Archives

 At Tadhhiyah (pengorbanan)


At Tadhhiyah (serial Untukmu kader Dakwah -5 )

Yang kami maksud dengan At Tadhhiyah (pengorbanan) adalah :

Pengorbanan jiwa raga, harta dan waktu serta segala sesuatu dalam rangka mencapai tujuan. Dan tidak ada kata jihad didunia tanpa adanya rasa pengorbanan. Anda jangan merasa bahwa pengorbanan Anda akan hilang begitu saja demi meniti jalan fikrah kami ini. Tapi itu tak lain adalah sebuah ganjaran yang melimpah dan pahala  yang besar, barang siapa yang tak mau berkorban dengan kami maka ia berdosa. Karena AllahTa’ala telah menegaskan hal itu dalam banyak ayat Al Qur’an. Dengan memahami ini maka  anda akan memahami doktrin “Mati dijalan Allah adalah cita-cita kami tertinggi”

___________________________________________________

Ajruki’ala qadri nashabiki”

(ganjaranmu tergantung kadar lelahmu)

  1. Muslim dari Aisyah, ra

Kemauan Berkurban dan Sikap Jujur

Kemauan yang jujur akan terwujud dalam aplikasi yang berani menantang bahaya dan segala hambatan, seperti akar yang sehat menembus tanah yang keras dan bebatuan. Ketika kaum beriman dihadang berulang kali, yang muncul adalah keberanian dan keledzatan merespon tantangan. Dua kali berhasil dengan gemilang memukul mundur serangan kuffar Quraisy di Bandar dan Uhud dalam rentang waktu yang amat singkat . ternyata masih disusul dengan serangan sekutu yang tak seimbang (gabungan)  Yahudi, Quraisy, Gathafan dan Munafiqun). Mungkin kekuatan lain sudah shock, tetapi alih-alih dari itu semua, mereka serentak mengungkapkan sikap yang sama dan padu “Inilah yang dijanjikan Allah dan Rasul-nya dan benarlah Allah dan Rasul-Nya”  (QS Al Ahzab: 22)

Tidak seperti hewan yang digemukkan dengan memberikan makanan, ternyata iman dan amal shalih digemukkan dengan pengurbanan. Semakin sedikit tubuh mendapat respon bagi kenikmatan syahwatnya maka semakin besar ruh berkurban.

Manusia semacam Bal’am adalah sejenisnya makhluk yang tak henti-hentinya mengikuti tarikan grafitasi syahwat dan mulutnya selalu berliur oleh selera dunia. Berapapun ia diberi tetaplah ia menjulur, bagaikan anjing (QS. Al Araf: 175). Ia akan rela mengurbankan kehormatannya sebagai orang berilmu demi dunia yang tak pernah memuaskan dahaga. Pasanglah jam dan perhiasan mahal ditangan seharga 1 Miliar, lalu lemparkan sepotong tulang dengan sedikit saja daging dan lihatlah apakah anjing itu tetap tertegun melihat kilauan perhiasan yang sangat mahal ataukah akan berlari mengejar tulang? Ah jangankan perbandingan miliar dengan tulang betulan, bayang-bayang tulang yang dilihatnya dipermukaan telaga membuatnya terjerumus oleh baying-bayang tulang dimulut anjing lainnya yang tak lebih dari baying-bayang dirinya.

Jadi Orang Besar dengan Resiko Besar

Ibnu Abbas radhiyanllahu’anhu diminta waktunya sejenak oleh seorang untuk suatu urusan kecil. Datanglah kepadaku dengan urusan besar, urusan kecil berikan buat yang lain. Mengapa nabi Ibrahim selalu meminta lisan shidq dikalangan generasi berikutnya? Mengapa nabi Ismail dan Abu Bakar digelari si jujur? Apa jadinya bila nabi Ibrahim gagal meninggalkan Ummu Ismail dan Ismail alaihissalam di lembah tak bertanaman disisi rumah-nya yang dihormati (QS Ibrahim:37)? Apa jadinya bila Ismailalaihissalam yang beranjak remaja memanfaatkan kemanusiaan bapaknnya agar tak terjadi pengurbanan besar itu (QS Shaad : 102)? Jelas mereka akan menjadi orang yang tak pernah punya peran diatas panggung sejarah, Karena sejarah tak pernah mau mengabadikan orang-orang biasa yang perjalanannya datar tanpa tantangan. Kadang orang merasa ada dinamika dalam sejarah dan ia menontonnya tanpa berpikir ia sendiri mampu menjadi actor sejarah. Inilah thufailiyat (sifat kekanak-kanakan) yang betapapun usia fisik telah jauh diambang tua, namun fikiran pemiliknya tertinggal dimasa lalu yang lugu, mentah dan kekanak-kanakan.

Belakangan datang generasi yang tak merasakannya telah berkurban dizaman awal Islam, saat Muhajirin dan Anshar bahu membahu membangun masyarakat Madinah dan tidak menjadikan Islam sebagai wacana teoritik belaka. Mereka tak merasakan makan daun perdu padang pasir yang membuat luka kerongkongan dan remah mereka sama dengan kotorang kambing dan unta. Mereka tak merasakan blockade tiga tahun di Syi’b Abi Thalib, pergi meninggalkan tanah air atau disita harta dan dibunuhi keluarga mereka.

  Suatu hari datanglah Mush’ab bin Umair ke majelis Rasulullah SAW dengan pakaian bertambal, Beliau menangis mengenang masa-masa Mush’ab dimanjakan orang tuanya dalam jahiliyah. Beliau ingatkan para sahabat: “Bagaimana kamu, bila kelak pagi kamu berpakaian kebesaran dan petang mengganti dengan pakaian kebesaran lainnya, piring-piring makanan datang silih berganti dan kamu mulai memasang penutup dinding seperti Ka’bah dibalut sitar (kelambu)”.

Para sahabat bertanya : “Bukankah saat itu kami jadi lebih  baik, karena dapat sepenuh waktu beribadah dan tercukupi kebutuhan pokok?”

Rasulullah SAW menjawab, “Tidak, kamu hari ini lebih baik daripada hari itu”

Pengurbanan dan Tabiat Dakwah

Ia adalah langkah kembali yang benar dan jalan menghindari eksploitasi pengurbanan manusia bagi kepentingan Fira’unisme, Hamanisme, Qarunisme dan Bal’amisme. Dan target ini sesungguhnya target da’wah itu sendiri, yaitu pembebasan. Ia perlindungan sejati bagi hamba-hamba tak berdaya, yang selama ini meniti bukit kurban mereka yang salah dengan lelah, membawa sen demi sen yang mereka peroleh dengan keringat dan darah, bagi monster periba yang kejam dan mati rasa, pemilik modal yang arogan dan sais kereta kebendaan yang ringkih, tua dan berat, dihela keledai-keledai protelar dengan jasad yang semakin kurus, dimangsa para kamerad elite yang tak bermalu, memimpin dengan fanatisme, dendam dan dusta.

Pengurbanan rakyat bodoh yang terus dibodohi oleh para pemimpin berbaju paderi dan kiai, yang memanfaatkan kultus individu dan keyakinan lugu mereka tentang kewalian dan adi kodrati, padahal sang pemimpin lebih dekat kepada ateisme daripada monoteisme, bahkan daripada politeisme sekalipun. Pengurbanan menjadi shalih bila dapat menghantarkan atau mempersembahkan supermasi tertinggi ditangan Allah dan termuliakannya  darah dan nyawa, kehidupan dan kematian hamba, karena tertutup sudah semua jalan bagi berjayanya para penipu, pemeras dan kalangan memperdayakan mayoritas mengambang.

Sesungguhnya pada generasi sebelum kamu, ada yang disisir dengan sisir besi yang menancap kebawah tulang, daging atau sarafnya. Semua itu tak mengalihkan mereka dari agama. Sungguh Allah akan sempurnakan urusan ini, sampai seseorang dapat pergi sendirian dari Shan’a ke Hadharamaut tanpa takut kepada siapapun kecuali Allah” (Al Buthy, Fiqh Sirah 106)

Hanya Untuk-Nya

Dalil yang paling terang bahwa misi tak membuka peluang bagi pengurbanan individu untuk kepentingan figur, adalah melimpahkannya teks-teks larangan kultus, sampai celaan yang sangat bagi seseorang yang senang orang lain berdiri menyambut kedatangnnya. Ketika Imam Ali bin Abi Thalib berkunjung ke suatu tempat, rakyat datang dengan sikap merunduk-runduk.”Alangkah ruginya kelelahan yang berunjung siksaan dan alangkah keberuntungan sikap ringan yang berbuah aman dari neraka” demikian nasihatnya.

Seseorang dapat menikmati kekaguman masyarakat terhadap kuantitas ibadah ritualnya dan ia menikmati ketentraman beribadah sambil melupakan tugas jihad lisan mencegah kemunkaran di masyarakat , penaka burung unta yang merasa telah aman karena berhasil menyembunyikan kepalanya ke dalam gundukan pasir, namun ia tak pernah aman akan tuntutan Allah. Suatu hari Allah memerintahkan malaikat-Nya untuk menumpahkan adzab kepada penduduk suatu negeri. “ya Rabb, disana ada seorang shalih” lapor malaikat dan Allah sungguh telah tahu hal itu. “Justru mulailah dari dia, karena tak pernah wajahnya memerah karena-Ku (ketersinggungan karena kehormatan Allah dihinakan)” (HR Ahmad)

Mahar perjuangan yang mahal, tidak hanya menjadi tiket menuju kemenangan generasi ta’sis (perintis), tetapi juga bagi generasi sesudahnya. Dan mereka harus membayar dengan pengurbanan yang sama bentuk, format dan gaya yang berbeda. Bagi generasi yang tak terdesak oleh jihad qital (tempur) selalu terbuka pengurbanan dengan berbagai jalan: pengurbanan waktu, perasaan, harta, kesenangan diri, dan lain sebagainya.

Mukmin sejati takkan bergembira karena tertinggal dari kesertaan berkurban, betapapun udzur memberi mereka rukhshah (keringanan), namun “Mereka berpaling dengan mata yang basah menangis, karena mereka tak menemukan biaya (untuk biaya anggkutan perang).” (QS At Taubah: 92).

Ri’ayah Dakwah


Ri’ayah Dakwah

Oleh: KH. Hilmi Aminuddin, Lc.
 Untuk menjamin nishabul baqa (angka atau quota yang aman bagi eksistensi gerakan dakwah), qudratu ‘ala tahammul (kemampuan memikul beban / tanggung jawab), dan hayawiyatul harakah (dinamika gerakan); perlu dilakukan ri’ayah da’wah, yang meliputi:
Ri’ayah Tarbawiyah
Ini sangat penting sebagai basis dari sebuah program.  Sebuah recovery tarbiyyah. Walaupun kita juga harus tawazzun (seimbang), dalam arti, sering saya ingatkan bahwa kita ini harakah Islamiyah bukan harakah tarbawiyyah. Walaupun kita faham bahwa tarbiyah itu bukan segala sesuatu dalam jamaah ini—karena ia hanya juz’iyyatul ‘alal amal islami, tapi dia sangat menentukan segala sesuatu. Makanya jangan lalai dalam tarbiyah ini.  Saya pun bertanggung jawab jangan sampai terjadi tawarut siyasi (larut dalam dunia politik).
Hasil tarbiyah ini jangan dibatasi manfaatnya menjadi tarbiyah untuk tarbiyah. Artinya moralitas, idealisme, dan semangat yang dihasilkan tarbiyah itu jangan hanya dirasakan ketika ia menjadi murabbi saja. Tapi harus dirasakan juga produk tarbiyah itu baik secara moralitas, idealisme, akhlak, hayawiyah, semangat ke dalam dunia politik. Aktif dalam sektor bisnis, eksekutif, budaya, sosial, dan peradaban; perasaan bahwa mereka juga harus merasakan tarbiyah. Jangan sampai produk-produk tarbawi hanya semangat ketika mentarbiyah saja. Ketika di dunia politik dia lesu, di dunia ekonomi memble, di dunia sosial kemasyarakatan ketinggalan, dalam seni budaya jauh di urutan ke berapa.
Tarbiyah harus bisa memacu, memberikan semangat, memberikan moralitas tinggi, idealisme tinggi dalam segala bidang. Itu sebetulnya sudah kita rasakan, dan semakin kita butuhkan ketika kita semakin besar. Jangan sampai potensi apa pun yang ada tidak mendapat sentuhan tarbawi tersebut. Jangan terjadi apa yang dinamakan al-izaaban  (pelarutan). Jangan sampai ketika aktif di bidang politik terjadi izaabatu syakhsiyyatul islamiyyah (pelarutan kepribadian islami), atau aktif di bidang ekonomi terjadi izaabatul akhlaqul islamiyyah. Pelarutan-pelarutan itu insya Allah tidak akan terjadi atau bisa diminimalisir jika tarbiyah kita konsisten.
Ri’ayah Ijtima’iyah
Kemampuan kita melakukan komunikasi sosial, baik dalam jama’ah sendiri atau juga di masyarakat, tahsinul ‘alaqotul ijtima’iyyah (perbaikan hubungan kemasyarakatan) ini sangat dibutuhkan dalam peran kita sebagai da’i.
Ri’ayah Tanzhimiyah
Jaringan struktur kita sebagai jalur komando harus solid. Agar cepat dan tepat, bisa menyalurkan program-program dari pusat sampai ke daerah-daerah.
Ri’ayah Iqtishadiyah
Ekonomi ini menjadi perhatian Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam (sesaat setelah hijrah-red) setelah membangun masjid. Masjid untuk membangun anfus (jiwa) dan pasar untuk membangun potensi amwal (harta), keduanya untuk wa jahidu bi amwalikum wa anfusikum.
Ekonomi kita masih berbasiskan ekonomi jaringan, belum berbasiskan ekonomi pasar. Yang dagang ikhwan dan akhwat, yang belanja juga ikhwan dan akhwat. Memang ekonomi jaringan itu nikmat, tapi sulit untuk menjadi besar, artinya ketemu pedagang sambil kangen-kangenan, tawar menawarnya juga enak. Dalam ekonomi kalau mau menjadi besar itu harus berbasiskan pasar.
Dalam ri’ayah iqtishadiyah, pelihara terus ekonomi jaringan, tetapi kembangkan menuju ekonomi pasar. Ekonomi jaringan itu menjadi basis ekonomi pasar. Jangan keasyikan berputar-putar di ekonomi jaringan, gak bisa besar. Sebab pasar kita terbatas. Coba hitung berapa persen kader kita yang menjadi pedagang, kemudian berapa komunitas kita yang jadi pasarnya. Apalagi kalau dibagi dengan jumlah pedagang yang berdagang dari halaqoh ke halaqoh, sehingga pembagian jumlah konsumen itu kecil.
Kita berada di negara yang pasarnya dipenuhi oleh negara-negara besar; Amerika, Eropa, Cina, dan Jepang berebut pasar Indonesia. Kenapa kita sebagai pemilik pasar tidak mendayagunakannya sebesar-besar manfaat dari pasar Indonesia ini. Pasar Indonesia ini pasar yang jika dilihat dari luas geografisnya—bahkan secara demografisnya lebih luas lagi—sama dengan London – Moskow.
Ri’ayah Siyasiyah
Komunikasi politik kita harus lebih baik antar partai-partai. Jangan ada hambatan-hambatan yang membuat komunikasi kita dengan mereka terputus. Terutama karena kita partai dakwah. Jangan ada komunikasi yang putus dengan siapa pun. PDIP mad’u (objek dakwah) kita, Golkar mad’u kita, bahkan PDS juga mad’u kita. Sebisa mungkin ada jalur komunikasi. Jika tidak ada komunikasi keumatan atau keislaman, maka bangun jalur kemanusiaan. Saya kira tidak ada partai yang anggotanya bukan manusia. Banteng simbolnya, tapi anggotanya tetap manusia.
Minimal hubungan kemanusiaan harus terbentuk dengan kelompok manapun. Ingat, seperti dulu saya tegaskan bahwa mihwar muassasi itu merupakan muqaddimah menuju mihwar dauli. Kalau kita sudah mencapai mihwar dauli, rakyat yang kita kelola itu dari beragam parpol, kelompok, dan agama; semuanya rakyat yang harus kita kelola. Harus kita layani. Jangan dibayangkan kalau sebuah partai dakwah berkuasa di sebuah negara, akan membumihanguskan golongan-golongan lain. Tidak! Karena khilafah fil ardhi, termasuk embrionya, mihwar daulah, itu juga mengemban misi rahmatan lil ‘alamin, bukan rahmatan lil mu’minin saja. Semua komponen bangsa harus menikmati kehadiran kita dalam sebuah daulah, minimal secara manusia. Terjamin hak-hak kemanusiaannya, termasuk hak-hak politiknya tidak akan diberangus.
Kita akan memberikan space kepada siapa pun komponen bangsa ini—sudah tentu yang tidak bertentangan dengan konstitusi negara yang disepakati—agar mempunyai ruang hidup, baik secara politik, ekonomi, budaya, dan relijius.
Itu latihannya dari sekarang. Membangun komunikasi politik, budaya, bisnis, dan sosial dengan semua golongan, semua lapisan masyarakat, semua kelompok, semua komponen bangsa dari sekarang. Sehingga kita diakui, laik memimpin negara ini. Allahu Akbar! Insya Allah tidak lama lagi.

Waktu Merupakan Bagian Terpenting dari Komponen Dakwah


Waktu Merupakan Bagian Terpenting dari Komponen Dakwah

Oleh: Abu Maryam

Para da’i banyak yang merasa kecewa ketika tengah berdakwah, dikarenakan mereka telah merasa optimal memberikan penyampaian, namun tetap saja tidak mendapatkan respon yang positif dari mad’u. Perasaan kecewa ini muncul karena ketidakcermatan da’i dalam memperhatikan satu komponen penting dalam berdakwah, yaitu terkait proses kontemplasi yang dilakukan mad’u, dan itu membutuhkan waktu yang cukup.

Beberapa hal penting yang harus diperhatikan dalam hal ini, adalah:

Pertama, sadari kita beda ‘dunia.’ Kita harus menyadari bahwa ‘dunia’ tempat berinteraksinya kita dengan mad’u terkadang berbeda, tepatnya tidak berada dalam lingkaran hidup yang Islami. Namun telah bercampur-baur dan terpengaruhi oleh nilai-nilai duniawi, umumnya mereka tumbuh di tengah efek dari materialistis, masyarakat yang ‘sakit’ atau bahkan atheis. Dan karakter seperti ini sudah menyebar banyak di tengah masyarakat, dan para da’i akhirnya berinteraksi dengan sosok yang cara berfikirnya serta kepribadiannya bertolak-belakang dengan mad’u-nya. Sehingga ketidak pahaman kerap menjadi penghalang dalam interaksi seorang da’i dengan obyek dakwahnya.

Karena itu butuh waktu yang panjang untuk mendakwahi mad’u yang seperti ini. Melakukan pendekatan, beradaptasi dengan dunia mereka, sehingga seakan tak ada lagi pembatas dan mad’u pun siap menerima dengan baik perkataan sang da’i.

Kedua, tak ada perkataan yang sia-sia. setiap kata yang terucap dari seorang da’i pada hakekatnya tidaklah pernah sia-sia, melainkan akan terus terngiang dalam fikiran mad’u. Apa yang ia dengar itu sedikit banyak akan merubahnya menjadi pribadi yang lebih baik. Apa yang ditaushiyahkan oleh seorang da’i kepada mad’u-nya saat ini, akan menjadi investasi amal bagi dirinya di beberapa tahun kedepan. Seperti yang sering kita temukan, ketika berjumpa dan memberi pesan kebaikan kepada seseorang, ia terkadang mengatakan, “sepertinya saya pernah mendengar taushiyah seperti yang Anda sampaikan tadi.”

Ketiga, cerdas memilih waktu. Memilih waktu yang tepat dalam berdakwah merupakan hal yang sangat penting. Karena setiap orang memiliki waktu privasi, dan dalam kondisi seperti itu ia tidak ingin diganggu, dan tidak siap menerima arahan.

Maka dari itu, berdakwah sangat dipengaruhi dengan kondisi kedua belah pihak, baik da’i mau pun mad’u-nya, keduanya harus berada dalam kondisi yang siap, siap memberi dan menerima. Terutama bagi sang da’i, hendaknya memilih waktu yang tepat, sehingga mad’unya tidak merasa terbebani dan dapat menerima pesan kebaikan itu dengan hati lapang.

Keempat, tidak bertele-tele. Seorang da’i hendaknya tidak ‘berlama-lama’ dalam berbicara dihadapan mad’u, karena hal itu akan membuatnya jenuh dan bosan. Namun sebaliknya, dengan menyampaikan pembicaraan yang singkat padat dan berbobot, tentunya akan membuat para mad’u ketagihan, dan semangat untuk mengikutinya karena ingin mendapatkan yang lebih banyak lagi.

Kelima, jangan tergesa-gesa. Terburu-buru dalam mendakwahi mad’u tentunya tidak akan memberikan hasil yang maksimal. Karena hal itu justru akan menghadirkan sebuah masalah, bisa jadi mad’u itu menolak, atau menerima tapi tanpa pemahaman. Kedua hal ini seyogyanya diwanti-wanti sebelum terjadi.

Efek dari ketergesa-gesaan dalam berdakwah ini diantaranya adalah mad’u yang menjadi terburu-buru dalam mengambil keputusan, akibatnya ia menolak ajakan sang da’i. Waktu yang singkat memposisikannya tidak secara utuh memahami dakwah itu disampaikan kepada dirinya. Dampak buruknya, ia tidak akan berhubungan lagi dengan dakwah, dan bukan perkara mudah untuk merubah keputusan seseorang. Hal ini terjadi dikarenakan da’i terlalu terburu-buru dalam berdakwah, ibarat memetik buah tapi belum pada waktunya.

Sedangkan bagi mad’u yang terburu-terburu dalam merespon ajakan dakwah, kedepannya mad’u akan terkaget-kaget karena dihadapkan dengan adanya taklif dan kewajiban yang belum pernah ia perkirakan sebelumnya. Sehingga ia merasa ada perang batin dalam jiwanya. Dan bisa berimbas hal negatif terhadap kepribadiannya, berbohong atau bahkan nifak. Seandainya dihadapnnya terdapat peluang untuk kembali memilih, bisa jadi mad’u tersebut tidak memilih untuk bergabung dalam dakwah.

Oleh karena itu, yang selayaknya dilakukan seorang da’i adalah tidak memaksa mad’u-nya terburu-buru dalam mengeluarkan keputusan, namun meminta kepada mad’u untuk berpikir secara perlahan sehingga keputusan yang diambil berdasarkan kemantapan yang lahir dari dalam dirinya. Wallahu al Musta’an

Disarikan dari kitab “Qawaidu ad-da’wah ila Allah” karya Dr. Hamam Abdurrahim Sa’id, cetakan Dârul wafâ’, Manshurah, Mesir.

Mengunci Lisan dari Perkataan Keji dan Munkar


Mengunci Lisan dari Perkataan Keji dan Munkar

Ust. H. Ahmad Yani, Lc. MA

Urgensi Menjaga Lisan

Satu waktu Rasulullah saw pernah ditanya:“keislamanan bagaimana yang utama? Beliau menjawab: siapa yang perkataan dan perbuatannya menjadikan orang Islam selamat (tidak terganggu). (HR. Bukhari dan Muslim). Dalam hadits lain Rasulullah menegaskan diantara keutamaan dan kesempurnaan Islam seseorang adalah meninggalkan apa yang tidak bermanfaat. Sabdanya berbunyi: “Diantara sifat orang mukmin adalah ia menjaga lisannya dalam membahas aib seseorang dan menghindari perkataan kotor”. (HR. At Tirmidzi). “Dan apabila mereka bertemu dengan (orang-orang) yang mengerjakan perbuatan-perbuatan yang tidak berfaedah, mereka lalui (saja) dengan menjaga kehormatan dirinya”. (QS. Furqaan: 72). Rasulullah bersabda: “Siapa yang beriman kepada Allah dan hari Akhir, hendaknya ia berkata baik atau berdiam”. (HR. Bukhari dan Muslim).

Menjaga lisan menjadi perbuatan yang amat mulia dalam islam. Secara sederhana, kebaikan berislam seseorang bisa dilihat dan diketahui dari ucapannya. Karena itu siapa mampu menjaga lisannya, ia berpeluang besar mendapat jaminan rumah di Surga Allah SWT. Sahal bin Sa’ad meriwayatkan bahwa Rasulullah saw bersabda: “Barangsiapa yang menjamin untukku (menjaga) antara dua jenggotnya dan antara dua kakinya, niscaya aku jamin untuknya surga.” (HR. Bukhari).

Satu waktu Rasulullah sedang berkumpul bersama para Sahabat, tiba-tiba datang seseorang mencaci Abu Bakar, Abu Bakar diam dan tidak mengomentari. Kemudian kembali ia mencaci Abu Bakar, Abu Bakar tetap diam dan tidak mengomentari. Ketiga kali ia kembali mencaci, maka Abu Bakar mengomentarinya. Kemudian Rasulullah beranjak meninggalkan majelis. Abu Bakar mengikuti Rasulullah dan bertanya: “Apakah engkau marah kepadaku wahai Rasulullah? Rasulullah menjawab: “Malaikat turun dari langit yang menyalahkan perkataan orang tadi, namun saat engkau mengomentarinya datanglah setan, dan aku tidak mendatangi tempat jika di sana setan hadir”.(HR. Abu Dawud).

Betapa pentingnya menjaga lisan, hingga bisa diumpamakan lisan bagai simbol dan icon dari beragam amal perbuatan seseorang. Rasulullah bersabda: “Setiap kali manusia memasuki pagi hari maka seluruh anggota tubuh merendahkan lisan dan berkata kepadanya: takutlah kepada Allah dalam bersama kami, karena kami tergantung kepadamu, jika kamu baik kami ikut baik, dan jika kamu menyimpang kami jadi menyimpang juga”. (HR. At-Tirmidzi).

Sebagaimana hati, sejauh mana penjagaan dan pengendalian terhadap lisan, hal tersebut bisa menjadi ukuran amal perbuatan seseorang. Maka, antara hati dan lisan saling berkaitan dan mempengaruhi amal perbuatan. Rasulullah saw bersabda: “Tidak lurus iman seseorang hingga lurus hatinya, dan tidak lurus hati seseorang hingga lurus lisannya”. (HR. Ahmad).

Menjaga lisan berarti tidak berbicara atau berugkap kecuali dengan baik, menjauhi perkataan buruk seperti kata kotor, menggossip (ghibah), fitnah dan adu domba.

Setiap manusia dimintai pertanggungjawaban atas setiap perkataan dan ungkapannya. Firman Allah berbunyi: “Tiada suatu ucapanpun yang diucapkannya melainkan ada di dekatnya malaikat pengawas yang selalu hadir”. (QS. Qaaf: 18).

Batasan (Adab) berbicara dalam Islam:

a. Tidak berbicara kecuali dengan apa yang bisa mendatangkan kebaikan dan manfaat atau mencegah keburukan bagi dirinya atau orang lain.

b. Mencari waktu yang tepat, sebagaimana kata hikmah: “Setiap tempat dan waktu ada pembicaraannya tersendiri”

c. Memilih bahasa yang digunakan. Bahasa bisa menjadi tanda dan cermi bagi akal dan adab seseorang

d. Tidak berlebihan dalam memuci dan mencela. Belebihan dalam memuji adalah bentuk dari riya’ dan mencari muka, dan berlebihan dalam mencela adalah bentuk dari permusuhan dan balas dendam.

e. Tidak membuat manusia menjadi senang dengan mengucapkan apa-apa yang mengundang murka Allah. Sabda Rasulullah saw berbunyi: “Siapa yang membuat manusia senang dengan melakukan perkara yang mendatangkan amarah Allah SWT, maka ia dan urusannya akan diserahkan kepada manusia, dan siapa yang membuat manusia marah karena ia melakukan perkara yang membuat Allah ridha, maka Allah akan menjamin baginya perlindungan dari perlakuan manusia”.(HR. At-Tirmidzi).

f. Tidak mengobral janji-janji yang sangat sulit ditepati. Allah SWT berfirman: “”Wahai orang-orang yang beriman, kenapakah kamu mengatakan sesuatu yang tidak kamu kerjakan? Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa-apa yang tidak kamu kerjakan”. (QS. As Shaff:2-3).

g. Tidak berbicara keji dan kotor, dan tidak menyimak orang yang berbicara keji dan kotor.

h. Menyibukkan lisan untuk berzikir.

Bagaimana dengan gosip atau ngomongin aib orang atau dalam bahasa agama disebut ghibah? Memang dalam kondisi tertentu ghibah diperbolehkan.

Gosip atau dalam bahasa Islam adalah ghibah pada dasarnya merupakan diantara penyakit lisan yang sangat berbahaya, sehingga Allah SWT mengumpamakan siapa yang menjelekkan dan membicarakan aib seseorang dengan memakan bangkai saudaranya sendiri. “Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan prasangka, karena sebagian dari prasangka itu dosa. Dan janganlah mencari-cari keburukan orang. Jangan pula menggunjing satu sama lain. Adakah seorang di antara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang.” (QS. Al Hujurat: 12).

Rasulullah pernah menerangkan maksud dari ghibah: “Apakah kalian mengetahui apa itu ghibah? Sahabat menjawab: Allah dan rasulNya yang mengetahui itu. Maka Rasul bersabda: engkau menyebut tentang saudaramu dengan apa yang ia benci. Sahabat bertanya: Jika pada dirinya benar apa yang aku katakan. Rasul menjawab: jika yang engkau sebutkan benar-benar ada pada dirinya, itulah ghibah, dan jika apa yang engkau sebutkan tidak ada pada dirinya itu adalah kedustaanmu atasnya”. (HR. Muslim).

Ghibah menghantarkan kepada permusuhan, terputusnya hubungan silaturahim, menanam benih kebencian dan iri hati. Ghibah bisa merusak ibadah seorang Muslim. Muslim yang berpuasa namun melakukan ghibah, pahala puasanya akan lenyap, begitu juga dengan ibadah lainnya. Diriwayatkan bahwa dua orang perempuan berpuasa pada zaman Rasul saw membicarakan aib seseorang. Rasulullah mengetahui hal itu dan berkata tentang mereka: “Mereka berpuasa dari apa yang dihalalkan, tetapi berbuka dengan apa yang diharamkan”. (HR. Ahmad). Maksudnya mereka berdua berpuasa dari makan dan minum yang hukum awalnya adalah halal, tetapi ketika membicarakan aib seseorang Allah SWT tidak menerima ibadah puasa tersebut, seakan mereka membatalkannya.

Namun demikian ada beberapa kondisi seseorang diperbolehkan menyebut aib seseorang, meski dalam batasan yang diperlukan. Kondisi tersebut:

1. Dalam rangka menyampaikan dakwaan perlakuan zalim kepada hakim.

2. Untuk merubah kemunkaran dan mengarahkan seseorang yang berbuat munkar kepada kebaikan, agar ia kembali ke jalan yang benar dan enggan melakukan keburukan. Hal ini boleh dilakukan jika cara nasehat biasa dan upaya menutupi kemungkaran tidak lagi memberi pengaruh baginya untuk merubah perbuatannya.

3. Berbuat dosa dan kemunkaran secara terang-terangan. Siapa yang melakukan kemunkaran secara terang-terangan, maka boleh dilaporkan agar ia bisa tercegah melakukannya.

4. Dalam rangka menjelaskan seseorang. Jika ada orang yang tidak bisa dikenal kecuali dengan menyebut julukan, misalnya fulan si buta, fulan si hitam, dan lainnya. Itu bokeh dilakukan karena tujuan untuk mengenal seseorang, tetapi tidak boleh jika bertujuan menghina dan meremehkan.

Imam Hasan Al-Bashri berkata: “Ghibah tidak boleh dilakukan kecuali tentang tiga orang; orang fasik yang berbuat dosa secara terang-terangan, orang yang menyebarkan bid’ah dan pemimpin yang sewenang-wenang.Wallahu a’lam.

http://www.ikadi.or.id/

Peta Menuju Kemenangan


Peta Menuju Kemenangan

“Setiap tujuan mempunyai satu proses yang khas,” demikian salah satu isi taujih yang disampaikan Ustadz Abu Ridho.

Ini berarti, tidak pernah ada sebuah kemenangan yang diperoleh tanpa kekuatan tekad, kesungguhan dan sandaran yang benar. Nasehat tersebut beliau sampaikan dalam acara Tasqif Pemenangan yang diadakan DPC PKS Pulogadung, Jakarta Timur, 25 Desember kemarin.

Lantas, bagaimanakah proses yang harus kita lalui untuk kemenangan dakwah? Titik-titik apa sajakah yang perlu kita perhatikan, dan bagaimana peta perjalanan menuju kemenangan itu? Berikut ini catatan singkat saya atas uraian tentang komponen proses menuju kemenangan yang disampaikan salah satu deklarator PKS bernama lengkap Abdi Sumaithi ini.

Untuk mencapai kemenangan, secara garis besar ada dua komponen utama yang sangat menentukan, yaitu bidayatul ‘amal dan khawatimul ‘amal.

Bidayatul ‘Amal

Bidayatul ‘amal itu di dalamnya terkandung “azam” atau tekad. Untuk mencapai tujuan, setiap individu maupun organisasi harus mempunyai tekad, juga niat. Tekad dan niat  harus kuat. Jika tekad dan niat kita lemah, seluruh proses selanjutnya juga akan lemah.

Itulah sebabnya, kata Rosululloh SAW, Innamal a’malu binniyah. Segala sesuatu tergantung kepada niatnya.

Di dalam konteks politik (amal siyasi), azam dan niat tersebut dapat terwujud dan menghantarkan kita kepada tujuan yang ingin kita capai jika terdapat tiga faktor penting di dalamnya. Ketiga faktor tersebut adalah:

Pertama, moralitas yang kuat; setiap orang diantara kita harus teguh, memiliki motivasi yang kuat, sabar, tahan banting, dan tidak mudah menyerah. Kedua, kepemimpinan yang  bijak. Kepemimpinan ini sangat penting dalam menggerakkan organisasi. Ketiga, struktur yang solid. Ini mengingatkan kita untuk tidak saling gontok-gontokan di dalam struktur, harus kompak dan kokoh.

Meskipun masuk ke dalam ranah politik, kita harus mengingat bahwa upaya mencapai tujuan ini tetap ada dalam bingkai “gerakan dakwah”. Karena itu, jangan dilupakan tentang pentingnya unsur Allah. Kedekatan dengan Allah itu justru akan sangat menentukan. Sebab, kemenangan yang kita idam-idamkan itu asalnya pun dari Allah.

Kedekatan dengan Allah itu juga berarti bahwa kita jangan sampai melakukan kemaksiatan. Memang ada kemungkinan kemenangan diberikan kepada mereka yang melakukan kemaksiatan. Kemenangan seperti ini sebetulnya bukan kemenangan sejati, melainkan istidroj. Allah menunda siksanya, untuk suatu saat diberikan hukuman yang jauh lebih berat. Diangkat dulu, baru kemudian diterbalikkan. Agar kemenangan kita bukan istidroj, kita harus berserah diri. Bertawakkal kepada Allah SWT.

Selanjutnya, ketika ketiga faktor tadi sudah terdapat dalam gerakan politik yang kita lakukan, maka akan lahirlah gerakan politik yang memiliki nilai-nilai jihadiyah, itqon dan tawakkal. Sebuah gerakan yang sejak jaman dahulu telah melahirkan banyak kemenangan.

Meskipun demikian, bukan berarti bahwa gerakan politik yang telah memiliki ketiga faktor tadi akan menjamin tercapainya tujuan yang kita cita-citakan. Masih diperlukan faktor-faktor penguat lagi. Faktor pengugat tersebut adalah: istiqomah, istimroriyah, himmah dan jiddiyah.

Istiqomah itu konsisten. Dari keisqomahan atau konsistensi tersebut akan melahirkan faktor penguat yang kedua, yaitu “istimroriyah” atau keberlanjutan. Artinya, usaha-usaha dan kerja-kerja dakwah tersebut bukan hanya kerja satu atau dua kali, tetapi dilakukan secara terus menerus. Tidak hanya pada saat pemilu saja, melainkan sepanjang waktu.

Selain istiqomah dan istimroriyah, juga perlu adanya himmah. Dengan himmah kita tidak akan menentapkan target yang standar atau yang biasa-biasa saja. Tetapi, target-target yang menantang. Target yang tidak alakadarnya akan mempengaruhi seberapa kuat kesungguhan (jiddiyah, faktor keempat) kita dalam mengejar cita-cita tersebut.

Demikianlah proses dan titik-titik dari azam hingga lahirnya sebuah gerakan yang mempunyai nilai-nilai jihadiyah,itqon dan tawakkal kepada Allah SWT.

Khawatimul ‘Amal

Kepada siapa kita arahkan kerja-kerja dakwah yang dilandasi seluruh faktor di atas tadi? Jawabannya tentu saja dua: yaitu kepada mereka-mereka yang ada di dalam (internal) dan yang di keluar (eksternal). Karena itulah, di dalam proses menuju kemenangan, yang juga harus dilakukan selanjutnya adalah konsolidasi dan ekspansi.

Di tahap konsolidasi, yang harus dikonsolidasi adalah opini dan psikologi seluruh kader. Harus ada keseragaman terlebih dahulu di kalangan kader. Konsolidasi dan keseragaman ini sangat penting sebelum melakukan konsolidasi tahap berikutnya, yaitu konsolidasi gerakan.

Sama seperti di tahap bidayatul ‘amal, di tahap konsolidasi ini pun karakter dakwah yang mendasari seluruh gerakan kepada hanya Allah tetap harus menonjol. Maka, yang dikonsolidasi bukan hanya manusia dan lingkungan, jiwa dan raga kita juga harus dikonsolidasi kembali dan didekatkan lagi kepada Allah. Ini karakter dakwah, sehingga gerakan yang kita lakukan tetap menunjukkan bahwa yang kita cari adalah ridho Allah.

Dengan mendekatkan diri kepada Allah ini, insyaAllah yang akan mendapatkan ta’yidulloh atau dukungan Allah SWT.

Begitu juga dukungan publik, insyaAllah akan kita dapatkan pula. Syaratnya, kita melakukan langkah-langkah yang kita sebut dengan langkah ekspansif.

Jadi, bukan hanya mengarahkan kerja-kerja dakwah dalam bentuk penyebaran opini, gagasan, psikologi maupun gerakan ke kalangan internal, melainkan juga ke eksternal, ke masyarakat umum dan lingkaran yang lebih luas lagi.

Sampai di sini, kerja-kerja dakwah menuju kemenangan hampir sempurna. Meskipun demikian, kita tidak boleh melupakan masa-masa yang disebut dengan “masa kritis”, yaitu masa di mana serangan-serangan mungkin menghantam perjalanan kita menuju kemenangan.

Mulai dari munculnya badai krisis, saat meningkat maupun mereda, yang harus kita lakukan adalah tetap tegar, sabar, dan waspada. Jangan lengah karena mungkin saja saat mereda, muncul lagi badai-badai lain yang lebih besar.

Selanjutnya adalah tahap yang disebut khawatimul a’mal. Di sinilah kita diuji untuk menuntaskan seluruh proses dari awal hingga akhir dengan baik. Kerja-kerja yang kita lakukan harus tetap kita tujukan untuk mencapai cita-cita yang kita rancang sejak awal.

Manakala seluruh proses itu kita lewati, dan kita bisa finishing seluruh proses dengan benar dan tetap sesuai dengan tujuan awal, di titik inilah kita sampai pada kemenangan, yaitu sukses mencapai cita-cita politik kita.

Inilah peta menuju kemenangan. Pengurus-pengurus di struktur partai maupun kader bisa menyusun kerangka acuan ini menjadi bagian yang lebih rinci lagi. Sehingga setiap orang dapat mengetahui apa-apa saja yang harus dilakukan.

*by Mochamad Husni
@mochus

 “MENJEMPUT KEMENANGAN”


 “MENJEMPUT KEMENANGAN”

TAUJIH PRESIDEN PARTAI KEADILAN SEJAHTERA
UST. HM. ANIS MATTA, LC
بسم الله الرحمن الرحيم
الحمد لله الذي ألف بين قلوبنا وجعلنا إخوانا متحابين عاملين داعين مجاهدين في سبيله
أحييكم معاشر الإخوان والأخوات جميعا بالتحية الإسلام
السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

Ikhwan dan akhwat sekalian yang saya cintai.

Alhamdulillah sampailah kita akhirnya pada sesi terakhir dari election update yang telah kita mulai kemarin. Dan Saya mengikuti acara ini dari awal  sampai akhir. Dan merasakan bahwa confidence kita, kepercayaan diri kita, secara kolektif tumbuh jauh lebih bagus dari pada sebelumnya. Ini election update terbaik yang pernah kita adakan dibanding yang pertama dan yang kedua. Kita juga merasakan bahwa  aura dari election update yang ke tiga ini rasaya jauh lebih positif, jauh lebih cerah dan jauh lebih percaya diri dari pada bulan-bulan sebelumnya.

Ikhwah sekalian,
Pada kesempatan ini saya ingin menyampaikan tiga hal. Yang pertama adalah pada awal-awal saya diberi amanah sebagai presiden. Hampir semua taujih-taujih yang saya sampaikan, saya menyampaikan satu hal yang sangat penting. Yaitu masalah almuayyasah al ‘amaliyah ma’al qur’aan. Bagaimana kita bermuayyasah (berinteraksi -ed) secara amaliyah dengan alqur’an sepanjang kita menghadapi  semua tantangan, semua badai yang sedang berlangsung.  Karena ini adalah momentum yang paling bagus untuk mentarbiyah diri kita semuanya.  Baik secara  individu maupun secara  jama’iy melalui cobaan-cobaan yang kita hadapi.

Begitu juga –ikhwah sekalian- Saya menyampaikan beberapa surat untuk kita pelajari secara lebih seksama. Dari setiap milestone saya menyebutkan surat-surat yang kita pelajari itu semuanya. Dan Saya kira sedikit atau banyak kita semuanya sudah mendapatkan banyak sekali inspirasi dari surat-surat itu.

Ikhwah sekalian,
Dari pengalaman kita baik dalam muayyasah dengan quran maupun dengan inspirasi yang kita peroleh di lapangan. Saya kira setidak-tidaknya kita mendapatkan tiga hal;

Yang pertama adalah semua tantangan yang diberikan oleh Allah SWT kepada kita itu adalah  merupakan cara Allah SWT untuk meningkatkan kadar keikhlasan ‘ubudiyah kita kepada-Nya. Atau ikhlaashul ‘ubuudiyah lillaah.  Supaya kita melakukan reorientasi, memperbaiki niat kembali, memperbaiki arah hidup. Bahwa pada akhirnya niat awal kita semuanya terlibat dalam pergerakan ini adalah niat ibadah dan dakwah. Dan niat itu harus terus menerus kita pertahankan dalam semua situasi yang kita hadapi.

Semua cobaan-cobaan yang diberikan Allah SWT kepada kita bertujuan menyadarkan kita kita tentang qudratullah (keMaha berdayaan Allah SWT) sekaligus juga kelemahan kita. Oleh karena itu yang ingin dilihat oleh Allah SWT dari kita semuanya sebagai hambaNya dalam situasi seperti ini adalah Al inkisaar. Al Inkisaar ini adalah orang yang merasa seperti luluh lantak dihadapan Allah SWT. Supaya kita merasakan bahwa pada akhirnya kita ini tidak punya apa-apa di hadapan Allah SWT. Dan pada akhirnya semua daya kita itu adalah pemberian Allah SWT. Saya kira penting masalah-masalah seperti ini untuk kita hadirkan terus menerus dalam sepanjang jalan perjuangan kita semuanya. Supaya semua kelelahan yang telah kita rasakan dalam perjuangan ini. Begitu juga semua pengorbanan yang sudah kita keluarkan tidak hilang sia-sia. Karena dari awalnya kita sadar bahwa ini semuanya untuk Allah SWT.

***

Yang kedua ikhwah sekalian. Pada bulan-bulan inilah, kira-kira dari Februari sampai Sekarang. Sepuluh bulan lamanya. Kita merasakan apa artinya sabar. Dan kalau kita belajar dari qur’an –ikhwah sekalian- sifat yang paling banyak diulangi di dalam qur’an itu adalah sabar. Antum bandingkan kata sabar dalam alqur’an dengan semua akhlak yang lainnya, sabarlah paling banyak terulang. Sehingga para ulama mengatakan sabar itu adalah Ummul Akhlaq (ibunya semua akhlak yang terpuji).

Sabar itu –ikhwah sekalian- dalam  qur’an misalnya berhubungan dengan kemampuan orang untuk survival, untuk bertahan. Misalnya Allah SWT mengatakan :

{ وَلَنَبْلُوَنَّكُمْ بِشَيْءٍ مِنَ الْخَوْفِ وَالْجُوعِ وَنَقْصٍ مِنَ الْأَمْوَالِ وَالْأَنْفُسِ وَالثَّمَرَاتِ} [البقرة: 155

Tanpi antum perhatikan ikhwan-akhwat sekalian. Sebelum Allah sampai pada ayat

{وَبَشِّرِ الصَّابِرِينَ (155) الَّذِينَ إِذَا أَصَابَتْهُمْ مُصِيبَةٌ قَالُوا إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ} [البقرة: 155، 156

Allah SWT mengatakan, antum perhatikan alqur’an menggunakan kata nakirah.

وَلَنَبْلُوَنَّكُمْ بِشَيْءٍ

Dengan sedikit, tidak banyak. Bi syai-in minal khauf. Rasa takut. Dan saya pikir-pikir hampir kita semuanya sepanjang bulan-bulan ini seperti nasibnya Nabi Musa AS.

{فَأَصْبَحَ فِي الْمَدِينَةِ خَائِفًا يَتَرَقَّبُ } [القصص: 18

Setelah beliau membunuh orang, maka Nabi Musa  berada dalam kota itu dalam keadaan takut dan waspada, was-was. Bahkan ketika beliau mendapatkan berita bahwa beliau akan dibunuh. Kalimat nya diulangi kembali oleh qur’an:

{فَخَرَجَ مِنْهَا خَائِفًا يَتَرَقَّبُ } [القصص: 21

Jadi nasib kita ini mirip. Berada dalam tekanan selama berbulan-bulan dan rasanya tidak selesai sampai sekarang. Dan mungkin tidak akan selesai entah sampai kapan. Tapi kita merasakan bahwa kita ada dalam kondisi jiwa yang sama seperti  itu. Dan ini yang dimaksud dalam qur’an.. wanabluwakum bi syai-in minal khaufi wal juu’iy.  Kita juga merasakan keterbatasan sumber daya.  Saya mengatakan kepada banyak ikhwah sepanjang kita melakukan jaulah. Yang ikut beserta saya. Selama kita menghadapi musibah ini sebaiknya kita tidak meminta tolong kepada orang lain. Karena muka kita lagi jelek.  Kita atasi persoalan kita sendiri dengan cara kita sendiri, dengan sumber daya kita sendiri, dengan kantong kita sendiri. Sebab apa yang paling penting untuk kita tunjukkan dalam situasi seperti  itu adalah menjawab pertanyaan mendasar sejauh mana kita bisa bertahan  dalam keadaan dimana kita hanya  benar-benar mengandalkan kemampuan kita sendiri tanpa orang lain. Dan supaya kita membuktikan kepada diri kita dan juga kepada orang lain. Bahwa kita ini serius menolong agama kita sendiri. Serius menolong nilai-nilai perjuangan kita dan cita-cita kita semuanya.

Kadang-kadang ikhwah sekalian,  ada situasi  yang kita hadapi bukan hanya dalam politik, dalam kehidupan dakwah secara umum. Tapi yang sekarang kita rasakan. Ada situasi seperti yang dihadapi oleh nabi Yunus. Terjebak dalam situasi dimana tidak ada lagi yang bisa dilakukan oleh manusia. Coba antum bayangkan seandainya kita berada dalam perut ikan seperti itu dan tidak ada lagi yang bisa kita lakukan. Tapi tidak mati juga, Cuma kita ada dalam situasi seperti itu.  Yang membuat orang bertahan dalam situasi seperti itu adalah sabar dan tetap berharap. Karena itu kalau kita lihat –ikhwah sekalian- doa nabi yunus itu adalah doa yang sangat sederhana.

{لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ سُبْحَانَكَ إِنِّي كُنْتُ مِنَ الظَّالِمِينَ} [الأنبياء: 87

Laa ilaaha ilaa anta subhanaka inni kuntu minazhzhaalimiin.

Itu bukan doa tapi pengakuan dosa. Jadi ada  situasi dimana seperti itu. Dan karena itu ikhwah sekalian, sabarlah yang membuat orang itu bertahan hidup dan survive dalam situasi yang paling sulit. Saya kira kita akan menghadapi tekanan jiwa dan tekanan finansial ini dan juga kekurangan dukungan dst. Sampai kita pemilu. Tetapi kita mesti dari sini mengukur kemampuan kita untuk bertahan. Tapi yang menarik –ikhwah sekalian- sabar ini juga di dalam qur’an dihubungkan dengan kepemimpinan.

{وَجَعَلْنَا مِنْهُمْ أَئِمَّةً يَهْدُونَ بِأَمْرِنَا لَمَّا صَبَرُوا} [السجدة: 24

Kenapa Ikhwah sekalian? Apa yang paling berat dalam politik itu adalah waktu kita berada dalam satu situasi dimana satu-satunya hal yang paling bijak yang kita lakukan pada saat itu adalah diam. Itu situasi yang sangat berat. Kita mau bergerak tapi memang situasi menuntut kita diam. Dan itu yang membuat banyak orang melakukan kesalahan dalam politik adalah ketika seharusnya dia diam, dia bergerak. Dan dalam satu hadist Rasulullah saw mengatakan, “akan datang satu fitnah kepada manusia…

الًقَاعِدُونَ فِيْهَا خَيْرٌ مِنَ الْقَائِمِ وَ الْقَائِمُ فِيْهَا خَيْرٌ مِنَ الْمَاشِي

Yang duduk pada waktu itu lebih baik dari pada yang berjalan. Dan yang berjalan pada waktu  lebih baik dari pada yang berdiri.

Jadi ikhwah sekalian, Itu yg membuat orang menjadi pemimpin karena dia mampu mengendalikan diri dalam situasi yang paling sulit seperti itu. Dalam situasi serba kekurangan. Dan karena itu –ikhwah sekalian-, salah satu pengalaman menarik secara spiritual itu adalah pada waktu Rasulullah SAW menghadapi embargo selama tiga tahun. Begitu embargo itu selesai ikhwah sekalian, surat yang turun itu adalah surat adh-dhuha dan surat al insyirah. Dua surat itu semuanya, itu memperkuat nilai-nilai keyakinan Rasulullah SAW tentang hal ini.

Saya merasa penting untuk mengungkap kembali hal ini  -ikhwah sekalian-. Karena kita akan memasuki tahapan-tahapan akhir dari perjuangan kita ini. Dan ini membutuhkan energy yang jauh lebih besar,  kesabaran yang jauh lebih besar. Dan disinilah kita membuktikan apakah kita bisa memimpin atau benar-benar tidak bisa memimpin.

***

Yang ketiga ikhwah sekalian, kita juga merasakan bahwa salah satu sisi penting dari tarbiyah qur’aniyah itu adalah menyadari apa dimaksud oleh quran itu dengan istilah taufik. Karena kita juga tahu dalam politik itu  momentum itu nilai yang sangat penting (timing). Dan yang dimaksud taufik itu adalah

الْتِقاء الإِرَادَةِ الإِلَهِية مَعَ الإِرَادَةِ البَشَرِيَة فِي الزَمَانِ المُنَاسِب وَ الْوَقْتِ الْمُنَاسِبِ وَ الْمَكَانِ المُنَاسِبِ

(iltiqaaul iraadah ilaahiyah ma’al iraadah basyariyah fi zamaanil munaasib wal waqtil munaasib wal makaanil munaasib.)

Bertemunya kehendak Allah daan harapan manusia pada waktu yang tepat dan tempat yang tepat.

Kita semua adalah orang yang percaya kepada takdir. Tetapi kita  tidak pernah tahu apa yang ditakdirkan kepada kita.Sehingga kita adalah orang yang terus menerus berusaha meraba, menemukan, mencari tahu apa sesungguhnya takdir kita itu. Dan saya kira –ikhwah sekalian- pelajaran yang paling penting sepanjang bulan-bulan ini yang saya rasakan setidak-tidaknya secara pribadi adalah bahwa ternyata tingkat ketepatan kita itu tidak pernah benar-benar bisa kita rencanakan. Jadi apa yang kita maksud dengan terburu-buru atau terlambat, timing. Itu tidak pernah kita benar-benar bisa tahu. Dan itu murni sepenuhnya adalah takdir Allah SWT. Sebab kita bergerak  dalam situasi dimana sebagian besar komponen-komponen perubahan itu tidak ada dalam kendali kita.  Dan satu-satunya cara untuk menghadirkan semua komponen-komponen  seperti yang kita inginkan itu adalah menyelesaikan apa yang menjadi kewajiban kita sebagai hamba dan sisanya menyerahkannya kepada  Allah SWT. Biarlah Dia  yang mengaturnya dengan caranya sendiri.

Seperti sekarang ketika selama dua hari ini kita membicarakan soal capres. Kita tidak tahu apakah ini momentumnya tepat atau tidak. Tetapi yang bisa kita lakukan itu adalah memfirasati zaman, memfirasati waktu. Dan berharap-harap bahwa kira-kira yang ada dalam takdir Allah SWT juga akan begini jadinya.

Tetapi  masalah ini ikhwah sekalian, saya penting menghadirkan makna ini kembali supaya dalam proses pengambilan keputusan kita semuanya dan dalam cara kita melangkah. Kita  menghadirkan tiga makna ini dalam satu rangkaian sekaligus: Ikhlaashul ‘ubuudiyati lillaah, ash-shabru wal mushaabarah dan raja-ut taufiiq ilaahiy.

Karena nilai keputusan ini bisa dianggap tepat pada hari ini dalam pandangan kasat mata kita. Tapi belum tentu tepat bagi kita. Sama seperti ketika orang lain mungkin merencanakan makar kepada kita, dari situlah datangnya makar Allah kepada mereka. Jadi makna-makna ini ikhwah sekalian adalah ma’aani ruuhiyyah. Makna-makna spiritual ini perlu kita hadirkan kembali. Dan dengan makna-makna spiritual ini kita memberikan al-lamsar ruuhiyyah lil ‘amaliyatis siyaasiyyah. Kita memberikan sentuhan spiritual yang kuat dalam seluruh kerja-kerja politik kita. Dan kalau ada yang menjelaskan mengapa pada dua hari ini kita tampak mempunyai confinden yang jauh lebih bagus. Aura kita jauh lebih bagus. Saya kira karena itu adalah bagian dari pengejawantahan tiga makna yang saya sebutkan tadi itu.

***

Ikhwah sekalian,
Point kedua yang ingin saya sampaikan adalah masalah sepanjang bulan-bulan ini juga. Rasanya kita telah mengembangkan apa yang saya sebut dengan al-kafaa-ah siyaasiyyah,  kemampuan politik kita. Baik dalam pemahaman maupun dalam performan. Saya termasuk yang selalu percaya bahwa satu partai yang ingin menjadi besar memang mesti menghadapi tantangan yang lebih besar. Dan makin besar tantangan yang kita hadapi, itu juga berarti bahwa kita menghadapi satu proses penggemblengan lapangan secara langsung yang mengupgrade kemampuan kita bekerja. Jauh lebih baik dibanding ketika kita tidak menghadapi tantangan-tantangan seperti ini.

Dan salah satu manfaat dari musibah-musibah yang menimpa kita itu adalah dia membuka mata kita kepada kelemahan-kelemahan kita. Tapi pada waktu yang sama, dia  juga membuka mata kita kepada kelebihan-kelebihan dan kekuatan-kekuatan kita  yang mungkin selama ini kita tidak sadari. Kalau ada satu hal yang pantas kita catat suatu waktu, lima, sepuluh tahun, dua puluh tahun yang akan datang tentang periode ini. Menurut saya diantara bagian yang paling penting adalah bahwa kita telah  memberikan pelajaran kepada diri kita sendiri dan kepada orang lain di luar sana. Bagaimana caranya untuk tetap menjadi solid dan militan dalam keadaan yang paling sulit.  Belum tentu dalam keadaan damai kita bisa menjadi solid dan militan seperti sekarang. Tapi bulan-bulan ini kita belajar luar biasa. Mengatasi semua keterbatasan kita, menghadapi masalah di dalam , menghadapi masalah di luar dan seterusnya. Dan kita bisa tetap menunjukkkan  soliditas  dan mengelola sebuah organisasi yang besar dalam sebuah Negara yang besar. Dan bisa eksis dalam situasi seperti ini. Itu adalah  suatu pelajaran yang pantas untuk dipelajari. Tidak sekarang tapi beberapa tahun yang akan datang. Insya Allah…

Dan antum semua adalah bagian dari pelaku yang menciptakan pelajaran penting itu. Saya selalu perlu mengulangi persoalan ini. Karena kita ini, PKS ini tumbuh dengan tradisi kerendahan hati. Karena itu biasanya kita juga terbiasa underestimate bahkan dengan diri kita sendiri. Kemarin di Babel (Bangka Belitung) saya menyampaikan ke ikhwah. Ini ada angka-angka yang kalau konstruksi ini tidak gampang konstruksinya. Dihitung-hitung dalam situasi yang paling buruk ini, dengan menang di dua pilkada besar untuk Gubernur (Jabar, Sumut). Total populasi yang kita pimpin di republik ini 60 juta. Atau sama dengan 45% dari total penduduk republik Indonesia. Kalau ini kita compare, bandingkan dengan angka-angka yang lain. Kira-kira ini dua kalinya syiria, tiga kalinya irak, hampir tiga kalinya Malaysia. Dan kalau seluruh Negara teluk digabung, kira-kira sekitar tiga kali lipat. Hampir sama dengan Iran wilayah ini. Hampir sama dengan Turki, hampir sama dengan Mesir tidak terlalu jauh bedanya. Dua kalinya Maroko, sepuluh kalinya Lybia, enam kalinya Tunisia.

Jadi ikhwah sekalian antum ini tidak memimpin wilayah yang kecil. Tapi kita tidak menyadari. Setiap hari kita mengkritik gubernur kita dan kita sendiri tidak puas dengan performan mereka itu. Kita tidak merasa cukup besar. Jadi mengelola satu organisasi yang besar seperti ini. Ini tidak gampang. Dalam situasi yang sangat sulit seperti ini, kita bisa mempertahankan soliditas dan militansi seperti yang kita rasakan sekarang ini. Menurut saya ini adalah bagian yang pantas untuk kita pelajari dalam perjalanan organisasi kita ini beberapa tahun ke depan. Dan sekali lagi antum semua adalah pelaku utama dari periode ini.

Begitu juga ikhwah sekalian, pemahaman kita tentang politik ini jauh berkembang lebih baik dari pada sebelumnya. Saya kira kita mulai sampai pada satu keseimbangan, satu iklim baru tentang apa yang selama ini kita pertentangkan. Misalnya antara idealisme dan pragmatisme.

Saya kira kita tidak pernah –Insyaa Allaah-  kehilangan idealisme kita. Tapi yang berkembang itu adalah fiqhul waaqi’ kita itu jauh lebih bagus dari pada tahun-tahun sebelumnya. Dan karena itu cara kita melakukan mu’aalajatul waaqi’  itu juga jauh lebih bagus dari tahun-tahun sebelumnya. Kita tidak berubah menjadi sangat pragmatis sebagaimana yang mungkin kita tuduhkan kepada diri kita sendiri.  Tetapi kita menjadi jauh lebih realistis, jauh lebih sabar mengelola situasi kita karena pengetahuan kita tentang realitas jauh lebih detil dari pada tahun-tahun sebelumnya. Dan ini satu nilai ikhwah sekalian, yang sejak lama dalam hampir semua ceramah saya. Dalam tulisan-tulisan saya. Konsep tentang apa yang saya sebut dengan learning  organization. Organisasi pembelajar yang terus menerus belajar. Dan dalam proses belajar itu kita mengalami proses jatuh bangun, jatuh bangun, jatuh bangun. Ada gagal dan seterusnya. Tetapi yang muncul itu ikhwah sekalian adalah satu mindset baru, satu kemampuan  berfikir baru yang tidak mungkin kita punyai kecuali kalau kita terjun ke lapangan. Ini yang saya sebut dengan al-‘aqliyah tajribiyah (akal empiris). Kita tumbuh dengan cara berfikir normative dan salah satu kelemahan umat Islam itu adalah emosinya kepada idiologi terlalu kuat. Tapi begitu dia mengalami benturan di lapangan. Dia berlari kembali kepada normanya, dia meninggalkan lapangan. Kenapa? Karena ada yang kosong dalam struktur pengetahuannya, dalam struktur pemikirannya yaitu bahwa dia tidak mempunyai apa yang disebut dengan al-‘aqliyah tajribiyah.

Pengalaman itu ikhwah sekalian adalah sesuatu yang terbuka untuk dipelajari. Dan jangan pernah mengharamkan diri kita untuk gagal pada suatu waktu. Karena kegagalan itu sendiri adalah materi pembelajaran. Dan kalau ada hal yang lebih penting menurut saya dalam proses pencapaian kita semuanya ini adalah  tumbuhnya kemampuan berfikir empiric yang ada dalam diri kita sekarang ini. Dan karena itu kita mulai bisa menerapkan ilmu pengetahuan dalam hampir semua aspek cara kita bekerja.  Mudah-mudahan dengan cara seperti ini, kita mentransformasi diri kita secara perlahan-lahan menjadi salah satu model dari apa yang sekarang disebut orang dengan knowledge society (masyarakat berpengetahuan).  Yang menggunakan pengetahuannya sebagai sebuah fungsi untuk memperbaiki kinerjanya dari waktu ke waktu.

Menurut saya –ikhwah sekalian- pencapaian-pencapaian seperti ini dalam organisasi kita dalam pertumbuhan jama’ah kita. Ini penting untuk terus menerus kita catat. Karena ini mempunyai implikasi yang sangat panjang dalam daya tahan organisasi ini melawan waktu yang panjang di masa yang akan datang. Dan saya kira dalam hal ini kita mudah-mudahan insyaa Allah  ada dalam on the track belajar secara jauh lebih bagus dari proses-proses yang kita alami selama ini. Dan sekali lagi ikhwah sekalian, nilai ini. Ini yang saya maksud dengan  Peningkatan pada kafaa-ah siyaasiyah kita fahman wa adaa-an. Baik dalam pemahaman, dalam pembentukan, penyempurnaan dan struktur berfikir kita semuanya maupun dalam kemampuan kerja kita semuanya. Saya kira ini adalah suatu prestasi yang pantas kita catat dan ini adalah hikmah yang kita peroleh sepanjang bulan-bulan kita menghadapi tantangan-tantangan berat ini.

*Disampaikan pada PENUTUPAN ELECTION UPDATE III PKS

Mereka Adalah Orang-Orang Yang Sia-Sia Amalnya


Mereka Adalah Orang-Orang Yang Sia-Sia Amalnya

Oleh: Farid Nu’man Hasan

A. Mukadimah

Beramal adalah perintah agama, yaitu amal yang baik-baik. Amal itulah yang membedakan manusia satu dengan lainnya, bahkan yang membedakan kedudukannya di akhirat kelak. Lalu, semua manusia akan ditagih tanggung jawabnya masing-masing sesuai amal mereka di dunia.

Allah Ta’ala berfirman tentang kewajiban beramal:
وَقُلِ اعْمَلُوا فَسَيَرَى اللَّهُ عَمَلَكُمْ وَرَسُولُهُ وَالْمُؤْمِنُونَ وَسَتُرَدُّونَ إِلَى عَالِمِ الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ فَيُنَبِّئُكُمْ بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ
Dan Katakanlah: “Ber-amalah kamu, Maka Allah dan Rasul-Nya serta orang-orang mukmin akan melihat pekerjaanmu itu, dan kamu akan dikembalikan kepada (Allah) yang mengetahui akan yang ghaib dan yang nyata, lalu diberitakan-Nya kepada kamu apa yang telah kamu kerjakan. (QS. At Taubah (9): 105)
Allah Ta’ala berfirman tentang kedudukan yang tinggi bagi orang yang beramal shalih:
وَمَنْ يَأْتِهِ مُؤْمِنًا قَدْ عَمِلَ الصَّالِحَاتِ فَأُولَئِكَ لَهُمُ الدَّرَجَاتُ الْعُلَا
Dan barangsiapa datang kepada Tuhannya dalam keadaan beriman, lagi sungguh-sungguh telah beramal saleh, maka mereka itulah orang-orang yang memperoleh tempat-tempat yang tinggi (mulia) . (QS. Thaha (20): 74)
Allah Ta’ala berfirman tentang tanggung jawab perbuatan manusia:
كُلُّ نَفْسٍ بِمَا كَسَبَتْ رَهِينَةٌ
Tiap-tiap diri bertanggung jawab atas apa yang telah diperbuatnya (QS. Al Muddatsir (74): 38)
Allah Ta’ala berfirman tentang baik dan buruk amal manusia akan diperlihatkan balasannya:
فَمَنْ يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ خَيْرًا يَرَهُ وَمَنْ يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ شَرًّا يَرَهُ
Barangsiapa yang mengerjakan kebaikan seberat dzarrahpun, niscaya Dia akan melihat (balasan)nya. dan Barangsiapa yang mengerjakan kejahatan sebesar dzarrahpun, niscaya Dia akan melihat (balasan)nya pula. (QS. Az Zalzalah (99): 7-8)
Demikianlah, keadaan manusia di akhirat kelak tergantung amalnya di dunia.
B. Beramal tetapi Sia-Sia

 

Allah Ta’ala telah menyebutkan bahwa manusia yang melaksanakan amal shalih, akan mendapatkan balasan kebaikan untuknya, walau kebaikan itu sebesar dzarrah. Namun, Allah Ta’ala juga menyebutkan adanya manusia yang bangkrut dan sia-sia amalnya, lenyap tak memiliki manfaat bagi pelakunya, karena kesalahan mereka sendiri. Siapakah mereka?
Orang Kafir
Banyak ayat yang menyebutkan kesia-siaan amal mereka. Walaupun manusia memandangnya sebagai amal shalih, tetapi amal tersebut tidak ada manfaatnya bagi mereka karena kekafiran mereka kepada Allah dan RasulNya, dan syariatNya pula.
Di sini, kami akan sebutkan beberapa ayat saja:
قُلْ هَلْ نُنَبِّئُكُمْ بِالْأَخْسَرِينَ أَعْمَالًا الَّذِينَ ضَلَّ سَعْيُهُمْ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَهُمْ يَحْسَبُونَ أَنَّهُمْ يُحْسِنُونَ صُنْعًا أُولَئِكَ الَّذِينَ كَفَرُوا بِآيَاتِ رَبِّهِمْ وَلِقَائِهِ فَحَبِطَتْ أَعْمَالُهُمْ فَلا نُقِيمُ لَهُمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَزْنًا
Katakanlah: “Apakah akan Kami beritahukan kepadamu tentang orang-orang yang paling merugi perbuatannya?” Yaitu orang-orang yang telah sia-sia perbuatannya dalam kehidupan dunia ini, sedangkan mereka menyangka bahwa mereka berbuat sebaik-baiknya. Mereka itu orang-orang yang telah kufur terhadap ayat-ayat Tuhan mereka dan (kufur terhadap) perjumpaan dengan Dia, maka hapuslah amalan- amalan mereka, dan Kami tidak mengadakan suatu penilaian bagi (amalan) mereka pada hari kiamat. (QS. Al Kahfi (18): 103-105)
Yaitu mereka telah mengingkari Al Quran dan tanda-tanda kebesaranNya, mengingkari hari akhir dan hisab. Mereka menyangka itu adalah perbuatan baik, padahal itu adalah kekufuran yang membuat terhapusnya amal-amal mereka.
Imam Bukhari meriwayatkan dalam Shahihnya, bahwa Sa’ad bin Abi Waqqash ditanya oleh anaknya sendiri, siapakah yang dimaksud ayat (Katakanlah: “Apakah akan Kami beritahukan kepadamu tentang orang-orang yang paling merugi perbuatannya?”):
أهم الحَرُورية؟ قال: لا هم اليهود والنصارى
Apakah mereka golongan Haruriyah (khawarij)? Beliau menjawab: “Bukan, mereka adalah Yahudi dan Nasrani.” (Riwayat Bukhari No. 4728)
Dalam ayat lain:
وَقَدِمْنَا إِلَى مَا عَمِلُوا مِنْ عَمَلٍ فَجَعَلْنَاهُ هَبَاءً مَنْثُورًا
Dan Kami hadapkan segala amal yang mereka kerjakan, lalu Kami jadikan amal itu (bagaikan) debu yang berterbangan. (QS. Al Furqan (25): 23)
Dalam ayat lain:
وَالَّذِينَ كَفَرُوا أَعْمَالُهُمْ كَسَرَابٍ بِقِيعَةٍ يَحْسَبُهُ الظَّمْآنُ مَاءً حَتَّى إِذَا جَاءَهُ لَمْ يَجِدْهُ شَيْئًا
Dan orang-orang kafir amal-amal mereka adalah laksana fatamorgana di tanah yang datar, yang disangka air oleh orang-orang yang dahaga, tetapi bila didatanginya air itu Dia tidak mendapatinya sesuatu apapun. dan didapatinya (ketetapan) Allah disisinya, lalu Allah memberikan kepadanya perhitungan amal-amal dengan cukup dan Allah adalah sangat cepat perhitungan-Nya. (QS. An Nuur (24): 39)
Imam Ibnu Katsir Rahimahullah menerangkan:
فهو للكفار الدعاة إلى كفرهم، الذين يحسبون أنهم على شيء من الأعمال والاعتقادات، وليسوا في نفس الأمر على شيء، فمثلهم في ذلك كالسراب الذي يرى في القيعان من الأرض عن بعد كأنه بحر طام
Ini adalah bagin orang kafir yang menyeru kepada kekafiran mereka, yaitu orang-orang yang menyangka bahwa mereka beruntung dengan amal dan keyakinan mereka, padahal urusan mereka itu bukanlah apa-apa, perumpamaan mereka itu seperti fatamorgana yang dilihat di tanah datar dari kejauhan seolah seperti lautan yang amat luas. (Tafsir Al Quran Al ‘Azhim, 6/70)
Para ulama telah membuat klasifikasi (ashnaaf) kaum kafirin sebagai berikut, sebagaimana disebutkan oleh Imam Al Kisani Rahimahullah:
صِنْفٌ مِنْهُمْ يُنْكِرُونَ الصَّانِعَ أَصْلاً ، وَهُمُ الدَّهْرِيَّةُ الْمُعَطِّلَةُ .
وَصِنْفٌ مِنْهُمْ يُقِرُّونَ بِالصَّانِعِ ، وَيُنْكِرُونَتَوْحِيدَهُ ، وَهُمُ الْوَثَنِيَّةُ وَالْمَجُوسُ .
وَصِنْفٌ مِنْهُمْ يُقِرُّونَ بِالصَّانِعِ وَتَوْحِيدِهِ ، وَيُنْكِرُونَ الرِّسَالَةَ رَأْسًا ، وَهُمْ قَوْمٌ مِنَ الْفَلاَسِفَةِ .
وَصِنْفٌ مِنْهُمْ يُقِرُّونَ الصَّانِعَ وَتَوْحِيدَهُ وَالرِّسَالَةَ فِي الْجُمْلَةِ ، لَكِنَّهُمْ يُنْكِرُونَ رِسَالَةَ نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَهُمُ الْيَهُودُ وَالنَّصَارَى
Kelompok yang mengingkari adanya pencipta, mereka adalah kaum dahriyah dan mu’aththilah (atheis).
Kelompok yang mengakui adanya pencipta, tapi mengingkari keesaanNya, mereka adalah para paganis (penyembah berhala) dan majusi.
Kelompok yang mengakui pencipta dan mengesakanNya, tapi mengingkari risalah yang pokok, mereka adalah kaum filsuf.
Kelompok yang mengakui adanya pencipta, mengesakanNya, dan mengakui risalahNya secara global, tapi mengingkari risalah Nabi kita Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, mereka adalah Yahudi dan Nasrani. (Al Bada’i Ash Shana’i, 7/102-103, lihat juga Al Mughni, 8/263)
C. Orang Musyrik 

 

Amal shalih orang musyrik juga akan sia-sia karena kesyirikan yang dia lakukan. Hal ini diterangkan beberapa ayat, kami sebutkan satu saja:
وَلَوْ أَشْرَكُوا لَحَبِطَ عَنْهُمْ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ
Seandainya mereka mempersekutukan Allah, niscaya lenyaplah dari mereka amalan yang telah mereka kerjakan. (QS. Al An’am (6): 88)
Imam Abul Farj bin Al Jauzi Rahimahullah menjelaskan:
أي : لبطل وزال عملهم ، لأنه لا يقبل عمل مشرك
Yaitu benar-benar sia-sia dan lenyap amal mereka, karena Dia tidak menerima perbuatan orang musyrik. (Zaadul Masir, 3/271. Mawqi’ At Tafasir)
Syaikh As Sa’di Rahimahullah menjelaskan:
{ لَحَبِطَ عَنْهُمْ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ } فإن الشرك محبط للعمل، موجب للخلود في النار
(niscaya lenyaplah dari mereka amalan yang telah mereka kerjakan) karena syirik menghapuskan amal, dan membuat kekekalan di neraka. (Taysir Al Karim Ar Rahman, Hal. 263. Cet. 1, 1420H-2000M. Muasasah Ar Risalah)
Musyrik di sini adalah orang yang telah melakukan kesyirikan yang besar (syirk akbar) yang membuat pelakunya menjadi murtad dari Islam. Kelompok inilah yang membuat semua amalnya sia-sia. Ada pun kesyirikan kecil (syirk ashghar) yang tidak membuat pelakunya menjadi murtad, dan dia melakukan karena kebodohan, maka amal yang ditolak hanyalah amal syiriknya itu saja, tidak melenyapkan semua amalnya yang lain. Sebab orang ini masih muslim, belum keluar dari Islam.
D. Orang Yang Murtad dari Islam 

 

Orang yang murtad dari Islam, baik dia sengaja memproklamirkan kemurtadannya, atau dia melakukan perbuatan yang membuatnya murtad, walau dia tidak mengakui dilisannya, maka semua amal shalihnya menjadi sia-sia. Hal ini langsung Allah Ta’ala firmankan dalam Al Quran dalam beberapa ayat, di antaranya:
وَمَنْ يَرْتَدِدْ مِنْكُمْ عَنْ دِينِهِ فَيَمُتْ وَهُوَ كَافِرٌ فَأُولَئِكَ حَبِطَتْ أَعْمَالُهُمْ فِي الدُّنْيَا وَالْآَخِرَةِ وَأُولَئِكَ أَصْحَابُ النَّارِ هُمْ فِيهَا خَالِدُونَ
Barangsiapa yang murtad di antara kamu dari agamanya, lalu dia mati dalam kekafiran, maka mereka itulah yang sia-sia amalannya di dunia dan di akhirat, dan mereka itulah penghuni neraka, mereka kekal di dalamnya. (QS. Al Baqarah (2): 217)
Disebutkan dalam Tafsir Al Muyassar:
ومن أطاعهم منكم -أيها المسلمون- وارتدَّ عن دينه فمات على الكفر، فقد ذهب عمله في الدنيا والآخرة، وصار من الملازمين لنار جهنم لا يخرج منها أبدًا
Barangsiapa di antara kalian yang mentaati mereka (kaum kafir) –wahai kaum muslimin- dan murtad dari agamanya, lalu dia mati dalam kekafiran, maka telah terhapus amalnya di dunia dan akhirat, dan dia akan menetap di neraka jahanam selamanya, tidak akan keluar darinya. (Tafsir Al Muyassar, 1/231. Pengantar: Dr. Abdulah bin Abdul Muhsin At Turki)
Ayat lainnya:
وَمَنْ يَكْفُرْ بِالإِيمَانِ فَقَدْ حَبِطَ عَمَلُهُ وَهُوَ فِي الآخِرَةِ مِنَ الْخَاسِرِينَ
Barangsiapa yang kafir sesudah beriman (tidak menerima hukum-hukum Islam) maka terhapuslah amalannya dan ia di hari kiamat termasuk orang-orang merugi. (QS. Al Maidah (5): 5)
Imam Al Baghawi menerangkan tentang ayat ini:
قال ابن عباس ومجاهد في معنى قوله تعالى: “ومن يكفر بالإيمان” أي: بالله الذي يجب الإيمان به.
وقال الكلبي: بالإيمان أي: بكلمة التوحيد وهي شهادة أن لا إله إلا الله.
وقال مقاتل: بما أُنزل على محمد صلى الله عليه وسلم وهو القرآن، وقيل: من يكفر بالإيمان أي: يستحل الحرام ويحرّم الحلال فقد حبط عمله، وهو في الآخرة من الخاسرين قال ابن عباس: خسر الثواب.
Berkata Ibnu Abbas dan Mujahid tentang makna firman Allah Ta’ala “Barangsiapa yang kafir sesudah beriman”, yaitu: kepada Allah yang wajib iman kepadanya. Al Kalbiy berkata tentang “bil iman”, yaitu kalimat tauhid, laa ilaha illallah. Muqatil berkata: “Iman kepada yang diturunkan kepada Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, yakni Al Quran.” Dikatakan pula: “Barangsiapa yang kafir setelah beriman” yaitu yang menghalalkan yang haram dan mengharamkan yang halal, maka dia telah terhapus amalnya, dan dia diakhirat termasuk golongan merugi. Ibnu Abbas berkata: “Merugi pahalanya.” (Lihat Ma’alim At Tanzil, 3/20)
E. Orang yang tidak ikhlas beramal 

 

Orang yang amalnya bukan untuk Allah Ta’ala, bukan mengharap keridhaanNya, tetapi karena supaya dilihat (riya’), atau supaya didengar (sum’ah) manusia, maka dia termasuk yang ditolak amalnya dan sia-sialah amalnya itu. Namun, tertolaknya amal orang tersebut hanya terbatas pada amal yang memang riya’ dan sum’ah saja, tidak serta merta menghanguskan semua amal lainnya. Hal ini karena orang tersebut belum sampai syirik akbar, kafir, dan murtad. Sedangkan riya’ dan sum’ah termasuk syirik, yakni syirk ashghar (syirik kecil).
Allah Ta’ala berfirman:
فَمَنْ كَانَ يَرْجُو لِقَاءَ رَبِّهِ فَلْيَعْمَلْ عَمَلا صَالِحًا وَلا يُشْرِكْ بِعِبَادَةِ رَبِّهِ أَحَدًا
“Barangsiapa mengharap perjumpaan dengan Tuhannya, Maka hendaklah ia mengerjakan amal yang saleh dan janganlah ia mempersekutukan seorangpun dalam beribadat kepada Tuhannya”. (QS. Al kahfi (18): 110)
Dalam Tafsir Al Muyassar dijelaskan:
فمَن كان يخاف عذاب ربه ويرجو ثوابه يوم لقائه، فليعمل عملا صالحًا لربه موافقًا لشرعه، ولا يشرك في العبادة معه أحدًا غيره.
Barangsiapa yang takut azab RabbNya, dan mengharapkan pahalaNya pada hari pertemuan denganNya, maka hendaknya dia melakukan amal shalih kepada Rabbnya yang sesuai dengan syariatNya, dan jangan menyekutukan Dia dalam beribadah dengan apa pun selainNya. (Tafsir Al Muyassar, 5/210)
Dalam hadits Qudsi, Allah Ta’ala menolak perbuatan orang yang bukan karenaNya:
مَنْ عَمِلَ عَمَلًا أَشْرَكَ فِيهِ مَعِي غَيْرِي تَرَكْتُهُ وَشِرْكَهُ
Barang siapa yang melakukan perbuatan, di dalamnya terdapat persekutuan bersamaKu dengan yang selain Aku, maka aku tinggalkan amalnya dan sekutunya itu. (HR. Muslim No. 2985)
Imam An Nawawi Rahimahullah mengomentari hadits ini:
ومعناه أنا غني عن المشاركة وغيرها ، فمن عمل شيئا لي ولغيري لم أقبله ، بل أتركه لذلك الغير . والمراد أن عمل المرائي باطل لا ثواب فيه ، ويأثم به
Maknanya, “Sesungguh Aku (Allah) lebih kaya dari persekutuan dan selainnya, maka siapa saja yang melakukan sesuatu untukKu dan untuk selainKu maka tidak akan diterima, bahkan Aku akan tinggalkan amal itu karena hal yang lain itu.” Maksudnya bahwa perbuatan orang yang riya’ adalah sia-sia, tidak ada pahala, dan dia berdosa. (Al Minhaj Syarh Shahih Muslim, 18/116)
F. Orang yang berbuat bid’ah 

 

Pelaku bid’ah (perbuatan yang mengada-ada dan bertentangan dengan syariat), walau dia menyangka amalnya adalah amal shalih, maka amal bid’ah tersebut tertolak. Berkata Imam Ibnu Katsir Rahimahullah:
فإن للعمل المتقبل شرطين، أحدهما: أن يكون خالصًا لله وحده والآخر: أن يكون صوابًا موافقا للشريعة. فمتى كان خالصًا ولم يكن صوابًا لم يتقبل؛ ولهذا قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: “من عمل عملا ليس عليه أمرنا فهو رد”
Sesungguhnya amal yang diterima itu mesti memenuhi dua syarat: 1. Hendaknya ikhlas untuk Allah semata. 2. Amal tersebut benar sesuai dengan syariat. Maka, ketika amal itu ikhlas tetapi tidak benar maka tidak akan diterima, oleh karena itu Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda: “Barangsiapa yang beramal yang bukan termasuk perintah kami maka itu tertolak.” (Tafsir Al Quran Al ‘Azhim, 1/385)
Hadits yang dijadikan dalil oleh Imam Ibnu Katsir ini diriwayatkan oleh Imam Al Bukhari dalam Shahihnya, Kitab Al I’tisham bil Kitab was Sunnah Bab Idza Ijtahada Al ‘Amil aw Al Hakim Fa Akhtha’a Khilafar Rasuli min Ghairi ‘Ilmin fahukmuhu Mardud. (lalu disebutkan hadits: man ‘amila ‘amalan .. dst tanpa menuliskan sanadnya (mu’alaq) dan dengan shighat jazm: Qaala Rasulullah ….), Imam Muslim dalam Shahihnya, juga pada No. 1718, Imam Ad Daruquthni dalam Sunannya No. 81, Imam Ahmad dalam Musnadnya No.26191.
Allah Ta’ala juga berfirman:
الَّذِي خَلَقَ الْمَوْتَ وَالْحَيَاةَ لِيَبْلُوَكُمْ أَيُّكُمْ أَحْسَنُ عَمَلًا وَهُوَ الْعَزِيزُ الْغَفُورُ
“Yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya. dan Dia Maha Perkasa lagi Maha Pengampun.” (QS. Al Mulk : 2)
Siapakah yang lebih baik amalnya? Imam Al Fudhail bin ‘Iyadh Rahimahullah menjelaskan, sebagaimana dikutip Imam Ibnu Taimiyah:
أخلصه وأصوبه فقيل : يا أبا علي ما أخلصه وأصوبه ؟ فقال : إن العمل إذا كان صوابا ولم يكن خالصا لم يقبل . وإذا كان خالصا ولم يكن صوابا لم يقبل حتى يكون خالصا صوابا . والخالص : أن يكون لله والصواب أن يكون على السنة
“Yang paling ikhlas dan benar.” Lalu ada yang bertanya: “Wahai Abu Ali (Fudhail bin ‘Iyadh), apakah yang ikhlas dan benar itu?” Beliau menjawab: “Sesungguhnya perbuatan jika benar tapi tidak ikhlas belum diterima. Jika ikhlas tapi tidak benar juga belum diterima, sampai dia ikhlas dan benar. Ikhlas adalah hanya menjadikan ibadahnya untuk Allah, dan benar adalah perbuatan itu sesuai sunah.” (Imam Ibnu Taimiyah, Majmu’ Al Fatawa, 28/177. Cet. 3, 2005M-1426H. Tahqiq: ‘Anwar Al Baaz dan ‘Amir Al Jazaar. Darul Wafa’)
Imam Ibnu Taimiyah juga menulis:
وقد روى ابن شاهين واللالكائي عن سعيد بن جبير قال : لا يقبل قول وعمل إلا بنية ولا يقبل قول وعمل ونية إلا بموافقة السنة
Diriwayatkan dari Ibnu Syaahin dan Al Lalika’i, dari Sa’id bin Jubeir, dia berkata: “Ucapan dan perbuatan tidak akan diterima kecuali dengan niat, dan tidak akan diterima ucapan, perbuatan dan niat, kecuali dengen kesesuaiannya dengan As Sunnah. (Ibid)
G. Orang Yang Muflis (bangkrut) 

 

Siapakah mereka? Berikut ini riwayat yang menjelaskan golongan tersebbut:
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ
أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ أَتَدْرُونَ مَا الْمُفْلِسُ قَالُوا الْمُفْلِسُ فِينَا مَنْ لَا دِرْهَمَ لَهُ وَلَا مَتَاعَ فَقَالَ إِنَّ الْمُفْلِسَ مِنْ أُمَّتِي يَأْتِي يَوْمَ الْقِيَامَةِ بِصَلَاةٍ وَصِيَامٍ وَزَكَاةٍ وَيَأْتِي قَدْ شَتَمَ هَذَا وَقَذَفَ هَذَا وَأَكَلَ مَالَ هَذَا وَسَفَكَ دَمَ هَذَا وَضَرَبَ هَذَا فَيُعْطَى هَذَا مِنْ حَسَنَاتِهِ وَهَذَا مِنْ حَسَنَاتِهِ فَإِنْ فَنِيَتْ حَسَنَاتُهُ قَبْلَ أَنْ يُقْضَى مَا عَلَيْهِ أُخِذَ مِنْ خَطَايَاهُمْ فَطُرِحَتْ عَلَيْهِ ثُمَّ طُرِحَ فِي النَّارِ
Dari Abu Hurairah, bahwasanya Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda: “Apakah kalian tahu apa itu muflis (bangkrut)?” Mereka menjawab: “Orang bangkrut di antara kami adalah orang yang tidak memiliki dirham dan tidak punya perhiasan.” Beliau bersabda: “Orang bangkrut pada umatku, dia akan datang pada hari kiamat nanti dengan amalan shalat, puasa, dan zakatnya, dan dia juga telah mencela, telah melempar tuduhan, memakan harta (tanpa hak), menumpahkan darah (tanpa hak), dan memukul (menyakiti). Maka, kebaikan-kebaikan dia akan dilimpahkan kepada orang-orang tersebut. Jika telah habis kebaikan-kebaikannya, maka dosa-dosa mereka akan dilimpahkan kepadanya, kemudian dia dilemparkan ke neraka. (HR. Muslim No. 2581, At Tirmidzi No. 2418, Ath Thabarani dalam Al Mu’jam Al Awsath No. 2778, Al Baihaqi dalam As Sunan Al Kubra No. 11283, Ibnu Hibban No. 4411)
Hadits ini menceritakan tentang makna bangkrut (muflis) secara ma’nawiyah, bukan haqiqiyah. Jawaban para sahabat adalah makna bangkrut secara haqiqiyah. Sedangkan nabi mengajarkan mereka tentang makna bangkrut bagi manusia di akhirat.
Kita lihat, betapa sia-sia amal kebaikan mereka yang suka mencela, menuduh tanpa bukti, mengambil harta yang bukan hak, menumpahkan darah, dan menyakiti manusia. Semua kebaikannya tergerus dan berpindah kepada orang yang pernah menjadi korbannya. Sedangkan dosa-dosa korbannya berpindah kepada orang tersebut.
Menyakiti Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam
Tentang hal ini, Allah Ta’ala berfirman:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا لَا تَرْفَعُوا أَصْوَاتَكُمْ فَوْقَ صَوْتِ النَّبِيِّ وَلَا تَجْهَرُوا لَهُ بِالْقَوْلِ كَجَهْرِ بَعْضِكُمْ لِبَعْضٍ أَنْ تَحْبَطَ أَعْمَالُكُمْ وَأَنْتُمْ لَا تَشْعُرُونَ
Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu meninggikan suaramu melebihi suara Nabi, dan janganlah kamu berkata kepadanya dengan suara yang keras, sebagaimana kerasnya suara sebagian kamu terhadap sebagian yang lain, supaya tidak hapus (pahala) amalanmu, sedangkan kamu tidak menyadari. (QS. Al Hujurat (49): 2)
Ayat ini menerangkan bahwa perilaku yang dapat menyakiti dan membuat marah Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, seperti bersuara melebihi suara beliau di hadapannya, dapat menghilangkan pahala dari pelakunya.
Imam Ibnu Katsir Rahimahullah mengatakan:
أي: إنما نهيناكم عن رفع الصوت عنده خشية أن يغضب من ذلك، فيغضب الله لغضبه، فيحبط الله عمل من أغضبه وهو لا يدري
Yaitu sesungguhnya Kami melarang kalian meninggikan suara di hadapannya dikhawatiri dia marah karena hal itu, maka marah-lah Allah karena kemarahannya, lalu Allah menghapus amalan orang yang membuatnya marah, dan dia tidak tahu. (Tafsir Al Quran Al ‘Azhim, 7/368)
Jika bersuara melebihi suara nabi saja dapat menghilangkan pahala, apalagi orang yang menentang, menghina dan menolak ajarannya, serta memperolok-olok sunahnya, baik yang dianggap sepele atau dalam masalah besar?
Sekian. Wallahu A’lam