ANAK SERING DIBENTAK, BESAR BERPOTENSI TUMBUH GALAK


DSC00286

Buah tidak pernah jatuh jauh dari pohonnya, kecuali pohonnya didekat sungai dan buahnya jatuh ke dalam aliran sungai tersebut Pepatah tersebut memang pas jika diibaratkan pada sifat anak dimana tingkah lakunya sedikit banyak mengikuti orang tuanya. Begitu pula yang terjadi pada orang tua yang galak, bisa jadi masa kecilnya juga diperlakukan demikian oleh orang tuanya. Oleh sebab itu salah satu tujuan tulisan ini adalah untuk memutus rantai kepribadian galak (emosional) pada anak dan calon orang tua.

Saya sering melihat beberapa orang tua ketika kesulitan menyuruh anaknya mandi atau makan, saking jengkelnya lalu mereka teriak-teriak memarahi anak, mengeluarkan kata kasar, bahkan ada yang mengancam memukul menggunakan sapu atau ranting pohon, dll. Hal semacam itu tanpa disadari walaupun mungkin tujuannya baik tapi sebenarnya mereka sedang membentuk pola kepribadian anak mereka dengan cara yang kurang tepat.

Kata-kata kasar yang diucapkan orang tua ketika memarahi anak ternyata memberikan dampak sangat buruk bagi tumbuh kembang mereka, khususnya perkembangan mental dan kepribadian anak. Seperti kita tahu memori anak masih segar dan berfungsi sangat baik sehingga mereka bisa merekam apa yang dilakukan dan diucapkan orang tua mereka dengan sangat baik hingga dewasa nanti.

Tidak membentak dan tidak berkata kasar pada anak bukan berarti kita biarkan mereka hidup enak-anakan dan bermanja-manjaan saja. Begitu pula sebaliknya mengajarkan mereka hidup disiplin dan mandiri juga bukan berarti kita berhak untuk bebas membentak apa lagi berbuat kasar pada anak-anak kita. Gunakanlah cara lebih bijak dan santun dalam mendidik anak supaya mereka tidak meniru apa yang kita lakukan pada mereka saat mereka dewasa nanti.

Anak-anak yang tumbuh dewasa dalam keluarga yang tidak dapat memberikan rasa aman dan nyaman. serta tidak memberian cukup perhatian dan kasih sayang lebih jauh dapat tumbuh menjadi pribadi yang emosional dan mudah tersinggung, senang berkelahi, suka berbohong, merokok, narkoba hingga mencuri. hal-hal semacam ini tidak sepenuhnya kesalahan dari anak tapi juga ada peran orang tua yang salah dalam membentuk kepribadian mereka senjak dini.

Anak adalah pembelajar alami, mereka lahir dan tumbuh dibekali kecerdasan yang luar biasa untuk mempelajari dunia dan isinya. Sementara orang tua mereka adalah guru alamiah yang wajib mengajarkan anak-anak mereka dengan hal-hal yang baik seputar kehidupan dengan memberikan contoh nyata berupa perbuatan dan ucapan yang baik, sehingga mereka dapat tumbuh menjadi anak-anak hebat dimasa yang akan datang.

Cinta dan kasih sayang adalah jalan untuk mendapatkan berbagai kemudahan didalam berbagai urusani kehidupan. Termasuk kaitannya dalam berumah tangga dan mendidik anak. Bukan kekerasan! yang akan membuat anak anda tumbuh dan berkembang menjadi anak yang hebat. Tapi dengan memberikan lingkungan keluarga yang baik, nyaman dan aman bagi anak-anak berarti anda telah berhasil menjadi orang tua yang baik dan tahu cara terbaik untuk mendidik anak anda.

Penulis: dr. Wahyu Triasmara.

Membangun Karakter via Pengembangan Bakat


Belum lama ini, saya mendapat kesempatan mengunjungi sebuah sekolah sepakbola di Solo. Sekolah itu oleh sang pendirinya tidak mau disebut sekolah, mereka lebih suka menyebutnya pendidikan. Pendidikan Sepakbola ini didirikan oleh sepasang suami istri yang sudah berusia senja, 14 tahun yang lalu. Mereka adalah pasangan yg mencintai pendidikan dan anak-anak tetapi anehnys mereka sekeluarga sama sekali tidak menyukai olahraga sepak bola walau mereka lulusan STO (sekolah tinggi olahraga).

Awalnya mereka prihatin menyaksikan betapa negeri ini sudah kehilangan nilai dan akhlak mulia. Banyak orang curang, korup, serakah, tidak jujur, suka curang, menjegal dan tawuran. Nilai-nilai dipahami sekedar hafalan dan slogan-slogan kosong.

Di sisi lain, mereka juga melihat karakter kinerja bangsa ini melemah, menjadi pemalas, mudah menyerah, tergesa-gesa, lamban mengambil keputusan, kurang visioner, stamina kendur, gagal menyelesaikan dengan sempurna dsbnya. Mereka melihat semua potret keburukan akhlak di negeri ini terangkum dalam panggung olahraga bernama sepakbola.
Sepakbola menjadi pilihan karena, pertama murah meriah dan disukai anak2 sampai ke pelosok kampung, dan yang kedua adalah sepak bola tidak hanya berbicara skills, namun menurut mereka 80% adalah moralitas. Mereka meyakini bahwa berbicara nilai tidak cukup sampai tingkat pemahaman, dia harus inherent kedalam kehidupan, harus terekam dalam perbuatan dan sikap lalu membentuk diri siswa.

Pengetahuan dan sesuatu yang menjadi diri memang berbeda. Sering, kita sudah merasa “menjadi”, hanya karena kita mengetahui dan meyakini sesuatu. Tetapi, sesungguhnya ada jurang yang halus tapi sangat lebar antara mengetahui/meyakini dan menjadi diri. Ketika kita berbenturan dengan realitas yang mengusik “kepentingan” pribadi, kita akan mengetahui apakah sesuatu itu hanya sekedar pengetahuan/keyakinan atau sudah menjadi diri kita.

Anak-anak ini nampak berkembang wajar, tidak ada tekanan untuk juara, namun dorongan utk selalu jujur dan mengutamakan pertemanan dan sportifitas (moral). Anehnya mereka selalu memenangkan pertandingan, krn kebanyakan dari lawan mereka umumnya bermain curang. Hal-hal seperti “mencatut umur” adalah hal yang diharamkan di pendidikan sekolah sepakbola mereka.

Saya yakin kemenangan itu sebagian besar kekuatan moral mereka. Dan lucunya mereka hampir selalu menang di babak kedua, ketika lawan kehabisan nafas karena nafsu menang dan demoralisasi karena curang, sementara anak2 ini mampu bermain dengan moralitas tinggi, jujur, tidak menciderai lawan dan tenang sehingga berpengaruh kepada ketenangan jiwa dan stamina karena pernafasan yg teratur.

Anak2 itu memang akhirnya tidak selalu menjadi pemain bola, sebagian menjadi dosen yg bermoral, sebagian menjadi pelatih yg mewarisi nilai-nilai tadi, sebagian menjadi orang biasa yg jujur, dan sebagian memang ada yang menjadi pemain nasional.

Tidak kurang dari 15 anak didik mereka yg menjadi pemain nasional dari sekitar 120 anak yg bergabung. Pihak pengelola tidak memungut bayaran apapun kepada kesebelasan nasional yg ingin merekrut anak2 mereka, semua diserahkan kepada anak2 itu baik keputusan maupun bayaran.

Di sekolah ini saya menangkap beberapa hal penting, yaitu:
1. Kekeluargaaan adalah segalanya
2. Keteladanan pendiri dan pelath serta komunitas yang konsisten dengan nilai-nilai yang mereka tanamkan.
3. Nilai-nilai yang menjadi Belief bersama, spt pentingnya kejujuran, keshabaran, menahan amarah, ketenangan, kebersamaan dll.
4. Kekuatan Komunitas dan pembinaan orangtua
5. Pendidikan yang bertahap dan manusiawi.

Pendidikan Sepak Bola ini sangat2 murah, sekitar 30rb per-bulan, biasanya utk iuran sewa lapangan, walau kadang2 seret bayarnya. Kebanyakan adalah anak2 tukang becak, anak2 tidak mampu dsbnya. Semua pelatih adalah mahasiswa dan dosen yang 100% tidak dibayar namun memiliki “belief” dan nilai2 yg sama. Percaya atau tidak, sekolah ini merancang alat-alat latihannya sendiri.

Saat ini sang Suami sudah dipanggil Allah swt, namun sang Istri dan komunitasnya tetap istiqomah dengan model pendidikannya yang unik ini. Sang istri adalah pemegang medali emas atletik untuk kelompok usia lansia.

Saya semakin menyadari, ternyata ada pendidikan berbasis komunitas untuk pengembangan bakat yang mampu membangun jatidiri anak-anak kita melalui bakatnya itu sekaligus membangun karakternya dan tidak bertujuan untuk juara. Juara bagi sekolah ini hanyalah bonus bagi kemenangan sejatinya yaitu keberhasilan pengembangan akhlak.

Jadi tidak perlu pusing-pusing berbicara pendidikan berbasis komunitas yang membentuk jatidiri anak2 dengan mengembangkan bakat sekaligus karakter, sudah ada yang memulai kan? Jadi siapa yang mau menyusul?

 

http://toko46toko.blogspot.com/2013/03/membangun-karakter-via-pengembangan.html

Saatnya Liburan


Di atas pesawat yang membawa saya ke Turki, seorang pria berkebangsaan Malaysia duduk melamun memandangi hujan yang membasahi kaca jendela. Sebelum turun di Kuala Lumpur, ia bercerita betapa dongkolnya mengunjungi Jakarta.

Tiga jam duduk di atas taksi dari hotel menuju Mangga Dua tak kunjung tiba, akhirnya ia meneruskan perjalanan ke bandara dan kembali pulang. Kisah terjebak banjir dalam berwisata bukan hal yang baru di dunia ini. Di Amerika saja Anda bisa terperangkap banjir atau terhadang badai tornado. Saya juga pernah kehilangan waktu dan uang saat tur menuju Lake Tahoe di California karena terhadang badai salju yang tebal. Juga bukan hal aneh bila Anda terhadang banjir atau kebakaran hutan di Australia. Dua tahun silam saya bahkan meninggalkan Suriah hanya satu hari sebelum terjadi konflik bersenjata.

Hari-hari ini jutaan orang pergi berlibur, berdoa, melakukan ziarah, bersilaturahmi, berbelanja, dan sebagainya. Data terbaru dari World Tourism Organization menunjukkan, tahun ini jumlah pelancong lintas negara telah menembus 1 miliar manusia. Ini berarti satu dari enam penduduk dunia telah bepergian lintas negara. Kalau yang lima sisanya bepergian domestik, berarti hampir semua penduduk dunia adalah konsumen wisata. Siapkah Indonesia menjadi penghasil devisa pariwisata yang penting?

Pemburu Perdamaian 

Manusia yang berwisata pada dasarnya bukanlah manusia yang senang konflik. Juga tak ada bangsa yang lebih bodoh daripada yang menghamburkan anggaran promosi wisatanya sebelum menurunkan angka kriminalitas dan memperbaiki sanitasinya, termasuk pembuangan sampah. Maka itu, dari dulu saya pikir mengurus pariwisata bukanlah urusan pasang iklan dan ikut pameran di luar negeri, melainkan memperbaiki produk seperti yang dilakukan Turki yang dulu juga tidak aman, atau wali kota Palembang yang membersihkan preman, sehingga kita kini merasa nyaman berwisata di Jembatan Sungai Musi.

Sejak terjadi konflik, Suriah yang dulu sedang giat beriklan bahkan berhenti berpromosi. Padahal di sana banyak situs peninggalan sejarah, termasuk bekas pasar yang pernah didatangi Nabi Besar Muhammad SAW. Memang ada banyak motif manusia berwisata, tetapi semua orang ingin mendapatkan sesuatu, ya pengetahuan, keindahan alam dan budaya, pengalaman, getaran jiwa, oksigen, kesehatan,dan sebagainya.

Di Istanbul, Turki, saya bertemu sepasang dokter berkebangsaan Pakistan yang sudah 30 tahun membuka praktik di Wisconssin-Amerika Serikat, seorang investment banker asal Singapura dan seorang tua asal Spanyol yang menggandeng wanita muda yang tak henti-hentinya berpelukan di depan keramaian. Di depan menara Blue Mosque yang sangat terkenal, dokter asal Pakistan itu menanyakan kebenaran tentang arsitek yang kepalanya dipenggal Sultan karena membangun masjid yang tak sesuai dengan keinginannya.

Ahmed, sejarawan muda yang mengantar kami, menjelaskan,“ Ada beberapa versi sejarah. Memang Sultan tidak senang ketika melihat bangunan masjid tak sesuai dengan keinginannya. Setelah itu arsiteknya hilang. Tetapi, versi lain menyebutkan, mereka hanya menghilang selama enam bulan, pergi ke Mekkah untuk melihat Kakbah, lalu kembali dan menambah satu menara lagi sesuai keinginan Sultan,” ungkapnya.

Di Museum Aya Sofia (Hagia Sofia) yang indah kami kembali tertegun. Gereja Katedral ortodoks terbesar di timur yang berada di seberang Blue Mosque itu dulu dibangun Kaisar Konstantinopel pada abad keempat. Tetapi, di era kejayaan kerajaan Ottoman, oleh Sultan Mehmed 2,bangunan ini diubah menjadi masjid. Bel gereja dan altar dipindahkan, ornamen-ornamen khas gereja ditutup. Kaligrafi Arab dipasang di bagian dalam bangunan. Mimbar, menara masjid, dan mihrab ditambahkan.

Namun, setelah Turki menjadi Republik, bapak bangsa Turki,Mustafa Kemal Ataturk, mengembalikan bangunan kuno itu menjadi museum. Selubung ornamen gereja yang ditutup sejak 1453 juga dilepas. Kini pengunjung museum bisa menyaksikan jerih payah perjalanan manusia mencari Tuhan. Di puncak altar, ada ornamen gereja yang dilukis seniman Bizantium berupa Bunda Maryam yang memangku Isa.

Di kiri dan kanan-Nya terpampang kaligrafi Arab yang indah tentang kebesaran Tuhan. Kepada seorang profesor Turki,saya menanyakan keberadaan Turki dalam Uni Eropa (UE). Ia menjawab sambil tersenyum, “Lima belas tahun kami berjuang agar bisa diterima UE, sampai kini tak jelas rimbanya. Sekarang kami bersyukur tak masuk ke dalam UE. Kini merekalah yang butuh Turki. Kini semua orang Eropa ingin menghabiskan uangnya di Turki yang aman dan ekonominya sehat.”

Berwisata, Berpengetahuan 

Sudah sejak lama saya mempercayai berwisata merupakan wadah pembelajaran yang penting. Maka itu, saya sering tersenyum-senyum membaca komplain masyarakat terhadap prilaku anggota Dewan Perwakilan Rakyat yang senang berjalan-jalan. Melancong itu sehat, sah, dan bagus untuk mengubah manusia. Sayangnya,tak semua manusia senang dengan perubahan. Yang pasti, hanya yang masih mau belajarlah yang bisa berubah, dan itu akan tampak dari apakah ia memakai uang sendiri atau tidak.

Saya sejak lama mewajibkan mahasiswa saya memiliki passport. Punya passport itu sehat, apalagi sekarang biaya tiket pesawat banyak yang murah. Diluarnegeri, saya sering melihatanak-anaksekolahbiasa diajak gurunya melancong ke luar negeri. Mereka belajar tentang gunung berapi ke Hawai, batu-batuan alam ke Samoa, dan sejarah ke Candi Borobudur. Sebelum memasuki perkuliahan, calon-calon mahasiswa dari negara-negara di Eropa bergerombol memburu tiket lelang.

Mereka menjadi backpackers, menginap di hotel-hotel bertarif murah. Semuanya memakai uang pribadi, bukan subsidi, bukan perjalanan dinas. Dari para backpackers-lah saya mengerti betapa banyak persoalan pariwisata yang belum diurus pemerintah. Ribuan makalah tentang pariwisata yang ditulis mahasiswa asing di luar negeri menyebutkan arah pariwisata Indonesia tidak jelas, cuma berpromosi. Mereka juga menyoroti kelucuan daftar 30 makanan asli Indonesia yang akan dipromosikan. Nasinya saja ada tiga (tumpeng, goreng kampung, dan liwet).

“Memangnya kami harus makan semua,” tanya mereka. Belum lagi kesemrawutan lalu lintas, sampah, dan keamanan. Tetapi, apa pun juga harus diakui, di beberapa lokasi kita masih bisa menikmati suasana wisata yang berbeda. Naik becak di Cirebon sambil makan nasi jamblang dan belanja batik, makan nasi liwet dan borong batik di Solo, menikmati angklung Ujo di Bandung, mengelilingi sawah di Ubud, membeli gelang baja putih eks pesawat tempur Sekutu di Morotai, menikmati ikan jelawat di Pontianak, atau menembus hutan pala di Maluku.

Jadi, bersyukurlah Anda yang masih diberi waktu, kesehatan, dan uang untuk berlibur. Ini saatnya bercengkerama bersama keluarga. Berikanlah kesempatan bagi anak-anak Anda menjadi guide, memilih hotel, dan menentukan rute perjalanan. Hanya dengan cara itulah kepala Anda bisa menjadi ringan, dan liburan benar-benar bisa dinikmati. Dengan cara itu pula, anak-anak bisa menjadi driver bagi hidup mereka sendiri, bukan passenger yang selamanya menumpang dalam kehidupan orang lain. Selamat berlibur. ●

 

Saatnya Liburan
Rhenald Kasali ;  Ketua Program MM UI
SINDO, 27 Desember 2012

Saein, Inspirator Pertanian Organik Ramah Lingkungan dari Purbalingga


Berkutat dengan lumpur dan terik matahari di tengah sawah, adalah keseharian yang dijalani Saein (41), sebuah nama yang sangat singkat dan sederhana. Sebagai petani sekaligus tenaga harian lepas/tenaga kontrak penyuluh pertanian pada Balai Penyuluhan Pertanian (BPP) Kecamatan Bukateja, Purbalingga, Saein setia menggeluti profesinya itu hingga sekarang.

 

Seandainya ia tetap menekuni profesinya sebagai peneliti pada Balai Penelitian Padi Sukamandi, Bogor, Jawa Barat, Saein mengakui ia sudah menjadi PNS golongan 3 atau bahkan 4, dan hidupnya tidak seperti sekarang. Namun panggilan hatinya berkata lain.

Bapak beranak dua yang juga sarjana alumnus Jurusan Hama dan Penyakit Tumbuhan Fakultas Pertanian Institut Pertanian Bogor (IPB) 1995 ini, lebih mencintai desa kelahirannya, Desa Bukateja, Kecamatan Bukateja, Purbalingga.

Ia pulang kampung membangun bidang pertanian di desanya, sejak tahun 1998. Tak banyak memang, sarjana yang berpikiran seperti Saein. Dan berkat kegigihannya memobilisasi ratusan petani di desanya untuk kembali ke pertanian organik yang ramah lingkungan, serta tekun melakukan serangkaian penelitian di lapangan, maka layak jika ia mendapat penghargaan. Jelasnya, di Balai Sarbini, Jakarta, Jumat (20/5) malam, ia meraih penghargaan kategori Inovasi Liputan6 Awards 2011. Ajang penghargaan bagi kaum berprestasi ini bertepatan dengan ulang tahun ke-15 Liputan 6 SCTV. Dan Saein, meraih penghargaan bergengsi itu untuk kategori inovasi.

Direktur Program dan Produksi SCTV Harsiwi Achmad mengemukakan, begitu banyak tokoh dan pelaku peristiwa yang menjadi obyek berita di media, namun hanya segelintir yang sesungguhnya mampu menjadi inspirasi positif bagi masyarakat. Banyak tokoh dan individu yang hebat, berprestasi, berdedikasi, dan memiliki visi luar biasa namun luput dari perhatian masyarakat. Salah satu tokoh itu adalah Saein, penemu varietas padi Mutiara, yang merupakan varietas padi bibit unggul dan terbukti sangat menguntungkan petani.

Sebelumnya, Saein pernah meraih Kehati Award 2009. Kehati Award merupakan penghargaan tertinggi yang diberikan oleh Yayasan “Kehati” kepada perseorangan maupun kelompok/organisasi, yang telah melakukan upaya dan karya luar biasa untuk mendukung pelestarian keanekaragaman hayati Indonesia.

Saein asal Purbalingga yang menemukan varietas padi unggul yang diberi nama varietas padimutiaraSaein Penemu Varietas Padi Mutiara

Saein menceritakan, begitu tamat dari IPB Bogor tahun 1995, ia bekerja sebagai peneliti di Balai Penelitian Padi Sukamandi, Bogor dengan status honorer. Merasa bukan dunianya berkutat di laboratorium penelitian, akhirnya ia hanya bertahan setengah tahun, lalu menyatakan ke luar. Selanjutnya ia pindah kerja sebagai tenaga lapangan di proyek Pengendalian Hama Terpadu (PHT) IPB. Di tempat kerja terakhir itu, hanya bertahan dua tahun. Panggilan hatinya berkata, ingin pulang kampung, membangun bidang pertanian di desanya, Bukateja.

“Ayah saya dan keluarga saya semuanya petani. Saya tahu suka duka hidup sebagai petani. Berbekal ilmu dari kuliah di IPB, dan pengalaman meneliti, akhirnya saya bertekad bulat pulang kampung. Itu terjadi tahun 1998,” ujar Saein ketika ditemui di kantor Balai Penyuluh Pertanian Bukateja, Purbalingga.

Berbekal sawah warisan dari orang tuanya seluas 0,8 hektar yang berada di Dusun Bukateja Kulon dan Gual Lele Desa Bukateja, Kecamatan Bukateja, Purbalingga, Saein hidup sebagai petani. Namun bukan sembarang petani biasa yang ia lakoni.

Tak bergantung pada bantuan pemerintah atau asing, ia merogoh koceknya sendiri yang ia sisihkan dari hasil tak seberapa sebagai petani untuk riset pupuk dan pestisida organik, serta bibit padi. Bagi Saein, segala karya dan temuannya dicurahkan sepenuhnya untuk para petani di kampungnya. Saein berupaya mengembangkan pertanian ramah lingkungan, dengan membuat pupuk dan pestisida organik.

Konkretnya, lewat Kelompok Tani Gemah Ripah yang ia menjadi pengurusnya, Saein mengajak para petani untuk perlahan-lahan atau meminimalisir penggunaan bahan kimia. Jelasnya, ia mengembangkan paket teknologi pertanian ramah lingkungan. Misalnya, memanfaatkan mikroba akar bambu yang diolah sedemikian rupa dengan bekatul, gula, nira, trasi, dan kapur sirih untuk dibuat pupuk hayati. Manfaat dari pupuk hayati ini, ujar Saein, memacu pertumbuhan tanaman, dan mencegah penyakit.

Selain itu, untuk membunuh hama penyakit, Saein mengajarkan kepada para petani dengan cara alami. Yakni memanfaatkan umbi gadung, kulit kayu semboja (kamboja), tembakau, biji mimba, biji sirsak, akar tuba, buah kecubung, bunga krisan, Brantawali, sambilata, daun mimba, buah maja, cuka, arang sekam, abu, kapur dan sebagainya. Bahan-bahan alami itu dihancurkan sampai halus, lalu dicampur air dan disemprotkan ke tanaman.

Penemu Bibit Varietas Padi Mutiara

Perlahan namun pasti, ratusan petani di Bukateja kini banyak yang meniru langkah Saein ini. Saein juga tak mengenal lelah untuk melakukan serangkaian penelitian di lapangan. Yakni melakukan penyilangan beragam varietas padi unggulan yang menghasilkan 10 varietas padi baru. Salah satunya diberi nama “Mutiara“, hasil persilangan padi Wulung dan Pandanwangi. Diberi nama “Mutiara”, karena bentuk berasnya bulan lonjong seperti mutiara, dan warnanya mengkilat.

Varietas “Mutiara” temuan saein ini memiliki sejumlah keunggulan. Yakni sangat hemat pupuk, tahan penyakit busuk daun, produksinya tinggi (rata-rata 6,7 ton per hektar dan produksi tertinggi 8,4 ton/hektar), butiran beras tidak mufah patah, tahan wereng, rasa nasinya pulen, dan rendemannya tinggi. Untuk tingkat rendeman tinggi ini, jika diselep di mesin penggilingan padi, gabah 1 kuintal dari varietas padi “Mutiara” bisa menghasilkan 65-67 kg.

Tanpa bermaksud mengkomersialkan diri, dan tetap mengedepankan aspek sosial, bibit padi varetas “Mutiara” itu kini juga dijual di rumah Saein di Jl. Kecombron No. 2 RT/RW 02/VI Desa Bukateja, Kecamatan Bukateja, Purbalingga. Ia jual per kg seharga Rp 7000,-. Sistem penjualannya secara gethok tular ari mulut ke mulut. Mengingat Saein juga sering diundang untuk menularkan kepiawaiannya itu hingga ke berbagai kota seperti di Jogja, Jabar dan Jatim, maka varietas padi Mutiara itu pun kian dikenal.

Sayangnya, varietas padi itu belum bersertfikat. Saein mengaku, kendala biaya dan birokrasi yang menjadikan ia belum mengurus sertifikat untuk padi temuannya itu. Sejumlah petani mengakui, berkat kiprah Saein, ratusan petani di Bukateja kini bisa merasakan manfaatnya. Para petani pun tak segan menyediakan lahan uji coba secara gotong royong. Untuk Saein sendiri, dari 0,8 hektar lahan miliknya, sekitar 20 ubin digunakan untuk riset dan penelitian.

“Dari apa yang sudah saya lakukan, saya melihat kini kehidupan petani di lingkungan saya sudah terlihat lebih sejahtera, seiring makin berkurangnya ketergantungan mereka terhadap benih padi dan pupuk yang terus melambung mahal,” ujar Saein yang berprofesi sebagai tenaga kontrak penyuluh pertanian sejak tahun 2007 ini.

Saein memang sosok petani intelek yang tak kenal lelah. Ia yang belakangan tinggal di Desa Penaruban, Kecamatan Kaligondang, Purbalingga -istrinya Sri Lestari asli Desa Penaruban- setiap hari harus bolak-balik sejauh kurang lebih 30 km pulang pergi, demi untuk memajukan pertanian di wilayah Kecamatan Bukateja dan sekitarnya. Ia pun terus melakukan riset dan penelitian. Bukan untuk mencari pengakuan diri, tapi semata-mata untuk kemandirian para petani di sekelilingnya.

Ia juga mengaku tak terlalu berharap sebagai PNS, mengingat usianya kini sudah 41 tahun.Ia juga pasrah, apakah kontraknya sebagai tenaga penyuluh pertanian yang akan berakhir 17 September 2011 akan diperpanjang oleh pemerintah atau tidak. Yang jelas, ia bersyukur bisa hidup sebagai petani dan tenaga tenaga penyuluh pertanian lapangan dengan honor Rp 2 juta/bulan. Ketika pada tahun 2010 honor yang ia terima telat sampai berbulan-bulan pun, kenyataan itu diterima apa adanya.

“Jalani hidup apa adanya. Hidup itu ibadah. Saya ingin mengamalkan ilmu itu sebagai ibadah, demi memajukan nasib petani di lingkungan saya,” ujar Saein.

Seorang Remaja Gendong Sahabatnya yang Sakit Selama Delapan Tahun


Subhanallah…

Seorang Remaja Gendong Sahabatnya yang Sakit Selama

Delapan Tahun

Subhanallah… adakah remaja menakjubkan seperti ini di sekitar kita, Sob? ^__^

Anda pasti sering mendengar berita mengenai kenakalan remaja, mulai dari tawuran, memakai narkoba, ikut gank motor, pergaulan bebas dan sebagainya yang membuat miris. Namun, tidak semua remaja memiliki kelakuan yang tidak baik atau hanya bisa menghamburkan uang orang tua. Dari banyaknya remaja di dunia, salah satu yang berhati emas ada di Hebei, Cina, seorang remaja bernama Lui Shi Ching.

Dilansir oleh ibtimes.com, Lui Shi Ching adalah remaja berhati emas. Usianya baru 16 tahun ketika banyak media memberitakan dirinya. Lui Shi Ching berasal dari Hebei, China. Yang membuat pemuda ini terkenal adalah ketulusan hati menggendong sahabatnya, Lu Shao. Lu Shao memiliki kelainan bawaan yang membuatnya sulit berjalan, karena itu, dia harus digendong.

Tidak pernah memamerkan kebaikan hatinya

Sekitar sepuluh tahun lalu, Lu Shao terjebak hujan ketika pulang sekolah. Ibunya tidak dapat menjemput. Melihat hal itu Lui Shi Ching menawarkan dirinya untuk menggendong Lu Shao. Padahal, tubuh Lui Shi Ching lebih kecil dibanding Lu Shao. Namun hal itu tidak menyurutkan kebaikan hati Lui Shi Ching, dia tetap menggendong temannya pulang.

Sejak saat itu, Lui Shi Ching selalu menggendong Lu Shao. Pemuda berhati emas ini mengantar Lu Shao pergi dan pulang dari sekolah, bahkan saat sahabatnya ingin ke toilet. Semua hal ini sudah dilakukan selama 8 tahun. Yang hebat, Lui Shi Ching tidak pernah menceritakan kebaikan hatinya pada orang lain. Orang tuanya baru tahu kebaikan hati putra mereka setelah Lui Shi Ching menggendong Lu Shao selama 4 tahun.

Bantuannya bagai sinar matahari yang menyingkirkan awan gelap

Dalam sebuah wawancara, Lui Shi Ching ditanya bagaimana dia bisa menggendong teman yang badannya lebih besar. Lui Shi Ching mengatakan bahwa dia bahagia saat membantu Lu Shao, sehingga berat badannya tidak menjadi beban. “Saya sangat senang bisa membantunya, tidak terasa sudah delapan tahun,” ujarnya.

Sementara itu, Lu Shao menuliskan dalam buku hariannya, bantuan yang diberikan Lui Shi Ching telah menyingkirkan awan gelap yang menyelimuti hidupnya. Kebaikan hati Lui Shi Ching diibaratkan seperti sinar matahari yang menyinari kehidupannya.

Wahhh… senang sekali rasanya di antara banyak kelakuan remaja yang negatif, masih ada remaja seperti Lui Shi Ching yang berhati mulia ya, Sob. Apakah Sobat Nida punya sahabat seperti Lui Shi Ching? Kalaupun belum ada, yuk kita awali dengan menjadi teman yang baik seperti Lu Shi Ching bagi sahabat kita ya, Sob. ^__^

Vemale.com

DAMPAK BURUK MEMBENTAK ANAK


Membentak kerap dilakukan orangtua ketika anak-anak mereka melakukan kesalahan.Namun,berdasarkan sebuah penelitian terbaru,membentak anak ternyata bisa menimbulkan dampak negatif saat mereka beranjak remaja.

“Ini merupakan penelitian pertama yang mengindikasikan bahwa memarahi anak dengan berteriak dapat merusak kepribadian mereka saat dewasa,” ujar Dr Ming-Te Wang,pemimpin penelitian yang juga merupakan asisten profesor psikologi pendidikan diUniversitas Pittsburgh.

Riset yang dipublikasikan dalam jurnal Child Developmentini melibatkan 976 orangtua diAmerika Serikat yang sebagian besar merupakan keluarga kelas menengah.Riset mengungkap bahwa orangtua cenderung mengubah cara mendisiplinkan anak saat mereka beranjak remaja.

Cara disiplin yang awalnya diterapkan dalam bentuk fisik,kini berubah menjadi verbal yang kasar.Verbal kasar yang dimaksud dalam penelitian ini adalah orangtua yang memarahi anak-anaknya dengan meneriakkan kata-kata kasar.

Seperti dikutip laman Daily Mail,penelitian ini mengungkap bahwa jika orangtua mulai memarahi anak saat berusia 13 tahun,anak tersebut akan berisiko besar memiliki masalah perilaku dan emosional saat dewasa.Anak-anak ini bisa menderita depresi di usia 13 dan 14 tahun.Mereka cenderung berperilaku negatif disekolah,sering berbohong,mencuri,bahkan berkelahi.

Dr. Wang menegaskan,memarahi anak dengan berteriak bukan langkah yang efektif dalam menyelasaikan suatu masalah.Tindakan tersebut justru hanya akan berdampak buruk pada anak.Bahkan meskipun hubungan sianak dan orangtua sebenarnya cukup dekat.
#vivalife

Prinsip Penanganan Keseleo yang Benar


13694020641027628887

Ilustrasi/Admin (Shutterstock)

Ketika keseleo seseorang biasanya langsung berpikiran untuk pergi ke tukang urut dan dilakukan pemijatan untuk mengobati keseleonya, lalu apakah tindakan seperti ini dibenarkan? sebenarnya apa yang terjadi ketika kita keseleo?  Coba simak sedikit tulisan saya berikut ini.

Saat keseleo sebenarnya terjadi peregangan pada ligamen (jaringan ikat) sehingga menimbulkan robekan parsial/sebagian atau terjadi peregangan otot dan tendon (jaringan ikat/penghubungan yg kuat yg menghubungkan otot dengan tulang) sehingga menimbulkan reaksi peradangan. Terkilir paling sering terjadi pada ankle/pergelangan kaki, pergelangan tangan, dan ruas jari. Gejala yang sering muncul adalah nyeri, bengkak, kulit tampak kemerahan, dan tentunya akan mengganggu fungsi bagian yang terkena.

Lalu apa perlu dipijat ??? pada tata cara penanganan medis tentu saja hal ini sebenarnya tidak dianjurkan, karena pada saat terjadi trauma pada otot, ligament maupun tendon justru saat dengan melakukan pengurutan hanya akan memperberat kondisi trauma dan proses peradangan yang terjadi. lalu apa yang seharusnya kita lakukan untuk mengatasi keseleo ?

Penanganan keseleo sendiri sebenarnya sangat sederhana, pada dunia medis dikenal sebagai prinsip RICE yang akan coba saya jabarkan satu-persatu sebagai berikut:

R = Rest/istirahat untuk sementara waktu karena aktivitas yang berlebih pada bagian yang keseleo akan memicu terjadinya komplikasi lebih lanjut, misal ligamen yang robek akan semakin parah.

I = Ice, Ingat berikan kompres dingin dengan ES bukan air hangat pada kasus keseleo yang baru saja terjadi. Karena saat cedera berlangsung akan terjadi terjadi robekan pembuluh darah yang berakibat keluarnya “isi” pembuluh darah tersebut ke jaringan sekitar yang memicu timbulnya pembengkakan, pembuluh darah juga melebar (dilatasi) sebagai respon peradangan. Pemberian kompres ES bertujuan untuk “menyempitkan” pembuluh darah yg melebar sehingga mengurangi bengkak. Lakukanlah kompres dingin ini 1-2 kali perhari selama kurang lebih 20 menit tidak lebih. Karena jika terlalu lama juga akan mengganggu aliran darah.

Lain halnya pada kasus keseleo yang sudah cukup lama terjadi / kronis yang ditandai dengan peradangan seperti bengkak, warna merah tanpa nyeri, maka prinsip pemberian kompres hangat bisa dilakukan.

C = Compression, penekanan/kompresi pada bagian cedera dengan kain / verban yang elastis dapat dilakukan untuk mengurangi pembengkakan. Dalam pembebatan usahakan jangan terlalu erat agar aliran darah tidak terganggu yang justru dapat menghambat proses penyembuhan.

E = Elevation, angkat bagian yang cedera lebih tinggi dari anatomi jantung.  Sebagai contoh jika angkle/pergelangan kaki anda yang cedera maka bagian tersebut dapat diganjal dengan bantal setinggi diatas jantung untuk mengurangi proses pembengkakan.

Setelah proses diatas dilakukan maka kita tinggal menunggu selama 3-5 hari nantinya bengkak akan berkurang sendiri. Sedangkan untuk pemilihan obat anti nyeri ada beberapa pendapat yang menyatakan bahwa obat-obat ini justru akan menghambat proses alamiah penyembuhan karena reaksi peradangan merupakan reaksi alami tubuh dalam proses penyembuhan itu sendiri. Namun kembali pada kebijakan dokter dan kondisi pasien, jika dirasa memang diperlukan karena pasien merasa kesakitan saya kira boleh saja diberikan.

 

Wahyu Triasmara

http://kesehatan.kompasiana.com/medis/2013/05/24/prinsip-penanganan-keseleo-yang-benar-562713.html