Archives

Waktu Merupakan Bagian Terpenting dari Komponen Dakwah


Waktu Merupakan Bagian Terpenting dari Komponen Dakwah

Oleh: Abu Maryam

Para da’i banyak yang merasa kecewa ketika tengah berdakwah, dikarenakan mereka telah merasa optimal memberikan penyampaian, namun tetap saja tidak mendapatkan respon yang positif dari mad’u. Perasaan kecewa ini muncul karena ketidakcermatan da’i dalam memperhatikan satu komponen penting dalam berdakwah, yaitu terkait proses kontemplasi yang dilakukan mad’u, dan itu membutuhkan waktu yang cukup.

Beberapa hal penting yang harus diperhatikan dalam hal ini, adalah:

Pertama, sadari kita beda ‘dunia.’ Kita harus menyadari bahwa ‘dunia’ tempat berinteraksinya kita dengan mad’u terkadang berbeda, tepatnya tidak berada dalam lingkaran hidup yang Islami. Namun telah bercampur-baur dan terpengaruhi oleh nilai-nilai duniawi, umumnya mereka tumbuh di tengah efek dari materialistis, masyarakat yang ‘sakit’ atau bahkan atheis. Dan karakter seperti ini sudah menyebar banyak di tengah masyarakat, dan para da’i akhirnya berinteraksi dengan sosok yang cara berfikirnya serta kepribadiannya bertolak-belakang dengan mad’u-nya. Sehingga ketidak pahaman kerap menjadi penghalang dalam interaksi seorang da’i dengan obyek dakwahnya.

Karena itu butuh waktu yang panjang untuk mendakwahi mad’u yang seperti ini. Melakukan pendekatan, beradaptasi dengan dunia mereka, sehingga seakan tak ada lagi pembatas dan mad’u pun siap menerima dengan baik perkataan sang da’i.

Kedua, tak ada perkataan yang sia-sia. setiap kata yang terucap dari seorang da’i pada hakekatnya tidaklah pernah sia-sia, melainkan akan terus terngiang dalam fikiran mad’u. Apa yang ia dengar itu sedikit banyak akan merubahnya menjadi pribadi yang lebih baik. Apa yang ditaushiyahkan oleh seorang da’i kepada mad’u-nya saat ini, akan menjadi investasi amal bagi dirinya di beberapa tahun kedepan. Seperti yang sering kita temukan, ketika berjumpa dan memberi pesan kebaikan kepada seseorang, ia terkadang mengatakan, “sepertinya saya pernah mendengar taushiyah seperti yang Anda sampaikan tadi.”

Ketiga, cerdas memilih waktu. Memilih waktu yang tepat dalam berdakwah merupakan hal yang sangat penting. Karena setiap orang memiliki waktu privasi, dan dalam kondisi seperti itu ia tidak ingin diganggu, dan tidak siap menerima arahan.

Maka dari itu, berdakwah sangat dipengaruhi dengan kondisi kedua belah pihak, baik da’i mau pun mad’u-nya, keduanya harus berada dalam kondisi yang siap, siap memberi dan menerima. Terutama bagi sang da’i, hendaknya memilih waktu yang tepat, sehingga mad’unya tidak merasa terbebani dan dapat menerima pesan kebaikan itu dengan hati lapang.

Keempat, tidak bertele-tele. Seorang da’i hendaknya tidak ‘berlama-lama’ dalam berbicara dihadapan mad’u, karena hal itu akan membuatnya jenuh dan bosan. Namun sebaliknya, dengan menyampaikan pembicaraan yang singkat padat dan berbobot, tentunya akan membuat para mad’u ketagihan, dan semangat untuk mengikutinya karena ingin mendapatkan yang lebih banyak lagi.

Kelima, jangan tergesa-gesa. Terburu-buru dalam mendakwahi mad’u tentunya tidak akan memberikan hasil yang maksimal. Karena hal itu justru akan menghadirkan sebuah masalah, bisa jadi mad’u itu menolak, atau menerima tapi tanpa pemahaman. Kedua hal ini seyogyanya diwanti-wanti sebelum terjadi.

Efek dari ketergesa-gesaan dalam berdakwah ini diantaranya adalah mad’u yang menjadi terburu-buru dalam mengambil keputusan, akibatnya ia menolak ajakan sang da’i. Waktu yang singkat memposisikannya tidak secara utuh memahami dakwah itu disampaikan kepada dirinya. Dampak buruknya, ia tidak akan berhubungan lagi dengan dakwah, dan bukan perkara mudah untuk merubah keputusan seseorang. Hal ini terjadi dikarenakan da’i terlalu terburu-buru dalam berdakwah, ibarat memetik buah tapi belum pada waktunya.

Sedangkan bagi mad’u yang terburu-terburu dalam merespon ajakan dakwah, kedepannya mad’u akan terkaget-kaget karena dihadapkan dengan adanya taklif dan kewajiban yang belum pernah ia perkirakan sebelumnya. Sehingga ia merasa ada perang batin dalam jiwanya. Dan bisa berimbas hal negatif terhadap kepribadiannya, berbohong atau bahkan nifak. Seandainya dihadapnnya terdapat peluang untuk kembali memilih, bisa jadi mad’u tersebut tidak memilih untuk bergabung dalam dakwah.

Oleh karena itu, yang selayaknya dilakukan seorang da’i adalah tidak memaksa mad’u-nya terburu-buru dalam mengeluarkan keputusan, namun meminta kepada mad’u untuk berpikir secara perlahan sehingga keputusan yang diambil berdasarkan kemantapan yang lahir dari dalam dirinya. Wallahu al Musta’an

Disarikan dari kitab “Qawaidu ad-da’wah ila Allah” karya Dr. Hamam Abdurrahim Sa’id, cetakan Dârul wafâ’, Manshurah, Mesir.

Taubat di Dalam Al Quran


Taubat di Dalam Al Quran

Banyak orang yang menafsiri taubat dengan tekad untuk tidak kembali mengulangi dosa, melepaskan diri darinya seketika itu pula dan menyesali apa yang telah dilakukannya di masa lampau. Jika dosa itu berkaitan dengan hak seseorang, maka dibutuhkan cara lain, yaitu membebaskan diri dari dosa itu.

Inilah yang mereka sebut dengan taubat, dan bahkan itulah syaratsyaratnya. Sementara taubat menurut penyampaian Allah dan Rasul-Nya, di samping meliputi hal-hal itu, juga meliputi tekad untuk melaksana-kan apa yang diperintahkan dan mengikutinya. Jadi, taubat tidak sebatas membebaskan diri dari dosa, tekad dan menyesal, yang kemudian dia disebut orang yang bertaubat, sehingga dia mempunyai tekad yang bulat untuk mengerjakan apa yang diperintahkan dan mengikutinya. Inilah hakikat taubat, suatu istilah yang memadukan beberapa hal dari dua perkara ini. Tapi kalau istilah taubat ini disertakan dengan pelaksanaan apa yang diperintahkan, memang merupakan ungkapan seperti yang mereka sebutkan itu. Namun jika disendirikan, maka secara otomatis dia akan meliputi dua perkara ini. Seperti lafazh “Taqwa”, yang jika disendirikan mengandung pengertian mengerjakan apa yang diperintahkan Allah dan meninggalkan apa yang dilarang-Nya. Jika disertakan kepada pelaksanaan apa yang diperintahkan, maka artinya bisa menahan diri dari apa yang dilarang.

Hakikat taubat adalah kembali kepada Allah dengan mengerjakan apa-apa yang dicintai-Nya dan meninggalkan apa-apa yang dibenci-Nya, atau kembali dari sesuatu yang dibenci kepada sesuatu yang dicintai.

Kembali kepada apa yang dicintai merupakan bagian dari kelazimannya dan kembali dari apa yang dibenci merupakan bagian yang lain. Karena itu Allah mengaitkan keberuntungan yang mutlak dengan pelaksanaan apa yang diperintahkan dan meninggalkan apa yang dilarang. Firman-Nya, “Dan, bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah, hai orang-orang yang beriman, supaya kalian beruntung.” (An-Nur: 31).

Setiap orang yang bertaubat adalah orang yang beruntung. Seseorang tak akan beruntung kecuali dengan mengerjakan apa yang diperin-tahkan dan meninggalkan apa yang dilarang. Firman-Nya, “Dan, barangsiapa yang tidak bertaubat, maka mereka itulah orangorang yang zhalim.” (Al-Hujurat: 11).

Orang yang meninggalkan apa yang diperintahkan dan mengerjakan apa yang dilarang adalah orang zhalim. Untuk menghilangkan sebutan zhalim ini, hanya bisa dilakukan dengan taubat, yang menghimpun dua perkara sekaligus. Karena manusia itu ada dua macam: Orang yang bertaubat dan orang yang zhalim. Tidak ada yang lain. Orang-orang yang bertaubat adalah mereka yang disifati Allah, “Yang beribadah, yang memuji (Allah), yang melawat, yang ruku’, yang sujud, yang menyuruh berbuat ma’ruf dan mencegah berbuat mungkar dan yang memelihara hukum-hukum Allah.” (At-Taubah: 112).

Memelihara hukum-hukum Allah merupakan bagian dari taubat. Jadi taubat merupakan kumpulan dari perkara-perkara ini. Seseorang disebut orang yang bertaubat, karena dia kembali kepada perintah Allah dari larangan-Nya, kembali kepada ketaatan dari kedurhakaan kepada-Nya. Jadi taubat merupakan hakikat Islam, dan semua unsur Islam masuk dalam istilah taubat. Karena itu orang yang bertaubat layak menjadi kekasih Allah, karena Allah mencintai orang-orang yang bertaubat dan juga orangorang yang mensucikan diri. Allah suka jika perintah-Nya dilaksanakan dan larangan-Nya ditinggalkan. Jika taubat juga disebut kembali dari apa yang dibenci Allah secara lahir dan batin kepada apa yang dicintai Allah secara lahir dan batin, berarti di dalamnya terkandung istilah Islam, iman dan ihsan.

Inilah yang menjadi tujuan setiap orang Mukmin, permulaan dan kesudahan hidupnya. Banyak orang yang tidak mengetahui porsi taubat dan hakikatnya, terlebih lagi pengamalannya berdasarkan ilmu dankondisinya. Karena Allah memberikan kecintaan-Nya kepada orang-orangyang bertaubat, berarti mereka adalah orang-orang yang khusus di sisi-Nya.

Istighfar ada dua macam: Istighfar yang berdiri sendiri dan istigh-far yang dikaitkan dengan taubat. Istighfar yang berdiri sendiri seperti perkatan Nuh Alaihis-Salam atau perkataan Shalih Alaihis-Salam kepada kaumnya, atau seperti firman Allah, “Dan, mohonlah ampun kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (Al-Baqarah: 199).

Istighfar yang dikaitkan dengan taubat, seperti firman Allah, “Hendaklah kalian meminta ampun kepada Rabb kalian dan bertauba kepada-Nya. (Jika kalian mengerjakan yang demikian), niscaya Dia akan memberi keniktnatan yang baik (terus-menerus) kepada kalian sampai kepada waktu yang telah ditentukan dan Dia akan memberi kepada tiaptiap orang yang mempunyai keutamaan (balasan) ke-utamaannya.” (Hud: 3).

Istighfar yang berdiri sendiri seperti taubat, dan bahkan istighfar itu sendiri adalah taubat, yang berarti menghapus dosa, menghilangkan pengaruhnya dan mengenyahkan kejahatannya, tidak seperti yang dikira sebagian orang, bahwa artinya adalah menutupi aib. Toh Allah menutupi aib orang yang diberi-Nya ampunan atau yang tidak diberi-Nya ampunan.

Penutupan aib hanya sekedar kelaziman dari maknanya atau sebagian di antaranya. Istighfar inilah yang mencegah turunnya adzab, sebagaimana firman-Nya, “Dan, tidaklah Allah akan mengadzab mereka, sedang mereka meminta ampun.” (Al-Anfal: 33).

Allah tidak akan mengadzab orang yang meminta ampunan. Sedangkan orang yang masih tetap berbuat dosa, namun dia juga meminta ampun kepada Allah, maka hal ini tidak bisa disebut istighfar yang mur-ni. Karena itu, istighfarnya tidak mampu mencegah adzab. Istighfar men-cakup taubat dan taubat mencakup istighfar, masing-masing masuk dalam pengertian yang lain. Jika keduanya disertakan, maka makna istighfar adalah menjaga dari kejahatan yang lampau, sedangkan makna taubat adalah kembali dan mencari penjagaan dari sesuatu yang ditakutinya di masa mendatang, berupa keburukan-keburukan amalnya. Ada dua macam dosa, yaitu dosa yang telah lampau dan dosa yang dikhawatirkan akan terjadi di masa mendatang. Istighfar dari dosa yang telah lampau berarti mencari perlindungan dari kejahatannya, dan taubat dari dosa yang dikhawatirkan akan terjadi berarti bertekad untuk tidak mengulanginya lagi.

Orang yang berdosa diibaratkan orang yang melewati suatu jalan, padahal jalan ini akan membawanya kepada kehancuran dan tidak menghantarkannya ke tujuan. Maka dia diperintahkan untuk menghentikan langkah kakinya, meninggalkan jalan itu dan kembali ke jalan yang membawanya kepada keselamatan dan menghantarkannya ke tujuan.

Dari sinilah bisa diketahui secara jelas masalah taubatan nashuhan dan hakikatnya, seperti firman Allah, “Hai orang-orang yang beriman, bertaubatlah kepada Allah dengan taubat yang semurni-murninya, mudah-mudahan Rabb kalian akan menghapus kesalahan-kesalahan kalian dan memasukkan kalian ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai.” (At-Tahrim: 8).

An-Nashuh dalam taubat dan ibadah artinya membersihkannya dari kebohongan, kekurangan dan kerusakan serta mengerjakannya sesempurna mungkin. An-Nashuh kebalikan dari tipuan. Orang-orang salaf saling berbeda dalam mendefinisikannya. Umar bin Al-Khaththab dan Ubay bin Ka’b Radhiyallahu Anhuma berkata, “At-Taubatun-nashuh artinya taubat dari suatu dosa dan pelakunya tidak mengulanginya lagi, sebagaimana air susu yang tidak bisa kembali ke kantong kelenjarnya.”

Al-Hasan Al-Bashry berkata, “Artinya, seorang hamba menyesali apa yang dilakukannya di masa lampau dan bertekad untuk tidak mengulanginya lagi.”

Al-Kalby berkata, “Artinya, seorang hamba harus memohon ampun dengan lidahnya, menyesal dengan hatinya dan menahan diri dengan anggota tubuhnya.”

Sa’id bin Al-Musayyab berkata, “Artinya, kalian harus jujur terhadap diri sendiri.”

Muhammad bin Ka’b Al-Qarzhy berkata, “Artinya, seorang hamba harus menghimpun empat perkara: Istighfar dengan lidah, membebaskan diri dengan anggota badan, tekad untuk tidak mengulang lagi dengan hati dan menjauhi teman-teman yang masih melakukannya.”

Menurut pendapat saya, at-taubatan-nashuh harus mencakup tiga perkara:
Mencakup segala macam dosa yang pernah dilakukan, sehingga tidak ada satu dosa pun melainkan sudah tercakup di dalamnya.
Membulatkan tekad dan kemantapan hati secara menyeluruh, sehingga tidak ada lagi keragu-raguan dan penangguhan. Kehendak dan tekadnya harus dibulatkan seketika itu pula.
Membebaskan taubat itu dari kekeruhan dan alasan-alasan tertentu yang bisa mengotori keikhlasannya, hati didorong untuk takut kepada Allah semata dan mengharap apa yang ada di sisi-Nya, tidak seperti orang yang bertaubat karena hendak menjaga kedudukan, pangkat dan harga dirinya, melindungi kekuasaan, kekuatan dan hartanya, agar dipuji orang dan tidak dicela.

Yang pertama berkaitan dengan dosa yang dimintakan taubat. Yang kedua berkaitan dengan hati orang yang bertaubat dan jiwanya. Yang ketiga berkaitan dengan diri orang yang bertaubat.

Ada perbedaan antara menghapus kesalahan dan mengampuni dosa. Di dalam Kitab Allah hal ini disebutkan secara berurutan, dan ada pula yang disebutkan secara sendiri-sendiri. Yang disebutkan secara berurutan seperti firman Allah yang mengisahkan hamba-hamba-Nya yang Mukmin, “Wahai Rabb kami, ampunilah bagi kami dosa-dosa kami dan hapuskanlah dari kami kesalahan-kesalahan kami, dan wafatkanlah kami beserta orang-orang yang berbakti.” (Ali Imran: 193).

Yang disebutkan secara sendirian seperti firman-Nya, “Dan, orang-orang yang beriman (kepada Allah) dan mengerjakan amalamal yang shalih serta beriman (pula) kepada apa yang diturunkan kepada Muhammad dan itulah yang hak dan Rabb mereka, Allah menghapuskan kesalahan-kesalahan mereka dan memperbaiki keadaan mereka.” (Muhammad: 2).

Firman Allah tentang maghfirah (ampunan), “Dan, mereka memperoleh di dalamnya segala macam buah-buahan dan ampunan dari Rabb mereka.” (Muhammad: 15).

Di sini disebutkan empat perkara: Dosa, kesalahan, ampunan dan penghapusan. Dosa maksudnya adalah dosa besar. Kesalahan maksudnya adalah dosa kecil, yang cukup hanya dengan dihapuskan. Sementara penghapusan ini tidak efektif untuk dosa besar, seperti menghapus dosa membunuh secara sengaja dan sumpah palsu. Inilah dalil bahwa maksud kesalahan di sini adalah dosa kecil dan penghapusannya, “Jika kalian menjauhi dosa-dosa besar di antara dosa-dosa yang dilarang kalian mengerjakannya, niscaya Kami hapus kesalahan-kesalahan kalian dan Kami masukkan kalian ke tempat yang mulia (surga).” (An- Nisa’: 31).

Disebutkan di dalam Shahih Muslim, dari hadits Abu Hurairah Radhiyallahu Anhu, bahwa Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, “Shalat-shalat lima waktu, Jum’at ke Jum’at dan Ramadhan ke Ramadhan menghapus kesalahan-kesalahan di antara keduanya selagi dosadosa besar dijauhi.”

Lafazh “maghfirah” (ampunan) lebih sempurna daripada lafazh “takfir” (penghapusan), karena itu maghfirah berlaku untuk dosa-dosa besar dan penghapusan berlaku untuk dosa-dosa kecil. Maghfirah mencakup pemeliharaan dan penjagaan, sedangkan takfir mencakup penutupan aib dan pengenyahannya. Namun jika disebutkan secara sendirian, maka masing-masing bisa masuk ke dalam pengertian yang lain. Jadi takfir bisa mencakup dosa besar dan dosa kecil, bahkan bisa mencakup amal yang paling buruk sekalipun, seperti firman-Nya, “Agar Allah menghapus (mengampuni) bagi mereka perbuatan yang paling buruk yang mereka kerjakan.” (Az-Zumar: 35).

Orang-orang yang berdosa mempunyai tiga sungai besar yang bisa dipergunakan untuk membersihkan dosa-dosanya di dunia. Jika belum juga bersih, maka mereka akan dibersihkan di sungai neraka di hari kiamat. Tiga sungai itu ialah:
Sungai at-taubatun-nashuha.
Sungai kebaikan-kebaikan yang melimpah ruah dan menghanyutkan berbagai macam kesalahan di sekitarnya.
Sungai musibah dan cobaan yang menghapus semua dosa.

Jika Allah menghendaki suatu kebaikan pada diri hamba-Nya, maka Dia memasukkannya ke dalam salah satu sungai ini, sehingga dia datang pada hari kiamat dalam keadaan bersih, sehingga dia tidak memerlukan cara pensucian yang keempat.

INSPIRASI BISNIS : WHY ???


INSPIRASI BISNIS : WHY ???

Suatu waktu, saat saya kopdar dengan beberapa rekan entrepreneur kaskus , salah satu dari mereka bertanya : “Bro, produk loe udah masuk Indomaret ya ? Koq bisa Bro ? Gimana caranya ?”. Di kesempatan yang lain, salah satu dari mereka juga ada yang bertanya : “Bro, gw ada bisnis konveksi nich, namun gw kesulitan untuk cari karyawan yang bagus nich. Gimana ya caranya supaya bisa dapet karyawan bagus di Indonesia ini ?”. Lalu ada yang lain lagi bertanya : “Bro, gw pengen bisnis nich, tapi gw bingung, enaknya bisnis apa ya ?”. Sedangkan yang lain lagi bertanya “Bro, loe punya kenalan investor gak ya yang bakal tertarik buat invest di bisnis gw ?”, tanpa menjelaskan keunggulan bisnisnya sendiri.

Yes, pada umumnya orang selalu bertanya “How ?”, “What ?”, “Who ?”, dan mereka lupa atau bahkan mengabaikan pertanyaan terpenting, yaitu : “WHY ?”. Bahkan dalam sebuah tulisan saya di kaskus beberapa tahun lalu (saat bisnis saya masih berupa bisnis sangat kecil sekali), saya pernah menuliskan tentang WHY ini (dan WHY inilah yang membuat bisnis saya jauh lebih maju seperti sekarang ini). Memang lucu, tapi begitulah sifat manusia, seringkali melewatkan hal yang terpenting, dan lebih fokus pada hal2 teknis yang sebenarnya hanyalah syarat pendukung.

Hal ini pula yang terjadi pada para entrepreneur, kebanyakan mereka berfokus pada How, What, Who, When ? Mereka lupa WHY mereka mesti memilih bisnis tersebut dan bukan yang lain. Mereka juga lupa “WHY their customer should choose them, not other products”.

Saat saya bertanya pada salah seorang rekan entrepreneur “ Bro, kenapa loe pilih buka bisnis café ?”. Jawabannya tidak lain dan tidak bukan adalah “Gw pengen coba berbisnis, dan gw rasa bisnis café sekarang prospeknya cerah, “cuan”nya gede, dan gw lihat juga banyak yang sukses bisnis café, jadi ya gw bisnis café”. Dan bisnis café tersebut akhirnya tidak bertahan lama (alias tutup). Saat saya tanya, “WHY u choose this kind of business ?”, tidak banyak yang bisa menjawab dengan baik. Dan sejujurnya, bila mereka pun tidak tahu jawaban yang jelas WHY mereka mesti berbisnis di bidang tersebut, bagaimana customer kita bisa menemukan “WHY gue mesti beli produk loe”.

Yes, kebanyakan pebisnis lupa “Mengapa customer mesti pilih produk ini ?” atau “Mengapa customer mesti datang ke café ini ?” atau “Mengapa customer mesti memakai jasa saya ?”. Kebanyakan pebisnis terlalu egois, dan lebih memikirkan “Bagaimana saya mendapatkan uang lebih banyak ?” tanpa peduli mengapa customernya mesti memilih produk/jasanya. Kebanyakan pebisnis juga lebih fokus pada “Apa yang bisa saya jual ?” tanpa peduli apakah betul customer membutuhkan produk tersebut. Padahal “WHY” customer mesti membeli produk/jasa mereka lah yang mempengaruhi seberapa besar penjualan mereka, dan produk apa yang mesti diciptakan, alias “WHY” lah yang benar2 akan menentukan bisnis Anda akan bertahan berapa lama, dan akan menjadi sesukses apa bisnis Anda.

Saat menciptakan produk Esprecielo Coffee, yang saya pikirkan pertama sama sekali bukanlah “bagaimana cara saya membuatnya ?” atau “bisa seberapa besar omzetnya ?” atau “apa saja produk yang ingin saya ciptakan ?”. Saat itu, yang benar2 saya pikirkan adalah “Mengapa customer mesti membeli produk saya, walau ada produk2 kompetitor yang harganya jauh lebih murah ?”. Saya pun menemukan bahwa, ada cukup banyak customer yang suka menikmati caffe latte untuk bersantai, dan mereka membutuhkan rasa yang lebih berkelas (premium), tanpa harus repot2 pergi ke coffee shop. Dari sana lahirlah item2 fancy coffee latte dari Esprecielo yaitu Caramel Macchiato, Irish Coffee, dan lain sebagainya. Dan terbukti, produk2 tersebut laku di pasaran. Saya menciptakan produk-produk tersebut tanpa meniru dari produk lain, bukan juga karena alasan “saya pengen omzet besar”, melainkan saya mencoba memahami “mengapa customer mesti memilih produk Esprecielo ?”.

Begitu pula saat saya menciptakan Allure Green Tea Latte. Saya menyadari bahwa kopi lebih sering dicintai oleh kaum adam daripada kaum hawa, dan saya juga menyadari bahwa belakangan para wanita pun sangat membutuhkan “me-time”. Me-time ini oleh kaum pria biasa disebut “ngopi time”, sedangkan para wanita (yang kebanyakan tidak terlalu suka kopi) membutuhkan minuman hangat lain yang bisa dicintai dan dinikmati di waktu “me-time” mereka. Mereka lebih suka Green Tea, yang lebih soft yet relaxing, sangat cocok untuk “me-time”, yang bahkan lebih dalam daripada “ngopi-time”. Lalu terciptalah Allure Green Tea Latte, dengan tagline “A Cup of Relaxing Moment” yang siap menemani para kaum hawa di situasi apapun.

Yes, saya (atau tepatnya sekarang kami – karena saya telah memiliki team) menciptakan produk bukanlah karena tergiur akan seberapa besar uang yang akan dihasilkan, melainkan lebih ke arah “mengapa customer mesti memilih produk kami ?” – dan saya rasa setiap bisnis juga sama saja, “WHY” adalah alasan terpenting di balik terciptanya suatu produk/jasa. Bila “WHY” tersebut tidaklah kuat, atau bahkan Anda sendiri sebagai pemilik bisnis tidak bisa menjawab “WHY”nya, maka sebaiknya Anda perlu me-reformulasi bisnis Anda, apapun bisnis Anda saat ini. Karena bila Anda saja tidak paham mengapa customer mesti beli produk/jasa Anda, apalagi customer ?

Even almarhum Steve Jobs, selalu berorientasi pada “WHY”, itulah mengapa produk Apple hampir selalu sukses di pasaran. Mereka selalu berusaha memahami “WHY” customer mesti pilih Apple – dengan harganya yang lebih premium – dibandingkan produk sejenis lainnya. Dan “WHY” ini pulalah yang membuat Microsoft kini hampir ada di setiap meja kerja, atau Starbucks menjadi gerai kopi dengan Brand terkuat di dunia.

Dan melalui artikel ini, saya berharap, agar para rekan entrepreneur menjadi lebih kreatif dalam menciptakan suatu produk/jasa. Temukan dulu alasan yang kuat “mengapa” customer mesti memakai produk/jasa yang Anda tawarkan. Jangan membuat resto chinese food hanya karena Anda bisa masak chinese food, karena customer sama sekali tidak peduli hal tersebut. Jangan juga menjual baju secara online hanya karena Anda butuh uang tambahan, karena –sekali lagi- customer tidak peduli Anda butuh seberapa banyak uang. Customer hanya peduli pada “keuntungan apa yang bisa saya dapatkan dari membeli produk/jasa tersebut”, karena itu, fokuslah pada hal tersebut sebelum Anda bertanya “bagaimana caranya ?” atau “apa ya kira2 produknya ?”.

So, saat Anda memulai sebuah bisnis, mulailah dari berpikir layaknya seorang customer, dan pahamilah secara mendalam apa yang mereka butuhkan, dan jadikan bisnis Anda sebagai solusi bagi kebutuhan mereka.

Dan berikut ada video dari sisi yang lain, tentang sekuat apakah efek WHY dalam sebuah bisnis :

Sekian dulu dari saya, semoga artikel ini dapat membantu Anda untuk menciptakan bisnis2 yang kreatif !

Mari kita sama2 membuat Indonesia menjadi lebih kompetitif dalam menghadapi MEA (Masyarakat Ekonomi ASEAN) yang akan datang akhir tahun ini !! Salam Sukses !!

 

Profile Kontributor Subforum Entrepreneur Corner: Chandra Liang

Chandra Liang
SUMBER : http://www.kaskus.co.id

WASPADALAH ! 3 Hal penghambat bisnis Anda mungkin ada dalam diri Anda


WASPADALAH ! 3 Hal penghambat bisnis Anda mungkin ada dalam diri Anda

WASPADALAH ! 3 Hal penghambat bisnis Anda mungkin ada dalam diri Anda

Mengobrol adalah hobi umum para pebisnis, karena dari obrolan-lah kita bisa mendapatkan banyak informasi, dan dari obrolan pula biasanya kita tercetus suatu ide bagus. Namun hati-hati, hasilnya bisa jauh berbeda, tergantung dengan siapa Anda mengobrol. Bila kita mengobrol dengan orang negatif, tentu akan membuat kita ikut menjadi negatif, begitu pula bila kita mengobrol dengan orang yang positif dan enerjik, maka kita pun akan merasa jauh lebih positif dan semangat.

Nah, yang paling menyebalkan adalah bila kita mengobrol dengan orang yang whiny dan blaming. Whiny dalam bahasa Indonesia disebut juga dengan cengeng (sedangkan whining berarti merengek – seperti anak kecil), dan blaming adalah selalu mencari kambing hitam. Dan menariknya, ini adalah penyakit akut para UKM, banyak sekali UKM yang terjebak selamanya menjadi UKM (usahanya tidak pernah besar – atau bahkan tutup) karena mental WHINY dan BLAMING ini. Lucunya juga, whiny dan blaming ini sebegitu dicintainya oleh kebanyakan orang, sampai2 (mungkin) saat tulisan ini dibaca oleh orang bermental whiny dan blaming pun, maka orang tersebut akan menggerutu dan menyalahkan saya (another blaming)..he he..

WASPADALAH ! 3 Hal penghambat bisnis Anda mungkin ada dalam diri Anda

Tapi gak papa dech, semoga sebagian orang sadar melalui tulisan saya ini, adalah FAKTA bahwa WHINING dan BLAMING TIDAK AKAN PERNAH MENCARIKAN SOLUSI UNTUK BISNIS ANDA. Sebanyak apapun Anda mengeluh, dan sebanyak apapun Anda menyalahkan orang lain, Anda hanya akan menjadi “haters”, dan kebencian akan terus semakin membesar di dalam hati Anda, lalu tanpa sadar bisnis Anda akan tutup karena Anda tidak pernah mengoreksi diri atau pun mencari solusi, hanya terus “keasikan” menyalahkan keadaan. Dan saya tegaskan, bahwa saya pernah merasakan hal itu, karena itu saya SANGAT TAHU bagaimana rasanya menjadi whiner, blamer, dan hater, dan itu sama sekali TIDAK menolong hidup saya.

Saya ceritakan secara singkat di sini. Pada tahun 2001, bisnis almarhum Papa saya collapse karena Papa saya ada salah dalam langkah bisnis, dan saudara saya sendiri malah mengambil kesempatan tersebut dengan memakan bisnis Papa saya yang sudah berjalan. Alhasil sejak hari itu, setiap hari keadaan keluarga kami selalu “panas” karena Papa saya berusaha mempertahankan bisnisnya dengan keadaan terlilit hutang yang sangat besar. Dan saya sendiri, yang saat itu masih remaja SMA, tiba2 kehilangan masa2 remaja yang seharusnya menyenangkan. Saya menjadi seseorang yang minder, karena saya sekolah di sekolah orang berada, sedangkan saya begitu miskin dan selalu dipusingkan oleh keadaan keuangan keluarga.

Begitu pula di masa kuliah, saya sempat dihina oleh mantan pacar saya (yang langsung saya putusin..he he..), dan saya pun putus kuliah karena saya tahu biaya kuliah akan semakin memberatkan keadaan keluarga. Kakek saya pun jadi korban, beliau stres berat karena keributan keluarga, dan terkena kanker, lalu meninggal dalam waktu 3 bulan setelah didiagnosa kanker tersebut. Selama 6 tahun (sampai tahun 2007), saya menjadi whiner, blamer, dan hater. Saya begitu membenci keadaan saya, saya juga benci saudara saya, bahkan saya sampai benci juga keadaan Indonesia dan pemerintah saat itu. Oya, saya juga sangat iri dan benci orang kaya, karena saat itu saya berpikir bahwa semua orang kaya pasti pelit dan menyebalkan.

Tanpa berlama2 dengan cerita tersebut (yang kalau saya ceritakan secara detail bisa menjadi sebuah novel), intinya yang ingin saya sampaikan adalah : selama bertahun2 menjadi whiner, blamer, dan hater, saya SAMA SEKALI TIDAK MENGALAMI KEMAJUAN, YANG ADA KEADAAN KELUARGA KAMI TERUS SEMAKIN TERPURUK. Dan TIDAK ADA YANG MENOLONG KAMI. Ternyata, penolong pun tidak datang menolong selama kita bersikap layaknya sampah.

Singkat cerita, saya bertekad mengubah hidup saya menjadi orang positif sejak tahun 2007. Dan saya langsung ACTION dengan membuka bisnis pertama saya. Lalu, apakah hidup saya langsung berubah ? YA TENTU tidak se-miracle itu kejadiannya..he he..

Proses menjadi manusia positif pun mengalami banyak sekali cobaan, sampai di tahun 2010-2011 saya hampir kehilangan segala hal, yang tersisa hanyalah 1 orang yang selalu setia mendukung saya (yaitu orang yang menjadi istri saya saat ini). Keadaan keluarga kami benar2 carut marut karena kami mesti merelakan rumah yang telah kami tinggali selama belasan tahun, Papa saya divonis terkena kanker, dan bisnis saya ditipu oleh teman dekat sendiri. Namun di tahun tersebut pula, saya percaya, bahwa saat saya sudah dijatuhkan ke level paling bawah, dan saya masih kuat (tidak pecah), maka layaknya bola karet yang lentur, saya akan terbang tinggi setinggi2nya mencapai level paling atas. Dan kepercayaan tersebut, berbuah menjadi Esprecielo Group, yang lahir di tahun yang sama, di mana saat itu saya mengalami sisi tergelap sepanjang hidup saya.

Ya, saya telah mengalaminya sendiri. Menjadi whiner, blamer, dan hater memang sangat nyaman, karena kita dengan mudahnya bisa menyalahkan keadaan atau orang lain, tanpa perlu mengoreksi diri sendiri. Kita akan beranggapan bahwa diri kita selalu benar, dan kita sial karena ulah orang lain (biasanya yang paling sering disalahkan sich pemerintah atau keadaan ekonomi). Kita begitu nyamannya menyalahkan pihak lain, sampai kita terlena dan LUPA mencari solusi. Kita terlalu keasikan mencari teman yang mengalami hal serupa, tanpa sadar bahwa “teman senasib” saja tidaklah menjadi solusi.

Dan kalau kita semua sudah sadar sesadar-sadarnya bahwa menjadi whiner, blamer, dan hater malah akan semakin menjerumuskan kita, lalu untuk apa kita masih melanjutkannya ? Marilah kita bersama-sama renungkan kembali, dan kesampingkanlah para kambing hitam tersebut. Marilah kita tarik nafas dalam2, dan carilah solusi yang terbaik, yang bisa memperbaiki kinerja bisnis kita. Karena pebisnis hebat adalah pebisnis yang bisa terus survive dan mengalami pertumbuhan dalam keadaan apapun, bukan pebisnis yang survive hanya karena “kebetulan” tertolong keadaan.

Perlu juga dicatat serta diingat baik-baik, bahwa usaha saya betul-betul mulai berbuah hasil setelah saya menghilangkan kebencian ke saudara saya yang menipu alm Papa saya di tahun 2001. Bahkan kami kemarin sempat ngopi bareng satu meja sambil ngobrol2, tanpa mengungkit2 lagi kejadian masa lalu. Sekarang keadaan beliau juga sedang fight untuk berjuang karena mengalami banyak masalah di bisnisnya, dan instead of bersyukur karena beliau sedang kesusahan, saya lebih merasa kasihan dan lebih ingin berusaha menghiburnya.

So, saya telah membuktikannya, bahwa perusak hidup keluarga saya selama belasan tahun pun sudah saya maafkan sepenuhnya. Masihkah Anda membenci seseorang atau keadaan atau pemerintah ? Bila ya, silahkan Anda renungkan kembali, apakah kebencian tersebut ada gunanya.

Salam Sukses ! Dan semoga tulisan ini membantu hidup Anda menjadi lebih baik !

 

Profile Kontributor Subforum Entrepreneur Corner: Chandra Liang

Chandra Liang
SUMBER : http://www.kaskus.co.id

HATI-HATI !!! Bedakan antara Bisnis, Spekulasi, dan Investasi !!


HATI-HATI !!! Bedakan antara Bisnis, Spekulasi, dan Investasi !!

“Punya uang 100 juta, pengen return 10 juta/bulan, enaknya bisnis apa ya ?”
“Hanya dengan Investasi 30 juta, dapatkan keuntungan 6 juta/bulan melalui bisnis cappuccino cingcau ini !”
Pertanyaan dan pernyataan tersebut seringkali kita lihat di kaskus, atau kadang di banner2 bisnis franchise abal-abal. Semenjak naiknya tingkat penghasilan rata2 (GDP) masyarakat di Indonesia, orang memang memegang uang lebih banyak, dan mulai ingin melakukan investasi dan memiliki aset. Hal ini tentunya sangat baik, namun kita mesti lebih berhati2, karena di masa transisi seperti inilah para serigala licik mencium “bau uang” dan sebisa mungkin ingin memanfaatkan kesempatan yang ada.

Saya yakin di sini banyak orang yang sudah mengerti tentang bedanya bisnis, spekulasi, dan investasi. Bahkan banyak di antara teman2 sekalian sudah jadi investor kawakan, dan yang ingin saya bahas di sini bukanlah pendalaman tentang dunia investasi itu sendiri, karena saya sendiri pun jauh lebih mengerti seluk beluk bisnis daripada investasi. Yang ingin saya bahas di sini adalah bagaimana kita mesti berhati2 dalam membedakan mana yang bisnis, mana yang spekulasi, dan mana yang investasi.

Saat Anda bertanya “Punya uang 100 juta, pengen return 10 juta/bulan, enaknya bisnis apa ya ?”, to be honest sebaiknya Anda janganlah membuka bisnis. Bisnis sifatnya tidak seperti itu, bisnis bukanlah bicara tentang kepastian. Dan bisnis2 yang menjanjikan kepastian, biasanya hanya bisnis ngibul, atau bisnis yang belum matang konsepnya (asal coret2 di atas kertas dan SECARA TEORI akan menguntungkan) alias masih bersifat spekulatif. Dan perlu saya TEGASKAN di sini, bahwa bisnis2 seperti ini hampir tidak pernah berhasil, bahkan (Alm) Ayah saya habis bisnis utamanya karena tergiur oleh bisnis2 yang bersifat spekulatif seperti ini.

Dan bisnis2 tipe ini, biasanya menjanjikan angin surga yang luar biasa, dengan return yang tidak masuk akal, dan biasa korbannya adalah orang2 yang tidak punya banyak pengalaman dalam hal bisnis di bidang tersebut. Yes, ini biasa disebut spekulasi, yang dibungkus dengan embel2 “bisnis”. Mengapa disebut spekulasi ? Tentunya, karena iming2nya biasanya berjumlah besar, namun resikonya pun besar sekali, dan biasanya resikonya tersebut ditutup2i dengan iming2 manis sehingga kebanyakan orang tergiur.

Ciri2nya ? Gampang, pastinya isinya angin surga, dan orang yang menawarkan biasanya juga penuh dengan antusias bahwa bisnis ini sudah ada marketnya, hanya tinggal disuntik dana PASTI langsung jalan. Bidangnya bisa berupa apa saja, namun yang paling sering biasanya berkaitan dengan hasil bumi, baik itu pertambangan, perkebunan, ataupun hasil2 bumi lainnya.

Apakah bisnis2 spekulasi ini pasti selalu gagal ? Tidak juga, tentu ada saja yang berhasil. Namun tentunya persentasenya kecil sekali. So, bila masih ingin tetap invest di bisnis2 tipe ini, pelajari dulu dengan baik data yang ada, pastikan Anda at least mengerti detail bidang yang dijalankan, lihatlah dulu kondisi lapangannya seperti apa, dan siapkan hati bahwa uang tersebut besar kemungkinannya akan hilang (siap akan resiko yang dihadapi).
Sebagai tambahan, Anda juga mesti berhati2, karena bisnis tipe ini sering juga dikemas layaknya investasi dengan tingkat return yang pasti (serta cukup besar). Dan hasilnya, tentunya, seringkali terjadi dana macet di tengah2.

Bagaimana dengan investasi yang asli ? Investasi yang sesungguhnya, sebenarnya resikonya jauh lebih terukur. Namanya investasi, tentunya selalu ada resikonya. Namun resiko tersebut sifatnya lebih terukur, dan tingkat return-nya pun lebih kecil dan bertahap. Ada kalanya returnnya cukup tinggi, namun itu hanya terjadi pada situasi luar biasa. Mengenai Investasi ini, saya tidak akan bicara terlalu banyak, karena memang bukan bidang keahlian saya. Untuk lebih lengkap mengenal hal ini silahkan baca Thread yang sudah tersedia di Forum ini sejak lama :
http://www.kaskus.co.id/post/0000000…00000032745502

Bagaimana dengan bisnis itu sendiri ? Nah, inilah point menariknya. Bisnis sifatnya berbeda. Bisnis tidak hanya melulu bicara soal uang. Bisnis adalah sesuatu yang tidak berbentuk, seperti layaknya air. Dalam bisnis, kita tidak bisa mengukur resikonya secara pasti, namun kita bisa mengelola resiko tersebut dengan sebaik mungkin. Yup, dalam bisnis, resiko yang dikelola dengan baik bahkan bisa jadi peluang yang bagus.

Tahun 2008, dengan modal seadanya (hanya 350rb rupiah + modal kepercayaan), saya membuat konsep “Online Coffee Outlet” di Kaskus dengan nama Sarang Kopi. Saat itu, beberapa teman saya bilang “Mana laku jualan kopi via kaskus ?”. Dan buktinya, dengan konsep yang baik dan pengelolaan yang benar, dalam 2 tahun, bisnis online coffee outlet tersebut sukses menjadi bisnis dengan omzet 60 jutaan per bulan di tahun 2010, sebelum akhirnya saya berikan bisnis tersebut ke teman saya karena saya sudah berkomitmen untuk membangun Brand Esprecielo menjadi World Brand yang besar dan hebat.

Dan di pertengahan tahun 2010 tersebut, saya pun melakukan langkah “gila” yang penuh resiko. Bisnis Sarang Kopi yang sudah jalan dan menghasilkan passive income cukup besar untuk saya, saya berikan secara cuma2 ke teman saya, sedangkan saya sendiri hanya melanjutkan menjadi penyalur (alias menjadi distributor) dari barang2 yang saya jual tersebut. Alhasil penghasilan saya hanya sekitar tinggal separuhnya, padahal saat itu keadaan ekonomi keluarga kami sedang sangat sulit, rumah keluarga saya sedang terancam disita bank karena besarnya hutang Almarhum Papa saya pada saat itu (efek ditipu oleh teman sendiri)

Namun sekali lagi, resiko yang besar tersebut saya kelola menjadi peluang yang lebih besar. Esprecielo, yang dimulai dari garasi rumah partner saya, dengan investasi hanya puluhan juta rupiah dan omzet awal hanya 9juta/bulan, kini telah menjadi bisnis dengan omzet 1.5 M / bulan, dan sedang dikembangkan terus agar bisa menjadi ratusan bahkan ribuan kali lipat dari pencapaiaan yang ada saat ini. Itu adalah keputusan yang berat, dengan resiko yang sangat berat. Namun ingat, bisnis adalah tentang bagaimana kita mengelola resiko menjadi PELUANG.

Di contoh 2 momen yang pernah saya alami tersebut, bila saja saya tidak berani dalam mengambil resiko, tentunya hidup saya saat ini masih begini2 saja. Yes, resiko memang selalu ada, namun dalam bisnis, kita bisa mengelolanya. Dan jangan lupa, saat kita mengambil resiko tersebut, kita mesti memiliki goal dan dreams yang tepat terlebih dahulu. Matangkan dulu konsepnya, pelajari dulu marketnya, barulah kita ACTION. Dan sekali ACTION, lakukan terus tanpa rasa ragu atau gentar, hajar sebisanya dengan segala usaha dan upaya, serta lakukan yang terbaik.

So, bisnis sekecil apapun, bisa menjadi bisnis raksasa dan korporasi bila dikelola dengan baik. Sebaliknya, bisnis sebesar apapun, bisa saja runtuh bila pengelolaannya salah dan manajemennya tidak mampu beradaptasi. Karena itu, bagi Anda yang sekedar ingin “penghasilan tambahan”, berdagang mungkin lebih tepat untuk Anda. Karena dalam bisnis, kita tidak hanya memikirkan “jual dan beli”.

Bisnis mesti dikelola dengan mental yang siap, dan mindset yang tepat. Banyak sekali faktor yang menentukan apakah bisnis tersebut akan berhasil / tidak, dan sayangnya, tidak ada rumus pastinya. Namun yang pasti, saat Anda ingin memulai bisnis,tetapkan dulu tujuan (goal) Anda, persiapkanlah segalanya sebaik mungkin, dan pahamilah resiko2 yang ada, sehingga Anda bisa mengelola resiko tersebut dengan baik, dan menjadikannya sebagai PELUANG.

Salam Sukses untuk kita semua !

Kind Regards,

Profile Kontributor Subforum Entrepreneur Corner: Chandra Liang

Chandra Liang
SUMBER : http://www.kaskus.co.id