Archives

INSPIRASI BISNIS : WHY ???


INSPIRASI BISNIS : WHY ???

Suatu waktu, saat saya kopdar dengan beberapa rekan entrepreneur kaskus , salah satu dari mereka bertanya : “Bro, produk loe udah masuk Indomaret ya ? Koq bisa Bro ? Gimana caranya ?”. Di kesempatan yang lain, salah satu dari mereka juga ada yang bertanya : “Bro, gw ada bisnis konveksi nich, namun gw kesulitan untuk cari karyawan yang bagus nich. Gimana ya caranya supaya bisa dapet karyawan bagus di Indonesia ini ?”. Lalu ada yang lain lagi bertanya : “Bro, gw pengen bisnis nich, tapi gw bingung, enaknya bisnis apa ya ?”. Sedangkan yang lain lagi bertanya “Bro, loe punya kenalan investor gak ya yang bakal tertarik buat invest di bisnis gw ?”, tanpa menjelaskan keunggulan bisnisnya sendiri.

Yes, pada umumnya orang selalu bertanya “How ?”, “What ?”, “Who ?”, dan mereka lupa atau bahkan mengabaikan pertanyaan terpenting, yaitu : “WHY ?”. Bahkan dalam sebuah tulisan saya di kaskus beberapa tahun lalu (saat bisnis saya masih berupa bisnis sangat kecil sekali), saya pernah menuliskan tentang WHY ini (dan WHY inilah yang membuat bisnis saya jauh lebih maju seperti sekarang ini). Memang lucu, tapi begitulah sifat manusia, seringkali melewatkan hal yang terpenting, dan lebih fokus pada hal2 teknis yang sebenarnya hanyalah syarat pendukung.

Hal ini pula yang terjadi pada para entrepreneur, kebanyakan mereka berfokus pada How, What, Who, When ? Mereka lupa WHY mereka mesti memilih bisnis tersebut dan bukan yang lain. Mereka juga lupa “WHY their customer should choose them, not other products”.

Saat saya bertanya pada salah seorang rekan entrepreneur “ Bro, kenapa loe pilih buka bisnis café ?”. Jawabannya tidak lain dan tidak bukan adalah “Gw pengen coba berbisnis, dan gw rasa bisnis café sekarang prospeknya cerah, “cuan”nya gede, dan gw lihat juga banyak yang sukses bisnis café, jadi ya gw bisnis café”. Dan bisnis café tersebut akhirnya tidak bertahan lama (alias tutup). Saat saya tanya, “WHY u choose this kind of business ?”, tidak banyak yang bisa menjawab dengan baik. Dan sejujurnya, bila mereka pun tidak tahu jawaban yang jelas WHY mereka mesti berbisnis di bidang tersebut, bagaimana customer kita bisa menemukan “WHY gue mesti beli produk loe”.

Yes, kebanyakan pebisnis lupa “Mengapa customer mesti pilih produk ini ?” atau “Mengapa customer mesti datang ke café ini ?” atau “Mengapa customer mesti memakai jasa saya ?”. Kebanyakan pebisnis terlalu egois, dan lebih memikirkan “Bagaimana saya mendapatkan uang lebih banyak ?” tanpa peduli mengapa customernya mesti memilih produk/jasanya. Kebanyakan pebisnis juga lebih fokus pada “Apa yang bisa saya jual ?” tanpa peduli apakah betul customer membutuhkan produk tersebut. Padahal “WHY” customer mesti membeli produk/jasa mereka lah yang mempengaruhi seberapa besar penjualan mereka, dan produk apa yang mesti diciptakan, alias “WHY” lah yang benar2 akan menentukan bisnis Anda akan bertahan berapa lama, dan akan menjadi sesukses apa bisnis Anda.

Saat menciptakan produk Esprecielo Coffee, yang saya pikirkan pertama sama sekali bukanlah “bagaimana cara saya membuatnya ?” atau “bisa seberapa besar omzetnya ?” atau “apa saja produk yang ingin saya ciptakan ?”. Saat itu, yang benar2 saya pikirkan adalah “Mengapa customer mesti membeli produk saya, walau ada produk2 kompetitor yang harganya jauh lebih murah ?”. Saya pun menemukan bahwa, ada cukup banyak customer yang suka menikmati caffe latte untuk bersantai, dan mereka membutuhkan rasa yang lebih berkelas (premium), tanpa harus repot2 pergi ke coffee shop. Dari sana lahirlah item2 fancy coffee latte dari Esprecielo yaitu Caramel Macchiato, Irish Coffee, dan lain sebagainya. Dan terbukti, produk2 tersebut laku di pasaran. Saya menciptakan produk-produk tersebut tanpa meniru dari produk lain, bukan juga karena alasan “saya pengen omzet besar”, melainkan saya mencoba memahami “mengapa customer mesti memilih produk Esprecielo ?”.

Begitu pula saat saya menciptakan Allure Green Tea Latte. Saya menyadari bahwa kopi lebih sering dicintai oleh kaum adam daripada kaum hawa, dan saya juga menyadari bahwa belakangan para wanita pun sangat membutuhkan “me-time”. Me-time ini oleh kaum pria biasa disebut “ngopi time”, sedangkan para wanita (yang kebanyakan tidak terlalu suka kopi) membutuhkan minuman hangat lain yang bisa dicintai dan dinikmati di waktu “me-time” mereka. Mereka lebih suka Green Tea, yang lebih soft yet relaxing, sangat cocok untuk “me-time”, yang bahkan lebih dalam daripada “ngopi-time”. Lalu terciptalah Allure Green Tea Latte, dengan tagline “A Cup of Relaxing Moment” yang siap menemani para kaum hawa di situasi apapun.

Yes, saya (atau tepatnya sekarang kami – karena saya telah memiliki team) menciptakan produk bukanlah karena tergiur akan seberapa besar uang yang akan dihasilkan, melainkan lebih ke arah “mengapa customer mesti memilih produk kami ?” – dan saya rasa setiap bisnis juga sama saja, “WHY” adalah alasan terpenting di balik terciptanya suatu produk/jasa. Bila “WHY” tersebut tidaklah kuat, atau bahkan Anda sendiri sebagai pemilik bisnis tidak bisa menjawab “WHY”nya, maka sebaiknya Anda perlu me-reformulasi bisnis Anda, apapun bisnis Anda saat ini. Karena bila Anda saja tidak paham mengapa customer mesti beli produk/jasa Anda, apalagi customer ?

Even almarhum Steve Jobs, selalu berorientasi pada “WHY”, itulah mengapa produk Apple hampir selalu sukses di pasaran. Mereka selalu berusaha memahami “WHY” customer mesti pilih Apple – dengan harganya yang lebih premium – dibandingkan produk sejenis lainnya. Dan “WHY” ini pulalah yang membuat Microsoft kini hampir ada di setiap meja kerja, atau Starbucks menjadi gerai kopi dengan Brand terkuat di dunia.

Dan melalui artikel ini, saya berharap, agar para rekan entrepreneur menjadi lebih kreatif dalam menciptakan suatu produk/jasa. Temukan dulu alasan yang kuat “mengapa” customer mesti memakai produk/jasa yang Anda tawarkan. Jangan membuat resto chinese food hanya karena Anda bisa masak chinese food, karena customer sama sekali tidak peduli hal tersebut. Jangan juga menjual baju secara online hanya karena Anda butuh uang tambahan, karena –sekali lagi- customer tidak peduli Anda butuh seberapa banyak uang. Customer hanya peduli pada “keuntungan apa yang bisa saya dapatkan dari membeli produk/jasa tersebut”, karena itu, fokuslah pada hal tersebut sebelum Anda bertanya “bagaimana caranya ?” atau “apa ya kira2 produknya ?”.

So, saat Anda memulai sebuah bisnis, mulailah dari berpikir layaknya seorang customer, dan pahamilah secara mendalam apa yang mereka butuhkan, dan jadikan bisnis Anda sebagai solusi bagi kebutuhan mereka.

Dan berikut ada video dari sisi yang lain, tentang sekuat apakah efek WHY dalam sebuah bisnis :

Sekian dulu dari saya, semoga artikel ini dapat membantu Anda untuk menciptakan bisnis2 yang kreatif !

Mari kita sama2 membuat Indonesia menjadi lebih kompetitif dalam menghadapi MEA (Masyarakat Ekonomi ASEAN) yang akan datang akhir tahun ini !! Salam Sukses !!

 

Profile Kontributor Subforum Entrepreneur Corner: Chandra Liang

Chandra Liang
SUMBER : http://www.kaskus.co.id

WASPADALAH ! 3 Hal penghambat bisnis Anda mungkin ada dalam diri Anda


WASPADALAH ! 3 Hal penghambat bisnis Anda mungkin ada dalam diri Anda

WASPADALAH ! 3 Hal penghambat bisnis Anda mungkin ada dalam diri Anda

Mengobrol adalah hobi umum para pebisnis, karena dari obrolan-lah kita bisa mendapatkan banyak informasi, dan dari obrolan pula biasanya kita tercetus suatu ide bagus. Namun hati-hati, hasilnya bisa jauh berbeda, tergantung dengan siapa Anda mengobrol. Bila kita mengobrol dengan orang negatif, tentu akan membuat kita ikut menjadi negatif, begitu pula bila kita mengobrol dengan orang yang positif dan enerjik, maka kita pun akan merasa jauh lebih positif dan semangat.

Nah, yang paling menyebalkan adalah bila kita mengobrol dengan orang yang whiny dan blaming. Whiny dalam bahasa Indonesia disebut juga dengan cengeng (sedangkan whining berarti merengek – seperti anak kecil), dan blaming adalah selalu mencari kambing hitam. Dan menariknya, ini adalah penyakit akut para UKM, banyak sekali UKM yang terjebak selamanya menjadi UKM (usahanya tidak pernah besar – atau bahkan tutup) karena mental WHINY dan BLAMING ini. Lucunya juga, whiny dan blaming ini sebegitu dicintainya oleh kebanyakan orang, sampai2 (mungkin) saat tulisan ini dibaca oleh orang bermental whiny dan blaming pun, maka orang tersebut akan menggerutu dan menyalahkan saya (another blaming)..he he..

WASPADALAH ! 3 Hal penghambat bisnis Anda mungkin ada dalam diri Anda

Tapi gak papa dech, semoga sebagian orang sadar melalui tulisan saya ini, adalah FAKTA bahwa WHINING dan BLAMING TIDAK AKAN PERNAH MENCARIKAN SOLUSI UNTUK BISNIS ANDA. Sebanyak apapun Anda mengeluh, dan sebanyak apapun Anda menyalahkan orang lain, Anda hanya akan menjadi “haters”, dan kebencian akan terus semakin membesar di dalam hati Anda, lalu tanpa sadar bisnis Anda akan tutup karena Anda tidak pernah mengoreksi diri atau pun mencari solusi, hanya terus “keasikan” menyalahkan keadaan. Dan saya tegaskan, bahwa saya pernah merasakan hal itu, karena itu saya SANGAT TAHU bagaimana rasanya menjadi whiner, blamer, dan hater, dan itu sama sekali TIDAK menolong hidup saya.

Saya ceritakan secara singkat di sini. Pada tahun 2001, bisnis almarhum Papa saya collapse karena Papa saya ada salah dalam langkah bisnis, dan saudara saya sendiri malah mengambil kesempatan tersebut dengan memakan bisnis Papa saya yang sudah berjalan. Alhasil sejak hari itu, setiap hari keadaan keluarga kami selalu “panas” karena Papa saya berusaha mempertahankan bisnisnya dengan keadaan terlilit hutang yang sangat besar. Dan saya sendiri, yang saat itu masih remaja SMA, tiba2 kehilangan masa2 remaja yang seharusnya menyenangkan. Saya menjadi seseorang yang minder, karena saya sekolah di sekolah orang berada, sedangkan saya begitu miskin dan selalu dipusingkan oleh keadaan keuangan keluarga.

Begitu pula di masa kuliah, saya sempat dihina oleh mantan pacar saya (yang langsung saya putusin..he he..), dan saya pun putus kuliah karena saya tahu biaya kuliah akan semakin memberatkan keadaan keluarga. Kakek saya pun jadi korban, beliau stres berat karena keributan keluarga, dan terkena kanker, lalu meninggal dalam waktu 3 bulan setelah didiagnosa kanker tersebut. Selama 6 tahun (sampai tahun 2007), saya menjadi whiner, blamer, dan hater. Saya begitu membenci keadaan saya, saya juga benci saudara saya, bahkan saya sampai benci juga keadaan Indonesia dan pemerintah saat itu. Oya, saya juga sangat iri dan benci orang kaya, karena saat itu saya berpikir bahwa semua orang kaya pasti pelit dan menyebalkan.

Tanpa berlama2 dengan cerita tersebut (yang kalau saya ceritakan secara detail bisa menjadi sebuah novel), intinya yang ingin saya sampaikan adalah : selama bertahun2 menjadi whiner, blamer, dan hater, saya SAMA SEKALI TIDAK MENGALAMI KEMAJUAN, YANG ADA KEADAAN KELUARGA KAMI TERUS SEMAKIN TERPURUK. Dan TIDAK ADA YANG MENOLONG KAMI. Ternyata, penolong pun tidak datang menolong selama kita bersikap layaknya sampah.

Singkat cerita, saya bertekad mengubah hidup saya menjadi orang positif sejak tahun 2007. Dan saya langsung ACTION dengan membuka bisnis pertama saya. Lalu, apakah hidup saya langsung berubah ? YA TENTU tidak se-miracle itu kejadiannya..he he..

Proses menjadi manusia positif pun mengalami banyak sekali cobaan, sampai di tahun 2010-2011 saya hampir kehilangan segala hal, yang tersisa hanyalah 1 orang yang selalu setia mendukung saya (yaitu orang yang menjadi istri saya saat ini). Keadaan keluarga kami benar2 carut marut karena kami mesti merelakan rumah yang telah kami tinggali selama belasan tahun, Papa saya divonis terkena kanker, dan bisnis saya ditipu oleh teman dekat sendiri. Namun di tahun tersebut pula, saya percaya, bahwa saat saya sudah dijatuhkan ke level paling bawah, dan saya masih kuat (tidak pecah), maka layaknya bola karet yang lentur, saya akan terbang tinggi setinggi2nya mencapai level paling atas. Dan kepercayaan tersebut, berbuah menjadi Esprecielo Group, yang lahir di tahun yang sama, di mana saat itu saya mengalami sisi tergelap sepanjang hidup saya.

Ya, saya telah mengalaminya sendiri. Menjadi whiner, blamer, dan hater memang sangat nyaman, karena kita dengan mudahnya bisa menyalahkan keadaan atau orang lain, tanpa perlu mengoreksi diri sendiri. Kita akan beranggapan bahwa diri kita selalu benar, dan kita sial karena ulah orang lain (biasanya yang paling sering disalahkan sich pemerintah atau keadaan ekonomi). Kita begitu nyamannya menyalahkan pihak lain, sampai kita terlena dan LUPA mencari solusi. Kita terlalu keasikan mencari teman yang mengalami hal serupa, tanpa sadar bahwa “teman senasib” saja tidaklah menjadi solusi.

Dan kalau kita semua sudah sadar sesadar-sadarnya bahwa menjadi whiner, blamer, dan hater malah akan semakin menjerumuskan kita, lalu untuk apa kita masih melanjutkannya ? Marilah kita bersama-sama renungkan kembali, dan kesampingkanlah para kambing hitam tersebut. Marilah kita tarik nafas dalam2, dan carilah solusi yang terbaik, yang bisa memperbaiki kinerja bisnis kita. Karena pebisnis hebat adalah pebisnis yang bisa terus survive dan mengalami pertumbuhan dalam keadaan apapun, bukan pebisnis yang survive hanya karena “kebetulan” tertolong keadaan.

Perlu juga dicatat serta diingat baik-baik, bahwa usaha saya betul-betul mulai berbuah hasil setelah saya menghilangkan kebencian ke saudara saya yang menipu alm Papa saya di tahun 2001. Bahkan kami kemarin sempat ngopi bareng satu meja sambil ngobrol2, tanpa mengungkit2 lagi kejadian masa lalu. Sekarang keadaan beliau juga sedang fight untuk berjuang karena mengalami banyak masalah di bisnisnya, dan instead of bersyukur karena beliau sedang kesusahan, saya lebih merasa kasihan dan lebih ingin berusaha menghiburnya.

So, saya telah membuktikannya, bahwa perusak hidup keluarga saya selama belasan tahun pun sudah saya maafkan sepenuhnya. Masihkah Anda membenci seseorang atau keadaan atau pemerintah ? Bila ya, silahkan Anda renungkan kembali, apakah kebencian tersebut ada gunanya.

Salam Sukses ! Dan semoga tulisan ini membantu hidup Anda menjadi lebih baik !

 

Profile Kontributor Subforum Entrepreneur Corner: Chandra Liang

Chandra Liang
SUMBER : http://www.kaskus.co.id

HATI-HATI !!! Bedakan antara Bisnis, Spekulasi, dan Investasi !!


HATI-HATI !!! Bedakan antara Bisnis, Spekulasi, dan Investasi !!

“Punya uang 100 juta, pengen return 10 juta/bulan, enaknya bisnis apa ya ?”
“Hanya dengan Investasi 30 juta, dapatkan keuntungan 6 juta/bulan melalui bisnis cappuccino cingcau ini !”
Pertanyaan dan pernyataan tersebut seringkali kita lihat di kaskus, atau kadang di banner2 bisnis franchise abal-abal. Semenjak naiknya tingkat penghasilan rata2 (GDP) masyarakat di Indonesia, orang memang memegang uang lebih banyak, dan mulai ingin melakukan investasi dan memiliki aset. Hal ini tentunya sangat baik, namun kita mesti lebih berhati2, karena di masa transisi seperti inilah para serigala licik mencium “bau uang” dan sebisa mungkin ingin memanfaatkan kesempatan yang ada.

Saya yakin di sini banyak orang yang sudah mengerti tentang bedanya bisnis, spekulasi, dan investasi. Bahkan banyak di antara teman2 sekalian sudah jadi investor kawakan, dan yang ingin saya bahas di sini bukanlah pendalaman tentang dunia investasi itu sendiri, karena saya sendiri pun jauh lebih mengerti seluk beluk bisnis daripada investasi. Yang ingin saya bahas di sini adalah bagaimana kita mesti berhati2 dalam membedakan mana yang bisnis, mana yang spekulasi, dan mana yang investasi.

Saat Anda bertanya “Punya uang 100 juta, pengen return 10 juta/bulan, enaknya bisnis apa ya ?”, to be honest sebaiknya Anda janganlah membuka bisnis. Bisnis sifatnya tidak seperti itu, bisnis bukanlah bicara tentang kepastian. Dan bisnis2 yang menjanjikan kepastian, biasanya hanya bisnis ngibul, atau bisnis yang belum matang konsepnya (asal coret2 di atas kertas dan SECARA TEORI akan menguntungkan) alias masih bersifat spekulatif. Dan perlu saya TEGASKAN di sini, bahwa bisnis2 seperti ini hampir tidak pernah berhasil, bahkan (Alm) Ayah saya habis bisnis utamanya karena tergiur oleh bisnis2 yang bersifat spekulatif seperti ini.

Dan bisnis2 tipe ini, biasanya menjanjikan angin surga yang luar biasa, dengan return yang tidak masuk akal, dan biasa korbannya adalah orang2 yang tidak punya banyak pengalaman dalam hal bisnis di bidang tersebut. Yes, ini biasa disebut spekulasi, yang dibungkus dengan embel2 “bisnis”. Mengapa disebut spekulasi ? Tentunya, karena iming2nya biasanya berjumlah besar, namun resikonya pun besar sekali, dan biasanya resikonya tersebut ditutup2i dengan iming2 manis sehingga kebanyakan orang tergiur.

Ciri2nya ? Gampang, pastinya isinya angin surga, dan orang yang menawarkan biasanya juga penuh dengan antusias bahwa bisnis ini sudah ada marketnya, hanya tinggal disuntik dana PASTI langsung jalan. Bidangnya bisa berupa apa saja, namun yang paling sering biasanya berkaitan dengan hasil bumi, baik itu pertambangan, perkebunan, ataupun hasil2 bumi lainnya.

Apakah bisnis2 spekulasi ini pasti selalu gagal ? Tidak juga, tentu ada saja yang berhasil. Namun tentunya persentasenya kecil sekali. So, bila masih ingin tetap invest di bisnis2 tipe ini, pelajari dulu dengan baik data yang ada, pastikan Anda at least mengerti detail bidang yang dijalankan, lihatlah dulu kondisi lapangannya seperti apa, dan siapkan hati bahwa uang tersebut besar kemungkinannya akan hilang (siap akan resiko yang dihadapi).
Sebagai tambahan, Anda juga mesti berhati2, karena bisnis tipe ini sering juga dikemas layaknya investasi dengan tingkat return yang pasti (serta cukup besar). Dan hasilnya, tentunya, seringkali terjadi dana macet di tengah2.

Bagaimana dengan investasi yang asli ? Investasi yang sesungguhnya, sebenarnya resikonya jauh lebih terukur. Namanya investasi, tentunya selalu ada resikonya. Namun resiko tersebut sifatnya lebih terukur, dan tingkat return-nya pun lebih kecil dan bertahap. Ada kalanya returnnya cukup tinggi, namun itu hanya terjadi pada situasi luar biasa. Mengenai Investasi ini, saya tidak akan bicara terlalu banyak, karena memang bukan bidang keahlian saya. Untuk lebih lengkap mengenal hal ini silahkan baca Thread yang sudah tersedia di Forum ini sejak lama :
http://www.kaskus.co.id/post/0000000…00000032745502

Bagaimana dengan bisnis itu sendiri ? Nah, inilah point menariknya. Bisnis sifatnya berbeda. Bisnis tidak hanya melulu bicara soal uang. Bisnis adalah sesuatu yang tidak berbentuk, seperti layaknya air. Dalam bisnis, kita tidak bisa mengukur resikonya secara pasti, namun kita bisa mengelola resiko tersebut dengan sebaik mungkin. Yup, dalam bisnis, resiko yang dikelola dengan baik bahkan bisa jadi peluang yang bagus.

Tahun 2008, dengan modal seadanya (hanya 350rb rupiah + modal kepercayaan), saya membuat konsep “Online Coffee Outlet” di Kaskus dengan nama Sarang Kopi. Saat itu, beberapa teman saya bilang “Mana laku jualan kopi via kaskus ?”. Dan buktinya, dengan konsep yang baik dan pengelolaan yang benar, dalam 2 tahun, bisnis online coffee outlet tersebut sukses menjadi bisnis dengan omzet 60 jutaan per bulan di tahun 2010, sebelum akhirnya saya berikan bisnis tersebut ke teman saya karena saya sudah berkomitmen untuk membangun Brand Esprecielo menjadi World Brand yang besar dan hebat.

Dan di pertengahan tahun 2010 tersebut, saya pun melakukan langkah “gila” yang penuh resiko. Bisnis Sarang Kopi yang sudah jalan dan menghasilkan passive income cukup besar untuk saya, saya berikan secara cuma2 ke teman saya, sedangkan saya sendiri hanya melanjutkan menjadi penyalur (alias menjadi distributor) dari barang2 yang saya jual tersebut. Alhasil penghasilan saya hanya sekitar tinggal separuhnya, padahal saat itu keadaan ekonomi keluarga kami sedang sangat sulit, rumah keluarga saya sedang terancam disita bank karena besarnya hutang Almarhum Papa saya pada saat itu (efek ditipu oleh teman sendiri)

Namun sekali lagi, resiko yang besar tersebut saya kelola menjadi peluang yang lebih besar. Esprecielo, yang dimulai dari garasi rumah partner saya, dengan investasi hanya puluhan juta rupiah dan omzet awal hanya 9juta/bulan, kini telah menjadi bisnis dengan omzet 1.5 M / bulan, dan sedang dikembangkan terus agar bisa menjadi ratusan bahkan ribuan kali lipat dari pencapaiaan yang ada saat ini. Itu adalah keputusan yang berat, dengan resiko yang sangat berat. Namun ingat, bisnis adalah tentang bagaimana kita mengelola resiko menjadi PELUANG.

Di contoh 2 momen yang pernah saya alami tersebut, bila saja saya tidak berani dalam mengambil resiko, tentunya hidup saya saat ini masih begini2 saja. Yes, resiko memang selalu ada, namun dalam bisnis, kita bisa mengelolanya. Dan jangan lupa, saat kita mengambil resiko tersebut, kita mesti memiliki goal dan dreams yang tepat terlebih dahulu. Matangkan dulu konsepnya, pelajari dulu marketnya, barulah kita ACTION. Dan sekali ACTION, lakukan terus tanpa rasa ragu atau gentar, hajar sebisanya dengan segala usaha dan upaya, serta lakukan yang terbaik.

So, bisnis sekecil apapun, bisa menjadi bisnis raksasa dan korporasi bila dikelola dengan baik. Sebaliknya, bisnis sebesar apapun, bisa saja runtuh bila pengelolaannya salah dan manajemennya tidak mampu beradaptasi. Karena itu, bagi Anda yang sekedar ingin “penghasilan tambahan”, berdagang mungkin lebih tepat untuk Anda. Karena dalam bisnis, kita tidak hanya memikirkan “jual dan beli”.

Bisnis mesti dikelola dengan mental yang siap, dan mindset yang tepat. Banyak sekali faktor yang menentukan apakah bisnis tersebut akan berhasil / tidak, dan sayangnya, tidak ada rumus pastinya. Namun yang pasti, saat Anda ingin memulai bisnis,tetapkan dulu tujuan (goal) Anda, persiapkanlah segalanya sebaik mungkin, dan pahamilah resiko2 yang ada, sehingga Anda bisa mengelola resiko tersebut dengan baik, dan menjadikannya sebagai PELUANG.

Salam Sukses untuk kita semua !

Kind Regards,

Profile Kontributor Subforum Entrepreneur Corner: Chandra Liang

Chandra Liang
SUMBER : http://www.kaskus.co.id

JADILAH CAHAYA DALAM KEGELAPAN


JADILAH CAHAYA DALAM KEGELAPAN

Hi Guys, how are u ?

Sudah lebih dari setahun saya tidak menulis maupun melakukan public speaking, rasanya kaku juga..jadi maaf ya kalo tulisannya masih kurang enak dibaca..he he he…

Lalu kemanakah saya selama 1.5 tahun ini ? Sebenarnya saya gak kemana2, namun karena tahun lalu adalah masa transisi Esprecielo dari “local hero” menjadi bisnis nasional level “nubie”, maka banyak sekali pembenahan yang perlu kami lakukan, dan tentunya saya jadi sangat sibuk dengan banyak hal.

Selama hampir 1.5 tahun ini, saya banyak sekali belajar. Kondisi perekonomian Indonesia yang kurang baik, memberi saya pelajaran, bagaimana cara HIT THE RIGHT TARGET secara lebih efektif, sehingga di masa perekonomian yang suram, Esprecielo justru berhasil menjadi The Rising Phoenix, yang menggeliat naik ke atas dan menarik perhatian.

So, mengapa kami bisa melakukannya ? Dan bagaimana cara kami melakukannya ? Dan ternyata jawaban utamanya adalah : mindset. Yes, MINDSET !

Kembali ke tahun lalu, saya masih ingat dengan jelas keadaan perekonomian saat itu dilanda kekacauan. Beberapa ekonom dan pelaku bisnis di Indonesia bahkan sempat ketakutan, takut Indonesia kembali ke tahun 98, dimana krisis melanda dan kekacauan politik terjadi dimana2. Saya ingat dengan jelas juga, bahwa tahun kemarin Pak Jokowi belum lama menjabat sebagai Presiden RI, sehingga berbagai kekacauan tersebut seperti mendapat “kambing hitam” yang paling PAS. Bahkan, grup WA Entrepreneur Club pun isinya berbagai keluhan yang luar biasa keras, dengan komentar yang isinya keluhan tidak penting juga.

Dalam situasi seperti itu, memang ada 2 hal yang paling NYAMAN untuk dilakukan :
1. Cari kambing hitam untuk disalahkan (YES, pastinya mesti orang lain yang salah)
2. Cari teman yang mengalami hal yang sama, yang bisa diajak “mengeluh bareng”

Yup, dengan atau tanpa sadar, kebanyakan orang melakukan hal seperti itu di masa-masa sulit. Dan jujur ini lucu juga, karena sebenarnya sebagai entrepreneur tangguh, dalam masa-masa sulit seperti itu mestinya mencari solusi yang terbaik, bukan menghabiskan waktu untuk hal-hal yang SAMA SEKALI TIDAK BISA MENGUBAH KEADAAN tersebut.

Berikut beberapa kata-kata yang saya dengar :

“Gila ya situasi ekonomi sekarang, jualan makin lama makin sepi ! Pemerintah ngapain aja sich ?”

“Boss, gimana bisnis loe sekarang ? Drop juga ya…iya sich mau gimana lagi emang ekonomi lagi jelek..”

“Parah nich pemerintahan baru ini, ekonomi terus aja merosot, dasar tukang pencitraan !”

“Segala harga naik gini, bisnis malah turun terus !!”

“Sudahlah, kita pasrah aja toh ekonomi memang lagi jelek”

Dalam situasi ekonomi yang kurang baik, memang keluhan2 tersebut seringkali terdengar. Dan apakah salah bila kita mengeluh seperti itu ? Sebenarnya mengeluhkan keadaan adalah hal yang wajar, SELAMA KITA SADAR BAHWA KELUHAN TERSEBUT TIDAK AKAN MENGUBAH APAPUN, kecuali munculnya RASA NYAMAN karena ternyata banyak orang mengalami hal yang sama. Nah sekarang pertanyaannya, apakah Anda ingin menjadi manusia biasa seperti kebanyakan orang, atau Anda ingin menjadi manusia yang luar biasa dan bisa memberi secercah cahaya dalam kegelapan ?

Yup, saya memilih jalan untuk menjadi cahaya yang bersinar di kegelapan. Saya bahkan menchallenge diri saya sendiri untuk leveling up dalam situasi sulit seperti itu, dan ternyata, SAYA BERHASIL !!

Langkah-langkah apa saja yang saya lakukan ? Saya akan coba jelaskan di bawah ini :

1. Saya tutup telinga saya rapat2 dari keluhan2 dan pesan negatif lainnya yang tidak berguna, karena SAYA TAHU BAHWA ITU AKAN MERUSAK FOKUS SAYA. Bahkan saking negatifnya grup WA Entrepreneur Club saat itu, saya memilih leaving the group saja saking jengahnya. Saya tinggalkan manusia2 yang susah diajak berpikir positif dan saya bertekad akan membuktikan Esprecielo akan LEVELING UP di situasi sulit tersebut.

2. Saya membawa diri saya untuk berpikir terbalik (reverse thinking) dari apa yang sudah pernah saya lakukan sebelum2nya, dan mencoba untuk melakukan strategi yang sama sekali berbeda.

3. Saya MEMPELAJARI POLA bagaimana cara perusahaan besar mengelola bisnisnya, dan saya juga mempelajari pola mengapa UKM seringkali STUCK di level tertentu.

4. Saya mengubah strategi, dari rambo style menjadi SNIPER STYLE.

5. Saya melakukan pembenahan perusahaan, dan merekrut Leader2 muda baru yang haus belajar dan memiliki PASSION di bidangnya masing2.

6. Saya memaksa POLA PIKIR saya untuk naik ke Level selanjutnya, dan memikirkan beberapa langkah ke depan bahkan sebelum mengeksekusinya.

7. Saya mengerahkan segenap dana dan tenaga untuk melakukan SATU LOMPATAN BESAR. Yes, resikonya pun besar ! However, ini sifatnya GO FLY HIGH or GO BACK HOME, so i think it’s WORTHED ! Worry ? Sebagai manusia biasa, tentunya saya sangat takut dan stress akan lompatan besar yang akan saya lakukan saat itu, namun saya lebih memilih untuk FOKUS dan make sure, benar2 memastikan bahwa langkah tersebut berjalan dengan baik dan efektif.

8. Dan tentunya saya lebih banyak lagi berdoa, karena tanpa kehendak-Nya, langkah apapun akan percuma saja.

Dengan 8 langkah tersebut, saya pun berhasil membawa perubahan yang signifikan dan melakukan LOMPATAN BESAR.

Yes, video tersebut akhirnya ditonton lebih dari 2.7 juta kali dan bersifat sangat viral. For the very first time juga, Allure Matcha Latte menjadi produk skala “hampir” nasional, dan terdistribusi di lebih dari 27000 supermarket dan minimarket seluruh Indonesia. Dan Yes, saya berhasil membuat banyak orang akhirnya mengakui bahwa ternyata Entrepreneur sejati tetap bisa LEVELING UP bahkan di situasi yang sulit.

Bukan cuma itu, di tahun 2016 ini pun kami membuat LOMPATAN BESAR untuk kedua kalinya dengan launching video menggunakan sudut pandang dan cara komunikasi yang berbeda, sekaligus launching produk baru yang berhasil menggebrak market.

So kesimpulannya, being a loser or a winner, it’s always an OPTION, not fate. Di tengah kerasnya badai, adalah pilihan Anda untuk bisa melewati badai tersebut dengan baik atau karam di tengah laut. Ingat, sebagai Entrepreneur, kita sama sekali BUKANLAH PASSENGER, melainkan kitalah CAPTAINnya ! Jangan pernah berharap badai bisa berhenti tiba2, karena itu SAMA SEKALI DI LUAR KUASA KITA. Namun ingatlah selalu, bahwa sebagai Captain yang membawa kapal, kita masih bisa mengarahkan kapal tersebut saat badai mau dibawa kemana. Pilihan selalu berada di tangan Anda !!

Salam Sukses !!

 

Profile Kontributor Subforum Entrepreneur Corner: Chandra Liang

Chandra Liang
SUMBER : http://www.kaskus.co.id

New Generation of Entrepreneurs


New Generation of Entrepreneurs

Zaman memang cepat sekali berubah. Dan di zaman apapun, bila kita tidak cepat tanggap dalam menghadapi perubahan, kita akan selalu tertinggal, atau biasa disebut “ditelan zaman”.

Perubahan memang selalu tidak enak, dan tidak nyaman, kecuali bagi orang2 yang selalu mau belajar dan ingin maju. Dan sebelum Anda membaca lebih lanjut, perlu Anda ketahui bahwa tulisan2 saya bisa saja membuat Anda tidak nyaman, kecuali bagi orang2yang selalu mau belajar dan ingin maju. So, untuk Anda2 yang mudah tersinggung, boleh berhenti membaca di sini saja.

Buat yang mau lanjut, read at your own risk ya.

Entrepreneur…

10 tahun yang lalu, istilah ini bahkan masih jarang terdengar. Bila kita berada di bangku kuliah, dan saat ditanya “Abis kuliah mau lanjut ngapain ?”, maka sangat jarang orang yg menjawab “Mau buka usaha sendiri” alias jadi Entrepreneur.

Dan masih 10 tahun yang lalu, bila kita bilang ke teman kuliah “mau buka usaha gerai hotdog”, maka teman kita akan kebingungan dan beberapa dari mereka akan menyarankan “udah, mending kita fokus kuliah dulu lah, biar kita dapet kerjaan yang bener nanti”.

Yes, dunia memang cepat berubah, begitu pula dengan dunia entrepreneurship. Di tahun 90-an, real entrepreneur di Indonesia jumlahnya masih sedikit sekali. Kebanyakan orang yang “buka bisnis sendiri” biasanya hanya pedagang yang tidak punya konsep. Di tahun 90-an, konsep memang tidak terlalu penting, asal sekedar kita punya sumber barang yang tepat, dan bisa jualan dengan benar, sudah cukup. Dan, di tahun 90-an tersebut, hanya dengan berdagang, kita sudah bisa berpenghasilan lebih dari cukup. Sampai akhirnya tibalah krisis Indonesia 98, yang meluluhlantakkan perekonomian Indonesia. Hanya entrepreneur2 sejatilah yang lolos dari krisis ini. Sebutlah nama2 seperti Pak Chairul Tandjung (Trans Corp), Pak Sudhamek (Garuda Food), (Alm) Pak Dick Gelael (KFC Indonesia), dan nama2 besar lainnya yang kebanyakan saat ini bisnisnya sudah jadi bisnis korporasi.

Lalu lanjut ke tahun 2000-an, dimana Indonesia baru saja lolos dari krisis 98. Ini adalah masa2 transisi, dimana Indonesia masih menjadi negara miskin, namun sudah mulai pulih kondisinya. Awal2 tahun 2000 adalah masa2 yang cukup sulit, namun dari sini pula lah era entrepreneur yang baru dimulai. Banyak pebisnis2 lama yang mengembangkan bisnisnya menjadi bisnis modern untuk beradaptasi, sebutlah Henry Husada dengan Kagum Group nya, David Marsudi dengan D’Cost nya, dan masih banyak nama2 Entrepreneur hebat generasi tahun 2000an yang kini bisnisnya sudah menggurita.

Dan yang menarik adalah era tahun 2005, dimana mulai terjadi perubahan besar2an di dunia entrepreneurship. Walau belum terlalu luas, namun segala hal yang berhubungan dengan “entrepreneurship” mulai menyeruak ke masyarakat luas. Majalah2 yang membahas tentang Entrepreneurship pun semakin banyak, dan di era ini pula lah orang2 mulai mengenal kata “UKM”, dan untuk orang2 yang memulai bisnisnya di era tersebut, menjadi UKM adalah suatu kebanggan tersendiri (saya termasuk salah satu Entrepreneur yang lahir di era tersebut, yaitu di tahun 2007an).

Era ini sangat menarik, dimana berbagai Franchise2 UKM bermunculan, yang sayangnya dinodai dengan banyak manipulasi halus. Tahun tersebut, masyarakat Indonesia mulai memiliki “penghasilan berlebih” atau biasa disebut disposible income. Banyak pekerja2 kantoran berpenghasilan di atas 10 juta/bulan yang mulai menyadari, bahwa tidak mungkin dirinya bekerja sepanjang waktu, dan mulai ingin memiliki aset. Salah satu aset yang bisa dimiliki adalah bisnis, namun mereka tidak mau repot mengelola bisnis, sehingga permintaan akan “systemized business” alias yang biasa disebut “franchise” pun membludak.

Di Era ini, menjual Franchise bisa menjadi instant kaya. Dan gayung pun bersambut, para pebisnis2 baru pun langsung terjun ke bisnis “franchise2″an ini. Finally muncullah istilah “gerobak-chise” dimana kebanyakan dari Entrepreneur2 saat itu tiba2 nyemplung ke bisnis non-official franchise. Banyak dari mereka yang baru membuka bisnis beberapa bulan, yang bahkan belum terbukti menguntungkan, langsung difranchisekan. Lalu setelah dia mendapatkan beberapa “cabang” dari franchisee-nya, mereka pun menulis di brosurnya bahwa cabangnya sudah banyak (yang padahal cabang2nya tersebut pun baru buka dan sama sekali belum menguntungkan), Bahkan, saya pernah bertemu dengan seorang pebisnis martabak mini yang bahkan sistem maupun resepnya masih asal2an, namun dalam setahun sudah bisa buka lebih dari 100 cabang.

Era “gerobak-chise” ini berlangsung sampai sekitar tahun 2013, dimana informasi sudah semakin mudah didapatkan, dan Word Of Mouth pun berlangsung semakin instant. Banyak gerobak-chise2 ini yang cabang2nya tutup, dan para franchisee banyak yang merugi. Market mulai mengerti, bahwa cabang banyak sama sekali bukan jaminan, melainkan produk yang tepat dan sistem yang baiklah yang menjadi jaminan bahwa bisnis tersebut akan sustain dalam jangka waktu yang cukup lama.

New Generation of Entrepreneurs

Dan sejak tahun 2012, dimana saat itu pertumbuhan ekonomi Indonesia naik secara signifikan, di sinilah Era Entrepreneur yang baru pun dimulai. Anak2 muda semakin kreatif, dan mereka yang tidak kreatif semakin jauh tertinggal. Ini adalah era yang sangat adil, di mana market menjadi sangat terbuka dan selektif. Di Era ini, memanipulasi data tidak lagi mudah. Kecurangan dan kebusukan2 akan mudah terbongkar dan tercium, dan kejujuran mulai dihargai, begitu pula dalam hal bisnis. Itulah mengapa para “gerobak-chise” yang hanya menggembar-gemborkan cabangnya tanpa sistem yang kuat mulai megap2 di Era ini, dan investasi2 bodong pun mulai ditinggalkan. Ini adalah Era yang baru, yang merupakan Era perubahan yang luar biasa.

Bisnis yang berkembang di era ini adalah bisnis2 yang memiliki konsep kuat. Dan sebagai Entrepreneur, baik yang baru maupun yang sudah berkecimpung cukup lama di dunia bisnis, kita selalu dituntut untuk tanggap akan perubahan. Dan di Era yang baru ini, untuk membuka sebuah bisnis, kita dituntut untuk tidak hanya sekedar “punya semangat yang menggebu2” atau “punya kemampuan teknis yang hebat” saja.

Di Era saat ini, punya modal besar dan (misal) bisa buka bengkel mobil / motor, sama sekali tidak menjamin kesuksesan. Mungkin untuk sekedar bisa mencari nafkah, itu tidak masalah. Namun bila tujuan utamanya adalah membuat bisnis yang sustain dalam jangka waktu yang panjang dan bisa berkembang menjadi bisnis yang besar, maka dibutuhkan sesuatu yang lebih di era ini, yaitu : KONSEP yang BAGUS dan JELAS.

Bisnis kini tidak semudah dulu, punya produk, diberi margin, lalu dijual. Bisnis di era saat ini, mesti bisa diingat terus di benak konsumen, karena kompetitor sekarang sangat banyak. 10 tahun yang lalu, Anda jual produk fashion di Kaskus, tanpa terlalu memikirkan konsep, Anda tetap akan mendapatkan pelanggan, karena toh yang jual belum terlalu banyak. Lalu 5 tahun yang lalu, bila Anda menjual produk Fashion di Kaskus, maka Anda mesti membuat “brand” dari lapak Anda agar pelanggan ingat akan dan mudah untuk kembali mencari kontak Anda saat teringat produk yang Anda jual. Itu saya lakukan 5 tahun lalu dengan menamai lapak saya di Kaskus dengan Brand “Sarang Kopi”, dan itu berjalan sangat efektif 5 tahun yang lalu.

Dan kabar buruk (sekaligus kabar baik)nya, saat ini, Brand saja ternyata tidak cukup. Terlalu banyak Brand baru bermunculan, dan bila Brand tersebut tidak diisi dengan Konsep yang kuat, maka Brand tersebut akan terasa kosong/ hampa. Yup, Brand kini berfungsi sebagai Raga saja, dan Konsep adalah Roh/Jiwa-nya. Raga tanpa Jiwa maka akan menjadi hampa atau kosong, dan tentunya Brand yang hampa sama sekali tidak akan diingat orang, atau, bilapun ingat, akan tetap dilewatkan.

Maka itu, seperti yang sebelumnya pernah saya bahas, jadilah Entrepreneur sejati yang mau belajar dan mau berubah. Karena di era sekarang ini, hanya dengan menjadi calo/trader tanpa konsep yang jelas, akan segera dilupakan orang, dan dalam waktu dekat akan ditelan oleh zaman. Apapun bisnis Anda saat ini, buatlah bisnis tersebut memiliki konsep dan identitas yang kuat. Pikirkan kembali, apa yang membuat pelanggan ingin membeli produk Anda. Janganlah jadi “pebisnis malas” yang dengan pasrahnya hanya menunggu pelanggan datang, dan bila dagangan kurang laku malah menyalahkan “kondisi perekonomian” atau “kambing hitam – kambing hitam” lainnya.

Contoh gampangnya, bila Anda ingin jadi calo tiket pesawat, jadikanlah “calo tiket” tersebut sebagai bisnis yang berkonsep dan jelas, sekelas Traveloka. Bila Anda ingin jadi calo hotel, matangkanlah konsep Anda dan jadilah sekelas Agoda, atau sedikitnya Raja Kamar. Dan bila Anda ingin bermain property, jadilah developer handal seperti Agung Podomoro Land, walau dalam versi kecilnya. Jadi, sekaligus mengklarifikasi dan menjawab protes2 Anda di thread saya sebelumnya, BUKANLAH bidangnya yang saya permasalahkan, tapi bila Anda hanya jadi pedagang malas yang “mikir konsep aja malas dan gak becus”, maka seriously, Anda perlu re-thinking niat Anda menjadi Entrepreneur, apakah sudah sesuai Passion Anda atau belum.

Dan berikut contoh kasus lainnya :

Misalnya, bila Anda ingin membuka Gerai Bakso, maka pikirkan lah Konsepnya yang jelas. Sebutkan 5 ALASAN KUAT (ya, ALASAN KUAT) yang membuat pelanggan mau datang dan kembali lagi untuk makan bakso di gerai bakso yang Anda miliki.

Berikut contoh 5 alasan kuat yang SALAH :
1. Harganya ok
2. Rasanya enak
3. Tempatnya bersih
4. Pelayanannya ramah
5. Lokasinya bagus

Lho, kenapa salah ? Mestinya benar donk ?

SALAH, karena 5 point yang Anda sebutkan adalah hal2 general saja, yang memang sudah menjadi SYARAT UTAMA dalam membuka Gerai Bakso. 5 point tersebut memang harus ada, tapi 5 point tersebut sama sekali tidak menjadikan Anda diingat oleh pelanggan Anda. Mungkin diingat, bila Anda adalah gerai bakso di tahun 90-an..kalo Anda baru buka saat ini dan hanya berpikir 5 point tersebut, lebih baik Anda urungkan dulu niat Anda buka Gerai Bakso, dan buatlah konsep yang lebih baik terlebih dahulu.

Jadi, gimana nich contoh 5 point yang berhubungan dengan konsep Gerai Bakso ? Berikut contohnya :

1. Daging bakso yang digunakan hanya berasal dari bagian tertentu tubuh sapi, sehingga menghasilkan rasa dan tekstur yang sangat enak, dan kuahnya mengandung kaldu sapi alami yang dididihkan selama minimal 12 jam, sehingga menghasilkan energi untuk tubuh dan rasa kuah yang gurih alami (point : keunggulan produk dibandingkan gerai bakso lain)

2. Target utama marketnya adalah keluarga muda, dengan umur kisaran 20-35 tahun, dengan penghasilan bulanan yang cukup baik, dan sedikitnya sudah mulai concern terhadap masalah kesehatan, sehingga ingin mengkonsumsi bakso yang lebih sehat. Second target adalah anak muda, karena anak mudalah yang akan membawa keluarganya untuk mencoba gerai bakso yang baru ini. Untuk memancing mereka, maka, khusus pelanggan yang masih kuliah/sekolah, dengan menunjukkan kartu tanda pelajar, akan mendapatkan 15% Discount selama setahun pertama.

3. Interior akan dibuat sederhana namun mengena, dan mesti eye catching. Tempat akan akan berlokasi indoor dengan kombinasi warna yang menarik.

4. Lokasi dekat dengan pusat perbelanjaan yang terkenal dan dekat kampus, parkiran mudah baik bagi penggna mobil maupun motor.

5. Nama dan tagline yang nyentrik serta sesuai target pasar dan sesuai keunggulan produk, misal “Bakso Sapi Kerajaan” dengan tagline “Baksonya Lembut, Kuahnya dari Resep Kerajaan”, jangan lupa logonya pun mesti nyambung dengan Positioning Brand nya.

Nah, kira2 terbayang kan apa yang saya maksud ? KONSEP. Dan Konsep tersebut mesti mudah diingat. Posisikan diri Anda sebagai customer, dan pikirkanlah sebenarnya apakah yang Customer Anda inginkan dari produk yang Anda tawarkan. Niscaya chance Anda untuk Sukses akan jauh lebih besar daripada Anda berjualan secara asal2an.

Akhir kata, selamat datang di Era Entrepreneur yang baru, Era Entrepreneur Kreatif !! Dan selamat berkarya !!

Kind Regards,

Profile Kontributor Subforum Entrepreneur Corner: Chandra Liang

Chandra Liang
SUMBER : http://www.kaskus.co.id

 

MINDSET yang SALAH = PENJARA PIKIRAN yang tidak terlihat


MINDSET yang SALAH = PENJARA PIKIRAN yang tidak terlihat

MINDSET yang SALAH = PENJARA PIKIRAN yang tidak terlihat

Mindset ? Apa itu ? Saya yakin, kebanyakan Entrepreneur Indonesia meremehkan hal kecil ini, bahkan, some of us mencibir bila ada yang membicarakan mengenai “mindset”. Yup, tema mindset bisa dikatakan hanya populer di kalangan para MLM-ers. Dan karena populer di kalangan MLM-ers, kebanyakan pebisnis malah enggan alias merasa jijik untuk “menyentuhnya”. Kita2 para pebisnis, seringkali lebih suka tema2 teknis, seperti “bagaimana mengatur karyawan”, “apa saja yang perlu dipersiapkan bila mau memulai bisnis A”, “berapa modal yang diperlukan untuk startup bisnis X”, dan sebagainya.

Saya setuju, hal-hal tersebut sangat penting, dan memang sangat diperlukan, BILA KITA SUDAH MENGUASAI BASICNYA. Lantas apa basicnya ? Yup, basicnya adalah MINDSET itu sendiri. Beberapa tahun yang lalu, di forum ini juga, saya sudah berkoar-koar mengenai mindset ini. Namun saat itu, saya masih pebisnis yang terlalu kecil untuk bicara banyak, alias “belum punya banyak bukti untuk diceritakan”

Nah, kali ini saya mau bicara dengan bukti. Beberapa tahun yang lalu, tepatnya bulan Nov 2010, di saat Gathering pertama Entrepreneur Corner, terkumpul sekitar 60 orang Entrepreneur di Mall Central Park. Dari Gathering tersebut, saya pertama kalinya berkenalan (kopi darat) dengan pebisnis2 dari kaskus ini. Dan sama seperti sekarang, tema “mindset” bukanlah tema yang terlalu populer, karena dianggap sebagai tema “motivasi” yang entah kenapa kebanyakan pebisnis “sok alergi” atau mencibir dengan hal2 seperti ini, padahal tidak ada yang salah koq dengan tema2 seperti ini selama kita menggunakannya dengan benar. Dari sebanyak 60 orang tersebut, yang saat ini menjadi pebisnis yang JAUH LEBIH BESAR atau tumbuh puluhan kali lipat, ternyata hanya segelintir orang saja.

Dan saya pun mulai mencari kesamaan dari orang2 yang berhasil survive dan bertumbuh puluhan kali lipat ini, lalu saya mendapat 3 jawaban, yaitu MINDSET, PASSION, dan ACTION. Yup, bukan “cara Anda handle karyawan”, “bagaimana cara memulai bisnis A”, dsb. Melainkan betul2 MINDSET, PASSION, dan ACTION, karena itu memang basicnya.

Untuk 2 yang terakhir, saya akan bahas di lain thread. Tapi di sini kita akan bahas, apa itu Mindset, dan mengapa hal kecil ini bisa begitu berpengaruh terhadap Bisnis Anda ?

Dilihat dari kata2nya, mind berarti pikiran, dan set berarti mengatur. So, mudahnya diartikan langsung saja, mindset adalah bagaimana cara kita mengatur pikiran. Dan mengapa mindset begitu penting ?
Simple karena semua yang kita lakukan dalam bisnis, dimulai dari pikiran kita.

Saat Anda akan melakukan startup bisnis, mindset Anda diposisikan untuk selalu “takut gagal”, maka batal-lah Anda memulai bisnis.

Saat Anda mengalami masalah di bisnis, mindset Anda diposisikan untuk selalu menyalahkan keadaan, maka bangkrutlah Anda sambil terus menggerutu menyalahkan keadaan. Ini sering terjadi pada Anda toh, ngaku saja d.. saya sering banget koq dengar pebisnis2 yang hobinya menyalahkan pemerintah, menyalahkan kompetitor, menyalahkan karyawan, yang pasti yang salah selalu orang lain. Padahal mindset-nya sendiri lah yang salah, karena mindset Anda “disetting” untuk selalu cari kambing hitam

Saat Anda sudah terlalu sibuk di bisnis dan “menjadi superman”, lalu mindset Anda “Saya tidak pernah percaya orang lain”, maka stuck lah Anda sebagai superman, dan bisnis Anda pun sulit untuk maju.

Saat Anda memiliki mindset bahwa “membaca buku hanyalah teori dan hanya bullshit”, maka itulah yang akan terjadi.

Saat Anda memiliki mindset bahwa Anda sudah cukup dengan bisnis Anda yang sekarang, maka cukuplah Anda dan menjadi stuck.

Saat Anda memiliki mindset bahwa menjadi kaya adalah dosa, maka secara otomatis Anda akan menjauhi kekayaan.

Saat Anda sudah memiliki mindset bahwa “tulisan ini adalah bullshit”, maka jadilah tulisan ini sebuah bullshit yang tidak akan pernah mengubah hidup Anda

Dan masih banyak sekali contoh2 kasus lainnya, yang, disadari atau tidak, bahwa tindakan2 kita sangat dipengaruhi oleh mindset.

Dari beberapa contoh di atas, dapat kita pelajari, bahwa sebuah hal kecil yang sering diabaikan ini, adalah hal yang sangat penting untuk dipahami, oleh siapapun yang mau bertumbuh dalam bisnisnya. Karena mindset inilah salah satu yang membedakan antara, Chairul Tanjung si anak singkong, dengan anak singkong – anak singkong lainnya, yang saat ini tetap saja masih jadi anak singkong. Mindset inilah yang membedakan Dahlan Iskan yang lahir sangat miskin, dengan teman2nya yang lahir miskin juga dan sampai saat masih tetap miskin. Mindset inilah pula yang membedakan, speaker2 di Kaskus Gath 04 kemarin yang bisnisnya sudah jauh sekali bertumbuh, dengan entrepreneur2 yang sepertinya sudah tidak survive lagi.

Dan sebagai pebisnis, tentunya sangat bahaya bila mindset kita saat ini masih “salah setting”.

So…masih mau meremehkan mindset ? Bila jawabannya masih ya, maka ada baiknya Anda undur diri dari dunia Entrepreneur. Karena dalam dunia Entrepreneur, kita mesti paham dengan mindset : “Belajar setiap saat, setiap waktu, dan belajar semua yang bisa dipelajari dari setiap kejadian” alias bahasa kerennya almarhum Steve Jobs “Stay Hungry, Stay Foolish”.

See u at THE TOP !!

Profile Kontributor Subforum Entrepreneur Corner: Chandra Liang

Chandra Liang
SUMBER : http://www.kaskus.co.id

Apakah Anda betul2 SIAP menjadi ENTREPRENEUR ?


Saya seringkali menemukan, orang2 yang pulang seminar Kewirausahaan dengan wajah berseri-seri, semangat berapi-api, nadanya tinggi meledak-ledak, serta matanya berbinar-binar penuh harapan baru.

Awalnya ia adalah seorang karyawan swasta, yang terkena “virus pengusaha”, dan melihat betapa bercahayanya kehidupan para Pengusaha Sukses. Tanpa ragu lagi ia pun langsung melihat tabungan, menentukan lokasi usaha, lalu buka cafe, dan langsung berbangga diri ke teman2nya yang masih bekerja, sekarang dirinya punya kebebasan waktu, dan telah berpindah kuadran.

Sebulan pertama, Cafe ditongkrongin terus, sambil menyambut teman2 yang datang memberi selamat untuk pembukaan cafenya.

Bulan kedua, pembeli datar2 saja, tidak banyak kemajuan.

Bulan ketiga sampai bulan kelima, mulai panik, berbagai cara marketing pun dicoba, mulai dari bagi brosur sampai banting harga dan ditulis besar2 di depan cafe dengan harga mentereng.

Bulan keenam, cafe tutup, ia pun putus asa, dan ga lama kemudian ribut2 di berbagai forum kewirausahaan seperti forum ini : “Hati2 tertipu seminar kewirausahaan, gw udah jadi korban nich !!” atau “Jangan percaya seminar2 wirausaha dech, ini gw gagal dan yang gw dapet cuma malu doank + setumpuk utang. Seminar cuma ngomong enak2nya doank, pembicara brengsek !!”

Klise ? Ya, betul sekali. Cerita klise seperti ini sering kita jumpai di sekitar kita. Lalu, siapakah yang salah ? Pembicara seminar ? ATau peserta seminarnya ?

Daripada ribut dan saling menyalahkan, mari kita telaah masalah ini dengan kepala dingin dan penuh pemikiran positif.

Pertanyaan utama dari permasalahan ini adalah :

Apakah setiap orang bisa menjadi Entrepreneur ? Ataukah Entrepreneur hanya bakat untuk orang-orang tertentu saja ?

Sebenarnya, ini semua adalah permasalahan cara berpikir dan cara bertindak. Saat Anda memutuskan ingin menjadi entrepreneur, apakah Anda sudah berpikir dan bertindak layakanya entrepreneur ? Atau jangan2 Anda hanya fisiknya saja yang sedang menjadi entrepreneur, tapi cara berpikir dan cara bertindak Anda masih layaknya seorang karyawan ?

Lho ?? Apa bedanya ??

Pertama-tama, perlu dipahami terlebih dahulu, bahwa menjadi entrepreneur atau karyawan adalah murni pilihan, tidak ada yang lebih baik di antara keduanya. Pilihan ini adalah pilihan yang sangat adil, karena setiap orang sebenarnya bebas memilih asalkan memiliki CARA BERPIKIR dan CARA BERTINDAK yang TEPAT.

Menjadi Entrepreneur, tidaklah mudah seperti kelihatannya. Jangan pernah sekali-kali berpikir, bahwa menjadi Boss itu jauh lebih mudah daripada menjadi karyawan. Anda SALAH BESAR. Menjadi Boss / Entrepreneur, memiliki tanggung jawab yang besar, memerlukan pemikiran-pemikiran yang brilian, intuisi yang jitu, pandangan yang visioner, harus mampu mengambil keputusan secara cepat dan tepat, dan bla bla bla bla bla, alias masih banyak syarat lainnya.

Mungkin saat di seminar-seminar, Anda melihat :

Betapa suksesnya seorang Chairul Tanjung.
Namun apakah Anda tahu bagaimana perjuangan beliau saat merintis bisnis ? Apakah Anda siap hanya tidur 6 jam per hari tanpa punya banyak waktu untuk keluarga seperti Chairul Tanjung muda ?

Betapa suksesnya seorang Donald Trump.
Namun apakah Anda tahu bahwa ia pernah bangkrut, sampai2 pengemis di pinggir jalan pun lebih kaya dari dirinya ?

Betapa suksesnya Top Ittipat (CEO snack Tao Kae Noi).
Namun apakah Anda tahu bagaimana saat awalnya dia merintis bisnis ? Apakah Anda paham bagaimana rasanya hampir kehilangan rumah satu2nya karena terlilit hutang keluarga, namun sambil masih harus terus berjuang untuk membalik nasib ? Apakah Anda sanggup gagal berkali-kali seperti dia, dan tetap mesti bangkit berdiri walau rasanya sangat sakit dan tertekan (bahkan dihina), seperti yang dia alami ? Ya, dan itulah juga yang saya alami 4 tahun yang lalu, saya mengalami hampir persis seperti yang dialami Top Ittipat sebelum bisa menjadi seperti sekarang ini

Menjadi entrepreneur, itu artinya juga Anda sedang mengelola resiko, SETIAP SAAT, SETIAP WAKTU, dan Anda MESTI SURVIVE DALAM KEADAAN SESULIT APAPUN.

Karena itu, jangan pernah menjadi entrepreneur, bila Anda memang tidak siap dengan segala resikonya. Pahami dulu berbagai resikonya, dan siapkah Anda dengan segala konsekwensinya ?
Siapkah Anda bekerja keras sedangkan orang lain sedang enak2 nonton TV atau main game ?
Siapkah Anda mesti tetap berpikir jernih walau sedang dalam tekanan ? ATau dalam sedikit tekanan Anda sudah stress dan uring2an ?
Siapkah Anda mesti networking dan berkumpul dengan komunitas, saat orang lain sedang asik malam mingguan ?
Siapkah Anda bila membangun bisnis dan merasa miskin, karena belum bisa menggaji diri sendiri, sedangkan teman2 Anda sedang santai2 hang out menikmati gaji mereka ?
Siapkah Anda meninggalkan Comfort Zone Anda, dan berjuang untuk SURVIVE AS AN ENTREPRENEUR setiap saat ?

Nah, itulah bedanya, Entrepreneur dengan Karyawan. Bila Anda ingin menjadi Entrepreneur, bersiaplah dengan segala resiko dan konsekwensinya.

Ubahlah cara berpikir dan cara bertindak Anda layaknya Entrepreneur.

Entrepreneur tidak berpikir bahwa Laba Perusahaan = Gaji Gue. Entrepreneur mesti siap ngirit di masa awal merintis bisnis, untuk mengembangkan bisnisnya menjadi lebih besar lagi.

Entrepreneur tidak berpikir bahwa saat passive income, waktunya untuk main game, nonton tv, dan perbanyak terus family time. Entrepreneur mesti mengubah passive incomenya menjadi MASSIVE PASSIVE INCOME, barulah bisa menikmatinya.

Entrepreneur selalu berpikir bahwa WAKTU ITU ADALAH EMAS, karena mereka paham betul bahwa setiap waktu adalah ASET YANG SANGAT BERHARGA, karena itu tidak boleh dibuang2 sembarangan.

Entrepreneur tahu betul, bahwa dirinya sedang membangun KERAJAAN BISNIS, karena itu mereka selalu bersabar dan tidak selalu mengharapkan “hasil dalam waktu singkat”.

Entrepreneur tahu betul, bahwa setiap bisnis memiliki resiko, dan resiko itulah yang mesti mereka kelola, sehingga menjadi resiko yang minimal dengan peluang yang besar.

Menjadi Entrrepreneur itu sangatlah menyenangkan, hanya bila Anda memahami segala resiko dan konsekwensinya.

So, kembali lagi ke pertanyaan awal, Apakah Anda betul2 SIAP menjadi Entrepreneur ?

Pilihan di tangan Anda

 

Chandra Liang

SUMBER : http://www.kaskus.co.id