Archives

Ikhlaskan Hati Untuk Berbagi Suami


 

Oleh: Ustadz Hakimuddin Salim, Lc., MA.

Sambungan dari artikel (Wahai Dakwah Jangan Rebut Suamiku Dariku)

Di sebalik tabir keberhasilan seorang pejuang, selalu ada sosok perempuan hebat di belakangnya. Bersama langkah para qaadah dan ‘udhoma dalam sejarah umat ini, selalu ada dukungan istri yang setia mendampingi. Para kaum berhati lembut itu, bukan sekedar berstatus istri, tapi berhasil menggandakan perannya sebagai peneguh keyakinan, penajam pikiran, telaga keteduhan, selimut ketenangan, dan penghibur dalam kesedihan.

Ada kesetiaan Hawa, bersama tugas berat Adam sebagai khalifah. Ada qona’ah Hajar, di samping kuatnya tauhid Ibrahim. Ada dukungan moral dan material dari Khadijah, saat Muhammad berhadapan dengan para thoghut Mekkah. Ada nasehat emas Moudhy, di balik gerakan tajdid Muhammad bin Saud. Ada kesabaran Lathifah, di belakang langkah juang Al-Banna. Ada kelembutan Masrurah, yang memperindah wibawa Hasyim Asy’ari. Ada peran serta Siti Walidah, bersama kecemerlangan Ahmad Dahlan.

Namun demikian, tak sedikit para pejuang yang surut langkahnya setelah bertengger di pelaminan. Apalagi para pejuang akhir zaman. Alih-alih kiprah dan prestasi dakwahnya bertambah, pernikahan yang diharapkannya bakal menghasilkan lompatan-lompatan hebat, justru membuat semangat juangnya sekarat. Tentu banyak sebab atas degradasi militansi yang terjadi, tapi acapkali salah satu sebab itu berasal dari sang istri.

Ada yang semenjak menikah, menjadi jarang kelihatan di agenda-agenda dakwah. Padahal ia dulu terkenal sebagai aktifis yang militan dan produktif. Bagaimana mau aktif berdakwah, jika hendak keluar rumah untuk rapat atau mengisi kajian, sang istri selalu pasang wajah cemberut. Apalagi jika pamit mau mukhoyyam, sang istri langsung bermuram durja dan meneteskan air mata. Lalu bagaimana jika panggilan jihad tiba?

Ada pula yang terkendala perbedaan fikrah. Sang akhwat yang dinikahinya, ternyata tak sepakat dengan visi dan misi dakwahnya. Perdebatan hebat sering terjadi, yang tak jarang berakhir pada pertengkaran sengit. Demi menyelamatkan bahtera rumah tangga, terpaksa ia undur diri dari komunitas dakwahnya. Sayangnya, di komunitas yang baru ia merasa tak nyaman. Sampai saat ini ia masih vakum dan kebingungan, laa ilaa haa-ulaa’ walaa ilaa haa-ulaa’.

Ada juga yang terganjal semangatnya untuk tholabul ‘ilmi. Sebenarnya kebutuhan umat terhadap kafa’ah syar’i telah membuatnya bertekad untuk kuliah hingga doktor di luar negeri. Namun tekad itu melemah setelah ia menikah. Rengekan dan keluhan sang istri yang tak tahan hidup di perantauan, membuatnya urung mewujudkan impian. Ia pun pulang ke tanah air dengan tangan hampa dan pupus harapan.

Pun ada yang terbelit masalah ekonomi. Pendapatannya sebagai guru di pesantren dan penceramah di berbagai mejelis ta’lim, terasa kurang untuk memenuhi kebutuhan keluarga. Hal itu diperparah dengan gaya hidup sang istri yang cenderung boros dan tinggi selera. Terpaksa ia harus banting setir keluar dari pesantren dan menyibukkan diri dengan dagangannya. Hingga tak ada lagi bagi dakwah waktu yang tersisa.

Cuplikan fenomena di atas semestinya tidak perlu terjadi jika para istri memahami dan menyadari peran besar mereka sebagai tulang punggung perjuangan. Rasulullah ‘alaihis sholatu wassalam menjanjikan kepada perempuan yang mendukung suaminya untuk berjihad, berdakwah, menuntut ilmu, dan bersabar atas itu semua, dengan pahala yang sama dengan pahala yang didapatkan oleh suaminya.

Sebagaimana hadits tentang Asma’ binti Yazid Al-Anshariyah radhiallahu ‘anha, bahwa dia mendatangi Rasulullah, sementara beliau sedang duduk di antara para sahabatnya. Asma’ pun berkata, “Aku korbankan bapak dan ibuku demi dirimu wahai Rasulullah. Aku adalah utusan para wanita di belakangku kepadamu. Sesungguhnya Allah mengutusmu kepada seluruh laki-laki dan wanita, maka mereka beriman kepadamu dan kepada Rabbmu. Kami para perempuan selalu dalam keterbatasan, sebagai penjaga rumah, tempat menyalurkan hasrat dan mengandung anak-anak kalian”.

Asma’ pun melanjutkan, “Sementara kalian kaum laki-laki mengungguli kami dengan shalat Jum’at, shalat berjamaah, menjenguk orang sakit, mengantar jenazah, berhaji setelah sebelumnya sudah berhaji dan yang lebih utama dari itu adalah jihad fi sabilillah. Jika lah seorang dari kalian pergi haji atau umrah atau jihad, maka kamilah yang menjaga harta kalian, yang menenun pakaian kalian, yang mendidik anak-anak kalian. Bisakah kami menikmati pahala dan kebaikan itu sama seperti kalian?”.

Rasulullah ‘alaihis sholatu wassalam pun memandang para sahabat dengan segenap wajahnya. Kemudian beliau bersabda, “Apakah kalian pernah mendengar ucapan seorang perempuan yang lebih baik pertanyaannya tentang urusan agamanya dari pada perempuan ini?” mereka menjawab, “Ya Rasulullah, kami tidak pernah menyangka ada wanita yang bisa bertanya seperti dia”.

Maka Rasulullah ‘alaihis sholatu wassalam menengok kepadanya dan bersabda, “Pahamilah wahai perempuan, dan beritahu para wanita di belakangmu, bahwa ketaatan istri kepada suaminya, usahanya untuk memperoleh ridhanya dan kepatuhannya terhadap keinginannya menyamai semua itu.” Wanita itu pun berlalu dengan wajah berseri-seri. (HR. Imam Baihaqi).

Harus disadari dan diyakini, saat para pejuang itu banting tulang untuk membela dan menolong agama Allah ta’ala, hingga tak ada waktu dan tenaga yang tersisa buat keluarga, apakah Allah akan membiarkan keluarga yang dicintainya terlantar? Allah ta’ala telah menjanjikan, “Jika kalian menolong (agama) Allah, maka Allah akan menolong kalian dan meneguhkan kedudukan kalian” (QS. Muhammad: 7).

Seperti juga yang diriwayatkan Ibnu Abbas, bahwa Rasulullah ‘alaihis sholatu wassalam bersabda, “Jagalah Allah, maka Allah akan menjagamu” (HR. Imam Tirmidzi). Tinta sejarah telah mencatat, bahwa penjagaan Allah terhadap siapa yang mau menjaga agama dan hukum-hukum-Nya disini tidak hanya bagi diri yang bersangkutan, tetapi dengan izin Allah penjagaan itu juga mencakup anak dan istri yang menjadi tanggungannya.

Tentu wujud pertolongan dan penjagaan Allah di atas bukan melulu berupa materi. Semua itu bisa terwujud dalam keberkahan hidup, anak-anak yang sholeh dan sholehah, kemudahan urusan, dijauhkan dari musibah, dan terpautnya hati manusia kepadanya. Itu semua adalah berkah perjuangan yang datang dari arah yang tak disangka.

Memang, para suami juga harus diingatkan untuk tidak lalai menunaikan kewajibannya terhadap keluarga. Namun kadang terjadi, meski sudah diatur dan diupayakan sedemikian rupa, realita perjuangan menuntut pengorbanan lebih hingga tak ada waktu tersisa. Lagi pula hangatnya hubungan tak selalu harus bersama. Bahkan perpisahan sementara akan membuncahkan rindu di dada dan cinta pun semakin membara. Sometimes we need to disconnect to make a fresh connection.

Hari ini, agenda besar nahdhotul ummah (kebangkitan umat) membutuhkan lebih banyak pengorbanan dan relawan sebagai martirnya. Ini akan meminta apa pun yang kita miliki, termasuk orang-orang terdekat yang kita cintai. Maka dari itu, tidak ada jalan lain bagi para istri, kecuali ikhlas dan ikhtisab untuk berbagi suami. Ya, berbagi suami dengan dakwah demi tegaknya panji Ilahi.

Semoga kebersamaan yang tertahan di dunia ini, berbuah kebersamaan abadi di surga nanti. “Dan orang-orang yang bersabar karena mengharap ridha-Nya, mendirikan shalat, dan berinfaq dari rizki yang Kami berikan kepada mereka, sembunyi atau terang-terangan, dan menolak keburukan dengan kebaikan; mereka itulah yang mendapat tempat kesudahan yang baik. Yaitu syurga ‘Adn yang mereka masuk ke dalamnya bersama orang-orang yang saleh dari bapak-bapak, isteri-isteri dan anak cucu mereka.” (QS. Ar-Ra’d: 22-23).

(Manhajuna/AFS)

Berpindah-pindah Membuka Jalan Dakwah


Dari Balikpapan ke Samarinda, lalu ke Tenggarong, Palangkaraya, dan Sampit. Kini, Imran terdampar di Palopo.
Mayat-mayat itu bergelimpangan di pinggir jalan. Tak jauh dari tubuh-tubuh yang tak berdaya itu, para lelaki bersenjatakan panah, parang dan tombak mondar-mandir nampak beringas, siap mencabut nyawa!

Di tengah suasana yang mecekam itu, tiba-tiba seorang di antara mereka menghampiri pria berkacamata yang baru datang dari arah kota. “Berhenti! Mau ke mana? Anda Madura kan?” katanya.

Suara bentakan itu terdengar nyaring di telinga Imran M. Jufri (37), pria berkacamata itu. Ia dai dari Pesantren Hidayatullah yang saat itu bertugas di Sampit. “Saya Bugis Pak, mau ke Pesantren Hidayatullah,” jawabnya setengah merinding.

Imran berharap dengan menyebut ”Bugis” sebagai suku yang tidak terlibat pertikaian akan menjadikan dirinya aman. Namun, ternyata jawaban Imran masih belum memuaskan. Mereka tidak mau membiarkan seorang pun lolos dari target. Imran diinterogasi.

Merasa keadaan makin gawat, spontan Imran menyebut nama M. Ranan Baut (Alm), Demang Kepala Adat Dayak Kalimantan Tengah. “Ranan Baut adalah penasihat Pesantren Hidayatullah Sampit,” jelas pria kelahiran Toli-Toli, 9 Septembar 1972. Sontak suasana menjadi cair dan bersahabat.

Malam itu Imran tidak berada di pesantren, ia bermalam di kota Sampit. Karena mendengar peristiwa pembantaian (Februari 2001), ia memutuskan segera ke pesantren untuk mengamankan para santrinya. Imran sadar dua dari 30 orang santrinya berasal dari suku Madura. Nyawa kedua anak itu ada dalam bahaya.
Alhamdulillah, dengan bantuan simpatisan kedua santri itu dapat disembunyikan dan selamat setelah diungsikan ke depan rumah dinas Bupati Sampit.

Hidayatullah Sampit terletak di Desa Sumber Makmur, Kecamatan Mentaya Hilir Utara, Sampit, Kalimantan Tengah. Normalnya, perjalanan dari kota ke lokasi pesantren, hanya ditempuh sekitar 25 menit saja. Tapi pagi itu, Imran menempuhnya selama 1, 5 jam. Bersyukur Imran selamat.

Setahun pasca konflik Dayak dan Madura, perekonomian Kota Sampit kembali berjalan normal, begitu pula dengan dakwah Hidayatullah. Aktivitas dakwah yang sempat putus kembali aktif, termasuk beberapa kegiatan TK/TP al-Qur’an yang sudah berbulan-bulan macet.

Kepercayaan masyarakat kepada Hidayatullah semakin kuat. Dakwah Imran yang dulu hanya bergerak di Muhammadiyah, kini juga sudah diterima di kalangan NU. Tidak heran jika Imran kadang harus membagi jadwal di masjid milik warga NU dan Muhammadiyah untuk mengisi jadwal khatib Jumat.

Kepercayaan itu semakin terlihat saat camat di Kecamatan Baamang menyerahkan sebuah yayasan peninggalan etnis Madura kepada dirinya. Di yayasan tersebut sudah berdiri satu buah gedung asrama dan tiga lokal ruang belajar permanen. “Barangkali ini caranya Allah melindungi umatnya dari kehancuran. Allah menitipkan amanah ini kepada kami agar dakwah dan pembinaan umat tetap berjalan di Sampit,” ungkap Imran penuh syukur.

Akan tetapi perjalanan dakwah tidak selamanya lancar. Di penghujung 2002, entah mengapa seorang tokoh masyarakat yang tidak bersimpati kepada dirinya mengirimkan guna-guna (semacam santet). Tujuannya agar seluruh santrinya tidak betah dan segera hengkang dari pesantren. Bersyukur, guna-guna tersebut tidak mempan. Yang terjadi justru sebaliknya, sang tokoh diusir oleh masyarakat karena melakukan tindak asusila dengan tetangganya.

Perbuatan jahat dengan santet itu terkuak. Ruswadi, sang pelaksana lapangan yang menanam santet di halaman pesantren mengakui perbuatannya dan meminta maaf.
Tinggal di Masjid
Dakwah dan sabar adalah satu paket yang utuh. Imran sudah menyadari hal itu sejak pertama kali kakinya melangkah meninggalkan Pesantren Hidayatullah, Balikpapan. Sudah berpuluh seniornya mengajarkan tentang dua hal ini, dan itu harus dipegang erat-erat.

Termasuk ketika ditugaskan ke Sampit pada l995. Ia harus bersabar saat belum punya tempat tinggal. Yang dilakukan adalah berkunjung ke sejumlah masjid. Di samping untuk melakukan shalat berjamaah, juga mencari peluang untuk tinggal di sana. ”Hitung-hitung cari tempat tinggal gratis,” katanya sambil tersenyum.

Oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala (SWT), ia dipertemukan dengan Drs H Muhammad, Wakil Ketua Pengadilan Agama yang menjadi ketua Badan Pengelola Masjid Al-Falah. Melalui Muhammad, Imran dipersilakan tinggal di Al Falah untuk sementara waktu. Syaratnya, ia mengurusi kegiatan-kegiatan di masjid. Mulai dari mengepel, menyusun jadwal khatib, merancang kegiatan Ramadhan, menjadi panitia Qurban hingga menghitung uang celengan.

Setelah setahun tinggal di Masjid Al-Falah, suatu malam di bulan Mei 1996, ia didatangi seseorang. Bagi Imran dan kawan-kawan, tamu yang berkunjung itu tidak asing lagi. Lelaki itu bernama Slamet, Kepala Desa Sumber Makmur, yang berniat mewakafkan tanah desa yang luasnya dua hektar.

“Alhamdulillah, Allahu Akbar!” pekik takbir anak-anak muda ini. Terbayang oleh mereka kehadiran Pesantren Hidayatullah di Sampit tinggal selangkah lagi. Doa Imran dikabulkan Allah, selang beberapa waktu kemudian di Desa Sumber Makmur itu dibangun Pesantren Hidayatullah, yang berdiri hingga sekarang.

Pindah ke Palopo
Setelah delapan tahun mengemban amanah dakwah di Sampit, Imran dipindahtugaskan ke Palopo, Sulawesi Selatan. Hingga saat ini, Imran memegang amanah sebagai Ketua DPD Hidayatullah Palopo.
Semangat Imran dalam dakwah tetap menyala. Baginya, Sampit dan Palopo tidak ada bedanya. Dua-duanya adalah medan dakwah yang siap dihadapi. Maka berbagai aktivitas kembali dilakukan seperti ceramah dan pengajian rutin lainnya. Ia juga dipercaya oleh Departemen Agama kota Palopo untuk menjadi penyuluh agama di kecamatannya.

Selain itu, kampus pesantren Hidayatullah seluas satu hektar yang berjarak 9 km dari pusat kota Palopo, kini telah berkembang pesat. Ada enam ruang kelas untuk SD, tiga kelas SMP, satu unit perpustakaan, masjid, empat rumah pembina, dan ruangan TK/TPA, semuanya tertata apik.

Perjalanan dakwah Imran, dimulai sejak bergabung dengan Pesantren Hidayatullah di Gunung Tembak (1988), Balikpapan. Pada masa santrinya, ia diberi amanah di Departemen Kebersihan dan Lingkungan Hidup. Pekerjaan sehari-harinya yakni membersihkan sampah dan menyabit rumput. Ia juga membuat taman dan mengelola keindahan kampus dengan menanam berbagai bunga hingga suasana kampus menjadi indah.

Pada tahun 1990, ia diberi tugas baru untuk membantu perintisan Hidayatullah di kota Samarinda. Di kota Tepian ini, Imran diberi amanah untuk mewujudkan berdirinya sebuah masjid. Dari Samarinda, ia berpindah ke Tenggarong, Kabupaten Kutai (1995). Di tempat ini ia diberi amanah sebagai Pimpinan Ranting. Saat itu, Hidayatullah di Tenggarong juga baru dirintis.

Setahun berdakwah di Tenggarong, Kalimantan Timur, ia lalu dipindah tugaskan ke Palangkaraya, Kalimantan Barat. Juga dengan tugas yang sama.
Belum genap setahun bertugas di Palangkaraya, di akhir tahun 1996, barulah ia kemudian diberi amanah untuk melakukan perintisan di Hidayatullah Cabang Sampit, sebelum akhirnya bertugas di Palopo hingga sekarang. *Sarmadani/Ali Athwa/Suara Hidayatullah OKTOBER 2009

//


SavedURI :Show URL

Balada Hafizh di Sarang Pelacur


Dentuman musik menyeruak di salah satu wisma bordil di Dolly. Di dalamnya terlihat beberapa perempuan duduk sambil bermain kartu. Sebagian lainnya mejeng (pamer diri) di depan wisma. Pakaiannya menantang syahwat, sambil mengepulkan asap rokok dari bibirnya yang dipoles warna merah menyala. Tanpa malu-malu mereka menggoda pria yang lewat. “Mampir, Mas!” kata salah satu wanita penjaja seks itu.
Ada ratusan wisma di komplek pelacuran yang terkenal di Surabaya, Jawa Timur itu. Di antara wisma itu terselip satu rumah yang tampilannya beda. Rumah itu kecil dan sederhana. Bahkan atap plafon terasnya sebagiannya sudah rontok. Tidak ada satu pun barang berharga di ruang tamunya, kecuali selembar karpet lusuh dan sebuah kalender yang menempel di dinding.

Bagian depan rumah itu, terpasang pagar besi berbentuk jeruji seperti tombak. Persis di depan pagar itu berdiri papan nama bertuliskan “Sekretariat Jam’iyyah Hufazh Sawahan (JHS),” organisasi para penghafal al-Qur`an.

Tak salah, penghuni rumah itu memang penghafal al-Qur`an (hafizh) bernama Ahmad Sholihin dan Asmaul Husna. Mereka sepasang suami-istri. Sholihin, begitu biasa dipanggil, adalah Ketua JHS.
Ketika shalat Magrib, di ruang tamu itu dilaksanakan shalat berjamaah. Bertindak sebagai imam, Sholihin sendiri, sedangkan jamaahnya beberapa anak kecil. Shalat Magrib itu, kata ayah satu anak ini, digelar tiap hari. Usai shalat mereka kemudian mengaji.

Anak-anak itu memang santri Sholihin yang datang setiap malam. Sebagian mereka berasal dari Dolly dan Jarak, sebagian lagi dari Bayu Urip, desa tetangga lokalisasi pelacuran tersebut. Jumlah santri yang mengaji di rumah Sholihin sekitar 20 anak.

Tak hanya malam saja rumah Sholihin dipakai mengaji. Tapi, setiap pagi dan siang juga ada. “Hari Minggu libur,” kata Sholihin. Khusus waktu pagi dan siang yang mengajar istrinya, karena Sholihin harus mengajar di sebuah sekolah dasar tak jauh dari komplek lokalisasi pelacuran yang konon terbesar ketiga se-Asia Tenggara itu.

Setelah pulang mengajar di SD sekitar pukul dua siang, Sholihin istirahat sebentar. Usai asar ia berangkat lagi menunaikan tugas dakwah yang lain, mengajar di Taman Pendidikan Al-Qur`an (TPA) An-Nadliyah, beberapa ratus meter dari rumahnya. Di sini santri Sholihin lebih banyak lagi, sekitar 75 anak. ”Dulu pernah mencapai 150 anak. Setelah muncul TPA lain, sebagian pindah ke TPA yang lebih dekat dengan rumahnya,” katanya.

Di TPA, Sholihin mengajar hingga magrib, dibantu empat orang ustadzah. Nahdliyah menempati lantai dua dan tiga di kantor NU Sawahan itu. Di TPA ini pula tak ada gaji yang pasti, termasuk Sholihin. “Niatnya dulu memang tidak mencari bayaran,” ujarnya. Sekalipun begitu gaji tetap ada, hanya jumlahnya kecil, Rp 100 ribu per bulan. “Itu untuk transportasi saja,” katanya.

Para santri sendiri membayarnya suka rela. Menurut Sholihin, ada yang membayar Rp 2 ribu, Rp 3 ribu, Rp 5 ribu, dan paling tinggi Rp 10 ribu. “Yang tidak membayar juga banyak,” kata lulusan Pondok Pesantren Nurul Huda, Singosari, Malang ini.

Dari iuran santri terkumpul Rp 250 ribu. Tentu saja untuk membayar uang transportasi para ustadz saja jumlah itu tidak cukup. “Kekurangannya saya carikan dari donatur,” kata Sholihin.

Sholihin mengaku, “Saya mendapat gaji dari SD, lima ratus ribu rupiah.” Ya, hanya itu pendapatan tetap Sholihin. Secara matematis jumlah itu tentu tidak cukup untuk menghidupi keluarga, apalagi hidup di kota besar seperti Surabaya. Namun, pria berperawakan kecil ini selalu yakin dengan pertolongan Allah. “Kalau memikirkan al-Qur`an, insya Allah kita dapat semua,” katanya yakin. Tapi sebaliknya, kata Sholihin, jika berpikir dunia, hafalan Qur`annya rusak, bisa jadi dunianya juga rusak.

Hilfaaz Collections

Hilfaaz Collections

Apa yang diyakini Sholihin terbukti. Meski gajinya kecil, tapi kini ia sudah siap-siap berangkat haji. Tapi karena istrinya juga ingin ikut, akhirnya ia menundanya. “Dananya belum cukup untuk berdua,” kata Sholihin.

Sholihin telah memilih dakwah sebagai jalan hidupnya. Tentu saja itu tak mudah, apalagi berdakwah di daerah ‘hitam’. Tantangannya tidak ringan. Pernah selama satu bulan ia tak bisa makan nasi. “Setiap kali makan nasi, selalu muntah,” katanya.

Penyebabnya, kata Sholihin, persis empat langkah di depan rumahnya berdiri wisma karaoke. Bau minuman keras, dentuman musik yang memekakkan telinga, dan pakaian para wanitanya yang mengumbar syahwat adalah pemandangan tiap hari di wisma tersebut. Sudah pasti itu pemandangan yang tidak baik bagi para santri yang mengaji di rumahnya. Menyadari hal itu, ia bicara baik-baik dengan pemilik wisma. “Saya minta ditutup, karena ada anak-anak ngaji,” katanya.

Permintaan mulia itu bukannya diterima, pemiliknya malah melontarkan kata-kata tak sedap. Tidak cukup hanya itu, dia malah bertindak lebih jauh. Dia mengirimkan ilmu hitam kepada Sholihin. Akibatnya, selama sebulan lebih salah satu pengurus NU Kecamatan Sawahan ini tak bisa makan nasi.
Menghadapi serangan itu, Sholihin hanya bisa berdoa. “Semuanya saya pasrahkan kepada Allah,” ujarnya. Doa pria yang tidak suka merokok ini dijawab Allah melalui kiainya. “Kiai saya minta saya banyak membaca shalawat,” aku Sholihin yang perlahan-lahan dapat kembali menikmati nasi.

Memperbanyak Titik Putih
Ketika kecil, Sholihin pernah melihat orang yang membaca al-Qur`an tanpa melihat. “Saya kagum, kok bisa ya?” ujarnya. Sejak itulah ia lantas bertanya, “Bagaimana caranya agar bisa seperti itu?”
Orang tersebut kemudian menyarankan Sholihin masuk pesantren. Setelah orang tuanya mengizinkan, pilihan Sholihin jatuh ke Pondok Pesantren Nurul Huda, Singosari, Malang. Di pesantren ini, Sholihin menekuni tahfizhul Qur`an (menghafal al-Qur`an).

Sembilan tahun kemudian (1993-2002), Ketua JHS ini berhasil memindahkan seluruh isi Kitab Suci itu ke dalam hati dan pikirannya. Guna memperlancar hafalannya, Sholihin lalu pindah ke Pesantren Langitan, Tuban Jawa Timur.

Setelah tiga tahun menimba ilmu di Langitan, Sholihin pulang kampung. Ada satu pesan kiainya yang terpatri kuat di dalam benaknya. Pesan itu isinya, “Ajarkanlah al-Qur`an, sekalipun hanya satu ayat.”
Setibanya di rumah, ia mengamalkan ilmunya dengan mengajar mengaji di mushalla dekat rumahnya. Rupanya kiprah Sholihin itu terbaca oleh pengurus NU Sawahan. Pada 2006, organisasi ini hendak membuka TPA di komplek pelacuran Dolly, maka Sholihin diminta menjadi ustadznya. Tanpa pikir panjang, ia pun menyanggupinya.

Awalnya, Sholihin memboyong tiga santri ke tempat barunya itu, kantor NU Sawahan. Gerak gerik Sholihin rupanya diperhatikan para orang tua di sekitar Dolly. Beberapa di antara mereka lalu menitipkan anaknya kepada Sholihin. Seiring perjalanan waktu, kini jumlah santrinya terus berkembang.

Ibarat membuat titik putih di lembaran hitam, ke depan Sholihin ingin memperbanyak titik putih di Dolly. “Dengan begitu, mudah-mudahan daerah ini yang semula ‘hitam’, berubah menjadi ‘putih’,” katanya. Semoga Allah meridhai.* Bambang Subagyo/Suara Hidayatullah, Juli 2011

//


SavedURI :Show URLShow URLSavedURI :

//


Kisah Para Rocker / Musisi Insyaf Indonesia


1. Sakti Ari Seno

Tak terpikir sebelumnya oleh para penggemar bahwa Sakti Sheila On 7 akan sedemikian cepat berubah. Jalan hidupnya seperti berputar 180 derajat. Sebuah perputaran hidup yang mengagetkan bagi banyak orang tapi tidak bagi Sakti.

Dengan petikan gitarnya, Sakti turut membawa Sheila on 7 menjadi salah satu grup band besar di tanah air. Kini jari-jarinya tak lagi memetik chord lagu-lagu Sheila, tapi ‘chord’ ayat-ayat Allah SWT dan sunah Rasul-Nya demi masuk ke agama tauhid ini dengan utuh.

Hati wartawan Hidayah sungguh sumringah saat di layar telepon selular muncul nama Sakti. Sedari siang wartawan Hidayah yang mencari Sakti di kota Bandung agak panik, karena telepon selular mantan pemetik gitar Sheila on 7 itu tak bisa dihubungi. Sehari sebelumnya ia bilang bahwa tengah berada di daerah Ujung Berung Bandung, tapi setelah didatangi ternyata dia sudah tidak ada.

Busana Muslim Branded Berkualitas
Busana Muslim Branded Berkualitas

“Assalamu’alaikum…maaf Mas, sekarang saya udah pindah. Ada di masjid Jami Al-Ukhuwwah kompleks Bumi Panyileukan…,” begitu bunyi sms-nya.
Sakti ternyata tengah mengikuti satu kegiatan dakwah dan tarbiyah sebuah organisasi Islam bernama Jamaah Tabligh selama 40 hari. Kegiatan yang dinamai khuruj itu mengharuskan pesertanya berpindah-pindah dari satu daerah ke daerah lain, dari satu masjid ke masjid lain, guna berdakwah dan melatih diri dalam beribadah secara ihklas kepada Allah SWT. Sehari sebelumnya Sakti memang berada di Ujung Berung namun pada hari itu ia sudah berpindah ke Panyileukan yang jaraknya tidak terlalu jauh.

Mengenakan gamis putih bergaris-garis, berkopiah dan bercelana hitam, ia tampak tengah berwudhu bersama para jamaah yang lain. Dari kejauhan, Sakti terlihat lebih kurus, namun wajahnya tampak bersih. Jenggot hitam lebat yang memenuhi dagu dan sebagian pipinya tak mampu menyembunyikan wajah mudanya yang tampan.

Selepas sholat Ashar, Sakti tampak bersalaman dengan imam sholat, ia lalu beranjak ke pojok masjid mengambil buku Fadhilah Amal. Sesaat kemudian, pria bernama lengkap Sakti Ari Seno itu duduk menghadap jamaah dan mulai membacakan beberapa hadist dari buku itu. Jamaah lain mendengarkan dengan seksama. Suara Sakti terdengar lancar sekalipun volumenya terdengar perlahan.

Bila mengingat Sakti pernah merajai panggung musik tanah air bersama Sheila on 7, pemandangan itu menghadirkan perasaan yang lain. Mengawali karier musik lewat album Sheila on 7 ( 1999 ), yang dilanjutkan dua album lainnya yang meledak di pasaran, Kisah Klasik Untuk Masa Depan ( 2000 ) dan Anugerah Terindah yang pernah Kumiliki ( 2000 ), Sakti bersama empat orang karibnya, Erros, Duta, Adam dan anton, adalah ikon penting musik tanah air waktu itu.

Di setiap sudut negeri, lagu-lagu Sheila seperti Sephia, Jadikanlah Aku Pacarmu, Dan, Anugerah Terindah yang Pernah Kumiliki, dan masih banyak yang lainnya diperdengarkan dan dinyanyikan siapa saja. Kini pemandangan Sakti yang seperti itu tentulah menghadirkan sebuah kontras karena orang tahunya ia adalah pemetik gitar kalem. perannya menjadi warna sendiri di panggung mendampingi permainan gitar Erros yang atraktif di setiap show Sheila.

“Saat ini saya tetaplah seniman, dan sesekali masih memegang gitar,” ujar Sakti yang jari-jarinya refleks memperagakan chord-chord gitar di dekat perut seperti memainkan gitar betulan. namun Sakti mengaku memang mengurangi kegiatan-kegiatan bermusik dan memperbanyak kegiatan agama karena ia merasa harus lebih banyak belajar.

Menurut Sakti, setiap profesi adalah sah saja hukumnya asal setiap orang mengetahui apa kebutuhan Allah baginya. ” Artinya berprofesi sebagai seniman, dosen, dokter atau apa saja, selama kita mengetahui apa kebutuhan Allah bagi kita, maka kita akan menjadi manusia yang berbahagia di dunia dan akherat. Seperti almarhum Gito Rollies , beliau seniman tapi juga berusaha mengerti apa kebutuhan Allah bagi dirinya, ” ujar Sakti lagi.

Sakti memetik cahaya hidayah di kota Adisucipto, Yogyakarta, lima tahun lalu. Saat itu ia bersama Erros akan terbang ke Malaysia untuk menerima penghargaan musik di negeri jiran itu. Saat menunggu pesawat, ia masuk ke sebuah toko buku. Matanya tertumbuk pada sebuah buku berjudul “Menjemput Sakaratul Maut Bersama Rasulullah”.
“Saat itu sedang musim kecelakaan pesawat. Hati jadi tidak menentu, kepikiran bagaimana kalau pesawat yang saya tumpangi jatuh dan saya mati, bagaimana nanti jadinya,” ujarnya mengenang.

Buku itu lalu ia beli dan ia bawa kembali saat pulang. Di rumah, perasaannya semakin trenyuh karena mendapati ibunya sedang sakit lantaran sebelah paru-parunya mengecil. Pikirannya makin lekat pada kematian setelah seorang bibinya yang datang menjenguk membawakan sebuah majalah keagamaan yang juga bicara kematian.

Rentetan peristiwa itu memmembuat Sakti merasa diingatkan Allah tentang kematian, hal yang dulu sama sekali tak pernah ia pikirkan.
“Kita semua akan mati. Masalah waktunya, kita tak pernah tahu,” ujarnya pelan.

Ia seperti tersadar bahwa amal di dunia sangat menentukan kebahagiaan di akherat. Pikirannya semakin fokus pada kematian setelah dalam pengajian-pengajian yang ia ikuti ia memperoleh penngetahuan betapa dahsyatnya kepedihan akherat, dan sebaliknya betapa indahnya kebahagiaan disana.

“ Bila semua kesengsaraan di dunia ini dikumpulkan apa itu sakit parah, kecelakaan, tangan putus, tsunami dan sebagainya tidak ada artinya jika dibandingkan kesengsaraan di akherat yang paling ringan sekalipun, bagai setitik air di lautan. begitupun sebaliknya, jika semua kebahagiaan di dunia di kumpulkan tak ada artinya jika dibandingkan dengan kebahagiaan yang ada di surga Allah,” ujarnya serius.

Hal itu menjadi motor dalam dirinya untuk terus belajar agama. Ia juga mulai tahu bahwa amal itu tak hanya untuk diri, tapi juga untuk orang lain. Karenanya, ia ingin seutuh mungkin masuk ke dalam agama Allah yang rahmat ini, hingga seluruh bagian dirinya termasuk di dalamnya. Sakti mengibaratkan itu seperti masuk kedalam mobil.

“Kan tidak mungkin tubuh kita sudah masuk mobil tapi kaki kita tertinggal.” ujar ayah Asyiah Az-Zahra ( 1 tahun ) dan suami Miftahul Jannah ( 23 tahun ) ini menegaskan.

Dengan segala kekuatan hati itu, bisa dimengerti mengapa Sakti sampai mau melepaskan posisinya sebagai anggota Sheila on 7, posisi yang diimpikan jutaan anak muda di Indonesia. Menjadi bisa dimengerti pula mengapa Sakti sampai mau berkeliling dari masjid ke masjid untuk berdakwah.

Keutuhan Islam itu yang kini ia kejar dengan segiat mungkin belajar dan beribadah. Ia sempat belajar di beberapa pengajian dari berbagai aliran Islam yang ada. Tapi hatinya kemudian merasa cocok dengan Jamaah Tabligh/ kepergiannya ke Pakistan tahun 2006 lalu untuk belajar yang banyak diberitakan media sebagai alasan ia keluar dari Sheila, ternyata tak lain untuk mengejar keutuhan itu.

“Saya ke India, Pakistan dan Baghdad, disana saya melihat bagaimana agama dijalankan dengan sebenar-benarnya. Dari situ saya tahu ada hak tetangga dalam diri kita, ada ajaran kasih sayang pada sesama.” ujarnya sambil menceritakan bagaimana ia bertemu dengan muslim dari segala bangsa disana.
Sakti sempat ditanya seorang ustadz saat di Pakistan. bagaimana perasaannya jika melihat orang dekat,keluarga, dan lain sebagainya jauh dari agama Allah? bagimana rasa kasih sayang itu harus diwujudkan dalam konteks ini? bagaimana rahmat bagi seluruh alam yang menjadi merk agama ini dapat kamu perankan. Bagaimana perasaan cinta Nabi kepada Allah yang ditransfer kepada umatnya dapat pula ditransfer kepada orang di sekeliling kita? Pertanyaan-pertanyaan ini menjadi kesan tersendiri di hatinya untuk semakin kukuh di jalan ibadah dan dakwah.

Jalan Menuju Kekasih Allah
Hubungan karib dengan teman dan para penggemar memmembuat dua pihak inilah yang paling dulu mengerti dengan jalan hidup yang ditempuh Sakti sekarang. Sementara pihak keluarga sebelumnya agak sulit mengerti, tapi kemudian bisa memaklumi. Dari penggemarnya, Sakti bahkan menerima buku-buku agama yang dikirim khusus untuknya.

Sampai saat ini, Sakti mengaku masih sering bersilaturahmi dengan teman-temannya di Sheila. Di milis Sheila gank milik para penggemar Sheila, nama Sakti juga masih sering disebut. Sekalipun frekuensi pertemuan sudah mulai berkurang, Sakti mengaku masih saling berpaut hati dengan teman-temannya yang sama sama merintis karier dari Yogyakarta itu.

“Dalam doa, saya selalu menyebut teman-teman agar mereka bisa di dekatkan dengan Allah,” ujarnya.
beberapa kali Sakti tercatat menjadi bintang tamu konser Sheila. Dua diantaranya saat konser di sebuah stasiun swasta dan konser 1000 Gitar yang diadakan di Yogyakarta tahun lalu. Acara yang melibatkan beberapa gitaris ternama tanah air itu antara lain Ian Antono (God Bless), Eet Sjahranie (Edane) dan Teguh (Coconut Treez) itu, turut dimeriahkan Sakti yang menjadi tamu misterius berduet dengan Erros membawakan lagu Little Wings milik Jimi Hendrix. Sakti tampil dengan menggunakan baju muslim yang sudah jadi pakaiannya sehari-hari.

Dengan seorang temannya, Sakti kini tengah menggarap sebuah album religi yang ia harapkan dapat dirilis Ramadhan tahun ini. Misinya mengeluarkan album kali ini dengan mantap, ia sebut sebagai wujud ibadahnya kepada Sang Rabb.
“Materi sedang disiapkan yang isinya tentang pengalaman dan penyampaian saya tentang keberislaman,” ujarnya seraya berharap album itu bisa jadi asbab hidayah bagi yang mendengarkan.

Lalu seberapa bahagia Sakti sekarang ? Ia hanya tersenyum seraya mengucap tahmid. Menurutnya, mengutip perkataan seorang ulama yang pernah didengarnya, semakin kita mengenal makhluk semakin kita mengenal allah semakin kita tahu kesempurnaan-Nya dan siapa saja yang semakin tahu kesempurnaan Allah ia akan tenang dan bahagia.
“Dulu saya tak tahu dimana harus bersandar bila ada masalah, saya juga tak tahu apa sebenarnya tujuan hidup ini. Tapi setelah diberi kesempatan semakin mengenal Allah, kita sadar bahwa Dia Maha pengasih, Maha Penyayang semua makhluk, Maha penjawab setiap doa, kita jadi tahu bahwa Dialah tempat bersandar yang paling tepat”, ujarnya pasti.

Dalam hidup, menurutnya manusia mengejar rasa. Ketika seseorang ingin punya mobil, kemudian mendapatkannya, ia pun ingin merasakan merk mobil yang lain. Begitu pula dalam hal-hal lain. Tapi jika rasa itu diarahkan sepenuhnya kepada Allah SWT, maka ketenangan dan kejernihanlah yang diraihnya.

“Itu kata teman saya, ibarat antena bagi televisi. Bila kita benar mengarahkan antena ke satelit, maka siaran akan jernih dan sebaliknya. Jika arahnya tak benar maka gambar akan buram. Seperti itu juga kita, apapun kegiatan kita, jika itu sepenuhnya mengarah kepada Allah maka hati kita akan jernih, dan jika sudah berpaling maka hati akan menjadi kotor,” ujarnya lagi.

Sumber:

Hidayatullah.com
2. Irvan Sembiring


Di Indonesia Jangan mengaku anak Metal jika tidak kenal dengan sosok Irvan Sembiring yang merupakan dedengkot musik cadas tanah air, beliau sempat menggawangi band SUCKERHEAD dan ROTOR, beliau juga sempat mencoba peruntungan di negeri paman Sam, tepatnya di California. Hingga kini nama dan sosoknya masih disegani oleh para musisi rock.

Titik Balik Irvan adalah ketika satu persatu beberapa teman-temannya meninggal akibat over dosis sehingga mengingatkan beliau akan kematian sehingga memutuskan untuk lebih religius dan istrinyapun bercadar. Beliau masih aktif di dunia musik, khususnya di belakang layar dan kerap dipergoki di keramaian dengan ikut menjadi penonton di tengah kerumunan konser band-band Metal lokal ataupun manca negara dengan tetap bergamis.

SIAPA mengira bahwa dibalik gamis putih, dan sorban tebal yang selalu melilit di kepala pria yang selalu berjalan dengan gagah ke masjid setiap lima kali sehari ini adalah seorang Raja Metal Indonesia. Ia bahkan pernah membuat serangkaian sensasi dan langkah fenomenal dalam permetalan nasional.

Dialah Irfan Sembiring yang kini seluruh waktunya digunakan untuk mengabdi kepada Allah Swt. Baginya, Masjid adalah rumah, sehari-hari Irfan berada di rumah Allah tersebut meski bukan pada waktu-waktu sholat. Beberapa tahun silam, saya sering menginap di rumah teman di Cinere, Selatan Jakarta, yang kebetulan dekat dengan rumah Irfan di Komplek AL.Saat itulah saya berkesempatan untuk dekat dengan idola saya semasa duduk di bangku SMP ini.

Kalau lagi tidak keliling dunia untuk berdakwah, di Jakarta, ia biasa nongkrong di Masjid Imam Bonjol, atau Masjid Al-Ittihad di dekat Cinere Mall. Kerjaannya kalau nggak Ibadah, Dzikir Qalbi, Dakwah, dan Nongkrong.. kalau nongkrong pun obrolannya gak bakal jauh dari Keagungan Allah, meski sesekali diselingi dengan ngobrol musik, terutama musik Rock. “Orang Islam itu kalo di Masjid ibarat ikan dalam air,” ujarnya berkali-kali kepada saya yang pendosa ini.

Pria kelahiran Surabaya, 2 Maret 1970 ini kerap keliling untuk berdakwah dari Masjid ke Masjid bersama jamaah yang yang bermarkas di Masjid Jami Kebun Jeruk (Jakarta Barat) ini. Wajah Irfan yang bersinar, memang jauh berbeda dengan keadaannya 20 tahun silam. Sewaktu bandnya, Rotor masih berjaya, hidupnya memang urakan dan tidak pernah nongkrong di rumah Allah.

Baiklah, kini kita mundur ke belakang, siapakah Irfan Sembiring itu? Dia adalah seorang pionir thrash metal, pendiri band Rotor yang sangat disegani di era 90-an. Dan yang patut dicatat, Rotor adalah band thrash metal Indonesia yang pertama kali masuk dapur rekaman. (saat itu merekam lagu tidak semudah/semurah sekarang..lho)

Sebelum Rotor berdiri, pada akhir era-80an, Irfan bermain untuk Sucker Head, yang juga mengusung thrash metal. Rotor sendiri di bentuk tahun 1992 setelah Irfan merasa konsep musik Sucker Head masih kurang ekstrem baginya. Nama Rotor di ambil digunakan karena sesuai dengan musik yang dimainkannya, yaitu cepat bak baling-baling pesawat.

Sebelum memiliki album, dan memainkan lagu sendiri, Rotor masih bermain lagu Sepultura, dedengkot metal asal Brazil. Adalah Judapran yang kemudian bergabung dengan Rotor, setelah ditinggal dua personil sebelumnya. Bersama Juda (Bass) dan Bakkar Bufthaim (Drums), Irfan menggarap rekaman live di studio One Feel dengan cara purba alias tradisional. Hanya dengan dua track, left-right, yang isinya gitar dan drum, tanpa vocalnya, dan bermodal kaset demo itulah, Irfan menyodorkan konsep musiknya ke label-label rekaman besar dan hasilnya….. tentu saja Gagal!! Musik yang dimainkan Rotor masih dianggap sangat ekstra super ekstrim zaman itu.

Irfan pun lantas tidak putus asa, hasil pergumulannya dengan rockstar papan atas ibukota seperti Slank, (alm) Andy Liany dan sebagainya, dan bermodal gitar dan ampli kecil, Irfan hidup nomaden dari satu studio ke studio lainnya. Ia ikut menggarap rekaman Anggun C. Sasmi, ikut membantu Anang (yang saat itu belum pacaran sama Krisdayanti, apalagi dipanggil Pipi), bahkan membantu rekaman Ita Purnamasari.

Di awal 1992 Irfan berkenalan dengan bos label rekaman AIRO, yang juga adik kandung Setiawan Djody. Hasil rekaman cara purba itu diputar di depan bos Airo records. Karena tanpa vokal, Irfan bernyanyi metal ala karaoke di depan bos Airo yang bernama Seno itu. Babak awak perjalanan Rotor bisa dibilang di tahun 1993. Ketika itu pula mereka dipercaya untuk membuka konser Metallica di stadion Lebak Bulus, Jakarta. Meski konsernya bisa dibilang spektakuler, namun puluhan orang meninggal dunia dan puluhan mobil dibakar.

Saat konser tersebut, saya masih SD dan belum doyan metal kebetulan lewat Stadion Lebak Bulus setelah pulang dari Depok bersama keluarga. Masih lihat bagaimana dentuman soundsystem yang terdengar hingga Pondok Indah bahkan Kebayoran, dan kebulan asap dari kejauhan akibat kerusuhan.

Saat itu Metallica sedang mengadakan Tur dan di Indonesia lah satu-satunya negara yang ada band pembukanya. Maka bisa dibilang Rotor lah satu-satunya band pembuka Tur Metallica di awal dekade 90-an tersebut. Di konser ini Rotor juga diperkuat oleh Jodie sebagai vokalis.

Di Backstage, sebelum membuka
konser Metallica
Klik ——> Konser Rotor sebelum membuka MetallicaBaca juga  —> konser rusuh Metallica, 10-11 April 1993

Album pertama Rotor berjudul Behind The 8th Ball kemudian dirilis, dan disusul dengan babak baru perjalanan Rotor dengan hijrahnya Irfan, Jodie dan Judha ke Los Angeles, Amerika Serikat. Di Kota ini mereka coba mengadu nasib dengan harapan bisa mengikuti jejak Sepultura, yang sukses menembus Amerika. Perlu dicatat juga, Rudy Soedjarwo, sutradara film ‘Ada Apa Dengan Cinta’ inilah yang sempat menjadi drummer Rotor selama di Amerika.

Di Amrik, persaingan menjadi musisi Metal sangat ketat, sulit untuk mendapatkan job manggung dan sebagainya jika tidak ada agency. Di Amerika, personil Rotor yang lain sering keluyuran dari satu pub malam ke pub malam yang lain, termasuk nongkrong di pub Rainbow, tempat nongkrongnya artis-artis porno bin bokep, Joe Rivera, Ron Jeremy , dan Savannah.

Karena kondisi keuangan dan mental yang melemah, para personel Rotor kemudian membanting stir untuk bisa bertahan hidup di negeri orang dengan cara mereka masing-masing. Jodie ke San Fracisco, dan Judha ke Alabama untuk bekerja di pabrik pengolahan ayam. Sedangkan Irfan bertahan di Los Angeles.

Babak selanjutnya adalah kembalinya Rotor ke tanah air dengan membuang mimpi menjadi superstar setelah menaklukan Amerika. Jodie kemudian memutuskan hengkang dari Rotor dan membentuk Getah. Tahun 1995 Rotor merilis ‘Eleven Key’ dan tahun selanjutnya album ‘New Blood’ dirilis. Tahun 1997, Irfan mendirikan label Rotorcorp dan bersama Krisna Sadrach (Sucker Head) menjadi produser album Metalik Klinik yang legendaris tersebut. Setelah menelurkan tiga album dengan genre musik yang berbeda, tahun 1998 sang basis, Judhapran meninggal dunia karena berlebihan dalam mengonsumsi narkotika, disusul dengan kematian Jodie yang saat itu adalah istri dari aktris Ayu Ashari.

Babak baru kehidupan seorang Irfan Rotor pun dimulai kembali, penghujung tahun 1999, bersama beberapa band produksi Rotorcorp ia sudah lima kali lolos dari pembantaian maut yang hampir merenggut nyawanya. Peristiwa tersebut terjadi di bagian timur pulau Jawa yang sedang hangat-hangatnya terjadi pembantaian dukun santet oleh gerombolan ninja. Lima kali lolos dari upaya pembunuhan menurut Irfan pastilah mukjizat dari Allah SWT. Semenjak itulah ia bersumpah untuk bertakwa kepada Allah SWT dan mendedikasikan hidupnya dengan berdakwah Islamiah non komersil.

Mengapa saya sebut non komersil, karena ketika berdakwah, Irfan dan rombongannya tidak membicarakan dan menyentuh empat hal, yaitu Politik praktis dalam dan luar negeri, Perbedaan pendapat antara beberapa mahdzab dalam Islam, dan Sumbangan. Bahkan ketika berdakwah, ia menyisihkan uangnya untuk berpergian.

Dalam belajar Agama Islam, Irfan pun tidak tanggung-tanggung. Ia berguru di sejumlah pesantren dalam negeri hingga luar negeri, beberapa negara seperti Arab Saudi, Kuwait, Afrika Selatan, Jepang, India, Pakistan, Bangladesh, Amerika Serikat, dan lainnya telah dikunjunginya dalam rangka belajar dan mendakwahkan agama. Selain Irfan, beberapa Rockstar yang juga kerap itikaf di antaranya (Alm) Gito Rollies, Edi Kemput (Ex- Gitaris Grassrock), Henky Tornado (mantan foto model), Tabah Panemuan (pemain sinetron), Lukman (Gitaris- Peterpan), Ivanka (Bassis- Slank), Sakti (Ex-Gitaris Sheila On 7), dan banyak musisi Underground yang tidak perlu saya sebutkan satu persatu di sini… (Buat artikel lainnya aja…..red)

Pada 2010 lalu, setelah 13 tahun vakum dari kancah musik metal, Irfan ‘Rotor’ Sembiring kembali menggarap sebuah project bernama IRS, dan sudah merilis beberapa buah lagu yang syairnya merupakan adaptasi dari Kitab Al Quran. Silakan cek ‘Infidels – Divine Support – The Flame’ judul lagu baru Rotor yang juga terdapat dalam CD album kompilasi band Jakarta ‘Born To Fight’.

 

Kali ini line up ROTOR 2012 adalah Irfan Rotor Sembiring, Bakar Bufthaim, Ucok Tampubolon, Ungki Blvz, dan Tony Monot. Mereka baru akan aktif, berencana tour, dan rilis album baru setelah Irfan balik ke Indonesia sekitar Agustus 2012 mendatang. Hingga tulisan ini di unggah, IRS sedang berada di Pakistan dan tentunya tidak sedang bermain musik cadas. Yang jelas bagi saya, IRS adalah sosok superstar, idola, kawan diskusi, dan guru agama yang tidak bikin ngantuk.

simak video wawancaranya:

Kisah-kisah menarik mengenai tentang sosok Irfan Rotor Sembiring memang tak pernah habis untuk dikupas, biarkanlah kisah pendakwah non-komersil ini dicatat oleh Malaikat dan akan dirilis bukunya di Akhirat kelak.

3. Edi Kemput

Senja mulai merapat. Gelap menapaki turun perlahan. Adzan maghrib berkumandang. Edi Kemput melepas gitarnya, lalu meletakkan dekat kibor. Edi turun panggung bergegas menuju masjid yang terletak di pelataran kompleks Balai Pemuda Surabaya. Edi berwudlu, kemudian mengisi shaf untuk melaksanakan shalat jamaah.

* Agus Wahyudi

Edi Kemput bersama sejumlah musisi Surabaya sedang bercengekerama. Sore itu, jadwal sound check jelang perhelatan musik bertajuk Rock # 716, dalam rangka menyemarakkan Hari Jadi Kota Surabaya (HJKS) ke-716, pada 15 Mei 2009 lalu.

Edi Kemput menjadi bintang tamu dalam acara itu. Kehadiran Edi tidak sendiri. Dia ditemani Hans Sinjal, Vokalis muda yang digadang-gadang bisa menggantikan Dayan (vokalis Grass Rock yang kini sudah almarhum) untuk Membangkitkan Grass Rock. Konser yang dihelat di UPTD Balai Pemuda dan GNI tersebut, keduanya dibantu para musisi asal Surabaya dan Gresik, di antaranya Gatuk (gitaris Macan), Candra (basis Macan), dan Gede (drumer Crusial Conflict), Wipa (kibordis Syncope). Selain Edi Kemput, konser juga menghadirkan Toto Tewel. Penampilan gitaris Elpamas itu di Balai Pemuda merupakan yang keempat kali.

Nama Edi Kemput memang cukup dikenal di Surabaya. Sebab Grass Rock sendiri lahir di Surabaya pada 1985. Selama perjalanan karier bermusik, Grass Rock telah merilis empat album, Anak Rembulan (1992), Bulan Sabit (1993) dengan hitsnya Gadis Tersesat, album Grass Rock (1994) dengan hitsnya Datang Padaku, Dan terakhir Menembus Zaman (1999).

***

Empat tahun lebih Grass Rock Sebagai meraih kesuksesan grup rock papan atas di Indonesia. Tak salah bila banyak sohibnya di Surabaya terperangah melihat sosok Edi Kemput sekarang. Ya, dia memang berbeda jauh dibanding 20 tahun lalu. Edi yang dulu gondrong, kurus, dan dekil, kini berjubah, berjenggot, dan selalu memakai peutup kepala.

“Edi Kemput sekarang memang jauh lebih alim dan santun. Melihat saya cukup kaget setelah puluh tahun dia tak Bertemu, “tutur Ibnu Rusydi Sahara, sohib Edy Kemput, yang Bekerja di perusahaan media Ternama di Surabaya.

Saat tampil di panggung gaya Edi juga sangat sederhana. Tak ada lagi aksi Layaknya jikrak Jingkrak-gitaris rock. Dia hanya menggamit bibir saat merasakan nuansa melodius dalam lagu-lagu yang dibawakannya, seperti Prasangka, Anak Rembulan (Peterson), Bulan Sabit, Gadis Bersamamu, Dan Menembus Zaman.

Edi Kemput mengaku kehidupannya kini jauh lebih tenang setelah berupaya mendalami Islam secara sungguh-sungguh. Meski begitu, dia dapat melakoni dua ‘kehidupan’ yang berbeda, yakni sebagai musisi dan aktivis Islam. Sebagai musisi, Edi masih tetap eksis.

Edi sempat membantu Iwan Fals. Dia juga kerap tampil bersama Magenta Orkestra pimpinan Andy Rianto, yang mengusung sebuah “aliran” pop Orkestra.

Sementara kesibukan Edi berdakwah masih tetap berjalan. “Selain bermain musik, saya juga aktif berdakwah di Jamaah Tabligh,” cetus pria kelahiran Samarinda, 10 April 1966, ini.

Edi Kemputi memang satu dari sejumlah musisi yang mengalami ‘revolusi’ batin. Selain dia masih ada Gito Rollies, vokalis The Rollies yang kini sudah almarhum. Selain berdakwah, Gito masih menyediakan waktu untuk bernyanyi, bahkan film utama dan sinetron.

4. Yuke Sumeru

Yuke Sumeru merupakan pemain bass kawakan, beliau sempat menjadi pemain bass terbaik era 80an hingga band rock ternama era itu Gong 2000 meminangnya. Minuman dan wanita diakuinya berada dekat di sekelilingnya waktu itu.
Titik Balik yuke berawal ketika pergi haji beliau berdoa untuk menjadi lebih baik dan mendalami islam, hingga setibanya di tanah air segala sesuatu yang bersifat duniawi dan yang membuatnya jauh dari ALLAH membuatnya mual, yang pertama kali adalah Rokok, tiba-tiba saja merasa mual ketika menghisap rokok, dan yang terakhir adalah Gitar Bass tidak lagi menarik baginya, sehingga beliau total berhenti bermusik.
Konon kabarnya beliau sekarang seorang “HAFIDZ QURAN”, padahal umur 41 tahun baru bisa “Alif” “ba” / iqra. Lengkapnya di sini https://mujitrisno.wordpress.com/2012/12/14/yuke-sumeru-kisah-hijrah-pemain-band-gong-2000/

5. Hari Mukti

Pria kelahiran Cimahi yang bernama asli Hariadi Wibowo, memulai karir keartisannya sebagai penyaynyi Rock ( Rocker ) tahun 1987. Walaupun Hari Moekti sebenarnya tidak berkeinginan menjadi artis atau penyanyi, namun pada suatu hari dia bertemu seorang produser rekaman yang mendengarnya bernyanyi lalu menawarinya rekaman kepada Hari Mukti.

Saat itulah kehidupan Hari Moekti berubah, dari seorang remaja biasa menjadi artis yang tenar, dan terkenal di seluruh penjuru tanah air. Saat itu tidak ada seorang remaja pun di Indonesia yang tidak tahu nama Hari Mukti, rocker terkenal sekaligus idola mereka.

Semua gaya pakaian dan penampilannya ditiru habis-habisan oleh para remaja, seperti gaya celana jean sobek. Jadi saat itu jika ada remaja yang pakai celana jean kok gak sobek, berarti gak gaul.

HIJRAH DARI KEHIDUPAN MAKSIAT KE ISLAM YANG KAFFAH

Yah memang kehidupan menjadi artis itu penuh kekayaan, gelamor, mewah. Namun Hari Moekti pelantun lagu “hanya satu kata “ tidak merasa bahagia sedikitpun, seluruh harta kekayaannya tidak membuatnya hidup tenang, walaupun dia sudah menyekolahkan banyak anak yatim, menyumbangkan hartanya bagi panti asuhan, namun tetaplah dia tidak bahagia.

Tanggal 31 Desember 1994 dia diundang untuk konser tahun baru di salah satu stasiun televisi swasta nasional, dia saat itu dibayar Rp.50.000.000, 00, wow…, namun apa yang terjadi setelah dia tahu kalau Anggun C Sasmi yang juga diundang di acara tersebut ternyata dibayar Rp 65.000.000,00, dia dalam hatinya marah, dia merasa disepelekan. Ketika Indra Lesmana membeli mobil baru dan dipamerkan kepadanya dan ternyata mobil Indra lebih mahal daripada mobilnya, dia pun iri. Itulah yang terjadi pada Hari Mukti, dia hanya hidup dalam kemarahan, dan kedengkian.

Menemukan Pencerahan

Di tahun 1995 dia bertemu dengan seorang Ustad dan berdiskusi tetang agama dengannya, dia terkagum-kagum dengan argumen Ustad itu yang cerdas, berwawasan, dan sangat masuk akal. Dia pun akhirnya mengaji dengan sang ustad.

Akhir tahun 1995 dia memutuskan untuk keluar dari dunia keartisan, dan fokus berdakwah. Bagi Harry Mukti dunia artis saat itu dan saat ini adalah dunia yang menyebarkan kemaksiatan, artis adalah sarana dari musuh-musuh Islam untuk menghancurkan generasi mudanya.

Ketika si penyanyi ( Artis ) melantunkan lagu, maka akan menimbulkan suatu gairah bagi pendengarnya, nah kalau Cuma sebatas gairah itu wajar, namun gairah inilah yang kemudian diisi kemaksiatan, sebagai contoh Cinta adalah Pacaran, Pacaran adalah Cinta dan Tidak ada Cinta tanpa Pacaran, itulah maksiatnya. kata Beliau

Pengalaman paling mengharukan adalah ketika istrinya akan melahirkan anak pertamanya, ternyata harus caesaryang biayanya saja Rp15.000.000,00. Saat itu Beliau hanya mempunyai uang tunai Rp 3000.000,00. Beliau bingung, lalu berdoa ” Ya Allah tolonglah hamba-Mu ini, jika engkau menganggap hambamu ini adalah seorang pendakwah ( Mubaligh ) di Jalan-Mu, maka jangan biarkan hamba-Mu ini dipermalukan gara2 tidak mampu membayar biaya persalinan istrinya di Rumah Sakit.

Selang beberapa lama, temannya menelpon menanyakan nomor rekeningnya, dia sanggup memberi bantuan Rp 5000.000,00, lalu berturut-turut hampir semua teman-teman sesama ustad memberi bantuan, mulai dari 1 jt, 2 jt, 3jt, sampai akhirnya terkumpul biaya persalinan dan administrasi. Bahkan ada temannya yang marah-marah karena tidak memberi tahunya bahwa istrinya sedang melahirkan, dia sebenarnya sanggup membantu seluruh biaya persalinan itu.

MENGAJAK HIJRAH DARI KEMAKSIATAN MENUJU ISLAM YANG KAFFAH
HANYA SATU KATA, BUKAN BANYAK KATA, CUKUP SATU KATA, DAKWAH

Jangan kau ragu dan membisu, ungkapkan saja isi hatimu, lewat satu kata yaitu Islam sebagai Solusi bagi seluruh problematika kehidupan, lewat satu kata, Dakwah.

Hari Mukti mengkritisi kehidupan sekuler saat ini, dimana pacaran merajalela dikalangan remaja dan pemuda, perzinaan juga merajalela, mereka menumpuk dosa namun mereka justru bangga.

Hari Mukti seperti halnya pejuang Syariat yang lain selalu mengajak umat Islam untuk memperjuangkan tegaknya kembali Daulah Khilafah Islamiyah, yang akan melaksanakan Syariat Islam secara kaffah.

Saat bertauziah dengan pengungsi merapi tanggal 16 November 2010, Ustad Hari Mukti berkata, “Bikin kaset tidak apa-apa. Naik panggung juga tidak apa-apa. Tapi kalau karena kontrak, saya sepanggung dengan orang yang berperilaku dan berdandan tidak sesuai ajaran agama, itu dosa. Saya tidak mau,” tekannya.

Pernah seorang Ibu-ibu menelponnya yang mengatakan bahwa akhirnya suaminya mengijinkan ia berjilbab gara-gara ikut pengajian Ust. Hari Mukti. Beliau pun merasakan seakan dunia milik dia semua, kebahagiaan yang tak terkira, serta kenikmatan sejati seorang ustad.

Baginya harta sudah bukan lagi segala-galanya, sekarang dia sudah menikmati hidup bahagia, bersama seorang istri yang anggun dengan balutan jilbab hitamnya, serta dikaruniai 2 anak. ALHAMDULILLAH

6. Gito Rollies (Alm).

Bangun Sugito Tukiman, adalah salah satu nama dari sekian juta penduduk negeri ini yang terhipnotis oleh musik rock (barat). Figur The Rolling Stones, dengan lead vocal-nya Mick Jagger, menjadi idola remaja yang lahir di kota Biak dan besar di kota Bandung ini. Bahkan aksi nekatnya di tahun 1967, memmembuat kota Bandung gempar, ketika dirinya yang mendapat cap “Siswa Bengal” termasuk salah satu siswa yang lulus dari SMA-nya, melakukan aksi tanpa busana sambil naik sepeda motor mengelilingi kota kembang tersebut. Kesukacitaannya dilampiaskan dengan gaya ala rocker, maklum, daftar kenakalannya lebih panjang dari daftar absen murid, sehingga ia tak yakin jika namanya akan tertulis di papan pengumuman seperti teman-temannya yang lulus (tempointeraktif.com).
Selepas SMA, di kota yang sama, Bangun Sugito Tukiman (vokal) bersama rekan-rekannya, Teuku Zulian Iskandar Madian (saxophone, gitar), Benny Likumahuwa (trombone, flute), Didiet Maruto (trumpet), Jimmie Manoppo (drum), dan Oetje F. Tekol (bas) mendirikan band yang bernama The Rollies. Di era 1970-an, The Rollies semakin eksis dan menunjukkan taringya sebagai grup band rock handal di tanah air. Belakangan, setelah sukses dengan beberapa hits yang sempat bertengger di belantika musik Indonesia, namanya pun berganti menjadi Gito Rollies. Waktu terus berjalan, anak tangga karir perlahan-lahan ditapaki satu demi satu. Sanjungan dan pujian, memmembuat dirinya telah merasa menjadi seorang Mick Jagger Indonesia, sosok yang dikagumi dan diidolakannya.
Pria yang sempat mengenyam kuliah dua tahun di Jurusan Seni Rupa Institut Teknologi Bandung (ITB), terus larut bersama kebesaran The Rollies. Aksi panggungnya mirip dengan sang idola, suara serak ala James Brown, bapak moyang soul dan funk, menjadikannya pusat perhatian. Kesuksesan di panggung telah mengantarkan diri dan kelompoknya di industri rekaman, pun mengantarkannya menjadi hedonis sejati.
“Tiap Jumat siang kami berangkat ke daerah Puncak Bogor untuk pesta miras dan narkoba,” Ungkap Gito dengan nada sesal.
Di masa ketenarannya, pada awal tahun 1980, ia menjalin hubungan intim dengan putri seorang aktor dan komedian besar, Uci Bing Slamet, dan darinya dikaruniai seorang anak lalu berpisah setelahnya. Bahkan setelah menikah dengan perempuan impor, wanita keturunan Belanda, Michelle Van der Rest, tahun 1983, ia masih belum bisa melepaskan diri sepenuhnya dari pengaruh narkotika (AntaraNews).
Setelah bersolo karir, dia menelorkan sejumlah album solo, yakni Tuan Musik (1986), Permata Hitam/Sesuap Nasi (1987), Aku tetap Aku (1987), Air Api (1987) dan Tragedi Buah Apel (1987) dan Goyah (1987).
Sebagai aktor Gito memulai debutnya di dunia film lewat Buah Bibir (1973) sebagai figuran. Setelah benar-benar menjadi aktor ia bermain dalam Perempuan Tanpa Dosa (1978), Di Ujung Malam (1979) dan Sepasang Merpati (1979), dan Permainan Bulan Desember (1980), dan Kereta Api Terkahir (…). Namun kekuatan aktingnya terlihat pada Janji Joni yang mengantarkannya meraih piala Citra untuk kategori Aktor Pembatu Pria Terbaik pada Festival Film Indonesia tahun 2005.

bang gito rollies
AWAL KESADARAN

Tahun 1995, atau tepat setelah 10 November, Sang Rocker baru benar-benar berhenti mengkonsumsi drugs dan alkohol, setelah mengalami sebuah peristiwa yang memmembuatnya shock lahir batin. Sepulang dari konser Hari Pahlawan di Surabaya, di bawah pengaruh narkoba, selama tiga hari ia mengalami fly, tak bisa makan dan tak bisa tidur, dan selama tiga hari itu semua kelakuannya di masa lalu seperti diputar di depan mata. “Saya takut sekali,” ujarnya seperti diungkap kepada koran Tempo. Namun yang paling memmembuatnya ciut justru menyangkut segala omongan yang pernah terlontar dari mulutnya. Fitnah dan gunjingan terhadap musisi lain, termasuk melakukan ghibah (membicarekan kejelekan orang lain).
Pengalaman tiga hari itulah yang menjadi titik balik dirinya untuk kembali kepada Allah. Khabar tentang kekuasaanNya, telah diwartakan ke segenap penjuru bumi kepada seluruh manusia, hanya saja tidak banyak orang yang menyadarinya, “Dan di bumi itu terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi orang-orang yang yakin, dan (juga) pada dirimu sendiri. Maka apakah kamu tiada memperhatikan?” (QS. Adz-Dzaariyaat, 51 : 20-21).
Jika seseorang memperhatikan tanda-tanda itu, dan Allah SWT telah membukakan jalan masuk untuk memahami, tentu tidaklah sulit. Dalam ayat lain, Allah berfirman, “Hai manusia, sesungguhnya (bencana) kelalimanmu akan menimpa dirimu sendiri; (hasil kelalimanmu) itu hanyalah kenikmatan hidup duniawi, kemudian kepada Kami-lah kembalimu, lalu Kami kabarkan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan.” (QS. Yunus, 10 : 23).
Bisa jadi peristiwa yang ia alami, karena Allah hendak mengabarkan hal itu kepadanya sebagai kesempatan untuk memperbaiki diri. Di usia kepala empatnya, seorang Gito Rollies diingatkan Allah SWT melalui sebuah peristiwa spiritual yang memmembuatnya bergidik ketakukan. Nyalinya ciut, gemetar badannya, kekuatan musik cadas tak mampu menyangga hatinya yang terkoyak kala tanda-tandaNya telah diterima saat dirinya fly. Kesadaran bathinnya bergolak untuk bangkit dari masa-masa kelam yang telah mengotori jiwanya.
Sang Rocker kini dalam kesadaran awal setelah puluhan tahun terlelap bersama kesuksesan, polularibeg, dan kenikmatan duniawi. “Saya harus hijrah, bukan ini tujuan saya dilahirkan ke muka bumi, tetapi ada tugas lain yang harus saya lakukan sebagai bekal pertemuan dengan Sang Pemilik jiwa ini,” ujar hati itu berkata lirih.
Hatinya telah terbuahi cintaNya yang tulus dan suci sehingga sang hati sejati berkata, “Dan aku tidak membebaskan diriku (dari kesalahan), karena sesungguhnya nafsu itu selalu menyuruh kepada kejahatan, kecuali nafsu yang diberi rahmat oleh Tuhanku. Sesungguhnya Tuhanku Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Yusuf, 12 : 53).
Sebelum merasakan ke-Mahaan Allah dalam dirinya, Bangun Sugito hidup dalam serba kecukupan. Bergelimang kemewahan, bergiat dalam kehidupan malam, bertemankan jarum neraka. Begitulah hari demi hari yang dilalui seolah pakaian yang tak pernah lepas dari badannya.
Bahagiakah hidup seperti itu? Mendatangkan ketenangankah semua itu? Sebuah pertanyaan yang belum terjawab, sebuah rasa yang belum pernah ada dan sebuah keinginan yang belum tercapai. Pada akhirnya semuanya hanya menghantarkannya ke alam risau, resah dan gelisah.
Klimaks terjadi kala ia merayakan ulangtahunnya yang ke-50 pada 1997. Di situ, Gito mengundang seluruh karibnya untuk berpesta alkohol dan obat sepuasnya.
Dalam kerisauan panjang, beriring desah dan keluh kesah, daerah Puncak Bogor –Puncak dikenal sebagai tempat rekreasi di daerah Jawa Barat– selalu menjadi tempat menumpahkan penat, mengubur kegundahan yang membuncah. Wal hasil bukan ketenangan yang didapat bahkan gelisah itu makin menjadi. Namun dari daerah inilah benih hidayah itu mulai mekar membesar. Puncak menjadi tempat bersejarah, tempat solusi menjawab segala kerisauan.
Saat itu hari Jumat siang. Pria dengan rambut awut-awutan ini masih memegang botol miras, duduk di tempat yang tinggi sambil sesekali memandang ke arah bawah. Pandangannya tertuju kepada beberapa warga desa yang banyak menuju mesjid, hatinyapun bergetar, kerisauanpun kembali mengusik hati.
Mereka dengan kesahajaan bisa menemukan kebahagiaan. Apakah di Masjid ada kebahagiaan?!” Pertanyaan itu selalu mengusik Gito.
Sungguh pemandangan indah di hari Jumat itu, memberi arti tersendiri bagi kehidupan Gito Rollies. Sulit dibedakan keterusikan karena sekedar ingin tahu atau ini adalah awal Allah membukakan hatinya bagi pintu tobat.
Dicobanya untuk mendekati Masjid itu, subhanallah, seperti ada magnit yang memendekkan langkahnya untuk tiba. Mungkin di sana ada kebahagiaan. Terlihatlah sebuah pemandangan yang meluluhlantakan kegelisahannya selama ini.
“Rasanya seluruh otakku tiba-tiba dipenuhi oleh kekaguman. Dan entah kenapa, aku seperti mendapatkan ketenangan melihat orang-orang ruku, sujud dalam kekhusuan,”
“Bukankah apa yang kulakukan selama ini untuk mendapatkan ketenangan, tapi kenapa tidak? Ya, aku telah bergelut dengan kesalahan dan tetek bengeknya yang semuanya adalah dosa. Benarkah Allah tidak akan mengampuni dosaku? Lanbeg membuat apa aku hidup jika jelas-jelas bergelimang dalam ketidakbahagiaan.” Pikiran itu terus bergelayut seakan haus jawaban.
“Malam itu aku benar-benar tidak dapat memejamkan mata. Aku gelisah sekali. Ya, ternyata aku yang selama ini urekan, permisive ternyata masih takut dengan dosa dan neraka. Berhari-hari aku mengalami kegelisahan yang luar biasa. Hingga suatu malam, di saat kegelisahanku mencapai “puncaknya”, aku memutuskan untuk memulai hidup baru.
“Selama hidupku, baru kali ini aku diliputi suatu perasaan yang belum pernah aku rasakan semenjak mulai memasuki dunia selebritis. Maka, aku pun segera berwudlu dan melakukan shalat. Ketika itu, untuk pertama kalinya pula aku merasakan kebahagiaan dan kedamaian. Dan sejak hari itu, aku memutuskan untuk tekun memperdalam agama sekalipun masih banyak sekali tawaran-tawaran menggiurkan yang disodorkan kepadaku atau pun beragam ejekan dari sebagian orang. Aku pun melaksanakan haji seraya berdiri dan menangis di hadapan ka’bah memohon kepada Allah kiranya mengampuni dosa-dosa yang telah aku lakukan pada hari-hari hitamku.”
Ketika mentari terbit, Gito langsung mengajak istrinya untuk pergi ke Bandung, menjenguk sang ibunda. Di sana, ia mengutarekan niatnya untuk tobat yang disambut tangis haru sang ibu. Sejak saat itu, Gito resmi meninggalkan dunia kelam.
Satu yang disyukuri Gito adalah, dukungan dan kesabaran sang istri, Michelle, yang tak pantang habis.
“Saat aku sudah belajar agama, aku tidak berupaya menyuruhnya shalat. Ia tiba-tiba belajar shalat sendiri, begitu juga anak-anak. Suatu hari, ketika aku pulang, tiba-tiba aku mendapatinya tengah mematut diri di depan kaca sambil mengenakan jilbab. Padahal aku tidak pernah menyuruhnya. Subhanallah, istriku memang yang terbaik yang pernah diberikan Allah,” kata ayah dari empat putra ini.
Tobatnya Gito juga disyukuri oleh sang mertua, warga negara Belanda yang berimigrasi ke Kanada. Meski berbeda keyakinan, ibu mertuanya justru senang dengan perubahan yang dialami Gito.
“Kata beliau, aku jadi lebih kalem ketimbang dulu, meski sekarang pakai jenggot segala. Bahkan aku jadi menantu favoritnya lho,” tuturnya sambil terkekeh.
“Mengapa Allah memberikan hidayah kepada diriku yang kerdil ini? Mengapa Allah menciptakan makhluk yang penuh dosa ini?”
Gito mengaku harus merenung lama untuk menemukan jawaban itu. Setelah dia menjalankan shalat dan menunaikan haji, jawaban itu baru mampir di benak dan pikirannya. “Ternyata, Allah menciptakanku untuk menjadi manusia baik. Semula mengikuti idolaku, Mick Jagger. Aku menjadi penyanyi dan rekaman lalu mendapat honor. Tapi itu bukan kebahagiaan sepenuhnya membuatku.”
“Mick Jagger itu dulu menjadi idolaku. Ikut mabok, main cewek, dan seabrek dunia kelam lain. Tapi sekarang aku mengidolakan Nabi. Dan sekarang, aku menemukan nikmat yang tiada tara.”
Kalimat itu meluncur dengan lugas dari Gito Rollies, artis ndugal yang kini memilih ke pintu pertobatan. Penampilan Gito tak lagi urekan dengan rambut awut-awutan dan celana jin belel. Bukan pula pelantun lagu-lagu cadas yang berjingkrak-jingkrak tidak keruan.
“Aku sudah mendapatkan banyak hal di dunia ini. Sekarang saatnya mengumpulkan amal untuk persiapan menghadapi hari akhir ,” katanya ketika memberi testimoni tentang perubahan dalam hidupnya.
Setelah mengalami pengalaman rohani, dirinya mulai banyak bergaul dengan kalangan ulama, mengaji, serta mempelajari Al-Qur’an dan Hadits secara mendalam. Perlahan-lahan Allah SWT tanamkan pemahaman arti hidup sebenarnya. Sang Gito Rollies merasa telah menemukan hujjah yang mendasari hidupnya. “Dulu saya suka Mick Jagger, saya bahagia kalau populer. Ibaratnya, dulu tuhan saya adalah popularibeg. Nabi saya adalah para idola saya, dan rocker-rocker luar negeri, sekarang saya begitu mencintai Nabi Muhammad SAW dan ajaran-Nya,” ujarnya.
ALLAH MAHA BESAR, demikian kira-kira satu ungkapan yang cocok dialamatkan kepada legenda musik rock Indonesia tersebut. Ketika Gito memutuskan berputar haluan 180 derajat dari dunia rocker yang hingar bingar menuju kehidupan Islami yang sarat dengan dakwah, banyak sahabat yang kaget, seolah tak percaya. Apalagi bagi sahabat yang sangat mengenal Gito, rasa-rasanya “mustahil” ia berubah seperti itu. Dengan kata lain, apa yang dilakukan Gito ketika itu adalah “aneh bin ajaib”. Apalagi jika membandingkan gaya hidup dan penampilan Gito dulu yang “compang-camping” ala rocker, berubah menjadi seorang yang sangat Islami. Bahkan pakaian sehari-harinya pun bukan celana jins robek lagi, melainkan pakaian gamis lengkap dengan peci, layaknya umat Islam.
DAKWAH DAN TABLIGH

Tidak ada yang tidak mungkin selain mengecat langit! Demikian kira-kira perumpamaan yang sedikit nyeleneh untuk mengungkapkan fenomena hijrahnya Gito Rollies ke dunia dakwah. Sejak 1997 ia mulai menapaki “karir” dalam dunia karkun Jamaah Tabligh (pekerja dakwah yang rela mengorbankan harta dan kehidupan dunia semata-mata untuk berdakwah di jalan Allah). Selama rentang waktu 1997-Februari 2008 ini, Gito telah malang melintang keliling Indonesia untuk menyebarkan dakwah kepada umat Islam. Berpindah dari mesjid satu ke mesjid lainnya.
”Awalnya, saya hanya melihat orang-orang yang pergi ke masjid dan belum menunaikan shalat, meskipun saya beragama Islam. Selanjutnya saya beranikan diri masuk ke rumah Allah itu. Wah, kali pertama rasanya malu sekali dan menakutkan tempat itu. Lama-lama Allah berkenan memberikan hidayah kepada saya,” ungkap Gito semasa hidup. Hal itu ia ungkapkan seraya mengenang awal mula kembali ke jalan Allah. (dikutip dari suaramerdeka.com. Berita Edisi 17 April 2004. Diakses Sabtu, 01 Maret 2008)
Khuruj fi Sabilillah (pergi ke luar rumah/kampung halaman) semata-mata untuk senantiasa memperbaiki iman dan ketakwaan bagi dirinya sendiri dan seluruh umat, diputuskan Gito sebagai jalan hidup. Seorang artis ibukota dalam salah satu siaran televisi Nasional mengungkapkan suatu pernyatan Gito yang mengharukan sekaligus membahagiakan, “Gito dulu pernah berkata kepada saya, bahwa ia ingin mati di panggung sebagai seorang rocker. Tapi suatu saat ia justru berubah pikiran. Gito bilang ia ingin mati di panggung, tapi bukan sebagai rocker melainkan saat berdakwah,” ungkapnya dengan nada haru dan berlinang air mata, seraya menjelaskan bahwa keinginan Gito tersebut dikabulkan Allah lewat jalan lain, yaitu Gito meninggal sesampainya di Jakarta setelah beberapa hari melaksanakan dakwah khuruj fi sabilillah di Padang, Sumatera Barat.
Demikian pula Da’i kondang Arifin Ilham, kepada wartawan, sembari tak kuasa menahan air mata, ia mengungkapkan bahwa Gito Rollies adalah teladan bagi umat. Ia juga mengungkapkan semasa hidup Gito telah berjuang di jalan Allah dengan membawa misi dakwah, meskipun penyakit yang diderita Gito cukup berat.
Luar biasa memang sosok Gito, penyakit nan ganas, kanker kelenjar getah bening yang telah ia derita sejak beberapa tahun lalu (ia bahkan pernah dirawat di Singapura), tidak menyurutkan semangat dakwahnya. Bahkan, dengan berkursi roda, ia tetap semangat mengumbar dakwah dari mesjid ke mesjid.
Berdakwah Di Kalangan Artis
Toh, meski sudah berada di jalan Allah, Gito tak pernah merasa dirinya yang paling benar. Ia selalu menolak jika disebut kyai, atau diminta untuk berceramah. Menurutnya, ia hanyalah orang yang masih terus belajar agama. Apapun yang diucapkannya di depan umum adalah upayanya berbagi cerita.
Bahkan, Gito masih merasa belum cukup bertobat hingga akhir hayatnya. Tak pernah sekalipun ia merasa dosa-dosanya telah terhapuskan. Dalam suatu pengajian ia sempat bertanya kepada ustadz yang berceramah, apakah dosa-dosanya di masa lalu bisa berkurang dengan permembuatannya saat ini.
Ia pun berdakwah di kalangan artis, baik penyanyi maupun bintang film. Allah seolah telah mengirim seorang utusan dari kalangan mereka sendiri, komunibeg yang sangat rentan terhadap segala bentuk kemaksiatan, seperti minuman keras, narkoba, bahkan seks bebas. Profesinya sebagai artis didayagunakan untuk syi’ar agama Allah, mengajak mereka dengan cinta kasih, tidak pernah memaksa, bahkan tidak merasa dirinya paling baik dan paling benar. Baginya, teladan lebih utama dari sekedar retorika religi belaka.
Penbeg musik dengan beberapa kelompok band muda terus dijalani. Bedanya, penbeg kali ini tanpa alkohol dan drugs serta menyelipkan syi’ar Islam di setiap penampilannya. Juga di balik layar lebar, film-film bertema religius sanggup dilakoni dengan satu semangat, yaitu menggemakan ajaranNya yang dibawa oleh Baginda Rasulullah. “Lalu Kami utus kepada mereka, seorang rasul dari kalangan mereka sendiri (yang berkata) : Sembahlah Allah oleh kamu sekalian, sekali-kali tidak ada Tuhan selain dariNya. Maka mengapa kamu tidak bertakwa (kepadaNya).” (QS. Al-Mu’minuun, 23 : 32).
Beberapa tahun belakangan, orang mulai memanggilnya Ustadz Gito, meski ia menolak panggilan itu. Banyak kalangan artis yang tersadarkan setelah menyimak penuturan pengalaman hidupnya. Teladan dan ucapannya yang lemah lembut memmembuat semakin banyak orang yang simpatik dengan isi dakwah, syi’ar yang diangkat dari pengalaman pribadinya. Ia pun sempat mendaur ulang album lawasnya, Cinta yang Tulus, bukan lagi tema cinta antara sepasang manusia tetapi antara makhluk dan Khalik.
Kini Kang Gito telah berubah, masa lalu memang tidak mungkin terhapus dari diary-nya, dan akan menjadi catatan sejarah panjang. Tetapi itulah kehidupan, segalanya belum titik, tapi masih koma. Dan baru mencapai titik bila ajal menjemput. Jalan hidupnya mengingatkan kita pada sosok Cat Stevens yang pernah tersandung sebuah kejadian luar biasa, lanbeg banting setir ke arah tidak terduga setelah selamat dari gulungan ombak besar di pantai Hawaii. Cat Stevens meninggalkan agama lamanya dan dunia yang memungkinkan segalanya kecuali spiritualibeg. Ia pun berganti agama dan namanya dengan jati diri yang baru, yaitu Yusuf Islam. Gito Rollies tidak perlu ganti nama, namun dirinya bermetamorforsis menjadi hambaNya yang memahami tujuan hidupnya serta berusaha menjadi bermanfaat bagi orang lain walaupun harus berceramah di abeg kursi roda dan melawan penyakit kanker getah benih yang menderanya sejak 2005.
Wafat Dengan Tersenyum
Perjalanannya terhenti pada pukul 18.45 WIB, Kamis (28/02), setelah Sang Rocker menghembuskan nafasnya yang terakhir. “Beliau meninggal setelah melakukan shalat Maghrib dan melakukan do’a terakhir,” ujar rekan artis yang turut melayatnya. Dua belas tahun lebih di sisa usianya dihabiskan untuk melayani dan mengajak orang lain melakukan kebaikan. Sakitnya tidak begitu dirasakan, bahkan pada akhirnya beliau nikmati sebagai peluntur sisa-sisa kekotoran dirinya dan menjadi musabab kematiannya.
Ia tersenyum saat Sang Malaikat maut mengepakkan sayapnya dan hadir di hadapannya untuk mencabut nyawa sang Rocker. Ikhlas menerima takdirNya, melepaskan segala bentuk atribut keduniawian. Kekelaman hidup terbayar tunai dengan amal permembuatan, dan senyum itu semakin menyeringai di wajahnya kala sang Malaikat perlahan-lahan mengambil ruh milikNya. Sehingga beliau masih mempunyai waktu untuk melafalkan lafadz tauhid. Dan sang Rocker pun meninggalkan dunia fana ini dengan rasa puas dan merasa tenang. “Hai jiwa yang tenang, kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang puas lagi diridhaiNya. Maka masuklah ke dalam jama’ah hamba-hambaKu, dan masuklah ke dalam surgaKu.” (QS. Al-Fajr, 89 : 27-30).
Insya Allah, beliau meninggal dalam keadaan khusnul khatimah. Mudah-mudahan peristiwa ini memotivasi kita semua untuk bisa bermembuat sebaik-baiknya, dan memberi manfaat sebesar-besarnya bagi kita di sisa umur yang tidak lama lagi. Tiada pernah terucap kata putus asa, karena Dia pasti akan mengampuni segala kesalahan dan dosa-dosa hamba-hambaNya, karena Kasih SayangNya bak Samudera Tak Bertepi. Semoga kita termasuk orang-orang yang berakhir hidup dengan jiwa yang muthmainnah, sebagaimana mereka yang terpilih.
Gito menigggalkan seorang isteri bernama Michelle dan lima anak, yakni Galih Permadi, Bintang Ramadhan, Bayu Wirokarma, dan Puja Antar Bangsa.
Sebaik-baik usia tiap orang adalah pada penghujungnya. Dan ketahuilah, bagi kita, ujung-ujung usia akan selamanya menjadi misteri, karena seringkali di sanalah Allah memberikan kesudahan yang indah dari perjalanan taubat hamba-Nya.

SALMAN SAKTI (SHEILA ON 7)
LUKMAN (NOAH/PETERPAN)
REZA (NOAH) DAN RAY (NINEBALLL) PALING KIRI
Lukman Peterpan, Wok Matta, Abel Bass, Harry Rebek/Seiya, dkk jg khuruj di IPB, semoga teman2 semua segera menyusul… bersedia… Insya Allah !!!
Di Indonesia, Tabligh juga telah menyentuh hati Sakti, personel band Sheila on 7. Pada tahun 2006, dia telah keluar selama empat bulan ke Markas International Tabligh di Nizzamudin,New Delhi, India. Dia telah berhenti bermusik, dan memilih menjalankan amalan amalan maqami dan amalan intiqali dengan sangat intensif.
IVANKA (SLANK)
Dan setelah itu ada juga Vokalis dari Nineball band,Ray.selain itu pula ada lukman hakim-gitaris Peterpan dan masih banyak lagi yang bisa kita jadikan panutan.
Artis lain hanya tidak banyak diekpos media:
  • Iwan Fals
  • H. Hengki Turnando
  • Ivanka (SLANK)
  • Irfan (ROTOR)
  • Lukman & Reza (PETERPAN/NOAH)
  • Abel Bass
  • Edi Kemput (GRASSROCK)
  • yansen (JET LIAR)
  • seluruh personil MATTA
  • Seiya
  • Saiful jamil
  • Pepep (ST 12)
  • Doel Sumbang
  • Man (JASAD)
  • Kent (TATOO)
  • Hendraman (LOUDNESS)
  • Ricky Teddy n (JAMRUD)

//


SavedURI :Show URLShow URLSavedURI :

//


Pagi Jual Pentol, Sore Ngajar Ngaji


Penghasilannya tidaklah seberapa. Nyaris hanya cukup untuk memenuhi kebutuhan harian. Tapi, ia tidak ingin menyia-menyiakan hidupnya hanya untuk mencari materi.

Hati Suprianto menjerit lirih menyaksikan anak-anak kecil di sekitar rumahnya, Dusun Ngulaan, Desa Kayen, Bancar, Tuban, Jawa Timur yang jauh dari nuansa keagamaan. Bocah-bocah yang menggemaskan itu menghabiskan waktu hanya untuk bermain-main, khususnya pada sore hari. Tidak sedikit dari mereka yang belum bisa mengaji.

Kalaupun ada, mereka harus menempuh jarak kiloan meter menuju desa seberang. Sebab, di desanya, saat itu, tidak ditemukan kegiatan serupa.

Tak pelak, darah muda pria yang biasa disapa Supri ini terusik. Ia tak rela anak-anak usia dini itu tak bisa mengaji. Satu di antara petuah kiainya sewaktu mondok dulu terngiang-ngiang di benaknya, “Urip-uripno agomo (hidup-hidupkanlah agama -di manapun kamu berada).”

Nasehat itu pula yang menjadi spirit Supri, yang saat itu masih lajang, untuk bersegera mengajarkan al-Qur’an di kampungnya. “Hati ini terasa miris melihat mereka. Bagaimana ke depannya bila pada usia emas ini mereka sama sekali tidak mengenal al-Qur’an,” gugahnya.

Laki-laki kelahiran 1976 ini pun mulai bergerilya dengan mengajak anak-anak mengaji. Gayung bersambut, anak-anak menyambut ajakannya. Mereka sangat antusias belajar mengaji bersama guru muda ini.

Namun niat baik terkadang tak selalu mulus. Begitu pula dengan perjalanan Supri. Belum lama mengajar, tersebar isu bahwa ia merebut murid-murid ngaji di tempat lain. Usut punya usut, ternyata telah terjadi kecemburuan terhadap kiprah Supri oleh beberapa oknum masyarakat. Supri tak menggubris sedikit pun hal itu. Ia terus memantapkan langkahnya. “Wajar, namanya saja dakwah, pastilah ada onak dan duri,” jelasnya.

Lahan Baru

Tahun 2000, Supri menyunting seorang wanita dari Dusun Jombok, Desa Sembungin, Tuban. Karena harus bermukim di rumah sang istri, amanah sebagai guru ngaji di desanya ia serahkan ke salah satu keluarganya. Kondisi keagamaan Jombok tidak jauh berbeda dengan dusunnya. Bahkan, untuk menunaikan shalat Jumat harus menumpang ke dusun lain.

Selang beberapa lama bermukim di tempat baru, Supri diamanahi oleh seorang tokoh desa untuk mengajar ngaji. Tawaran tersebut disambut dengan lapang dada oleh putra pasangan Ami Joyo dan Sumarsih ini.

“Kita sempat menggunakan masjid sebagai tempat untuk mengaji. Tapi kemudian mendapat teguran karena dianggap mengotori masjid dan membuat kegaduhan,” terang Supri.

Supri tidak mau kalah dengan keadaan. Kondisi ini ia jadikan wasilah untuk mengajukan proposal kepada Allah SWT supaya diberikan kemudahan membangun rumah. “Saya meminta kepada Allah untuk diberikan rumah. Saya berazam, kelak rumah tersebut juga akan digunakan sebagai tempat mengaji anak-anak,” kenangnya.

Akhirnya, dengan doa dan ikhtiar yang tak pernah surut, Allah SWT mengijabah permohonan Supri. Ia mendirikan rumah joglo (rumah adat Jawa) di atas sepetak tanah. Rumah berdinding papan dan berlantaikan tanah itu kini ditempati Supri dan keluarga, serta tempat mengajarkan al-Qur’an.

Alhamdulillah, anak-anak yang mengaji terus membludak. Rumah Supri tidak mampu lagi menampungnya. Timbul asa untuk mendirikan Taman Pendidikan al-Qur`an (TPA). Namun, mimpi itu terbentur dengan dana. Meski demikian, keyakinan bahwa Allah SWT pasti akan menolong hamba-Nya yang berjuang di jalan-Nya terus terpatri.

Supri pun terus berdoa. Benar saja, tanpa disangka ada salah seorang warga yang mewakafkan tanahnya untuk dibangun TPA. Selanjutnya, tugas Supri adalah mencari biaya untuk pembangunan. Untuk itu, ia membuat proposal untuk pembangunan TPA.

Sayang, jerih payah itu belum membuahkan hasil. Menurut pengakuan ayah dari Latifatul Rahmah yang juga diamini oleh sang istri, tidak satu pun proposal yang mampu mendatangkan rupiah. Pernah Supri mencoba cara lain dengan meminjam uang ke seorang hartawan yang ia kenal, tapi hasilnya juga sama, nihil.

Tak ada yang bisa ia lakukan kecuali berpasrah kepada Allah SWT. “Menggantungkan harapan kepada manusia hanya membuahkan kekecewaan. Maka, saya serahkan kepada Allah,” imbuhnya.

Dan sekali lagi, Allah SWT menunjukkan Kemahabesaran-Nya. Tak dinyana, ada saja orang datang memberikan sumbangan untuk pembangunan TPA-nya, tanpa harus diminta-minta. Di antara mereka ada yang langsung menyumbang uang tunai dan ada juga yang berupa material: semen, genting, pasir, dan lainnya.

Saat ini, meski belum selesai 100 persen, telah berdiri dua ruangan belajar TPA, yang diberi nama TPA Ar-Rahman.

“Intinya, menancapkan keyakinan dalam diri bahwa Allah senantiasa membantu hamba-Nya yang berjuang di jalan-Nya, itu sangat penting,” katanya.

Kini, banyak masyarakat yang akhirnya simpati kepada Supri. Hasilnya, tak sedikit dari mereka, terutama ibu-ibu minta belajar al-Qur’an. Bahkan, ada di antara mereka yang telah memasuki usia lanjut. Karena itu, Supri bersama istrinya membagi waktu mengajarnya menjadi tiga sesi. Ba’da ashar untuk anak-anak TPA, lalu diteruskan dengan ibu-ibu muda. Ba’da maghrib untuk para pemuda, sedangkan ba’da isya’ untuk ibu-ibu lanjut usia.

Kembali Digoyang

Sesibuk-sibuk apapun Supri dalam berdakwah, ia tidak pernah melupakan kewajibannya sebagai kepala rumah tangga yang harus menafkahi keluarganya. Untuk itu, berjualan pentol (makanan seperti bakso yang terbuat dari tepung) menjadi pilihannya. Tak heran, jika ia mendapat julukkan ‘Pri pentol’. Supri tidak pernah gengsi dengan profesinya ini, meskipun ada yang menganggap akan merobohkan reputasinya sebagai guru ngaji. Baginya hal itu tidak masalah, yang penting halal.

Penghasilan dari jual pentol tidaklah banyak. Nyaris hanya cukup untuk memenuhi kebutuhan harian. Adapun dari kegiatan mengajar al-Qur’an, ia sama sekali tidak mengambil bayaran.

Tak ayal, dari aspek inilah suami Lilik Astuti, saat ini sering ‘digoyang’. Tidak sedikit yang membujuknya berpindah haluan dengan iming-iming gaji yang lumayan.

Meski menggiurkan secara materi, laki-laki yang bercita-cita mengantarkan keluarganya sebagai huffadz (penghapal al-Qur’an) ini menepis itu semua. Ia lebih memilih terus melanjutkan apa yang telah dirintisnya, “Saya tidak ingin menyia-menyiakan hidup ini hanya untuk mencari materi,” katanya tegas.

Supri berprinsip, terus berupaya hidup bermanfaat. Soal rezeki, itu sudah ada yang mengatur.* Khairul Hibri/Suara Hidayatullah APRIL 2014

 

http://majalah.hidayatullah.com/

//


SavedURI :Show URL

Berdakwah dengan Cinta


“Kamu! Bisa nggak sih dibilangin. Kamu itu perempuan. Kenapa sih pulangnya malam? Kan sudah Abang bilang, jangan lewat Maghrib sampai rumah!,”demikian hardik lelaki itu dengan nada tinggi pada adik bungsunya.

Lelaki berusia awal 20 tahun itu bersiap mendaratkan pukulan. Tangannya sudah terangkat siap menampar sembari menahan sedu sedan emosi.

Di hadapannya meringkuk gadis 11 tahun disudut ruangan. Dengan alasan Kerja Kelompok bersama teman sekelas, sang adik berjanji pulang sebelum shalat Maghrib. Ternyata, jam sembilan malam, Ia sampai di rumah.

Dengan suara bergetar, gadis remaja itu berkata: “Kenapa, sih Abang kasar banget sama aku? Kalau sama binaannya, bisa senyum. Kalau sama adik sendiri, kasar. Aku ini adik Abang,”tutur gadis itu sembari terisak penuh cemas dan takut.

Pria itu tertegun. Ucapan sang adik sangat menohoknya. Ia baru menyadari kekasarannya selama ini.  Jika salah seorang adiknya terlihat akrab dengan lawan jenis, maka ultimatum keras disampaikannya.

Jika ada di antara adik lelakinya tidak shalat berjamaah di masjid, maka rentetan ayat al Qur’an dibacakannya. Jika Sinetron mampu menarik perhatian ketimbang mengaji, serta merta hadits bertebaran dalam ucapannya.

Bertahun-tahun bersikap seperti itu, membuat sosoknya ditakuti. Pria itu menjelma seperti “polisi syariah” di rumah. Ia dipatuhi karena ditakuti.

Mengingat itu semua, pelan-pelan tangannya diturunkan. Hatinya galau. Kata-katanya tersendat. Tidak tahu lagi mau bicara apa.

Pria itu tergesa masuk kamar kemudian membanting pintu. Protes adik kecilnya seakan membangunkannya dari tidur panjang.
Selama seminggu, Ia tidak bertegur sapa. Pria yang dituakan oleh adik-adiknya itu, lebih banyak mengurung diri di kamar.

“Saya merenung. Iya ya, kenapa kalau sama binaan, saya bisa berwajah baik walaupun sebenarnya kesal.  Seminggu setelah itu saya minta maaf pada adik saya,”ujarnya.

Inilah sepenggal kisah Bendri Jaisyurrahman, saat menceritakan pengalamannya di depan peserta “Silaturahmi Akbar (Silakbar) Kerohanian Islam (Rohis) se-Jakarta Timur” di AQL Islamic Center, Jakarta, beberapa waktu lalu.

Sejak SMU, Bendri sudah menjadi Mentor di Rohis berbagai sekolah di Jakarta. Di mata anak didiknya, Bendri dikenal sebagai Kakak Mentor yang ramah dan memahami persoalan remaja. Tapi di depan adik-adik kandungnya, ia yang tak kenal kompromi dalam urusan agama, justru  dirasakan begitu kasar oleh adiknya.

Dengan cinta

Kesadaran itu membuat aktivis Yayasan Sahabat Ayah itu menyesal. Demi menebus kesalahannya sebelumnya, Bendri berbanting setir dalam mempraktikkan dakwah. Pernah ia mengajak adik kecilnya menonton “Petualangan Sherina”, film yang saat itu sedang ramai diputar di bioskop. Sejak itu ia juga berusaha lebih dekat dengan adik-adiknya.

“Semua saya lakukan tanpa mengeluarkan ayat-ayat al-Qur’an satupun,”ujarnya.

Ia ingin agar kedekatan dengan sang adik terbangun. Sampai akhirnya adiknya merasa nyaman untuk bercerita, barulah Ia giring untuk menaati Allah dan Rasulnya.

“Bang, besok kan aku ulang tahun. Aku mau deh, kalo Abang beliin gamis yang dipakai sama teman-teman Abang waktu Abang ceramah,”ucap Mardiyah Wafa Syahidah, adik bungsu yang kemudian beranjak remaja.

Bendri tidak menyangka di usianya yang masih belia, 14 tahun, adiknya punya keinginan berabaya.

Sejak menerima kado dari sang kakak, dalam setiap kesempatan, gadis manis itu mengenakan abaya atas kesadaran sendiri.

Berdakwah dengan cinta menjadi prinsip Bendri sejak itu. Ia menyadari akan lebih mudah menggiring seseorang menuju cahaya Islam ketika pikirannya sudah terikat.

Selulus SMU, Mardhiyah mengaku siap menikah. Pada Bendri, Ia mempercayakan proses ta’arufnya.

“Semua pernikahan adik-adik saya, saya yang mencarikan calonnya. Mereka percaya pada saya,”ucapnya.

Mardhiyah menjadi satu-satunya mahasiswa Sastra Arab UI yang telah menikah dan memiliki anak ketika awal perkuliahan.
Mahasiswa lulusan terbaik Sastra Arab UI, 2011, itu menyebut nama Bendri pada kata sambutan dalam wisudanya.

“Abang adalah orang yang pertama kali mengenalkan Islam dengan penuh cinta,”ungkapnya penuh haru di depan ratusan mahasiswa.

Bendri menjelaskan, seorang agen dakwah harus bisa menunjukkan wajah Allah yang pengasih dan penyayang.

“Jika hanya kekerasan yang ditampilkan, maka objek dakwah kita menafsirkan Islam sebagai agama yang galak,”tutur alumni STID DI Al Hikmah dan Ma’had Utsman Bin Affan, Jakarta itu.

Pria yang banyak mengisi kajian keislaman remaja tersebut mengungkapkan ada dua kemungkinan respon yang ditunjukkan objek dakwah jika cara penyampaian nasihat tidak memperhatikan unsur  fight or flight (melawan atau kabur).

Contohnya ketika anak-anak bercengkrama di masjid. Mereka seringkali ditolak, diusir dari Masjid karena dianggap bikin berisik, tidak nyaman, merasa dianggap ‘warga kelas dua’.

“Berbeda dengan penjaga Warnet, PS, atau Game Online yang selalu ramah dengan anak-anak. Anak-anak ditanya kabar hari itu dan dipersilahkan main dengan senang hati,”ungkapnya.

Hasilnya, masjid dipandang sebagai lokasi angker sedangkan lokasi PS dan game online sebagai rumah kedua mereka.*

hidayatullah.com

Dai Tangguh di Kaki Gunung Singgalang


Pengunungan Singgalang

Dakwah tak kenal kata pensiun. Meski rambutnya telah memutih, namun ghirahnya tidak pernah padam. Beratnya medan dakwah tak menghentikan gelora dakwahnya.

Senja mulai temaram saat Buya Imam menyusuri jalan setapak menuju Dusun Aro, untuk mengisi pengajian di Surau Al-Abrar yang terletak di pinggir hutan. Tiba-tiba dari arah semak belukar keluar segerombolan babi hutan yang menghadang perjalanannya. Dua di antaranya bahkan sudah bertaring.

Konon cerita orang-orang tua, jika bertemu babi bertaring, segeralah mengambil langkah seribu, berlari secepatnya dengan berbelok-belok atau segera memanjat batang kayu. Tetapi itu tak mungkin lagi dilakukan Buya Imam. Jarak dia dan gerombolan babi hutan sudah terlanjur dekat. Keduanya hanya terpisahkan sekitar lima meter saja. ”Yang saya lakukan saat itu hanyalah memohon pertolongan Allah Subhanahu wa Ta’ala,” kenang Imam.

Sesaat kemudian salah satu babi yang bertaring mulai mengambil ancang-ancang menyerang dengan merenggangkan dan merendahkan tubuhnya. Buya Imam sudah bertekad, jika babi besar itu menyerang, ia akan melawan dengan seluruh kemampuan. Ia terus memperkukuh keikhlasan di hati, apapun yang akan Allah takdirkan atas dirinya. Tetapi sejurus kemudian sang babi berbalik memutar tubuhnya. Seakan dikomandokan, gerombolan babi hutan itu berlarian masuk hutan. Imam menarik nafas panjang. ”Alhamdulillah,” ucapnya berulangkali.

Tak hanya dihadang kawanan babi hutan. Suatu malam yang diterangi cahaya bulan, Buya Imam yang baru pulang dari mengisi pengajian di Surau Kayu Ponton, samar-samar melihat seekor harimau yang turun dari kaki bukit, namun jaraknya masih cukup jauh dari sisi jalan kampung yang akan dilalui Imam. Karena itu, ia menunggu saja sampai harimau itu menyeberang jalan menuju hutan lebat di kaki Gunung Singgalang.

Anehnya, harimau itu malah berbalik ke atas bukit. Dengan satu lompatan, tubuh harimau itu hilang ditelan semak belukar.

”Dihadang binatang buas, terkepung longsor, dan hujan deras, sudah menjadi bagian dari perjalanan dakwah. Yang penting kita tidak takabur dan senantiasa berserah diri kepada Allah yang Maha penolong ,” tutur Buya Imam saat dijumpai majalah ini menjelang sore di kediamannya di Dusun Aia Rukam, Nagari Matua Mudiak, Sumatera Barat beberapa waktu lalu.

Pertolongan Allah yang tak terduga, tak hanya dirasakan Buya Imam ketika kepergok binatang buas. Pernah saat di perjalanan, hujan turun sangat lebat. Biasanya kalau sudah begini, tebing-tebing di sisi jalan sering longsor. Bila tidak cepat meninggalkan lokasi, bisa turut tertimbun hidup-hidup. Tetapi berulang kali pula secara tak terduga Buya Imam mendapat pertolongan Allah. ”Sering saya alami, di tengah perjalanan tiba-tiba saja ada pengendara sepeda motor berhenti meminta saya naik diboncengkan hingga ke tempat pengajian. Padahal, saya sama sekali tak mengenalnya,” tutur Buya Imam.

Masih Berjalan Kaki
Empat puluh tahun silam, Imam berjalan kaki mendampingi Imral, murid mengajinya saat bermusabaqah. Kini, bekas muridnya itu sudah memasuki pensiun. Namun, Buya Imam tetap seperti yang dulu. Dai yang satu ini masih berjalan kaki dalam menebar dakwah dari kampung ke kampung.

Walaupun Buya Imam belum juga menerima bantuan rutin, namun semangat dakwah Buya Imam tak pernah padam. Padahal, Pemerintah Provinsi Sumatera Barat telah mengucurkan Tunjangan Khusus Ulama Nagari sejak 2009.

Di tengah kelangkaan ulama, Buya Imam terus berperan sebagai dai full time. Hari-harinya habis untuk berdakwah, mengisi jadwal khutbah Jumat hingga melatih penyelenggaraan jenazah secara gratis. ”Karena nyaris tak punya waktu lagi, belakangan ini tugas mengajar di madrasah saya serahkan ke guru bantu,” jelas Buya Imam.

Selain kelompok pengajian, Buya Imam juga melakukan terobosan dakwah. Belakangan ini, ia gencar menggarap terbentuknya kelompok pengajian di kalangan kaum (suku). ”Ini penting agar dakwah juga sampai pada pemangku adat dan anak keponakan anggota kaum,” jelasnya.

Sayangnya, dakwah di kalangan kaum tidak mudah. Saat ini, pengajian rutin baru berhasil dibentuk di kaum adat Suku Sikumbang. Dulu pernah terbentuk di Suku Caniago, tapi kemudian bubar begitu saja.

Merintis Pengajian
Buya Imam, begitu sapaan orang kampung padanya. Nama lengkapnya Syamsudin Imam Rajo Alam. Imam adalah gelar yang dinobatkan masyarakat kaumnya karena dinilai telah memenuhi syarat sebagai urang siak yang terus mengelorakan dakwah.

Di kaki Gunung Singgalang, kawasan dataran tingggi Agam ini, Buya Imam masih terus berdakwah. Usia yang hampir berkepala tujuh, ketiadaan fasilitas dan beratnya medan dakwah tidak mengendorkan semangatnya.

Bapak dari lima anak ini merintis kelompok pengajian di kampung-kampung berawal dari satu-dua jamaah saja. Kini, kelompok pengajian binaannya sudah mencapai belasan, tersebar dari desa-desa yang ada di Nagari Matua Mudiak hingga ke Matua Hilia dan Lawang Tigobalai. ”Alhamdulillah, di Nagari Matua Hilia beberapa waktu belakangan juga sudah terbentuk lima majelis taklim dengan anggota lebih seratus orang. Mereka kini lagi semangat-semangatnya mengaji,” ujar buya Imam.

Di kawasan terpencil yang jauh dari kediamannya, seperti Dusun Arau, kelompok pengajian juga berhasil dibentuk. Kendati pesertanya baru beberapa orang saja, namun Buya Imam tetap semangat mendatangi Surau Al-Abrar yang terletak di pinggir hutan.

Dulu Diberi Sesajen, Kini Ditebangi
Topik pengajian, ceramah, maupun khutbah Buya Imam selama ini tak beranjak dari kajian ketauhidan. Ini sesuai dengan kondisi medan dakwah yang dijalaninya. ”Ya, namanya di daerah pelosok. Dulu-dulunya kondisi di sini samalah dengan di Jawa sana,” jelas Imam Rajo Alam.

Memang, dulunya masih ada satu-dua warga yang melanjutkan tradisi dengan meletakan sesajen di rumpun pohon beringin. Ada pula orang yang takut mandi di pancuran sumber mata air pada tengah hari, karena takut dimarahi ”penjaganya.”

Dakwah Buya Imam tentang ketauhidan yang disampaikan terus menerus dalam setiap pengajian, akhirnya membawa perubahan besar. Di Nagari Matua Mudiak, kemusyrikan benar-benar telah ditumpas habis. ”Sekarang tak pernah lagi ditemukan sesajen nasi kunyit dengan telur ayam di bawah pohon beringin. Bahkan sudah banyak pohon beringin ditebang dan dibakar bersama ’penjaganya’ yang dulu ditakuti itu,” tutur buya Imam. Allahu Akbar!* Dodi Nurja/Suara Hidayatullah, NOPEMBER 2010