Petuah Ulama


“Ketika orang tertidur kau terbangun, itulah susahnya. Ketika orang merampas kau membagi, itulah peliknya. Ketika orang menikmati kau menciptakan, itulah rumitnya. Ketika orang mengadu kau bertanggung jawab, itulah repotnya. Oleh karena itu, tidak banyak orang bersamamu disini, mendirikan imperium kebenaran“ ~KH. Rahmat Abdulloh~

“Apa kabar hatimu? Masihkah ia seperti embun? Merunduk tawadhu dipucuk- pucuk daun? Masihkah ia seperti karang? Berdiri tegar menghadapi gelombang ujian. Apa kabar imanmu? Masihkah ia seperti bintang? Terang benderang menerangi kehidupan. Semoga Allah senantiasa melindungi dan menjagamu, saudaraku”.

“Jadi ingat musim, gugur, daun berjatuhan, udara dingin, sepi, tiada interaksi, Pagi berkabut sore mendung,. Kasihan, tersisa semangat dalam himpitan dan senyuman dalam tekanan”.

“Seonggok kemanusiaan terkapar, siapa yang mengaku bertanggung jawab? Bila semua menghindar. Biarlah saya yang menanggungnya. Semua atau sebagiannya.” ~KH. Rahmat Abdulloh~

“Suatu hari nanti saat semua telah menjadi masa lalu, aku ingin berda di antara mereka, yang bercerita tentang perjuangan yang indah, dimana kita, sang pejuang itu sendiri. Tak pernah kehabisan energi tuk terus bergerak, meski terkadang godaan tuk berhenti atau bahkan berpaling arah begitu menggiurkan. Keep istiqomah!”

”Jika ku dapat menarik “Pelangi, Mentari dan Bintang”. Maka ku akan membentuk “Namamu” disitu, lalu akan ku kembalikan lagi ia ke “Langit” agar semua orang tahu, betapa bahagianya aku mempunyai “saudara” seperti dirimu. Selamat beraktivitas”.

“Jangan takut untuk mengabil langkah besar hari ini, Jika memang dibutuhkan!! Jurang tak bisa disebrangi hanya dengan 2,3 lompatan kecil!! Nahnu Duat Fii Kulli Zaman”.

“Politik telah membuahkan konsekuensi yang maha dahsyat dalam peradaban manusia. Dalam abad ke-20 saja politik telah membunuh 200 juta jiwa di seluruh dunia. Keep ur soul pure  “

Beban Dakwah hanya dapat diberikan oleh mereka yang memahami dan memeberikan apa saja yang kelak di tuntutnya ; Waktu, Kesehatan, Harta, Bahkan Darah. Mereka Bergadang saat semua tertidur lelap. Mereka gelisah saat yang lain lengah. Seakan-akan lisannya yang suci Berkata , “Tidak ada yang kuharap dari kalian. Aku hanya mengharap pahala Allah” ~Hasan Al Banna~

“Ana harap, seperti tulisan antum, militansi dakwah tetap dipegang erat, bagaimana kita sabar, tsabat dengan keadaan yang ada, karena ini ujian, kondisi seperti apapun, saat ikhlas dalam dakwah senantiasa kita pegang, tak akan pernah melemahkan dan menggoyahkan diri kita untuk terus bersamanya, afwan atas segala kata yang kurang berkenan”.

“Insya Allah, masa depan yang gemilang itu, kejayaan yang pernah hilang ditangan kita, akan dapat kita kembalikan lagi. Dan saya berharap Indonesia akan menjadi pemimpin kebangkitan ini”. ~DR. Yusuf Al Qardhawi~

“Bukannya seorang dai, mereka yang mengeluh tentang sulitnya merubah kondisi masyarakat. Ia bukannya dokter, ia hanya orang yang berpakaian dokter tapi jijik melihat luka besar yang harus diobatinya”. ~KH. Rahmat Abdullah~

“Kalau betul-betul mau melahirkan orang-orang yang menjadi agent of change dalam arti pioneer yang siap menannggung beban yang terberat sekalipun, maka tidak bisa tidak, jalan yang ditempuh adalah kembali kepola Tarbiyah Rasulullah. Kuatnya dakwah bertumpu pada kekuatan Tarbiyah”. ~Ust. H.M Ihsan Arlansyah Tanjung~

„Saya akan mengatakan kepada seluruh aktivis muslim, jangan pernah mereka merasa sempurna. Karena stiap kali orang merasa sempurna, saat itu ia berhenti bertumbuh. Dia berhenti berkembabng..” ~Ust. H.M Anis Matta, Lc~

“Kalau kita punya problem, minta pertolongan kepada Allah dengan sabar dan sholat. Curhat (Utarakan semua masalah)saja kepada Allah, insya Allah akan dikasih jawaban, dikasih Jalan Keluar”. ~K.H Ruslan Efendi~ Dai itu tentara Allah, Big Boss kita Allah.

”Ada hal yang perlu diingat, bahwa sebuah jamaah atau organisasi dakwah berkembang dengan pesat kalau didalamnya terdapat pribadi-pribadi yang kreatif, Ada pribadi-pribadi yang melakukan sesuatu yang baru”. ~Ust. Ahmad Madyani. Lc~

”Dai yang tidak punya bekalan ruhiyah, akan mengalami kelemahan. Jika ia sudah merasa berda’wah namun tidak berhasil, ia akan menganggap dirinya sudah tidak layak lagi berda’wah dan akhirnya berganti arah.” ~Ust. Zufar Bawazier, Lc~

”Jelas, kontinuitas dalam melakukan amal sekecil apapun diharapka mampu meredam hal-hal yang cenderung kearah kefuturan. Namun Demikian, ada batasanya seperti yang diwasiatkan oleh Rasulullah saw.” ~Ust. Amang Syafrudin, Lc~

“Orang yang bathil i’tiqadnya dan inhiraf fikrahnya sudah pasti banyak tanaqudhat (kontradiksi) nya. Masalah aqidah dan iman diyakini sesuai hawa nafsu dan pragmatisme politik. Membuat sebagian besar kader menjadi bingung yang ujung-ujungnya mengambil sikap ‘Baik Sangka’ saja-LAH”

K.H Prof. Dr. Didin Hafidhudin, “Diharapkan bulan Ramadhan ini bisa kita jadikan untuk lebih mensolidkan kekuatan jama’ah, karena pada bulan ramadhan sebenarnya yang lebih menonjol adalah syahrul jamaah.” 

DR. Ahzami Sami’un Jazuli, M.A ::. ”Yang terpenting, Bukanlah Yahudi hancur atau tidak, tapi yang menghancurkannya kita atau bukan ? Kita khawatir tidak memiliki andil dalam berjuang menegakkan ajaran Allah swt. Jihad solusi utama menegakkan islam” 

Teruntuk mujahid da’wah pilihan : “Terkadang hak-hak pribadi kita tidak dapat kita penuhi. Jangan bertanya kemana yang lain. Jangan bertanya kenapa kita sendiri. Jangan mengingat apa yang telah kita korbankan. Jangan mengharap apa yang akan kita dapatkan. Karena sesungguhnya Allah telah memilih diri-diri ini. Maka ikhlaskanlah”

Saudaraku…“Sungguh.., kekuatan ruhiyah dan jasadiyah serta amanah adalah modal istiqamah dijalan da’wah”

Malik bin Dinar ::. “Segala sesuatu itu memiliki penyerbukan. Kesedihan itu serbuk yang melahirkan ‘amal sholeh. Tidak ada orang yang bersabar atas ‘amal sholeh kecuali dengan kesedihan”. 

“Hidup seorang mukmin adalah program perbaikan diri yang tertata hingga menemui Allah dalam kondisi yang terbaik”. Semoga Allah memberkahi langkah-langkah kita. Amiin.

“Sungguh beruntung orang-orang yang terus memperbaharui niatnya dalam setiap aktivitas da’wah”.

“Selalu ada harapan dalam keyakinan, selalu ada keteguhan dalam kesabaran, selalu ada hikmah dalam kesyukuran dan selalu ada keniscayaan dalam doa”.

”Untuk saudaraku yang tak pernah lelah dan putus asa. Buat dia tersenyum hingga disyurga kelak ya rabb. Allahlah yang akan menjadi muara segala beban yang menghimpit jiwa kita. Rabb..kutkan pancangan kakinya dijalan_Mu”.

“Sabar adalah bunga-bunga keimanan. Keharumannya adalah kepasrahan, dan meyakini hikmah dibalik setiap musibah. Kelopaknya adalah ketabahan. Tangkainya adalah keteguhan jiwa”

“Orang yang faham harus ikhlas terhadap kefahaman ilmunya.sedang orang yang ikhlas harus faham dalam mengamalkan apa yang difahaminya. Sehingga akan lahir ‘amal DAHSYAT karena ditopang oleh faham dan ikhlas”.

“Jika da’wah adalah jalan yang panjang, Jangan pernah berhenti sebelum menemukan ujungnya. Jika da’wah adalah bebannya berat Jangan minta yang ringan. Tapi mintalah punggung yang kuat untuk menopangnya. Jika pendukungnya sedikit…maka jadilah yang sedikit itu”.

“Orang sukses mengunakan tubuhnya untuk ikhtiar, otaknya untuk berfikir kreatif dan hatinya untuk bertawakal kepada-Nya”.

“Seorang mujahid adalah mereka yang selalu termotivasi, ketika yang lain berjatuhan maka ia tetap tegar. Sungguh jalan yang ditempuh masih panjang dan banyak aral menghadang. Yakunlah bahwa Allah maha penepat janji. Sekencang aral menghadang tetap Allah didalam hati kita”.

“Orang yang excellent adalah orang mampu memaksimalkan seluruh potensinya, Orang yang tawazun (seimbang) antara urusan dunia dan urusan akhirat”.

“Bersemangatlah pada apa saja yang bermanfaat bagimu, minta tolonglah pada Allah dan jangan merasa tidak mampu.” ~HR. Imam Muslim~.

” Kehidupan seorang mukmin layaknya mentari. Selalu hidup bersinar dan tak pernah hilang. Ia terbenam disatu wilayah untuk terbit diwilayah berikutnya. Datang menyinari memberi kemanfaatan dan rasa damai”.

“Hanya orang besar yang berani berfikir dan bertindak besar. Maka Allah titipkan amanah dan perkara besar. Mintalah energi besar pada yang Maha besar untuk menyelesaikan semuanya”.

“Jangan pernah berhenti mengepakan sayapmu saudaraku. Biarkan cobaan itu membuatmu kuat, Biarkan derasnya terpaan itu membuatmu gesit berkelit, Biarkan jiwa-jiwa pemenang itu memenuhi hatimu, Biarkan jiwa-jiwa sabar itu menjadi penyejuk bagimu”.

“Ya, Allah tambahkanlah untuk kami keikhlasan niat, kedalaman ilmu, kelapangan hati, kebersihan jiwa, kejernihan pikiran, lautan kesabaran, samudra kelembutan serta indahnya cinta dan kasih sayang dalam ukhuwah…” Tetap semangat Ikhwah!

“Menjadi orang-orang pilihan dalam da’wah, berarti meletakkan pondasi keikhlasan dalam ber’amal. Maka teguhkanlah azzam dalam hati. Berjuang itu indah, Berkorban itu nikmat.” Allah will always with you

“Keberhasilan kita tidak diukur oleh seberapa banyak apa yang kita miliki, melainkan oleh berapa banyak orang yang merasakan manfaat keberadaan kita.”

“Bahkan dalam letihpun para mujahid tetap tersenyum karena apa yang kita tunaikan menjadi jaminan bermaknanya usia. “Semoga awal semester yang diiringi dengan semangat ramadhan, bisa membawa keberkahan untuk usaha dan hasil yang terbaik. New Spirit Be Better Person!”

“Mencari Spirit yang hilang, tertatihku dibelantara dunia, menanti seberkas cahaya, jiwa-jiwa lelah ditengah perjalanan panjang, bilakah kemenangan itu datang?” Sesungguhnya kemenangan selalu seiring dengan pengorbanan,,dan keikhlasan, kesabaran diatas kesabaran adalah kunci kekuatan, sudikah diri menjadi kafilah yang digantikan?”

“Para pemburu syurga tidak akan berhenti pada tahap mimpi. Ada asa yang harus diwujudkan, Ada pengorbanan yang harus dikeluarkan. Ada amal dan karya nyata yang harus dipersembahkan.”

“Sendi-sendi kebahagiaan adalah hati yang selalu bersyukur, lidah yang terus berdzikir dan tubuh yang senantiasa bersabar..”

” Selayaknya bagi jiwa-jiwa yang mengazamkan dirinya pada jalan ini. Maenjadikan da’wah sebagai laku utama, dialah visi, dialah misi, dialah obsesi, dialah yang mengelayuti disetiap desahan nafas, dialah yang mengantarkan jiwa-jiwa ini kepada ridho dan maghfiroh Tuhannya.”

“Ada yang mengeluh, merasa jenuh, ingin gugur dan jatuh ia berkata “lelah!”. Ada juga yang lelah, tubuhnya penat tapi semangatnya kuat. Ia berkata “lillah!”, karena Allah, Ikhlaskanlah. Tetap semangat pejuang-pejuang Allah”

Imam Ibnu Qoyyim Aljauzziyah ::. “Memelihara pandangan mata menjamin kebahagiaan seorang hamba didunia dan akhirat. Memelihara pandangan, memberi nuansa kedekatan seorang hamba kepada Allah, menahan pandangan juga bisa menguatkan hati dan membuat seseorang lebih merasa bahagia, menahan pandangan juga akan menghalangi pintu masuk syaithan kedalam hati. Mengkosongkan hati untuk berfikir pada sesuatu yang bermanfaat. Allah akan meliputinya dengan cahaya, itu sebabnya setelah firmannya tentang perintah mengendalikan pandangan mata dari yang haram, Allah segera menyambungnya dengan ayat nur (cahaya)”. Sebuah perenungan untuk diri.

Fudhail bin Iyadh ::. “Suplai bantuan Allah, tidak berlaku bagi orang yang dikuasai hawanafsunya dan mengikuti syahwatnya”. 

Ustadz Mashadi ::. ”Bila benar-benar kita mukmin, ikhwah, apalagi qiyadah pasti akan mendasarkan pada paradigma berpikir yang bersifat ketuhanan (manhaj tafkir rabbani) juga. Sehingga sikap al wala wal baro’nya sangatlah jelas, tidak confused dan talbiz. Manhaj Tuhan itu (Islam) telah menyediakan bagi para da’i/ aktivis satu manhaj tersendiri dalam berpikir dan bertindak, yang mampu menghindarkan keterjerumusan dalam kehidupan jahiliyah. Di manakah posisi kita hari ini? Apakah masih tergolong orang-orang yang tsabat dengan manhaj rabbani atau telah tersungkur ke dalam barisan pengejar rente kekuasaan? dan pasti akan hina di mata manusia dan di sisi Allah”

Ustadz Farid Nu’man ::. ”Hendaklah mereka malu kepada Allah Ta’ala, dan kalau pun sudah tidak malu kepada Allah Ta’ala, malu-lah kepada malaikat sang pencatat, kalau pun tidak malu kepada malaikat, malu-lah kepada manusia, kalau pun tidak malu kepada manusia, malu-lah kepada keluarga di rumah, kalau pun tidak malu kepada keluarga, maka malu-lah kepada diri sendiri dan hendaklah jujur bahwa apa yang dilakukannya adalah kesalahan, minimal meragukan. Fitrah keimanan akan menolaknya, kecuali jika memang sudah taraf Imanuhum fi Proyekihim”

Ustadz Dr. Daud Rasyid, MA ::. “Kalau ada orang menceritakan dirinya mendambakan punya rumah mewah, kendaraan mewah, atau apa saja yang menyenangkan dari dunia, sebenarnya dia sedang menceritakan kenaifan dirinya, sekaligus menyingkap keruntuhan ma’nawiyah (jati diri) nya di hadapan orang lain. Apakah pantas seorang pemimpin merangsang anggotanya untuk mengejar harta, sementara Nabi Saw menyuruh ummatnya agar berhati-hati dengan harta dan dunia?“

Ustadz Didin Hafidhuddin, Republika 7 Agustus 2008 ::. ”Salah satu faktor yang menyebabkan runtuhnya nilai-nilai perjuangan dalam dunia politik adalah saat materi menjadi tujuan utama dan gaya serta penampilan lebih diutamakan“.

Thufail al Ghifari, the munsyid ::. “Save OUR ASHOLAH DAKWAH..Save OUR ASHOLAH DAKWAH.. Save OUR ASHOLAH DAKWAH! Apa artinya sebuah kekuasaan jika kita telah menggadai keimanan dan aqidah kita?”

Ustadz Dr. Mu’innudinillah Basri, MA ::. “Jamaah itu terdiri dari materi, SDM dan nilai. Jika nilai mejadi orbit materi dan SDM maka jamaah itu sehat. Jika manusia yang jadi orbit nilai dan materi, maka jamaah itu sudah sakit. Jika materi yang yang jadi orbit manusia dan nilai, maka jamaah itu mati”.

Ustadz Rahmat Abdullah rahimahullah, Poster Sang Murabbi ::. “Jangan sampai nanti orang-orang tarbiyah dibenci gara-gara berorientasi kepada kekuasaan. Dia tidak boleh berbangga dengan bangunannya. Lalu tertidur-tidur, tidak pernah mengurus urusan hariannya. Tetap dia harus kembali kepada akar masalahnya, akar tarbiyahnya. Tempat kancah dia dibangun.

Imam Hasan Al Banna ::. “Sesunguhnya jamaah, dimaksudkan pertama kali adalah untuk mentarbiyah jiwa, mempengaruhi ruh, menguatkan akhlak, menumbuhkan jiwa kesatria pada jiwa umat dan niatkan sebagai dasar (fondasi) membangun kebangkitan ummat dan masyarakat”.

Berkata Ibnu Mas’ud, “Jamaah itu adalah apapun yang berada pada al haq (Quran dan sunnah), meskipun sendirian, itulah jamaah.”

Hasan Al Hudhaibi (Mursyid ‘Am Ikhwanul Muslimin ke-2) mengatakan : “Jika semua ikhwah mati, itu lebih baik daripada kita sampai di puncak kemenangan(dakwah), dengan jalan pengkhianatan”

“Ahlul haq itu tidak melihat seseorang dia dari kelompok mana, ormas mana, tetapi melihat apa manhajnya, apa ajarannya. Sedangkan ahlul firaq dan hizb melihat dia ikhwah kita bukan ? Ustad kita bukan ? Jamaah kita bukan ? Masjid kita bukan ? Ahlul haq sibuk mempelajari ilmu agar dia mampu membedakan antara yang haq dan yang bathil, sedangkan ahlul firaq sibuk mempelajari ciri-ciri firqahnya agar bisa membedakan kelompoknya dengan yang bukan kelompoknya, dia bersama kelompoknya benar atau salah dan ahlul haq selalu ingin bersama-sama alhaq baik sendiri atau pun bersama-sama. Lalu, Siapa anda ?”

Fanatik Abad 21 | Kondisi ummat Islam abad 18 era Imam Muhammad bin Ali Assanusi diwarnai fanatisme madzhab luar biasa. Ummat terkotak-kotak dan keras pada madzhab lain, parahnya ini masuk ke guru-guru di Universitas Al Azhar. Hari ini, madzhab tidak dianggap batasan namun kita menemukan fanatisme lain yaitu fanatisme gerakan, taashshub hizbi. Di kampus-kampus antar gerakan berebut kader, di kampung-kampung rebutan penguasaan masjid, di jalan-jalan adu demo banyak-banyakan jumlah. Masing-masing ingin bawa bendera sendiri tidak mau bergabung dengan kelompok lain, kalau pun gabung inginnya mereka yang pegang komando. Di internet, adu segalanya – ha.. ha.. ha.. – lucunya ummat ini. Dalam hal baiat, adu klaim bahwa mereka yang layak mendapat baiat sebagai representasi jamaatul muslimin, pecahan-pecahan NII berebut keabsahan, pecahan lainnya berlomba membeli franchisee gerakan dari luar negeri biar ada sebutan ‘alamy nya. Begitu angkuhkah kita untuk bisa melebur walau kita besar ? Kenapa hanya mau muncul kalau benderanya disorot kamera ?

Segarkan Keharmonisan dengan Mengajak Pasangan Shalat Malam


Oleh: Abu Hudzaifah

ISLAM sangat penekankan umatnya untuk saling tolong menolong dalam hal kebajikan. Selain untuk mempererat hubungan sesema muslim, hal tersebut juga mampu melahirkan kekuatan tersendiri di tengah-tengah umat. Allah l berfirman;

وَلاَ تَعَاوَنُواْ عَلَى الإِثْمِ وَالْعُدْوَانِ وَاتَّقُواْ اللّهَ إِنَّ اللّهَ شَدِيدُ الْعِقَابِ

“…Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran…” (Al-Maidah [5] : 2).

Sikap saling menolong dalam hal kebajikan juga sangat diperlukan dalam kehidupan rumah tangga. Sebab, di antara manfaat dari sikap saling menolong antar anggota keluarga tersebut akan mampu melahirkan keharmonisan. Terlebih, manakala saling kerja sama dan tolong menolong ini dalam urusan ibadah. Diriwayatkan dari Abu Hurairah RA, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wassalam  bersabda, “Semoga Allah merahmati seorang laki-laki yang bangun malam, lalu mengerjakan shalat malam, kemudian membangunkan istrinya lantas ia ikut shalat bersamnya. Bila si istri enggan, maka ia memercikkan air di wajahnya. Semoga Allah merahmati seorang wanita yang bangun malam, lalu mengerjakan shalat malam, kemudian membangunkan suaminya lantas ia ikut shalat. Bila si istri enggan, maka ia memercikkan air di wajahnya.” (HR. Abu Dawud).

Duh, alangkah romantisnya seorang suami sudi membangunkan istrinya tahajjud

Terasa beda antara keluarga yang kering dari ibadah malam dengan keluarga yang senantiasa menghiasi rumah tangga dengan ibadah malam. Kenikmatan akan dirasakan seluruh penghuni keluarga manakala ada nuansa ruhiyah di rumah tersebut. Betapa mesranya bila ada suami-istri saling bahu-membahu dalam mewujudkan sebuah kebaikan. Tak dielakkan lagi bahwa pilar kerja sama ini akan menghantarkan sebuah rumah tangga pada keharmonisan dan kebahagian. Terlebih lagi, bilamana Allah mencurahkan rahmat-Nya kepada kedua insan yang yang tergerak hatinya untuk saling bergandeng tangan dalam mewujudkan sebuah kebahagian lahir maupun batin. Pun demikian, berkaitan dengan masalah ibadah. Seorang suami yang tergerak hatinya membangunkan istri di malam hari tuk menunaikan sebuah amalan mulia di sisi Allah, bahkan tergolong amalan yang jarang di lakukan oleh manusia.

Duh, alangkah romantisnya bila ada seorang suami yang sudi membangunkan istrinya dengan dengan kelembutan untuk melaksanakan shalat malam. Demikian pula sebaliknya, seorang istri yang tergerak hatinya untuk membangunkan suaminya guna ikut serta dalam menikmati keheningan malan dengan bermunajat kepada Allah Subhanahu Wata’ala. Untuk mewujudkan amalan yang mulia, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wassalam  memperkenankan baginya untuk memercikkan sedikit air ke wajah suami atau istri bilamana ia enggan untuk bangun guna meraih kemuliaan malam.

Percikan air yang didasari kasih sayang dan keimanan akan menumbuhkan semangat dalam meraih keridhaan Allah di saat-saat manusia terbuai dengan mimpi-mimpi indahnya, terutama di awal-awal membangun rumah tangga, seperti yang terjadi pada kisah berikut ini. Ketika Rayyah Al-Qassi menikahi seorang wanita lalu ia berhubungan dengan istrinya, dan ketika pagi telah menyingsing, istrinya baru bangun. Rayyah berkata, “Andaikan engkau ingin melihat wanita yang kurang bagus maka sesungguhnya engkau sudah cukup sebagai contoh.” Maka istrinya berkata, “Tidak lain aku menikah dengan Rayyah, si kasar ucapannya dan aku tidak menyangka menikah dengan seorang yang kasar dan keras wataknya.” Ketika malam tiba, Rayyah pura-pura tidur untuk menguji istrinya. Maka di seperempat malam, si istri bangun lalu memanggil, “Wahai Rayyah, bangunlah.” Rayyah menjawab, “Aku akan bangun.” Namun, ia tidak bangun. Kemudian si istri bangun lagi pada waktu seperempat yang lain dan berteriak, “Wahai Rayyah, bangunlah!” Rayyah menjawab, “Aku akan bangun.” Namun, ia tetap tidak bangun. Lalu, istrinya bangun pada waktu seperempat yang lain lagi dan berteriak, “Wahai Rayyah, bangunlah!” Rayyah menjawab, “Aku akan bangun.” Istrinya berkata, “Malam telah lewat dan orang-orang yang baik telah mengumpulkan bekal, sementara engkau masih terlelap dalam tidur. Duh, celakanya aku karenamu wahai Rayyah. Engkau telah menipuku.” Lalu si istri bangun dan melaksanakan shalat pada seperempat malam yang tersisa.” (Shifatush Shafwah).

Tutur kata yang lembut saat membangunkan adalah faktor utama dalam menumbuhkan semangat beribadah di malam hari. Karena, sangat sulit bagi seseorang untuk bangun malam.

Hendaklah suami-istri memahami kondisi seperti ini sehingga keduanya mampu mengambil sikap bijaksana saat mewujudkan ‘bulan madu’ di malam hari dengan beribadah kepada Allah.

Jangan sampai semangatnya yang membara menjadikannya bersikap kasar dan kaku, saat mendapati suami atau istrinya sulit bangun. Diceritakan bahwasanya istri Habib Al-‘Ajmi bin Muhammad terbangun pada suatu malam ketika Habib masih terlelap tidur, sehingga Habib terbangun karenanya. Maka, istrinya mengatakan, “Bangunlah wahai Habib, sungguh malam telah pergi dan siang akan datang, sedang di depanmu terbentang jalan yang sangat jauh, sementara bekalmu sangat sedikit. Rombongan orang-orang shalih telah berlalu mendahuluimu, sementara kita masih tetap berada di tempat kita.”

Semoga keharmonisan keluarga tetap terpupuk dengan ibadah malam yang dilakukan secara bersama-sama dengan anggota keluarga. Wallahul musta’an.*

Penulis buku, tinggal di Solo, Jawa Tengah 

Pilar Itu Bernama Adab



Sekolah Berasrama (2):

Jika karakter berbeda dengan perilaku, berbeda pula dengan kebiasaan dan bahkan tata-krama maupun temperamen. Lalu apa yang dapat kita lakukan untuk membangun karakter anak-anak kita? Langkah apa yang dapat kita tempuh untuk melakukan pendidikan karakter jika pembiasaan (habituation/habit forming) tidak mempengaruhi karakter anak-anak kita, di rumah maupun sekolah?
Apa perbedaan antara karakter dan kebiasaan? Karakter itu serangkaian kualitas pribadi yang membedakannya dengan orang lain. Ia menuntut adanya penghayatan nilai, proses mengindentifikasikan diri dengan nilai-nilai yang diyakini sehingga ia senantiasa berusaha agar bersesuaian dengan nilai yang diyakini dan pada akhirnya terjadi karakterisasi diri. Artinya, karakter merupakan proses yang berkelanjutan. Karakter memang cenderung menetap dan sulit diubah, tetapi bukan berarti sekali terbentuk tak mungkin berubah. Dari karakter itulah –baik atau buruk—melahirkan berbagai perilaku. Tetapi perilaku itu sendiri tidak dapat sertamerta kita katakan sebagai karakter.

Nah, perilaku yang berulang setiap hari dapat membentuk kebiasaan, meskipun sebagian hanya menjadi perilaku berulang (repeated behavior), yakni manakala perulangan perilaku tersebut terjadi semata karena takut terhadap ancaman. Tidak muncul perilaku tersebut jika ancamannya hilang.

Ini perlu kita perhatikan agar kita tidak cepat-cepat merasa puas tatkala melihat perilaku anak-anak kita. Jangan sampai kita mengira anak-anak telah memiliki kebiasaan yang baik, padahal cuma perilaku berulang semata. Tidak lebih.

Ada pelajaran di sini. Karakter itu tidak terlepas dari keyakinan dan penghayatan seseorang terhadap nilai-nilai yang dipeganginya. Adapun perilaku itu cerminannya, tetapi perilaku sendiri bukan gambaran yang dapat memastikan karakter seseorang, kecuali jika ada serangkaian perilaku lain yang searah. Sederhananya begini. Orang baik akan mudah tersenyum, tetapi murah senyum belum tentu orang baik. Apalagi jika sekadar tersenyum. Bukankah para penipu berhasil mengelabuhi orang lain justru karena senyumnya yang memukau? Bukan karena raut muka yang menakutkan.

Lalu darimana kita memulainya? Izinkan saya menengok apa yang ditulis oleh para ulama kita. Mengapa? Karena dalam perbincangan tentang karakter, saya sangat kesulitan menemukan sosok yang dapat menjadi model panutan. Padahal ketika kita berbincang tentang budaya karakter, role model (sosok panutan) merupakan salah satu pilar penting. Apakah kita akan menjadikan Lawrence Kohlberg sebagai sosok panutan? Padahal kita tahu, Bapak Pendidikan Karakter ini justru matinya mengenaskan. Ia mati bunuh diri dengan cara menenggelamkan diri karena krisis karakter. Ini mirip dengan kematian Sigmund Freud. Meskipun bukan bunuh diri, tetapi Bapak Kesehatan Mental ini mati dengan cara eutanasia (suntik mati) atas permintaan sendiri akibat depresi yang ia alami.

Lalu istilah apa yang bersesuaian dengan karakter? Sepanjang yang saya pahami, istilah Islam yang terdekat dengan karakter adalah akhlaq, bentuk jamak dari khuluq. Khuluq adalah bentuk, sifat dan nilai-nilai yang berada pada wilayah batin. Ini menarik untuk kita cermati, sebab ketika kita memaksudkannya sebagai aspek lahiriyah, ia adalah khalq. Begitu Ibnu Manzhur menuturkan. Ia menunjukkan bahwa khuluq –terpuji maupun tercela—akan tercermin dalam khalq yang berupa perilaku dan sifat-sifat lahiriyah. Ini berarti pula bahwa yang harus kita perhatikan bukan hanya perilaku yang tampak, tetapi apa-apa yang darinya tercermin dalam bentuk perilaku.

Tentang kaitan antara akhlaq dan perilaku, Imam Al-Ghazali menulis dalam Ihya’ ‘Ulumuddin, “Akhlak merupakan ungkapan keadaan yang melekat pada jiwa dan darinya timbul perbuatan-perbuatan dengan mudah tanpa perlu berpikir panjang dan banyak pertimbangan.”

Agar tak salah arah, marilah kita tengok pendapat dari Imam Qurthubi rahimahullah (600–671 H/1204–1273 M). Menurut Imam Qurthubi, akhlak adalah adab atau tata krama yang dipegang teguh oleh seseorang sehingga adab atau tata krama itu seakan menjadi bagian dari penciptaan dirinya.

Dalam peristilahan sekarang, adab meliputi manner & etiquettes (tata krama & etiket). Ia bukan sekadar serangkaian perilaku. Di dalamnya juga terkandung sikap. Ini berarti proses pembentukan adab (ta’dib) memerlukan beberapa unsur, yakni menumbuhkan sikap batin yang baik, melakukan serangkaian pembiasaan yang terkait, menanamkan ilmu sehingga perilaku yang muncul sebagai kebiasaan bukan hanya bersifat fisik dan mekanik, menumbuhkan motivasi serta menunjukkan fadhilah dari adab tersebut.
Wallahu a’lam bishawab.

Dalam Ta’limul Muta’allim karya Syaikh Burhanuddin Az-Zurjani, adab merupakan pilar utama menuntut ilmu. Agar seseorang dapat menuntut ilmu dengan baik, hal pertama yang harus dimiliki oleh murid sekaligus ditumbuhkan oleh guru adalah adab. Proses pembentukan adab (ta’dib) merupakan tahap penting menyiapkan murid menuntut ilmu sekaligus menumbuhkan akhlak mulia dalam diri mereka. Adab merupakan pilarnya dan keyakinan pada dien merupakan fondasi yang sangat penting. Keyakinan itu bersifat afektif. Bukan kognitif. Jika keyakinan telah tumbuh, maka pemahaman secara kognitif akan menguatkannya. Sebaliknya tanpa menyadari dan meyakini, pemahaman yang mendalam pun tidak mempengaruhi sikap, apalagi sampai ke perilaku.

Nah, yang terjadi sekarang, begitu masuk sekolah anak-anak langsung belajar. Tak ada proses membentuk adab pada diri mereka sehingga tak ada kesiapan belajar, pun tak ada bekal awal untuk membentuk akhlak dalam diri mereka. Begitu masuk sekolah, serta merta mereka harus belajar untuk tujuan akademik sebelum sikap dan motivasi belajar mereka dibangun. Padahal sekolah seharusnya menyiapkan mereka terlebih dulu untuk memiliki sikap dan motivasi belajar yang baik. Ada proses perubahan yang terencana; dari segi mental mereka punya motivasi akademik yang baik, sedangkan dari aspek tata krama dan etiket mereka memiliki kesiapan belajar. Bagusnya memudahkan belajar secara akademik, memudahkan pula pembentukan akhlak.

Menarik untuk kita renungkan bahwa Rasulullah Shallallahu’alaihi wassalam diutus untuk menyempurnakan akhlak. Tetapi apakah yang dilakukan di masa awal risalah dakwahnya? Bukan akhlak yang lebih dulu dibangun, tapi aqidah!

Apa artinya?
Akhlak merupakan cerminan keyakinan yang telah melekat kuat dalam jiwa. Bukan karena bagusnya pemahaman, tetapi karena kuatnya penghayatan. Ia menyandarkan diri pada nilai-nilai tersebut dan berusaha secara sengaja bertindak dan menjalani kehidupan sehari-hari sesuai apa yang ia imani. Boleh jadi seseorang adakalanya bertindak yang tidak sesuai dengan keyakinannya, tetapi ia melakukannya bukan dengan ringan hati. Ia tetap mengingkari perbuatannya dan berusaha agar sesuai dengan dien.

Ada yang perlu kita renungkan tentang pendidikan anak-anak kita. Ada yang harus kita kaji kembali apakah sekolah-sekolah kita sudah melaksanakan proses ta’dib secara sadar, sengaja dan terencana. Jika ta’dib pun tidak, nyaris tak ada yang bisa kita harapkan. Dan ini merupakan tanggung-jawab seluruh unsur sekolah, terlebih guru yang setiap hari bertemu anak-anak. Jika adab hanya menjadi tanggungjawab guru yang mengampu mata pelajaran terkait agama dan budi pekerti, maka ketahuilah bahwa di sekolah tersebut tak ada pendidikan. Ia hanya lembaga kursus yang bernama sekolah. Dan ini bukan pendidikan yang sebenarnya (the real education).
Semoga bulan depan kita dapat bertemu kembali untuk membincang ruang lingkup adab. InsyaAllah. Doakan saya.

Inside teks (inspiring word):
Adab merupakan pilarnya dan keyakinan pada dien merupakan fondasi yang sangat penting. Keyakinan itu bersifat afektif. Bukan kognitif. Jika keyakinan telah tumbuh, maka pemahaman secara kognitif akan menguatkannya.

SUARA HIDAYATULLAH MARET 2012

Mengawali Ta’dib


Adab pilarnya, aqidah landasannya. Kuatnya fondasi memudahkan kita membangun apa saja, setinggi apa pun di atasnya. Tegaknya pilar mengokohkan bangunan yang kita dirikan, baik melebar maupun meninggi, tanpa menjadikannya retak, rapuh, dan goyah. Lemah pilar tapi kuat fondasi, menyebabkan sulitnya kita membangun sesuai harapan. Fondasi tetap ada, tetapi makin tinggi makin berat beban yang harus ditanggung.

Maka pilar dan fondasi harus sama-sama kita perhatikan dengan baik. Kuat pilar lemah fondasi, menjadikan mereka tahu dan bersemangat terhadap kebaikan, tetapi mereka sulit mewujudkan apa yang menjadi keyakinannya. Kuat pilar lemah fondasi menjadikan perilaku mereka tampak baik, sikap mereka mengagumkan, tetapi ia sesungguhnya lemah. Mudah merobohkan apa yang telah ada. Jika pun kebaikan itu tetap mereka kerjakan, boleh jadi tak bernilai karena berbagai kebaikan itu tanpa niat yang lurus semata-mata untuk Allah Ta’ala dan karena Allah Ta’ala.

Karenanya, ta’dib (proses pembentukan adab) di sekolah menjadi keharusan, sebagaimana tidak adanya tawar menawar dalam masalah penanaman aqidah. Dan yang paling mendesak sekaligus mendasar untuk dibangun adalah tauhid dan niat.
Pertanyaannya, bagaimana mungkin? Bukankah anak-anak usia TK dan SD kelas bawah merupakan usia bermain? Jawabnya, jika anak telah memiliki antusiasme belajar, punya gairah bersekolah yang sangat tinggi, apakah belajar menjadi beban baginya? Lihatlah, adakah anak-anak mengeluh ketika mereka menirukan orang dewasa berdemonstrasi atau melakukan long march? Tidak. Kenapa? Karena mereka bersemangat.

Mari kita ingat sejenak nasehat Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah. Dalam Tuhfat al-Maudud bi Ahkam Al-Maulud mengatakan, “Diawal waktu, ketika anak-anak mulai bisa bicara, hendaknya mendiktekan kepada mereka kalimat laa ilaha illa llah muhammadurrasulullah, dan hendaknya sesuatu yang pertama kali didengar oleh telinga mereka adalah laa ilaha illallah (mengenal Allah) dan mentauhidkan-Nya. Juga ajarkan kepada mereka bahwa Allah bersemayam di atas singgasana-Nya yang senantiasa melihat dan mendengar perkataaan mereka, senantiasa bersama mereka dimanapun mereka berada.”

Catatan penting, menanamkan tauhid dan membangun niat yang lurus dan kokoh pada anak bukan berarti penyampaian secara kognitif agar mereka memahami dengan baik. Pada usia TK dan SD kelas bawah, belum saatnya memberi pembelajaran aqidah dengan penekanan secara kognitif. Yang mereka perlukan adalah dorongan, motivasi, dan sentuhan hati agar mereka mengingini, mencintai dan bersemangat memegangi sekaligus melakukan apa-apa yang diserukan oleh agama. Ini yang paling pokok.

Mari kita ingat ketika Rasulullah Shallallahu’alaihi wassalam menasehati Ibnu Abbas RA yang ketika itu masih kecil. Apa hal pokok yang beliau tanamkan ke dalam dada Ibnu Abbas? Tauhid. Keyakinan yang kuat bahwa tidak ada yang dapat memberikan maslahat dan madharat kecuali Allah ‘Azza wa Jalla. Ini pula yang seharusnya kita bekalkan kepada anak-anak kita. Di sekolah, guru-guru TK dan SD paling bertanggung-jawab dalam menumbuhkan keyakinan –bukan hanya pemahaman—tentang kekuasaan Allah Ta’ala yang tiada sekutu baginya.

Mari kita renungi pesan Rasulullah kepada Ibnu Abbas, “Wahai anakku, sesungguhnya aku akan mengajarkanmu beberapa kata ini sebagai nasehat buatmu. Jagalah hak-hak Allah, niscaya Allah pasti akan menjagamu. Jagalah dirimu dari berbuat dosa terhadap Allah, niscaya Allah akan berada di hadapanmu. Apabila engkau menginginkan sesuatu, mintalah kepada Allah. Dan apabila engkau menginginkan pertolongan, mintalah pertolongan pada Allah.

Ketahuilah bahwa apabila seluruh umat manusia berkumpul untuk memberi manfaat padamu, mereka tidak akan mampu melakukannya kecuali apa yang telah dituliskan oleh Allah di dalam takdirmu itu.Juga sebaliknya, apabila mereka berkumpul untuk mencelakai dirimu, niscaya mereka tidak akan mampu mencelakaimu sedikit pun kecuali atas kehendak Allah. Pena telah diangkat dan lembaran takdir telah kering.” (Riwayat At-Tirmidzi).

Apa yang dapat kita petik? Keyakinan kepada Allah Ta’ala, menyandarkan diri hanya kepada Allah sehingga tidak merasa lemah di hadapan manusia, serta mengikatkan diri kepada Allah sebagai penentu takdir.

Pada jenjang selanjutnya, pembelajaran secara kognitif untuk memahamkan mereka tentang tauhid dan niat mulai perlu kita berikan. Tetapi kita harus tetap ingat bahwa ta’lim itu bukan hanya memahamkan secara kognitif dan memberi gambaran yang jelas kepada anak. Kita harus ingat bahwa ‘alim adalah seorang yang apabila semakin bertambah ilmunya, semakin bertambah pula rasa takut sekaligus kecintaannya kepada Allah. Ini berarti, ta’lim itu merupakan paket yang memuat pembelajaran secara kognitif, tadabbur untuk menyadari dan menghayati kebesaran serta nikmat Allah, sekaligus nashihah agar mereka merasa takut kepada Allah dan mencintainya dengan penuh keimanan.
Allah Ta’ala berfirman, “Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya, hanyalah ulama. Sesungguhnya Allah Maha perkasa lagi Maha Pengampun.” ( Al-Faathir {35}: 28).

Ini berarti, harus ada langkah penting dalam mendidik anak-anak kita di sekolah. Sekadar perubahan pada mata pelajaran, tak berpengaruh besar pada diri murid. Tanpa guru-guru yang terasah imannya, pelajaran aqidah hanya akan bersifat kognitif saja. Dan ini tidak dapat menjadi landasan yang kokoh bagi proses ta’dib.

Maka, kita memerlukan guru-guru yang mencintai dien ini dan bersemangat belajar dien. Kita memerlukan guru yang meyakini dien ini dan menjadikannya sebagai penimbang, penakar dan penentu apakah gagasan, teori maupun metode yang muncul belakangan dapat kita terima, harus kita tolak seluruhnya atau kita ambil sebagian. Bukan sebaliknya, menakjubi segala hal yang tampak hebat, lalu mencari pembenarannya dalam dien ini.

Jika kita sudah menanamkan tauhid dan membangun niat yang lurus dan kokoh, barulah kita berbincang tentang ruang lingkup adab. Kita melakukan ta’dib sembari terus memberi pendidikan (tarbiyah) untuk masalah tauhid dan niat ini.
Lalu apa saja ruang lingkup yang harus kita perhatikan? Secara sederhana, kita memberikan ta’dib yang mencakup seluruh adab (manner & etiquettes) yang dituntunkan oleh dien ini. Tetapi pada saat awal, yang pertama kali kita tumbuhkan adalah adab terhadap guru, orangtua, orang yang lebih dewasa serta terhadap teman sebaya. Adapun dalam hal apa saja adab harus bangun, salah satu hal pokok adalah adab menuntut ilmu.

Semoga dengan ini, bekal sukses sebagai murid dapat mereka miliki, yakni percaya kepada guru, menghormati (memuliakan) guru serta memiliki ikatan emosi yang sangat kuat terhadap guru.
Wallahu a’lam bish-shawab.

Insert teks
Kita memerlukan guru-guru yang mencintai dien ini dan bersemangat belajar dien. Kita memerlukan guru yang meyakini dien ini dan menjadikannya sebagai penimbang, penakar dan penentu apakah gagasan, teori maupun metode yang muncul belakangan dapat kita terima, harus kita tolak seluruhnya atau kita ambil sebagian. Bukan sebaliknya, menakjubi segala hal yang tampak hebat, lalu mencari pembenarannya dalam dien ini.

SUARA HIDAYATULLAH APRIL 2012

Kuncinya Pada Guru


Apakah yang dapat kita harapkan dari guru-guru yang datang ke kelas hanya untuk menerangkan mata pelajaran? Apakah yang dapat kita minta dari para guru yang datang ke kelas hanya berbekal pengetahuan sederhana? Apakah yang dapat kita jaminkan atas anak-anak kita jika guru hanya peduli jam mengajar? Sementara tentang murid-muridnya, ia nyaris mengenali kecuali sekadar nama, wajah, dan suaranya saja.

Sungguh, kunci keberhasilan guru terutama terletak pada kompetensi sebagai pengajar, baik kompetensi mengajar maupun kompetensi dalam bidang studi yang ia ajarkan. Tapi sungguh, bukan itu yang paling pokok. Ada yang lebih mendasar lagi, yakni adakah kerisauan besar dalam dirinya yang ia hayati sepenuh hati dan ia perjuangkan dengan sungguh-sungguh. Ia risau atas keadaan anak-anak di zaman ini. Ia menginginkan kebaikan yang besar pada diri muridnya. Dan ia menghabiskan waktunya dengan memberi perhatian, berjuang dengan sungguh-sungguh dan belajar secara gigih agar dapat mengantarkan anak didiknya menjadi manusia-manusia terbaik sesuai apa yang ia yakini sebagai kualitas ideal manusia.

Tanpa obsesi yang sangat tinggi untuk mendidik para murid menjadi manusia ideal, maka kegiatan mengajar hanya sekadar rutinitas saja. Begitu pula sekadar mampu merumuskan cita-cita secara tertulis, tapi tidak memiliki ikatan emosi dengan cita-cita tersebut, sulit baginya untuk meluangkan waktu bagi murid-muridnya sekaligus melapangkan telinga untuk mendengarkan penuturan murid dengan sepenuh jiwa. Mengajar hanya sekadar kegiatan fisik saja. Ia tidak membekas pada diri guru, tidak pula pada diri murid.

Jika materi yang mudah diingat saja tak membekas, apalagi dengan adab yang memerlukan kesabaran, dorongan, dukungan, dan pendampingan dalam membentuknya. Maka, kunci sangat penting memulai ta’dib (proses pendidikan adab) adalah guru. Adakah para guru yang melakukan ta’dib memiliki kecintaan terhadap murid-muridnya? Adakah para guru amat mengingini bagusnya akhlak anak didik? Bukan agar mudah menangani mereka, tetapi karena mengingini keselamatan anak didik di Yaumil-Qiyamah. Tampaknya tipis perbedaannya, tetapi jauh sekali akibatnya. Merisaukan akhlak anak didik karena mengingini keselamatan mereka di akhirat mendorong kita lebih sabar menghadapi kesulitan. Sementara merisaukan akhlak hanya karena mengingini penanganan anak jadi lebih mudah, membuat kita mudah berpuas diri. Mencukupkan diri dengan yang tampak dan mudah abai terhadap apa yang kurang.

Berkenaan dengan keprihatinan yang amat dalam ini, teringatlah saya dengan firman Allah Subhanahu wa Ta’ala, “Sesungguhnya telah datang kepadamu seorang rasul dari kaummu sendiri, berat terasa olehnya penderitaanmu, sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) bagimu, amat belas kasihan lagi penyayang terhadap orang-orang mukmin.” (At-Taubah [9]: 128).

Sangat mengingini keimanan dan keselamatan. Inilah perkara penting yang harus dimiliki oleh seorang guru yang benar-benar berkeinginan membangun adab pada diri murid-muridnya. Ia bersungguh-sungguh mendidik, memiliki belas-kasih lagi penyayang. Kecintaan itu memang ada di dalam hati. Begitu pula besarnya keinginan untuk membaguskan murid-murid. Tapi ia amat berpengaruh pada kata yang kita ucapkan, adakah ia menjadi perkataan yang membekas ataukah sekadar lewat saja.

Selebihnya, seorang guru perlu memperhatikan adab-adab mengajar. Semoga Allah Ta’ala mudahkan upaya membangun adab pada diri murid.

Lalu, apa saja yang penting untuk diperhatikan:

Tulus Mengajar
Bekal penting yang harus dimiliki oleh setiap guru adalah ketulusan mengajar. Tidak berharga suatu amal tanpa keikhlasan. Boleh jadi seorang guru memang bekerja pada sebuah lembaga pendidikan. Tetapi di atas itu semua, ia adalah orang yang sangat berpengaruh dalam menempa jiwa anak didik. Maka lebih dari sekadar tugas mengajar, ia harus memiliki ketulusan yang amat dalam sehingga ringan hatinya menyambut kehadiran dan keingintahuan anak didiknya.

Sama pentingnya dengan ketulusan adalah bagusnya penyambutan terhadap anak didik sehingga mereka merasa dicintai oleh gurunya atau pengasuhnya di asrama. Inilah yang akan melahirkan rasa hormat pada diri anak didik terhadap guru. Ini pula yang menjadikan anak didik lebih mudah menerima nasehat dan ilmu dari guru.
Tentang menyambut penuntut ilmu, teringatlah saya pada Hadits yang diriwayatkan oleh Imam Ath-Thabrani dari Shafwan bin ‘Asal Al-Muradi. Ia berkata, ”Saya mendatangi Rasulullah Shallallahu’alaihi wassalam dan beliau di masjid bersandar dengan memakai burdah merah. Saya berkata kepada beliau, ‘Ya Rasul Allah, saya datang untuk menuntut ilmu.”

Beliau bersabda, “Selamat datang penuntut ilmu! Sesungguhnya penuntut ilmu dinaungi oleh para malaikat dengan sayapnya, kemudian mereka saling menumpuk hingga langit dunia, karena kecintaan mereka terhadap apa yang dia pelajari.” (Riwayat Ath-Thabrani).

Ketulusan mengajar itu juga ditampakkan dengan sikap saat bicara, ditampakkan juga saat mendengar murid berbicara. Bukankah kita ingat bagaimana Rasulullah mencondongkan badan ketika mendengarkan lawan bicara?

Tawadhu’
Salah satu kunci sukses seorang murid adalah hormat kepada guru. Dan rasa hormat kepada guru ini akan tertancap lebih kuat dalam diri murid jika ia memiliki seorang guru yang tawadhu’, guru yang rendah hati. Bukan rendah diri. Bukan pula yang gila hormat dan selalu ingin didengar. Faktor yang sangat menentukan keberhasilan murid memang kesediaan dan kesungguhan mendengarkan ucapan gurunya. Tetapi pada saat yang sama, guru juga perlu menjadikan dirinya sebagai sosok yang pantas untuk senantiasa didengar dan dipatuhi oleh muridnya.

Mari kita ingat sejenak perkataan Anas bin Malik tentang pribadi Rasulullah. Ia berkata, “Tidak ada orang yang paling dicintai oleh para Sahabat melebihi Rasulullah. Walau begitu, ketika melihat Rasulullah mereka tidak berdiri karena mengetahui bahwa Rasulullah tidak menyukai hal itu.” (Riwayat Bukhari, Ahmad, At-Tirmidzi & Adh-Dhiya’ Al-Maqdisi).

Hadis ini memberi pelajaran kepada kita tentang sosok guru paling sempurna, Rasulullah. Kecintaan para muridnya –para Sahabat radhiyallahu ‘anhum ajma’in– tak diragukan lagi. Tetapi kecintaan yang besar itu tidak menyebabkan mereka berdiri menghormat. Ini merupakan salah satu saja dari sekian banyak pertanda tentang kerendah-hatian beliau sehingga justru menjadikan beliau makin dicintai.

Rasulullah bersabda, “Barangsiapa yang suka untuk disambut dengan cara berdiri, maka hendaklah ia menyiapkan tempat duduknya di api neraka.” (Riwayat Abu Dawud).

Mengenali Murid
Hal lain yang perlu dimiliki guru adalah kesediaan dan keinginan untuk mengenali pribadi muridnya dengan baik. Bukan hanya tahu nama dan wajah. Jangankan berbicara dalam konteks pendidikan adab, lebih khusus lagi pendidikan Islam, bicara pendidikan secara umum pun pengenalan yang baik terhadap murid memegang peranan penting. Banyak masalah yang berkembang di kelas maupun asrama karena guru tidak memiliki pengenalan yang baik terhadap murid, sehingga tidak mampu membaca apa yang sedang menjadi keresahan muridnya. Kadang guru bahkan seperti tak peduli dengan keadaan murid.

Pengenalan yang baik terhadap murid memudahkan guru bertindak secara lebih tepat. Selain itu, juga meringankan hati mereka untuk lebih toleran terhadap murid.

SUARA HIDYATULLAH MEI 2012

Wejangan ‘Cinta-Kerja-Harmoni’ Habibie di acara Diaspora Berlin 2013


Oleh: Tieneke Ayuningrum
Alhamdulillaah kemarin kami diberi kesempatan utk bertemu dengan Bapak Habibie di acara Diaspora BerliN 2013. Pesan2 dari beliau, saya coba utk rangkumkan dan share di sini.
“Wejangan Prof Habibie di acara Diaspora Berlin 2013″
Rangkuman ini sebenarnya adalah gabungan dari wejangan Prof Habibie yang disampaikan langsung pada acara Diaspora Berlin, 25 Mei 2013, dari Buku yang beliau tulis berjudul ‘Habibie & Ainun’ serta dari film tersebut yang juga ditayangkan kemarin, ditulis sesuai versi penulis.
Seperti kita ketahui bersama bahwa tanah air kita sangat kaya akan sumber daya alam (SDA) dan sumber daya manusia (SDM). Sangat ironis dimana negara yang kaya raya ini memiliki index kesejahteraan yang rendah. Selain itu kita juga tidak ingin bergantung kepada kekayaan alam yang dimiliki negara kita. Kita ingin negara ini sejahtera dari hasil pembangunan SDM nya.
Kita juga bukan negara pengemis. Suatu permasalahan tidak boleh dikaitkan dengan kurangnya dana. Ide dan kreativitas serta kerja adalah modal yang lebih dari segalanya dan itu harus kita buktikan. Demikian ‘Eyang‘ dan ‘Ayah‘ kita Prof Habibie mengatakan.
Beliau memotivasi kita semua bahwasanya kita semua adalah sama seperti beliau, artinya apa yang beliau telah raih, dapat kita raih pula. Bahkan seharusnya sebagai ‚anak‘ atau ‚cucu‘ kita lebih baik dari beliau, karena itu berarti sebagai ‘Eyang‘ beliau berhasil mewariskan nilai2 dan mendidik keturunannya. Sebuah motivasi yang sangat berharga bagi kita semua.
Kata-kata beliau sungguh sangat ‘merangkul’ semua kalangan dan beliau berpesan jangan sampai hal-hal yang berbau ‘SARA’ ditonjolkan sehingga menimbulkan permusuhan dan menghambat kemajuan yang ingin dicapai.
Beliau juga bercerita bahwa Helmut Schmidt (Bundeskanzler / kanselir ke 5 yang lahir di Hamburg, Heimat keduanya beliau :-)) yang cukup dekat dengan beliau, mengatakan bahwa seharusnya beliau tidak hanya berkutat dengan pesawat terbang, tapi juga dengan falsafat (maksudnya Herr Schmidt sangat tertarik berbincang-bincang dengan Herr Habibie, tertarik dengan falsafat yang beliau miliki). Tidak hanya Herr Schmidt, Margaret Thatcher juga pernah mengatakan hal yang sama.
Saat berbincang dengan Herr Schmidt, beliau ditanya: berapa lama hidup bersama Ibu Ainun, istri beliau?, dijawab: “48 tahun, 10 hari“. Herr Schmidt balik menjawab: “Kalau saya 58 tahun hidup bersama istri saya!“. Kemudian Habibie ditanya lagi: “Sejak kapan kenal dengan Ibu Ainun?“. Dijawab: “Sejak SMP“. Kemudian Herr Schmidt berkata lagi: “Kalau saya kenal istri saya sejak Kindergarten! (TK)“.
Penulis jadi ingin menyimpulkan sendiri, bahwa betapa kesuksesan itu tidak lepas dari keluarga. Bahwa kesuksesan keluarga itu diikuti oleh kesuksesan-kesuksesan berikutnya. Siapa yang bisa menghargai ‘teman hidup‘ yang telah dipilihkan Alloh kepadanya, maka ia telah diberi hikmah yang besar sebagai modal menapaki kesuksesan berikutnya.
Kemudian Pak Habibie menekannya juga bahwa keberhasilan yang beliau raih tidak lepas dari support dua wanita besar yang menemani beliau, yaitu Ibunda Habibie dan Istri beliau: Ibu Ainun.
Dari sekian kesuksesan yang beliau raih, tentu yang juga mengesankan adalah Award yang pernah beliau dapatkan dari Ikatan aeronautic sedunia yang didirikan oleh di Amerika pd thn 1944, sebelum perang dunia kedua. Setiap 50 tahun sekali, organisasi tersebut memberikan medali emas bagi orang yang terpilih berdasarkan kriteria-kriteria tertentu. Th 1994 Prof Habibie terpilih, padahal beliau tidak menduga sama sekali, dan saat di minta memberikan sambutan, beliau memulai dengan bismillah serta mengatakan pada kesempatan itu bahwa kemajuan teknologi bukan hanya menjadi hak orang kaya. Beliau membuktikan bahwa beliau yang berasal dari negara dunia ketiga berhasil meraihnya. Suatu motivasi lagi dari beliau yang sangat berharga untuk kita semua.
Beliau mendapatkan tiga buah pertanyaan saat itu (tapi yang penulis ingat hanya satu. Ketiga nya tercantum juga dalam buku beliau ‘Habibie & Ainun’. Pertanyaan pertama: Pada saat conggress Aeronautics yang pertama kali didirikan tahun 1944 pukul 10 pagi di USA, saat itu beliau sedang apa? Beliau menjawab : “saat itu yang bersamaan dengan pukul 8 malam saya sedang berada di dalam rumah panggung di Bugis di kampung halaman saya dekat dengan kali. Saya sedang mengaji sehabis solat Isya”.
Menjadi renungan tersendiri bagi penulis. Bahwa apakah kita sudah mendidik anak-anak kita cinta dengan Al Qur’an, sehingga mereka sudah pandai membaca Al Qur’an dan setelah mereka solat wajib, mereka membacanya?
Rasanya saat itu kami tidak ingin berhenti mendengarkan wejangan beliau. Namun karena waktu terbatas yang diberikan, beliau harus mengakhiri sambutannya. Beliau sempat mengatakan bahwa sebuah perusahaan itu bisa diibaratkan dengan manusia… saat lahir: didambakan, dido’akan, dibesarkan dengan sebuah harapan dan cita2 besar. Saat sakit: diobati. Dan saat meninggal : ditangisi, dan didoakan. Demikian pula halnya dengan perusahaan saat sakit: disembuhkan, saat bankrupt diobati. Tapi kalau ditutup itu namanya criminal.
Tentu saja kita semua bisa membayangkan, apabila Indonesia yang kaya SDA dan SDM tadi sudah bisa mandiri dari segi teknologi…? Dan saat itu kita sudah mencapainya. Namun yang terjadi??? Air mata ini tidak terasa menggenang di mata.
Sore hari, acara diapora Berlin 2013, menampilkan pemutaran Film Habibie dan Ainun. Di akhir pemutaran film tsb, beliau memberikan ‘bekal‘ kepada kita semua.
Saat menonton film tersebut kita bisa melihatnya sendiri bahwa beliau memulai semuanya dari Nol. Beliau datang ke rumah gadis ‘Ainun‘ dengan becak, sementara pemuda-pemuda lainnya dengan mobil. Kemudian Ainun beliau bawa ke jerman. Saat itu mau pulang ke appartment dari institut di musim Winter naik bus saja tidak jadi, karena uang di dompet tidak cukup. Berjalan kaki di atas salju dengan sepatu yang robek… (*nangis* )
Sepuluh tahun… sepuluh tahun sebelum beliau dipanggil pulang oleh President Suharto, beliau capai dengan SYNERGY. Ya beliau memesankan kepada kita untuk bersynergy: bersynergy dengan istri/pasangan. Apabila kita bisa bersynergy dengan pasangan. Maka satu tambah satu bisa menghasilkan 1 juta atau lebih. Sebaliknya bila kita tidak bisa bersynergy maka satu tambah satu bisa minus. Kemudian bersynergy dengan anak-anak dan keluarga kita, serta dengan pekerjaan kita, dengan masyarakat di sekeliling kita dan dengan lawan kita.
Beliau juga berpesan dan menekankan, bahwa semua itu (synergy) bisa dilakukan dengan CINTA. Kemudian Tanpa perlu beliau katakan, karena di film kita sudah lihat sendiri, pesan beliau juga adalah KERJA. Sejak kuliah, menghasilkan penemuan-penemuan, bekerja, kembali ke Indonesia mendirikan IPTN, dipilih menjadi Mentri, Wapres dan PRESIDENT, beliau sering tertidur di meja kerjanya karena Workoholic.
Demikian yang bisa penulis ringkaskan. Semoga pesan beliau bisa diamalkan oleh semua ‘anak‘ dan ‘cucu‘ beliau. Semoga semangat, cita-cita dan prestasi, filsafat, keberhasilan beliau bisa diwariskan kepada kami semua putra putri Indonesia. Semoga bangsa Indonesia bisa menjadi bangsa yang mandiri dalam teknologi, sejahtera adil makmur dan religious.
Tambahan buat teman-teman yang berada di luar Indonesia dan suka mendapatkan perlakuan sinis (di underestimate), kita bisa lihat di film tersebut, bahwa Pak Habibie juga sering mendapatkannya sewaktu di jerman. ‘Kleine Asiate, du wirst nicht schaffen’ (org asia yg kecil, kamu tidak akan berhasil). Tapi beliau tidak berkecil hati, melainkan menjadikan hal itu sebagai ‘penyemangat’ dan akhirnya sukses.

Allahu a’lam bishawab.

Menjadikan Anak Suka Membaca


oleh Mohammad Fauzil Adhim (Catatan) pada 23 Mei 2013
 
Cara Nabi Mengatasi Kemandulan

Anak saya tujuh. Sebelum anak pertama lahir, salah satu obsesi kami memang ingin menjadikan anak senang membaca. Untuk itu, saya berusaha mempelajari berbagai teori tentang mengajarkan membaca kepada anaksejak usia paling dini. Ada berbagai macam literatur, tetapi intinya anak-anak memerlukan buku-buku yang secara khusus dirancang untuk anak, berbahan tebal, warnanya atraktif, sedikit tulisan banyak gambar (wordless picture book) dan yang jelas: harga buku semacam itusangat mahal untuk ukuran kami yang baru menikah. Apalagi sama-sama masihkuliah.

Tapi demi sebuah cita-cita, kami tetap berusaha membeli buku-buku yang khusus dirancang untuk anak tersebut. Mahal memang, tapi cita-cita memang memerlukan pengorbanan. Kami bacakan buku kepada anak pertama saya, Fathimatuz Zahra, semenjak kira-kira usia 6 minggu. Bisa apa anak di usiaitu? Yang paling pokok bukan bisa atau tidak. Yang paling penting ketika itu adalah membentuk reading pattern (pola membaca) sehingga anak “memiliki kebutuhan membaca” pada waktu-waktu tersebut. Kami membacakan buku untukFathimah sehabis memandikannya, serta saat anak menetek mau tidur. Ini kemudian memang menjadi pola di usia-usia berikutnya. Ini pula yang berperan penting menjadikan anak suka membaca sehingga usia 4 tahun sudah lancar membaca. Tetapi mampu membaca di usia 4 tahun sama sekali bukan target. Tidak penting usia berapa membaca. Yang paling penting adalah ada tidaknya, kuat tidaknya, sikap positif terhadap membaca yang akan berperan penting membentuk budaya membaca.

Saya justru menghindari mengajari anak agar terampil membaca sebelum usia 7 tahun. Dari berbagai riset dan pengalaman berbagai negara maju, pembelajaran membaca secara formal sebaiknya dimulai usia 7 tahun. Jika anak lancar membaca sebelum masuk sekolah dasar, itu semata karena anak sangat tertarik membaca sehingga akhirnya terdorong untuk belajar membaca.

Lebih baik terampil membaca belakangan, tetapi minat baca sangat besar dan rasa ingin tahu terhadap ilmu begitu tinggi daripada lancar membaca saat masih TK, tapi baru di sekolah menengah saja gairah mereka membaca sudah tidak ada. Ini bisa terjadi manakala kita hanya sibuk mengajari membaca. Bukan membuatnya tertarik.

Saya tidak berpanjang-panjang dengan masalah ini. Kembali pada pengalaman mengasuh anak agar suka membaca. Jika pada anak pertama dan kedua kami memang berusaha keras agar dapat membelikan buku-buku yang khusus dirancang untuk anak, belakangan kami lebih menekankan pada bagaimana anak akrab dengan suasana membaca. Sehari-hari anak melihat bahwa membaca itu asyik,membaca itu membuka wawasan dan menambah pengetahuan, membaca itu jalan untuk meraih ilmu yang bermanfaat. Medianya tak harus buku yang khusus dirancang untuk anak. Kami menceritakan apa saja yang kami baca, berdiskusi atau merisaukan apa yang dibahas di surat kabar maupun buku, dan kadang melibatkan anak dalam pembicaraan penting yang ada di buku. Kami sering menjadikan buku sebagai acuan; sumber rujukan. Disamping itu, anak memang akrab dengan buku. Dimana-mana ada buku; ruang tamu, kamar pribadi, ruang tengah, mobil dan tas untuk bepergian ada buku. Ini memberi “pesan” kepada anak bahwa buku itu penting.

Pada anak-anak berikutnya, kami membacakan tidak secara khusus buku untuk anak seusianya. Dalam buku Membuat Anak Gila Membaca, memang kami sempat membahas bahwa kita perlu membacakan buku benar-benar sesuai usianya. Tapi dalam perkembangannya, kami mendapati tidak demikian. Menjadikan anak suka membaca tidak harus dengan mengeluarkan uang besar untuk membeli buku-buku eksklusif. Yang paling penting adalah kesediaan kita mendampingi anak membaca. Itu sebabnya, buku ini untuk sementara dihentikan peredarannya. InsyaAllah setelah revisi akan kembali terbit di Pro-U Media, Yogyakarta.

Ada memang sejumlah buku yang “khusus anak usia balita”. Ini sisa kakaknya, meskipun sudah banyak yang sobek. Ada juga hadiah. Tapi yang paling penting adalah mengakrabkan dan menjadikan anak merasa bahwa buku sangat berharga. Ini akan lebih mudah lagi manakala di rumah tidak ada TV.

Jika untuk menjadikan anak suka membaca tak harus berbiaya tinggi, mengapa kita harus grogi sebelum memulai? Koran bekas, kertas yang sudah tak terpakai dan buku apa pun yang bagus isinya meskipun seakan bukan untuk anak, semuanya merupakan media mengenalkan membaca kepada anak sekaligus menjadikan mereka suka baca.

Murah bukan?