Archives

TA’LIFUL QULUB


TA’LIFUL QULUB

Posted By Tarbawiyah

Pertautan Hati

Di materi-materi sebelumnya, kita telah mengetahui bahwa salah satu pilar takwinul ummah adalah takwinu ruhil jama’ah (membentuk semangat persatuan, kesatuan, atau kebersamaan). Kita telah mengetahui, faktor pertama yang menjadi pengokoh takwinu ruhil jama’ah ini adalah al-i’tisham bi habli-Llah (berpegang teguh pada tali Allah). Faktor selanjutnya yang menjadi pengokoh takwinu ruhil jama’ah adalah ta’liful qulub (pertautan hati). Tanpa persatuan dan pertautan hati, tumbuhnya ruhul jama’ah menjadi sesuatu yang mustahil.

Dalam konteks keumatan atau konteks jama’ah Islamiyah, ta’liful qulub ini maknanya adalah:

Pertama, al-ijtima’u ‘alal mahabbah (berkumpul karena saling mencinta karena Allah).

Salah satu golongan yang disebut dalam hadits ‘tujuh golongan yang akan mendapat naungan Allah di hari kiamat’ adalah:

رَجُلَانِ تَحَابَّا فِي اللَّهِ اجْتَمَعَا عَلَيْهِ

Dua orang yang saling mencintai karena Allah, keduanya berkumpul di atas dasar (mencintai karena Allah) itu…” (Muttafaq Alaih)

Makna hadits ini adalah mereka bersatu dan bermuamalah semata-mata karena mencintai Allah Ta’ala.

Saling mencinta atau berkasih sayang karena Allah Ta’ala adalah ciri umat Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Hal ini diberitakan langsung oleh Allah Ta’ala melalui firman-Nya,

مُّحَمَّدٌ رَّسُولُ اللَّهِ ۚ وَالَّذِينَ مَعَهُ أَشِدَّاءُ عَلَى الْكُفَّارِ رُحَمَاءُ بَيْنَهُمْ

“Muhammad itu adalah utusan Allah, dan orang-orang yang bersama dengan dia adalah keras terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang sesama mereka…..” (QS. Al-Fath, 48: 29)

Hal ini pun merupakan bukti kokohnya ikatan iman. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

أَوْثَقُ عُرَى اْلإِيْمَانِ:الْمُوَالاَةُ فِي اللهِ، وَالْمُعَادَاةُ فِي اللهِ، وَالْحُبُّ فِي اللهِ، وَالبُغْضُ فِي اللهِ

“Ikatan iman yang paling kuat adalah loyalitas karena Allah dan permusuhan karena Allah, mencintai karena Allah dan membenci karena Allah.” (HR. Ath-Thabrani dalam Mu’jamul Kabir [no.11537], lihat Silsilah al-Ahadits ash-Shahihah [IV/306, no. 1728])

Kedua, al-iltiqa-u ‘alat-tha’ah (bertemu untuk ketaatan kepada Allah)

Kelanjutan dari potongan hadits berikut ini,

رَجُلَانِ تَحَابَّا فِي اللَّهِ اجْتَمَعَا عَلَيْهِ

adalah kalimat,

 وَتَفَرَّقَا عَلَيْهِ

“…dan keduanya bercerai di atas dasar (mencintai karena Allah) itu…” (Muttafaq Alaih)

Maknanya adalah mereka bertemu untuk ketaatan kepada Allah Ta’ala dan akan berpisah jika tidak untuk ketaatan kepada Allah Ta’ala. Kapan pun salah seorang di antara mereka berubah dari sifat mencintai Allah Ta’ala ini, pastilah salah seorang dari mereka akan menjauh.

Ketiga, at-tawahhudu ‘alad da’wah (bersatu karena dakwah)

Hal ini disebutkan dalam firman Allah Ta’ala,

وَالْمُؤْمِنُونَ وَالْمُؤْمِنَاتُ بَعْضُهُمْ أَوْلِيَاءُ بَعْضٍ ۚ يَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَيُقِيمُونَ الصَّلَاةَ وَيُؤْتُونَ الزَّكَاةَ وَيُطِيعُونَ اللَّهَ وَرَسُولَهُ ۚ أُولَٰئِكَ سَيَرْحَمُهُمُ اللَّهُ ۗ إِنَّ اللَّهَ عَزِيزٌ حَكِيمٌ

“Dan orang-orang yang beriman, lelaki dan perempuan, sebahagian mereka (adalah) menjadi penolong bagi sebahagian yang lain. Mereka menyuruh (mengerjakan) yang ma’ruf, mencegah dari yang munkar, mendirikan shalat, menunaikan zakat dan mereka taat pada Allah dan Rasul-Nya. Mereka itu akan diberi rahmat oleh Allah; sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (QS. At-Taubah, 9: 71)

Keempat, at-ta’ahudu ‘alal jihad (berjanji untuk perjuangan)

Perjanjian untuk teguh beragama dan kesiapan berjuang dicontohkan kaum Anshar, yakni suku Aus dan Khazraj, ketika berbaiat kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk berkomitmen menegakkan nilai-nilai ajaran Islam serta berjuang dan berkorban di jalan Allah Ta’ala.

وَٱذْكُرُوا۟ نِعْمَةَ ٱللَّهِ عَلَيْكُمْ وَمِيثَٰقَهُ ٱلَّذِى وَاثَقَكُم بِهِۦٓ إِذْ قُلْتُمْ سَمِعْنَا وَأَطَعْنَا ۖ وَٱتَّقُوا۟ ٱللَّهَ ۚ إِنَّ ٱللَّهَ عَلِيمٌۢ بِذَاتِ ٱلصُّدُورِ

Dan ingatlah karunia Allah kepadamu dan perjanjian-Nya yang telah diikat-Nya dengan kamu, ketika kamu mengatakan: “Kami dengar dan kami taati”. Dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Mengetahui isi hati(mu). (QS. Al-Maidah, 5: 7)

Inilah ta’liful qulub yang hakiki yang harus dibangun dalam masyarakat Islam dimana pun mereka berada, inilah tautsiqu ribathil qulub (keteguhan dan kekokohan hati-hati) yang sebenarnya.

Dengan tautsiqu ribathil qulub seperti itu masing-masing individu dalam sebuah komunitas, jama’ah, masyarakat atau umat akan mendapatkan keberkahan tak terhingga dari Rabb alam semesta:

Pertama, idamatul mahabbah, keabadian cinta diantara mereka.

Cinta atas dasar iman kekal hingga yaumil akhir. Di akhirat nanti, orang-orang yang saling mencintai karena Allah Ta’ala akan memperoleh kemuliaan yang agung dari Allah Ta’ala.

Dari Umar bin Al-Khathab radhiyallahu ‘anhu; “Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

«إِنَّ مِنْ عِبَادِ اللَّهِ لَأُنَاسًا مَا هُمْ بِأَنْبِيَاءَ، وَلَا شُهَدَاءَ يَغْبِطُهُمُ الْأَنْبِيَاءُ وَالشُّهَدَاءُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ، بِمَكَانِهِمْ مِنَ اللَّهِ تَعَالَى»

“Sesungguhnya di antara hamba-hamba Allah terdapat beberapa manusia yang bukan para nabi dan orang-orang yang mati syahid. Para nabi dan orang-orang yang mati syahid merasa iri kepada mereka pada Hari Kiamat karena kedudukan mereka di sisi Allah ta’ala.”

Mereka (para sahabat) bertanya, “Wahai Rasulullah, apakah Anda akan mengabarkan kepada kami siapakah mereka?”

Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

«هُمْ قَوْمٌ تَحَابُّوا بِرُوحِ اللَّهِ عَلَى غَيْرِ أَرْحَامٍ بَيْنَهُمْ، وَلَا أَمْوَالٍ يَتَعَاطَوْنَهَا، فَوَاللَّهِ إِنَّ وُجُوهَهُمْ لَنُورٌ، وَإِنَّهُمْ عَلَى نُورٍ لَا يَخَافُونَ إِذَا خَافَ النَّاسُ، وَلَا يَحْزَنُونَ إِذَا حَزِنَ النَّاسُ»

“Mereka adalah orang-orang yang saling mencintai dengan ruh dari Allah tanpa ada hubungan kekerabatan di antara mereka, dan tanpa adanya harta yang saling mereka berikan. Demi Allah, sesungguhnya wajah mereka adalah cahaya, dan sesungguhnya mereka berada di atas cahaya, tidak merasa takut ketika orang-orang merasa takut, dan tidak bersedih ketika orang-orang merasa bersedih.”

Kemudian beliau membaca ayat ini.

أَلَا إِنَّ أَوْلِيَاءَ اللَّهِ لَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُونَ

“Ingatlah, sesungguhnya wali-wali Allah itu, tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati.” (QS. Yunus, 10: 62)” (Sunan Abu Daud: Shahih)

Kedua, hidayatus subul, petunjuk menuju jalan-jalan keselamatan.

Keberkahan ini mereka dapatkan karena mereka selalu berupaya menjalani apa yang diridhai oleh Allah Ta’ala.

يَهْدِى بِهِ ٱللَّهُ مَنِ ٱتَّبَعَ رِضْوَٰنَهُۥ سُبُلَ ٱلسَّلَٰمِ وَيُخْرِجُهُم مِّنَ ٱلظُّلُمَٰتِ إِلَى ٱلنُّورِ بِإِذْنِهِۦ وَيَهْدِيهِمْ إِلَىٰ صِرَٰطٍ مُّسْتَقِيمٍ

Dengan kitab itulah Allah menunjuki orang-orang yang mengikuti keridhaan-Nya ke jalan keselamatan, dan (dengan kitab itu pula) Allah mengeluarkan orang-orang itu dari gelap gulita kepada cahaya yang terang benderang dengan seizin-Nya, dan menunjuki mereka ke jalan yang lurus.” (QS. Al-Maidah, 5: 16)

Mereka berhimpun dan mengikatkan diri pada al-haq (kebenaran) dan ahlul haq (pengikut kebenaran), maka mereka selalu dalam keadaan terbimbing dan tidak akan tersesat. Renungkanlah hadits berikut ini.

عن أَنَسَ بْنَ مَالِكٍ يَقُولُ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ إِنَّ أُمَّتِي لاَ تَجْتَمِعُ عَلَى ضَلاَلَةٍ فَإِذَا رَأَيْتُمْ اخْتِلاَفًا فَعَلَيْكُمْ بِالسَّوَادِ اْلأَعْظَمِ. (رواه ابن ماجه)

Dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, ia berkata: “Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: ‘Sesungguhnya umatku tidak akan bersepakat pada kesesatan. Oleh karena itu, apabila kalian melihat terjadinya perselisihan, maka ikutilah sawadil a’dzam (kelompok mayoritas, yakni mereka berpegang kepada kebenaran, red.).” (HR. Ibnu Majah)

Ketiga, mereka mendapatkan imla-un nur (limpahan cahaya)

Mereka yang bertaut hatinya karena Allah Ta’ala dan berkumpul atas dasar cinta dan ketaatan kepada-Nya akan selalu mendapatkan limpahan cahaya Islam,

يَهْدِى ٱللَّهُ لِنُورِهِۦ مَن يَشَآءُ

Allah membimbing kepada cahaya-Nya siapa yang dia kehendaki.” (QS. An-Nur, 24: 35)

Mereka akan selalu memperoleh limpahan cahaya iman,

اللَّهُ وَلِيُّ الَّذِينَ آمَنُوا يُخْرِجُهُمْ مِنَ الظُّلُمَاتِ إِلَى النُّورِ ۖ وَالَّذِينَ كَفَرُوا أَوْلِيَاؤُهُمُ الطَّاغُوتُ يُخْرِجُونَهُمْ مِنَ النُّورِ إِلَى الظُّلُمَاتِ ۗ أُولَٰئِكَ أَصْحَابُ النَّارِ ۖ هُمْ فِيهَا خَالِدُونَ

Allah Pelindung orang-orang yang beriman; Dia mengeluarkan mereka dari kegelapan (kekafiran) kepada cahaya (iman). Dan orang-orang yang kafir, pelindung-pelindungnya ialah syaitan, yang mengeluarkan mereka daripada cahaya kepada kegelapan (kekafiran). Mereka itu adalah penghuni neraka; mereka kekal di dalamnya.” (QS. Al-Baqarah, 2: 257)

Selalu teringatkan tentang perkara halal dan haram,

فَآمِنُوا بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ وَالنُّورِ الَّذِي أَنْزَلْنَا ۚ وَاللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرٌ

Maka berimanlah kamu kepada Allah dan Rasul-Nya dan kepada cahaya (Al-Quran) yang telah Kami turunkan. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan. (QS. At-Taghabun, 68: 8)

Mengapa ta’liful qulub diantara sesama muslim menjadi cahaya? Tidak lain karena ta’liful qulub itulah yang mendorong mereka saling tolong menolong dalam keadaan mereka berbuat zalim atau dizalimi. Dari Anas radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

انْصُرْ أَخَاكَ ظَالِمًا أَوْ مَظْلُومًا

“Tolonglah saudaramu yang berbuat zalim dan yang dizalimi.”

فَقَالَ رَجُلٌ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَنْصُرُهُ إِذَا كَانَ مَظْلُومًا ، أَفَرَأَيْتَ إِذَا كَانَ ظَالِمًا كَيْفَ أَنْصُرُهُ

Kemudian ada seseorang bertanya, “Wahai Rasulullah, kami pasti menolongnya jika mereka terzalimi, lalu jika mereka zalim, bagaimana mungkin kami menolongnya?”

قَالَ « تَحْجُزُهُ أَوْ تَمْنَعُهُ مِنَ الظُّلْمِ ، فَإِنَّ ذَلِكَ نَصْرُهُ »

Beliau menjawab, “Kamu cegah dia dari berbuat zalim, maka sesungguhnya engkau telah menolongnya.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Keempat, syarhush shadr, kelapangan dada.

Cahaya iman yang melimpah membuat mereka lapang dada, sebagaimana disebutkan dalam firman Allah Ta’ala,

فَمَنْ يُرِدِ اللَّهُ أَنْ يَهْدِيَهُ يَشْرَحْ صَدْرَهُ لِلْإِسْلَامِ ۖ وَمَنْ يُرِدْ أَنْ يُضِلَّهُ يَجْعَلْ صَدْرَهُ ضَيِّقًا حَرَجًا كَأَنَّمَا يَصَّعَّدُ فِي السَّمَاءِ ۚ كَذَٰلِكَ يَجْعَلُ اللَّهُ الرِّجْسَ عَلَى الَّذِينَ لَا يُؤْمِنُونَ

Barangsiapa yang Allah menghendaki akan memberikan kepadanya petunjuk, niscaya Dia melapangkan dadanya untuk (memeluk agama) Islam. Dan barangsiapa yang dikehendaki Allah kesesatannya, niscaya Allah menjadikan dadanya sesak lagi sempit, seolah-olah ia sedang mendaki langit. Begitulah Allah menimpakan siksa kepada orang-orang yang tidak beriman. (QS. Al-An’am, 6: 125)

Abu Ja’far al-Mada’iny berkata:[1]

وَسُئِلَ النَّبِيّ صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ هَذِهِ الْآيَة ” فَمَنْ يُرِدْ اللَّه أَنْ يَهْدِيه يَشْرَح صَدْره لِلْإِسْلَامِ ” قَالُوا : كَيْفَ يَشْرَح صَدْره يَا رَسُول اللَّه ؟ قَالَ نُور يَقْذِف فِيهِ فَيَنْشَرِح لَهُ وَيَنْفَسِح قَالُوا : فَهَلْ لِذَلِكَ مِنْ أَمَارَة يُعْرَف بِهَا ؟ قَالَ الْإِنَابَة إِلَى دَار الْخُلُود وَالتَّجَافِي عَنْ دَار الْغُرُور وَالِاسْتِعْدَاد لِلْمَوْتِ قَبْل لِقَاء الْمَوْت

Rasulullah ditannya tentang ayat ini (QS. Al-An’am ayat 125) oleh para sahabat: Ya Rasulullah, bagaimana bisa dadanya menjadi lapang? Beliau menjawab: ‘Karena cahaya yang dimasukkan kedalam dadanya sehingga terasa luas dan lapang baginya. Mereka berkata: ‘Apakah hal itu ada tandanya sehingga bisa diketahui?Beliau menjawab: ‘Yakni dengan mendekatkan diri pada negeri yang kekal (akhirat), menjauhi negeri yang penuh tipu daya (dunia), dan menyiapkan kematian sebelum kedatangannya”. Hadist ini dikeluarkan oleh Abdurrazaq, Ibnu Jarir dan yang lainnya; ini adalah hadist yang dhaif karena termasuk hadist mursal, namun memiliki beberapa penguat.[2]

Kelima, al-ihya-u bil ma’rifah (hatinya hidup karena ilmu, pengetahuan, dan pemahaman yang benar yang dilandasi iman)

Hidup di tengah-tengah umat, jama’ah, komunitas, dan masyarakat yang islami akan membuat hati kita hidup. Ma’rifah kepada Allah, rasul, dan dinul Islam menjadikan hati kita ridho dan merasakan nikmatnya iman.

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

ذَاقَ طَعْمَ الْإِيمَانِ مَنْ رَضِيَ بِاللَّهِ رَبًّا وَبِالْإِسْلَامِ دِينًا وَبِمُحَمَّدٍ رَسُولًا

“Akan merasakan kelezatan iman, orang yang ridha Allah sebagai Rabb, Islam sebagai agama, dan Muhammad sebagai Rasul” (HR Muslim)

Malik bin Dinar berkata,

مَسَاكِيْنُ أَهْلِ الدُّنْيَا خَرَجُوا مِنْهَا وَمَا ذَاقُوا أَطْيَبَ مَا فِيهَا. قِيلَ: وَمَا أَطْيَبُ مَا فِيهَا؟ قَالَ: مَحَبَّةُ اللهِ وَمَعْرِفَتُهُ وَذِكْرُهُ

“Sesungguhnya orang-orang miskin dari ahli dunia adalah mereka yang meninggalkan dunia, namun belum merasakan apa yang terlezat di dunia.” Ditanya, “Kenikmatan apakah yang paling lezat di dunia?” Dijawab, Mahabbah (cinta) kepada Allah, ma’rifah (mengenal) kepada-Nya dan mengingat-Nya.”[3]

Keenam, al-imatahu bisy-syahadah (mematikan dalam syahadah)

Manakala seseorang telah hidup di bawah naungan iman; berkumpul karena Allah Ta’ala, bertemu dalam ketaatan kepada-Nya, dan bersatu dalam perjuangan menolong syariat-Nya, maka layaklah mereka berharap kepada-Nya agar dimatikan dalam syahadah.

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَا تَعُدُّونَ الشَّهِيدَ فِيكُمْ قَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ مَنْ قُتِلَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ فَهُوَ شَهِيدٌ قَالَ إِنَّ شُهَدَاءَ أُمَّتِي إِذًا لَقَلِيلٌ قَالُوا فَمَنْ هُمْ يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ مَنْ قُتِلَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ فَهُوَ شَهِيدٌ وَمَنْ مَاتَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ فَهُوَ شَهِيدٌ وَمَنْ مَاتَ فِي الطَّاعُونِ فَهُوَ شَهِيدٌ وَمَنْ مَاتَ فِي الْبَطْنِ فَهُوَ شَهِيدٌ

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu dia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: ‘Apa yang dimaksud orang yang mati syahid di antara kalian?’ para sahabat menjawab, ‘Wahai Rasulullah, orang yang meninggal karena berjuang di jalan Allah itulah orang yang mati syahid.’ Beliau bersabda: ‘Kalau begitu, sedikit sekali jumlah umatku yang mati syahid.’ Para sahabat berkata, ‘Lantas siapakah mereka ya Rasulullah?’ beliau bersabda: ‘Barangsiapa terbunuh di jalan Allah maka dialah syahid, dan siapa yang mati di jalan Allah juga syahid, siapa yang mati karena tha’un juga syahid, siapa yang mati karena sakit perut juga syahid.’” (HR. Muslim)

Dalam hadis lain, dari Abdullah bin Amr radhiyallahu ‘anhuma, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ قُتِلَ دُونَ مَالِهِ فَهُوَ شَهِيدٌ

“Siapa yang terbunuh karena membela hartanya maka dia syahid.” (HR. Bukhari).

Dari Jabir bin Atik radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

الشَّهَادَةُ سَبْعٌ سِوَى الْقَتْلِ فِي سَبِيلِ اللَّهِ: الْمَطْعُونُ شَهِيدٌ، وَالْغَرِقُ شَهِيدٌ، وَصَاحِبُ ذَاتِ الْجَنْبِ شَهِيدٌ، وَالْمَبْطُونُ شَهِيدٌ، وَصَاحِبُ الْحَرِيقِ شَهِيدٌ، وَالَّذِي يَمُوتُ تَحْتَ الْهَدْمِ شَهِيدٌ، وَالْمَرْأَةُ تَمُوتُ بِجُمْعٍ شَهِيدٌ

“Selain yang terbunuh di jalan Allah, mati syahid ada tujuh: mati karena tha’un syahid, mati karena tenggelam syahid, mati karena sakit tulang rusuk syahid, mati karena sakit perut syahid, mati karena terbakar syahid, mati karena tertimpa benda keras syahid, wanita yang mati karena melahirkan syahid.” (HR. Abu Daud).

Semoga Allah Ta’ala melimpahkan seluruh karunia agung ini kepada kita. Aamiin.

CATATAN KAKI:

[1] Teks hadits di atas saya ambil dari http://www.quran-for-all.com/t-6-1-125.html

[2] Zubdatut Tafsir Min Fathil Qadir, Muhammad Sulaiman Al-Asyqar, hal. 144, Darun Nafais Yordania

[3] As-Syariah Edisi 079, Jalan Meraih Manisnya Iman, Abu Ismail Muhammad Rijal, Lc.

https://tarbawiyah.com/

SEBAB-SEBAB TAFARRUQ DAN SOLUSINYA


SEBAB-SEBAB TAFARRUQ DAN SOLUSINYA

Posted By Tarbawiyah

Asbabut Tafarruqi wa ‘Ilajuha

Kita telah mengetahui dua pilar utama pengokoh takwinu ruhil jama’ah (pembentukan semangat persatuan, kesatuan, atau kebersamaan): Pertama, al-i’tisham bi habli-Llah (berpegang teguh pada tali Allah) dan Kedua, ta’liful qulub (pertautan hati).

Selanjutnya kita perlu mengetahui perkara yang dapat menghancurkan takwinu ruhil jama’ah tersebutyakni tafarruq (bercerai berai/ berpecah belah). Kita perlu memahami sebab-sebab tumbuhnya tafarruq agar dapat bertindak preventif.

Apa yang dimaksud dengan Tafarruq?

Allah Ta’ala berfirman,

وَاعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللَّهِ جَمِيعًا وَلَا تَفَرَّقُوا

Berpegang teguhlah pada tali Allah dan jangan berpecah-belah” (QS. Al-Imran, 3: 103).

Berkenaan dengan makna ayat di atas Imam At-Thabari rahimahullah menyebutkan penjelasan Ibnu Zaid sebagai berikut,

وَلَا تَتَفَرَّقُوا عَنْ دِين اللَّه وَعَهْده الَّذِي عَهِدَ إِلَيْكُمْ فِي كِتَابه مِنْ الِائْتِلَاف وَالِاجْتِمَاع عَلَى طَاعَته وَطَاعَة رَسُوله صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَالِانْتِهَاء إِلَى أَمْره

“Janganlah kalian berpecah balah dalam agama Allah dan ketetapan-Nya yang telah ditetapkan bagi kalian di dalam kitab-Nya untuk bersatu dan berkumpul di atas ketaatan kepada-Nya dan taat kepada Rasul-Nya shallallahu’alaihi wa sallam serta mengembalikan kepada kehendak-Nya”.[1]

Sementara itu Imam Al Qurthubi rahimahullah menjelaskan ayat ini sebagai berikut ini,

قَوْلُهُ تَعَالَى: وَلَا تَفَرَقُوْا يَعْنِي فِي دِيْنِكُمْ كَمَا اِفْتَرَقَتْ اَلْيَهُوْدُ وَالنَّصَارَى فِيْ أَدْياَنِهِمْ ; عَنِ ابْنِ مَسْعُوْدٍ وَغَيْرِهِ . وَيَجُوْزُ أَنْ يَكُوْنَ مَعْناَهُ وَلاَ تَفَرَقُوْا مُتاَبِعِيْنَ لِلْهَوَى وَالْأَغْرَاضِ المُخْتَلِفَةِ

“Firman Allah Ta’ala: ‘Janganlah berpecah-belah’ maknanya: (Janganlah berpecah belah) dalam agama kalian sebagaimana telah berpecah belahnya orang-orang Yahudi dan Nasrani dalam agama mereka’. Disebutkan oleh Ibnu Mas’ud dan juga yang lainnya bahwa makna ‘Janganlah berpecah belah’ di sini adalah jangan kalian mengikuti hawa nafsu dan arah tujuan yang berbeda-beda”.[2]

Sebab-sebab Tafarruq

Dari penjelasan di atas, dapat kita ketahui makna tafarruq adalah berpecah belah atau bercerai berai dalam agama karena menyimpang dari ketaatan kepada Allah Ta’ala dan rasul-Nya, serta mengikuti hawa nafsu dan tujuan lain selain keridhoan-Nya.

Sebab-sebab terjadinya tafarruq berawal dari perilaku fasiq, yakni keluarnya orang-orang dalam suatu umat dari ketaatan kepada Allah dan rasul-Nya. Mereka melakukan naqdhul mitsaq (melanggar perjanjian).

Perjanjian yang dimaksud adalah meliputi perjanjian antara manusia dengan Rabb mereka, atau juga perjanjian yang terjadi antara sesama manusia yang dikukuhkan dengan ikatan-ikatan yang erat dan komitmen-komitmen, namun mereka tidak peduli terhadap ikatan-ikatan tersebut bahkan mereka membatalkannya dan mereka meninggalkan perintah-perintah-Nya; mereka juga membatalkan janji-janji antara mereka dengan sesama makhluk.[3]

Allah Ta’ala mengungkapkan tentang kaum fasiqin sebagai berikut,

ٱلَّذِينَ يَنقُضُونَ عَهْدَ ٱللَّهِ مِنۢ بَعْدِ مِيثَٰقِهِۦ وَيَقْطَعُونَ مَآ أَمَرَ ٱللَّهُ بِهِۦٓ أَن يُوصَلَ وَيُفْسِدُونَ فِى ٱلْأَرْضِ ۚ أُو۟لَٰٓئِكَ هُمُ ٱلْخَٰسِرُونَ

“(yaitu) orang-orang yang melanggar perjanjian Allah sesudah perjanjian itu teguh, dan memutuskan apa yang diperintahkan Allah (kepada mereka) untuk menghubungkannya dan membuat kerusakan di muka bumi. Mereka itulah orang-orang yang rugi.” (QS. Al-Baqarah, 2: 27)

Keluarnya manusia dari sikap taat kepada Allah Ta’ala dan rasul-Nya serta melanggar ikatan-ikatan di antara mereka menyebabkan turunnya la’natullah (celaan/kutukan Allah Ta’ala). Mereka dijauhkan dari rahmat-Nya.

Hati-hati mereka pun menjadi keras, qaswatul qulub; tidak dapat menampung kebaikan dan tidak pula memahami dan menerima kebaikan tersebut. Tidak ada satu pun nasihat yang berguna baginya. Sulit melunak untuk menerima keimanan. Tidak peduli dengan kebaikan, tidak dapat menjadi lembut ketika berdzikir dan mendengar nasihat, dan tidak dapat terbuka untuk menerima ayat-ayat Allah agar dapat kembali ke jalan-Nya.

Karena telah terjadi qaswatul qulub, sampai-sampai mereka berani melakukan at-tala’ubu bil manhaji (mempermainkan pedoman)bermain-main dengan ayat-ayat Allah dengan menambahkan, mengurangi, dan mengubah maknanya dengan takwil-takwil sesat dan tidak meletakkan lafadznya pada makna yang tepat, hal ini menjadi tabiat dan kebiasaan mereka.[4]

Kemudian mereka dengan sengaja melupakan pedoman, nisyanul minhaji. Mereka meninggalkan peringatan dari nabi dan rasul mereka, tidak mau mengamalkannya. Mereka melupakan kebaikan dan hidayah serta berbagai perintah agama. Maka, sikap yang akan selalu muncul dari mereka tiada lain adalah al-khiyanah (berkhianat); menipu, berbohong, dan berbuat fujur (perbuatan-perbuatan buruk yang menimbulkan aib).

Hal-hal yang disebutkan di atas pernah terjadi kepada Bani Israil di masa lalu. Allah Ta’ala menyebutkan dalam firman-Nya,

فَبِمَا نَقْضِهِم مِّيثَٰقَهُمْ لَعَنَّٰهُمْ وَجَعَلْنَا قُلُوبَهُمْ قَٰسِيَةً ۖ يُحَرِّفُونَ ٱلْكَلِمَ عَن مَّوَاضِعِهِۦ ۙ وَنَسُوا۟ حَظًّا مِّمَّا ذُكِّرُوا۟ بِهِۦ ۚ وَلَا تَزَالُ تَطَّلِعُ عَلَىٰ خَآئِنَةٍ مِّنْهُمْ إِلَّا قَلِيلًا مِّنْهُمْ ۖ فَٱعْفُ عَنْهُمْ وَٱصْفَحْ ۚ إِنَّ ٱللَّهَ يُحِبُّ ٱلْمُحْسِنِينَ

(Tetapi) karena mereka melanggar janjinya, Kami kutuki mereka, dan Kami jadikan hati mereka keras membatu. Mereka suka merubah perkataan (Allah) dari tempat-tempatnya, dan mereka (sengaja) melupakan sebagian dari apa yang mereka telah diperingatkan dengannya, dan kamu (Muhammad) senantiasa akan melihat kekhianatan dari mereka kecuali sedikit diantara mereka (yang tidak berkhianat), maka maafkanlah mereka dan biarkan mereka, sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berbuat baik. (QS. Al-Maidah, 5: 13)[5]

Mengenai ayat ini, Syaikh Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di rahimahullah berkata: Sifat-sifat buruk ini bisa dimiliki oleh siapa pun yang memiliki sifat-sifat mereka (Bani Israil). Siapa pun yang tidak melaksanakan apa yang diperintahkan oleh Allah dan menunaikan apa yang telah Dia wajibkan, maka dia mendapatkan bagian laknat, kekerasan hati, ditimpa sikap merubah ucapan Allah. Dia tidak diberi taufik kepada kebenaran, dan melupakan sebagian dari apa yang mereka telah diperingatkan darinya, serta dia pasti ditimpa oleh penyakit berkhianat.

Oleh karena itu, jika dalam tubuh umat—terlebih lagi dari para pemimpinnya—muncul sikap naqdhul mitsaq (melanggar perjanjian), maka akan timbulah fitnah: kekacauan, keonaran, dan kekisruhan. Al-‘adawah (permusuhun) dan al-baghdha-u (kebencian) menjadi tumbuh subur. Terjadinya al-furqah (perpecahan) tidak dapat dielakkan.

Allah Ta’ala pun akan menghukum mereka dengan kehinaan, yakni dikuasainya mereka oleh musuh yang merampas kedaulatan dan harta kekayaan mereka. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

وَلَمْ يَنْقُضُوا عَهْدَ اللَّهِ وَعَهْدَ رَسُولِهِ إِلَّا سَلَّطَ اللَّهُ عَلَيْهِمْ عَدُوًّا مِنْ غَيْرِهِمْ فَأَخَذُوا بَعْضَ مَا فِي أَيْدِيهِمْ وَمَا لَمْ تَحْكُمْ أَئِمَّتُهُمْ بِكِتَابِ اللَّهِ وَيَتَخَيَّرُوا مِمَّا أَنْزَلَ اللَّهُ إِلَّا جَعَلَ اللَّهُ بَأْسَهُمْ بَيْنَهُمْ

“Jika orang-orang membatalkan perjanjian Allah dan perjanjian Rasul-Nya, maka Allah akan menjadikan musuh dari selain mereka (orang-orang kafir) menguasai mereka dan merampas sebagian yang ada di tangan mereka; dan jika pemimpin-pemimpin (negara, masyarakat) tidak menghukumi dengan kitab Allah, dan memilih-milih sebagian apa yang Allah turunkan, maka Allah menjadikan permusuhan terjadi di antara mereka” (HR. Ibnu Majah, Al-Bazzar, Al-Baihaqi; dari Ibnu ‘Umar).[6]

Solusi Atas Perilaku Naqdhul Mitsaq

Solusi dan pencegahan bagi perilaku naqdhul mitsaq ini adalah pengokohan sikap al-wafa-u bil mitsaq (menepati janji). Pengokohan sikap tersebut dapat diupayakan dengan dua hal:

Pertama, tarbiyatul ummah yang berkelanjutan.

Setiap muslim secara individu maupun kolektif harus berupaya menjaga keberlangsungan kehidupan yang islami dengan menegakkan nasihat, dakwah, tarbiyah, dan amar ma’ruf nahi munkar.

Urgensi nasihat dapat kita ketahui dari hadits berikut ini.

عَنْ أَبِيْ رُقَيَّةَ تَمِيْم بْنِ أَوْسٍ الدَّارِيِّ رضي الله عنه أَنَّ النبي صلى الله عليه وسلم قَالَ: الدِّيْنُ النَّصِيْحَةُ قُلْنَا: لِمَنْ يَارَسُولَ اللهِ ؟ قَالَ: للهِ،ولكتابه، ولِرَسُوْلِهِ، وَلأَئِمَّةِ المُسْلِمِيْنَ، وَعَامَّتِهِمْ .  رواه مسلم

Dari Abu Ruqayyah  Tamim bin Aus Ad-Dari radhiallahu ‘anhu, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Agama adalah nasihat.” Kami berkata: “Untuk siapa wahai Rasulullah?” Beliau bersabda: “Untuk Allah, kitabNya, RasulNya, para pemimpin kaum muslimin, dan orang umumnya.” (HR. Muslim)

Berkata Imam Al-Khathabi rahmatullah ‘alaih,

وَمَعْنَى الْحَدِيث : عِمَاد الدِّين وَقِوَامه النَّصِيحَة . كَقَوْلِهِ : الْحَجُّ عَرَفَة أَيْ عِمَاده وَمُعْظَمه عَرَفَة .

“Makna hadits ini adalah: tiang agama dan penyangganya adalah nasihat. Ini seperti sabdanya: haji adalah ‘arafah artinya tiang dan mu’zham (unsur yang paling penting) dari haji adalah (wukuf) di ‘Arafah.” (Imam An Nawawi, AlMinhaj Syarh Shahih Muslim, 1/144. Mawqi’ Ruh Al Islam. Lihat juga Imam Ibnu Daqiq Al ‘Id, Syarhul Arba’in An Nawawiyah, Hal. 50. Maktabah Al Misykah)[7]

AnNashihah (nasihat) diambil dari kata nashaha. Nashaha syai’u  bermakna khalasha (memurnikan, menjernihkan, atau menyimpulkan). AnNashih yakni AlKhaalish minal ‘asali wa ghairih, yang membersihkan madu dan lainnya (Lisanul ‘Arab, 2/615)

Jadi nasihat adalah upaya untuk memurnikan sesuatu menjadi bersih dari kotoran dan mengaitkan atau menyimpulkannya dengan kebenaran. Syaikh Ismail Al-Anshari rahimahullah mengatakan: “Nasihat adalah upaya pemurnian jiwa dari kekeruhan bagi yang dinasihati (Al Manshuh).” (At Tuhfah Ar Rabbaniyah , Syarh Hadits No. 7)[8]

Perintah menegakkan dakwah, tarbiyah, dan amar ma’ruf nahi munkar diantaranya dapat kita ketahui dari ayat-ayat dan hadits-hadits berikut ini,

ٱدْعُ إِلَىٰ سَبِيلِ رَبِّكَ بِٱلْحِكْمَةِ وَٱلْمَوْعِظَةِ ٱلْحَسَنَةِ ۖ وَجَٰدِلْهُم بِٱلَّتِى هِىَ أَحْسَنُ ۚ إِنَّ رَبَّكَ هُوَ أَعْلَمُ بِمَن ضَلَّ عَن سَبِيلِهِۦ ۖ وَهُوَ أَعْلَمُ بِٱلْمُهْتَدِينَ

Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk. (QS. An-Nahl, 16: 125)

كُونُوا رَبَّانِيِّينَ بِمَا كُنْتُمْ تُعَلِّمُونَ الْكِتَابَ وَبِمَا كُنْتُمْ تَدْرُسُونَ

“Hendaklah kamu menjadi orang-orang rabbani, karena kamu selalu mengajarkan Al Kitab dan disebabkan kamu tetap mempelajarinya.” (QS. Ali Imran, 3: 79)

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ وَأَهْلَ السَّمَوَاتِ وَالْأَرَضِينَ حَتَّى النَّمْلَةَ فِي جُحْرِهَا وَحَتَّى الْحُوتَ لَيُصَلُّونَ عَلَى مُعَلِّمِ النَّاسِ الْخَيْرَ

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Sesungguhnya Allah Ta’ala memberi banyak kebaikan, para malaikat-Nya, penghuni langit dan bumi, sampai semut-semut di lubangnya dan ikan-ikan selalu mendoakan orang-orang yang mengajarkan kebaikan kepada orang lain.” (HR. Tirmidzi dari Abu Umamah Al-Bahili).

عَنْ حُذَيْفَةَ بْنِ الْيَمَانِ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ لَتَأْمُرُنَّ بِالْمَعْرُوفِ وَلَتَنْهَوُنَّ عَنْ الْمُنْكَرِ أَوْ لَيُوشِكَنَّ اللَّهُ أَنْ يَبْعَثَ عَلَيْكُمْ عِقَابًا مِنْهُ ثُمَّ تَدْعُونَهُ فَلَا يُسْتَجَابُ لَكُمْ

Dari Hudzaifah bin Yaman radhiyallahu ‘anhu dari Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam beliau bersabda: “Demi Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya, kalian harus melakukan amar ma’ruf dan nahi munkar, atau Allah akan menurunkan hukuman dari-Nya kemudian jika kalian berdoa kepada-Nya, maka Dia tidak mengabulkan doa kalian.” (HR Tirmidzi, beliau berkata: hadits ini hasan).

Kedua, menegakkan hukum secara adil.

Allah Ta’ala berfirman,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُونُوا قَوَّامِينَ لِلَّهِ شُهَدَاءَ بِالْقِسْطِ وَلَا يَجْرِمَنَّكُمْ شَنَآنُ قَوْمٍ عَلَى أَلَّا تَعْدِلُوا اعْدِلُوا هُوَ أَقْرَبُ لِلتَّقْوَى وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ

“Hai orang-orang yang beriman hendaklah kamu jadi orang-orang yang selalu menegakkan (kebenaran) karena Allah, menjadi saksi dengan adil. Dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap sesuatu kaum, mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa. Dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS. Al-Maidah, 5: 8)

وَإِنْ حَكَمْتَ فَاحْكُمْ بَيْنَهُمْ بِالْقِسْطِ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُقْسِطِينَ

“Dan jika kamu memutuskan perkara mereka, maka putuskanlah (perkara itu) diantara mereka dengan adil, sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang adil.” (QS. Al-Maidah, 5: 42)

Diriwayatkan bahwa Usamah bin Zaid pernah meminta keringanan kepada Rasulullah shallallahu wa sallam untuk wanita Makhzumiyah yang mencuri, beliau lalu bersabda,

يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّمَا ضَلَّ مَنْ قَبْلَكُمْ أَنَّهُمْ كَانُوا إِذَا سَرَقَ الشَّرِيفُ تَرَكُوهُ وَإِذَا سَرَقَ الضَّعِيفُ فِيهِمْ أَقَامُوا عَلَيْهِ الْحَدَّ وَايْمُ اللَّهِ لَوْ أَنَّ فَاطِمَةَ بِنْتَ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ سَرَقَتْ لَقَطَعَ مُحَمَّدٌ يَدَهَا

“Wahai manusia, bahwasanya kesesatan orang-orang sebelum kalian adalah karena mereka apabila orang mulia mencuri mereka mengabaikannya, dan apabila orang lemah mencuri mereka menegakkan hukum atasnya. Demi Allah, kalau Fathimah binti Muhammad mencuri, maka Muhammad akan memotong tangannya.” (HR. Bukhari).

Dengan upaya tarbiyatul ummah yang berkelanjutan dan penegakkan hukum yang adil di tengah-tengah masyarakat, insya Allah sikap dan tindakan naqdhul mitsaq dapat dipersempit ruang geraknya. Mereka akan hidup dalam atmosfir al-wafa-u bil ‘ahdi—menepati janji dan patuh pada perintah-perintah Allah Ta’ala. Sehingga turunlah rahmatun minallah (rahmat dari Allah).

وَأَطِيعُوا۟ ٱللَّهَ وَٱلرَّسُولَ لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ

Dan taatilah Allah dan Rasul, supaya kamu diberi rahmat. (QS. Ali Imran, 3: 132)

فَسَأَكْتُبُهَا لِلَّذِينَ يَتَّقُونَ وَيُؤْتُونَ الزَّكَاةَ وَالَّذِينَ هُمْ بِآيَاتِنَا يُؤْمِنُونَ

Maka akan Aku tetapkan rahmat-Ku untuk orang-orang yang bertakwa, yang menunaikan zakat dan orang-orang yang beriman kepada ayat-ayat Kami. (QS. Al-A’raf, 7: 156)

Diantara bentuk rahmat Allah Ta’ala kepada hamba-hamba-Nya adalah hidayah; petunjuk kepada kebenaran dan kebaikan.

وَإِن تُطِيعُوهُ تَهْتَدُوا۟ ۚ وَمَا عَلَى ٱلرَّسُولِ إِلَّا ٱلْبَلَٰغُ ٱلْمُبِينُ

“…dan jika kalian taat maka sungguh kalian akan mendapat hidayah (petunjuk), dan tidaklah Rasul itu kecuali hanya seorang yang menyampaikan dengan jelas. (QS. An Nur, 24: 54)

Maka pada diri orang-orang yang taat kepada Allah dan rasul-Nya akan senantiasa tumbuh riqqatul qulub (hati-hati yang lembut). Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

يَدْخُلُ الْجَنَّةَ أَقْوَامٌ أَفْئِدَتُهُمْ مِثْلُ أَفْئِدَةِ الطَّيْرِ

Akan ada sekelompok orang yang masuk surga, hati mereka seperti hatinya burung. (HR. Ahmad dan Muslim).

Salah satu makna berhati seperti hati burung adalah cenderungnya seseorang kepada kebenaran karena hidayah ilmu dan pemahaman yang dimilikinya. Sebagaimana pujian yang diberikan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada penduduk Yaman. Beliau bersabda,

أَتَاكُمْ أَهْلُ الْيَمَنِ ، أَضْعَفُ قُلُوبًا وَأَرَقُّ أَفْئِدَةً ، الْفِقْهُ يَمَانٍ ، وَالْحِكْمَةُ يَمَانِيَةٌ

“Datang kepada kalian penduduk Yaman. Mereka manusia yang paling lemah lembut hatinya. Pemahaman agama banyak di Yaman, dan hikmah banyak di Yaman. (HR. Bukhari dan Muslim).

Di dalam hati mereka tertanam al-iltizamu bil minhaji (sikap komitmen kepada pedoman) dan sikap at-tadzakkaru bil minhaji (mengingat pedoman) serta al-amanah (sikap amanah). Inilah yang akan mengokohkan at-tarahum (rasa saling kasih sayang) dan at-talahum (eratnya ikatan) sehingga terwujud al-wihdah (kesatuan) di tengah-tengah umat.

وَاعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللَّهِ جَمِيعًا وَلَا تَفَرَّقُوا ۚ وَاذْكُرُوا نِعْمَتَ اللَّهِ عَلَيْكُمْ إِذْ كُنْتُمْ أَعْدَاءً فَأَلَّفَ بَيْنَ قُلُوبِكُمْ فَأَصْبَحْتُمْ بِنِعْمَتِهِ إِخْوَانًا وَكُنْتُمْ عَلَىٰ شَفَا حُفْرَةٍ مِنَ النَّارِ فَأَنْقَذَكُمْ مِنْهَا ۗ كَذَٰلِكَ يُبَيِّنُ اللَّهُ لَكُمْ آيَاتِهِ لَعَلَّكُمْ تَهْتَدُونَ

“Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai, dan ingatlah akan ni’mat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa Jahiliyah) bermusuh-musuhan, maka Allah mempersatukan hatimu, lalu menjadilah kamu karena ni’mat Allah, orang-orang yang bersaudara; dan kamu telah berada di tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kamu dari padanya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu, agar kamu mendapat petunjuk.” (QS. Ali Imran, 3: 103)

Wallahul musta’an.

CATATAN KAKI:

[1] Tafsir At-Thabari, http://www.alro7.net/ayaq.php?aya=103&sourid=3

[2] Tafsir Al-Qurtubihttp://www.alro7.net/ayaq.php?aya=103&sourid=3

[3] Tafsir As-Sa’di

[4] Lihat: Tafsir Al-Madinah Al-Munawarah, QS. Al-Maidah ayat 13 di https://tafsirweb.com/1897-quran-surat-al-maidah-ayat-13.html

[5] Disebutkan oleh Syaikh Wahbah Az-Zuhaili rahimahullah dalam Tafsir Al-Wajiz bahwa perintah memaafkan (tidak memerangi) orang-orang Yahudi di ayat ini kemudian di-nasakh oleh firman Allah Ta’ala dalam QS. At-Taubah ayat 29:

قَاتِلُوا الَّذِينَ لَا يُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَلَا بِالْيَوْمِ الْآخِرِ وَلَا يُحَرِّمُونَ مَا حَرَّمَ اللَّهُ وَرَسُولُهُ وَلَا يَدِينُونَ دِينَ الْحَقِّ مِنَ الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ حَتَّىٰ يُعْطُوا الْجِزْيَةَ عَنْ يَدٍ وَهُمْ صَاغِرُونَ

“Perangilah orang-orang yang tidak beriman kepada Allah dan tidak (pula) kepada hari kemudian, dan mereka tidak mengharamkan apa yang diharamkan oleh Allah dan Rasul-Nya dan tidak beragama dengan agama yang benar (agama Allah), (yaitu orang-orang) yang diberikan Al-Kitab kepada mereka, sampai mereka membayar jizyah dengan patuh sedang mereka dalam keadaan tunduk.”

[6] Berikut ini redaksi hadits selengkapnya:

يَا مَعْشَرَ الْمُهَاجِرِينَ خَمْسٌ إِذَا ابْتُلِيتُمْ بِهِنَّ وَأَعُوذُ بِاللَّهِ أَنْ تُدْرِكُوهُنَّ لَمْ تَظْهَرِ الْفَاحِشَةُ فِي قَوْمٍ قَطُّ حَتَّى يُعْلِنُوا بِهَا إِلَّا فَشَا فِيهِمُ الطَّاعُونُ وَالْأَوْجَاعُ الَّتِي لَمْ تَكُنْ مَضَتْ فِي أَسْلَافِهِمِ الَّذِينَ مَضَوْا وَلَمْ يَنْقُصُوا الْمِكْيَالَ وَالْمِيزَانَ إِلَّا أُخِذُوا بِالسِّنِينَ وَشِدَّةِ الْمَئُونَةِ وَجَوْرِ السُّلْطَانِ عَلَيْهِمْ وَلَمْ يَمْنَعُوا زَكَاةَ أَمْوَالِهِمْ إِلَّا مُنِعُوا الْقَطْرَ مِنَ السَّمَاءِ وَلَوْلَا الْبَهَائِمُ لَمْ يُمْطَرُوا وَلَمْ يَنْقُضُوا عَهْدَ اللَّهِ وَعَهْدَ رَسُولِهِ إِلَّا سَلَّطَ اللَّهُ عَلَيْهِمْ عَدُوًّا مِنْ غَيْرِهِمْ فَأَخَذُوا بَعْضَ مَا فِي أَيْدِيهِمْ وَمَا لَمْ تَحْكُمْ أَئِمَّتُهُمْ بِكِتَابِ اللَّهِ وَيَتَخَيَّرُوا مِمَّا أَنْزَلَ اللَّهُ إِلَّا جَعَلَ اللَّهُ بَأْسَهُمْ بَيْنَهُمْ

“Hai orang-orang Muhajirin, lima perkara; jika kamu ditimpa lima perkara ini, aku mohon perlindungan kepada Allah agar kamu tidak mendapatinya. Jika perbuatan keji (seperti: bakhil, zina, minum khamr, judi, merampok dan lainnya) dilakukan pada suatu masyarakat dengan terang-terangan, maka akan tersebar wabah penyakit tho’un dan penyakit-penyakit lainnya yang tidak ada pada orang-orang dahulu yang telah lewat; jika orang-orang mengurangi takaran dan timbangan, maka mereka akan disiksa dengan paceklik, kehidupan susah, dan kezholiman pemerintah; jika orang-orang menahan zakat hartanya, maka hujan dari langit juga akan ditahan dari mereka. Seandainya bukan karena hewan-hewan, manusia tidak akan diberi hujan; jika orang-orang membatalkan perjanjian Allah dan perjanjian Rasul-Nya, maka Allah akan menjadikan musuh dari selain mereka (orang-orang kafir) menguasai mereka dan merampas sebagian yang ada di tangan mereka; dan jikapemimpin-pemimpin (negara, masyarakat) tidak menghukumi dengan kitab Allah, dan memilih-milih sebagian apa yang Allah turunkan, maka Allah menjadikan permusuhan terjadi di antara mereka”. (HR Ibnu Majah, No. 4019, Al-Bazzar, Al-Baihaqi; dari Ibnu ‘Umar).

[7] Syarah Arbain Nawawiyah, Farid Nu’man Hasan.

[8] Ibid.

Asas Berdirinya Dakwah Ikhwan Muslimin


Asas Berdirinya Dakwah Ikhwan Muslimin

Telah berkata Imam Syahid Hasan Al-Banna: “Wahai Ikhwan sekalian, dakwah kamu ini berdiri di atas tiga asas: 

(1) Makrifah kepada Allah (معرفة الله).
(2) Pembaikan jiwa (صلاح النفس). 
(3) Kasih sayang sesama makhluk (محبة الخلق). 

Sesungguhnya makrifah itu terlaksana bila diiringi dengan berzikir dan bermuraqobah, pembaikan jiwa terlaksana bila disertai ketaatan dan mujahadah, kasih sayang sesama makhluk terlaksana bilamana disertai dengan nasihat dan ithar. 

Perkara utama yang saya tuntut agar kamu melakukannya serta saya akan muhasabah kamu di atas nama fikrah ini, adalah seperti berikut:

1. Hendaklah kamu berusaha membaca dari ayat-ayat Al-Quran (sebahagian) dan berusaha menghafal paling kurang satu ayat sehari.

2. Hendaklah kamu berusaha muhasabah diri sebelum tidur; mengingati kembali kerja buat harian yang telah dilakukan. Jika baik, maka bersyukurlah kepada Allah SWT, sebaliknya jika tidak baik, maka hendaklah kamu berusaha memperbaikinya.

3. Hendaklah kamu memelihara solat lima waktu kamu, memperelokkan pelaksanaannya, mempelajari fiqh hukum hakam berkaitan solat dengan teliti, menyempurnakan ruku’nya, sujudnya dan khusyu’nya, mengelokkan dan mentadabbur bacaan Quran padanya. Jangan sekali-kali kamu mengabaikan nawafil dan rawatib (solat sunat) dan berusahalah bersungguh-sungguh untuk menunaikannya di masjid bersama jemaah dan tunaikanlah solat subuh dalam waktunya (وقرآن الفجر إن قرآن الفجر كان مشهودا)…….

Disiplin Tarbiah Dalam Gerak Kerja Dakwah Umum


Disiplin Tarbiah Dalam Gerak Kerja Dakwah Umum

Tulisan: Ustaz Mohamed Hamed Eliwa

Sesungguhnya termasuk dalam tujuan dakwah kepada Allah itu ialah menyebarkan kebaikan di kalangan manusia, amar makruf dan nahi mungkar, menggalakkan manusia melakukan kebaikan serta memberi amaran bagi manusia dari perkara keji dan mungkar. Di jalan dakwah ini, kita menghadapi

dua jenis amal dakwah:

1) Pembinaan dan takwin.

2) Propaganda dan pengenalan.

Usaha yang dicurahkan untuk kedua-dua garis (Takwin – Takrif) selamanya tidak akan terpisah, bahkan ia saling menyempurna antara satu sama lain.

Memandu Masyarakat

Imam Al-Banna membicarakan konsep ini ketika bercakap tentang maratibul amal (susunan amal) yang dituntut daripada seorang al-akh yang benar. Tajuk ini disebut selepas  tajuk ‘Dua Susunan Amal’, iaitu islah al-nafs dan takwin al-bait (baiki diri dan membentuk keluarga).

Kata Imam: “Dan memandu masyarakat dengan menyebarkan kebaikan padanya, memerangi perkara keji dan mungkar, menggalakkan melakukan kebaikan, amar makruf dan nahi mungkar, bersegera ke arah kebaikan, menarik pandangan umum masyarakat kepada fikrah Islamiyah serta sentiasa berusaha mewarnai fenomena-fenomena umum dengan fikrah tersebut….”. (Risalah Ta’alim)

Tidak syak lagi bahawa dakwah pada marhalah terbuka dalam  masyarakat mestilah bermula dari sifatnya sebagai dakwah dan tarbiyah yang praktikal. Individu-individunya mestilah bergerak menyebarkan kebaikan di tengah-tengah masyarakat dengan kemuliaan akhlak – hasil tarbiyah dan nilai-nilai yang ditanam oleh dakwahnya – berdasarkan manhaj Islam. Bekalan seseorang tidak terpisah dari gerak kerjanya. Tarbiyah tidak terpisah dari dakwah dan khidmatnya kepada masyarakat.

Di sini kita tidak mahu berbincang tentang faedah bekerja dalam masyarakat umum serta faktor-faktor  pendorong ke arah itu, tetapi sebagaimana kerja bersama masyarakat punyai banyak faedah, ia juga

punyai disiplin yang mesti dipelihara pada batas-batasnya.

 

Disiplin Amal Dakwah Umum dan Propaganda

Ketika kita sibuk dengan aktiviti-aktiviti umum di pelbagai medan, kita mesti tunduk kepada disiplin tarbiah yang telah ditetapkan. Disiplin berkaitan bagaimana kita mempromosi program dan aktiviti kita supaya ia selari dan secucuk dengan projek pengaktifan dakwah, bagaimana cara sesuai untuk kita wara-warakan itu semua kepada masyarakat.  Semua disiplin berkaitan faktor-faktor yang mendorong usaha ini dan juga objektif pengiklanan kepada masyarakat dan juga hubungkait antara aktiviti kita dengan usaha selain daripada kita yang juga berada di medan amal umum:

  1. Kepentingan menghadirkan niat yang ikhlas semata-mata kerana Allah Ta’ala. Amal yang dilakukan diniatkan kerana Allah SWT demi mengharapkan keampunan dan keredhaanNya dan kita tidak akan sekali-kali menuntut balasan selain itu.
  2. Bahawa hakikat sebenar harakah umum dakwah di kalangan manusia adalah ibadat. Kita beribadat kepada Allah dalam semua pergerakan dan diam kita pada semua medan gerakan (ekonomi, social, politik, dakwah, pendidikan, kesihatan… dsb). Dari sini kita mestilah merasai makna beribadat dan ubudiyyah dalam kerja-kerja dakwa umum bersama masyarakat.
  3. Mesti berhati-hati supaya kerja yang dilakukan – zahir yang diperlihatkan kepada orang ramai – tidak dihinggapi penyakit riya’ atau sum’ah, lalu kerja menjadi punah. Maka rosak dan sia-sialah usaha tanpa pahala.
  4. Orang yang terdedah dalam kerja kemasyarakatan daripada individu kita mestilah terdiri dari kalangan mereka yang punyai sum’ah (reputasi) yang baik, profil dan perjalanan hidup yang cemerlang. Mereka punyai keistimewaan dengan taqwa, akhlak mantap, mampu mempengaruhi dan tidak terpengaruh dengan penyakit dan tingkahlaku jelek. Mereka adalah cerminan dakwah di hadapan khalayak manusia.
  5. Memelihara kesempurnaan adab dan kemuliaan akhlak ketika bersama masyarakat. Dalam bab ini, Imam Al-Banna mengatakan: “Hendaklah kamu berusaha agar sentiasa benar dan jangan melampaui batas. Berusahalah agar propaganda yang kamu laksanakan berada pada batas-batas adab dan akhlak yang mulia. Berusahalah dengan bersungguh-sungguh mengumpulkan hati dan menjinakkan ruh serta ingatlah setiap kali dakwah berjaya, ia adalah dengan sebab kelebihan Allah SWT jua. Firman Allah SWT:  “….bahkan (kalaulah sah dakwaan kamu itu sekalipun maka) Allah jualah yang berhak membangkit-bangkitkan budiNya kepada kamu, kerana Dia lah yang memimpin kamu kepada iman (yang kamu dakwakan itu), kalau betul kamu orang-orang yang benar (pengakuan imannya)”.
  6. Jangan sampai kerja dakwah, kerja kemasyarakatan dan propaganda tersebut membawa kepada perbalahan atau persaingan tidak sihat sehingga menyebabkan perjalanan dakwah tergendala atau melambatkannya dari mencapai matlamat.
  7. Perhatian khusus mestilah diberikan terhadap mereka yang berada pada posisi amal am dari segi tarbiah dan iman. Tabiat kerja  sedemikian amat berhajat kepada keprihatian tarbawi secara konsisten. Ini disebabkan tabiat kerja tersebut menuntut demikian; seperti terlibat dengan penganjuran majlis-majlis besar, pentas, mimbar, sentiasa diburu oleh cahaya flash kamera atau terserlah nama dan kerjanya di dada-dada akhbar dan kaca televisyen. Faktor pendorong kepada keperluan tersebut bertujuan bagi menjaga mereka dari terpengaruh dengan fitnah dan kebimbangan dari berlakunya sesuatu perubahan kepada jiwanya bilamana hilangnya perhatian di atas. Lantas hati nanti tergantung dengan dunia bersifat sementara, hawa nafsu yang terdorong ke jalan yang terseleweng dan akan menjauh dari objektif dan matlamat asal dakwah. Maka akan binasalah mereka –na’uzubillah- (Semoga Allah SWT memelihara ikhwah dan akhawat sekalian). Daripada Qatadah, daripada Anas, Nabi SAW bersabda: “Tiga perkara yang membinasakan: kedekut yang ditaati, nafsu yang diikuti dan rasa ujub dengan diri sendiri”. (Hadis Baihaqi dan dihasankan oleh Al-Albani)
  8. Kerja untuk masyarakat termasuk aktiviti propaganda dakwah bagi mencapai objektif itu seharusnya dibuat berlandaskan prinsip. Ia bukan untuk tindakbalas (reaksi balas) terhadap orang lain atau untuk memperlekehkan usaha lain (pertubuhan atau individu), atau bagi menzahirkan keinginan kita untuk tertonjol bahawa kita lebih baik dan lebih kuat daripada orang lain. Objektif kita mestilah jelas, iaitu sentiasa mengutamakan dakwah, menyebarluaskan kebaikan kepada manusia, memberi khidmat dan memperbaiki yang rosak. Sebelum itu semua mestilah didorong oleh matlamat agong kita iaitu mencapai darjat ubudiyyah sebenar semata-mata kerana Allah SWT
  9. Hendaklah kita semua konsisten dengan hikmah kebijaksanaan dalam dakwah dan propaganda kita. Hendaklah kita memperindahkan jalan dan mu’amalah kita kerana kita disuruh oleh Allah SWT. Allah SWT berfirman:

(ادْعُ إِلَى سَبِيلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ وَجَادِلْهُمْ بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ إِنَّ رَبَّكَ هُوَ أَعْلَمُ بِمَنْ ضَلَّ عَنْ سَبِيلِهِ وَهُوَ أَعْلَمُ بِالْمُهْتَدِينَ. [النحل:125].)

“Serulah ke jalan Tuhanmu (wahai Muhammad) dengan hikmat kebijaksanaan dan nasihat pengajaran yang baik, dan berbahaslah dengan mereka (yang engkau serukan itu) dengan cara yang lebih baik; sesungguhnya Tuhanmu Dia lah jua yang lebih mengetahui akan orang yang sesat dari jalanNya, dan Dia lah jua yang lebih mengetahui akan orang-orang yang mendapat hidayah petunjuk”.

(وَقُولُوا لِلنَّاسِ حُسْناً[البقرة:83

“dan katakanlah kepada sesama manusia perkataan-perkataan yang baik”.

Termasuk makna dari hikmah kebijaksanaan itu ialah mempamerkan dakwah kita ini dengan ‘approach’ terbaik dan memperelokkan seni komunikasi dengan mereka. Termasuk  juga menunjuk qudwah sesuai dengan apa yang kita seru kepadanya. Tidak berlaku apa yang kita cakap tak serupa bikin. Termasuk dari hikmah juga ialah kita mendahului dalam mempraktikkan apa yang kita seru kepadanya kerana:

(إذا كنت إمامي فكن أمامى)

“Bila kamu menjadi imam saya, maka hendaklah kamu berada di hadapan saya”.

Alangkah baiknya jika kita boleh menjiwai bahawa kita ini adalah pembawa kebaikan dan penghubung bagi ummah dan manusia semua mendapat hidayah Allah SWT. Tidak patut ada dalam diri kita rasa tinggi diri, bersikap kasar dan merasa lebih, malah perlu bersikap pro aktif dan sentiasa prihatin. Allah SWT berfirman:

(لَقَدْ جَاءَكُمْ رَسُولٌ مِّنْ أَنفُسِكُمْ عَزِيزٌ عَلَيْهِ مَا عَنِتُّمْ حَرِيصٌ عَلَيْكُم بِالْمُؤْمِنِينَ رَؤُوفٌ رَّحِيمٌ [التوبة:12

“Sesungguhnya telah datang kepada kamu seorang Rasul dari golongan kamu sendiri (iaitu Nabi Muhammad s.a.w), yang menjadi sangat berat kepadanya sebarang kesusahan yang ditanggung oleh kamu, yang sangat tamak (inginkan) kebaikan bagi kamu, (dan) ia pula menumpahkan perasaan belas serta kasih sayangnya kepada orang-orang yang beriman”.

Tunjukkan sikap lemah lembut dan sopan santun serta berlapang dada. Allah SWT merahmati orang yang mengatakan: “Orang yang melapangkan dirinya (baik sangka) untuk orang lain bermakna dia memiliki dada yang lapang”.

Iaitu orang yang dengan rela hati bersusah payah menyeru manusia kepada dakwah dan ringan tulang berkhidmat untuk kesejahteraan masyarakat, sudah barang tentu dia adalah seorang yang punyai sikap berlapang dada yang  tiada tolok banding dan dia adalah seorang yang paling bersedia untuk menerima tanggungjawab.

10. Hendaklah kita sentiasa merenung diri sendiri setelah selesai melaksanakan program dan kerja kemasyarakatan berupa propaganda dan lainnya untuk bermuhasabah: “Apa pulangan yang diperolehi oleh dakwah kita dari kerja-kerja tersebut? Apa pula keuntungan yang kembali kepada kita sebagai individu yang bekerja? Adakah kita menjadi semakin dekat dengan Tuhan kita dari kerja ini? Adakah benar kita telah menyumbang faedah berguna untuk masyarakat dan umat kita? Apakah kesan positif dalam konteks takwin dan tarbiyah kita? Apakah usaha-usaha tersebut telah menambahkan sesuatu kemahiran atau pengalaman untuk dibawa ke masa depan? Dan lain-lain soalan yang boleh ditanya guna untuk menonjolkan kepentingan perbahasan seumpama ini dalam sudut-sudut – faedah dakwah dan tarbiyah daripada kerja umum.


اللهم ارزقنا الاخلاص في القول والعمل ، والسر والعلن ، وكلمة الحق في الرضا والغضب ، واجعلنا ممن عبادك الصالحين ، ومن جند دعوتك العاملين المخلصين .

وآخر دعوانا أن الحمد لله رب العالمين .

TSIQAH DAN I’TIMAD KEPADA ALLAH


TSIQAH DAN I’TIMAD KEPADA ALLAH

Berikut adalah kisah nyata yang pernah disampaikan oleh Syekh Muhammad Hassan, semoga Allah SWT memberkati ilmu dan umurnya

Kisah tentang seorang wanita yang ditinggal pergi oleh suaminya karena suatu urusan, kepergian yang berkepanjangan.

Wanita tersebut menuturkan:

Saat suami saya pergi, dan ternyata kepergiannya berkepanjangan, saat itu tinggal bersama kami orang tua suami yang sudah sangat berumur dan menderita penyakit yang sudah sangat parah. Dan – Alhamdulillah – kami dikaruniai Allah SWT seorang anak perempuan yang masih kecil. Keluarga kami adalah keluarga yang sangat miskin, jika kami makan siang, maka kami tidak makan malam, dan sebaliknya. Kondisi seperti ini sudah berlangsung lama pada keluarga kami.

Pada suatu malam, saat kami sedang menderita kelaparan dengan sangat berat, tiba-tiba anak perempuannya terkena demam serius, badannya sangat panas, tubuhnya menggigil dengan sangat kuat, padahal bapak mertua juga tidak dalam keadaan yang baik, saya sendiri juga sangat lapar, dan perut sudah berkelit-kelit. Saat itu saya teringat kepada Q.S. An-Naml: 62

أَمَّنْ يُجْيْبُ الْمُضْطَرَّ إِذَا دَعَاهُ وَيَكْشِفُ السُّوْءَ … [النمل : 62]

Atau siapakah yang memperkenankan (do’a) orang yang dalam kesulitan apabila ia berdo’a kepada-Nya, dan yang menghilangkan kesusahan

Ya, betul, bukankah kami sedang dalam kesulitan dan kesulitan, bukankah kami dalam keadaan lapar, sakit, fakir, kanker, dan … banyak dosa?

Teringat ayat tersebut, saya segera berwudhu, lalu aku basahi potongan kain dengan air, lalu saya tempelkan pada dahi putri saya, maksudnya adalah mengkompress-nya agar panasnya mereda, sebab kami tidak mempunyai es untuk mengkompresnya. Setelah itu aku berdiri untuk melakukan shalat hajat. Selesai shalat, saya berdo’a kepada Allah SWT. Lalu kuganti kain kompres yang telah mongering dengan kain basah yang baru, lalu aku shalat lagi dan berdo’a lagi, begitu seterusnya berulang-ulang aku melakukannya.

Tiba-tiba pintu rumah diketuk orang dan saat saya buka, ternyata seorang dokter berdiri di depan pintu. Dokter? Ya.. yang berdiri di depan pintu adalah seorang dokter yang datang ke rumah kami di tengah malam. Sang dokter bertanya: “Mana putrimu yang sakit itu?”. Sambil menyimpan rasa bingung dan belum hilang rasa terkejut saya, saya menjawab: ‘Ada di dalam. Sang dokter masuk rumah dan langsung memeriksa putri saya. Selesai memeriksa, sang dokter menyuguhkan faktur biaya yang harus kami bayar. Maka saya pun menjawab: “Mohon maaf, karena kami tidak memiliki apa-apa, kami tidak mempunyai uang, kami tidak mempunyai sesuatu apa pun untuk membayar tagihan ini.

Sambil marah sang dokter menjawab: “Kalau memang tidak mempunyai apa-apa, kenapa kamu menelpon kami di tengah malam, sehingga saya tergopoh-gopoh bangun dan berangkat ke tempat ini!”.

Wanita itu menjawab sambil gemetaran karena teringat harus membayar biaya pemanggilan dokter, biaya periksa dan biaya obat: “Mohon maaf dokter, di rumah kami tidak ada telpon!”.

Dengan bingung dokter menjawab: “Bukankah ini rumah si fulan?”

Sang wanita menjawab: “Bukan, si fulan itu adalah tetangga sebelah kami”.

Dokter terdiam sejenak, lalu pergi berpamitan.

Tidak berapa lama dokter itu datang lagi sambil menangis, dan ia berkata: “demi Allah, saya tidak akan keluar dari rumah ini sebelum kami mengetahui kisah kalian, sebab, saat kami datangi rumah si fulan itu, mereka dalam keadaan tidur semua, dan saat kami bangunkan, mereka ternyata tidak memiliki anggota keluarga yang sakit”.

Maka wanita tersebut menceritakan kondisinya secara lengkap, termasuk cerita tentang bagaimana ia memohon kepada Allah SWT, sehingga sang dokter itu tiba.

Segera sang dokter itu pergi lalu kembali lagi dengan membawa makanan dan kebutuhan rumah tangga lainnya, dia juga membawa obat. Lalu ia berkata kepada wanita tersebut: “Nanti setiap bulan insyaAllah aka nada yang datang ke sini untuk memberi kafalah kepada kalian, begitu seterusnya sampai waktu yang Allah SWT kehendaki”.

Sungguh, ini sebuah kisah yang menggambarkan betapa penting tsiqah dan I’timad (bersandar) kepada Allah SWT