Jangan Tinggalkan Dakwah, Meski Sederhana


Oleh: Mohammad Fauzil Adhim

Tak sia-sia. Berawal dari dakwah jalanan, dari brosur tentang Islam yang dibagikan oleh Syaikh Nikmatullah kepada orang-orang yang lalu lalang, ‘Abdullah Taqy Takazawa akhirnya masuk Islam 10 tahun setelah menerima brosur tersebut. Selama masa itu, rupanya ia melakukan pencarian spiritual yang tak putus-putus. Ia pelajari Kabbalah (mistisisme Yahudi), Mikkyo (esoterisme Buddha) dan berbagai ajaran lain sebelum akhirnya Allah Ta’ala berikan hidayah sehingga ia masuk Islam. Saya tak tahu nama aslinya. Dan itu tak penting. Yang paling penting adalah bahwa ia menjadi muslim yang amat berserius membawakan Islam ini di negerinya. Ia ditunjuk menjadi imam di sebuah masjid kecil di kawasan Kabukicho, Shinjuku, Tokyo.

Saya sempat ke Tokyo, tetapi ketika itu saya belum mengenal nama ini sehingga tidak berusaha menyempatkan waktu untuk mencari dan bertemu. Meski demikian, bahagia rasanya saya ketika sempat bertemu dan berbincang dengan Ustadz Muhammad Satou di Sendai. Saya pernah menulis di sini dalam status bertajuk Antar Jemput Shalat Jama’ah. Jika kesulitan mencari tulisan ini, telusuri saja di bagian foto.

Kisah masuk Islam ‘Abdullah Taqy Takazawa ini memberi pelajaran berharga bagi kita betapa tak ada yang sia-sia dengan dakwah. Betapa kita tak patut meninggalkan dakwah. Maka jika dakwah kita seakan tak memperoleh sambutan, bukan berarti dakwah kita gagal. Sekali lagi, ingatlah! Abdullah Taqy perlu 10 tahun untuk menyambut dakwah dan menjadi muslim secara total. Hari ini, kita mengenalnya sebagai imam pribumi Jepang yang matang ‘ilmu diennya. Syaikh ‘Abdullah Taqy Takazawa pernah menempuh studi Islam di Saudi Arabia sehingga matang ilmunya dan patut menjadi imam.

Maka, janganlah engkau tertipu, wahai diri. Keberhasilan dakwah bukanlah tentang airmata berlinang saat mendengar ceramah kita. Bukan. Boleh jadi itu bukan tangisan hati. Tapi tangisan kepala akibat suara kita yang mengaduk-aduk emosi. Bukan karena nasehat yang menembus hati.

Keberhasilan dakwah juga bukan soal senyum yang merekah atau jabat tangan erat usai dengar ceramah kita. Bahkan dakwah tak sama dengan ceramah. Tak setiap ceramah agama itu adalah dakwah.

Semoga Allah Ta’ala berikan pertolongan kepada kita. Semoga Allah Ta’ala teguhkan iman kita dan tidaklah kita mati kecuali dalam keadaan sebagai muslim yang benar-benar berserah diri kepada Allah subhanahu wa ta’ala.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s