Nasehat buat Istri


Wahai para istri!

  1.  Apakah yang menyulitkanmu jika engkau menemui suamimu ketika dia masuk ke rumahmu dengan wajah yang cerah sambil tersenyum manis?
  2. Beratkah bagimu untuk menghilangkan debu di wajah, kepala, dan pakaian suamimu kemudian engkau menciumnya?

 

  1.  Berhiaslah untuk suamimu dan raihlah pahala di sisi Allah Ta’ala. Sesungguhnya Allah itu indah dan menyukai keindahan, gunakanlah wangi-wangian! Bercelaklah! Berpakaianlah dengan busana terindah yang kau miliki untuk menyambut kedatangan suamimu. Ingat, janganlah sekali-kali engkau bermuka muram dan cemberut di hadapannya!
  2.  Janganlah engkau melembutkan suaramu kepada laki-laki yang bukan mahram sehingga terfitnahlah orang-orang yang di dalam hatinya terdapat penyakit, sehingga ia ber-prasangka buruk kepadamu!
  1.  Jadilah seorang istri yang memiliki sifat lapang dada, tenang, dan selalu ingat kepada Allah di dalam segala keadaan!
  1.  Ringankanlah segala beban suami, baik berupa musibah, luka, dan kesedihan!
  1.  Didiklah anak-anakmu dengan baik, penuhilah rumahmu dengan tasbih, takbir, tahmid, dan tahlil; serta perbanyaklah membaca al-Qur-an, khususnya surat Al-Baqarah, karena surat tersebut dapat mengusir syaitan!
  2.  Bangunkanlah suamimu untuk mengerjakan shalat malam, anjurkanlah dia untuk berpuasa sunnah dan ingatkanlah dia kembali tentang keutamaan berinfak; serta janganlah melarangnya untuk berbuat baik kepada orang tua dan menjaga tali silaturahim!
  1.  Perbanyaklah istighfar untuk dirimu, suamimu, orang tuamu, dan semua kaum Muslimin; serta berdo’alah selalu agar diberikan keturunan yang shalih dan memperoleh kebaikan dunia dan akhirat; dan ketahuilah bahwa Rabbmu Maha Mendengar do’a. Sebagaimana firman Allah Ta’ala:

وَقَالَ رَبُّكُمُ ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ

“Dan Rabb kalian berfirman: “Berdo’alah kepada-Ku, niscaya Aku akan mengabulkan untuk kalian ….” (QS. Al-Mu’min [40]: 60) 

10. Bersihkanlah rumahmu dari segala gambar-gambar makhluk hidup, alat-alat yang melalaikan, alat-alat musik, dan segala sesuatu yang dapat merusak!

Diringkas dari Fiqhut Ta’aamul Baina
az-Zaujaini wa Qabasat min Baitin Nubuwwah (hlm. 107-112) karya Abu ‘Abdillah Mushthafa bin al-‘Adawi, cet I/Darul Qasim, dengan sedikit tambahan dari penulis.

//


SavedURI :Show URL
Advertisements

Mengisi Ruang Jiwa Anak Kita


ust fauzil adhim

Mohammad Fauzil Adhim

Waktu kita sangat pendek.

Anak-anak itu tak selamanya kecil. Pada saatnya mereka akan tumbuh menjadi dewasa, mandiri dan berkeluarga. Kalau mereka sudah menikah, tak ada lagi kesempatan bagi kita untuk meniupkan balon, bermain petak umpet, membacakan buku cerita, atau mewarnai bersama. Betapa pun inginnya kita, tak ada lagi waktu yang tepat untuk membuatkan telur ceplok dan menyuapi mereka seraya bercanda dan memuji gambar-gambarnya yang lucu yang lebih menyerupai benang kusut dan lidi berserakan.

Ya ….., anak-anak itu tak selamanya kecil. Kalau Allah Ta’ala memberi mereka umur panjang, sebelum habis kekuatan kita untuk berjalan denga tegak dan berbicara dengan suara lantang, anak kita yang kemarin merengek meminta perhatian kita itu sekarang mungkin sudah sibuk memenuhi jadwal kegiatannya yang sangat padat. Anak-anak yang menahan tangisnya karena kita tak kunjung mau mendampingi mereka untuk menuturkan cerita, hari ini mungkin kita yang harus belajar menahan diri karena sangat ingin mendengar cerita tentang mereka dari lisan mereka sendiri.
Sungguh, kehidupan kita dan anak-anak kadang seperti pusaran nasib yang sedang dipergilirkan. Saat anak kita lahir, mereka sepenuhnya bergantung kepada kita. Mereka benar-benar amat memerlukan kehadiran kita, sentuhan tangan kita, dekapan ikhlas kita, serta kerelaan kita untuk menatapnya penuh cinta. Inilah saat yang berharga untuk anak kita. Tetapi saat inilah yang justru sering kita abaikan karena boleh jadi kita tidak merasa membutuhkan mereka. Semakin bertambahnya umur, semakin berkurang ketergantungan mereka kepada kita. Mereka mungkin masih memerlukan kita, tetapi karena sudah tidak terlalu tergantung, mereka bisa mengalihkannya kepada orang lain.
Saat usianya memasuki remaja posisi kita semakin lemah mereka lebih mendengar temannya daripada orang tuanya sendiri. Kata-kata orangtua tak lagi berharga kecuali jika kita sudah MENABUNG kedekatan dan penghormatan sejak mereka masih balita. Jika anak-anak itu tidak memiliki penghormatan yang tinggi kepada orangtuanya maka gurauan teman jauh lebih mereka dengar daripada sapaan paling tulus dari orangtua. Jika anak-anak itu tidak memiliki kepercayaan yang penuh kepada orangtua maka temannya lebih layak untuk diikuti daripada nasihat paling serius dari orangtua.
Secara alamiah anak-anak yang telah memasuki usia remaja memiliki kebutuhan eksistensi. Mereka ingin didengar, diakui, dihargai dan dipercaya.
Mereka ingin menunjukkan bahwa dirinya memiliki kemampuan dan hak menentukan.
Mereka akan berontak dari orangtuanya kecuali jika kita selaku orangtua telah MENABUNG kredibilitas, kepercayaan terhadap itikad baik dan ketulusan di mata anak-anak kita…

Tak lama lagi mereka akan menikah
Sesudah berlalu masa remaja datanglah masa dewasa
Inilah masa ketika anak-anak yang dulu merindukan bapaknya itu sudah
benar-benar mandiri
Mereka tak lagi memerlukan orangtua kecuali
jika iman menancap kuat di hati mereka
Inilah yang menjadi kekuatan dalam diri mereka untuk
berkhidmat kepada orangtua…
Jadi, sebenarnya mereka berkhidmat bukan karena
sangat besarnya kerinduan dan penghormatan pada orangtua tetapi
karena dorongan untuk meraih ridha Allah ‘Azza wa Jalla….

Ya..ya.., zaman berganti masa bertukar, masa berganti. Yang dulu muda sekarang tua. Yang dulu kanak-kanak sekarang dewasa. Yang dulu terlihat gagah, sekarang mungkin sudah renta tak berdaya. Sebagian lagi mungkin sudah lama dikuburkan jenazahnya. Tak ada lagi kekuatannya untuk berbuat, tak ada lagi kemampuannya untuk melakukan perubahan.

Akan tetapi ……..

Mereka yang telah menyemai keyakinan, kebaikan dan kemuliaan, sesungguhnya tetap hidup kebaikannya. Melalui anak-anak yang kuat karakternya, tinggi harga dirinya, besar cita-citanya dan jiwanya senantiasa rindu untuk melakukan amal yang terbaik (ahsanu ‘amala), para orangtua itu sesungguhnya tetap menabung kebaikan meski kafan berselimut kafan. Sesungguhnya tidak ada lagi yang bias diharapkan dari anak-anak sesudah kita mati kecuali keshalihan. Anak-anak shalih yang mendo’akan merupakan harta berharga yang tak dapat digantikan oleh do’a seribu manusia.

Alhasil, shalih dulu baru doa. Seibu tangan yang terangkat untuk mengaminkan doa saat kenduri, tak ada nilainya dibanding bersimpuhnya seorang anak di hadapan Allah ta’ala karena amat besarnya keinginan untuk memohonkan ampunan bagi orang tua. Doa yang diucapkan dengan lantunan indah disertai kalimat yang bersanjak-sanjak, tetapi ia tidak punya hubungan apa-apa dengan yang didoakan kecuali sebagai pendoa suruhan, sungguh tak ada artinya dibanding sebaris permohonan yang diucapkan oleh anak-anak kita sendiri.

Ya..ya..ya.. Shalih dulu baru doa. Shalih itu berkait dengan hati, berhubungan dengan iman, dan penopangnya adalah ilmu. Ia bisa kita semai dengan subur pada jiwa yang tenteram. Cerdasnya otak sama sekali tak bias menolong apabila jiwa mereka hampa. Kosongnya jiwa membuat sebanyak apapun nasihat kita berikan, hanya tersimpan rapi dalam pikiran. Ia tidak memberi pengaruh terhadap tindakan apalagi pada kehidupan yang lebih luas.

Maka, apakah yang sudah kita lakukan untuk mengisi ruang jiwa anak kita?
Sungguh, waktu kita sangat pendek. Anak-anak kita tak selamanya menjadi balita. Mereka akan tumbuh menjadi kanak-kanak, remaja, dan kemudian dewasa. Hari ini mereka memerlukan kita.

Hari ini mereka amat besar kerinduannya kepada kita .Di antara mereka mungkin ada yang belum kering air matanya karena berharap bisa bercanda, tetapi bapak/ibunya sudah bergegas pergi untuk merebut sebuah kata yang bernama sukses. mereka berlelah-lelah atas nama anaknya, padahal anaknya sedang kelelahan karena menunggu kesempatan untuk bermain bersama bapak/ibunya. Mereka ingin berbincang dan bercanda, meski hanya sebentar. Dua menit saja.

Ya..ya..ya..selagi mereka belum dewasa, belum pula menginjak usia remaja, inilah saat berharga untuk anak kita. Inilah saatnya kita meluangkan waktu kita untuk menyapa mereka, sebentar saja… Inilah saatnya bagi kita untuk mengisi ruang jiwa anak-anak kita. Semoga dengan itu, mereka kelak akan generasi yang kuat jiwanya, besar semangatnya, kokoh imannya dan tak putus-putus doanya untuk kita.

Sungguh, tak akan pernah ada waktu menguati jiwan anak-anak kita, kecuali kita sengaja meluangkannya. Selonggar apapun waktu kita, sama sekali tidak ada artinya jika kita tidak meluangkannya untuk mereka. Begitu pula sebanyak apapun waktu kita bersama anak, tak ada yang bisa kita kerjakan bersama mereka jika kesempatan itu datang semata-mata karena kita tidak punya pekerjaan yang harus diselesaikan. Sebaliknya, di saat paling sibuk pun kita akan bisa menyapa mereka jika kita benar-benar mau melakukannya.

Lalu apakah yang sudah kita lakukan?

//


SavedURI :Show URLShow URLSavedURI :

//


Kisah Islamnya Tughluk Timur Khan


Kisah Islamnya Tughluk Timur Khan

Oleh: Alwi Alatas

BANGSA Mongol pada era Jenghis Khan (w. 1227) dan anak cucunya, sebagaimana telah diketahui secara luas, telah menaklukkan banyak wilayah. Pada puncak kekuasaannya, mereka mengendalikan wilayah Asia Tengah, China, Rusia, sebagian Timur Tengah, dan Eropa Timur.

Mongol pada masa itu adalah bangsa penakluk, tetapi kekuatan utamanya ada pada militer, bukan pada ilmu pengetahuan dan sistem keyakinan yang kuat. Sehingga pada akhirnya, orang-orang Mongol ini terpengaruh oleh agama dan kebudayaan bangsa yang ditaklukkannya.

Selepas Jenghis Khan, wilayah kekuasaannya dibagi-bagi untuk empat putra utamanya, Jochi, Chagatai, Ogedei, Tolui, serta keturunan mereka masing-masing. Tak terlalu lama setelah menguasai wilayah yang luas itu, sebagian anak keturunan Jenghis Khan yang memimpin wilayah Muslim mulai masuk Islam.

Berke Khan (w. 1266) merupakan pangeran pertama di kalangan anak-cucu Jenghis Khan yang masuk Islam. Ia adalah cucu Jenghis Khan dari anak pertamanya, Jochi. Berke Khan masuk Islam di tangan Saifuddin Boharzi, seorang Syeikh sufi dari Bukhara, dan selepas itu ia pun berhasil mengajak seorang saudaranya, Tukh-Timur, masuk Islam.

Ia memimpin wilayah Golden Horde di Barat Rusia. Kepemimpinannya kuat dan pasukannya beberapa kali menginvasi Eropa Timur dan menyebabkan Kaisar Byzantium terpaksa memberikan upeti kepadanya. Ketika Hulagu Khan menguasai dan menghancurkan kekhalifahan Islam di Baghdad serta meneruskan invasinya ke Suriah dan Mesir, Berke Khan bekerja sama dengan penguasa Mamluk di Mesir untuk menghadapi sepupunya itu.

Hulagu Khan (w. 1265) yang belakangan bermusuhan dengan Berke Khan merupakan anak Tolui, putera bungsu Jenghis Khan. Hulagu inilah yang menaklukkan Baghdad, meruntuhkan pusat kekhalifahan Islam pada tahun 1258, dan mendirikan Dinasti Ilkhanate di wilayah Persia.

Walaupun tindakannya itu sangat merugikan peradaban Islam, tetapi salah satu anaknya sendiri, yaitu Teguder Ahmad, memutuskan masuk Islam. Teguder Ahmad sempat menjadi pemimpin Ilkhanate dan menjadikannya kesultanan, tetapi dua tahun kemudian ia dikalahkan oleh keponakannya sendiri yang memberontak kepadanya dan mengambil alih kepemimpinan.

Beberapa tahun selepas itu, Ilkhanate kembali dipimpin oleh pangeran Mongol yang Muslim, yaitu Ghazan, dan kemudian berubah menjadi kesultanan Islam.

Banyak cucu dan keturunan Jenghis Khan lainnya yang kemudian juga masuk Islam dan mengadopsi kebudayaan serta peradaban Islam dalam sistem pemerintahan mereka. Ada juga yang tidak masuk Islam, tetapi pengaruh peradaban Islam cukup kuat dalam pemerintahannya, seperti yang terjadi di China misalnya. Dinasti Yuan merupakan dinasti Mongol di China yang pertama kali dipimpin oleh Kubilai Khan. Walaupun para penguasa dan mayoritas penduduknya tidak menganut Islam, tetapi peran kaum Muslimin dalam pemerintahan serta dalam lapangan ilmu pengetahuan dalam Dinasti Yuan sangat menonjol.

Sehingga ketika Dinasti itu melemah dan runtuh, dinasti yang menggantikannya adalah Dinasti Ming yang Muslim.

Tughluk Timur Khan

Tughluk Timur (w. 1363) merupakan keturunan Jenghis Khan yang ketujuh, dari jalur Chagatai. Ia hidup lebih dari satu abad setelah Jenghis Khan. Menjelang masa kepemimpinannya, wilayah kekuasaan keluarga Chagatai terpecah dua, yaitu Transoxiana di sebelah Barat dan Moghulistan di sebelah Timur yang kebanyakan penduduknya menganut Budha atau Shamanisme. Wilayah-wilayah ini pada jaman sekarang ini mencakup wilayah Uzbekistan, Tajikistan, Kyrgystan, Kazakhstan, dan Barat Laut China.

Ketika itu tidak ada pemerintahan yang kuat pada kedua wilayah ini. Seorang amir dari keluarga Dughlat, yaitu Bulaji, memutuskan untuk memilih seorang Khan yang akan dibesarkan untuk menjadi seorang pemimpin di wilayah tersebut. Pilihannya jatuh pada seorang pemuda bernama Tughluk Timur dan dikatakan sebagai anak atau, menurut sejarawan lainnya, keponakan dari khan yang sebelumnya, Esen Buqa (w. 1318).

Tughluk Timur kemudian masuk Islam dan mendorong emir-emirnya yang lain untuk masuk Islam juga. Ia pada awalnya memimpin wilayah Moghulistan, dan belakangan berhasil menyatukan wilayah Transoxiana ke dalam wilayah kekuasaannya.

Sejarah pemerintahan Tughluk Timur dan keturunannya secara khusus tertulis dalam buku Tarikh-i-Rashidi yang disusun oleh Mirza Muhammad Haidar, seorang emir dari keluarga Dughlat. Mirza sendiri sempat memimpin wilayah Kashmir dan meninggal di wilayah itu.

Tarikh-i-Rashidi menceritakan kisah masuk Islam-nya Tughluk Timur. Pada suatu hari, Tughluk Timur yang masih berumur 18 tahun pergi berburu bersama beberapa orang bawahannya.
Ketika itu tampaknya ia baru menjelang diangkat sebagai khan atau pemimpin Moghulistan. Tughluk memerintahkan orang-orang untuk menyertainya berburu, tidak boleh ada yang absen.

Ketika itu, ia melihat ada beberapa orang yang sedang duduk beristirahat tak jauh dari tempatnya berburu. Maka ia pun memerintahkan agar orang-orang ini ditangkap, karena mereka telah melanggar perintahnya untuk ikut serta berburu.

Mereka kemudian dibawa ke hadapan Tughluk Timur. Orang-orang yang ditangkap ini adalah rombongan kecil yang dipimpin oleh Syeikh Jamaluddin, seorang ulama keturunan Tajik. Saat berada di hadapannya, Tughluk bertanya kepadanya, “Mengapa kalian melawan perintah saya?”

Syeikh Jamaluddin kemudian menjawab, “Kami ini orang asing yang meninggalkan reruntuhan kota Katak. Kami tidak mengerti tentang perburuan dan aturan dalam berburu, karena itu kami tidak melanggar perintahmu.”

Apa yang dikatakan Syeikh Jamaluddin memang benar, sehingga Tughluk tidak memiliki alasan untuk menahan atau menghukumnya. Ia pun memutuskan untuk membebaskan mereka. Tapi ymungkin masih ada rasa kesal dalam hatinya terhadap Syeikh Jamaluddin, sehingga ia mengajukan pertanyaan terakhir yang bertujuan menghinakannya. Ketika itu ia sedang memberi makan anjingnya dengan potongan daging babi. Maka ia pun bertanya kepada Syeikh Jamaluddin, “Apakah kamu lebih baik daripada anjing ini; atau anjing ini yang lebih baik daripada kamu?”

Syeikh Jamaluddin memberikan jawaban yang bijak, “Kalau saya memiliki iman, maka saya lebih baik daripada anjing ini; tapi kalau saya tidak memiliki iman, maka anjing ini lebih baik daripada saya.”

Tughluk rupanya terkesan dengan jawaban ini. Setelah selesai dari aktivitasnya, ia memutuskan untuk pulang dan ia memerintahkan anak buahnya untuk menaikkan Syeikh Jamaluddin ke atas kuda dan membawanya untuk menemuinya. Anak buah Tughluk kemudian membawa seekor kuda dan mempersilahkan Syeikh Jamaluddin naik ke atasnya. Saat melihat ada bekas darah babi pada sadel kuda itu, Syeikh Jamaluddin memutuskan untuk berjalan kaki. Tapi karena terus didesak, ia akhirnya mengendarai kuda itu dengan meletakkan sehelai sapu tangan di atas sadel kuda itu.

Saat tiba di hadapan Tughluk, ia kembali ditanya, “Apa itu tadi yang sekiranya dimiliki oleh seseorang ia akan lebih baik daripada anjing?”

“Iman,” jawab Syeikh Jamaluddin. Beliau kemudian menjelaskan apa itu iman dan menjelaskan tentang Islam kepada Tughluk Timur sehingga yang terakhir ini tersentuh dan menangis.
Tughluk kemudian berkata kepada Syeikh Jamaluddin, “Kalau nanti saya menjadi seorang Khan dan memiliki kekuasaan yang mutlak, kamu harus datang lagi kepada saya, dan saya berjanji akan menjadi seorang Muslim.” Ia kemudian menyuruh orang-orangnya untuk membawa pergi Syeikh Jamaluddin dengan penuh penghormatan.

Rupanya tak lama setelah kejadian itu, sebelum Tughluk diangkat menjadi seorang penguasa, Syeikh Jamaluddin meninggal dunia. Namun sebelum meninggalnya, ia menceritakan pengalamannya itu kepada anaknya yang bernama Arshaduddin yang juga alim dan soleh. Ia berpesan kepada anaknya itu, “Karena saya mungkin akan meninggal dunia tak lama lagi, maka hendaknya hal ini menjadi perhatian kamu. Jika pemuda itu menjadi seorang Khan, ingatkan dia tentang janjinya untuk menjadi seorang Muslim; dengan begitu berkah kebaikan ini mudah-mudahan terjadi dengan perantaraanmu, dan karenanya dunia akan menjadi terang benderang (dengan cahaya Islam, pen.).”

Tidak lama setelah itu, Tughluk Timur diangkat menjadi seorang Khan yang berkuasa penuh atas wilayah Moghulistan. Saat mendengar hal ini, Syeikh Arshaduddin segera berangkat ke Moghulistan dan mencari jalan untuk bertemu dengan Tughluk Khan. Tetapi berkali-kali mencoba, ia tetap tidak berhasil menjumpainya.

Ia terus menunggu kesempatan untuk bertemu dengan Khan yang baru diangkat itu. Sementara itu, ia punya kebiasaan melantunkan azan subuh setiap pagi di tempat yang tidak terlalu jauh dari tenda tempat tinggal Tughluk Khan. Pada suatu pagi, Tughluk Khan memanggil seorang pengawalnya dan berkata, “Ada orang yang bersuara keras seperti ini setiap pagi, pergi dan bawalah ia ke sini.”

Syeikh Arshaduddin masih di tengah lantunan azannya ketika pengawal itu datang dan terus menangkap dan membawanya ke hadapan Tughluk Khan. Tughluk kemudian bertanya kepadanya, “Siapa kamu yang selalu mengganggu tidur saya setiap pagi di waktu yang awal ini?”

“Saya putera seseorang yang pada satu ketika dulu Anda berjanji kepadanya untuk menjadi seorang Muslim,” jawab Syeikh Arshaduddin. Ia pun menceritakan apa yang dahulu pernah terjadi antara ayahnya dan Tughluk Khan sehingga yang terakhir ini ingat.

“Engkau diterima,” kata Tughluk Khan, “dan dimana ayahmu?”

“Ayah saya telah meninggal dunia, tetapi ia memberikan amanah misi ini kepada saya,” jawab Syeikh Arshad.

“Sejak saya naik ke tampuk kepemimpinan saya ingat bahwa saya mempunyai sebuah janji, tetapi orang yang saya beri janji itu tidak pernah datang. Sekarang saya menerimamu. Apa yang mesti saya lakukan?”

Maka Syeikh Arshaduddin membimbingnya untuk melakukan wudhu dan mengucapkan kalimat syahadat selepasnya. Kemudian ia mengajarinya hal-hal yang mendasar dalam Islam. Mereka juga sepakat untuk mengajak setiap emir di pemerintahan Tughluk Khan untuk masuk Islam. Satu demi satu emir-emir kepercayaannya diseru kepada Islam dan mereka menerima ajakan ini. Ternyata beberapa emir itu ada yang sudah masuk Islam secara diam-diam sebelumnya. Mereka merahasiakan hal ini karena khawatir Tughluk Khan tidak akan menyukainya.

Keislaman Tughluk Timur Khan telah membawa perubahan besar dalam pemerintahan di Moghulistan. Ia lah yang secara resmi untuk pertama kalinya menjadikan Islam sebagai agama negara di wilayah ini. Semuanya berawal dari pertemuannya dengan seorang Syeikh yang soleh dan mampu menjelaskan kepadanya tentang hakikat iman; bahwa iman itulah yang menentukan nilai kemuliaan seorang hamba dan membedakannya dari seekor hewan.*/Kuala Lumpur, 5 Shafar 1434/ 15 Mei 2013

Penulis adalah kandidat doktor bidang Sejarah di IIUM yang juga penulis buku “Nuruddin Zanki dan Perang Salib

Daftar Pustaka

Dughlat, Mirza Muhammad Haidar. The Tarikh-i-Rashidi. Srinagar: Karakoram Books. 2009.
Encyclopaedia of Islam, vol. 10, Leiden: Brill. 2000.
Manz, Beatrice Forbes. ‘The rule of the infidels: the Mongols and the Islamic world’, dalam Morgan, David O. and Anthony Reid (eds.) , The New Cambridge History of Islam, vol. 3, The Eastern Islamic World Eleventh to Eighteenth Century, Cambridge Histories Online © Cambridge University Press, 2011

//


SavedURI :Show URLShow URLSavedURI :

//


Empat Langkah lebih Dekat dengan Allah Ta’ala


 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Seorang Muslim itu tidak pernah tidak bahagia, apa pun kondisi dan situasi yang dihadapinya. Hal ini karena seorang Muslim memiliki frame berpikir tauhid dan orientasi hidup akhirat yang sangat kuat, sehingga sangat sulit mereka lupa akan keadilan dan kasih sayang Allah terhadap setiap hamba-hamba-Nya yang beriman.

Namun jika ada seorang Muslim mengaku kurang bahagia, pasti ada sesuatu yang bermasalah dalam dirinya, khususnya masalah akidah dan tauhidnya.

Mengapa  seorang Muslim hidupnya terasa sangat berat, seolah sempit dadanya, sesak nafasnya dan hidup penuh dengan ketidakbahagiaan?

Itu bukan karena mereka benar-benar tidak merasa bahagia, tetapi karena mereka boleh jadi tidak mengerti dan tak mengenal  Allah Subhanahu Watata’ala.

Di bawah ini adalah lima kunci ‘mengenal’ Allah Ta’ala”

Bersyukur kepada Allah Ta’la

Bagaimana mungkin seorang Muslim itu gelisah dan tidak bahagia hidupnya. Padahal, nikmat Allah mengalir dalam diri dan keidupannya dengan begitu deras dan tak pernah henti.

Aid Al-Qarni dalam bukunya La Tahzan mengingatkan, “Ingatlah setiap nikmat yang Allah anugerahkan kepada Anda. Karena Dia telah melipatkan nikmat-Nya dari ujung rambut hingga ke bawah kedua telapak kaki.”

Pesan tersebut memang patut kita renungkan. Karena di dalam Al-Qur’an Allah juga menegaskan bahwa nikmat Allah terhadap diri kita tak bisa dihitung jumlahnya.

وَآتَاكُم مِّن كُلِّ مَا سَأَلْتُمُوهُ وَإِن تَعُدُّواْ نِعْمَتَ اللّهِ لاَ تُحْصُوهَا إِنَّ الإِنسَانَ لَظَلُومٌ كَفَّارٌ

“Dan jika kamu menghitung nikmat Allah, tidaklah dapat kamu menghinggakannya. Sesungguhnya manusia itu, sangat zalim dan sangat mengingkari (nikmat Allah).” (QS:  Ibrahim [14]: 34).

Untuk itu, marilah kita berpikir dan merenung, sungguh Allah sangat memuliakan hidup kita. Bahkan, jika kita bersyukur sedikit saja misalnya, Allah sudah menyediakan buat kita tambahan nikmat yang sangat luar biasa. Sebaliknya, jika kita tidak bersyukur maka kehidupan kita akan semakin sempit, susah dan sulit.

وَإِذْ تَأَذَّنَ رَبُّكُمْ لَئِن شَكَرْتُمْ لأَزِيدَنَّكُمْ وَلَئِن كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِي لَشَدِيدٌ

“Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih.” (QS: Ibrahim [14]: 7)

Berprasangka Baik pada Allah Ta’ala

Siapa di muka bumi ini orang yang hidup tanpa masalah? Semua orang memiliki masalah, tetapi Muslim yang baik tidak akan resah karena masalah, meskipun seolah-olah masalah itu sangat berat dan sangat membebani kehidupannya.

Umumnya, orang sangat tidak mau dengan yang namanya masalah. Tetapi mau tidak mau hidup pasti akan berhadapan dengan masalah. Lantas bagaimana jika masalah itu terasa seolah sangat menyiksa? Tetap saja berprasangka baik kepada Allah. Karena Allah mustahil menzalimi hamba-Nya.

َعَسَى أَن تَكْرَهُواْ شَيْئاً وَهُوَ خَيْرٌ لَّكُمْ وَعَسَى أَن تُحِبُّواْ شَيْئاً وَهُوَ شَرٌّ لَّكُمْ وَاللّهُ يَعْلَمُ وَأَنتُمْ لاَ تَعْلَمُونَ

“Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak Mengetahui.” (QS: Al-Baqarah [2]: 216).

Terus bagaimana jika ternyata doa yang kita panjatkan kepada Allah Ta’ala seolah tak kunjung terkabulkan, tetaplah berprasangka baik dan jangan berhenti berdoa kepada-Nya.

Syeik Ibn Atha’illah dalam kitabnya “al-Hikam” menuliskan bahwa, “Tidak sepatutnya seorang hamba berburuk sangka kepada Allah akibat doa-doanya belum dikabulkan oleh-Nya. Dan sebaiknya bagi hamba, yang tidak tahu apa yang akan terjadi atas dirinya esok hari, segera melakukan introspeksi diri.”

Jika syukur dan husnudzon billah telah bisa kita lakukan, tahap berikutnya adalah membuang jauh sifat buruk sangka terhadap sesama. Karena buruk sangka terhadap sesama tidak memberikan dampak apa pun kecuali diri kita akan semakin terperosok dalam keburukan-keburukan. Oleh karena itu Islam sangat melarang umatnya memelihara sifat buruk tersebut.

“Jauhilah oleh kalian berprasangka (kecurigaan), karena sesungguhnya prasangka itu adalah sedusta-dustanya pembicaraan.” (HR. Bukhari).

Kemudian di dalam Al-Qur’an, Allah menegaskan;

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اجْتَنِبُوا كَثِيراً مِّنَ الظَّنِّ إِنَّ بَعْضَ الظَّنِّ

“Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan pra-sangka (kecurigaan), karena sebagian dari pra-sangka itu adalah dosa.” (QS: Al-Hujurat [49]: 12).

Jadi, sangat rugi kalau kita sampai membiarkan prasangka buruk bersarang dalam dada dan kepala kita. Karena selain tidak memberi manfaat positif, tanpa kita sadari, dosa kita justru terus bertambah dan hati kita semakin buruk serta mental kita juga akan semakin jatuh, naudzubillah.

Sebab menurut Dr. Ibrahim Elfiky dalam bukunya “Quwwat Al-Tafkir,” buruk sangka (berpikir negatif) adalah candu.
“Berpikir negatif adalah penyakt yang sangat berbahaya. Ia candu seperti narkoba dan minuman keras,” tulisnya.

Sabar dalam Ikhtiar

Langkah berikutnya agar hidup kita senantiasa bahagia adalah sabar dalam ikhtiar. Allah telah menetapkan suatu ketetapan (hukum) dalam kehidupan ini, di antaranya adalah hukum proses. Dimana sukses seseorang dalam hal apa pun tidak bisa dicapai secara instan, perlu waktu, kerja keras, konsentrasi dan pengorbanan yang tidak sedikit.

Untuk itu, sabarlah dalam ikhtiar. Jangan berpikir ingin cepat berhasil, apalagi kalau sampai menabrak rambu-rambu syariat. Lebih baik sabar, karena kalaupun hasil belum tercapai, setidaknya jiwa kita tenang, dan keyakinan akan pertolongan Allah akan datang semakin kuat.

Bahkan Allah akan senantiasa menyertai dan mencintai kita karena kesabaran kita. Umar bin Khaththab berkata, “Dengan kesabaran, kita tau makna hidup yang baik.”

Tawakkal kepada Allah

Akan tetapi, bagaimana jika ternyata harapan dari upaya dan pengorbanan yang kita lakukan tidak membuahkan hasil?
Tawakkal saja kepada Allah. Karena yang paling mengerti mana yang terbaik buat hidup kita hanyalah Allah bukan diri kita sendiri. Oleh karena itu, perkuatlah ketawakkalan kita kepada Allah Ta’ala.

Ibnu Hajar Al Asqolani berkata,“Tawakkal yaitu memalingkan pandangan dari berbagai sebab setelah sebab disiapkan.” Artinya, sebab bukanlah penentu, tetapi Allah Yang Maha Menentukan.

Dengan empat langkah tersebut, insya Allah kita akan selamat dari tipu daya setan dalam menjalani kehidupan sementara di dunia ini. Bahkan Allah akan senantiasa melindungi kita dan menambah kasih sayang-Nya kepada kita bersebab kita memang berharap hanya kepada-Nya dengan selalu bersyukur, berprasangka baik terhadap-Nya juga terhadap sesama, bersabar dan bertawakkal. Wallahu A’lam.*

Imam Nawawi Pimred Majalah Mulia 

Hidayatullah.com

//


SavedURI :Show URLShow URLSavedURI :

//


Bila Si Buah Hati Tak Kunjung Hadir


DSC00425

Oleh Ida S. Widayanti*

Dikarunia anak atau pun tidak seorang hamba merupakan ketentuan Allah SWT

Ada dua orang sahabat yang sudah 12 tahun lamanya tidak bertemu. Jarak dan waktulah yang memisahkan mereka. Dengan takdir Allah, akhirnya mereka bertemu di kereta api dalam perjalanan menuju sebuah kota. Mereka saling berpelukan dan meluapkan kerinduan dengan saling bertukar cerita. Tema pembicaraannya melompat-lompat, dari tema yang satu ke tema yang lain. Namun, seperti umumnya, yang ditanyakan pertamakali adalah: tinggal di mana sekarang, bekerja di mana, sudah berkeluarga, dan sudah punya anak berapa?
Lalu salah satu dari mereka, sebut saja Furqan misalnya, memulai bercerita, bahwa ia sudah dikaruniai dua anak, si sulung laki-laki dan si bungsu perempuan. Ketika ia bertanya sebaliknya, raut muka sahabatnya, katakanlah Budi, langsung berubah. Tampak ada sesuatu yang mengganjal dalam hatinya. Ternyata, sejak menikah 10 tahun silam Budi belum dikaruniai anak. Saat itulah ia menceritakan kisahnya dalam mengarungi kehidupan rumah tangganya kepada Furqan.
“Semoga apa yang aku ceritakan ini menjadi ibrah (pelajaran) bagi siapa saja yang mengalami ujian seperti aku ini. Dan bersyukur bagi siapa saja yang dikaruniai amanah si buah hati. Semoga Allah menjadikan aku dan istriku termasuk orang-orang yang sabar,” kata Budi.

“Amiin,” spontan Furqan mengaminkan harapan sahabatnya itu.
Lalu, Budi melanjutkan kisahnya.
“Sejak awal ditawari untuk menikah, aku berusaha tidak menolak perempuan calon istriku. Maka dengan takdir Allah Ta’ala aku pun mendapatkan pasangan yang menurutku agamanya baik,” ujarnya.
Hari-hari pertama pernikahan dengan perempuan yang tidak dikenalnya itu, membuat Budi salah tingkah. Namun, akhirnya mereka mencoba untuk mengenal, memahami, dan berusaha menumbuhkan rasa cinta dan kasih sayang. Selanjutnya memupuk tali kasih itu agar tumbuh dan berkembang.
“Segala puji hanya untuk Allah. Aku dan istriku mengarungi bahtera rumah tangga nyaris tidak ada gelombang. Namun wajar, kalau ada sedikit riak yang senantiasa menyertainya. Justru di situlah kami belajar saling menguatkan dan memperbaiki segala kekurangan,” kata Budi.
Menurut Budi, istrinya bukan saja termasuk wanita yang penyabar, tapi juga romantis. Istrinya mempunyai cita-cita yang tinggi untuk kebaikan dakwah Islam. Istrinya juga mampu mendorong semangat dakwahnya yang kadang mulai mengendur.
Waktu terus berputar. Hari demi hari, bulan, dan tahun berganti. Sepuluh tahun sudah usia pernikahan mereka. Pasangan suami-istri itu tidak berdiam diri. Mereka terus berikhtiar dengan segala daya dan upaya. Tapi bertahun-tahun sudah mereka lewati, si buah hati tak kunjung hadir juga. Namun, mereka pun tidak berputus asa. Apalagi pemeriksaan dokter telah membuktikan bahwa Budi dan istrinya sehat-sehat saja.
“Kami masih memiliki harapan. Kalaupun tidak kunjung datang, ini adalah sebuah takdir. Kami tidak boleh berburuk sangka kepada-Nya. Barangkali Yang Mahakuasa belum memberi amanah kepada kami,” ujarnya.
Furqan terkesiap mendengar kisah sahabatnya. Ia tak menyangka ujian dari Allah yang sedang dialami sahabatnya itu dan bagaimana kebesaran jiwanya saat menghadapi semuanya.
“Aku berusaha memahami dan merasakan kecemasan hati seorang perempuan. Aku semakin sadar atas segala keterbatasan sebagai makhluk yang lemah. Entah sampai kapan. Waktu yang telah mengajari aku dan istriku tetap bersatu dalam kasih dan sayang-Nya,” ujar Budi dengan wajah menerawang penuh kepasrahan.
Furqan termenung dan bergumam dalam hatinya, “Sungguh, kalau bukan karena cinta, sabar, dan keikhlasannya, biduk rumah tangga Budi sudah berhenti. Cintalah yang membuat mereka masih bertahan. Keikhlasanlah yang mereka masih tanamkan dalam hatinya. Dan kesabaranlah yang mengajarkannya mereka untuk menghapus kata putus asa dalam hidupnya.”
Kehadiran seorang anak dalam sebuah rumah tangga merupakan dambaan. Bahkan, bisa dikatakan terwujudnya kebahagiaan yang sempurna suatu keluarga jika ada celoteh anak-anak di dalamnya.
Tetapi, banyak pula pasangan yang tidak kunjung memiliki anak seperti Budi. Umumnya, bila sang buah hati yang dinanti tak kunjung hadir, seringkali yang muncul adalah konflik rumah tangga yang berkepanjangan.
Konflik tersebut biasanya muncul karena tekanan dan pasangan yang saling menyalahkan. Bisa juga berasal dari lingkungan yang kurang berempati.
Menghadirkan seorang anak dalam rumah tangga bukanlah kuasa suami ataupun istri. Tetapi Sang Penciptalah yang berkuasa menentukan pasangan mana yang akan diberi amanah, dan pasangan mana yang ditahan beberapa waktu. Bahkan, sama sekali tidak diberi kesempatan.
Tentu pilihan ada pada masing-masing pasangan, apakah akan menjalani biduk rumah tangganya dengan saling menyalahkan, atau saling memahami dan memotivasi?
Kisah Budi tersebut dapat menjadi pembelajaran. Kesabaran, pengertian, serta saling mendukung antara pasangan mampu meredam semua pertanyaan menggelisahkan tentang momongan dari pihak keluarga ataupun lingkungan. Mereka menghadapinya dengan senyum dan permintaan dukungan doa.
Teladan Kesabaran
Budi dan istrinya yakin dengan apa yang telah dilakukannya yaitu sabar, ikhlas, dan senantiasa berikhtiar akan mengundang cinta-Nya. Sebagaimana firman Allah: ”Dan Allah mencintai orang-orang yang sabar.” (Ali Imran [3]: 146)
Allah Ta’ala telah memberi contoh keteladanan dalam hal ini. Dalam sebuah riwayat, Nabi Zakariya baru dikaruniai anak setelah berusia 120 tahun sedangkan istrinya berusia 98 tahun.
Bahkan, Allah pula telah mengabadikan doanya di dalam al-Qur`an surah Maryam [19] ayat 4-6.
“Ya Tuhanku, sesungguhnya tulangku telah lemah dan kepalaku telah ditumbuhi uban, dan aku belum pernah kecewa dalam berdoa kepada-Mu, ya Tuhanku. Dan sungguh, aku khawatir terhadap kerabatku sepeninggalku, padahal istriku seorang yang mandul, maka anugerahilah aku seorang anak dari sisi-Mu, yang akan mewarisi aku dan mewarisi dari keluarga Ya’qub; dan jadikanlah ia, ya Tuhanku, seorang yang diridhai.”

Jadi, mempunyai anak atau tidak itu sepenuhnya adalah pilihan Allah Ta’ala, yang menggenggam setiap jiwa. Namun, menjalani pernikahan dengan bahagia atau tidak bahagia adalah sepenuhnya pilihan setiap pasangan.* Penulis buku Catatan Parenting: Belajar Bahagia, Bahagia Belajar. SUARA HIDAYATULLAH NOPEMBER 2012

//


SavedURI :Show URLShow URLShow URLSavedURI :SavedURI :

//


//


Cintai Anak Yatim, Usaha Sukses


Berawal dari karyawan biasa, lalu pindah-pindah kerja karena bangkrut, kini ia sukses menjalankan usahanya sendiri

Lulus dari STM di Ciamis, Jawa Barat, Dede Achmad Mugiono mencoba mengadu nasib ke Kota Bandung. Di kota kembang ini ia diterima di sebuah pabrik garmen sebagai teknisi listrik. Pekerjaan ini ia lakoni selama 12 tahun, mulai dari karyawan biasa hingga kepala bagian.

Karena pabriknya bangkrut, Dede terpaksa berpindah-pindah kerja. Di perusahaan terakhir, Dede juga melihat akan mengalami hal yang sama. Hingga suatu hari bosnya berkata, “Dede, kamu ini sebenarnya orang pintar dan tidak pantas jadi karyawan.”

Ketika tempat kerjanya bangkrut, Dede mendapat pesangon Rp 1 juta dan tambahan dari bosnya Rp 1 juta. “Saya sadar jika uang segitu jika dibelanjakan akan habis dalam hitungan hari,” kenang Dede. Ia kemudian berfikir, uang Rp 1 juta itu ia gunakan untuk membayar uang muka motor sebagai modal usaha.

Dengan motor itu ia menawarkan jasa servis ke perusahan-perusahan garmen. Karena kegigihan dan layanan yang memuaskan, dalam waktu tidak lama ia sudah mempunyai 6 pelanggan pabrik garmen dengan total jumlah mesin jahit sekitar 200 biji. Penghasilan dari jasa servis itu cukup lumayan dan bisa untuk menopang hidupnya di Jakarta.

Suatu hari rekan kerjanya menawari kerja sama membuka usaha konveksi. Kerjasama ini sifatnya barter, si rekan ingin memanfaatkan ilmu dan pengalaman Dede dalam bisnis garmen.

Dede menyambut suka cita tawaran itu dan menaruh harapan besar dari usaha baru ini. Dengan modal Rp 50 juta, ia mulai membuka usaha konveksi dengan membeli mesin jahit dan bahan produksi. Mesin jahit tersebut tidak semua dijadikan alat produksi. Jika ada yang butuh, mesin itu dijual kembali.

Tidak lama, usaha Dede menuai sukses. Produknya mampu menembus Amerika. Namun di saat ia menikmati kesuksesan, sesuai kesepakatan awal, temannya akan menarik modal tersebut. “Saya sudah siap mandiri, bagaimana dengan Pak Dede? Kapan kira-kira Pak Dede siap?” ungkap sang rekan kala itu.

Tentu saja itu menjadi pukulan berat bagi Dede. Apalagi saat itu pesanannya mulai ada tanda-tanda menurun setelah tragedi runtuhnya menara WTC di Amerika tahun 2001. Tragedi itu secara langsung berimbas pada kegiatan perekonomian negeri Paman Sam, tidak terkecuali produk garmen.

Namun sang rekan masih berbaik hati dengan memberi kesempatan Dede selama tiga bulan lagi. Kesempatan tersebut ia manfaatkan untuk mencari keuntungan sebanyak-banyak sebagai modal ketika sang rekan betul-betul memutus kerjasama.

Kerja keras Dede membuahkan hasil. Ia berhasil memperoleh keuntungan Rp 7 juta. Uang tersebut ia gunakan membeli mesin jahit sebanyak 10 buah. Ia pun dengan berani mengontrak rumah sebagai tempat usaha sebesar Rp 5 juta pertahun. “Alhamdulillah, kontraknya tidak dibayar dimuka,” kenangnya.

Seiring dengan waktu, usaha konveksi dan jual beli mesin jahit Dede mulai berkembang. Karena merasa cukup modal, akhirnya tahun 2005 ia mendirikan CV Tunas Utama Mesin sebagai payung usaha. Dengan bendera ini, ia mulai bermain pada skala yang lebih besar.

Tahun 2007, ada sebuah pabrik garmen mengalami pailit. Pabrik tersebut banyak masalah dan sang pemilik kabur sebelum menyelesaikan urusan dengan karyawannya. Tidak ada perusahaan atau pemilik modal yang mau mengambil alih.

“Padahal sebenarnya pabrik tersebut masih punya aset ratusan mesin jahit senilai Rp 200 juta,” jelas Dede. Pihak menejemen sendiri ingin menjual mesin jahit tersebut secara borongan. Lagi-lagi tidak ada pihak yang berani atau tertarik untuk membelinya.

Dengan niat ingin menolong, Dede menawarkan diri untuk membelinya. Meskipun ia sendiri tidak mempunyai uang sebanyak itu. Ia hanya mempunyai uang Rp 25 juta dan sisanya dibayar dengan cara mencicil.

Di luar dugaan tawaran Dede disetujui oleh pihak menejemen. Dan hebatnya, dalam tempo satu bulan pembayaran bisa lunas.

Kini, usaha Dede terus berkembang. Jumlah karyawannya 8 orang. Omsetnya sudah mencapai ratusan juta rupiah tiap bulannya. Ketika ditanya, ia enggan menyebutkan secara pasti. Tapi yang jelas setiap bulannya Dede mampu mengangsur ratusan juta. “Nggak tahu ya berapa omsetnya, yang jelas tiap bulan saya membayar kewajiban kepada rekan bisnis Rp 400 juta,” jelasnya.

Sedekah Kulkas

Keberhasilan Dede dalam berbisnis ternyata dilandasi oleh semangatnya yang merasa tidak pernah rugi dalam berbisnis. Menurutnya, perkataan rugi berarti tidak yakin bahwa rezeki datangnya dari Allah atau ber-su’uzhan (berburuk sangka) kepada Allah. Baginya, berbisnis atau berdagang harus berprinsip selalu untung.

“Untung tidak diartikan secara materi (uang) semata, namun karena berdagang adalah diniatkan sebagai ibadah maka keuntungan tersebut bisa berupa pahala, hubungan silaturahim maupun kemudahan lainnya,” jelasnya.

Selain itu, Dede juga punya keyakinan bahwa dalam menjalankan bisnis tidak boleh melupakan zakat dan sedekah. Ini yang ia buktikan.

Suatu saat pada bulan Ramadhan, ia membaca di koran ada panti asuhan anak membutuhkan alat rumah tangga. Dede langsung teringat pada kulkasnya. Ia kemudian mensedekahkan kulkas tersebut kepada panti asuhan itu.

Setelah kejadian tersebut Dede banyak mendapat kemudahan dalam bisnisnya. Antara lain, ia mendapat order yang tidak terduga sebelumnya. Beberapa relasinya yang mempunyai hutang kepadanya, membayar dengan tunai. “Padahal saya sudah lupa utang mereka,” terangnya.

Sejak itu ia semakin yakin bahwa zakat, infak, dan sedekah pasti akan diganti oleh Allah dengan yang lebih banyak lagi.

Setelah kejadian itu, ia pun dengan senang hati meminjamkan rumahnya ke sebuah panti asuhan untuk beberapa tahun. “Kita harus yakin dengan janji Allah, bukan sekedar di akhirat, di dunia kita sudah bisa merasakan. Apalagi dengan menyantuni anak yatim, doa-doa mereka akan menjadi kekuatan bagi kita. Jadi jangan ragu untuk berbagi,” saran bapak empat anak ini.

Kedermawanan Dede tidak sekedar menjadi donatur sebuah panti asuhan saja, namun sudah beberapa tahun ini dirinya beserta istri juga tengah mengasuh beberapa anak yatim dan dhuafa. Setidaknya ada 40 anak asuh yang mereka santuni. Sebagian besar mereka masih tinggal bersama keluarganya. “Supaya mereka tidak terpisah atau tercabut dari kasih sayang keluarganya,” jelas Dede.

Selain itu, ia pun selalu berusaha melaksanakan ibadah sebaik mungkin. Dari hasil usahanya itu, ia bersama istrinya bisa menunaikan haji ke Baitullah. “Dengan banyak bersedekah, insya Allah usR 2012aha kita akan dilancarkan oleh Allah,” pungkasnya. *Ngadiman, Bahrul Ulum/Suara Hidayatullah

//


SavedURI :Show URL

Agar Pernikahan Membawa Berkah


pernikahanMateri ini saya dapatkan dari murobbiyah saya, pada saat saya halaqoh, judulnya ketika disampaikan waktu itu adalah “Agar Pernikahan Membawa Berkah”. Judulnya subhanallah banget yah. Yang belum menikah pasti penasaran dehh apa aja sihhh langkah-langkah menuju pernikahan membawa berkah itu. Yuk disimak catatan ringkasan saya ini. Ternyata ada tujuh point terpenting yang mesti kita pahami kawan, diantaranya yaitu:

Meluruskan niat/motivasi (Ishlahun Niyat)

Benerlah siapa yang ingin menikah maka luruskan niat kita dulu. Niat menikah tentunya karena Allah SWT karena menikah adalah ibadah. Karena menikah juga merupakan perintahNya. Coba kawan dicek dalam Al-Qur’an surah An-Nur ayat 32. “Dan nikahkanlah orang-orang yang sendirian di antara kamu, dan orang-orang yang layak (menikah) dari hamba-hamba sahayamu yang lelaki dan hamba-hamba sahayamu yang perempuan. Jika mereka miskin Allah akan memampukan mereka dengan kaurnia-Nya. Dan Allah Maha luas (pemberian-Nya) lagi Maha Mengetahui” (QS. An-Nur : 32).

Oya nikah juga merupakan sunah Nabi, jadi dalam proses nikah hingga pasca pernikahan nanti kita wajib mencontoh Nabi. Contohnya ketika diawal memilih pasangan hidup menurut Nabi hendaknya yang dipilih adalah agamanya, kemudian pada saat walimatul ursy sebaiknya tidak berlebihan karena kita tahu Nabi mengajarkan kita untuk selalu bersikap hidup sederhana (tidak boros) dan dalam berumah tangga hendaknya kita membiasakan diri dengan adab dan akhlaq seperti yang dicontohkan Nabi Muhammad SAW. Begitu kawan. Setuju yah.

Sikap Saling terbuka (Mushorohah)

Sikap saling terbuka disini yang saya pahami adalah ketika sudah menjadi suami dan istri maka hal–hal yang sebelumnya haram menjadi halal. Misalnya secara fisik kita sudah halal untuk bersentuhan. Selain itu juga sikap saling keterbukaan ini dapat memupuk sikap saling percaya (tsiqoh) diantara suami dan istri karena adanya rasa keinginan saling mengenal satu dengan yang lainnya entah itu sifat kepribadian, kebiasaan, kesenangan, ketidaksukaan sehingga suami/istri merasa nyaman.

Sikap toleran (Tasamuh)

Sudah pasti ketika berumah tangga suami dan istri memiliki kebiasaan, pemikiran yang berbeda-beda sehingga akan timbul konflik/perdebatan dalam rumah tangga. Sehingga sikap toleran ini sangat penting bagi kehidupan suami istri untuk memujudkan keluarga yang tetap harmonis. Dan dalam hal ini sikap toleran juga menuntut adanya sikap saling memaafkan, yang meliputi 3 (tiga) tingkatan, yaitu: (1) Al Afwu yaitu memaafkan orang jika memang diminta, (2) As-Shofhu yaitu memaafkan orang lain walaupun tidak diminta, dan (3) Al-Maghfiroh yaitu memintakan ampun pada Allah untuk oran lain.

Komunikasi

Komunikasi ini sangat penting karena dengan komunikasi katanya akan meningkatkan sikap saling cinta antar pasangan. Komunikasi juga untuk menghindari terjadinya kesalahpahaman. Karena saya juga melihat beberapa keluarga yang tetap harmonis kuncinya adalah komunikasi yang tetap terjaga dan tidak pernah putus hmm. Apalagi bagi suami dan istri yang memiliki kesibukan masing-masing, sehingga dengan komunikasi ini memberikan rasa perhatian, saling mendengar, dan memberikan respon. Zaman sekarang komunikasi sudah cukup canggih bisa via telephone, email, whats app, skype, dan sebagainya.

Oya point komunikasi ini bisa mengingatkan kita kepada kisah keluaraga Ibrahim As. Dalam surah As-Shaaffat ayat 102. “Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata: “Hai anakku sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka fikirkanlah apa pendapatmu!” Ia menjawab: “Hai Bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah engkau akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar”. (QS. As-Shaaffat: 102).

Ibroh yang dapat diambil dari ayat tersebut adalah komunikasi timbal balik antara orang tua dengan anak. Nabi Ibrahim mengutarakan pendapatnya dengan bahasa dialog bukan menetapkan keputusannya sendiri, sehingga adanya keyakinan yang kuat kepada Allah, adanya tunduk dan patuh atas perintah Allah dan adanya tawakal kepada Allah SWT, sehingga Allah menggantikan Ismail dengan seekor kibas yang sehat dan besar.

 Sabar dan syukur

Yah, sabar dan syukur dalam berumah tangga memang sangat dianjurkan. Pasalnya setiap ujian dalam berumah tangga harus disikapi dengan rasa sabar seperti pada pasangan suami/istri terdapat kekurangan/kelemahan sehingga perlu disikapinya dengan sabar. Kemudian disikapi rasa syukur atas rezeki yang Allah berikan kepada suami dan tidak banyak menuntut khusus untuk istri karena kebanyakan penghuni neraka adalah kaum wanita, disebabkan istri yang kurang bersyukur terhadap pemberian suaminya. Dan apabila kita bersyukur maka Allah akan melebihkan nikmatNya lagi untuk kita. Bisa dilihat dalam firman Allah surah Ibrahim ayat 7: “Dan (ingatlah), tatkala Tuhanmu memaklumkan; “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmatKu), maka sesungguhnya azabKu sangat pedih” (QS.Ibrahim : 7).

Sikap yang santun dan bijak

Sikap santun dan bijak dari seluruh anggota keluarga dalam berinteraksi kehidupan berumah tangga ini perlu dilakukan karena akan menciptakan suasana yang nyaman dan indah. Sehingga suasana ini membuat penghuni rumah betah tinggal di rumah. Sebagaimana ungkapan bahwa “Rumahku adalah Syurgaku” bukan berarti fasilitas yang lengkap dan rumah tinggal yang luas akan tetapi ada suasana interaktif antar keluarga; suami istri dan anak-anak yang penuh kesantunan dan bijaksana. Sehingga menimbulkan suasana yang penuh keakraban, kedamaian, dan cinta kasih antar keluarga.

Oya sikap santun dan bijak merupakan cermin dari kondisi ruhiyah yang mapan. Ketika kondisi ruhiyah seorang itu labil maka ada kecenderungan bersikap emosional dan marah, karena syetan akan mudah mempengaruhinya. Oleh karena itu Rasulullah SAW mengingatkan kepada kita agar jangan mudah marah (Laa tagdlob). Bila muncul amarah maka bersegeralah menahan diri dengan beristighfar dan mohon perlindungan kepada Allah dengan (taawudz billah), bila masih merasa marah maka hendaknya berwudhu dan mendirikan sholat. Karena sesungguhnya dampak dari kemarahan sangat tidak baik bagi jiwa, baik orang yang marah maupun bagi orang yang dimarahi. Oleh sebab itu dalam berumah tangga harus ada saling memaafkan bila terjadi kemarahan dan Allah menyukai orang yang suka memaafkan.

Kuatnya hubungan dengan Allah

Sudah pasti kalau kita menginginkan rumah tangga yang tetap harmonis, hubungan kita dengan Allah harus diperkuat, karena dengan begitu akan menghasilkan keteguhan hati (kemampanan ruhiyah), sebagaimana dalam firman Allah disurah Ar-Rad’u ayat 28 “ (yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka manjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingati Allah-lah hati menjadi tenteram” (QS. Ar-Rad’u : 28)

Rasulullah SAW juga selalu memanjatkan doa agar mendapatkkan keteguhan hati : Yaa muqollibal qulub tsabbit qolbiy ‘alaa diinika wa’ala thooatika” (Wahai yang membolak-bailikan hati, teguhkanlah hatiku untuk tetap konsisten dalam dien-Mu dan dalam menta’atiMu).

Kedekatan kita dengan Allah bisa dimulai dengan membiasakan dalam keluarga untuk melaksanakan ibadah nafilah secara bertahap seperti tilawah, shaum, tahajud, Duha, doa, infaq, doa, matsurat, dan sebagainnya. Karena tanpa adanya kedekatan dengan Allah mustahil seseorang dapat mewujudkan kehidupan rumah tangga yang bahagia.

Finish. Semoga ringkasan saya ini memberikan banyak manfaat terutama bagi yang akan menikah atau yang sudah menikah juga, hehe.

Syukron.

Bogor,

Catatan Alzena Valdis Rahayu

 http://www.eramuslim.com/