Every Child is Special


Saya ingat betul hari itu. Kamis siang sekitar pukul 11, saya lihat dia terduduk di lantai depan kelas 6A. Karena baru selesai rapat koordinasi mingguan, saya membawa beberapa berkas yang tadinya mau saya taruh dulu di atas meja ruangan saya, tapi raut muka anak itu membuat saya mengurungkan niat dan langsung menghampirinya.
Namanya Ibra. Tubuhnya sehat, tidak terlalu tinggi, rambutnya hitam pekat sedikit berombak, dan pakai kacamata. Kacamatanya besar dan sepertinya minusnya banyak karena lensa cukup tebal untuk anak seumur dia. Selalu pakai sepatu neon warna-warni. Tidak banyak bicara kalau belum kenal dekat, tapi kalau dia nyaman, dia bisa ramah sekali.
Tapi Ibra bukan anak yang paling populer di kelasnya. Dia susah menjawab pertanyaan di kelas dan tidak berminat ilmu eksakta; science dan math bukan minatnya tapi dia sangat, SANGAT pandai bercerita. Saya sangat terkesan dengan cara dia memilih kata-kata dalam tugas-tugas Bahasa dan tulisannya, baik dalam Bahasa Indonesia ataupun Inggris, sangat enak dibaca.

 

Busana Muslim Branded Berkualitas
Busana Muslim Branded Berkualitas

 

Sayangnya kita tinggal di negara yang sebagian besar masyarakatnya menilai seorang anak baru tergolong pintar jika berkemampuan mendapatkan nilai tinggi dalam ilmu-ilmu “IPA” seperti kimia dan matematika. Lupa, bahwa dunia tidak hanya berputar karena manusia pintar mengolah angka. Bayangkan jika tidak ada yang lihai dalam diplomasi antar negara atau tahu hukum tentang agama, jadi apa dunia? Kita sebagai masyarakat kurang mengapresiasi anak jika mereka tidak jago dalam fisika, misalnya. Padahal ya, kalau anda bukan insinyur, berapa kali sih anda sungguh-sungguh menggunakan E=mc2 dalam keseharian anda?
Anyway, jadi kzl kalo ngomongin sistem pendidikan Indonesia. Balik lagi ke Ibra.

Sampai di ujung lorong. Saya berhenti. Saya menghadap Ibra dan berkata: “Hey Ibra. Kok di lantai, Nak?”.
Ibra: “Disuruh keluar sama Pak Jati (guru matematika), Miss.”
Saya: “Oh… Can I sit with you?” Tanya saya sebelum duduk di lantai, sebelah Ibra. Dia terdiam, lalu mengangguk. Saya meluruskan rok, dan duduk.. “Jadi kenapa ceritanya kita duduk disini, Ibra?”
Ibra: “Aku nggak ngerjain homework, Miss.”
Saya: “Hmm… Kenapa kamu tidak mengerjakan tugasnya?”
Ibra: “Aku…. Aku nggak ngerti Miss.”
Saya: “Apa yang bisa kita lakukan kalo kita tidak mengerti sesuatu, Ibra?”
Ibra: “Bertanya?”
Saya mengangguk. “Jadi kenapa Ibra nggak tanya Pak Jati?”
Ibra: “Aku udah tanya, tapi masih nggak terlalu ngerti..”
Saya: “Dirumah kan bisa tanya Mama atau Papa, Nak? Minta bantu atau jelaskan, sudah?”
Raut mukanya berubah. “Aku jarang ketemu Papa di rumah. Setiap aku bangun, Papa sudah pergi, dan saat aku tidur, Papa masih kerja. Mama… Mama sibuk.”
Saya terdiam, lalu mengalihkan pembicaraan. Saya mau Ibra merasa nyaman. Kita bahas macam-macam; dia bercerita tentang liburannya, adiknya yang baru berumur 2, sampai tentang Tutu, si kucing peliharaannya di rumah. Pelan-pelan, saya tanya, kegiatan dia saat dia pulang sekolah, sampai ke akhirnya dia cerita ibunya “sibuk” apa.
“Aku udah coba Miss, tanya Mama tapi Mama malah suruh aku ngerjain sendiri. Mama bilang Mama sibuk.. .”
Saya: “Oh.. Mungkin Mama kerja ya?”
Ibra : “Mama aku nggak kerja, Miss. Mama online game di iPad..”
Saya: “…………I see.”
���
Percakapan dilanjutkan dengan mendengarkan perasaan Ibra selama sejam, sampai tahu-tahu sudah waktu makan siang. Darinya, saya tahu bahwa Mama selalu sama iPadnya, bahkan saat mereka sedang berkumpul di meja makan.
Mendengar cerita Ibra ini, otak saya dipenuhi dengan berbagai pertanyaan… Bagaimana anaknya merasa berharga kalau mereka tidak menjadi keutamaan?
Kalau perhatian fisik saja tidak ada, apalah lagi kabar pengasuhan jiwanya?
Bagaimana mungkin ada rasa pede terhadap kemampuan sendiri jika tidak dari rumah tidak pernah disemangati?
Bukankah sekolah pertama anak adalah orang tuanya? Gimana anak mau mampu belajar dengan baik, berpikir kritis, atau menyelesaikan masalah dengan baik kalau yang seharusnya mendidik skills tersebut tidak menyempatkan waktu untuk mengajarkannya?
Teman-teman pembaca, mari belajar menentukan mana yang penting dalam hidup ini. Mana yang menjadi tanggung jawab, mana yang bisa ditunda, dan apalagi yang bisa diperbaiki. Semoga cerita ini mengingatkan ketika untuk fokus pada hal yang seharusnya dan memenuhi peran utama yaitu menjadi orang tua.
It’s never too late to do the right thing.
Be the best parent you can be right now.
May Allah make it easy for you.
Sending positive vibes selalu. �
#SilmyRisman

Share jika bermanfaat

=============================

GRIYA HILFAAZ
Pusat Busana Muslim Berkualitas
https://tokopedia.com/griyahilfaaz

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s