Berlomba Jadi Pembicara, Tapi Ulama Makin Sedikit


Oleh: Mohammad Fauzil Adhim

 

 

Merenungi hadis Nabi shallaLlahu ‘alaihi wa sallam:

 

 إِنَّكُمْ أَصْبَحْتُمْ فِي زَمَانٍ كَثِيْرٍ فُقَهَاؤُهُ، قَلِيْلٍ خُطَبَاؤُهُ، قَلِيْلٍ سُؤَّالُهُ، كَثِيْرٍ مُعْطُوهُ، الْعَمَلُ فِيْهِ خَيْرٌ مِنَ الْعِلْمِ. وَسَيَأْتِي زَمَانٌ قَلِيْلٌ فُقَهَاؤُهُ، كَثِيْرٌ خُطَبَاؤُهُ، كَثِيْرٌ سُؤَّالُهُ، قَلِيْلٌ مُعْطُوهُ،الْعِلْمُ فِيْهِ خَيْرٌمِنَ الْعَمَلِ

 

“Sesungguhnya kalian hidup di zaman yang fuqahanya (ulama) banyak dan penceramahnya sedikit, sedikit yang minta-minta dan banyak yang memberi, beramal pada waktu itu lebih baik dari berilmu. Dan akan datang suatu zaman yang ulamanya sedikit dan penceramahnya banyak, peminta-minta banyak dan yang memberi sedikit, berilmu pada waktu itu lebih baik dari beramal.” (HR. Ath-Thabrani).

Hadis ini cukuplah untuk menunjukkan kepada kita bahwa penceramah agama belum tentu dan bahkan boleh jadi amat sangat jauh dari kualifikasi seorang faqih. Seseorang dapat berceramah secara memukau, meski ia sama sekali tak memiliki kualifikasi sebagai ulama. Dan di akhir zaman, akan semakin banyak yang demikian itu. Disebut ustadz, tetapi sesungguhnya ia hanya patut digelari sebagai penceramah.

Dan aku dapati, diriku bukan termasuk orang yang telah memiliki kepatutan sebagai ‘alim. Ingin rasanya menjadi seorang yang memiliki kedalaman ilmu dien, tapi rasanya baru berkelayakan menjadi penyampai saja (muballigh).

Memudah-mudahkan menyebut seseorang sebagai ustadz, padahal tak ada kepatutan sedikit pun meski amat pandai bicara, mengingatkanku pada sebuah hadis (yang rasanya lebih tepat menggambarkan keadaan diriku). Inilah masa ketika pembicaraan dibuka sehingga setiap orang dapat berbicara tentang apa saja, bahkan mengenai perkara yang ia tak memiliki ilmunya sedikit pun.

Mari kita renungi hadis ini:

مِنْ اقْتِرَابِ السَّاعَةِ أَنْ تُرْفَعَ الأَشْرَارُ وَ تُوْضَعَ الأَخْيَارُ وَ يُفْتَحَ الْقَوْلُ وَ يُخْزَنَ الْعَمَلُ وَ يُقْرَأُ بِالْقَوْمِ الْمَثْنَاةُ لَيْسَ فِيْهِمْ أَحَدٌ يُنْكِرُهَا قِيْلَ : وَ مَا الْمَثْنَاةُ ؟ قَالَ : مَا اكْتُتِبَتْ سِوَى كِتَابِ اللهِ عَزَّ وَ جَلَّ

“Di antara (tanda) dekatnya hari kiamat adalah dimuliakannya orang-orang yang buruk, dihinakannya orang-orang yang terpilih (shalih), dibuka perkataan dan dikunci amal, dan dibacakan Al-Matsnah di suatu kaum. Tidak ada pada mereka yang berani mengingkari (kesalahannya)”. Dikatakan: “Apakah Al-Matsnah itu ? beliau menjawab: “Semua yang dijadikan panduan selain kitabullah ‘Azza wa Jalla.” (HR. Al-Hakim).

Sebagian di antara makna al-matsnah adalah perkataan-perkataan atau literatur yang tidak memiliki dasar dalam agama, atau sesuatu yang seakan berasal dari agama, tetapi lebih merupakan perkataan-perkataan orang dalam satu kelompok, tetapi perkataan itu ditempatkan lebih tinggi daripada nash agama. Wallahu a’lam bish-shawab.

Adakah ini terjadi?

Menata Pikiran Remaja


Oleh: Mohammad Fauzil Adhim

 

Ada tiga hal yang sedang berkembang. Pertama, mereka memiliki pertanyaan-pertanya­an mendasar tentang agama, terutama apabila mereka dibesarkan dengan perintah-perintah tanpa membangun cara berpikir mereka tentang tuhan. Mereka hanya dike­nalkan dengan aturan-aturan tanpa memperoleh pendidikan akidah yang memadai. Kedua, mereka sedang ingin menunjukkan otoritas dan kemampuannya; bahwa mereka mampu bertanggung-jawab penuh atas diri mereka sendiri. Mereka ingin menjadi pribadi mandiri. Ketiga, mereka mulai memiliki ketertarikan ter­hadap lawan jenisnya dan ingin memiliki ikatan emosi yang bersifat khusus.

 

Apakah remaja merupakan masa keguncangan (storm & stress) dimana mereka mengalami krisis identitas? Tidak selalu demikian. Mari kita buka buku karya John W. Santrock yang berjudul Adolescence (2001). Kita melihat di sana bahwa ada remaja yang mengalami krisis identitas–dan banyak jumlahnya—sehingga tidak sedikit yang berperilaku aneh, tetapi ada pula yang tidak mengalami krisis identitas. Mereka memasuki masa remaja dengan identitas yang sangat kokoh. Inilah yang disebut sebagai identity foreclo­sure.

 

Tentu bukan kebetulan kalau mereka tidak mengalami krisis identitas. Pertanyaannya, apa yang menyebabkan mereka mampu memasuki masa remaja dengan identitas diri yang jelas dan kepribadian yang mantap? Jawabnya bisa kita runut pada masa sebelum mereka memasuki usia remaja. Anak-anak yang tidak mengalami krisis identitas itu adalah mereka yang sebelum memasuki masa remaja telah me­miliki orientasi hidup yang benar, tujuan hidup yang jelas dan nilai-nilai yang kuat.

 

Dari tiga hal tersebut, mana yang paling berpengaruh terhadap kehidupan remaja? Sangat tergantung bagaimana mereka dibesarkan, baik oleh orangtua di rumah maupun guru di sekolah, apa yang paling sering mereka perhatikan, terpaan media yang paling sering mereka terima serta nilai-nilai utama yang sering mereka terima dari buku-buku, guru-guru, orangtua dan lingkungan. Jika sekolah secara teren­cana memiliki penghargaan yang sangat tinggi terhadap usaha yang gigih, maka remaja akan cenderung lebih mengembangkan kompetensi, kreativitas serta kapasitas mereka untuk mandiri. Sebaliknya jika ling­kungan sekolah justru merupakan tempat pertaruhan gengsi dimana anak merasa tersisih jika tidak punya HP, maka krisis identitas mudah terjadi dan ketertarikan terhadap lawan jenis beserta turunannya berkembang lebih pesat daripada aspek-aspek lainnya.

 

Itu sebabnya, sekolah perlu mempertimbangkan kembali izin membawa HP ke sekolah bagi para siswa, sekalipun untuk jenjang SLTA.

 

Pada dasarnya, tiga hal tersebut perlu mendapat perhatian dari para pendidik. Jika aspek pertama berkembang dengan baik sehingga pertanyaan-pertanyaan mendasarnya tentang agama memperoleh jawaban yang memuaskan, mereka akan tumbuh menjadi manusia idealis. Jika sekolah mampu memba­ngun budaya belajar yang kuat, mereka akan tumbuh sebagai manusia yang kaya gagasan, penuh inovasi dan memiliki keberanian tinggi untuk berusaha dan siap menghadapi kegagalan. Ini merupakan bekal ber­harga untuk menjadi manusia tangguh dan sukses. Adapun dorongan terhadap lawan jenis, jika memperoleh pembinaan yang tepat, akan berkembang menjadi kesiapan berumah-tangga, orientasi untuk berkeluarga, penghormatan terhadap orangtua dan rasa tanggung-jawab terhadap yang usianya lebih mudah. Dorong­an untuk menyukai lawan jenis bisa berkembang “ke kiri” sehingga remaja menyibukkan diri dengan urusan syahwat, bisa berkembang “ke kanan” sehingga remaja mengembangkan cinta yang tulus, minat terhadap masalah rumah-tangga, kasih-sayang kepada sesama dan rasa tanggung-jawab terhadap keluarga. Yang disebut terakhir ini sekaligus berperan penting menguatkan aspek kedua, yakni dorongan untuk mandiri.

 

Lalu, kapan kita mulai bisa menumbuhkan rasa tanggung-jawab terhadap yang usianya lebih mu­dah? Saya tidak bisa menjawab secara pasti. Saya masih perlu belajar lebih jauh. Yang bisa saya sampai­kan adalah, kita sudah bisa memberi tanggung-jawab “secara penuh” kepada anak-anak kelas 1 SD agar membimbing adik-adiknya. Ini diwujudkan dalam bentuk program pendampingan terhadap adik kelas, sehingga begitu mereka naik kelas 2, tiap anak memiliki tanggung-jawab mendampingi dan membimbing satu adik kelasnya.

 

 

Menata Orientasi Terhadap Lawan Jenis

 

Dorongan untuk menyukai lawan jenis itu merupakan keniscayaan. Bentuknya bisa berupa hasrat untuk berpacaran, menyukai pembicaraan yang berhubungan dengan kemolekan maupun seks, bisa juga menumbuhkan kecenderungan untuk bersibuk-sibuk dengan hal-hal yang berkait dengan daya tarik diri. Penyimpangan dari dorongan ini bisa berwujud kecenderungan homoseksualitas, biseksualitas, penampilan tomboy, voyeurism, banci –baik dalam cara berbicara maupun berpakaian—serta berbagai bentuk penyimpangan seks lainnya. Adapun jika dorongan memperoleh pembinaan dan arah yang baik akan berkembang menjadi penghormatan terhadap lawan jenis, penjagaan diri dari kemaksiatan dan ke­inginan yang kuat untuk memiliki rumah-tangga yang ideal. Dalam hal ini, contoh nyata yang menginspi­rasi sangat besar perannnya.

 

Dari sini kita bisa memahami mengapa di Singapura usia 16 tahun diperbolehkan untuk menikah dengan syarat sudah mengantongi ijazah parenting, yakni ijazah yang diperoleh setelah seseorang me­nempuh short course (kursus singkat) tentang pengasuhan anak dan komunikasi keluarga. Ini bukan soal gizi, bukan pula soal teknologi informasi, tetapi soal orientasi terhadap lawan jenis. Dan inilah yang justru kita abaikan. Kita lebih sibuk mereaksi fenomena yang sedang muncul daripada mengkaji apa yang seha­rusnya kita lakukan terhadap remaja yang memberi manfaat jangka panjang. Reaksi terhadap fenomena kerapkali hanya mengatasi masalah secara parsial dan bersifat jangka pendek.

 

Ini bukan berarti kita tidak boleh belajar bagaimana berbicara tentang seks kepada remaja –termasuk anak-anak. Tetapi jika kecenderungan untuk menyimpang sudah merupakan gejala umum, maka yang harus kita lakukan adalah menata ulang sekolah kita dan lebih awal dari itu adalah pengasuhan anak di rumah. Akan lebih baik lagi jika kita mampu melakukan perubahan pada tingkat kebijakan media massa; sumber kerusakan sosial yang paling dahsyat dan memperoleh perlindungan maksimal di negeri ini de­ngan berlindung di balik baju kebesaran bernama hak asasi dan kebebasan pers.

 

Lalu bagaimana jika remaja kita sudah terlanjur salah arah sehingga mereka justru sibuk berpikir tentang seks dan bukannya mengembangkan prestasi? Ada yang harus kita kerjakan. Ada dua pilihan: kita mengikuti arus mereka atau memutar arah berpikir mereka. Pilihan pertama lebih ringan menjalaninya, tapi siapkah kita mempertanggungjawabkannya di akhirat kelak apabila mereka menjadi musuh di hadapan Allah Ta’ala? Bahkan, jangan-jangan sebelum mati pun, mereka telah amat menyusahkan kita.

 

Saya ingin sekali berbincang lebih jauh tentang ini. Tetapi maafkanlah saya, kali ini belum memungkinkan bagi saya untuk berbincang lebih jauh.

Bicara Terus, Kapan Belajarnya?


Oleh: Mohammad Fauzil Adhim

 
Apa yang salah? Training semakin gencar, seminar bertubi-tubi, teknik presentasi juga semakin canggih, tetapi sulit menemukan jejak-jejak perubahan berarti. Betapa banyak training yang memukau, tetapi yang pertama kali berubah akibat training itu justru trainer atau motivatornya sendiri. Bukan karena ibda’ bi nafsik, tetapi karena training-training itu memberi kesempatan kepada narasumbernya untuk mengubah penampilannya.

Apa yang salah pada ceramah-ceramah yang meriah, seminar-seminar yang hingar bingar dan tabligh akbar yang menggelegar? Beratus-ratus atau bahkan beribu manusia berduyun-duyun, tepuk-tangan membahana sangat menakjubkan dan gelak-tawa tak putus-putus sejak pembukaan hingga acara ditutup dengan pembacaan do’a yang puitis dan mendayu-dayu. Sesuatu yang tak pernah kita jumpai riwayatnya di zaman nabi shallaLlahu ‘alaihi wa sallam, sahabat, tabi’in, tabi’ut tabi’in hingga beberapa generasi sesudahnya. Tetapi kenapa acara-acara mempesona yang sering kita subut majelis taklim itu justru tak meninggalkan jejak-jejak ilmu?

 

Betapa banyak penceramah (sering disebut ustadz) yang dikenang karena lucunya, bukan karena membekasnya nasehat dalam jiwa sehingga kita bersedia untuk menengadahkan tangan berdo’a untuk kebaikan dan keselamatannya hingga yaumil-qiyamah. Kita datangi majelis-majelisnya, hingga ikuti do’anya dengan syahdu penuh haru sampai menitikkan airmata dan kita memperoleh kenikmatan dari katarsis itu. Tetapi apa yang salah sehingga do’a-do’a itu tak membekas dalam diri kita untuk benar-benar berharap hanya kepada Allah Ta’ala. Padahal demi suksesnya acara itu, kita sudah siapkan sound system luar biasa dahsyat sesuai spesifikasi minimal yang dipersyaratkan pembicara.

 

Betapa berbeda rasanya kalau kita mengenang bagaimana Imam Ahmad ibn Hanbal rahimahullah sangat hidup majelisnya. Padahal beliau tidak memakai sound system, LCD Projector dan slide yang memukau. Beliau juga tak memakai film-film pilihan untuk memberi gambaran yang hidup dari ilmu yang dijelaskan. Tetapi setiap keterangannya begitu hidup, terus membekas bahkan hingga beberapa generasi sesudahnya. Sementara ketika kita menampilkan film yang menegangkan, yang terus bergaung adalah filmnya. Bukan nasehat kita. Banyak yang datang untuk menyodorkan hard-disk untuk kemudian dicopy berantai.

Teringatlah saya tatkala Hamdun bin Ahmad Al-Qashshar ditanya, “Apa sebabnya ucapan para ulama salaf lebih besar manfaatnya dibandingkan ucapan kita?”

Beliau menjawab:

 

 

لأنهم تكلموالعز الإسلام ونجاةالنفوس ورضا الرحمن ، ونحن نتكلم لعزالنفوس وطلب الدنيا ورضا الخلق

 

“Karena mereka berbicara (dengan niat) untuk kemuliaan Islam, keselamatan diri (dari azab Allah Ta’ala), dan mencari ridha Allah Ta’ala, adapun kita berbicara (dengan niat untuk) kemuliaan diri (mencari popularitas), kepentingan dunia (materi), dan mencari keridhaan manusia.”

 

Perkataan Hamdun bin Ahmad Al-Qashshar ini dinukil oleh Abu Nu’aim Al-Ashbahani dalam kitab beliau “Hilyatul Auliya'”. Saya tidak tahu apa yang akan beliau katakan seandainya beliau hidup di zaman kita ini. Di zaman ketika ‘ilmu dien masih jernih, agama masih amat membekas dan sunnah begitu hidup, Hamdun bin Ahmad Al-Qashshar sudah sedemikian gelisah. Lalu apa yang akan beliau katakan seandainya menyaksikan zaman ini ketika kita nyaris tak mungkin mendengar taushiyah dari ustadz-ustadz ternama kecuali apabila kita mampu menggenggam dunia dan menyediakan rupiah yang berlimpah? Di sisi lain, betapa amat mirisnya hati tatkala melihat rendahnya penghormatan kepada mereka yang datang menyampaikan ilmu tanpa meminta persyaratan yang memberatkan? Atau, inikah saatnya ketika kita terkadang harus meminta seekor kambing sebagaimana yang dilakukan oleh seorang sahabat radhiyallahu ‘anhutatkala meruqyah pemuka suatu kaum dengan bacaan Al-Fatihah. Tetapi sungguh,yang beliau kerjakan bukan karena hubbud dunya (cinta dunia).

Atau, inikah masa yang disebut dalam atsar shahih dari ‘Abdullah bin Mas’udradhiyallahu ‘anhu sebagaimana diriwayatkan oleh Imam Bukhari dalam Adabul Mufrad. Beliau berkata, “Sesungguhnya kalian (sekarang) berada di zaman yang banyak terdapat orang-orang yang berilmu tapi sedikit yang suka berceramah, dan akan datang setelah kalian nanti suatu zaman yang (pada waktu itu) banyak orang yang pandai berceramah tapi sedikit orang yang berilmu.”

 

Sungguh, nasehat Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu ini tak bergeser sedikit pun dari sabda Nabi shallaLlahu ‘alaihi wa sallam sebagaimana diriwayatkan oleh Imam Ath-Thabrani:

 

 

إِنَّكُمْ أَصْبَحْتُمْ فِي زَمَانٍ كَثِيْرٍ فُقَهَاؤُهُ، قَلِيْلٍ خُطَبَاؤُهُ، قَلِيْلٍ سُؤَّالُهُ، كَثِيْرٍ مُعْطُوهُ، الْعَمَلُ فِيْهِ خَيْرٌ مِنَ الْعِلْمِ. وَسَيَأْتِي زَمَانٌ قَلِيْلٌ فُقَهَاؤُهُ، كَثِيْرٌ خُطَبَاؤُهُ، كَثِيْرٌ سُؤَّالُهُ، قَلِيْلٌ مُعْطُوهُ،الْعِلْمُ فِيْهِ خَيْرٌمِنَ الْعَمَلِ

“Sesungguhnya kalian hidup di zaman yang fuqahanya (ulama) banyak dan penceramahnya sedikit, sedikit yang minta-minta dan banyak yang memberi, beramal pada waktu itu lebih baik dari berilmu. Dan akan datang suatu zaman yang ulamanya sedikit dan penceramahnya banyak, peminta-minta banyak dan yang memberi sedikit, berilmu pada waktu itu lebih baik dari beramal.” (HR. Ath-Thabrani).

 

 

Ada yang patut kita renungkan. Bagi para pembicara semacam saya, kitakah yang dimaksud oleh ‘Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu? Bagi mereka yang berusaha meraup ilmu dari para pembicara, perhatikanlah dari lisan siapa ilmu tentang dien ini engkau terima. Terlebih hari ini, ketika ceramah agama dan gelar ustadz begitu menjanjikan dunia sehingga kartu nama pun bertuliskan “Al-Ustadz”. Sesuatu yang sulit kita jumpai pada pribadi Imam Nawawi yang risih ketika digelari muhyidin, sementara hari ini gelar-gelar itu bahkan kita ciptakan sendiri.

 

Betapa berbedanya!

 

 

Atau…, telah tibakah masa yang disebutkan oleh Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu tentang zaman fitnah? Sebagaimana diriwayatkan oleh Ad-Darimi, di antara tanda zaman fitnah itu adalah munculnya orang-orang yang bertekun mempelajari agama untuk tujuan selain agama, yakni demi meraih dunia.

 

O Allah, ampunilah hamba-Mu yang zalim ini.

 

Mewaspadai Virus Tamayyu’


 

social
Oleh: Abu Muhammad Hisan

Interaksi sosial adalah keniscayaan dalam berdakwah. Menjadi tuntutan bagi para da’i untuk terjun di tengah-tengah masyarakat, melakukan kontak dan komunikasi dengan sebanyak mungkin manusia.

Melalui interaksi sosial tersebut diharapkan akan banyak individu atau masyarakat yang merasa tertarik dan mau melaksanakan nilai-nilai yang diajarkan oleh para da’i, sehingga sikap, tindakan, dan tingkah laku individu dan masyarakat tersebut terwarnai oleh nilai-nilai ajaran Islam.

Ada satu hal yang harus diwaspadai oleh para da’i dalam melakukan interaksi sosial, terlebih lagi jika kontak dan komunikasi sosial tersebut dilakukan dalam lingkungan masyarakat yang memiliki  karakter, budaya, nilai, ideologi, dan agama yang berbeda, bahkan bertentangan dengan nilai-nilai Islam yang mereka perjuangkan. Dalam kondisi seperti itu para da’i harus berhati-hati dan menjaga diri dari serangan virus tamayyu’ (pencairan), yakni kondisi dimana seorang da’i malah terpengaruh oleh gaya, pemikiran, kebiasaan, budaya, ideologi yang dimiliki oleh individu atau masyarakat yang didakwahinya; lalu secara lambat laun mulai meninggalkan idealisme yang dianutnya. Naudzubillahi min dzalik…

Tamayyu’ Khuluqi

Tamayyu’ yang pertama kali muncul biasanya adalah tamayyu khuluqi, pencairan akhlak. Ditandai dengan munculnya sikap tasahul (menggampangkan/menyepelekan suatu pelanggaran). Dimulai dari hal-hal yang sederhana, misalnya:

  1. Melakukan isyraf (berlebih-lebihan) dalam makan dan minum.
  2. Berlebih-lebihan dalam gaya berpakaian.
  3. Menyepelekan rambu-rambu hijab.
  4. Berlebih-lebihan dalam menikmati musik, nyanyian, dan tontonan.
  5. Longgar atau tidak berhati-hati dalam mu’amalah maaliyah
  6. Terlalu banyak tertawa dan bergurau.

Sampai akhirnya munculah sikap ibahiyah (permissive/segala hal boleh) tanpa sungguh-sumgguh memperhatikan rambu-rambu syariat.

Tamayyu’ ‘Ubudiyyah

Jika tamayyu’ khuluqi tersebut tidak segera diobati, maka yang akan terjadi selanjutnya adalah tamayyu’ ‘ubudiyyah, pencairan amal ibadah. Ditandai dengan menyepelekan amalan-amalan sunnah atau bahkan amalan-amalan wajib. Misalnya:

  1. Malas qiyamu lail.
  2. Meremehkan shalat-shalat sunnah rawatib.
  3. Semakin jarang shalat berjama’ah di masjid.
  4. Sering melaksanakan shalat wajib tidak tepat waktu.
  5. Sering terlambat melaksanakan shalat shubuh.
  6. Malas melakukan shaum-shaum sunnah
  7. Sedikit menyebut nama Allah/ wirid dan dzikir.
  8. Sedikit membaca al-Qur’an.

Tamayyu’ Fikriyyah

Berikutnya dari tamayyu’ ‘ubudiyah akan  merembet kepada tamayyu’ fikriyyah, pencairan ideologi. Diantaranya ditandai dengan hilangnya ciri khas fikrah Islami dari seorang da’i. Bahkan pemahamannya terhadap fikrah islami tersebut semakin lemah dan luntur. Warna pemikirannya menjadi tidak jelas, apakah ia seorang abnaul harakah islamiyah, ataukah seorang liberalis, sosialis, atau nasionalis? Dari pembicaraannya tidak dapat diketahui lagi apakah ia meyakini Islam sebagai satu-satunya jawaban yang benar dan bersih  terhadap persoalan manusia, ataukah menurutnya ada jawaban yang lain? Tidak jelas apakah ia meyakini Islam sebagai sistem yang sempurna dan lengkap ataukah tidak?

Tamayyu’ Aqidiyah

Tamayyu’ yang terparah adalah tamayyu’ aqidiyah, pencairan aqidah. Sebuah kondisi dimana seseorang sudah benar-benar jauh menyimpang, karena tidak lagi memahami Islam sebagai satu-satunya kebenaran yang mesti dianut seluruh manusia. Padahal Allah Ta’ala berfirman,

“Sesungguhnya agama (yang diridhai) disisi Allah hanyalah Islam…” (Q.S. Ali Imran: 19)

“Barangsiapa mencari agama selain agama Islam, maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu) daripadanya, dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang rugi.” (Q.S. Ali Imran: 85)

Virus tamayyu’ ini dapat dihindari jika para da’i memiliki imunitas dan senantiasa meningkatkan kualitas dirinya.

Naudzubillahi min dzalik…wa la haula wala quwwata illa bi-Llaah…

 

http://www.al-intima.com/

Tiga Sifat dalam Menghadapi Rintangan Dakwah


Allah Ta’ala berfirman,
وَكَأَيِّنْ مِنْ نَبِيٍّ قَاتَلَ مَعَهُ رِبِّيُّونَ كَثِيرٌ فَمَا وَهَنُوا لِمَا أَصَابَهُمْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ وَمَا ضَعُفُوا وَمَا اسْتَكَانُوا وَاللَّهُ يُحِبُّ الصَّابِرِينَ (146) وَمَا كَانَ قَوْلَهُمْ إِلَّا أَنْ قَالُوا رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا ذُنُوبَنَا وَإِسْرَافَنَا فِي أَمْرِنَا وَثَبِّتْ أَقْدَامَنَا وَانْصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكَافِرِينَ (147) فَآَتَاهُمُ اللَّهُ ثَوَابَ الدُّنْيَا وَحُسْنَ ثَوَابِ الْآَخِرَةِ وَاللَّهُ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ (148

Dan berapa banyaknya nabi yang berperang bersama-sama mereka sejumlah besar dari pengikut(nya) yang bertaqwa. Mereka tidak menjadi lemah karena bencana yang menimpa mereka di jalan Allah, dan tidak lesu dan tidak (pula) menyerah (kepada musuh). Allah menyukai orang-orang sabar. Tidak ada do’a mereka selain ucapan: ‘Ya Rabb kami, ampunilah dosa-dosa kami dan tindakan-tindakan kami yang berlebih-lebihan dalam urusan kami dan teguhkanlah pendirian kami, dan tolonglah kami terhadap kaum yang kafir‘. Karena itu Allah memberikan kepada mereka pahala di dunia dan pahala yang baik di akhirat. Dan Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebaikan” (QS. Ali ‘Imran: 146-148).

560054_10150838361573757_1073741846_n
Medan dakwah bukanlah hamparan permadani yang berhiaskan bunga-bunga di sekitarnya. Akan tetapi, jalan dakwah diliputi berbagai rintangan yang akan menghalangi orang yang menempuhnya. Dakwah adalah sebuah perjalanan panjang yang takkan pernah sepi dari rintangan dan cobaan bagi mereka yang melaluinya. Usianya lebih panjang dari penyeru dakwah itu sendiri. Meniti jalan dakwah memang tidak semulus laiknya melintasi jalan tol. Selalu ada aral, tantangan, dan berbagai bentuk ujian lainnya. Para rasul dan nabi yang telah merintis dan melaluinya telah memberikan banyak pelajaran (ibrah) bagi mereka yang meneruskan estafet dakwah ini.

Rintangan dan ujian dalam berjuang di jalan dakwah adalah sebuah keniscayaan yang tidak bisa dihindari. Ia pasti akan menghampiri, jangan pernah berhenti, karena para nabi dan pengikutnya tak pernah berhenti ataupun melemah karena rintangan dan ujian.

Dalam ayat tersebut disebutkan banyak nabi, karena memang memang fitrah dakwah islam sejak dulu selalu ada tantangan. Nabi Nuh AS telah menghadapi cacian kaumnya, Nabi Ibrahim AS dibakar dalam nyala api, Nabi Isa AS dimusuhi, Nabi Yusuf dimasukkan sumur, bahkan Nabi Muhammad SAW mendapat ancaman dibunuh setelah seringkali mendapat cacian, hinaan, dan penyiksaan. Tak ada satu pun dari mereka yang bergeming ataupun lemah lalu berhenti dalam dakwahnya, kecuali tetap kokoh dan semakin gigih dalam mengajak untuk menyembah Allah SWT semata.

Ayat di atas memberikan pelajaran dalam perjuangan. Dalam perjuangan para nabi akan selalu disokong pengikutnya yang bertaqwa, kader militan bukan meletan, mereka tidak pernah berputus asa, menjadi lemah ataupun berhenti dalam dakwah atas cobaan yang menimpanya. Dalam ayat tersebut, terdapat tiga sifat yang menjadi duri di jalan dakwah, sifat yang harus diwaspadai oleh para dai dan kader penyeru kebenaran sehingga mereka tidak terjatuh dalam golongan orang-orang yang berjatuhan di jalan dakwah.

A. Sifat Wahn (famaa wahanu)

Sifat ini dapat diartikan seperti dalam sebuah hadits ketika para sahabat bertanya kepada Rasulullah tentang sebuah sebuah penyakit wahn. Wama alwahn ya Rasulallah? Rasulullah menjawab, ”Hubbuddunya wa karohiyatul maut.” Wahn adalah sifat cinta dunia dan takut mati. Sifat wahn banyak membuat para penyeru dakwah berguguran, boleh jadi karena tidak kuat atas siksaan, ataupun godaan dunia yang melenakan. Seorang yang telah memasuki arena dakwah dalam pertarungan hak dan kebatilan akan dihadapkan dengan hal ini. Sekali lagi sejarah telah menceritakan itu. Bukankah ketika Rasulullah pernah mendapatkan tawaran menggiurkan untuk meninggalkan dakwah Islam tentunya dengan imbalan. Imbalan kekuasaan, kekayaan atau wanita. Tetapi dengan tegar beliau menampik dan berkata dengan ungkapan penuh keyakinannya kepada Allah SWT.

Demi Allah, wahai pamanku seandainya mereka bisa meletakkan matahari di tangan kananku dan rembulan di tangan kiriku agar aku meninggalkan dakwah ini. Niscaya tidak akan aku tinggalkan urusan ini sampai Allah SWT. memenangkan dakwah ini atau semuanya akan binasa’.

Demikian pula para sahabatnya ketika menjumpai ujian dan cobaan dakwah mereka tidak pernah bergeser sedikit pun langkah dan jiwanya. Malah semakin mantap komitmen mereka pada jalan Islam ini. Ka’ab bin Malik pernah ditawari Raja Ghassan untuk menetap di wilayahnya dan mendapatkan kedudukan yang menggiurkan. Tapi semua itu ditolaknya sebab hal itu justru akan menimbulkan mudarat yang jauh lebih besar lagi.

B. Sifat Lemah (wama dho’ufu)

Dakwah ini juga senantiasa menghadapi musuh-musuhnya di setiap masa dan zaman sesuai dengan kondisinya masing-masing. Tentu mereka sangat tidak menginginkan dakwah ini tumbuh dan berkembang. Sehingga mereka berupaya untuk memangkas pertumbuhan dakwah atau mematikannya. Sebab dengan tumbuhnya dakwah akan bertabrakan dengan kepentingan hidup mereka.

Pada masa Khalifah Al Mu’tsahim Billah tentang fitnah dan ujian ‘khalqul Qur’an’. Imam Ahmad bin Hambal sangat tegar menghadapi ujian tersebut dengan tegas ia menyatakan bahwa Al Qur’an adalah kalamullah, bukan makhluk sebagaimana yang didoktrin oleh Khalifah. Dengan tuduhan sesat dan menyesatkan kaum muslimin Imam Ahmad bin Hambal menerima penjara dan hukum pukulan dan cambukan. Dengan ketsabatan beliau kaum muslimin terselamatkan aqidah mereka dari kesesatan.

Demikian pula kita merasakan ketegaran Imam Hasan Al Banna dalam menghadapi tribulasi dakwahnya. Ia terus bersabar dan bertahan. Meski akhirnya ia pun menemui Rabbnya dengan berondongan senjata api. Dan Sayyid Quthb yang menerima eksekusi mati dengan jiwa yang lapang lantaran aqidah dan menguatkan sikapnya berhadapan dengan tiang gantungan. Beliau dengan yakin menyatakan kepada saudara perempuannya, ‘Ya ukhtil karimah insya Allah naltaqi amama babil jannah. Duhai saudaraku semoga kita bisa berjumpa di depan pintu surga kelak’.

Inilah pelajaran penting dari dakwah bahwa sifat tsabat adalah sebuah keharusan yang harus dimiliki bagi pengembannya.

C. Sifat Menyerah/Berdiam Diri/ sifat istikan (wamastakanu)

Fitnah mungkin akan bertubi-tubi menyerang jama’ah dakwah. Cibiran, makian, hingga ancaman pembunuhan  bisa saja diterima akan tetapi mereka tidak pernah berdiam diri, para dai terus bergerak di tengah kesulitan dan cobaan. Seorang dai sejati tidak pernah menunggu panggilan untuk dakwah. Dia akan berkontribusi memperbaiki dirinya, keluarganya, tetangga sekitanya dan umat secara umum. Bagaimana mungkin ia akan bisa berdiam sedangkan kemungkaran berada di sekelilingnya. Ketika dakwah belum juga menampakkan hasilnya, maka tidaklah membuat dai kemudian berdiam diri, karena yang dituntut darinya bukanlah hasil. Namun yang dipinta darinya hanyalah amal, sedangkan hasil adalah urusan Allah SWT semata.

Ketiga sifat tersebut, wahn, dhoif, dan istikan hendaklah mesti dihindari dan dibuang jauh-jauh dari kamus para dai. Maka dari itu untuk menjaga kualitas ruhiyah agar tetap tsabat para pejuang dakwah hendaklah tidak bosan-bosan untuk mengulang-ulang doa yang diucapkan oleh para nabi dan pengikutnya.

”Tidak ada doa mereka selain ucapan: “Ya Tuhan kami, ampunilah dosa-dosa kami dan tindakan-tindakan kami yang berlebih-lebihan dalam urusan kami dan tetapkanlah pendirian kami, dan tolonglah kami terhadap kaum yang kafir”. (QS Ali Imran [3]: 147)

Sebab apa berdoa, karena kita ini sebenarnya hamba yang lemah, yang mungkin saja tergelincir dalam ketidaktahuan, tergelincir dalam dosa maksiat, maka marilah meminta pada allah agar mengampuni kealpaan kita dan meneguhkan kita dalam jamaah islam, meneguhkan kita dalam beramal sholeh.

Karena itu Allah memberikan kepada mereka pahala di dunia dan pahala yang baik di akhirat. Dan Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebaikan” (QS. Ali ‘Imran: 148).

Semoga Allah SWT menguatkan langkah kita dalam menapaki jalan dakwah yang terjal  ini dan mengumpulkan kita di surgaNya. Amin.

disarikan dari berbagai sumber

al-intima.com

dakwatuna.com

SURAT ANEH KEPADA DOMPET DHUAFA …


Bismillahir-Rahmaanir-Rahim … Beberapa tahun silam, ada sebuah surat yang cukup unik datang ke kantor Dompet Dhuafa (DD). Biasanya setiap hari lebih dari 20 surat permohonan bantuan singgah ke kantor DD.

Pada umumnya, surat permohonan bantuan itu isinya agak panjang, berhubung hendak menceritakan masalah dan mengajukan bantuan. Tidak sedikit dari surat-surat itu yang ditulis panjang lebar dengan narasi yang memilukan.

Tapi hari itu, datang sebuah surat yang tidak biasanya. Setelah dibuka, isinya ternyata hanya satu kalimat saja. Kalimat itu berbunyi: “Jika diizinkan, saya akan datang ke kantor Dompet Dhuafa.” Kita semua yang membacanya tentu merasa heran terhadap surat ini.

Sepanjang sejarah DD, belum pernah ada surat yang isinya seperti itu. Karena itu kemudian, kita segera membalas surat itu dengan jawaban : “Silakan Bapak datang ke kantor Dompet Dhuafa, Pada hari … (tertentu), jam … (tertentu).”

Pada hari dan jam yang dijanjikan, kita telah menanti tamu yang akan datang. Beberapa saat kemudian masuklah seorang lelaki dengan perawakan pendek dan agak kurus. Kedua tangannya (maaf) putus dari pangkal lengan, dan kedua kakinya seperti pernah mengalami sakit polio (dengan bentuk sedikit agak melengkung).

Menyaksikan kehadiran lelaki tersebut, segeralah kita mengerti mengapa lelaki tersebut menulis surat seperti itu. Rupanya, dia ingin kita melihat saja secara langsung kondisi dirinya. Batinnya mungkin berkata, “tak perlulah saya menceritakan panjang lebar, cukuplah Anda lihat sendiri, barulah Anda mengerti apa yang saya maksudkan.”

Melihat kehadiran lelaki tersebut dan mengerti kondisi yang dialami oleh lelaki tersebut, kami pun bergegas menawarkan bantuan kepada beliau.

Salah seorang karyawan DD kemudian berkata, “Pak, apa yang bisa DD lakukan, untuk bisa membantu Bapak ?” Lelaki tersebut kemudian menjawab, “Saya mohon DD membantu saya satu…saja, mohon DD membelikan saya satu buah mesin ketik.”

Mendengar ungkapan bahwa lelaki itu ingin dibelikan mesin ketik, karyawan DD pun bertanya lagi, “Mohon maaf Bapak, apakah anak Bapak ada yang sedang ditugasi menulis paper atau makalah, seperti itu ?”

Lelaki itu pun menjawab lagi, “Oh …, bukan …, mesin ketik itu bukan untuk anak saya, tapi untuk saya, saya biasa mengetik kok …” mendengar jawaban tersebut, karyawan DD pun terperanjat, sehingga terucap, “Mengetik dengan….?” Spontan lelaki itu pun menjawab, “Saya biasa mengetik dengan kaki saya…”

Seterusnya lelaki itu pun melanjutkan, “Kalau Bapak berjalan-jalan di kawasan Pasar Senen, di sana akan terlihat banyak kios-kios jasa mengetik, salah satunya adalah kios saya. Saya biasa melayani jasa mengetik. Cuma selama ini mesin ketiknya punya toke saya. Sehingga hasilnya dibagi dua. Saya bermimpi, jika saya punya mesin ketik sendiri, mungkin hasilnya jadi lebih besar …”

Mendengar penuturan lelaki itu, tiba-tiba saja terasa ada pukulan keras menghantam ulu hati kita yang mendengarnya. Bagaimana tidak, ada seorang lelaki yang mengalami cacat fisik, yang sesungguhnya teramat pantas dikasihani dan disantuni setiap saat, akan tetapi ternyata yang diharapkannya justru adalah bantuan yang membuatnya bisa tetap berusaha dan produktif.

Lelaki itu bukan ingin dibantu sehingga tergantung pada belas kasihan orang lain, tetapi justru ingin dibantu yang membuatnya mandiri dan tegak di atas kekuatannya sendiri.

Lelaki itu laksana malaikat yang dihadirkan kepada kita untuk menyampaikan pesan agar kita lebih menghargai diri kita dengan berusaha menjadi manusia yang produktif dan mandiri. Karena pada zaman sekarang ini, betapa banyak anak muda, fisiknya utuh, tubuhnya sehat dan kuat, tetapi jiwanya lemah dengan ingin dikasihani dan mengharap iba dari orang lain.

Betapa banyak manusia di dunia ini, yang kondisi fisiknya jauh lebih baik dari Bapak tersebut, tetapi hidupnya ingin bergantung kepada belas kasihan dan santunan orang lain.

Kepada Bapak tersebut, DD akhirnya membelikan satu buah mesin ketik baru, sambil dalam hati berucap, “Terima kasih Bapak, telah datang dan seolah menasehati kami, sungguh kehadiran Bapak telah membawa kesan mendalam untuk kami.”

– Ditulis Ahmad Juwaini, Direktur Eksekutif Dompet Dhuafa -

… Semoga tulisan ini dapat membuka pintu hati kita yang telah lama terkunci ..

Meninggalkan Zina, Lalu Diberi Ganti


Allah Ta’ala menyebutkan kisah Yusuf bin Ya’qub ‘alaihissalam dalam satu surat lengkap yang di dalamnya terdapat banyak faidah dan pelajaran yang jumlahnya lebih dari 1000 buah. Nabi yang mulia ini diuji dengan ujian yang sangat berat, tetapi beliau bersabar. Demikianlah keadaan orang-orang shalih. Akhirnya ujian itu berubah menjadi anugerah. Berikut ini kisahnya:

Ibu Yusuf ‘alaihissalam bernama Rahil. Yusuf memiliki sebelas saudara. Ayahnya sangat mencintai Yusuf , maka kedengkian mulai menjalar di hati saudara-saudaranya; karena mereka adalah satu kelompok, satu jamaah, namun sang ayah begitu mencintai Yusuf dan saudaranya, Bunyamin. Apa yang terjadi selanjutnya?

Mereka meminta kepada sang ayah agar dia mengizinkan saudara mereka, Yusuf, untuk pergi bersama mereka. Mereka memperlihatkan keinginan agar Yusuf ikut menggembala bersama mereka, padahal mereka menyembunyikan sesuatu darinya, yang hanya Allah lah Yang mengetahuinya. Maka mereka pun mengajak Yusuf, lalu mereka melemparkannya ke dalam sumur. Kemudian datanglah rombongan musafir. Mereka menurunkan timba (ke dalam sumur) dan Yusuf pun menggayut padanya. Kemudian mereka menjual Yusuf kepada seorang pembesar di Mesir yang bergelar al-Aziz [1], dan al-Aziz pun membelinya hanya dengan beberapa dirham.[2] Lalu apa yang terjadi selanjutnya? Allah Ta’ala berfirman,

“Dan wanita (Zulaikha) yang Yusuf tinggal di rumahnya menggoda Yusuf untuk menundukkan dirinya (kepadanya) dan dia menutup pintu-pintu, seraya berkata, ‘Marilah ke sini.’ Yusuf berkata, ‘Aku berlindung kepada Allah, Sesungguhnya tuanku telah memperlakukanku dengan baik.’ Sesungguhnya orang-orang yang zhalim tidak akan beruntung. Sesungguhnya wanita itu telah bermaksud (melakukan perbuatan itu) dengan Yusuf, dan Yusuf pun bermaksud (melakukan pula) dengan wanita itu andaikata dia tidak melihat tanda (dari) Rabbnya. Demikianlah, agar Kami memalingkan kemungkaran dan kekejian darinya. Sesungguhnya Yusuf itu termasuk hamba-hamba Kami yang terpilih.” (Yusuf: 23-24).

Allah menyebutkan godaan istri al-Aziz kepada Yusuf dan permintaannya kepada Yusuf sesuatu yang tidak pantas dengan keadaan dan kedudukannya. Yakni wanita itu berada di puncak kecantikan, kejelitaan, kedudukannya, dan amat masih muda. Ia menutup semua pintu untuk mereka berdua. Ia telah siap untuk menyerahkan dirinya, berhias, dan mengenakan pakaiannya yang paling indah dan mewah; padahal bersama semua ini, ia adalah seorang istri menteri.

Sedangkan Yusuf kala itu adalah seorang pemuda tampan, elok, muda, diinginkan (oleh para wanita), masih perjaka, dan tidak ada yang bisa menggantikannya. Ia jauh dari keluarga dan kampung halamannya. Sedangkan orang yang tinggal di tengah-tengah keluarga dan sahabatnya tentu akan malu jika mereka mengetahui perbuatan kejinya, sehingga akan jatuhlah kehormatannya dalam pandangan mereka. Tetapi, jika ia berada di negeri asing, maka kendala itu sirna. Apalagi wanita itu sendiri yang meminta, sehingga menjadi hilanglah kendala yang biasa menghinggapi laki-laki; permintaannya, dan rasa takutnya untuk ditolak. Dan wanita itu berada dalam kekuasaan dan rumahnya sendiri, sehingga ia tahu persis kapan waktu yang tepat, dan di tempat mana yang tak ada seorang pun bisa melihat. Namun bersama ini semua, Yusuf ‘alaihissalam justru menjaga diri dari perbuatan haram, dan Allah menjaganya dari perbuatan keji, karena dia adalah keturunan para nabi. Allah menjaganya dari tipu daya dan rencana jahat para wanita. Dan Allah pun menggantinya dengan memberinya kekuasaan di negeri Mesir, ia bebas pergi ke mana saja yang ia kehendaki di negeri Mesir itu, dan memberinya kerajaan. Lalu wanita itu (Zulaikha) datang kepadanya dengan merendahkan diri, meminta dan mengiba agar dinikahinya secara halal, maka Yusuf pun menikahinya. Ketika malam pertama, Yusuf berkata kepadanya, “Ini lebih baik daripada apa yang dulu engkau inginkan.”[3]

Wahai orang Muslim, renungkanlah bagaimana setelah ia meninggalkan yang haram, Allah lalu menggantinya dengan sesuatu yang lebih baik daripadanya. Oleh karena itu, Yusuf adalah penghulu dari tujuh (golongan) para tokoh yang mulia dan bertakwa yang disebutkan dalam ash-Shahihain dari penutup para nabi dari sabda beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam yang berasal dari Tuhan langit dan bumi,

“Ada tujuh (golongan) yang Allah menaungi mereka dalam naunganNya, pada hari di mana tidak ada naungan kecuali naunganNya, (yaitu): (Pertama), pemimpin yang adil, (kedua), laki-laki yang mengingat Allah secara menyendiri kemudian air matanya mengalir, (ketiga), laki-laki yang hatinya tertambat dengan masjid saat ia keluar darinya sampai la kembali kepadanya, (keempat), dua orang yang saling mencintai karena Allah, mereka berkumpul dan berpisah karenaNya, (kelima), laki-laki yang bersedekah dengan suatu sedekah, lalu dia menyembunyikan sedekahnya, sehingga tangan kirinya tidak mengetahui apa yang diinfakkan oleh tangan kanannya, (keenam), pemuda yang tumbuh (dengan senantiasa) beribadah kepada Allah, dan (ketujuh), laki-laki yang diajak (berzina) oleh wanita yang memiliki kedudukan dan kecantikan, (tetapi) ia berkata, ‘Sesungguhnya aku takut kepada Allah’. “

Foot Note:

[1] AI-Aziz adalah gelar bagi salah seorang menteri di kerajaan Mesir saat itu. Ia bernama Qithfir, ada juga yang mengatakan Ithfir bin Ruhaib, dan ada juga yang mengatakan Malik bin bin Da’r bin Buwaib bin Unuqa bin Madyan bin Ibrahim. Wallahu A’lam. Lihat Tafsir Ibnu Katsir, 4/378. Ed. T.

[2] Inilah ringkasan kisah Nabi yang mulia tersebut. Barangsiapa yang ingin mengetahuinya secara lengkap, maka hendaklah dia membaca Surat Yusuf dengan penuh penghayatan, lalu merujuk kepada tafsir bil ma’tsur yang mana saja, khususnya Ibnu Katsir, dalam Tafsir dan Tarikhnya. Wallahu al’am.

[3] Pernikahan Nabi Yusuf ‘alaihissalam dengan Zulaikha ini terjadi setelah suami Zulaikha, al-Aziz meninggal dunia. Lihat Tafsir Ibnu Katsir, 4/396. Ed.T.)

Sumber: Kisah-Kisah Nyata, Ibrahim bin Abdullah al-Hazimi, Pustaka Darul Haq

Kisah lainnya bisa di baca di www.kisahislam.net