Archives

Hubungan Batin antara Murabbi dan Mutarabbi


Hubungan Batin antara Murabbi dan Mutarabbi

 

Oleh :

Musyaffa Ahmad Rahim

 

Seorang murabbi yang sukses, ia akan mampu menciptakan hubungan yang sangat kuat dengan sang mutarabbi, bahkan sampai ke tingkat hubungan batin, yang:

– Tidak perlu lagi mempergunakan bahasa perintah atau larangan.
– Bahkan tidak perlu lagi mempergunakan bahasa isyarat dan bahasa tangan
– Bahkan berbagai urusan sering terjalin melalui mimpi.

Contoh Kasus (1):

Dalam sebuah halaqah, dan selagi sang murabbi asyik mengisi dan mengelola halaqah, ada seorang mutarabbinya yang sering berdiri dan meninggalkan tempat halaqah.
Adakalanya ia mengambil air untuk sang murabbi, terkadang air hangat, terkadang air dingin, terkadang teh manis, terkadang juice dan sebagainya.

Terkadang ia berdiri dan pergi untuk mengambil pulpen, atau spidol, atau penghapus dan sebagainya.

Terkadang ia maju ke depan untuk menghapus atau untuk urusan lainnya.
Semua ini dilakukan oleh sang mutarabbi persis seperti yang dikehendaki oleh murabbinya, tanpa kata, dan bahkan tanpa isyarat.

Contoh Kasus (2):

Sering sekali seorang mutarabbi bermimpi mendapati sang murabbinya sedang sakit, maka ia pun pergi ke sana.
Terkadang membawakan obat untuknya.
Terkadang ia membawakan makanan khas untuknya.
Terkadang sekedar untuk menjenguk saja.

Contoh Kasus (3):

Pernah seorang murabbi, karena profesinya sebagai seorang ahli tehnik sipil, bermimpi bertemu dengan seorang mursyid.

Dalam mimpinya dia dipesan untuk mendesign rumah khusus beliau, padahal sang mursyid telah memiliki rumah.

Sang mutarabbi mencoba menta’wilkan mimpinya, dan dugaannya bahwa sang mutarabbi diminta untuk mempersiapkan kuburan untuk sang mursyid.

Pagi harinya, sekretaris pribadi mursyid mendatangi sang mutarabbi dan menyampaikan salam dari mursyid agar sang mutarabbi memperbaiki lokasi kuburan para mursyid.

Sudah ada 4 kuburan murysid di lokasi sana. Maka sang mutarabbi pun segera memperbaiki kawasan kuburan para mursyid itu; memperbaiki jalanannya dan membersihkan lokasinya.

Selesai sang mutarabbi mengurus kuburan para mursyid itu, ia pun mendapatkan berita bahwa mursyid yang ditemuinya dalam mimpi meninggal dunia, menyusul 4 mursyid sebelumnya dan sang mursyid itu pun di kuburkan di lokasi yang baru-baru ini ia urus dan ia perbaiki.

 

( Musyafa Ahmad Rahim )

Melawan Provokasi


Melawan Provokasi

 

“Engaku tahu gunjingan orang seputar istri Rasulullah?” tanya Abu Ayyub al Anshari kepada istrinya.

“Ya, dan semua itu dusta besar,” sahut istrinya tegas.

“Engkau sendiri, mungkinkah melakukan hal seperti itu?” desak Abu Ayyub.

“Tak mungkin aku melakukannya, demi Allah.”

“Dan Aisyah, demi Allah jauh lebih baik dari engkau,” sahut Abu Ayyub.

Dialog itu turut mewarnai suasana tegang di Madinah. Hari-hari itu Rasulullah tengah menghadapi beban berat. Aisyah radhiyallahu ‘anha, istri tercinta beliau, diisukan berbuat serong dengan Shofwan bin Mu’athol.

Kisahnya bermula dari peristiwa perang Bani Musthaliq. Menjelang keberangkatan ke Bani Musthaliq, bulan Sya’ban tahun 5 hijriyah, seperti biasa Rasulullah SAW mengundi siapa istrinya yang diajak serta berperang. Hari itu, Aisyah dapat undian untuk menemani Rasulullah. Biasanya bila bepergian, Aisyah yang berbadan kurus itu naik ke atas sekedup (semacam tenda kecil) yang diletakkan di punggung unta.

Sepulang dari Ban Musthaliq, di sebuah tempat yang hampir dekat dengan Madinah, Rasulullah dan kaum muslimin menginap beberapa malam. Hingga suatu hari Rasulullah mengizinkan kaum muslimin untuk meneruskan perjalanan. Saat itu, usai buang hajat, Aisyah kehilangan kalung permata Yaman. Saying, benda berharga itu tak ia temukan. Ia mencoba mencari lagi dan akhirnya ketemu. Namun, begitu kembali ke tempat singgah pasukan Islam, ia sudah tertinggal rombongan. Mereka yang mengangkat sekedup ke punggung unta tak tahu bahwa di dalamnya tak ada Aisyah.

Aisyah lantas menyelimuti dirinya dengan jilbabnya, kemudian berbaring. Ia berharap mereka akan kembali bila tahu dirinya tertinggal. Tak berapa lama, lewatlah Shofwan bin Mu’athol, menunggang unta. Ia tertinggal kafilah kaun muslimin karena suatu keperluan. Shofwan terkaget-kaget. Ia tahu bahwa itu Aisyah, sebab sebelum turun ayat yang mewajibkan pemakaian jilbab, Shofwan telah mengenali Aisyah.

Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un, istri Rasulullah di sini? Apa yang menyebabkan engkau tertinggal?” ucap Shofwan spontan.

Tak sepatah kata pun diucapkan Aisyah. Shofwan segera menundukkan untanya. Aisyah pun naik dan Shofwan menuntun unta itu. Doa orang itu tak bisa menyusul rombongan kaum muslimin, hingga tiba di Madinah.

Kehadiran keduanya menjadi makanan empuk gembong munafik Abdullah bin Ubay bin Salul. Segera saja ia melempar isu, bahwa istri seorang Nabi telah berbuat serong. Berita dusta itu menjalar bak api melahap padang ilalang kering. Beberapa orang termakan isu. Hamnah bin Jahsy (saudara kandung Zainab binti Jahzy, istri Rasulullah), Misthah (pembantu Abu Bakar), dan Hassan bin Tsabit turut memperkeruh suasana.

Suasana makin panas. Aisyah sendiri jatuh sakit sepulang dari perjalanan itu. Tragisnya, Aisyah tak tahu menahu tentang apa yang terjadi di luar. Ia tak mengerti bahwa ada peristiwa besar yang menyangkut dirinya, yang berputar dari mulut satu ke mulut yang lain. Yang dirasakan Aisyah, hanya Rasulullah sedikit berubah dari biasanya. Kasih lembutnya terasa kering. Hanya itu.

Sampai suatu hari Rasulullah berbicara di hadapan kaum muslimin di masjid. Dari atas mimbar ia memuji Allah, lantas menyatakan sikapnya.

“Wahai sekalian manusia. Kenapa orang-orang itu menyakiti keluargaku? Mereka berbicara tentang sesuatu yang sama sekali tidak benar. Demi Allah, aku tidak melihat keluargaku kecuali baik-baik selalu.”

Seorang sahabat Anshar, Usaid bin Hudhair dari suku Aus, menyela, “Wahai Rasulullah, bila orang-orang itu dari Aus, kami siap bereskan mereka. Dan bila mereka dari Khazraj, maka perintahkan kami untuk menyelesaikan urusan engkau. Demi Allah, mereka itu orang-orang yang layak dipenggal batang lehernya.”

Mendengar itu, Sa’ad bin Ubadah, yang berdarah Khazraj naik pitam. Ia segera menimpali.

“Demi Allah, kamu tak akan bicara seperti itu kecuali karena engkau tahu gembong masalah ini (Abdullah bin Ubay) dari Khazraj. Kalau saja ia dari kaummu, pasti bicaramu tak seperti itu.”

“Pendusta kamu ini, demi Allah. Kamu hanyalah munafik yang membela munafik,” balas Usaid.

Suasana kian panas. Beberapa orang nampak berlompatan. Keributan mulai muncul. Hampir saja orang-orang Aus dan Khazraj saling baku hantam. Rasulullah segera turun dari mimbar.

 ***

Hampir satu bulan masalah ini berjalan tanpa bisa dituntaskan kebenarannya. Rasulullah mencoba menggali kejujuran Aisyah. Ditemuilah istri tercintanya yang telah tinggal di rumah orang tuanya, Abu Bakar ash Shiddiq. Tak ada tegus sapa. Aisyah hanya menangis.

“Wahai Aisyah. Takutlah engkau kepada Allah. Bila engkau telah telah melangkah kepada keburukan, bertaubatlah. Sesungguhnya Allah menerima taubat hamba-hamba-Nya.”

Air mata Aisyah makin deras. Tak ada kata yang mampu diucapkan. Ia berharap bapak-ibunya memberi jawaban. Lama ditunggu, keduanya tak juga buka suara.

“Tidakkah engkau berdua menjawab Rasulullah,” sahut Aisyah lemah sambil memandang kedua orang tuanya.

“Kami sendiri tak mengerti harus menjawab apa,” sahut Abu Bakar.

 ***

Ada banyak pelajaran berharga yang harus kita gali. Pertama, stabilitas sosial kaum muslimin akan selalu jadi incaran musuh-musuh Islam. Utamanya kalangan tokoh dan pemimpinnya. Segala cara akan dilakukan mereka untuk menghancurkan umat Islam. Bisa saja dengan memfitnah secara keji, tuduhan buta, sampa tindakan kekerasan sekali pun. Karenanya, umat Islam – apalagi dalam era seperti sekarang ini – tak boleh dengan mudah menelan opini dan isu yang berada di masyarakat. Sumber informasi harus jelas, dari segi autentitasnya maupun pembawanya (QS. Al Hujurat: 6). Kecerobohan sebagian sahabat yang termakan isu itu telah mengguncang kehidupan Rasul dan kuam muslimin.

Kedua, peran supremasi hokum dan ulama sangat penting dalam menjaga stabilitas sosial umat Islam. Suku Aus dan Khazraj yang nyaris bentrok termakan provokasi kaum munafik bisa diatasi dengan kebenaran Aisyah yang ditetapkan melalui wahyu, dengan turunnya ayat 11 surat An Nuur. Karenanya, melalui tangan para ulama, seharunya al Quran dan sunah Rasul didudukkan fungsinya bagi penegakan hukum,khususnya pada saat kita banyak diterkam isu seperti hari-hari ini.

Ketiga, komunitas orang-orang yang mampu menahan diri seperti Abu Ayyub dan istrinya perlu ditumbuh-kembangkan. Di tengah masyarkat kita yang keropos, kita sangat perlu Usamah bin Zaid yang dengan jujur membela kebaikan keluarga Rasulullah. Kita butuh Burairah, pelayan Aisyah yang tahu betul keseharian Aisyah. Yang hanya bisa mengatakan, “Setahuku Aisyah tak lain seorang wanita yang baik. Aku bikin adonan roti, lalu aku minta ia menyimpannya. Rupanya ia tertidur di atas adonan itu dan datanglah kambing memakan adonan itu.”

Komunitas orang-orang yang bersih itu harus dibesarkan. Agar ada kekuatan yang bisa menetralisir isu dan opini kotor yang meracuni umat Islam. Sesudah itu, perlu dipikirkan wadah institusionalnya yang suaranya didengar dan wibawanya diakui. Hari ini tak akan kita jumpai Nabi baru, tidak juga wahyu baru. Tak mungkin kita menunggu surat-surat pembenaran dan pembelaan dari langit. Perlu kerja keras untuk menciptakan masyarakat muslim yang imannya kuat, berakhlak luhur dan anti-provokasi. Wallhu a’lam bishowab.

Sumber: Majalah Sabili

( mh )

Tidak Membalas Hinaan


Tidak Membalas Hinaan

Satu lagi akhlak mulia yang diajarkan Rasulullah tapi amat sulit untuk melaksanakannya. Barangkali kita sering mengalami hal yang dialami oleh Abu Bakar ini, tapi kita langsung membalas pada serangan pertama, bahkan dengan balasan yang lebih sadis dan keras. Sudah saatnya untuk meningkatkan derajat, kita belajar untuk mengendalikan diri untuk tidak menghiraukan apa saja bentuk caci maki yang dilemparkan orang kepada kita. Biarkan dia berlalu begitu saja. Sibukkan diri dengan hal yang perlu dilakukan. Pekerjaan yang berarti banyak sekali yang perlu dilakukan di dunia ini dari pada sekadar membalas hinaan dan cacian. Amal nyata jauh lebih bermanfaat dari pada memusingkan fitnahan. Apalagi bila tuduhan itu menimpa sekelas jama’ah atau komunitas manusia.

Boleh jadi selama ini kita memberikan balasan keras, karena:
1. Tidak tahu bahwa mendiamkan atau tidak membalas itu merupakan akhlak mulia.
2. Takut orang lain ikut berburuk sangka kepada kita. Nanti mereka berpikiran; kalau memang tidak begitu kenapa tidak memberikan klarifikasi, kenapa diam saja?
3. Lemahnya keyakinan bahwa Allah akan membalas itu semua dengan pahala yang besar di akhirat nanti dan akan meninggikan wibawanya di hadapan manusia.
4. Tidak tahu hakikat sebenarnya bahwa orang yang mencaci itu sekalipun caciannya benar, ia lagi menyumbangkan kebaikannya kepada kita atau menyiapkan diri untuk memikul kesalahan kita. Apalagi kalau cacian itu jauh dari kenyataan atau hanya sekadar fitnahan.
5. Sifat seperti ini yang dinamakan dengan “hilm”, orang yang mempunyai sifat ini disebut “halim”, salah satu sifat Allah yang harus ditiru. Orang jahiliyah saja mengimpikannya dan berbangga bila ada pada dirinya sifat ini.
Kalaupun harus memberikan jawaban atau meluruskan tuduhan supaya orang lain tidak terjatuh kepada perbuatan buruk sangka kepada kita, maka kita bisa memakai cara yang baik, tenang dan santun. Keyakinan bahwa Allah akan menjaga harga diri kita perlu ditumbuhkan dengan memahami hadis ini.
Semoga Allah menuntun kita kepada akhlak-akhlak yang mulia sekalipun harus dengan langkah yang tertatih-tatih. Usaha dengan penuh keyakinan lambat laun akan membuahkan hasil. Segala yang baru susah diamalkan, sampai perbuatan ini menjadi biasa dalam diri kita dan menjadi akhlak yang akan muncul dengan spontan. Yang paling penting sekali, terlebih dahulu kita mengakui ini adalah akhlak mulia yang dianjurkan Allah.
Rasul juga berkata:

عَنْ أَبِي الدَّرْدَاءِ، عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: «مَا مِنْ شَيْءٍ أَثْقَلُ فِي الْمِيزَانِ مِنْ حُسْنِ الْخُلُقِ»

Dari Abu Darda’, Rasulullah SAW bersabda: “Tidak ada sesuatupun yang lebih berat pada timbangan amal di hari kiamat selain akhlak yang baik”. (HR. Abu Daud)

اللهم ارزقنا حسن الخلق، وارزقنا الحلم العلم والحكمة

Ya Allah, karuniakanlah kepada kami akhlak yang mulia, dan karuniakanlah kepada kami sifat santun, ilmu dan hikmah.
Penulis: Ust. Zulfi Akmal, MA.

sumber :http://www.al-intima.com/tidak-membalas-hinaan/

Al Fahm


Al Fahm: untukmu kader dakwah (1)

(taujih Ust. Rahmat Abdullah, dalam buku untukmu kader dakwah )

____________________________________________________

 Al Fahm: untukmu kader dakwah (1)

Tak ada perintah meminta tambahan seperti perintah meminta tambahan. Bahkan perintah itu diarahkan kepada Rasul pilihan Saw. Dan katakanlah: ya Rabbi, tambahkan daku ilmu (QS. 20:114). Bagi Ashabul Kahfi, sesudah iman tambahan ni’mat berupa Huda (petunjuk) itu pada hakikatnya juga ilmu.

Kecuali efek kesombongan yang sebenarnya bukan anak kandung ilmu, seluruh dampak ilmu adalah kebajikan. Bukanpun ketika seseorang terlanjur salah jalan, ilmu mengambil peran pelurus. Ia selalu jujur, asal si empunya mau jujur. “lewat beberapa masa, aku menuntut ilmu dengan motivasi yang salah, tetapi sang Ilmu tidak mau dituntut kecuali karena Allah,” kata Al Ghazali,

Tentu saja seseorang tidak harus mengumpulkan ilmu sebagai kolektor tanpa komitmen amal, karena hal seperti dapat dilakukan oleh hard disc, diskette, pita perekam atau mata pensil. Bagaimana ilmu menjadi serangkaian informasi yang mengantarkan penuntutnya kepada kearifan, itulah soal besar yang menjadi batu ujian para ulama. “Sesungguhnya yang takut kepada Allah diantara para hamba-Nya yaitu ulama” (QS. 35:28)

Dengan melihat hubungan dan kedudukan ilmu, nyatalah bahwa yang dimaksud dengan ilmu dan kemuliaan itulah ilmu nafi’ (ilmu yang bermanfaat). Karena itulah, maka seluruh kata ilmu (dalam Al-Qur’an & Hadist) maksudnya ilmu nafi’ , menurut Ibnu Athaillah. Selebihnya ia menjadi beban tanggungjawab dan penyesalan, karena berhenti pada jidal (debat), mubahah (kebanggan) dan alat menarik keuntungan dunia.

Ilmu selalu membuat si empunya semakin rendah hati, sensitif dan sungguh-sungguh.

 

Pemeliharaan Tradisi Keilmuan

Betapapun hebatnya perusakan yang dilakukan pasukan tartaran terhadap kitab-kitab para ulama, itu menjadi tak berarti disbanding apa yang berkembang didunia keilmuan. Darah daging ilmu telah membekas dihati para ulama. Seorang iman pergi musafir berbulan-bulan “hanya” untuk mencari hadist singkat. Seorang ulama produktif menulis di penghujung malam dan esoknya juru salin baru dapat menyelesaikan transkripnya dalam waktu 10 jam.

Tradisi keilmuan juga menyangkut etika pergaulan. Hampir tak ditemukan ulama yang dating kepintu sultan kecuali ia penjilat atau seorang yang sudah sampai ke tingkat ma’rifat yang tinggi. Seorang alim zuhud menghindari sultan dan orang-orang kayak arena takut fitnah dunia, semetara ulama yang arif billah (mengenal Allah) datang kepada raja, untuk menasehati dan mengingatkan mereka.

Harun Al Rasyid meminta Imam Malik untuk menziarahinya ‘agar anak-anak kami dapat mendeng kitab Al Muwattha” jelasnya. Dengan pasti ia menjawab : “Semoga Allah menjayakan Amirul Mukminin. Ilmu ini datang dari lingkungan kalian (Baitun NubuwahI). Jika kalian memuliakannya ia menjadi mulia dan jika kalian merendahkannya ia jadi hina. Ilmu harus didatangi, bukan mendatangi”

Ketika sultan menyuruh kedua puteranya datang ke masjid untuk mengaji bersama rakyat, Imam Malik mengatakan: “Dengan syarat mereka tak boleh melangkahi bahu jama’ah dan duduk diposisi mana saja yang terbuka untuk mereka.”

Sebagai Imam pembela sunnah yang sanga konsisten melaksanakannya, Imam Syafi’I sangat kokoh dalam argumentasi. Kepiawaiannya berdiskusi dilandasi keikhlasan yang luar buasa. “setiap kali aku berdebat dengan seseorang, selalu kuberharap Allah mengalirkan kebenaran dari mulutnya,” begitu ujar Imam Syafi’i.

Ilmu antara Tahu dan Mau

Apa kabar penghafal sekian banyak ayat, pelahap sekian banyak kitab dan pembahas sekian banyak qadhaya yang belum beranjak dari tataran tahu untuk bersiap menuju mau? Siapakah engkau, wahai pengendara yang menerobos larangan masuk kawasan berbahaya? Siapakah engkau yang diminta memilih antara madu dan racun, kurma dan bara, lalu dengan sadar melahap bara mencampakkan kurma, meneggak racun membuang madu? Alim, jahil atau sakitkah engkau? Siapakah gerangan engkau yang tiba-tiba menemukan diri berada disebuah tempat yang nyaman dan membuatmu tidak pernah berpikir untuk pergi karena tuan rumah tempat kau tinggal tak pernah menagih rekening listrik, buah dan sayuran, kolam renang dan landasan pesawat, menu dan lahan berburu. Kau menikmatinya berpuluh tahun, namun tak pernah bertanya: Siapa pemilik rumah ini? Apa kewajibanmu disana? Kemana lagi engkau sesudah ini?

Engkau yang telah menghabiskan seluruh usia untuk penjelajahan ilmu yang memberitahukan berapa miliar tahun umur dunia, bagaimana akurasi, peredaran bumi, matahari dan galaksi, ketepatan ekosistem dan karakter benda, lalu menuduh wahyu itu kuno, karena telah melewati masa seribu empat ratus tahun? Tak punyakah engkau segenggam rasa malu untuk pergi mencari planet lain yang lebih muda? Seandainya engkau jumpai yang lebih muda, sadarkah engkau bahwa itu bukan ciptaanmu? Siapakh engkau, wahai penjaga kebun anggur yang disuruh menghantarkan untaian anggur, lalu pergi dengan lagak seperti pemilik kebun dan tak mau kembali lagi, karena si pemabuk telah mempesonamu dengan kepandaian mengubah anggur menjadi arak? Engkau tak punya secuil kearifan ahli ilmu.

Ilmu dan Kelapangan Wawasan

Beberapa banyak pedang diperlukan untuk mengembalikan kaum khawarij yang memecah belah jama’ah (syaqqal asha)? Kaum ini sesat bukan karena tidak sholat, shaum atau jihad. Keras telapak tangan mereka dan menghitam dahi mereka lantaran sujud yang lama. Kurus badan mereka karena puasa yang intensif. Saat pedang merobek perut dan memburai usus mereka, melompat kalimat yang menakjubkan, ‘ku bersegera kepada Mu ya Rabbi agar engkau ridha’ (QS 20:84). Bahkan ketika rasulullah Saw ditanya tentang sifat mereka, beliau menjawab :”Kalian akan meremehkan shalat kalian membandingkan dengan shalat mereka dan shiam kalian disbanding dengan shiam mereka.” Fiqh (kedalaman ilmu dan keluasan wawasan) tak menggenapi kehidupan intelektual mereka. Tapi Ibnu Abbas ra cukup menggunakan ketajaman argumentasinya untuk mengembalikan 1/3 dari sekian puluh ribu kaum pemberontak khawarij. Oleh karena itulah kaum khawarij- dan aliran nyeleneh lainnya sepanjang zaman- selalu menghindari fuqaha yang mereka anggap selalu mematikan aspirasi mereka dan membenturkan mereka dengan tanda tanya yang musykil. Belum terjadi apa-apa ketika sesepuh kaum Nabi Nuh as mengusulkan agar dibangun tugu-tugu peringatan ditempat biasanya duduk tokoh-tokoh terhormat mereka; Wadda, Suwa, Yauq, Yaghuts dan Nasr. Barulah setelah generasi ini wafat dan ilmu telah dilupakan orang, maka tugu-tugu itupun mulai disembah.

Suatu hari Abu Hasan Asy Syadzili kedatangan rombongan tamu, para ulama dan fuqaha. Mereka sangat tersinggung ketika ia bertanya: “Apakah kalian orang –orang yang mendirikan shalat?” mereka menjawab: “Mungkinkah ‘fuqaha’ seperti kami tidak shalat?!” dengan tenang dilayang-layang pertanyaan yang membuat mereka tersipu-sipu: “Apakah kalian orang yang bebas gelisah, bila ditimpa musibah, tidak putus asa, dan bila mendapat nikmat menjadi bakhil?” (QS 70:19-23)

Mengapa ulama akherat tak pernah berkelahi dan ulama dunia tak putus-putus bertengkar? Karena akherat itu luas tak bertepi sedangkan dunia sangat sempit. Wajar bila ulama dunia saling bertabrakan.

Diantara karunia besar datangnya Rasul penutup, mata dunia dibuka dan era akal sehat dimulai, bebas dari mitos-mitos dan manipulasi orang-orang pintar (baca: licik) atas rakyat yang lugu dan setia. Inilah tonggak peralihan dari pengabdian manusia kepada sesame manusia menuju pengabdian hanya kepada Allah sahaja.

Mungkin kekhasan Islam dalam menghargai ilmu dan akal sehat, secara khusus Syaikh Alawi Al Maliki membuka Simthud Durar (untaian Mutiara), antologi sanjungannya kepada Rasulullah Saw dengan kekhususan ini:

Segala puji bagi Allah
Yang telah melebihkan kita
Dengan Musthafa Nabi Pilihan
Yang mengagungkan pendidikan

Al Ikhlas


Al Ikhlas (serial 2; Untukmu Kader Dakwah )

Al Ikhlas

Yang kami maksud dengan al ikhlas adalah:
Seluruh ucapan, perbuatan dan perjuangan seorang aktivis muslim selalu ditujukan dan dimaksudkan hanya kepada Allah Ta’ala saja, serta memohon ridha-Nya semata, juga kebaikan ganjaran-Nya. Tidak ingin mengharap imbalan apapun, baik berupa harta, tahta, martabat dan kedudukan, tanpa melihat maju mundurnya perkembangan dakwahnya.

Dengan demikian, ia telah menjadi seorang jundi (prajurit) baik secara intelektual maupun aqidah, bukan seorang jundi yang mencari imbalan dan manfaat, seperti yang difirmankan Allah SWT dalam Al –Qur’an :

“Katakanlah: “Sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam” (QS. Al-An’am:162).

Dengan demikian, seorang aktivis muslim selalu memahami doktrin “Allah tujuan kami” dan “Allah Maha Besar dan bagi-Nya segala puja dan puji”.

(Hasan Al Banna)

“tak akan sampai kepada Allah daging dan darah qurban itu akan tetapi yang akan sampai kepada-Nya ialah taqwa dari kamu” (QS. 22:37).
Banyak orang berharta dengan banyak hutang. Banyaklagi orang miskin dengan banyak hutang. Ada orang kaya amal dengan banyak tuntutan yang harus dilunasinya dihari pembalasan. Ada orang yang sangat sederhana dalam beramal, dengan ketulusan tiada tara. Pujian tak membuatnya bertambah gairah dan celaan tak menghambatnya dari meningkatkan amal kebajikan. Ia ada ditengah keramaian dan jiwanya sendiri menghadap Khaliqnya, tanpa berharap dan peduli terhadap penilaian manusia.
Tiga hal yang tak patut hati mu’min kering. 1. Ikhlas beramal karena Allah. 2. Tulus terhadap para pemimpin (dengan nasihat dan koreksi), 3. Setia kepada jama’ah Muslimin, karena do’a mereka meliput dari belakang mereka(HR. Ahmad, Ibnu Majah, Hakim, Abu Daud & Tirmidzi)
Banyak hal yang Nampak sederhana, tetapi terabaikan, sementara obsesi sering menjadi symbol kebersamaan yang tak pernah terwujud atau takkan pernah berwujud, karena para pendukungnya tak pernah memperjuangkannya dengan sungguh-sungguh, kecuali sebagai status.
Hasan Al Bashri mencurahkan kebeningan hatinya dizaman yang rasanya begitu perlu penjernihan: “Tak ada lagi yang tersisa dari kenikmatan hidup, kecuali tiga hal: 1 Saudara yang kau selalu dapatkan kebaikannya; bila engkau menyimpang ia akan meluruskanmu. 2. Shalat dalam keterhimpunan (Jasad, hati dan fikiran), kau terlindungi dari melupakannya dank au penuh meliput ganjarannya, 3. Cukuplah kebahagiaan hidup dicapai, bila kelak ia tak seorangpun punya celah menuntutmu dihari kiamat.”
Ketika seseorang berusaha keras untuk beramal, tanpa berfikir, apa keuntungan yang bakal didapatnya, ia disebut mukhlis, artinya orang yang menyerahkan amalnya kepada Allah dengan sepenuh hati tanpa pamrih duniawai. Pada saat ia mendapatkan dorongan beramal tanpa ingat apapun kecuali ridha Allah, ia menjadi mukhlas, artinya orang yang dijadikan mukhlis. Ada orang yang hanya dengan melihatnya, itu cukup membuatmu ingat kepada Allah, bicaranya cukup menambah amalmu dan amalnya cukup membuatmu rindu akherat.
  
Hati Tanpa Jelaga
Hati bening seorang alim penaka gelas Kristal yang bening dan bersih, akan memancarkan cahaya ilmunya.  Sementara ada orang yang detik demi detik tutur kata, karya dan kehadirannya menjerumuskan ke jurang sengsara
Sulit untuk mendapatkan hati yang bening dan amal yang ikhlas tanpa kejujuran. Kejujuran yang sering diartikan dengan sekedar bicara benar, ternyata lebih dari itu. Ia adalah kejujuran terhadap Al Khaliq. Ia adalah kejujuran terhadap bisikan hati nurani. Pada akhirnya bukti kebenaran itu akan Nampak dalam sikap kejujuran mereka kepada Allah atas semua janji yang mereka buat. “sedikitpun tidak mengubah pendirian mereka, apakah mereka itu gugur terlebih dahulu atau menunggu” (QS 33:23)
Hakekat Shidq bahwa engkau tetap jujur dalam berbagai kondisi (sulit dan bahaya), padahal engkau hanya dapat selamat dari hal tersebut hanya dengan berdusta, demikian prinsip Junaid Al Baghdadi. Tentu saja tidak boleh bertentangan dengan penghapusan hukuman dusta dalam kondisi penyelamatan saudar beriman dari kezhaliman orang lain, mendamaikan dua saudara yang berseteru dan dusta dalam taktik bertempur”.
Apa yang membuat orang sekaliber Bal’am bisa kehilangan integritas diri, hanyut dalan pusaran lumpur dunia? Ada konflik yang tak disadarinya; melawan kehendak Allah yang sangat berkuasa untuk mengangkatnya setinggi-tinggi, tetapi ia sendiri yang mengikuti grativikasi dunia dan hawa nafsu yang menahan laju jelajahnya kea lam tinggi (akhlada ilal ardl wat taba’a hawah) (QS: 7:176). Betapa mengerikan kemiskinan hati bia melanda kaum berilmu. Mereka merasa rendah diri karena dunia yang tak berpihak, berseberangan dengan posisi tinggi dan jauh dari kedudukan basah. Mungkin ia lupa, kemiskinan itu bukanlah dosa, walau tidak menyenangkan. Mungkin karena pentingnya mengenal profil biang kerok ini. Sampai-sampai Al Qur’an membuka kisahnya dengan “Bacakan kepada mereka” dan menutupnya dengan “maka ceritakan kisah-kisah ini, semoga mereka berfikir” (QS 7:175-176)
Orang-orang yang Ringkih Jiwa
Bal’am bin Baura, Walid bin Mughirah, dan Abdullah bin Ubay adalah profil kaum berilmu yang tak berfaham. Yang pertama, jelas-jelas berseberangan dengan Nabi Musa as dan perjuangannya, lalu bermanis-manis dengan kubangan dunia, Fir’aun. Adakah perbedaan yang cukup gelap antara fir’aunisme kemarin dan Fir’aunisme hari ini, yang membuat Bal’am-bal’am kontemporer membelanya mati-matian?
Adakah kedunguan yang melebihi kedunguan Walid yang diawal-awal laporan ilmiahnya tentang Al-Qur’an terang-terang menutup semua jalan bagi penolakan Al-Qur’an sebagai Kalam Allah? Kalau matera kita sudah tahu, kalau ucapan manusia kita sudah tidak asing, kalau puisi akulah pakarnya. Gemeretak gigi orang awam di Darun Nadwah rupanya lebih mengerikan baginya, sehingga di akhir presentasinya ia mengeluarkan konsklusi yang bertentangan dengan muqaddimah, “Al Qur’am adalah sihir, lihatlah ia sudah memisahkan anak dari orang tuanya dan budak dari tuanyya”sergahnya
Abdullah bin Ubay si batang balok yang tersandar (QS 63:4), menarik penampilannya dan manis mempesona tutur katanya. Kandidat pemimpin tertinggi Madinah pra hijrah ini yang telah berbunga-bunga hatinya melihat peluang besar menjadi lupa akan prinsip Al Fadlu liman shadaq (kemulian untuk yang jujur) dan terobsesi berat oleh pameo Al Fadlu liman sabaq (kemulian bagi yang lebih dahulu) berdasarkan makna senioritas, bukan kapasitas. Ia lupa bahwa sabaqiyah (senioritas) itu menjadi bermakna dengan shidiqiyah (ketulusan dan kejujuran). Tetapi penyakitnifaq merasukinya dan loyalitas tak dimilikinya. Yang ada hanya kepentingan dan kedengkian. Jadilah ia orang yang manis dimuka dan mengutuk dibelakang, beriman di mulut dan kafir dalam hati.
Pada ketiga tokoh ini sangat menonjol ambisi kekayaan, jabatan dan syuhrah(popularitas), tersurat ataupun tersirat. Dalam kamus mereka kehormatan tal lagi punya tempat dan kejujuran hanya impian orang-orang pander. Namun madzhab langka ini menjadi trend
Ikhlas dan Shidq
Mengagumkan bila dicermati hubungan ikhlas dan shidq. Ikhlasnya artinya menjaga diri dari perhatian makhluq dan shidq artinya menjaga dari perhatian nafsu. Seorang mukhlis tak puinya riya’ (pamer diri), demikian Abu Ali Ad Daqqaq mengurai.
Ka’ab bin Malik pantas mendapatkan bintang Shidq. Hukuman berat diterimanya dengan ikhlas. Ia sadar sedang berurusan dengan Allah, bukan dengan masyarakat yang sebenarnya sangat menghormatinya. Ia yakin Rasulullah Saw pasti akan percaya bila ia membuat-buat alas an absennya dari perang Tabuk. Tak kurang 50 hari berlalu dalam keterasingan yang berat. Kemana ia pergi tak seorangpun menyapa atau menjawab sapaannya. Raja Ghassan menawarkan suaka politik dan posisi dikerajaanya. Bagi Ka’ab, ini juga bala. Maka ia buktikan loyalitasnya dengan kejujuran yang mengagumkan (QS. 9.118)
Banyak ulama yang tak henti-hentinya mengkritik dan meluruskan pemerintah sementara sang amir tak pernah jemu memenjarakannya. Namun saat sang amir menggaungkan perintah jihad, mereka tampil didepan tanpa dendam pribadi. Jihad adalah ibadahku kepada Allah dan maksiat amir itu urusan amir dengan tuhannya. Kritik sudah kulancarkan. Demikian paradiqma para mukhlisin. Khalid bin Walid tegas menjawab pertanyaan heran, mengapa mau-maunya ia bertempur dibawah komando orang lain semetara ia dimakzulkan dari posisi panglima? Ia berjihad karena Allah, bukan karena Umar.
Betapa mengerikan keterasingan pengamal yang selalu saja dihantui apa kata orang. Sunyi terdampar digurun riya’, tersungkur dijurang ujub, segala ketakutan ada disana, kecuali takut kepada Allah.

 Al Amal


Al Amal (serial Untukmu kader Dakwah – 3)

 

 Al Amal

Yang kami inginkan dari al-amal adalah :

Buah dari ilmu dan ikhlas seperti yang disebutkan dalam Al Qur’an Karim: “Dan katakanlah : “Beramallah kalian, maka Allah dan Rasul-Nya serta orang-orang beriman akan melihat amal kalian itu, dan kalian akan dikembalikan kepada Allah yang mengetahui  akan yang ghaib dan yang nyata, lalu diberitahukan-Nya kepada kalian apa yang telah kalian amalkan” (QS At Taubah :105)

Adapun urut-urutan amalnya adalah :

  1. Mengoreksi dan memperbaiki diri
  2. Membentuk dan membina keluarga muslim
  3. Memberi petunjuk dan membimbing masyarakat dengan dakwah
  4. Membebaskan tanah air dari penguasa asing
  5. Memperbaiki pemerintahan
  6. Mengembalikan kepemimpinan dunia kepada ummat Islam
  7. Menjadi soko guru dunia dengan menyebarkan dakwah Islamiyah ke seluruh penjuru dunia

Banyak orang merasa telah beramal, tetapi tak ada buah apapun yang ia petik dari amalnya, baik itu perubahan fisik, kelembutan hati ataupun kearifan budi dan ketrampilan beramal. Bahkan tak sedikit diantara mereka beramal jahat tetapi mengira beramal baik. Karenanya Al-Qur’an selalu mengaitkan amal dengan keshalihan, jadilah amal shalih. Kata shalih tidak sekedar bermakna baik, karena untuk makna ini sudah tersedia istilah-istilah khusus, seperti hasan, khair, ma’ruf, birr(kebaikan) dan lain-lain. Sedangkan shalih adalah suatu pengertian tentang harmoni dan tanasuknya (keserasian) suatu beramal dengan sasaran, tuntunan, tuntutan dan daya dukung.amal disebut shalih bila pelakunya mengisi ruang dan waktu yang seharusnya diisi.

Seorang pendusta atau pengikar agama tidak selalu mengambil bentuk penghujat arogan terhadap agama itu. Ia dapat tampil sebagai pengamal yang dermawan atau bahkan pelaku shalat yang khusyu. Namun pada saat yang bersamaan Allah menyebut pendusta agama, karena ia menghardik si yatim dan tidak menganjurkan orang untuk member makan si miskin (QS 107:2-3) Allah telah mengajarkan kita bagaimana bersikap benar, bahkan kepada tetangga yang Yahudi atau Nasrani. Dakwah adalah kerja yang amat mulia, karenanya harus dilakukan dengan memenuhi dua syarat utama yaitu Al Ikhlas was shawab

Ikhlas karena dilakukan semata-mata untuk dan karena Allah. Shawab (benar) karena dilakukan berlandaskan sunnah Rasulullah Saw. Mungkin seseorang menampakkan dirinya berdakwah ke jalan Allah, tetapi ia telah berdakwah ke jalan dirinya, demikian catatan dan komentar syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab dalam Kitabut Tauhid dan Al Allamah Abdullah bin Alawi al Haddad dalam Ad Da’watut Taammah.

Betapa banyak amal menjadi berlipat ganda nilainya oleh niat yang baik dan itu tak akan terjadi bila pelakunya tak punya ilmu tentang hal tersebut. Dan demikian pula sebaliknya. Barangsiapa yang beramal tanpa melandasinya dengan ilmu, maka bahayanya akan lebih banyak daripada manfaatnya, sebagaimana amal tanpa niat jadinya anna (kelelahan) dan niat tanpa ikhlasnya jadinya habaa (debu-kesia-siaan) dan ikhlas tanpa tahqiq (realisasi) jadinya ghutsaa (buih)

Kita tak punya kekuatan apapun untuk melarang orang bekerja dalam lingkup amal Islami. Bahkan mereka yang menjalaninya dengan cara yang kita nilai merugikan perjuangan. Ya pada saatnya kita mendapat penyikapan salah dari masyarakat sebagai reaksi salah atas aksi salah yang dilakukan para aktivis Islami.Qadliyah (Problema) kaum Khawarij dan berbagai gerakan lainya menunjukan fenomena para pengamal, dari ikhlas minus fiqh, sampai yang oportunis dan pemafaat jargon.

Alkisah disuatu masa, seorang alim menyelamatkan seekor beruan yang terhimpit sebatang besar. Sebagai tanda terimakasihnya atas jasa sang syaikh, ia berikrar untuk menjadi pengawal yang setia. Dan memang ia buktikan itu. Suatu hari sang tuan tertidur kelelahan. Sesuai ikrarnya beruang menjaga tuannya dengan setia, agar tak mendapat bahaya atau gangguan. Yang menjengkelkannya yaitu lalat-lalat yang hinggap-pergi di wajah syaikh, membuat tidurnya tak nyaman. Ia angkat batu besar dan dihantamkannya ke seekor lalat yang hinggap didahi tuannya. Pecah kepalanya dan entah kemana larinya sang lalat jahanam itu.

Hama-hama Amal

Sebagaimana tumbuhan, amalpun terancam hama. Riya (beramal untuk dilihat), ujub (kagum diri), sum’ah (beramal untuk popular/didengar), mann(membangkit-bangkit pemberian) adalah hama yang akan memusnahkan amal. Seseorang aktivis yang berkorban dengan semua yang dimilikinya harus mengimunisasi amalnya agar disaat hari perjumpaan kelak tak kecewa karena amalnya menjadi haba-an mantsura (debu yang berterbangan)

mereka membangkit-bangkitkan kepadamu keislaman mereka (sebagai jasa). Katakanlah: janganlah kalian bangkit-bangkit keislaman kalian kepadaku, bahkan sesungguhnya Allah-lah yang telah member karunia besar kepadamu karena Ia telah membimbing kalian untuk beriman, jika kalian adalah orang-orang yang benar.” (qs 49:17)

Tidak serta merta rasa beban berat dalam beramal berubah menjadi kesukaan. Kata kuncinya terletak pada: pemaksaan, pembiasaan dan (akhirnya menjadi) irama hidup. Junaid albaghdadi mengatakan :”selama 40 tahun kusembah Allah, ditahun ke-40 itulah baru kutemukan lezatnya.”

Pelipatgandaan kualitas dan kuantitas kerja yang dilakukan para sahabat tidak dapat dikejar generasi manapun. Bayangkan, hanya dalam dua decade saja telah perubahan yang sangat mendasar pada pola sikap, pandangan hidup dan tradisi bangsa Arab dan bangsa-bangsa muslim lainnya. Kerja besar taghyir (perubahan) ini sukses seperti ungkapan Sayyid Quthb dalam maalim fit Thariq berkat komitmen mereka yang (1) menuntut ilmu bukan sekedar untuk mengoleksi ilmu, (2) putus dari jahiliyah kemarin dan menghayati hidup baru dalam Islam, tanpa keinginan sedikitpun untuk kembali ke kancah jahiliyah dan (3) bersiap siaga menunggu komandi Al –Qur’an seperti prajurit siap siaga menunggu aba-aba komandan.

Kerja Untuk Perubahan Masyarakat

Kecenderungan sufi murung, sudah Nampak sejak zaman Rasulullah Saw, namun selalu mendapat koreksi dari beliau. Suatu masa dalam suatu perjalanan pasukan kecil beliau, seorang mujahid terpesona oleh keindahan wahah (oase) ditengah padang pasir dengan rumpunan kurma, sebongkah lahan produktif dan sumber air yang cukup untuk seumur hidup.

Oh alangkah nikmatnya bila aku tinggal disni beribadah ke Madinah, sehingga aku bebas dari gangguan masyarakat atau mengganggu mereka. Rasulullah Saw segera mengoreksi: “Janganlah lakukan itu, karena kedudukan kalian dijalan Allah sehari saja, menandingi 70 tahun tinggal dan beribadah disini.”

Bahkan Imam Ali bin Abi Thalib ra mengecam para pengikutnya yang loyo dalam memperjuangkan kebenaran dan dan pendirian yang mereka yakini:

Oh alangkah mencengangkan keberanian

Mereka dalam melihat kebatilan

Dan lesu kalian dalam memperjuangkan hak

Oh ajaib nian ketika kalian jadi sasaran tembak

Kalian diserang dan tak balas menyerang

Allah ditentang dan kalian tenang

Hari ini ribuan surat kabar, radio dan televise dunia bekerja sama diberbagai kawasan untuk menyebar fasad (kerusakan). Menyedihkan nasib si miskin, yang mampu beli TV, tetapi tidak bisa makan. Hati mereka dibunuh sebelum jasad mereka dihancurkan senjata pamungkas. Kemana ribuan kader yang hanya menggerutu tanpa berbuat apapun kecuali gerutu? Apakah masyarakat depat berubah dengan gunjingan dari mimbar masjid? Hari ini rumah ummat kebakaran, tidakkah setiap orang patut memberi bantuan memadamkan api walaupun dengan segelas air; dengan pulsa perangko dan kertas surat yang dikirim kepada pedagang kerusakan dan menegaskan pengingkaran terhadap ulah mereka dengan siaran dan penerbitanfasad, sebelum mereka mengirim darah dan nyawa mereka kesana ketika usaha santun tak lagi membawa hasil?

Banyak usaha dilakukan. Sebagian menyentuh kulit tanpa isi. Sebagian memaksakan pekerjaan berpuluh tahun dalam waktu sekejap mata. Sebagian membangun symbol-simbol tanpa peduli subtansi dan tujuan untuk apa wahyu diturunkan. Mereka yang senantiasa tadabur Al Qur’an akan melihat keajaiban ungkapan. Ketika Allah mengisahkan kedunguan Ahli Kitab yang bangga dengan status zahir mereka, ia menyebutkan: “Mereka mengatakan, tak akan masuk syurga kecuali (yang berstatus) Yahudi atau Nasrani. Itulah angan-angan mereka”. Dan ketika Ia mengisahkan sikap keberagaman kaum beriman, disebut prestasi mereka: “Barangsiapa yang menyerahkan dirinya kepada Allah seraya berbuat Ihsan, maka baginya ganjarannya disisi Tuhannya dan tiada ketakuatan atas mereka, tiada pula mereka akan bersedih”. (QS Al Baqarah:111-112)

Banyak orang mengandalkan nisbah diri dengan nama besar suatu organisasi atau jama’ah berbangga dengan kepemimpinan tokoh perubah sejarah, namun saying mereka tidak meneladani keutamaan mereka. “Barang siapa lambat amalnya tidak akan cepat karena nasabnya” (HR Muslim)

Apa yang harus dikerjakan ?

Hanya pada saat kekikiran dituruti, hawa nafsu ditaati dan setiap orang kagum hanya kepada dirinya sendiri, maka ummat ini boleh mulai mendaftar koleksi orang-orang khassahnya dan meninggalkan awam yang tenggelam. Orang beramal dihari itu seperti 50 kali kerja kamu hari ini (HR Abu Dawud, Tirmidzi, Nasa’i)

Sebagai kerja dakwah memang kata, tetapi dapat dituding sebagai Cuma omong, seperti halnya penyiar dan reporter yang mengisi daftar profesi kerjanya dengan ngomong. Namun perlu dibedakan mana dakwah yang mencukupkan diri dan puas dengan member informasi seram kepada khalayak, atau meninabobokkan khalayak dengan mimpi-mimpi indah atau mengingatkan bahaya seraya member jalan keluar. Mampukah mereka tampil sebagai problem solver, ataukah cukup menjadi problem speaker, lalu peluang terbesarnya hanya jadi problem maker. Dan hari banyak juga orang kayak arena jadi problem trader.

 

AL JIHAD 


Al Jihad (serial Untukmu kader Dakwah -4 )

AL JIHAD

Yang kami maksud dengan Al Jihad adalah :

Suatu kewajiban yang masanya membentang (tak akan berhenti) sampai hari kiamat dan apa yang dikandung dari sabda Rasulullah Saw: “Barang siapa yang mati, sedangkan ia tidak berjuang atau minimal punya niat untuk berjuang, maka ia mati dalam keadaaan mati jahiliyah”

Adapun urutan yang paling bawah dari jihad adalah ingkar hati, dan yang paling tinggi adalah perang mengangkat senjata dijalan Allah. Sedangkan ditengah-tengah itu adalah jihad lisan, pena, tangan, berkata benar dihadapan penguasa tirani.

Dakwah tak akan hidup dan berkembang kecuali dengan jihad. Karena kedudukan dakwah yang begitu tinggi dan bentangannya yang luas  maka jihad merupakan jalan satu-satunya untuk menghantarkannya. Juga betapa besar pengorbanan dalam mengkokohkan dakwah itu dan apa yang akan diperoleh para pengemban dari pahala yang besar disisi Allah SWT. Firman Allah Ta’ala: “Dan berjihadlah dijalan Allah dengan sebenar-benarnya Jihad”. (QS. Al Hajj:78)

Dengan demikian anda sebagai aktivis dakwah tahu akan hakikat doktrin “Jihad adalah jalan kami”

___________________

Dari sedikit orang tahu, Said Hawwa rahimahullah adalah salah seorang yang mampu memberi tahu, bahwa pengertian fardhu kifayah yang harus dipahami secara benar, akurat dan sehat. Mengqiyaskan fardhu kifayah pada jihad dengan fardhu kifayah pada pengurusan jenazah, jelas tak dapat ditoleransi lagi. Walaupun salah kaprah ini telah menahun. Kifayah harus dikembalikan ke makna asli dan syar’i yaitu kadar  kecukupan. Bila tak cukup jumlah rakyat  Palestina, Ambon, Poso, Kashmir, Darsussalam Aceh, Chechnya, dan lainnya, memperjuangkan dirinya, maka batas cukup harus tagih dari kawasan dalam radius berikutnya, sampai benar-benar jumlah itu memadai alias kifayah.

Sedikit orang tahu bahwa dalam suatu hadits Rasulullah Saw menyebut dien itu adalah Jihad. “Bila kalian mulai tranksaksi dengan system ‘inah (tranksaksi menjurus/mengandung unsure riba), kalian memegangi ekor sapi, puas dengan bersibuk diladang dan kalian tinggalkan jihad, maka Allah akan timpakan kepada kalian kehinaan yang takkan dicabut-Nya sampai (kecuali jika) kalian kembali kepada agama kalian.”

Dan lebih sedikit yang ingat bahwa jihad adalah jalan paling tepat dan terhormat  untuk money laundry, saat uang sekotor dan sepanas apapun berubah menjadi Ghanimah. Dan Ghanimah hanya terjadi lewat aksi jihad qital. Menarik ungkapan Allah tentang balasan orang-orang yang mentaari Allah dan Rasul-Nya, khususnya dalam pilihan Jihad. Ia akan mendapat maghfirah keridhaan Allah dan rezeki yang mulia. (QS. Al Anfal: 4)

Maka sesungguhnya rezeki yang paling mulia , yaitu Jihad (Afdhalul Arzaq ta’ti min afdhalil a’maal). Ada air untuk mensucikan hadts dan Janabah. ada debu untuk menggantikannya. Ada tanah campuran air untuk membersihkan dosa-dosa kolektif, darah mukmin akan mensucikannya kepada seorang pendosa yang sepenuh hati bertaubat dan meninggalkan perbuatan dosanya, maka bagaimana orang yang bertaubat dengan mengorbankan nyawa dan darahnya, syahid dijalan-Nya?` Ia lebih berhak atas ampunan tersebut. Semoga Allah merahmati Abdullah Ibnu Mubarak dan Fudhail bin Iyadh. Hari-hari Ibnu Mubarak dalam setahun terbagi tiga: ta’lim, haji dan jihad. Suatu hari seperti kebiasannya setiap tahun berhaji dan membawa rombongan haji dengan biayanya sendiri, tiba-tiba ia membatalkan perjalanan haji karena ada perintah jihad. Dari jabhah (front) ia sempat bersurat kepada sahabatnya, Fudhail bin Iyadh, mantan gangster kejam yang bertaubat dan ‘abid (ahli ibadah).

jika kau lihat kami, wahai abid di Haramain

Kau tahu dalam ibadah kau Cuma bermain

Siapa yang membasahi pipinya dengan air mata

Leher kami dengan darah kami membasah

Atau melelahkan kudanya dalam sia-sia

Kuda-kuda kami telah lelah dipagi buta

Bau setanggi bagi kalian

Dan setanggi kami bau percikan

Kaki kuda dan debu-debu yang lebih wangi

Dengan suka hati, Fudhail menghadiahi pembawa surat itu sebuah Hadits yang ia riwayatkan sendiri tentang ketinggian derajat syahid yang tak tertebus kecuali seseorang dapat shalat (malam) seumur hidupnya tanpa tidur  dan berpuasa (sunnah) seumur hidupnya tanpa berbuka.

Tak ada yang menyamai-apalagi melebihi keutamaan iman kepada Allah dan hari akhir serta jihad di jalan-Nya, sekalipun oleh posisi terhormat siqayah (penjamu jama’ah haji di Masjid Haram) dan Imarah (memakmurkan) masjid Haram, seperti yang dibangga-banggakan sebagian kalangan Quraisy. Allah telah menetapkan mereka itu la yastawun (tidak sama) (QS. At Taubah : 19)

Mungkin orang yang dihatinya tak terdapat jihad memerangi kebathilan dan kekufuran, dapat berjihad secara terbuka, dengan lisan maupun dengan tangannya? Sebagian masyarakat di dunia Islam berada dalam tuntutan kondisi jihad lisan. Sementara lainnya sudah dalam kondisi jihad tangan (qital). Yang pertama dapat dilihat dalam unjuk rasa, tulisan-tulisan, orasi dan pengumpulan dana solidaritas dunia Islam (Palestina, Bosnia, Chechnya, Kosovo, Poso, Ambon, Maluku Utara, dan lainnya). Termasuk sikap belia Melayu  yang bergabung dalam  ABIM (Angkatan Belia Islam Malaysia) lebih dari 20 Tahun lalu, mengharamkan minuman ringan asal Amerika yang sudah merambah sampai ke desa-desa dan dikenal luas. Karena 1  % harga setiap kalengnya akan mengalir ke Tel Aviv dan pada saatnya menjadi peluru-peluru yang ganas dan tak bersahabat, bahkan terhadap bayi berumur 2 bulan sekalipun.

Hal yang sama Nampak pada fatwa-fatwa Dr. Qardhawi dan sebelumnya, pada doktrin ekonomi ummat Imam al Banna. Jauh beberapa abad sebelum ini Syaikh Izzudin bin Abdus Salam telah mengeluarkan fatwa yang tegas tentang jual beli tanah dan senjata kepada musuh ummat.

Kalau ada hadiah bagi kelompok ilmiah remaja, mestinya anak-anak Palestina tak patut dilewatkan. Betapa berjasanya para remaja itu kepada para borju Arab, lantara dengan cerdas mampu menjadikan kaleng Coca-cola dan Pepsi yang mungkin tak pernah mereka nikmati, sebagai kifarat dosa para peminum Arab atau dunia beradab lainnya, dengan mengisinya menjadi “coctai”. Dan hari-hari Palestina pun menghangat dengan pesta baru dan Molotov Coctail yang pasti tak sedahsyat TNT, tapi mampu menyulut ledakan semangat dunia tertindas untuk tegar menantang kepongahan imperialis modern.

Kerusakan di tubuh bangsa-bangsa bermula dari busuk dikepalanya, Posisi penentu arah dan perjalanan bangsa tak mungkin dibiarkan ditangan para penipu, perampok dan tengkulak. Penyelamatannya demi mayoritas tak berdaya dan mengembalikan hak kepada empunya adalah bagian bagian dari hak. Seseorang mungkin merasa telah berdakwah, padahal ia hanya sampai pada perbincangan dan pergunjingan masalah yang sudah diketahui umum. Ia baru jadi simpul emosi bersama dan penyuara keresahan masyarakat terbuang.

Sedikit yang sadar uang Rp. 1.000,- yang tak laku untuk semangkuk bakso atau es teller, tetap berguna untuk membeli beberapa lembar kertas surat dan perangko atau pulsa yang ditunjukan kepada stasiun kemaksiatan, kebohongan dan kesombongan baik di TV, radio, Majalah dan surat kabar.

Bila setiap hari dialog di media cetak dan elektronik direspon para belia yang bergairah dan redaksi menerima 1000 atau 2000 pucuk surat serta teguran telepon, dakwah ini menjadi subur dengan kader-kader yang tanggap, sigap dan tidak telmi. Para belia cepat berubah dari khalayak dungu yang emosional menjadi kader yang efisien dan efektif. Banyak orang yang tak malu telanjang didepan umum, memasarkan ajaran busuk. Banyak orang mati dalam tabrakan, tawuran bodoh yang sia-sia, mati tua, mati dalam maksiat dan narkoba. Siapa yang siap mati dengan cita rasa seni kematian yang tinggi: syahid di Jalan-Nya? Tanpa rasa sakit kecuali seperti satu kali sengatan (HR. Tirmidzi, Nasa’i , Ibn Majah & Ibn Hibban) dan sesudah itu hanya gerbang surga yang membentang?.