Karena Cinta Aku Murtad


DSC-0361Aku seorang wanita berusia 27 tahun. Dua tahun yang lalu aku melahirkan seorang anak ke dunia. Hanya saja mungkin keadaanku sebagai seorang ibu berbeda dengan ibu-ibu yang lain. Mereka senantiasa memandang wajah putra dan putrinya dengan tatapan kasih sayang, bangga dan penuh cinta. Sedangkan aku? Yang kudapat saat menatap bola matanya adalah kepedihan yang teramat perih dari kisi-kisi hati yang tersayat sesal.

Sebelum peristiwa pahit itu menyapa dalam hidupku, kehidupanku yang sederhana senantiasa diliputi oleh ketenangan. Aku bahagia dengan keadaanku, dengan rutinitasku. Setiap hari kujalani dengan hati yang riang sebagai seorang wanita. Kebanggaanku pada kehormatan yang senantiasa kujaga demi satu mimpi mendapatkan keluarga yang bahagia suatu saat nanti. Hingga sosok itu hadir menghancurkannya.

Peristiwa itu bermula saat aku bekerja sebagai salah satu staf tata usaha di sebuah akademi kesehatan di kota Daeng. Aku berkenalan dengan dengan seorang pria yang mengaku bujang. Dia juga bekerja sebagai staf tata usaha di kampus tempatku bekerja, namun jabatannya lebih tinggi dariku.

Seperti kata orang, “mulanya biasa saja,” yah, memang semuanya biasa saja. Saling ber-say hello, bercerita, bercanda, bertegur sapa. Sesuatu yang lazim dilakukan oleh sesama pegawai staf. Apalagi dalam satu kantor. Hingga waktu terus berjalan seiring dengan hubungan kami yang begitu akrab. Semuanya mulai menjadi sesuatu yang tidak biasa lagi.

Jujur saja, dalam hal agama, pengetahuanku memang tidak terlalu dalam. Orang mungkin biasa mengatakannya “awam”. Di alam pikiranku, bergaul dengan lawan jenis itu adalah sesuatu yang biasa. Seperti yang terjadi ditengah masyarakat. Apalagi aku dilahirkan dari lingkungan keluarga yang pendidikan agamanya “biasa-biasa saja” tidak mengenal apa itu tarbiyah, ikhtilath, ghibah, dan istilah-istilah yang lain.

Sebenarnya aku tidak pernah berkeinginan untuk dekat dengannya, karena pertimbangan beda agama. Dia seorang non muslim. Namun rayuan demi rayuannya, perjuangannya mendekatiku, janji manisnya, perhatiannya yang berlebihan dan tidak henti-henti meski selalu kutolak dengan cara yang halus, sedikit demi sedikit meluluhkan hatiku.

Gayung pun bersambut, akhirnya kuterima uluran tangannya. Waktu itu aku tidak berpikir untuk serius. Hanya sekedar pengisi waktu saja. Apalagi dia sudah banyak berkorban untukku, dan aku merasa kasihan padanya. Waktu itu aku berpikir suatu saat nanti aku akan minta putus. Mudah kan?

Hubungan kami pun berjalan secara rahasia, back street. Untuk menghindari ocehan dan desas desus penghuni kampus.

Seiring dengan waktu yang mengantar kebersamaanku dengannya, entah mengapa tanpa sadar aku sudah mulai menyukainya, mencintainya. Aku tidak tahu, apa yang telah membuatku begitu tergila-gila kepadanya. Kehidupannya juga sederhana, wajahnya malah dibawah rata-rata. Apa karena rayuannya? Kelihaiannya mengumbar rayuan gombal menjadikanku merasa tersanjung dan berbunga-bunga. Seakan-akan akulah wanita yang paling menarik di dunia ini. Di sampingnya aku selalu merasa yang terbaik. Dia sungguh pandai menggombal.

Tak pernah kusangka dan kuduga sebelumnya, hubunganku dengannya sudah melewati ambang batas moral dan norma agama.

Tragedi yang tak mungkin pernah bisa kulupakan dalam lembaran sejarah hidupku. Aku hamil. Aku tidak tahu, iblis mana yang merasukiku waktu itu. Mengapa aku bisa menjadi sehina ini? Mengorbankan sesuatu kepada seseorang yang sebenarnya tidak berhak dan tidak boleh mengusiknya.

Aku tidak tahu harus berbuat apa. Aku tidak berani lagi pulang ke kampung dengan corengan hitam di wajahku. Tidak sampai di situ, entah darimana pihak birokrasi kampus mengetahui kehamilanku di luar nikah, yang berujung dengan memecatku.

Pihak kampus tidak mengetahui siapa bapak dari bayi yang kukandung. Dia mengancamku dan menyuruhku untuk tutup mulut. Aku tersudut. Entah mengapa dia sudah begitu menguasai hidupku. Seakan membuatku tak mampu bergerak.

Dan aku tidak mengerti, mengapa aku selalu menurut saja pada setiap kata dan perintahnya. Yang bisa kulakukan hanya memohon kepadanya untuk bertanggung jawab atas perbuatannya terhadapku.

Ia bersedia menikahiku dengan satu syarat, aku harus keluar dari Islam dan masuk ke agamanya. Menjadi seorang non muslim sepertinya. Ternyata orang yang selama ini mencurahkan perhatiannya -yang kukira tulus untukku- adalah seorang misionaris.

Istilah ini juga baru kukenal setelah semuanya sudah terlanjur terjadi. Selama ini istilah itu hanya lewat saja di kepalaku. Masuk telinga kiri, keluarpun juga lewat telinga yang sama. Aku tidak pernah membayangkan jika aku akan menjadi korbannya. Aku tidak pernah menduga kalau istilah dan kekhawatiran sebagian kaum muslim tentang misi itu ternyata menimpa kehidupanku.

Mirisnya karena aku sudah terlanjur menjadi korbannya. Kakiku sudah sulit dan mungkin tidak bisa lagi aku tarik kembali. Yang ada di kepalaku saat itu bukan lagi tentang aqidahku, tetapi tentang makhluk kecil yang ada di rahimku. Tentang aib, tentang calon istri bayi yang aku juga mulai mencintainya. Aku tidak ingin menggugurkannya. Ia darahku dan aku ingin merasakan desahan nafasnya. Merasakan kaki-kaki kecilnya nanti akan meronta di dalam dekapanku.

Otakku sudah buntu, bagiku sudah tak ada lagi pilihan lain. Aku tidak sanggup menghadapi aib ini sendiri, imanku begitu lemah. Aku tidak mau bayiku terlahir tanpa ayah dan akan dicemooh kelak di tengah masyarakat. Ditambah lagi siapa yang akan menanggung beban ekonomi kami nanti? Sedangkan aku sudah dipecat dan menjadi salah satu dari sekian banyak pengangguran yang ada di kota ini.

Akhirnya, kuikuti keinginannya. Kujual akidahku dengan harga yang sangat murah dan tak bernilai. Kulepas jilbab yang selama ini menutup kepalaku, beralih ke agamanya, murtad dari agama Islam yang benar dan suci.

Tapi lagi-lagi, keputusanku itu bukanlah hal yang tepat. Saat ini, meskipun ia sudah berhasil menjadikanku sebagai salah satu korban misinya, ia tengah berusaha mendekati dan mengejar seorang mahasiswi, tetap di kampus yang sama. Korban misi yang berikutnya.

Aku sama sekali tidak berdaya, aku sangat lemah dan pengecut. Aku selalu ketakutan dengan ancaman-ancaman dan perlakuannya yang keras dan kasar. Aku ketakutan pada kekasaran tangannya yang selalu menyiksa tubuhku. Rasanya perih. Aku menjadi semakin lemah. Aku tak tahu mengapa harus menjadi seperti ini? Padahal bisa saja aku lari menjauh dari hidupnya. Tapi lagi-lagi tetap saja aku tidak bisa. Ada yang mengikatku dengannya, sesuatu yang tidak aku mengerti.

Tapi hatiku sedikit lega saat kudengar bahwa mahasiswi itu memiliki sahabat seorang akhwat berjilbab besar yang selalu bersamanya. Akhwat itu pastilah lebih mengerti tentang kristenisasi dan akan memahamkan dirinya. Sehingga mau tidak mau, misionaris yang saat ini sudah menjadi suamiku sulit unutk bisa mendekatinya.

Saat kisah ini dituturkan, aku masih dalam keadaan seperti ini, terkatung dalam penderitaan dan penyesalan. Penderitaanku ini mungkin adalah balasan atas dosa besar yag telah kuperbuat.

Hanya ini yang bisa kulakukan untuk para calon ibu di manapun berada. Semoga kisahku ini yang hanya berwujud tinta di atas kertas, dapat dibaca dan dijadikan sebagai pelajaran bagi seluruh perempuan -khususnya para remaja muslimah- bahwa misionaris sedang berkeliaran di sekitar kita dengan metode-metodenya yang beragam.

Selagi masih sempat, belajarlah tentang agama Allah. Jangan tunggu sampai menyesal seperti keadaanku sekarang. Jangan menunggu sampai kau merasa bingung dengan tindakan apa yang harus kau lakukan saat kehancuran kita sebagai wanita yang gagal mempertahankan kehormatannya menyapa.

Selagi muda, belajar dan belajarlah untuk memperkuat aqidah keislaman yang mulia. Kenalilah mereka dari metode-metode apa saja yang mereka gunakan. Tingkatkan kewaspadaan dan tolong sebarkan pada saudarimu yang lain. Agar tidak lagi menjadi tangis penyesalan seperti yang aku alami terhadap mereka. Agar tidak ada lagi terjadi perusakan fitrah terhadap bayi-bayi yang tak berdosa. Jika ibu mereka adalah Islam, maka insya Allah anaknya juga akan Islam.

Habiskan waktumu untuk ilmu, dan jangan kau habiskan untuk mencari-cari trend model terbaru, berjalan di mall tanpa manfaat atau menghabiskannya di kegelapan malam dengan lelaki yang kau pandang sebagai kekasih.

Mereka bukan kekasih …, tetapi serigala yang ingin menelanmu bulat-bulat. Bacalah buku-buku atau majalah-majalah Islami. Jadilah wanita yang cerdas dan tangguh. Belajarlah dari kesalahan dan kelemahanku. Belajarlah dari penyesalan dan penderitaanku. Sungguh …, apa yang kualami sangat menyakitkan. Kau akan merasa antara hidup dan mati. Tak ada lagi senyum ceria. Air matapun mengering. Selagi kau bisa meniti dan merencanakan mada depanmu.

Aku hanya bisa bercerita, setidaknya semoga engkau bisa merenung barang sedetik. Sekali lagi …, belajarlah dari hidupku!!! Dan tolong doakanlah aku semoga saja suatu saat nanti keberanian itu akan muncul dalam diriku, sehingga aku bisa kembali ke jalan-Nya yang benar.

Mudah-mudahan Allah mendengar doamu meski hanya seorang diantaranya. Tolong doakanlah aku barang semenit saja. Karena saat ini aku benar-benar merasakan ketidakberdayaan sebagai seorang wanita dan sebagai seorang manusia.

“Anakku, maafkan Ibu karena telah merusak fithrahmu, cepatlah besar untuk bisa menentukan sendiri jalan hidupmu.” Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda,

“Semua bayi yang dilahirkan dalam keadaan fitrah. Ibu bapaknyalah yang menjadikannya yahudi, nasrani, atau majusi.” (HR.Bukhari)

Dari seorang sahabat, Cahaya Bintang
Semoga Allah selalu menjagamu.
24 Juli 2005

diketik ulang dari buku:
“KARENA CINTA AKU MURTAD; kisah-kisah bertabur hikmah dan insprirasi untuk melewati episode keremajaan kamu” Suherni Syamsul, Penerbit: Gen!mirqat, hal 1-11.

Dimana Posisi Shalat Kita?


Abdul Malik bin Muhammad, dalam kitabnya membagi manusia dalam lima tingkatan terkait dengan shalat.

Pertama, Mu’aqab (kelompok yang diazab). Mereka adalah golongan manusia yang mengerjakan shalat, tetapi salah menjalankannya dan jauh dari sempurna. Selain syarat dan rukunnya diabaikan, mulai dari pelaksanaan wudlu hingga soal thaharah lainnya juga tidak mendapat perhatian. Dapat dikatakan, mereka itu shalat asal-asalan.

Waktu shalat sering dilaksanakan di luar waktunya, sering terlambat, bahkan sering kali tidak dilaksanakan. Merekalah yang dalam al-Qur’an disebut “’an shalatihim sahun” orang yang lalai dalam mengerjakan shalat. Kelompok ini juga termasuk orang yang dhalimun linafsihi, orang yang menzalimi diri sendiri.

Kedua, Muhasab (kelompok yang dihisab). Golongan ini adalah mereka yang rajin melaksanakan shalat, menjaga waktu-waktunya, demikian juga syarat, wajib, dan rukunnya. Secara lahiriyah seluruh ketentuan mengenai shalat sudah dipenuhinya. Wudlunya bagus, pakaiannya menutup aurat, tidak terkena najis, menghadap qiblat, tepat waktu, demikian juga semua rukun shalat tiada cacat.

Sayang, satu hal yang kurang pada kelompok ini adalah kehadiran hatinya. Pada saat shalat, hati dan pikirannya tidak dijaga sehingga melayang-layang entah kemana.

Ketiga, mukaffar ‘anhu (yang diampuni dosa-dosanya). Setingkat lebih baik lagi adalah kelompok orang yang senantiasa menjaga batasan-batasan shalat, menjalankan wajib dan rukunnya, bahkan menjalankan sunnah-sunnahnya, sekaligus bersungguh-sungguh di sisi Allah SWT dari segala godaan nafsu was-was yang mengotori pikiran dan perasaannya.

Dalam shalatnya mereka sibuk menjaga hati dan pikirannya. Mereka berkonsentrasi penuh agar setan tidak berkesempatan mencuri shalatnya.

Keempat, mutsab (yang diberi pahala). Tak sekadar diampuni dosa-dosanya, mereka termasuk orang yang berhak mendapat pahala yang berlimpah. Mereka ini adalah segolongan kecil orang yang aqimush-shalat (menegakkan shalat), tidak sekadar menjalankannya.

Golongan ini menegakkan shalat dengan hak-haknya, rukun-rukunnya dan hatinya tenggelam dalam menjaga batasan-batasannya. Mereka tidak membiarkan hatinya sedikit pun terlena dari segala hal yang dapat mengganggu konsentrasi shalatnya. Pada tingkatan ini seluruh anggota tubuhnya berzikir, pikirannya berzikir, juga hatinya berzikir, sebagaimna firman-Nya: “Sesungguhnya aku ini adalah Allah, tidak ada Tuhan (yang hak) selain Aku, Maka sembahlah aku dan dirikanlah shalat untuk mengingat-Ku.” (Thaha [20]: 14)

Kelima, muqarrib min Rabbihi (yang mendekatkan diri kepada Allah). Menurut penulis buku ini, tingkatan yang paling tinggi adalah orang yang menegakkan shalat sampai pada tahab muqarrabin, yaitu orang-orang yang dekat dengan Allah. Ketika shalat, golongan ini merasa benar-benar bertemu dan berhadapan dengan Allah. Jika tidak melihat Allah, maka mereka yakin bahwa Allah melihatnya. Mereka meletakkan hatinya di hadapan Allah, merasa diawasi Allah, dan hatinya penuh dengan kedekatan kepada Allah. Di hatinya telah sirna segala was- was dan segala pikiran di luar shalat. Mereka itulah orang-orang yang disebut Nabi SAW sebagai muhsinin.* Wallahu a’lam.

 

SUARA HIDAYATULLAH JUNI 2013

Mengajarkan Buah Hati Meminta Maaf dan Memaafkan


Cara Nabi Mengatasi Kemandulan

Oleh : Miarti

Satu hal negatif yang cukup mengkarakter pada diri manusia adalah beratnya meminta maaf dan sulitnya memaafkan. Dan tidak jarang prosesi bermaaf-maafan yang dilakukan hanya sebatas ekspresi, tanpa disertai keikhlasan hati. Bahkan walau dalam suasana lebaran sekalipun dimana orang-orang saling berjabat tangan dan saling meleburkan kekhilafan.

Sebagai orangtua bijak, tentu kita tidak ingin bila perilaku tidak baik seperti itu melekat kuat pada diri anak kita. Alasannya, bila sejak kecil anak kita sudah sering menunjukkan keengganannya untuk meminta maaf, maka hal itu bisa menjadi benih-benih arogansi dan superioritas yang akan tumbuh hingga ia dewasa. Begitu pula dengan keengganannya untuk memaafkan. Bila kita biarkan dan tidak diingatkan sama sekali, maka bukan tidak mungkin jika di kemudian hari buah hati kita tumbuh menjadi pribadi yang pendendam dan senang mengungkit-ungkit masa lalu.

Usia dini adalah masa pembentukan, dimana ia mencerna lingkungan dan sekitarnya, mengadaptasi berbagai contoh perilaku, belajar dari berbagai pembiasaan, menyimak berbagai fenomena serta belajar memaknai berbagai hal yang salah dan yang benar dari berbagai konteks. Dan secara bertahap, mereka memiliki preferensi sosial (social preference) seperti kecenderungan memilih teman. Selain memiliki preferensi sosial, mereka juga mulai mengembangkan  kompetensi sosial (social competence) dengan cara turut serta dalam kelompok sosial. Dan untuk memasuki kehidupan bersosial, setiap anak  harus memiliki bekal tentang bagaimana caranya bersosial yang baik. Salah satu upayanya adalah dengan memiliki kesadaran untuk saling memaafkan.

Terkait pentingnya memahamkan buah hati tentang konsep maaf memaafkan, Rasulullah Saw mengingatkan kita dalam salah satu sabdanya. “Orang yang pernah menzhalimi saudaranya dalam hal apapun, maka hari ini ia wajib meminta perbuatannya tersebut dihalalkan oleh saudaranya, sebelum datang hari dimana tidak ada ada dinar dan dirham. Karena jika orang tersebut memiliki amal shalih, amalnya tersebut akan dikurangi untuk melunasi kezhalimannya. Namun jika ia tidak memiliki amal shalih, maka ditambahkan kepadanya dosa-dosa dari orang yang ia zhalimi” (HR. Bukhari no.2449)

Hadits tersebut mengingatkan kita untuk senantiasa berhati-hati dalam berinteraksi dengan orang lain serta menyegerakan diri untuk meminta maaf. Oleh karena itu, tidak ada alasan bagi kita untuk berhenti mengajarkan maaf memafkan pada anak-anak. Karena bisa jadi, pembiasaan meminta maaf dan memaafkan merupakan jembatan menuju kesholehan pribadi maupun sosial.

Berikut beberapa cara sederhana agar anak kita terbiasa meminta maaf.

  • Sampaikan dengan jelas (tanpa menekan dan menyakiti) pada mereka bahwa apa yang diperbuatnya itu tidak benar. Contoh: memukul atau mengganggu adik bayinya yang sedang tidur, merebut mainan dari tagan orang lain, mengejek, marah, dan lain-lain.
  • Mintai tanggungjawabnya untuk bersegera meminta maaf secara verbal
  • Berikan reward yang membangun ketika ia mau meminta maaf.
  • Bentuk reward yang diberikan bisa dalam bentuk apa saja, walau sesederhana apapun. Contoh; mengacungkan jempol, menjabat tangannya, mengucapkan selamat, meraih dan memeluk tubuhnya, dan lain-lain.

Selanjutnya, ketika anak kita merasa terzhalimi, maka kita tidak bisa membiarkan dia berlarut-larut dalam sudut pandang yang negatif tentang orang yang menzhaliminya.

  • Jelaskan dengan bijak dan dengan bahasa yang bisa dimengerti anak bahwa kesalahan yang dilakukan orang lain kepadanya bisa jadi karena unsur ketidaksengajaan.
  • Sampaikan bahwa kita perlu menghargai orang yang telah berusaha meminta maaf, sehingga anak kita sampai pada tahap “iba” terhadap orang yang meminta maaf kepadanya.
  • Sampaikan pula bahwa Allah dan Rasul juga sangat pemaaf.
  • Lebih jauh lagi, bila kita ingin terhindar dari kesan menghakimi, kita bisa membujuk anak kita dengan kisah-kisah hikmah yang ringan dan bermakna.

Selain meminta anak untuk bersedia meminta maaf dan memaafkan, sebagai orangtua, kita juga jangan merasa sungkan untuk terbiasa meminta maaf kepada anak. Sampaikan dan ekspresikan bahwa kita sudah melakukan kesalahan. Contoh; “Maaf ya sayang, Mama lupa membelikan mainan yang sudah Mama janjikan”. Contoh lain misalnya; “Maaf ya, Nak. Harusnya, tadi Mama pamit dulu.” Hal ini insyaAllah akan semakin membantu anak kita untuk memahami pentingnya maaf memaafkan.

Memang tidak mudah mengajarkan anak hingga ia sadar bahwa meminta maaf itu harus disegerakan dan memaafkan itu termasuk kewajiban. Namun satu hal yang perlu jadi catatan bagi kita semua adalah bahwa mengajarkan buah hati terkait maaf memaafkan, sedapat mungkin harus sampai pada tahap moralitas pasca konvensional –sebuah teori perkembangan moral yang dikembangkan oleh Kohlberg-, dimana dengan sendirinya anak akan menyadari kesalahan yang telah diperbuatnya dan bertanggungjawab untuk meminta maaf tanpa harus diminta atau diarahkan. Allohu ‘alam bish showaab.

majalah al-intima.com

Jangan Takut Bila Harus Lewati Ujian


 
Banyak Bersyukurlah Walau Banyak Rintangan
 
Fitnah atau ujian, adalah kenyataan yang tak terpisahkan dari hidup. Al Jurjanji, menyebut definisi fitnah dengan “ sebuah peristiwa yang bisa menyingkap keadaan seseorang, baik dalam kebaikan maupun keburukan”. Seperti lembaga pendidikan yang membuat ujian untuk mengetahui nilai dan tingkat pemahaman peserta didik. Seseorang yang mengalami fitnah, pada hakikatnya adalah sedang melewati proses untuk bisa diketahui sejauh mana tingkat keimanan dan kejahilannya. Untuk menyingkap bagaimana kualitas komitmennya terhadap kebenaran dan bagaimana kelemahannya.
 
Kehidupan itu sendiri identik dengan fitnah, artinya, keberadaan kita di dunia ini adalah sebab adanya fitnah atau ujian yang kita hadapi. Bahkankalau disebut, hidup ini adalah arena fitnah atau ujian belaka. Sebab dalam surat Al-Mulk ayat dua, Allah sendiri yang berfirman, “( Dia) yang menciptakan untuk kalian kehidupan dan kematian, untuk menguji kalian yang paling baik amalnya.” Dari ayat ini  setidaknya ada dua kesimpulan penting yang patut kita ingat. Pertama, bahwa kita pasti akan di uji, dan kedua kita semua tak akan pernah  mendapat sesuatu yang lebih baik, kecuali setelah kita berhasil melewati ujian itu.
 
Saudaraku,
 
Rasulullah saw suatu hari menaiki salah satu bangunan tinggi di Madinah, setelah itu, Ia bersabda, “ Apakah kalian lihat apa yang aku lihat? Sesungguhnya aku melihat tempat-tempat terjadinya fitnah diantara rumah-rumahmu bagaikan  turunnya air hujan. “ Demikianlah bunyi salah satu hadits shahih yang diriwayatkan oleh Imam Muslim.
 
Seperti itulah gambaran betapa dahsyat-nya fitnah yang pasti kita hadapi dalam hidup. Jika Rasul Saw menyebutkan bahwa terjadinya fitnah bagaikan turunnya air hujan, itu pertanda bahwa tak ada di antara kita yang bisa terlindung dari fitnah/cobaan tersebut. Tak ada satu orangpun, dengan tingkatan keshalihan yang banyaknya ibadah yang dimilikinya, yang terlepas dari fitnah. Dan yang terpenting kita tanamkan lebih dalam hati kita adalah, semakin tinggi keshalihan dan tingkat keimanan kita miliki, semakin berfariasi dan berat ujian/fitnah yang akan dihadapi.
 
 
Saudaraku,
 
Fitnah mempunyai bentuk beragam, dari berbagai keterangan Al Qur’an dan Hadits, para ulama menyebutkan ada empat bentuk fitnah yang terberat, yakni Perempuan bagi laki-laki, harta, anak dan kedudukan atau jabatan.
 
Jika kita sudah mengetahui bahwa kita pasti menghadapi fitnah, dan kita sudah meyakini bahwa kondisi kita akan terbukti melalui bagaimana sikap kita jika menghadapi fitnah. Maka yang terpenting kita lakukan sekarang adalah mempelajari bagaimana  interaksi yang paling tepat untuk mengatasi atau mengantisifasi fitnah. Kita juga harus ketahui, bentuk fitnah bagaimana yang rawan menimpa dan membuat kita tergelincir. Mempelajari, mengetahui dan menyikapi masalah fitnah seperti ini, dilakukan oleh Khudzaifah ra sebagaimana pertanyaannya kepada Rasulallah saw, “ Manusia bertanya kepadamu tentang kebaikan, sedangkan aku akan bertanya kepadamu tentang keburukan, karena aku khawatir terjerumus di dalamnya. “ Pertanyaan Khudzaifah ra tersebut sebenarnya menunjukkan  bahwa banyak manusia terjerumus pada fitnah, karena ia tidak mengetahui bagaimana fitnah yang akan menimpanya.
 
Cobalah berdialog dan berbicara dengan hati. Tentang kelemahan-kelemahan dan kekurangan-kekurangan kita. Cobalah membuka diri  untuk mengakui memang ada banyak jurang fitnah yang paling mungkin membuat kita terjerumus dan jatuh. Bersikap jujur pada diri sendiri, tentang berbagai celah kelemahan yang ada pada diri, dan  kemungkinan kelemahan atau celah itu yang membuat kita terpuruk dan jatuh, adalah langkah paling utama agar kita bisa mengantisifasi dan menutupi kelemahan itu sehingga kita mampu menaklukkan fitnah.
 
Imam An Nawawi rahimahullah, mengomentari ungkapan, “ Barang siapa yang mengenal dirinya, maka dia berarti mengenal Rabbnya. “ Katanya, “ Barang siapa yang mengenal dirinya yang memiliki kelemahan dan sangat membutuhkan Allah serta keharusan menghamba pada-Nya, maka berarti ia mengenal Rabbnya Yang Memiliki kekuatan dan kewajiban disembah, serta Pemilik Kesempurnaan dalam semua hal.”
 
Saudaraku,
 
Bila kita renungkan kapasitas dan kemampuan diri yang serba lemah itu, maka kita pun akan mengerti mengapa Rasulullah saw mengajarkan kita doa Allaahumma arinal haqqa haqqaa warzuqnaa tibaa’ah wa arinal baathila baathilaa warzuqnaa ijtinaabah..” 
“Ya Allah, perlihatkan kepada kami yang hak sebagai hak, dan berilah kami kekuatan untuk mengikutinya. Perlihatkanlah kepada kami yang batil sebagai batil, dan berilah kami kekuatan menjauhinya (melawannya). Semoga kita termasuk dalam kebenaran.
 
Do’a ini mengajarkan tentang perlunya kita memperdalam, meneliti, merenungi lebih jauh tentang banyak hal yang kita hadapi dalam hidup.  Sebab kadang kebenaran dan kebhatilan tidak terlalu terang kita melihatnya akibat pengetahuan atau hati kita sendiri yang tidak mampu menangkapnya. Sebab tidak jarang setelah mengetahui kebenaran, kita ternyata tidak juga mengikutinya. Sebab, seringkali setelah mengenal kebathilan, kita justru terjerumus ke dalamnya.
 
Saudaraku,
 
Kita sekarang sedang sama-sama menghadapi fitnah. Kita sedang disingkap sejauhmana kualitas keimanan, kualitas kedekatan kita pada Allah swt. Kita, memang harus melewati itu semua untuk membuktikan, siapa sebenarnya kita.
 
Abu Salman Ad Darani mengatakan, “ Umar  bin Abdul Aziz lebih zuhud dari Uwais Al Qarni. Karena Umar memiliki gemerlapnya dunia, sedangkan ia mampu bersikap zuhud dalam kondisi seperti itu. Kita tidak tahu bagaimana kondisi Uwais bila ia memiliki kekuasaan  seperti yang dimiliki Umar. Orang yang telah mengalami tidak sama dengan yang belum mengalami…”
 
Jangan takut di uji, karena memang Ujian dan kehidupan itu tak mungkin dipisahkan. Mintalah hanya kepada Allah swt, agar kita semua di kuatkan dan di bantu dalam menghadapi ujian hidup. Jangan Takut Bila Harus Lewati Ujian…
 
Saudaraku,
 
Perhatikan dan renungkanlah kalimat terakhir perkataan Abu Salman…”…Orang yang telah mengalami tidak sama dengan yang belum mengalami…”
 
Sumber: Tarbawi, Menuju Keshalihan Pribadi dan Umat

Gema Bisikan Istri


Siapa yang tidak kenal Harun Ar Rasyid. Judul buku yang ditulis oleh DR. Syauqi Abu Khalil (أمير الخلفاء وأجل ملوك الدنيا / Amirnya para Khalifah dan raja paling hebat di dunia), cukup untuk menggambarkan betapa dahsyatnya tokoh yang satu ini. Sehingga tidak aneh ketika wajahnya dikeruhkan oleh orang-orang yang tidak suka melihat Islam besar. Karena Islam sangat terasa kebesarannya di masa Harun Ar Rasyid. Sehingga muncullah di benak kita selalu tokoh Abu Nawas yang konyol itu dan kisah pesta pora di negeri seribu satu malam. Kesemuanya bersumber dari kedengkian terhadap kebesaran Islam dan tokohnya.

Maka bacalah dari sumber yang jelas dan shahih, kemudian rasakan kebenaran judul buku DR. Syauqi.

Saat Harun Ar Rasyid sedang menyiapkan penggantinya dari anak-anaknya. Dia melihat di antara anak-anaknya yang paling layak adalah Al Ma’mun. Keinginannya ini bertentangan dengan keinginan istrinya yang berasal dari nasab mulia Quraisy; Zubaidah. Karena Zubaidah mempunyai anak dari Harun bernama Al Amin. Sementara Al Ma’mun hanya anak dari mantan budaknya.

Berita Harun yang lebih memilih Al Ma’mun daripada Al Amin membuat Zubaidah sangat gundah. Hingga ia menghadap Harun Ar Rasyid dan mengadukan keberatannya. Harun berkata tegas:

Sesungguhnya ini umat Muhammad dan tanggung jawab terhadap rakyat yang diberikan Allah ini terikat di leherku. Sementara aku tahu antara anakku dan anakmu. Anakmu tidak layak menjadi Khalifah. Dan tidak layak untuk rakyat!

Tapi Zubaidah tetap ngotot,

Anakku, demi Allah lebih baik dari anakmu dan lebih layak untuk memimpin. Bukan orang dewasa yang bodoh juga bukan anak kecil yang tidak layak memimpin. Lebih dermawan jiwanya dari anakmu. Dan lebih pemberani.

Harun menjawab lagi,

Sesungguhnya putramu lebih aku cintai. Tetapi ini Khilafah, tidak layak memegangnya kecuali orang ahli. Kita akan dimintai pertanggungan jawab tentang masyarakat ini. Kita tidak sanggup menghadap Allah dengan membawa dosa mereka.

Lihatlah bagaimana seorang suami yang bijak. Walau ia lebih paham dari istrinya yang hanya mengedapankan rasa, tetapi Harun ingin menampakkan bukti secara langsung bahwa Al Ma’mun lebih layak dari Al Amin. Harun berkata,

Duduklah di sini, agar aku bisa tunjukkan kedua anak kita ini.”

Harun Ar Rasyid dan istrinya duduk di kursi dan memanggil pertama kali Al Ma’mun. Saat Al Ma’mun datang, ia menundukkan pandangannya. Menunggu lama di depan pintu dalam keadaan berdiri. Lama sekali, hingga terasa pegal kakinya. Hingga diizinkan untuk masuk, ia pun duduk. Kemudian Al Ma’mun minta izin untuk bicara. Setelah diizinkan, ia memulai dengan memuji Allah atas anugerah bisa melihat orangtuanya dan berharap Allah selalu memberi solusi dalam kepemimpinannya. Kemudian ia minta izin mendekat kepada Harun dan Zubaidah. Setelah diizinkan, Al Ma’mun maju dan mencium kaki, tangan dan kepala ayahnya itu, selanjutnya mendatangi Zubaidah dan melakukan hal yang sama.

Kemudian dia kembali ke tempat duduknya semula. Kemudian ia mengucap syukur akan keberadaan ibu yang baik.

Selanjutnya Harun Ar Rasyid berkata: Nak, aku akan memberikan kepadamu kepemimpinan ini dan mendudukkanmu di tempat kekhilafahan. Karena aku melihatmu layak untuk menjadi Khalifah.

Al Ma’mun menangis dan memohon kepada Allah agar tidak mengambil ayahnya.

Harun meyakinkan lagi bahwa ia layak.

Al Ma’mun akhirnya menjawab: Saudaraku lebih layak dariku. Dia putra tuan putriku. Menurutku ia lebih kuat dibandingkan aku untuk urusan kepemimpinan.

Kemudian Al Ma’mun pun keluar setelah selesai.

Harun dan istrinya masih di tempat duduknya. Selanjutnya meminta agar Al Amin datang menghadap.

Al Amin datang dengan pakaian kebesarannya dan berjalan dengan angkuh. Dia langsung masuk dengan menggunakan sandalnya dan lupa mengucap salam. Dia terus berjalan hingga duduk sejajar dengan ayahnya di kursi.

Harun berkata: Bagaimana menurutmu nak, aku ingin memberikan kepemimpinan ini kepadamu.

Al Amin menjawab: Wahai Amirul Mu’minin, siapa lagi yang lebih berhak dibandingkan saya. Aku anakmu yang paling tua dan putra dari istri tercintamu.

Harun berkata: Keluarlah, nak.

Setelah ujian ini, Harun berkata kepada istrinya: Bagaimana kamu melihat antara anakku dan anakmu?

Zubaidah menjawab menjawab dengan jujur: Anakmu lebih berhak

Harun menjawab: Kalau begitu kamu telah mengakui kebenaran dan obyektif menilai yang kamu lihat.

Setelah semua ini, sudah seharusnya Harun memberikan kepemimpinan kepada Al Ma’mun baru setelahnya Al Amin. Dan memang ia pun bertekad untuk itu.

Tapi anehnya, pada tahun 186 H, Harun Ar Rasyid mengajak anak-anaknya berikut staf dan keluarga kerabat untuk haji sekaligus menjadi saksi atas surat perjanjian yang ditulis dan ditempel di Ka’bah.

Isi surat itu adalah pengganti setelah Harun adalah Al Amin dan setelahnya baru Al Ma’mun.

Ajaib kan…

Bukankah seharusnya adalah Al Ma’mun baru Al Amin, seperti tekad Harun sejak awal.

(perlu diketahui bahwa kedua anak Harun ini memiliki kompetensi kepemimpinan sebagaimana yang dikatakan oleh guru mereka: Al Kisai)

Anda tahu jawabannya, mengapa Harun justru mengubah pendiriannya?

Para ahli sejarah mengatakan bahwa inilah posisi Zubaidah di hati Harun. Walau Harun telah berhasil ‘menaklukkan’ Zubaidah bahwa yang berhak adalah Al Ma’mun di awal baru Al Amin. Zubaidah pun telah mengakuinya.

Tapi tetap saja, permintaan awal Zubaidah menggema di hati Harun.

Zubaidah yang memerankan istri terbaik di hati Harun, terlalu agung untuk ‘disakiti’.

Karenanya wahai para istri yang baik dan mulia. Bisikan anda di telinga suami akan terus menggema  di hatinya. Maka manfaatkan untuk membisikkan kebaikan. Jika bukan sekarang ia menerimanya. Suatu hari, semoga…

 

 

http://www.parentingnabawiyah.com/index.php/artikel–keluarga/istri-parenting-nabawiyah/205-gema-bisikan-istri

TUJUH SUMBER KESULITAN HIDUP


kekayaan-ilustrasi-_120113193653-496

Oleh : Imam Nur Suharno

Tidak sedikit orang bersedih dan berputus asa ketika dilanda kesulitan dalam hidupnya. Padahal, bersama setiap kesulitan itu pasti akan datang kemudahan (QS Asy-Syarh [94]: 6). Percayalah.

Supaya terhindar dari segala bentuk kesulitan hidup, baik di dunia maupun akhirat, seseorang harus menjauhi hal-hal yang menjadi sumber datangnya kesulitan.

Pertama, berpaling dari peringatan Allah SWT.

“Barang siapa berpaling dari peringatan-Ku, sesungguhnya baginya penghidupan sempit dan kami akan menghimpunkannya pada hari kiamat dalam keadan buta.” (QS Thaha [20]: 124).

Kedua, durhaka kepada orang tua.

Rasulullah SAW bersabda, “Semua dosa itu akan ditunda hukumannya menurut kehendak-Nya sampai hari kiamat nanti, kecuali hukuman terhadap perbuatan zina dan durhaka kepada kedua orang tua atau memutuskan silaturahim, sesungguhnya Allah akan memperlihatkan kepada pelakunya di dunia sebelum datang kematian.” (HR Bukhari).

Ketiga, bermuamalah dengan riba.

Allah berfirman, “Orang-orang yang makan (mengambil) riba tidak dapat berdiri, melainkan seperti berdirinya orang yang kemasukan setan lantaran (tekanan) penyakit gila.” (QS al-Baqarah [2]: 275).

Keempat, bersifat bakhil.

Rasulullah SAW bersabda, “Barang siapa yang diberikan oleh Allah harta kepadanya, kemudian ia tidak mengeluarkan zakatnya, ia akan berwujud ular sangat besar yang akan menariknya dengan dua tulang rahangnya yang lebar, kemudian ia berkata, ‘Saya adalah harta simpananmu.’ Kemudian, Nabi membacakan ayat ‘Sayuthawwaquuna Maa Bakhiluu Bihi Yaumal Qiyaamati’ sampai akhir ayat.” (HR Muttafaq ‘alaih).

Kelima, kebiasaan menggunjing.

Rasulullah bersabda, “Ketika aku mi’raj ke langit, aku melewati suatu kaum yang mencakar-cakar wajah dan dada mereka dengan kuku yang terbuat dari timah. Kemudian, aku bertanya, ‘Siapakah mereka itu, wahai Jibril?’ Ia menjawab, ‘Mereka adalah orang-orang yang memakan daging manusia dan senang menggunjing kehormatan mereka.’” (HR Abu Dawud).

Keenam, menyakiti tetangga.

Rasulullah bersabda, “Demi Allah, tidaklah beriman. Demi Allah, tidaklah beriman. Demi Allah, tidaklah beriman.” Para sahabat bertanya, “Siapa, ya Rasulullah?” Rasulullah menjawab, “Orang yang tetangganya merasa tidak aman dari kejahatannya.” (HR Bukhari dan Muslim).

Dalam hadis yang lain, “Sungguh, tidak akan masuk surga orang yang tetangganya merasa tidak aman dari kejahatannya.” (HR Muslim).

Ketujuh, menyebut-nyebut pemberian.

Dari Abu Dzar bahwa Rasulullah bersabda, “Tiga hal yang menyebabkan Allah tidak akan berbicara dengannya dan tidak akan melihatnya pada hari kiamat dan mereka akan mendapatkan siksa yang pedih.

Kemudian, ia berkata, ‘Rasulullah SAW mengulanginya sebanyak tiga kali.’ Abu Dzar berkata, ‘Mereka sungguh kecewa dan merugi, wahai Rasulullah?’ Beliau bersabda, ‘Mereka adalah orang yang memanjangkan pakaiannya, yang menyebut-nyebut pemberian, dan yang menggunakan hartanya dari sumpah dusta.’” (HR Muslim).

Semoga Allah menjauhkan kita dari berbagai hal yang dapat mendatangkan kesulitan hidup. Aamiin.

Sumber : republika.co.id

Belajar Dari Nabi Yunus


185083_10150878317268757_1243770406_nHari itu Nabi Yunus marah. Ia pergi meninggalkan kaumnya, padahal Allah menugaskan ke sana. Jibril menyuruh Yunus segera berangkat ke penduduk Ninawa, di wilayah Mosul atau Irak sekarang. Para penduduk itu menyembah berhala, sehingga adzab Allah akan diturunkan. Yunus diperintahkan untuk mengingatkan para penduduk itu lalu mengajak kembali ke jalan yang lurus.

Yunus meminta sejenak mencari kendaraan tunggangannya. Jibril tidak mengijinkan, “Urusannya lebih penting dari itu,” kata Jibril. Lalu Yunus meminta ijin untuk mencari sandalnya. Jibril tetap menolak. “Perkaranya sangat mendesak,” jelas Jibril. Maka Yunus pun marah, ia malah pergi menaiki kapal.

Namun kapal itu kemudian ditimpa badai topan yang sangat kencang. Orang-orang berkata, “Ini pasti karena dosa dan kesalahan salah seorang dari kalian.”

Yunus pun menunjuk diri, menyatakan bahwa dirinyalah yang salah. “Ini kesalahanku, lemparkanlah aku ke laut.” Tetapi entah mengapa orang-orang tidak percaya begitu saja, mungkin karena Yunus orang terpandang. Angin terus bertiup kencang, kapal nyaris tenggelam. Yunus sekali lagi menyatakan, dirinyalah yang berbuat kesalahan, sehingga layak dilempar ke laut agar menyelesaikan permasalahan. Tetapi orang-orang masih tetap tidak mau. Sampai akhirnya mereka membuat undian. Siapa yang keluar namanya, dialah yang akan dilempar ke laut.

Kali pertama undian, Yunuslah yang keluar namanya. Dicoba lagi, Yunus lagi yang keluar. Untuk ketiga kalinya mereka mencoba, dan nama yang keluar masih juga Yunus. Akhirnya Yunus pun dibawa ke tepian kapal. Saat itu seekor ikan besar telah siap menelan. Mulutnya terbuka lebar dan Yunus pun melompat menceburkan diri. Seketika iapun ditelan ikan besar tersebut. Hari-hari selanjutnya adalah hari-hari penuh pengakuan akan kesalahan, sebelum kemudian Allah mengampuninya dan mengeluarkannya dari perut ikan.

Begitu banyak riwayat yang menjelaskan kisah Nabi Yunus. Tetapi satu hal yang patut digaris bawahi di sini; bahwa ia telah mengajarkan kepada kita tentang pentingnya mengakui kesalahan. Meskipun kesalahan itu tersembunyi sebab tidak ada orang lain yang mengetahuinya, atau bahkan orang lain itu membela kita.

Dalam hidup ini, ada rahasia yang sangat pribadi dari setiap diri. Namun hanya orang-orang berjiwa besar yang berani jujur pada dirinya dan tentunya pada Allah. Mengakui segenap kesalahannya, menyadarinya serta bersegera memohon ampun pada Allah. Sebab perasaan bersalah itulah yang menjadi pintu pertama untuk memperbaiki diri. Seperti halnya doa nabi Yunus saat ia berada dalam perut ikan; “Bahwa tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Engkau. Maha suci Engkau, sesungguhnya aku adalah termasuk orang yang dzalim.”

Sumber: tarbawi