Tag Archive | alaihi wa sallam

Do’a Memohon Dijauhkan dari Teman Akrab yang Khianat


Do’a Memohon Dijauhkan dari Teman Akrab yang Khianat

 

.
Mari sejenak kita menengadahkan tangan, memohon kepada Allah Ta’ala dengan penuh kesungguhan. Dia-Lah Allah Ta’ala, tempat kita meminta dan memohon pertolongan. Sejenak berdo’a kepada-Nya:
.
اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوْذُ بِكَ مِنْ خَلِيلٍ مَاكِرٍ ، عَيْنَاهُ تَرَيَانِي وَقَلْبُهُ يَرْعَانِي ، إِنْ رَأى حَسَنَةً دَفَنَهَا ، وَإِنْ رَأى سَيِّئَةً أَذَاعَهَا
.
Allahumma inni a’udzu biKa min khaliilin maakir, ‘aynaahu tarayaani wa qalbuhu yar’aani, in ra-aa hasanatan dafanaha, wa in ra-aa sayyi-atan adzaa-‘aha
.
“Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari teman dekat yang makar (suka menipu), matanya melihatku, tetapi hatinya mencurigai aku. Jika ia melihat kebaikanku, ia sembunyikan. Tetapi jika ia melihat kejelekanku, ia sebarkan.”
.
Ini merupakan do’a yang bersumber dari hadits mursal riwayat Ibnu Najjar dari Sa’id Al-Maqburi. Yang dimaksud hadits mursal ialah perkataan yang dinisbahkan kepada Rasulullah shallaLlahu ’alaihi wa sallam, tetapi sanadnya terhenti pada tabi’in. Tidak ada sahabat dalam sanadnya. Jumhur ulama menolak hadits mursal sebagai dasar hukum, tetapi sebagian ulama lain membolehkan dengan syarat yang sangat ketat. Adapun riwayat berupa do’a, sikap ulama jauh lebih longgar dalam soal pengamalannya.
.
Pada do’a tersebut, kita memohon kepada Allah Ta’ala agar dilindungi dari kejahatan teman akrab atau sahabat karib yang khianat dan menipu. Dijauhkan dari keburukannya dapat beragam bentuknya. Terserah kepada Allah Ta’ala bagaimana Ia melindungi kita. Husnuzhan tetap kita jaga, tidak sibuk mencurigai sebagian sahabat dekat kita, tetapi Allah Ta’ala menjauhkannya pelan-pelan. Kita tidak memutus persahabatan, tapi tanpa terasa saling berjauhan. Atau, boleh jadi tetap akrab, tapi Allah Ta’ala singkirkan tipu dayanya dari kita. Dalam ini kita tidak perlu bersibuk menelisik keburukan sahabat kita, yang menjauh maupun yang mendekat.
.
Tetapi adakalanya Allah Ta’ala bukakan keburukan teman akrab tersebut secara terbuka, tanpa kita berusaha mengorek keburukannya maupun bersibuk membuka kelicikannya. Allah Ta’ala bukakan tanpa kita berusaha membuka keburukannya. Boleh jadi kita bahkan tidak memiliki kecurigaan dan kekhawatiran sedikit pun. Tetapi Allah Ta’ala kabulkan do’a kita dengan cara ini disebabkan sahabat dekat kita itu khianat secara luas dengan memanfaatkan kedekatannya dengan kita.
.
Kembali kepada do’a tersebut. Kita bedo’a dengan sungguh-sungguh tanpa menentukan caranya. Kita pasrahkan kepada Allah Ta’ala, sembari di saat yang sama tetap menjaga persangkaan baik kita kepada rekan-rekan kita.

Boleh jadi kawan dekat yang ingin khianat itu, belumlah dekat. Ia baru ingin mendekat. Tapi Allah Ta’ala kabulkan do’a dengan menghalangi seseorang yang ingin mendekat tersebut sehingga tetap tak dapat akrab. Boleh jadi tetap berteman, tetapi tetap tidak dapat akrab dan kita dijauhkan dari sikap khianatnya dia.
.
Yang kita perlu sangat hati-hati adalah persangkaan kita terhadap kawan kita yang jauh maupun sahabat kita yang sekarang agak renggang hubungannya. Sekalipun mungkin saja jauhnya seseorang dari kita karena Allah Ta’ala menghalanginya dari mengkhianati kita, tetapi kita tidak dapat memastikannya sehingga kita hendaknya tidak sibuk dengan persangkaan buruk (su’uzhan) yang boleh jadi salah besar.
.
Wallahu a’lam bish-shawab.

Berbekal Takut, Kita Didik Generasi Salimul Aqidah


Berbekal Takut, Kita Didik Generasi Salimul Aqidah

ADALAH Syaikh Ali An Nadawi pernah mengatakan, jika iman bekerja sebagaimana mestinya akan mendatangkan kejayaan, kemenangan, kesuksesan yang sejati (lahir dan batin). Sebaliknya, ketika iman mengalami disfungsi, identik dengan menyediakan diri untuk dijajah (qabiliyyah littaghallub). Dijajah oleh rayuan syubhat (kerusakan pikiran), syahwat (kerusakan hati) dan ghoflah (lalai dari misi kehidupan).

Tidak sebagaimana harta yang mudah diwariskan, mewarisi keimanan memerlukan perjuangan yang tidak ringan. Seorang Nabi (manusia pilihan Allah Subhanahu Wata’ala) tidak otomatis melahirkan keturunan yang memiliki kualitas keimanan seperti orang tuanya. Tidakkah putra dan istri dua hamba pilihan Allah Subhanahu Wata’ala yang shalih (Nabi Nuh, Nabi Luth), berani secara transparan menentang perjuangannya!

ضَرَبَ اللَّهُ مَثَلاً لِّلَّذِينَ كَفَرُوا اِمْرَأَةَ نُوحٍ وَاِمْرَأَةَ لُوطٍ كَانَتَا تَحْتَ عَبْدَيْنِ مِنْ عِبَادِنَا صَالِحَيْنِ فَخَانَتَاهُمَا فَلَمْ يُغْنِيَا عَنْهُمَا مِنَ اللَّهِ شَيْئاً وَقِيلَ ادْخُلَا النَّارَ مَعَ الدَّاخِلِينَ

“Allah membuat isteri Nuh dan isteri Luth sebagai perumpamaan bagi orang-orang kafir. keduanya berada di bawah pengawasan dua orang hamba yang saleh di antara hamba-hamba kami; lalu kedua isteri itu berkhianat kepada suaminya (masing-masing), Maka suaminya itu tiada dapat membantu mereka sedikitpun dari (siksa) Allah; dan dikatakan (kepada keduanya): “Masuklah ke dalam Jahannam bersama orang-orang yang masuk (jahannam).” (QS: At Tahrim (66) : 10).

Bahkan Nabi-nabi sekalipun tidak dapat membela isteri-isterinya atas azab Allah apabila mereka menentang agama.

Merenungkan arahan Allah Subhanahu Wata’ala di atas, semoga kita memilih sekolah kita dengan harap-harap cemas. Karena takut terhadap masa depan anak kita. Berbekal rasa takut, kita siapkan mereka agar tidak menjadi generasi yang lemah dalam keyakinan, lemah dalam ibadah, lemah dalam akhlak, lemah dalam bidang ekonomi, lemah dalam karakter keagamaan.

Berbekal rasa takut, kita tiru Sahab Luqman Al Hakim, agar anak kita kelak memiliki aqidah yang lurus (salimul aqidah), ibadah yang benar (shahihul ‘ibadah), mulai akhlaknya (karimul akhlak), pejuang bagi agamanya (mujahidun fi dinihi), yakin dengan kepemimpinan islam (ats tsiqah bil jamaah), cerdas pikirannya (mutsaqqaful fikr), sholih ritual dan shalih sosial (sholihun linafsihi wa shalihun lighoirihi).

Kita pantau mereka kalau-kalau ada bagian dari fase kehidupan mereka saat ini yang menjadi penyebab datanganya kerumitan dan kehinaan di masa mendatang. Berbekal rasa takut, kita berusaha dengan sungguh-sungguh agar mereka memiliki bekal yang cukup untuk mengarungi samudera kehidupan ini dengan kepala tegak dan iman yang kokoh, serta bermartabat dengan penuh kemuliaan.

Betapa mahalnya membangun keimanan pada diri anak kita. Bukankah dengan aqidah yang kokoh menjadikan anak tegar, teguh dan gigih dalam memegang prinsip yang diyakini. Prinsip itulah yang menjadi landasan yang kuat dalam berpikir dan bertindak. Dengan bekal keyakinan yang terhunjam di dalam jiwa, ia akan tenang, survive dalam menghadapi tantangan kehidupan yang semakin hari tidak bertambah ringan. Bagaikan karang di tengah samudera yang luas tidak bertepi. Kehidupan yang mengalami pasang surut, fluktuatif (naik-turun), timbul dan tenggelam, dan dekadensi moral yang menggurita , tidak mudah dan tidak sederhana ini, mustahil dapat dihadapi oleh seorang anak yang memiliki iman biasa-biasa saja.

Iman itulah yang memberi dorongan internal, motivasi intrinstik (indifa’ dzati), energi pemiliknya yang tidak ada habis-habisnya laksana sumur zam-zam, untuk menyemai kebaikan di taman kehidupan. Dan selalu mencegah kemungkaran dengan segala konsekwensinya, dengan cara bijak hingga ajal menjemput. Tanpa pura-pura dan tanpa pamrih. Tidak mengharapkan balasan dan ucapan terima kasih.

Itulah sebabnya para Nabi dan orang shalih terdahulu tidak mewariskan kepada anak keturunannya dengan dirham, dinar, dan kekayaan duniawi lainnya, tetapi mewariskan nilai-nilai immaterial (keimanan). Pusaka yang tidak ternilai harganya, yang tidak lekang oleh panas dan tidak lapuk oleh guyuran hujan. Dengan iman itulah menjadikan kehidupan mereka bermakna dan prospektif (menjanjikan masa depan yang cerah). Kehidupan tanpa dibekali dengan iman, menjadikan para pemburunya kecewa. Mereka rapuh sikap mentalnya. Mereka

Nasihat Rasululullah untuk Pelajar

Berikut ini adalah hadits yang berisi nasihat Rasulullah kepada sorang anak muda Ibnu Abbas, untuk memperkuat spirit keimanan. Dengan keimanan yang kuat, anak akan merasakan ma’rifatullah (mengenal Allah Subhanahu Wata’ala dengan pengenalan yang benar), muraqabatullah (merasakan pengawasan Allah), ma’iyyatullah (merasa disertai oleh Allah), ihsanullah (dan merasakan kebaikan Allah yang melimpah), nashrullah (pertolongan Allah). Dengan nasihat tersebut diharapkan anak memiliki sandaran spiritual yang kokoh.

“Wahai Abbas, sesungguhnya aku akan mengajarkan kepadamu beberapa kalimat ini sebagai nasihat bagimu. Jagalah hak-hak Allah, niscaya Dia pasti akan menjagamu. Jagalah dirimu dari berbuat dosa terhadap Allah, niscaya Allah akan selalu berada di hadapanmu. Apabila engkau menginginkan sesuatu mintalah kepada Allah. Dan apabila engkau meminta (urusan dunia dan akhirat), mintalah kepada Allah, dan apabila menginginkan pertolongan, mohonlah pertolongan kepada Allah Subhanahu Wata’ala. Ketahuilah, bahwa apabila seluruh umat manusia berkumpul untuk memberi manfaat kepadamu, mereka tidak akan mampu melakukannya kecuali apa yang dituliskan oleh Allah di dalam takdirmu itu. Juga sebaliknya, apabila mereka berkumpul untuk mencelakai dirimu, niscaya mereka tidak akan mampu mencelakaimu sedikitpun kecuali atas kehendak Allah. Pena telah diangkat dan lembaran telah kering.” (HR. Tirmidzi).

Betapa dahsyatnya arahan yang diberikan oleh Rasulullah. Dengan nasihat tersebut anak muda akan memiliki kepribadian yang kuat. Ia kokoh bukan karena kelebihan, harta, kekuasaan, jabatan, potensi, popularitas, dan pengaruh yang dimilikinya, tetapi terhubungnya dirinya dengan Allah Subhanahu Wata’ala. Siapapun yang terhubung dengan Allah, manusia yang tidak diperhitungkan, diangkat dan dimuliakan oleh-Nya dalam sekejab. Demikian pula, manusia yang paling kuat melebihi Fir’aun tidak berdaya menolak keputusan dari-Nya (mati tenggelam di laut merah). Jangankan menghindari datangnya musibah dan kematian, menolak rasa ngantuk saja tidak mampu. Alangkah lemahnya manusia itu. Manusia adalah makhluk yang hina. Makhluk yang faqir. Makhluk yang miskin. Makhluk yang lemah. Seandainya ada kelebihan, itu hanyalah karunia dari Allah.

Dalam riwayat lain selain Imam Tirmidzi sisebutkan, “Jagalah Allah niscaya kamu akan mendapati-Nya di hadapanmu. Ketahuilah bahwa apa yang ditetapkan lolos darimu maka hal itu tidak akan menimpamu, dan apa yang ditetapkan akan menimpamu hal itu tidak akan lolos darimu. Ketahuilah, sesungguhnya pertolongan itu bersama kesabaran, kelapangan bersama kesusahan, dan kesulitan bersama kemudahan.” (HR. Abu bin Humaid).

Nasihat Rasulullah dengan riwayat lain ini pula menggambarkan sebuah arahan yang pendek tapi padat berisi. Dengan nasihat ini anak dididik, dibimbing, dipandu untuk menggantungkan urusan dirinya hanya kepada Allah Subhanahu Wata’ala. Dengan menjaga hukum-hukum Allah SWT seorang akan dijaga, dibela dan diberi pertolongan oleh-Nya. Apa yang menimpa diri sesorang baik yang menguntungkan dan membahayakan, atas izin dan restu Allah belaka. Adakah kekuatan yang dapat mengungguli/melebihi kekuatan yang bersumber dari Zat Yang Maha Perkasa!.

Hadits tersebut pula mengajarkan kita untuk berjiwa besar. Jika dalam kesenangan jangan lupa daratan, tetapi harus pandai bersyukur. Karena kesusahan selalu melambaikan tangan kepadanya. Demikian pula ketika dalam kesulitan jangan larut dalam kesedihan, sesungguhnya kemudahan selalu melambaikan tangan untuknya.

Jika tertimpa sakit yang menahun, bukankah Nabi Ayyub dan beribu-ribu orang sudah merasakan sakit yang sama. Kita bukan orang yang pertama merasakannya. Jika didzalimi, bukankah Nabi Yusuf dipenjara, padahal dia bukan orang yang bersalah. Jika jatuh miskin, bukankah keluarga Ahlul Bait (Ali dan Fatimah) adalah termasuk keluarga sederhana, tetapi keluarga ahlul jannah. Bukan kesuksesan dan kegagalan yang kita takutkan, tetapi apakah kedua kondisi yang kontradiktif itu menambah kebaikan diri dan keluarga kita. Seringkali sesuatu yang kita benci, itu baik untuk kita. Dan sesuatu yang kita senangi, ternyata mendatangkan madharat untuk kita.

Dalam riwayat salafus shalih juga menceritakan anak-anak yang memiliki aqidah yang kuat. Suatu hari khalifah Umar bin Khathab melewati sekumpulan anak-anak sedang bermain. Semua anak berlarian karena takut kepada Amirul Mukminin kecuali satu anak. Dialah Ibnuz Zubair. Umar bertanya kepadanya,”Mengapa engkau tidak lari seperti teman-temanmu, anakku! Dia menjawab, ”Aku adalah anak yang tidak bersalah denganmu, mengapa aku harus lari darimu. Jalan pun demikian luas, mengapa aku harus menepi. Dialah putra Asma binti Abi Bakar. Ketika remaja menjadi seksi logistik, sehingga menyelamatkan Rasulullah Subhanahu Wata’ala dan Abu Bakar dari kelaparan dalam tempat persembunyiannya di Gua Tsur. Dialah saudari Aisyah ra. Istri seorang sahabat yang termasuk 10 sahabat yang dijamin masuk surga, yaitu: Abdullah ibnu Zubair.”

Dalam riwayat lain, ketika Umar bin Khathab mengadakan perjalan di hutan, dia menjumpai seorang anak gembala. Yang menggembalakan 20 ekor kambing. Umar ingin membeli seekor kambing. Ia bertanya dengan penggembala, aku ingin membeli seekor kambingmu !. Ia menjawab, kambing itu bukan milikku. Tetapi, kepunyaan majikanku. Umar melanjutkan, katakan kepada majikanmu, seekor kambing telah di makan kawanan serigala. Anak tersebut menjawab dengan tegas : Dimanakah Allah! Dia bersamamu, di mana pun kamu berada! Benar, majikanku dapat aku bohongi. Tetapi, dapatkah aku menipu Allah. Jawaban anak gembala yang melukiskan kedalaman iman tersebut menyambar hati Umar bagaikan petir. Sehingga menggetarkan hati beliau untuk kontak dan zikir kepada-Nya. Kesadaran iman inilah harta yang paling mahal. Dan kalimat tersebut yang memerdekakannya dari status budak.

Demikian pula cerita masa kecil seorang alim, yang zahid bernama Sahl At Tusturi. Anak ini setiap jam 03.00 bangun dari tidur. Pada saat yang sama, pamannya selalu membisikkan lewat telinganya, Allah Melihatku, Allah Mendengarku, Allah bersamaku. Kata-kata itu diulang-diulang selama bertahun-tahun. Sehingga mempengaruhi struktur kepribadiannya. Pada suatu hari pamannya bertanya, jika Allah Subhanahu Wata’ala selalu menyaksikanmu, tidakkah kamu takut bermaksiat kepada-Nya !. Sejak itu ia terbentuk menjadi remaja yang shalih, alim dan zahid.

Kisah terakhir adalah seorang Kiai lebih mencintai satu santri melebihi yang lain. Sehingga menimbulkan kecemburuan santri yang lain. Maka Kiai tersebut menjelaskan di hadapan mereka. Tahukah kalian mengapa saya mencintai santri yang satu ini mengungguli yang lain !. Baiklah agar kecintaanku ini beralasan, semua santri panggil ke sini. Dan masing-masing saya beri seekor ayam. Kemudian saya memberikan arahan, semua santri dipersilahkan menyembelih di suatu lokasi yang tidak dilihat oleh seorang pun. Semua santri pergi dengan membawa ayam, untuk disembelih di tempat yang sepi. Hanya satu santri yang dicintai Kiai tadi. Akhirnya Kiai bertanya, Mengapa kalian tidak pergi seperti teman-teman kalian. Santri tersebut menjawab, adakah suatu tempat yang disitu tidak dimonitor oleh Allah. Bukankah tidak ada yang tersembunyi bagi-Nya baik di ujung langit maupun di ujung bumi. Dari sini kita dapat memahami, hanya santri yang sudah mengenal Allah Subhanahu Wata’ala.*

Penulis kolumnis hidayatullah.com, tinggal di Kudus, Jawa Tengah

Anak Yang Tangguh


Anak Yang Tangguh
@Yasa Paramitha Singgih
d59bf-anak-orang-tuaAnak anak yang dididik dalam keluarga yang penuh kesantunan, etika tata krama, sikap kesederhanaan akan tumbuh menjadi anak anak yang tangguh, disenangi, dan disegani banyak orang…
Mereka tahu aturan makan table manner di restoran mewah. Tapi tidak canggung makan di warteg kaki lima…
Mereka sanggup beli barang-barang mewah. Tapi tahu mana yang keinginan dan kebutuhan…
Mereka biasa pergi naik pesawat antar kota. Tapi santai saja saat harus naik angkot kemana-mana…
Mereka berbicara formal saat bertemu orang berpendidikan. Tapi mampu berbicara santai bertemu orang jalanan…
Mereka berbicara visioner saat bertemu rekan kerja. Tapi mampu bercanda lepas bertemu teman sekolah…
Mereka tidak norak saat bertemu orang kaya. Tapi juga tidak merendahkan orang yg lebih miskin darinya…
Mereka mampu membeli barang-barang bergengsi. Tapi sadar kalau yang membuat dirinya bergengsi adalah kualitas, kapasitas
dirinya, bukan dari barang yang dikenakan…
Mereka punya.. Tapi tidak teriak kemana -mana. Kerendahan hati yang membuat orang lain menghargai dan menghormati dirinya…
Jangan didik anak dari kecil dengan penuh kemanjaan, apalagi sampai melupakan kesantunan, etika tata krama…
Hal hal sederhana tentang kesantunan seperti :
🔹Pamit saat pergi dari rumah
🔹Permisi saat masuk ke rumah temen (karena ternyata banyak orang masuk ke rumah orang tidak punya sopan santun, tidak menyapa orang orang yang ada di rumah itu),
🔹Saat masuk atau pulang kerja memberi salam kepada rekan, terlebih pimpinan
🔹Kembalikan pinjaman uang sekecil apapun,
🔹Berani minta maaf saat ada kesalahan
🔹Tahu berterima kasih jika dibantu sekecil apapun…
Kelihatannya sederhana, tapi orang yang tidak punya attitude itu tidak akan mampu melakukannya…
Bersyukurlah, bukan karena kita terlahir di keluarga yang kaya atau cukup…
Bersyukurlah kalau kita terlahir di keluarga yang mengajarkan kita kesantunan, etika, tata krama
🙏🏼🙏🏼🙏🏼
Selamat bersiap utk pekan terbaik mommies
#SmartMommyCommunity
#SalamPuanGroup

Tidak Perlu Ayah (jika hanya) untuk Cari Nafkah…


TidakPerlu Ayah (jika hanya) untuk Cari Nafkah…

ayahkawanterbaik-4Maaf, mungkin agak terdengar sombong jika kalimat ini terlontar dari mulut seorang isteri, atau bahkan seorang anak. Karena sesungguhnya, salah satu tugas seorang lelaki adalah menafkahi keluarganya, baik sebagai suami, sebagai Ayah maupun sebagai anak kepada orang tuanya yang sudah sepuh.

Namun faktanya, tak sedikit para lelaki yang menggadaikan kehormatannya lantaran tak menjalankan perannya mencari nafkah. Ini bukan soal besar kecil hasil yang didapat, tetapi soal menjalankan perannya dalam keluarga.

Tak sedikit pula yang perannya mencari nafkah justru tergantikan oleh isteri atau bahkan anaknya. Setidaknya kalaupun bukan tergantikan, ya sedikit tergeser lah. Coba lihat, banyaknya perempuan yang justru “terpaksa” bekerja lantaran peran suaminya dirasa kurang, dalam bahasa yang lebih lugas, uang belanja suami tak mencukupi. Maaf, saya tak bicara soal perempuan yang bekerja karena memang mereka senang dan bagian dari aktualisasi diri. Untuk yang satu ini, saya cukup menghargai.

Kenapa tiba-tiba sayamengangkat tema yang sangat sensitif ini?

Sabar. Bukan tema ini yang saya akan bahas, tetapi tentang peran Ayah yang sebenarnya bukan hanya soal nafkah. Karena kalau cuma soal nafkah, sorry bung, kini peran itu juga banyak dilakukan oleh perempuan (isteri atau ibunya anak-anak), dan bahkan oleh anak-anak. Lihat saja anak jalanan, orang tuanya ada, malah leyeh leyeh di bawah pohon sementara anaknya ngamen di lampu merah dengan resiko tertabrak, atau pelecehan.

Ini sebenarnya gara-gara saya tak sengaja mendengar sebuah percakapan sepasang suami isteri. “Ayah sudah lelah mencari nafkah, urusan sekolah anak-anak itu urusan ibu…” kata si Ayah ke ibunya anak-anak.

Di kesempatan lain, juga pernah dengar seperti ini, “Bu, tolong hargai Ayah, setiap Ayah pulang rumah selalu berantakan. Kamu ngapain aja sih? Ayah capek kerja seharian, sampai rumah lihat rumah berantakan begini…” tanpa peduli lagi pada kenyataan bahwa setiap jam rumah dirapihkan, dan hanya butuh waktu lima menit akan kembali berantakan oleh ulah anak-anak.

Terus? Kalau sudah mencari nafkah, Ayah nggak perlu direpotkan sama urusan pendidikan anak? Belajarnya anak, antar ke sekolah, rapat orang tua murid dan urusan lainnya.

Kalau sudah mencari nafkah, Ayah jadi haram pegang sapu? Bersih bersih rumah, bantu isterinya yang sejak bangun pagi sampai tengah malam sibuk dengan urusan rumah yang (memang) nggak ada habisnya?

Sederhananya, memangnya fungsi Ayah cuma cari nafkah?

Seringkali sosok Ayah ada di rumah, tetapi hanya fisiknya yang hadir, tidak jiwanya, tidak perannya.

Anak bertanya soal pelajaran, lalu dengan enteng berkata, “Tanya ibu sana, Ayah capek…” padahal sedang main gadget.

Sosok Ayah harus hadir secara utuh di rumah, bagi isterinya, bagi anak-anaknya, bagi keluarganya. Keluarga perlu warna seorang Ayah, karena peran Ayah sebagai kepala keluarga, sebagai pemimpin, bukan cuma sebagai pencari nafkah.

Sosok Ayah perlu hadir untuk memberi rasa aman, nyaman, ketenangan dan percaya diri seluruh anggota keluarga. Jangan sampai justru ada Ayah malah bikin nggak nyaman, hati-hati. “Tenang, ada Ayah…” kalimat ini suatu waktu mungkin keluar dari mulut bocah-bocah karena lelaki itu memang benar-benar bisa diandalkan. Tangguh.

Kehadiran Ayah sejatinya dirindukan, oleh isteri maupun anak-anaknya. Jangan abaikan pesan singkat dari anak misalnya, “Ayah jam berapa pulang?” Ada rindu tersirat dari kalimat itu.

Dua tiga hari Ayah tak pulang karena tugas kantor, suasana rumah jadi terasa sepi, isteri dan anak-anak merasa kurang aman dan nyaman. Jika masih seperti ini, tersenyumlah. Artinya sosok Ayah masih sangat dibutuhkan sebagai pelindung, pengayom dan pemberi rasa aman.

Hadirnya sosok Ayah juga menjadi contoh baik bagi anak lelaki, menjadi contekan bagi anak perempuan kelak mencari pasangan. Pernah kah anak perempuan Anda berkata, “Aku ingin punya suami kelak seperti Ayah” … Ah, indahnya kalimat itu terdengar.

Hadirnya seorang Ayah secara utuh, bukan soal seberapa banyak waktu yang dipunyai di tengah kesibukan bekerja. Sebab, nyatanya masih banyak Ayah yang bisa tetap “hadir” di keluarganya meski waktunya tak banyak. Ini soal peran, bukan soal waktu. Ini tentang kesadaran, bukan tentang seberapa sejahteranya sebuah keluarga. Peran ini, tak bicara soal pangkat, status sosial, apalagi soal besar kecilnya gaji sang Ayah.

Satu lagi, lelaki yang dipanggil Ayah ini pun bukan sosok yang bikin suasana rumah jadi tegang, serius melulu, kaku, apalagi angker. Anak-anak nggak hanya butuh Ayah sebagai orang tua, tetapi juga butuh sahabat bercerita, teman bermain, lawan berkelakar, atau “pacar” yang bisa digandeng ke tempat hiburan misalnya.

Ah terlalu panjang rasanya bahas peran Ayah. Bukan kapasitas saya juga bahas parenting disini, belum apa-apa, saya cuma seorang Ayah yang terus belajar untuk menjadi Ayah yang lebih baik.

Agar semoga sosok ini selalu dirindukan, ada dan tiadanya nanti. Tak tergantikan di hati seluruh anggota keluarga, sampai kapanpun, kapanpun.

Eh iya, nafkah dari Ayah tetap perlu kok. Ya kan bu? @bayugawtama

SHARE AGAR LEBIH BERMANFAAT

SAMBUTAN BU KIKI BARKIAH SAAT TASMI QUR’AN PUTRANYA, BIKIN MERINDING..


 

Pd hari jum’at yg penuh berkah kemarin, Ali Abdurrahman, putra teh kiki barkiah berhasil menyelesaikan hafalan qur’annya di pesantren Alhikmah Bogor.

Ali sdh masuk waitinglist di alhikmah Bogor sejak keluarga ini masih tinggal di Amerika. Waktu itu teh kiki sdh menjalin komunikasi dgn alhikmah. Dan alhamdulillah, putra dr pakar parenting ini berhasil mengkhatamkan 30 juz dlm waktu setahun di alhikmah.

Yg istimewa dr acara tasmi kemarin adlh sambutan teh kiki, beliau menyampaikan isi hatinya utk seluruh santri alhikmah. Jg utk seluruh penghafal qur’an di Indonesia. Berikut ini saya kutip seluruh pidatonya. Yg beliau sampaikan dg penuh semangat, meski sambil dikelilingi oleh putra putrinya. Pidato inipun sdh beliau posting di akun fb nya.

Wahai anakku….
Ketika ummi membaca berita tetang wajah-wajah anak negeri yang begitu memilukan, hati ummi masih tetap optimis menatap masa depan saat mengingat dan melihat ada segelintir pemuda yang hari ini sedang menyibukkan diri untuk menghafal Al-Quran.

DSC00119Ketika ummi membaca tentang bencana pornografi di negeri ini dimana 92 dari 100 anak kelas 4, 5 dan 6 di negeri ini telah terpapar pornografi bahkan sebagian diantara mereka mengalami kerusakan otak, hati ummi masih tetap optimis menatap masa depan saat mengingat para penghafal Al-quran yang menyibukkan pandangan mereka dengan ayat-ayat Allah dan menjaga mata mereka dari kemaksiatan pandangan.

Ketika ummi membaca berita tetang semakin banyaknya pemuda-pemudi yang terjerumus dalam pergaulan bebas, bahkan anak-anak seusia sd mengalami musibah hamil di luar nikah, hati ummi masih optimis menatap masa depan karena ada segolongan kecil pemuda penghafal Al-quran yang sedang menyibukkan diri untuk mempelajari agama Allah.

Ketika ummi melihat semakin maraknya anak-anak yang menghabiskan waktu senggang mereka dengan bermain games online, bahkan sebagian diantara mereka membolos dan duduk di warnet sepanjang hari, hati ummi masih optimis menatap masa depan karena ada segelintir pemuda penghafal Al-quran yang senantiasa menjaga diri mereka dari kesia-siaan.

Ketika ummi melihat semakin marak pemuda-pemudi dengan gaya hidup hedonisme yang bersenang-senang dengan menghamburkan harta orang tua mereka, hati ummi masih optimis menatap masa depan karena ada segolongan pemuda yang hidup dalam kesederhanaan tengah menyibukkan diri menghafal Al-Quran demi mempersembahkan jubah keagungan bagi para orang tua mereka kelak di surga.

Ya…. harapan itu masih ada, sebagaimana Rasulullah SAW menjanjikan bahwa pada akhirnya dunia ini akan kembali damai dan sejahtera saat islam kelak memimpin dunia. Harapan itu masih ada karena ada kalian yang hari ini tetap berada dalam jalan kebaikan meski dunia pada umumnya bergelimpangan kemaksiatan.

Namun anakku…..
Ummi ingin menyampaikan bahwa jumlah kalian sangat sedikit. Kalian adalah orang asing yang tetap baik di tengah lingkungan yang buruk. Maka kelak akan ada sebuah generasi yang penuh kerapuhan dan kebobrokan menjadi tanggung jawab yang dipikul diatas bahu-bahu kalian.

Wahai anakku….
Maka menghafal Al-Quran saja tidak cukup. Ini hanyalah sebuah bekal dasar yang akan menguatkan kalian berjuang memimpin dunia ini menuju kebaikan.

Wahai anakku para penghafal Al-Quran….
Negeri kita, negeri Indonesia tengah berada dalam kondisi yang sangat buruk. Kekayaan kita habis dikeruk dan digali tetapi tak banyak memberikan kesejahteraan bagi para penduduknya. Ketidakmampuan kita untuk mengolah secara mandiri menyebabkan harta kekayaan kita dikelola oleh campur tangan asing. Namun sayangnya, kekayaan alam itu lebih banyak mensejahterakan pengelolanya dibanding mensejahterakan negeri ini secara lebih merata. Gunung emas kita di papua dikeruk, tetapi hasilnya tak mampu menghilangkan bencana kelaparan di setiap penjuru negeri ini. Gas bumi di negeri kita mengalir keluar, namun tak sepenuhnya membuat rakyat semua sejahtera dan mudah membeli sumber energi. Minyak bumi dan sumber energi lainnya hampir habis, tapi hasilnya tak juga mampu membuat semua anak negeri ini mengenyam pendidikan yang baik. Laut kita begitu luas namun ikan-ikan di negeri kita banyak dicuri, bahkan kekayaan ikan kita tak mampu membuat negeri ini terbebas dari becana gizi buruk.

Busana Muslim Branded Berkualitas
Busana Muslim Branded Berkualitas

Wahai anakku para penghafal Al-Quran
Kepada siapa lagi kami menitipkan negeri ini di masa depan? Kepada mereka yang hari ini sibuk nongkrong di warnet? Atau kepada mereka yang hari ini sibuk bercengkrama di warung kopi sambil mengisap rokok atau shabu-shabu? Kepada siapa lagi kami menitipkan negeri ini di masa depan wahai anakku para penghafal Al Quran? Kepada mereka yang memenuhi klub malam? Atau kepada mereka yang menyibukkan diri menonton sinetron? Kepada siapa lagi kami menitipkan negeri ini? Kepada mereka yang otaknya telah rusak karena pornografi? Atau kepada mereka yang hari ini tengah sibuk berpacaran? Kepada siapa lagi wahai anakku, kami menitipkan negeri ini? Kepada mereka yang belajar demi nilai-nilai indah dalam rapot mereka? Atau kepada mereka yang hanya sibuk mementingkan kesuksesan diri?

Wahai anakku….. negeri ini kehilangan banyak generasi peduli. Ghirah mereka mati, dengan kesibukan sekolah dari pagi hingga sore hari. Kepedulian mereka hilang, karena asiknya bermain games online perang-perangan. Jangankan mereka sempat berfikir tentang nasib umat muslim di sebagian belahan bumi, atau rusaknya bangsa ini karena budaya korupsi. Bahkan untuk peduli tentang kebutuhan diri mereka harus selalu dinasihati. Lalu kepada siapa lagi kami titipkan masa depan negeri ini? Sementara jiwa pejuang “merdeka atau mati” yang membuat negeri ini memerdekakan diri semakin hilang di hati para santri. Kepekaan para santri dalam beberapa dekade ini dikebiri sebagai bagian dari rencana konspirasi. Mereka begitu takut!!! Mereka begitu terancam jika jiwa para santri bergelora seperti jaman perang kemerdekaan dulu. Mereka berencana sedemikian rupa agar santri berada dalam zona aman saja. Mengajar mengaji, menghafal Al-quran dan mengajar agama saja. Sementara mereka berjaya dengan penuh kuasa, mengatur ekonomi dengan semena-semena.

Wahai anakku para penghafal Al-Quran!!!!!
Keluarlah dari masjid, mushola dan mihrab kalian saat Al-Quran telah tersimpan dalam dada. Pergilah engkau mencari ilmu diseluruh penjuru dunia dan jadilah engkau para ulama. Seagaimana ulama-ulama di masa dulu mengerti agama dan pemahamannya berbuah menjadi karya nyata yang bermanfaat untuk umat manusia. Wahai anakku para penghafal Al-Quran, masalah ummat ini tak mampu di bayar dengan Al-Quran yang hanya disimpan dalam dada sendiri saja. Pergilah engkau dan masuklah dalam setiap peran kekhalifahan di muka bumi ini. Jadilah sngkau penguasa adil dan pemutar roda perekonomian dunia. Bila tidak engkau yang memainkan peran dalam panggung dunia, maka mereka yang tak paham agama yang akan memainkannya. Relahkah engkau membiarkan Al-Quran yang tersimpaan dalam dada sekedar menonton panggung dunia?

Wahai anakku… para penghafal Al-Quran!!!
Keluarlah!!! Keluarlah dari masjid, mushola dan mihrob kalian saat Al-Quran telah tersipan dalam dada. Agar dunia ini dipimpin oleh segolongan kecil pemuda yang luar biasa. Lipatgandakan kekuatan kalian hari ini sebelum engkau memimpin dunia. Karena pemuda-pemuda kebanyakan di masa kini adalah PR-PR mu di masa depan nantinya. Keluarlah anakku… setelah Al-Quran tersimpan dalam dada. Jadilah engkau pejuang yang merealisasikan nubuwat Rasul-Mu bahwa kelak islam akan memimpin dengan manhaj ala Rasulullah sebelum kiamat tiba. Anakku… jadilah engkau salah satu pejuangnya!

ALLAHU AKBAR!!!!!

Parung Bogor 7 Okt 2016

Copas status astri hamidah

SHARE AGAR LEBIH BERMANFAAT
=============================
GRIYA HILFAAZ
Pusat Busana Muslim Berkualitas
Diskon setiap hari
Menerima reseller, dropshipper, agen
https://www.tokopedia.com/griyahilfaaz
update stock instagram : griya_hilfaaz
==============================

AWKARIN, ANYA GERALDINE, DAN YANA NURLIANA


 

Selain pengasuhan yang tepat, salah satu kiat dahsyat menjaga pergaulan anak2 yaitu; ibu yang istiqomah berdoa untuk anak2nya dan bapak yang bertekad dan berjuang membawa uang halal kerumahnya..

Ini kisah Yana Nurliana yang inspiratif buat diambil pelajarannya. Semoga manfaat.

#ALLAH saja
*narik nafas dulu..
BismiLLAH..
*
Saya biasanya ga mau menulis sesuatu yg buruk, yg malah berpotensi menyebarkan keburukan itu sendiri.
Berhari-hari saya menahan diri, saat rame org membahas Awkarin beberapa waktu lalu.
Remaja pinter berjilbab dari kota kecil, yg kemudian pindah sekolah ke Jakarta, dan menjadi liar dan murahan kemudian.
Anehnya, keLIARan gadis ini, digemari di kalangan remaja dunia maya,
dan bahkan gadis ini bisa dapat uang banyak dari potensi para followernya.
Disebut-sebut, dari popularitasnya, Awkarin bisa dpt bayaran sampai 25juta perbulan, untuk jasa endorse produk-produk yg segmen-nya adalah remaja.
Wow!
*
Saya tahan untuk tdk menulis ttg Awkarin saat itu,
krn saya yakin, apa yg akan saya tulis, akan sama saja dgn komentar dan ‘omelan’ emak-emak yg menghiasi Vlog dan akun Sosmed Awkarin.
Tentang moral,
dan tentang agama.
*
Tapi ternyata..
Beberapa bulan kemudian, Muncul another Awkarin,
Anya Geraldine, alias Nur Amalina Hayati, nama aslinya.
Sama seperti Awkarin, gadis remaja belasan tahun ini jg gemar sekali membagikan video kisah cintanya yg lebih liar dari gaya pacaran Awkarin.
Pertama kali melihat video Anya, saya langsung marah..
Kok bisa!
Kok bisa, saya yg udh menikah 10 tahun.. Belum pernah bulan madu di hotel mewah yg lsg berhadapan dgn kolam renang yg jg ada jacuzzinya
Ini kok anak ingusan belasan tahun, nikah enggak,
pacaran baru hitungan bulan..
Kok sudah bulan madu mewah..
Kok bisa?! Mengapa! 😀
Hush!
Salah!
Maksutnya.. Kok bisa.. Remaja begituuuuuuu..
Ini Indonesia kan?
Masih negara dgn muslim terbanyak kan?
*
Well
Mundur sejenak kebelakang, tahun 2000-an.
Setiap kita, punya zaman.
*
Waktu Jaman sekolah saya dulu.. Jg ada tokoh sekaliber Awkarin dan Anya,
Jadi FIX, awkarin bukan ‘simbol seks remaja’ pertama..
Hanya saja,
Ada ‘tokoh’
Di jamannya masing-masing,
Dan dengan level perosotan moral yg sama-sama makin menurun.
*
Saya dulu tumbuh dilingkungan paling berpotensi untuk rusak.
Sejak SD, saya dah biasa ngeliat narkoba.
Temen-temen saya yg nikah karena hamil duluan, sdh ada sejak kelas 4 SD. Bukan sesuatu yg baru melihat anak SD yg centil, hamil dan brenti sekolah.
Orang Balikpapan pasti tau kampung baru.
Di situ saya lahir dan dibesarkan.
Di ‘Texas’nya Balikpapan.
Sebagai remaja ,
saya jg melewati masa-masa rentan bentrok dengan mamak saya.
Dididik dengan keras.
Kolot.
Saklek.
Alasan kuat untuk menjadi rusak, krn ‘bosan’ di rumah, bisa saja.
Terlebih saat SMA, kawan-kawan sekolah saya, Yg rusak moralnya, ga sedikit.
Yg menjual diri demi bisa beli softlense, ada!
Yang rela jadi peliharaan om-om gendut tua, demi bisa bayar biaya nongkrong di kafe, jg ga sedikit.
Saya ber-kawan dgn remaja-remaja rusak itu.
*
Lulus sekolah, dan langsung kerja diperusahaan Australia..
Jg makin meningkatkan potensi saya untuk bisa rusak.
Gadis muda,
Dari kampung miskin,
mendadak bergaul dengan org-orang kaya yg ber-pacar dan ber-suami-kan bule-bule berduit.
Peluang bandel..
Agar kehidupan ekonomi membaik, bisa saja..
Karena ditawarkan Didepan mata saya.
Saat itu, saya jg ga jelek-jelek banget, berat badan masih dibawah 50 kilo 😀
Masih bisa lah, bikin satu dua bule melirik..
Tapi ternyata tidak !
Pertolongan ALLAH ,
Saya tetap bisa jadi Yana yg apa adanya.
Tidak pernah merokok.
Tidak pernah minum minuman keras.
Tidak pernah mencoba narkoba
Tidak kenal seks bebas.
Padahal saya dikelilingi kehidupan itu.
Bahkan sebaliknya,
Bukannya Rusak, takdir ALLAH , saya malah memBAIK..
1 September 2003, saat akhirnya memutuskan berjilbab..
Saya dan kawan-kawan saya, baru saja pulang dari salah satu tempat hiburan malam paling populer di Balikpapan.
Pulang pagi.
Bayang-kan!
Habis pulang pagi..
Langsung berjilbab.
Ya!
Saya berjilbab begitu saja setelahnya.. Dan alhamduliLLAH istiqomah sampai sekarang, dgn terus belajar memperbaiki diri.
*
Saya memutuskan berjilbab dan mendekat pada ALLAH , karena merasa bosan dengan kehidupan hura-hura saya, yg ternyata.. Ga jadi apa-apa..
Senang..
Nongkrong..
Pulang!
Begitu terus!
Betapa membosankannya..
Apa mau sampai mati?
*
Begitu saja, cara ALLAH yg Maha Baik memberikan hidayahNya.
Menyelamatkan saya dari kerusakan..
Padahal saya berada didalam lingkungan yg rusak dari beragam penjuru..
Mengapa saya bisa seberuntung itu??
Merasakan hidup penuh hura-hura.. Tanpa tersentuh kerusakan??
Apa saya dr keluarga religius?
Tidak..!
Apa saya punya amalan banyak?
Gak!
Jawabannya,
Adalah doa-doa yg dilantunkan mamak saya, hampir di setiap sujud beliau,
agar ALLAH menjaga saya,
Menjaga semua anak beliau, dari buruknya godaan syetan.
Juga,
Insha ALLAH , karena kerasnya usaha bapak saya yg berkomitmen hanya membawa uang halal masuk kerumah.
Bapak saya,
Yg tetap miskin,
meski bekerja di kapal (tug boat) penarik tongkang minyak selama puluhan tahun.
Bapak saya,
Yg tetap miskin,
meski kawan-kawan dan junior beliau dikapal,
Sudah kaya mendadak satu persatu.. karena memper-jual-belikan ‘kencingan’ minyak-minyak curian yg pasti tdk akan ter-deteksi perusahaan.
Bapak saya,
Yg tetap miskin,
Karena takut anak-anaknya makan barang haram..
Ya!
Itulah yg insha ALLAH telah menyelamatkan saya dan saudara-saudara saya lainnya..!
Bukan karena saya hebat..
Tapi karena beliau-lah orangtua yg hebat!
*
Sahabats..
Jaman makin rusak..
Sekeras apapun kita memproteksi internet, agar menjadi internet sehat bagi anak-anak kita..
Sekuat apapun, kita lindungi tontonan anak-anak kita, agar jauh dari tontonan kemaksiatan..
Dunia luar tetap waspada untuk memangsa mereka..
Dunia luar tetap memaksa anak kita mendengar dan melihat hal-hal yg kita tutup-tutupi dan sembunyikan dirumah..
Sehingga..
Belajar dari almarhum Mamak dan almarhum Bapak saya..
Saya benar-benar hanya akan mengandalkan pertolongan ALLAH saja..
Agar anak-anak saya kelak,
Mengigit erat sunnah RasuluLLAH dengan gigi gerahamnya,
Erat-se-erat-erat-nya! Agar tak terlepas!
Meski semua orang akan menyebutnya pengecut karena tak mau berbaur dengan kemaksiatan.
*
Belajar dari almarhum Mamak dan almarhum Bapak saya..
Saya akan meminta suami saya,
Ayah dari anak-anak saya..
Agar Berusaha keras membawa pulang harta halal saja..
meski sampai mati kelak,
kami tetap hanya tinggal dari satu rumah kontrakan ke rumah kontrakan lainnya, karena keterbatasan..
Tak apa!
Semuanya, hanya Agar kelak ALLAH berkenan menguatkan anak-anak kami,
Agar kuat menggenggam panasnya bara api Istiqomah ber-agama.
Ditengah dunia yg semakin tua dan semakin gila.
Ya!
Sungguh,
Sebagai orang tua..
Pertolongan ALLAH saja yg bisa kita andalkan..
Hanya ALLAH saja..
Sungguh hanya ALLAH saja.

Copas :
*Yana Nurliana*,
Menulis adalah menasehati diri sendiri,
Saat melihat remaja di negeri ini,
Sudah mulai kehilangan jati diri

#SalamPuan
#SmartMommyCommunity

Busana Muslim Branded Berkualitas
Busana Muslim Branded Berkualitas

SHARE AGAR LEBIH BERMANFAAT

=============================
GRIYA HILFAAZ
Pusat Busana Muslim Berkualitas
Diskon setiap hari
Menerima reseller, dropshipper, agen

https://www.facebook.com/hilfaaz/photos/

https://www.tokopedia.com/griyahilfaaz

update stock instagram : griya_hilfaaz
==============================

Kenapa Bunda Tak Boleh Memaksa Anak Makan? Ini Alasannya!


 

Dear Bunda,
Ketika anak-anak memasuki masa sulit makan, biasanya Bunda akan memaksa mereka makan dengan berbagai cara. Dengan alasan untuk memenuhi kebutuhan gizi anak, tak jarang Bunda melontarkan paksaan dan ancaman agar anak mau menelan makanannya.

“Pemaksaan sampai ancaman ini seharusnya tidak boleh dilakukan kepada anak, karena akan memengaruhi perkembangan anak,” ungkap pakar nutrisi dan diet dari komunitas Sehati, Emilia Achmadi, MSc, kepada Kompas Female, saat talkshow sebuah merk susu di fX, Jakarta, beberapa waktu lalu. Menurut Emilia, ada beberapa kategori yang tergolong sebagai bentuk pemaksaan kepada anak agar mereka mau makan (dan sebaiknya tidak dilakukan):

1. Memberi makanan sebagai hadiah
Dalam kategori ringan, orangtua akan memberikan berbagai iming-iming agar anak mau makan. “Misalnya, kalau mau makan maka mereka akan mendapat cokelat, es krim, dan aneka makanan lainnya,” tambahnya. Meskipun anak sebenarnya tidak mau makan, namun reward yang ditawarkan akan membuat mereka mau makan demi mendapatkan makanan yang disukainya.
Meski proses iming-iming ini akan membuat anak mau makan saat itu, namun akan selalu tertanam dalam pikiran anak bahwa setelah makan mereka akan bisa menyantap makanan apa saja yang mereka inginkan.
Parahnya lagi, mereka akan beranggapan bahwa makanan reward ini boleh dimakan sebanyak-banyaknya karena mereka sudah makan nasi. Efek yang paling parah, mereka tidak bisa mengontrol asupan makanan ke dalam tubuh, dan berakhir dengan obesitas.

 

Busana Muslim Branded Berkualitas
Busana Muslim Branded Berkualitas

2. Menakut-nakuti anak
Dalam kategori ini, orangtua akan mengancam anak-anaknya untuk mau makan. Biasanya mereka akan mengancam dengan berbagai hal yang tidak disukai anak. Padahal, keengganan anak untuk makan pasti ada sebabnya. Bisa jadi makanan yang disediakan kurang enak dan kurang menggugah seleranya. Namun, biasanya orangtua lebih mementingkan agar makanan yang bergizi ini disantap habis oleh sang anak.
“Yang tak kalah penting dari rasa dalam sepiring makanan adalah tampilannya, khususnya untuk anak. Dengan tampilan yang menggugah selera, anak pasti akan lebih bersemangat untuk makan,” ungkap Executive Chef The Dharmawangsa Hotel, Vindex Tengker, kepada Kompas Female, dalam kesempatan berbeda.
Proses menakut-nakuti agar anak mau makan ini bisa mengakibatkan dampak psikologis berupa serangan anoreksia dan bulimia pada anak. Karena “proses” makan yang mereka lakukan ini hanya dilakukan untuk menyenangkan orangtuanya saja, tanpa perlu dicerna lebih lanjut di dalam perutnya. Bukan tak mungkin anak akan memuntahkan kembali makanan tersebut ketika orangtuanya tidak memperhatikan mereka lagi.

3. Mengancam
Kategori yang paling parah adalah ketika orangtua mulai mengancam anak-anaknya agar mau makan. Misalnya jika anak tidak mau makan, Bunda tidak mau bicara dengannya, anak akan ditinggal sendirian, atau akan dipukul saat tak mau makan, dan lain sebagainya.
Proses ancaman ini ketika dilakukan dalam jangka waktu yang lama terbukti bisa menimbulkan trauma tersendiri dalam diri anak. “Mereka akan mengalami sentimen negatif pada makanan,” tukas Emilia.
Sentimen negatif ini akan berakibat pada adanya rasa takut terhadap makanan, sehingga ketika tiba saatnya makan mereka akan selalu terbayang pada ancaman yang diberikan orangtuanya. “Ada rasa depresi ketika melihat makanan, dan akhirnya makan hanya karena takut akan ancaman orangtuanya. Ini sangat berbahaya,” jelasnya.

Nah Bunda, masih ingin mengancam Si Kecil? Tetap berikan yang terbaik untuk Si Kecil ya Bunda

SHARE AGAR LEBIH BERMANFAAT

=============================
GRIYA HILFAAZ
Pusat Busana Muslim Berkualitas
Diskon setiap hari
Menerima reseller, dropshipper, agen

https://www.facebook.com/hilfaaz/photos/

https://www.tokopedia.com/griyahilfaaz

update stock instagram : griya_hilfaaz
==============================