Tetap Cinta Walau Tak Bersama (LDR)


Tetap Cinta Walau Tak Bersama (LDR)

USROH

Oleh Kartika Ummu Arina*

Mohonlah penjagaan dari-Nya, berpikir positif, dan tetap berusaha menyamakan langkah untuk memutuskan dan bertindak bersama.

Perjalanan Zainab binti Muhammad SAW kembali ke pangkuan Ayahandanya bukanlah hal yang mudah. Hatinya terpaut erat dengan suaminya, Abil Ash bin Rabi’. Meski Zainab tahu bahwa inilah risiko yang harus ditanggung akibat keputusannya menebus Abil Ash yang masih musyrik dari penawanannya di perang Badar.

Pusat Busana Muslim Branded BerkualitasNibras, Mutif, Rahneem dll GRIYA HILFAAZ

Begitupun dengan Abil Ash. Hatinya hancur manakala ia paham bahwa ia harus menepati janjinya pada Rasulullah SAW untuk memulangkan putri beliau, sebagai syarat pembebasan dirinya. Abil Ash tidak dapat menahan tangisnya hingga ia tak dapat mengantarkan istrinya ke tepi dusun di luar Makkah. Di sana telah menunggu utusan Rasulullah SAW yang akan mengawal perjalanan Zainab ke Madinah.

Abil Ash tahu betul bahwa perpisahan itu mungkin perpisahan untuk selama-selamanya dengan istri yang sangat dicintainya. Ia juga paham bahwa inilah konsekuensi yang harus ditanggungnya ketika ia masih berpegang teguh pada agamanya.

Tahun demi tahun berlalu. Zainab tetap dalam kesendirian, begitupun dengan Abil Ash. Keduanya tetap memegang janji setia mereka. Meski tak terlihat jalan untuk bertemu. Abil Ash tinggal menyendiri di Makkah dengan hati yang terluka dan rindu yang dalam. Zainab tinggal di Madinah dengan badan yang lemah di hari-hari yang muram.

Hingga akhirnya Allah SWT dengan kasih sayang-Nya membukakan pintu hati Abil Ash untuk memeluk Islam, setelah ia mengembalikan seluruh amanah kaum musyrik Makkah. Keduanya berkumpul kembali setelah mereka memperbaharui akad pernikahan dalam akidah yang sama. Penantian dan doa-doa panjang Zainab selama enam tahun pasca hijrah, agar lelaki yang dicintainya masuk Islam, telah usai. Seiring dengan usainya usianya. Ia wafat tak lama setelah Abil Ash memeluk Islam.

Zainab adalah mutiara terbaik yang memancarkan cahaya kesetiaan, keteguhan cinta, dan ketaatan dalam kebenaran. Hingga suaminya selalu mengenang beliau dalam untaian katanya, “Puteri Al-Amiin, semoga Allah membalasnya dengan kebaikan dan setiap suami akan memujinya sesuai dengan apa yang diketahuinya.”

Zainab dengan kesetiaan cinta dan ketaatan pada Allah dan Rasul-Nya adalah cermin yang indah. Terutama bagi pasangan suami-istri yang menjalani rumah tanga tapi terpisah jarak satu dengan yang lainnya. Bila terpisah karena pekerjaan, pendidikan, atau tugas dakwah saja rasanya sudah menyayat hati, apalagi harus berpisah karena akidah tanpa tahu harapan untuk bisa bersama seperti yang dirasakan Zainab.

Namun, inilah teladan nyata yang disampaikan oleh Rasulullah SAW dan orang-orang shaleh sebelum kita, untuk menyikapi kondisi Long Distance Relationship (LDR) yang kini tak jarang dijalani oleh banyak pasangan.

Kekuatan Doa

Tak ada satu pasangan pun yang menginginkan kondisi LDR dalam pernikahan mereka. Kebersamaan adalah hal yang sangat diharapkan oleh pasangan manapun dalam kondisi susah maupun mudah. Bahkan, tak jarang, banyak salah satu di antara pasangan yang merelakan hal-hal yang mereka cintai demi untuk bersama dengan pasangan.

Lalu, bagaimana bila memang harus menjalani LDR dengan pasangan? Membina hubungan jarak jauh dengan pasangan memang tidak mudah. Butuh kesabaran dan kepercayaan tingkat tinggi yang lebih kuat dibandingkan pasangan yang menjalani kehidupan perkawinan seperti biasa.

Layaknya Zainab yang tak pernah menyerah, mendoakan yang terbaik untuk suaminya yang nyata-nyata menolak masuk Islam bahkan memerangi ayahnya, Rasulullah SAW, di perang Badar. Maka seperti ini pulalah sebaiknya kita menjalani keterpisahan dengan pasangan. Tidak ada sebaik-baik penjaga dan penolong selain Allah. Karena itu, jadikanlah Allah Ta’ala sebagai tempat bersandar. Tempat melabuhkan keluh-kesah, menyambungkan doa dan harapan pada suami atau istri yang jauh di sana, dan tempat mengisi ulang keikhlasan yang kadang tergerus keadaan.

Berpikirlah positif akan kondisi yang kita hadapi. Walaupun sulit untuk menjalani, apalagi bagi mereka yang harus terpisah negara. Tetapi yakinlah bahwa ini adalah media yang Allah untuk menjadikan kita lebih sabar, dewasa menyikapi keadaan, dan mengasah kemandirian. Yakinlah bahwa ujian yang Allah berikan pada kita saat ini bermanfaat untuk menghadapi ujian yang lebih hebat lagi. Yang akan menghebatkan diri kita dihadapan-Nya apabila kita lulus dengan baik menjalaninya.

Sebagaimana Allah SWT berfirman, “Tetapi, boleh jadi kamu tidak menyukai sesuatu padahal itu baik bagimu dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu, padahal itu tidak baik bagi kamu. Allah mengetahui sedangkan kamu tidak mengetahui.” (Al-Baqarah [2]: 216.

Memilih Tindakan Terbaik

Pahamilah posisi kita ketika keterpisahan ini harus dijalani. Bila kita yang ditinggalkan, maka jangan lupa tersenyum ketika pasangan akan berangkat. Memasang wajah yang mengharu biru hanya akan memperburuk keadaan. Pasangan yang akan pergi akan merasa berat,  bersalah, atau yang paling parah merasa marah. Lepaskan keberangkatannya dengan senyum dan sikap yang tenang.

Tak mudah memang. Tetapi, ingatlah bahwa hati dan tindakan kita akan sangat dipengaruhi oleh pikirkan dan tampakkan. Bila kita melepaskan kepergian pasangan dengan tenang, maka pasangan akan berangkat dengan perasaan yang lebih ringan. Begitupun, kita akan lebih siap menghadapi hari-hari tanpa kehadirannya.

Ketenangan ini juga akan mempengaruhi sikap kita pada anggota keluarga yang lain, terutama anak. Senyum dan ketenangan akan membuat anak-anak merasa aman dan tetap nyaman meski salah satu dari orangtuanya tak ada di sisi untuk beberapa lama.

Jika di posisi yang meninggalkan pasangan dan keluarga, maka yakinkanlah diri sendiri bahwa Allah-lah Sebaik-baik Penjaga dan yang ditinggalkan akan mampu bertahan menghadapi rintangan. Kuatkanlah hati dan semangatilah terus pasangan untuk tetap tumbuh bersama, melakukan yang terbaik meski  terpisah jarak.

Rindu yang menyerbu akan sama-sama dirasakan. Karena itu, jangan ragu untuk menggunakan teknologi komunikasi yang semakin canggih. Gunakanlah untuk memecahkan masalah bersama, berbagi cerita, atau saling menguatkan ditengah rindu yang menyerbu.

Tetap sediakan waktu khusus untuk berbicara dengan pasangan, meski mungkin yang seringkali menuntut porsi bicara lebih besar adalah anak. Komunikasi antara suami dan istri adalah kebutuhan yang mutlak dan tak dapat ditukar dengan celoteh anak. Berikanlah pengertian pada anak bahwa sekarang adalah waktu Bapak dan Ibu bicara. Bukan lagi waktu mereka bercengkerama. Pilihlah tempat khusus agar kita bisa mengungkapkan seluruh isi hati pada pasangan, tanpa didengar atau dilihat anggota keluarga yang lain. Pembicaraan suami dan istri adalah hal yang sangat privat, jangan sampai ini terganggu oleh siapapun. *Penulis Buku Jadilah Suami Istri Bijak. SUARA HIDAYATULLAH, PEBRUARI 2016

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s