Ummu Nidhal Farhat Bersyukur Tiga Putranya Syahid


Mendengar kabar putranya syahid, ia keluar rumah membagi-bagikan coklat dan manisan sebagai tandai syukur.

Apa yang akan dilakukan seorang ibu jika mendapati anak kesayangannya mati terbunuh? Marah, menangis sejadi-jadinya, atau minimal sedih berkelanjutan.

Tapi yang demikian tidak berlaku bagi Ummu Nidhal Farhat. Seorang ibu yang tinggal di kawasan Syuja’iyyah, Gaza, ini malah bersyukur saat mendapati tiga putranya tewas diberondong tentara Zionis Israel.

Saat berkunjung ke Gaza Desember 2012 lalu, Suara Hidayatullah dan tim Sahabat Al-Aqsha sempat diantar berkunjung ke rumah Ummu Nidhal yang berlokasi di kawasan padat penduduk. Rumahnya terletak di ujung gang buntu yang pas-pasan untuk dilalui satu mobil saja.

Sebagai seorang anggota parlemen, rumah Ummu Nidhal sangat jauh berbeda dibanding dengan umumnya wakil rakyat di Indonesia yang tinggal di rumah megah dan kompleks mewah. Bentuk bangunan rumahnya kotak bertingkat yang sederhana tanpa pilar-pilar dan balkon nan megah.

Ketiga putra Ummu Nidhal keluar untuk menyambut. Sementara Ummu Nidhal menunggu di ruang tamunya. Ruangan berukuran sekitar 3,5 x 4 meter dengan satu set sofa berbentuk huruf “U”. Di dinding tempat ia bersandar terpajang lukisan kaligrafi dan sepucuk senapan tua.

Ummu Nidhal duduk berseberangan dengan Suara Hidayatullah dan tim Sahabat Al-Aqsha. Ia memakai pakaian terusan abaya hitam dan jilbab besar warna putih. Kakinya dibalut selimut. “Rumah ini pernah diroket oleh Israel hingga rata dengan tanah,” bisik seseorang yang menemani Suara Hidayatullah dan tim Sahabat Al-Aqsha waktu itu.

Rasanya tidak heran, jika rumah Ummu Nidhal jadi sasaran Zionis Israel. Seperti diakui oleh Ummu Nidhal sendiri, rumahnya memang tempat berkumpul para mujahid Palestina. Imad ‘Aqil, Panglima Brigade ‘Izzuddin al-Qassam pertama yang syahid–insya Allah–pada tahun 1994, juga kerap berkumpul di sini bersama putra-putra Ummu Nidhal dan mujahidin yang lain untuk merencanakan serangan. Bahkan di rumah ini pula ‘Aqil dibunuh Zionis.

Membagikan Manisan dan Coklat
Nama asli Ummu Nidhal adalah Maryam Muhammad Yusuf Farhat. Ia lahir di Gaza, tahun 1950. Ia juga dikenal dengan julukan Khansa’ dari Palestina. Khansa’ adalah seorang sahabat Rasulullah Muhammad SAW dari kalangan wanita yang seluruh anaknya syahid di medan jihad dan ia ridha terhadap kematian semua anaknya.

Hal serupa juga terjadi pada Ummu Nidhal. Tiga putranya, Nidhal Farhat, Muhammad Fathi Farhat, dan Rawad Farhat gugur di medan jihad melawan penjajahan Zionis Israel.

Pada Maret 2002, Muhammad Fathi Farhat melakukan penyerangan seorang diri ke sebuah sekolah semi-militer di bekas pemukiman Yahudi di Gaza, Atzmona. Muhammad yang saat itu berumur 17 tahun menembaki siswa-siswa tersebut dengan senapan otomatis AK 47 dan granat tangan. Serangan itu menewaskan 10 orang dan 23 luka-luka.

Dalam wawancaranya dengan Dream2 TV, Ummu Nidhal bercerita, Muhammad menembaki orang-orang Yahudi itu dari ruangan ke ruangan selama 22 menit sampai ia kehabisan aminusi dan ditembak mati Zionis. “Jika ia masih punya amunisi, tentunya ia tetap akan menyerang,” ujar Ummu Nidhal yang suaminya juga gugur di medan jihad ini.

“Ketika mendapat kabar Muhammad syahid, Ummu Nidhal keluar rumah dan membagi-bagikan manisan dan coklat. Sebagai tanda syukur putranya mati syahid di jalan Allah,” kata sumber tadi.

Pada pertemuan itu, Ummu Nidhal memang tidak menyinggung soal ketiga putranya yang syahid. Ia juga tidak mengeluhkan perjuangan berat yang tengah dihadapi negerinya itu.

Ia lebih banyak memberikan kata sambutan kepada tim dan menasihati agar selalu ikhlas dan senantiasa mendekatkan diri kepada Allah dengan meninggalkan berbagai kelezatan dunia. “Kita tinggalkan kelezatan dunia, Allah akan ganti,” katanya.

Mulia dengan Jihad dan Ribath

Dalam buku Inside Hamas: The Untold Stories of Militants, Martyrs, and Spies, ditulis, setelah kehilangan suami pertamanya di medan jihad, Ummu Nidhal menikah dengan seorang polisi. Ia mempunyai enam anak laki-laki dan empat anak perempuan.

Tiga anak laki-lakinya tewas di medan jihad. Satu orang putranya lagi, Wissam Farhat, pernah dipenjara selama kurang lebih 11 tahun oleh Zionis. Wissam ditangkap saat berusaha meledakkan bom isytisyhadi (meledakkan diri) di sebuah pemukiman Yahudi di Beer Sheva, di daerah Gurun Negev, selatan Hebron.
Dalam buku itu diceritakan, Wissam mendapat dukungan penuh dari ibunya untuk melakukan aksi-aksi jihad melawan Zionis, termasuk melakukan aksi isytisyhadi. Dalam wawancaranya dengan media-media usai gugurnya Muhammad, Ummu Nidhal juga mengaku dialah yang menyiapkan dan anak-anaknya berperang.
Tapi, bukan berarti ia tidak sayang dengan anak-anaknya. Dalam buku itu ia mengaku sempat menangis mengetahui Muhammad mendapat misi penyerangan seorang diri. Sedangkan Muhammad tertawa melihat reaksi sang ibu.

Segera saja Ummu Nidhal berkata padanya, “Aku ibumu! Tidak mudah bagiku melepasmu, aku menangisimu siang dan malam. Jangan salah artikan air mataku. Itu adalah tangis seorang ibu yang akan melepas putranya untuk menikah dengan bidadari. Kau harus jalankan tugasmu, dan tetaplah menyerang sampai waktunya engkau bertemu Allah.”

Dalam wawancara denga Iqra TV Arab Saudi, Ummu Nidhal mengatakan, orang-orang Palestina beriman kepada takdir Allah, kalau sudah bertemu dengan ajal ia pasti akan mati biarpun ia berusaha sembunyi.
Katanya, ada perbedaan antara jenis kematian satu dengan yang lain. “Lalu, kenapa kami tidak pilih saja mati sebagai syuhada,” ujar Ummu Nidhal. “Alhamdulillah,” kata Ummu Nidhal, “Allah telah pilih kami di antara semua manusia, dan telah memuliakan kami dengan jihad dan ribath membebaskan Palestina.”
Ia melanjutkan. “Jadi, lebih baik kami yang mencari kematian sebagai syuhada, sebelum maut datang sedang kami duduk di rumah.”

Berjuang Bersama
Kepada Suara Hidayatullah dan tim Sahabat Al-Aqsha, Ummu Nidhal mengatakan, kemenangan mujahidin Gaza dalam perang delapan hari melawan Zionis pada November 2012 lalu bukanlah kemenangan Gaza sendiri. Tapi katanya, penduduk Gaza yang sedikit telah dibantu saudara-saudaranya seiman sedunia.
“Kemenangan ini adalah saham-saham kalian juga,” kata Ummu Nidhal.

Ia melanjutkan, perang terbaru dengan Zionis itu adalah perang yang penting. Setelah itu, katanya, akan ada perang berikutnya. “Yakni perang untuk kemerdekaan seluruh Palestina dan al-Quds,” ucapnya.
Untuk itu, Ummu Nidhal mengajak semua umat untuk bergabung bersama mujahidin Gaza di shaf depan perjuangan merebut kembali al-Quds. “Memang benar kami di shaf depan dalam jihad, tapi kalian juga bisa bersama kami di depan,” kata perempuan yang terbiasa memengang senapan ini.*

 

 

Surya Fachrizal Ginting/Suara Hidayatullah Maret 2013

One thought on “Ummu Nidhal Farhat Bersyukur Tiga Putranya Syahid

  1. assalammualaikum saya mau tanya apa Nidhal Farhat, Muhammad Fathi Farhat, dan Rawad Farhat anak dari suami pertama atau suami kedua yang seorang polisi? mohon di jawab, terimakasih.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s