Balada Hafizh di Sarang Pelacur


Dentuman musik menyeruak di salah satu wisma bordil di Dolly. Di dalamnya terlihat beberapa perempuan duduk sambil bermain kartu. Sebagian lainnya mejeng (pamer diri) di depan wisma. Pakaiannya menantang syahwat, sambil mengepulkan asap rokok dari bibirnya yang dipoles warna merah menyala. Tanpa malu-malu mereka menggoda pria yang lewat. “Mampir, Mas!” kata salah satu wanita penjaja seks itu.
Ada ratusan wisma di komplek pelacuran yang terkenal di Surabaya, Jawa Timur itu. Di antara wisma itu terselip satu rumah yang tampilannya beda. Rumah itu kecil dan sederhana. Bahkan atap plafon terasnya sebagiannya sudah rontok. Tidak ada satu pun barang berharga di ruang tamunya, kecuali selembar karpet lusuh dan sebuah kalender yang menempel di dinding.

Bagian depan rumah itu, terpasang pagar besi berbentuk jeruji seperti tombak. Persis di depan pagar itu berdiri papan nama bertuliskan “Sekretariat Jam’iyyah Hufazh Sawahan (JHS),” organisasi para penghafal al-Qur`an.

Tak salah, penghuni rumah itu memang penghafal al-Qur`an (hafizh) bernama Ahmad Sholihin dan Asmaul Husna. Mereka sepasang suami-istri. Sholihin, begitu biasa dipanggil, adalah Ketua JHS.
Ketika shalat Magrib, di ruang tamu itu dilaksanakan shalat berjamaah. Bertindak sebagai imam, Sholihin sendiri, sedangkan jamaahnya beberapa anak kecil. Shalat Magrib itu, kata ayah satu anak ini, digelar tiap hari. Usai shalat mereka kemudian mengaji.

Anak-anak itu memang santri Sholihin yang datang setiap malam. Sebagian mereka berasal dari Dolly dan Jarak, sebagian lagi dari Bayu Urip, desa tetangga lokalisasi pelacuran tersebut. Jumlah santri yang mengaji di rumah Sholihin sekitar 20 anak.

Tak hanya malam saja rumah Sholihin dipakai mengaji. Tapi, setiap pagi dan siang juga ada. “Hari Minggu libur,” kata Sholihin. Khusus waktu pagi dan siang yang mengajar istrinya, karena Sholihin harus mengajar di sebuah sekolah dasar tak jauh dari komplek lokalisasi pelacuran yang konon terbesar ketiga se-Asia Tenggara itu.

Setelah pulang mengajar di SD sekitar pukul dua siang, Sholihin istirahat sebentar. Usai asar ia berangkat lagi menunaikan tugas dakwah yang lain, mengajar di Taman Pendidikan Al-Qur`an (TPA) An-Nadliyah, beberapa ratus meter dari rumahnya. Di sini santri Sholihin lebih banyak lagi, sekitar 75 anak. ”Dulu pernah mencapai 150 anak. Setelah muncul TPA lain, sebagian pindah ke TPA yang lebih dekat dengan rumahnya,” katanya.

Di TPA, Sholihin mengajar hingga magrib, dibantu empat orang ustadzah. Nahdliyah menempati lantai dua dan tiga di kantor NU Sawahan itu. Di TPA ini pula tak ada gaji yang pasti, termasuk Sholihin. “Niatnya dulu memang tidak mencari bayaran,” ujarnya. Sekalipun begitu gaji tetap ada, hanya jumlahnya kecil, Rp 100 ribu per bulan. “Itu untuk transportasi saja,” katanya.

Para santri sendiri membayarnya suka rela. Menurut Sholihin, ada yang membayar Rp 2 ribu, Rp 3 ribu, Rp 5 ribu, dan paling tinggi Rp 10 ribu. “Yang tidak membayar juga banyak,” kata lulusan Pondok Pesantren Nurul Huda, Singosari, Malang ini.

Dari iuran santri terkumpul Rp 250 ribu. Tentu saja untuk membayar uang transportasi para ustadz saja jumlah itu tidak cukup. “Kekurangannya saya carikan dari donatur,” kata Sholihin.

Sholihin mengaku, “Saya mendapat gaji dari SD, lima ratus ribu rupiah.” Ya, hanya itu pendapatan tetap Sholihin. Secara matematis jumlah itu tentu tidak cukup untuk menghidupi keluarga, apalagi hidup di kota besar seperti Surabaya. Namun, pria berperawakan kecil ini selalu yakin dengan pertolongan Allah. “Kalau memikirkan al-Qur`an, insya Allah kita dapat semua,” katanya yakin. Tapi sebaliknya, kata Sholihin, jika berpikir dunia, hafalan Qur`annya rusak, bisa jadi dunianya juga rusak.

Hilfaaz Collections

Hilfaaz Collections

Apa yang diyakini Sholihin terbukti. Meski gajinya kecil, tapi kini ia sudah siap-siap berangkat haji. Tapi karena istrinya juga ingin ikut, akhirnya ia menundanya. “Dananya belum cukup untuk berdua,” kata Sholihin.

Sholihin telah memilih dakwah sebagai jalan hidupnya. Tentu saja itu tak mudah, apalagi berdakwah di daerah ‘hitam’. Tantangannya tidak ringan. Pernah selama satu bulan ia tak bisa makan nasi. “Setiap kali makan nasi, selalu muntah,” katanya.

Penyebabnya, kata Sholihin, persis empat langkah di depan rumahnya berdiri wisma karaoke. Bau minuman keras, dentuman musik yang memekakkan telinga, dan pakaian para wanitanya yang mengumbar syahwat adalah pemandangan tiap hari di wisma tersebut. Sudah pasti itu pemandangan yang tidak baik bagi para santri yang mengaji di rumahnya. Menyadari hal itu, ia bicara baik-baik dengan pemilik wisma. “Saya minta ditutup, karena ada anak-anak ngaji,” katanya.

Permintaan mulia itu bukannya diterima, pemiliknya malah melontarkan kata-kata tak sedap. Tidak cukup hanya itu, dia malah bertindak lebih jauh. Dia mengirimkan ilmu hitam kepada Sholihin. Akibatnya, selama sebulan lebih salah satu pengurus NU Kecamatan Sawahan ini tak bisa makan nasi.
Menghadapi serangan itu, Sholihin hanya bisa berdoa. “Semuanya saya pasrahkan kepada Allah,” ujarnya. Doa pria yang tidak suka merokok ini dijawab Allah melalui kiainya. “Kiai saya minta saya banyak membaca shalawat,” aku Sholihin yang perlahan-lahan dapat kembali menikmati nasi.

Memperbanyak Titik Putih
Ketika kecil, Sholihin pernah melihat orang yang membaca al-Qur`an tanpa melihat. “Saya kagum, kok bisa ya?” ujarnya. Sejak itulah ia lantas bertanya, “Bagaimana caranya agar bisa seperti itu?”
Orang tersebut kemudian menyarankan Sholihin masuk pesantren. Setelah orang tuanya mengizinkan, pilihan Sholihin jatuh ke Pondok Pesantren Nurul Huda, Singosari, Malang. Di pesantren ini, Sholihin menekuni tahfizhul Qur`an (menghafal al-Qur`an).

Sembilan tahun kemudian (1993-2002), Ketua JHS ini berhasil memindahkan seluruh isi Kitab Suci itu ke dalam hati dan pikirannya. Guna memperlancar hafalannya, Sholihin lalu pindah ke Pesantren Langitan, Tuban Jawa Timur.

Setelah tiga tahun menimba ilmu di Langitan, Sholihin pulang kampung. Ada satu pesan kiainya yang terpatri kuat di dalam benaknya. Pesan itu isinya, “Ajarkanlah al-Qur`an, sekalipun hanya satu ayat.”
Setibanya di rumah, ia mengamalkan ilmunya dengan mengajar mengaji di mushalla dekat rumahnya. Rupanya kiprah Sholihin itu terbaca oleh pengurus NU Sawahan. Pada 2006, organisasi ini hendak membuka TPA di komplek pelacuran Dolly, maka Sholihin diminta menjadi ustadznya. Tanpa pikir panjang, ia pun menyanggupinya.

Awalnya, Sholihin memboyong tiga santri ke tempat barunya itu, kantor NU Sawahan. Gerak gerik Sholihin rupanya diperhatikan para orang tua di sekitar Dolly. Beberapa di antara mereka lalu menitipkan anaknya kepada Sholihin. Seiring perjalanan waktu, kini jumlah santrinya terus berkembang.

Ibarat membuat titik putih di lembaran hitam, ke depan Sholihin ingin memperbanyak titik putih di Dolly. “Dengan begitu, mudah-mudahan daerah ini yang semula ‘hitam’, berubah menjadi ‘putih’,” katanya. Semoga Allah meridhai.* Bambang Subagyo/Suara Hidayatullah, Juli 2011

//


SavedURI :Show URLShow URLSavedURI :

//


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s