Dahsyatnya Keteladanan


Dahsyatnya Keteladanan

Keteladanan-1-660x330

 

Teladan orangtua akan melekat pada anak sepanjang usia. Teladan apa saja yang harus diprioritaskan?

 

Seseorang berkisah tentang masa kecilnya:

Ketika kecil, saya menghafal doa ini, “Dengan kuasa-Mu ya Allah aku bangun di Shubuh ini, dan hanya milik-Mu-lah segala kerajaan. Segala puji bagi Allah, tiada Tuhan selain Allah, bagi-Nya segala kerajaan, dan Dia berkuasa atas segala sesuatu. Ya Allah, putihkanlah wajahku ketika menghadap-Mu. Ya Allah, berikanlah catatan amalku dengan tangan kananku dan jadikanlah Muhammad sebagai syafaatku di hari kiamat. Ya Allah, permudahlah urusanku ketika menghadap-Mu dan jadikanlah beserta kesulitan ada kemudahan. Ya Allah, teguhkanlah aku dan orang tuaku pada jalan-Mu yang lurus.”

Doa-doa ini saya hafal sejak usia empat tahun, meski tiada seorangpun yang mengajarkan, saya hanya mendengar ketika ibuku membaca doa tersebut. Semoga Allah SWT memberi pahala kepada ibuku atas doa yang saya hafal sepanjang hidup, begitu juga semua anak-anak.

Sejak kecil saya selalu terpanggil untuk melakukan wudhu, shalat dan shaum, walau tidak diperintah oleh seorangpun. Dari lubuk hati yang paling dalam, seolah-olah ada dorongan yang kuat untuk melakukannya. Dan saya selalu berhasil menghadapi godaan-godaan dari lingkungan saya berada.

Setelah tumbuh dewasa, saya mengetahui sebabnya, yaitu pengalaman saya menyaksikan ibuku berwudhu, shalat, dan shaum sangat berbekas di hati sehingga saya menyukai untuk melakukannya.

Anak, Peniru Ulung

Kisah di atas dituturkan oleh pakar parenting dari Madinah, Khalid Ahmad asy-Syantut, dalam kata pengantar bukunya yang berjudul Daurul Bait fii Tarbiyatil-Athfalil-Muslim. Segala gerak-gerik orangtua dalam keluarga akan ditiru oleh buah hatinya.

Dalam kebersamaannya dengan orangtua, anak-anak akan belajar tentang kata-kata, ekspresi wajah, gerakan tubuh, perilaku, norma, keyakinan agama, dan nilai-nilai luhur dari orangtuanya. Bahkan tidak hanya dalam hal perilaku dan emosi yang akan ditiru, sampai persoalan makan.

Dalam sebuah penelitian, Mildred Horodynski dari Universitas Michigan mengatakan, sesuatu yang dimakan oleh anak-anak mencerminkan pola makan ibunya. Apabila seorang ibu tidak suka makan sayur dan buah-buahan, anak juga mengikutinya. Supaya anak cinta makanan sehat, ibu atau ayahnya jangan hanya menghidangkan makanan, tapi juga bersama-sama memakannya.

Anak adalah peniru ulung, maka orangtua harus berhati-hati dalam bertutur kata, bersikap, dan bertindak. Orangtua mesti terlebih dulu mempertimbangkan sesuatu itu baik atau tidak. Kesalahan yang diperbuat orangtua akan menjadi pengetahuan bagi anak. Akhirnya si anak akan melakukan kesalahan yang serupa.

Meneladani Kebaikan

Orangtua semestinya jadi teladan. Tak hanya pintar memerintah, tapi harus cerdas memberi uswatun hasanah (teladan yang baik). Perilaku dan kepribadian anak akan seperti apa yang diteladankan orangtuanya.

Ada beberapa keteladanan yang mesti dibangun oleh setiap orangtua ketika membersamai anak-anaknya, antara lain:

Pertama, taat kepada Allah SWT. Teladankan kepada anak-anaknya cinta ibadah dan patuh pada syariah. Jika orangtua melakukannya, maka si anak akan senang dan ringan untuk beribadah dan melaksanakan syariah. Sungguh sikap yang tak tepat, bila orangtua mengharapkan anak-anaknya menjadi ahli ibadah tapi orangtua sendiri justru jauh dari kebiasaan beribadah.

Ada pelajaran menarik dari kisah Ibnu Abbas RA ketika bersama Rasulullah SAW. Ibnu Abbas berkisah, “Aku menginap di rumah bibiku, Maimunah, Nabi Muhammad SAW biasa bangun untuk shalat malam. Suatu malam, Nabi SAW bangun, kemudian berwudhu dengan wudhu yang ringan dengan kendi yang digantung. Setelah itu, beliau shalat. Akupun berwudhu seperti berwudhunya beliau. Kemudian aku berdiri di samping kiri beliau. Namun, beliau menarikku dan meletakkanku di samping kanan beliau. Kemudian beliau shalat beberapa rakaat…” (Riwayat Bukhari)

Kedua, kejujuran. Selalu tampilkanlah kejujuran di hadapan anak-anak. Bila anak menyaksikan kedustaan, maka besar kemungkinan si anak pun akan menirunya.

Patut menjadi renungan bagi kita, mengapa kedustaan merajalela di zaman ini? Bahkan kedustaan telah dianggap hal biasa. Bisa jadi semua ini bermula dari sikap dusta yang dibiasakan dari lingkungan keluarga. Karena anak-anak yang sering menyaksikan kedustaan di lingkungan terdekatnya, maka ketika dewasa, mereka pun menganggap kedustaan sebagai hal biasa dan tidak mengapa.

Rasulullah SAW mengingatkan agar orangtua tidak berdusta ketika berinteraksi dengan anak-anaknya. Misalnya ketika memanggil mereka untuk memberikan sesuatu. “Barangsiapa yang mengatakan kepada seorang anak kecil, ‘Kemarilah aku beri sesuatu,’ namun dia tidak memberinya, maka itu adalah sesuatu kedustaan.” (Riwayat Ahmad)

Ketiga, beradab Islami. Tempat untuk mendidik adab yang paling baik adalah keluarga. Dari keluargalah anak-anak pertama kali belajar. Untuk itu, orangtua perlu meneladankan adab Islami kepada anak-anak sejak usia dini. Misalnya adab ketika berbicara kepada orangtua, guru, kepada teman sebaya, maupun yang di bawah usianya. Juga adab ketika makan, minum, belajar, di majelis ilmu, dan lainnya.

Sungguh di zaman ini kita prihatin menyaksikan anak-anak remaja mengalami krisis adab. Mereka tak canggung berbicara kasar meski kepada orangtuanya sendiri. Juga meremehkan ilmu dan bersikap tak sopan di majelis ilmu. Karenanya orangtua mesti meneladankan adab yang Islami kepada anak-anaknya sejak dini.

Rasulullah SAW bersabda, “Muliakanlah anak-anak kalian dan ajarkanlah kepada mereka adab yang baik.” (Ibnu Majah dari Ibnu Abbas radhyallahu ‘anhuma)

Keempat, cinta ilmu. Menumbuhkan kecintaan ilmu kepada anak-anak dapat dilakukan dengan cara intensif beriteraksi dengan buku, hadir di majelis ilmu, atau membuat perpustakaan keluarga. Bila si anak menyaksikan orangtua akrab dengan buku atau sekali-kali diajak hadir di majelis ilmu, maka diharapkan akan tumbuh kecintaan di hati anak terhadap ilmu.

Rasanya sulit generasi ini menjadi ahli ilmu, jikalau dari lingkungan keluarga tidak terbangun suasana keilmuan. Oleh karena itu, orangtua berperan penting dalam mendorong putra-putrinya untuk terus bersemangat dalam belajar. Namun sebelum memerintahkan hal itu, orangtua perlu menjadi teladan dalam hal semangat menuntut ilmu. Allahu a’lam bishshawab.* Masrokan. SUARA HIDAYATULLAH-APRIL 2016

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s