Archives

Risalah Udzma, Wadzifatul Khilafah, dan Muhimmatud Da’wah


Tiga Pesan KH. Hilmi Aminuddin

(Risalah Udzma, Wadzifatul Khilafah, dan Muhimmatud Da’wah)

Oleh: KH. Hilmi Aminuddin

Risalah Udzma

Tadzikirah yang ingin saya sampaikan adalah mengingatkan saya dan kita semua, pertama, bahwa kita sebagai manusia mempunyai risalah udzma (misi agung), yang diberikan oleh Allah SWT seperti dinyatakan oleh-Nya,

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالإنْسَ إِلا لِيَعْبُدُونِ

“Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku.” (Q.S. Adz-Dzariyat: 56)

Misi agung kita adalah ibadah kepada Allah SWT. Mengapa disebut misi agung? Karena sebetulnya kita ini dibandingkan dengan ciptaan-ciptaan Allah yang lain sangat kecil sekali, bahkan Rasulullah SAW bersabda,

مَا السَّمَاوَاتُ السَّبْعُ فِي الْكُرْسِيِّ إِلاَّ كَحَلْقَةٍ مُلْقَاةٍ بِأَرْضِ فَلاَةٍ، وَفَضْلُ الْعَرْشِ عَلَى الْكُرْسِيِّ كَفَضْلِ تِلْكَ الْفَلاَةِ عَلَى تِلْكَ الْحَلْقَةِ.

“Perumpamaan langit yang tujuh dibandingkan dengan Kursi seperti cincin yang dilemparkan di padang sahara yang luas, dan keunggulan ‘Arsy atas Kursi seperti keunggulan padang sahara yang luas itu atas cincin tersebut.”[1]

Bahkan didukung oleh para ilmuwan modern yang pernah saya baca dalam kitab terjemahannya Al-Insanu Dzalikal Majhul, digambarkan bahwa posisi bumi kita di semesta raya ini bagaikan sebutir pasir. Dan kita manusia, makhluk yang 5 milyar ini menempel di sebutir pasir itu, artinya kecil. Mungkin sepersekian milyar mikron kecilnya dibandingkan semesta raya.

Saya ingin menggambarkan betapa riasalah ubudiyah  pada Allah SWT itu sebagai misi agung. Makhluk yang menempel di sebutir pasir itu diberi posisi, diberi misi agung ibadah, dan posisinya otomatis sebagai ‘abid (hamba). Dalam terminologi manusia, hamba itu adalah mereka yang dicabut integritas pribadinya, keinginannya, dan hak-hak sosialnya. Tapi terminologi Allah lain. Hamba yang disebut ‘hamba’ oleh Allah justru makhluk mulia. Bahkan makhluk termulia pun, yaitu Rasulullah SAW disebut sebagai hamba. Seperti dalam surat Israa’ ayat 1,

سُبْحَانَ الَّذِي أَسْرَى بِعَبْدِهِ لَيْلا مِنَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ إِلَى الْمَسْجِدِ الأقْصَى الَّذِي بَارَكْنَا حَوْلَهُ لِنُرِيَهُ مِنْ آيَاتِنَا إِنَّه هُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ

“Mahasuci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya (Muhammad) pada malam hari dari Masjidilharam ke Masjidil Aqsa yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian tanda-tanda (kekuasaan) kami. Sesungguhnya Dia Maha Mendengar lagi Maha Melihat.”

Banyak sekali dalam ayat lain disebutkan, termasuk dalam surat Maryam umpanya tentang Zakaria,

ذِكْرُ رَحْمَةِ رَبِّكَ عَبْدَهُ زَكَرِيَّا

“(Yang dibacakan ini adalah) penjelasan tentang rahmat Tuhanmu kepada hamba-Nya, Zakaria.” (Q.S. Maryam: 1)

Jadi posisi penghambaan kepada Allah SWT adalah posisi yang sangat agung. Karena kita mahkluk, jasad remik, yang ‘nempel di pasir’, boleh berhubungan langsung dengan Allah.

ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ

“Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Aku perkenankan bagimu…” (Q.S. Al-Mu’min: 60)

Boleh berhubungan dengan Yang maha Pencipta dan Maha Agung, padahal kita maha kecil maha hina, dan maha kerdil. Kita dipersilahkan untuk meminta apa pun. Dan Allah SWT selalu melayani saja. Padahal Dia sudah demikian ‘sibuk’.

كُلَّ يَوْمٍ هُوَ فِي شَأْنٍ

“Setiap waktu Dia dalam kesibukan “ (Q.S. Ar-Rahman: 29)

Setiap hari Allah sibuk tapi tidak pernah lelah. Tidak pernah capek, tidak pernah mengantuk. Kita mahkluk hina ini dilayani terus. Bermilyar makhluk termasuk binatang, dilayaninya semua. Dilayani terus, dibantu, ditolong, difasilitasi, terus seperti itu…ini letak keagungan yang pertama.

Letak keagungan yang kedua, adalah—kita makhluk kecil ini—digabung oleh Allah SWT dalam konstelasi masuk semesta raya dalam irama yang satu: irama pengabdian, irama tasbih wa tahmid. Dalam posisi kita sebagai hamba, Allah SWT mengharapkan kita tetap eksis bergabung dengan junudullah. Pekerjaannya hanya satu: pengabdian dalam bentuk tasbih wa tahmid,

تُسَبِّحُ لَهُ السَّمَاوَاتُ السَّبْعُ وَالأرْضُ وَمَنْ فِيهِنَّ وَإِنْ مِنْ شَيْءٍ إِلا يُسَبِّحُ بِحَمْدِهِ

“Langit yang tujuh, bumi dan semua yang ada di dalamnya bertasbih kepada Allah. Dan tidak ada sesuatu pun melainkan bertasbih dengan memuji-Nya, (Q.S. Al-Isra: 44).

Semuanya penghuni langit dan bumi bertasbih, dan kita pun sebagai hamba dituntut begitu.

وَلَكِنْ لا تَفْقَهُونَ تَسْبِيحَهُمْ إِنَّهُ كَانَ حَلِيمًا غَفُورًا

“..tetapi kamu tidak mengerti tasbih mereka. Sungguh, Dia Maha Penyantun lagi Maha Pengampun.” (Q.S. Al-Isra; 44)

Kalian tidak faham tasbihnya rumput yang bergoyang, pohon bambu yang berderik karena ditiup angin, batu,  hewan, dan binatang ternak, semuanya bertasbih. Kita diharapkan untuk mempertahankan eksistensi kita dalam irama alunan tasbih dan tahmid semesta raya. Meskipun kita punya potensi faalhamaha fujuroha wa taqwaha…punya potensi untuk disersi dari barisan junudullah fi samawati wal ardh, tapi kita dituntut untuk bertahan. Sanggup bertahan dalam konstelasi semesta raya yang selalu beribadah kepada Allah SWT.

Kita sebagai gerakan dakwah sudah barang tentu menjadi yang paling dituntut untuk menjaga eksistensi—diri kita masing-masing, pribadi, dan jama’ah kita—dalam garis ‘ubudiyah kepada Allah SWT. Ini yang harus—termasuk saya—mewaspadai pada diri kita baik secara fardhi maupun jama’i jangan sampai kita terpesong dari garis risalah ‘ubudiyah, risalah udzma ini.

Dari Abdullah bin Mas’ud Radhiyallahu ‘anhu, ia berkata.

خَطَّ لَنَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ خَطًّا ثُمَّ قَالَ هَذَا سَبِيلُ اللَّهِ ثُمَّ خَطَّ خُطُوطًا عَنْ يَمِينِهِ وَعَنْ شِمَالِهِ ثُمَّ قَالَ هَذِهِ سُبُلٌ قَالَ يَزِيدُ مُتَفَرِّقَةٌ عَلَى كُلِّ سَبِيلٍ مِنْهَا شَيْطَانٌ يَدْعُو إِلَيْهِ ثُمَّ قَرَأَ إِنَّ هَذَا صِرَاطِي مُسْتَقِيمًا فَاتَّبِعُوهُ وَلَا تَتَّبِعُوا السُّبُلَ فَتَفَرَّقَ بِكُمْ عَنْ سَبِيلِهِ

Rasulullah SAW membuat sebuah garis lurus bagi kami, lalu bersabda,”Ini adalah jalan Allah,” kemudian beliau membuat garis lain pada sisi kiri dan kanan garis tersebut, lalu bersabda,”Ini adalah jalan-jalan (yang banyak). Pada setiap jalan ada syetan yang mengajak kepada jalan itu,” kemudian beliau membaca.

إِنَّ هَذَا صِرَاطِي مُسْتَقِيمًا فَاتَّبِعُوهُ وَلَا تَتَّبِعُوا السُّبُلَ فَتَفَرَّقَ بِكُمْ عَنْ سَبِيلِهِ

“Dan bahwa (yang Kami perintahkan) ini adalah jalanKu yang lurus, maka ikutilah dia; dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan (yang lain), karena jalan-jalan itu mencerai-beraikan kamu dari jalanNya.” (Q.S. Al An’am:153).

Jadi di kiri kanan shiroti mustaqima ini—ada posko, ada  penjaga yang aktif mengajak melakukan penyimpangan, atau mungkin sekedar untuk mampir.

Dalam surat Al-Ankabut ayat 12 disebutkan,

وَقَالَ الَّذِينَ كَفَرُوا لِلَّذِينَ آمَنُوا اتَّبِعُوا سَبِيلَنَا وَلْنَحْمِلْ خَطَايَاكُمْ وَمَا هُمْ بِحَامِلِينَ مِنْ خَطَايَاهُمْ مِنْ شَيْءٍ إِنَّهُمْ لَكَاذِبُونَ

“Dan orang-orang yang kafir berkata kepada orang-orang yang beriman, ‘Ikutilah jalan kami, dan Kami akan memikul dosa-dosamu,’ padahal mereka sedikit pun tidak (sanggup) memikul dosa-dosa mereka sendiri. Sesungguhnya mereka benar-benar pendusta.”

Kalau kita katakan, “Itu jalan salah, itu jalan berbahaya, nanti ada siksaan, pokoknya jalan batil, mereka menjawab: walnahmil khathayakum…biar kami yang menanggung dosa kalian…Kenapa berani begitu? Karena memang pada dasarnya mereka tidak pernah beriman kepada akhirat, kepada azab makanya berani saja, karena tidak beriman tidak punya keyakinan kepada azab, terhadap hari kiamat, terhadap hari perhitungan maka mereka siap menanggung kesalahan siapa pun yang mau mengikuti…kata Allah: wa ma hum bihamilina min khatayahum min syai wa innahum lakadzibun…mereka tidak akan sanggup memikul beban dosa mereka sendiri, apalagi yang diajak… innahum lakadzibun, sesungguhnya mereka berdusta…

Jadi subul ini banyak.

وَلَا تَتَّبِعُوا السُّبُلَ فَتَفَرَّقَ بِكُمْ عَنْ سَبِيلِهِ

Jangan sekali-kali mengikutinya. Kalau ittiba’us subul..fatafarraqa…akan tercerai berai dari jalan yang lurus. Jadi, menjaga eksistensi kita berjalan di jalan yang lurus sebagai da’i, tanggung jawabnya berlipat ganda dibanding yang tidak menyatakan diri sebagai da’i, tidak sebagai jama’ah dakwah…tanggung jawabnya lebih besar..makanya dalam situasi apa pun—tindakan, kata-kata, ucapan, langkah-langkah, apakah institusional, prosedural, struktural,  dan komunikasi apa pun—harus dikalkulasi masih dalam konteks ibadah atau tidak? Kalau sudah tidak dalam konteks ibadah, naudzubillahi min dzalik…walaupun mungkin kalkulasi materil duniawi sebuah sukses.

وَهُمْ يَحْسَبُونَ أَنَّهُمْ يُحْسِنُونَ صُنْعًا

“…mereka menyangka bahwa mereka berbuat sebaik-baiknya.” (Q.S. Al-Kahfi: 104)

Padahal itu hanya ilusi saja merasa berbuat baik. Semuanya tidak ada….la dunya wa la akhirah karena kata Allah,

فَجَعَلْنَاهُ هَبَاءً مَنْثُورًا

“…lalu Kami akan jadikan amal itu (bagaikan) debu yang berterbangan.” (Q.S. Al-Furqan: 23).

Semua pekerjaan yang terkontaminasi oleh subul tadi walaupun nampak sukses secara duniawi, kata Allah ‘bagaikan debu yang berterbangan’ yang tidak mempunyai bobot dan tidak bernilai sama sekali.

Bahkan, naudzubillahi min dzalik, jika terjerumus kepada kezaliman, Rasulullah SAW dalam hadits yang diriwayatkan oleh Muslim, menyebutnya sebagai orang pailit.

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ أَتَدْرُونَ مَا الْمُفْلِسُ قَالُوا الْمُفْلِسُ فِينَا مَنْ لاَ دِرْهَمَ لَهُ وَلاَ مَتَاعَ، فَقَالَ إِنَّ الْمُفْلِسَ مِنْ أُمَّتِي يَأْتِي يَوْمَ الْقِيَامَةِ بِصَلاَةٍ وَصِيَامٍ وَزَكَاةٍ وَيَأْتِي قَدْ شَتَمَ هَذَا وَقَذَفَ هَذَا وَأَكَلَ مَالَ هَذَا وَسَفَكَ دَمَ هَذَا وَضَرَبَ هَذَا فَيُعْطَى هَذَا مِنْ حَسَنَاتِهِ وَهَذَا مِنْ حَسَنَاتِهِ فَإِنْ فَنِيَتْ حَسَنَاتُهُ قَبْلَ أَنْ يُقْضَى مَا عَلَيْهِ أُخِذَ مِنْ خَطَايَاهُمْ فَطُرِحَتْ عَلَيْهِ ثُمَّ طُرِحَ فِي النَّارِ – رواه مسلم

“Dari Abu Hurairah ra berkata, bahwasanya Rasulullah SAW bersabda, ‘Tahukah kalian siapakah orang yang muflis (bangkrut) itu? Para sahabat menjawab, ‘Orang yang muflis (bangkrut) diantara kami adalah orang yang tidak punya dirham dan tidak punya harta.’ Rasulullah SAW bersabda, ‘Orang yang muflis (bankrut) dari umatku adalah orang yang datang pada hari kiamat dengan (pahala) melaksanakan shalat, menjalankan puasa dan menunaikan zakat, namun ia juga datang (membawa dosa) dengan mencela si ini, menuduh si ini, memakan harta ini dan menumpahkan darah si ini serta memukul si ini. Maka akan diberinya orang-orang tersebut dari kebaikan-kebaikannya. Dan jika kebaikannya telah habis sebelum ia menunaikan kewajibannya, diambillah keburukan dosa-dosa mereka, lalu dicampakkan padanya dan ia dilemparkan ke dalam neraka.” (HR. Muslim, Turmudzi & Ahmad)

Rasulullah mengatakan,  al-muflisu min ummatii ya’tii yaumal qiyaamati bi shalatin wa shiyamin wa zakaatin….. mungkin juga wa jihadin wa dakwatin dan wa..wa..wa seterusnya…. tapi karena kezaliman …faqod dzolama hadza…faqad safaka hadza…seterusnya perbuatan-perbuatan yang rusak itu, katanya nanti naudzubillahi min dzalik, oleh Allah dosa-dosa yang madzlum nya itu akan diberikan dibebankan kepadanya…kalo dosanya sudah habis nanti kebajikan dia diberikan kepada yang madzlum…sampai tidak punya apa-apa..kemudian dilemparkan ke neraka.

Jadi tadzkirah kepada saya dan kepada semuanya….jangan sampai jadi Ketua Majelis Syuro muflis..jadi Gubernur muflis..jadi menteri muflis…jadi bupati, jadi walikota muflis, akibat terpental dari garis ‘ubudiyah tadi. Ini materi dasar yang harus dari waktu ke waktu kita perdalam. Kita resapi, hayati dan selalu menjadi kalkulasi kehidupan. Semua kita tidak ada yang ma’sum (terbebas dari kesalahan). Tapi jangan sampai membuat kesalahan yang membuat kita terpental dari posisi ‘ubudiyah tadi.

Ikhwan dan akhwat rahimakumullah…itu tadzkirah saya yang pertama, harus ingat kepada risalah udzma kita, bahwa kita dalam posisi ibadah…menghadapi pemilu, menghadapi pilkada, pileg, apa pun…termasuk aktivitas kerja struktural, atau di rumah tangga…hitungannya itu jangan sampai kita keluar dari garis ibadah itu. Jangan sampai menjadi makhluk yang desersi dari kumpulan makhluk semesta raya yang semuanya bertasbih bertahmid kepada Allah SWT.

Wadhifatul Khilafah

Ikhwan dan akhwat fillah, yang kedua, betapa pun kita memiliki posisi sebagai hamba, namun Allah SWT telah menjadikan kita fungsionaris; punya wadzifah,

وَإِذْ قَالَ رَبُّكَ لِلْمَلائِكَةِ إِنِّي جَاعِلٌ فِي الأرْضِ خَلِيفَةً

“Dan ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat: ‘Sesungguhnya Aku telah menjadikan seorang khalifah di bumi…” (Q.S. Al-Baqarah: 30)

Jadi kita adalah fungsionaris, punya jabatan sebagai khalifah, dan jabatan khalifah itu melekat secara individual, orang per orang siapa pun mereka. Jadi setiap orang itu hamba Allah tapi fungsional; punya wadzifah…ada yang menyebutnya sebagai risalah wadzifiyah, artinya misi sebagai petugas. Kita punya tugas al-imarah wal ‘imarah, memenej kehidupan ini dan membangun peradaban kehidupan manusia. Bedanya ada ‘hamzah’ dan ‘ain’ saja. Yang satu sebagai manajer, sebagai direktur, mengatur, menata, merencanakan, yang satu lagi ‘imarah membangun peradaban.

Secara individu kita punya misi itu, makanya dalam hadits disebutkan,

كُلُّكُمْ رَاعٍ وَكُلُّكُمْ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ الْإِمَامُ رَاعٍ وَمَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ وَالرَّجُلُ رَاعٍ فِي أَهْلِهِ وَهُوَ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ وَالْمَرْأَةُ رَاعِيَةٌ فِي بَيْتِ زَوْجِهَا وَمَسْئُولَةٌ عَنْ رَعِيَّتِهَا

“Setiap kalian adalah pemimpin dan setiap kalian akan ditanya tentang apa yang dipimpinnya, seorang imam adalah pemimpin dan akan ditanya tentang apa yang dipimpinnya, seorang suami adalah pemimpin dalam keluarganya dan dia akan ditanya tentang apa yang dipimpinnya, seorang istri adalah pemimpin dalam rumah suaminya dan dia akan ditanya tentang apa yang dipimpinnya.” (HR. al-Bukhari )

Setiap kalian adalah sebagai raa’i, penangung jawab atau pemimpin, dan akan dituntut pertanggungjawaban, minimal memimpin diri sendiri, seterusnya memimpin keluarga, sampai memimpin negara dan memimpin khilafah. Jadi, salah satu tadzkirah saya yaitu…bukan istilah khalifahnya tapi substansinya yang paling penting, dimanapun posisi kita harus memerankan dua tugas tadi imarah wal ‘imarah.

Sudah barang tentu tugas khalifah ini tugas yang berat, baik skala individu, pribadi, rumah tangga, umat, jama’ah, negara, apalagi dunia. Itu tugas berat. Karenanya Allah SWT membekali banyak hal kepada kita, sampai-sampai Allah SWT mengatakan dalam surat Luqman  ayat 20,

أَلَمْ تَرَوْا أَنَّ اللَّهَ سَخَّرَ لَكُمْ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الأرْضِ

“Tidakkah kamu memperhatikan bahwa Allah telah menundukkan apa yang ada di langit dan apa yang di bumi untuk (kepentingan)mu…”

Tiadakkah kalian perhatikan bahwa Allah telah mempersiapkan untuk dimanfaatkan oleh kalian, digunakan untuk didayagunakan segala isi langit dan bumi…apa itu untuk bikin kita repot? Tidak, justru agar kalian sejahtera, damai, aman, dan makmur; maka lanjutan ayatnya,

وَأَسْبَغَ عَلَيْكُمْ نِعَمَهُ ظَاهِرَةً وَبَاطِنَةً

“…dan menyempurnakan nikmat-Nya untukmu lahir dan batin…” (Q.S. Luqman: 20)

Agar melalui membangun peradaban dengan basis keimanan itu hidup manusia menjadi nikmat. Jadi sejahtera, aman dan damai.

Muhimmatud Da’wah

Yang ketiga, kita  diperintahkan oleh Allah,

ادْعُ إِلَى سَبِيلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ وَجَادِلْهُمْ بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ إِنَّ رَبَّكَ هُوَ أَعْلَمُ بِمَنْ ضَلَّ عَنْ سَبِيلِهِ وَهُوَ أَعْلَمُ بِالْمُهْتَدِينَ

“Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan berdebatlah dengan mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu, Dialah yang lebih mengetahui siapa yang sesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui siapa yang mendapat petunjuk .” (Q.S. An-Nahl: 125)

Kita diperintahkan untuk berdakwah mengajak orang lain ke jalan Allah SWT. Jadi kita jangan bersikap individualis ingin masuk surga sendirian. Harus bareng-bareng ngajak yang lain juga.

Tugas kita sebagai da’i posisinya sangat mulia. Dalam surat Fushilat digambarkan oleh Allah SWT,

وَمَنْ أَحْسَنُ قَوْلا مِمَّنْ دَعَا إِلَى اللَّهِ وَعَمِلَ صَالِحًا وَقَالَ إِنَّنِي مِنَ الْمُسْلِمِينَ

 Dan siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah, mengerjakan kebajikan, dan berkata, ‘Sungguh, aku termasuk orang-orang muslim (yang berserah diri)?’” (Q.S. Fushilat: 33)

Yang terbaik ucapannya, sikapnya,  argumentasinya… wa man ahsanu qoulan min man da’a ilallah… Dan siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah; tapi bukan hanya ucapan, buktikan juga dalam amal saleh. Maka kita sebagai da’i bukan hanya mengajak tapi juga—sering saya katakan—ujung tombak dakwah kita adalah ihsan kita, kebajikan kita.

Kenapa kita harus terus-menerus beramal saleh? Terus berbuat ihsan? Karena, pertama, kita sudah banyak menerima ihsan dari Allah.

وَأَحْسِنْ كَمَا أَحْسَنَ اللَّهُ إِلَيْكَ

“…dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu..” (Q.S. Al-Qashash: 77)

Berbuat bajiklah sebagaimana Allah sudah banyak berbuat kebajikan; melalui orang tua kita, melalui mertua, istri, melalui anak, melalui suami, melalui tetangga, melalui sesama, dan seterusnya.

Kalau kita tidak memproduksi kebajikan lebih banyak lagi, dan hanya mau menkonsumsi kebajikan-kebajikan yang diberikan oleh orang lain,  nanti jama’ah kita akan tekor kebajikan, defisit kebajikan. Kalau defisit kebajikan, hati kita menjadi gersang, qaswatul qulub; saling memfitnah, saling menjegal, menghibah, konflik, sikut-sikutan dan seterusnya. Itu masyarakat yang tekor kebajikan. Kita harus menjadi masyarakat yang surplus kebajikan, sehingga bisa melaksanakan rahmatan lil ‘alamin, faqidus syai la yu’thi…

Muhimmah (tugas) dakwah adalah  muhimmah mulia,

وَمَنْ أَحْسَنُ قَوْلا مِمَّنْ دَعَا إِلَى اللَّهِ وَعَمِلَ صَالِحًا وَقَالَ إِنَّنِي مِنَ الْمُسْلِمِينَ

Dan harus berani tampil eksis sebagai muslim, di-declere, saya muslim saya da’i . Sudah barang tentu untuk menjadi da’i yang seperti itu, kita harus istiqamah.

إِنَّ الَّذِينَ قَالُوا رَبُّنَا اللَّهُ ثُمَّ اسْتَقَامُوا

Ketika sudah mendeklere sebagai hamba Allah, bahwa kita hanya berTuhan Allah SWT,

ثُمَّ اسْتَقَامُوا

Lalu beristiqamah, maka Allah SWT akan menggerakkan junudullah yang lain, bahkan dipilih yang mulia yaitu para malaikat…

تَتَنَزَّلُ عَلَيْهِمُ الْمَلائِكَةُ

“…maka malaikat-malaikat akan turun kepada mereka…”. Kerja malaikat itu apa?

Menghembuskan optimisme ke dalam diri kita. Menghembuskan keberanian.

أَلا تَخَافُوا وَلا تَحْزَنُوا

Jangan takut, jangan sedih, optimis terus. Dibangunkan optimismenya.

وَأَبْشِرُوا بِالْجَنَّةِ الَّتِي كُنْتُمْ تُوعَدُونَ

Diberikan optimisme, berita gembira yang melampaui batas-batas kehidupan dunia. Optimisme sampai ke akhirat, bergembiralah dengan surga yang dijanjikan untuk kalian. Dan malaikat juga selain menghembuskan semangat ma’iyyatullah (kebersamaan dengan Allah), juga menginformasikan bahwa kita adalah bagian dari junudullah,

نَحْنُ أَوْلِيَاؤُكُمْ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَفِي الآخِرَةِ

Kamilah pelindung-pelindungmu dalam kehidupan dunia dan akhiratdi dunia malaikat membangkitkan semangat, membantu, dan menolong.

وَلِلَّهِ جُنُودُ السَّمَاوَاتِ وَالأرْضِ وَكَانَ اللَّهُ عَزِيزًا حَكِيمًا

“Dan kepunyaan Allah-lah tentara langit dan bumi. Dan adalah Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (Q.S. Al-Fath: 7). Bisa  jadi yang membantu kita itu angin, hujan, pasir, air, dan binatang. Kalau sudah sesama junudullah tuh akur.

Jadi, dalam tadzkirah ini saya ulangi garis besarnya ada tiga: Pertama, ingat selalu kepada risalah udzma yaitu risalah ubudiyah.

Kedua, ingat selalu kepada wadhifatul khilafah, yang berperan secara individu dan jama’i, melakukan imarah, memenej dan menata kehidupan ini,  serta melakukan ‘imarah , membangun peradaban kemanusiaan dengan semakin meningkatkan ilmu pengetahuan, sains teknologi, dan seterusnya; sehingga terbangun peradaban yang bisa dinikmati kehidupan.

Ketiga, ingat selalu muhimmatud da’wah (tugas dakwah) yang luar biasa diistimewakan oleh Allah; Ia janjikan kenikmatan yang bukan hanya kenikmatan di dunia, tapi melampauinya sampai di akhirat; dan itu diinformasikan oleh Allah SWT melalui para malaikat yang menghembuskan pada diri kita,

أَلا تَخَافُوا وَلا تَحْزَنُوا

Jangan kalian takut dan jangan bersedih…Mudah-mudahan di akhir hayat nanti, kita termasuk ke dalam golongan orang-orang yang dipanggil oleh Allah SWT dengan panggilan,

يَا أَيَّتُهَا النَّفْسُ الْمُطْمَئِنَّةُ (٢٧) ارْجِعِي إِلَى رَبِّكِ رَاضِيَةً مَرْضِيَّةً (٢٨) فَادْخُلِي فِي عِبَادِي (٢٩) وَادْخُلِي جَنَّتِي (٣٠

“Wahai jiwa yang tenang! Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang ridha dan diridhai-Nya. Maka masuklah ke dalam golongan hamba-hamba-Ku, dan masuklah ke dalam surga-Ku” (Q.S. Al-Fajr: 27-30)

(Tadzkirah ini disampaikan KH. Hilmi Aminuddin di Lembang pada 22 Juli 2015. Ditranskrip, diringkas dan diedit oleh M. Indra Kurniawan)

Kedaulatan Rakyat dan Tarbiyatul Ummah


Kedaulatan Rakyat dan Tarbiyatul Ummah

Oleh: KH. Hilmi Aminuddin

Setelah masuk masa reformasi, kita bersama-sama komponen bangsa Indonesia melakukan perubahan. Kita membuka era baru, lembaran baru sejarah Indonesia. Dan, alhamdulillah kita bersama-sama komponen bangsa Indonesia bisa melakukan perubahan yang sangat fundamental.

Salah satunya, dalam bentuk melakukan amandemen UUD 1945. Dalam melakukan amandemen ini bukan saja dengan konsolidasi nasional bersama seluruh komponen bangsa Indonesia dalam ruang lingkup parlemen, tapi kita juga menggerakkan ikhwan dan akhwat dalam kurun waktu itu, sudah tidak terhitung berapa kali kita melakukan demonstrasi.

Dalam situasi perubahan itu, alhamdulillah terjadi sebuah perubahan juga di tataran politik, yang kita sebut reformasi politik. Intinya adalah kepastian kedaulatan rakyat, bahwa rakyat betul-betul berdaulat.

Tapi ikhwan dan akhwat fillah, kedaulatan rakyat yang kita harapkan adalah bagaimana umat Islam, bangsa Indonesia yang mayoritas 90 persennya umat Islam, bisa mewujudkan aspirasi-aspirasi yang islami. Mengekspresikan kedaulatannya secara islami. Itu akan terjadi kalau kita berhasil melakukan tarbiyatul ummah (pembinaan umat) setelah kita melakukan tarbiyah kader. Sebab demokratisasi politik itu esensinya adalah tegaknya kedaulatan rakyat. Suara rakyat menentukan arah negeri dan bangsa ini. Rakyat mengendalikan kehidupan berbangsa dan bernegara. Kalau kemudian umat ini tidak kita tarbiyah, tidak kita bina, akhirnya tidak akan menguntungkan dakwah. Bisa jadi umat yang kita perjuangkan kebebasannya ini, kalau kita tidak bangun melalui tarbiyatul ummah hingga muncul al-wa’yul islami (kesadaran islamnya), kita malah akan dibunuh oleh umat yang kita perjuangkan kebebasannya. Ini harus dicamkan. Banyak gerakan dakwah yang dibunuh oleh umatnya.

Maka tugas kita sebagai gerakan dakwah, partai dakwah, selain secara terus menerus membina kader–sebagai modal utama dan pertama gerakan dakwah kita–adalah juga terjun di tengah-tengah masyarakat melakukan tarbiyatul ummah. Membangun wa’yul islami, agar produk reformasi politik dalam bentuk kedaulatan rakyat, dalam bentuk aspirasi-aspirasi rakyat, yang muncul adalah aspirasi yang islami. Kalau tidak, yang akan muncul adalah aspirasi-aspirasi kiri, aspirasi kanan, atau aspirasi kirinya kanan, kanannya kiri atau kanan dalam, kiri dalam, dan seterusnya. Sementara gerakan dakwah akan kembali marginal.

Jadi saya ingin mengingatkan kita sebagai kader-kader dakwah, fokus kerja dakwah kita adalah melakukan tarbiyah kader dan melakukan tarbiyatul ummah atau tarbiyah jamahiriyah. Sebab kebebasan yang dimiliki rakyat, kalau tidak kita tarbiyah akan terjadi lepas kendali. Bahkan akan menerkam kita sendiri, padahal kita yang memperjuangkan kebebasan mereka.

Ri’ayah Da’wah


Ri’ayah Da’wah

Oleh: KH. Hilmi Aminuddin

Untuk menjamin nishabul baqa (angka atau quota yang aman bagi eksistensi gerakan dakwah), qudratu ‘ala tahammul (kemampuan memikul beban/tanggung jawab), dan hayawiyatul harakah (dinamika gerakan); perlu dilakukan ri’ayah da’wah, yang meliputi:

Ri’ayah Tarbawiyah

Ini sangat penting sebagai basis dari sebuah program.  Sebuah recovery tarbiyyah. Walaupun kita juga harus tawazzun (seimbang), dalam arti, sering saya ingatkan bahwa kita ini harakah Islamiyah bukan harakah tarbawiyyah. Walaupun kita faham bahwa tarbiyah itu bukan segala sesuatu dalam jamaah ini—karena ia hanya juz’iyyatul ‘alal amal islami, tapi dia sangat menentukan segala sesuatu. Makanya jangan lalai dalam tarbiyah ini.  Saya pun bertanggung jawab jangan sampai terjadi tawarut siyasi (larut dalam dunia politik).

Hasil tarbiyah ini jangan dibatasi manfaatnya menjadi tarbiyah untuk tarbiyah. Artinya moralitas, idealisme, dan semangat yang dihasilkan tarbiyah itu jangan hanya dirasakan ketika ia menjadi murabbi saja. Tapi harus dirasakan juga produk tarbiyah itu baik secara moralitas, idealisme, akhlak, hayawiyah, semangat ke dalam dunia politik. Aktif dalam sektor bisnis, eksekutif, budaya, sosial, dan peradaban; perasaan bahwa mereka juga harus merasakan tarbiyah. Jangan sampai produk-produk tarbawi hanya semangat ketika mentarbiyah saja. Ketika di dunia politik dia lesu, di dunia ekonomi memble, di dunia sosial kemasyarakatan ketinggalan, dalam seni budaya jauh di urutan ke berapa.

Tarbiyah harus bisa memacu, memberikan semangat, memberikan moralitas tinggi, idealisme tinggi dalam segala bidang. Itu sebetulnya sudah kita rasakan, dan semakin kita butuhkan ketika kita semakin besar. Jangan sampai potensi apa pun yang ada tidak mendapat sentuhan tarbawi tersebut. Jangan terjadi apa yang dinamakan al-izaaban  (pelarutan). Jangan sampai ketika aktif di bidang politik terjadi izaabatu syakhsiyyatul islamiyyah (pelarutan kepribadian islami), atau aktif di bidang ekonomi terjadi izaabatul akhlaqul islamiyyah. Pelarutan-pelarutan itu insya Allah tidak akan terjadi atau bisa diminimalisir jika tarbiyah kita konsisten.

Ri’ayah Ijtima’iyah

Kemampuan kita melakukan komunikasi sosial, baik dalam jama’ah sendiri atau juga di masyarakat, tahsinul ‘alaqotul ijtima’iyyah (perbaikan hubungan kemasyarakatan) ini sangat dibutuhkan dalam peran kita sebagai da’i.

Ri’ayah Tanzhimiyah

Jaringan struktur kita sebagai jalur komando harus solid. Agar cepat dan tepat, bisa menyalurkan program-program dari pusat sampai ke daerah-daerah.

Ri’ayah Iqtishadiyah

Ekonomi ini menjadi perhatian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam (sesaat setelah hijrah-red.) setelah membangun masjid. Masjid untuk membangun anfus (jiwa) dan pasar untuk membangun potensi amwal (harta), keduanya untuk wa jahidu bi amwalikum wa anfusikum.

Ekonomi kita masih berbasiskan ekonomi jaringan, belum berbasiskan ekonomi pasar. Yang dagang ikhwan dan akhwat, yang belanja juga ikhwan dan akhwat. Memang ekonomi jaringan itu nikmat, tapi sulit untuk menjadi besar, artinya ketemu pedagang sambil kangen-kangenan, tawar menawarnya juga enak. Dalam ekonomi kalau mau menjadi besar itu harus berbasiskan pasar.

Dalam ri’ayah iqtishadiyah, pelihara terus ekonomi jaringan, tetapi kembangkan menuju ekonomi pasar. Ekonomi jaringan itu menjadi basis ekonomi pasar. Jangan keasyikan berputar-putar di ekonomi jaringan, gak bisa besar. Sebab pasar kita terbatas. Coba hitung berapa persen kader kita yang menjadi pedagang, kemudian berapa komunitas kita yang jadi pasarnya. Apalagi kalau dibagi dengan jumlah pedagang yang berdagang dari halaqoh ke halaqoh, sehingga pembagian jumlah konsumen itu kecil.

Kita berada di negara yang pasarnya dipenuhi oleh negara-negara besar; Amerika, Eropa, Cina, dan Jepang berebut pasar Indonesia. Kenapa kita sebagai pemilik pasar tidak mendayagunakannya sebesar-besar manfaat dari pasar Indonesia ini. Pasar Indonesia ini pasar yang jika dilihat dari luas geografisnya—bahkan secara demografisnya lebih luas lagi—sama dengan London – Moskow.

Ri’ayah Siyasiyah

Komunikasi politik kita harus lebih baik antar partai-partai. Jangan ada hambatan-hambatan yang membuat komunikasi kita dengan mereka terputus. Terutama karena kita partai dakwah. Jangan ada komunikasi yang putus dengan siapa pun. PDIP mad’u (objek dakwah) kita, Golkar mad’u kita, bahkan PDS juga mad’u kita. Sebisa mungkin ada jalur komunikasi. Jika tidak ada komunikasi keumatan atau keislaman, maka bangun jalur kemanusiaan. Saya kira tidak ada partai yang anggotanya bukan manusia. Banteng simbolnya, tapi anggotanya tetap manusia.

Minimal hubungan kemanusiaan harus terbentuk dengan kelompok manapun. Ingat, seperti dulu saya tegaskan bahwa mihwar muassasi itu merupakan muqaddimah menuju mihwar dauli. Kalau kita sudah mencapai mihwar dauli, rakyat yang kita kelola itu dari beragam parpol, kelompok, dan agama; semuanya rakyat yang harus kita kelola. Harus kita layani. Jangan dibayangkan kalau sebuah partai dakwah berkuasa di sebuah negara, akan membumihanguskan golongan-golongan lain. Tidak! Karena khilafah fil ardhi, termasuk embrionya, mihwar daulah, itu juga mengemban misi rahmatan lil ‘alamin, bukan rahmatan lil mu’minin saja. Semua komponen bangsa harus menikmati kehadiran kita dalam sebuah daulah, minimal secara manusia. Terjamin hak-hak kemanusiaannya, termasuk hak-hak politiknya tidak akan diberangus. Kita akan memberikan space kepada siapa pun komponen bangsa ini—sudah tentu yang tidak bertentangan dengan konstitusi negara yang disepakati—agar mempunyai ruang hidup, baik secara politik, ekonomi, budaya, dan relijius.

Itu latihannya dari sekarang. Membangun komunikasi politik, budaya, bisnis, dan sosial dengan semua golongan, semua lapisan masyarakat, semua kelompok, semua komponen bangsa dari sekarang. Sehingga kita diakui, laik memimpin negara ini.

Allahu Akbar!

Ujian Keburukan dan Kebaikan


Ujian Keburukan dan Kebaikan

Oleh: KH. Hilmi Aminuddin

Ikhwan dan akhwat fillah rahimakumullah…

Situasi dan kondisi kita sekarang ini, secara nasional, kita masih saja belum berhasil mengentaskan masyarakat dari krisis multidimensi. Kita juga masih mendapat ujian-ujian berupa aneka ragam musibah yang berturut-turut. Tapi kita sebagai kader dakwah, sebagai kader umat, tentu melihat setiap ujian sebagai peluang. Itu merupakan kesempatan untuk membina diri, menggembleng diri, meningkatkan kualitas diri.

Sebagaimana firman Allah dalam surat Al-Anbiyaa ayat 35,

وَنَبْلُوكُمْ بِالشَّرِّ وَالْخَيْرِ فِتْنَةً

“Kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan (yang sebenar-benarnya).”

Dan kalian Kami uji dengan kesulitan dan dengan kemudahan sebagai batu ujian untuk menguji kehandalan umat ini, kehandalan kader-kader dakwah ini.

Kalau dilihat dari sisi ayat ini, katakanlah bencana pada suatu daerah, pada suatu kaum, sebetulnya tidak semata ujian bagi entitas bangsa ini sendiri. Sebetulnya itu juga menggugah, mengingatkan bahkan menuntut entitas masyarakat yang lain yang tidak kena musibah untuk sadar, bahwa sebetulnya dia sedang diuji dengan khair (kebaikan).

Jadi setiap ujian yang berupa syarr (keburukan) itu mempunyai dua sisi. Kepada yang tertimpa musibah, mereka memang ditimpa oleh kesulitan, kenestapaan, terasa sebagai bencana. Tapi di pihak lain, bagi yang tidak terkena bencana, dia sebetulnya sedang diuji dengan wa nabluukum bil khair. Sejauh mana dia sadar akan kebaikan-kebaikan yang diterimanya dari Allah. Kemudian kesadarannya itu merefleksikan rasa tanggung jawab, empati, dan membangkitkan rasa kemanusiaan, rasa ukhuwah islamiyah, untuk bersegera menolong, menyantuni, mengentaskan penderitaan saudara-saudara kita yang mendapatkan al-bala’ bisy-syarr, ujian/cobaan dengan keburukan.

Jadi kalau kita melihat ada sekelompok entitas umat atau bangsa atau manusia mendapatkan al-bala’ bisy-syarr, secara otomatis kita harus tersadar bahwa kita sedang diuji dengan al-bala’ bil-khair. Dan sejauh mana kita refleksikan tanggung jawab kita, rasa ukhuwah kita untuk menunaikan kewajiban kita agar kita lulus dari balaa-an hasanan, ujian kebaikan. Agar kita lulus dari bala bil-khair. Sebab, baik bisy-syar atau bil-khair, dua-duanya fitnah (ujian/cobaan).

Yang kena musibah umumnya lulus, tabah, tawakkal, terlihat tangguh, bersabar. Tapi yang mendapatkan ujian khair, mendapat ujian hasanah, lulus atau tidaknya harus dilihat dari sejauh mana ujian kebaikan itu membangkitkan kesadaran, membangkitkan rasa tanggung jawab, membangkitkan kepedulian, membangkitkan rasa kemanusiaan dan rasa ukhuwahnya.

Kalau dilihat dari sisi ini, maka memikul tanggung jawab kepemimpinan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara bagi kader-kader dakwah, adalah merupakan keniscayaan yang harus kita raih. Karena itu adalah bagian dari tanggung jawab dakwah kita, tanggung jawab keumatan kita, tanggung jawab kemanusiaan kita; untuk mengentaskan persoalan umat ini, bangsa ini, kemanusiaan ini dari tekanan-tekanan kezaliman. [ ]

 

Muhasabah Dakwah


Muhasabah Dakwah

Oleh: KH. Hilmi Aminuddin

Langkah-langkah konsolidasi kita tidak akan mencapai hasil yang memadai untuk persiapan-persiapan ke depan, kecuali jika kita memulainya dengan muhasabah. Memulai  dengan evaluasi tentang langkah-langkah kita yang sudah kita ayunkan dalam jalan perjuangan dakwah ini. Sehingga kita mengetahui hal-hal yang mungkin terjadi dalam perjalanan kita yang sebagai manusia tidak pernah sepi dari kemungkinan kekhilafan, kekurangan, dan kelalaian. Semuanya secara fitri dimungkinkan terjadi. Kekhilafan-kekhilafan yang muncul dari kelemahan kemanusiaan kita adalah sesuatu yang wajar. Ketidak wajaran baru terjadi, jika kita mengabaikan evaluasi terhadap kemungkinan-kemungkinan kesalahan-kesalahan yang ditimbulkan oleh kekurangan-kekurangan tersebut.

Kekurangan-kekurangan seringkali belum kita deteksi, belum kita ketahui dan belum  kita rasakan ketika program-program masih dalam bentuk perencanaan, ketika masih dalam bentuk agenda. Tapi ketika sudah diterjunkan dan diimplementasikan di lapangan, setelah berinteraksi dengan aneka ragam program, aneka ragam kekuatan  yang ada di lapangan, barulah terasa  kekurangan-kekurangan itu. Barulah terasa hambatan-hambatan yang timbul, barulah terasa pilihan-pilihan langkah atau program  yang kurang tepat atau kurang akurat. Maka konsolidasi yang dimulai dari mutaba’ah, tidak bisa dilepaskan dari mutaba’ah maidaniyah.

Ikhwan dan akhwat fillah…

Evaluasi-evaluasi yang kita lakukan dalam rangka konsolidasi itu sudah barang tentu  mempunyai patokan yang sangat baku dalam konsep perjuangan Islam. Pertama-tama kita evaluasi seluruh langkah perjuangan  kita dari sudut hablum-minallah. Apakah gerak langkah perjuangan kita selama ini berhasil mendekatkan diri kita kepada Allah SWT? Mendekatkan diri kepada konsep yang digariskan oleh Allah SWT atau tidak? Di sisi hablum-minallah itulah evaluasi yang sangat mendasar kita mulai.

Kita mulai dari hal-hal yang sangat mendasar dengan  intropeksi atau naqdudz-dzati terhadap–na’uudzubillah- inhirafaat ‘aqidiyah (penyimpangan aqidah) yang mungkin timbul. Sering saya ingatkan, efek dari marhalah perjuangan kita yang sekarang ini mengharuskan kita semakin kuat berinteraksi secara terbuka di tengah-tengah kehidupan berbangsa dan bernegara. Dimana disana terjadi komunikasi yang bersifat nazhariyan yaitu diskusi, tukar fikiran, dialog, dan musyawarah. Secara fikriyan hal ini memungkinkan terjadinya nuats-tsir fiihim wa nata-atstsarbihim. Dimana kita bisa mempengaruhi mereka dan bisa pula terpengaruh oleh mereka yang berefek kepada kemungkinan-kemungkinan, terjadinya ikhtiraqaat atau penetrasi yang bersifat ma’nawiyan.

Penetrasi moril inilah  yang –na’udzubillah- tidak terasa kadang-kadang menyelinap ke dalam diri kita, bahkan ke dalam   raq’atul quluub, masuk ke dalam sisi-sisi hati kita. Ini yang sering saya ingatkan, bahwa melalui  pelaksanaan tugas-tugas dalam musyarokah, dalam keterbukaan, dalam mu’amalah dengan publik memungkinkan adanya resiko penetrasi moril yang tiba-tiba secara tidak terasa. Na’uudzubillah, sehingga kita di satu sisi kehidupan kita mungkin sudah tidak lagi berperilaku  sesuai dengan dhawabith  ‘aqidiyah (patokan-patokan aqidah) kita, dhawabith ma’nawiyah (patokan-patokan moral), dhawabith khuluqiyah (patokan-patokan akhlak), dhawabith sulukiyah (patokan-patokan sikap) kita yang seluruhnya  mengacu kepada alqur’an dan sunnah.

Ikhwan dan akhwat fillah rahimakumullah…

Alhamdulillah, selama ini kesiagaan kita secara tanzhimiyah selalu kita upayakan untuk ditingkatkan dalam mengawal kemungkinan-kemungkinan terjadinya penetrasi moril itu. Mudah-mudahan usaha-usaha yang secara jama’iy kita lakukan dapat meminimalisir kemungkinan-kemungkinan terjadinya penetrasi moril yang memungkinkan terjadinya pelemahan ma’nawiyah dan semangat perjuangan kita.

Ikhwan dan akhwat fillah…

Juga sering saya ingatkan, bahwa dalam pergaulan melaksanakan tugas-tugas dakwah, tidak bisa tidak, kita harus berinteraksi secara terbuka dengan publik. Hal itu kemudian memunculkan kemungkinan-kemungkinan terjadinya penetrasi idiil—ikhtiraqaat fikriyah.

Ikhtiraqaat fikriyah ini  biasanya  dimulai dengan terjadinya al idzaabah fikriyah (pelarutan idealisme). Apalagi dalam perjuangan ini, kita mendapatkan terpaan-terpaan ghazwul fikri yang demikian kuat. Kadang-kadang  muncul dalam bentuk kalimat-kalimat yang sangat menohok. Dimana kita dianggap sudah kehilangan idealisme atau dipersamakan dengan partai-partai lain atau kelompok-kelompok perjuangan lain. Suara-suara itu terdengar oleh kita dan harus dijadikan bahan evaluasi serta harus kita perhatikan.

Sisi kedua  dari evaluasi kita adalah sisi hablum minannas. Sebab hubungan dengan Allah SWT yang baik, hubungan dengan Khaliq yang baik harus memancarkan hasil hablum minannas yang baik. Tidak mungkin kita mengatakan: “Yang penting hablum minallah. Soal hablum minannaas nanti kita urus belakangan”.

Justru hablum minallah yang baik akan terrefleksikan  secara otomatis dalam kehidupan kita di tengah-tengah masyarakat (hablum minannaas). Secara hablum minannaas kita harus mengukur dari hasil-hasil interaksi kita di tengah-tengah masyarakat, di tengah-tengah publik dengan beberapa hal.

Sebelumnya, saya harus mengapresiasi kehadiran ikhwan dan akhwat  fillah di tengah-tengah masyarakat, sebetulnya sangat menonjol dengan aktivitas-aktivitas sosial yang demikian banyak. Baik dalam kaitan keterlibatan mengatasi aneka ragam problematika, terutama di saat-saat adanya musibah dan bencana,ikut terlibat penuh dalam mengurai problematika masyarakat, juga dalam membela kepentingan-kepentingan masyarakat, ri’ayah mashlahah ijtima’iyah. Peran ikhwan dan akhwat sangat menonjol dan diakui banyak fihak.

Yang harus kita evaluasi pengaruhnya di tengah-tengah masyarakat adalah: apakah kehadiran kader-kader kita di tengah-tengah masyarakat menghasilkan interaksi sosial yang positif?

Dalam manhajiyatul ‘amal kita dalam membangun ‘alaqah ijtima’iyah, ada  tiga langkah utama yang selama ini kita lakukan. Yang pertama adalah keterlibatan kader-kader kita, ikhwan dan akhwat, dalam memperjuangkan, membela, dan mengadvokasi kepentingan-kepentingan masyarakat ( ri’ayatul mashaalih al ijtima’iyah).

Yang kedua, keterlibatan kader-kader kita, ikhwan dan akhwat, dalam memecahkan problematika di tengah-tengah masyarakat (hallul qadhaaya al ijtima’iyah). Kalau tidak disebut kepeloporannya, tapi keberadaan kita di garis depan di bidang ini sebetulnya sangat menonjol. Umpamanya kreatifitas ikhwan dan akhwat ketika berkontribusi untuk memberikan solusi bagi problem ekonomi masyarakat melalui pendekatan-pendekatan tathbiqus syari’ah islamiyah. Sejak tahun 90-an, terutama 90-an akhir yang memelopori lahirnya BMT-BMT adalah kader-kader kita. Bahkan sempat—paling tidak dalam bentuk hitungan kuantitas—terlaporkan ikhwan dan akhwat fillah di seluruh Indonesia membuat BMT  lebih dari 5.000 BMT.

Ini adalah kreatifitas ikhwan dan akhwat di tengah-tengah masyarakat. Walaupun kemudian di satu sisi jumlahnya menyusut, tapi di pihak lain masih menghasilkan BMT-BMT yang teladan, yang kokoh, yang membesar. Bahkan mungkin aktivitas itu paling besar. Walaupun jumlahnya semakin sedikit, mudah-mudahan merupakan bagian dari kristalisasi potensi ikhwan dan akhwat yang kemudian terkonsolidasi secara kuat, akhirnya memunculkan perjuangan ekonomi islami yang lebih mumpuni. Jumlahnya memang sekarang ini mengecil, tapi semakin bermutu.

Di sektor pendidikan juga kita menonjol. Dalam menangani problematika pendidikan anak-anak, mulai dari lembaga-lembaga pendidikan kecil yang diselenggarakan di rumah-rumah kontrakan, sekarang  jumlahnya juga semakin membesar. Saya dengar dari laporan yang sampai, lembaga pendidikan Islam yang kita kelola dengan manhajiyatul islam yang sering kali ditandai dengan kalimat ‘Islam Terpadu’ (IT) baik SMP IT, SD IT, sampai SMA IT, menurut laporan yang sampai, sekarang jumlahnya dari TPA sampai SMA seluruh Indonesia sudah ada 2.500 lembaga. Semuanya terorganisir dan juga  secara kualitas kelihatan semakin meningkat. Institusi-institusinya semakin besar dan semakin memberikan kontribusi dalam perbaikan-perbaikan sistem pendidikan serta mulai mempengaruhi juga yayasan-yayasan Islam lain. Mereka mulai mengikuti manhajiyahnya atau paling tidak brandmark-nya, ikut memakai nama ‘Islam Terpadu’ walaupun belum manhajiyahnya. Ini adalah bagian dari kerja ikhwan dan akhwat di tengah masyarakat yang menonjol.

Yang ketiga, adalah keterlibatan ikhwan dan akhwat dalam shiyaghatul bina al ijtima’i. Keterlibatan ikhwat dan akhwat dalam tatanan struktur kemasyarakatan sekarang sudah mulai meningkat. Saya dengar dari laporan  DPP umpamanya di suatu kabupaten di Jawa Barat, dilaporkan kader kita ada yang terlibat dalam pemilihan kepala desa atau lurah sampai 14 kelurahan yang menang. Kalau ketua RT dan RW sudah sangat banyak. Artinya ini, kita masuk ke dalam shiyaghatul bina al ijtima’i, tatanan struktuk kemasyarakatan. Bahkan dari yang paling dekat kepada masyarakat; RT, RW, dan lurah yang sebetulnya akan lebih efektif dan efisien dibanding Bupati dan Gubernur. Ini adalah bagian terpenting dari interaksi kita dalam binaaul ‘alaaqah al ijtima’iyah.

Ikhwan dan akhwat fillah rahimakumullah. Insya Allah, kalau tiga hal ini berjalan efektif, maka kita akan melihat keberhasilan dalam membangun ‘alaaqah ijtima’iyah.  Dari hasil evaluasi saya terhadap binaaul ‘alaaqah al ijtima’iyah baik dari segi ri’ayah mashaalih ijtima’iyah atau hallul qadhaaya al ijtima’iyah, begitu juga shiyaghatul binaa al ijtima’iy, kurang ditindaklanjuti dalam bentuk tafaa’ul ijtima’iy (interaksi sosial).

Ada kecenderungan ikhwan dan akhwat  secara terstruktur hadir di tengah-tengah aktivitas tadi, tapi terlalu formalis. Di luar aktivitas formal itu, kurang ditindak lanjuti dalam bentuk interaksi sosial.

Sebetulnya interaksi sosial yang diharapkan adalah dalam bentuk-bentuk yang tidak formal. Memang kadang-kadang kader kita belum terbiasa duduk ngobrol dengan pak camat, kongkow dengan pak Lurah, dengan Pak RT atau hadir di kantornya. Hal seperti ini kurang dilakukan. Cenderung hubungan itu formalis, sangat formal dalam acara-acara resmi. Sebetulnya itu bermanfaat bagi mereka, cuma kurang ditindaklanjuti oleh interaksi sosial yang akan memberikan kesan lebih terhadap aktivitas kebajikan kita di tengah-tengah masyarakat.

Melalui interaksi sosial itu kita harapkan akan terjadi tafa’ul fikri (interaksi pemikiran). Karena salah satu metode perjuangan gerakan dakwah kita di tengah-tengah masyarakat dalam membentuk dan membangun idealisme masyarakat, harus terjadi tafa’ul fikri. Interaksi idealisme melalui dialog, tukar fikiran, berbincang dan kebiasaan-kebiasaan aktivitas di masyarakat yang mungkin bisa kita manfaatkan.

Tafaa’ul fikriy ini penting  dalam konteks nasyrul fikrah kita yang dengan itu diharapkan terjadi keselarasan dan keharmonisan antara idealisme kita dengan masyarakat. Sehingga idealisme kita bukan idealisme ‘manara gading’ yang indah dipandang tapi sulit dijangkau. Hal itu tidak bisa terjadi kecuali melalui interaksi sosial dalam menyebarkan ide-ide kita di tengah-tengah masyarakat. Proses inilah yang harus kita tingkatkan.

Ikhwan dan akhwat fillah…

Dari sudut pandang dakwah dan dari sudut ‘amal islami, insya Allah, tafaa’ul fikri akan melahirkan sebuah support atau dorongan terjadinya kreatifitas masyarakat muslim. Kreatifitas ini kita harapkan muncul dalam merespon kebutuhan-kebutuhan gerakan Islam terhadap keterlibatan masyarakat. Artinya masyarakat ini dalam pelibatannya dalam perjuangan Islam tidak perlu didorong-dorong. Kalau sudah ada interaksi idealisme, insya Allah, kreatifitas untuk ikut dalam aktivitas keislaman, kedakwahan itu akan secara otomatis terjadi, sehingga tidak melelahkan kita. Inilah yang kita harapkan, yaitu munculnya kreatifitas di tengah-tengah masyarakat dari keterlibatan potensi mereka dalam dakwah, aktivitas islam, aktivitas-aktivitas perjuangan kita.

Yang ketiga, ikhwan dan akhwat fillah, yang juga kita harapkan adalah adanya dinamika masyarakat  yang positif, masyarakat yang dinamis, hayawiyah al ijtima’iyah. Masyarakat yang dinamis adalah masyarakat yang hidup, yang mampu merespon dan mengantisipasi segala hal yang mungkin terjadi di tengah-tengah masyarakat. Baik respon dan antisipasi terhadap kemungkinan-kemungkinan ancaman terhadap masyarakat atau respon dan antisipasi terhadap hal-hal yang terkait dengan pembangunan masyarakat sendiri. Dengan interaksi seperti itu, insya Allah, masyarakat kita menjadi masyarakat  yang produktif.

Produktif ini tidak bisa kita maknai dengan materil saja. Artinya produktifitas masyarakat itu bukan dilihat dari segi produktifitas ekonomi saja, tapi kita juga memerlukan masyarakat yang mempunyai produktifitas di sektor budaya, di sektor seni, termasuk juga produktifitas di bidang politik. Keterlibatan masyarakat dalam politik yang produktif ini sudah tentu memerlukan waktu dalam pembelajaran di tengah-tengah masyarakat.

Sekarang ini secara politik masyarakat kita, saya katakan masih merupakan basis pragmatis bagi partai politik manapun. Belum mengarah ke basis idiologis. Basis idiologis itu baru terbentuk kalau masyarakatnya produktif dinamis.

Ikhwan dan akhwat fillah…

Jadi dari sisi evaluasi melalui pendekatan hablum minannaas, kita harapkan binaaul ‘alaaqah ijtima’iyah kita menghasilkan sesuatu di tengah-tengah masyarakat. Yaitu kebajikan-kebajikan dalam bentuk meningkatnya kualitas masyarakat dari sisi stabilitas sosialnya, dari segi dinamika sosialnya, dari segi produktifitas sosialnya, dst. Mudah-mudahan dengan upaya  konsolidasi kita yang akan ditindak lanjuti dengan koordinasi dan mobilisasi potensi kita, insya Allah, akan menghasilkan kekuatan hablum minallah dan hablumminannaas yang kokoh. Insya Allah dengan pendekatan yang diarahkan oleh manhaj qur’ani seperti itu, raihan kemenangan kita adalah kemenangan yang hakiki bukan kemenangan yang semu. Yakni kemenangan yang menghasilkan potensi-potensi baru yang bergabung dalam kekuatan dakwah kita. Insya Allah…

Khiththah Idaratul Ma’rakah


Khiththah Idaratul Ma’rakah

(Langkah-langkah Mengelola Pertempuran)

Oleh: KH. Hilmi Aminuddin

Dalam sebuah perjuangan dan pertempuran yang secara terus-menerus kita hadapi, yang paling pertama yang harus betul-betul mendapat perhatian adalah:

Khiththah Takhthithiyah (Strategi perencanaan)

Strategi perencanaan Insya Allah selalu mendahului setiap ma’rakah  yang dilalui dakwah kita ini. Dari awal ta’sis seluruhnya dengan perencanaan. Secara amaliyan dan tanzhimiyan seluruhnya terencana secara baik. Sudah tentu pelibatan-pelibatan terhadap perencanaan semakin luas dan akhirnya alhamdulillah, lembaga perencanaan semakin kokoh, semakin kuat, dan pelibatannya semakin luas. Insya Allah ini akan menimbulkan efek positif di dalam jama’ah dakwah kita.

Di era saat ini, kita harus mempertimbangkan untuk melakukan langkah-langkah bagaimana kita pun menerima asupan-asupan dan masukan-masukan dari publik. Dan itu juga sudah antum harus lakukan agar betul-betul apa yang kita rencanakan itu bernilai aspiratif tinggi. Umat pun dilibatkan dalam perencanaan. Bahkan komponen bangsa dari aneka ragam kelompok atau komunitas di bangsa ini pun ikut terlibat dalam memberikan kontribusi dalam perencanaan kita. Itu seharusnya selalu kita lakukan.

Kalau tidak kita lakukan pelibatan-pelibatan yang luas itu, maka langkah kita akan terhenti. Tidak mungkin—na’udzubillah—maju dari mihwar muassasi menuju mihwar daulah kalau pelibatan-pelibatan itu hanya berputar-putar secara internal. Pelibatan-pelibatan harus menjadi luas, termasuk dalam bahan-bahan perencanaan sekalipun.

Khiththah Tajmi’iyah (Langkah Menghimpun)

Khiththah tajmi’iyyah yaitu jam’ut thaaqah (menghimpun potensi) yang meliputi hal-hal berikut: Pertama, Al-Muhafazhah ‘ala muktasabat, memelihara apa yang sudah kita hasilkan, yaitu potensi jama’ah dakwah ini, potensi kebersamaan dalam jama’ah ini, potensi ukhuwah, potensi ta’awun, potensi tadhamun. Inilah modal awal kita. Semangat kebersamaan bukan saja harus utuh, tapi harus semakin berkembang, harus semakin produktif. Tidak boleh ada yang merasa terlepas dari hadlanatul jama’ah (pelukan asuhan jama’ah). Tetap semuanya ada dalam kehidupan amal jama’iy, yang disana merasakan ada kehangatan, al-hanun. Hananatul Umm, bagaikan hangatnya pelukan ibu yang dilakukan oleh jama’ah.

Kedua, isyrakul ghair. Sudah barang tentu kita juga harus dapat menghimpun potensi luar. Salah satu indicator keberhasilan musyarakah adalah isyrakul ghair (pelibatan orang lain). Ia adalah suatu kerja yang produktif. Jika musyarakah tidak berhasil melakukan khutuwat tajmi’iyah potensi-potensi di luar jama’ah kita, berarti musyarakah kita gagal. Kita cuma numpang hidup tapi tidak memberikan harapan hidup bagi orang lain.

Kekokohan potensi internal, semangat kebersamaan harus tetap dibangun, dibina, dikokohkan. Begitu juga kebersamaan dalam ruang lingkup keumatan, kehidupan berbangsa dan bernegara harus kita kembangluaskan.

Khuthuwat tauzhifiyah (Langkah Pemungsian)

Setelah dihimpun, semua orang harus difungsikan. Tidak boleh ada yang marginal, yang merasa disisihkan, yang merasa disepelekan. Seluruhnya harus berfungsi, harus berperan. Sebab kalau orang berposisi mauqif janibi (potensi yang marginal) nantinya menjadi beban, bahkan menjadi ancaman, menimbulkan ma’rakah janibiyah (pertempuran sampingan). Kalau dibiarkan akan timbul ma’rakah dakhiliyah (pertempuran di dalam). Ini akibat tidak terfungsikannya potensi. Disinilah pentingnya kemampuan kita dalam tauzhif, melakukan tanassuq kulli (sinkronisasi secara integral) ataupun tanassuq dzati (sinkronisasi secara sektoral).

Lihatlah air ketika terhimpun di dalam kolam lalu tidak ada output. Dia sudah masuk dalam wadah yang benar, sudah masuk ke dalam mudkhala shidqin, tapi kalau tidak diberi mukhraja shidqin, air itu akan menjadi kotor. Tumbuh lumut dan seterusnya. Tapi kalau air itu masuk melalui prosedur yang benar, dan ditata secara benar potensinya, mengalir secara benar, insya Allah air itu akan tetap bersih dan tetap mengalir, tetap menggerakkan dan bahkan menggerakkan yang lain.

Manusia juga sama. Dihimpun dalam jama’ah, lalu dihimpun dalam suatu wadah besar perjuangan dakwah.Tapi bila tidak difungsikan secara benar dan digerakkan secara baik, maka dia akan menjadi kotor. Bisanya polusi yang mudah terasa itu muncul di mulut. Mulutnya mulai kotor. Itu bisaanya karena kurang kerjaan. Kalau orang itu sibuk kerja, punya wazhifah yang benar-benar sibuk, tidak sempat berkata usil segala macam. Mulai kotor dari mulut, nanti kepada ruhnya. Apalagi sekarang bisa diwakilkan lewat sms, bisa didelegasikan ke sms, ke internet dan sebagainya. Itu adalah efek dari masalah tauzhif yang kurang maksimal.

Khuthuwat Tahfizhiyah (Langkah Pemeliharaan)

Khuthuwat Tahffizhiyah itu ada lima. Yaitu: musyarakah ‘indal qarar (musyarakah dalam menentukan ketetapan), tasyji’ ‘indal ijtihad (dorongan berijtihad), da’m indal tanfidz (dukungan dalam pelaksanaan), I’tiraf ‘indal injaz (pengakuan ketika berhasil), inshaf ‘indal khatha (bersikap adil ketika menghadapi kesalahan).

Musyarakah ‘indal qarar

Semakin besar jama’ah dakwah kita, maka kreasi kita dalam memberikan tauzhif (pemungsian) dan tahfizh (pemeliharaan) kepada seluruh komponen jama’ah harus kreatif kita ciptakan. Coba diadakan tampungan-tampungan. Bisa jadi dapat dihadirkan orang luar untuk merangsang tumbuhnya ide-ide atau aspirasi tersebut. Pelibatan semakin luas, sense of belonging dari berbagai komponen semakin kuat terhadap jama’ah dan dakwah ini.

Tasyji’ ‘indal ijtihad

Aspirasi-aspirasi jangan disumbat. Ijtihadat mulai dikembangkan terus menerus. Jangan berhenti. Kita selalu inovatif dalam langkah-langkah dakwah. Jangan sampai menjadi jenuh dan bosan karena ijtihad dan aspirasi inspirasi terhenti.

Da’m indal tanfidz

Dukungan diberikan ketika melaksanakan tugas. Minimal dengan do’a. Syukur-syukur dengan dana. Jadi semua ikhwah merasa didukung dalam melaksanakan tugasnya. Jangan sampai terjadi betapa pun kita sudah melakukan pembagian tugas, melakukan kompartemensasi. Kehidupan jama’ah ta’awun ini harus hidup. Jangan sampai nafsi-nafsi. Kita harus jama’iy ta’awuniy. Da’m itu bisa bersifat da’m ikhawi (dukungan persaudaraan) dan da’m tanzhimi (dukungan structural). Kalau da’m tanzhimi sifatnya structural, sedangkan da’m ikhawi sifatnya personal tanpa melihat jabatan dan bidangnya. Ini penting dilakukan supaya kokoh amal jama’i kita. Jadi jangan sampai melihat sesuatu tidak berjalan dibiarkan saja karena bukan tugas kita. Paling tidak kita memberikan saran, mendo’akan, syukur juga bila memikirkan pendanaannya, pembiayaannya antar bidang atau antar personal.

I’tiraf ‘indal injaz

Pengakuan-pengakuan akan keberhasilan harus ada. Pengakuan itu penting karena seseorang merasa diakui eksistensinya. Bukan hanya secara fisik, secara structural, tapi secara amaliyah. Apalagi kita juga pengalaman menyediakan hadiah-hadiah bagi wilayah tertentu atau bagi komunitas tertentu. Dimana kita menghadiahkan umroh, bahkan hadiah haji dan seterusnya. Itu adalah bagian dari I’tiraf ‘indal injaz.

Al-Inshaf ‘indal khatha

Adil menyikapi kesalahan. Ingat, dalam ma’rakah ini pelakunya adalah manusia. Kemungkinan ada salah, kemungkinan kepeleset adalah sebuah kewajaran. Itu adalah unsur dari sifat kemanusiaan. Mahallul khatha’ wa nisyaan adalah manusia. Manusia disebut insan itu karena suka lupa. Oleh karena itu inshaf, jangan sampai mengukur ikhwah, teman berjuang dan orang dari luar dengan ukuran yang tidak mungkin salah.

Kita harus memberikan jatah salah, tapi jangan meminta jatah salah. Kepada setiap orang diberikan space kemungkinan bersalah. Sehingga kalau salah jangan kaget. Kemudian kalau terjadi salah, jangan serta merta lalu memuhasabah dia, tapi muhasabah diri kita dulu. Apa kontribusi kita sehingga dia tidak bersalah. Atau bahkan apa kontribusi kita sampai dia salah. Siapa tahu kita ikut andil dalam membuat dia salah. Jadi ittihamu dzat (menuduh diri sendiri) adalah menjadi akhlak da’i. Dengan pendekatan ma’nawiyah seperti itu, ketika kita memuhasabahi dia menjadi lembut, santun, menjadi nyaman bahasanya. Tapi kalau belum apa-apa sudah cenderung menyalahkan dulu, akan membuatnya lari dan jauh. Akan lebih buruk akibatnya.

Khuthuwat Riqabiyah (Langkah Pengawasan)

Jangan lupa dengan khuthuwat riqabiyah, sebab langkah kita itu harus teratur dan terukur. Keteraturan dan keterukuran itu awalnya dari takhtith (perencanaan), ujungnya itu riqabah (pengawasan). Antara perencanaan dan pengawasan adalah dua sejoli yang tidak boleh dipisahkan. Sudah barang tentu sebagai pimpinan dalam pengawasan harus bijak, harus tetap melihat dari sudut pandang kemanusiaan. Riqabah itu bukan yufattisy, tapi memantau. Sebab yufattisy itu ngorek-ngorek. Dan pemantauan yang paling mudah itu adalah dari efek-efek kerja, efek bergerak dan hasil pekerjaan.

Riqabah itu bukan hanya kepada perencanaan-perencanaan kita. Karena di lapangan itu yang bergulir adalah aneka program. Di lapangan itu bias jadi terjadi tadharrub (saling bertabrakan) antara program kita dengan program orang lain. Tapi bias jadi juga ada tawafuq (saling kesesuaian) dalam titik tertentu. Nah dalam tawafuq itulah kita bias mengambil keuntungan-keuntungan dari program-program orang lain.

Apalagi di Indonesia ini seluruh rival kita, yang sekuler sekali pun konstituennya, pimpinannya adalah umat Islam juga. Sehingga mungkin saja muncul langkah-langkah mereka yang ada tawafuq. Dan kita tidak bisa melihat itu kalau kita tidak mempunyai ijabiyatur ruýah (pandangan positif). Pandangan positif itu dasarnya adalah begini: Al-Islam kullul haq (Islam itu seluruhnya benar), Al-Haqqu kulluh (kebenaran seluruhnya) adalah Islam. Tapi di luar Islam bisa jadi ada juzún minal haq (sebagian dari kebenaran). Karena kebenaran itu selain bersumber dari wahyu, juga bersumber dari fitrah. Walaupun ia di luar lembaga Islam, fitrahnya kan ada. Akhirnya muncul juga kebenaran dari fitrah itu pada berbagai macam orang. Makanya kita tidak boleh menggeneralisir kepada orang lain dengan mufaraqah (memisahkan diri), dengan landasan furqan: kita benar semuanya, mereka salah semuanya. Kita harus melihat dengan ijabiyatu ruýah kemungkinan adanya unsur-unsur tawafuq (kesesuaian) dari segi program atau tawafuq dari segi personal.

Khuthuwat Tarbawiyah (Langkah pembinaan)

Artinya segala potensi yang dihimpun, terutama dari luar ke dalam, harus ada langkah-langkah muhafazhah (penjagaan) kepada mereka. Muhafazhah thaaqah (potensi) harus dipelihara. Jangan sampai potensi yang sudah kita gunakan lalu terbengkalai. Tidak dipelihara, tidak dijaga hubungan, tidak ada komunikasi, tidak ada pelibatan-pelibatan lanjutan, tidak ada pengembangan-pengembangan lanjutan. Harakah ini harus menjaga potensi yang disertakan dalam setiap marhalah untuk ikut ke dalam marhalah berikutnya. [ ]

Tuntunan Islam Dalam Mencegah Penyimpangan Seksual


Tuntunan Islam Dalam Mencegah Penyimpangan Seksual

Akhir-akhir ini pembicaraan mengenai LGBT (Lesbian, Gay, Biseksual dan Transgender) menjadi trending topik di berbagai media. LGBT hakikatnya merupakan bentuk penyimpangan seksual dan merupakan dosa besar. Tidak hanya dosa, ia juga merupakan penyakit masyarakat yang dapat mengundang datangnya azab Allah pada satu negeri. Umat-umat sebelumnya yang menghalalkan perbuatan keji ini, telah diazab dengan azab yang sangat keras. Seperti yang terjadi pada kaum nabi Luth ‘alaihi salam, Allah membalikkan tanah tempat mereka berpijak, menghujani mereka dengan batu-batu panas dan berbagai azab pedih lainnya. Sebuah adzab yang sangat dahsyat sebelum azab yang lebih besar di akhirat kelak.

Perilaku homoseksual bahkan lebih rendah dari sifat binatang. Jika kita mengamati hewan-hewan di sekitar kita, kita tidak akan mendapatkan seekor hewan jantan tertarik untuk mengawini hewan jantan lainnya. Ini karena fitrah yang Allah tetapkan pada setiap makhluk, bahwa jantan tercipta berpasangan dengan betina, begitu juga halnya dengan manusia, laki-laki tercipta berpasangan dengan wanita. Oleh karena itu, orang-orang yang mencoba menghalalkan LGBT atau mempromosikannya adalah orang-orang yang berpenyakit jiwa dan lebih sesat dari binatang. Perkara seperti inilah yang diamaksud Allah dalam al-Qur’an:

وَلَقَدْ ذَرَأْنَا لِجَهَنَّمَ كَثِيرًا مِنَ الْجِنِّ وَالإنْسِ لَهُمْ قُلُوبٌ لا يَفْقَهُونَ بِهَا وَلَهُمْ أَعْيُنٌ لا يُبْصِرُونَ بِهَا وَلَهُمْ آذَانٌ لا يَسْمَعُونَ بِهَا أُولَئِكَ كَالأنْعَامِ بَلْ هُمْ أَضَلُّ أُولَئِكَ هُمُ الْغَافِلُونَ (١٧٩)

“Dan Sesungguhnya Kami jadikan untuk isi neraka Jahannam kebanyakan dari jin dan manusia, mereka mempunyai hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah) dan mereka mempunyai mata (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah), dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengar (ayat-ayat Allah). mereka itu seperti binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi. Mereka Itulah orang-orang yang lalai.” (QS. Al-A’raf: 179)

Orang-orang yang tidak memiliki kecenderungan penyimpangan seksual namun mencoba melegalkan perbuatan keji ini, hakikatnya mereka sedang melawan fitrah mereka sendiri. Sebab jika ditawarkan kepada mereka, atau kepada anak-anak mereka untuk dinikahkan dengan sesama jenis mereka, niscaya mereka akan menolak dan tidak akan membiarkan anaknya terjatuh dalam perbuatan hina itu. Penolakan mereka menunjukkan ketidaksenangan mereka akan perbuatan itu, sebab kenyataannya ia memang merupakan penyimpangan dan menyalahi kodrat.

LGBT adalah penyakit berbahaya, dia dapat menular melalui hubungan interaksi masyarakat. LGBT berbahaya di masyarakat karena akan menimbulkan berbagai jenis penyakit kelamin dan penyakit kejiwaan. Allah telah menjanjikan azab yang pedih bagi pelakunya, sebab hal itu merupakan bentuk mengubah ciptaan-Nya serta ketidak syukuran atas penciptaan Allah terhadap dirinya.

Islam tidak hanya melarang sesuatu yang dapat membahayakan manusia, tapi juga datang dengan tuntunan yang baik, yang dapat mencegah mereka dari marabahaya tersebut. Diantara tuntunan islam agar terhindar dari penyimpangan seksualitas ini adalah:

1.Membekali diri dengan ilmu agama

Ilmu agama adalah benteng terbaik seorang muslim. Seseorang yang memilki ilmu agama akan mengetahui norma-norma yang baik, serta takut pada siksa Allah jika menyalahi ajaran-Nya. Begitu pula, seseorang yang mendekatkan dirinya pada Allah, pasti akan ditunjukkan jalan yang benar oleh-Nya.

2. Mengharamkan Pacaran

Pacaran tidak hanya perbuatan yang mendekatkan seseorang pada zina. Ia juga merupakan perbuatan yang memberikan sumbangsih besar dalam menyebarkan LGBT. Dalam kasus-kasus yang sering terjadi, ketika seorang wanita ditelantarkan oleh pacarnya, perasaan benci yang sangat besar pada laki-laki akan muncul pada dirinya, sehingga dia akan mencari wanita sebagai tempat melampiaskan perasaannya. Sebaliknya yang terjadi pada seorang pria ketika dia diselingkuhkan oleh pacarnya. Demikianlah ikatan cinta kasih yang tidak dilandaskan karena Allah, hanya akan menjadi penyakit yang merusak diri sendiri.

3. Memisahkan tempat tidur anak-anak saat berusia 10 tahun

Syariat islam mewajibkan pemisahan tempat tidur anak laki-laki dan perempuan saat berusia 10 tahun. Hikmah dari syariat ini adalah mengajarkan anak-anak bahwa laki-laki dan perempuan memiliki sifat dan keistimewaan satu sama lain yang tidak sama, sehingga mereka tidak saling meniru sifat. Jika seorang anak wanita dibiasakan tinggal dengan kakaknya yang laki-laki, dia bisa terpengaruh oleh sifat-sifat kakaknya karena selalu mencontoh kakaknya. Begitu pula sebaliknya.

4. Tidak berpenampilan seperti lawan jenis

Syariat islam mengharamkan seorang muslim berpenampilan dengan penampilan lawan jenisnya, bahkan ia merupakan perbuatan terlaknat. Hal ini dilakukan agar setiap orang bisa menjaga fitrah-fitrahnya. Oleh karena itu, orangtua tidak diperbolehkan memakaikan anaknya dengan busana lawan jenisnya, karena akan berpengaruh pada sifat dan akhlaknya.

5. Menumbuhkan rasa kepercayaan dan keyakinan bahwa laki-laki adalah pemimpin perempuan

Menumbuhkan rasa kepercayaan dan keyakinan bahwa laki-laki adalah pemimpin perempuan adalah sesuatu yang sangat penting. Sejak usia dini atau anak-anak, Islam sudah mengajarkan perbedaan antara keduanya, sebab ketika setelah dewasa, seorang laki-laki akan menjadi pemimpin bagi perempuan, laki-laki akan menjadi suami seorang wanita. Ini merupakan adab penting yang berhubungan dengan keberlangsungan hidup manusia. Sebab populasi manusia tidak akan bertambah jika manusia hidup dengan sesama jenisnya.

6. Membedakan hak antara laki-laki dan perempuan

Laki-laki dan wanita memiliki sifat yang berbeda. Karena itu Islam membedakan hak-hak dan kewajiban-kewajiban mereka. Hal itu agar setiap mereka saling memiliki ketergantungan dan saling menyempurnakan. Sebab ada kebutuhan wanita yang bisa terpenuhi kecuali hidup bersama laki-laki, begitu pula sebaliknya.[]

Oleh Muhammad Ode Wahyu, SH.