Archives

Puncak Penyesalan


photo_2016-07-21_21-25-30

Seorang hamba tidak akan bisa selamat dari godaan syaitan kecuali orang-orang yang ikhlas saja, sebagaima firman Allah –subahanahu wa ta’ala yang mengkisahkan tentang iblis: “Iblis menjawab: “Demi kekuasaan Engkau aku akan menyesatkan mereka semuanya, kecuali hamba-hambaMu yang mukhlis di antara mereka.”
(QS. Shaad: 82-83).

Orang yang ikhlas adalah orang yang beramal karena Allah –subahanahu wa ta’ala semata dan mengharapkan kebahagiaan abadi di kampung akhirat, hatinya bersih dari niat-niat lain yang mengotorinya.

Ikhlas adalah amalan yang berat karena hawa nafsu tidak mendapatkan bagian sedikitpun, namun kita harus selalu melatih diri kita sehingga menjadi mudah dan terbiasa untuk ikhlas.
Rasulullah –Sallallahu ‘Alaihi Wa ‘Ala Alihi Wasallam bersabda: “Allah tidak akan menerima amalan kecuali yang ikhlas dan hanya mengharapkan wajahNya.”
(HR. An-Nasa’i dengan sanad hasan).

Busana Muslim Branded Berkualitas


Hilfaaz Collections

Berkata Malik bin Dinar –rahimahullah: “Takut akan tidak dikabulkannya amal adalah lebih berat dari amal itu sendiri.”

Berkata Abdul Aziz bin Abi Rawwaad –rahimahullah: “Aku menjumpai mereka (salafush shaleh) bersungguh-sungguh dalam beramal, apabila telah mengerjakannya mereka ditimpa kegelisahan apakah amal mereka dikabulkan ataukah tidak?”

Para Salafush Sholeh Selalu Muhasabatun Nafs [Introspeksi/ mawas diri]..

Sahabat Ali –radhiallahu ‘anhu berkata: “Mereka lebih memperhatikan dikabulkannya amal daripada amal itu sendiri. Tidakkah kamu mendengar Allah –subahanahu wa ta’ala berfirman: “Sesungguhnya Allah hanya menerima (mengabulkan) dari orang-orang yang bertakwa.”
(QS. Al-Maa’idah: 27).

Dari Fadhalah bin ‘Ubaid –rahimahullah berkata: Sekiranya aku mengetahui bahwa amalku ada yang dikabulkan sekecil biji sawi, hal itu lebih aku sukai daripada dunia seisinya, karena Allah –subahanahu wa ta’ala berfirman:
“Sesungguhnya Allah hanya menerima (mengabulkan) dari orang-orang yang bertakwa.”
(QS. Al-Maa’idah: 27).

Ya Allah, bimbing kami agar selalu ikhlas dalam semua aktivitas kami, aamiin.

Akhukum Fillah
@AbdullahHadrami

Tangisan Yang Menyelamatkan


photo_2016-07-21_21-13-06

Tangisan Yang Menyelamatkan

Ketika manusia berdiri di hadapan Rabbul ‘alamin, tanpa alas kaki, tanpa pakain dan tidak berkhitan. Matahari didekatkan di atas kepala manusia dengan jarak satu mil saja, selama satu hari yang kadarnya 50.000 tahun dalam hitungan hari di dunia. Tak ada lagi bangunan atau pepohonan yang bisa dijadikan sebagai naungan. Hanya ada naungan Ar-Rahman sebagai fasilitas eksklusif teruntuk beberapa golongan manusia istimewa. Mereka tak merasakan penat, tak terjamah banjir keringat pada saat kebanyakan manusia tenggelam olehnya, dan selamat dari panasnya terik matahari yang membakar. Mereka memiliki unggulan amal di dunia, hingga manusia melihat bagaimana ia mendapatkan naungan, di hari yang tiada naungan kecuali naungan Allah. Satu di antara golongan tersebut adalah sebagaimana yang disabdakan Rasulullah shallallahu alaihi wasallam,

وَرَجُلٌ ذَكَرَ اللَّهَ خَالِيًا فَفَاضَتْ عَيْنَاهُ

“Seseorang yang berdzikir kepada Allah di waktu sunyi hingga meneteskan air mata.” (HR Bukhari)

🔹 Nabi menyifati orang ini sebagai ahli dzikir, bukan orang yang lalai.  Bisa jadi dia berdzikir dengan cara membaca al-Qur’an, bertasbih, bertahmid, berdoa, atau dengan mengingat dosa dan menyesalinya sebagai wujud taubatnya kepada Allah. Dengan dzikir tersebut  melahirkan rasa takut akan adzab Allah dan merasa malu kepada-Nya. Bahkan ingatannya mencapai hari dimana segala perbuatan akan di tampakkan pada Hari Kiamat, sebagaimana penjelasan adh-Dhahak rahimahullah terhadap hadits ini.

🔹 Yang kedua, dia dalam kondisi sepi dan sunyi, tidak ada manusia di sekitarnya yang melihat. Sehingga lebih jauh dari kemungkinan riya’ (pamer) dan sum’ah. Hatinya sunyi dan kosong dari memikirkan atau mengharap kepada selain Allah, sebagaimana fisiknya sepi dari pandangan manusia.

Dia berdzikir kepada Allah dengan sembunyi-sembunyi,  maka Allah memberinya balasan secara terang-terangan, bahkan Allah menunjukkan balasan baik untuknya di hadapan seluruh makhluk pada hari Kiamat. Ketika panasnya rasa takut kepada Allah telah membuatnya menangis di dunia, maka sebagaimana kaidah ‘balasan itu sepadan perbuatan’, Allah menyelamatkannya dari panasnya matahari pada hari Kiamat dan menaunginya dalam naungan-Nya.

Tak hanya saat di makhsyar tangisan ini berguna. Pada perjalanan akhir di akhirat tangisan tersebut menjadi benteng seseorang dari jilatan api neraka. Sebagaimana hadits Nabi shallallahu alaihi wasallam,

Dari Ibnu Abbas radhiyallahu ’anhuma,

عَيْنَانِ لاَ تَمَسَّهُمَا النَّارُ : عَيْنٌ بَكَتْ مِنْ خَشْيَةِ اللهِ وَعَيْنٌ بَاتَتْ تَحْرُسُ فِي سَبِيْلِ اللهِ

“Dua mata yang tidak akan disentuh oleh neraka; mata yang menangis karena takut kepada Allah dan mata yang berjaga di jalan Allah.” (HR. At-Tirmidzi).

Wallahu a’lam
Barokallohu lii walakum

🗞Disadur dan ditulis kembali dari Majalah Ar-risalah

 

Busana Muslim Branded Berkualitas


Hilfaaz Collections

Merasa Suci Padahal Belum Pasti


Merasa Suci Padahal Belum Pasti

Adalah al-Manshur bin Ammar RHM ditanya oleh khalifah Abdul Malik bin Marwan, “Wahai Manshur, ada masalah yang mengganjal sejak setahun ini, siapakah sebenarnya orang yang paling pintar, siapa pula orang yang paling bodoh?”

Al-Manshur pun keluar menemui para ulama untuk mendapatkan jawabannya, lalu ia menghadap kepada Abdul Malik. Sang Khalifah bertanya, “Wahai Manshur, jawaban apa yang kamu bawa?”

Beliau berkata, “Wahai amirul mikminin, orang yang paling berakal adalah orang yang berbuat baik, namun dia tetap merasa takut kepada Allah, sedangkan orang yang paling bodoh adalah orang yang mengumbar dosa, namun merasa aman dari siksa Allah.”

Jawaban itu membuat Abdul Malik menangis, hingga air mata membasahi bajunya, “Demi Allah, ini jawaban yang bagus wahai Manshur.” Sahutnya.

Busana Muslim Branded Berkualitas


Hilfaaz Collections


Merasa Suci, Padahal Belum Pasti

Fragmen nyata yang terjadi di zaman salaf tersebut tampaknya relevan dengan situasi kita yang telah melewati hari demi hari selama Ramadhan. Banyak peluang kebaikan, bertabur pula harapan pahala dan pengampunan. Bervariasi jenis dan kadar amal shalih yang dilakukan masing-masing orang, dan beragam pula tingkat kepuasan para pelaku amal. Ada yang sedih karena merasa belum optimal, namun tak sedikit yang merasa diri telah berjuang total.

Ada baiknya kita mengevaluasi diri sendiri. Tapi evaluasi yang jujur, muhasabah yang menimbulkan efek positif di kemudian hari. Bukan perhitungan orang yang tertipu, merasa diri panen pahala, ternyata pailit kenyataannya.

Apa yang disampaikan oleh al-Manshur tentang orang yang paling pintar dan orang yang paling bodoh, bisa kita jadikan rujukan mengaca diri, sejauh mana tingkat keshalihan kita. Apakah dekat dengan ring paling tinggi yang telah berbuat baik namun tetap merasa takut, ataukah lebih dekat dengan ring paling bawah, yang tak beres usahanya, namun merasa aman dari siksa.

Dengan berakhirnya ramadhan, banyak yang terkecoh dengan ungkapan kembali suci. Mereka merasa bersih dari dosa, begitu melewati ramadhan dan memasuki ‘Iedul Fithri. Istilah ‘iedul fithri pun diartikan menjadi hari kembali suci. Makna ini perlu diteliti kembali. Karena Nabi SAW sendiri telah memberikan makna yang berbeda dari makna yang biasa dipahami khalayak. Beliau bersabda,

وَأَمَّا يَوْمُ الْفِطْرِ فَفِطْرُكُمْ مِنْ صِيَامِكُمْ

“Dan adapun, (maksud) hari Fithri adalah hari berbuka kamu dari shaum.”(HR Abu Dawud dan dalam riwayat Tirmidzi ada tambahan “dan hari raya bagi kaum muslimin.”)

Wallahu a’lam
Barakallahu lii walakum

Disadur dan ditulis kembali dari Majalah Ar-Risalah

ISTIQAMAH SETELAH RAMADHAN


ISTIQAMAH SETELAH RAMADHAN

سم الله الرحمن الرحيم

Tidak terasa, waktu begitu cepat berlalu, dan bulan Ramadhan yang penuh dengan keberkahan dan keutamaan (akan segera, -ed) berlalu sudah. Semoga kita tidak termasuk orang-orang yang celaka karena tidak mendapatkan pengampunan dari Allah Ta’ala selama bulan Ramadhan, sebagaimana yang tersebut dalam doa yang diucapkan oleh malaikat Jibril ‘alaihissalam dan diamini oleh Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam: “Celakalah seorang hamba yang mendapati bulan Ramadhan kemudian Ramadhan berlalu dalam keadaan dosa-dosanya belum diampuni (oleh Allah Ta’ala )”. [HR Ahmad (2/254), al-Bukhari dalam “al-Adabul mufrad” (no. 644), Ibnu Hibban (no. 907) dan al-Hakim (4/170), dinyatakan shahih oleh Ibnu Hibban, al-Hakim, adz-Dzahabi dan al-Albani].

Salah seorang ulama salaf berkata: “Barangsiapa yang tidak diampuni dosa-dosanya di bulan Ramadhan maka tidak akan diampuni dosa-dosanya di bulan-bulan lainnya. [Dinukil oleh Imam Ibnu Rajab dalam kitab “Latha-iful ma’aarif” (hal. 297)].


Busana Muslim Branded Berkualitas
Hilfaaz Collections

Oleh karena itu, mohonlah dengan sungguh-sungguh kepada Allah Ta’ala agar Dia menerima amal kebaikan kita di bulan yang penuh berkah ini dan mengabulkan segala doa dan permohonan ampun kita kepada-Nya, sebagaimana sebelum datangnya bulan Ramadhan kita berdoa kepada-Nya agar Allah Ta’ala  mempertemukan kita dengan bulan Ramadhan dalam keadaan hati kita kita dipenuhi dengan keimanan dan pengharapan akan ridha-Nya. Imam Mu’alla bin al-Fadhl berkata: “Dulunya (para salaf) berdoa kepada Allah Ta’ala (selama) enam bulan agar Allah mempertemukan mereka dengan bulan Ramadhan, kemudian mereka berdoa kepada-Nya (selama) enam bulan (berikutnya) agar Dia menerima (amal-amal shalih) yang mereka (kerjakan)” [Dinukil oleh Imam Ibnu Rajab al-Hambali dalam kitab “Latha-iful ma’aarif” (hal. 174)].

Lalu muncul satu pertanyaan besar dengan sendirinya: Apa yang tertinggal dalam diri kita setelah Ramadhan berlalu? Bekas-bekas kebaikan apa yang terlihat pada diri kita setelah keluar dari madrasah bulan puasa?

Apakah bekas-bekas itu hilang seiring dengan berlalunya bulan itu? Apakah amal-amal kebaikan yang terbiasa kita kerjakan di bulan itu pudar setelah puasa berakhir?

Jawabannya ada pada kisah berikut ini:

Imam Bisyr bin al-Harits al-Hafi pernah ditanya tentang orang-orang yang (hanya) rajin dan sungguh-sungguh beribadah di bulan Ramadhan, maka beliau menjawab: “Mereka adalah orang-orang yang sangat buruk, (karena) mereka tidak mengenal hak Allah kecuali hanya di bulan Ramadhan, (hamba Allah) yang shaleh adalah orang yang rajin dan sungguh-sungguh beribadah dalam setahun penuh” [Dinukil oleh Imam Ibnu Rajab al-Hambali dalam kitab “Latha-iful ma’aarif” (hal. 313)].

Demi Allah, inilah hamba Allah Ta’ala  yang sejati, yang selalu menjadi hamba-Nya di setiap tempat dan waktu, bukan hanya di waktu dan tempat tertentu.

Imam Asy-Syibli pernah ditanya: Mana yang lebih utama, bulan Rajab atau bulan Sya’ban? Maka beliau menjawab: “Jadilah kamu seorang Rabbani (hamba Allah Ta’ala  yang selalu beribadah kepada-Nya di setiap waktu dan tempat), dan janganlah kamu menjadi seorang Sya’bani (orang yang hanya beribadah kepada-Nya di bulan Sya’ban atau bulan tertentu lainnya)”[Dinukil oleh Imam Ibnu Rajab al-Hambali dalam kitab “Latha-iful ma’aarif” (hal. 313)].

Maka sebagaimana kita membutuhkan dan mengharapkan rahmat Allah Ta’ala di bulan Ramadhan, bukankah kita juga tetap membutuhkan dan mengharapkan rahmat-Nya di bulan-bulan lainnya? Bukankah kita semua termasuk dalam firman-Nya:

{يَا أَيُّهَا النَّاسُ أَنْتُمُ الْفُقَرَاءُ إِلَى اللَّهِ وَاللَّهُ هُوَ الْغَنِيُّ الْحَمِيد}

“Hai manusia, kalian semua butuh kepada (rahmat) Allah; dan Allah Dia-lah Yang Maha Kaya lagi Maha Terpuji” (QS Faathir: 15).

Inilah makna istiqamah yang sesungguhnya dan inilah pertanda diterimanya amal shaleh seorang hamba. Imam Ibnu Rajab berkata: “Sesungguhnya Allah jika Dia menerima amal (kebaikan) seorang hamba maka Dia akan memberi taufik kepada hamba-Nya tersebut untuk beramal shaleh setelahnya, sebagaimana ucapan salah seorang dari mereka (ulama salaf): Ganjaran perbuatan baik adalah (taufik dari Allah Ta’ala  untuk melakukan) perbuatan baik setelahnya. Maka barangsiapa yang mengerjakan amal kebaikan, lalu dia mengerjakan amal kebaikan lagi setelahnya, maka itu merupakan pertanda diterimanya amal kebaikannya yang pertama (oleh Allah Ta’ala), sebagaimana barangsiapa yang mengerjakan amal kebakan, lalu dia dia mengerjakan perbuatan buruk (setelahnya), maka itu merupakan pertanda tertolak dan tidak diterimanya amal kebaikan tersebut”[Kitab “Latha-iful ma’aarif” (hal. 311)].

Oleh karena itulah, Allah Ta’ala  mensyariatkan puasa enam hari di bulan Syawwal, yangkeutamannya sangat besar yaitu menjadikan puasa Ramadhan dan puasa enam hari di bulan Syawwal pahalanya seperti puasa setahun penuh, sebagaimana sabda Rasululah Shallallahu’alaihi Wasallam: “Barangsiapa yang berpuasa (di bulan) Ramadhan, kemudian dia mengikutkannya dengan (puasa sunnah) enam hari di bulan Syawwal, maka (dia akan mendapatkan pahala) seperti puasa setahun penuh” [HSR Muslim (no. 1164)]

Di samping itu juga untuk tujuan memenuhi keinginan hamba-hamba-Nya yang shaleh dan selalu rindu untuk mendekatkan diri kepada Allah Ta’ala dengan puasa dan ibadah-ibadah lainnya, karena mereka adalah orang-orang yang merasa gembira dengan mengerjakan ibadah puasa. Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda: “Orang yang berpuasa akan merasakan dua kegembiraan (besar): kegembiraan ketika berbuka puasa dan kegembiraan ketika dia bertemu Allah” [HSR al-Bukhari (no. 7054) dan Muslim (no. 1151)].

Inilah bentuk amal kebaikan yang paling dicintai oleh AllahTa’ala dan Rasul-Nya Shallallahu’alaihi Wasallam.

Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda: “Amal (ibadah) yang paling dicintai Allah Ta’ala  adalah amal yang paling terus-menerus dikerjakan meskipun sedikit” [HSR al-Bukhari (no. 6099) dan Muslim (no. 783)].

Ummul mu’minin ‘Aisyah Radhiallahu’anha berkata: “Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam jika mengerjakan suatu amal (kebaikan) maka beliau Shallallahu’alaihi Wasallam akan menetapinya” [HSR Muslim (no. 746)].

Inilah makna istiqamah setelah bulan Ramadhan, inilah tanda diterimanya amal-amal kebaikan kita di bulan yang berkah itu, maka silahkan menilai diri kita sendiri, apakah kita termasuk orang-orang yang beruntung dan diterima amal kebaikannya atau malah sebaliknya.

{فَاعْتَبِرُوا يَا أُولِي الأبْصَارِ}

“Maka ambillah pelajaran (dari semua ini), wahai orang-orang yang mempunyai akal sehat” (QS al-Hasyr: 2).

وصلى الله وسلم وبارك على نبينا محمد وآله وصحبه أجمعين، وآخر دعوانا أن الحمد لله رب العالمين

Sumber Artikel : https://muslim.or.id/10042-istiqamah-setelah-ramadhan.html

PILAR-PILAR KEHIDUPAN SEORANG MUKMIN


PILAR-PILAR KEHIDUPAN SEORANG MUKMIN

✅ Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam bersabda,

اَلْمُؤْمِنُ اَلْقَوِيُّ خَيْرٌ وَأَحَبُّ إِلَى اَللَّهِ مِنْ اَلْمُؤْمِنِ اَلضَّعِيفِ, وَفِي كُلٍّ خَيْرٌ, اِحْرِصْ عَلَى مَا يَنْفَعُكَ, وَاسْتَعِنْ بِاَللَّهِ, وَلَا تَعْجَزْ, وَإِنْ أَصَابَكَ شَيْءٌ فَلَا تَقُلْ: لَوْ أَنِّي فَعَلْتُ كَذَا لَكَانَ كَذَا وَكَذَا, وَلَكِنْ قُلْ: قَدَّرَ اَللَّهُ وَمَا شَاءَ فَعَلَ; فَإِنَّ لَوْ تَفْتَحُ عَمَلَ اَلشَّيْطَانِ

🌿 “Mukmin yang kuat imannya lebih baik dan lebih dicintai Allah daripada mukmin yang lemah imannya, namun pada keduanya terdapat kebaikan. Bersemangatlah dalam meraih apa yang bermanfaat bagimu, minta tolonglah kepada Allah, dan janganlah kamu lemah. Dan apabila kamu ditimpa suatu musibah, maka janganlah kamu katakan: “Andaikan aku melakukan yang ini, tentunya yang akan terjadi ini dan itu” tetapi katakanlah:

قَدَّرَ اَللَّهُ وَمَا شَاءَ فَعَلَ

🌾 “Qoddarollaahu wa maa syaa fa’ala” (bisa juga dibaca: Qodarullaahi wa maa syaa fa’ala)

🌿 “Allah telah menakdirkan, dan apa yang Dia kehendaki maka Dia melakukannya” karena sesungguhnya ucapan “Andaikan” membuka amalan setan.” [HR. Muslim dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu]

➡️ Dalam hadits yang mulia ini terdapat pilar-pilar penting yang menopang kehidupan seorang mukmin untuk meraih kebahagiaan di dunia dan akhirat, yaitu:

1) Kekuatan iman, inilah kekuatan yang dimaksudkan dalam hadits ini, bukan kekuatan fisik belaka.

2) Bersemangat dalam meraih sesuatu yang bermanfaat, ini mencakup manfaat untuk kehidupan dunia, terlebih lagi untuk kehidupan abadi di akhirat.

3) Meninggalkan yang tidak bermanfaat, apalagi yang membahayakan di dunia dan akhirat.

4) Senantiasa meminta pertolongan kepada Allah ta’ala dan berharap serta bergantung hanya kepada-Nya.

5) Tidak takjub dan tidak sombong dengan kemampuan diri.

6) Tidak merasa lemah, selalu optimis dan bersemangat.

7) Apabila yang ditakdirkan tidak sesuai harapan dan cita-cita maka terimalah takdir tersebut dengan lapang dada seraya tetap bergantung kepada Allah ta’ala untuk meraih yang lebih baik di masa yang akan datang.

8) Apabila telah terjadi musibah tidak lagi berandai-andai ke belakang, karena itu tanda kelemahan.

9) Beriman dengan takdir Allah ta’ala dan berserah diri kepada-Nya serta beradab dalam ucapan terhadap takdir-Nya.

10) Tidak membuka pintu bagi setan dan tidak menuruti godaan serta tipu dayanya.

وبالله التوفيق وصلى الله على نبينا محمد وآله وصحبه وسلم

💻 Sumber: http://sofyanruray.info/pilar-pilar-kehidupan-seorang-mukmin/

Bungkus dan Isi


 

rumah-mewah-bungkus-dan-isi

Oleh : Ust. DR. Amir Faishol Fath, MA.

Hidup akan sangat melelahkan, sia-sia dan menjemukan bila pikiran hanya digunakan untuk mencari dan mengurus BUNGKUS-nya saja serta mengabaikan dan mengacuhkan ISI-nya.

Apa itu “BUNGKUS”-nya dan apa itu “ISI”-nya?.

“Rumah yang indah” hanya bungkusnya.
“Keluarga bahagia” itu isinya.

“Pesta pernikahan” hanya bungkusnya.
“Sakinah, mawadah, warahmah” itu isinya.

“Ranjang mewah” hanya bungkusnya.
“Tidur nyenyak” itu isinya.

“Kekayaan” itu hanya bungkusnya.
“Hati yang bahagia” itu isinya.

“Makan enak” hanya bungkusnya.
“Gizi, energi, dan sehat” itu isinya.

“Kecantikan dan Ketampanan” hanya bungkusnya.
“Kepribadian dan hati” itu isinya.

“Bicara” itu hanya bungkusnya.
“Amal nyata” itu isinya.

“Buku” hanya bungkusnya.
“Pengetahuan” itu isinya.

“Jabatan” hanya bungkusnya.
“Pengabdian dan pelayanan” itu isinya.

“Kharisma” hanya bungkusnya.
“Ahlaqul karimah” itu isinya.

“Hidup di dunia” itu bungkusnya.
“Hidup sesudah mati” itu isinya.

Utamakanlah ISI-nya.
Namun rawatlah BUNGKUS-nya.

Jangan memandang rendah dan hina setiap BUNGKUS yang kita terima, karena berkah tak selalu datang dari BUNGKUS kain sutera melainkan juga datang dari BUNGKUS koran bekas.

Janganlah setengah mati mengejar apa yang tak bisa kita bawa mati.

(Manhajuna/HSJ)

Sumber : palingbrilian.com

Ukhuwah antara Syaikh Bin Baz dan Syaikh Al-Qaradhawi


bin baz qaradawi

Salah satu keteladanan yang banyak dipraktikkan oleh para ulama salaf adalah sikap saling menghargai dan menghormati saudara-saudaranya yang berbeda pendapat dengan mereka. Sikap seperti ini juga telah ditunjukkan oleh dua ulama besar di zaman kita ini: Syaikh Abdul Aziz bin Abdillah bin Baz rahimahullah (w. 1420 H) dan Syaikh Yusuf bin Abdillah Al-Qaradhawi hafizhahullah.

Syaikh Al-Qaradhawi berkata: “Syaikh Bin Baz rahimahullah pernah mengirim surat kepada saya lebih dari seperempat abad yang lalu. Dalam surat tersebut, beliau memberitahukan kepada saya bahwa Departemen Penerangan memberikan kitab saya—Al-Halal wa Al-Haram fi Al-Islam—kepada beliau; Apakah kitab tersebut boleh masuk ke wilayah kerajaan Saudi Arabia atau tidak? Beliau menginginkan agar jangan sampai para pembaca di Saudi dilarang membaca kitab-kitab saya yang menurut beliau, ‘mempunyai nilai tersendiri di dunia Islam’. Beliau mengabarkan, bahwa para Syaikh di Saudi mempunyai delapan catatan atas kitab saya tersebut, di mana beliau menyebutkan semuanya di dalam suratnya. Beliau meminta kepada saya agar mau menelaah kembali isi kitab saya tersebut. Sebab, ijtihad manusia itu bisa saja berubah di lain waktu.

Ketika itu saya membalas Syaikh Bin Baz dengan sebuah surat sederhana. Saya katakana di dalamnya, ‘Sesungguhnya ulama umat yang paling saya cintai dimana saya enggan menyelisihinya dalam berpendapat, dia adalah Syaikh Bin Baz. Akan tetapi sunnatullah telah berlaku bahwasanya tidak pernah ada para ulama yang sependapat dalam semua masalah. Para sahabat saling berbeda pendapat satu sama lain. Dan para imam juga berbeda pendapat satu sama lain, namun demikian, hal ini sedikit pun tidak membawa mudharat pada mereka. Mereka memang berselisih pendapat, namun hati mereka tidak berselisih. Dan sebagian dari delapan masalah ini, para ulama sejak dulu memang telah berselisih pendapat di dalamnya…”

Pada akhir surat Syaikh Al-Qaradhawi menyampaikan kepada Syaikh Bin Baz, “Saya berharap agar jangan sampai perbedaan pendapat yang terjadi antara saya dengan para syaikh (di Saudi) dalam sebagian masalah ini menjadi sebab dilarangnya buku saya masuk ke Saudi.”

Syaikh Bin Baz pun kemudian mengabulkan harapan Syaikh Al-Qaradhawi tersebut. Beliau rahimahullah mengizinkan Kitab Al-Halal wa Al-Haram fi Al-Islam dan kitab lainnya masuk ke Saudi.

Sumber: Fi Wada’ Al-A’lam, Yusuf Al-Qaradhawi, hal. 62-63, Penerbit Dar Al-Fikr Al-Mu’ashir, Beirut, Cetakan pertama, 2003 M – 1424 H, seperti dikutip oleh Abduh Zulfidar Akaha dalam buku Belajar dari Akhlaq Ustadz Salafi, hal xxv-xxvi, Penerbit Al-Kautsar, Jakarta, Cetakan Pertama, Februari 2008, dengan sedikit perubahan. 

al-Intima on 18 September 2015.