Tag Archive | anak-anak

Agar Anak Tak Menyukai Televisi


Sudah terlalu bosan kita mendengar keluhan banyak orangtua tentang tayangan-tayangan televisi. Sudah terlalu sering pula kritik terhadap tayangan televisi dilontarkan. Entah berapa kajian dan penelitian yang kerap mengangkat dampak negatif televisi terhadap perilaku anak. Kita menyadari, tidak semua acara televisi tidak bermanfaat. Namun, maukah kita jujur dengan apa yang dilihat, diperhatikan, dan direnungkan dari televisi bahwa televisi memang ada manfaatnya, tetapi mudaratnya jauh lebih banyak dan lebih dahsyat?.

Jadi, rasanya tidak ada lagi alasan untuk tidak mengendalikan anak anak dari televisi. Bagaimana caranya? Setidaknya ada dua cara yang dapat dilakukan. Pertama, meniadakan televisi di rumah. Kedua, menyediakan televisi dengan teknik PENGENDALIAN.

Mana yang tepat? Bagi saya dua alternatif ini adalah pilihan yang lebih baik. Setidaknya, dibandingkan dengan membiarkan anak sebebas-bebasnya menonton televisi tanpa batas. Televisi berpotensi menjadi racun yang diundang oleh orangtua ke dalam rumah. Tak berlebihan jika ada yang mengatakan bahwa upaya orangtua sedari kecil membina anaknya dengan agama, mengaji, hingga memilih sekolah terbaik bisa berantakan gara-gara televisi.

Memang, ada kemungkinan anak akan “menjelajah” rumah tetangga jika televisi ditiadakan di rumahnya. Namun, alasan ini sebenarnya menjadi alasan yang tak perlu dikhawatirkan karena toh selama apa pun mereka tinggal di rumah tetangga, pada akhirnya mereka akan bosan dan memilih untuk pulang ke rumah.

Meniadakan sama sekali televisi di zaman sekarang memang seperti sebuah keanehan. Namun, sebenarnya ini dapat dilakukan jika konteks keluarga, yaitu ayah, ibu, dan seluruh anak dipersiapkan dan dikondisikan. Mengganti jam televisi di rumah dengan kegiatan-kegiatan bersama antara orangtua dan anak dapat menjadi alternatif pengganti yang mengasyikkan.

1. Anggota Keluarga Baru.

Ada satu anggota keluarga tambahan dalam masyarakat modern, yaitu televisi. Dengan kehadirannya, kebersamaan antara anggota keluarga, terutama antara orangtua dan anak semakin berkurang. Orangtua dan anak mungkin menonton televisi secara bersama-sama, tetapi pada dasarnya mereka ini hadir secara jiwa bersama-sama. Mereka terkonsentrasi untuk menyelami isi acara televisi dan tidak menyelami perasaan masing-masing anggota keluarga.

Alasan “ketinggalan informasi” juga dapat dinafikan dalam keluarga yang sudah dipersiapkan dengan ketiadaan televisi ini. Bagi mereka, membaca koran setiap hari pun tidak akan pernah habis. Ribuan, bahkan jutaan informasi bisa hadir setiap hari.

Bagaimanakah mendapatkan hiburan untuk anak jika tidak ada televisi di rumah? Seorang ayah berkata bahwa bercanda dan bermain dengan anak adalah hiburan yang tak pernah membosankan. Hal ini pun akan menguntungkan semua pihak anak dan orangtua sendiri. Anak terstimulasi dan orangtua pun mendapat senyuman dan bisa tertawa bersama. Refreshing, bukan? Subhanallah, saya tersentuh dengan ikhtiar ini.

Sementara itu, menghadirkan sarana hiburan digital lainnya bernama VCD/DVD player atau komputer khusus anak di rumah juga merupakan upaya yang patut diapresiasi. Meskipun sama-sama produk elektronik, tetapi player semacam ini lebih bisa dikendalikan.

sekali lagi, meniadakan televisi dapat menjadi alternatif lebih baik daripada membebaskan anak-anak tanpa batasan tontonan televisi. Namun, tetap saja program meniadakan televisi di rumah ini akan berlangsung efektif jika orangtua proaktif mengelola kegiatan-kegiatan alternatif di rumah dan mempersiapkan mental seluruh anggota keluarga.

Jika Anda menganggap meniadakan televisi sebagai hal yang mustahil alias uthopia,alternatif lain adalah menghadirkan televisi dengan PENGENDALIAN. Metode pengendalian dapat ditempuh dengan beberapa tahapan dan upaya. Insya Allah, jika upaya ini dilakukan dengan penuh kesungguhan dan, konsistensi perlahan-lahan anak-anak bisa tak menyukai televisi dan mereka merasa tidak dipaksa jauh dari televisi.

2. Buat Anak Suka Membaca.

Ada banyak bukti anak yang suka membaca tidak menyukai televisi. Jika pun ada yang suka membaca dan suka nonton televisi, sebenarnya jika diamati lebih mendalam, kesukaan membacanya sekadar kesukaan insidental yang tak begitu mengakar. Anak-anak yang hanya membaca buku sepekan sekali jelas tidaklah dapat disebut sebagai anak yang suka membaca karena ketika seorang anak suka membaca, sungguh dia akan tidak betah jika tiga hari saja tidak membaca buku.

Membuat anak suka membaca insya Allah pekerjaan yang tak terlalu sulit. Tak perlu kursus dan tak perlu jadi orangtua hebat. Yang dibutuhkan hanyalah kemauan; kemauan untuk menyediakan waktu 15 menit sebelum tidur untuk menginstalkan program-program positif ke dalam otak anak. Bacakan buku sejak dia bayi, buku bergambar penuh warna yang akan merangsang jutaan sel sarafnya bekerja.

3. Buatlah Jam Boleh Nonton Televisi.

Ingat, jangan pernah membaliknya dengan strategi JAM TAK BOLEH NONTON TELEVISI. Sebagian orangtua terjebak dengan cara ini. Biasanya, orangtua membatasi jam menonton televisi antara Maghrib dan Isya. Tak heran jika anak mengasumsikan semua waktu di selain jam tersebut mereka boleh menonton televisi dengan bebas.

Madonnayang seksi itu ternyata juga membatasi anaknya dari televisi. Apa lagi seharusnya sebagian kita yang “mengerti” dan mengagungkan budi pekerti. Mengapa Madonna yang selebriti dunia saja membatasi anaknya dari televisi? Tiada lain dan tiada bukan, pasti alasannya karena kesadaran akan dampak negatif yang dahsyat dari televisi.

Berapa lama waktu JAM BOLEH nonton televisi? Terserah Anda, bergantung kajian dan kesepakatan Anda dengan anak juga dapat mengajukan “proposal” kepada orangtua disertai dengan argumen-argumennya. “Proposal” itu berisi kesepakatan “jam televisi” bagi mereka. Tentu saja, dengan pertimbangan keamanan acara yang akan di,tonton.

Jika Anda bertanya mengenai jam aman setiap hari menonton televisi, saya akan menjawab, maksimal hanya dua jam. Akan lebih baik jika hanya satu jam. Namun, dengan dua jam setidaknya anak dapat menonton 2 jenis tayangan yang mereka sukai. Boleh berturut-turut, misalnya 2 jam di sore hari setelah pulang bermain atau terputus satu jam setelah pulang sekolah dan satu jam di sore hari. Anda harus memastikan jam yang dipilih anak adalah jam acara televisi yang aman untuk mereka. Namun, saya mengingatkan JANGAN PERNAH DURASI MENONTON TV ANAK melebihi DURASI Anda BERSAMA Anak. Bersama anak, lho ya, bukan sekadar di dekat anak.

Jika anak menawar, merajuk, merengek, dan menangis saat televisi harus dimatikan, istiqamahlah. Berpegang teguhlah jangan pernah tergoda dengan tangisan anak sehingga Anda melanggar aturan sendiri. Ini bisa berbahaya karena anak akhirnya dapat menganggap orangtuanya hanya bicara pepesan kosong dan tidak bisa dipercaya: membuat aturan tetapi bisa diruntuhkan.

4. Simpan televisi di tempat yang tak nyaman.

Bagaimana tak betah berlama-lama di depan televisi jika televisinya saja sudah mahal, suaranya menggelegar pula. Tempat duduknya? Wah, sofa empuk modern minimalis yang sangat nyaman. Lengkap dengan makanan kecil!

Coba kita balik dengan alternatif-alternatif ini: simpan televisi di komputer dengan memakai tv tuner atau simpan televisi di bawah tangga atau simpan di dekat kompor atau simpan di dekat meja yang sempit. Bercanda? Tidak, dijamin cara Ini akan sangat tokcer. Insya Allah anak Anda tidak akan betah berlama-lama menonton televisi.

5. Bantu anak membuat kegiatan mandiri saat Anda tengah sibuk.

Sebagian orangtua mengalami kesulitan saat menjalani kesibukan urusan rumah tangga dan mengurus anak. Akhirnya, televisi lagi-lagi menjadi jalan untuk mengalihkan perhatian agar tidak menganggu kegiatan orangtua.

Untuk sebagian besar anak, bahkan orang dewasa sekalipun, tidak melakukan kegiatan sama sekali dan hanya menunggu, tentu saja adalah hal yang membosankan. Tak heran jika kerewelan menjadi hal yang tak terhindarkan. Bagi anak-anak di atas usia 7 tahun, mereka dapat saja secara mandiri melakukan kegiatan yang mereka senangi, tetapi anak di bawah usia tersebut, masih dirasa sulit untuk menemukan kegiatan yang sesuai dengan usia mereka. Insya Allah, orangtua dapat menciptakan 1001 jenis kegiatan mandiri agar mereka tidak asyik berada di depan televisi. Saya hanya meyebutkan beberapa contoh saja, saya yakin Anda dapat menemukan ribuan kegiatan lainnya.

• Mewarnai mainan anak
• Menggambar atau membuat tato di kaki.
• Menggunting daun
• Menempel gambar
• Main beras atau pasir
• Menyusun bangunan dari buku-buku/casing CD/kaset
• Menggulung-gulung kertas
• Same Action (program aksi mirip: ibu memasak beneran anak masak mainan, ibu nyuci piring benaran, anak nyuci piring mainan).
• Menyimpan 20 barang tersembunyi dan anak mencarinya jika ketemu ibu beri hadiah spesial.
• water game (pake mangkok, sendok, sedotan)
6. Sediakan waktu bersama anak.
Saat bersama anak, Anda tidak hanya berada di dekat anak. Tak sedikit orangtua merasa “aman” karena telah me nyediakan waktu di dekat anak dengan menjadi ibu ruma tangga. Maaf, jangan salah kaprah, saya selalu mengatakan kepada ribuan orangtua yang mengikuti program saya: Jangan bangga dulu, Anda memilih menjadi ibu rumah tangga seolah-olah telah menyediakan waktu 24 jam untuk anak, tetapi tidak satu jam pun ternyata bersama anak.

Bersama anak itu artinya Anda tidak bertiga dengan koran, tidak berempat dengan televisi, tidak berlima dengan masakan, tidak bertujuh dengan cucian. Saat bersama anak, Anda benar hadir bersama anak, bicara dengan anak, dan bukan sekadar bicara pada anak. Kadang menjadi “peserta”, kadang menjadi “panitia” dari acara yang Anda selenggarakan anak di rumah. Kadang tertawa bersama, sesekali boleh menangis mengenang cerita.

Karena hanya berada di dekat anak, orangtua yang lebih banyak BICARA KEPADA ANAK daripada BICARA DENGAN ANAK dan sebagian orangtua akhirnya mengalami kelelahan mental yang luar biasa: CAPEK DEH… Oleh karena itu, tak sedikit ibu rumah tangga yang terlihat kelelahan dan stres. Bukankah anak itu anugerah? Bukankah saat memilih berinteraksi lebih dengan sumber anugerah, Anda seharusnya salah satu orang yang paling bahagia?

Menjadi orangtua terbaik bukan berarti kita harus menyediakan waktu 24 jam hidup kita hanya untuk urusan anak. Semakin dewasa, anak-anak kita pun tidak membutuhkan bersama orangtua selama-lamanya. Mereka pun butuh waktu dengan teman-temannya seperti kita juga berhak melakukan kegiatan-kegiatan sendiri tanpa anak. Anda hanya diminta menyediakan waktu bersama anak. Jika Anda menyediakannya, sungguh saat anak mendekati, orangtua akan merasakan kesejukan, ketenangan, keriangan dan anak-anak benar menjadi cahaya mata {qurrotu ‘aini) dan bukan penganggu orangtua.
Bagi saya, satu jam sehari. Bagi para ayah dan ibu yang bekerja, 2-4 jam sehari sudah cukup. Inilah yang hilang dari sebagian anak zaman sekarang. Tidak sedikit anak menjadi “yatim piatu” saat orangtuanya masih lengkap. Mereka bertemu setiap hari dengan orangtua, tetapi sebagian ‘say hello’ semata. Sebagaian orangtua bertemu dengan anak-anaknya bahkan bersama dengan anak di depan televisi. Sebagian mereka menangis. Ya, menagis, tetapi bukan menangis karena menyelami isi hati anak-anaknya sendiri, tetapi menangis karena isi acara televisi.

Ihsan Baihaqi Ibnu Bukhari

BAGAIMANA MENJALANKAN TEKNIK TIME OUT PADA ANAK


Salah satu teknik ampuh untuk mendisiplinkan anak adalah dengan teknik “time out” atau sudut diam. Dalam hal ini, banyak orangtua yang mengira bahwa time out adalah hukuman bagi anak. Padahal, sesungguhnya time out bukanlah hukuman, melainkan strategi untuk mengajari anak-anak mengendalikan diri dan menenangkan diri mereka sendiri. Time out melatih anak-anak untuk belajar mengatur pikiran dan perasaan mereka, sampai mereka siap mengungkapkannya dengan baik pada Anda selaku orangtuanya. Dengan demikian, anak-anak pun dapat berlatih untuk bersabar dan mengerti konsep bertanggungjawab atas perilaku mereka.

Sebelum memberlakukan aturan time out, orangtua dan anak harus memiliki kesepakatan terlebih dahulu. Minimal, orangtua harus menegaskan pada anak bahwa di dalam rumah, ada perbuatan-perbuatan buruk yang tidak dapat ditoleransi dan punya konsekuensi. Misalnya, Anda bisa menetapkan bahwa memukul, berteriak marah, merebut, berbohong, dan melempar barang-barang adalah perilaku yang tidak boleh dilakukan. Maka tegaskan bahwa ketika anak melakukan salah satu atau semua perbuatan tersebut, mereka harus siap menanggung konsekuensinya, yaitu duduk di sudut diam yang sudah ditentukan.

Yang tak kalah penting adalah kekompakan orangtua. Aturan rumah tidak akan pernah berlaku jika orangtua tidak kompak dalam menjalankannya. Dan percayalah, sesungguhnya anak-anak adalah penilai yang sangat baik. Mereka akan belajar dan akhirnya tahu, siapa orangtua yang bisa berpihak kepadanya dan mau menuruti keinginannya. Intinya, jangan saling remehkan keputusan pasangan Anda masing-masing.

Lalau bagaimana menjalankan teknik “time out” ini?

1. Berikan peringatan terlebih dahulu

Menarik anak langsung ke sudut diamnya ketika mereka bertingkah laku buruk bukanlah hal yang tepat. Karena sering kali, anak-anak sendiri belum faham bahwa yang mereka lakukan itu salah. Dan bila ini terjadi, anak-anak pasti akan semakin marah dan merasa diperlakukan tidak adil.

Kita bisa menentukan bentuk peringatan, dan anak-anak harus tahu itu. Ketika anak berlompat-lompatan di kasur dan menginjak tangan adiknya yang masih bayi, kita bisa memberinya “warning” segera setelah perbuatan pertama dilakukan. Misalnya, “Mas, tolong segera turun, kasihan adik nanti kena tangannya. Jika mas masih lompat-lompat lagi, silakan duduk di sudut diam,”. Atau bisa juga dengan “berhitung” tiga kali pelanggaran dan masuk sudut diam segera setelah pelanggaran ketiga dilakukan.

2. Pastikan anak mendengarkan Anda

Sering kali, kita memberikan peringatan pada anak secara sambil lalu. Atau hanya berteriak dari tempat kita berdiri atau duduk, sementara anak-anak sibuk dengan diri mereka sendiri di ruangan yang lain. Contohnya, anak-anak sibuk bergelut di ruang tamu, sementara kita berteriak dari dapur sambil memasak. Bahkan sekalipun jarak dapur dan ruang tamu itu dekat, suara Anda tidak akan pernah bisa terdengar oleh mereka yang asyik dengan pergulatan mereka sendiri. Belum lagi bila sudah pecah tangis salah satu atau lebih dari mereka.

Saya pribadi lebih memilih mematikan kompor dan menghentikan kegiatan merajang sayuran, dan mendatangi mereka. Aturan tetaplah aturan yang harus diberlakukan.

Datangi anak, kemudian rendahkan diri Anda setinggi anak. Bicaralah dengan tenang dan pastikan bahwa anak Anda memperhatikan Anda. Menyentuh bahu atau mendudukkannya di pangkuan juga bisa membantu mendapatkan perhatian mereka.

3. Satu menit untuk setiap satu tahun umur anak

Time out efektif mulai bisa diberlakukan setelah anak berusia dua tahun, ketika mereka sudah mulai faham dengan bagaimana konsep time out itu diberlakukan. Patokannya adalah satu menit untuk satu tahun usia anak. Maka misalnya putera Anda berusia 3 tahun, maka time outnya 3 menit. Jika usianya 4 tahun, maka time outnya 4 menit dan begitu selanjutnya.

Percayalah, satu menit bagi seorang anak sangatlah berharga!

4. Tempatkan di sudut yang bisa dipantau

Kesalahan yang sering terjadi adalah orangtua mengunci atau mengurung anak di kamar atau bahkan di kamar mandi. Ini tidak akan efektif, anak-anak akan merasa takut dan diperlakukan dengan kejam oleh Anda, atau bahkan mereka bisa mencari jalan untuk kabur melalui jendela!

Tempatkan di area yang lapang dan bebas benda-benda yang dapat mencelakakan anak. Misalnya, di sudut ruang tengah. Tempatkan satu kursi kecil disana untuk mereka duduk, atau bisa diganti dengan karpet kecil untuk mengantisipasi lantai yang dingin. Pilih ruangan yang bisa Anda pantau dari tempat Anda atau minimal, anak tahu bahwa Anda memperhatikan mereka.

5. Perlihatkan pengatur waktu 

Pasang alarm dan letakkan di dekat mereka atau di tempat yang dapat mereka lihat. Disarankan untuk memilih pengatur waktu yang berukuran besar, agar anak-anak dapat melihat angkanya dan mendengar setiap detak yang berbunyi dari alarm tersebut. Selain itu, pengatur waktu yang besar juga dapat menghindarkan anak untuk melemparkan atau merusaknya.

6. Ulangi pengatur waktu bila anak meninggalkan tempat time outnya

Salah satu kunci kegagalan orangtua memberlakukan sistem time out adalah karena biasanya orangtua masih memberikan toleransi atau nego atau bisa ditawar ketika anak meninggalkan tempat time outnya. Misalnya, ketika seharusnya anak time out selama empat menit, ketika di menit ke tiga lebih lima detik mereka berlari pergi, orangtua membiarkannya.

Tidak ada tawar-menawar dalam time out. Katakan pada anak Anda, sebelum alarm berbunyi, mereka tidak boleh meninggalkan sudut diamnya. Dan bila mereka meninggalkannya, maka alarm akan diset lagi dari awal. Itu adalah sebuah “momok” menakutkan bagi seorang anak! Pastinya, mereka akan tahu, jika mereka semakin berbuat ulah, maka akan semakin lama pula mereka kehilangan waktu bermain mereka.

Alifa dulu sering kali menggunakan alasan “mau pipis” untuk meninggalkan time outnya. Bahkan meski ia pipis betulan setelah saya bawa ke kamar mandi, tetap saya ulangi lagi dari awal time outnya. Ini sangat bermanfaat baginya untuk tahu bahwa saya tidak bermain-main dalam menerapkan aturan. Dan perlahan, akhirnya ia tidak lagi menggunakan “mau pipis” untuk menghindari time out.

7. Jangan interupsi time out

Awal-awal menerapkan time out, terkadang saya atau ayah Alifa masuk dan mulai berbicara padanya. Ini dikarenakan kami tidak tega atau kasihan mendengarnya menangis, apalagi dengan gaya “mimbik-mimbik”nya yang meminta dikasihani. Tapi, ternyata itu sebuah kesalahan juga yang membuat ia tahu bahwa jika saya masuk dan menghiburnya, maka ia terbebas dari time out. Sejak saat itu, saya menegarkan diri untuk tidak terbujuk oleh “nanti mbak Fafa sedih”-nya yang selalu jadi jurus ampuh meluluhkan hati saya.

Ya, waktu berbicara akan tiba, segera setelah alarm berbunyi.

8. Time out selesai, dan bicaralah

Setelah time out selesai, jangan biarkan anak terus menangis atau duduk di sudut diamnya. Dekati anak, dan berikan ia pelukan. Setelah itu, bicaralah dengannya. Kita perlu menanyakan pada mereka apa yang terjadi dan mengapa mereka melakukan kenakalan tersebut. Anak-anak pun harus belajar mengungkapkana lasan-alasan mereka dengan baik, dan belajar untuk tahu bahwa time out bukanlah hukuman bagi mereka. Mereka juga butuh bukti bahwa sudut diam bukanlah sudut kebencian Anda, melainkan sudut untuk menenangkan perasaan mereka.

Dan sekali lagi…

Kekompakan orangtua serta konsistensi orangtua adalah merupakan kunci sukses dari teknik time out ini.

 

Rujukan : Nanny 911, Penerbit Hikmah

CARA MENGATASI TANTRUM PADA ANAK


Ketika si kecil Anda mengalami ledakan tantrum atau ledakan kemarahan, apa yang biasa dan bisa Anda lakukan untuk meredakannya?

Hampir semua ibu mengalami kegalauan dan merasa bingung menghadapi anak-anak mereka yang tantrum. Terlebih bila tantrum itu terjadi ketika sedang berada di luar rumah atau tempat-tempat umum atau di saat ibu sedang disibukkan oleh sesuatu, maka tekanan yang dirasakan oleh ibu pasti akan semakin besar.

Secara teori, tantrum biasanya terjadi pada anak usia 1-4 tahun dan hanya berlangsung sekitar 2 menit. Karena ketika kemampuan verbal dan kontrol fisik seorang anak sudah semakin membaik, sifat atau perilaku tantrum ini akan mereda dengan sendirinya. Namun, tentu saja, menangani tantrum tak bisa sembarangan. Harus ada pembinaan dari orangtua kepada anak tentang bagaimana mereka harus belajar mengontrol diri dan mengatasi gejolak emosi mereka. Jika hanya melakukan pembiaran dengan menganggap “ah, namanya juga anak-anak, nanti juga bakalan hilang sendiri” dan bahkan menuruti setiap tuntutan anak, maka imbas ke depannya adalah anak akan tumbuh menjadi anak yang bossy dan egois.

1. Cari tahu dan pelajari penyebab anak-anak menjadi tantrum. Anak-anak cenderung mudah marah karena mereka lapar, sakit, bosan, kelelahan, atau frustrasi. Mempelajari penyebab ini tentunya butuh observasi selama beberapa minggu, tidak bisa hanya sehari atau 2 hari saja. Buat catatan-catatan perilaku keseharian anak, dan kemudian pelajarilah catatan tersebut. Kita bisa mengetahui kapan anak cenderung mudah marah, apa penyebabnya, kapan saja anak bisa tidak marah dan menurut, kondisi emosinya saat ia sakit atau kelelahan, dan lain sebagainya. Dari catatan itulah nantinya kita bisa mencari jalan untuk menghindari atau meminimalisir terjadinya tantrum. Bagaimanapun, menghindari penyebab tantrum itu lebih mudah daripada menghadapi ledakan tantrumnya.

Jadi, jangan buru-buru berkonsultasi dan menanyakan “anak saya kenapa”, “saya bingung menghadapinya”, “saya ngga tahu kenapa dia begitu” atau “bagaimana solusinya” jika kita sendiri belum mencoba untuk mencari tahu dan mengobservasi anak kita sendiri. Yang paling mengerti anak-anak seharusnya adalah ibu dan ayah mereka. Psikolog, konsultan anak, dokter, semua mempelajarinya dari keterangan orangtua si anak. Memberikan solusi hanya sesuai teori. Tapi bagaimana prakteknya di rumah atau di luar, mereka tidak tahu dan pastinya banyak yang tidak akan mencari tahu.

2. Perhatikan gejala awal anak tantrum. Biasanya, sebelum anak benar-benar “meledak”, mereka akan menunjukkan tanda-tanda merasa “kesulitan” atau frustrasi. Misalnya seperti mereka tampak tidak sabar menyelesaikan sesuatu, membuang apa yang ada di tangannya, menarik napas dalam-dalam, ber-“ah-eh” (atau mimbik-mimbik – bahasa Jawa), atau perubahan mimik wajahnya. Bila tanda-tanda semacam ini sudah mulai terlihat, segera berikan pertolongan pertama : alihkan perhatiannya.

3. Alihkan perhatiannya. Perlihatkan sesuatu yang dapat menarik perhatiannya, atau ajak anak melakukan hal seru yang ia sukai, atau tawarkan untuk membacakan cerita. Sangat penting bagi kita untuk tahu apa saja yang bisa mengalihkan perhatian anak. Dan sekali lagi, ini adalah pengetahuan dasar yang harus diketahui oleh setiap orangtua.

4. Pindahkan ke lokasi yang lebih aman. Anak-anak cenderung suka melempar apa yang ada di sekeliling mereka atau berguling-guling di lantai saat mereka tantrum. Maka pindahkan ke tempat dimana ia bebas berguling-guling atau menangis yang tidak ada barang-barang di sekitarnya yang bisa mereka rusak. Atau jika sedang berada di luar rumah, pelukan ibu adalah tempat teraman bagi seorang anak yang tantrum. Biarkan anak menangis dan peluk mereka. Orang di sekitar Anda mungkin terganggu, tapi abaikan perasaan malu dan tidak enak itu. Itu wajar, dan setiap anak wajar mengalami tantrum. Yang tidak wajar adalah menuruti semua keinginan anak.

5. Jangan menyerah dan menuruti apa yang diinginkan anak. Ketika kita menyerah pada kemarahan anak dalam hitungan 2 menit atau 10 kali pukulan (jika anak marah sambil memukul), atau saat kita merasa malu pada orang lain di sekitar kita, maka anak-anak akan belajar dan menjadikan itu sebagai senjata canggih mereka di kemudian hari. Mereka akan belajar bahwa jika mereka menangis dengan gigih sedikit lagi, Anda akan luluh dan memberikan apa yang mereka mau. Maka, cobalah untuk tenang dan abaikan kemarahannya. Jika Anda nampak ingin marah dan mulai tersulut emosi, segeralah pergi dan hindari anak untuk sesaat sambil menenangkan diri Anda.

Salah seorang senior saya di sekolah bercerita bahwa anaknya cukup keras kepala dan ketika keinginannya tidak dipenuhi, anak tersebut akan marah dan menangis sambil bergulingan di lantai. Dan ketika sang ibu yakin tempat itu aman, maka anak itu pun dibiarkan saja tiduran di lantai bahkan sampai tertidur sungguhan di sana. Beliau memberikan jarak yang cukup untuk mengawasi, sambil tetap dengan aktivitas beliau sendiri. “Memang berhasil, Dik. Setelah mereda marahnya atau saat ia terbangun, saya akan memeluknya dan memberinya pengertian. Beberapa kali memang terjadi seperti itu. Tapi, saya tidak menyerah dan akhirnya anak sayalah yang menyerah dan tahu bahwa usahanya dengan cara menangis dan marah itu tidak akan berhasil,”.

6. Jangan tertawakan anak yang sedang tantrum. Anak yang sedang tantrum tidak boleh ditertawakan, dan jangan sampai membuat mereka beranggapan bahwa marah itu lucu karena semua orang tertawa. Ketika Alifa mulai merajuk dan marah, tante dan omnya sering menertawai tingkahnya. Memang lucu melihat bibirnya mengerucut dan mata sipitnya bersinar-sinar marah. Tapi, pada akhirnya itu semua justru semakin membuat tantrumnya menjadi. Semakin keras ia ditertawakan, semakin hebat pula tantrumnya. Karena ia tahu, ia “lucu” saat marah, dan ia ingin menarik perhatian dari tante dan omnya.

7. Jangan respons keinginan anak sampai ia berhenti tantrum atau berteriak. Anak-anak harus belajar bahwa setiap keinginan harus disampaikan dengan baik, bukan dengan marah, berteriak, dan menangis. Terkadang saya hanya menatap Alifa saat ia menangis minta sesuatu, atau saya hanya menghela nafas dan memberi isyarat bahwa saya ada di kamar jika ia membutuhkan saya. Saya tidak mengatakan apapun, sampai ia diam dan datang memeluk saya. Barulah saya katakan, “apa kata ajaibnya jika kamu butuh bantuan?” dan  perlahan ia mengatakan, “tolong, Bunda…”. Atau bila itu terjadi di tempat umum, saya akan dengan tegas mengatakan padanya, “Bunda hanya akan mendengarkan mbak Fafa jika mbak Fafa bisa bilang dengan baik”.

Anak-anak harus belajar dan tahu bahwa orangtualah yang memegang kendali, bukan mereka. Dalam artian, mereka boleh mengungkapkan keinginan dengan cara yang baik, namun tidak semua keinginan mereka harus dipenuhi. Inilah sikap yang seharusnya dimiliki oleh orangtua. Kita, orangtualah yang harusnya bisa mengendalikan anak, bukan anak-anak yang mengendalikan kita.

8. Berikan pelukan dan ajak anak bicara setelah tantrumnya reda. Kita wajib menentramkan hati anak dan memberikan mereka pengertian tentang sikap-sikap yang baik dan mengajari mereka cara mengungkapkan keinginan mereka dengan baik. Jika kita hanya membiarkan saja, tanpa memberikan mereka pengertian bahwa apa yang mereka lakukan itu salah, maka semua cara di atas akan sia-sia. Anak-anak tidak akan belajar dari sana dan akan menganggap bahwa tangisan dan kemarahan mereka adalah hal yang biasa. Namun, ajaklah mereka untuk mengatasi dan mengolah emosi mereka menjadi lebih baik.

http://www.rumahbunda.com/