Archives

10 Prinsip Mencintai Tanpa Henti


10 Prinsip Mencintai Tanpa Henti

Untuk bisa menjaga rasa cinta kepada pasangan, lakukan sepuluh prinsip berikut ini agar pernikahan anda selalu bahagia.

1. Memberi perhatian tanpa diminta

Selalu berikan perhatian kepada pasangan, ia akan lengket kepada anda.

2. Mendengar tanpa menyela

Jadilah pendengar yang baik. Jangan terbiasa menyela pembicaraan pasangan.

3. Membantu tanpa mengeluh

Bantulah kerepotan pasangan anda dengan suka rela. Ia akan selalu mencintai anda.

4. Mendoakan tanpa lelah

Terus doakan pasangan anda untuk kebaikannya. Jangan lelah mendoakan pasangan.

5. Memotivasi tanpa memaksa

Beri motivasi pasangan tanpa tetkesan memaksa. Ia akan bertambah semangat.

6. Berkomunikasi tanpa berbantah

Komunikasi yang nyaman adalah salah satu faktor yang menghadirkan kebahagiaan keluarga.

Teruslah berkomunikasi tanpa berdebat dan berbantah.

7. Setia tanpa berpura-pura

Jagalah kesetiaan kepada pasangan dengan penuh ketulusan. Bukan kepura-puraan.

8. Melayani tanpa terpaksa

Berikan pelayanan terbaik kepada pasangan dengan setulus hati. Bukan dengan terpaksa.

9. Memaafkan tanpa dendam

Semua orang punya kekurangan dan kesalahan. Maafkan pasangan tanpa dendam dan permusuhan.

10. Tetap mesra tanpa batas usia

Usia bukan penghalang untuk bersikap mesra.

Kemesraan harus bisa dinikmati oleh pasangan suami istri hingga akhir usia.

Nasihat-nasihat “Sesat” Saat Curhat


Dalam kehidupan sehari-hari, interaksi dan komunikasi manusia modern sangat luas dan bebas. Bukan hanya bertemu secara langsung, namun dengan leluasa bisa terhubung 24 jam sehari semalam dengan semua orang melalui teknologi. Persahabatan tentu banyak memberikan kebaikan dan nilai positif bagi manusia, karena pada dasarnya kita selalu saling membutuhkan satu dengan yang lain. Salah satu manfaat sahabat adalah sebagai teman curhat dan meminta nasehat.

Namun tidak jarang, persahabatan memberikan dampak negatif, terutama ketika menemukan sahabat yang sering menyampaikan nasehat nekat dan sesat. Di saat seseorang curhat, bukannya mendapatkan nasehat yang positif dan konstruktif, justru mendapat inspirasi dan motivasi untuk melakukan perbuatan jahat. Apalagi ketika terkait persoalan rumah tangga, salah-salah mendengar nasehat bisa jadi akan menimbulkan keputusan yang salah dan tidak tepat.

Kadang seorang suami menceritakan masalah keluarga kepada teman kerjanya, atau seorang istri curhat tentang problem keluarga kepada teman dekatnya. Pada kondisi teman curhat adalah orang yeng tepat, maka akan bisa memberikan nasehat yang juga tepat dan bermanfaat. Namun apabila curhat kepada orang yang salah, bisa memberikan nasehat yang salah dan menyesatkan. Belum lagi ketika teman curhat ini memiliki kepentingan dan keinginan pribadi tertentu, akan membuat semakin memberikan nasehat yang sangat subyektif.

Nasehat Nekat dan Sesat dari Sahabat

Ada sangat banyak contoh nasehat yang justru mengarahkan kepada kondisi yang lebih buruk dan lebih parah dari masalah semula. Di ruang konseling kami sering mendapat cerita dari para klien, bahwa mereka mendapat nasehat dari teman-temannya untuk melakukan tindakan tertentu. Sayangnya nasehat itu tidak mengajak mereka kepada kebaikan dan keutuhan rumah, justru sebaliknya. Berikut beberapa bentuk nasehat sesat yang didapatkan saat curhat kepada sahabat yang tidak tepat.

Kamu bodoh mau dibodohi pasangan kamu

“Bodoh benar kamu ini mau dibodohi pasangan kamu…..”

“Jangan mau dibodohi pasangan kamu…”

“Kamu ini benar-benar bodoh di hadapan pasangan kamu….”

Ungkapan-ungkapan seperti ini dari sahabat saat curhat, memberikan sugesti yang kuat, seakan-akan dirinya tengah dibodohi oleh pasangan. Seorang istri merasa dirinya tengah ditipu dan dibodohi oleh pasangan, sehingga ia bertekad tidak akan memaafkan kesalahan suami. Ia percaya perkataan sahabat-sahabatnya yang konsisten menyebut dirinya bodoh, maka ia pun merasa bodoh jika memaafkan suami. Padahal memaafkan adalah ciri orang bertaqwa, bukan ciri orang bodoh.

Seorang suami merasa benar-benar bodoh setelah mendengar nasehat dari sahabat, maka ia menjadi berpikiran sempit dan berniat menghajar sang istri yang telah membuat kesalahan. Di saat ia masih menimbang-nimbang apa yang akan dilakukan terhadap kesalahan istri, mendadak menjadi kalap setelah mendapat ‘pencerahan’ dari sahabat yang menyebutkan dirinya adalah suami bodoh. Hal ini membuat dirinya tidak berpikir panjang untuk mengambil keputusan, karena tidak ingin disebut bodoh dan tidak ingin menjadi bodoh.

Semestinya, suami atau istri yang tengah curhat didinginkan hatinya, ditampung kesedihannya, dihibur dengan kebijaksanaan. Bukannya dipanas-panasi dengan pernyataan kebodohan semacam itu. Satu hal yang harus dipahami adalah, dalam setiap konflik suami istri, selalu ada versi dari kedua belah pihak. Saat menerima curhat dari satu pihak, itu belum cukup untuk digunakan memahami apalagi mengambil kesimpulan dari masalah yang sesungguhnya sedang terjadi. Maka ungkapan yang membodohkan itu menjadi nasehat yang bisa menyesatkan bagi mereka yang mendengar dan mempercayainya.

Balas saja dengan selingkuh

“Suami kamu sudah selingkuh, jangan diam saja, balas dengan selingkuh…”

“Kamu laki-laki, kalau istri kamu bisa selingkuh, kamu pun bisa selingkuh…”

“Kamu biarkan saja dia selingkuh? Balas saja dengan selingkuh, biar dia kapok…”

Nasehat dari sahabat saat curhat, kadang menyemangati seorang laki-laki atau perempuan untuk melakukan balas dendam dengan melakukan kesalahan yang sama dilakukan pasangan. Misalnya ketika seorang suami selingkuh, maka istrinya berhak membalas dengan selingkuh. Jika seorang istri selingkuh, maka suaminya berhak membalas dengan selingkuh pula. Ini tentu sebuah nasehat yang sesat, karena menyuruh orang baik-baik melakukan penyimpangan dengan alasan balas dendam.

Semestinya suami atau istri dinasehati agar introspeksi diri, lalu mengajak pasangannya untuk bertaubat, membuat komitmen bagi perbaikan hubungan mereka di masa sekarang dan yang akan datang. Bukannya dikompori untuk melakukan balas dedam, disemangati untuk selingkuh, karena ini akan semakin membuat rusak keluarga yang tengah ada masalah, ditambah lagi menambah orang yang berbuat salah. Semula yang salah satu orang, lalu pasangannya dikompori melakukan kesalahan, jadilah semua menjadi sama-sama salah.

Nasehat untuk melakukan balas dendam seperti itu jelas-jelas sesat dan menyesatkan. Ajaran agama menyuruh kita untuk mudah memaafkan, sedangkan bagi pihak yang melakukan kesalahan hendaknya dibimbing untuk bertaubat. Jika balas dendam dilakukan oleh istri dengan alasan suaminya selingkuh, nanti suami akan membalas lagi dengan selingkuh berikutnya dengan alasan selingkuh yang dilakukan istrinya lebih parah dibanding yang dia lakukan pertama. Lalu istrinya akan membalas lagi dengan selingkuh lagi dengan alasan karena suaminya sudah selingkuh dua kali, maka iapun harus selingkuh dua kali. Kondisi seperti ini tidak ada selesainya jika dituruti, dan akan menyebabkan kerusakan moral dalam keluarga. Mereka menjadi keluarga rusak dan bejat karena mengikuti nasehat sesat.

Ngapain kamu masih mau bertahan?

“Aku heran, diperlakukan seperti itu oleh suami kamu, kok kamu masih mau bertahan hidup dengannya…”

“Ngapain kamu pertahankan istri seperti itu? Tinggalkan saja…”

“Untuk apa hidup berumah tangga dengan orang seperti itu? Tidak ada lagi gunanya…”

Dalam pandangan agama, pernikahan adalah ikatan sakral (mitsaqan ghalizha) yang harus dijaga keutuhannya. Tidak boleh diceraiberaikan ikatan itu dengan semena-mena tanpa alasan yang bisa diterima oleh pandangan agama. Oleh karena itu, mengompori suami untuk meninggalkan atau menelantarkan istri adalah tindakan yang tidak bertanggung jawab. Sebagaimana memanas-manasi istri untuk lepas dan meninggalkan suami adalah tindakan yang tidak tepat dan tidak benar. Apalagi situasinya hanya sepihak, curhat hanya mendengarkan masalah dari satu versi saja, ini membuat pandangan yang tidak adil dan tidak berimbang.

Semestinya, dalam situasi konflik, yang harus dinasehatkan adalah agar suami dan istri saling mendekat, untuk mencari solusi secara dewasa dan bijaksana. Suami dan istri yang tengah menghadapi konflik diajak dan dinasehati untuk bisa bersabar menghadapi situasi sulit itu dan tetap mempertahankan keutuhan hidup berumah tangga. Nasehat yang mengajak untuk saling menjauh, meninggalkan, menelantarkan pasangan, bertentangan dengan nilai kesakralan sebuah ikatan pernikahan. Bertahan demi keutuhan keluarga, adalah sebuah pilihan dewasa, sambil mencari solusi terbaik atas masalah yang mereka hadapi.

Memilih untuk pergi dari pasangan karena marah, jengkel dan bermasalah, adalah tindakan yang sangat tidak bertanggung jawab dan tidak dewasa. Itu seperti keputusan anak kecil yang lari dari rumah setelah dimarahi ibunya. Sebagai orang dewasa, semua masalah harus diselesaikan dengan dewasa pula. Jika marah, jengkel dan kecewa, bicarakan baik-baik dengan pasangan. Cari solusi bersama pasangan, tetaplah bertahan walau kadang suasana tidak seperti yang diharapkan. Jika merasakan hal yang tidak menyenangkan dalam pernikahan ingatlah bahwa tujuan menikah bukan hanya untuk bersenang-senang. Maka tetaplah bertahan, sambil mencari jalan keluar dari permasalahan.

Tinggalkan saja dia, masih banyak laki-laki/perempuan lainnya

“Cari suami lagi saja, masih banyak kok laki-laki baik yang mau sama kamu…”

“Cari cewek sana, sangat mudah bagi kamu untuk mendapatkan istri baru…”

“Kayak gak ada orang lain saja, banyak tuh orang-orang yang suka sama kamu…”

Nasehat yang mengarahkan suami untuk mencari istri lain dengan meninggalkan istri yang ada, adalah provokasi yang membahayakan. Demikian pula nasehat yang mengajak istri untuk mencari suami lain dengan meninggalkan suami yang ada, adalah provokasi yang semakin merusak kebahagiaan hidup berumah tangga. Semestinya, di saat konflik suami dan istri dinasehati agar mencari solusi yang bisa manyatukan dan mengembalikan keharmonisan keluarga. Bukan dinasehati agar secepatnya mencari suami atau istri baru padahal masalah dengan pasangan belum menemukan titik penyelesaian.

Nasehat seperti itu potensial menimbulkan masalah baru. Masalah pokok dengan pasangan belum terselesaikan, namun sudah ditambah dengan masalah lagi karena suami mulai mencari istri baru, atau si istri mulai mencari suami baru. Bisa jadi kenyataannya memang seperti yang dikatakan para sahabat yang memberi nasehat tersebut, bahwa suami masih memiliki banyak fans yang akan mudah dijadikan istri; dan bahwa istri masih memiliki banyak pemuja yang akan mudah menjadikan dirinya sebagai istri. Namun nasehat itu tidak bisa diterima, karena semestinya suami dan istri dinasehati untuk berpikir keras mencari solusi demi bisa mengembalikan keutuhan keluarga.

Ketika banyak sahabat yang mengompori seorang suami untuk mencari istri baru, dirinya merasa mendapat legitimasi untuk melakukan nasehat itu. Akhirnya ia mulai berulah dengan aktif mencari gebetan yang nanti bisa dijadikan istri apabila sudah bercerai dengan istri yang sekarang. Demikian pula ketika banyak sahabat memanas-manasi seorang istri untuk mencari suami baru, dirinya bisa merasa mendapatkan legitimasi untuk mulai berdekat-dekat dengan laki-laki yang diharapkan akan menjadi suami barunya kelak ketika sudah resmi berpisah dari suami yang sekarang. Tindakan ini membuat semakin parahnya permasalahan, bukan menyelesaikan dan mendamaikan, justri menceraiberaikan.

Sesekali waktu carilah kesenangan di luar rumah

“Ada banyak kesenangan di luar rumahmu, sesekali carilah kesenangan…. Itu adalah hak kamu….”

“Kamu berhak bahagia… Jika suami kamu tidak bisa membahagiakan kamu, masih banyak kok kebahagiaan lain di luar rumah kamu…”

“Kalau istri kamu tidak bisa membahagiakan kamu, cari saja kebahagiaan dari perempuan lain di luar rumahmu….”

Nasehat semacam itu sangat jauh dari nilai kebaikan. Suami dan istri semestinya mencari kesenangan dan kebahagiaan bersama pasangan, bukan bersama orang lain yang tidak halal baginya. Memang benar ada banyak orang bisa dengan mudah diajak bersenang-senang, namun itu sama sekali tidak menyelesaikan persoalan yang sedang terjadi dalam keluarga mereka. Justru akan semakin membuat masalah semakin meluas dan melebar, tidak ada batasnya. Kesenangan yang didapatkan dengan cara tidak halal, adalah kesenangan semu yang justru akan menghantarkan keluarga dalam kehancuran.

Ketika suami dikompori untuk mencari kesenangan lain di luar rumah, mungkin dirinya akan termotivasi untuk melampiaskan hasrat yang selama ini terpendam kepada perempuan lain yang tidak halal baginya. Bahkan mungkin akan ‘jajan’ dengan perempuan penghibur yang bekerja demi bayaran. Demikian pula ketika istri dikompori untuk mencari kesenangan lain di luar rumah, mungkin dia akan termotivasi untuk melakukan selingkuh dengan laki-laki lain sebagai pelampiasan hasratnya. Seakan-akan ini hanya untuk pelampiasan hasrat yang sudah lama tidak tersalurkan kepada pasangan karena sedang ada permasalahan.

Suami atau istri terdorong mencari penyaluran hasrat sesaat tanpa ikatan, karena hanya untuk mencari kesenangan dan pelampiasan. Seakan-akan ini adalah tindakan yang wajar dengan alasan “aku kan berhak bahagia”. Padahal tindakan seperti itu jelas menyimpang dan rusak, dampaknya akan semakin memperparah persoalan hidup berumah tangga. Nasehat yang mendorong munculnya tindakan seperti itu jelas sesat, maka jangan dipercaya dan jangan diikuti.

Cari Sahabat yang Tepat

Nah berbagai contoh nasehat dari sahabat yang didapatkan ketika sedang curhat tersebut, benar-benar bisa membawa kepada mudharat. Tidak memberikan manfaat untuk menjaga kebaikan dan keharmonisan keluarga, justru memprovokasi untuk mengambil sikap serta tindakan yang membahayakan. Hal ini semestinya disaring dan difilter dengan cermat oleh suami dan istri yang tengah menghadapi masalah, agar tidak mudah menerima nasehat sesat dan nekat dari sahabat-sahabat yang menjadi tempat curhat.

Pilih sahabat yang salih dan salihah, yang mengajak kepada kebaikan dan menjaga martabat. Jangan memilih sahabat yang mengajak melakukan perbuatan maksiat. Semua nasehat yang mengarahkan kepada perbuatan bejat, adalah nasehat sesat yang tidak boleh digunakan dalam mengambil keputusan. Keluarga adalah pondasi yang sangat berharga dalam kehidupan manusia, maka jangan menjadikannya sebagai bahan permainan dan bahan percobaan. Keluarga harus dijaga dengan segenap cinta, dirawat dengan segenap tenaga, diarahkan dengan segenap daya, agar tetap harmonis, bahagia dan memberikan ketenteraman dalam kehidupan.

Ada sangat banyak konselor, psikolog atau ulama terpercaya tempat curhat yang bermartabat. Yang bisa memberikan nasehat yang tepat dan membimbing suami serta istri menuju kebaikan dunia maupun akhirat. Jangan dengarkan nasehat sesat yang justru akan membawa kepada maksiat dan laknat.

Di dalam Citilink QG108, Jakarta — Yogyakarta 22 Agustus 2017

Cahyadi Takariawan

Penulis Buku Wonderful Family Series

Penulis Buku Serial “Wonderful Family”, Peraih Penghargaan “Kompasianer Favorit 2014”; Konsultan di “Rumah Keluarga Indonesia” (RKI) dan “Jogja Family Center” (JFC). Instagram @cahyadi_takariawan. Fanspage : https://www.facebook.com/cahyadi.takariawan/

10 Ciri Keluarga Sakinah, Anda Sudah Memiliki?


Setiap manusia pasti menginginkan kehidupan yang berbahagia di dunia maupun kelak di surga. Termasuk dalam kehidupan keluarga. Tidak ada seorangpun yang menghendaki keluarganya rusak dan berantakan, tidak ada orang yang ingin rumah tangganya hancur dengan mengenaskan. Semua orang membayangkan keindahan saat memasuki kehidupan berumah tangga.

Saya yakin semua orang pasti setuju, jika harapan itu berada dalam kehangatan keluarga. Harapan itu ada pada keluarga yang dipenuhi keindahan, diliputi oleh kebahagiaan. Keluarga yang memunculkan produktivitas, keluarga yang menghadirkan kontribusi bagi masyarakat luas. Sebuah keluarga yang menghargai potensi, menjunjung tinggi budi pekerti, menghormati nilai-nilai. Sebuah keluarga yang mentaati tatanan Ilahi, mengikuti tuntunan Nabi.

Itulah keluarga sakinah, mawadah, wa rahmah. Tiga kata yang acap diringkas dengan sebutan Keluarga Sakinah. Sebagaimana diketahui, kata sakinah, mawadah dan rahmah itu diambil dari ayat:

Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu isteri-isteri (pasangan) dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram (sakinah) kepadanya, dan dijadikan-Nya diantaramu rasa kasih (mawadah) dan sayang (rahmah). Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfikir” (Ar Rum : 21).

Keluarga sakinah bukan hanya khayalan, namun sesuatu yang nyata dan bisa diwujudkan dalam kehidupan keseharian. Ia memiliki berbagai ciri, di antaranya adalah sebagai berikut :

1.Berdiri di atas pondasi keimanan yang kokoh

Keluarga sakinah bukan berdiri di ruang hampa, tidak berada di awang-awang. Keluarga sakinah berdiri di atas pondasi keimanan kepada Allah. Sebagai bangsa yang religius kita semua percaya bahwa kebahagiaan hidup berumah tangga tidak bisa dilepaskan dari nilai-nilai keimanan. Suami dan istri yang memiliki keimanan yang kokoh kepada Allah, akan merasakan pengawasan dari-Nya. Mereka akan terjaga dalam kebaikan, terjauhkan dari kejahatan dan keburukan, karena yakin selalu dijaga dan diawasi Allah.

Mereka hidup dalam kesejukan iman, yang membuat suasana spiritualitas dalam keluarga menjadi semakin kuat. Inilah yang akan menjadi pondasi kebahagiaan dan kesukseshan hidup berumah tangga. Iman akan membimbing arah dan tujuan, iman akan memandu visi dan misi kehidupan, iman akan menghantarkan kepada jalan yang lurus dan menjauhkan dari penyimpangan.

Kebahagiaan yang hakiki hanya didapatkan dari keimanan yang benar. Tidak ada kebahagiaan yang landasannya hanya materi atau hanya kesenangan duniawi.

2.Menunaikan misi ibadah dalam kehidupan

Kehidupan kita tidak hanya untuk bersenang-senang dan bermain-main, namun ada misi ibadah yang harus kita tunaikan. Menikah adalah ibadah, hidup berumah tangga adalah ibadah, interaksi dan komunikasi suami istri adalah ibadah, berhubungan seksual adalah ibadah, mengandung, melahirkan dan menyusui anak adalah ibadah, mendidik anak adalah ibadah, mencari rejeki adalah ibadah, membersihkan rumah adalah ibadah, mandi adalah ibadah, makan adalah ibadah, berbuat baik kepada tetangga adalah ibadah, semua kegiatan hidup kita hendaknya selalu berada dalam motivasi ibadah.

Dengan motivasi ibadah itu maka kehidupan berumah tangga akan selalu lurus, di jalan yang benar, tidak mudah menyimpang. Jika ada penyimpangan segera mudah diluruskan lagi, karena semua telah menyadari ada misi ibadah yang harus ditunaikan dalam kehidupan. Bahwa menikah tidak hanya karena keinginan nafsu kemanusiaan, namun ada misi yang sangat jelas untuk menunaikan ibadah.

3.Mentaati ajaran agama

Sebagai insan beriman, sudah menjadi kewajiban kita untuk selalu mentaati ajaran agama. Mengikuti ajaran Allah dan tuntunan Nabi-Nya. Ajaran ini meliputi melaksanakan hal-hal yang diwajibkan atau disunnahkan, ataupun menghindarkan diri dari hal-hal yang diharamkan atau dimakruhkan. Semua ajaran agama pasti mengandung maksud untuk mendatangkan kebaikan atau kemaslahatan, dan menghindarkan manusia dari kerusakan.

Misalnya dalam mencari dan memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari, hendaknya selalu sesuai dengan tuntunan agama. Hendaknya kita menghindari mata pencaharian yang haram dan syubhat, menghindari rejeki yang tidak halal dari segi zat maupun asalnya. Kita harus berusaha mendapatkan penghidupan yang halal dan thayib, dengan cara yang halal dan thayib pula.

Demikian pula dalam mengelola rumah tangga, selalu mendasarkan diri pada ajaran agama. Hal-hal yang dilarang agama tidak akan dijumpai di dalam rumah, baik berupa keyakinan, tradisi, sampai kepada peralatan, perhiasan, teknologi, ataupun benda-benda yang digunakan sehari-hari. Semua yang ada dalam rumah hanya yang dibenarkan menurut ajaran agama.

4.Saling mencintai dan menyayangi

Keluarga sakinah memiliki suasana yang penuh cinta dan kasih sayang. Suami dan istri saling mencintai dan saling menyayangi. Untuk itu mereka selalu berusaha untuk melakukan hal terbaik bagi pasangan. Mereka menghindarkan diri dari tindakan atau ucapan yang saling menyakiti, saling mengkhianati, saling melukai, saling mendustai, saling mentelantarkan, saling membiarkan, saling meninggalkan.

Mereka berusaha saling memaafkan kesalahan, saling mendahului meminta maaf, saling membantu pasangan dalam menunaikan tugas dan kewajiban. Karena cinta maka mereka tidak mudah emosi, karena cinta maka mereka tidak mudah marah, karena cinta maka mereka akan selalu setia kepada pasangannya.

 

5.Saling menjaga dan menguatkan dalam kebaikan

Pasangan suami istri saling menjaga dan bahkan selalu berusaha saling menguatkan dalam kebaikan. Dalam kehidupan berumah tangga, seiring dengan bertambahnya usia pernikahan, kadang terjadi penurunan nilai-nilai kebaikan. Suami dan istri menjadi malas melaksanakan ibadah, malas melakukan kebaikan, malas menunaikan kewajiban, sehingga suasana keluarga menjadi kering kerontang dan tidak menyenangkan. Mereka selalu berusaha saling menguatkan dalam kebaikan, sehingga tidak membiarkan terjadinya  suasana kekeringan spiritual dalam kehidupan keluarga.

Semua orang memiliki sisi kelemahan dan kekurangan. Bahkan semua manusia berpeluang melakukan kesalahan dan dosa. Maka pasangan suami istri dalam keluarga sakinah selalu berusaha saling mengingatkan dan menasihati dalam kebenaran. Mereka mengerti cara mengingatkan pasangan, agar tidak menimbulkan salah paham dan kemarahan. Saling mengingatkan dan menasihati antara suami dan istri adalah cara untuk saling menjaga dan menguatkan dalam kebaikan.

6.Saling memberikan yang terbaik untuk pasangan

Suami dan istri selalu berusaha memberikan yang terbaik bagi pasangan. Suami dan istri saling memberikan pelayanan terbaik, memberikan penampilan terbaik, memberikan perhatian terbaik, memberikan bantuan terbaik, memberikan kata-kata terbaik, memberikan senyuman terbaik, memberikan sentuhan terbaik, memberikan motivasi terbaik, memberikan inspirasi terbaik, memberikan suasana terbaik, memberikan hadiah terbaik, memberikan waktu terbaik, memberikan komunikasi terbaik, memberikan wajah terbaik untuk pasangan.

Dengan kondisi seperti ini maka suami dan istri akan selalu berada dalam kenyamanan hubungan. Mereka tidak menuntut hak dari pasangannya, namun justru berloimba melaksanakan kewajiban untuk pasangan.

7.Mudah menyelesaikan permasalahan

Keluarga sakinah bukan berarti tidak ada permasalahan, bukan berarti tanpa pertengkaran, bukan berarti bebas dari persoalan. Namun, dalam keluarga sakinah berbagai persoalan mudah diselesaikan. Suami dan istri bergandengan tangan saling mengurai persoalan. Mereka bersedia duduk berdua, berbincang berdua, mengurai berbagai keruwetan hidup berumah tangga. Tidak ada masalah yang tidak bisa diselesaikan sepanjang mereka berdua bersedia menyelesaikannya.

Keluarga sakinah menjadikan permasalahan sebagai pemacu semangat untuk melakukan perbaikan. Dengan hati yang bersih dan pikiran yang jernih, mereka akan mudah keluar dari setiap masalah.

8.Membagi peran berkeadilan

Suami dan istri dalam keluarga sakinah selalu berusaha untuk melakukan pembagian peran secara berkeadilan. Tidak boleh ada salah satu pihak yang terzalimi atau terbebani secara berlebihan, sementara pihak lainnya tidak peduli. Oleh karena itu, sejak awal hidup berumah tangga, suami dan istri telah menerapkan prinsip keadilan di dalam membagi peran. Ada peran yang sudah ditetapkan oleh ajaran agama, maka tinggal melaksanakannya sesuai ketentuan agama. Namun untuk peran yang tidak diatur oleh agama, maka hendaknya bisa dibagi secara berkeadilan oleh suami dan istri itu sendiri.

Suami dan istri bisa duduk berdua untuk membicarakan peran yang bisa mereka laksanakan dalam kehidupan keseharian. Apa yang menjadi tanggung jawab istri dan apa pula yang menjadi tanggung jawab suami. Dengan cara pembagian seperti ini mereka menjadi merasa nyaman dan lega karena tidak ada pihak yang terbebani atau terzalimi.

9.Kompak mendidik anak-anak

Suami dan istri dalam keluarga sakinah sadar sepenuhnya bahwa mereka harus mencetak generasi yang tangguh, generasi yang unggul, yang akan meneruskan upaya pembangunan peradaban. Anak-anak harus terwarnai dalam nilai-nilai kebenaran dan kebaikan, sehingga menjadi salih dan salihah. Anak-anak yang memberikan kebanggaan bagi orang tua, masyarakat, bangsa dan negara. Bukan menjadi anak durhaka, yang membangkang terhadap orang tua dan menjauhi tuntunan agama. Bukan anak-anak yang menjadi beban bagi keluarga, masyarakat, bangsa dan negara.

Itu semua harus diawali dengan kedua orang tua yang kompak dalam mendidik dan membina anak-anak. Suami dan istri yang kompak dalam mengarahkan anak menuju kesuksesan dunia maupun akhirat, dengan pendidikan yang integratif sejak di dalam rumah.

10.Berkontribusi untuk kebaikan masyarakat, bangsa dan negara

Keluarga sakinah selalu berusaha memberikan kontribusi optimal untuk perbaikan masyarakat, bangsa dan negara. Suami dan istri terlibat dalam berbagai kegiatan sosial kemasyarakatan, cepat memberikan kemanfaatan bagi warga sekitar, ringan memberikan bantuan bagi mereka yang memerlukan. Keluarga sakinah selalu terlibat dalam dinamika pembangunan dalam berbagai bidang kehidupan. Mereka bukan tipe orang-orang yang individualis atau egois, yang tidak peduli masyarakat sekitar. Namun keluarga sakinah selalu peduli dan bersedia berbagi dengan apa yang mereka miliki.

Suami dan istri terlibat aktif dalam kegiatan kemasyarakatan yang positif, seperti kegiatan pertemuan RT atau pertemuan RW, dasa wisma, pertemuan PKK, posyandu, ronda, kerja bakti, menjenguk tetangga yang sakit, silaturahim dan lain sebagainya. Demikian pula mereka peduli dengan nasib warga sekitar, ataupun nasib masyarakat yang memerlukan bantuan. Ini adalah bentuk kontribusi positif bagi kebaikan masyarakat, bangsa dan negara.

Bahan Bacaan :

Aidh bin Abdullah Al Qarni, Keluarga Idaman, Darul Haq, Jakarta, 2004

Cahyadi Takariawan, Wonderful Family, Merajut Kebahagiaan Keluarga, Era Adicitra Intermedia, Solo, 2014

Isham Muhammad Asy Syarif, Beginilah Nabi Saw Mencintai Istri, Gema Insani Press, Jakarta, 2005

3 Bekal Mengasuh Anak


Apakah do’a-do’a kita telah cukup untuk mengantar anak-anak menuju masa depan yang menenteramkan? Apakah nasehat-nasehat yang kita berikan telah cukup untuk membawa mereka pada kehidupan yang mulia? Ataukah kita justru merasa telah cukup memberi bekal kepada anak-anak kita dengan mengirim mereka ke sekolah-sekolah terbaik dan fasilitas yang lengkap? Kita telah merasa sempurna sebagai orangtua karena bekal ilmu telah melekat kuat dalam diri kita.

Hari-hari ini, ada yang perlu kita renungkan. Betapa banyak ahli yang ‘ibadah yang keturunannya jauh dari munajat kepada Allah ‘Azza wa Jalla. Tak ada anak yang mendo’akannya sesudah kematian datang. Begitu pula, alangkah banyak orangtua yang nasehatnya diingat dan petuahnya dinanti-nanti ribuan manusia. Tetapi sedikit sekali yang berbekas dalam diri anak. Padahal tak ada niatannya untuk melalaikan anak sehingga lupa memberi nasehat. Ia bahkan memenuhi setiap pertemuannya dengan anak dengan nasehat-nasehat disebabkan sedikitnya waktu untuk bertemu. Tetapi justru karena itulah, tak ada lagi kerinduan dalam diri anak. Sebab pertemuan tak lagi indah. Nyaris tak ada bedanya bertemu orangtua dengan mendengar kaset ceramah.

Lalu apakah yang sanggup menaklukkan hati anak sehingga kata-kata kita selalu bertuah? Apakah kedalaman ilmu kita yang bisa membuat mereka hanyut mendengar nasehat-nasehat kita? Ataukah besarnya wibawa kita yang akan membuat mereka senantiasa terarah jalan hidupnya? Atau kehebatan kita dalam ilmu komunikasi yang menyebabkan mereka selalu menerima ucapan-ucapan kita? Sebab tidaklah kita berbicara kecuali secara terukur, baik pilihan kata maupun ketepatan waktu dalam berbicara.

Ah, rasanya kita masih banyak menemukan paradoks yang susah untuk dibantah. Ada orang-orang yang tampaknya kurang sekali kemampuannya dalam memilih kata, tetapi anak-anaknya mendengarkan nasehatnya dengan segenap rasa hormat. Ada orangtua yang tampak sekali betapa kurang ilmunya dalam pengasuhan, tetapi ia mampu mengantarkan anak-anaknya menuju masa depan yang terarah dan bahagia. Tak ada yang ia miliki selain pengharapan yang besar kepada Allah ‘Azza wa Jalla seraya harap-harap cemas dikarenakan kurangnya ilmu yang ia miliki dalam mengasuh anak. Sebaliknya, ada orangtua yang begitu yakinnya bisa mendidik anak secara sempurna. Tapi tak ada yang bisa ia banggakan dari anak-anak itu di masa dewasa kecuali kenangan masa kecilnya yang lucu menggemaskan.

Agaknya…, ada yang perlu kita tengok kembali dalam diri kita, sudahkah kita memiliki bekal untuk mengasuh anak-anak itu menuju masa dewasa? Tanpa menafikan bekal lain yang kita perlukan dalam mengasuh anak, terutama yang berkait dengan ilmu, kita perlu merenungi sejenak firman Allah Ta’ala dalam surat An-Nisa’ ayat 9:

“Dan hendaklah takut kepada Allah orang-orang yang seandainya meninggalkan di belakang mereka
anak-anak yang lemah, yang mereka khawatir terhadap mereka. Oleh sebab itu hendaklah mereka
bertakwa kepada Allah dan hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang benar.” (QS. An-Nisaa’,
4: 9).

Mujahid menjelaskan bahwa ayat ini diturunkan berkenaan dengan permintaan Sa’ad bin Abi Waqash tatkala sedang sakit keras. Pada saat Rasulullah saw. datang menjenguk, Sa’ad berkata, “Ya Rasulallah, aku tidak memiliki ahli waris kecuali seorang anak perempuan. Apakah aku boleh menginfakkan dua pertiga dari hartaku?”

Rasulullah saw. bersabda, “Tidak boleh.”

“Separo, ya Rasul?”

“Tidak,” jawab Rasul lagi.

“Jika sepertiga, ya Rasul?”

Rasul mengizinkan, “Ya, sepertiga juga sudah banyak.” Rasulullah saw. bersabda, “Lebih baik kamu meninggalkan ahli warismu dalam keadaan berkecukupan daripada dalam keadaan miskin yang meminta-minta kepada orang lain.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Berpijak pada ayat ini, ada tiga pelajaran penting yang perlu kita catat. Betapa pun inginnya kita membelanjakan sebagian besar harta kita untuk kepentingan dakwah ilaLlah, ada yang harus kita perhatikan atas anak-anak kita. Betapa pun besar keinginan kita untuk menghabiskan umur di jalan dakwah, ada yang harus kita periksa terkait kesiapan anak-anak dan keluarga kita. Sangat berbeda keluarga Umar bin Khaththab dan Abu Bakar Ash-Shiddiq radhiyallahu anhuma dengan keluarga sebagian sahabat Nabi lainnya. Umar bin Khaththab menyedekahkan separo dari hartanya, sedangkan Abu Bakar Ash-Shiddiq tidak meninggalkan untuk keluarganya kecuali Allah dan Rasul-Nya. Abu Bakar menginfakkan seluruh hartanya. Dan Rasulullah shallaLlahu ‘alaihi wa sallam mengizinkan sekaligus menyambut baik amal shalih keduanya.

Lalu…, bagaimanakah dengan keluarga kita?

Kembali kepada pada perbincangan awal kita. Ada tiga bekal yang perlu kita miliki dalam mengasuh anak-anak kita. Pertama, rasa takut terhadap masa depan mereka. Berbekal rasa takut, kita siapkan mereka agar tidak menjadi generasi yang lemah. Kita pantau perkembangan mereka kalau-kalau ada bagian dari hidup mereka saat ini yang menjadi penyebab datangnya kesulitan di masa mendatang. Berbekal rasa takut, kita berusaha dengan sungguh-sungguh agar mereka memiliki bekal yang cukup untuk mengarungi kehidupan dengan kepala tegak dan iman kokoh.

Sesungguhnya di antara penyebab kelalaian kita menjaga mereka adalah rasa aman. Kita tidak mengkhawatiri mereka sedikit pun, sehingga mudah sekali kita mengizinkan mereka untuk asyikmasyuk dengan TV atau hiburan lainnya. Kita lupa bahwa hiburan sesungguhnya dibutuhkan oleh mereka yang telah penat bekerja keras. Kita lupa bahwa hiburan hanyalah untuk menjaga agar tidak mengalami kejenuhan.

Hari ini, banyak orang berhibur bahkan ketika belum mengerjakan sesuatu yang produktif. Sama sekali!

Kedua, taqwa kepada Allah ‘Azza wa Jalla. Andaikata tak ada bekal pengetahuan yang kita miliki tentang bagaimana mengasuh anak-anak kita, maka sungguh cukuplah ketaqwaan itu mengendalikan diri kita. Berbekal taqwa, ucapan kita akan terkendali dan tindakan kita tidak melampaui batas. Seorang yang pemarah dan mudah meledak emosinya, akan mudah luluh kalau jika ia bertaqwa. Ia luluh bukan karena lemahnya hati, tetapi ia amat takut kepada Allah Ta’ala. Ia menundukkan dirinya terhadap perintah Allah dan rasul-Nya seraya menjaga dirinya agar tidak melanggar laranganlarangan-Nya.

Ingin sekali saya berbincang tentang perkara taqwa, tetapi saya tidak sanggup memberanikan diri karena saya melihat masih amat jauh diri saya dari derajat taqwa. Karena itu, saya mencukupkan pembicaraan tentang taqwa sampai di sini. Semoga Allah Ta’ala menolong kita dan memasukkan kita beserta seluruh keturunan kita ke dalam golongan orang-orang yang bertaqwa.

Allahumma amin.

Ketiga, berbicara dengan perkataan yang benar (qaulan sadidan). Boleh jadi banyak kebiasaan yang masih mengenaskan dalam diri kita. Tetapi berbekal taqwa, berbicara dengan perkataan yang benar (qaulan sadidan) akan mendorong kita untuk terus berbenah. Sebaliknya, tanpa dilandasi taqwa, berbicara dengan perkataan yang benar dapat menjadikan diri kita terbiasa mendengar perkara yang buruk dan pada akhirnya membuat kita lebih permisif terhadapnya. Kita lebih terbiasa terhadap hal-hal yang kurang patut.

Karenanya, dua hal ini harus kita perjuangkan agar melekat dalam diri kita. Dua perkara ini, taqwa dan berbicara dengan perkataan yang benar (qaulan sadidan) kita upayakan agar semakin meningkat dari waktu ke waktu. Sekiranya keduanya ada dalam diri kita, maka Allah akan baguskan diri kita dan amal-amal kita.

Allah Ta’ala berfirman,

“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kamu kepada Allah dan katakanlah perkataan yang benar, niscaya Allah memperbaiki bagimu amalan-amalanmu dan mengampuni bagimu dosa-dosamu. Dan barang siapa menaati Allah dan Rasul-Nya, maka sesungguhnya ia telah mendapat kemenangan yang besar.” (QS. Al-Ahzab, 33: 70-71).

Nah.

Masih banyak yang ingin saya tulis, tetapi tak ada lagi ruang untuk berbincang di kesempatan ini. Semoga Allah ‘Azza wa Jalla pertemukan kita dalam kesempatan yang lebih lapang.
::Semoga yang sederhana bisa sekaligus menjadi penjelas tentang batas maksimal sedekah yang diperkenankan, kecuali bagi mereka yang imannya dan iman keluarganya sudah setingkat imannya Abu Bakar Ash-Shiddiq ra dan keluarganya.

Karena Anak Perlu Sentuhan Jiwa


Karena Anak Perlu Sentuhan Jiwa
Oleh Mohammad Fauzil Adhim

Mengesankan. Saya menerima naskah buku Human Touch dalam sebuah paket sangat tebal. Semula saya mengira paket tersebut berisi sejumlah buku yang telah terbit. Tetapi ternyata paket seukuran satu kardus 5 rim kertas HVS tersebut berisi naskah 1 judul buku yang sedang dipersiapkan penerbitannya. Istri saya terperangah, tetapi dengan segera ia antusias membaca naskah tersebut. Tak percuma buku ini ditulis sedemikian tebal. Selain kaya informasi, buku ini juga memiliki pijakan nash yang sangat kuat. Inilah kelebihan yang jarang dimiliki oleh buku-buku parenting Islami. Biasanya, jika buku tersebut memiliki pijakan nash yang kuat, ia kehilangan aktualitasnya. Bukan berarti nash yang shahih tidak bersifat aplikatif karena sesungguhnya nash itu memang untuk diterapkan, tetapi sangat jarang penulis yang mampu menariknya dalam kehidupan terkini.

Alih-alih, kadang perbincangan tentang teori maupun isu aktual terkesan hanya sebagai penguat saja sehingga dien ini terkesan minder di hadapan teori-teori terkini. Padahal seharusnya dien ini merupakan penakar bagi segala sesuatu yang datangnya kemudian, baik itu teori, teknik maupun isu terkini. Sering pula kita dapati buku-buku yang bermaksud menunjukkan ketinggian dien ini, tetapi terjebak pada sikap jumud atau sebaliknya: terlalu akomodatif terhadap hal-hal baru.Yang lebih parah, buku-buku yang judul dan kemasannya tampak Islami tidak jarang menjadikan nash Al-Qur’an maupun As-Sunnah Ash-Shahihah hanya sebagai pembenar. Yang ditulis sebenarnya murni berdasarkan pendekatan yang dipilihnya, tetapi dicari-carikan nash yang tampak bersesuaian sebagai dalil. Padahal sangat berbeda dalil dengan dalih.

Buku jenis terakhir ini kadang lahir dari mereka yang awam dalam masalah dien, tetapi tidak menyadari keawamannya sehingga membuatnya sangat berani melangkah. Kadang muncul dari mereka yang sangat bersemangat dalam agama, sebegitu bersemangatnya sehingga ia kehilangan kejernihan untuk menimbang dengan baik dan hati-hati apa yang baru muncul menurut takaran dien. Kadang pula buku sejenis itu ditulis oleh mereka yang sepenuhnya sadar bahwa dirinya tidak memiliki kepatutan dalam masalah dien, tetapi ia mengabaikan hal tersebut demi meraih dunia yang secuil. Na’udzubillahi min dzaalik.

Adapun saya, termasuk bagian yang pertama. Sesungguhnya saya masih sangat awam dalam masalah dien. Kebodohan saya terutama sangat terasa manakala belajar lebih jauh di waktu-waktu berikutnya kepada orang-orang yang memang memiliki kepatutan untuk berbicara tentang dien. Inilah yang menyebabkan saya gamang ketika harus member kata pengantar untuk buku ini. Disamping itu, buku ini mengesankan buat saya sehingga cukup menenggelamkan saya dan menggoda diri saya untuk menulis tema-tema parenting dengan berpijak pada pembahasan yang ada di buku ini. Kadang saya tergoda untuk menulis lebih cair sesuai konteks masyarakat Indonesia sehingga terasa lebih hidup. Tetapi saya mengurungkan diri sejenak. Itu godaan yang membuat kata pengantar buku ini tak kunjung selesai.

Cakupan tema buku ini sangat luas. Sebegitu luasnya sehingga terasa sekali betapa nyaris tak ada ruang yang tersisa dalam kehidupan kita ini kecuali ada bagian yang patut kita manfaatkan dengan sungguh-sungguh untuk mendidik anak kita. Secara garis besar, penulisnya –Dr. Muhammad Muhammad Badri—telah memilah menjadi beberapa bab dalam dua jilid tebal. Saya sangat berharap agar terjemahan buku ini dapat diterbitkan dalam dua atau tiga edisi sebagai ikhtiar untuk memaksimalkan manfaatnya. Selain penerbitan sesuai edisi aslinya, yakni dua jilid tebal, buku ini sebaiknya juga terbit dalam kemasan yang lebih ringkas sehingga memudahkan orang untuk membaca dimana saja. Ini serupa dengan langkah yang saya tempuh pada buku saya trilogy Kupinang Engkau dengan Hamdalah. Selain terbit dalam tiga jilid terpisah, yakni Kupinang Engkau dengan Hamdalah, Mencapai Pernikahan Barakah & Disebabkan Oleh Cinta, trilogi tersebut juga terbit dalam satu jilid utuh berjudul Kado Pernikahan untuk Istriku. Langkah ini memudahkan bagi para pembaca dengan kebutuhan berbeda-beda untuk mengambil manfaat dari buku tersebut.

Kembali berbincang tentang buku Human Touch karya Dr. Muhammad Muhammad Badri. Ada nasehat penting di jilid 2 buku ini. Kata Dr. Muhammad Muhammad Badri, “Cintailah anak-anak Anda dengan cinta yang nyata; tunjukkan kesalahan mereka dengan lembut dan santun; bersabarlah dalam menghadapi perilaku mereka; bersikaplah sesekali seakan-akan Anda mengabaikan kesalahan mereka; jadikanlah diri Anda sebagai teladan bagi mereka; gunakanlah cara dan metode yang tepat dalam melakukan itu. Gunakan bahasa cinta dan kasih-sayang.”

Ungkapan ringkas ini mengingatkan kepada kita, yakni keharusan mencintai anak-anak dengan cinta yang nyata. Banyak orangtua datang konsultasi kepada saya bermula dari tidak adanya perasaan dicintai pada diri anak. Orangtua merasa sudah tidak kurang-kurang dalam mengasuh anak, tetapi anak merasa orangtua tak peduli kepadanya. Orangtua merasa mencintai anaknya, tetapi anak tak melihat dan merasakan cinta itu secara nyata. Meski tak sedikit orangtua yang harus disadarkan betapa mereka belum mencintai anaknya dengan sungguh-sungguh. Masalahnya, bagaimana menunjukkan kepada anak agar mereka tak menganggap kita hanya bicara, melainkan lebih penting lagi mereka merasakan dan yakin bahwa kita mencintai mereka? Inilah sisi menarik buku Human Touch.

Ungkapan ringkas yang saya kutip tadi menarik untuk kita renungkan. Sebagai kata bijak, nasehat Dr. Muhammad Muhammad Badri tersebut sangat mengena. Tetapi jika kita buka lagi lembaran-lembaran sebelumnya maupun sesudahnya dari buku ini, nasehat tersebut sesungguhnya merupakan ringkasan. Melalui buku ini, ia mengajak kepada kita memahami cara dan sekaligus menuntun kita untuk mampu menggunakan metode yang tepat dalam mencintai anak secara nyata, meluruskan kesalahan dengan lembut dan santun dan mengendalikan diri agar mampu menghadapi berbagai kesalahan perilaku anak seraya meluruskannya dengan cara yang tepat.

Cinta kepada anak akan melahirkan penerimaan yang tulus terhadap mereka. Ini merupakan bekal sebagai orangtua agar dapat berlapang dada menerima mereka. Tetapi ini sekaigus dapat menggelincirkan kita untuk membiarkan kesalahan mereka. Betapa banyak anak yang akhirnya harusnya menghadapi masalah besar dalam kehidupannya bersebab hilangnya ketegasan orangtua. Mereka tidak tega mengambil tindakan karena rasa cintanya kepada anak dibiarkan menguasai tanpa kendali. Atau sebaliknya, karena ingin bersikap tegas, maka hilanglah kelembutan dalam bertutur dan bersikap. Alih-alih mau meluruskan kesalahan anak, kita justru bersikap sangat kasar. Na’udzubillahi min dzaalik. Semoga Allah Ta’ala ampuni saya atas bertumpuknya kesalahan dalam mengasuh anak-anak yang Allah Ta’ala amanahkan kepada saya. Semoga Allah Ta’ala ampuni kita semua.

Tentang meluruskan kesalahan anak, Dr. Muhammad Muhammad Badri mengingatkan, “Kita memulai dengan member tahu anak sisi-sisi negatif perilaku itu, lalu mengajaknya berdiskusi sewaktu ia tenang, santai dan antusias. Kita memulai dialog dengan pujian terhadap budi pekertinya yang pantas dipuji.”

“Ketika mereka berbuat salah,” kata Dr. Muhammad Muhammad Badri, “kita beri mereka kesempatan untuk mendengar tentang perbuatan mereka dengan tenang dan mencerahkan. Sebab, mungkin saja mereka tidak mengetahui dampak negatif dari kesalahan mereka, ataupun dampak positif dari tindakan yang benarm lantaran kita belum pernah member tahunya. Semestinya, kita mencela diri kita sendiri; itu baru adil namanya.”

Inilah yang perlu kita renungkan. Betapa mudah mencela anak, dan betapa sulit mencela diri sendiri. Padahal awalnya diri sendiri. Di buku ini, terasa sekali betapa pentingnya membenahi diri sendiri sebagai bekal untuk mengasuh dan mendidik anak, termasuk dalam meluruskan kesalahan maupun menumbuhkan ketaatan anak kepada orangtua. Begitu pun tatkala kita ingin memotivasi anak.

Mari kita simak bagian lain buku ini. Bacalah dengan seksama nasehat indah berikut ini, “Tentu saja untuk dapat member motivasi yang baik kepada anaknya, seorang ibu harus terlebih dulu mengetahui cara mengendalikan dirinya sendiri agar motivasi yang disampaikan kepada anak tidak berubah menjadi pelampiasan marah. Lagi pula, ketika memberi semangat atau dorongan kepada anak, seorang ibu harus menyadari sepenuhnya akan masa depan si anak karena setiap umpatan dan amarah yang ditumpahkan kepada anak hanya menumbuhsuburkan sikap membangkang, keras kepala, nakal, dengkiri, dan sebagainya. Bukan hanya itu, amarah orangtua juga mengubur kecenderungan anak untuk bersikap berani dan kreatif. Bahkan terkadang akibat amarah orangtua terhadap anak jauh lebih pahit dari yang kita bayangkan.”

Kemampuan memotivasi anak dengan motivasi yang benar; motivasi yang semakin menguatkan keyakinannya kepada Allah Ta’ala dan terbebas dari kesyirikan, sangat penting untuk kita miliki bukan hanya untuk memacu mereka agar bersungguh-sungguh dalam kebaikan. Motivasi juga perlu kita berikan untuk menguatkan hati mereka menerima kritik. Kata Dr. Muhammad Muhammad Badri, “Ketika menyampaikan kritik kepada anak, hendaklah Anda menyandingkannya dengan pemberian motivasi sambil terus menanamkan harapan ketika datang masa sulit.”

“Contohnya,” katanya lebih lanjut, “adalah penting untuk meyakinkan anak bahwa nilai yang buruk dalam ujian tidak identik dengan kegagalan atau kekalahan yang tidak terampuni. Nilai buruk hanyalah sebuah pertanda buruk sehingga ia harus dihadapi dengan upaya sungguh-sungguh untuk meraih nilai yang lebih baik.”

Selain motivasi, kita juga perlu memberi mereka inspirasi. Salah satu cara menginspirasi yang baik adalah menuturkan kisah kepada mereka. Melalui cara ini, kita berusaha menanamkan nilai-nilai kepada mereka. Kita mengajarkan din al-Islam ini melalui cerita, menyampaikan pertanyaan yang mengena, mengilustrasikan dengan gambar atau diagram dan berbagai cara lain yang memiliki pijakan syar’i. Nah, inilah yang perlu kita pelajari dari buku ini.

Pembahasan lain yang rasanya tak boleh kita lewatkan dari buku Human Touch adalah bagian II jilid 2 yang bertajuk: Jika Anda Ingin Dipatuhi. Sebagaimana tercermin dari judulnya, bagian ini mengajak kita menggali apa saja yang kita perhatikan agar anak-anak patuh kepada kita. Kita perlu bersungguh-sungguh mempelajari bagian ini, bukan terutama agar kita dapat menjadi orangtua efektif. Ada hal lebih penting lagi, yakni bagaimana mengantarkan anak dan menjaga mereka agar berada di jalan yang benar; jalan yang Allah Ta’ala ridhai dan tidak menjatuhkan mereka dalam kedurhakaan sehingga Allah Ta’ala murka kepada mereka.

Terakhir, tampaknya sepele tapi sungguh ia merupakan perkara yang sangat penting dalam agama ini adalah do’a. Sebaik apa pun kita mendidik anak, ada yang tak dapat kita abaikan, yakni ketulusan dan kesungguhan memohon pertolongan, penjagaan dan perlindungan Allah ‘Azza wa Jalla dari segala keburukan, yang tampak maupun tak tampak. Sungguh, tiada daya dan upaya selain semata-mata karena Allah Tuhan Seru Sekalian Alam. Sungguh, Dia yang menggenggam hati manusia sebagaimana Dia mengggenggam seluruh yang ada di alam semesta ini.

Seyakin apa pun kita terhadap upaya kita, kita tetap tidak sanggup menggenggam hidup kita sendiri. Lebih-lebih kehidupan anak-anak kita, cucu kita dan keturunan kita berikutnya. Maka kepada Allah ‘Azza wa Jalla kita sungkurkan kening, mengakui kehinaan diri dan memohon dengan penuh pinta kepada-Nya.

Demikianlah. Semoga buku ini menjadi kebaikan bagi yang menulis,menerjemah, menerbitkan maupun yang membaca. Semoga Allah Ta’ala jadikan kita dan keturunan kita seluruhnya termasuk golongan orang-orang beriman; golongan yang Allah Ta’ala berikan sebaik-baik perlindungan di Yaumil-Qiyamah. Allahumma amin.