Berdakwah dengan Cinta


“Kamu! Bisa nggak sih dibilangin. Kamu itu perempuan. Kenapa sih pulangnya malam? Kan sudah Abang bilang, jangan lewat Maghrib sampai rumah!,”demikian hardik lelaki itu dengan nada tinggi pada adik bungsunya.

Lelaki berusia awal 20 tahun itu bersiap mendaratkan pukulan. Tangannya sudah terangkat siap menampar sembari menahan sedu sedan emosi.

Di hadapannya meringkuk gadis 11 tahun disudut ruangan. Dengan alasan Kerja Kelompok bersama teman sekelas, sang adik berjanji pulang sebelum shalat Maghrib. Ternyata, jam sembilan malam, Ia sampai di rumah.

Dengan suara bergetar, gadis remaja itu berkata: “Kenapa, sih Abang kasar banget sama aku? Kalau sama binaannya, bisa senyum. Kalau sama adik sendiri, kasar. Aku ini adik Abang,”tutur gadis itu sembari terisak penuh cemas dan takut.

Pria itu tertegun. Ucapan sang adik sangat menohoknya. Ia baru menyadari kekasarannya selama ini.  Jika salah seorang adiknya terlihat akrab dengan lawan jenis, maka ultimatum keras disampaikannya.

Jika ada di antara adik lelakinya tidak shalat berjamaah di masjid, maka rentetan ayat al Qur’an dibacakannya. Jika Sinetron mampu menarik perhatian ketimbang mengaji, serta merta hadits bertebaran dalam ucapannya.

Bertahun-tahun bersikap seperti itu, membuat sosoknya ditakuti. Pria itu menjelma seperti “polisi syariah” di rumah. Ia dipatuhi karena ditakuti.

Mengingat itu semua, pelan-pelan tangannya diturunkan. Hatinya galau. Kata-katanya tersendat. Tidak tahu lagi mau bicara apa.

Pria itu tergesa masuk kamar kemudian membanting pintu. Protes adik kecilnya seakan membangunkannya dari tidur panjang.
Selama seminggu, Ia tidak bertegur sapa. Pria yang dituakan oleh adik-adiknya itu, lebih banyak mengurung diri di kamar.

“Saya merenung. Iya ya, kenapa kalau sama binaan, saya bisa berwajah baik walaupun sebenarnya kesal.  Seminggu setelah itu saya minta maaf pada adik saya,”ujarnya.

Inilah sepenggal kisah Bendri Jaisyurrahman, saat menceritakan pengalamannya di depan peserta “Silaturahmi Akbar (Silakbar) Kerohanian Islam (Rohis) se-Jakarta Timur” di AQL Islamic Center, Jakarta, beberapa waktu lalu.

Sejak SMU, Bendri sudah menjadi Mentor di Rohis berbagai sekolah di Jakarta. Di mata anak didiknya, Bendri dikenal sebagai Kakak Mentor yang ramah dan memahami persoalan remaja. Tapi di depan adik-adik kandungnya, ia yang tak kenal kompromi dalam urusan agama, justru  dirasakan begitu kasar oleh adiknya.

Dengan cinta

Kesadaran itu membuat aktivis Yayasan Sahabat Ayah itu menyesal. Demi menebus kesalahannya sebelumnya, Bendri berbanting setir dalam mempraktikkan dakwah. Pernah ia mengajak adik kecilnya menonton “Petualangan Sherina”, film yang saat itu sedang ramai diputar di bioskop. Sejak itu ia juga berusaha lebih dekat dengan adik-adiknya.

“Semua saya lakukan tanpa mengeluarkan ayat-ayat al-Qur’an satupun,”ujarnya.

Ia ingin agar kedekatan dengan sang adik terbangun. Sampai akhirnya adiknya merasa nyaman untuk bercerita, barulah Ia giring untuk menaati Allah dan Rasulnya.

“Bang, besok kan aku ulang tahun. Aku mau deh, kalo Abang beliin gamis yang dipakai sama teman-teman Abang waktu Abang ceramah,”ucap Mardiyah Wafa Syahidah, adik bungsu yang kemudian beranjak remaja.

Bendri tidak menyangka di usianya yang masih belia, 14 tahun, adiknya punya keinginan berabaya.

Sejak menerima kado dari sang kakak, dalam setiap kesempatan, gadis manis itu mengenakan abaya atas kesadaran sendiri.

Berdakwah dengan cinta menjadi prinsip Bendri sejak itu. Ia menyadari akan lebih mudah menggiring seseorang menuju cahaya Islam ketika pikirannya sudah terikat.

Selulus SMU, Mardhiyah mengaku siap menikah. Pada Bendri, Ia mempercayakan proses ta’arufnya.

“Semua pernikahan adik-adik saya, saya yang mencarikan calonnya. Mereka percaya pada saya,”ucapnya.

Mardhiyah menjadi satu-satunya mahasiswa Sastra Arab UI yang telah menikah dan memiliki anak ketika awal perkuliahan.
Mahasiswa lulusan terbaik Sastra Arab UI, 2011, itu menyebut nama Bendri pada kata sambutan dalam wisudanya.

“Abang adalah orang yang pertama kali mengenalkan Islam dengan penuh cinta,”ungkapnya penuh haru di depan ratusan mahasiswa.

Bendri menjelaskan, seorang agen dakwah harus bisa menunjukkan wajah Allah yang pengasih dan penyayang.

“Jika hanya kekerasan yang ditampilkan, maka objek dakwah kita menafsirkan Islam sebagai agama yang galak,”tutur alumni STID DI Al Hikmah dan Ma’had Utsman Bin Affan, Jakarta itu.

Pria yang banyak mengisi kajian keislaman remaja tersebut mengungkapkan ada dua kemungkinan respon yang ditunjukkan objek dakwah jika cara penyampaian nasihat tidak memperhatikan unsur  fight or flight (melawan atau kabur).

Contohnya ketika anak-anak bercengkrama di masjid. Mereka seringkali ditolak, diusir dari Masjid karena dianggap bikin berisik, tidak nyaman, merasa dianggap ‘warga kelas dua’.

“Berbeda dengan penjaga Warnet, PS, atau Game Online yang selalu ramah dengan anak-anak. Anak-anak ditanya kabar hari itu dan dipersilahkan main dengan senang hati,”ungkapnya.

Hasilnya, masjid dipandang sebagai lokasi angker sedangkan lokasi PS dan game online sebagai rumah kedua mereka.*

hidayatullah.com

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s