Dicari Wanita shalihah di Sepertiga Malam Terakhir (2)


anjutan dari ARTIKEL Pertama

Susahnya mencari Pria Sekuat Nabi Yusuf

Sungguh di zaman ini, sulitnya mencari pria dengan iman sekuat Yusuf kala digoda wanita. Susahnya menemukan lelaki qonaah, di kala begitu banyak pria memilih seperti Qorun yang tergila -gila harta. Di saat banyak yang lebih suka menjadi seperti artis-artis yang bangga dengan kegagahan fisik. Pada saat banyak pria merasa hebat bisa mengoleksi jumlah wanita yang “jatuh hati” padanya. Di kala banyak pemuda yang lebih memilih kesenangan syahwat bahkan sekalipun menjadi gigolo. Di saat banyak pria lebih senang bisa menaklukkan para wanita untuk dipacari.

Namun pria shalih walau sedikit tapi ia ada. Memang tak sehebat Yusuf, tapi amat luar biasa kala memilih untuk taat pada Allah SWT. Ia menang kala berperang mengendalikan hawa nafsunya. Ia sama seperti Yusuf kala tak mau tergoda wanita. Selama tak ada uzur ia ada di masjid setiap datang waktu shalat. Terus menerus menuntut ilmu agama adalah aliran darahnya. Ia pria yang memiliki keberanian tiada tanding dalam beramar ma’ruf nahi munkar di manapun berada sekalipun nyawa taruhannya. Ia imam yang cerdas dan bijaksana kala mendidik anak istrinya. Segala sisi dalam dirinya, hati, pemikiran dan perilakunya selalu terikat dengan aturanNya. Cintanya yang utama adalah pada Allah, rosul, dan jihad fii sabilillah.

Setali tiga uang, teramat sulit juga mencari wanita shalihah. Tak perlu setegar dan selembut Khadijah. Tak apalah bila tak secerdas dan secantik Aisyah. Tidak mengapa juga bila tak setaat dan sehebat Fatimah. Hanya satu yang penting, lisan, hati, pemikiran dan perilakunya senantiasa terikat aturan Allah. Itu sudah amat cukup. Dan wanita seperti ini pun ternyata sulit dicari.

Wanita yang tak memperturutkan hawa nafsu memang sulit ditemukan. Wanita yang tak suka memperlihatkan lekuk tubuh memang jarang. Wanita yang tidak suka menggunjing memang langka. Wanita yang suka menyembunyikan aib orang lain memang teramat sedikit jumlahnya. Tapi ia ada. Ia nyata. Ia ada di tengah kerumunan orang. Pakaiannya sopan, tertutup, longgar, tak tampak auratnya dari ujung kaki hingga ujung rambut.

Sementara mungkin di sebelahnya adalah wanita-wanita yang terlihat rambut, betis, paha, bahkan dada. Bisa jadi di sekelilingnya adalah wanita yang berpakaian tapi ketat sehingga terbentuk jelas keindahan tubuhnya. Sangat mungkin di sekitarnya adalah wanita berkerudung tipis hingga terlihat bayang rambutnya, atau wanita berkerudung tapi baju dan celananya tetap menonjolkan bentuk badan.

Tapi ia tetap kokoh tak tergoda untuk mengikuti para wanita di kanan kirinya. Meski ia pun memiliki body dan kulit yang sama indah dengan mereka. Tapi ia tetap menjaganya karena Allah, hatinya tak rela menjadi “santapan mata” makhluk bernama pria.

Wanita shalihah ia ada di sepertiga malam terakhir. Kala banyak manusia lelap tertidur. Saat banyak wanita sepertinya dugem di diskotik atau menjajakan tubuhnya di hotel-hotel, tempat prostitusi atau dimanapun nafsu bisa tersalurkan. Di dini hari yang dingin ia menangis, mohon ampun atas segala dosanya. Berdoa, dan mengadu pada Sang Maha Bijaksana.

Wanita shalihah, ia berada dalam rumah, di saat banyak teman-teman atau tetangganya berkumpul ngobrol sia-sia bahkan bergosip dan membicarakan kejelekan orang lain. Dan ia semakin tenggelam di dalam rumah dengan segala aktifitas mendekatkan diri pada RobbNya kala lisannya beramar ma’ruf nahi munkar hanya dipandang sebelah mata.

Wanita shalihah, ia tak berhias selain untuk suaminya. Meski mungkin teman-temannya, tetangga-tetangganya, bahkan saudara-saudaranya selalu memoles wajahnya dengan bedak tebal, lipstik, perona pipi, bulu mata atau eye shadow agar tampak cantik. Ia tetap kuat tak tergoda, tetap polos wajahnya di kala banyak wanita memilih bermetamorfosis saat keluar rumah.

Wanita shalihah, ia lebih memilih berada di masjid dan majelis-majelis ilmu daripada jalan-jalan dan cuci mata di mall-mall. Ia lebih memilih menghafal Alquran daripada berinteraksi di dunia maya hanya untuk menunjukkan eksistensi diri. Toh, berinteraksi sesama perempuan bisa dilakukan via sms, email, menelpon atau bertatap muka langsung. Jauh lebih terjaga daripada fb dan sejenisnya, karena bisa jadi mengundang lawan jenis nimbrung tiba-tiba.

Wanita shalihah, ia sangat terjaga lisannya. Tak mungkin mencaci maki orang lain. Bukan levelnya untuk mengeluarkan kata-kata buruk apalagi membicarakan aib orang lain. Ia sangat menjaga agar orang lain aman dari ucapannya.

Wanita shalihah, ia juga amat menghormati ibunya. Tak setitikpun memiliki kata dan sikap yang bisa melukai wanita yang telah melahirkannya. Tak pernah sekalipun ia berani membuat wanita mulia itu meneteskan air mata kesedihan. Begitu teramat berharga seorang ibu baginya. Laksana kristal yang harus dijaga.

Wanita shalihah, pasti takut pada Allah. Ia sangat peduli dengan dosa-dosa yang dimiliki. Ia sangat care untuk tak pernah lagi melakukan tindakan-tindakan yang melanggar syara. Ia selalu menjadikan segala dosa dan kemaksiatan di masa lalu sebagai cermin agar tak pernah terulang lagi.

Wanita shalihah dan pria shalih memang langka. Ia laksana orang asing. Benar sekali sabda rosul, “Islam muncul dalam keadaan asing, dan ia akan kembali dalam keadaan asing, maka beruntunglah orang-orang yang terasingkan itu.” (HR. Muslim no. 208)

Wanita shalihah dan pria shalih, namun ia ada dan akan selalu ada. Karena ia sebuah pilihan. Menjadi shalih dan shalihah adalah pilihan. Tiap diri bisa untuk memilih, menjadi shalih shalihah atau pendosa. Semakin banyak yang memilih menjadi shalih shalihah, maka akan semakin banyak yang akan mampu menginspirasi dan mengangkat saudaranya yang belum terbuka pintu hatinya. Semakin banyak yang bisa menebar manfaat bagi saudaranya seiman.

Wanita shalihah dan pria shalih laksana mutiara. Tetap indah berkilau walau ada dalam kubangan lumpur. Hidupnya penuh dengan cintaNya. Semoga menjadi seperti mutiara akan menjadi pilihan banyak anak manusia. Rosulullah bersabda, “Bila hamba-Ku dekati-Ku sejengkal, maka Aku akan dekati dia sehasta. Bila dia dekati-Ku sehasta, maka Aku akan dekati dia sedepa. Dan apabila dia datang mendekati-Ku dengan berjalan, maka Aku akan dekati dia dengan berlari.” (HR Bukhari)

Mengubah diri menjadi seperti mutiara memang tak mudah. Ada setan yang selalu mengintai. Tapi ingatlah bahwa kematian pun selalu mengiringi setiap langkah manusia, dimanapun berada. Dan cukuplah janji Allah menjadi sumber kekuatan. Sebuah hadits qudsy riwayat Tirmidzi dari Anas ra, bahwa Rasulullah saw bersabda, “bahwa Allah telah berfirman, “Wahai anak Adam, selagi engkau meminta dan berharap kepada-Ku, maka Aku akan mengampuni dosamu dan Aku tidak pedulikan lagi (dosamu). Wahai anak Adam, walaupun dosamu sampai setinggi langit, bila engkau mohon ampun kepada-Ku, niscaya Aku memberi ampun kepadamu. Wahai anak Adam, jika engkau menemui Aku dengan membawa dosa sebanyak isi bumi, tetapi engkau tiada menyekutukan sesuatu dengan Aku, niscaya Aku datang kepadamu dengan (memberi) ampunan sepenuh bumi pula,” (HR Tirmidzi).

Sungguh, kita (para Muslimah) indah bila menjadi seperti mutiara. Wallahu’alam.*/Naila Ridla, MSi. Penulis adalah pegiat CIIA Devisi Kajian Sosial Budaya

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s