Hamasah dan Iradah Qawiyah


Oleh Abdul Wahid

Perjalanan dakwah masih panjang. Salah satu faktor yang membuat kita dapat bertahan dan terus eksis di jalan dakwah adalah adanya hamasah (semangat) dan iradah (kehendak) kuat yang tertanam dalam jiwa kita.
Tanpa iradah mustahil kita bergerak dan melangkah untuk kepentingan dakwah. Dan tanpa hamasah yang membara, jiwa-jiwa kita akan mudah lemah dan terpuruk.
Iradah dan hamasah lahir dari kekuatan “yaqzhah ruhiyah” (kesiagaan ruhani). Iradah dan hamasah-lah yang menjadi anak panah yang membimbing kita untuk sampai sasaran-sasaran dakwah.
Muassis dakwah ini menginginkan kader-kader yang bergabung di dalamnya adalah kader-kader yang memiliki jiwa-jiwa muda yang senantiasa membara dan semangat yang menggelora dalam medan dakwah.

 

“Bisa saya katakan bahwa yang pertama kali kita siapkan adalah kebangkitan ruhani, hidupnya hati, serta kesadaran penuh yang ada dalam jiwa dan perasaan. Kami menginginkan jiwa-jiwa yang hidup, kuat, tangguh, hati-hati yang segar serta memiliki semangat yang berkobar, perasaan dan ghirah yang selalu bergelora, ruh-ruh yang bersemangat, selalu optimis, merindukan nilai-nilai yang luhur, tujuan mulia serta mau bekerja keras untuk menggapainya…” (Risalah Da’watuna Fii Thaurin Jadiid)

Beliau juga menegaskan,

“Dan tidak ada bekal yang layak bagi umat dalam meniti jalan yang keras dan mengerikan ini kecuali jiwa yang beriman, tekad kuat nan jujur, kegemaran berkorban dan berani menanggung resiko. Dan tanpa ini semua gerakan dakwah akan dikalahkan dan kegagalan menjadi sahabat putra-putra dakwah.” (Risalah Hal Nahnu Qaumun ‘Amaliyyun).

 

Jiwa yang hidup, kuat, tangguh, dan berani menghadapi realita hidup, akan mampu menghadapi resiko dan konsekwensi perjuangan. Amatlah pantas perintah Allah SWT pada orang beriman agar menghadapi musuh dengan jiwa yang tegar dan konsisten pada keyakinan.

 

“Hai orang-orang yang beriman apabila kamu menghadapi satu pasukan maka berteguh hatilah kamu dan sebutlah nama Allah sebanyak-banyaknya agar kamu beruntung”. (Q.S. Al Anfal: 45).

 

Pujangga termasyhur, Al Buhturi dalam baris syairnya mengungkapkan bahwa jiwa yang berani hidup dengan menghadapi resiko apapun dan tetap tegar berdiri di atas pijakannya adalah ‘nafsun tudhi’u wa himmatun tatawaqqadu’ (jiwa yang menerangi dan cita-cita yang menyala-nyala).***

:: PKS PIYUNGAN

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s