Belajar Dari Nabi Yunus


185083_10150878317268757_1243770406_nHari itu Nabi Yunus marah. Ia pergi meninggalkan kaumnya, padahal Allah menugaskan ke sana. Jibril menyuruh Yunus segera berangkat ke penduduk Ninawa, di wilayah Mosul atau Irak sekarang. Para penduduk itu menyembah berhala, sehingga adzab Allah akan diturunkan. Yunus diperintahkan untuk mengingatkan para penduduk itu lalu mengajak kembali ke jalan yang lurus.

Yunus meminta sejenak mencari kendaraan tunggangannya. Jibril tidak mengijinkan, “Urusannya lebih penting dari itu,” kata Jibril. Lalu Yunus meminta ijin untuk mencari sandalnya. Jibril tetap menolak. “Perkaranya sangat mendesak,” jelas Jibril. Maka Yunus pun marah, ia malah pergi menaiki kapal.

Namun kapal itu kemudian ditimpa badai topan yang sangat kencang. Orang-orang berkata, “Ini pasti karena dosa dan kesalahan salah seorang dari kalian.”

Yunus pun menunjuk diri, menyatakan bahwa dirinyalah yang salah. “Ini kesalahanku, lemparkanlah aku ke laut.” Tetapi entah mengapa orang-orang tidak percaya begitu saja, mungkin karena Yunus orang terpandang. Angin terus bertiup kencang, kapal nyaris tenggelam. Yunus sekali lagi menyatakan, dirinyalah yang berbuat kesalahan, sehingga layak dilempar ke laut agar menyelesaikan permasalahan. Tetapi orang-orang masih tetap tidak mau. Sampai akhirnya mereka membuat undian. Siapa yang keluar namanya, dialah yang akan dilempar ke laut.

Kali pertama undian, Yunuslah yang keluar namanya. Dicoba lagi, Yunus lagi yang keluar. Untuk ketiga kalinya mereka mencoba, dan nama yang keluar masih juga Yunus. Akhirnya Yunus pun dibawa ke tepian kapal. Saat itu seekor ikan besar telah siap menelan. Mulutnya terbuka lebar dan Yunus pun melompat menceburkan diri. Seketika iapun ditelan ikan besar tersebut. Hari-hari selanjutnya adalah hari-hari penuh pengakuan akan kesalahan, sebelum kemudian Allah mengampuninya dan mengeluarkannya dari perut ikan.

Begitu banyak riwayat yang menjelaskan kisah Nabi Yunus. Tetapi satu hal yang patut digaris bawahi di sini; bahwa ia telah mengajarkan kepada kita tentang pentingnya mengakui kesalahan. Meskipun kesalahan itu tersembunyi sebab tidak ada orang lain yang mengetahuinya, atau bahkan orang lain itu membela kita.

Dalam hidup ini, ada rahasia yang sangat pribadi dari setiap diri. Namun hanya orang-orang berjiwa besar yang berani jujur pada dirinya dan tentunya pada Allah. Mengakui segenap kesalahannya, menyadarinya serta bersegera memohon ampun pada Allah. Sebab perasaan bersalah itulah yang menjadi pintu pertama untuk memperbaiki diri. Seperti halnya doa nabi Yunus saat ia berada dalam perut ikan; “Bahwa tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Engkau. Maha suci Engkau, sesungguhnya aku adalah termasuk orang yang dzalim.”

Sumber: tarbawi

Rindu dan Duka di Awal Pertemuan


Oleh Muhammad Lili Nur Aulia

Suatu ketika, Ali radhiallahu anhu berseru, “Apakah aku termasuk orang yang diterima amalnya? Aku ucapkan selamat untuk diriku. Kalau tidak, aku berduka cita…” itu ucapan di akhir malam bulan Ramadhan. Tentang harapan sekaligus kekhawatiran terhadap amal-amal yang telah dilakukan sepanjang bulan penuh berkah. Tentang kegembiraan sekaligus kedukaan ketika Ramadhan menjelang pergi meninggalkannya.

Saudaraku,
Ramadhan. Dia datang dan terus berjalan. Hari-harinya berlalu. Lembar demi lembarnya terbuka satu demi satu. Kebaikan demi kebaikan yang kita lakukan tercatat. Lembar amalan pun terangkat. Hingga saatnya, Ramadhan pun pergi kembali meninggalkan kita.
Rasakanlah kegetiran perpisahan dengan bulan mulia, sejak hari-hari Ramadhan masih bersama kita. kita perlu menyadari keadaan ini, sebab hari ini pasti tiada berbeda dengan hari kemarin. Dengan jam, menit dan detik yang terus berputar dan tidak pernah kembali. Jika kemarin kita sangat mendambakan dan merindukan Ramadhan, maka kita sekarang sudah bertemu dengannya. Dan esok, kita pasti akan ditinggalkannya. Seperti juga kita dan Ramadhan tahun lalu.
Dahulu, orang-orang shalih sangat berduka dengan kepergian Ramadhan. Mereka bermunajat, berdo’a, begitu takut bila amal-amalnya tidak diterima oleh Allah swt. Mereka pun memohon agar Allah swt yang Maha Kasih, Yang Maha Pemberi mengabulkan pinta mereka. Sebagaimana firman Allah swt dalam surat Al Mukminun ayat 60, “Dan mereka memberikan apa yang telah mereka berikan, dengan hati yang takut, (karena mereka tahu bahwa) sesungguhnya mereka akan kembali kepada Tuhan mereka. Artinya, mereka melakukan amal shalih, tapi hati mereka tetap takut dan khawatir bila amal-amal mereka tidak diterima oleh Allah swt.

Saudaraku,
Kesedihan berpisah dengan bulan Ramadhan juga disalurkan oleh salafushalih dengan terus berdoa sepanjang enam bulan setelah Ramadhan, agar Allah swt menerima amalan-amalan Ramadhannya. Berpikir tentang apakah amal-amal yang telah dilakukan benar-benar diterima oleh Allah swt ataukah tidak, merupakan perilaku para salafushalih. Mereka bahkan memandang bahwa memikirkan apakah amal mereka diterima atau tidak, itu lebih berat ketimbang menjalani amal ibadah itu sendiri. Ali bin Abi Thalibb radhiallahu anhu mengatakan, “Jadilah kalian orang yang memiliki perhatian yang lebih besar agar amal-amal kalian diterima, daripada perhatian kalian amal-amal yang kalian lakukan. Apakah kalian tidak mendengar firman Allah swt, “Sesungguhnya amal yang diterima oleh Allah swt hanyalah dari orang-orang yang bertaqwa.”
Ibnu Rajab rahimahullah mengomentari hal yang sama dengan ungkapan berbeda. Katanya, “Para shalihin dahulu begitu bersungguh-sungguh menyempurnakan dan melengkapi amal. Setelah itu mereka fokus bersungguh-sungguh memohon agar amal-amal mereka diterima oleh Allah. Merekalah yang disebut oleh Allah swt dalam firman-Nya, “Memberikan apa yang mereka terima dan hati mereka dalam kondisi yang khawatir.” Seperti juga, Abdul Aziz bin Abi Rawad mengatakan, “Aku mengetahui bagaimana kondisi orang-orang shalih itu dalam beramal. Jika mereka sudah melakukan amal shalih, mereka gelisah apakan amal mereka diterima atau tidak?”

Saudaraku,
kita perlu mengetahui dan mengingat-ingat hal ini, di saat Ramadhan masih bersama kita. kita perlu memikirkan kepergian Ramadhan sejak Ramadhan baru saja datang dan menjumpai kita. kita perlu membayangkan  kedukaan atas berlalunya Ramadhan, sejak ketika kita masih bersamanya.
Lihatlah, perhatikanlah, renungkanlah. Bagaimana hari-hari Ramadhan begitu cepat bergulir. Apakah sudah ada taubat nashuha kita saat ini, sehingga kita membuka kembali lembaran hidup baru yang lebih jernih setelah kepergian Ramadhan? Apakah Ramadhan akan menjadi alasan bagi kita menghadap Allah dengan rangkaian amal shalih yang kita lakukan di dalamnya, diterima oleh Allah swt? Atau justru Ramadhan menjadi peristiwa yang menjauhkan kita dari ampunan-Nya, karena kita lalai dan mengabaikan keluarbiasaan di bulan ini?

Saudaraku,
tangisan mungkin saja tumpah Karena kepergian Ramadhan. Tapi tak pernah juga menjadikan Ramadhan kembali kita temui, kecuali setelah satu tahun berselang, dan jatah usia kita ada ketika itu.
Mari perbaharui niat, dan tekad untuk meningkatkan amal-amal ibadah di hari-hari ini. mari kuatkan hati dan jiwa untuk terus menghidupkan malam-malamnya. Agar Allah swt benar-benar menyaksikan kebaikan yang kita lakukan di bulan ini. Agar ketakwaan benar-benar menjadi predikat kita sepeninggal Ramadhan. Mari saudaraku, kita berlomba mendekati Allah….

Saudaraku,
masih mungkinkah kita menangis di hari-hari ini? atas kelalaian, dosa, kekurangan yang selalu ada di sepanjang usia kita? para salafushalih mengatakan, “Rintihan tangis pendosa yang bertaubat, lebih dicintai oleh Allah swt daripada gemuruh orang-orang yang bertasbih. Sebab rintihan tangis dilakukan dengan hati hancur dan penuh hina di hadapan Allah swt. Sedangkan gemuruh tasbih mungkin dilakukan dengan kebanggaan.”

Majalah Tarbawi

Kasih Sayang Allah Kepada Wanita Shalihah, Penderita Kanker Di Paha


Ini adalah kisah seorang wanita shalihah yang sangat takwa kepada Allah. Ia amat gemar berbuat kebajikan, tidak putus-putus mengingat Allah, tidak sudi keluar dari mulutnya kata-kata yang tak pantas. Bila disebut api neraka, ia lantas ketakutan luar biasa dan sangat cemas hatinya, ia angkat tangannya seraya memohon dengan penuh ketundukan agar terhindar darinya. Dan bila disebut surga, ia demikian bernafsu karena sangat menginginkannya, ia ulurkan kedua tangannya seraya berdoa dan bermunajat kepada Allah agar menjadikan dirinya termasuk penghuninya. Ia mencintai manusia dan mereka pun mencintainya. Ia begitu senang berada di tengah mereka, demikian pula dengan mereka terhadapnya.
muslimah

Suatu ketika, tiba-tiba ia merasakan sakit yang luar biasa di pahanya, lalu ia cepat-cepat mengambil minyak, mengolesi dan mengurutnya. Ia juga mengompresnya dengan air hangat namun rasa sakit itu malah semakin bertambah.

Setelah pergi ke sana kemari untuk berobat di banyak rumah sakit dan berdasarkan petunjuk beberapa orang dokter, ia bersama suaminya akhirnya pergi ke London. Di sana, di sebuah rumah sakit megah, setelah dilakukan diagonosa secara detil, tim dokter menyimpulkan bahwa di dalam darah wanita shalihah ini terdapat pembusukan. Mereka lalu mencari sumbernya dan ternyata sumber rasa sakit itu ada di bagian paha. Para dokter pun memutuskan, wanita ini positif menderita kanker di pahanya. Itulah yang menjadi sumber rasa sakit dan pembusukan. Akhirnya, tim dokter itu memutuskan perlunya segera memotong (mengamputasi) salah satu kaki wanita ini dari bagian atas paha agar virusnya tidak menyebar.

Di dalam sebuah kamar operasi, wanita ini pasrah dan menyerahkan semua urusan kepada qadla dan takdir Allah semata sementara lisannya tiada putus-putusnya berdzikir kepada-Nya, dengan penuh ketulusan meminta perlindunganNya dan berserah diri.

Akhirnya, tim dokter berkumpul dan siap melakukan operasi amputasi yang tergolong berat. Pisau sudah ditancapkan di alat pemotongnya dan si wanita itu pun didekatkan. Daerah yang akan diamputasi pun sudah diukur sedemikian teliti. Dan di tengah rasa takut yang menghantui dan kengerian yang mencekam, aliran listerik pun dihidupkan. Lalu… baru saja alat pemotong bergerak, tiba-tiba terdengar suara patahnya pisau. Semua tercengang melihat kejadian yang baru pertama kali ini. Operasi pun terpaksa diulang lagi dengan meletakkan pisau baru namun kejadian serupa kembali terjadi, hingga terulang tiga kali. Kejadian yang aneh dalam sejarah ‘amputasi’ ini meninggalkan tanda tanya dan kebingungan dari wajah-wajah para dokter tersebut yang saling pandang satu sama lain. Kepala tim dokter pun mengajak rekan-rekannya berbincang sebentar di sisi pasien untuk berurun rembug. Kemudian mereka memutuskan untuk melakukan operasi bedah terhadap paha yang semula akan diamputasi. Tetapi belum lagi menyentuh sasaran, mereka kembali dibuat tercengang. Dengan mata kepada sendiri, mereka melihat tiba-tiba mendapati sebuah kapas yang membusuk dalam bentuk yang tidak indah dan kurang sedap baunya. Setelah melakukan pekerjaan ringan, tim dokter pun membersihkan daerah pembusukan itu dan mem-vakum-nya. Tak berapa lama, wanita itu berteriak keras. Dan, setelah itu rasa sakit yang ia alami hilang sama sekali dan tidak ia rasakan lagi keluhan apa-apa.

Setelah tersadar, wanita ahli ibadah itu menengok ke arah kakinya yang ternyata tidak diapa-apakan dan mendapati suaminya tengah berbincang dengan tim dokter yang masih saja tampak ketercengangan menghiasi wajah-wajah mereka. Mereka terus bertanya kepada sang suami apakah isterinya sebelum ini pernah melakukan operasi bedah pada pahanya.? Para dokter itu akhirnya tahu bahwa kedua pasangan suami isteri ini pernah mengalami kecelakaan jalan raya beberapa waktu lalu yang menyebabkan sang isteri mengalami luka parah di daerah di mana terjadi pembusukan itu. Maka, secara spontan, para dokter itu berkata serentak, “Sungguh ini merupakan inayah ilahi semata.”

Mengetahui kondisinya yang sudah pulih dan kabut bahaya tidak lagi mengancam dirinya, betapa gembiranya wanita yang shalihah itu. Ia semula membayangkan bakal berjalan dengan hanya sebuah kaki tetapi rupanya hal itu tidak terjadi. Ia pun tidak henti-hentinya mengucapkan puja dan puji syukur ke hadirat Allah di mana ia merasakan betapa dekatnya Dia dengan dirinya dan betapa besar belas kasih dan rahmat-Nya.

(SUMBER: asy-Syifa’ Ba’da al-Maradl karya Ibrahim bin ‘Abdullah al-Hazimy, hal.27-29)

Namanya Jembatan Keletihan


428578_10150575101268757_621088600_nNamanya, Jembatan Keletihan
Sesekali, bukalah lembar catatan yang pernah kita tulis tentang rencana-rencana kita. Perhatikanlah, bagaimana rencana-rencana itu kita susun, tentang aktivitas ibadah, keilmuan, dakwah, hingga bisnis yang kita inginkan. Tidak perlu detail, sepintas saja. Kita pasti disergap rasa sedih, lantaran apa yang kita rasakan dan alami saat ini, sangat jauh dari apa yang kita tulis saat itu. Padahal, disanalah kita pernah menanam obsesi, mimpi, cita-cita.
Jarak antara kondisi kita dan catatan-catatan itu, sangat jauh hingga barangkali kita bergumam, mustahil catatan-catatan itu bisa terwujud.
Boleh jadi, disamping kesedihan itu, ada alasan yang mengemuka yang sama tentang jauhnya jarak antara kita dengan rencana indah dahulu itu. Yakni, kita merasakan bahwa rencana-rencana itu terlalu tinggi, dan kaki kita tidak mampu mendaki untuk mencapainya. Padahal, kita tahu, semua obsesi, harapan, impian, cita-cita tidak ada yang rendah. Semuanya selalu tinggi, setinggi kemuliaan yang kita inginkan didalamnya,
Lalu, bagaimana pikiran dan perasaan yang kita alami, saat menyimak obsesi dan keinginan sangat mulia seorang sahabat yang dengan tegas ingin mendampingi Rasululloh SAW di surga, di istana-istana Firdaus? Lalu bila kita bertanya, apa yang kita inginkan dalam rentang waktu hidup di dunia ini? Maka setinggi dan semulia keinginan kita itu, seletih dan seberat itulah perjalanan yang harus kita tempuh.
Saudaraku,
“Ilmu takkan diperoleh dengan fisik yang gemar istirahat,” demikian khabar yang diletakkan Imam Muslim rahimahullah saat membahas tema waktu-waktu shalat. Perkataan itu bukan hadits melainkan sebuah khabar yang berasal dari perkataan Imam Yahya bin Abi Katsir rahimahullah, seorang tabi’in yang tidak terlalu terkenal. Sejumlah orang mempertanyakan alasan Imam Muslim mengutipkan perkataan itu dalam bab yang penting. Tapi para ulama menjelaskan bahwa alasannya, bahwa keterkesanan mendalam Imam Muslim rahimahullah dengan kalimat itulah latar belakangnya.
Saudaraku,
Lihatlah lembar-lembar tokoh siapapun yang berhasil memetik cita-cita dan obsesinya di dunia. Semuanya pasti mengalami situasi hidup yang padat dengan aktivitas, dan cenderung kurang waktu istirahatnya. Tidak hanya tokoh ulama besar atau da’i yang kiprahnya dikenal luas di masyarakat, bahkan tokoh bisnis yang berhasil pun menjalani hidupnya dengan sedikit tidur, sedikit makan, minum dan sedikit santai dan bahkan mungkin sedikit bicara. Mereka umumnya, menjalani waktu-waktu hidupnya dengan hati-hati dan serius. “Kenikmatan dunia, umumnya tidak bisa didapat kecuali dengan letih,” ujar Ibnu Taimiyyah rahimahullah.
Maka, peluh dan keletihan itulah yang menjadi jembatan keberhasilan mereka mencapai keinginan. Keinginan apapun, duniawi ataupun ukhrawi (akhirat). Seperti diungkapkan oleh Ibnul Qayyim Al Jauziyah rahimahullah, “Aspek-aspek penyempurna semuanya takkan bisa didapat kecuali dengan kesulitan. Tak seorangpun bisa melewatinya kecuali melalui jembatan keletihan.” (Miftah daarus s’adah, 2/895). Dalam kesempatan lain, Ibnul Qayyim juga menegaskan, “Mustahil suatu kaum sampai ke tempat tinggal mereka kecuali setelah melewati perjalanan yang panjang. Mereka takkan bisa mencapai istana peristirahatan, kecuali setelah melewati jembatan keletihan.”
Saudaraku,
Ya, jembatan keletihan namanya. Itulah yang menghubungkan antara keletihan dan obsesi. “Sudah menajdi ketetapan Alloh, kebahagiaan, kenikmatan dan istirahat takkan  bisa diperoleh kecuali lewat jembatan kesulitan dan keletihan. Dan takkan bisa masuk kedalamnya kecuali dari pinta yang tidak disukai, pintu kesabaran dan pintu kemampuan memikul kesulitan,” masih menurut Ibnul Qayyim rahimahullah.
Dalam redaksi yang berbeda, Imam Abu Ishaq Ibrahim, tokoh ulama hadits sekaligus sejarawan Islam yang juga murid Imam Ahmad bin Hambal dan terkenal dengan karya monumentalnya “Gharibul Hadits”, mengatakan singkat sekali, “Kenikmatan takkan diperoleh melalui kenikmatan.”
Rasulullah SAW mempunyai banyak hadits yang hikmahnya senada dengan ini. Perhatikanlah sabdanya, “Surga dikelilingi dengan sesuatu yang tidak disukai.” (HR Muslim). Atau sabdanya yang lain, “Dunia adalah penjara bagi orang yang beriman.” (HR Muslim)
Lalu bila kita perhatikan bagaimana penggambaran Al Qur’anul Karim tentang kondisi ahli surga dan ahli neraka, Al Qur’an pun menyebutkan karakteristik ahli surga adalah mereka yang saat hidup di dunia mengalami keletihan. Tidak mengikuti hawa nafsu, menafkahkan harta di waktu lapang dan sempit, menahan amarah, memaafkan kesalahan orang lain, memohon ampun dari dosa, tidak terus menerus melakukan dosa, sedikit tidur malam, beristigfar pada waktu sahur dan lain-lain. Sifat-sifat ini semua adalah bagian dari keletihan. Dan bila kita perhatikan karakteristik ahli neraka adalah orang-orang yang bersenang-senang dan terlalu banyak bermain-main ketika hidup di dunia. Sifat kikir, kufur nikmat, banyak berangan-angan, mengikuti hawa nafsu, dan sebagainya, adalah lambang kehidupan yang serba nikmat dan jauh dari keletihan.
Saudaraku,
Seorang guru, pernah ditanya oleh muridnya yang resah dengan ragam perubahan zaman yang begitu cepat dan kecenderungan menghilangnya nilai-nilai kebaikan di masyarakat. Sang murid merasa apa pun berbagai upaya perbaikan yang dilakukannya seperti tidak berarti jika berhadapan dengan situasi yang begitu gencar menghancurkan nilai-nilai islam yang ia semai. Ia merasa keletihan yang sudah dirasakan dari uasaha panjangnya dalam dakwah, seperti sulit sekali memberi manfaat. Sang guru, dengan bijak mengatakan, “Muridku, tinggalkan kekhawatiranmu tentang perubahan zaman. Bekerjalah karena yang lebih berbahaya adalah berkurangnya kesungguhanmu karena kamu merasa letih dalam menunaikan tugas-tugas dakwahmu.” Indah sekali.
Begitulah saudaraku,
Mari terus bekerja. Sebab kerja dan amal itulah yang sesungguhnya menyelamatkan kita dari zaman yang selamanya selalu berubah, dengan ragam fitnah dan tantangannya.
Oleh: Muhammad Lili Nur Aulia (Tarbawi, 18 Okt’12)

Ketika Anak Memohon Maaf Kepadamu


Pernahkah menyaksikan kejadian serupa ini? Seorang anak terlihat mengumpulkan keberanian yang tersisa. Perlahan mendekati Ibunya yang sedang marah padanya. Tertunduk, tak mampu menatap wajah ibunya.

Anak : “Ibu, maafkan aku ya. Aku tahu, Bu.. aku salah.” ucapnya lirih, menahan sesak dan isak.

 

Ibu : “Iya. Ibu maafkan. Tapi memang kamu itu kebiasaan sih begitu. Sering banget buat Ibu marah. Sudah berulang kali dilarang, masih dilakukan juga. Tahu nggak nak, yang kamu lakukan itu nggak baik. Belum lagi nanti kalau kamu begini, begitu. Masih inget nggak waktu kamu melakukan “ini”? Belum lagi yang “ itu”. Sudah sering kan kamu melakukan kesalahan. Masih nggak kapok juga? Masih mau buat lagi? Heran Ibu. Udah capek-capek Ibu ngurusin kamu dari kecil sampai gede. Kok begini hasilnya?” ungkapnya panjang lebar dengan intonasi suara yang tinggi.

10 menit berlalu, belum selesai omelan tambahan sang Ibu pada si anak. Si anak mulai bergerak ke sana kemari, enggan mendengarkan. Tapi demi kesopanan dan tak mau dibombardir dengan kemarahan lanjutan, kakinya tak beranjak dari tempatnya. Akhirnya sang Ibu selesai dengan omelannya. Si anak segera berlari dengan lega nya menjauh dari sang Ibu. Berharap tidak mendengar apa-apa lagi dari Ibunya.

Setelah itu, sang Ibu pun mengeluh, ”Dasar anak sekarang, kalau dikasih tahu susah banget! Masuk kuping kiri, keluar kuping kanan!” Wajahnya masih tampak merah dan geram.

***

Di zaman Rasulullah, ada seorang anak muda yang berbohong. Khawat bin Jubair, namanya. Khawat sedang duduk bersama para wanita ketika Rasulullah menegurnya. Khawat pun beralasan sedang mencari untanya yang lepas.

Dengan cara dan wibawanya yang luar biasa, Rasulullah berhasil membuat Khawat bin Jubair merasa bersalah dengan kebohongannya. Setelah berulang kali menghindar dari Rasulullah, akhirnya terkumpullah keberanian dan tekadnya untuk meminta maaf pada Rasul.

Begini potongan kisahnya:

Aku (Khawat bin Jubair) pun berkata dalam hati: Demi Allah, aku akan meminta maaf ke Rasulullah shallallahu alaihi wasallam dan menyenangkan hati beliau. (selesai shalat) aku berkata: Demi yang mengutusmu dengan benar, unta itu tidak pernah lepas sejak aku masuk Islam.

Beliau berkata: Semoga Allah merahmatimu… Semoga Allah merahmatimu… Semoga Allah merahmatimu.

Dan beliau tidak lagi membahas tentang unta.

(HR. Thabrani dalam al Mu’jam al Kabir, Abu Nu’aim al Ashbahani dalam Ma’rifah al Shahabah).

***
Orangtua terkadang perlu diingatkan : sungguh, butuh keberanian luar biasa bagi seorang anak untuk memohon maaf atas kesalahannya.

Dia harus melawan keenganannya mengakui kesalahan. Belum lagi pe-er tambahan untuk memohon maaf. Plus tekad kuat untuk tidak mengulangi.

Dia sudah memikirkan itu semua sebelum dia melangkah untuk memohon maaf kepada orangtuanya.

Maka, tidakkah sebaiknya orang tua juga menghargai usaha luar biasa dari sang anak? Bukankah kita hanya ingin anak kita tidak mengulangi perbuatannya lagi?

Atau apakah kita ingin melampiaskan kemarahan kita padanya? Supaya puas? Supaya si anak semakin merasa bersalah? Membuka kembali kesalahan yang merupakan luka lamanya?

Apakah kita ingin membuatnya malu? Atau ingin tetap menghukumnya bahkan setelah dia meminta maaf?

Inilah saatnya introspeksi.

Lihatlah bagaimana Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersikap ketika seseorang meminta maaf dan mengakui kesalahan kepadanya.

Beliau mendoakan, dan tidak lagi membahas kesalahannya.

Bagaimana dengan kita, siap berubah?

Ya Allah, bimbinglah kami…..

http://www.parentingnabawiyah.com/index.php/catatan–hati-ibu/185-ketika-anak-memohon-maaf-kepadamu

Jangan Berputus Asa Terhadap Dosa


Oleh M. Lili Nur Aulia

Seseorang merasa berdosa, kemudian bertaubat kepada Allah, dan bertekad untuk melepaskan diri dari dosa. Tapi ternyata ia terpeleset lagi dan takluk oleh hawa nafsunya hingga kembali jatuh dalam lubang dosa dari sisi yang sulit ia atasi. Ia kemudian bertaubat lagi kepada Allah. Dan kembali bertekad untuk istiqomah dan melepas diri dari dosa yang dilakukan. Tapi ternyata ia kembali jatuh dalam kemaksiatan, dikuasai lagi oleh hawa nafsunya. Lantas ia bertaubat lagi, dengan tulus dan kembali menegaskan dirinya untuk tidak mengulangi dosa, bertekad kembali untuk istiqomah, menjauh dari kemaksiatan. Bagaimana kita melihat orang seperti ini?

Saudaraku,

Apakah kita menilai bahwa taubatnya itu palsu dan janjinya adalah dusta? Lalu kita menganggap bahwa tak mungkin ada kebaikannya dalam dirinya untuk diterima taubatnya? Jika demikian, justru inilah keberhasilan syaitan yang sesungguhnya atas orang yang melakukan kemaksiatan dan dosa. Yaitu, keberhasilan syaitan untuk menjadikan seseorang tidak pantas menjadi orang shalih. Keberhasilan untuk menjadikan seseorang merasa lebih layak menjadi pendosa ketimbang ahli ibadah yang dekat kepada Allah. Keberhasilan untuk menjadikan seseorang merasa tak berdaya menghadapi hawa nafsunya dan tidak pantas menerima ampunan. Lalu akibatnya, ia tenggelam habis dalam gelombang dosa dan kemaksiatan.

Saudaraku,

Ada sebuah hadits yang luar biasa sekali kandungannya. Dari Anas ra., ia mendengar Rasulullah SAW bersabda, “Allah SWT berfirman: “Wahai bani Adam, sesungguhnya engkau selama berdoa kepada-Ku dan berharap kepada-Ku, maka Aku pasti mengampunimu atas apapun yang ada pada dirimu. Aku tidak peduli. Wahai bani Adam, andai dosa-dosamu sepenuh langit, kemudian engkau memohon ampunan-Ku, pasti Aku beri ampunan kepadamu. Wahai bani Adam, jika engkau datang kepada-Ku, dengan kesalahan sepenuh bumi, kemudian engkau menemui-Ku dalam keadaan tidak menyekutukan-Ku dengan sesuatu yang lain sedikit pun, niscaya akan Aku datangi engkau dengan ampunan sepenuh bumi.”

Dalam surat Qaaf ayat 32, Al Quran juga menyebutkan salah satu sifat Allah adalah Awwaab. Kata itu merupakan sibghah mubalaghah dari kata Aayiib, atau yang menerima orang yang kembali. Sedangkan Awwaab artinya adalah Maha Penerima orang yang kembali kepada-Nya.

Jadi, dalil-dalil itu semua menegaskan bahwa seseorang yang melakukan dosa dan kemaksiatan, tapi kemudian dia bertaubat dan memohon ampun kepada Allah dari dosa yang dilakukannya dengan tulus. Kemudian dia berazam untuk tidak melakukannya. Itu bisa menjadi penyebab ampunan Allah SWT kepadanya. Meskipun ia kemudian ternyata tidak mampu menahan hawa nafsunya dan terjerembab dalam dosa, kemudian memohon ampun lagi dan bertekad lagi untuk tidak melakukan. Artinya, dosa tidak boleh menjadi penghalang bagi siapapun untuk mendapat ampunan Allah SWT dan menjadikan seseorang lebih baik. Itu sebabnya, Ibnu Athaillah mengatakan, “Jika engkau melakukan dosa setelah berulangkali bertaubat, janganlah dosa itu menjadikan dirimu putus asa dari kemampuanmu melakukan keistiqamahan dan terlepas dari kemaksiatan. Betapapun engkau mengulang-ulang dosa, sesungguhnya engkau tetap tidak tahu bila dosa yang engkau ulang-ulang itu kemudian menjadi akhir dosa yang engkau lakukan.”

Saudaraku,

Renungkanlah bagaimana kedalaman kandungan nasihat Ibnu Athaillah tadi. Bahwa yang paling mendasar adalah munculnya harapan kuat bahwa Allah akan menerima taubat dari dosa yang dilakukan. Sebab banyak sekali orang-orang yang taubat tapi kemudian ia sulit konsisten meninggalkan dosa yng dia taubati itu. Tapi setelah berulang-ulang mengalami kondisi itu, ia sampai pada titik mampu meninggalkan dosa itu dan mendekat pada Allah SWT.

Saudaraku,

Inilah makna lain dari husnudzan terhadap Allah SWT dalam segala keadaan. Tetap berharap kebaikan yang sungguh luar biasa dari Allah SWT, dan tidak menyerah dengan desakan bisikan syaitan yang menganggap diri tidak layak dan tidak pantas mendapat kasih sayang-Nya.

Yang menarik adalah apa yang dijelaskan oleh Al Buthi tentang hal ini. Menurutnya, dalam syarah Al Hikam li Ibnu Athaillah, bahwa ada hikmah dari aspek tarbawi (pendidikan) dalam hal ini. Ia menjelaskan bahwa kondisi ini boleh jadi akan menjadikan seseorang justru perlahan-lahan akan menjadikan seseorang, mampu untuk benar-benar meninggalkan kemaksiatan yang dilakukannya. Sedikit-sedikit, dengan terus menerus bertaubat, ia akan mampu mengendalikan nafsunya.

Saudaraku,

Pintu taubat akan tetap terbuka selama Allah SWT memberi kita nafas dalam kehidupan di dunia. Dan kita semua, memiliki dosa dan kemaksiatan yang mungkin berulang kali dilakukan. Jangan anggap remeh dosa dan kemaksiatan itu. Tapi jangan putus asa dari ampunan Allah SWT atas dosa dan kemaksiatan yang dilakukan berulang kali itu. Ingat, hadist Qudsi yang menyebutkan firman Allah SWT, “Selama hamba-Ku berdoa dan memohon kepada-Ku, pasti Aku ampuni dia.”

*Dikutip dari Tarbawi edisi 278, Th.14, 28 Juni 2012


Disaat Sholat, Imam Masjid Mendengar Jeritan Anaknya Yang Mau Tenggelam Di Laut”


Umur siapa yang tahu, demikian juga seorang pemuda, bagaimanapun kuatnya juga tak bisa mengelak dari hal tersebut.

Kisah nyata ini diceritakan sendiri oleh pelakunya dan pernah disiarkan oleh Radio Al Qur’an di Makkah al Mukarramah. Kisah ini terjadi pada musim haji dua tahun yang lalu di daerah Syu’aibah, yaitu daerah pesisir pantai laut merah, terletak 110 Km di Selatan Jeddah.

Pemilik kisah ini berkata:

Ayahku adalah seorang imam masjid, namun demikian aku tidak shalat. Beliau selalu memerintahkan aku untuk shalat setiap kali datang waktu shalat. Beliau membangunkan ku untuk shalat subuh. Akan tetapi aku berpura-pura seakan-akan pergi ke masjid padahal tidak.
Bahkan aku hanya mencukupkan diri dengan berputar-putar naik mobil hingga jama’ah selesai menunaikan shalat. Keadaan yang demikian terus berlangsung hingga aku berumur 21 tahun. Pada seluruh waktuku yang telah lewat tersebut aku jauh dari Allah dan banyak bermaksiat kepada-Nya. Tetapi meskipun aku meninggalkan shalat, aku tetap berbakti kepada kedua orang tuaku.

Inilah sekelumit dari kisah hidupku di masa lalu

Pada suatu hari, kami sekelompok pemuda bersepakat untuk pergi rekreasi ke laut. Kami berjumlah lima orang pemuda. Kami sampai di pagi hari, lalu membuat tenda di tepi pantai. Seperti biasanya kamipun menyembelih kambing dan makan siang. setelah makan siang, kamipun mempersiapkan diri turun ke laut untuk menyelam dengan tabung oksigen. sesuai aturan, wajib ada satu orang yang tetap tinggal di luar, di sisi kemah, hingga dia bisa bertindak pada saat para penyelam itu terlambat datang pada waktu yang telah ditentukan.

Akupun duduk, dikarenakan aku lemah dalam penyelaman. Aku duduk seorang diri di dalam kemah, sementara disamping kami juga terdapat sekelompok pemuda yang lain. Saat datang waktu shalat, salah seorang diantara mereka mengumandangkan adzan, kemudian mereka mulai menyiapkan shalat. Aku terpaksa masuk ke dalam laut untuk berenang agar terhindar dari kesulitan yang akan menimpaku jika aku tidak shalat bersama mereka. Karena kebiasaan kaum muslimin di sini adalah sangat menaruh perhatian terhadap shalat berjamaah dengan perhatian yang sangat besar, hingga menjadi aib bagi kami jika seseorang shalat fardhu sendirian.

Aku sangat mahir dalam berenang. Aku berenang hingga merasa kelelahan sementara aku berada di daerah yang dalam. AKu memutuskan untuk tidur diatas punggungku dan membiarkan tubuhku hingga bisa mengapung di atas air. Dan itulah yang terjadi. Secara tiba-tiba, seakan-akan ada orang yang menarikku ke bawah… aku berusaha untuk naik…..aku berusaha untuk melawan….aku berusaha dengan seluruh cara yang aku ketahui, akan tetapi aku merasa orang yang tadi menarikku dari bawah menuju ke kedalaman laut seakan-akan sekarang berada di atasku dan menenggelamkan kepalaku ke bawah.

Aku berada dalam keadaan yang ditakuti oleh semua orang. Aku seorang diri, pada saat itu aku merasa lebih lemah daripada lalat. Nafaspun mulai tersendat, darah mulai tersumbat di kepala, aku mulai merasakan kematian! Tiba-tiba, aku tidak tahu mengapa…aku ingat kepada ayahku, saudara-saudaraku, kerabat-kerabat dan teman-temanku… hingga karyawan di toko pun aku mengingatnya. Setiap orang yang pernah lewat dalam kehidupanku terlintas dalam ingatanku…semuanya pada detik-detik yang terbatas…kemudian setelah itu, aku ingat diriku sendiri..!.!!

Mulailah aku bertanya kepada diriku sendiri…apa engkau shalat? Tidak. Apa engkau puasa? Tidak. Apa engkau telah berhaji? Tidak. Apa engkau bershadaqah? Tidak. Engkau sekarang di jalan menuju Rabbmu, engkau akan terbebas dan berpisah dari kehidupan dunia, berpisah dari teman-temanmu, maka bagaimana kamu akan menghadap Rabb-mu? Tiba-tiba aku mendengar suara ayahku memanggilku dengan namaku dan berkata: “Bangun dan shalatlah.” Suara itupun terdengar di telingaku tiga kali. Kemudian terdengarlah suara beliau adzan. Aku merasa dia dekat dan akan menyelamatkanku. Hal ini menjadikanku berteriak menyerunya dengan memanggil namanya, sementara air masuk ke dalam mulutku.

Aku berteriak….berteriak…tapi tidak ada yang menjawab. Aku merasakan asinnya air di dalam tubuhku, mulailah nafas terputus-putus. Aku yakin akan mati, aku berusaha untuk mengucapkan syahadat….kuucapkan Asyhadu…Asyhadu…aku tidak mampu untuk menyempurnakannya, seakan-akan ada tangan yang memegang tenggorokanku dan menghalangiku dari mengucapkannya. Aku merasa bahwa nyawaku sudah dalam perjalanan keluar dari tubuhku.

Akupun berhenti bergerak…inilah akhir dari ingatanku. Aku terbangun sementara kau berada di dalam kemah…dan di sisiku ada seorang tentara dari Khafar al Sawakhil (penjaga garis batas laut), dan bersamanya para pemuda yang tadi mempersiapkan diri untuk shalat.

Saat aku terbangun, tentara itu berkata:”Segala puji bagi Allah atas keselamatan ini.” Kemudian dia langsung beranjak pergi dari tempat kami. Aku pun bertanya kepada para pemuda tentang tentara tersebut. Apakah kalian mengenalnya? Mereka tidak mengetahuinya, dia datang secara tiba-tiba ke tepi pantai dan mengeluarkanmu dari laut, kemudian segera pergi sebagaimana engkau lihat, kata mereka.

Akupun bertanya kepada mereka: “Bagaimana kalian melihatku di air?” Mereka menjawab,”Sementara kami di tepi pantai, kami tidak melihatmu di laut, dan kami tidak merasakan kehadiranmu, kami tidak merasakannya hingga saat tentara tersebut hadir dan mengeluarkanmu dari laut.” Perlu diketahui bahwa jarak terdekat denga Markas Penjaga Garis Laut adalah sekitar 20 Km dari kemah kami, sementara jalannya pun jalan darat, yaitu membutuhkan sekitar 20 menit hingga sampai di tempat kami sementara peristiwa tenggelam tadi berlangsung dalam beberapa menit.

Para pemuda itu bersumpah bahwa mereka tidak melihatku. Maka bagaimana tentara tersebut melihatku? Demi Rabb yang telah menciptakanku, hingga hari ini aku tidak tahu bagaimana dia bisa sampai kepadaku. seluruh peristiwa ini terjadi saat teman-temanku berada dalam penyelaman di laut. Ketika aku bersama para pemuda yang menengokku di dalam kemah, HP-ku berdering. segera HP kuangkat, ternyata ayah yang menelepon. Akupun merasa bingung, karena sesaat sebelumnya aku mendengar suaranya ketika aku di kedalaman, dan sekarang dia menelepon?

Aku menjawab….beliau menanyai keadaanku, apakah aku dalam keadaan baik? Beliau mengulang-ulangnya, berkali-kali. Tentu saja aku tidak mengabarkan kepada beliau, supaya tidak cemas. Setelah pembicaraan selesai aku merasa sangat ingin shalat. Maka aku berdiri dan shalat dua rakaat, yang selama hidupku belum pernah aku lakukan. Dua rakaat itu aku habiskan selama dua jam. Dua rakaat yang kulakukan dari hati yang jujur dan banyak menangis di dalamnya.

Aku menunggu kawan-kawanku hingga mereka kembali dari petualangan. Aku meminta izin pulang duluan. Akupun sampai di rumah dan ayahku ada di sana. Pertama kali aku membuka pintu, beliau sudah ada di hadapanku dan berkata: “Kemari, aku merindukanmu!” Akupun mengikutinya, kemudian beliau bersumpah kepadaku dengan nama Allah agar aku mengatakan kepada beliau tentang apa yang telah terjadi padaku di waktu Ashar tadi. Akupun terkejut, bingung, gemetar dan tidak mampu berkata-kata.

Aku merasa beliau sudah tahu. Beliau mengulangi pertanyaannya dua kali. Akhirnya aku menceritakan apa yang terjadi padaku. Kemudian beliau berkata:”Demi Allah, sesungguhnya aku tadi mendengarmu memanggilku, sementara aku dalam keadaan sujud kedua pada akhir shalat Ashar, seakan-akan engkau berada dalam sebuah musibah. Engkau memanggil-manggilku dengan teriakan yang menyayat-nyayat hatiku. Aku mendengar suaramu dan aku tidak bisa menguasai diriku hingga aku berdo’a untukmu dengan sekeras-kerasnya sementara manuisa mendengar do’aku.

Tiba-tiba, aku merasa seakan-akan ada seseorang yang menuangkan air dingin di atasku. Setelah shalat, aku segera keluar dari masjid dan menghubungimu. Segala puji bagi Allah, aku merasa tenang bagitu mendengar suaramu. Akan tetapi wahai anakku, engkau teledor terhadap shalat. Engkau menyangka bahwa dunia akan kekal bagimu, dan engkau tidak mengetahui bahwa Rabbmu berkuasa merubah keadaanmu dalam beberapa detik. Ini adalah sebagian dari kekuasaan Allah yang Dia perbuat terhadapmu.

Akan tetapi Rabb kita telah menetapkan umur baru bagimu. Saat itulah aku tahu bahwa yang menyelamatkan aku dari peristiwa tersebut adalah karena Rahmat Allah Ta’ala kemudian karena do’a ayah untukku. Ini adalah sentuhan lembut dari sentuhan-sentuhan kematian. Allah Ta’ala ingin memperlihatkan kepada kita bahwa betapapun kuta dan perkasanya manusia akan menjadi makhluk yang paling lemah di hadapan keperkasaan dan keagungan Allah Ta’ala.

Maka semenjak hari itu, shalat tidak pernah luput dari pikiranku. Alhamdulillah. Wahai para pemuda, wajib atas kalian taat kepada Allah dan berbakti kepada kedua orang tua.

Ya Allah, ampunilah kami dan kedua orang tua kami, terimalah taubat kami dan taubat mereka dan rahmatilah mereka dengan rahmat-Mu.

Semoga menjadi pelajaran bagi kita semua, jangan sekali-kali mengabaikan kewajiban ibadah kita walaupun kelihatannya sepele.

Sumber: Majalah Qiblati Edisi 10 tahun II, Juli 2007 M