Archives

Simat Kader PKS


Simat Kader PKS

Jika Anda kader PKS, maka mulailah berkaca diri. Setidaknya magut-magut di depan cermin untuk memperhatikan secara seksama apakah ciri-ciri dzahir kader PKS sudah ada pada diri Anda. Setidaknya ada 5 ciri dzahir kader PKS yang disampaikan oleh Ust. Qodar Slamet dari BPK DPP yang kemarin sempat memberikan taujihnya di BAPELKES Makassar:

Ciri pertama, Simple (sederhana).
Artinya, kader PKS dalam menjelaskan pemikirannya (fikrah), ide dan gagasannya selalu sederhana. Tidak jelimet dan rumit. Menjelaskan Islam dengan sederhana. Tidak perlu menggunakan filsafat dan logika yang panjang, berbelit-belit, bertele-tele, namun kabur makna. Simple! Menjelsakan platform dan tahapan perjuangannya juga dengan simple. Memahami politik juga dengan simple. Tidak dikabur-kaburkan apalagi membohongi. Bahkan sesuatu yang rumit untuk dicerna, diolah sedemikian rupa sehingga ketika dibawa ke tengah masyarakat semuanya menjadi simple. Oleh karena itu kader PKS yang sesungguhnya mudah bergaul dengan siapa saja, kapan saja dan dimana saja. Tidak pandang status sosial, pekerjaan, pendidikan, ideologi, apalagi agama. Simple!
Lawan simple adalah rumit. Sesuatu yang sederhana selalu dibuat rumit. Sesuatu yang mudah selalu dibuat sulit. Islam dipahami dengan begitu rumit, hingga orang putus asa untuk mampu memahaminya. Bahasanya tinggi, tak terjangkau oleh orang biasa-biasa saja. Politik di pahami dengan sangat rumit. Apalagi integrasi politik dan dakwah, menjadi maha rumit, sangking rumitnya tak bisa dijelaskan kepada orang biasa-biasa. Bahkan mungkin, saking rumitnya hingga memang tak bisa dijelaskan dengan bahasa manusia. Na’udzu billah…

Ciri kedua, Ash-Shalah.
Artinya, kader PKS senantiasa memperhatikan shalat. Bukan hanya kewajiban menjalankan atau tidak, tetapi memperhatikan seluruh unsur keutamaannya. Oleh karena itu kader PKS adalah mereka yang menjaga shalat berjamaahnya di Masjid, bukan di luar Masjid. Hanya udzur syar’i (hujan atau sakit) yang betul-betul mampu menghalangi kemauan kader PKS untuk meluncur ke Majid saat adzan telah dikumandangkan. Dan indikator utamanya adalah shalat Subuh. Sebab shalat Subuh inilah indikator keimanan atau kemunafikan seorang muslim menurut Rasulullah Saw.

Ciri ketiga, At-Tilawah (Tilawatil Qur’an).
Artinya, kader PKS senantiasa bersama Al-Qur’an dalam setiap jengkal hidupnya. Selalu ada mushaf menemani langkahnya. Dan pada setiap waktu yang senggang, tak peduli dimanapun, kader PKS selalu tilawah. Al-Qur’an begitu dicintainya, hingga ia ada di sakunya, di HP-nya, di Laptopnya, di PC-nya, bahkan di blognya. Subhanallah!
Demi Al-Qur’an, kader PKS meninggalkan perbuatan sia-sia, seperti: Bercengkrama ngolor-ngidul nda’ ada temanya (apalagi ngomongin ikhwan atawa akhwat ter keren sa’ jagad raya), kongkow-kongkow di sekretariat sambil ketawa-ketiwi sampai ashma, mainin FIFA 2009 sampe jam 3 subuh (nah siapa itu ya?), atau nonton film-film terbaru tiga kali sehari (kayak minum obat saja). Semua itu ditinggalkan demi kekasih tercinta, Al-Quranul Kariim…

Ciri keempat, Al-Jundiyah (militan).
Ciri militansi adalah “kami dengar, kami laksanakan” (sami’na wa atha’na), itulah ciri kader PKS. Militansi pertama adalah militnasi pada perintah Allah, yaitu bersegera melaksanakan perintah-perintah Allah SWT, baik yang di dengarkan dari Al-Qur’an maupun dari hadits-hadits Nabi. Tidak terbiasa menunda-nunda melakukan kebaikan yang diperintahkan oleh Allah dan Rasul-Nya. Sebab bagi kader PKS, hidup adalah hari ini, dan esok adalah sesuatu yang tidak pasti.
Militansi kedua adalah miltansi pada perintah qiyadah. Seberat apa pun atau sesepele apapun perintah itu. Entah itu perintah membuka medan da’wah baru di pulau antah berantah, atau hanya sekedar menjadi tukang sapu-sapu di markaz da’wah, semuanya dilaksanakan dalam ketaatan. Baik dalam lapang, maupun dalam sempit. Baik dikala senang, maupun dikala susah. Dalam keadaan apa pun, kader PKS senantiasa amanah dengan perintah yang telah diberikan padanya. Tak peduli qiyadahnya berusia sangat muda, yang pengalamnnya masih sebiji jagung, apalagi tergolong yunior dalam masa tarbiyah, jika dia adalah qiyadah, maka kader PKS siap melaksanakan amanahnya…

Ciri kelima, Al-Akhlaq.
Artinya salah satu cara mengenali kader PKS adalah pada akhlaknya. Mereka memiliki akhlak dan perangai yang unik, sopan, santun, murah senyum, rendah hati, suka menolong, berkata lembut, penyayang dan sebagainya. Kumpulan akhlakul karimah itu terpancar dari hati mereka yang bening oleh dzikir, pikiran mereka yang jernih oleh tarbiyah. Mereka tak rela melihat tetangga krelaparan. Merek tak tega melihat orang lain kesusahan. Mereka begitu hilm, dan air mata mereka mudah menetes oleh fenomena hidup yang beraneka warna.
Mereka begitu menghargai dan menghormati siapa saja, bahkan terhadap yang membencinya sekalipun. Dari mulut mereka senantiasa mengalir kata-kata yang menggugah, kalimat-kalimat penuh kasih sayang. Kader PKS anti kekerasan, sampai kapan pun. Tangan mereka begitu ringan untuk menolong siapa pun. Karena itu mereka mudah di temukan di setiap lokasi bencana. Mereka selalu berada di garis depan membantu mereka yang dirundung musibah. Dan mereka tidak suka hanya banyak bicara, mereka cinta pada kerja nyata.
Nah, bagi yang merasa kader PKS dan membaca tulisan ini. Marilah sejenak kita mengukur diri, sudahkah da’wah ini kita jiwai. Jika belum, masih ada waktu untuk memperbaiki diri. Jangan sampai, da’wah yang begitu indah ini menjadi rusak hanya oleh karena tampilan zhahir kita tak pernah sejalan dengan pesan yang dakwah ini inginkan. Mari benahi diri Akhi, Ukhti, agar da’wah ini merambah ke dalam hati dan jiwa-jiwa ummat yang sedang mencari jati diri.
Dan tulisan ini, ku tulis untuk diriku sendiri, untuk jadi cemeti, agar hari-hari esok aku bisa lebih baik lagi, Amin…

Copas 😉 dari Group IHIMA

Advertisements

Al Fahm


Al Fahm: untukmu kader dakwah (1)

(taujih Ust. Rahmat Abdullah, dalam buku untukmu kader dakwah )

____________________________________________________

 Al Fahm: untukmu kader dakwah (1)

Tak ada perintah meminta tambahan seperti perintah meminta tambahan. Bahkan perintah itu diarahkan kepada Rasul pilihan Saw. Dan katakanlah: ya Rabbi, tambahkan daku ilmu (QS. 20:114). Bagi Ashabul Kahfi, sesudah iman tambahan ni’mat berupa Huda (petunjuk) itu pada hakikatnya juga ilmu.

Kecuali efek kesombongan yang sebenarnya bukan anak kandung ilmu, seluruh dampak ilmu adalah kebajikan. Bukanpun ketika seseorang terlanjur salah jalan, ilmu mengambil peran pelurus. Ia selalu jujur, asal si empunya mau jujur. “lewat beberapa masa, aku menuntut ilmu dengan motivasi yang salah, tetapi sang Ilmu tidak mau dituntut kecuali karena Allah,” kata Al Ghazali,

Tentu saja seseorang tidak harus mengumpulkan ilmu sebagai kolektor tanpa komitmen amal, karena hal seperti dapat dilakukan oleh hard disc, diskette, pita perekam atau mata pensil. Bagaimana ilmu menjadi serangkaian informasi yang mengantarkan penuntutnya kepada kearifan, itulah soal besar yang menjadi batu ujian para ulama. “Sesungguhnya yang takut kepada Allah diantara para hamba-Nya yaitu ulama” (QS. 35:28)

Dengan melihat hubungan dan kedudukan ilmu, nyatalah bahwa yang dimaksud dengan ilmu dan kemuliaan itulah ilmu nafi’ (ilmu yang bermanfaat). Karena itulah, maka seluruh kata ilmu (dalam Al-Qur’an & Hadist) maksudnya ilmu nafi’ , menurut Ibnu Athaillah. Selebihnya ia menjadi beban tanggungjawab dan penyesalan, karena berhenti pada jidal (debat), mubahah (kebanggan) dan alat menarik keuntungan dunia.

Ilmu selalu membuat si empunya semakin rendah hati, sensitif dan sungguh-sungguh.

 

Pemeliharaan Tradisi Keilmuan

Betapapun hebatnya perusakan yang dilakukan pasukan tartaran terhadap kitab-kitab para ulama, itu menjadi tak berarti disbanding apa yang berkembang didunia keilmuan. Darah daging ilmu telah membekas dihati para ulama. Seorang iman pergi musafir berbulan-bulan “hanya” untuk mencari hadist singkat. Seorang ulama produktif menulis di penghujung malam dan esoknya juru salin baru dapat menyelesaikan transkripnya dalam waktu 10 jam.

Tradisi keilmuan juga menyangkut etika pergaulan. Hampir tak ditemukan ulama yang dating kepintu sultan kecuali ia penjilat atau seorang yang sudah sampai ke tingkat ma’rifat yang tinggi. Seorang alim zuhud menghindari sultan dan orang-orang kayak arena takut fitnah dunia, semetara ulama yang arif billah (mengenal Allah) datang kepada raja, untuk menasehati dan mengingatkan mereka.

Harun Al Rasyid meminta Imam Malik untuk menziarahinya ‘agar anak-anak kami dapat mendeng kitab Al Muwattha” jelasnya. Dengan pasti ia menjawab : “Semoga Allah menjayakan Amirul Mukminin. Ilmu ini datang dari lingkungan kalian (Baitun NubuwahI). Jika kalian memuliakannya ia menjadi mulia dan jika kalian merendahkannya ia jadi hina. Ilmu harus didatangi, bukan mendatangi”

Ketika sultan menyuruh kedua puteranya datang ke masjid untuk mengaji bersama rakyat, Imam Malik mengatakan: “Dengan syarat mereka tak boleh melangkahi bahu jama’ah dan duduk diposisi mana saja yang terbuka untuk mereka.”

Sebagai Imam pembela sunnah yang sanga konsisten melaksanakannya, Imam Syafi’I sangat kokoh dalam argumentasi. Kepiawaiannya berdiskusi dilandasi keikhlasan yang luar buasa. “setiap kali aku berdebat dengan seseorang, selalu kuberharap Allah mengalirkan kebenaran dari mulutnya,” begitu ujar Imam Syafi’i.

Ilmu antara Tahu dan Mau

Apa kabar penghafal sekian banyak ayat, pelahap sekian banyak kitab dan pembahas sekian banyak qadhaya yang belum beranjak dari tataran tahu untuk bersiap menuju mau? Siapakah engkau, wahai pengendara yang menerobos larangan masuk kawasan berbahaya? Siapakah engkau yang diminta memilih antara madu dan racun, kurma dan bara, lalu dengan sadar melahap bara mencampakkan kurma, meneggak racun membuang madu? Alim, jahil atau sakitkah engkau? Siapakah gerangan engkau yang tiba-tiba menemukan diri berada disebuah tempat yang nyaman dan membuatmu tidak pernah berpikir untuk pergi karena tuan rumah tempat kau tinggal tak pernah menagih rekening listrik, buah dan sayuran, kolam renang dan landasan pesawat, menu dan lahan berburu. Kau menikmatinya berpuluh tahun, namun tak pernah bertanya: Siapa pemilik rumah ini? Apa kewajibanmu disana? Kemana lagi engkau sesudah ini?

Engkau yang telah menghabiskan seluruh usia untuk penjelajahan ilmu yang memberitahukan berapa miliar tahun umur dunia, bagaimana akurasi, peredaran bumi, matahari dan galaksi, ketepatan ekosistem dan karakter benda, lalu menuduh wahyu itu kuno, karena telah melewati masa seribu empat ratus tahun? Tak punyakah engkau segenggam rasa malu untuk pergi mencari planet lain yang lebih muda? Seandainya engkau jumpai yang lebih muda, sadarkah engkau bahwa itu bukan ciptaanmu? Siapakh engkau, wahai penjaga kebun anggur yang disuruh menghantarkan untaian anggur, lalu pergi dengan lagak seperti pemilik kebun dan tak mau kembali lagi, karena si pemabuk telah mempesonamu dengan kepandaian mengubah anggur menjadi arak? Engkau tak punya secuil kearifan ahli ilmu.

Ilmu dan Kelapangan Wawasan

Beberapa banyak pedang diperlukan untuk mengembalikan kaum khawarij yang memecah belah jama’ah (syaqqal asha)? Kaum ini sesat bukan karena tidak sholat, shaum atau jihad. Keras telapak tangan mereka dan menghitam dahi mereka lantaran sujud yang lama. Kurus badan mereka karena puasa yang intensif. Saat pedang merobek perut dan memburai usus mereka, melompat kalimat yang menakjubkan, ‘ku bersegera kepada Mu ya Rabbi agar engkau ridha’ (QS 20:84). Bahkan ketika rasulullah Saw ditanya tentang sifat mereka, beliau menjawab :”Kalian akan meremehkan shalat kalian membandingkan dengan shalat mereka dan shiam kalian disbanding dengan shiam mereka.” Fiqh (kedalaman ilmu dan keluasan wawasan) tak menggenapi kehidupan intelektual mereka. Tapi Ibnu Abbas ra cukup menggunakan ketajaman argumentasinya untuk mengembalikan 1/3 dari sekian puluh ribu kaum pemberontak khawarij. Oleh karena itulah kaum khawarij- dan aliran nyeleneh lainnya sepanjang zaman- selalu menghindari fuqaha yang mereka anggap selalu mematikan aspirasi mereka dan membenturkan mereka dengan tanda tanya yang musykil. Belum terjadi apa-apa ketika sesepuh kaum Nabi Nuh as mengusulkan agar dibangun tugu-tugu peringatan ditempat biasanya duduk tokoh-tokoh terhormat mereka; Wadda, Suwa, Yauq, Yaghuts dan Nasr. Barulah setelah generasi ini wafat dan ilmu telah dilupakan orang, maka tugu-tugu itupun mulai disembah.

Suatu hari Abu Hasan Asy Syadzili kedatangan rombongan tamu, para ulama dan fuqaha. Mereka sangat tersinggung ketika ia bertanya: “Apakah kalian orang –orang yang mendirikan shalat?” mereka menjawab: “Mungkinkah ‘fuqaha’ seperti kami tidak shalat?!” dengan tenang dilayang-layang pertanyaan yang membuat mereka tersipu-sipu: “Apakah kalian orang yang bebas gelisah, bila ditimpa musibah, tidak putus asa, dan bila mendapat nikmat menjadi bakhil?” (QS 70:19-23)

Mengapa ulama akherat tak pernah berkelahi dan ulama dunia tak putus-putus bertengkar? Karena akherat itu luas tak bertepi sedangkan dunia sangat sempit. Wajar bila ulama dunia saling bertabrakan.

Diantara karunia besar datangnya Rasul penutup, mata dunia dibuka dan era akal sehat dimulai, bebas dari mitos-mitos dan manipulasi orang-orang pintar (baca: licik) atas rakyat yang lugu dan setia. Inilah tonggak peralihan dari pengabdian manusia kepada sesame manusia menuju pengabdian hanya kepada Allah sahaja.

Mungkin kekhasan Islam dalam menghargai ilmu dan akal sehat, secara khusus Syaikh Alawi Al Maliki membuka Simthud Durar (untaian Mutiara), antologi sanjungannya kepada Rasulullah Saw dengan kekhususan ini:

Segala puji bagi Allah
Yang telah melebihkan kita
Dengan Musthafa Nabi Pilihan
Yang mengagungkan pendidikan

Al Ikhlas


Al Ikhlas (serial 2; Untukmu Kader Dakwah )

Al Ikhlas

Yang kami maksud dengan al ikhlas adalah:
Seluruh ucapan, perbuatan dan perjuangan seorang aktivis muslim selalu ditujukan dan dimaksudkan hanya kepada Allah Ta’ala saja, serta memohon ridha-Nya semata, juga kebaikan ganjaran-Nya. Tidak ingin mengharap imbalan apapun, baik berupa harta, tahta, martabat dan kedudukan, tanpa melihat maju mundurnya perkembangan dakwahnya.

Dengan demikian, ia telah menjadi seorang jundi (prajurit) baik secara intelektual maupun aqidah, bukan seorang jundi yang mencari imbalan dan manfaat, seperti yang difirmankan Allah SWT dalam Al –Qur’an :

“Katakanlah: “Sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam” (QS. Al-An’am:162).

Dengan demikian, seorang aktivis muslim selalu memahami doktrin “Allah tujuan kami” dan “Allah Maha Besar dan bagi-Nya segala puja dan puji”.

(Hasan Al Banna)

“tak akan sampai kepada Allah daging dan darah qurban itu akan tetapi yang akan sampai kepada-Nya ialah taqwa dari kamu” (QS. 22:37).
Banyak orang berharta dengan banyak hutang. Banyaklagi orang miskin dengan banyak hutang. Ada orang kaya amal dengan banyak tuntutan yang harus dilunasinya dihari pembalasan. Ada orang yang sangat sederhana dalam beramal, dengan ketulusan tiada tara. Pujian tak membuatnya bertambah gairah dan celaan tak menghambatnya dari meningkatkan amal kebajikan. Ia ada ditengah keramaian dan jiwanya sendiri menghadap Khaliqnya, tanpa berharap dan peduli terhadap penilaian manusia.
Tiga hal yang tak patut hati mu’min kering. 1. Ikhlas beramal karena Allah. 2. Tulus terhadap para pemimpin (dengan nasihat dan koreksi), 3. Setia kepada jama’ah Muslimin, karena do’a mereka meliput dari belakang mereka(HR. Ahmad, Ibnu Majah, Hakim, Abu Daud & Tirmidzi)
Banyak hal yang Nampak sederhana, tetapi terabaikan, sementara obsesi sering menjadi symbol kebersamaan yang tak pernah terwujud atau takkan pernah berwujud, karena para pendukungnya tak pernah memperjuangkannya dengan sungguh-sungguh, kecuali sebagai status.
Hasan Al Bashri mencurahkan kebeningan hatinya dizaman yang rasanya begitu perlu penjernihan: “Tak ada lagi yang tersisa dari kenikmatan hidup, kecuali tiga hal: 1 Saudara yang kau selalu dapatkan kebaikannya; bila engkau menyimpang ia akan meluruskanmu. 2. Shalat dalam keterhimpunan (Jasad, hati dan fikiran), kau terlindungi dari melupakannya dank au penuh meliput ganjarannya, 3. Cukuplah kebahagiaan hidup dicapai, bila kelak ia tak seorangpun punya celah menuntutmu dihari kiamat.”
Ketika seseorang berusaha keras untuk beramal, tanpa berfikir, apa keuntungan yang bakal didapatnya, ia disebut mukhlis, artinya orang yang menyerahkan amalnya kepada Allah dengan sepenuh hati tanpa pamrih duniawai. Pada saat ia mendapatkan dorongan beramal tanpa ingat apapun kecuali ridha Allah, ia menjadi mukhlas, artinya orang yang dijadikan mukhlis. Ada orang yang hanya dengan melihatnya, itu cukup membuatmu ingat kepada Allah, bicaranya cukup menambah amalmu dan amalnya cukup membuatmu rindu akherat.
  
Hati Tanpa Jelaga
Hati bening seorang alim penaka gelas Kristal yang bening dan bersih, akan memancarkan cahaya ilmunya.  Sementara ada orang yang detik demi detik tutur kata, karya dan kehadirannya menjerumuskan ke jurang sengsara
Sulit untuk mendapatkan hati yang bening dan amal yang ikhlas tanpa kejujuran. Kejujuran yang sering diartikan dengan sekedar bicara benar, ternyata lebih dari itu. Ia adalah kejujuran terhadap Al Khaliq. Ia adalah kejujuran terhadap bisikan hati nurani. Pada akhirnya bukti kebenaran itu akan Nampak dalam sikap kejujuran mereka kepada Allah atas semua janji yang mereka buat. “sedikitpun tidak mengubah pendirian mereka, apakah mereka itu gugur terlebih dahulu atau menunggu” (QS 33:23)
Hakekat Shidq bahwa engkau tetap jujur dalam berbagai kondisi (sulit dan bahaya), padahal engkau hanya dapat selamat dari hal tersebut hanya dengan berdusta, demikian prinsip Junaid Al Baghdadi. Tentu saja tidak boleh bertentangan dengan penghapusan hukuman dusta dalam kondisi penyelamatan saudar beriman dari kezhaliman orang lain, mendamaikan dua saudara yang berseteru dan dusta dalam taktik bertempur”.
Apa yang membuat orang sekaliber Bal’am bisa kehilangan integritas diri, hanyut dalan pusaran lumpur dunia? Ada konflik yang tak disadarinya; melawan kehendak Allah yang sangat berkuasa untuk mengangkatnya setinggi-tinggi, tetapi ia sendiri yang mengikuti grativikasi dunia dan hawa nafsu yang menahan laju jelajahnya kea lam tinggi (akhlada ilal ardl wat taba’a hawah) (QS: 7:176). Betapa mengerikan kemiskinan hati bia melanda kaum berilmu. Mereka merasa rendah diri karena dunia yang tak berpihak, berseberangan dengan posisi tinggi dan jauh dari kedudukan basah. Mungkin ia lupa, kemiskinan itu bukanlah dosa, walau tidak menyenangkan. Mungkin karena pentingnya mengenal profil biang kerok ini. Sampai-sampai Al Qur’an membuka kisahnya dengan “Bacakan kepada mereka” dan menutupnya dengan “maka ceritakan kisah-kisah ini, semoga mereka berfikir” (QS 7:175-176)
Orang-orang yang Ringkih Jiwa
Bal’am bin Baura, Walid bin Mughirah, dan Abdullah bin Ubay adalah profil kaum berilmu yang tak berfaham. Yang pertama, jelas-jelas berseberangan dengan Nabi Musa as dan perjuangannya, lalu bermanis-manis dengan kubangan dunia, Fir’aun. Adakah perbedaan yang cukup gelap antara fir’aunisme kemarin dan Fir’aunisme hari ini, yang membuat Bal’am-bal’am kontemporer membelanya mati-matian?
Adakah kedunguan yang melebihi kedunguan Walid yang diawal-awal laporan ilmiahnya tentang Al-Qur’an terang-terang menutup semua jalan bagi penolakan Al-Qur’an sebagai Kalam Allah? Kalau matera kita sudah tahu, kalau ucapan manusia kita sudah tidak asing, kalau puisi akulah pakarnya. Gemeretak gigi orang awam di Darun Nadwah rupanya lebih mengerikan baginya, sehingga di akhir presentasinya ia mengeluarkan konsklusi yang bertentangan dengan muqaddimah, “Al Qur’am adalah sihir, lihatlah ia sudah memisahkan anak dari orang tuanya dan budak dari tuanyya”sergahnya
Abdullah bin Ubay si batang balok yang tersandar (QS 63:4), menarik penampilannya dan manis mempesona tutur katanya. Kandidat pemimpin tertinggi Madinah pra hijrah ini yang telah berbunga-bunga hatinya melihat peluang besar menjadi lupa akan prinsip Al Fadlu liman shadaq (kemulian untuk yang jujur) dan terobsesi berat oleh pameo Al Fadlu liman sabaq (kemulian bagi yang lebih dahulu) berdasarkan makna senioritas, bukan kapasitas. Ia lupa bahwa sabaqiyah (senioritas) itu menjadi bermakna dengan shidiqiyah (ketulusan dan kejujuran). Tetapi penyakitnifaq merasukinya dan loyalitas tak dimilikinya. Yang ada hanya kepentingan dan kedengkian. Jadilah ia orang yang manis dimuka dan mengutuk dibelakang, beriman di mulut dan kafir dalam hati.
Pada ketiga tokoh ini sangat menonjol ambisi kekayaan, jabatan dan syuhrah(popularitas), tersurat ataupun tersirat. Dalam kamus mereka kehormatan tal lagi punya tempat dan kejujuran hanya impian orang-orang pander. Namun madzhab langka ini menjadi trend
Ikhlas dan Shidq
Mengagumkan bila dicermati hubungan ikhlas dan shidq. Ikhlasnya artinya menjaga diri dari perhatian makhluq dan shidq artinya menjaga dari perhatian nafsu. Seorang mukhlis tak puinya riya’ (pamer diri), demikian Abu Ali Ad Daqqaq mengurai.
Ka’ab bin Malik pantas mendapatkan bintang Shidq. Hukuman berat diterimanya dengan ikhlas. Ia sadar sedang berurusan dengan Allah, bukan dengan masyarakat yang sebenarnya sangat menghormatinya. Ia yakin Rasulullah Saw pasti akan percaya bila ia membuat-buat alas an absennya dari perang Tabuk. Tak kurang 50 hari berlalu dalam keterasingan yang berat. Kemana ia pergi tak seorangpun menyapa atau menjawab sapaannya. Raja Ghassan menawarkan suaka politik dan posisi dikerajaanya. Bagi Ka’ab, ini juga bala. Maka ia buktikan loyalitasnya dengan kejujuran yang mengagumkan (QS. 9.118)
Banyak ulama yang tak henti-hentinya mengkritik dan meluruskan pemerintah sementara sang amir tak pernah jemu memenjarakannya. Namun saat sang amir menggaungkan perintah jihad, mereka tampil didepan tanpa dendam pribadi. Jihad adalah ibadahku kepada Allah dan maksiat amir itu urusan amir dengan tuhannya. Kritik sudah kulancarkan. Demikian paradiqma para mukhlisin. Khalid bin Walid tegas menjawab pertanyaan heran, mengapa mau-maunya ia bertempur dibawah komando orang lain semetara ia dimakzulkan dari posisi panglima? Ia berjihad karena Allah, bukan karena Umar.
Betapa mengerikan keterasingan pengamal yang selalu saja dihantui apa kata orang. Sunyi terdampar digurun riya’, tersungkur dijurang ujub, segala ketakutan ada disana, kecuali takut kepada Allah.

 Al Amal


Al Amal (serial Untukmu kader Dakwah – 3)

 

 Al Amal

Yang kami inginkan dari al-amal adalah :

Buah dari ilmu dan ikhlas seperti yang disebutkan dalam Al Qur’an Karim: “Dan katakanlah : “Beramallah kalian, maka Allah dan Rasul-Nya serta orang-orang beriman akan melihat amal kalian itu, dan kalian akan dikembalikan kepada Allah yang mengetahui  akan yang ghaib dan yang nyata, lalu diberitahukan-Nya kepada kalian apa yang telah kalian amalkan” (QS At Taubah :105)

Adapun urut-urutan amalnya adalah :

  1. Mengoreksi dan memperbaiki diri
  2. Membentuk dan membina keluarga muslim
  3. Memberi petunjuk dan membimbing masyarakat dengan dakwah
  4. Membebaskan tanah air dari penguasa asing
  5. Memperbaiki pemerintahan
  6. Mengembalikan kepemimpinan dunia kepada ummat Islam
  7. Menjadi soko guru dunia dengan menyebarkan dakwah Islamiyah ke seluruh penjuru dunia

Banyak orang merasa telah beramal, tetapi tak ada buah apapun yang ia petik dari amalnya, baik itu perubahan fisik, kelembutan hati ataupun kearifan budi dan ketrampilan beramal. Bahkan tak sedikit diantara mereka beramal jahat tetapi mengira beramal baik. Karenanya Al-Qur’an selalu mengaitkan amal dengan keshalihan, jadilah amal shalih. Kata shalih tidak sekedar bermakna baik, karena untuk makna ini sudah tersedia istilah-istilah khusus, seperti hasan, khair, ma’ruf, birr(kebaikan) dan lain-lain. Sedangkan shalih adalah suatu pengertian tentang harmoni dan tanasuknya (keserasian) suatu beramal dengan sasaran, tuntunan, tuntutan dan daya dukung.amal disebut shalih bila pelakunya mengisi ruang dan waktu yang seharusnya diisi.

Seorang pendusta atau pengikar agama tidak selalu mengambil bentuk penghujat arogan terhadap agama itu. Ia dapat tampil sebagai pengamal yang dermawan atau bahkan pelaku shalat yang khusyu. Namun pada saat yang bersamaan Allah menyebut pendusta agama, karena ia menghardik si yatim dan tidak menganjurkan orang untuk member makan si miskin (QS 107:2-3) Allah telah mengajarkan kita bagaimana bersikap benar, bahkan kepada tetangga yang Yahudi atau Nasrani. Dakwah adalah kerja yang amat mulia, karenanya harus dilakukan dengan memenuhi dua syarat utama yaitu Al Ikhlas was shawab

Ikhlas karena dilakukan semata-mata untuk dan karena Allah. Shawab (benar) karena dilakukan berlandaskan sunnah Rasulullah Saw. Mungkin seseorang menampakkan dirinya berdakwah ke jalan Allah, tetapi ia telah berdakwah ke jalan dirinya, demikian catatan dan komentar syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab dalam Kitabut Tauhid dan Al Allamah Abdullah bin Alawi al Haddad dalam Ad Da’watut Taammah.

Betapa banyak amal menjadi berlipat ganda nilainya oleh niat yang baik dan itu tak akan terjadi bila pelakunya tak punya ilmu tentang hal tersebut. Dan demikian pula sebaliknya. Barangsiapa yang beramal tanpa melandasinya dengan ilmu, maka bahayanya akan lebih banyak daripada manfaatnya, sebagaimana amal tanpa niat jadinya anna (kelelahan) dan niat tanpa ikhlasnya jadinya habaa (debu-kesia-siaan) dan ikhlas tanpa tahqiq (realisasi) jadinya ghutsaa (buih)

Kita tak punya kekuatan apapun untuk melarang orang bekerja dalam lingkup amal Islami. Bahkan mereka yang menjalaninya dengan cara yang kita nilai merugikan perjuangan. Ya pada saatnya kita mendapat penyikapan salah dari masyarakat sebagai reaksi salah atas aksi salah yang dilakukan para aktivis Islami.Qadliyah (Problema) kaum Khawarij dan berbagai gerakan lainya menunjukan fenomena para pengamal, dari ikhlas minus fiqh, sampai yang oportunis dan pemafaat jargon.

Alkisah disuatu masa, seorang alim menyelamatkan seekor beruan yang terhimpit sebatang besar. Sebagai tanda terimakasihnya atas jasa sang syaikh, ia berikrar untuk menjadi pengawal yang setia. Dan memang ia buktikan itu. Suatu hari sang tuan tertidur kelelahan. Sesuai ikrarnya beruang menjaga tuannya dengan setia, agar tak mendapat bahaya atau gangguan. Yang menjengkelkannya yaitu lalat-lalat yang hinggap-pergi di wajah syaikh, membuat tidurnya tak nyaman. Ia angkat batu besar dan dihantamkannya ke seekor lalat yang hinggap didahi tuannya. Pecah kepalanya dan entah kemana larinya sang lalat jahanam itu.

Hama-hama Amal

Sebagaimana tumbuhan, amalpun terancam hama. Riya (beramal untuk dilihat), ujub (kagum diri), sum’ah (beramal untuk popular/didengar), mann(membangkit-bangkit pemberian) adalah hama yang akan memusnahkan amal. Seseorang aktivis yang berkorban dengan semua yang dimilikinya harus mengimunisasi amalnya agar disaat hari perjumpaan kelak tak kecewa karena amalnya menjadi haba-an mantsura (debu yang berterbangan)

mereka membangkit-bangkitkan kepadamu keislaman mereka (sebagai jasa). Katakanlah: janganlah kalian bangkit-bangkit keislaman kalian kepadaku, bahkan sesungguhnya Allah-lah yang telah member karunia besar kepadamu karena Ia telah membimbing kalian untuk beriman, jika kalian adalah orang-orang yang benar.” (qs 49:17)

Tidak serta merta rasa beban berat dalam beramal berubah menjadi kesukaan. Kata kuncinya terletak pada: pemaksaan, pembiasaan dan (akhirnya menjadi) irama hidup. Junaid albaghdadi mengatakan :”selama 40 tahun kusembah Allah, ditahun ke-40 itulah baru kutemukan lezatnya.”

Pelipatgandaan kualitas dan kuantitas kerja yang dilakukan para sahabat tidak dapat dikejar generasi manapun. Bayangkan, hanya dalam dua decade saja telah perubahan yang sangat mendasar pada pola sikap, pandangan hidup dan tradisi bangsa Arab dan bangsa-bangsa muslim lainnya. Kerja besar taghyir (perubahan) ini sukses seperti ungkapan Sayyid Quthb dalam maalim fit Thariq berkat komitmen mereka yang (1) menuntut ilmu bukan sekedar untuk mengoleksi ilmu, (2) putus dari jahiliyah kemarin dan menghayati hidup baru dalam Islam, tanpa keinginan sedikitpun untuk kembali ke kancah jahiliyah dan (3) bersiap siaga menunggu komandi Al –Qur’an seperti prajurit siap siaga menunggu aba-aba komandan.

Kerja Untuk Perubahan Masyarakat

Kecenderungan sufi murung, sudah Nampak sejak zaman Rasulullah Saw, namun selalu mendapat koreksi dari beliau. Suatu masa dalam suatu perjalanan pasukan kecil beliau, seorang mujahid terpesona oleh keindahan wahah (oase) ditengah padang pasir dengan rumpunan kurma, sebongkah lahan produktif dan sumber air yang cukup untuk seumur hidup.

Oh alangkah nikmatnya bila aku tinggal disni beribadah ke Madinah, sehingga aku bebas dari gangguan masyarakat atau mengganggu mereka. Rasulullah Saw segera mengoreksi: “Janganlah lakukan itu, karena kedudukan kalian dijalan Allah sehari saja, menandingi 70 tahun tinggal dan beribadah disini.”

Bahkan Imam Ali bin Abi Thalib ra mengecam para pengikutnya yang loyo dalam memperjuangkan kebenaran dan dan pendirian yang mereka yakini:

Oh alangkah mencengangkan keberanian

Mereka dalam melihat kebatilan

Dan lesu kalian dalam memperjuangkan hak

Oh ajaib nian ketika kalian jadi sasaran tembak

Kalian diserang dan tak balas menyerang

Allah ditentang dan kalian tenang

Hari ini ribuan surat kabar, radio dan televise dunia bekerja sama diberbagai kawasan untuk menyebar fasad (kerusakan). Menyedihkan nasib si miskin, yang mampu beli TV, tetapi tidak bisa makan. Hati mereka dibunuh sebelum jasad mereka dihancurkan senjata pamungkas. Kemana ribuan kader yang hanya menggerutu tanpa berbuat apapun kecuali gerutu? Apakah masyarakat depat berubah dengan gunjingan dari mimbar masjid? Hari ini rumah ummat kebakaran, tidakkah setiap orang patut memberi bantuan memadamkan api walaupun dengan segelas air; dengan pulsa perangko dan kertas surat yang dikirim kepada pedagang kerusakan dan menegaskan pengingkaran terhadap ulah mereka dengan siaran dan penerbitanfasad, sebelum mereka mengirim darah dan nyawa mereka kesana ketika usaha santun tak lagi membawa hasil?

Banyak usaha dilakukan. Sebagian menyentuh kulit tanpa isi. Sebagian memaksakan pekerjaan berpuluh tahun dalam waktu sekejap mata. Sebagian membangun symbol-simbol tanpa peduli subtansi dan tujuan untuk apa wahyu diturunkan. Mereka yang senantiasa tadabur Al Qur’an akan melihat keajaiban ungkapan. Ketika Allah mengisahkan kedunguan Ahli Kitab yang bangga dengan status zahir mereka, ia menyebutkan: “Mereka mengatakan, tak akan masuk syurga kecuali (yang berstatus) Yahudi atau Nasrani. Itulah angan-angan mereka”. Dan ketika Ia mengisahkan sikap keberagaman kaum beriman, disebut prestasi mereka: “Barangsiapa yang menyerahkan dirinya kepada Allah seraya berbuat Ihsan, maka baginya ganjarannya disisi Tuhannya dan tiada ketakuatan atas mereka, tiada pula mereka akan bersedih”. (QS Al Baqarah:111-112)

Banyak orang mengandalkan nisbah diri dengan nama besar suatu organisasi atau jama’ah berbangga dengan kepemimpinan tokoh perubah sejarah, namun saying mereka tidak meneladani keutamaan mereka. “Barang siapa lambat amalnya tidak akan cepat karena nasabnya” (HR Muslim)

Apa yang harus dikerjakan ?

Hanya pada saat kekikiran dituruti, hawa nafsu ditaati dan setiap orang kagum hanya kepada dirinya sendiri, maka ummat ini boleh mulai mendaftar koleksi orang-orang khassahnya dan meninggalkan awam yang tenggelam. Orang beramal dihari itu seperti 50 kali kerja kamu hari ini (HR Abu Dawud, Tirmidzi, Nasa’i)

Sebagai kerja dakwah memang kata, tetapi dapat dituding sebagai Cuma omong, seperti halnya penyiar dan reporter yang mengisi daftar profesi kerjanya dengan ngomong. Namun perlu dibedakan mana dakwah yang mencukupkan diri dan puas dengan member informasi seram kepada khalayak, atau meninabobokkan khalayak dengan mimpi-mimpi indah atau mengingatkan bahaya seraya member jalan keluar. Mampukah mereka tampil sebagai problem solver, ataukah cukup menjadi problem speaker, lalu peluang terbesarnya hanya jadi problem maker. Dan hari banyak juga orang kayak arena jadi problem trader.

 

AL JIHAD 


Al Jihad (serial Untukmu kader Dakwah -4 )

AL JIHAD

Yang kami maksud dengan Al Jihad adalah :

Suatu kewajiban yang masanya membentang (tak akan berhenti) sampai hari kiamat dan apa yang dikandung dari sabda Rasulullah Saw: “Barang siapa yang mati, sedangkan ia tidak berjuang atau minimal punya niat untuk berjuang, maka ia mati dalam keadaaan mati jahiliyah”

Adapun urutan yang paling bawah dari jihad adalah ingkar hati, dan yang paling tinggi adalah perang mengangkat senjata dijalan Allah. Sedangkan ditengah-tengah itu adalah jihad lisan, pena, tangan, berkata benar dihadapan penguasa tirani.

Dakwah tak akan hidup dan berkembang kecuali dengan jihad. Karena kedudukan dakwah yang begitu tinggi dan bentangannya yang luas  maka jihad merupakan jalan satu-satunya untuk menghantarkannya. Juga betapa besar pengorbanan dalam mengkokohkan dakwah itu dan apa yang akan diperoleh para pengemban dari pahala yang besar disisi Allah SWT. Firman Allah Ta’ala: “Dan berjihadlah dijalan Allah dengan sebenar-benarnya Jihad”. (QS. Al Hajj:78)

Dengan demikian anda sebagai aktivis dakwah tahu akan hakikat doktrin “Jihad adalah jalan kami”

___________________

Dari sedikit orang tahu, Said Hawwa rahimahullah adalah salah seorang yang mampu memberi tahu, bahwa pengertian fardhu kifayah yang harus dipahami secara benar, akurat dan sehat. Mengqiyaskan fardhu kifayah pada jihad dengan fardhu kifayah pada pengurusan jenazah, jelas tak dapat ditoleransi lagi. Walaupun salah kaprah ini telah menahun. Kifayah harus dikembalikan ke makna asli dan syar’i yaitu kadar  kecukupan. Bila tak cukup jumlah rakyat  Palestina, Ambon, Poso, Kashmir, Darsussalam Aceh, Chechnya, dan lainnya, memperjuangkan dirinya, maka batas cukup harus tagih dari kawasan dalam radius berikutnya, sampai benar-benar jumlah itu memadai alias kifayah.

Sedikit orang tahu bahwa dalam suatu hadits Rasulullah Saw menyebut dien itu adalah Jihad. “Bila kalian mulai tranksaksi dengan system ‘inah (tranksaksi menjurus/mengandung unsure riba), kalian memegangi ekor sapi, puas dengan bersibuk diladang dan kalian tinggalkan jihad, maka Allah akan timpakan kepada kalian kehinaan yang takkan dicabut-Nya sampai (kecuali jika) kalian kembali kepada agama kalian.”

Dan lebih sedikit yang ingat bahwa jihad adalah jalan paling tepat dan terhormat  untuk money laundry, saat uang sekotor dan sepanas apapun berubah menjadi Ghanimah. Dan Ghanimah hanya terjadi lewat aksi jihad qital. Menarik ungkapan Allah tentang balasan orang-orang yang mentaari Allah dan Rasul-Nya, khususnya dalam pilihan Jihad. Ia akan mendapat maghfirah keridhaan Allah dan rezeki yang mulia. (QS. Al Anfal: 4)

Maka sesungguhnya rezeki yang paling mulia , yaitu Jihad (Afdhalul Arzaq ta’ti min afdhalil a’maal). Ada air untuk mensucikan hadts dan Janabah. ada debu untuk menggantikannya. Ada tanah campuran air untuk membersihkan dosa-dosa kolektif, darah mukmin akan mensucikannya kepada seorang pendosa yang sepenuh hati bertaubat dan meninggalkan perbuatan dosanya, maka bagaimana orang yang bertaubat dengan mengorbankan nyawa dan darahnya, syahid dijalan-Nya?` Ia lebih berhak atas ampunan tersebut. Semoga Allah merahmati Abdullah Ibnu Mubarak dan Fudhail bin Iyadh. Hari-hari Ibnu Mubarak dalam setahun terbagi tiga: ta’lim, haji dan jihad. Suatu hari seperti kebiasannya setiap tahun berhaji dan membawa rombongan haji dengan biayanya sendiri, tiba-tiba ia membatalkan perjalanan haji karena ada perintah jihad. Dari jabhah (front) ia sempat bersurat kepada sahabatnya, Fudhail bin Iyadh, mantan gangster kejam yang bertaubat dan ‘abid (ahli ibadah).

jika kau lihat kami, wahai abid di Haramain

Kau tahu dalam ibadah kau Cuma bermain

Siapa yang membasahi pipinya dengan air mata

Leher kami dengan darah kami membasah

Atau melelahkan kudanya dalam sia-sia

Kuda-kuda kami telah lelah dipagi buta

Bau setanggi bagi kalian

Dan setanggi kami bau percikan

Kaki kuda dan debu-debu yang lebih wangi

Dengan suka hati, Fudhail menghadiahi pembawa surat itu sebuah Hadits yang ia riwayatkan sendiri tentang ketinggian derajat syahid yang tak tertebus kecuali seseorang dapat shalat (malam) seumur hidupnya tanpa tidur  dan berpuasa (sunnah) seumur hidupnya tanpa berbuka.

Tak ada yang menyamai-apalagi melebihi keutamaan iman kepada Allah dan hari akhir serta jihad di jalan-Nya, sekalipun oleh posisi terhormat siqayah (penjamu jama’ah haji di Masjid Haram) dan Imarah (memakmurkan) masjid Haram, seperti yang dibangga-banggakan sebagian kalangan Quraisy. Allah telah menetapkan mereka itu la yastawun (tidak sama) (QS. At Taubah : 19)

Mungkin orang yang dihatinya tak terdapat jihad memerangi kebathilan dan kekufuran, dapat berjihad secara terbuka, dengan lisan maupun dengan tangannya? Sebagian masyarakat di dunia Islam berada dalam tuntutan kondisi jihad lisan. Sementara lainnya sudah dalam kondisi jihad tangan (qital). Yang pertama dapat dilihat dalam unjuk rasa, tulisan-tulisan, orasi dan pengumpulan dana solidaritas dunia Islam (Palestina, Bosnia, Chechnya, Kosovo, Poso, Ambon, Maluku Utara, dan lainnya). Termasuk sikap belia Melayu  yang bergabung dalam  ABIM (Angkatan Belia Islam Malaysia) lebih dari 20 Tahun lalu, mengharamkan minuman ringan asal Amerika yang sudah merambah sampai ke desa-desa dan dikenal luas. Karena 1  % harga setiap kalengnya akan mengalir ke Tel Aviv dan pada saatnya menjadi peluru-peluru yang ganas dan tak bersahabat, bahkan terhadap bayi berumur 2 bulan sekalipun.

Hal yang sama Nampak pada fatwa-fatwa Dr. Qardhawi dan sebelumnya, pada doktrin ekonomi ummat Imam al Banna. Jauh beberapa abad sebelum ini Syaikh Izzudin bin Abdus Salam telah mengeluarkan fatwa yang tegas tentang jual beli tanah dan senjata kepada musuh ummat.

Kalau ada hadiah bagi kelompok ilmiah remaja, mestinya anak-anak Palestina tak patut dilewatkan. Betapa berjasanya para remaja itu kepada para borju Arab, lantara dengan cerdas mampu menjadikan kaleng Coca-cola dan Pepsi yang mungkin tak pernah mereka nikmati, sebagai kifarat dosa para peminum Arab atau dunia beradab lainnya, dengan mengisinya menjadi “coctai”. Dan hari-hari Palestina pun menghangat dengan pesta baru dan Molotov Coctail yang pasti tak sedahsyat TNT, tapi mampu menyulut ledakan semangat dunia tertindas untuk tegar menantang kepongahan imperialis modern.

Kerusakan di tubuh bangsa-bangsa bermula dari busuk dikepalanya, Posisi penentu arah dan perjalanan bangsa tak mungkin dibiarkan ditangan para penipu, perampok dan tengkulak. Penyelamatannya demi mayoritas tak berdaya dan mengembalikan hak kepada empunya adalah bagian bagian dari hak. Seseorang mungkin merasa telah berdakwah, padahal ia hanya sampai pada perbincangan dan pergunjingan masalah yang sudah diketahui umum. Ia baru jadi simpul emosi bersama dan penyuara keresahan masyarakat terbuang.

Sedikit yang sadar uang Rp. 1.000,- yang tak laku untuk semangkuk bakso atau es teller, tetap berguna untuk membeli beberapa lembar kertas surat dan perangko atau pulsa yang ditunjukan kepada stasiun kemaksiatan, kebohongan dan kesombongan baik di TV, radio, Majalah dan surat kabar.

Bila setiap hari dialog di media cetak dan elektronik direspon para belia yang bergairah dan redaksi menerima 1000 atau 2000 pucuk surat serta teguran telepon, dakwah ini menjadi subur dengan kader-kader yang tanggap, sigap dan tidak telmi. Para belia cepat berubah dari khalayak dungu yang emosional menjadi kader yang efisien dan efektif. Banyak orang yang tak malu telanjang didepan umum, memasarkan ajaran busuk. Banyak orang mati dalam tabrakan, tawuran bodoh yang sia-sia, mati tua, mati dalam maksiat dan narkoba. Siapa yang siap mati dengan cita rasa seni kematian yang tinggi: syahid di Jalan-Nya? Tanpa rasa sakit kecuali seperti satu kali sengatan (HR. Tirmidzi, Nasa’i , Ibn Majah & Ibn Hibban) dan sesudah itu hanya gerbang surga yang membentang?.

 At Tadhhiyah (pengorbanan)


At Tadhhiyah (serial Untukmu kader Dakwah -5 )

Yang kami maksud dengan At Tadhhiyah (pengorbanan) adalah :

Pengorbanan jiwa raga, harta dan waktu serta segala sesuatu dalam rangka mencapai tujuan. Dan tidak ada kata jihad didunia tanpa adanya rasa pengorbanan. Anda jangan merasa bahwa pengorbanan Anda akan hilang begitu saja demi meniti jalan fikrah kami ini. Tapi itu tak lain adalah sebuah ganjaran yang melimpah dan pahala  yang besar, barang siapa yang tak mau berkorban dengan kami maka ia berdosa. Karena AllahTa’ala telah menegaskan hal itu dalam banyak ayat Al Qur’an. Dengan memahami ini maka  anda akan memahami doktrin “Mati dijalan Allah adalah cita-cita kami tertinggi”

___________________________________________________

Ajruki’ala qadri nashabiki”

(ganjaranmu tergantung kadar lelahmu)

  1. Muslim dari Aisyah, ra

Kemauan Berkurban dan Sikap Jujur

Kemauan yang jujur akan terwujud dalam aplikasi yang berani menantang bahaya dan segala hambatan, seperti akar yang sehat menembus tanah yang keras dan bebatuan. Ketika kaum beriman dihadang berulang kali, yang muncul adalah keberanian dan keledzatan merespon tantangan. Dua kali berhasil dengan gemilang memukul mundur serangan kuffar Quraisy di Bandar dan Uhud dalam rentang waktu yang amat singkat . ternyata masih disusul dengan serangan sekutu yang tak seimbang (gabungan)  Yahudi, Quraisy, Gathafan dan Munafiqun). Mungkin kekuatan lain sudah shock, tetapi alih-alih dari itu semua, mereka serentak mengungkapkan sikap yang sama dan padu “Inilah yang dijanjikan Allah dan Rasul-nya dan benarlah Allah dan Rasul-Nya”  (QS Al Ahzab: 22)

Tidak seperti hewan yang digemukkan dengan memberikan makanan, ternyata iman dan amal shalih digemukkan dengan pengurbanan. Semakin sedikit tubuh mendapat respon bagi kenikmatan syahwatnya maka semakin besar ruh berkurban.

Manusia semacam Bal’am adalah sejenisnya makhluk yang tak henti-hentinya mengikuti tarikan grafitasi syahwat dan mulutnya selalu berliur oleh selera dunia. Berapapun ia diberi tetaplah ia menjulur, bagaikan anjing (QS. Al Araf: 175). Ia akan rela mengurbankan kehormatannya sebagai orang berilmu demi dunia yang tak pernah memuaskan dahaga. Pasanglah jam dan perhiasan mahal ditangan seharga 1 Miliar, lalu lemparkan sepotong tulang dengan sedikit saja daging dan lihatlah apakah anjing itu tetap tertegun melihat kilauan perhiasan yang sangat mahal ataukah akan berlari mengejar tulang? Ah jangankan perbandingan miliar dengan tulang betulan, bayang-bayang tulang yang dilihatnya dipermukaan telaga membuatnya terjerumus oleh baying-bayang tulang dimulut anjing lainnya yang tak lebih dari baying-bayang dirinya.

Jadi Orang Besar dengan Resiko Besar

Ibnu Abbas radhiyanllahu’anhu diminta waktunya sejenak oleh seorang untuk suatu urusan kecil. Datanglah kepadaku dengan urusan besar, urusan kecil berikan buat yang lain. Mengapa nabi Ibrahim selalu meminta lisan shidq dikalangan generasi berikutnya? Mengapa nabi Ismail dan Abu Bakar digelari si jujur? Apa jadinya bila nabi Ibrahim gagal meninggalkan Ummu Ismail dan Ismail alaihissalam di lembah tak bertanaman disisi rumah-nya yang dihormati (QS Ibrahim:37)? Apa jadinya bila Ismailalaihissalam yang beranjak remaja memanfaatkan kemanusiaan bapaknnya agar tak terjadi pengurbanan besar itu (QS Shaad : 102)? Jelas mereka akan menjadi orang yang tak pernah punya peran diatas panggung sejarah, Karena sejarah tak pernah mau mengabadikan orang-orang biasa yang perjalanannya datar tanpa tantangan. Kadang orang merasa ada dinamika dalam sejarah dan ia menontonnya tanpa berpikir ia sendiri mampu menjadi actor sejarah. Inilah thufailiyat (sifat kekanak-kanakan) yang betapapun usia fisik telah jauh diambang tua, namun fikiran pemiliknya tertinggal dimasa lalu yang lugu, mentah dan kekanak-kanakan.

Belakangan datang generasi yang tak merasakannya telah berkurban dizaman awal Islam, saat Muhajirin dan Anshar bahu membahu membangun masyarakat Madinah dan tidak menjadikan Islam sebagai wacana teoritik belaka. Mereka tak merasakan makan daun perdu padang pasir yang membuat luka kerongkongan dan remah mereka sama dengan kotorang kambing dan unta. Mereka tak merasakan blockade tiga tahun di Syi’b Abi Thalib, pergi meninggalkan tanah air atau disita harta dan dibunuhi keluarga mereka.

  Suatu hari datanglah Mush’ab bin Umair ke majelis Rasulullah SAW dengan pakaian bertambal, Beliau menangis mengenang masa-masa Mush’ab dimanjakan orang tuanya dalam jahiliyah. Beliau ingatkan para sahabat: “Bagaimana kamu, bila kelak pagi kamu berpakaian kebesaran dan petang mengganti dengan pakaian kebesaran lainnya, piring-piring makanan datang silih berganti dan kamu mulai memasang penutup dinding seperti Ka’bah dibalut sitar (kelambu)”.

Para sahabat bertanya : “Bukankah saat itu kami jadi lebih  baik, karena dapat sepenuh waktu beribadah dan tercukupi kebutuhan pokok?”

Rasulullah SAW menjawab, “Tidak, kamu hari ini lebih baik daripada hari itu”

Pengurbanan dan Tabiat Dakwah

Ia adalah langkah kembali yang benar dan jalan menghindari eksploitasi pengurbanan manusia bagi kepentingan Fira’unisme, Hamanisme, Qarunisme dan Bal’amisme. Dan target ini sesungguhnya target da’wah itu sendiri, yaitu pembebasan. Ia perlindungan sejati bagi hamba-hamba tak berdaya, yang selama ini meniti bukit kurban mereka yang salah dengan lelah, membawa sen demi sen yang mereka peroleh dengan keringat dan darah, bagi monster periba yang kejam dan mati rasa, pemilik modal yang arogan dan sais kereta kebendaan yang ringkih, tua dan berat, dihela keledai-keledai protelar dengan jasad yang semakin kurus, dimangsa para kamerad elite yang tak bermalu, memimpin dengan fanatisme, dendam dan dusta.

Pengurbanan rakyat bodoh yang terus dibodohi oleh para pemimpin berbaju paderi dan kiai, yang memanfaatkan kultus individu dan keyakinan lugu mereka tentang kewalian dan adi kodrati, padahal sang pemimpin lebih dekat kepada ateisme daripada monoteisme, bahkan daripada politeisme sekalipun. Pengurbanan menjadi shalih bila dapat menghantarkan atau mempersembahkan supermasi tertinggi ditangan Allah dan termuliakannya  darah dan nyawa, kehidupan dan kematian hamba, karena tertutup sudah semua jalan bagi berjayanya para penipu, pemeras dan kalangan memperdayakan mayoritas mengambang.

Sesungguhnya pada generasi sebelum kamu, ada yang disisir dengan sisir besi yang menancap kebawah tulang, daging atau sarafnya. Semua itu tak mengalihkan mereka dari agama. Sungguh Allah akan sempurnakan urusan ini, sampai seseorang dapat pergi sendirian dari Shan’a ke Hadharamaut tanpa takut kepada siapapun kecuali Allah” (Al Buthy, Fiqh Sirah 106)

Hanya Untuk-Nya

Dalil yang paling terang bahwa misi tak membuka peluang bagi pengurbanan individu untuk kepentingan figur, adalah melimpahkannya teks-teks larangan kultus, sampai celaan yang sangat bagi seseorang yang senang orang lain berdiri menyambut kedatangnnya. Ketika Imam Ali bin Abi Thalib berkunjung ke suatu tempat, rakyat datang dengan sikap merunduk-runduk.”Alangkah ruginya kelelahan yang berunjung siksaan dan alangkah keberuntungan sikap ringan yang berbuah aman dari neraka” demikian nasihatnya.

Seseorang dapat menikmati kekaguman masyarakat terhadap kuantitas ibadah ritualnya dan ia menikmati ketentraman beribadah sambil melupakan tugas jihad lisan mencegah kemunkaran di masyarakat , penaka burung unta yang merasa telah aman karena berhasil menyembunyikan kepalanya ke dalam gundukan pasir, namun ia tak pernah aman akan tuntutan Allah. Suatu hari Allah memerintahkan malaikat-Nya untuk menumpahkan adzab kepada penduduk suatu negeri. “ya Rabb, disana ada seorang shalih” lapor malaikat dan Allah sungguh telah tahu hal itu. “Justru mulailah dari dia, karena tak pernah wajahnya memerah karena-Ku (ketersinggungan karena kehormatan Allah dihinakan)” (HR Ahmad)

Mahar perjuangan yang mahal, tidak hanya menjadi tiket menuju kemenangan generasi ta’sis (perintis), tetapi juga bagi generasi sesudahnya. Dan mereka harus membayar dengan pengurbanan yang sama bentuk, format dan gaya yang berbeda. Bagi generasi yang tak terdesak oleh jihad qital (tempur) selalu terbuka pengurbanan dengan berbagai jalan: pengurbanan waktu, perasaan, harta, kesenangan diri, dan lain sebagainya.

Mukmin sejati takkan bergembira karena tertinggal dari kesertaan berkurban, betapapun udzur memberi mereka rukhshah (keringanan), namun “Mereka berpaling dengan mata yang basah menangis, karena mereka tak menemukan biaya (untuk biaya anggkutan perang).” (QS At Taubah: 92).

Peta Menuju Kemenangan


Peta Menuju Kemenangan

“Setiap tujuan mempunyai satu proses yang khas,” demikian salah satu isi taujih yang disampaikan Ustadz Abu Ridho.

Ini berarti, tidak pernah ada sebuah kemenangan yang diperoleh tanpa kekuatan tekad, kesungguhan dan sandaran yang benar. Nasehat tersebut beliau sampaikan dalam acara Tasqif Pemenangan yang diadakan DPC PKS Pulogadung, Jakarta Timur, 25 Desember kemarin.

Lantas, bagaimanakah proses yang harus kita lalui untuk kemenangan dakwah? Titik-titik apa sajakah yang perlu kita perhatikan, dan bagaimana peta perjalanan menuju kemenangan itu? Berikut ini catatan singkat saya atas uraian tentang komponen proses menuju kemenangan yang disampaikan salah satu deklarator PKS bernama lengkap Abdi Sumaithi ini.

Untuk mencapai kemenangan, secara garis besar ada dua komponen utama yang sangat menentukan, yaitu bidayatul ‘amal dan khawatimul ‘amal.

Bidayatul ‘Amal

Bidayatul ‘amal itu di dalamnya terkandung “azam” atau tekad. Untuk mencapai tujuan, setiap individu maupun organisasi harus mempunyai tekad, juga niat. Tekad dan niat  harus kuat. Jika tekad dan niat kita lemah, seluruh proses selanjutnya juga akan lemah.

Itulah sebabnya, kata Rosululloh SAW, Innamal a’malu binniyah. Segala sesuatu tergantung kepada niatnya.

Di dalam konteks politik (amal siyasi), azam dan niat tersebut dapat terwujud dan menghantarkan kita kepada tujuan yang ingin kita capai jika terdapat tiga faktor penting di dalamnya. Ketiga faktor tersebut adalah:

Pertama, moralitas yang kuat; setiap orang diantara kita harus teguh, memiliki motivasi yang kuat, sabar, tahan banting, dan tidak mudah menyerah. Kedua, kepemimpinan yang  bijak. Kepemimpinan ini sangat penting dalam menggerakkan organisasi. Ketiga, struktur yang solid. Ini mengingatkan kita untuk tidak saling gontok-gontokan di dalam struktur, harus kompak dan kokoh.

Meskipun masuk ke dalam ranah politik, kita harus mengingat bahwa upaya mencapai tujuan ini tetap ada dalam bingkai “gerakan dakwah”. Karena itu, jangan dilupakan tentang pentingnya unsur Allah. Kedekatan dengan Allah itu justru akan sangat menentukan. Sebab, kemenangan yang kita idam-idamkan itu asalnya pun dari Allah.

Kedekatan dengan Allah itu juga berarti bahwa kita jangan sampai melakukan kemaksiatan. Memang ada kemungkinan kemenangan diberikan kepada mereka yang melakukan kemaksiatan. Kemenangan seperti ini sebetulnya bukan kemenangan sejati, melainkan istidroj. Allah menunda siksanya, untuk suatu saat diberikan hukuman yang jauh lebih berat. Diangkat dulu, baru kemudian diterbalikkan. Agar kemenangan kita bukan istidroj, kita harus berserah diri. Bertawakkal kepada Allah SWT.

Selanjutnya, ketika ketiga faktor tadi sudah terdapat dalam gerakan politik yang kita lakukan, maka akan lahirlah gerakan politik yang memiliki nilai-nilai jihadiyah, itqon dan tawakkal. Sebuah gerakan yang sejak jaman dahulu telah melahirkan banyak kemenangan.

Meskipun demikian, bukan berarti bahwa gerakan politik yang telah memiliki ketiga faktor tadi akan menjamin tercapainya tujuan yang kita cita-citakan. Masih diperlukan faktor-faktor penguat lagi. Faktor pengugat tersebut adalah: istiqomah, istimroriyah, himmah dan jiddiyah.

Istiqomah itu konsisten. Dari keisqomahan atau konsistensi tersebut akan melahirkan faktor penguat yang kedua, yaitu “istimroriyah” atau keberlanjutan. Artinya, usaha-usaha dan kerja-kerja dakwah tersebut bukan hanya kerja satu atau dua kali, tetapi dilakukan secara terus menerus. Tidak hanya pada saat pemilu saja, melainkan sepanjang waktu.

Selain istiqomah dan istimroriyah, juga perlu adanya himmah. Dengan himmah kita tidak akan menentapkan target yang standar atau yang biasa-biasa saja. Tetapi, target-target yang menantang. Target yang tidak alakadarnya akan mempengaruhi seberapa kuat kesungguhan (jiddiyah, faktor keempat) kita dalam mengejar cita-cita tersebut.

Demikianlah proses dan titik-titik dari azam hingga lahirnya sebuah gerakan yang mempunyai nilai-nilai jihadiyah,itqon dan tawakkal kepada Allah SWT.

Khawatimul ‘Amal

Kepada siapa kita arahkan kerja-kerja dakwah yang dilandasi seluruh faktor di atas tadi? Jawabannya tentu saja dua: yaitu kepada mereka-mereka yang ada di dalam (internal) dan yang di keluar (eksternal). Karena itulah, di dalam proses menuju kemenangan, yang juga harus dilakukan selanjutnya adalah konsolidasi dan ekspansi.

Di tahap konsolidasi, yang harus dikonsolidasi adalah opini dan psikologi seluruh kader. Harus ada keseragaman terlebih dahulu di kalangan kader. Konsolidasi dan keseragaman ini sangat penting sebelum melakukan konsolidasi tahap berikutnya, yaitu konsolidasi gerakan.

Sama seperti di tahap bidayatul ‘amal, di tahap konsolidasi ini pun karakter dakwah yang mendasari seluruh gerakan kepada hanya Allah tetap harus menonjol. Maka, yang dikonsolidasi bukan hanya manusia dan lingkungan, jiwa dan raga kita juga harus dikonsolidasi kembali dan didekatkan lagi kepada Allah. Ini karakter dakwah, sehingga gerakan yang kita lakukan tetap menunjukkan bahwa yang kita cari adalah ridho Allah.

Dengan mendekatkan diri kepada Allah ini, insyaAllah yang akan mendapatkan ta’yidulloh atau dukungan Allah SWT.

Begitu juga dukungan publik, insyaAllah akan kita dapatkan pula. Syaratnya, kita melakukan langkah-langkah yang kita sebut dengan langkah ekspansif.

Jadi, bukan hanya mengarahkan kerja-kerja dakwah dalam bentuk penyebaran opini, gagasan, psikologi maupun gerakan ke kalangan internal, melainkan juga ke eksternal, ke masyarakat umum dan lingkaran yang lebih luas lagi.

Sampai di sini, kerja-kerja dakwah menuju kemenangan hampir sempurna. Meskipun demikian, kita tidak boleh melupakan masa-masa yang disebut dengan “masa kritis”, yaitu masa di mana serangan-serangan mungkin menghantam perjalanan kita menuju kemenangan.

Mulai dari munculnya badai krisis, saat meningkat maupun mereda, yang harus kita lakukan adalah tetap tegar, sabar, dan waspada. Jangan lengah karena mungkin saja saat mereda, muncul lagi badai-badai lain yang lebih besar.

Selanjutnya adalah tahap yang disebut khawatimul a’mal. Di sinilah kita diuji untuk menuntaskan seluruh proses dari awal hingga akhir dengan baik. Kerja-kerja yang kita lakukan harus tetap kita tujukan untuk mencapai cita-cita yang kita rancang sejak awal.

Manakala seluruh proses itu kita lewati, dan kita bisa finishing seluruh proses dengan benar dan tetap sesuai dengan tujuan awal, di titik inilah kita sampai pada kemenangan, yaitu sukses mencapai cita-cita politik kita.

Inilah peta menuju kemenangan. Pengurus-pengurus di struktur partai maupun kader bisa menyusun kerangka acuan ini menjadi bagian yang lebih rinci lagi. Sehingga setiap orang dapat mengetahui apa-apa saja yang harus dilakukan.

*by Mochamad Husni
@mochus