Bulli


Saya adalah korban bully. Ketika sempat sekolah diluar negri dulu, bully dimulai dari jam 6 pagi, ketika saya naik bis sekolah, sampai jam 3 sore, ketika pulang sekolah. Begitu naik, kita akan segera disuruh duduk oleh supir bis, agar bis bisa bergerak menuju tempat penjemputan berikutnya. Sayangnya, hampir semua tempat duduk terisi satu orang (padahal kapasitasnya utk dua), dan tidak ada satu orangpun yg mau bergeser untuk memberikan saya tempat duduk. Walhasil, saya diteriaki oleh supir bis yg berkulit hitam tsb sambil mencermati kaca spionnya “Girl! SIT DOWN!” perintahya.

😔

cf63b-06072008375

Saya pun meminta minta utk dikasih sedikit spasi agar saya ‘terlihat’ duduk. Yang ada, saya diberi sepotong bagian dr kursi, dimana saya hanya sanggup tertampung sebelah badan, dan sebelah badan lagi, harus saya tahan dengan kaki saya…sepanjang jalan!
Padahal sisa kursinya masih sangat luaaaaasss sekali. Hal ini akan terulang kembali ketika pulang nanti.
Begitu sampai disekolah, sayapun meletakkan tas di kelas pertama. Ketika guru mulai mengajar, dan anak anak diminta untuk ikut berpartisipasi, saya akan berdoa-doa agar nama saya tidak akan dipanggil! 😖

“Rossalina!” ( nama panjang saya, Rossalina A. Risman, wina hanya panggilan saja )
Oh oooo… dalam hati saya, ‘matilah aku.’
Bukan apa – apa, saya sangat mengerti apa yang guru ajarkan, yang saya tidak mengerti adalah bagaimana agar bisa bicara PERSIS seperti orang Amerika. Karena, begitu saya mencoba menjawab “Grrrrrr” maka mengakak lah seluruh kelas mendengar aksen Indonesia saya. Belum lagi, yg mencoba meniru, agar nampak semakin lucu. Sedihnya? Tidak bisa dilukiskan dengan kata kata.
Banyak sekali lainnya setelah itu yg terjadi menahun, yg tidak bisa saya ceritakan semua disini satu persatu. Begitu juga dengan sedikit “ketidak nyamanan”, yg pernah dirasakan oleh putri saya.
Namun, saya belajar kuat, mengumpulkan keberanian, membalas, dan akhirnya sang bully pun menjadi kawan saya. Saya memberhentikan ia dari membuli anak-anak baru seperti saya dulu. Begitu juga yang saya ajarkan kepada putri saya.
Bagaimana caranya?

1. Bertahan
2. Niatkan untuk melawan ( kalau ada anggota keluarga yang senantiasa mendukung, akan lebih mudah )
3. Kumpulkan keberanian
4. Lawan! Apakah itu dengan menjawab balik, melaporkan ke guru dan atau merasa tidak terganggu dengan komentar negatif dan ngeluyur pergi.

Apapun itu, semua ini tidak terlepas dari rahmat Allah dan kasih sayangnya kepada saya. Memiliki orang tua yang hebat? Ya pastilah sangat membantu prosesnya.
Jika bullying itu blm sampe tahap fisik/membahayakan, usahakan orang tua jangan terlalu mencampuri urusannya. Ajarilah anak anada step by step utk menjadi kuat dan berani melawan pembuli-nya. Kuatkan ia, hingga akhirnya ‘hari pembalasan’ tiba! Rasa puas dan gembira itu, tidak ada uang di dunia yang cukup untuk membayarnya!!! Belum lagi senyum sumringah keberhasilan, ingin rasanya menekikkan ‘Allahu Akbar!’

Namun catatan penting : Jika bullying sudah masuk ke tahap FISIKAL dan atau menganggu psikologis anak, SERTA MERTA, jangan tunggu, maju dan menghadaplah ke otoritas yg berwenang. Selesaikan dgn sesegera mungkin. Karena bullying zaman sekarang, taruhannya nyawa.
Selamat mencoba dan share jika bermanfaat.
Wallahu a’lam bis shawab
#winathethinkingcoach
Wina Risman

SHARE AGAR LEBIH BERMANFAAT
=============================
GRIYA HILFAAZ
Pusat Busana Muslim Berkualitas
Diskon setiap hari
Menerima reseller, dropshipper, agen
https://www.facebook.com/hilfaaz/photos/
https://www.tokopedia.com/griyahilfaaz
update stock instagram : griya_hilfaaz
==============================

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s