Mengajarkan Buah Hati Meminta Maaf dan Memaafkan


Cara Nabi Mengatasi Kemandulan

Oleh : Miarti

Satu hal negatif yang cukup mengkarakter pada diri manusia adalah beratnya meminta maaf dan sulitnya memaafkan. Dan tidak jarang prosesi bermaaf-maafan yang dilakukan hanya sebatas ekspresi, tanpa disertai keikhlasan hati. Bahkan walau dalam suasana lebaran sekalipun dimana orang-orang saling berjabat tangan dan saling meleburkan kekhilafan.

Sebagai orangtua bijak, tentu kita tidak ingin bila perilaku tidak baik seperti itu melekat kuat pada diri anak kita. Alasannya, bila sejak kecil anak kita sudah sering menunjukkan keengganannya untuk meminta maaf, maka hal itu bisa menjadi benih-benih arogansi dan superioritas yang akan tumbuh hingga ia dewasa. Begitu pula dengan keengganannya untuk memaafkan. Bila kita biarkan dan tidak diingatkan sama sekali, maka bukan tidak mungkin jika di kemudian hari buah hati kita tumbuh menjadi pribadi yang pendendam dan senang mengungkit-ungkit masa lalu.

Usia dini adalah masa pembentukan, dimana ia mencerna lingkungan dan sekitarnya, mengadaptasi berbagai contoh perilaku, belajar dari berbagai pembiasaan, menyimak berbagai fenomena serta belajar memaknai berbagai hal yang salah dan yang benar dari berbagai konteks. Dan secara bertahap, mereka memiliki preferensi sosial (social preference) seperti kecenderungan memilih teman. Selain memiliki preferensi sosial, mereka juga mulai mengembangkan  kompetensi sosial (social competence) dengan cara turut serta dalam kelompok sosial. Dan untuk memasuki kehidupan bersosial, setiap anak  harus memiliki bekal tentang bagaimana caranya bersosial yang baik. Salah satu upayanya adalah dengan memiliki kesadaran untuk saling memaafkan.

Terkait pentingnya memahamkan buah hati tentang konsep maaf memaafkan, Rasulullah Saw mengingatkan kita dalam salah satu sabdanya. “Orang yang pernah menzhalimi saudaranya dalam hal apapun, maka hari ini ia wajib meminta perbuatannya tersebut dihalalkan oleh saudaranya, sebelum datang hari dimana tidak ada ada dinar dan dirham. Karena jika orang tersebut memiliki amal shalih, amalnya tersebut akan dikurangi untuk melunasi kezhalimannya. Namun jika ia tidak memiliki amal shalih, maka ditambahkan kepadanya dosa-dosa dari orang yang ia zhalimi” (HR. Bukhari no.2449)

Hadits tersebut mengingatkan kita untuk senantiasa berhati-hati dalam berinteraksi dengan orang lain serta menyegerakan diri untuk meminta maaf. Oleh karena itu, tidak ada alasan bagi kita untuk berhenti mengajarkan maaf memafkan pada anak-anak. Karena bisa jadi, pembiasaan meminta maaf dan memaafkan merupakan jembatan menuju kesholehan pribadi maupun sosial.

Berikut beberapa cara sederhana agar anak kita terbiasa meminta maaf.

  • Sampaikan dengan jelas (tanpa menekan dan menyakiti) pada mereka bahwa apa yang diperbuatnya itu tidak benar. Contoh: memukul atau mengganggu adik bayinya yang sedang tidur, merebut mainan dari tagan orang lain, mengejek, marah, dan lain-lain.
  • Mintai tanggungjawabnya untuk bersegera meminta maaf secara verbal
  • Berikan reward yang membangun ketika ia mau meminta maaf.
  • Bentuk reward yang diberikan bisa dalam bentuk apa saja, walau sesederhana apapun. Contoh; mengacungkan jempol, menjabat tangannya, mengucapkan selamat, meraih dan memeluk tubuhnya, dan lain-lain.

Selanjutnya, ketika anak kita merasa terzhalimi, maka kita tidak bisa membiarkan dia berlarut-larut dalam sudut pandang yang negatif tentang orang yang menzhaliminya.

  • Jelaskan dengan bijak dan dengan bahasa yang bisa dimengerti anak bahwa kesalahan yang dilakukan orang lain kepadanya bisa jadi karena unsur ketidaksengajaan.
  • Sampaikan bahwa kita perlu menghargai orang yang telah berusaha meminta maaf, sehingga anak kita sampai pada tahap “iba” terhadap orang yang meminta maaf kepadanya.
  • Sampaikan pula bahwa Allah dan Rasul juga sangat pemaaf.
  • Lebih jauh lagi, bila kita ingin terhindar dari kesan menghakimi, kita bisa membujuk anak kita dengan kisah-kisah hikmah yang ringan dan bermakna.

Selain meminta anak untuk bersedia meminta maaf dan memaafkan, sebagai orangtua, kita juga jangan merasa sungkan untuk terbiasa meminta maaf kepada anak. Sampaikan dan ekspresikan bahwa kita sudah melakukan kesalahan. Contoh; “Maaf ya sayang, Mama lupa membelikan mainan yang sudah Mama janjikan”. Contoh lain misalnya; “Maaf ya, Nak. Harusnya, tadi Mama pamit dulu.” Hal ini insyaAllah akan semakin membantu anak kita untuk memahami pentingnya maaf memaafkan.

Memang tidak mudah mengajarkan anak hingga ia sadar bahwa meminta maaf itu harus disegerakan dan memaafkan itu termasuk kewajiban. Namun satu hal yang perlu jadi catatan bagi kita semua adalah bahwa mengajarkan buah hati terkait maaf memaafkan, sedapat mungkin harus sampai pada tahap moralitas pasca konvensional –sebuah teori perkembangan moral yang dikembangkan oleh Kohlberg-, dimana dengan sendirinya anak akan menyadari kesalahan yang telah diperbuatnya dan bertanggungjawab untuk meminta maaf tanpa harus diminta atau diarahkan. Allohu ‘alam bish showaab.

majalah al-intima.com

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s