Archives

AL-’INAD (PEMBANGKANGAN DALAM JAMA’AH DAKWAH)


AL-’INAD (PEMBANGKANGAN DALAM JAMA’AH DAKWAH)

Definisi Al-Inad

Dalam Mu’jam Ma’anil Jami’ dan Qamus Mu’jam Al-Wasith disebutkan makna al-‘Inad adalah katsirul khilaf, yakni banyak berbeda pendapat, berselisih, bertentangan, dan melakukan kontroversi. Sedangkan dalam Kamus Mutarjim, al-Inad diartikan sikap keras kepala dan keras hati.

Dalam konteks pembahasan kita saat ini yang dimaksud al-‘inad adalah sebuah sikap dan ucapan seseorang untuk mengungkapkan penolakannya—langsung atau tidak langsung—terhadap apa yang diinginkan atasan nya. Al-‘inad bisa pula dilakukan seorang anak terhadap orang tuanya, seorang istri terhadap suaminya, seorang murid kepada gurunya, atau seorang jundi (prajurit) kepada qiyadah (komandan)-nya.

Namun adakalanya al-Inad itu bermakna positif jika dibangun di atas kaidah yang benar dan didukung dalil yang kuat yang tidak ada keraguan di dalamnya serta tidak ada syubuhat, juga tidak didorong oleh hawa nafsu. Itulah sikap yang di dalam syariah disebut ats-tsabat alal-haq (tegar dan teguh pendirian dalam kebenaran).

Jadi, al-‘inad (sikap berselisih, menyimpang, atau membangkang) bermakna negatif serta tercela manakala didorong oleh hawa nafsu, kesombongan, dan sikap tidak mau tahu terhadap dalil-dalil yang jelas, serta tidak memiliki ruang dalam pikirannya tentang kemungkinan benarnya argumen qiyadah-nya serta kesalahan argumen yang dipilihnya.

Kisah Pembangkangan Pertama dalam Jama’ah Al-Ikhwan Al-Muslimun

Jama’ah Al-Ikhwan adalah organisasi dakwah di Mesir yang didirikan oleh Imam As-Syahid Hasan Al-Banna rahimahullah, yang disebut-sebut sebagai organisasi Islam terbesar abad ini. Jama’ah ini memiliki sejarah panjang di medan dakwah. Mereka telah melewati berbagai macam dinamika perjuangan dakwah, serta merasakan jatuh bangun di dalamnya. Banyak sekali pengalaman-pengalaman dakwah mereka yang bisa kita ambil ibrah-nya.

Suatu saat ketika Imam As-Syahid Hasan Al-Banna rahimahullah akan meninggalkan Ismailiyyah, para ikhwah mendesak beliau agar dipilih seorang Na’ib Mursyid (wakil mursyid) yang akan menggantikan memimpin mereka dalam melaksanakan aktivitas  jama’ah. Beliau kemudian mengajukan Al-Akh Ali Jadawa, karena dua alasan:

  • Ali Jadawa adalah salah seorang Ikhwan yang paling mulia akhlak dan agamanya, mempunyai kadar ilmu dan pengetahuan yang memadai, fasih dalam membaca Al-Qur’an, pandai berdiskusi, serta tekun belajar dan membaca.
  • Beliau juga termasuk seseorang yang paling awal menyambut dakwah, paling dekat di hati para ikhwan, dan paling dicintai oleh mereka.

Akhirnya Syaikh Ali Jadawa terpilih secara aklamasi, meski ia hanyalah seorang tukang kayu. Namun ada seorang Syaikh yang merasa lebih mampu dari Ali Jadawa karena ia sarjana, pandai menggubah syair, jago pidato dan berbicara, serta mengerti bagaimana cara menyebarkan dakwah dan berhubungan dengan masyarakat. Semua itu tidak ada pada di diri Ali Jadawa.

Maka terjadilah konspirasi pertama untuk melawan Jama’ah dengan dilakukannya kasak-kusuk oleh Syaikh Fulan ini ke berbagai ikhwah dibantu oleh ikhwah yang dekat dengannya. Saat itu ikhwah terbagi menjadi dua: kelompok yang menasihatinya dan kelompok kecil yang bersimpati dan terpengaruh oleh ucapan Syaikh.

Imam As-Syahid Hasan Al-Banna rahimahullah mencoba memanggil ikhwah yang terpengaruh dan menasihatinya tetapi tidak mempan. Setan telah menghiasi persepsi mereka sehingga tindakan pembangkangan ini terlihat indah karena dibungkus dengan slogan: “Demi Kemaslahatan Da’wah”. Mereka menuntut dilakukan pemilihan ulang na’ib mursyid dengan alasan saat pemilihan yang dilakukan sebelumnya belum memenuhi kuorum. Selain itu, undangan proses pemilihan yang disebar pun dianggap terlalu mendadak dan tidak jelas tujuannya sehingga tidak banyak yang hadir.

Akhirnya Imam As-Syahid menyetujui pemilihan ulang, dimana hal ini merupakan kejadian baru dan asing bagi Ikhwan yang tidak mengenal kecuali kebulatan pendapat dan persatuan yang sempurna.

Pemilihan ulang naib mursyid pun dilakukan. Saat itu banyak sekali ikhwah hadir hingga lebih dari 500 orang, dan hasilnya mencengangkan: Selain empat orang pendukung Syaikh Fulan yang membangkang, para ikhwah secara aklamasi tetap memilih Al-Akh Ali Jadawa. Empat orang pembangkang itu ternyata tetap tidak terima dan memaksakan kehendak melawan 500 orang ikhwah lainnya. Mereka tetap merasa benar dalam sikapnya.

Sebelum pemilihan ulang, Imam As-Syahid sudah berpesan kepada Ali Jadawa, jika ia terpilih lagi, ia diminta untuk  mengumumkan bahwa ia akan bekerja secara sukarela—tidak digaji, meski ia harus meninggalkan pekerjaannya. Maka setelah terpilih kembali ia pun mengumumkan hal tersebut. Setelah pemilihan selesai ternyata para ikhwah banyak mendatangi Imam As-Syahid untuk menawarkan hartanya sebagai modal usaha bagi Ali Jadawa. Beliau berterima kasih kepada mereka, tetapi Jamaah sudah menyiapkan toko di samping masjid milik jama’ah, untuk dikelola Ali Jadawa sementara ia tetap berada di dekat masjid dan rumah.

Sementara itu setelah pemilihan, empat orang pembangkang menemui Syaikh Fulan. Mereka mulai mempelajari apa yang baru saja terjadi. Mereka kemudian bersepakat menyebarkan keburukan dakwah dan Jama’ah ini dengan kemasan ‘nasihat dan keprihatinan’. Mereka menyebarluaskan opini: Penyerahan tugas kepada salah seorang Al-Akh di masa seperti ini adalah bahaya bagi dakwah! Mereka kemudian mengangkat kasus adanya hutang jama’ah kepada pengusaha material ketika membangun masjid dan kantor sekretariat Ikhwan. Mereka menebarkan opini, seharusnya kepemimpinan diserahkan kepada orang yang berpunya (Syaikh mereka) bukan kepada yang tidak berpunya, yakni Ali Jadawa. Maka Imam As-Syahid Hasan Al-Banna rahimahullah merespon hal itu dengan berusaha menyelesaikan masalah hutang ini sendiri.

Mendengar keadaan seperti itu, Syaikh Muhammad Husain Zamalut mengundang para ikhwah ke rumahnya, mereka kemudian berlomba-lomba mengumpulkan uang lebih dari 400 junaih sehingga bisa melunasi hutang Jama’ah sebesar 350 junaih, dan sisanya dimasukkan kedalam kas Jama’ah. Setelah itu berturut-turut muncul berbagai sumbangan sehingga kas Jama’ah menjadi besar.

Hal ini ternyata malah meningkatkan permusuhan dari pihak pembangkang. Bukannya tersentuh dengan sikap ikhwah yang berlomba-lomba menolong Jama’ah, tapi mereka malah bertambah sengit permusuhannya kepada Jama’ah. Mereka mengirim surat pernyataan kepada pimpinan cabang Ismailiyah berisi tuduhan bahwa Syaikh Hasan Al-Banna telah menghambur-hamburkan dana Jamaah dan dikirimkannya kepada saudaranya yang menjadi Naib Ikhwan di Kairo, juga ke Port Said dan Abu Shuwair. Mereka menuntut kepada kepala bagian yang bertanggung jawab melindungi harta, untuk turun tangan dan mencegah ‘penghamburan dana’ tersebut.

Sebagai Pimpinan Cabang,  Ustadz Mahmud Mujahid lalu memanggil pengirim surat untuk meluruskan sikap mereka. Tapi sang pembangkang malah makin menjadi-jadi hingga berkata, “Ya Tuhan! Seandainya ia (Hasan Al-Banna) mengatakan, ‘Saya mengambil uang ini untuk kepentinganku sendiri,’ mereka pun pasti menyetujuinya dengan senang hati. Demikian itu karena ia  telah menyihir mereka, maka mereka selalu menyetujui apa saja yang dilakukannya, tanpa pikir panjang.”

Ustadz Mahmud Mujahid berkata, “Wahai Fulan! Kamu adalah pemuda yang tampak sebagai orang yang tulus, tetapi kamu telah melakukan kesalahan besar. Nasihatku kepadamu, kembalilah kepada Jamaah dan bekerjalah bersama mereka jika kamu menghendaki, lalu tinggalkanlah pikiran-pikiran ini. Jika kamu tidak menyukai keadaan mereka, maka duduklah di rumah, berkonsentrasilah dengan pekerjaan kamu, dan biarkan saja mereka bekerja. Ini lebih baik bagi kamu jika menginginkan nasihat.” Sang pembangkang pun lalu pergi.

Mengetahui keadaan ini, Syaikh Askariah datang dari Syibrakhit dan berusaha menjadi penengah untuk mengembalikan mereka kepada  Jama’ah. Tetapi mereka ternyata tidak berkehendak kecuali membangkang. Maka beliau berkata kepada Hasan Al-Banna, “Tidak ada kebaikan lagi pada mereka. Mereka sudah tidak memiliki kesadaran tentang ketinggian nilai dakwah dan tidak memiliki keyakinan terhadap kewajiban untuk mentaati pemimpin. Barangsiapa kehilangan dua hal yang vital ini, maka tidak ada lagi kebaikan dalam dirinya jika ia berada dalam barisan kita. Biarkanlah mereka dan teruslah melanjutkan perjalanan Anda. Dan Allah adalah tempat memohon pertolongan.”

Petikan kisah nyata di atas mengandung ibrah tentang al-inad. Semoga kita dapat mengambil hikmahnya.

Sebab-sebab Munculnya Al-‘Inad

Pertama, merasa memiliki independensi atau kemandirian diri (as-syu’ur bi istiqlaliyyati adz-dzat), bisa jadi karena kelebihan ilmu, harta, kekuatan, dan kedudukan sosial serta ketokohan yang dimilikinya. Ia lalu melakukan tahyiin (menganggap enteng atau menyepelekan) terhadap jamaah dakwah yang diikutinya.

Marilah mengambil ibrah dari kisah anak Nabi Nuh ‘alaihis salam yang melakukan pembangkangan terhadap dakwah, bahkan sampai akhir hayatnya, karena merasa dirinya kuat. Allah Ta’ala menceritakan hal ini dalam Al-Qur’an,

وَهِيَ تَجْرِي بِهِمْ فِي مَوْجٍ كَالْجِبَالِ وَنَادَى نُوحٌ ابْنَهُ وَكَانَ فِي مَعْزِلٍ يَا بُنَيَّ ارْكَبْ مَعَنَا وَلَا تَكُنْ مَعَ الْكَافِرِينَ  قَالَ سَآَوِي إِلَى جَبَلٍ يَعْصِمُنِي مِنَ الْمَاءِ قَالَ لَا عَاصِمَ الْيَوْمَ مِنْ أَمْرِ اللَّهِ إِلَّا مَنْ رَحِمَ وَحَالَ بَيْنَهُمَا الْمَوْجُ فَكَانَ مِنَ الْمُغْرَقِينَ

“…dan bahtera itu berlayar membawa mereka dalam gelombang laksana gunung, dan Nuh memanggil anaknya,[1] sedang anak itu berada di tempat yang jauh terpencil: ‘Hai anakku, naiklah (ke kapal) bersama kami dan janganlah kamu berada bersama orang-orang yang kafir.’ Anaknya menjawab: ‘Aku akan mencari perlindungan ke gunung yang dapat menghindarkanku dari air bah!” Nuh berkata: ‘Tidak ada yang melindungi hari ini dari azab Allah selain Allah (saja) yang Maha Penyayang’, lalu gelombang menjadi penghalang antara keduanya; maka jadilah anak itu termasuk orang-orang yang ditenggelamkan.” (QS. Huud, 11: 42 – 43)

Kedua, adanya persepsi yang salah yang terbangun dalam dirinya hingga mengharuskan orang lain mengikuti persepsi dan keinginannya.

Ketiga, adanya ketidak-jelasan dalam mafahim tarbawiyyah, misalnya terkait pemahaman tentang ats-tsawabit wal mutaghayyirat (mana perkara-perkara baku, dan mana perkara-perkarayang fleksibel), fiqhul-waqi’ (pemahaman terhadap realita), syura, ijtihad, ketaatan, tsiqah, dan lain-lain.

Keempat, adanya hasrat-hasrat pribadi (raghabat syakhsiyyah) di balik semua kerja-kerja dakwah yang dilakukannya, seperti adanya hasrat kekuasaan, harta, dan keinginan duniawi lainnya. Penyebab pembangkangan yang sebenarnya adalah keadaan jiwa. Jika jiwa telah dikuasai oleh hawa nafsu, mata akan menjadi buta, telinga akan menjadi tuli, serta tidak dapat mendengar kebenaran.

Kelima, tidak mempertimbangkan al-mitsaliyyah (idealita) dan al-waqi’iyyah (realita).

Gejala-gejala Al-’Inad

  • Gemar mengkritisi kebijakan qiyadah bukan pada forum yang tepat, sementara dia pun bukan orang yang memiliki kapasitas untuk melakukannya. Terkadang seseorang menyadari keterbatasan kapasitasnya, akan tetapi ia lebih cenderung percaya kepada berbagai opini negatif tentang kebijakan qiyadah.
  • Senang berkelompok bersama orang-orang yang membangkang lalu membuat kutlah-kutlah (kelompok-kelompok kecil) dalam jama’ah dakwah. Bahkan tidak jarang terjadi at-tha’nu ‘ala syakhsiyyah mu’ayyanah (serangan/tikaman kepada pribadi tertentu secara definitif) di luar konteks yang dipermasahkan dan syetan menghiasi amal mereka itu.
  • Lemah tsiqah (kepercayaan)-nya kepada orang-orang yang berseberangan pendapat dengannya.
  • Menganggap dirinya paling benar sedangkan yang berbeda pendapat dengannya salah.

Upaya memperbaiki Al-’Inad

Pertama, ilaj fikri (terapi pemikiran). Yakni dengan menyampaikan mafahim tarbawiyah shahihah melalui berbagai forum dan sarana; menugaskannya untuk membaca literatur tentang bahaya al-’inad dan keharusan menjaga soliditas shaf (barisan jama’ah); serta memberikan bayanat fikriyyah (penjelasan gagasan) yang disertai dengan dalil-dalil syar’i dan ‘aqli yang kuat.

Kedua, ‘Ilaj amali haraki (terapi amal haraki). Yakni dengan memperbaiki hubungan dengan orang yang memiliki gejala al-‘inad dengan upaya-upaya ta’liful qulub (yang dapat menautkan hati); menjauhkan orang yang terindikasi memiliki potensi al-‘inad dari komunitasnya; lalu melibatkannya dalam berbagai amal da’awi jama’i hingga ia merasakan indahnya ukhuwah dan manisnya berjama’ah; membangun komunikasi intensif dengannya melalui berbagai sarana hingga ketsiqahannya kembali kuat; serta sering mengajaknya dalam mu’ayasyah (interaksi) bersama para masyayikh dan orang-orang senior dalam dakwah dimana mereka tetap solid dan eksis.

Ketiga, ‘ilaj Rabbani (terapi rabbani), yakni dengan mendoakannya fi zhahril ghaib (dalam keadaan tidak diketahui oleh orang yang dido’akan) serta melibatkan ikhwah lain untuk bersama-sama mendo’akannya pula terutama memanfaatkan waktu-waktu dan tempat-tempat yang mustajab.

Wallahul Musta’an.

CATATAN KAKI:

[1] Nama anak Nabi Nuh a.s. yang kafir itu Qanaan, sedang putra-putranya yang beriman Ialah: Sam, Ham dan Jafits.

 5 KAIDAH KEHIDUPAN DALAM AL-QURAN


5 KAIDAH KEHIDUPAN DALAM AL-QURAN

DR. Ahzami Sami’un Jazuli MA

(1) الفوز الحقيقي هو دخول الجنة و زحزح عن النار

Kemenangan Hakiki itu adalah masuk surga dan dijauhkan dari neraka.

كُلُّ نَفۡسٍ۬ ذَآٮِٕقَةُ ٱلۡمَوۡتِ‌ۗ وَإِنَّمَا تُوَفَّوۡنَ أُجُورَڪُمۡ يَوۡمَ ٱلۡقِيَـٰمَةِ‌ۖ فَمَن زُحۡزِحَ عَنِ ٱلنَّارِ وَأُدۡخِلَ ٱلۡجَنَّةَ فَقَدۡ فَازَ‌ۗ وَمَا ٱلۡحَيَوٰةُ ٱلدُّنۡيَآ إِلَّا مَتَـٰعُ ٱلۡغُرُورِ

“Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Dan sesungguhnya pada hari kiamat sajalah disempurnakan pahalamu. Barangsiapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga, maka sungguh ia telah beruntung. Kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdayakan.” (QS. Ali Imron: 185)

(2) الذنوب هو الهلاك

Dosa itu adalah sumber kehancuran.

أَلَمۡ يَرَوۡاْ كَمۡ أَهۡلَكۡنَا مِن قَبۡلِهِم مِّن قَرۡنٍ۬ مَّكَّنَّـٰهُمۡ فِى ٱلۡأَرۡضِ مَا لَمۡ نُمَكِّن لَّكُمۡ وَأَرۡسَلۡنَا ٱلسَّمَآءَ عَلَيۡہِم مِّدۡرَارً۬ا وَجَعَلۡنَا ٱلۡأَنۡهَـٰرَ تَجۡرِى مِن تَحۡتِہِمۡ فَأَهۡلَكۡنَـٰهُم بِذُنُوبِہِمۡ وَأَنشَأۡنَا مِنۢ بَعۡدِهِمۡ قَرۡنًا ءَاخَرِينَ

“Apakah mereka tidak memperhatikan berapa banyaknya generasi-generasi yang telah Kami binasakan sebelum mereka, padahal [generasi itu], telah Kami teguhkan kedudukan mereka di muka bumi, yaitu keteguhan yang belum pernah Kami berikan kepadamu, dan Kami curahkan hujan yang lebat atas mereka dan Kami jadikan sungai-sungai mengalir di bawah mereka, kemudian Kami binasakan mereka karena dosa mereka sendiri, dan kami ciptakan sesudah mereka generasi yang lain.” (QS.Al-An’am: 6)

Siapapun, keluarga manapun, Jamaah atau partai apapun, apabila prosentase dosanya lebih dominan, maka tunggulah kehancuran.

Ya Ikhwah, ingatlah ungkapan Sayyidina Umar :

معصيتنا أخوف إلينا من أعدائنا

“Kemaksiatan kita lebih kita takuti daripada musuh-musuh kita.”

(3) من أهداف الحياة الزوجية إقامة حدود الله

Di antara Tujuan hidup berkeluarga adalah menegakkan hukum-hukum Allah.

فَإِن طَلَّقَهَا فَلَا تَحِلُّ لَهُۥ مِنۢ بَعۡدُ حَتَّىٰ تَنكِحَ زَوۡجًا غَيۡرَهُۥۗ فَإِن طَلَّقَهَا فَلَا جُنَاحَ عَلَيۡهِمَآ أَن يَتَرَاجَعَآ إِن ظَنَّآ أَن يُقِيمَا حُدُودَ ٱللَّهِۗ وَتِلۡكَ حُدُودُ ٱللَّهِ يُبَيِّنُهَا لِقَوۡمٖ يَعۡلَمُونَ ٢٣٠

“Kemudian jika si suami menalaknya [sesudah talak yang kedua], maka perempuan itu tidak halal lagi baginya hingga dia kawin dengan suami yang lain. Kemudian jika suami yang lain itu menceraikannya, maka tidak ada dosa bagi keduanya [bekas suami pertama dan isteri] untuk kawin kembali jika keduanya berpendapat akan dapat menjalankan hukum-hukum Allah. Itulah hukum-hukum Allah, diterangkan-Nya kepada kaum yang [mau] mengetahui.” (QS. Al-Baqarah: 230)

Contoh, istri boleh nambah yang penting tegak syari’at Allah.. Jangan sampai asal nambah tapi menambah masalah.

(4) الإيمان و الأخوة هما أغلى عندنا

Iman dan Ukhuwah adalah yang paling mahal bagi kita.

إِنَّمَا ٱلۡمُؤۡمِنُونَ إِخۡوَةٌ۬ فَأَصۡلِحُواْ بَيۡنَ أَخَوَيۡكُمۡ‌ۚ وَٱتَّقُواْ ٱللَّهَ لَعَلَّكُمۡ تُرۡحَمُونَ

“Sesungguhnya orang-orang mu’min adalah bersaudara karena itu damaikanlah antara kedua saudaramu dan bertakwalah kepada Allah supaya kamu mendapat rahmat.” (QS. Al-Hujurat: 10)

(5) الاعتصام بحبل الله هو الأصل و التنازع هو الطارئ

Bersatu berpegang teguh dengan Tali Allah adalah Asal, adapun berbantah-bantahan atau berselisih adalah sesuatu yang emergency harus segera diakhiri.

وَٱعۡتَصِمُواْ بِحَبۡلِ ٱللَّهِ جَمِيعً۬ا وَلَا تَفَرَّقُواْ‌ۚ وَٱذۡكُرُواْ نِعۡمَتَ ٱللَّهِ عَلَيۡكُمۡ إِذۡ كُنتُمۡ أَعۡدَآءً۬ فَأَلَّفَ بَيۡنَ قُلُوبِكُمۡ فَأَصۡبَحۡتُم بِنِعۡمَتِهِۦۤ إِخۡوَٲنً۬ا وَكُنتُمۡ عَلَىٰ شَفَا حُفۡرَةٍ۬ مِّنَ ٱلنَّارِ فَأَنقَذَكُم مِّنۡہَا‌ۗ كَذَٲلِكَ يُبَيِّنُ ٱللَّهُ لَكُمۡ ءَايَـٰتِهِۦ لَعَلَّكُمۡ تَہۡتَدُونَ

“Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali [agama] Allah, dan janganlah kamu bercerai berai, dan ingatlah akan ni’mat Allah kepadamu ketika kamu dahulu [masa Jahiliyah] bermusuh musuhan, maka Allah mempersatukan hatimu, lalu menjadilah kamu karena ni’mat Allah orang-orang yang bersaudara; dan kamu telah berada di tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kamu daripadanya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu, agar kamu mendapat petunjuk.” (QS. Ali Imran: 103)

Haqqa Tuqaatih


Haqqa Tuqaatih
Oleh: Ust Solikhin Abu Izzuddin | Instagram: @solikhinzerotohero
Inspirasi dari Taujih Shubuh Dr.Mu’inudinillah Basri, M.A.
Bagaimana agar bisa istiqomah?

1. Iman. Ini sumbu yang harus selalu nyala di dalam dada, di dalam jiwa.

2. Taqwa. Yakni sebenar-benar taqwa. Seperti disediakan gunung emas, masing-masing silakan ambil emas, panggul dan bawa. Tentu semua ingin bawa sebanyak banyaknya. Namun karena tak mampu bawa semuanya, akhirnya dikurangi sedikit, dikurangi lagi, sampai batas yang mampu kita bawa. Itulah cara kita menegakkan perintah Allah, sampai kemampuan maksimal yang kita bisa.

3. Islamiyatul hayah, islamisasi hidup kita masing2 dengan tunduk patuh pada ketentuan Allah dan berikhtiar menciptakan kondisi yang kondusif untuk menjaga nilai-nilai iman.

Namun, tidak hanya itu saja, Allah memerintahkan kita, umat yang sudah dibangun melalui takwinul ummah (pembentukan umat) itu agar

1. BERPEGANG TEGUH KEPADA TALI AGAMA ALLAH dengan BERJAMAAH (3:103)

Mungkin seseorang secara pribadi kuat, unggul, dahsyat, hebat, namun kalau sendirian dia akan lemah dan rapuh. Ringkih. Maka dalam berjamaah kita belajar dari keikhlasan Abu Bakar ash Shiddiq dan Umar bin Khaththab.

Ketika terjadi pemurtadan besar-besaran usai wafatnya Rasulullah saw, Abu Bakar hendak memerangi mereka yang murtad dan tidak bayar zakat, Umar tidak sepakat karena mereka masih bersyahadat.

Namun ketika Umar tersadar maka dia mengikuti jalan besar dan benar yang ditentukan Abu Bakar, “Alhamdulillah, Allah lapangkan dada Abu Bakar untuk menentukan pilihan yang benar.”

Umar yang melihat celah amal dan ide besar rela menyerahkan ide besarnya berupa pengumpulan Al Quran usai syahidnya 70 hufadz dalam perang Yamamah. Ide tersebut diikhlaskan, diberikan untuk kebesaran Islam, bukan kebesaran nama Umar. Inilah fatsoen berjamaah yang agung.

Sahabat, seringkih apapun kita, ketika bersama jamaah yang berpegang teguh di jalan Allah, maka kita akan dikuatkan oleh Allah. Jangan pernah merasa lebih besar dari jamaah bahkan naudzubillah, jangan sampai berambisi dengan nafsu, kedengkian, hasad, dan syahwatnya untuk membubarkan jamaah.

Jika kita melihat titik lemah dari jamaah dan qiyadah, justeru kita sumbangkan potensi yang kita punya untuk membesarkan dakwah, bukan membesarkan diri.

Ketika Abu Bakar hendak meminta Umar menjadi pengganti Rasulullah, Abu Bakar berupa, “Umar, engkau lebih kuat daripada diriku…”

Umar menolak, “Engkau, wahai Abu Bakar, lebih mulia daripada aku. Engkaulah yang ditunjuk oleh Rasulullah saw untuk mengimami shalat. Biarlah kekuatanku kuberikan bergabung dengan kemuliaanmu…”

Masya Allah. Itulah keikhlasan sejati yang akan mengokohkan soliditas bangunan umat.

2. JANGAN BERPECAH BELAH. Auz dan Khazraj hampir saja terjerumus salah kehidupan jahiliyah yang hobi perang dan gemar berpecah belah. Isu utama Umat Islam hari ini bagaimana merangkai potensi di dalam dan membangun sinergi keluar. Jangan sampai ada ketidakpuasan kepada pimpinan atau keputusan lalu melakukan perusakan ke dalam dan demarketisasi keluar. Kalau kita mau bersabar tentu Allah akan anugerahkan kemenangan yang besar.

3. INGATLAH NIKMAT ALLAH KETIKA DI TEPI NERAKA LALU ALLAH SELAMATKAN KAMU.

Abdullah bin Hudafah as Sahmi diutus oleh Nabi saw untuk sebuah ekspedisi. Nabi saw menegaskan agar mentaati Abdullah bin Hudafah yang memimpin kalian.

Pohon Keimanan (Syajaratul Iman)


Pohon Keimanan (Syajaratul Iman)

Keimanan yang kokoh menjadi perisai bagi setiap kader dakwah. Dan hal ini hendaknya menjadi sebuah kelaziman. Sehingga keimanan itu betul-betul bak perisai kuat untuk menahan lajunya serangan musuh yang senantiasa datang silih berganti. Perisai ini wajib selalu berada di tangan aktivis dakwah. Ia tak boleh lepas sekejappun apalagi hilang tak berketentuan arah. Keimanan yang diumpamakan perisai itu berawal dari kekuatan tauhid yang tertanam dalam sanubarinya. Tauhid yang kuat dan bersih dari berbagai penyimpangannya. Ia diasaskan dari kalimat yang baik (kalimatun thayyibah) yang terikat dalam jiwanya. Kalimat yang baik dari kekuatan tauhid ini lantaran persaksian dan komitmen loyalitasnya pada Sang Maha Perkasa. Hingga kalimat itu, Allah SWT umpamakan seperti pohon yang baik.

أَلَمْ تَرَ كَيْفَ ضَرَبَ اللَّهُ مَثَلًا كَلِمَةً طَيِّبَةً كَشَجَرَةٍ طَيِّبَةٍ أَصْلُهَا ثَابِتٌ وَفَرْعُهَا فِي السَّمَاءِ . تُؤْتِي أُكُلَهَا كُلَّ حِينٍ بِإِذْنِ رَبِّهَا وَيَضْرِبُ اللَّهُ الْأَمْثَالَ لِلنَّاسِ لَعَلَّهُمْ يَتَذَكَّرُونَ

“Tidakkah kamu kamu perhatikan bagaimana Allah telah membuat perumpamaan kalimat yang baik seperti pohon yang baik, akarnya teguh dan cabangnya (menjulang) ke langit. Pohon itu memberikan buahnya pada setiap musim dengan seizin Tuhannya.Allah membuat perumpamaan-perumpamaan itu untuk manusia supaya mereka selalu ingat”. (Ibrahim: 24 – 25).

Pohon ini tiada duanya di muka bumi ini. Ia tumbuh subur dan berkembang pesat dan mampu melawan serangan hama dan penyakit. Sehingga ia menghasilkan buah yang tak pernah henti. Malah menumbuhkan pohon-pohon lainnya. Itulah pohon keimanan.

Disebut Syajaratul Iman (Pohon Keimanan) lantaran keimanan yang kokoh laksana sebuah pohon yang selalu memberikan manfaat yang amat banyak;

– Buahnya dapat dikonsumsi oleh setiap makhluk yang menginginkannya.

– Dahannya dapat menjadi sarang serta tempat bertengger burung-burung.

– Daunnya yang lebat menjadi tempat berteduh musafir yang lewat.

– Akarnya menyimpan persediaan air untuk bumi yang tandus.

Inilah pohon keimanan yang dijelaskan oleh Ibnul Qayyim Al Jauziyah. Beliau mengatakan, ‘Sesungguhnya Allah SWT. menyerupakan pohon iman yang bersemi dalam hati dengan pohon yang baik. Akarnya menghunjam ke bumi dengan kokoh dan cabangnya menjulang tinggi ke langit. Pohon itu terus menerus mengeluarkan buah setiap musim. Jika engkau renungkan perumpamaan ini tentulah engkau menjumpainya cocok dengan pohon iman yang telah mengakar kokoh ke dalam dan di dalam hatinya. Sedang cabangnya berupa amal-amal shalih yang menjulang ke langit. Pohon itu terus menerus mengeluarkan hasilnya berupa amal shalih di setiap saat menurut kadar kekokohannya di dalam hati. Kecintaan, keikhlasan dalam beramal, pengetahuan tentang hakikat serta penjagaan hati terhadap hak-haknya’.

Diantara para ulama penafsir Qur’an mereka berpandangan bahwa yang dimaksud dengan pohon yang baik itu adalah pohon kurma. Sebagaimana yang ditunjukkan oleh hadits riwayat Ibnu Umar RA. Dalam kitab shahih. Ar Rabi’ Ibnu Anas mengatakan bahwa orang mukmin itu pokok amalnya menghunjam ke bumi sedang buah amalnya menuju langit lantaran keikhlasannya dalam beramal.

Ibnul Qayyim mengatakan, ‘Tidak ada perbedaan diantara ke dua pendapat itu karena makna yang dimaksud tamsil ini adalah sosok orang mukmin sejati. Sedang pohon kurma adalah sebagai gambaran yang menyerupainya dan dari diri orang mukminlah sebagai sosok yang diserupakannya’. Pohon-pohon keimanan ini tumbuh dan berkembang bahkan menumbuhkan pohon lainnya.

Syaikh Muhammad Ahmad Ar Rasyid dalam kitabnya Ar Raqa’iq menggambarkan bahwa pohon-pohon itu bak laksana kumpulan tanaman taman nan indah. Setiap orang yang melihat pasti ingin berteduh didalamnya. Setiap melihat buah mesti tangan ingin menjamahnya. Pokoknya taman itu amat menarik hati. Pohon-pohon yang tumbuh di taman nan menawan itu adalah:

1. Syajaratut Tha’ah (Pohon Ketaatan)

Dari tempat kamu berteduh di bawah pohon iman itu kamu dapat mencium aroma wewangian bunga yang semerbak di dekatnya. Itu bersumber dari sebuah pohon yang disebut syajaratut tha’ah, yakni pohon ketaatan. Ia menjadi saksi terhadap keridhaan Allah saat dilimpahkan di hari turunnya ayat berikut:

لَقَدْ رَضِيَ اللَّهُ عَنِ الْمُؤْمِنِينَ إِذْ يُبَايِعُونَكَ تَحْتَ الشَّجَرَةِ فَعَلِمَ مَا فِي قُلُوبِهِمْ فَأَنْزَلَ السَّكِينَةَ عَلَيْهِمْ وَأَثَابَهُمْ فَتْحًا قَرِيبًا

“Sesungguhnya Allah telah ridha terhadap orang-orang mu’min ketika mereka berjanji setia kepadamu di bawah pohon, maka Allah mengetahui apa yang ada di dalam hati mereka lalu menurunkan ketenangan atas mereka dan memberi balasan kepada mereka dengan kemenangan yang dekat (waktunya)”. (Al-Fath:18)

Orang yang berteduh di masa sekarang akan senantiasa mendapatkan ketenangan hati dan tidak mudah goyah karena faktor terhalangnya mendapatkan sesuatu atau tertinggal olehnya. Ia tetap tabah menunggu kemenangan yang akan diraihnya. Ia juga berada dalam arus gerakan Islam untuk selalu menunaikan tugas-tugas dan tanggung jawabnya. Ia setia dengan beban yang terpikul di pundaknya. Dengan sikap itu ia mampu meruntuhkan mercusuar kesesatan. Sedang ia telah menyatakan janji setia kepada Islam untuk mati sebagai tebusannya. Pohon ketaatan ini bersumber pada akar pengabdian yang utuh pada Sang Maha Pencipta. Sudah semestinya pohon ketaatan itu tumbuh subur di hati kader dakwah.

2. Syajaratut Tirhab (Pohon Penyambutan)

Pohon ini dinamakan pohon penyambutan. Ini untuk menyambut mereka-mereka yang sedang berjuang untuk mempertaruhkan hidupnya agar meraih kemuliaan di sisi Rabbnya. Jika Allah memilih untuk menimpakan musibah kepadamu sebagai jalan untuk meraih anugerah keridhaan-Nya. Dan kamupun mengalami cobaan berat hingga memaksamu berlindung di bawah syajaratut Tirhab, pohon penyambutan. Ini dilakukan untuk mencari ketenangan di bawah naungannya seraya menggerakkan pokoknya agar melimpahkan sebahagian dari berkahnya kepadamu. Dan engkau melakukan sikap sebagaimana yang dilakukan ibunda Maryam AS. Ketika bumi terasa sempit olehnya. Maka terdengarlah suara yang menyeru kepadanya:

وَهُزِّي إِلَيْكِ بِجِذْعِ النَّخْلَةِ تُسَاقِطْ عَلَيْكِ رُطَبًا جَنِيًّا . فَكُلِي وَاشْرَبِي وَقَرِّي عَيْنًا فَإِمَّا تَرَيِنَّ مِنَ الْبَشَرِ أَحَدًا فَقُولِي إِنِّي نَذَرْتُ لِلرَّحْمَنِ صَوْمًا فَلَنْ أُكَلِّمَ الْيَوْمَ إِنْسِيًّا

“Dan goyangkanlah pangkal pohon kurma itu ke arahmu, niscaya pohon itu akan menggugurkan buah kurma yang masak kepadamu. Maka makan, minum dan bersenang hatilah kamu. Jika kamu melihat seorang manusia, maka katakanlah: “Sesungguhnya aku telah bernazar berpuasa untuk Yang Maha Pemurah, maka aku tidak akan berbicara dengan seorang manusiapun pada hari ini”. (Maryam: 25 – 26).

Maka engkau mendapat makan dari buahnya yang telah masak dengan rasa puas tanpa berlebihan. Di sana engkau beroleh minuman yang segar dari sungai kecil yang mengalir di hadapanmu dengan mencidukkan kedua tanganmu kepadanya tanpa harus bersusah payah. Pohon ini berdiri pada pokoknya yakni kecintaan untuk menghariba kepada Rabbul Izzati. Dengan penuh ketaqwaan dan keyakinan akan perjumpaannya. Bagi seorang kader dakwah mendekatkan diri untuk menghamba kepada Allah SWT menjadi keharusan. Agar ia senantiasa dalam kondisinya yang prima. Tidak lapar dan tidak pula kehausan. Ia dapat memenuhi hak dan kebutuhan hidupnya dalam memperjuangkan ajaran-Nya.

3. Syajaratul Wafa’ (Pohon Kesetiaan)

Kesetiaan adalah tanda kecintaan. Dan kecintaan merupakan prasyarat dalam menjalin hubungan yang harmonis dengan kecintaannya. Nabi Muhammad SAW. mempunyai tanaman sendiri sebagaimana yang telah disebutkan dalam hadits, bahwa banyak pohon yang menyaksikan beberapa peristiwa dari perjalanan hidupnya yang mulia. Sebagai isyarat yang menunjukkan adanya hubungan ini. Terkadang sebagai gambaran untuk menyadarkan orang yang lalai. Diantaranya adalah syajaratul wafa’, pohon kesetiaan. Sebagai tanda adanya komunikasi di antara ruh-ruh yang selalu ingat. Pohon ini dapat mengucapkan terima kasih dan memberikan penghargaan kepada yang berhak menerimanya serta mengakui kebaikan yang diberikannya.

Ia adalah batang pohon kurma yang merintih saat ditingalkan. Jabir bin Abdullah RA. meriwayatkan, ‘Dahulu ada sebatang pohon kurma yang digunakan oleh Nabi SAW. untuk pijakan tempat berdirinya. Setelah dibuatkan mimbar untuk Nabi, kami mendengar dari batang kurma itu suara rintihan seperti rintihan unta yang sedang hamil besar. Hingga Nabi saw turun dari mimbarnya lalu meletakkan tangannya pada batang itu barulah batang pohon itu diam’. Batang pohon itu mengeluarkan suara rintihan seperti rintihan unta betina hamil besar. Peristiwa ini merupakan salah satu mukjizat Nabi SAW. Sebatang pohon yang diberikan penghormatan kepadanya lalu ia membalasnya. Manakala ditinggalkan ia merasa sedih sehingga kesedihannya itu melahirkan suara rintihan. Sekarang tiada seorangpun diantara kita melainkan di rumahnya terdapat kitab hadits. Seakan-akan Nabi saw berdiri di hadapannya mengajarkan urusan agama dan mengajarinya hukum-hukum syariat Islam. Maka sudah selayaknya bagi manusia seperti kita berterima kasih dan membalasinya dengan ketaatan dan kesetiaan pada ajaran yang dibawanya. Kita telah mendapatkan pelajaran yang amat bagus dari sebatang pohon kurma. Maka kita sebenarnya yang amat patut melakukan hal itu dan menterjemahkannya dalam sikap kita terhadap dakwah dan ajaran ini. Sepatutnya kita pun para kader dakwah merintih karena tidak dapat berbuat banyak untuk memberikan kontribusi pada dakwah ini sebagaimana orang-orang yang disebutkan Allah SWT. dalam kitab-Nya Allah berfirman:

وَلَا عَلَى الَّذِينَ إِذَا مَا أَتَوْكَ لِتَحْمِلَهُمْ قُلْتَ لَا أَجِدُ مَا أَحْمِلُكُمْ عَلَيْهِ تَوَلَّوْا وَأَعْيُنُهُمْ تَفِيضُ مِنَ الدَّمْعِ حَزَنًا أَلَّا يَجِدُوا مَا يُنْفِقُونَ

“Dan tiada (pula dosa) atas orang-orang yang apabila mereka datang kepadamu, supaya kamu memberi mereka kendaraan, lalu kamu berkata: “Aku tidak memperoleh kendaraan untuk membawamu”, lalu mereka kembali, sedang mereka bercucuran air mata karena kesedihan, lantaran mereka tidak memperoleh apa yang akan mereka nafkahkan”. (At-Tauabh:92).

4. Syajaratut Tsabat (Pohon Keteguhan)

Keteguhan menjadi hal yang amat urgen dalam mengemban amanah mulia. Karena godaan dan rintangan akan selalu datang silih berganti. Karena itu bagi aktivis dakwah ia amat memerlukan pohon keteguhan. Engkau dapat berlindung dibawahnya di hari manusia berpecah belah karena kecenderungannya yang berbeda-beda. Engkau mencari selamat dengan meninggalkan semua golongan yang berpecah belah itu. ‘Sekalipun engkau harus menggigit akar pohon (yakni berpegang teguh pada prinsip meskipun hidup menderita)’.

Oleh karena itu berlindunglah pada pohon keteguhan ini untuk mengeraskan gigitannya. Seandainya engkau bayangkan keadaan yang sebenarnya tentulah hatimu menjadi ragu dan bergetar penuh kecemasan. Antara perasaan takut bila pegangannya mengendur lalu terbawa arus dan harapan untuk tetap bertahan demi mencapai keselamatan.

Akan tetapi sari pati cairan yang dikeluarkan oleh pohon itu membuat kamu segar karena mendapat minuman darinya. Sedang manusia saat itu menjulurkan lidahnya karena kehausan. Tenggorokanmu basah lagi sejuk, sehingga menambah keras gigitanmu terhadapnya, seakan-akan kamu menghisap keteguhan dan kekokohan darinya bagaikan bayi lapar yang sedang menyusu. Pohon keteguhan ini juga menjadi alat Bantu untuk menghadapi cobaan dan ujian komitmen dari berbagai rayuan dunia yang memikat. Dari pohon itu kader dakwah tidak akan goyah karena daya tarik material duniawi yang fana. Ia tidak seperti orang-orang yang lalai dari kesetiaannya karena tergoda oleh ikan-ikan yang bermunculan pada saat mereka harus menunaikan komitmen itu.

وَاسْأَلْهُمْ عَنِ الْقَرْيَةِ الَّتِي كَانَتْ حَاضِرَةَ الْبَحْرِ إِذْ يَعْدُونَ فِي السَّبْتِ إِذْ تَأْتِيهِمْ حِيتَانُهُمْ يَوْمَ سَبْتِهِمْ شُرَّعًا وَيَوْمَ لَا يَسْبِتُونَ لَا تَأْتِيهِمْ كَذَلِكَ نَبْلُوهُمْ بِمَا كَانُوا يَفْسُقُونَ

“Dan tanyakanlah kepada Bani Israil tentang negeri yang terletak di dekat laut ketika mereka melanggar aturan pada hari Sabtu, di waktu datang kepada mereka ikan-ikan (yang berada disekitar) mereka terapung-apung di permukaan air, dan di hari-hari bukan Sabtu, ikan-ikan itu tidak datang kepada mereka. Demikianlah Kami mencoba mereka disebabkan mereka berlaku fasik”. (Al-A’raf:163).

5. Syajaratul Unsi (Pohon Penghibur)

Pohon ini menjadi penghiburmu di saat kamu sendirian dan kelembabannya meringankan (membasahi) keringnya kesalahanmu. Pohon ini ditanam oleh Nabi saw, saat beliau melalui dua kuburan yang sedang diazab. Sebagaimana yang diriwayatkan dalam hadits Nabi SAW. ‘Beliau mengambil sebatang pelepah kurma yang masih basah. Dan membelahnya menjadi dua bagian lalu menancapkan kepada masing-masing dari kedua kuburan itu satu bagian. Mereka bertanya, ‘Wahai Rasulullah, kenapa engkau lakukan itu?’. Rasulullah SAW. menjawab, ‘Mudah-mudahan azab diringankan dari keduanya selama kedua pelepah ini belum mengering’.

Buraidah Al Aslami RA. memahami hal ini sebagai tuntutan yang dianjurkan. Oleh karena itu ia berwasiat agar ditancapkan di atas kuburannya nanti dua batang pelepah kurma. Orang-orang pun mengikuti jejaknya dalam hal ini. Ada kalanya kita tidak dapat terlepas dari dosa-dosa kecil yang mencemari keikhlasan amal kita atau dari keterpaksaan mengejar sisa-sisa yang ada di tangan ahli dunia dari harta yang memperdayakannya. Yang biasa dibarengi dengan begadang yang merusak kesehatan dan dirundung oleh kegelisahan yang membuat diri kita tidak dapat tidur. Sehingga tubuh ini menjadi lemah untuk persiapan kerja di pagi hari. Barang kali dengan meluangkan waktu sejenak untuk berteduh di bawah pohon ini agar dapat meringankan beban hidupmu. Tentu hiburan bagi aktivis dakwah bukanlah dengan lantunan nasyid-nasyid dengan iringan bunyi musiknya atau juga bukan dengan tontonan yang melalaikannya. Akan tetapi hiburannya melalui dengan mengenang sejarah kehidupan umat terdahulu yang diabadikan kebaikannya serta mengingat akan janji balasan yang akan diberikan Allah SWT. pada orang-orang yang beriman. Sehingga dapat menggambarkan kenangan indah di hatinya akan kehidupan orang-orang yang telah berada di negeri cahaya yang penuh berkah.

6. Syajaratul Mufashalah (Pohon Pemisahan)

Pohon pemisahan ini menjadi saksi tentang sempurnanya akan kebersihan sarana yang digunakan oleh seorang muslim dalam mencapai tujuannya yang bersih. Demikian itu terjadi ketika ada seorang musyrik yang ingin bergabung memberikan bala bantuan kepada pasukan kaum muslimin dalam perjalanannya menuju medan perang Badar. Orang musyrik itu memberikan bala bantuan atas dasar fanatisme golongan untuk membela kaumnya. Ketika pasukan kaum muslimin sampai di sebuah pohon besar yang menjadi rambu jalan sebagaimana yang disebutkan dalam riwayat ‘Aisyah RA. Lalu orang musyrik itu hendak bergabung. Maka Nabi menoleh kepadanya dan mengatakan, ‘Kembalilah kamu, aku tidak meminta bantuan dari orang musyrik’.

Maka ketetapan ini terus berlaku sebagai prinsip yang tidak pernah ada pengecualiannya. Kecuali hanya dalam kejadian-kejadian yang terbatas dan langka. Oleh karena itu prinsip ini tetap menjadi pijakan dalam amal dakwah kita agar tidak mengemis meminta-minta balas bantuan dari orang yang memusuhi dakwah. Apalagi potensi yang dimiliki umat masih melimpah ruah untuk didayagunakan.

7. Syajaratul Istighfar (Pohon Meminta Ampunan)

Pohon istighfar berupa pohon anggur yang banyak buahnya. Apabila ada seorang tamu yang mampir ke rumah pemiliknya maka ia akan memetik setangkai buah itu lalu disodorkan kepadanya untuk mencicipinya. Setelah itu tentu seseorang yang bertandang itu akan merasakan kepuasan yang teramat sangat. Kemudian pada hari yang lain. Isteri pemilik kebun anggur itu mengatakan kepada suaminya. ‘Cara seperti itu tidak etis kepada tamu, sebaiknya engkau ikut memakan separuh jamuanmu guna menyenangkan hatinya dan sekaligus sebagai pernghormatan padanya’. Suaminnya menjawab, besok aku akan lakukan hal itu. Keesokan harinya, setelah tamunya memakan separuh hidangan yang disajikan kepadanya. Lalu lelaki pemilik kebun itu ikut serta memakannya. Tatkala ia mencicipinya terasa anggur itu masam dan tidak enak untuk dimakannya. Ia pun meludahkannya dan mengernyitkan kedua alisnya keheranan atas kesabaran tamunya yang mau merasakan buah seperti itu. Namun tamu itupun menjawabnya. ‘Sesungguhnya aku telah memakan buah ini dari tanganmu sebelumnya selama beberapa hari dengan rasa manis tetapi sekarang ini aku tidak suka memperlihatkan kepadamu rasa tidak enak pada buah ini sehingga membuatmu menyesali pemberianmu yang lalu’.

Apa yang disebutkan di atas ini bukanlah kisah ngawur melainkan sebagai tamsil perumpamaan yyang dibuat untuk para dai yang mengusung dakwah ini. Karena itu dengarkanlah baik-baik. Hal ini merupakan ungkapan kisah yang dijabarkan kepadamu untuk mendekatkan kepahamanmu kepadanya agar mudah kamu cerna.

Tidak seorangpun di antara orang-orang yang ada disekitarmu yang terpelihara dari kesalahan dan benar selalu adanya. Oleh karena itu jika ada saudaramu yang berbuat kekeliruan maka janganlah kekeliruannya itu mendorongmu untuk mendiamkannya tidak mau bergaul lagi dengannya. Tidak sabar terhadapnya atau mendiskriditkannya. Bahkan jangan pula kamu mencelanya melainkan bersabarlah kepadanya. Dan tahanlah emosimu. Dan kamu harus memaafkannya dalam hatimu karena mengingat kebaikannya yang terdahulu dan perilakunya yang baik dan penghormatannya kepadamu. Karena barangkali dia dapat membantumu untuk bertaubat atau menolongmu saat kamu belajar sebagai pelayan pendamping atau teman begadangmu atau dia mengajarkan kepadamu suatu bidang pengetahuan yang diajarkan Allah kepadanya dan hal-hal baru yang belum kamu ketahui.

8. Syajaratuz Zuhud (Pohon Zuhud)

Jika engkau telah beroleh faedah dan menebarkan keadilan maka sudah saatnya bagimu untuk membaringkan diri di bawah sebuah pohon yang ramping lagi banyak buahnya dan bunganya. Keindahannya memukau pandangan orang yang melihatnya dan membuat orang yang menikmati keindahannya berdecak kagum karena selera penanamnya begitu tinggi.

Itulah pohon zuhud. Yaitu pohon yang bersemi di dalam hati. Jenisnya lain dari yang lain. Belum pernah ada seorang pun yang menanam hal yang semisal itu sehingga terlihat sangat indah. Penanamannya menggambarkan pohon itu bagai syair berikut:

Zuhud telah menanamkan pohon dalam kalbuku

Sesudah membersihkannya dari bebatuan dengan susah payah

Dia menyiraminya sesudah menancapkannya ke bumi dengan air mata yang dialirkan

Manakala di melihat burung-burung perusak tanaman terbang mengelilingi pagarnya

Dia mengusirnya

Aku tidur di bawah naungan yang rindang dengan hati yang senang

Dan mengusir semua yang mengganggunya

Kemudian aku berjanji setia kepada Tuhanku

Seperti itulah Bai’atur Ridwan dilakukan di bawah pohon untuk memberikan janji setia. Rasakanlah kamu menjadi salah seorang diantara mereka yang melakukan hal itu. Dan kamu bersama di tengah-tengah mereka. Dirimu dipenuhi oleh semangat bai’at janji setia sampai mati di jalan Allah SWT. demi membela ajaran ini tegak di muka bumi.

9. Syajaratul Hilm (Pohon Penyantun)

Imam Hasan Al Banna telah memahami seni menanam pohon keimanan ini. Karena itu ia menanamkan kepada kita pohon Kesantunan. Beliau menggambarkannya sebagai berikut: ‘Jadilah kamu seperti pohon yang berbuah. Manusia melemparinya dengan batu sedang ia melempari mereka dengan buahnya’.

Sesungguhnya ia telah memberikan gambaran yang baik dan masukan yang berfaedah. Karena sesungguhnya kebanyakan manusia cepat cenderung kepada kejahilan sehingga mendorong mereka untuk mendustakan para da’i dan menyakiti mereka dengan cara batil. Seandainya seorang da’i bersikap jahil seperti orang jahil itu dan membalas keburukan dengan keburukan semisal, niscaya akan lenyap dan pudarlah nilai-nilai kebajikan itu. Sebenarnya sikap yang harus diambil seorang da’i adalah berlapang dada, mengharapkan pahala Allah dan memohon ampunan bagi kaum yang tidak mengerti itu.

Syaikh Muhammad Ahmad Ar Rasyid menandaskan bahwa pohon keimanan itu mesti diberi pupuk dan disiraminya disetiap waktu. Dirawatnya dengan baik agar tidak dimakan hewan yang mendatanginya atau dihinggapi hama penyakit. Ia pun perlu diselamatkan dari tangan jahil manusia yang sering usil untuk memetik buahnya sebelum masanya. Ia perlu penjaganan yang ekstra agar pohon-pohon itu memberikan buahnya bagi dakwah ini. Itulah Tsamaratud Da’wah (Buah Dakwah). Yakni kader-kader dakwah yang militan yang menyediakan dirinya untuk melayani dakwah ini dan berkhidmat terus demi tegaknya ajaran ini. Bila pertumbuhan kader ini terus tumbuh dari berbagai segmen dan usia secara seimbang maka dakwah ini akan mengalami tingkat produktifitas yang amat tinggi. Intajiyatud Da’wah (Produktivitas Dakwah). Dengan begitu mewujudkan misi utama dakwah ini untuk mencapai perubahan nilai dan norma akan semakin terrealisir.

Allah berfirman:

وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلَّا رَحْمَةً لِلْعَالَمِينَ

Dan tiadalah Kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam”. (Al-Anbiya:107).

وَقَاتِلُوهُمْ حَتَّى لَا تَكُونَ فِتْنَةٌ وَيَكُونَ الدِّينُ كُلُّهُ لِلَّهِ فَإِنِ انْتَهَوْا فَإِنَّ اللَّهَ بِمَا يَعْمَلُونَ بَصِيرٌ

“Dan peranglah mereka, supaya jangan ada fitnah dan supaya agama itu semata-mata untuk Allah. Jika mereka berhenti (dari kekafiran), maka sesungguhnya Allah Maha Melihat apa yang mereka kerjakan. (Al-Anfal:39).

Mentarbiyah Dengan Cinta


Mentarbiyah Dengan Cinta


DR. Maisarah Thahir berkata:

Sarana tarbiyah dengan cinta, atau bahasa cinta, atau abcd cinta, ada lapan perkara:

1. Kosa kata cinta
2. Pandang mata cinta
3. Suapan cinta
4. Sentuhan cinta
5. Selimut cinta
6. Pelukan cinta
7. Ciuman cinta
8. Senyum cinta

Pertama: Kosa kata cinta

Berapa kosa kata cinta kita ucapkan kepada anak-anak kita?
Dalam sebuah kajian dikatakan: seorang anak dari bayi sampai ABG telah mendengar tidak kurang dari 16 ribu kosa kata buruk, namun, ia hanya mendengar ratusan kosa kata baik!
Image yang tergambar dalam pikiran seorang anak tentang dirinya merupakan salah satu hasil dari omongan yang didengarnya, seakan sebuah kosa kata adalah sebuah kuas di tangan seorang pelukis, bisa jadi ia melukiskannya dengan warna hitam, bisa juga melukiskannya dengan berbagai warna indah. Jadi, kosa kata-kosa kata yang ingin kita ucapkan kepada anak-anak kita, harus yang baik, kalau tidak baik, jangan kita ucapkan
Sebagian orang tua, sebagian kosa katanya (merendahkan, menjelek-jelekkan, merendahkan ciptaan Allah), akibatnya terhadap anak adalah (mengurung diri, permusuhan, ketakutan, tidak percaya diri).

Kedua: pandang mata cinta

Jadikan kedua matamu tepat pada kedua mata anakmu, disertai senyuman, dan bergumamlah dengan suara tidak terdengar: “aku mencintaimu wahai si fulan”, 3 atau 5 atau 10 kali, jika hal itu disikapi oleh anakmu celaan, atau merasa aneh, dan ia berkata: “apa yang kamu lakukan wahai ayahku”, maka jawablah: “aku rindu kepadamu wahai fulan”. Jadi, pandangan mata, dan cara ini, mempunyai dampak dan hasil yang luar biasa.

Ketiga: suapan cinta

Cara ini tidak boleh dilakukan kecuali seluruh anggota keluarga berkumpul di satu meja makan. [nasihat: janganlah menempatkan tv di ruang makan], agar terjadi interaksi dan pertukaran pandangan mata. Dan saat menikmati santapan makan, hendaklah orang tua berusaha menyuapkan beberapa suap ke mulut anaknya [dengan catatan, anak kelas V atau VI SD ke atas, pasti merasa bahwa cara ini tidak bisa mereka terima], jika sang anak menolak menerima suapan itu di mulutnya, maka letakkan pada sendok atau piringnya. Hendaklah saat menyuapi disertai dengan pandangan mata cinta diiringi senyuman, kosa kata indah dan suara pelan: “demi Allah wahai anakku, saya sangat ingin menyuapimu dengan suapan ini, ini adalah kurir cintaku wahai sayangku”, setelah ini, pasti dia mau menerimanya.

Keempat: sentuhan cinta

DR. Maisarah berkata: saya naihatkan agar orang tua memperbanyak sentuhan terhadap anaknya. Bukan sebuah kebijakan jika seorang ayah berbicara dengan anaknya pada dua kursi yang berbeda. Sebaiknya sang anak ada di sampingnya, dan hendaklah tangan sang ayah menempel di bahu anaknya (tangan kana nada di bahu kanan). Kemudian DR. Maisarah menjelaskan cara nabi SAW menghadapi lawan bicaranya: “Nabi Muhammad SAW menempelkan kedua lututnya dengan lutut lawan bicaranya, dan meletakkan kedua tangan beliau di atas kedua paha lawan bicaranya, dan posisi menghadap secara penuh”. Sekarang terbukti bahwa sekedar sentuhan seseorang merasa dicintai dan kehangatan hubungan meningkat ke puncak tertinggi. Karenanya, jika hendak berbicara dengan sang anak, atau hendak menasihatinya, janganlah duduk berjauhan, sebab, dengan begini, terpaksa harus bersuara keras, dan [suara keras membuat sang anak lari] dan jika sang anak itu laki-laki, maka peganglah bagian pahanya, dan jika sang anak perempuan, maka peganglah bahunya, dan peganglah tangannya dengan penuh kasih saying, letakkan kepala sang anak pada bahu sang ayah, agar ia merasa dekat, aman, dan tersayang, sambil katakana: “Aku bersamamu, aku akan memohonkan pengampunan untukmu jika kamu bersalah”.
Kelima: selimut cinta
Hendaklah setiap malam seorang ayah atau ibu melakukannya, jika sang anak telah tidur, maka datangilah ia dan ciumlah, niscaya dia akan merasakan kehadiranmu, karena jenggot wajahmu yang biasa engkau bercanda dengannya, jika ia membuka satu matanya sedangkan yang lainnya masih meram dan ia berkata: “engkau datang wahai ayahku?”
Maka katakana kepadanya: “Betul, aku datang wahai sayangku!”. Dan selimutilah dia
Dalam pemandangan ini, sang anak akan berada dalam kondisi setengah sadar antara tidur dan tidak, dan pemandangan tadi akan tetanam dalam pikirannya, dan saat ia terbangun pada esok harinya, ia akan teringat bahwa semalam ayahnya datang dan melakukan ini dan itu.
Dengan perbuatan seperti ini, menjadi dekatlah jarak antara orang tua dan anak dan kita wajib dekat dengan anak dengan pisik dan hati kita.

Keenam: dakapan cinta

Janganlah kalian pelit dengan dekapan terhadap anak. Sebab, keperluan anak kepada dekapan sama dengan keperluannya kepada makanan, minuman dan udara, setiap kali ada yang terkonsumsi, niscaya diperlukan yang lainnya.

Ketujuh: ciuman cinta

Rasulullah SAW mencium salah seorang cucunya; Hasan atau Husain. Perbuatan ini terlihat oleh al-Aqra’ bin Habis, maka ia berkata: “Apakah engkau mencium anak-anak kecil?!! Demi Allah, saya mempunyai sepuluh anak, tidak pernah aku mencium seorang pun dari mereka!! Maka Rasulullah SAW bersabda: “Kalau saja aku mempunyai kemampuan untuk mencabut kasih sayang dari dalam hatimu”
Wahai para orang tua, ciuman kepada anak merupakan satu ekspresi kasih sayang, betul, kasih sayang yang menjadi focus ajaran Al-Qur’an, Allah SWT menjelaskan bahwa ia merupakan rahasian ketertarikan manusia kepada suatu keyakinan, dan jika kasih sayang ini hilang dari perilaku kita terhadap anak-anak kita, berarti kita telah menjauhkan mereka dari kita, baik kita sebagai perseorangan maupun kita sebagai para da’i, da’i Islam.

Kedelapan: Senyum cinta

Inilah sarana-sarana cinta, siapa yang menerapkannya, niscaya mendapatkan cinta dari mereka yang berinteraksi dengannya.

Sebagian orang tua saat dinasihati demikian berkomentar: “Kami tidak terbiasa”.
Subhanallah!! Adakah kebiasaan itu Qur’an yang turun dari langit yang kita tidak bisa merubahnya!!

Sarana-sarana ini ibarat air, dengannya tanaman cinta akan tumbuh di dalam hati. Dan jika kita ingin dibaiki oleh anak kita, baikilah anak kita, dan sayangilah mereka.
Perlu diketahui bahwa cinta tidak sama dengan tutup mata atau membiarkan kesalahan.

Kekeringan Roh…الجفاف الروحي


Kekeringan Roh…الجفاف الروحي

Assalamu’alaikum, kelmarin 19 Jan, saya telah diminta menyampaikan tazkirah selepas solat zohor di pejabat Time Training & Services,tempat kerja saya.Tajuk tazkirah saya ialah الجفاف الروحي
diterjemahkan ke dalam bahasa melayu ‘kekeringan roh’.Tajuk ini diambil daripada kitab kecil yg ditulis oleh Syeikh Abdul Hamid Al-Bilali, seorang pendakwah yang dihormati di negara Kuwait. Ia juga pengasas ‘Pertubuhan Basyairul Khair'(http://bashayerq8.net/) untuk memulihkan penagih2 dadah di sana. Saya sempat menziarahinya di sana ketika saya dan sahabat2 berkursus di sana pada Feb 2007. Alhamdulillah banyak perkara boleh dipelajari daripada syeikh ini kerana beliau amat prihatin terhadap aspek kerohanian.

Saya percaya ramai di kalangan kita yang amat berhajat kepada tazkirah2 begini dalam suasana dunia yang amat mencabar; dalam hal ini pendakwah tidak terkecuali.

Saya perturunkan di sini point-point penting untuk dihayati bersama:

‘Kekeringan roh’ bermaksud tidak terkesan atau lemahnya keimanan terhadap semua yang berkait dengan akhirat dari sudut amalan dan pertuturan.

Fenomena yang boleh dikesan adalah:

1. Ketiadaan khusyuk dalam ibadat terutama solat.
2. Keras hati
3. Tidak sensitif dan tiada reaksi positif bila mendengar bacaan Al-Quran dan tazkirah.
4. Tidak merasa cenderong untuk menghadiri halaqah2 ilmu yang mengingatkan tentang akhirat.
5. Sukar menitiskan air mata di kala bersendirian.
6. Tidak sensitif atau menyesal ketika terlepas dari fardhu ain seperti solat.
7. Tidak merasa rindu untuk menziarahi Baitillahil Haram.
8. Terputus dari membaca Al-Quran dan ziarah kubur.
9. Terlalu mengambil ringan terhadap perkara harus (mubah) dan syubuhat.
10.Mengutamakan masjid2 yang solat dan khutbahnya ringkas atau cepat.

Di antara sebab2 berlakunya demikian ialah:

1. Mengabaikan bacaan Al-Quran atau terlalu sedikit membacanya.
2. Tidak beramal dengan isi kandungan Al-Quran.
3. Terlalu banyak melakukan perkara harus sehingga berlaku pengabaian terhadap yang wajib.
4. Lebih banyak mengambil yang mudah terhadap sesuatu perkara yang melibatkan hukum fiqah.
5. Mengabaikan qiamullail (solat malam/ibadat malam)
6. Tidak mengerjakan solat dalam waktunya.
7. Tidak mengerjakan solat berjemaah di masjid
8. Lewat pergi ke masjid untuk solat.
9. Terputus dari menghadiri halaqah2 ilmu tentang bagaimana untuk menjaga dan memelihara hati.
10. Fokus kepada ilmu tertentu sahaja tanpa mengambilberat sudut berkaitan iman dalam ilmu2 itu; seperti politik dsb.
11. Meninggalkan sedaqah sunat dan berpada dengan zakat tahunan sahaja.
12. Tidak menziarahi kubur, orang sakit berat (nak mati) atau hospital.

Semoga tip2 di atas sedikit sebanyak memberi kesedaran kepada kita ke arah membasahkan roh2 yang gersang ini….

wallahu A’lam Bissowaab…

Dakwah adalah Kita dan Kita adalah Dakwah


Dakwah adalah Kita dan Kita adalah Dakwah

Nahnu Du’aatun Qabla Kulli Syai’in. “Kami adalah dai sebelum jadi apapun”.

Suatu gambaran peribadi yang unik dengan penataan risiko terancang untuk meraih masa depan bersama Allah dan Rasul-Nya. Inilah kafilah panjang, pembawa risalah kebenaran yang tak putus sampai ke suatu terminal akhir kebahagiaan syurga penuh ridha Allah swt.

Setiap muslim adalah dai. Kalau bukan dai kepada Allah, bererti ia adalah dai kepada selain Allah, tidak ada pilihan ketiganya, sebab dalam hidup ini, kalau bukan Islam berarti hawa nafsu. Dan hidup di dunia adalah masa untuk memilih secara merdeka, kemudian untuk dipertanggungjawabkan di hadapan Rabbul insan kelak. Bagi muslim, dakwah merupakan darah bagi tubuhnya, ia tidak mampu hidup tanpanya. Aduhai, betapa agungnya agama Islam jika didokongi oleh rijal (orang mulia).

Dakwah merupakan aktiviti yang begitu dekat dengan aktiviti kaum muslimin. Begitu dekatnya sehingga hampir seluruh lapisan terlibat di dalamnya. Sayang keterlibatan tersebut tidak dibekali ”Fiqh Dakwah” sehingga kerusakan yang ditimbulkan jauh lebih besar daripada kebaikan yang diperbuat.

Di sini menjadi jelas akan pentingnya keperluan terhadap fiqh dakwah, sebagaimana digambarkan oleh para ulama bahwa ”keperluan manusia kepada ilmu lebih mendesak daripada keperluannya terhadap makan dan minum”. Sehingga penting bagi kaum muslimin yang telah dan hendak terjun dalam kancah dakwah untuk membekalkan diri dengan pemahaman yang padu terhadap Islam dan dakwah Islam. Kerana orang yang bersungguh dalam menyampaikan namun tidak memiliki pemahaman yang benar terhadap Islam ”sama bahayanya” dengan orang yang memiliki pemahaman yang benar akan tetapi bodoh di dalam menyampaikan, mengapa?

Pertama; ia akan menyesatkan kaum muslimin dengan logik kosongnya. Kedua; Hal itu akan menjadi ”dalil” bagi orang-orang kafir dalam kekafirannya.

Fiqh dakwah merupakan bahan kemahiran untuk lahirnya pemahaman yang shahih terhadap Islam didukung kemampuan yang baik di dalam menyampaikan. Sehingga dengan aktiviti dakwah ini ummat dapat menyaksikan ”Islam” dalam diri, keluarga dan aktiviti para dai yang melakukan perbaikan ummat secara integral, mengeluarkan manusia dari pekat jahiliyah menuju cahaya Islam.

Bagi mereka yang yang berjalan di atas trek kafilah dakwah menuju cahaya dan kebahagiaan dunia dan akhirat dapat melihat prinsip-prinsip dakwah dan kaedah-kaedahnya, agar menjadi hujjah atau pegangan bagi manusia dan menjadi alasan di hadapan Allah. Ustadz Jum’ah Amin Abdul Aziz memaparkan tentang hal ini iaitu; ”Fiqh Da’wah: Prinsip dan kaedah dasar Dakwah”, yang diambil dari usul fiqh sebagai bekal para dai tersebut adalah sebagai berikut:

1. Qudwah (teladan) sebelum dakwah
2. Menjalin keakraban sebelum pengajaran
3. Mengenalkan Islam sebelum memberi tugas
4. Bertahap dalam pemberian tugas
5. Mempermudah, bukan mempersulit
6. Menyampaikan yang ushul (dasar) sebelum yang furu’ (cabang)
7. Memberi khabar gembira sebelum ancaman
8. Memahamkan
9. Mendidik bukan menelanjangi
10. Menjadi murid seorang imam, bukan muridnya buku.

Harapan: sekiranya Allah swt senantiasa mencurahkan taufiq dan petunjuk-Nya kepada para dai yang ikhlas menyeru manusia ke jalan Allah, memperbaiki diri, keluarga dan masyarakat serta tempat kerja, sehingga Allah terlibat dalam urusan dan kebijakan-kebijakan yang akan ditetapkan untuk orang banyak, demi tegaknya Islam yang indah dalam kehidupan dengan bimbingan Allah dan sesuai panduan manhaj (aturan) dakwah Rasulullah saw. Wallahu ‘alam