Pintar Kelola Cemburu, Dijamin Bahagia


 

 

 

 

 

 

 

Oleh: Sri Lestari*

Cemburu terkadang membuat perasaan tiada menentu, makan tidak enak, tidurpun tak nyenyak, terkadang mau marah.

Santi agak gusar menyikapi perilaku Yanto, suaminya. Ia rasakan akhir-akhir ini suaminya banyak berubah. Sejak acara arisan keluarga sikapnya menjadi terlalu protektif terhadap dirinya. Terlalu banyak larangan yang membatasi geraknya. Sebagai istri, ia sudah berusaha menjadi istri yang baik. Ijin sebelum keluar rumah selalu ia lakukan. Tapi toh suaminya masih menaruh rasa curiga. Ketika ditanya tentang perubahan sikap itu, suaminya hanya diam.

Santi tidak mau berlarut-larut dalam ketidaknyamanan akibat perubahan sikap suami. Maka ia berusaha mencari informasi dari berbagai pihak. Setelah melalui pencarian, ternyata perubahan sikap sang suami disebabkan rasa cemburu. Sewaktu acara arisan keluarga ternyata saudara jauh yang dulu pernah dijodohkan dengan dirinya datang menghadiri acara tersebut. Hati Santi rasanya plong setelah mengetahui akar permasalahnya. Tinggal sekarang bagaimana mengkomunikasikan rasa cemburu suaminya agar tidak menjadi api yang membakar kebahagiaan rumah tangganya.

Tapi berbeda dengan pasangan Roni dan Tina. Roni tidak menampakkan rasa cemburunya ketika ada kabar dari temannya bahwa istrinya sering dibonceng oleh teman sekerjanya. Roni menganggap itu hal yang biasa, bukankah rumahnya dan teman sekerja istrinya searah. Justru ia merasa terbantu tidak perlu menjemput sang istri karena pada jam-jam tersebut, ia belum keluar dari kantor tempatnya bekerja.

Cemburu adalah Cinta

Cemburu adalah hal fitrah dan lumrah dalam kehidupan berumah tangga. Kalau kita berbicara tentang cemburu maka kita bicara masalah kedekatan. Karena pada dasarnya cemburu adalah rasa khawatir seseorang atau berkurangnya kedekatan atau kualitas hubungan itu.

Maka bisa saja terjadi seorang suami cemburu pada bayinya karena waktu sang istri sekarang lebih tercurah pada bayi yang baru lahir. Atau seorang istri cemburu pada ibu mertuanya lantaran suami memberikan perhatian lebih kepada sang ibu. Sering memberi pujian lebih pada ibu untuk segala hal. Seperti masakannya, cara menata ruangan, serta kemampuannya membuat panganan ringan yang selalu menjadi favorit keluarga.

Cemburu bagi para pecinta adalah lumrah selama cemburu itu dalam batas-batas wajar. Selama rasa cemburu itu masih bisa dibuktikan dengan akal sehat dan sesuai syariat, maka cemburu kita tidak membabi buta. Apabila cemburu kita tidak punya landasan dan hanya berdasarkan perasaan saja, maka kita terjebak dalam cemburu buta.

Bagi para pecinta, sebenarnya rasa cemburu adalah pertanda adanya cinta yang kuat dalam hubungan mereka. Justru pasangan yang tidak ada rasa cemburu tentu perlu dipertanyaakan komitmen cintanya. Apapun alasannya, baik itu berdalih konsultasi rumah tangga atau agama, bila SMS ataupun telepon dilakukan tanpa adanya sikap terbuka pada pasangan, maka wajar bila pasangan cemburu. Jangan sampai menganggap pasangan kurang percaya pada kita atau terlalu protektif. Justru sikap itu adalah reaksi positif untuk mempertahankan cintanya.

Coba bayangkan, seandainya seorang suami tidak cemburu istrinya selalu dibonceng teman lelaki sekerjanya sebagaimana ilustrasi di atas. Atau, istri cuek saja mendengar suaminya telepon terus sambil bergurau dengan rekan kerja wanitanya. Jika sikap pasangan seperti itu, perlu dipertanyakan komitmen cintanya.

Cemburu karena Allah SWT

Setiap orang pasti akan tersiksa bila berada dalam belenggu rasa cemburu. Perasaan tiada menentu, makan tidak enak, tidur pun tak nyenyak, terkadang mau marah tapi kepada siapa karena cemburu yang belum terbukti kebenarannya. Namun bila didiamkan, rasa cemburu itu bagaikan seonggok duri yang menusuk-nusuk hati. Sejuta rasa tidak menyenangkan menghinggapi kita.

Itulah cemburu manusia. Bahkan Rasulullah SAW sebagai manusia yang maksum pun pernah cemburu terhadap istrinya, Aisyah. Sampai-sampai beliau tidak mau bicara dan gusar berhari-hari hingga jelas apa yang menjadi akar rasa cemburu dari berita yang tersebar terbukti: bahwa Aisyah tidak seperti yang dituduhkan oleh orang orang yang membenci keluarga Nabi.

Akhirnya Allah SWT membersihkan citra Aisyah denganmengungkap berita bohong tersebut sehingga akar rasa cemburu Rasulullah SAW terdeteksi sejak dini dan tidak berlarut larut terlalu lama.

Ibnu Mas’ud meriwayatkan, Sa’ad bin Ubadah suatu kali berkata, “Kalau ketahuan seorang lelaki tengah bersama istri saya, akan saya potong lehernya dengan pedang sebagai sangsinya.” Kemudian Rasulullah berkata kepada para sahabat, ‘Herankah kalian dengan cemburunya Sa’ad itu? Ketahuilah bahwa saya lebih cemburu dari pada dia. Dan demi Allah, saya cemburu berdasarkan kecemburuan Allah terhadap perbuatan keji, baik yang dilakukan terang-terangan maupun sembunyi-sembunyi’.” (Riwayat Bukhari)

Itulah cemburu manusia biasa. Yang akar rasa cemburunya masih didominasi hawa nafsu. Berbeda dengan cemburu Nabi Muhammad SAW sebagai manusia yang maksum. Tentu beliau selalu berada dalam lindungan Allah Ta’ala.

Dalam Hadits di atas Allah SWT pun cemburu, tetapi tentunya berbeda akar cemburu antara Tuhan dan hamba-Nya. Ketika hamba-Nya yang taat dan selalu ingat kepada-Nya tiba-tiba lalai beribadah karena ada pihak ketiga, di situlah Allah SWT cemburu. Cemburu Allah SWT karena cinta, berbeda dengan marahnya Allah SWT.

Jika Allah SWT cemburu, Ia akan memberikan sebuah cobaan kepada hamba-Nya yang lalai agar hamba-Nya dapat mengingat-Nya kembali. Sedangkan marah Allah adalah sebuah azab kepada hamba-Nya, karena enggan mengikuti atau kembali di jalan Allah SWT.

Itulah perbedaan cemburu dan amarah Allah SWT, namun Allah SWT selalu mendahulukan kasih sayang-Nya daripada amarah-Nya. Karena itu, kita jangan pernah menduakanNya, jangan pernah cinta kita kepada yang lain lebih besar daripada cinta kita kepada Allah SWT. Maka, cintailah yang lain karena Allah SWT, sebab dengan mencintai yang lain karena Allah SWT itu sama halnya dengan mencintai Allah SWT. Jika mencintai Allah SWT, pasti perintah-perintah Allah SWT selalu tak terabaikan oleh hamba-Nya.

Itulah sedikit perbedaan cemburu manusia dan cemburu Allah SWT. Boleh cemburu, asal tak boleh marah. Harus melakukan pendekatan komunikasi, dan tentunya berbicara dengan lembut, menguatkan kepercayaan, dan tidak lupa utamakan kejujuran dan kesabaran. Kita patut cemburu dan marah bila pasangan atau anggota keluarga kita melanggar aturan Allah SWT. Insya Allah, hubungan kita akan langgeng, damai, bahagia, hingga berjumpa dengan Sang Maha Cinta. Aamiin. *Ibu rumah tangga tinggal di Yogyakarta. SUARA HIDAYTULLAH AGUSTUS 2013

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s