Arti Tetesan Keringat dan Air Mata Bagi Waryono


Waryono boleh berbangga, madrasah yang dibinanya, kini mulai menuai prestasi. Tahun lalu, misalnya, madrasahnya berhasil menyabet juara satu Cerdas Cermat se-Propinsi Jawa Barat mewakili Kabupaten Indramayu pada ajang Pekan Olahraga dan Seni Antar Diniyah Taklimiyah (Porsadin) II.

Waryono Mislani, demikian nama lengkap pria berusia 53 tahun itu, mungkin tak pernah menyangka, madrasah yang dibangunnya dengan tetesan keringat dan air mata itu bisa berkembang seperti sekarang.

Tak hanya keringat dan air mata, perjalanan madrasah bernama Darul Islakh ini juga tak sepi dari fitnah dan kecurigaan. Waryono juga kerap mengalami intimidasi psikis. Tetapi semua itu tak mampu menghentikan langkah pria berkaca mata ini.

Waryono menyadari, sikap negatif itu muncul, bisa jadi, karena ia bukan orang asli Pabean Ilir sehingga menimbulkan kecurigaan. Di sisi lain, masih menurut Waryono, ajaran yang disampaikannya dianggap tidak jelas.

Waryono lahir di Desa Dadap, Kecamatan Juntinyuat, Indramayu, kira-kira 35 kilometer dari Pabean. Kalau kemudian ia pindah ke Pabean pada tahun 2000, niat awalnya mencari pekerjaan menambak ikan. “Sama sekali tak terpikirkan menjadi juru dakwah,” katanya.

Pabean memang dikenal sebagai kampung yang mayoritas warganya bekerja sebagai petambak ikan. Mereka melakukan budidaya bibit ikan bandeng, dari masih benur (benih) sampai menjadi ikan siap panen. Lepas panen, ikan-ikan itu ditampung di sebuah depot lalu dikirim dan dijual ke Jakarta dan wilayah sekitarnya.

Waryono datang ke Pabean mencoba mengadu nasib sebagai petambak. “Saya mengontrak empang,” katanya.

Tetapi itu ternyata tak lama. Beberapa bulan tinggal di Pabean, ia sama sekali tak menemukan kegiatan keislaman. Warga lebih sibuk mengurus empang. Waryono prihatin melihat anak-anak di sekitarnya. “Mereka tak terperhatikan pendidikan agamanya,” katanya kepada Suara Hidayatullah.

Padahal, lanjut Waryono, mayoritas penduduknya beragama Islam. “Tapi (sedihnya lagi) masjid tak ada,” ungkapnya masgul.

Waryono pun terpanggil. Memanfaatkan bangunan tak terpakai, ia kumpulkan anak-anak untuk diajari mengaji. Bangunan itu pula yang ia gunakan untuk mushalla. Hingga dua tahun berjalan, Waryono berhasil mendidik ratusan santri. Semuanya gratis.

Suatu hari, ada seorang warga datang menanyakan berapa yang harus dibayar selama anaknya dididik. “Anak saya sudah pintar mengaji, saya harus bayar berapa?” kata Waryono menirukan wali santri.

Waryono menolak keinginan wali santri itu, karena niatnya mengajar mengaji bukan untuk mencari duit. “Tapi dia tetap memaksa,” ujar Waryono. Akhirnya, ia menyarankan agar uang itu lebih baik dipakai untuk membangun madrasah. Alasannya, agar kegiatan pengajian anak-anak lebih baik lagi. Lambat laun berdirilah sebuah madrasah sederhana diberi nama Darul Islakh dengan ukuran 3 x 4 meter persegi.

Fitnah Bertubi

Waktu terus berjalan, kegiatan pembinaan al-Qur`an dan madrasah semakin berkembang. Kesadaran masyarakat terhadap pentingnya pendidikan agama kian menanjak. Murid-muridnya mulai membludak.

Pada suatu hari, awal Januari 2003, ia kembali kedatangan tamu. Seorang warga yang ingin memasukkan anaknya ke madrasah. Warga tersebut menanyakan soal ijazah. Waryono pun menjelaskan apa adanya. Madrasahnya tak mengeluarkan ijazah lantaran hanya aktivitas belajar mengaji biasa dan belum mendapat pengesahan dari Kementerian Agama.

Tidak dinyana, rupanya berita itu lekas menyebar. Tak pelak, kabar ini terus dihembuskan sebagian orang yang tak suka dengan kegiatan dakwah Waryono. Warga dipengaruhi agar anaknya yang sudah mengaji di Waryono keluar karena tak ada ijazahnya. Padahal saat itu, tak sedikit murid yang harus menempuh perjalanan hingga berkilo-kilo meter untuk menuntut ilmu ke madrasahnya.

Sadar madrasahnya yang menjadi wadah dirinya untuk menyemaikan iman anak-anak terus dijelek-jelekkan, Waryono pun bertindak. Seorang diri ia mengurus izin madrasahnya agar bisa mengeluarkan ijazah, sembari terus berdoa kepada Allah SWT agar dimudahkan urusannya.

Dibantu oleh pengurus NU Indramayu, akhirnya keluar juga izin madrasah setelah harus berkeliling dari instansi ke instansi. “Tepatnya, izin itu keluar pada 1 Juli 2003,” tambah pria yang juga Ketua MUI Kecamatan Pasekan ini.

Pada tahun itu pula ada kejadian mengharukan. Kontrak tambaknya habis, ia berniat balik ke kampungnya. Saat mau pulang, beberapa muridnya tiba-tiba menangis sesenggukan. Sang murid berkata, “Kalau Ustadz pergi, siapa lagi yang akan mengajar kami?” Waryono tersentak, hatinya tersentuh. Sejak itu, ia bertekad mencurahkan sepenuh waktunya untuk mengajar ngaji. Empang ia tinggalkan.

“Hanya keikhlasan dan doa. Itu yang membuat saya bisa bertahan di jalan ini. Kalau menggantungkan diri pada manusia tidak mungkin. Saya hanya bergantung pada Allah. Jadi cukup usaha, ikhlas, dan doa saja,” ucap Waryono yang tinggal di rumah beratap rumbai dan berdinding gedek (bambu yang dibelah tipis-tipis lalu dianyam).

Bukan berarti cobaan berhenti. Di Pabean sangat kental dengan aliran kepercayaan. Yang terbesar, menurut pengakuan beberapa orang, adalah Wihdatul Wujud, atau aliran yang lebih dikenal dengan nama Islam Kejawen.

Di Pabean acara-acara yang berbau syirik, khurafat dan takhayul masih hidup subur. Salah satunya adalah sesajenan.

Suatu kali salah satu murid pengajian Waryono tak menghadiri undangan sesajenan di salah satu empang warga. Pasalnya, acara sesajenan itu pas waktu maghrib, persis dengan jadwal ngaji di mushalla yang dibimbing Waryono. Warga yang menggelar sesajenan itu pun murka, lalu mulai menyebar fitnah bahwa Waryono telah “meracuni” anak-anak mereka.

Pagi harinya warga tersebut melabrak Waryono. “Kamu jangan sampaikan ajaran macam-macam ke anak-anak, ya!” Waryono menanggapi dengan santun dan menjelaskan bahwa itu adalah kemauan anaknya sendiri. Ia pun tak menampik jika telah menyampaikan ke anak-anak bahwa praktek sesajenan bukan ajaran Islam.

Lebih penting lagi, Waryono tidak surut “hanya” karena ancaman tadi. “Saya sampaikan kepada mereka, kalau saya dilarang untuk menyampaikan dakwah, maka saya tidak akan berhenti,” ujarnya.

Semoga Allah SWT memberi kesabaran, kekuatan dan kemudahan. Amin.* Ainuddin/

Suara Hidayatullah JULI 2013

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s