Sentuhan Hangat untuk Kader Dakwah


Sentuhan Hangat untuk Kader Dakwah

Bahwa para kader dakwah juga manusia. Mereka bukan robot. Mereka juga sudah sibuk dengan pekerjaan kantor, keluarga, dan masalah masalah lainnya. Tapi dakwah adalah suatu keniscayaan , karena nahnu du’at qobla kulli syaiin. Karena keutamaannya yang besar. Kita berdakwah bukan agar kita menjadi terkenal. Bukan karena material duniawi. Tapi kita berdakwah karena karena Allah SWT. Bukan karena siapa siapa. Dan dalam dakwah kita tidak di gaji. Tapi kita mengharapkan ridho Allah sWT. “Sesungguhnya Aku memberimu makan hanya karena mengharapkan wajah Allah SWT. Kami tidak menginginkan dari mu balasan ataupun terima kasih…..”
Namanya juga manusia kadang bosan. Kadang jenuh. Kadang futur. Tapi,kita ini berada dalam satu jama’ah yang saling menasehati satu sama lain. Jika ada saudaranya yang futur, kita ingatkan, kita motivasi, kita beri semangat. Begitu juga sebaliknya. Kadang kita perlu berfikir bersama agar bisa menghilangkan kejenuhan kita , kelelahan kita dalam berdakwah. Seakan akan hanya kerja kerja kerja, dakwah dakwah dakwah….kapan waktu kita buat keluarga kita? kapan waktu kita untuk istri dan anak kita ? tapi justru karena itu maka kita harus ber’amal jama’i. jangan sampai ada satu ikhwah yang terlalu banyak kesibukannya sedangkan ada ikhwah lain yang sangat luang waktunya. Mari kita bersama,membagi amanah dakwah ini. Sehingga kita semua mendapatkan manfaatnya. Kita semua mendapatkan pahalanya. Kita semua mendapatkan kenikmatannya. Jangan sampai kita mengatakan kepada ikhwah kita, pergilah engkau berdakwah, kami tenang tenang disini, seperti kaumnya Nabi Musa.
Allah SWT berfirman :
Mereka berkata, “Hai Musa, sesungguhnya kami sekali-kali tidak akan memasuki negeri itu, selama mereka masih ada di dalamnya. Karena itu pergilah engkau bersama Tuhan engkau dan berperanglah engkau berdua sesungguhnya kami hendak duduk-duduk saja di sini !” (5:24)
Ikhwah Fillah,
Allah tidak membebani seseorang di luar kemampuannya. Begitu juga dakwah. Semakin beratnya beban dakwah, seharusnya kita bisa meningkatkan kemampuan kita. Itu semua tergantung dari kemauan kita. Tergantung dari diri kita.

الإرادة القوية تبذل من الجهد ما يتحدى المصاعب والآلام. وأن الإرادة الضعيفة عاجزة حتى مع وجود الوسائل والإمكانيات.”

“Kemauan yang kuat akan mengerahkan seluruh kesungguhan, walau menghadapi banyak kesulitan penderitaan. Sebaliknya, kemauan yang lemah menjadi tak berdaya meskipun sarana dan waktu tersedia

Sesungguhnya perasaan tak berdaya dan tidak punya kemampuan yang selalu diucapkan berulang kali oleh para dai hanya akan meredupkan kekuatan Islam dan lambatnya laju kendaraan dakwah. Bila seorang dai tidak berani membangun dakwahnya tanpa ada perasaan takut, hal itu akan menghancurkan dakwahnya. Bila seorang dai tidak tahan menghadap kritikan, ia tidak akan pernah maju. Ia tidak akan sampai pada kemampuan memberikan arahan (taujih) dan perubahan (taghyir).

Ikhwah Fillah,
Konflik dan perbedaan pendapat dalam berjama’ah adalah suatu yang tidak dapat dihindari. Tapi,bagaimana kita bisa memanage konfik. Meredam dan meminimalkan konflik. Bagaimana kita bisa menjaga Hati kita, perasaan kita , dan juga bagaimana kita menjaga perasaan orang lain. Orang mukmin itu bagaikan satu tubuh. Jika sebagian terasa sakit, maka sakit pula yang lain. Saling ta’aruf. mengenal dan memahami watak ikhwah lain. Agar gesekan gesekan itu tidak sampai memercikan api yang akan membumi hanguskan ukhuwah kita.
Ikhwah FIllah,
Memang kita tidak akan menemukan kenyamanan dalam berdakwah, tapi paling tidak bagaimana ketika berdakwah itu menjadi sebuah kenikmatan, Tidak stress. Karena ketika stress ini memuncak,maka yang ada hanyalah gesekan, emosi, kekasarannya, dsb. Maka perlu untuk me manaje tingkat stress dalam jama’ah dakwah.
Ikhwah Fillah,
Allah SWT berfirman :

انْفِرُوا خِفَافًا وَثِقَالًا وَجَاهِدُوا بِأَمْوَالِكُمْ وَأَنْفُسِكُمْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ ذَلِكُمْ خَيْرٌ لَكُمْ إِنْ كُنْتُمْ تَعْلَمُونَ

“Berangkatlah kamu baik dalam keadaan merasa ringan ataupun merasa berat, dan berjihadlah dengan harta dan dirimu di jalan Allah. Yang demikian itu adalah lebih baik bagimu jika kamu mengetahui.” (At-Taubah: 41)

Maksud dari firman Allah swt.: انفروا خفافاً وثقالاً, sama saja apakah kalian dalam keadaaan ringan untuk pergi berjihad atau dalam keadaan berat. Keadaan ini mengandung beberapa pengertian. Pertama, ringan, karena bersemangat untuk keluar berjihad; berat, karena merasa sulit untuk berangkat. Kedua, ringan, karena sedikit keluarga yang ditinggalkan; berat, karena banyaknya keluarga yang ditinggalkan. Ketiga, ringan, ringan persenjataan yang dibawa; sebaliknya berat, karena beratnya persenjataan yang dibawa. Keempat, ringan, karena berkendaraan; berat, karena berjalan kaki. Kelima, ringan, karena masih muda; berat, karena telah uzur usia.Keenam, ringan, karena bobot badan yang kurus; berat, karena kelebihan bobot berat badan. Ketujuh, ringan, karena sehat dan fit; berat, karena sakit atau kurang enak badan. Jadi, mencakup seluruh aspek.

Kebanyakan para sahabat dan tabi’in memahami ayat itu dengan pengertian yang mutlak. Mujahid berkata, “Sesungguhnya Abu Ayub turut menyaksikan Peperangan Badar bersama Rasulullah saw., dan ia belum pernah absen dari peperangan. Ia berkata, ‘Allah telah berfirman:انفروا خفافاً وثقالاً, maka itu artinya aku dapati diriku dalam keadaan ringan atau berat’.” Dari Shofwan bin Amr, ia berkata, “Ketika aku menjadi Gubernur Hums (Syria), aku menjumpai seorang bapak tua warga Syria yang telah turun kedua alisnya. Ia berada di atas kendaraannya bersiap-siap hendak ikut berperang. Lalu aku berkata kepadanya, ‘Wahai Paman, engkau dimaklumi oleh Allah untuk tidak ikut berperang.’ Seraya mengangkat kedua alisnya, bapak tua itu berkata, ‘Hai Nak, Allah telah menyuruh kita keluar baik dalam keadaan ringan maupun berat. Ketahuilah, sesungguhnya Allah selalu menguji orang yang dicintainya.’”

Diriwayatkan oleh Imam Az-Zuhry, suatu ketika Said bin Al-Musayyib r.a. keluar untuk berperang, sedangkan salah satu matanya tidak dapat melihat. Lalu ia berkata, “Allah meminta kita untuk keluar berperang, baik terasa ringan atau berat. Jika aku tak berdaya untuk berjihad, maka berarti aku telah memperbanyak pasukan musuh dan aku hanya menjaga harta bendaku.” Juga ketika Al-Miqdad bin Al-Aswad dikatakan kepadanya pada saat beliau hendak berperang, “Engkau dimaklumi.” Lalu ia berkata, “Sesungguhnya Allah telah menurunkan kepada kita surah Al-Bara’ah: pergilah dalam keadaan ringan ataupun berat.” Walaupun akhirnya ayat ini di mansukh oleh ayat Laysa alal a’maa harojun wa laa ‘alal a’rooji harojun wa laa ‘alal mariidhi harojun,

Ikhwah FiLLah,

Inilah sentuhan hangat ini. Untuk ana pribadi. Untuk antum semua. Semoga kita semua terus menerus di berikan taufiq oleh Allah SWT untuk terus berada di jalan dakwah ini. Hidup di atas jalannya dan kelak di wafatkan di ats jalannya pula. Jangan pernah berhenti. Jangan pernah melemah. Jangan pernah mengeluh. Teruslah berjalan hingga kelelahan itu lelah mengikutimu. Teruslah bergerak. Bagi kita hanyalah ikhtiar. Hanyalah secuil usaha. Bagi Allah SWT kembalinya semua urusan. KepadaNya kita bertawwakal. Dia Yang Maha Berkehendak. Mari kita sholeh kan diri kita, karena Allah SW akan menjaga orang orang yang sholeh. Mari kita terus menerus berbuat kebaikan, karena Allah SWt bersama orang orang yang bertaqwa dan orang orang yang berbuat kebaikan. Terus berdo’a kepada Allah SWt untuk diri kita, keluarga kita, untuk qiyadah dakwah kita, untuk jama’ah kita, untuk dakwah kita, karena Allah SWT menyuruh kita berdo’a dan Dia akan menjawab do’a do’a kita. Wa man nashru illaa min ‘indiLLah…dan tidak lah pertolongan itu melainkan dari sisi Allah SWT. Mari kita jauhi hal hal yang menunda pertolongan dari Allah SWt, antara lain saling berselisih, perbuatan maksiat, dan kecintaan kepada dunia.

Allah SWT berfirman ” Dan sungguh, Allah telah memenuhi janjiNya kepada mu, ketika kamu membunuh mereka dengan izinNya ( pada perang uhud ), sampai pada saat kamu lemah, dan berselisih dalam urusan itu, dan mengabaikan perintah Rasul setelah Allah memperlihatkan kepada mu apa yang kamu sukai, di antara kamu ada orang yang menghendaki dunia, dan di antara kamu ada orang yang menghendaki akhirat ” ( QS 3 : 152 )

Ikhwah Fillah,

Izzah itu adalah milik Allah , RasulNya dan orang orang yang beriman. Izzah itu bukan dari merk baju apa yang kita pakai. Jam tangan merk apa yang kita pakai. Tapi, Izzah itu milik orang orang beriman yang mengikhlaskan amalnya kepada Allah SWT. Yang orientasinya adalah akhirat. Yang zuhud terhadap dunianya. Izzah itu muncul dari kesederhanaan, dari keimanan yang kuat, dari kebersihan hati.

Mari kita perbanyak istighfar kepada Allah SWT dan menjadikannya wirid harian kita. Karena, kita sebagai manusia pasti akan melakukan kesalahan dan dosa.

Wa akhiru da’wana ‘anil hamdulillahi robbil ‘aalamiin.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s