Archives

Ikhlaskan Hati Untuk Berbagi Suami


 

Oleh: Ustadz Hakimuddin Salim, Lc., MA.

Sambungan dari artikel (Wahai Dakwah Jangan Rebut Suamiku Dariku)

Di sebalik tabir keberhasilan seorang pejuang, selalu ada sosok perempuan hebat di belakangnya. Bersama langkah para qaadah dan ‘udhoma dalam sejarah umat ini, selalu ada dukungan istri yang setia mendampingi. Para kaum berhati lembut itu, bukan sekedar berstatus istri, tapi berhasil menggandakan perannya sebagai peneguh keyakinan, penajam pikiran, telaga keteduhan, selimut ketenangan, dan penghibur dalam kesedihan.

Ada kesetiaan Hawa, bersama tugas berat Adam sebagai khalifah. Ada qona’ah Hajar, di samping kuatnya tauhid Ibrahim. Ada dukungan moral dan material dari Khadijah, saat Muhammad berhadapan dengan para thoghut Mekkah. Ada nasehat emas Moudhy, di balik gerakan tajdid Muhammad bin Saud. Ada kesabaran Lathifah, di belakang langkah juang Al-Banna. Ada kelembutan Masrurah, yang memperindah wibawa Hasyim Asy’ari. Ada peran serta Siti Walidah, bersama kecemerlangan Ahmad Dahlan.

Namun demikian, tak sedikit para pejuang yang surut langkahnya setelah bertengger di pelaminan. Apalagi para pejuang akhir zaman. Alih-alih kiprah dan prestasi dakwahnya bertambah, pernikahan yang diharapkannya bakal menghasilkan lompatan-lompatan hebat, justru membuat semangat juangnya sekarat. Tentu banyak sebab atas degradasi militansi yang terjadi, tapi acapkali salah satu sebab itu berasal dari sang istri.

Ada yang semenjak menikah, menjadi jarang kelihatan di agenda-agenda dakwah. Padahal ia dulu terkenal sebagai aktifis yang militan dan produktif. Bagaimana mau aktif berdakwah, jika hendak keluar rumah untuk rapat atau mengisi kajian, sang istri selalu pasang wajah cemberut. Apalagi jika pamit mau mukhoyyam, sang istri langsung bermuram durja dan meneteskan air mata. Lalu bagaimana jika panggilan jihad tiba?

Ada pula yang terkendala perbedaan fikrah. Sang akhwat yang dinikahinya, ternyata tak sepakat dengan visi dan misi dakwahnya. Perdebatan hebat sering terjadi, yang tak jarang berakhir pada pertengkaran sengit. Demi menyelamatkan bahtera rumah tangga, terpaksa ia undur diri dari komunitas dakwahnya. Sayangnya, di komunitas yang baru ia merasa tak nyaman. Sampai saat ini ia masih vakum dan kebingungan, laa ilaa haa-ulaa’ walaa ilaa haa-ulaa’.

Ada juga yang terganjal semangatnya untuk tholabul ‘ilmi. Sebenarnya kebutuhan umat terhadap kafa’ah syar’i telah membuatnya bertekad untuk kuliah hingga doktor di luar negeri. Namun tekad itu melemah setelah ia menikah. Rengekan dan keluhan sang istri yang tak tahan hidup di perantauan, membuatnya urung mewujudkan impian. Ia pun pulang ke tanah air dengan tangan hampa dan pupus harapan.

Pun ada yang terbelit masalah ekonomi. Pendapatannya sebagai guru di pesantren dan penceramah di berbagai mejelis ta’lim, terasa kurang untuk memenuhi kebutuhan keluarga. Hal itu diperparah dengan gaya hidup sang istri yang cenderung boros dan tinggi selera. Terpaksa ia harus banting setir keluar dari pesantren dan menyibukkan diri dengan dagangannya. Hingga tak ada lagi bagi dakwah waktu yang tersisa.

Cuplikan fenomena di atas semestinya tidak perlu terjadi jika para istri memahami dan menyadari peran besar mereka sebagai tulang punggung perjuangan. Rasulullah ‘alaihis sholatu wassalam menjanjikan kepada perempuan yang mendukung suaminya untuk berjihad, berdakwah, menuntut ilmu, dan bersabar atas itu semua, dengan pahala yang sama dengan pahala yang didapatkan oleh suaminya.

Sebagaimana hadits tentang Asma’ binti Yazid Al-Anshariyah radhiallahu ‘anha, bahwa dia mendatangi Rasulullah, sementara beliau sedang duduk di antara para sahabatnya. Asma’ pun berkata, “Aku korbankan bapak dan ibuku demi dirimu wahai Rasulullah. Aku adalah utusan para wanita di belakangku kepadamu. Sesungguhnya Allah mengutusmu kepada seluruh laki-laki dan wanita, maka mereka beriman kepadamu dan kepada Rabbmu. Kami para perempuan selalu dalam keterbatasan, sebagai penjaga rumah, tempat menyalurkan hasrat dan mengandung anak-anak kalian”.

Asma’ pun melanjutkan, “Sementara kalian kaum laki-laki mengungguli kami dengan shalat Jum’at, shalat berjamaah, menjenguk orang sakit, mengantar jenazah, berhaji setelah sebelumnya sudah berhaji dan yang lebih utama dari itu adalah jihad fi sabilillah. Jika lah seorang dari kalian pergi haji atau umrah atau jihad, maka kamilah yang menjaga harta kalian, yang menenun pakaian kalian, yang mendidik anak-anak kalian. Bisakah kami menikmati pahala dan kebaikan itu sama seperti kalian?”.

Rasulullah ‘alaihis sholatu wassalam pun memandang para sahabat dengan segenap wajahnya. Kemudian beliau bersabda, “Apakah kalian pernah mendengar ucapan seorang perempuan yang lebih baik pertanyaannya tentang urusan agamanya dari pada perempuan ini?” mereka menjawab, “Ya Rasulullah, kami tidak pernah menyangka ada wanita yang bisa bertanya seperti dia”.

Maka Rasulullah ‘alaihis sholatu wassalam menengok kepadanya dan bersabda, “Pahamilah wahai perempuan, dan beritahu para wanita di belakangmu, bahwa ketaatan istri kepada suaminya, usahanya untuk memperoleh ridhanya dan kepatuhannya terhadap keinginannya menyamai semua itu.” Wanita itu pun berlalu dengan wajah berseri-seri. (HR. Imam Baihaqi).

Harus disadari dan diyakini, saat para pejuang itu banting tulang untuk membela dan menolong agama Allah ta’ala, hingga tak ada waktu dan tenaga yang tersisa buat keluarga, apakah Allah akan membiarkan keluarga yang dicintainya terlantar? Allah ta’ala telah menjanjikan, “Jika kalian menolong (agama) Allah, maka Allah akan menolong kalian dan meneguhkan kedudukan kalian” (QS. Muhammad: 7).

Seperti juga yang diriwayatkan Ibnu Abbas, bahwa Rasulullah ‘alaihis sholatu wassalam bersabda, “Jagalah Allah, maka Allah akan menjagamu” (HR. Imam Tirmidzi). Tinta sejarah telah mencatat, bahwa penjagaan Allah terhadap siapa yang mau menjaga agama dan hukum-hukum-Nya disini tidak hanya bagi diri yang bersangkutan, tetapi dengan izin Allah penjagaan itu juga mencakup anak dan istri yang menjadi tanggungannya.

Tentu wujud pertolongan dan penjagaan Allah di atas bukan melulu berupa materi. Semua itu bisa terwujud dalam keberkahan hidup, anak-anak yang sholeh dan sholehah, kemudahan urusan, dijauhkan dari musibah, dan terpautnya hati manusia kepadanya. Itu semua adalah berkah perjuangan yang datang dari arah yang tak disangka.

Memang, para suami juga harus diingatkan untuk tidak lalai menunaikan kewajibannya terhadap keluarga. Namun kadang terjadi, meski sudah diatur dan diupayakan sedemikian rupa, realita perjuangan menuntut pengorbanan lebih hingga tak ada waktu tersisa. Lagi pula hangatnya hubungan tak selalu harus bersama. Bahkan perpisahan sementara akan membuncahkan rindu di dada dan cinta pun semakin membara. Sometimes we need to disconnect to make a fresh connection.

Hari ini, agenda besar nahdhotul ummah (kebangkitan umat) membutuhkan lebih banyak pengorbanan dan relawan sebagai martirnya. Ini akan meminta apa pun yang kita miliki, termasuk orang-orang terdekat yang kita cintai. Maka dari itu, tidak ada jalan lain bagi para istri, kecuali ikhlas dan ikhtisab untuk berbagi suami. Ya, berbagi suami dengan dakwah demi tegaknya panji Ilahi.

Semoga kebersamaan yang tertahan di dunia ini, berbuah kebersamaan abadi di surga nanti. “Dan orang-orang yang bersabar karena mengharap ridha-Nya, mendirikan shalat, dan berinfaq dari rizki yang Kami berikan kepada mereka, sembunyi atau terang-terangan, dan menolak keburukan dengan kebaikan; mereka itulah yang mendapat tempat kesudahan yang baik. Yaitu syurga ‘Adn yang mereka masuk ke dalamnya bersama orang-orang yang saleh dari bapak-bapak, isteri-isteri dan anak cucu mereka.” (QS. Ar-Ra’d: 22-23).

(Manhajuna/AFS)

Advertisements

Wahai Dakwah, Jangan Rebut Suamiku Dariku!


Oleh Ust. Hakimuddin Salim, Lc. MA.

“Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan bebatuan”. (QS. At-Tahrim: 6)

Kisah nyata ini, terjadi di sebuah komunitas ilmu dan dakwah. Yang mana ada seorang istri dari mereka yang sudah menikah bertahun-tahun, namun belum bisa membaca surat Al-Fatihah. Bukan hanya tidak mengenal tajwid, Al-Fatihah yang tanpanya sholat tidak syah, ia tidak hafal dan terbata-bata membacanya.

Padahal konon sang suami adalah seorang kandidat doktor ilmu agama. Pemahaman dan komitmen dakwahnya juga tidak diragukan. Entah karena terlalu rajin menulis desertasi atau sibuk berdakwah, musibah itu benar-benar terjadi dalam keluarganya.

Realita itu baru terungkap saat di komunitas mereka diadakan halaqah tahfizh Al-Qur’an bagi para istri. Dari sinilah terpaksa pimpinan komunitas tersebut menetapkan kurikulum khusus yang wajib diajarkan kepada para istri, disertai mekanisme evaluasi atau ujian secara periodik dan berkala. Jika salah seorang istri tidak lulus, maka ada konsekuensi khusus untuk suaminya.

Itu baru satu kisah. Ada banyak cerita yang lain tentang para aktivis dan da’i, yang mungkin karena terlalu sibuk berdakwah di masyarakat, terlalu banyak amanah di organisasi, ia lupa mendakwahi dan mengajari ilmu orang terdekatnya: istrinya sendiri. Ironis memang, tapi itulah faktanya.

Seperti seorang istri yang mengeluhkan suaminya yang tidak pernah ada di rumah. Dari pagi hingga siang bekerja di luar. Baru pulang sebentar, sorenya sudah pergi lagi hingga larut malam. Alih-alih mau membantu kerjaan istri, saat ada sedikit waktu di rumah, ia memilih khusyu’ di depan laptop atau gadget. “Afwan Mih, Abi lagi banyak amanah nih!”, begitu jawabnya ketika ditanya.

Ada lagi yang sudah lama memendam sebel kepada suaminya, yang sepanjang pekan tak pernah ada waktu untuk keluarga. Senin sampai Jum’at sibuk bekerja. Sabtunya adalah jadwal rutin untuk liqo, rapat dan ngisi kajian umum. Hari Ahad yang tersisa, lebih sering terpakai untuk hadir kondangan, seminar, daurah, tabligh akbar, atau acara insidental yang lain.

Atau ada juga yang gundah tentang suaminya yang penghafal Al-Qur’an, namun sepanjang usia pernikahannya, belum pernah diajak tadarus bareng. Jangankan tahsin berdua atau saling menyimak hafalan, sang suami yang sering menjadi imam qiyamullail di berbagai acara dakwah itu, hampir tak pernah menjadi imamnya saat tahajud di rumah.

Beda lagi yang terhimpit masalah ekonomi. Saat suaminya yang belum mapan terlalu sering bepergian, tanpa meninggalkan uang pegangan. Mau berangkat khuruj katanya. Awalnya cuma sepekan. Lalu bertambah sebulan, kemudian menjadi berbulan-bulan. Hingga sang istri pun menanggung malu karena harus menjadi beban bagi kerabat dan tetangga. Tentu alasannya adalah perjuangan. Namun ceritanya akan lain, jika semua diatur dan disiapkan.

Lebih parah dari itu, cerita tentang seorang istri pendakwah ternama yang terjerumus dosa. Pesona keilmuan sang suami ternyata hanya benderang di depan para mad’u-nya, namun meredup dalam kehidupan berkeluarga. Ia tak pernah dinasehati, diajak berdiskusi, apalagi belajar mengaji. Walhasil, bukan hanya pakaian dan cara berhias yang jauh dari kriteria agama, sang istri pun terlibat perselingkuhan dengan teman lama. Wal ‘iyadzu billah.

Itulah beberapa cuplik cerita dari fenomena yang ada. Para istri aktivis itu, jika bukan karena rasa malu, mungkin mereka akan pasang status besar-besar, “Aku juga butuh ilmumu!”. Atau membentang spanduk lebar-lebar, “Aku juga butuh dakwahmu!”. Yang lebih ekstrim, mereka akan menyalahkan dakwah dan berteriak keras-keras, “Wahai dakwah, jangan rebut suamiku!”.

Sayangnya, sering para suami hanya bisa menjawab jeritan hati para istri tersebut dengan satu kata: sibuk. Padahal Rasulullah ‘alaihis sholatu wassalam sebagai qudwah utama para aktivis, di tengah kesibukannya sebagai Nabi, pemimpin negara, bahkan panglima perang sekalipun, ia tetap meluangkan waktu untuk mentarbiyah dan mendakwahi istri-istrinya. Para ummahatul mukminin itu, tidak hanya kebanjiran hormat, namun juga berkelimpahan ilmu dan nasehat.

Banyak sekali fragmen tarbiyah Rasul ‘alaihis sholatu wassalam untuk mereka. Seperti Aisyah binti Abi Bakar radhiyallahu ‘anhuma, yang tidak hanya sekedar menjadi zaujah bagi Rasulullah, tetapi juga sebagai murid utama dan tersetia. Dia merasakan betul “ada bedanya” menjadi istri seorang pendakwah, karena sang suami sangat giat mengajarinya berbagai disiplin ilmu seperti akhlak, aqidah, fiqih, faraidh, dan tafsir.

Hingga Aisyah pun menjadi sosok perempuan Islam yang paling faqih, yang menjadi rujukan keilmuan para sahabat pada waktu itu, sebagaimana yang dikatakan oleh Atho’ bin Abi Rabbah radhiyallahu ‘anhu, “Aisyah adalah manusia yang paling paham dengan agama, paling berilmu dan paling baik pendapatnya”.

Aisyah juga menjadi sumber utama periwayatan hadits, tercatat sebanyak 2210 hadits telah diriwayatkan oleh para sahabat dari Aisyah. Hingga Abu Musa Al-Asy’ari radhiyallahu ‘anhu mengatakan, “Tidaklah kami mendapatkan suatu masalah tentang hadits, lalu kami datang dan bertanya kepada Aisyah, kecuali pasti kami mendapatkan jawabannya”.

Takdirnya sebagai perempuan, tak menghalanginya berkiprah dalam kancah ilmiah. Hingga dari didikan Aisyah telah lahir para imam dan ulama terkemuka dari kalangan Tabi’in seperti: ‘Urwah bin Zubair, Masruq bin Ajda’, dan Qosim bin Muhammad, yang menimba ilmu dari Aisyah di balik hijab di Masjid Nabawi.

Saat sang istri berbuat kesalahan, Rasulullah ‘alaihis sholatu wassalam juga tidak segan dan bosan untuk mengingatkan. Tentunya dengan kelemah-lembutan. Seperti suatu hari ketika Aisyah membeli kain penutup yang bergambar makhluk hidup. Sebagai pengingkaran, Rasulullah tidak jadi masuk dan berdiri di depan pintu.

Saat itu Rasulullah hanya terdiam dan menampakkan ekspresi tak suka. Aisyah pun merasa bersalah dan berkata, “Wahai Rasululullah, aku bertaubat kepada Alloh dan Rasul-Nya, apa salahku?”. Maka Rasulullah ‘alaihis sholatu wassalam bertanya dengan lembut tentang kain bergambar itu. Aisyah pun menjelaskan semampunya.

Hingga Rasulullah ‘alaihis sholatu wassalam bersabda, “Sesungguhnya para pembuat gambar ini akan diadzab di hari kiamat. Akan dikatakan kepada mereka: hidupkanlah apa yang telah kalian buat!”. Lalu Rasulullah ‘alaihis sholatu wassalam melanjutkan, “Sesungguhnya rumah yang terpajang di dalamnya gambar mahluk hidup, tidak akan dimasuki Malaikat” (HR. Imam Bukhari).

Lain lagi para aktivis yang pandai berkilah. Saat dikritisi tentang istrinya yang bertolak belakang dengan apa yang diperjuangkan, cepat-cepat berapologi dengan kisah Nabi Nuh dan Nabi Luth ‘alaihimassalam. Alih-alih melakukan evaluasi dan introspeksi diri, mereka seperti terhibur dengan kekufuran para istri utusan Alloh itu.

Padahal di belakang cerita pengkhianatan mereka berdua, ada sejarah panjang ratusan tahun kegigihan dan kesabaran Nabi Nuh dan Nabi Luth dalam mendakwahi keluarga. Apalagi para Ulama bersepakat, bahwa pengkhianatan dan kekufuran keduanya bukan dalam baghyu dan fahisyah.

Allah ta’ala telah mengingatkan para suami untuk serius menjaga istrinya dari siksa neraka. Bahkan sebagai penekanan, deskripsi tentang dahsyatnya neraka begitu jelas disini, “Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan” (QS. At-Tahrim: 6).

Rasulullah ‘alaihis sholatu wassalam juga telah mewanti-wanti, “Sesungguhnya Alloh akan bertanya kepada setiap pemimpin tentang yang dipimpinnya, apakah ia menjaganya atau menterlantarkannya. Hingga Alloh akan bertanya kepada para lelaki tentang istrinya”. (HR. Ibnu Hibban).

Meluangkan waktu untuk mentarbiyah istri menjadi sangat penting lagi, jika para suami menyadari bahwa itu bukan sekedar kewajiban, namun kebutuhan yang sulit tergantikan. Karena para istri adalah al-madrasah al-ula (sekolah yang pertama) bagi anak-anak. Hasil didik macam apa yang akan lahir jika sekolahnya tak terawat bahkan rusak?

Cerita-cerita ironis di awal tadi mungkin hanya secuil fenomena yang menggejala. Semoga yang terjadi pada sebagian besar keluarga dakwah tidak demikian adanya. Seorang aktivis sejati tentu memahami bahwa istrinya adalah objek dakwah yang utama. Ia sadar betul bahwa tahapan dakwah kedua setelah memperbaiki diri sendiri (islahun nafs) adalah membina keluarga yang Islami (takwin bait muslim), bukan yang lainnya.

(Manhajuna/IAN)

 

Tegarlah Seperti Nuh As


Engkau kira selamanya engkau akan dipuji orang? Bukankah pujian itu justru melenakanmu?

Engkau kira selamanya kerjamu akan dihargai? Ketahuilah, orang paling baik di muka bumi inipun –para Nabi– tetap dicaci dan bahkan dimusuhi.

Bagaimana dengan kita yang dhaif ini?

Belajarlah tegar, seperti Nuh yang diejek kaumnya. Padahal ia tengah bekerja menyiapkan bahtera keselamatan.

Dan mulailah Nabi Nuh membuat bahtera. Dan setiap kali pemimpin kaumnya berjalan melewati Nabi Nuh, mereka mengejeknya. Berkatalah Nabi Nuh : Jika kalian mengejek kami maka sesungguhnya kami pun nanti akan mengejek kalian sebagaimana kalian mengejek kami (QS. Hud: 38).

Mereka selalu mengejek Nuh yang tengah bekerja menyelematkan peradaban. Tapi Nuh tetap bekerja walau diejek, dihina dan dinista.

Maka teruslah berbuat kebaikan walau engkau dihujat bahkan dilaknat.

Janganlah kamu bersedih hati tentang apa yang selalu mereka kerjakan” (QS. Hud: 36).

Oleh : Cahyadi Takariawan

//

Hilfaaz Collections

Hilfaaz Collections


SavedURI :Show URLShow URLSavedURI :

//


Selamat Datang Bulan Jihad, Selamat Datang Bulan Kemenangan


1. Marhaban Ya Ramadhan.. Selamat datang bulan jihad, selamat datang bulan kemenangan.

2. Seperti oase bagi para musafir kita menantikan kedatangan ramadhan dengan penuh rindu dan harap..

3. Saya teringat ketika puasa pertama kali diwajibkan bagi kaum muslimin dimasa Rasulullah SAW..

4. Itu terjadi pada tahun kedua hijriyah.. persis ketika proses konsolidasi “komunitas baru” baru saja selesai pd tahun pertama..

5. Merakit komunitas Muhajirin Mekkah dgn komunitas Anshar Madinah sebagai sebuah komunitas baru..

6. Komunitas baru yg sama sekali beda dgn ciri sosial masyarakat jazirah Arab umumnya..

7. Komunitas baru ini disatukan oleh Islam, bukan oleh etnis atau suku.. Itu merupakan lompatan sosiologis yg dahsyat dlm sejarah mereka..

8. Komunitas baru itu disatukan oleh Islam dlm sebuah teritori yg independen..

9. Tapi bkn ruang hampa karena dipenuhi oleh komunitas lain yg juga eksis di Madinah..

10. Ada identitas sosial baru ditengah identitas lain yg plural..

11. Walaupun independen, komunitas baru itu punya sumber ancaman keamanan yg laten, yaitu musyrikin Mekkah..

12. Karena itu proses2 social building dan state building bagi komunitas baru itu bukan pekerjaan yg mudah..

13. Agama baru yg menyatukan berbagai etnis tp sekaligus hidup ditengah komunitas lain yg berbeda, dgn ancaman keamanan yg tinggi..

14. Mereka perlu faktor kohesi yg kuat..tp jg daya tangkal dan daya lawan yg sama kuatnya utk mempertahanakan eksistensi..

15. Lima langkah social and state building yg dilakukan Rasulullah SAW adlh: membangun mesjid sbg pusat aktivitas sosial dan pemerintahan,

16. mempersaudarakan Muhajirin & Anshar,membangun pasar,mmbentuk angkatan perang dan mmbuat perjanjian dgn komunitas lain(Piagam Madinah)..

17. Semua langkah itu dilakukan pada tahun pertama hijriyah..

18. Islam berhasil menjadi faktor kohesi bagi internal komunitas muslim baru jg bagi masyarakat Madinah yg plural scr umum..

19. Tapi setiap satu percobaan selalu membutuhkan ujian.. dan ujian bagi kohesi itu adalah perang..

20. Dan itulah yg terjadi.. perang terbesar pertama yg dialami komunitas baru itu adalah perang Badar..

21. dan perang Badar itu terjadi pada pertengahan Ramadhan pertama di tahun kedua hijrah..

22. Lebih dari dua pekan setelah komunitas baru itu melakukan puasa pertama mereka.. mereka masuk ke dalam sebuah perang besar..

23. Perang besar yg mengubah arah sejarah mrk dan kelak sejarah jazirah Arab, sejarah kawasan dan kemudian sejarah manusia scr keseluruhan..

24. Puasa dan perang.. itulah kisah Ramadan pertama dimasa Rasulullah SAW..

25. Dan apa maknanya?? Semua pencapaian besar dlm sejarah manusia selalu datang dari fondasi spiritual yg kokoh..

26. Fondasi spiritual itu mmbuat kt bisa eksis dgn sumber daya terbatas, fokus pd cita2 dan bebas dr gangguan2 kecil yg sering mengalihkan..

27. Fondasi spiritual itu sekaligus memberi energi yg dahsyat untuk pencapaian2 besar..

28. Saya selalu mengingat kisah itu setiap kali Ramadhan datang..


Twitter: Anis Matta, Lc

//


SavedURI :Show URL

Ihsan dalam Beramal


 

preview006Oleh: KH. Hilmi Aminuddin

Setiap muslim senantiasa dituntut berbuat ihsan dalam segala sesuatu. Rasulullah saw pernah bersabda,

“Sesungguhnya Allah telah mewajibkan berbuat ihsan atas segala sesuatu”. (HR. Muslim).

Tidak dapat tidak, semua aktifitas seseorang muslim dalam kehidupannya harus tercelup dalam nuansa ihsan. Baik dalam aktifitas ibadah mahdhah (ritual) seperti shalat, do’a, dzikir, tilawatil Qur’an, hajji; juga dalam ibadah-ibadah dalam arti yang umum, seperti berdagang, menuntut ilmu, bertetangga dan bekerja. Semuanya harus diwarnai sikap ihsan.

Dalam syariat Islam, ihsan memiliki dua makna, yaitu:

Kebersamaan dengan Allah swt.

Sebagaimana sabda Rasulullah saw ketika ditanya Malaikat Jibril tentang makna ihsan. Beliau memberikan pengertian ihsan: “Engkau mengabdi kepada Allah seakan-akan engkau melihat Dia. Kalau engkau tidak dapat melihat Dia, maka sesungguhnya Dia melihat kamu”. (HR. Muslim).

Dari sabda Rasulullah saw tersebut, diharapkan dalam diri seorang muslim tumbuh sikap ma’iyatullah atau kebersamaan dengan Allah Ta’ala. Sikap merasa senantiasa dalam pengawasan Allah swt dalam seluruh sisi kehidupannya. Tidak ada satu sisi pun yang lalai dari pengawasan Rabbul ‘alamin.

“Tidakkah kamu perhatikan, bahwa sesungguhnya Allah mengetahui apa yang ada di langit dan di bumi? Tiada pembicaraan rahasia antara tiga orang, melainkan Dia-lah keempatnya, dan tiada (pembicaraan antara) lima orang, melainkan Dia-lah keenamnya. dan tiada (pula) pembicaraan antara jumlah yang kurang dari itu atau lebih banyak, melainkan dia berada bersama mereka di manapun mereka berada. Kemudian dia akan memberitahukan kepada mereka pada hari kiamat apa yang telah mereka kerjakan. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui segala sesuatu.” (QS. Al-Mujadilah ayat 7)

Ada perbedaan prinsip anatara mereka yang merasa senantiasa berada dalam pengawasan Allah swt dengan mereka yang tidak merasa ada pengawasan dari-Nya. Orang yang merasa hidupnya diawasi Allah swt akan senantiasa berjalan hati-hati dalam meniti hidup serta dakwahnya. Mengerjakan amalan shalih tidak hanya di hadapan keramaian, tetapi juga di kala sepi dan sendiri. Demikian pula sebaliknya, meninggalkan yang jahat dan maksiat pun di kala keramaian mau pun ketika sendiri. Sedang orang yang tidak merasa diawasi Allah swt akan berbuat sesuka hati dalam kehidupannya, merasa tenang ketika berbuat dosa dan memiliki rasa takut hanya terhadap aparat keamanan.

Kisah Amirul Mukminin Umar bin Khattab ra dengan penjual susu menjadi teladan abadi tentang tingginya nilai ihsan. Ketika ibu penjual susu memaksa anaknya—Laila—untuk mencampur susu dengan air biasa. Jawab Laila, “Tidak boleh bu. Amirul Mukminin melarang kita mencampur susu yang akan dijual dengan air”.

“Tetapi semua orang melaksanakan hal itu nak, campur sajalah! Toh, Amirul Mukminin tidak melihat kita melakukan itu…”, kata sang ibu.

“Bu, sekalipun Amirul Mukminin tidak melihat kita, namun Rabb dari Amirul Mukminin pasti mengetahui.”

Masya Allah…Ucapan itu membuat Amirul Mukminin yang sedang mengintainya berderai air mata.

Alangkah mulianya jika setiap muslim menghiasi kehidupannya dengan jiwa ma’iyyatullah.

Berbuat baik karena Allah swt

Ihsan dapat pula bermakna berbuat baik karena Allah swt, sebagaimana perintah-Nya:

 “…dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik, kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan.” (QS. Al-Qashash ayat 77).

Berbuat baik adalah akhlaq setiap makhluq Allah swt dia atas permukaan bumi ini. Berbuat baik ini meliputi pengertian memenuhi hak-hak orang lain dan memperhatikan adab-adabnya dalam setiap perilaku. Tidak masa bodoh, beku hati dan asal mau menangnya sendiri. Rasulullah saw memberikan panduan tentang apa yang disebut kebaikan. Ketika Wabishah bin Ma’bab ra bertanya tentang kebaikan, jawab beliau saw,

“Mintalah fatwa dari hatimu. Kebaikan itu adalah apa-apa yang tenteram jiwa padanya dan tenteram pula dalam hati. Dan dosa itu adalah apa-apa yang syak dalam jiwa dan ragu-ragu dalam hati, walaupun orang-orang memberikan fatwa kepadamu dan mereka membenarkannya”. (dari Musnad Ahmad bin Hambal).

Rasulullah saw telah memberikan teladan yang mulia tentang sikap baiknya kepada sahabat-sahabat, kepada tetangga, isteri, anak cucu, bahkan terhadap musuh-musuh sekalipun. Beliau berpesan untuk berbuat baik bila membunuh, baik membunuh musuh-musuh Allah Ta’ala dalam peperangan mau pun terhadap binatang sembelihan.

“Maka apabila kamu membunuh hendaklah membunuh dengan cara yang baik, dan jika kamu menyembelih maka sembelihlah dengan cara yang baik dan hendaklah menajamkan pisaunya dan menyenangkan hewan sembelihannya”. (HR. Muslim).

Alangkah mulianya bila seorang muslim menghiasi hidupnya dengan senantiasa berbuat baik kepada sesamanya, kepada binatang, dan kepada alam semesta.

Sikap ihsan memiliki dimensi ma’iyyatullah dan berbuat baik karena Allah swt akan mendorong seorang muslim untuk senantiasa memasang niat baik untuk memulai segala aktifitasnya. Niat untuk melandasi segala katifitas karena Allah Ta’ala, niat untuk bekerja dengan serius dan senantiasa meningkatkan prestasi, serta niat untuk melaksanakan semua tugas-tugas hidup dengan sebaik-baiknya. Bila seorang muslim mempunyai niat yang sedemikian ini, tiada hasil yang akan didapatkannya kecuali kebaikan (ihsan) pula.

“Bukan Tentang Uang Partai”


Oleh : Cahyadi Takariawan

Rasanya berdosa banget jika kita begitu percaya opini media, dan mengabaikan realitas kehidupan para ikhwah yang sedemikian tulus bekerja dalam jamaah dan sangat sepi dari publisitas. Kita disibukkan oleh opini yang dikembangkan media, dan kita tidak tertarik mengetahui realitas-realitas denyut dakwah di berbagai wilayah dan wajihah.
Adakah di antara kita yang mengetahui dengan detail kinerja serta prestasi ikhwah di MITI? Mungkin kita hanya mengenal Dr. Warsito dengan penyembuhan kankernya saja, namun tidak banyak mengetahui kiprah ikhwah di bidang teknologi ini.
Luar biasa keseriusan dan usaha para kader yang “pinter-pinter” untuk berkhidmat melalui jalur ilmu pengetahuan dan teknologi. Namun mereka “tidak terkenal” karena pekerjaan bidang ini sepi dari publisitas dan tidak “menggoda”. Sang Maestro teknologi, Kang Harna Surapranata bahkan sudah banyak dilupakan kader sendiri, karena sudah tidak menjadi menteri.
Kader tidak mengerti kiprah Kang Harna dan para doktor dan profesor dalam upaya serius mereka menggeluti dunia teknologi. Kader hanya mengerti Yuro menang di Karanganyar dan Tamsil Linrung kalah di Kota Makassar.
Kisah kemenangan politik sangat heroik, namun kisah prestasi pendidikan, kesehatan, teknologi, dan seni budaya sangatlah sepi dari tepuk tangan ikhwah.
Maksud saya, dakwah ini bukan melulu soal politik, uang, perempuan, kekuasaan, dan sekitar itu. Dakwah ini adalah sebuah mahakarya syamilah mutakamilah.
Menyempitkan pembahasan dakwah hanya dengan melihat pilkada, pileg, pilpres dan politik praktis lainnya, akan membutakan mata kita dari melihat keagungan dan kesemestaan mahakarya dakwah.
Barusan kita dihadiahi prestasi Pustakawan DIY bahkan juara Nasional bidang Perpustakaan. Kita juga dihadiahi prestasi Notaris DIY dalam puncak kepemimpinan Ikatan Notaris Indonesia. Namanya Mohammad Ichwanul Muslimin, SH. Serta segudang prestasi kader dakwah lainnya di bidang masing-masing, yang tidak menimbulkan heroisme serta gegap gempita yang membahana di majelis liqa, mabit dan nadwah.
Ikhwah senang mendengar berita kemenangan politik, dan mendengarkan sepenuh antusias. Namun berita gembira di berbagai bidang lainnya, cenderung disikapi dengan “sekedar mengetahui”. Seakan mereka bukan pahlawan, walau memang tidak ingin disebut sebagai pahlawan.
Kisah-kisah heroisme dakwah di pelosok-pelosok daerah, kisah-kisah para murabbi dan murabbiyah yang melakukan pembinaan dengan segala jerih payah, seakan tenggelam di balik gemerlap dunia politik. Kalah menarik dibanding menanti hasil Pilkada dan Pileg 2014 yang di-update setiap detik..
Percayalah kita akan linglung jika hanya memikirkan soal politik praktis, namun kita akan sangat bijaksana jika melihat dakwah dari segi syumuliyah mutakamilah-nya.
Kita cepat capek bahkan ingin istirahat jika hanya selalu bergumul dengan kepraktisan politik. Namun kita merasa mulia dan sangat kuat jika berada pada sisi dakwah yang syamilah dan mutakamilah.

Wallahu a’lam bish shawab.

 

sini

Meraih Kemenangan di Mata Allah


 

Oleh: KH. Hilmi Aminuddin

Dakwah ini adalah proyeknya Allah, dan kita hanyalah pelaksananya saja. Kalau langkah-langkah kita sesuai dengan irsyadat (bimbingan) dan taujihat (arahan-arahan) rabbaniyyah wa-nnabawiyah (Rabb dan Nabi), kita akan dimenangkan oleh Allah SWT, insya Allah…

Karena dengan selalu disiplin terhadap manhaj rabbani, dengan taujihat rabbaniyyah, irsyadat rabbaniyah yang diberikan Al-Qur’an dan sunnah, maka kita sebelum dinilai menjadi pemenang di hadapan manusia, insya Allah telah dinilai menjadi pemenang di hadapan Allah.

Ikhwan wa akhwat fillah…meraih kemenangan di mata Allah harus menjadi target utama dan pertama sebelum meraih kemenangan menurut penilaian manusia. Na’udzubillah, kalau meraih kemenangan menurut penilaian manusia, sementara kalah menurut penilaian Allah, maka faqad khasira khusraanan mubiina. Rugi serugi-ruginya.

Saya pernah menjelaskan rumusan kemenangan rabbani yang sangat sederhana, seperti disampaikan oleh Imam Ahmad bin Hambal yang mengatakan bahwa definisi kemenangan itu adalah ‘Maa laazumul haqqu qulubana’ artinya: ‘selama kebenaran masih tetap kokoh di dalam hati kita.” Luzumul haq fi qulubina, itulah kemenangan. Itulah intishar. Itulah keberhasilan. Dalam percaturan, pertempuran, apakah ma’rakah siyasiyah, ma’rakah fikriyah, atau ma’rakah intikhabiyah, bentuknya apakah Pilkada di Kabupaten, Kota, Provinsi, Pemilu Nasional, Legislatif atau Presiden, pertama-tama yang harus diraih adalah kemenangan menurut penilaian Allah.

Insya Allah, jika kita dinilai Allah sebagai pemenang, Allah akan memberikan kemenangan yang dinilai oleh manusia. Itu rumusan dasar yang harus kita pegang. Jangan sampai target kemenangan-kemenangan pilkada atau pemilu nasional, membuat kita kalah menurut perhitungan Allah SWT. Kalah karena godaan-godaan jabatan jadi gubernur, bupati, walikota, bahkan presiden. Menang menurut manusia, kalau kemudian dalam posisi itu adalah hasil kecurangan, kezaliman dan ketamakan, maka maghlub ‘indallah, itu kalah menurut Allah.

Sebab ada inkhila-ul haq minal qalb, tercabutnya kebenaran dari hati. Tercerabutnya amanah dari hati. Inkhila-ul shidq, tercerabutnya kejujuran dari hati. Itu adalah kekalahan di sisi Allah. Tentu semua itu tidak kita inginkan. Karena itu kader-kader yang sudah memasuki lembaga-lembaga Negara, yang jadi gubernur atau wagub, atau walikota, atau wakil, agar mempertahankan kemenangan di sisi Allah dalam posisi itu. Agar tetap mustahiq (berhak) mendapatkan kemenangan berikutnya di arena perjuangan dan pergaulan antar manusia. [ ]