New Generation of Entrepreneurs


New Generation of Entrepreneurs

Zaman memang cepat sekali berubah. Dan di zaman apapun, bila kita tidak cepat tanggap dalam menghadapi perubahan, kita akan selalu tertinggal, atau biasa disebut “ditelan zaman”.

Perubahan memang selalu tidak enak, dan tidak nyaman, kecuali bagi orang2 yang selalu mau belajar dan ingin maju. Dan sebelum Anda membaca lebih lanjut, perlu Anda ketahui bahwa tulisan2 saya bisa saja membuat Anda tidak nyaman, kecuali bagi orang2yang selalu mau belajar dan ingin maju. So, untuk Anda2 yang mudah tersinggung, boleh berhenti membaca di sini saja.

Buat yang mau lanjut, read at your own risk ya.

Entrepreneur…

10 tahun yang lalu, istilah ini bahkan masih jarang terdengar. Bila kita berada di bangku kuliah, dan saat ditanya “Abis kuliah mau lanjut ngapain ?”, maka sangat jarang orang yg menjawab “Mau buka usaha sendiri” alias jadi Entrepreneur.

Dan masih 10 tahun yang lalu, bila kita bilang ke teman kuliah “mau buka usaha gerai hotdog”, maka teman kita akan kebingungan dan beberapa dari mereka akan menyarankan “udah, mending kita fokus kuliah dulu lah, biar kita dapet kerjaan yang bener nanti”.

Yes, dunia memang cepat berubah, begitu pula dengan dunia entrepreneurship. Di tahun 90-an, real entrepreneur di Indonesia jumlahnya masih sedikit sekali. Kebanyakan orang yang “buka bisnis sendiri” biasanya hanya pedagang yang tidak punya konsep. Di tahun 90-an, konsep memang tidak terlalu penting, asal sekedar kita punya sumber barang yang tepat, dan bisa jualan dengan benar, sudah cukup. Dan, di tahun 90-an tersebut, hanya dengan berdagang, kita sudah bisa berpenghasilan lebih dari cukup. Sampai akhirnya tibalah krisis Indonesia 98, yang meluluhlantakkan perekonomian Indonesia. Hanya entrepreneur2 sejatilah yang lolos dari krisis ini. Sebutlah nama2 seperti Pak Chairul Tandjung (Trans Corp), Pak Sudhamek (Garuda Food), (Alm) Pak Dick Gelael (KFC Indonesia), dan nama2 besar lainnya yang kebanyakan saat ini bisnisnya sudah jadi bisnis korporasi.

Lalu lanjut ke tahun 2000-an, dimana Indonesia baru saja lolos dari krisis 98. Ini adalah masa2 transisi, dimana Indonesia masih menjadi negara miskin, namun sudah mulai pulih kondisinya. Awal2 tahun 2000 adalah masa2 yang cukup sulit, namun dari sini pula lah era entrepreneur yang baru dimulai. Banyak pebisnis2 lama yang mengembangkan bisnisnya menjadi bisnis modern untuk beradaptasi, sebutlah Henry Husada dengan Kagum Group nya, David Marsudi dengan D’Cost nya, dan masih banyak nama2 Entrepreneur hebat generasi tahun 2000an yang kini bisnisnya sudah menggurita.

Dan yang menarik adalah era tahun 2005, dimana mulai terjadi perubahan besar2an di dunia entrepreneurship. Walau belum terlalu luas, namun segala hal yang berhubungan dengan “entrepreneurship” mulai menyeruak ke masyarakat luas. Majalah2 yang membahas tentang Entrepreneurship pun semakin banyak, dan di era ini pula lah orang2 mulai mengenal kata “UKM”, dan untuk orang2 yang memulai bisnisnya di era tersebut, menjadi UKM adalah suatu kebanggan tersendiri (saya termasuk salah satu Entrepreneur yang lahir di era tersebut, yaitu di tahun 2007an).

Era ini sangat menarik, dimana berbagai Franchise2 UKM bermunculan, yang sayangnya dinodai dengan banyak manipulasi halus. Tahun tersebut, masyarakat Indonesia mulai memiliki “penghasilan berlebih” atau biasa disebut disposible income. Banyak pekerja2 kantoran berpenghasilan di atas 10 juta/bulan yang mulai menyadari, bahwa tidak mungkin dirinya bekerja sepanjang waktu, dan mulai ingin memiliki aset. Salah satu aset yang bisa dimiliki adalah bisnis, namun mereka tidak mau repot mengelola bisnis, sehingga permintaan akan “systemized business” alias yang biasa disebut “franchise” pun membludak.

Di Era ini, menjual Franchise bisa menjadi instant kaya. Dan gayung pun bersambut, para pebisnis2 baru pun langsung terjun ke bisnis “franchise2″an ini. Finally muncullah istilah “gerobak-chise” dimana kebanyakan dari Entrepreneur2 saat itu tiba2 nyemplung ke bisnis non-official franchise. Banyak dari mereka yang baru membuka bisnis beberapa bulan, yang bahkan belum terbukti menguntungkan, langsung difranchisekan. Lalu setelah dia mendapatkan beberapa “cabang” dari franchisee-nya, mereka pun menulis di brosurnya bahwa cabangnya sudah banyak (yang padahal cabang2nya tersebut pun baru buka dan sama sekali belum menguntungkan), Bahkan, saya pernah bertemu dengan seorang pebisnis martabak mini yang bahkan sistem maupun resepnya masih asal2an, namun dalam setahun sudah bisa buka lebih dari 100 cabang.

Era “gerobak-chise” ini berlangsung sampai sekitar tahun 2013, dimana informasi sudah semakin mudah didapatkan, dan Word Of Mouth pun berlangsung semakin instant. Banyak gerobak-chise2 ini yang cabang2nya tutup, dan para franchisee banyak yang merugi. Market mulai mengerti, bahwa cabang banyak sama sekali bukan jaminan, melainkan produk yang tepat dan sistem yang baiklah yang menjadi jaminan bahwa bisnis tersebut akan sustain dalam jangka waktu yang cukup lama.

New Generation of Entrepreneurs

Dan sejak tahun 2012, dimana saat itu pertumbuhan ekonomi Indonesia naik secara signifikan, di sinilah Era Entrepreneur yang baru pun dimulai. Anak2 muda semakin kreatif, dan mereka yang tidak kreatif semakin jauh tertinggal. Ini adalah era yang sangat adil, di mana market menjadi sangat terbuka dan selektif. Di Era ini, memanipulasi data tidak lagi mudah. Kecurangan dan kebusukan2 akan mudah terbongkar dan tercium, dan kejujuran mulai dihargai, begitu pula dalam hal bisnis. Itulah mengapa para “gerobak-chise” yang hanya menggembar-gemborkan cabangnya tanpa sistem yang kuat mulai megap2 di Era ini, dan investasi2 bodong pun mulai ditinggalkan. Ini adalah Era yang baru, yang merupakan Era perubahan yang luar biasa.

Bisnis yang berkembang di era ini adalah bisnis2 yang memiliki konsep kuat. Dan sebagai Entrepreneur, baik yang baru maupun yang sudah berkecimpung cukup lama di dunia bisnis, kita selalu dituntut untuk tanggap akan perubahan. Dan di Era yang baru ini, untuk membuka sebuah bisnis, kita dituntut untuk tidak hanya sekedar “punya semangat yang menggebu2” atau “punya kemampuan teknis yang hebat” saja.

Di Era saat ini, punya modal besar dan (misal) bisa buka bengkel mobil / motor, sama sekali tidak menjamin kesuksesan. Mungkin untuk sekedar bisa mencari nafkah, itu tidak masalah. Namun bila tujuan utamanya adalah membuat bisnis yang sustain dalam jangka waktu yang panjang dan bisa berkembang menjadi bisnis yang besar, maka dibutuhkan sesuatu yang lebih di era ini, yaitu : KONSEP yang BAGUS dan JELAS.

Bisnis kini tidak semudah dulu, punya produk, diberi margin, lalu dijual. Bisnis di era saat ini, mesti bisa diingat terus di benak konsumen, karena kompetitor sekarang sangat banyak. 10 tahun yang lalu, Anda jual produk fashion di Kaskus, tanpa terlalu memikirkan konsep, Anda tetap akan mendapatkan pelanggan, karena toh yang jual belum terlalu banyak. Lalu 5 tahun yang lalu, bila Anda menjual produk Fashion di Kaskus, maka Anda mesti membuat “brand” dari lapak Anda agar pelanggan ingat akan dan mudah untuk kembali mencari kontak Anda saat teringat produk yang Anda jual. Itu saya lakukan 5 tahun lalu dengan menamai lapak saya di Kaskus dengan Brand “Sarang Kopi”, dan itu berjalan sangat efektif 5 tahun yang lalu.

Dan kabar buruk (sekaligus kabar baik)nya, saat ini, Brand saja ternyata tidak cukup. Terlalu banyak Brand baru bermunculan, dan bila Brand tersebut tidak diisi dengan Konsep yang kuat, maka Brand tersebut akan terasa kosong/ hampa. Yup, Brand kini berfungsi sebagai Raga saja, dan Konsep adalah Roh/Jiwa-nya. Raga tanpa Jiwa maka akan menjadi hampa atau kosong, dan tentunya Brand yang hampa sama sekali tidak akan diingat orang, atau, bilapun ingat, akan tetap dilewatkan.

Maka itu, seperti yang sebelumnya pernah saya bahas, jadilah Entrepreneur sejati yang mau belajar dan mau berubah. Karena di era sekarang ini, hanya dengan menjadi calo/trader tanpa konsep yang jelas, akan segera dilupakan orang, dan dalam waktu dekat akan ditelan oleh zaman. Apapun bisnis Anda saat ini, buatlah bisnis tersebut memiliki konsep dan identitas yang kuat. Pikirkan kembali, apa yang membuat pelanggan ingin membeli produk Anda. Janganlah jadi “pebisnis malas” yang dengan pasrahnya hanya menunggu pelanggan datang, dan bila dagangan kurang laku malah menyalahkan “kondisi perekonomian” atau “kambing hitam – kambing hitam” lainnya.

Contoh gampangnya, bila Anda ingin jadi calo tiket pesawat, jadikanlah “calo tiket” tersebut sebagai bisnis yang berkonsep dan jelas, sekelas Traveloka. Bila Anda ingin jadi calo hotel, matangkanlah konsep Anda dan jadilah sekelas Agoda, atau sedikitnya Raja Kamar. Dan bila Anda ingin bermain property, jadilah developer handal seperti Agung Podomoro Land, walau dalam versi kecilnya. Jadi, sekaligus mengklarifikasi dan menjawab protes2 Anda di thread saya sebelumnya, BUKANLAH bidangnya yang saya permasalahkan, tapi bila Anda hanya jadi pedagang malas yang “mikir konsep aja malas dan gak becus”, maka seriously, Anda perlu re-thinking niat Anda menjadi Entrepreneur, apakah sudah sesuai Passion Anda atau belum.

Dan berikut contoh kasus lainnya :

Misalnya, bila Anda ingin membuka Gerai Bakso, maka pikirkan lah Konsepnya yang jelas. Sebutkan 5 ALASAN KUAT (ya, ALASAN KUAT) yang membuat pelanggan mau datang dan kembali lagi untuk makan bakso di gerai bakso yang Anda miliki.

Berikut contoh 5 alasan kuat yang SALAH :
1. Harganya ok
2. Rasanya enak
3. Tempatnya bersih
4. Pelayanannya ramah
5. Lokasinya bagus

Lho, kenapa salah ? Mestinya benar donk ?

SALAH, karena 5 point yang Anda sebutkan adalah hal2 general saja, yang memang sudah menjadi SYARAT UTAMA dalam membuka Gerai Bakso. 5 point tersebut memang harus ada, tapi 5 point tersebut sama sekali tidak menjadikan Anda diingat oleh pelanggan Anda. Mungkin diingat, bila Anda adalah gerai bakso di tahun 90-an..kalo Anda baru buka saat ini dan hanya berpikir 5 point tersebut, lebih baik Anda urungkan dulu niat Anda buka Gerai Bakso, dan buatlah konsep yang lebih baik terlebih dahulu.

Jadi, gimana nich contoh 5 point yang berhubungan dengan konsep Gerai Bakso ? Berikut contohnya :

1. Daging bakso yang digunakan hanya berasal dari bagian tertentu tubuh sapi, sehingga menghasilkan rasa dan tekstur yang sangat enak, dan kuahnya mengandung kaldu sapi alami yang dididihkan selama minimal 12 jam, sehingga menghasilkan energi untuk tubuh dan rasa kuah yang gurih alami (point : keunggulan produk dibandingkan gerai bakso lain)

2. Target utama marketnya adalah keluarga muda, dengan umur kisaran 20-35 tahun, dengan penghasilan bulanan yang cukup baik, dan sedikitnya sudah mulai concern terhadap masalah kesehatan, sehingga ingin mengkonsumsi bakso yang lebih sehat. Second target adalah anak muda, karena anak mudalah yang akan membawa keluarganya untuk mencoba gerai bakso yang baru ini. Untuk memancing mereka, maka, khusus pelanggan yang masih kuliah/sekolah, dengan menunjukkan kartu tanda pelajar, akan mendapatkan 15% Discount selama setahun pertama.

3. Interior akan dibuat sederhana namun mengena, dan mesti eye catching. Tempat akan akan berlokasi indoor dengan kombinasi warna yang menarik.

4. Lokasi dekat dengan pusat perbelanjaan yang terkenal dan dekat kampus, parkiran mudah baik bagi penggna mobil maupun motor.

5. Nama dan tagline yang nyentrik serta sesuai target pasar dan sesuai keunggulan produk, misal “Bakso Sapi Kerajaan” dengan tagline “Baksonya Lembut, Kuahnya dari Resep Kerajaan”, jangan lupa logonya pun mesti nyambung dengan Positioning Brand nya.

Nah, kira2 terbayang kan apa yang saya maksud ? KONSEP. Dan Konsep tersebut mesti mudah diingat. Posisikan diri Anda sebagai customer, dan pikirkanlah sebenarnya apakah yang Customer Anda inginkan dari produk yang Anda tawarkan. Niscaya chance Anda untuk Sukses akan jauh lebih besar daripada Anda berjualan secara asal2an.

Akhir kata, selamat datang di Era Entrepreneur yang baru, Era Entrepreneur Kreatif !! Dan selamat berkarya !!

Kind Regards,

Profile Kontributor Subforum Entrepreneur Corner: Chandra Liang

Chandra Liang
SUMBER : http://www.kaskus.co.id

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s