Kala AS alias Emon menjadi Guru


: Hikmah dibalik Musibah Sukabumi

ayah-pulang

“Bila ortu mengabaikan tanggung jawabnya, predator di luar sana siap memangsa anak anda”.

*
Sahabat, inilah 5 temuan dari hasil wawancara-diagnostik-konseling-psikoterapi para anak yg jadi korban.

1. Anak tidak tahu perilaku AS salah.

Anak tak pernah diberitahu baik oleh orangtua, pengasuh atau guru, bahwa bertelanjang bersama, memainkan alt kelamin, diraba alat kelamin oleh orang lain, diusap alat kelamin/dubur oleh orang lain, memegang dan mengocok alat kelamin orang lain, adalah perilaku keliru. Karena itu saat AS melakukan tindakan pelecehan, anak-anak itu hanya merasa janggal-aneh-bingung, dan seiring AS sering melakukannya kpd banyak anak pada saat yg sam, anak merasa bahwa pengalaman itu biasa.

2. Meski AS melakukan pelecehan, karena ia dirasakan anak memberikan kepedulian, lebih disukai daripada Orangtua/Pengasuh yg tidak menunjukkan Kasih Sayang

“Kang, kenapa Aa AS ditangkap, padahal dia mah baik, suka nemenin belajar, ngajarin matematika, beliin mainan dibandingkan dg ayah saya mah suka ngegaplok dan marah2”

“Abdi mah keuheul, Ka Aa AS teh!”. “Kesal kenapa, karena kamu digerayangi?”.”Bukan! Kesel ia keburu ketangkep padahal janjinya ingin belikan PS belum dipenuhi”.

“Heran, kok Aa AS ditangkap, padahal ia baik. Saya pengen layangan, minta uang ke abah malah dimarahi, ama Aa AS malah diberi dan dipeluk juga diusap”.

3. Cara2 AS membangun keakraban dg anak2.

a. Menemani anak bermain di rumahnya (main monopoli, main PS)
b. Menemani anak belajar pelajaran sekolah sehingga anak mengerti
c. Membantu anak mengerjakan PR
d. Mengajarkan anak membuat mainan.
e. Membuatkan anak mainan
f. Bermain kelereng
g. Bermain petak umpet
h. Bermain pura-pura
i. Bermain di kolam renang
j. Bermain jurus2 silat “Elang rentangkan sayap”,”Ular menyelusup” . “Pamacan”, “Pamonyet”, “Buaya merobek mangsa”.
k. Janji akan diberi uang-mainan.
l. Janji akan dibelikan mainan-makanan-barang
m. Menyuruh anak lain yg sdh akrab dgnya memperkenalkan dg anak2 lainnya dg iming2.

Kala anak2 sudah akrab dengannya, maka perilaku “seksual” diperkenalkan dengan perlahan.

4. Cara2 AS membangkitkan ketakutan anak shg anak tidak melawan.

a. Mendongengi Anak, bahwa AS memiliki ragam kesaktian.
b. Melakukan ancaman fisik, berupa menelikung, meremas, meninju, mencekik, menubrukkan kepala ke benda/dinding.
c. Melakukan ancaman verbal . “Kalau kamu lapor ke Ibumu, teluh kematian mematikan ibumu”

5. AS perlahan membangun perilaku seksual sebagai perilaku wajar.

AS melakukan “shaping behavior”, mulai dg merangkul pundak, mengelus kepala, mengelus punggung, menggendong sambil pakai baju, menggendong pakai baju berhadapan, menggendong di dalam kolam berhadapan, menggosok tubuh anak utk hilangkan daki, menggosok tubuh dg usapan yg merangsang, merangsang kelamin anak, menyuruh anak memegang kelaminnya, menyuruh anak berbalik badan, menggesek kelamin di paha anak, mengusap dubur anak, memasukkan kelamin ke dubur, menyuruh sejumlah anak melihat temannya sedang disodomi, menyuruh beberapa anak jadi agen utk dekatkan anak baru.

**

Pedofil hanyalah satu dari predator di luar sana yg siap memangsa anak. Kurangnya kasih sayang&kepedulian, ketidaktahuan, ketidakmampuan anak menilai situasi dan memutuskan untuk menghindari hal yg beresiko membahayakan, dan kurangnya komunikasi yg bersifat membangun di keluarga adalah pintu masuk yg lebar bagi predator lainnya.

Predator lainnya itu adalah “Drug Seller”, Sekte2 yg ujung2nya adalah meraup harta benda, Terorisme, dan Gank yg mengajarkan nilai2 merusak.

AS alias Emon memang pelaku kriminal, dan Sidharta Gautama menyatakan, “Seburuk2nya Kejahatan adalah Kebodohan”, dan orangtua yg abaikan peran dan tanggungjawabnya dlm memberikan kasih sayang, perlindungan, pengajaran, pendidikan bukankah seperti membiarkan kejahatan itu terjadi, dan seperti penzaliman terhadap diri dan keluarga sendiri.

***
Lalu usai anda membaca tulisan ini, Komunikasi seperti apa yg anda akan jalin bersama anak anda? Wawasan apa yg anda akan cek dari anak anda? Pembelajaran apa yg perlu anda tanamkan kepada anak anda? Cara-cara mengenali ancaman spt apakah yg perlu anda kenalkan kpd anak anda, dan bagaimana mengatasinya? Cara-cara pertahanan diri seperti apa yg anda akan ajar-peragakan dg anak anda?

Banyak PR memang. Dan PR ini bukan tugas utama Guru, jangan tuntut mereka melakukannya. Ini adalah Tugas utama anda selaku Orangtua.

****
Pun Sapun, ampun paralun
Asep Haerul Gani

//


SavedURI :Show URL
Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s