Archives

Ikhlaskan Hati Untuk Berbagi Suami


 

Oleh: Ustadz Hakimuddin Salim, Lc., MA.

Sambungan dari artikel (Wahai Dakwah Jangan Rebut Suamiku Dariku)

Di sebalik tabir keberhasilan seorang pejuang, selalu ada sosok perempuan hebat di belakangnya. Bersama langkah para qaadah dan ‘udhoma dalam sejarah umat ini, selalu ada dukungan istri yang setia mendampingi. Para kaum berhati lembut itu, bukan sekedar berstatus istri, tapi berhasil menggandakan perannya sebagai peneguh keyakinan, penajam pikiran, telaga keteduhan, selimut ketenangan, dan penghibur dalam kesedihan.

Ada kesetiaan Hawa, bersama tugas berat Adam sebagai khalifah. Ada qona’ah Hajar, di samping kuatnya tauhid Ibrahim. Ada dukungan moral dan material dari Khadijah, saat Muhammad berhadapan dengan para thoghut Mekkah. Ada nasehat emas Moudhy, di balik gerakan tajdid Muhammad bin Saud. Ada kesabaran Lathifah, di belakang langkah juang Al-Banna. Ada kelembutan Masrurah, yang memperindah wibawa Hasyim Asy’ari. Ada peran serta Siti Walidah, bersama kecemerlangan Ahmad Dahlan.

Namun demikian, tak sedikit para pejuang yang surut langkahnya setelah bertengger di pelaminan. Apalagi para pejuang akhir zaman. Alih-alih kiprah dan prestasi dakwahnya bertambah, pernikahan yang diharapkannya bakal menghasilkan lompatan-lompatan hebat, justru membuat semangat juangnya sekarat. Tentu banyak sebab atas degradasi militansi yang terjadi, tapi acapkali salah satu sebab itu berasal dari sang istri.

Ada yang semenjak menikah, menjadi jarang kelihatan di agenda-agenda dakwah. Padahal ia dulu terkenal sebagai aktifis yang militan dan produktif. Bagaimana mau aktif berdakwah, jika hendak keluar rumah untuk rapat atau mengisi kajian, sang istri selalu pasang wajah cemberut. Apalagi jika pamit mau mukhoyyam, sang istri langsung bermuram durja dan meneteskan air mata. Lalu bagaimana jika panggilan jihad tiba?

Ada pula yang terkendala perbedaan fikrah. Sang akhwat yang dinikahinya, ternyata tak sepakat dengan visi dan misi dakwahnya. Perdebatan hebat sering terjadi, yang tak jarang berakhir pada pertengkaran sengit. Demi menyelamatkan bahtera rumah tangga, terpaksa ia undur diri dari komunitas dakwahnya. Sayangnya, di komunitas yang baru ia merasa tak nyaman. Sampai saat ini ia masih vakum dan kebingungan, laa ilaa haa-ulaa’ walaa ilaa haa-ulaa’.

Ada juga yang terganjal semangatnya untuk tholabul ‘ilmi. Sebenarnya kebutuhan umat terhadap kafa’ah syar’i telah membuatnya bertekad untuk kuliah hingga doktor di luar negeri. Namun tekad itu melemah setelah ia menikah. Rengekan dan keluhan sang istri yang tak tahan hidup di perantauan, membuatnya urung mewujudkan impian. Ia pun pulang ke tanah air dengan tangan hampa dan pupus harapan.

Pun ada yang terbelit masalah ekonomi. Pendapatannya sebagai guru di pesantren dan penceramah di berbagai mejelis ta’lim, terasa kurang untuk memenuhi kebutuhan keluarga. Hal itu diperparah dengan gaya hidup sang istri yang cenderung boros dan tinggi selera. Terpaksa ia harus banting setir keluar dari pesantren dan menyibukkan diri dengan dagangannya. Hingga tak ada lagi bagi dakwah waktu yang tersisa.

Cuplikan fenomena di atas semestinya tidak perlu terjadi jika para istri memahami dan menyadari peran besar mereka sebagai tulang punggung perjuangan. Rasulullah ‘alaihis sholatu wassalam menjanjikan kepada perempuan yang mendukung suaminya untuk berjihad, berdakwah, menuntut ilmu, dan bersabar atas itu semua, dengan pahala yang sama dengan pahala yang didapatkan oleh suaminya.

Sebagaimana hadits tentang Asma’ binti Yazid Al-Anshariyah radhiallahu ‘anha, bahwa dia mendatangi Rasulullah, sementara beliau sedang duduk di antara para sahabatnya. Asma’ pun berkata, “Aku korbankan bapak dan ibuku demi dirimu wahai Rasulullah. Aku adalah utusan para wanita di belakangku kepadamu. Sesungguhnya Allah mengutusmu kepada seluruh laki-laki dan wanita, maka mereka beriman kepadamu dan kepada Rabbmu. Kami para perempuan selalu dalam keterbatasan, sebagai penjaga rumah, tempat menyalurkan hasrat dan mengandung anak-anak kalian”.

Asma’ pun melanjutkan, “Sementara kalian kaum laki-laki mengungguli kami dengan shalat Jum’at, shalat berjamaah, menjenguk orang sakit, mengantar jenazah, berhaji setelah sebelumnya sudah berhaji dan yang lebih utama dari itu adalah jihad fi sabilillah. Jika lah seorang dari kalian pergi haji atau umrah atau jihad, maka kamilah yang menjaga harta kalian, yang menenun pakaian kalian, yang mendidik anak-anak kalian. Bisakah kami menikmati pahala dan kebaikan itu sama seperti kalian?”.

Rasulullah ‘alaihis sholatu wassalam pun memandang para sahabat dengan segenap wajahnya. Kemudian beliau bersabda, “Apakah kalian pernah mendengar ucapan seorang perempuan yang lebih baik pertanyaannya tentang urusan agamanya dari pada perempuan ini?” mereka menjawab, “Ya Rasulullah, kami tidak pernah menyangka ada wanita yang bisa bertanya seperti dia”.

Maka Rasulullah ‘alaihis sholatu wassalam menengok kepadanya dan bersabda, “Pahamilah wahai perempuan, dan beritahu para wanita di belakangmu, bahwa ketaatan istri kepada suaminya, usahanya untuk memperoleh ridhanya dan kepatuhannya terhadap keinginannya menyamai semua itu.” Wanita itu pun berlalu dengan wajah berseri-seri. (HR. Imam Baihaqi).

Harus disadari dan diyakini, saat para pejuang itu banting tulang untuk membela dan menolong agama Allah ta’ala, hingga tak ada waktu dan tenaga yang tersisa buat keluarga, apakah Allah akan membiarkan keluarga yang dicintainya terlantar? Allah ta’ala telah menjanjikan, “Jika kalian menolong (agama) Allah, maka Allah akan menolong kalian dan meneguhkan kedudukan kalian” (QS. Muhammad: 7).

Seperti juga yang diriwayatkan Ibnu Abbas, bahwa Rasulullah ‘alaihis sholatu wassalam bersabda, “Jagalah Allah, maka Allah akan menjagamu” (HR. Imam Tirmidzi). Tinta sejarah telah mencatat, bahwa penjagaan Allah terhadap siapa yang mau menjaga agama dan hukum-hukum-Nya disini tidak hanya bagi diri yang bersangkutan, tetapi dengan izin Allah penjagaan itu juga mencakup anak dan istri yang menjadi tanggungannya.

Tentu wujud pertolongan dan penjagaan Allah di atas bukan melulu berupa materi. Semua itu bisa terwujud dalam keberkahan hidup, anak-anak yang sholeh dan sholehah, kemudahan urusan, dijauhkan dari musibah, dan terpautnya hati manusia kepadanya. Itu semua adalah berkah perjuangan yang datang dari arah yang tak disangka.

Memang, para suami juga harus diingatkan untuk tidak lalai menunaikan kewajibannya terhadap keluarga. Namun kadang terjadi, meski sudah diatur dan diupayakan sedemikian rupa, realita perjuangan menuntut pengorbanan lebih hingga tak ada waktu tersisa. Lagi pula hangatnya hubungan tak selalu harus bersama. Bahkan perpisahan sementara akan membuncahkan rindu di dada dan cinta pun semakin membara. Sometimes we need to disconnect to make a fresh connection.

Hari ini, agenda besar nahdhotul ummah (kebangkitan umat) membutuhkan lebih banyak pengorbanan dan relawan sebagai martirnya. Ini akan meminta apa pun yang kita miliki, termasuk orang-orang terdekat yang kita cintai. Maka dari itu, tidak ada jalan lain bagi para istri, kecuali ikhlas dan ikhtisab untuk berbagi suami. Ya, berbagi suami dengan dakwah demi tegaknya panji Ilahi.

Semoga kebersamaan yang tertahan di dunia ini, berbuah kebersamaan abadi di surga nanti. “Dan orang-orang yang bersabar karena mengharap ridha-Nya, mendirikan shalat, dan berinfaq dari rizki yang Kami berikan kepada mereka, sembunyi atau terang-terangan, dan menolak keburukan dengan kebaikan; mereka itulah yang mendapat tempat kesudahan yang baik. Yaitu syurga ‘Adn yang mereka masuk ke dalamnya bersama orang-orang yang saleh dari bapak-bapak, isteri-isteri dan anak cucu mereka.” (QS. Ar-Ra’d: 22-23).

(Manhajuna/AFS)

Ta’riful Qur’an (Mengenal Al-Qur’an)


  

Muqadimah

Ketika manusia mencoba mengupas keagungan Al-Quran’an Al-Karim, maka ketika itu pulalah manusia harus tunduk mengakui keagungaan dan kebesaran Allah SWT. Karena dalam Al-Qur’an terdapat lautan makna yang tiada batas, lautan keindahan bahasa yang tiada dapat dilukiskan oleh kata-kata, lautan keilmuan yang belum terfikirkan dalam jiwa manusia dan berbagai lautan-lautan lainnya yang tidak terbayangkan oleh indra kita.

Oleh karenanya, mereka-mereka yang telah dapat berinteraksi dengan Al-Qur’an sepenuh hati, dapat merasakan ‘getaran keagungan’ yang tiada bandingannya. Mereka dapat merasakan sebuah keindahan
yang tidak terhingga, yang dapat menjadikan orientasi dunia sebagai sesuatu yang teramat kecil dan sangat kecil sekali. Sayid Qutub, di dalam muqadimah Fi Dzilalil Qur’annya mengungkapkan:

Hidup di bawah naungan Al-Qur’am merupakan  suatu kenikmatan. Kenikmatan yang tiada dapat dirasakan, kecuali hanya oleh mereka yang benar-benar telah merasakannya. Suatu kenikmatan yang mengangkat jiwa, memberikan keberkahan dan mensucikannya…. Dan Al-Hamdulillah… Allah telah memberikan kenikmatan pada diriku untuk hidup di bawah naungan Al-Qur’an beberapa saat dalam perputaran zaman. Di situ aku dapat merasakan sebuah kenikmatan yang benar-benar belum pernah aku rasakan sebelumnya sama sekali dalam hidupku.

Cukuplah menjadi bukti keindahan bahasa Al-Qur’an, manakala diriwayatkan oleh Ibnu Ishaq dari Imam Zuhri (Abu Syahbah, 1996 : I/312):
Bahwa suatu ketika, Abu Jahal, Abu Lahab dan Akhnas bin Syariq, yang secara sembunyi-sembunyi mendatangi rumah Rasulullah SAW pada malam hari untuk mendengarkan lantunan ayat-ayat Al-Qur’an yang dibaca oleh Rasulullah SAW dalam shalatnya. Mereka bertiga memiliki posisi yang tersendiri, yang tidak diketahui oleh yang lainnya. Hingga ketika Rasulullah SAW usai melaksanakan shalat, mereka bertiga memergoki satu sama lainnya di jalan. Mereka bertiga saling mencela, dan membuat kesepakatan untuk tidak kembali mendatangi rumah Rasulullah SAW. Namun pada melam berikutnya, ternyata mereka bertiga tidak kuasa menahan gejolak jiwanya untuk mendengarkan lantunan ayat-ayat tersebut. Mereka bertiga mengira bahwa yang lainnya tidak akan datang ke rumah Rasulullah SAW, dan mereka pun menempati posisi mereka masing-masing. Ketika Rasulullah SAW usai melaksanakan shalat, mereka pun memergoki yang lainnya di jalan. Dan terjadilah saling celaan sebagaimana yang kemarin mereka ucapkan. Kemudian pada malam berikutnya, gejolak jiwa mereka benar-benar tidak dapat dibendung lagi untuk mendengarkan Al-Qur’an, dan merekapun menempati posisi sebagaimana hari sebelumnya. Dana manakala Rasulullah SAW usai melaksanakan shalat, mereka bertiga kembali memergoki yang lainnya. Akhirnya mereka bertiga membuat ‘mu’ahadah’ (perjanjian) untuk sama-sama tidak kembali ke rumah Rasulullah SAW guna
mendengarkan Al-Qur’an.

Masing-masing mereka mengakui keindahan Al-Qur’an, namun hawa nafsu mereka memungkiri kenabian Muhammad SAW. Selain contoh di atas terdapat juga ayat yang mengungkapkan keindahan Al-Qur’an. Allah mengatakan (QS. 58 : 21):
Kalau sekiranya Kami menurunkan Al Qur’an ini kepada sebuah gunung, pasti kamu
akan melihatnya tunduk terpecah belah disebabkan takut kepada Allah. Dan perumpamaan-perumpamaan itu Kami buat
untuk manusia supaya mereka berfikir.

Ta’rif.


Dari segi bahasa, Al-Qur’an berasal dari qara’a, yang berarti menghimpun dan menyatukan. Sedangkan Qira’ah berarti menghimpun huruf-huruf dan kata-kata yang satu dengan yang lainnya dengan susunan yang rapih. (Al-Qattan, 1995 : 20) Mengenai hal ini, Allah berfirman (QS. 75 : 17):

“Sesungguhnya atas tanggungan Kamilah mengumpulkannya (di dadamu) dan (membuatmu pandai) membacanya. Apabila Kami telah selesai membacakannya maka ikutilah bacaannya itu.”
Al-Qur’an juga dapat berarti bacaan, sebagai masdar dari kata qara’a. Dalam arti seperti ini, Allah SWT mengatakan (QS. 41 : 3):

“Kitab yang dijelaskan ayat-ayatnya, yakni bacaan dalam bahasa Arab, untuk kaum yang mengetahui.”

Adapun dari segi istilahnya, Al-Qur’an adalah:

Al-Qur’an adalah Kalamullah yang merupakan mu’jizat yang ditunukan kepada nabi Muhammad SAW, yang disampaikan kepada kita secara mutawatir dan dijadikan membacanya sebagai ibadah.

Keterangan dari defini di atas adalah sebagai berikut:

  1. Kalam Allah.

Bahwa Al-Qur’an merupakan firman Allah yang Allah ucapkan kepada Rasulullah SAW melalui perantaraan malaikat Jibril as. Firman Allah merupakan kalam (perkataan), yang tentu saja tetap berbeda dengan kalam manusia, kalam hewan ataupun kalam para malaikat.
Allah berfirman (QS. 53 : 4) :
Ucapannya itu tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya).

  1. Mu’jizat.

Kemu’jizaan Al-Qur’an merupakan suatu hal yang sudah terbukti dari semejak zaman Rasulullah SAW hingga zaman kita dan hingga akhir zaman kelak. Dari segi susunan bahasanya, sejak dahulu hingga kini, Al-Qur’an dijadikan rujukan oleh para pakar-pakar bahasa. Dari segi isi kandungannya, Al-Qur’an juga sudah menunjukkan mu’jizat, mencakup bidang ilmu alam, matematika, astronomi bahkan juga ‘prediksi’ (sebagaimana yang terdapat dalam surat Al-Rum mengenai bangsa Romawi yang mendapatkan kemenangan setelah kekalahan), dsb. Salah satu bukti bahwa Al-Qur’an itu merupakan mu’jizat adalah bahwa Al-Qur’an sejak diturunkan senantiasa memberikan tantangan kepada umat manusia untuk membuat semisal
‘Al-Qur’an tandingan’, jika mereka memiliki keraguan bahwa Al-Qur’an merupakan kalamullah. Allah SWT berfirman (QS. 2 : 23 – 24):

Dan jika kamu (tetap) dalam keraguan tentang Al Qur’an yang Kami wahyukan kepada hamba Kami (Muhammad), buatlah satu surat (saja) yang semisal Al Qur’an itu dan ajaklah penolong-penolongmu selain Allah, jika kamu orang-orang yang benar. Maka jika kamu tidak dapat membuat (nya) dan pasti kamu tidak akan dapat membuat (nya), peliharalah dirimu dari neraka yang bahan bakarnya manusia dan batu, yang disediakan bagi orang-orang kafir.”
Bahkan dalam ayat lainnya, Allah menantang mereka-mereka yang ingkar terhadap
Al-Qur’an untuk membuat semisal Al-Qur’an, meskipun mereka mengumpulkan seluruh
umat manusia dan seluruh bangsa jin sekaligus (QS. 17 : 88):

“Katakanlah: “Sesungguhnya jika manusia dan jin berkumpul untuk
membuat yang serupa Al Qur’an ini, niscaya mereka tidak akan dapat membuat yang
serupa dengan dia, sekalipun sebagian mereka menjadi pembantu bagi sebagian
yang lain”.

  1. Diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW.

Bahwa Al-Qur’an ini diturunkan oleh Allah SWT langsung kepada Rasulullah SAW melalui perantaraan malaikat Jibril as. Allah SWT menjelaskan dalam Al-Qur’an (QS. 26 : 192 – 195)

“Dan sesungguhnya Al Qur’an ini benar-benar diturunkan oleh Tuhan semesta
alam, dia dibawa turun oleh Ar-Ruh Al Amin (Jibril), ke dalam hatimu (Muhammad)
agar kamu menjadi salah seorang di antara orang-orang yang memberi peringatan,
dengan bahasa Arab yang jelas.”
Al-Qur’an diturunkan Allah ta’ala kepada Nabi Muhammad saw dengan berbagai cara:

  1. Berupa impian yang baik waktu beliau tidur.Kadang-kadang wahyu itu dibawa oleh malaikat Jibril dengan menyerupai bentuk manusia laki-laki, lalu menyampaikan perkataan (firman Allah) kepada beliau.
  2. Kadang-kadang malaikat pembawa wahyu itu menampakkan dirinya dalam bentuk yang asli (bentuk malaikat), lalu mewahyukan firman Allah kepada beliau.
  3. Kadang-kadang wahyu itu merupakan bunyi genta. Inilah cara yang paling berat dirasakan beliau.
  4. Kadang-kadang wahyu itu datang tidak dengan perantaraan malaikat, melainkan diterima langsung dari Hadirat Allah sendiri.
  5. Sekali wahyu itu beliau terima di atas langit yang ketujuh langsung dari Hadirat Allah sendiri.
  1. Diriwayatkan secara mutawatir.

Setelah Rasulullah SAW mendapatkan wahyu dari Allah SWT, beliau langsung menyampaikan wahyu tersebut kepada para sahabatnya. Diantara mereka terdapat beberapa orang sahabat yang secara khusus mendapatkan tugas dari Rasulullah SAW untuk menuliskan wahyu. Terkadang Al-Qur’an ditulis di pelepah korma, di tulang-tulang, kulit hewan, dan sebagainya. Diantara yang terkenal sebagai penulis Al-Qur’an adalah: Ali bin Abi Thalib, Mu’awiyah, Ubai ibn Ka’b dan Zaid bin Tsabit. Demikianlah, para sahabat yang lain pun banyak yang menulis Al-Qur’an meskipun tidak mendapatkan instruksi secara langsung dari Rasulullah SAW. Namun pada masa Rasulullah SAW ini, Al-Qur’an belum terkumpulkan dalam satu mushaf sebagaimana yang ada pada saat ini.
Pengumpulan Al-Qur’an pertama kali dilakukan pada masa Khalifah Abu Bakar Al-Shidiq, atas usulan Umar bin Khatab yang khawatir akan hilangnya Al-Qur’an, karena banyak para sahabat dan qari’ yang gugur dalam peperangan Yamamah. Tercatat dalam peperangan ini, terdapat tiga puluh sahabat yang syahid. Mulanya Abu Bakar menolak, namun setelah mendapat penjelasan dari Umar, beliaupun mau melaksanakannya. Mereka berdua menunjuk Zaid bin Tsabit, karena Zaid merupakan orang terakhir kali membacakan Al-Qur’an di hadapan Rasulullah SAW sebelum beliau wafat. Pada mulanya pun Zaid menolak, namun setelah mendapatkan penjelasan dari Abu Bakar dan Umar, Allah pun membukakan pintu hatinya. Setelah ditulis, Mushaf ini dipegang oleh Abu Bakar, kemudian pindah ke Umar, lalu pindah lagi ke tangan Hafshah binti Umar. Kemudian pada masa Utsman bin Affan ra, beliau memintanya dari tangan Hafsah. (Al-Qatthan, 1995 : 125 – 126).
Kemudian pada Utsman bin Affan, para sahabat banyak yang berselisih pendapat mengenai bacaan (baca; qiraat) dalam Al-Qur’an. Apalagi pada masa beliau kekuasan kaum muslimin telah menyebar sedemikian luasnya. Sementara para sahabat terpencar-pencar di berbagai daerah, yang masing-masing memiliki
bacaan/ qiraat yang berbeda dengan qiraat sahabat lainnya. (Qiraat sab’ah).
Kondisi seperti ini membuat suasana kehidupan kaum muslimin menjadi sarat dengan perselisihan, yang dikhawatirkan mengarah pada perpecahan. Pada saat itulah, Hudzifah bin al-Yaman melaporkan ke Utsman bin Affan, dan disepakati oleh para sahabat untuk mrnyslin mushaf Abu Bakar dengan bacaan/ qiraat yang tetap pada satu huruf. Utsman memerintahkan kepada (1) Zaid bin Tsabit, (2) Abdullah bin Zubair, (3) Sa’d bin ‘Ash, (4) Abdul Rahman bin Harits bin Hisyam untuk menyalin dan memperbanyak mushaf. Dan jika terjadi perbedaan diantara mereka, maka hendaknya Al-Qur’an ditulis dengan logat Quraisy. Karena dengan logat Quraisylah Al-Qur’an diturunkan. Setelah usai penulisan Al-Qur’an dalam beberapa mushaf, Utsman mengirimkan ke setiap daerah satu mushaf, serta beliau memerintahkan untuk membakar mushaf atau lembaran yang lain. Sedangkan satu mushaf tetap di simpan di Madinah, yang akhirnya dikenal dengan sebutan mushaf imam. Kemudian mushaf asli yang dipinta dari Hafsah, dikembalikan pada beliau.
Sehingga jadilah Al-Qur’an dituliskan pada masa Utsman dengan satu huruf, yang sampai pada tangan kita. (Al-Qatthan, 1995 : 128 – 131)

  1. Membacanya sebagai ibadah.

Dalam setiap huruf Al-Qur’an yang kita baca, memiliki nilai ibadah yang tiada terhingga besarnya. Dan inilah keistimewaan Al-Qur’an, yang tidak dimiliki oleh apapun yang ada di muka bumi ini. Allah berfirman (QS. 35 : 29 – 39)
“Sesungguhnya orang-orang yang selalu membaca kitab Allah dan mendirikan shalat dan menafkahkan sebahagian dari rezki yang Kami anugerahkan kepada mereka dengan diam-diam dan terang-terangan, mereka itu mengharapkan perniagaan yang tidak akan merugi. Agar Allah menyempurnakan kepada mereka pahala mereka dan menambah kepada mereka dari karuniaNya. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Mensyukuri.”

Dalam sebuah hadits, Rasulullah SAW juga pernah mengatakan:
Dari Abdullah bin Mas’ud ra, Rasulullah SAW bersabda, ‘Barang siapa yang membaca satu huruf dari kitabullah (Al-Qur’an), maka ia akan mendapatkan satu kebaikan. Dan satu kebaikan itu dengan sepuluh kali lipatnya. Aku tidak mengatakan bahwa Alif Lam Mim sebagai satu haruf. Namun Alif merupakan satu
huruf, Lam satu huruf dan Mim juga satu huruf.” (HR. Tirmidzi)

Mentarbiyah diri dengan Al-Qur’an.

  • Menerima sepenuh hati segala hukum yang terkandung di dalamnya. Al-Ahzab: 36
  • Berdakwah (mengajak) orang lain kepada Al-Qur’an. An-Nahl: 125
  • Menegakkannya di muka bumi. Asy-Syuraa: 13 janji Allah bagi yg menegakkan agamanya (An-Nur: 55)

Rasulullah saw. bersabda, “Sesungguhnya Allah swt. akan mengangkat derajat suatu kaum dengan kitab ini (Al-Qur’an), dengan dengannya pula Allah akan merendahkan kaum yang lain.” (HR. Muslim).

Al-Qur’an Sebagai Minhajul Hayah.

  • Rasulullah saw. bersabda, “Sebaik-baik kalian adalah generasi yang ada pada masaku (para sahabat), kemudian generasi yang berikutnya (tabi’in), kemudian generasi yang berikutnya lagi (atba’ut tabiin).” (HR. Bukhari)
  • Rasulullah saw. bersabda, “Janganlah kalian mencela sahabat-sahabatku. Karena sekiranya salah seorang di antara kalian menginfakkan emas sebesar Gunung Uhud, niscaya ia tidak akan dapat menyamai keimanan mereka, bahkan menyamai setengahnya pun tidak.” (HR. Bukhari).

Ada 3 faktor yang menjadikan generasi sahabat adalah generasi terbaik:

Pertama, karena mereka menjadikan Al-Qur’an sebagai satu-satunya sumber petunjuk jalan, guna menjadi pegangan hidup mereka, dan mereka membuang jauh-jauh berbagai sumber lainnya

Kedua, ketika mereka membacanya, mereka tidak memiliki tujuan untuk tsaqofah, pengetahuan, menikmati keindahannya dan lain sebainya. Namun mereka membacanya hanya untuk mengimplementaikan apa yang diinginkan oleh Allah dalam kehidupan mereka.

Ketiga, mereka membuang jauh-jauh segala hal yang berhubungan dengan masa lalu ketika jahiliah. Mereka memandang bahwa Islam merupakan titik tolak perubahan, yang sama sekali terpisah dengan masa lalu, baik yang bersifat pemikiran maupun budaya.

  1. Referensi
  1. Manhaj Tarbiyah Alami
  2. Fi Dzilail Quran
  3. Siroh Nabawiyah

materi download

Empat Langkah lebih Dekat dengan Allah Ta’ala


 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Seorang Muslim itu tidak pernah tidak bahagia, apa pun kondisi dan situasi yang dihadapinya. Hal ini karena seorang Muslim memiliki frame berpikir tauhid dan orientasi hidup akhirat yang sangat kuat, sehingga sangat sulit mereka lupa akan keadilan dan kasih sayang Allah terhadap setiap hamba-hamba-Nya yang beriman.

Namun jika ada seorang Muslim mengaku kurang bahagia, pasti ada sesuatu yang bermasalah dalam dirinya, khususnya masalah akidah dan tauhidnya.

Mengapa  seorang Muslim hidupnya terasa sangat berat, seolah sempit dadanya, sesak nafasnya dan hidup penuh dengan ketidakbahagiaan?

Itu bukan karena mereka benar-benar tidak merasa bahagia, tetapi karena mereka boleh jadi tidak mengerti dan tak mengenal  Allah Subhanahu Watata’ala.

Di bawah ini adalah lima kunci ‘mengenal’ Allah Ta’ala”

Bersyukur kepada Allah Ta’la

Bagaimana mungkin seorang Muslim itu gelisah dan tidak bahagia hidupnya. Padahal, nikmat Allah mengalir dalam diri dan keidupannya dengan begitu deras dan tak pernah henti.

Aid Al-Qarni dalam bukunya La Tahzan mengingatkan, “Ingatlah setiap nikmat yang Allah anugerahkan kepada Anda. Karena Dia telah melipatkan nikmat-Nya dari ujung rambut hingga ke bawah kedua telapak kaki.”

Pesan tersebut memang patut kita renungkan. Karena di dalam Al-Qur’an Allah juga menegaskan bahwa nikmat Allah terhadap diri kita tak bisa dihitung jumlahnya.

وَآتَاكُم مِّن كُلِّ مَا سَأَلْتُمُوهُ وَإِن تَعُدُّواْ نِعْمَتَ اللّهِ لاَ تُحْصُوهَا إِنَّ الإِنسَانَ لَظَلُومٌ كَفَّارٌ

“Dan jika kamu menghitung nikmat Allah, tidaklah dapat kamu menghinggakannya. Sesungguhnya manusia itu, sangat zalim dan sangat mengingkari (nikmat Allah).” (QS:  Ibrahim [14]: 34).

Untuk itu, marilah kita berpikir dan merenung, sungguh Allah sangat memuliakan hidup kita. Bahkan, jika kita bersyukur sedikit saja misalnya, Allah sudah menyediakan buat kita tambahan nikmat yang sangat luar biasa. Sebaliknya, jika kita tidak bersyukur maka kehidupan kita akan semakin sempit, susah dan sulit.

وَإِذْ تَأَذَّنَ رَبُّكُمْ لَئِن شَكَرْتُمْ لأَزِيدَنَّكُمْ وَلَئِن كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِي لَشَدِيدٌ

“Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih.” (QS: Ibrahim [14]: 7)

Berprasangka Baik pada Allah Ta’ala

Siapa di muka bumi ini orang yang hidup tanpa masalah? Semua orang memiliki masalah, tetapi Muslim yang baik tidak akan resah karena masalah, meskipun seolah-olah masalah itu sangat berat dan sangat membebani kehidupannya.

Umumnya, orang sangat tidak mau dengan yang namanya masalah. Tetapi mau tidak mau hidup pasti akan berhadapan dengan masalah. Lantas bagaimana jika masalah itu terasa seolah sangat menyiksa? Tetap saja berprasangka baik kepada Allah. Karena Allah mustahil menzalimi hamba-Nya.

َعَسَى أَن تَكْرَهُواْ شَيْئاً وَهُوَ خَيْرٌ لَّكُمْ وَعَسَى أَن تُحِبُّواْ شَيْئاً وَهُوَ شَرٌّ لَّكُمْ وَاللّهُ يَعْلَمُ وَأَنتُمْ لاَ تَعْلَمُونَ

“Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak Mengetahui.” (QS: Al-Baqarah [2]: 216).

Terus bagaimana jika ternyata doa yang kita panjatkan kepada Allah Ta’ala seolah tak kunjung terkabulkan, tetaplah berprasangka baik dan jangan berhenti berdoa kepada-Nya.

Syeik Ibn Atha’illah dalam kitabnya “al-Hikam” menuliskan bahwa, “Tidak sepatutnya seorang hamba berburuk sangka kepada Allah akibat doa-doanya belum dikabulkan oleh-Nya. Dan sebaiknya bagi hamba, yang tidak tahu apa yang akan terjadi atas dirinya esok hari, segera melakukan introspeksi diri.”

Jika syukur dan husnudzon billah telah bisa kita lakukan, tahap berikutnya adalah membuang jauh sifat buruk sangka terhadap sesama. Karena buruk sangka terhadap sesama tidak memberikan dampak apa pun kecuali diri kita akan semakin terperosok dalam keburukan-keburukan. Oleh karena itu Islam sangat melarang umatnya memelihara sifat buruk tersebut.

“Jauhilah oleh kalian berprasangka (kecurigaan), karena sesungguhnya prasangka itu adalah sedusta-dustanya pembicaraan.” (HR. Bukhari).

Kemudian di dalam Al-Qur’an, Allah menegaskan;

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اجْتَنِبُوا كَثِيراً مِّنَ الظَّنِّ إِنَّ بَعْضَ الظَّنِّ

“Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan pra-sangka (kecurigaan), karena sebagian dari pra-sangka itu adalah dosa.” (QS: Al-Hujurat [49]: 12).

Jadi, sangat rugi kalau kita sampai membiarkan prasangka buruk bersarang dalam dada dan kepala kita. Karena selain tidak memberi manfaat positif, tanpa kita sadari, dosa kita justru terus bertambah dan hati kita semakin buruk serta mental kita juga akan semakin jatuh, naudzubillah.

Sebab menurut Dr. Ibrahim Elfiky dalam bukunya “Quwwat Al-Tafkir,” buruk sangka (berpikir negatif) adalah candu.
“Berpikir negatif adalah penyakt yang sangat berbahaya. Ia candu seperti narkoba dan minuman keras,” tulisnya.

Sabar dalam Ikhtiar

Langkah berikutnya agar hidup kita senantiasa bahagia adalah sabar dalam ikhtiar. Allah telah menetapkan suatu ketetapan (hukum) dalam kehidupan ini, di antaranya adalah hukum proses. Dimana sukses seseorang dalam hal apa pun tidak bisa dicapai secara instan, perlu waktu, kerja keras, konsentrasi dan pengorbanan yang tidak sedikit.

Untuk itu, sabarlah dalam ikhtiar. Jangan berpikir ingin cepat berhasil, apalagi kalau sampai menabrak rambu-rambu syariat. Lebih baik sabar, karena kalaupun hasil belum tercapai, setidaknya jiwa kita tenang, dan keyakinan akan pertolongan Allah akan datang semakin kuat.

Bahkan Allah akan senantiasa menyertai dan mencintai kita karena kesabaran kita. Umar bin Khaththab berkata, “Dengan kesabaran, kita tau makna hidup yang baik.”

Tawakkal kepada Allah

Akan tetapi, bagaimana jika ternyata harapan dari upaya dan pengorbanan yang kita lakukan tidak membuahkan hasil?
Tawakkal saja kepada Allah. Karena yang paling mengerti mana yang terbaik buat hidup kita hanyalah Allah bukan diri kita sendiri. Oleh karena itu, perkuatlah ketawakkalan kita kepada Allah Ta’ala.

Ibnu Hajar Al Asqolani berkata,“Tawakkal yaitu memalingkan pandangan dari berbagai sebab setelah sebab disiapkan.” Artinya, sebab bukanlah penentu, tetapi Allah Yang Maha Menentukan.

Dengan empat langkah tersebut, insya Allah kita akan selamat dari tipu daya setan dalam menjalani kehidupan sementara di dunia ini. Bahkan Allah akan senantiasa melindungi kita dan menambah kasih sayang-Nya kepada kita bersebab kita memang berharap hanya kepada-Nya dengan selalu bersyukur, berprasangka baik terhadap-Nya juga terhadap sesama, bersabar dan bertawakkal. Wallahu A’lam.*

Imam Nawawi Pimred Majalah Mulia 

Hidayatullah.com

//


SavedURI :Show URLShow URLSavedURI :

//


Para Da’i; Pemegang Kunci Usia Bumi


kunci duniaOleh: Abu Maryam, Lc.

الدعوة إلى الله سبيل النجاة في الدنيا و الآخرة

“Berdakwah kepada Allah merupakan jalan keselamatan di dunia dan akhirat”

Seorang da’i, selayaknya memahami betul hakekat dari sebuah penciptaan manusia di atas muka bumi. Dengan pemahaman yang matang tentang hal ini, para da’i dapat dengan sempurna menjalankan tugasnya. Sebagaimana yang telah dicontokan oleh para nabi dan rasul.

Firman Allah Swt. dalam Al Quran surat Adz-zariyat, ayat: 56, mengabarkan kepada kita akan arti dari hakekat penciptaan. “Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah kepada-Ku.”

Ibadah, dalam hal ini tak akan pernah terealisasikan secara sempurna, tanpa diawali dengan kesadaran yang dalam (‘ala al-bashirah). Dalam Tafsir al-Baidhowi dituliskan, makna ‘ala al-bashirah berarti; melakukan sesuatu hal dengan penuh kesadaran, memiliki argument yang kuat serta dapat dipertanggungjawabkan.

Dan kesadaran dalam beribadah seperti ini tak akan bisa terpupuk dengan baik, tanpa mengikuti risalah yang disampaikan oleh Rasulullah Saw. dan para nabi lainnya. Sehingga dalam beribadah, sholat misalnya, bukan lagi menjadi sebuah rutinitas belaka, tapi menjadi sebuah kebutuhan yang dilakukan dengan penuh sadar, yang begitu dalam dipahami maknanya.

Apa yang dilakukan oleh nabi dan rasul selaku hamba Allah yang diutus di atas muka bumi ini, pada hakekatnya merupakan pengejawantahan dari ayat yang difirmankan Allah kepada para malaikat, yaitu ketika awal pertama kali Adam As. diciptakan, “Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat: “Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi”. (QS. Al Baqarah: 30)

Dengan demikian, makna hakekat penciptaan manusia secara garis besar adalah berfungsi sebagai khalifah dan untuk beribadah kepada Allah Swt. Sebagaimana yang termaktub dalam dua ayat di atas tadi.

Imam Ar-Razi dalam tafsirnya menjelaskan, bahwa maksud dari kata ibadah yang tertera dalam Surat Adz-Zariyat adalah, pertama; menaati perintah Allah Swt. dan yang kedua; berlaku kasih sayang terhadap sesama makhluk Allah Swt.

Dan “berdakwah” merupakan amalan ibadah yang menempati posisi puncak, sebagai bentuk aplikasi dari dua definisi ibadah yang disampaikan oleh Imam Ar-razi dalam tafsirnya tadi. Hal ini dikarenakan, pertama; berdakwah memiliki makna menyeru manusia menuju Allah. Tugas yang sama seperti yang diemban oleh para nabi dan rasul. Dalam Surat Al Fushilat ayat 33, Allah Swt. telah berfirman, “Siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah, mengerjakan amal yang saleh dan berkata: “Sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah diri?”

Kedua, di dalam berdakwah pula, tercermin rasa kasih sayang antar sesama makhluk ciptaan Allah. Hal ini bener adanya, karena seorang da’I, melihat obyek dakwah (mad’u) dengan penuh harapan, dapat menjadikan dirinya wasilah hidayah menyelamatkan mad’u-nya dari kesia-siaan dalam menjalani hidup. Sang da’i kemudian mendekatinya, dan terus berusaha memberikan arahan, memberikannya pengajaran akan hakekat dari sebuah kehidupan.

Seseorang yang terkukung dalam system hidup duniawi misalnya, yang hari-harinya disibukkan untuk mengejar materi belaka. Berkat sentuhan seorang da’i, cara pandangnya terhadap dunia kemudian bisa berubah, obsesinya berganti bukan lagi materi, namun bagaimana kini ia bisa beramal sebanyak-banyaknya agar bisa menjadi bekal hidupnya di akhirat kelak.

Para nabi dan rasul, telah memberikan kita teladan selama dalam perjuangan mereka mengemban risalah mulia ini, mereka berdakwah siang dan malam, demi mengajak umat manusia menuju Allah, sekalipun cacian dan makian serta intimidasi tak henti-hentinya mereka dapatkan.

Al Quran sangat banyak menceritakan kisah perjuangan para nabi dan rasul, yang tetap tegar berdakwah di tengah kaumnya yang zalim. Namun demikan, Allah selalu memenangkan mereka dan menyelamatkan para utusan-Nya dari kejahatan kaumnya yang durhaka.

Seperti dalam kisah Nabi Nuh As. dengan kaumnya, “Lalu mereka mendustakan Nuh, maka Kami selamatkan dia dan orang-orang yang bersamanya di dalam bahtera, dan Kami jadikan mereka itu pemegang kekuasaan dan Kami tenggelamkan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami. Maka perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang diberi peringatan itu.” (QS. Yunus: 73)

Kisah nabi Hud as. dan kaumnya, “Dan tatkala datang azab Kami, Kami selamatkan Hud dan orang-orang yang beriman bersama dia dengan rahmat dari Kami; dan Kami selamatkan (pula) mereka (di akhirat) dari ‘azab yang berat.” (QS. Huud: 58)

Dan kisah nabi Shaleh dengan kaumnya, “Maka tatkala datang azab Kami, Kami selamatkan Saleh beserta orang-orang yang beriman bersama dia dengan rahmat dari Kami dan (Kami selamatkan) dari kehinaan di hari itu. Sesungguhnya Tuhanmu Dia-lah Yang Maha Kuat lagi Maha Perkasa.” (QS. Huud: 66)

Serta kisah nabi Luth As. dengan kaumnya “Para utusan (malaikat) berkata: “Hai Luth, sesungguhnya kami adalah utusan-utusan Tuhanmu, sekali-kali mereka tidak akan dapat mengganggu kamu, sebab itu pergilah dengan membawa keluarga dan pengikut-pengikut kamu di akhir malam dan janganlah ada seorang di antara kamu yang tertinggal, kecuali istrimu. Sesungguhnya dia akan ditimpa azab yang menimpa mereka karena sesungguhnya saat jatuhnya azab kepada mereka ialah di waktu subuh; bukankah subuh itu sudah dekat? Maka tatkala datang azab Kami, Kami jadikan negeri kaum Lut itu yang di atas ke bawah (Kami balikkan), dan Kami hujani mereka dengan batu dari tanah yang terbakar dengan bertubi-tubi.”. (QS. Huud: 81-82)

Dan masih banyak kisah anbiya’ dan rasul lainnya, yang pada intinya menguatkan pernyataan, bahwa kemenangan selalu berpihak kepada para da’i yang menyeru kepada Allah swt. Dalam Al Quran surat Yunus, ayat 103 Allah Swt. telah berfirman, “ Kemudian Kami selamatkan rasul-rasul Kami dan orang-orang yang beriman, demikianlah menjadi kewajiban atas Kami menyelamatkan orang-orang yang beriman.” Imam Ar-razi kemudian menafsirkan ayat ini dengan mengatakan, bahwa keselamatan atas Rasul dan orang yang beriman, merupakan kebenaran yang telah dijanjikan oleh Allah Swt.

Sayyid Quthub dalam tafir Fi Zilalil Qur’an-nya menuliskan, “Hal ini merupakan sunatullah yang terjadi di atas muka bumi, dan ini merupakan janji Allah kepada para wali-nya. Apabila jalan juang ini terasa panjang, maka sadarilah, bahwa inilah sebenar-benarnya jalan juang itu. Dan jangan tanya lagi berapa besarnya ganjaran yang dijanjikan untuk orang beriman. Dan janganlah ia terburu-buru untuk mendapatkannya, karena jalan juang masih harus ia rentasi. Allah tidak akan pernah mengkhianati janji untuk para wali-nya, dan tidak akan melemahkan bantuan terhadapnya, dan Ia tidak pula akan membiarkan para wali-nya dikalahakan oleh para musuh-Nya. Namun Allah justru akan memberikannya sebuah pengajaran, melatih dan menambah ujian bagi para wali-Nya, dengan memanjangkan jalan dakwah yang harus ia tapaki.”

Umat nabi Muhammad Saw. adalah umat paling istimewa diantara umat yang lain. Banyak ayat yang menceritakan, bagaimana umat terdahulu yang membangkang, langsung mendapatkan azab pada saat itu juga, hingga tak tersisa lagi dari jiwa dan raga mereka, bahkan dilenyapkan hingga satu generasi. Sebagaimana yang termaktub dalam kisah para nabi dan Rasul ketika menghadapi sikap keras kaumnya.

Namun demikian, berbeda hal nya dengan umat nabi Muhammad Saw., para kafir Quraisy tidak serta merta diazab atas sikap penentangannya terhadap risalah kenabian. Namun semua itu ditangguhkan hingga waktunya. Hal serupa yang kita rasakan sekarang. Tatkala penekanan terhadap umat Islam terjadi dimana-mana, pelecehan dan intimidasi karena akidah merebak di berbagai belahan dunia, namun azab untuk mereka musuh-musuh Allah tak kunjung datang. Pertanyaannya adalah mengapa? Jawabannya, hal itu dikarenakan satu hal, yaitu masih bekerjanya para da’I hingga detik ini dalam menyebarkan risalah Islam, sehingga azab yang ditimpakan kepada kaum pembangkang dahulu itu pun kini ditangguhkan.

Kemulian berdakwah inilah sesungguhnya yang Allah berikan kepada kita, selaku umat nabi Muhammad Saw. Para da’i  bahkan menjadi tolak ukur, hingga detik kapan bumi ini hancur dan kiamat terjadi. Dikarenakan sangkakala kiamat tak akan ditiupkan, hingga tak ada satu makhluk pun di atas muka bumi ini yang menyebut-nyebut asma Allah Swt.

Beberapa hadis yang menyebutkan tanda-tanda terjadinya hari kiamat mengabarkan, Rasulullah Saw. bersabda: “Tidak akan terjadi kiamat kecuali kepada manusia durjana (yang paling jahat)” (HR. Muslim)

Dalam hadis lainnya, Rasulullah Saw. bersabda: “Tidaklah akan datang hari kiamat selama masih ada yang mengucapkan Allah.., Allah…” Dalam riwayat yang lain, “sampai tidak terucap lagi kalimah Allah.., Allah…” (HR. Muslim)

Dalil hadis di atas mengisyaratkan, bahwa kiamat terjadi ketika tak ada lagi yang menyeru kepada Allah, dalam artian, tak ada lagi dakwah dan para pengembannya. Oleh karena itu keberadaan seorang da’i sangatlah penting. Keeksistensiannya menentukan akhir dari perjalanan panjang usia bumi.

Disamping itu, ganjaran yang dijanjikan juga sangatlah besar. Karena ia merupakan pelanjut estafet dari apa yang dilakukan oleh para nabi dan rasul. Mereka selalu berada dalam lindungan Allah, mereka pula yang dijanjikan keselamatan baik di dunia mau pun di akhirat; pada hari tak adalagi naungan, melainkan naungan dari-Nya. Dan itu hanya diberikan kepada hamba-hamba pilihan, yang menjalankan sunnah dari hakekat penciptaan dirinya, yaitu menjadi khalifah dan beribadah di setiap sisi masa hidupnya di dunia kepada Allah Swt.. Wallahu a’lam bishawab

Disarikan dari kitab “Qawaidu ad-da’wah ilallah” karya Dr. Hamam Abdurrahim Sa’id, cetakan Dârul wafa’, Manshurah, Mesir.

Sumber gambar: http://www.billfrymire.com

Membangun Jama’ah


 

Membangun Jamaah

Allah swt. berfirman,

إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الَّذِينَ يُقَاتِلُونَ فِي سَبِيلِهِ صَفًّا كَأَنَّهُم بُنيَانٌ مَّرْصُوصٌ

“Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berperang di jalan-Nya dalam barisan yang teratur seakan-akan mereka seperti suatu bangunan yang tersusun kokoh.” (Ash-Shaff: 4)

Bangunan yang tersusun kokoh tentu tidak hanya terdiri dari satu komponen, tetapi terdiri dari beberapa kompenen yang saling kait mengkait dan serasi antara satu dengan lainnya.

Seseorang atau perusahaan yang akan membangun gedung, akan memulainya dengan mimpi, doa, membuat rencana, mencari bahan, kemudian mengumpulkan bahan yang dibutuhkan.

Bahan yang sudah terkumpul diseleksi sesuai kebutuhan bagian-bagian dari konstruksi bangunan. Pasir disaring, batu dibentuk dengan ukuran-ukuran tertentu, kayu yang kurang lurus, diluruskan terlebih dahulu, dan begitu seterusnya, agar bangunan kokoh dan rapih.

Bahan-bahan yang tidak terpakai untuk konstruksi inti, akan dimanfaatkan untuk kebutuhan-kebutuhan lainnya, seperti meratakan halaman, hiasan di luar, dan lain sebainya, sehingga tidak ada satu bahan bangunan pun yang terbuang percuma.

Sebuah Jamaah yang berjuang untuk mengembalikan manusia pada penghambaan kepada Allah swt. semata, mengembalikan kejayaan umat, menegakkan keadilan, mensejahterakan masyarakat, dan membuktikan bahwa Islam itu rahmatan lil alamin (rahmat bagi seluruh alam), tentu tidak mungkin dibangun hanya dengan satu profesi, potensi, dan kemampuan. Sebab Islam yang diperjuangkan adalah “Sistem yang syamil (menyeluruh), mencakup seluruh aspek kehidupan. Maka ia adalah negara dan tanah air atau pemerintahan dan umat, moral dan kekuatan atau kasih sayang dan keadilan, wawasan dan undang-undang atau ilmu pengetahuan dan hukum, materi dan kekayaan alam atau penghasilan  dan  kekayaan,  serta jihad dan dakwah atau pasukan dan pemikiran. Sebagaimana juga ia adalah akidah yang murni dan ibadah yang benar, tidak kurang tidak lebih.”[1])

Jamaah membutuhkan ahli politik yang menangani masalah politik dan pemerintahan, dokter dan para medis yang menangani kesehatan, pakar ekonomi, ahli pendidikan, teknokrat, kiyai, dan keahlian lainnya. Namun untuk menghimpun mereka dalam sebuah jamaah, menyatukan mereka semua dalam satu visi dan misi, serta mengikat mereka dalam kerja sama yang rapih, tentu lebih serius dibanding membangun gedung.

Sebuah Jamaah yang solid dan produktif dibangun melalui proses yang panjang; dari mulai menjalin komunikasi dengan seluruh lapisan masyarakat, memilih anggota masyarakat yang siap menerima perubahan dan mengusung perubahan, mentarbiyah yang terpilih, dan begitu seterusnya hingga tergabung dalam jamaah yang solid dan produktif.

Apabila untuk membangun gedung yang kokoh dan indah dibutuhkan waktu yang relatif lama, padahal bahan-bahannya adalah benda yang tidak bergerak dan tidak mempunyai kehendak, maka apalagi membangun Jamaah yang solid dan produktif yang anggotanya adalah manusia. Di mana manusia mempunyai pikiran, keingingan, latar belakang, dan segudang karakteristik yang telah dijelaskan dalam Al-Qur’an dan As-Sunnah.

Proses pembentukan Jamaah yang solid dan produktif itu, bisa disebut dengan istilah tarbiyah atau pembinaan.

Dan, karena Jamaah yang berjuang untuk tegaknya agama Allah swt. itu, tidak dibatasi oleh waktu, maka pembinaan pun tidak berhenti. Sebab jika pembinaan berhenti, maka pertanda Jamaah itu pun akan berhenti.

Mushtafa Masyhur berkata, “Berbagai peristiwa dan perjalanan waktu menjadi saksi bahwa perhatian terhadap proses pembinaan menjadi penentu bagi kadar kemurnian, kesinambungan, dan perkembangan sebuah jamaah (pergerakan). Ia juga menjadi ukuran bagi sejauh mana keterpaduan di antara anggota-anggotanya, persatuan barisannya, kerjasamanya, kinerjanya, serta produktivitas dan efektivitas potensi yang dicurahkan, harta yang diinfakkan, dan waktu yang dihabiskan. Sebaliknya, bila aspek pembinaan ditelantarkan atau kurang mendapat perhatian, maka akan nampak kelemahan dan keguncangan dalam barisan, muncul benih-benih permusuhan dan perpecahan, kinerja semakin melemah dan produktivitas semakin menurun.”

Proses pembinaan sesuangguhnya hanya terdiri dari dua unsur utama, yaitu rekrutmen anggota pembinaan baru dari masyarakat, dan pemeliharaan serta peningkatan anggota yang telah terbina. Di mana dua unsur tersebut saling berkaitan dan satu mempengaruhi yang lainnya.

Rekrutmen berfungsi untuk menambah jumlah anggota yang akan menjadi bahan utama bangunan, sehingga bangunan semakin besar dan tinggi menjulang. Karena itu, apabila kegiatan rekrutmen mengalami kemandegan, maka pertumbuhan jamaah pun akan terhenti.

Kemenangan dakwah di setiap masa selalu ditandai dengan pertumbuhan kader berkualitas dalam jumlah yang mencukupi.

Pada musim Haji tahun ke-11 kenabian, 6 pemuda Yatsrib masuk Islam dan bertekad menyebarkan risalah Islam di Madinah. Mereka melakukan rekrutmen secara masif di derah asalnya. Hasilnya, pada tahun berikutnya, yaitu tahun ke-12 kenabian terjadi bai’atul Aqabah pertama yang diikuti oleh 12 orang Yatsrib yang telah masuk Islam, dan satu orang dari 6 orang yang pertama tidak ikut karena sakit. Berarti jumlah anggota jamaah di Yatsrib saat itu 13 orang dari asalnya 6 orang. Kalau dihitung dengan prosentase, pertumbuhan kader lebih dari 100%

Setelah itu Rasulullah saw. mengutus Mush’ab bin Umair ra. untuk membantu rekrutmen dan pembinaan kader di Yatsrib. Dan, dengan bantuan Mush’ab, kader-kader Yatsrib berhasil merekrut tokoh-tokoh Yatsrib, hingga tahun berikutnya, yaitu tahun ke-13 kenabian, terjadi Bai’atul Aqabah kedua yang diikuti oleh 73 orang dari penduduk Yatsrib. Dan, kader yang siap berangkat ke Makkah dengan resiko kematian, jika ketahuan kaum kafir Quraisy, tentu bukan kader pemula. Berarti pertumbuhan kader yang siap memikul amanah perjuangan saat itu lebih dari 600%.

Pertumbuhan tersebut terus berlangsung tanpa henti dan ditambah dengan proses hijrah nabawiyah, maka proses pertumbuhan semakin pesat dan tidak pernah mengalami stagnan, apalagi penurunan.

Tujuh tahun kemudian, yaitu ke-6 Hijriah, Rasulullah saw. memobilisasi para shahabat untuk Umrah, yang dikenal dengan Umrah Hudaibiyah. Yang berangkat bersama beliau saw. pada waktu itu sekitar 1500 kader. Meski akhirnya tidak jadi melaksanakan Umrah karena terjadi perjanjian Hudaibiyah.

Ketika suasana aman, tidak ada tekanan dan tidak ada pertempuran, maka rekrutmen kader semakin masif, hingga dua tahun berikutnya, yaitu tahun 8 Hijriah, Rasulullah saw. berangkat bersama sekitar 10.000 pasukan untuk membebaskan kota Makkah.

Pada saat kemenangan besar diraih oleh kaum muslimin, maka rekrutmen tidak lagi dilakukan secara personal, tetapi secara berkelompok, bahkan masyarakat secara berbondong-bondong bergabung dalam barisan dakwah. Sebagaimana yang ditegaskan oleh Allah swt. dalam firman-Nya, “Apabila telah datang pertolongan Allah dan kemenangan. Dan kamu lihat manusia masuk agama Allah dengan berbondong-bondong, maka bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu dan mohonlah ampun kepada-Nya. Sesungguhnya Dia adalah Maha Penerima tobat.” (An-Nashr: 1-3)

Pertumbuhan itu terus berlangsung, hingga pada musim Haji Wada’, 10 Hijriah, peserta yang hadir saat itu sekitar 100.000 shahabat.

Di antara faktor suksesnya pertumbuhan itu adalah semangat masing-masing kader untuk melakukan rekruitmen dan pembinaan. Dan, semangat untuk merekrut dan membina pun selalu dihembuskan oleh Rasulullah saw. melalui janji-janji menarik, antara lain,

فَوَاللَّهِ لأَنْ يَهْدِيَ اللَّهُ بِكَ رَجُلاً وَاحِدًا خَيْرٌ لَكَ مِنْ أَنْ يَكُونَ لَكَ حُمْرُ النَّعَمِ

“Maka demi Allah, sesungguhnya jika Allah memberi hidayah kepada seseorang dengan (perantaraan) kamu, maka itu lebih baik bagimu daripada kamu mempunyai unta merah (kendaraan termewah saat itu, pent.)” (HR. Bukhari dan Muslim)

Rasulullah saw. bersabda,

مَنْ دَلَّ عَلَى خَيْرٍ فَلَهُ مِثْلُ أَجْرِ فَاعِلِهِ

“Barangsiapa menunjukkan pada suatu kebaikan, maka ia mendapat pahala seperti pahala yang melakukannya.” (HR. Muslim)

Memang tidak semua kader memiliki kemampuan rekrutmen dan pembinaan yang memadai. Oleh karena itu, apabila seorang kader memiliki berbagai keterbatasan (udzur syar’i), hingga tidak bisa merekrut atau membina, maka memfasilitasi kader lain agar dapat melakukan rekrutmen atau pembinaan, dengan cara memberikan kontribusi dana pada kader yang mempunyai kemampuan merekrut atau membina, tetapi tidak dapat optimal karena sarana, maka pahalanya sama dengan yang melakukan rekrutmen atau pembinaan secara langsung.

مَنْ جَهَّزَ غَازِيًا فِي سَبِيلِ اللَّهِ كَانَ لَهُ مِثْلُ أَجْرِهِ مِنْ غَيْرِ أَنْ يَنْقُصَ مِنْ أَجْرِ الْغَازِي شَيْئًا

“Siapa yang membekali pejuang di jalan Allah, maka ia mendapat pahala seperti pahala pejuang tersebut, tanpa mengurangi pahala pejuang itu sedikit pun.” (HR. Ibnu Majah)

Tentunya masih banyak dalil dari Al-Qur’an, Hadits, Sirah Nabawiyah, dan lain-lainnya tentang pentingnya rekruitmen dan pertumbuhan kader. Wallahu a’lam bishawab.

 

 


[1] Prinsip pertama dari 20 prinsip Ikhwanul Muslimin.

 

Majalah intima

Dakwah Bijak


 

Hasan Al-Banna seringkali dituduh sebagai ‘biang’ gerakan Islam garis keras yang tidak sungkan melakukan aksi-aksi terror untuk mencapai tujuannya. Kenyataannya tuduhan ini jauh panggang dari api. Jika kita menyelami perjalanan hidup Al-Banna secara utuh dengan hati yang dingin tanpa prasangka, pasti akan kita temukan dia tidaklah seperti yang dituduhkan banyak orang. Apalagi dianggap sebagai ‘biang’ teroris.

Paling tidak ini tergambar dari potongan peristiwa dalam hidupnya saat Pemerintahan Mesir di bawah pimpinan An-Nuqrasyi mengeluarkan keputusan pembubaran jama’ah Al-Ikhwan Al-Muslimun yang dipimpin Al-Banna, sejak tanggal 8 Desember 1948. Saat itu terjadi ujian, cobaan, penculikan dan penyiksaan kepada anggota Ikhwan.

 

Sebagian pemuda Ikhwan datang menemui Hasan Al-Banna untuk meminta izin melakukan perlawanan terhadap pemerintah sekuat tenaga. Tapi Al-Banna melarang dengan tegas rencana tersebut dan menjelaskan akibat buruk yang akan ditimbulkannya.

Ia mengingatkan para pemuda itu dengan kisah Nabi Sulaiman saat menyelesaikan persoalan dua wanita yang memperebutkan seorang bayi. Masing-masing bersikeras dan mengklaim bayi itu adalah anaknya. Karena itu, Nabi Sulaiman memutuskan agar anak tersebut dibelah menjadi dua. Wanita yang tidak melahirkan anak itu setuju mendapat separuh bagian, sedang wanita yang melahirkan anak itu tidak setuju. Ia kemudian merelakan bagiannya diberikan kepada lawannya, agar buah hatinya tetap hidup.

Setelah itu Hasan Al-Banna berkata kepada para pemuda yang berniat melakukan pemberontakan, “Kita sekarang menjalankan peran seperti yang dilakukan sang ibu sejati”.

******

Sikap bijak Hasan Al-Banna ini mengandung pelajaran penting bagi aktivis dakwah saat ini:

  1. Betapapun demikian besar kebencian dan permusuhan manusia kepada dakwah, hendaknya tidak menghalangi seorang da’i mengambil sikap bijak demi kemaslahatan yang lebih besar dan menjaga diri dan masyarakat umum dari kemudhorotan yang mungkin timbul. Karena substansi dakwah adalah perbaikan dan perubahan masyarakat ke arah yang lebih baik. Dalam kasus di atas, Hasan Al-Banna lebih memilih bersabar atas penderitaan dibandingkan harus melakukan pemberontakan kepada pemerintahan yang sah walaupun zalim karena memikirkan kepentingan yang lebih besar bagi masyarakat umum.
  2. Dakwah membutuhkan pemimpin yang memiliki hikmah dan tafaqquh fiddin (memahami agama). Sehingga gerakan dakwah akan terbimbing dengan benar ke arah tujuannya.
  3. Dakwah Islam itu dilandasi kasih sayang dan jauh dari tindakan anarkhisme atau kekerasan. Tentu saja bukan berarti sifat tegas dan pembelaan diri harus dihapuskan dalam diri para mujahid dakwah. Hanya saja itu harus ditempatkan dan dipertimbangkan secara proporsional.

Semoga Allah SWT selalu membimbing dan melindungi kita dalam perjuangan dakwah ini.

Aku tidak bermaksud kecuali (mendatangkan) perbaikan selama aku masih berkesanggupan. Dan tidak ada taufik bagiku melainkan dengan (pertolongan) Allah. Hanya kepada Allah aku bertawakal dan hanya kepada-Nya-lah aku kembali. (QS. Huud: 88)

 

 

http://intimagazine.wordpress.com

Thaha Husain dan Hasan Al-Banna


Thaha Husain menulis buku berjudul Mustaqbalu ats-Tsaqafah Fi Misr yang menimbulkan kehebohan di Mesir. Sebagian orang memuji dan sebagian lain mencacinya.

Hasan Al-Banna—Mursyid Amm Al-Ikhwan Al-Muslimun—diundang untuk memberikan tanggapan terhadap buku tersebut. Lima hari sebelum acara, Al-Banna mulai membaca buku yang akan dibedah tersebut di kereta setiap pulang pergi ke sekolah.

Pada hari yang telah ditentukan, ia berangkat menuju kantor Syubbanul Muslimin. Ternyata kantor telah dipenuhi para ahli ilmu, sastrawan, dan tokoh pendidikan.

Hasan Al-Banna kemudian naik mimbar dan mengawali pemaparannya dengan memuji Allah SWT dan membaca shalawat untuk Rasulullah SAW. Setelah itu beliau mmengkritik buku dengan ungkapan-ungkapan yang terdapat dalam buku itu sendiri.

Al-Banna mengungkap beberapa alinea buku dan menunjukkan nomor halamannya. Sementara para hadirin terkagum pada kuatnya hapalan dan kecerdasannya.

Pada acara penutupan, Sekretaris Jenderal Syubbanul Muslimin memberi kabar kepada Hasan Al-Banna, bahwa Thaha Husain ikut menghadiri pertemuan di tempat tersembunyi.

Pada hari berikutnya, Thaha Husain meminta bertemu Hasan Al-Banna dan ia menyanggupi. Maka terjadilah perbincangan yang membuat Thaha Husain terkagum pada Hasan Al-Banna. Setelah itu Thaha Husain berkata, “Andai lawan-lawanku seperti Hasan, tentu aku menjabat tangan mereka sejak hari pertama. Wahai Ustadz Hasan, saya mendengar kritikanmu dan terkagum padamu. Kritikan seperti ini tidak dimiliki orang lain selain engkau.”

******

Pelajaran apa yang dapat kita ambil dari penggalan kisah perjalanan dakwah Hasan Al-Banna di atas?

Kisah di atas paling tidak mengandung hikmah sebagai berikut:

1. Perbedaan pendapat adalah suatu keniscayaan yang akan selalu terjadi sepanjang zaman ilaa yaumil qiyaamah. Rasa-rasanya tidak pernah dan tak akan pernah terjadi manusia di muka bumi ini sepakat dalam seluruh urusannya.

2. Langkah pertama terbaik manakala terjadi perbedaan pendapat adalah membuka dialog yang sehat dan sopan, dengan didasari niat mencari pendapat yang lebih dekat kepada kebenaran.

3. Tokoh dan pemimpin umat hendaknya mampu memberikan teladan kepada umat untuk bersikap dewasa dalam menghadapi perbedaan. Mereka yang berbeda pendapat seharusnya berupaya saling memahami sudut pandang dan landasan berfikirnya masing-masing, dengan begitu diharapkan substansi permasalahan dapat diketahui dengan jelas. Dengan kata lain pihak pro dan kontra hendaknya berupaya saling mengenal dan memahami argumentasi masing-masing. Bukankah seringkali terjadi kekacauan dan keributan serta debat kusir yang berkepanjangan tanpa konklusi, disebabkan masing-masing pihak belum memahami dan atau tidak berusaha memahami argumentasi ‘lawan’?

4. Tokoh dan pemimpin umat hendaknya selalu memelihara dan meningkatkan integritas dan kapabilitas dirinya.

5. Perbedaan pendapat ‘sekeras’ apa pun sebaiknya tidak membuat seseorang kehilangan akal sehat dan kedewasaannya. Dialog jangan sampai dianggap sebagai ajang pamer otot-otot intelektual yang hasil akhirnya adalah menang atau kalah.

6. Pihak-pihak yang berbeda pendapat harus jujur kepada kebenaran, seraya menghormati kepada ‘lawan’ yang berbeda pendapat dengannya. Mereka adalah tawanan kebenaran, dimanapun kebenaran berada maka ia tunduk kepadanya.

Wallahu a’lam bishawab…

http://intimagazine.wordpress.com