Archives

Risalah Udzma, Wadzifatul Khilafah, dan Muhimmatud Da’wah


Tiga Pesan KH. Hilmi Aminuddin

(Risalah Udzma, Wadzifatul Khilafah, dan Muhimmatud Da’wah)

Oleh: KH. Hilmi Aminuddin

Risalah Udzma

Tadzikirah yang ingin saya sampaikan adalah mengingatkan saya dan kita semua, pertama, bahwa kita sebagai manusia mempunyai risalah udzma (misi agung), yang diberikan oleh Allah SWT seperti dinyatakan oleh-Nya,

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالإنْسَ إِلا لِيَعْبُدُونِ

“Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku.” (Q.S. Adz-Dzariyat: 56)

Misi agung kita adalah ibadah kepada Allah SWT. Mengapa disebut misi agung? Karena sebetulnya kita ini dibandingkan dengan ciptaan-ciptaan Allah yang lain sangat kecil sekali, bahkan Rasulullah SAW bersabda,

مَا السَّمَاوَاتُ السَّبْعُ فِي الْكُرْسِيِّ إِلاَّ كَحَلْقَةٍ مُلْقَاةٍ بِأَرْضِ فَلاَةٍ، وَفَضْلُ الْعَرْشِ عَلَى الْكُرْسِيِّ كَفَضْلِ تِلْكَ الْفَلاَةِ عَلَى تِلْكَ الْحَلْقَةِ.

“Perumpamaan langit yang tujuh dibandingkan dengan Kursi seperti cincin yang dilemparkan di padang sahara yang luas, dan keunggulan ‘Arsy atas Kursi seperti keunggulan padang sahara yang luas itu atas cincin tersebut.”[1]

Bahkan didukung oleh para ilmuwan modern yang pernah saya baca dalam kitab terjemahannya Al-Insanu Dzalikal Majhul, digambarkan bahwa posisi bumi kita di semesta raya ini bagaikan sebutir pasir. Dan kita manusia, makhluk yang 5 milyar ini menempel di sebutir pasir itu, artinya kecil. Mungkin sepersekian milyar mikron kecilnya dibandingkan semesta raya.

Saya ingin menggambarkan betapa riasalah ubudiyah  pada Allah SWT itu sebagai misi agung. Makhluk yang menempel di sebutir pasir itu diberi posisi, diberi misi agung ibadah, dan posisinya otomatis sebagai ‘abid (hamba). Dalam terminologi manusia, hamba itu adalah mereka yang dicabut integritas pribadinya, keinginannya, dan hak-hak sosialnya. Tapi terminologi Allah lain. Hamba yang disebut ‘hamba’ oleh Allah justru makhluk mulia. Bahkan makhluk termulia pun, yaitu Rasulullah SAW disebut sebagai hamba. Seperti dalam surat Israa’ ayat 1,

سُبْحَانَ الَّذِي أَسْرَى بِعَبْدِهِ لَيْلا مِنَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ إِلَى الْمَسْجِدِ الأقْصَى الَّذِي بَارَكْنَا حَوْلَهُ لِنُرِيَهُ مِنْ آيَاتِنَا إِنَّه هُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ

“Mahasuci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya (Muhammad) pada malam hari dari Masjidilharam ke Masjidil Aqsa yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian tanda-tanda (kekuasaan) kami. Sesungguhnya Dia Maha Mendengar lagi Maha Melihat.”

Banyak sekali dalam ayat lain disebutkan, termasuk dalam surat Maryam umpanya tentang Zakaria,

ذِكْرُ رَحْمَةِ رَبِّكَ عَبْدَهُ زَكَرِيَّا

“(Yang dibacakan ini adalah) penjelasan tentang rahmat Tuhanmu kepada hamba-Nya, Zakaria.” (Q.S. Maryam: 1)

Jadi posisi penghambaan kepada Allah SWT adalah posisi yang sangat agung. Karena kita mahkluk, jasad remik, yang ‘nempel di pasir’, boleh berhubungan langsung dengan Allah.

ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ

“Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Aku perkenankan bagimu…” (Q.S. Al-Mu’min: 60)

Boleh berhubungan dengan Yang maha Pencipta dan Maha Agung, padahal kita maha kecil maha hina, dan maha kerdil. Kita dipersilahkan untuk meminta apa pun. Dan Allah SWT selalu melayani saja. Padahal Dia sudah demikian ‘sibuk’.

كُلَّ يَوْمٍ هُوَ فِي شَأْنٍ

“Setiap waktu Dia dalam kesibukan “ (Q.S. Ar-Rahman: 29)

Setiap hari Allah sibuk tapi tidak pernah lelah. Tidak pernah capek, tidak pernah mengantuk. Kita mahkluk hina ini dilayani terus. Bermilyar makhluk termasuk binatang, dilayaninya semua. Dilayani terus, dibantu, ditolong, difasilitasi, terus seperti itu…ini letak keagungan yang pertama.

Letak keagungan yang kedua, adalah—kita makhluk kecil ini—digabung oleh Allah SWT dalam konstelasi masuk semesta raya dalam irama yang satu: irama pengabdian, irama tasbih wa tahmid. Dalam posisi kita sebagai hamba, Allah SWT mengharapkan kita tetap eksis bergabung dengan junudullah. Pekerjaannya hanya satu: pengabdian dalam bentuk tasbih wa tahmid,

تُسَبِّحُ لَهُ السَّمَاوَاتُ السَّبْعُ وَالأرْضُ وَمَنْ فِيهِنَّ وَإِنْ مِنْ شَيْءٍ إِلا يُسَبِّحُ بِحَمْدِهِ

“Langit yang tujuh, bumi dan semua yang ada di dalamnya bertasbih kepada Allah. Dan tidak ada sesuatu pun melainkan bertasbih dengan memuji-Nya, (Q.S. Al-Isra: 44).

Semuanya penghuni langit dan bumi bertasbih, dan kita pun sebagai hamba dituntut begitu.

وَلَكِنْ لا تَفْقَهُونَ تَسْبِيحَهُمْ إِنَّهُ كَانَ حَلِيمًا غَفُورًا

“..tetapi kamu tidak mengerti tasbih mereka. Sungguh, Dia Maha Penyantun lagi Maha Pengampun.” (Q.S. Al-Isra; 44)

Kalian tidak faham tasbihnya rumput yang bergoyang, pohon bambu yang berderik karena ditiup angin, batu,  hewan, dan binatang ternak, semuanya bertasbih. Kita diharapkan untuk mempertahankan eksistensi kita dalam irama alunan tasbih dan tahmid semesta raya. Meskipun kita punya potensi faalhamaha fujuroha wa taqwaha…punya potensi untuk disersi dari barisan junudullah fi samawati wal ardh, tapi kita dituntut untuk bertahan. Sanggup bertahan dalam konstelasi semesta raya yang selalu beribadah kepada Allah SWT.

Kita sebagai gerakan dakwah sudah barang tentu menjadi yang paling dituntut untuk menjaga eksistensi—diri kita masing-masing, pribadi, dan jama’ah kita—dalam garis ‘ubudiyah kepada Allah SWT. Ini yang harus—termasuk saya—mewaspadai pada diri kita baik secara fardhi maupun jama’i jangan sampai kita terpesong dari garis risalah ‘ubudiyah, risalah udzma ini.

Dari Abdullah bin Mas’ud Radhiyallahu ‘anhu, ia berkata.

خَطَّ لَنَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ خَطًّا ثُمَّ قَالَ هَذَا سَبِيلُ اللَّهِ ثُمَّ خَطَّ خُطُوطًا عَنْ يَمِينِهِ وَعَنْ شِمَالِهِ ثُمَّ قَالَ هَذِهِ سُبُلٌ قَالَ يَزِيدُ مُتَفَرِّقَةٌ عَلَى كُلِّ سَبِيلٍ مِنْهَا شَيْطَانٌ يَدْعُو إِلَيْهِ ثُمَّ قَرَأَ إِنَّ هَذَا صِرَاطِي مُسْتَقِيمًا فَاتَّبِعُوهُ وَلَا تَتَّبِعُوا السُّبُلَ فَتَفَرَّقَ بِكُمْ عَنْ سَبِيلِهِ

Rasulullah SAW membuat sebuah garis lurus bagi kami, lalu bersabda,”Ini adalah jalan Allah,” kemudian beliau membuat garis lain pada sisi kiri dan kanan garis tersebut, lalu bersabda,”Ini adalah jalan-jalan (yang banyak). Pada setiap jalan ada syetan yang mengajak kepada jalan itu,” kemudian beliau membaca.

إِنَّ هَذَا صِرَاطِي مُسْتَقِيمًا فَاتَّبِعُوهُ وَلَا تَتَّبِعُوا السُّبُلَ فَتَفَرَّقَ بِكُمْ عَنْ سَبِيلِهِ

“Dan bahwa (yang Kami perintahkan) ini adalah jalanKu yang lurus, maka ikutilah dia; dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan (yang lain), karena jalan-jalan itu mencerai-beraikan kamu dari jalanNya.” (Q.S. Al An’am:153).

Jadi di kiri kanan shiroti mustaqima ini—ada posko, ada  penjaga yang aktif mengajak melakukan penyimpangan, atau mungkin sekedar untuk mampir.

Dalam surat Al-Ankabut ayat 12 disebutkan,

وَقَالَ الَّذِينَ كَفَرُوا لِلَّذِينَ آمَنُوا اتَّبِعُوا سَبِيلَنَا وَلْنَحْمِلْ خَطَايَاكُمْ وَمَا هُمْ بِحَامِلِينَ مِنْ خَطَايَاهُمْ مِنْ شَيْءٍ إِنَّهُمْ لَكَاذِبُونَ

“Dan orang-orang yang kafir berkata kepada orang-orang yang beriman, ‘Ikutilah jalan kami, dan Kami akan memikul dosa-dosamu,’ padahal mereka sedikit pun tidak (sanggup) memikul dosa-dosa mereka sendiri. Sesungguhnya mereka benar-benar pendusta.”

Kalau kita katakan, “Itu jalan salah, itu jalan berbahaya, nanti ada siksaan, pokoknya jalan batil, mereka menjawab: walnahmil khathayakum…biar kami yang menanggung dosa kalian…Kenapa berani begitu? Karena memang pada dasarnya mereka tidak pernah beriman kepada akhirat, kepada azab makanya berani saja, karena tidak beriman tidak punya keyakinan kepada azab, terhadap hari kiamat, terhadap hari perhitungan maka mereka siap menanggung kesalahan siapa pun yang mau mengikuti…kata Allah: wa ma hum bihamilina min khatayahum min syai wa innahum lakadzibun…mereka tidak akan sanggup memikul beban dosa mereka sendiri, apalagi yang diajak… innahum lakadzibun, sesungguhnya mereka berdusta…

Jadi subul ini banyak.

وَلَا تَتَّبِعُوا السُّبُلَ فَتَفَرَّقَ بِكُمْ عَنْ سَبِيلِهِ

Jangan sekali-kali mengikutinya. Kalau ittiba’us subul..fatafarraqa…akan tercerai berai dari jalan yang lurus. Jadi, menjaga eksistensi kita berjalan di jalan yang lurus sebagai da’i, tanggung jawabnya berlipat ganda dibanding yang tidak menyatakan diri sebagai da’i, tidak sebagai jama’ah dakwah…tanggung jawabnya lebih besar..makanya dalam situasi apa pun—tindakan, kata-kata, ucapan, langkah-langkah, apakah institusional, prosedural, struktural,  dan komunikasi apa pun—harus dikalkulasi masih dalam konteks ibadah atau tidak? Kalau sudah tidak dalam konteks ibadah, naudzubillahi min dzalik…walaupun mungkin kalkulasi materil duniawi sebuah sukses.

وَهُمْ يَحْسَبُونَ أَنَّهُمْ يُحْسِنُونَ صُنْعًا

“…mereka menyangka bahwa mereka berbuat sebaik-baiknya.” (Q.S. Al-Kahfi: 104)

Padahal itu hanya ilusi saja merasa berbuat baik. Semuanya tidak ada….la dunya wa la akhirah karena kata Allah,

فَجَعَلْنَاهُ هَبَاءً مَنْثُورًا

“…lalu Kami akan jadikan amal itu (bagaikan) debu yang berterbangan.” (Q.S. Al-Furqan: 23).

Semua pekerjaan yang terkontaminasi oleh subul tadi walaupun nampak sukses secara duniawi, kata Allah ‘bagaikan debu yang berterbangan’ yang tidak mempunyai bobot dan tidak bernilai sama sekali.

Bahkan, naudzubillahi min dzalik, jika terjerumus kepada kezaliman, Rasulullah SAW dalam hadits yang diriwayatkan oleh Muslim, menyebutnya sebagai orang pailit.

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ أَتَدْرُونَ مَا الْمُفْلِسُ قَالُوا الْمُفْلِسُ فِينَا مَنْ لاَ دِرْهَمَ لَهُ وَلاَ مَتَاعَ، فَقَالَ إِنَّ الْمُفْلِسَ مِنْ أُمَّتِي يَأْتِي يَوْمَ الْقِيَامَةِ بِصَلاَةٍ وَصِيَامٍ وَزَكَاةٍ وَيَأْتِي قَدْ شَتَمَ هَذَا وَقَذَفَ هَذَا وَأَكَلَ مَالَ هَذَا وَسَفَكَ دَمَ هَذَا وَضَرَبَ هَذَا فَيُعْطَى هَذَا مِنْ حَسَنَاتِهِ وَهَذَا مِنْ حَسَنَاتِهِ فَإِنْ فَنِيَتْ حَسَنَاتُهُ قَبْلَ أَنْ يُقْضَى مَا عَلَيْهِ أُخِذَ مِنْ خَطَايَاهُمْ فَطُرِحَتْ عَلَيْهِ ثُمَّ طُرِحَ فِي النَّارِ – رواه مسلم

“Dari Abu Hurairah ra berkata, bahwasanya Rasulullah SAW bersabda, ‘Tahukah kalian siapakah orang yang muflis (bangkrut) itu? Para sahabat menjawab, ‘Orang yang muflis (bangkrut) diantara kami adalah orang yang tidak punya dirham dan tidak punya harta.’ Rasulullah SAW bersabda, ‘Orang yang muflis (bankrut) dari umatku adalah orang yang datang pada hari kiamat dengan (pahala) melaksanakan shalat, menjalankan puasa dan menunaikan zakat, namun ia juga datang (membawa dosa) dengan mencela si ini, menuduh si ini, memakan harta ini dan menumpahkan darah si ini serta memukul si ini. Maka akan diberinya orang-orang tersebut dari kebaikan-kebaikannya. Dan jika kebaikannya telah habis sebelum ia menunaikan kewajibannya, diambillah keburukan dosa-dosa mereka, lalu dicampakkan padanya dan ia dilemparkan ke dalam neraka.” (HR. Muslim, Turmudzi & Ahmad)

Rasulullah mengatakan,  al-muflisu min ummatii ya’tii yaumal qiyaamati bi shalatin wa shiyamin wa zakaatin….. mungkin juga wa jihadin wa dakwatin dan wa..wa..wa seterusnya…. tapi karena kezaliman …faqod dzolama hadza…faqad safaka hadza…seterusnya perbuatan-perbuatan yang rusak itu, katanya nanti naudzubillahi min dzalik, oleh Allah dosa-dosa yang madzlum nya itu akan diberikan dibebankan kepadanya…kalo dosanya sudah habis nanti kebajikan dia diberikan kepada yang madzlum…sampai tidak punya apa-apa..kemudian dilemparkan ke neraka.

Jadi tadzkirah kepada saya dan kepada semuanya….jangan sampai jadi Ketua Majelis Syuro muflis..jadi Gubernur muflis..jadi menteri muflis…jadi bupati, jadi walikota muflis, akibat terpental dari garis ‘ubudiyah tadi. Ini materi dasar yang harus dari waktu ke waktu kita perdalam. Kita resapi, hayati dan selalu menjadi kalkulasi kehidupan. Semua kita tidak ada yang ma’sum (terbebas dari kesalahan). Tapi jangan sampai membuat kesalahan yang membuat kita terpental dari posisi ‘ubudiyah tadi.

Ikhwan dan akhwat rahimakumullah…itu tadzkirah saya yang pertama, harus ingat kepada risalah udzma kita, bahwa kita dalam posisi ibadah…menghadapi pemilu, menghadapi pilkada, pileg, apa pun…termasuk aktivitas kerja struktural, atau di rumah tangga…hitungannya itu jangan sampai kita keluar dari garis ibadah itu. Jangan sampai menjadi makhluk yang desersi dari kumpulan makhluk semesta raya yang semuanya bertasbih bertahmid kepada Allah SWT.

Wadhifatul Khilafah

Ikhwan dan akhwat fillah, yang kedua, betapa pun kita memiliki posisi sebagai hamba, namun Allah SWT telah menjadikan kita fungsionaris; punya wadzifah,

وَإِذْ قَالَ رَبُّكَ لِلْمَلائِكَةِ إِنِّي جَاعِلٌ فِي الأرْضِ خَلِيفَةً

“Dan ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat: ‘Sesungguhnya Aku telah menjadikan seorang khalifah di bumi…” (Q.S. Al-Baqarah: 30)

Jadi kita adalah fungsionaris, punya jabatan sebagai khalifah, dan jabatan khalifah itu melekat secara individual, orang per orang siapa pun mereka. Jadi setiap orang itu hamba Allah tapi fungsional; punya wadzifah…ada yang menyebutnya sebagai risalah wadzifiyah, artinya misi sebagai petugas. Kita punya tugas al-imarah wal ‘imarah, memenej kehidupan ini dan membangun peradaban kehidupan manusia. Bedanya ada ‘hamzah’ dan ‘ain’ saja. Yang satu sebagai manajer, sebagai direktur, mengatur, menata, merencanakan, yang satu lagi ‘imarah membangun peradaban.

Secara individu kita punya misi itu, makanya dalam hadits disebutkan,

كُلُّكُمْ رَاعٍ وَكُلُّكُمْ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ الْإِمَامُ رَاعٍ وَمَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ وَالرَّجُلُ رَاعٍ فِي أَهْلِهِ وَهُوَ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ وَالْمَرْأَةُ رَاعِيَةٌ فِي بَيْتِ زَوْجِهَا وَمَسْئُولَةٌ عَنْ رَعِيَّتِهَا

“Setiap kalian adalah pemimpin dan setiap kalian akan ditanya tentang apa yang dipimpinnya, seorang imam adalah pemimpin dan akan ditanya tentang apa yang dipimpinnya, seorang suami adalah pemimpin dalam keluarganya dan dia akan ditanya tentang apa yang dipimpinnya, seorang istri adalah pemimpin dalam rumah suaminya dan dia akan ditanya tentang apa yang dipimpinnya.” (HR. al-Bukhari )

Setiap kalian adalah sebagai raa’i, penangung jawab atau pemimpin, dan akan dituntut pertanggungjawaban, minimal memimpin diri sendiri, seterusnya memimpin keluarga, sampai memimpin negara dan memimpin khilafah. Jadi, salah satu tadzkirah saya yaitu…bukan istilah khalifahnya tapi substansinya yang paling penting, dimanapun posisi kita harus memerankan dua tugas tadi imarah wal ‘imarah.

Sudah barang tentu tugas khalifah ini tugas yang berat, baik skala individu, pribadi, rumah tangga, umat, jama’ah, negara, apalagi dunia. Itu tugas berat. Karenanya Allah SWT membekali banyak hal kepada kita, sampai-sampai Allah SWT mengatakan dalam surat Luqman  ayat 20,

أَلَمْ تَرَوْا أَنَّ اللَّهَ سَخَّرَ لَكُمْ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الأرْضِ

“Tidakkah kamu memperhatikan bahwa Allah telah menundukkan apa yang ada di langit dan apa yang di bumi untuk (kepentingan)mu…”

Tiadakkah kalian perhatikan bahwa Allah telah mempersiapkan untuk dimanfaatkan oleh kalian, digunakan untuk didayagunakan segala isi langit dan bumi…apa itu untuk bikin kita repot? Tidak, justru agar kalian sejahtera, damai, aman, dan makmur; maka lanjutan ayatnya,

وَأَسْبَغَ عَلَيْكُمْ نِعَمَهُ ظَاهِرَةً وَبَاطِنَةً

“…dan menyempurnakan nikmat-Nya untukmu lahir dan batin…” (Q.S. Luqman: 20)

Agar melalui membangun peradaban dengan basis keimanan itu hidup manusia menjadi nikmat. Jadi sejahtera, aman dan damai.

Muhimmatud Da’wah

Yang ketiga, kita  diperintahkan oleh Allah,

ادْعُ إِلَى سَبِيلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ وَجَادِلْهُمْ بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ إِنَّ رَبَّكَ هُوَ أَعْلَمُ بِمَنْ ضَلَّ عَنْ سَبِيلِهِ وَهُوَ أَعْلَمُ بِالْمُهْتَدِينَ

“Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan berdebatlah dengan mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu, Dialah yang lebih mengetahui siapa yang sesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui siapa yang mendapat petunjuk .” (Q.S. An-Nahl: 125)

Kita diperintahkan untuk berdakwah mengajak orang lain ke jalan Allah SWT. Jadi kita jangan bersikap individualis ingin masuk surga sendirian. Harus bareng-bareng ngajak yang lain juga.

Tugas kita sebagai da’i posisinya sangat mulia. Dalam surat Fushilat digambarkan oleh Allah SWT,

وَمَنْ أَحْسَنُ قَوْلا مِمَّنْ دَعَا إِلَى اللَّهِ وَعَمِلَ صَالِحًا وَقَالَ إِنَّنِي مِنَ الْمُسْلِمِينَ

 Dan siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah, mengerjakan kebajikan, dan berkata, ‘Sungguh, aku termasuk orang-orang muslim (yang berserah diri)?’” (Q.S. Fushilat: 33)

Yang terbaik ucapannya, sikapnya,  argumentasinya… wa man ahsanu qoulan min man da’a ilallah… Dan siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah; tapi bukan hanya ucapan, buktikan juga dalam amal saleh. Maka kita sebagai da’i bukan hanya mengajak tapi juga—sering saya katakan—ujung tombak dakwah kita adalah ihsan kita, kebajikan kita.

Kenapa kita harus terus-menerus beramal saleh? Terus berbuat ihsan? Karena, pertama, kita sudah banyak menerima ihsan dari Allah.

وَأَحْسِنْ كَمَا أَحْسَنَ اللَّهُ إِلَيْكَ

“…dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu..” (Q.S. Al-Qashash: 77)

Berbuat bajiklah sebagaimana Allah sudah banyak berbuat kebajikan; melalui orang tua kita, melalui mertua, istri, melalui anak, melalui suami, melalui tetangga, melalui sesama, dan seterusnya.

Kalau kita tidak memproduksi kebajikan lebih banyak lagi, dan hanya mau menkonsumsi kebajikan-kebajikan yang diberikan oleh orang lain,  nanti jama’ah kita akan tekor kebajikan, defisit kebajikan. Kalau defisit kebajikan, hati kita menjadi gersang, qaswatul qulub; saling memfitnah, saling menjegal, menghibah, konflik, sikut-sikutan dan seterusnya. Itu masyarakat yang tekor kebajikan. Kita harus menjadi masyarakat yang surplus kebajikan, sehingga bisa melaksanakan rahmatan lil ‘alamin, faqidus syai la yu’thi…

Muhimmah (tugas) dakwah adalah  muhimmah mulia,

وَمَنْ أَحْسَنُ قَوْلا مِمَّنْ دَعَا إِلَى اللَّهِ وَعَمِلَ صَالِحًا وَقَالَ إِنَّنِي مِنَ الْمُسْلِمِينَ

Dan harus berani tampil eksis sebagai muslim, di-declere, saya muslim saya da’i . Sudah barang tentu untuk menjadi da’i yang seperti itu, kita harus istiqamah.

إِنَّ الَّذِينَ قَالُوا رَبُّنَا اللَّهُ ثُمَّ اسْتَقَامُوا

Ketika sudah mendeklere sebagai hamba Allah, bahwa kita hanya berTuhan Allah SWT,

ثُمَّ اسْتَقَامُوا

Lalu beristiqamah, maka Allah SWT akan menggerakkan junudullah yang lain, bahkan dipilih yang mulia yaitu para malaikat…

تَتَنَزَّلُ عَلَيْهِمُ الْمَلائِكَةُ

“…maka malaikat-malaikat akan turun kepada mereka…”. Kerja malaikat itu apa?

Menghembuskan optimisme ke dalam diri kita. Menghembuskan keberanian.

أَلا تَخَافُوا وَلا تَحْزَنُوا

Jangan takut, jangan sedih, optimis terus. Dibangunkan optimismenya.

وَأَبْشِرُوا بِالْجَنَّةِ الَّتِي كُنْتُمْ تُوعَدُونَ

Diberikan optimisme, berita gembira yang melampaui batas-batas kehidupan dunia. Optimisme sampai ke akhirat, bergembiralah dengan surga yang dijanjikan untuk kalian. Dan malaikat juga selain menghembuskan semangat ma’iyyatullah (kebersamaan dengan Allah), juga menginformasikan bahwa kita adalah bagian dari junudullah,

نَحْنُ أَوْلِيَاؤُكُمْ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَفِي الآخِرَةِ

Kamilah pelindung-pelindungmu dalam kehidupan dunia dan akhiratdi dunia malaikat membangkitkan semangat, membantu, dan menolong.

وَلِلَّهِ جُنُودُ السَّمَاوَاتِ وَالأرْضِ وَكَانَ اللَّهُ عَزِيزًا حَكِيمًا

“Dan kepunyaan Allah-lah tentara langit dan bumi. Dan adalah Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (Q.S. Al-Fath: 7). Bisa  jadi yang membantu kita itu angin, hujan, pasir, air, dan binatang. Kalau sudah sesama junudullah tuh akur.

Jadi, dalam tadzkirah ini saya ulangi garis besarnya ada tiga: Pertama, ingat selalu kepada risalah udzma yaitu risalah ubudiyah.

Kedua, ingat selalu kepada wadhifatul khilafah, yang berperan secara individu dan jama’i, melakukan imarah, memenej dan menata kehidupan ini,  serta melakukan ‘imarah , membangun peradaban kemanusiaan dengan semakin meningkatkan ilmu pengetahuan, sains teknologi, dan seterusnya; sehingga terbangun peradaban yang bisa dinikmati kehidupan.

Ketiga, ingat selalu muhimmatud da’wah (tugas dakwah) yang luar biasa diistimewakan oleh Allah; Ia janjikan kenikmatan yang bukan hanya kenikmatan di dunia, tapi melampauinya sampai di akhirat; dan itu diinformasikan oleh Allah SWT melalui para malaikat yang menghembuskan pada diri kita,

أَلا تَخَافُوا وَلا تَحْزَنُوا

Jangan kalian takut dan jangan bersedih…Mudah-mudahan di akhir hayat nanti, kita termasuk ke dalam golongan orang-orang yang dipanggil oleh Allah SWT dengan panggilan,

يَا أَيَّتُهَا النَّفْسُ الْمُطْمَئِنَّةُ (٢٧) ارْجِعِي إِلَى رَبِّكِ رَاضِيَةً مَرْضِيَّةً (٢٨) فَادْخُلِي فِي عِبَادِي (٢٩) وَادْخُلِي جَنَّتِي (٣٠

“Wahai jiwa yang tenang! Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang ridha dan diridhai-Nya. Maka masuklah ke dalam golongan hamba-hamba-Ku, dan masuklah ke dalam surga-Ku” (Q.S. Al-Fajr: 27-30)

(Tadzkirah ini disampaikan KH. Hilmi Aminuddin di Lembang pada 22 Juli 2015. Ditranskrip, diringkas dan diedit oleh M. Indra Kurniawan)

Kedaulatan Rakyat dan Tarbiyatul Ummah


Kedaulatan Rakyat dan Tarbiyatul Ummah

Oleh: KH. Hilmi Aminuddin

Setelah masuk masa reformasi, kita bersama-sama komponen bangsa Indonesia melakukan perubahan. Kita membuka era baru, lembaran baru sejarah Indonesia. Dan, alhamdulillah kita bersama-sama komponen bangsa Indonesia bisa melakukan perubahan yang sangat fundamental.

Salah satunya, dalam bentuk melakukan amandemen UUD 1945. Dalam melakukan amandemen ini bukan saja dengan konsolidasi nasional bersama seluruh komponen bangsa Indonesia dalam ruang lingkup parlemen, tapi kita juga menggerakkan ikhwan dan akhwat dalam kurun waktu itu, sudah tidak terhitung berapa kali kita melakukan demonstrasi.

Dalam situasi perubahan itu, alhamdulillah terjadi sebuah perubahan juga di tataran politik, yang kita sebut reformasi politik. Intinya adalah kepastian kedaulatan rakyat, bahwa rakyat betul-betul berdaulat.

Tapi ikhwan dan akhwat fillah, kedaulatan rakyat yang kita harapkan adalah bagaimana umat Islam, bangsa Indonesia yang mayoritas 90 persennya umat Islam, bisa mewujudkan aspirasi-aspirasi yang islami. Mengekspresikan kedaulatannya secara islami. Itu akan terjadi kalau kita berhasil melakukan tarbiyatul ummah (pembinaan umat) setelah kita melakukan tarbiyah kader. Sebab demokratisasi politik itu esensinya adalah tegaknya kedaulatan rakyat. Suara rakyat menentukan arah negeri dan bangsa ini. Rakyat mengendalikan kehidupan berbangsa dan bernegara. Kalau kemudian umat ini tidak kita tarbiyah, tidak kita bina, akhirnya tidak akan menguntungkan dakwah. Bisa jadi umat yang kita perjuangkan kebebasannya ini, kalau kita tidak bangun melalui tarbiyatul ummah hingga muncul al-wa’yul islami (kesadaran islamnya), kita malah akan dibunuh oleh umat yang kita perjuangkan kebebasannya. Ini harus dicamkan. Banyak gerakan dakwah yang dibunuh oleh umatnya.

Maka tugas kita sebagai gerakan dakwah, partai dakwah, selain secara terus menerus membina kader–sebagai modal utama dan pertama gerakan dakwah kita–adalah juga terjun di tengah-tengah masyarakat melakukan tarbiyatul ummah. Membangun wa’yul islami, agar produk reformasi politik dalam bentuk kedaulatan rakyat, dalam bentuk aspirasi-aspirasi rakyat, yang muncul adalah aspirasi yang islami. Kalau tidak, yang akan muncul adalah aspirasi-aspirasi kiri, aspirasi kanan, atau aspirasi kirinya kanan, kanannya kiri atau kanan dalam, kiri dalam, dan seterusnya. Sementara gerakan dakwah akan kembali marginal.

Jadi saya ingin mengingatkan kita sebagai kader-kader dakwah, fokus kerja dakwah kita adalah melakukan tarbiyah kader dan melakukan tarbiyatul ummah atau tarbiyah jamahiriyah. Sebab kebebasan yang dimiliki rakyat, kalau tidak kita tarbiyah akan terjadi lepas kendali. Bahkan akan menerkam kita sendiri, padahal kita yang memperjuangkan kebebasan mereka.

Ujian Keburukan dan Kebaikan


Ujian Keburukan dan Kebaikan

Oleh: KH. Hilmi Aminuddin

Ikhwan dan akhwat fillah rahimakumullah…

Situasi dan kondisi kita sekarang ini, secara nasional, kita masih saja belum berhasil mengentaskan masyarakat dari krisis multidimensi. Kita juga masih mendapat ujian-ujian berupa aneka ragam musibah yang berturut-turut. Tapi kita sebagai kader dakwah, sebagai kader umat, tentu melihat setiap ujian sebagai peluang. Itu merupakan kesempatan untuk membina diri, menggembleng diri, meningkatkan kualitas diri.

Sebagaimana firman Allah dalam surat Al-Anbiyaa ayat 35,

وَنَبْلُوكُمْ بِالشَّرِّ وَالْخَيْرِ فِتْنَةً

“Kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan (yang sebenar-benarnya).”

Dan kalian Kami uji dengan kesulitan dan dengan kemudahan sebagai batu ujian untuk menguji kehandalan umat ini, kehandalan kader-kader dakwah ini.

Kalau dilihat dari sisi ayat ini, katakanlah bencana pada suatu daerah, pada suatu kaum, sebetulnya tidak semata ujian bagi entitas bangsa ini sendiri. Sebetulnya itu juga menggugah, mengingatkan bahkan menuntut entitas masyarakat yang lain yang tidak kena musibah untuk sadar, bahwa sebetulnya dia sedang diuji dengan khair (kebaikan).

Jadi setiap ujian yang berupa syarr (keburukan) itu mempunyai dua sisi. Kepada yang tertimpa musibah, mereka memang ditimpa oleh kesulitan, kenestapaan, terasa sebagai bencana. Tapi di pihak lain, bagi yang tidak terkena bencana, dia sebetulnya sedang diuji dengan wa nabluukum bil khair. Sejauh mana dia sadar akan kebaikan-kebaikan yang diterimanya dari Allah. Kemudian kesadarannya itu merefleksikan rasa tanggung jawab, empati, dan membangkitkan rasa kemanusiaan, rasa ukhuwah islamiyah, untuk bersegera menolong, menyantuni, mengentaskan penderitaan saudara-saudara kita yang mendapatkan al-bala’ bisy-syarr, ujian/cobaan dengan keburukan.

Jadi kalau kita melihat ada sekelompok entitas umat atau bangsa atau manusia mendapatkan al-bala’ bisy-syarr, secara otomatis kita harus tersadar bahwa kita sedang diuji dengan al-bala’ bil-khair. Dan sejauh mana kita refleksikan tanggung jawab kita, rasa ukhuwah kita untuk menunaikan kewajiban kita agar kita lulus dari balaa-an hasanan, ujian kebaikan. Agar kita lulus dari bala bil-khair. Sebab, baik bisy-syar atau bil-khair, dua-duanya fitnah (ujian/cobaan).

Yang kena musibah umumnya lulus, tabah, tawakkal, terlihat tangguh, bersabar. Tapi yang mendapatkan ujian khair, mendapat ujian hasanah, lulus atau tidaknya harus dilihat dari sejauh mana ujian kebaikan itu membangkitkan kesadaran, membangkitkan rasa tanggung jawab, membangkitkan kepedulian, membangkitkan rasa kemanusiaan dan rasa ukhuwahnya.

Kalau dilihat dari sisi ini, maka memikul tanggung jawab kepemimpinan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara bagi kader-kader dakwah, adalah merupakan keniscayaan yang harus kita raih. Karena itu adalah bagian dari tanggung jawab dakwah kita, tanggung jawab keumatan kita, tanggung jawab kemanusiaan kita; untuk mengentaskan persoalan umat ini, bangsa ini, kemanusiaan ini dari tekanan-tekanan kezaliman. [ ]

 

Khiththah Idaratul Ma’rakah


Khiththah Idaratul Ma’rakah

(Langkah-langkah Mengelola Pertempuran)

Oleh: KH. Hilmi Aminuddin

Dalam sebuah perjuangan dan pertempuran yang secara terus-menerus kita hadapi, yang paling pertama yang harus betul-betul mendapat perhatian adalah:

Khiththah Takhthithiyah (Strategi perencanaan)

Strategi perencanaan Insya Allah selalu mendahului setiap ma’rakah  yang dilalui dakwah kita ini. Dari awal ta’sis seluruhnya dengan perencanaan. Secara amaliyan dan tanzhimiyan seluruhnya terencana secara baik. Sudah tentu pelibatan-pelibatan terhadap perencanaan semakin luas dan akhirnya alhamdulillah, lembaga perencanaan semakin kokoh, semakin kuat, dan pelibatannya semakin luas. Insya Allah ini akan menimbulkan efek positif di dalam jama’ah dakwah kita.

Di era saat ini, kita harus mempertimbangkan untuk melakukan langkah-langkah bagaimana kita pun menerima asupan-asupan dan masukan-masukan dari publik. Dan itu juga sudah antum harus lakukan agar betul-betul apa yang kita rencanakan itu bernilai aspiratif tinggi. Umat pun dilibatkan dalam perencanaan. Bahkan komponen bangsa dari aneka ragam kelompok atau komunitas di bangsa ini pun ikut terlibat dalam memberikan kontribusi dalam perencanaan kita. Itu seharusnya selalu kita lakukan.

Kalau tidak kita lakukan pelibatan-pelibatan yang luas itu, maka langkah kita akan terhenti. Tidak mungkin—na’udzubillah—maju dari mihwar muassasi menuju mihwar daulah kalau pelibatan-pelibatan itu hanya berputar-putar secara internal. Pelibatan-pelibatan harus menjadi luas, termasuk dalam bahan-bahan perencanaan sekalipun.

Khiththah Tajmi’iyah (Langkah Menghimpun)

Khiththah tajmi’iyyah yaitu jam’ut thaaqah (menghimpun potensi) yang meliputi hal-hal berikut: Pertama, Al-Muhafazhah ‘ala muktasabat, memelihara apa yang sudah kita hasilkan, yaitu potensi jama’ah dakwah ini, potensi kebersamaan dalam jama’ah ini, potensi ukhuwah, potensi ta’awun, potensi tadhamun. Inilah modal awal kita. Semangat kebersamaan bukan saja harus utuh, tapi harus semakin berkembang, harus semakin produktif. Tidak boleh ada yang merasa terlepas dari hadlanatul jama’ah (pelukan asuhan jama’ah). Tetap semuanya ada dalam kehidupan amal jama’iy, yang disana merasakan ada kehangatan, al-hanun. Hananatul Umm, bagaikan hangatnya pelukan ibu yang dilakukan oleh jama’ah.

Kedua, isyrakul ghair. Sudah barang tentu kita juga harus dapat menghimpun potensi luar. Salah satu indicator keberhasilan musyarakah adalah isyrakul ghair (pelibatan orang lain). Ia adalah suatu kerja yang produktif. Jika musyarakah tidak berhasil melakukan khutuwat tajmi’iyah potensi-potensi di luar jama’ah kita, berarti musyarakah kita gagal. Kita cuma numpang hidup tapi tidak memberikan harapan hidup bagi orang lain.

Kekokohan potensi internal, semangat kebersamaan harus tetap dibangun, dibina, dikokohkan. Begitu juga kebersamaan dalam ruang lingkup keumatan, kehidupan berbangsa dan bernegara harus kita kembangluaskan.

Khuthuwat tauzhifiyah (Langkah Pemungsian)

Setelah dihimpun, semua orang harus difungsikan. Tidak boleh ada yang marginal, yang merasa disisihkan, yang merasa disepelekan. Seluruhnya harus berfungsi, harus berperan. Sebab kalau orang berposisi mauqif janibi (potensi yang marginal) nantinya menjadi beban, bahkan menjadi ancaman, menimbulkan ma’rakah janibiyah (pertempuran sampingan). Kalau dibiarkan akan timbul ma’rakah dakhiliyah (pertempuran di dalam). Ini akibat tidak terfungsikannya potensi. Disinilah pentingnya kemampuan kita dalam tauzhif, melakukan tanassuq kulli (sinkronisasi secara integral) ataupun tanassuq dzati (sinkronisasi secara sektoral).

Lihatlah air ketika terhimpun di dalam kolam lalu tidak ada output. Dia sudah masuk dalam wadah yang benar, sudah masuk ke dalam mudkhala shidqin, tapi kalau tidak diberi mukhraja shidqin, air itu akan menjadi kotor. Tumbuh lumut dan seterusnya. Tapi kalau air itu masuk melalui prosedur yang benar, dan ditata secara benar potensinya, mengalir secara benar, insya Allah air itu akan tetap bersih dan tetap mengalir, tetap menggerakkan dan bahkan menggerakkan yang lain.

Manusia juga sama. Dihimpun dalam jama’ah, lalu dihimpun dalam suatu wadah besar perjuangan dakwah.Tapi bila tidak difungsikan secara benar dan digerakkan secara baik, maka dia akan menjadi kotor. Bisanya polusi yang mudah terasa itu muncul di mulut. Mulutnya mulai kotor. Itu bisaanya karena kurang kerjaan. Kalau orang itu sibuk kerja, punya wazhifah yang benar-benar sibuk, tidak sempat berkata usil segala macam. Mulai kotor dari mulut, nanti kepada ruhnya. Apalagi sekarang bisa diwakilkan lewat sms, bisa didelegasikan ke sms, ke internet dan sebagainya. Itu adalah efek dari masalah tauzhif yang kurang maksimal.

Khuthuwat Tahfizhiyah (Langkah Pemeliharaan)

Khuthuwat Tahffizhiyah itu ada lima. Yaitu: musyarakah ‘indal qarar (musyarakah dalam menentukan ketetapan), tasyji’ ‘indal ijtihad (dorongan berijtihad), da’m indal tanfidz (dukungan dalam pelaksanaan), I’tiraf ‘indal injaz (pengakuan ketika berhasil), inshaf ‘indal khatha (bersikap adil ketika menghadapi kesalahan).

Musyarakah ‘indal qarar

Semakin besar jama’ah dakwah kita, maka kreasi kita dalam memberikan tauzhif (pemungsian) dan tahfizh (pemeliharaan) kepada seluruh komponen jama’ah harus kreatif kita ciptakan. Coba diadakan tampungan-tampungan. Bisa jadi dapat dihadirkan orang luar untuk merangsang tumbuhnya ide-ide atau aspirasi tersebut. Pelibatan semakin luas, sense of belonging dari berbagai komponen semakin kuat terhadap jama’ah dan dakwah ini.

Tasyji’ ‘indal ijtihad

Aspirasi-aspirasi jangan disumbat. Ijtihadat mulai dikembangkan terus menerus. Jangan berhenti. Kita selalu inovatif dalam langkah-langkah dakwah. Jangan sampai menjadi jenuh dan bosan karena ijtihad dan aspirasi inspirasi terhenti.

Da’m indal tanfidz

Dukungan diberikan ketika melaksanakan tugas. Minimal dengan do’a. Syukur-syukur dengan dana. Jadi semua ikhwah merasa didukung dalam melaksanakan tugasnya. Jangan sampai terjadi betapa pun kita sudah melakukan pembagian tugas, melakukan kompartemensasi. Kehidupan jama’ah ta’awun ini harus hidup. Jangan sampai nafsi-nafsi. Kita harus jama’iy ta’awuniy. Da’m itu bisa bersifat da’m ikhawi (dukungan persaudaraan) dan da’m tanzhimi (dukungan structural). Kalau da’m tanzhimi sifatnya structural, sedangkan da’m ikhawi sifatnya personal tanpa melihat jabatan dan bidangnya. Ini penting dilakukan supaya kokoh amal jama’i kita. Jadi jangan sampai melihat sesuatu tidak berjalan dibiarkan saja karena bukan tugas kita. Paling tidak kita memberikan saran, mendo’akan, syukur juga bila memikirkan pendanaannya, pembiayaannya antar bidang atau antar personal.

I’tiraf ‘indal injaz

Pengakuan-pengakuan akan keberhasilan harus ada. Pengakuan itu penting karena seseorang merasa diakui eksistensinya. Bukan hanya secara fisik, secara structural, tapi secara amaliyah. Apalagi kita juga pengalaman menyediakan hadiah-hadiah bagi wilayah tertentu atau bagi komunitas tertentu. Dimana kita menghadiahkan umroh, bahkan hadiah haji dan seterusnya. Itu adalah bagian dari I’tiraf ‘indal injaz.

Al-Inshaf ‘indal khatha

Adil menyikapi kesalahan. Ingat, dalam ma’rakah ini pelakunya adalah manusia. Kemungkinan ada salah, kemungkinan kepeleset adalah sebuah kewajaran. Itu adalah unsur dari sifat kemanusiaan. Mahallul khatha’ wa nisyaan adalah manusia. Manusia disebut insan itu karena suka lupa. Oleh karena itu inshaf, jangan sampai mengukur ikhwah, teman berjuang dan orang dari luar dengan ukuran yang tidak mungkin salah.

Kita harus memberikan jatah salah, tapi jangan meminta jatah salah. Kepada setiap orang diberikan space kemungkinan bersalah. Sehingga kalau salah jangan kaget. Kemudian kalau terjadi salah, jangan serta merta lalu memuhasabah dia, tapi muhasabah diri kita dulu. Apa kontribusi kita sehingga dia tidak bersalah. Atau bahkan apa kontribusi kita sampai dia salah. Siapa tahu kita ikut andil dalam membuat dia salah. Jadi ittihamu dzat (menuduh diri sendiri) adalah menjadi akhlak da’i. Dengan pendekatan ma’nawiyah seperti itu, ketika kita memuhasabahi dia menjadi lembut, santun, menjadi nyaman bahasanya. Tapi kalau belum apa-apa sudah cenderung menyalahkan dulu, akan membuatnya lari dan jauh. Akan lebih buruk akibatnya.

Khuthuwat Riqabiyah (Langkah Pengawasan)

Jangan lupa dengan khuthuwat riqabiyah, sebab langkah kita itu harus teratur dan terukur. Keteraturan dan keterukuran itu awalnya dari takhtith (perencanaan), ujungnya itu riqabah (pengawasan). Antara perencanaan dan pengawasan adalah dua sejoli yang tidak boleh dipisahkan. Sudah barang tentu sebagai pimpinan dalam pengawasan harus bijak, harus tetap melihat dari sudut pandang kemanusiaan. Riqabah itu bukan yufattisy, tapi memantau. Sebab yufattisy itu ngorek-ngorek. Dan pemantauan yang paling mudah itu adalah dari efek-efek kerja, efek bergerak dan hasil pekerjaan.

Riqabah itu bukan hanya kepada perencanaan-perencanaan kita. Karena di lapangan itu yang bergulir adalah aneka program. Di lapangan itu bias jadi terjadi tadharrub (saling bertabrakan) antara program kita dengan program orang lain. Tapi bias jadi juga ada tawafuq (saling kesesuaian) dalam titik tertentu. Nah dalam tawafuq itulah kita bias mengambil keuntungan-keuntungan dari program-program orang lain.

Apalagi di Indonesia ini seluruh rival kita, yang sekuler sekali pun konstituennya, pimpinannya adalah umat Islam juga. Sehingga mungkin saja muncul langkah-langkah mereka yang ada tawafuq. Dan kita tidak bisa melihat itu kalau kita tidak mempunyai ijabiyatur ruýah (pandangan positif). Pandangan positif itu dasarnya adalah begini: Al-Islam kullul haq (Islam itu seluruhnya benar), Al-Haqqu kulluh (kebenaran seluruhnya) adalah Islam. Tapi di luar Islam bisa jadi ada juzún minal haq (sebagian dari kebenaran). Karena kebenaran itu selain bersumber dari wahyu, juga bersumber dari fitrah. Walaupun ia di luar lembaga Islam, fitrahnya kan ada. Akhirnya muncul juga kebenaran dari fitrah itu pada berbagai macam orang. Makanya kita tidak boleh menggeneralisir kepada orang lain dengan mufaraqah (memisahkan diri), dengan landasan furqan: kita benar semuanya, mereka salah semuanya. Kita harus melihat dengan ijabiyatu ruýah kemungkinan adanya unsur-unsur tawafuq (kesesuaian) dari segi program atau tawafuq dari segi personal.

Khuthuwat Tarbawiyah (Langkah pembinaan)

Artinya segala potensi yang dihimpun, terutama dari luar ke dalam, harus ada langkah-langkah muhafazhah (penjagaan) kepada mereka. Muhafazhah thaaqah (potensi) harus dipelihara. Jangan sampai potensi yang sudah kita gunakan lalu terbengkalai. Tidak dipelihara, tidak dijaga hubungan, tidak ada komunikasi, tidak ada pelibatan-pelibatan lanjutan, tidak ada pengembangan-pengembangan lanjutan. Harakah ini harus menjaga potensi yang disertakan dalam setiap marhalah untuk ikut ke dalam marhalah berikutnya. [ ]

Tilawah Yaumiyah (1 Juz Sehari)


Tilawah Yaumiyah (1 Juz Sehari)

“Hendaklah Anda memiliki wirid harian membaca al-Qur’an
minimal satu juz setiap hari, dan berusahalah sungguh-sungguh agar
jangan sampai mengkhatamkan al-Qur’an melewati satu bulan.”

(Hasan al-Banna dalam Majmu’atur Rasail)

Anjuran Imam As-Syahid Hasan Al-Banna rahimahullah di atas nampaknya merujuk kepada hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dari ‘Abdullah bin ‘Amr, yang pernah berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

« اقْرَإِ الْقُرْآنَ فِى شَهْرٍ » . قُلْتُ إِنِّى أَجِدُ قُوَّةً حَتَّى قَالَ « فَاقْرَأْهُ فِى سَبْعٍ وَلاَ تَزِدْ عَلَى ذَلِكَ »

Bacalah (khatamkanlah) Al Quran dalam sebulan.” ‘Abdullah bin ‘Amr lalu berkata, “Aku mampu menambah lebih dari itu.” Beliau pun bersabda, “Bacalah (khatamkanlah) Al Qur’an dalam tujuh hari, jangan lebih daripada itu.” (HR. Bukhari No. 5054).

Para ulama sebelumnya pun memang selalu menganjurkan kepada orang muslim untuk memperbanyak khatam Al-Qur’an, begitu juga memperbanyak membaca dan mentadaburinya. Karena ia adalah Kalamullah, termasuk beribadah dalam membacanya. Dan Allah Ta’ala senang jika hamba-Nya beribadah kepada-Nya dengan cara tersebut.

Dahulu para ulama salaf rahimahumullah mempunyai semangat tinggi yang berbeda-beda, di antara mereka ada yang mengkhatamkan setiap hari sekali. Ada yang tiga hari, ada yang sepekan dan ada yang mengkhatamkan setiap bulan sekali. Bisa jadi mengkhatamkan sebulan sekali termasuk semangat yang paling rendah. Seyogyanya seorang muslim jangan berkurang darinya.

Ibnu Hazm rahimahullah mengatakan, “Seorang muslim yang ingin selamat, hendaknya melakukan sesuatu yang diharapkan dapat mengalahkan dosa  dan kesalahannya. Hendaknya dia membiasakan membaca Al-Qur’an dan dapat mengkhatamkan setiap bulan sekali. Kalau dapat menghatamkan kurang dari itu, maka hal itu lebih bagus.” (Rasail Ibnu Hazm, 3/150)

Bahkan para ahli fiqih Hanbali menegaskan: “Makruh mengakhirkan khatam Al-Qur’an lebih dari empat puluh hari tanpa uzur.” Ahmad berkata, “Yang paling sering saya dengar, hendaknya seseorang mengkhatamkan Al-Qur’an dalam empat puluh hari. Karena hal itu (tidak khatam lebih dari empat puluh hari) dapat melupakannya dan meremehkannya.” (Kasysyaful Qana, 1/430)

Saudaraku, sadarkah kita bahwa al-Qur’an diturunkan oleh Allah Ta’ala kepada manusia agar menjadi sumber tazwid (pembekalan) bagi peningkatan ruhiy (spiritualitas), fikri (pemikiran) serta minhaji (metode/pedoman)? Sehingga jika sehari saja kita jauh dari al-Qur’an, berarti terputuslah dalam diri kita proses tazwid tersebut? Dalam kondisi seperti itu yang akan terjadi adalah adanya proses tazwid dari selain wahyu Allah Ta’ala; baik itu dari televisi koran, majalah, maupun yang lainnya yang sesungguhnya akan menyebabkan ruh yang ringkih dan keyakinan yang melemah terhadap fikrah dan minhaj? Padahal tiga unsur ini sesungguhnya menjadi sumber energi untuk berdakwah dan ber-harakah. Sehingga melemahlah semangat beramal saleh dan hadir dalam halaqah, padahal halaqah merupakan pertemuan untuk komitmen beramal saleh.
Dapat dibayangkan bagaimana jadinya kalau proses tazwid itu telah terputus sepekan, dua pekan, bahkan berbulan-bulan? Semoga Allah Ta’ala menjaga kita dari sikap menjadikan al-Qur’an sebagai sesuatu yang mahjuran (ditinggalkan).

وَقَالَ الرَّسُولُ يَا رَبِّ إِنَّ قَوْمِي اتَّخَذُوا هَذَا الْقُرْآنَ مَهْجُورً

Berkatalah Rasul: “Ya Tuhanku, sesungguhnya kaumku menjadikan Al Qur’an ini suatu yang ditinggalkan “. (Q.S. Al-Furqan ayat 30)

Sesungguhnya ibadah tilawah Al-Qur’an telah menjadi tuntutan kepada manusia sejak dia menjadi seorang muslim. Oleh karena itu, cukup banyak orang-orang yang tanpa tarbiyah atau halaqah, namun memiliki komitmen tilawah satu juz setiap hari, sehingga setahun khatam 12 kali–bahkan lebih, karena saat bulan Ramadhan dapat khatam lebih dari sekali.

Lalu, bagaimana dengan kita, ashhabul  harakah wad da’wah? Sudahkah keislaman kita membentuk sikap iltizam (komitmen) dengan ibadah ini ? Ketika kita melalaikannya, dapat diyakini bahwa kendalanya adalah dha’ful himmah (lemah dan kurangnya kemauan), bukan karena tidak mampu melafalkan ayat-ayat al-Qur’an seperti anggapan kita selama ini. Yang harus dibentuk dalam hal ini bukanlah hanya sebatas mampu membaca, namun lebih dari itu, bagaimana membentuk kemampuan ini menjadi sebuah moralitas ta’abbud (penghambaan) kepada Allah, sehingga hal ini menjadi sebuah proses tazwid yang berkesinambungan sesuai dengan jauhnya perjalanan da’wah ini!

Dari sini kita menjadi faham, ternyata tarbiyah adalah sebuah proses perjalanan yang beribu-ribu mil jauhnya. Entah berapa langkah yang sudah kita lakukan. Semoga belum mampunya kita dalam beriltizam dengan ibadah ini adalah karena masih sedikitnya jarak yang kita tempuh. Jadi yakinlah, selama kita komitmen dengan proses tarbiyah, dengan seizin Allah kita akan sampai kepada kemampuan ibadah ini. Dan sekali-kali janganlah kita menutupi ketidak mampuan kita terhadap ibadah ini dengan berlindung di bawah waswas syaithan dengan bahasa sibuk, tidak sempat, acara terlalu padat dan lain sebagainya.

Sadarilah bahwa kesibukan kita pasti akan berlangsung sepanjang hidup kita. Apakah berarti sepanjang hidup kita, kita tidak melakukan ibadah ini hanya karena kesibukan yang tak pernah berakhir?

Kita harus berfikir serius terhadap tilawah satu juz ini, karena ia merupakan mentalitas ‘ubudiyah (penghambaan), disiplin dan menambah tsaqofah. Apalagi ketika kita sudah memiliki kesadaran untuk membangun Islam di muka bumi ini, maka kita harus menjadi batu bata yang kuat dalam bangunan ini. Al Ustadz Imam Asy Syahid Hasan Al-Banna rahimahullah begitu yakinnya dengan sisi ini, sehingga beliau menjadikan kemampuan membaca al-Qur’an satu juz ini sebagai syarat pertama bagi seseorang yang berkeinginan membangun masyarakat Islam.

Dalam nasihatnya beliau mengatakan, “Wahai saudaraku yang jujur dengan janjinya, sesungguhnya imanmu dengan bai’at (perjanjian) ini mengharuskanmu melaksanakan kewajiban-kewajiban ini agar kamu menjadi batu bata yang kuat, (untuk itu) : “Hendaklah Anda memiliki wirid harian membaca al-Qur’an minimal satu juz setiap hari, dan berusahalah sungguh-sungguh agar jangan sampai mengkhatamkan al-Qur’an melewati satu bulan.”

Sebagaimana kita saat melakukan hijrah dari kehidupan Jahiliyyah kepada kehidupan Islamiyah harus banyak menelan pil pahit selama proses tarbiyah, maka jika kita sudah ber-‘azam (bertekad) untuk meningkat kepada kehidupan yang ta’abbudi (penuh nilai ibadah), maka kita harus kembali siap menelan banyak pil pahit tersebut. Kita harus sadar bahwa usia dakwah yang semakin dewasa, penyebarannya yang semakin meluas dan tantangannya yang semakin variatif sangat membutuhkan manusia-manusia yang Labinatan Qowiyyatan (laksana batu bata yang kuat). Dan hal tersebut kuncinya terdapat di dalam interaksi dengan al-Qur’an!

Sebuah proses tarbiyah yang semakin matang, dengan indikasi hati dan jiwa yang semakin bersih, secara otomatis akan menjadikan kebutuhan terhadap al-Qur’an mengalami peningkatan. Sejarah mencatat bahwa para sahabat dan salafusshalih ketika mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Bacalah al-Qur’an dalam satu bulan”, maka begitu banyak yang menyikapinya sebagai sesuatu yang minimal.

Bayangkan dengan diri kita yang sering menganggap tilawah satu juz itu sebagai sesuatu yang maksimal! Maka tugas yang sangat minimal ini pun sangat sering terkurangi, bahkan tidak teramalkan dengan baik. Bagaimana mungkin kita dapat mengulang kesuksesan para sahabat dalam membangun Islam ini, jika kita tidak melakukan apa yang telah mereka lakukan (walaupun kita sadar bahwa ibadah membaca Al-Qur’an satu juz ini bukan satu-satunya usaha di dalam berdakwah)?

Sebutlah Utsman Ibn Affan, Abdullah Ibn Amr Ibn Ash, Abu Hanifah dan Imam Asy-Syafi’i Radiyallahu Anhum. Mereka adalah contoh orang-orang yang terbiasa menyelesaikan bacaan al-Qur’annya dalam waktu tiga hari sampai satu pekan. Karena bagi mereka khatam sebulan terlalu lama untuk bertemu dengan ayat-ayat Allah. Jadi, jika seseorang rutin setiap bulan khatam, berarti hanya sekali dalam sebulan ia bertemu dengan surat Maryam, misalnya.

Dapat kita bayangkan seandainya kita berlama-lama dalam mengkhatamkan al-Qur’an. Berarti kita akan sangat jarang bertemu dengan setiap surat dari al-Qur’an!

Kalau saja tarbiyyah qur’aniyyah kita telah matang, kita akan dapat merasakan bahwa sentuhan tarbawi (pendidikan) surat al-Baqarah berbeda dengan surat Ali Imran. Begitu juga beda antara an-Nisaa, al-Maidah dengan surat yang lainnya. Sehingga ketika seseorang sedang membaca an-Nisaa, pasti dia akan merindukan al-Maidah. Inilah suasana tarbiyyah yang belum kita miliki yang harus dengan serius kita bangun dalam diri kita. Kita harus waspada, jangan sampai hidup ini berakhir dengan kondisi kita melalaikan ibadah tilawah satu juz. Sehingga hidup berakhir dengan kenangan penyesalan. Padahal sesungguhnya kita mampu kalau saja kita mau menambah sedikit saja mujahadah (kesungguhan) dalam tarbiyyah ini.

Kiat Mujahadah dalam Bertilawah Satu Juz

  1. Berusahalah melancarkan tilawah jika Anda termasuk orang yang belum lancar bertilawah, karena ukuran normal tilawah satu juz adalah 30 – 40 menit. Jika lebih dari itu, Anda harus lebih giat berusaha melancarkan bacaan. Jika melihat durasi waktu di atas, sangat logis untuk melakukan tilawah satu juz setiap hari dari waktu dua puluh empat jam yang kita miliki. Masalahnya, bagaima kita dapat membangun kemauan untuk 40 menit bersama Allah, sementara kita sudah terbiasa 40 menit atau lebih bersama televisi, ngobrol dengan teman dan lain sebagainya.
  2. Aturlah dalam satu halaqah kesepakatan bersama menciptakan komitmen ibadah membaca Al-Qur’an satu juz ini. Misalnya, bagi anggota halaqah yang selama sepekan kurang dari tujuh juz, maka saat bubar halaqah ia tidak boleh pulang kecuali telah menyelesaikan sisa juz yang belum terbaca. Kiat ini terbukti lebih baik daripada ‘iqob (hukuman) yang terkadang hilang ruh tarbawi-nya dan tidak menghasilkan mujahadah yang berarti.
  3. Lakukanlah qadha tilawah setiap kali program ini tidak berjalan! Misalnya, carilah tempat-tempat yang kondusif untuk konsentrasi bertilawah. Misalnya di masjid atau tempat yang bagi diri kita asing. Kondisi ini akan menjadikan kita lebih sejenak untuk hidup dengan diri sendiri membangun tarbiyyah qur’aniyyah di dalam diri kita.
  4. Sering-seringlah mengadukan keinginan untuk dapat bertilawah satu juz sehari ini kepada Allah Ta’ala yang memiliki al-Qur’an ini. Pengaduan kita kepada Allah Ta’ala yang sering, insya Allah menunjukkan kesungguhan kita dalam melaksanakan ibadah ini. Disinilah akan datang pertolongan Allah yang akan memudahkan pelaksanaan ibadah ini.
  5. Perbanyaklah amal saleh, karena setiap amal saleh akan melahirkan energi baru untuk amal saleh berikutnya. Sebagaimana satu maksiat akan menghasilkan maksiat yang lain jika kita tidak segera bertaubat kepada Allah Ta’ala. Jika kita saat ini sering berbicara tentang ri’ayah maknawiyyah (memperkaya jiwa), maka sesungguhnya pesan Imam Syahid ini adalah cara me- ri’ayah maknawiyyah yang paling efektif dan dapat kita lakukan kapan saja dan dimana saja. Ditinjau dari segi apapun, ibadah ini harus dilakukan. Bagi yang yakin akan pahala Allah Ta’ala, maka tilawah al-Qur’an merupakan sumber pahala yang sangat besar. Bagi yang sedang berjihad, dimana dia membutuhkan tsabat (keteguhan hati), nashrullah (pertolongan Allah), istiqomah, sabar dan lain sebagainya, al-Qur’an tempat meraih semua ini. Kita harus serius melihat kemampuan tarbawi dan ta’abbudi ini, agar kita tergugah untuk bangkit dari kelemahan ini,

Kendala yang Harus Diwaspadai

  1. Perasaan menganggap sepele apabila sehari tidak membaca al-Qur’an, sehingga berdampak tidak ada keinginan untuk segera kembali kepada al-Qur’an.
  2. Lemahnya pemahaman mengenai keutamaan membaca al-Qur’an. Sehingga tidak termotivasi untuk mujahadah dalam istiqomah membaca al-Qur’an.
  3. Tidak memiliki waktu wajib bersama al-Qur’an dan terbiasa membaca al-Qur’an sesempatnya, sehingga ketika merasa tidak sempat ditinggalkannyalah al-Qur’an.
  4. Lemahnya keinginan untuk memiliki kemampuan ibadah ini, sehingga tidak pernah memohon kepada Allah Ta’ala agar dimudahkan tilawah al-Qur’an setiap hari. Materi do’a hanya berputar-putar pada kebutuhan keduniaan saja.
  5. Terbawa oleh lingkungan di sekelilingnya yang tidak memiliki perhatian terhadap ibadah al-Qur’an ini. Rasulullah bersabda, “Kualitas dien seseorang sangat tergantung pada teman akrabnya.”
  6. Tidak tertarik dengan majlis-majlis yang menghidupkan al-Qur’an. Padahal menghidupkan majlis-majlis al-Qur’an adalah cara yang direkomendasikan Rasulullah agar orang beriman memiliki gairah berinteraksi dengan al-Qur’an.

Akibat dari Tidak Serius Menjalankannya

  1. Sedikitnya barokah dakwah atau amal jihadi kita, karena hal ini menjadi indikasi lemahnya hubungan seorang jundi pada Allah Ta’ala. Sehingga boleh jadi nampak berbagai macam produktivitas dakwah dan amal jihadi kita, namun dikhawatirkan keberhasilan itu justru berdampak menjadi hal-hal yang tidak diinginkan.
  2. Kemungkinan yang lain, bahkan lebih besar, adalah tertundanya pertolongan Allah Ta’ala dalam amal jihadi ini. Kalau jihad salafusshalih saja tertunda kemenangannya hanya karena meninggalkan sunnah bersiwak (menggosok gigi), apalagi karena meninggalkan suatu amal yang bobotnya jauh lebih besar dari itu? Oleh karena itu, masalah berinteraksi dengan al-Quran selalu disinggung dengan ayat-ayat jihad, seperti surat al-Anfaal dan al-Qitaal.
  3. Terjauhkannya sebuah asholah (keaslian/orisinalitas) dakwah. Sejak awal dakwah ini dikumandangkan, semangatnya adalah dakwah bil qur’an. Bagaimana mungkin kita mengumandangkan dakwah bil qur’an kalau interaksi kita dengan al-Qur’an sangat lemah ? Bahkan sampai tak mencapai tingkat interaksi yang paling minim, sekedar bertilawah satu juz saja?
  4. Terjauhkannya sebuah dakwah yang memiliki jawwul ‘ilmi (nuansa keilmuan). Hakikat dakwah adalah meningkatkan kualitas keilmuan umat yang sumber utamanya dari al-Qur’an. Maka minimnya kita dengan pengetahuan ke –al-Qur’an- an akan sangat berdampak pada lemahnya bobot ilmiyyah diniyyah (keilmuan agama) kita. Dapat dibayangkan kalau saja setiap kader beriltizam dengan manhaj tarbiyyah yang sudah ada. Lebih khusus pada kader senior. Pasti kita akan melihat potret harokah dakwah ini jauh lebih cantik dan lebih ilmiyyah.
  5. Terjauhkannya sebuah dakwah yang jauh dari asholatul manhaj. Bacalah semua kitab yang menjelaskan manhaj dakwah ini. Khususnya kitab Majmu’atur Rasail! Anda akan dapatkan begitu kental dakwah ini memberi perhatian terhadap interaksi dengan al-Qur’an. Tidakkah kita malu ber-intima’ (menyandarkan diri) pada dakwatul ikhwah, namun kondisi kita jauh dari manhaj-nya ?

Jangan Lupakan Tadabbur!

Mujahadah membaca Al-Qur’an satu juz satu hari, tidak sepatutnya menjadi penyebab terabaikannya Tadabbur Al-Qur’an!

Renungkanlah apa yang dikemukakan oleh Imam Nawawi rahimahullah berikut ini,

وَالِاخْتِيَار أَنَّ ذَلِكَ يَخْتَلِف بِالْأَشْخَاصِ ، فَمَنْ كَانَ مِنْ أَهْل الْفَهْم وَتَدْقِيق الْفِكْر اُسْتُحِبَّ لَهُ أَنْ يَقْتَصِر عَلَى الْقَدْر الَّذِي لَا يَخْتَلّ بِهِ الْمَقْصُود مِنْ التَّدَبُّر وَاسْتِخْرَاج الْمَعَانِي ، وَكَذَا مَنْ كَانَ لَهُ شُغْل بِالْعِلْمِ أَوْ غَيْره مِنْ مُهِمَّات الدِّين وَمَصَالِح الْمُسْلِمِينَ الْعَامَّة يُسْتَحَبّ لَهُ أَنْ يَقْتَصِر مِنْهُ عَلَى الْقَدْر الَّذِي لَا يُخِلّ بِمَا هُوَ فِيهِ ، وَمَنْ لَمْ يَكُنْ كَذَلِكَ فَالْأَوْلَى لَهُ الِاسْتِكْثَار مَا أَمْكَنَهُ مِنْ غَيْر خُرُوج إِلَى الْمَلَل وَلَا يَقْرَؤُهُ هَذْرَمَة . وَاللَّهُ أَعْلَم

“Waktu mengkhatamkan tergantung pada kondisi tiap person. Jika seseorang adalah yang paham dan punya pemikiran mendalam, maka dianjurkan padanya untuk membatasi pada kadar yang tidak membuat ia luput dari tadabbur dan menyimpulkan makna-makna dari Al Qur’an. Adapun seseorang yang punya kesibukan dengan ilmu atau urusan agama lainnya dan mengurus maslahat kaum muslimin, dianjurkan baginya untuk membaca sesuai kemampuannya dengan tetap melakukan tadabbur (perenungan). Jika tidak bisa melakukan perenungan seperti itu, maka perbanyaklah membaca sesuai kemampuan tanpa keluar dari aturan dan tanpa tergesa-gesa. Wallahu a’lam. ” (Dinukil dari Fathul Bari, 9: 97).

Semoga kita tergugah dengan tulisan ini, agar kita lebih serius lagi melaksanakan poin pertama daripada wajibatul akh (kewajiban aktifis muslim) ini.

https://tarbawiyah.com/

Ayanqushul Islamu Wa Ana Hayyun


Ayanqushul Islamu Wa Ana Hayyun

Ayanqushul Islamu Wa Ana Hayyun

Oleh: Ust. Ibnu Jarir, Lc

Segala puji hanya bagiMu ya Allah, yang memiliki segala kekuatan yang tidak pernah kantuk dan tidak akan pernah tidur, yang meniupkan ruh dan daya hidup pada seluruh makhluq Mu, yang menganugerahkan hamsah dan militansi serta daya juang kepada siapapun yang Engkau kehendaki.

Saudaraku…wahn (lemahnya ruhiah dan ruhaniah kita akibat pengaruh besar keduniaan) telah melelahkan tapak-tapak kaki kita dalam menaiki tangga kemuliaan, memperkecil nyali kita di hadapan kemunkaran dan kemaksiatan, merenggangkan kerekatan hangatnya ruh persaudaraan, bahkan meredupkan pancaran cahaya hubbus syahadah yang menjadi cita-cita setiap pejuang.

Saudara….dho’f (lemahnya fisik kita akibat kuatnya pergumulan kita dengan materi) menempatkan kita pada derajat dholimun linafsih, banyak berbuat aniaya diri, membangun kokohnya akhirat kita hanya dengan mengandalkan sisa-sisa dari dunia kita, berkeinginan menyelesaikan tugas-tugas besar dengan mengandalkan sisa-sisa waktu kita, merindukan ridho Allah hanya dengan mujahadah yang sekedarnya.

Saudaraku….bila ini adalah haliyah kita, akankah pertolongan Allah dapat kita raih? Akankah kemenangan dah futuh yang dijanjikan Allah dapat kita petik? Alangkah pekatnya wajah kita di sisi Allah kelak, dan alangkah hinanya diri kita di sisiNya. Ya Allah ampuni hamba-hambaMu yang lemah ini…karuniakan pada kami panasnya iman yang mampu membangun hamasah kami untuk mampu bermujahadah dengan penuh kesabaran.

Saudaraku…..merenunglah kita dengan segala keinsafan diri…tataplah wajah-wajah kita, cermatilah diri kita dan amati dengan seksama segala cela kita di hadapan cermin penyadaran rabbani berikut ini:
“Dan berapa banyaknya nabi yang berperang bersama-sama mereka sejumlah besar dari pengikutnya yang bertakwa. Mereka tidak lemah (moralitasnya) dengan apa yang dialaminya dengan jihad di jalan Allah, dan tidak lemah (fisiknya) dan tidak pula terbersit sedikitpun rasa pesimis yang mendorongnya untuk menyerah, Allah mencintai orang-orang yang sabar. Tak ada yang mereka ucapkan selain permohonan mereka: “Ya Robbana ampunilah dosa-dosa kami dan sikap kami yang melampaui batas dalam segala urusan kami, kokohkanlah ya Allah pendirian kami, dan karuniakan ya Allah pertolonganMu pada kami dalam menghadapi orang-orang kafir” (QS. 3: 146-147)

Saudara….inilah sosok hamba qurani untuk kita bercermin kepadanya, dengan kekuatan robbani ia tampil di tengah kelesuan semangat, ia kumandangkan gelora hamasah ayanqushul islamu wa ana hayyun (akankah da’wah Islam ini melemah sedangkan saya masih hidup?). Semoga ridho Allah senantiasa tercurah kepada sahabat Abu Bakar.

Saudaraku…..di mana kita…..?

Nasihat Terakhir Ustad Asfuri Bahri


Nasihat Terakhir Ustad Asfuri Bahri

Dari Ust. Asfuri Bahri utk kita semua…Semoga Allah selalu merahmati beliau

:: Mulailah Perjalanan Ini ::

Sumayyah…
Yasir…
Mush’ab…
Anas bin Nadhir…
Hamzah bin Abdul Muthallib…
Abdullah bin Jahsy…
Sa’ad bin Robi’…
Amar bin Jamuh…

Mereka semua belum sempat menyaksikan kejayaan Islam..

Mereka belum menyaksikan ekspansi Umar dan kemenangan Khalid…

Mereka juga belum mengalami zaman Rib’i bin Amir yang meninggikan agamanya di hadapan Rustum, panglima Persia.

Mereka juga tidak menyaksikan Harun Arrasyid saat ia berkata, “Wahai awan, turunkan hujan dimanapun yang kau mau, panennya pasti akan sampai kepadaku.”

Mereka telah memulai perjalanan dan mati di permulaannya serta belum sampai di penghujungnya. Juga tidak mengalami panen dari apa yang telah mereka mulai. Dan Allah telah ridha kepada mereka.

Jangan bertanya tentang ujung perjalanan…

Yang penting anda menjadi hamba sejati untuk Rabb Subhanahu wa Ta’ala, benar dan jujur. Komitmen manjalani perintah-Nya dan Mujahid di jalan-Nya….

Mengerahkan segenap waktu, upaya, potensi, harta, dan pikiran anda demi memenangkan Islam dan kaum Muslimin.

Tidak masalah bagimu setelah itu, apakah anda mati di permulaan atau di pertengahannya…

Lalu anda termasuk yang disinggung Allah dengan firman-Nya

{مِنَ الْمُؤْمِنِينَ رِجَالٌ صَدَقُوا مَا عَاهَدُوا اللَّهَ عَلَيْهِ ۖ فَمِنْهُمْ مَنْ قَضَىٰ نَحْبَهُ وَمِنْهُمْ مَنْ يَنْتَظِرُ ۖ وَمَا بَدَّلُوا تَبْدِيلًا}

“Diantara orang-orang beriman ada para ‘lelaki’ yang membenarkan apa yang mereka janjikan kepada-Nya. Diantara mereka ada yang telah menemui ajalnya dan diantara mereka ada yang masih menunggu. Dan mereka tidak mengubah janji mereka sama sekali.”

Yang penting kita berjalan di jalan yang diridhai Allah dan selalu memohon kiranya Allah menerima amal anda. Tujuannya adalah meninggal dalam keadaan iman, takwa, jihad, dan dakwah. Bukan untuk memetik hasil dan buahnya…

Allah pasti menjaga agama-Nya dan memenangkan para wali-Nya pada setiap zaman dan tempat dengan cara yang ditentukan-Nya…

Mari kita perbaiki dan perbarui niat ini pada setiap perbuatan, setiap saat, bahkan setiap detik…

*Kita tidak tahu kapan akan berlalu tinggalkan dunia fana ini…*

*Dari Ustadz Asfuri Bahri*