Jangan Berputus Asa Terhadap Dosa


Oleh M. Lili Nur Aulia

Seseorang merasa berdosa, kemudian bertaubat kepada Allah, dan bertekad untuk melepaskan diri dari dosa. Tapi ternyata ia terpeleset lagi dan takluk oleh hawa nafsunya hingga kembali jatuh dalam lubang dosa dari sisi yang sulit ia atasi. Ia kemudian bertaubat lagi kepada Allah. Dan kembali bertekad untuk istiqomah dan melepas diri dari dosa yang dilakukan. Tapi ternyata ia kembali jatuh dalam kemaksiatan, dikuasai lagi oleh hawa nafsunya. Lantas ia bertaubat lagi, dengan tulus dan kembali menegaskan dirinya untuk tidak mengulangi dosa, bertekad kembali untuk istiqomah, menjauh dari kemaksiatan. Bagaimana kita melihat orang seperti ini?

Saudaraku,

Apakah kita menilai bahwa taubatnya itu palsu dan janjinya adalah dusta? Lalu kita menganggap bahwa tak mungkin ada kebaikannya dalam dirinya untuk diterima taubatnya? Jika demikian, justru inilah keberhasilan syaitan yang sesungguhnya atas orang yang melakukan kemaksiatan dan dosa. Yaitu, keberhasilan syaitan untuk menjadikan seseorang tidak pantas menjadi orang shalih. Keberhasilan untuk menjadikan seseorang merasa lebih layak menjadi pendosa ketimbang ahli ibadah yang dekat kepada Allah. Keberhasilan untuk menjadikan seseorang merasa tak berdaya menghadapi hawa nafsunya dan tidak pantas menerima ampunan. Lalu akibatnya, ia tenggelam habis dalam gelombang dosa dan kemaksiatan.

Saudaraku,

Ada sebuah hadits yang luar biasa sekali kandungannya. Dari Anas ra., ia mendengar Rasulullah SAW bersabda, “Allah SWT berfirman: “Wahai bani Adam, sesungguhnya engkau selama berdoa kepada-Ku dan berharap kepada-Ku, maka Aku pasti mengampunimu atas apapun yang ada pada dirimu. Aku tidak peduli. Wahai bani Adam, andai dosa-dosamu sepenuh langit, kemudian engkau memohon ampunan-Ku, pasti Aku beri ampunan kepadamu. Wahai bani Adam, jika engkau datang kepada-Ku, dengan kesalahan sepenuh bumi, kemudian engkau menemui-Ku dalam keadaan tidak menyekutukan-Ku dengan sesuatu yang lain sedikit pun, niscaya akan Aku datangi engkau dengan ampunan sepenuh bumi.”

Dalam surat Qaaf ayat 32, Al Quran juga menyebutkan salah satu sifat Allah adalah Awwaab. Kata itu merupakan sibghah mubalaghah dari kata Aayiib, atau yang menerima orang yang kembali. Sedangkan Awwaab artinya adalah Maha Penerima orang yang kembali kepada-Nya.

Jadi, dalil-dalil itu semua menegaskan bahwa seseorang yang melakukan dosa dan kemaksiatan, tapi kemudian dia bertaubat dan memohon ampun kepada Allah dari dosa yang dilakukannya dengan tulus. Kemudian dia berazam untuk tidak melakukannya. Itu bisa menjadi penyebab ampunan Allah SWT kepadanya. Meskipun ia kemudian ternyata tidak mampu menahan hawa nafsunya dan terjerembab dalam dosa, kemudian memohon ampun lagi dan bertekad lagi untuk tidak melakukan. Artinya, dosa tidak boleh menjadi penghalang bagi siapapun untuk mendapat ampunan Allah SWT dan menjadikan seseorang lebih baik. Itu sebabnya, Ibnu Athaillah mengatakan, “Jika engkau melakukan dosa setelah berulangkali bertaubat, janganlah dosa itu menjadikan dirimu putus asa dari kemampuanmu melakukan keistiqamahan dan terlepas dari kemaksiatan. Betapapun engkau mengulang-ulang dosa, sesungguhnya engkau tetap tidak tahu bila dosa yang engkau ulang-ulang itu kemudian menjadi akhir dosa yang engkau lakukan.”

Saudaraku,

Renungkanlah bagaimana kedalaman kandungan nasihat Ibnu Athaillah tadi. Bahwa yang paling mendasar adalah munculnya harapan kuat bahwa Allah akan menerima taubat dari dosa yang dilakukan. Sebab banyak sekali orang-orang yang taubat tapi kemudian ia sulit konsisten meninggalkan dosa yng dia taubati itu. Tapi setelah berulang-ulang mengalami kondisi itu, ia sampai pada titik mampu meninggalkan dosa itu dan mendekat pada Allah SWT.

Saudaraku,

Inilah makna lain dari husnudzan terhadap Allah SWT dalam segala keadaan. Tetap berharap kebaikan yang sungguh luar biasa dari Allah SWT, dan tidak menyerah dengan desakan bisikan syaitan yang menganggap diri tidak layak dan tidak pantas mendapat kasih sayang-Nya.

Yang menarik adalah apa yang dijelaskan oleh Al Buthi tentang hal ini. Menurutnya, dalam syarah Al Hikam li Ibnu Athaillah, bahwa ada hikmah dari aspek tarbawi (pendidikan) dalam hal ini. Ia menjelaskan bahwa kondisi ini boleh jadi akan menjadikan seseorang justru perlahan-lahan akan menjadikan seseorang, mampu untuk benar-benar meninggalkan kemaksiatan yang dilakukannya. Sedikit-sedikit, dengan terus menerus bertaubat, ia akan mampu mengendalikan nafsunya.

Saudaraku,

Pintu taubat akan tetap terbuka selama Allah SWT memberi kita nafas dalam kehidupan di dunia. Dan kita semua, memiliki dosa dan kemaksiatan yang mungkin berulang kali dilakukan. Jangan anggap remeh dosa dan kemaksiatan itu. Tapi jangan putus asa dari ampunan Allah SWT atas dosa dan kemaksiatan yang dilakukan berulang kali itu. Ingat, hadist Qudsi yang menyebutkan firman Allah SWT, “Selama hamba-Ku berdoa dan memohon kepada-Ku, pasti Aku ampuni dia.”

*Dikutip dari Tarbawi edisi 278, Th.14, 28 Juni 2012


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s