glenn Doman bahkan dimuat dalam film berjudul Smart Babies dari Discovery Health Channel. Film yang merupakan hasil penelitian para ahli yang melibatkan psikiater, ahli neurologi, psikolog anak, pendidik anak, mementahkan teori Glenn Doman.

Melalui berbagai riset dan fakta ilmiah membuktikan bahwa sinapsis, yang katanya tumbuh pesat di usia dini, ternyata terus berkembang seumur hidup artinya proses pembelajaran bagi seseorang tidak pernah berhenti selama ia hidup. Dan banyaknya sinapsis tidak berarti lebih cerdas, karena secara alamiah jumlah sinapsis akan dirampingkan saat orang beranjak dewasa.

Dibuktikan pula, pada usia balita yang terpenting adalah pengembangan sensomotoriknya (panca indera dan otot-otot gerak). Balita yang kurang bermain di usia kritis akan lebih “bodoh” daripada yang banyak bermain karena pada usia kritis mereka lebih banyak belajar lewat panca indera/pengalaman daripada latihan memori/logika. Periode kritis 0-5 tahun bukanlah soal baca-tulis, kemampuan berpikir balita masih pra-operasional sehingga yang harus diberikan adalah sesuatu yang konkret, nyata, dialami, dan dirasakan.

Selengkapnya dalam discovery channel dengan judul ”smart babies” tersebut dijelaskan bahwa metode ini tidak segegap gempita yang diberitakan. Terdapat 3 asumsi yang menjadi pilar dasar dari ”hothousing” (belajar di usia sangat muda) yang kemudian dapat terbantahkan

a. asumsi sinapsis dikatakan bahwa sinapsis (hubungan antar sel otak) sangat berkembang pada usia dini terutama usia tiga tahun pertama. Karena itu sangat tepat untuk mengoptimalkan otak pada tiga tahun pertama sehingga dapat meningkatkan kecerdasan anak para ahli psikologi Amerika kemudian mengatakan bahwa benar otak anak terutama usia satu tahun pertama berkembang secara pesat. Tetapi kemudian mengalami penyusutan pada periode tertentu dan kemudian akan mengalami perkembangan lagi pada periode selanjutnya.

b. asumsi periode kritis dikatakan bahwa anak mempunyai periode kritis yang harus di waspadai karena bila pada periode tertentu pembelajaran yang seharusnya terjadi tidak terlaksana maka akan mempengaruhi perkembangan dasar anak tersebut. Asumsi ini dibantah dengan mengatakan bahwa periode kritis ini hanya terjadi pada kemampuan-kemampuan mendasar yang dibutuhkan untuk survival seperti makan, berjalan, dan berbicara. Sedangkan kemampuan belajar matematik, bahasa inggris, dll, yang merupakan kemampuan yang ditransfer melalui perantara budaya dapat terus berlangsung sepanjang hayat.

c. asumsi enriched environment (lingkungan yang diperkaya) dengan menstimulus anak menggunakan flashcard berbagai macam sebagai sarana bayi belajar segala hal berarti kita memperkaya lingkungan belajar bayi sehingga bayi belajar lebih baik. Pada penelitian yang dilakuan kepada tikus, tikus yang diberikan lingkungan yang kaya, dengan banyak stimulus dan mainan, terbukti bahwa otak tikus menjadi lebih besar dibandingkan tikus yang tidak diberikan stimulus. Tetapi, masalah usia tikus tidak menjadi masalah. Artinya, lingkungan yang diperkaya menguntungkan manusia untuk semua usia, bukan hanya bayi

Diakhir film di ceritakan anak usia 14 tahun yang pada saat ia berusia 2 tahun diberikan flashcard nama-nama pesawat tempur. Ia tidak bisa memberikan jawaban atas nama-nama pesawat yang ditampilan padanya. Itu dikarenan ia tidak ingat sama sekali. Ingatan yang diberikan pada saat bayi sama sekali tidak terekam karena ingatannya bersifat hafalan oral. Hafalan yang lebih diingat manusia adalah hafalan yang terkait dengan pengalamannya dan struktur ingatan yang sudah ada di dalam otaknya.

Salah satu ahli yang menentang metode stimulasi flash card adalah Psikolog dan Playtherapist dari Lembaga Psikologi Terapan Universitas Indonesia Dra. Mayke S. Tedjasaputra, M.Si. Dalam pandangannya, mengajarkan anak dengan flash card termasuk kategori overstimulation atau stimulasi yang berlebihan.

“Tidak benar menyuruh bayi belajar, misalnya dengan flash card karena ini adalah overstimulation. Seorang pakar bermain Brian Sutton-Smith menegaskan ini sudah termasuk cognitive child labor atau secara kognitif anak sudah dipekerjakan terlalu keras,” ungkap Mayke di Jakarta beberapa waktu lalu.

Menurut pendapat Mayke, ketika orang tua menyodorkan flash card berarti anak harus diam dan diminta memperhatikan sehingga anak sudah dituntut untuk belajar. “Di sana yang lebih ditekankan adalah faktor kognitifnya. Padahal di usia awal pertumbuhan yang harus dikembangkan adalah senses-nya (sensomotorik) , bukan memori. Artinya, bukan melatih memori secara khusus dengan diperlihatkan flash card. Itu sudah termasuk belajar yang sepertinya ada target yang ingin dicapai. Jadi sudah bukan bermain lagi,” ungkapnya.

Mayke mengakui bahwa dengan pemberian metode flash card yang sifatnya singkat-singkat, mungkin anak akan cepat menangkap, mengingat dan mempelajarinya. Ada banyak penelitian yang mendukung maupun yang menentang metode ini. “Tentu penelitian itu ada yang pro dan kontra. Ada yang mengatakan itu bagus. Tetapi kontra juga sudah mengatakan bukti-bukti bahwa itu tidak baik bagi perkembangan anak karena masa anak adalah masa bermain di mana mereka tak bisa dituntut untuk diam dan belajar dengan suatu materi,” tegasnya.

Mayke juga menilai dengan metode flash card hanyalah membantu percepatan kemampuan untuk sementara, dan yang dikhawatirkan justru anak akan jenuh sebelum waktunya. “Dari hasil penelitian menunjukkan, rangsangan terlalu dini yang sifatnya overstimulation ketika anak sudah bisa membaca hanya merupakan percepatan yang bersifat sementara. Tetapi saat mereka sudah menginjak kelas 4 SD dan prestasinya dibandingkan, tidak ada perbedaan yang signifkan,” terangnya.

Yang juga dikhawatirkan, kata Mayke, bila orang tuanya ambisius, mereka menginginkan target tertentu. “Ketika anaknya diajarkan, lalu mereka frustasi, nah itu bahayanya. Metode ini juga dapat memancing orang tua untuk membenarkan bahwa sejak bayi anak harus belajar” ujarnya.

Yang lebih baik, lanjut Mayke, anak diberikan metode dengan apa yang mereka alami secara faktual bukan melalui gambar. “Flash card hanya gambar, gambar yang tidak faktual. Lebih baik mereka belajar misalnya apa itu bola dengan cara memagang dan memainkannya. Karena yang penting dalam tahap ini adalah sensomotor, semua indera perlu dirangsang, Jadi anak tidak hanya belajar dengan melihat dan mengingat kartu-kartu itu,” ujarnya.

Kesimpulannya, biarkan bayi belajar dengan caranya. Bermain dan berekplorasi. Tidak perlu memaksakan belajar formal di usia sangat awal. Karna terbukti bahwa anak yang belajar di usia tujuh tahun dapat menyamai prestasi anak yang sudah belajar sejak usia 4 tahun. Di usia 9 tahun, tidak terdapat perbedaan antara anak yang belajar dini dan yang belajar terlambat. bahkan, terdapat fakta di lapangan bahwa anak yang belajar terlalu dini dapat mengalami kebosanan belajar dan mengalami masalah dalam belajar.

Bisa jadi anak-anak balita terlihat enjoy enjoy saja diajarkan sesuatu yg belum saatnya, lalu pertanyaannya adalah untuk tujuan apa? Apakah untuk kepentingan mereka? Mari kita jawab dengan jujur.

Tidak usah tergesa-gesa mengajari anak kita agar bisa membaca, menulis, ataupun berhitung. bila sudah saatnya, anak-anak itu yang akan meminta kita untuk membimbing mereka belajar. Selain itu, masih banyak hal yang bisa dipelajari (dan lebih penting) oleh anak usia batita dan balita selain calistung, misalnya, mengajari perilaku yang baik, kemandirian, ataupun kejujuran yang bisa dipelajari sambil bermain bersama anak..

 

Roro Dwi

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s