Pencitraan ideologis


 

Minggu lalu, saya menulis tentang kekaguman saya terhadap seorang mantan presiden RI yang menurut analisa saya telah berhasil melakukan pencitraan sebagai ayah sehingga menjadi idola anaknya yang terlihat dari kerelaan si anak untuk pindah haluan hidup ke jalan yang si ayah pilih. Itu adalah penilaian sesaat saya dari sudut pandang sempit keayahan di tengah arus zaman yang semakin lama semakin fatherless. Zaman di mana tujuan hidup semakin absurd, dan keayahan seseorang makin lama menjadi objek yang paling sering dikorbankan.
Bagaimana tidak?, pernah kah bapak-bapak membatalkan jadwal jogging dengan si buah hati karena ada meeting penting di tempat kerja?, atau lupa janji membeli oleh-oleh untuk anak karena jadwal kunjungan kerja yang sangat mepet?..
Atau pernahkah anda membatalkan janji ketemuan dengan client anda karena anda punya jadwal menemani si kecil berenang?
Tentunya sebagai orang dewasa kita punya alasan, yang pasti selalunya alasan itupun ada embel-embel anak-anak atau istri, atau keluarga, seperti, demi masa depan anak-anak atau demi masa depan keluarga.
Kembali ke pencitraan bapak SBY di atas, apakah beliau tokoh ayah yang sempurna dari kacamata seorang muslim?
Jawabannya wallahu a’lam, hanya Allah yang tau, karena yang saya kagumkan adalah dari segi pencitraan beliau sebagai seorang ayah yang berhasil menjadi idola anaknya , dan saya sebagai ayah masih struggling untuk melakukan hal tersebut ke anak-anak saya.
Sebagai muslim, hal terpenting dari sebuah proses pengasuhan adalah penanaman Ideologi tauhid ke anak-anak kita. Dan hal itu bersifat berketerusan, juga bisa lewat proses pencitraan.
Bagian penting dari pencitraan seorang ayah dari sisi ideologis adalah dengan selalu mengingat pesan apa yang kita sampaikan dari apa yang kita kerjakan. Hal itu karena sebagai orang tua, khususnya ayah, adalah contoh yang bukan hanya ditiru perbuatannya, tapi apa yang kita lakukan juga mengandung pesan-pesan tersembunyi bagi anak-anak.

Busana Muslim Branded Berkualitas
Busana Muslim Branded Berkualitas

Ketika orang tua masih suka menonton mungkin film horor atau tayangan magic bukankah itu adalah validasi bagi anak untuk percaya hal-hal yang berbau klenik.

Mengajarkan essensi tauhid bukan hanya sebagai ilmu pengetahuan tetapi sebagai fundamental yang sangat asas, sebagai jalan hidup dan cara kita melihat kehidupan (world view).
Sejatinya mengajarkan agama ke anak adalah dengan contoh, di mana anak-anak akan mengikuti kebiasaan si ayah shalat jamaah dan lama kelamaan akan terbiasa untuk shalat walaupun tanpa kehadiran si ayah.
Tauhid yang menjadi landasan Ideologis media diskusi antara anak dan ayah sebagai imam keluarga serta perlu penjelasan tentang keadaan sekitar, sehingga akhirnya si anak bisa memilah antara yang benar dan yang salah.
Tugas ayah dalam Islam bukan hanya untuk dicintai dan diikuti anak-anak , tetapi untuk dicintai dan diikuti dari sisi keimanan dan keislaman.
Yang harus diikuti anak-anak bukan hanya tradisi profesional keluarga, tetapi juga tradisi keimanan yang terjaga.
Hal tersebut juga dilakukan oleh profil ayah panutan kita nabi Ibrahim dan juga Ya’quub alaihi salaam.
” Dan Ibrahim Telah mewasiatkan Ucapan itu kepada anak-anaknya, demikian pula Ya’qub. (Ibrahim berkata): “Hai anak-anakku! Sesungguhnya Allah Telah memilih agama Ini bagimu, Maka janganlah kamu mati kecuali dalam memeluk agama Islam” (Al Baqarah :132)
Pada akhirnya, pencitraan ayah tentang profesinya boleh gagal, karena fakta perbedaan minat dan bapak antara ayah dan anak sangat mungkin terjadi, karena tidak selamanya harus “like father like son”. Tapi pencitraan ideologis harus berhasil, karena investasi kita sebagai orang tua adalah menjadikan anak kita satu di antara 3 hal yang terus mengalir ketika semua putus dengan putusnya nyawa kita :
“Apabila anak Adam mati maka amalannya terputus kecuali tiga, shadaqoh jariyah, ilmu yang bermanfaat dan anak shalih yang mendoakan ”
Anak shalih yang mendo’akan, dan teks do’a pun sebagai berikut :
“… Tuhanku ampunilah mereka sebagai mana mereka mengasuhku di waktu kecil.. ”
( Al Isra :24)
Artinya, untuk sampai ke tahap penerima do’a anak, ada syarat pengasuhan dan pendidikan di waktu kecil.
@faisalsundani #TarbiyahPubertas #Fatherhood

SHARE JIKA BERMANFAAT
=============================
GRIYA HILFAAZ
Pusat Busana Muslim Berkualitas
https://www.tokopedia.com/griyahilfaaz
==============================

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s