Tag Archive | anak muda

TSIQAH DAN I’TIMAD KEPADA ALLAH


TSIQAH DAN I’TIMAD KEPADA ALLAH

Berikut adalah kisah nyata yang pernah disampaikan oleh Syekh Muhammad Hassan, semoga Allah SWT memberkati ilmu dan umurnya

Kisah tentang seorang wanita yang ditinggal pergi oleh suaminya karena suatu urusan, kepergian yang berkepanjangan.

Wanita tersebut menuturkan:

Saat suami saya pergi, dan ternyata kepergiannya berkepanjangan, saat itu tinggal bersama kami orang tua suami yang sudah sangat berumur dan menderita penyakit yang sudah sangat parah. Dan – Alhamdulillah – kami dikaruniai Allah SWT seorang anak perempuan yang masih kecil. Keluarga kami adalah keluarga yang sangat miskin, jika kami makan siang, maka kami tidak makan malam, dan sebaliknya. Kondisi seperti ini sudah berlangsung lama pada keluarga kami.

Pada suatu malam, saat kami sedang menderita kelaparan dengan sangat berat, tiba-tiba anak perempuannya terkena demam serius, badannya sangat panas, tubuhnya menggigil dengan sangat kuat, padahal bapak mertua juga tidak dalam keadaan yang baik, saya sendiri juga sangat lapar, dan perut sudah berkelit-kelit. Saat itu saya teringat kepada Q.S. An-Naml: 62

أَمَّنْ يُجْيْبُ الْمُضْطَرَّ إِذَا دَعَاهُ وَيَكْشِفُ السُّوْءَ … [النمل : 62]

Atau siapakah yang memperkenankan (do’a) orang yang dalam kesulitan apabila ia berdo’a kepada-Nya, dan yang menghilangkan kesusahan

Ya, betul, bukankah kami sedang dalam kesulitan dan kesulitan, bukankah kami dalam keadaan lapar, sakit, fakir, kanker, dan … banyak dosa?

Teringat ayat tersebut, saya segera berwudhu, lalu aku basahi potongan kain dengan air, lalu saya tempelkan pada dahi putri saya, maksudnya adalah mengkompress-nya agar panasnya mereda, sebab kami tidak mempunyai es untuk mengkompresnya. Setelah itu aku berdiri untuk melakukan shalat hajat. Selesai shalat, saya berdo’a kepada Allah SWT. Lalu kuganti kain kompres yang telah mongering dengan kain basah yang baru, lalu aku shalat lagi dan berdo’a lagi, begitu seterusnya berulang-ulang aku melakukannya.

Tiba-tiba pintu rumah diketuk orang dan saat saya buka, ternyata seorang dokter berdiri di depan pintu. Dokter? Ya.. yang berdiri di depan pintu adalah seorang dokter yang datang ke rumah kami di tengah malam. Sang dokter bertanya: “Mana putrimu yang sakit itu?”. Sambil menyimpan rasa bingung dan belum hilang rasa terkejut saya, saya menjawab: ‘Ada di dalam. Sang dokter masuk rumah dan langsung memeriksa putri saya. Selesai memeriksa, sang dokter menyuguhkan faktur biaya yang harus kami bayar. Maka saya pun menjawab: “Mohon maaf, karena kami tidak memiliki apa-apa, kami tidak mempunyai uang, kami tidak mempunyai sesuatu apa pun untuk membayar tagihan ini.

Sambil marah sang dokter menjawab: “Kalau memang tidak mempunyai apa-apa, kenapa kamu menelpon kami di tengah malam, sehingga saya tergopoh-gopoh bangun dan berangkat ke tempat ini!”.

Wanita itu menjawab sambil gemetaran karena teringat harus membayar biaya pemanggilan dokter, biaya periksa dan biaya obat: “Mohon maaf dokter, di rumah kami tidak ada telpon!”.

Dengan bingung dokter menjawab: “Bukankah ini rumah si fulan?”

Sang wanita menjawab: “Bukan, si fulan itu adalah tetangga sebelah kami”.

Dokter terdiam sejenak, lalu pergi berpamitan.

Tidak berapa lama dokter itu datang lagi sambil menangis, dan ia berkata: “demi Allah, saya tidak akan keluar dari rumah ini sebelum kami mengetahui kisah kalian, sebab, saat kami datangi rumah si fulan itu, mereka dalam keadaan tidur semua, dan saat kami bangunkan, mereka ternyata tidak memiliki anggota keluarga yang sakit”.

Maka wanita tersebut menceritakan kondisinya secara lengkap, termasuk cerita tentang bagaimana ia memohon kepada Allah SWT, sehingga sang dokter itu tiba.

Segera sang dokter itu pergi lalu kembali lagi dengan membawa makanan dan kebutuhan rumah tangga lainnya, dia juga membawa obat. Lalu ia berkata kepada wanita tersebut: “Nanti setiap bulan insyaAllah aka nada yang datang ke sini untuk memberi kafalah kepada kalian, begitu seterusnya sampai waktu yang Allah SWT kehendaki”.

Sungguh, ini sebuah kisah yang menggambarkan betapa penting tsiqah dan I’timad (bersandar) kepada Allah SWT

Sepuluh Wasiat Untuk Para Murabbi Qudwah


Sepuluh Wasiat Untuk Para Murabbi Qudwah

Nukilan: Sheikh Mohamed Hamed Elawa

Terjemahan: UsTACZ

الحمد لله العلي الكبير اللطيف الخبير ،والصلاة والسلام على قدوة المربين وسيد الداعين إلى الله على بصيرة والمجاهدين فيه بإحسان ، وعلى آله وأصحابه ومن والاه  وبعد,

Firman Allah SWT:

هُوَ الَّذِي بَعَثَ فِي الْأُمِّيِّينَ رَسُولاً مِّنْهُمْ يَتْلُو عَلَيْهِمْ آيَاتِهِ وَيُزَكِّيهِمْ وَيُعَلِّمُهُمُ الْكِتَابَ وَالْحِكْمَةَ وَإِن كَانُوا مِن قَبْلُ لَفِي ضَلَالٍ مُّبِينٍ

“Dialah yang telah mengutuskan dalam kalangan orang-orang (arab) yang ummiyyin (yang tidak tahu membaca dan menulis) seorang Rasul (Nabi Muhammad) dari bangsa mereka sendiri, yang membacakan kepada mereka ayat-ayat Allah (yang membuktikan keesaan Allah dan kekuasaanNya), dan membersihkan mereka (dari iktikad yang sesat), serta mengajarkan mereka kitab Allah (al-Quran) dan hikmah (pengetahuan yang mendalam mengenai hukum-hukum syariat). Dan sesungguhnya mereka sebelum (kedatangan Nabi Muhammad) itu adalah dalam kesesatan yang nyata”.

(Surah al-Jumu’ah: 2)

Sesungguhnya Tuhannya telah mentarbiyahnya, maka DIA-lah sebaik-baik yang mentarbiyah. Lalu DIA menjadikan akhlaknya selari dengan al-Quran. Nabi SAW menjadi qudwah terbaik bagi para sahabat dan pengikutnya melalui tutur katanya, perbuatannya dan keadaan hal ehwalnya keseluruhannya. Begitu juga dalam aqidah, ibadah, akhlak, muamalat serta tingkahlakunya. Firman Allah SWT:

لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ

(Sesungguhnya adalah bagi kamu pada diri Rasulullah SAW qudwah terbaik).

Dia (Rasulullah SAW) adalah sebaik-baik murabbi dari sudut rabbaniyyahnya; menggauli, bermuayasyah dengan mereka (para sahabat), mempersaudarakan antara mereka, memberi arahan dan tarbiyah yang terbaik buat mereka, mengagihkan tenaga kepakaran mereka secara bijaksana, lalu dengan itu mereka berubah daripada golongan awam biasa yang terpedaya menjadi pemimpin yang mampu mencipta kemenangan. Kenapa? Kerana Rasulullah SAW adalah murabbi qudwah yang amat prihatin dan berlemah lembut dengan mereka para pengikutnya. Firman Allah SWT:

لَقَدْ جَاءَكُمْ رَسُولٌ مِّنْ أَنفُسِكُمْ عَزِيزٌ عَلَيْهِ مَا عَنِتُّمْ حَرِيصٌ عَلَيْكُم بِالْمُؤْمِنِينَ رَؤُوفٌ رَّحِيمٌ

“Sesungguhnya telah datang kepada kamu seorang Rasul dari golongan kamu sendiri (iaitu Nabi Muhammad SAW), yang menjadi sangat keberatan kepadanya sebarang kesusahan yang ditanggung oleh kamu, yang sangat menginginkan kebaikan bagi kamu, dan dia pula menumpahkan perasaan belas serta kasih sayangnya kepada orang-orang yang beriman”.

(Surah at-Taubah: 128)

Kedudukan Tarbiyah Dalam Medan Dakwah

Tarbiyah dalam kontaks dakwah merupakan perkara utama dan terpenting. Ia menjadi petunjuk dan dikira sebagai perkara thawabit (prinsip tetap) dalam agenda pengislahan , perubahan, pembinaan dan pembentukan. Itulah dia jalan bagi pembentukan individu muslim. Individu yang terbentuk inilah yang akan membentuk rumahtangga muslim qudwah, seterusnya membentuk masyarakat muslim harapan dan kerajaan Islam harapan. Imam al-Banna Rahimahullah telah menfokuskan prinsip tarbiyah dan takwin ini dalam konsepnya yang syumul, katanya:

كوّنوا أنفسكم تتكوّن بكم أمتكم

“Bentuklah diri kamu, nescaya akan terbentuklah melalui kamu umat kamu”.

العمل مع أنفسنا هو أول واجباتنا ، فجاهدوا أنفسكم واحملوها على تعاليم الإسلام وأحكامه ، ولا تتهاونوا معها في ذلك بأي وجه من الوجوه

“Beramal dengan diri kita sendiri adalah kewajipan pertama kita, maka bermujahadahlah dengan diri kamu, bawalah ia mengikuti pengajaran Islam dan hukum hakamnya, jangan kamu meremehkannya dalam apa jua keadaanpun”.

Berkata Ustaz Mustafa Masyhur Rahimahullah:

لقد أثبتت الأحداث والأيام أنه بقدر الاهتمام بالتربية تتحقق الأصالة للحركة ، واستمراريتها ونموها ، ويكون التلاحم بين الأفراد ووحدة الصف …. ، وعكس ذلك إذا أهمل جانب التربية أو حدث فيه تقصير، يظهر الضعف والخلخلة فى الصف ، ويبرز الخلاف والفرقة ويتضائل التعاون ويقل الانتاج

“Sesungguhnya peristiwa-peristiwa dan hari-hari yang telah berlalu  membuktikan bahawa keaslian harakah berkait rapat dengan keprihatinan terhadap tarbiyah. Keprihatinan terhadap tarbiyah menjamin kesinambungan dan kesuburan harakah, dan ia juga menjadi unsur kesatuan di antara individu dan safnya…. Begitulah pula sebaliknya, bilamana sudut tarbiyah diabaikan atau berlaku kecacatan dalam aspek tarbiyah, maka akan lahir fenomena kelemahan di dalam saf, seterusnya ia boleh menyebabkan berlaku perselisihan, perpecahan, lemahnya kerjasama yang akhirnya membawa kepada berkurangnya produktiviti”.

Kedudukan Murabbi Di Medan Tarbiyah

Murabbi adalah paksi dalam operasi tarbiyah, ia juga satu rukun terpenting, bahkan ia adalah batu penjuru dalam binaan dakwah ini seperti perumpamaan yang dinyatakan Imam al-Banna ketika membincangkan soal usrah dan naqibnya:

هي قاعدة الأساس فى بناء دعوتنا ، ونقيبها هو حجر الزاوية فى هذا البناء

“Ia adalah kaedah asas dalam binaan dakwah kita, sementara naqib usrah adalah batu penjuru dalam binaan ini”.

Justeru harapan dan cita-cita tarbiyah dan takwin amat bergantung kepada peranan murabbi. Ia bergantung kepada sejauhmana murabbi menjiwai peranannya, menekuni usaha, mengesani qudwah dan muayasyah bersama ikhwannya, keprihatinannya terhadap dakwah dan risalahnya. Sesungguhnya operasi tarbiyah akan bertambah mantap dan mendalam kesannya jika usaha yang disebut di atas diperkasakan, tentunya setelah diberi taufiq dan bantuan daripada Allah SWT.

 

Di sini kami ingin menyenaraikan beberapa wasiat umum yang wajib dititikberatkan oleh murabbi qudwah agar peranan tarbawinya efektif. Wasiat ini merangkumi tiga sudut asas dalam binaan takwin murabbi. Antaranya yang berkaitan;

  1. Peribadi murabbi, jiwa dan pembinaannya.
  2. Peranan murabbi, kemahiran tarbawi.
  3. Peranan murabbi menguruskan ikhwannya, amal dakwah yang berkait dengan tugasnya sebagai murabbi.

Berikut adalah 10 wasiat bagi murabbi qudwah:

  1. Murabbi mestilah mengambilberat hal keadaannya bersama tuhannya. Dia mesti memperuntukkan masa bagi dirinya. Maka hendaklah dia memelihara dirinya, berusaha mensucikannya dengan penuh keyakinan yang benar dan memastikan ibadat yang dilaksanakan sah di sisi Allah SWT.

Maka dia mestilah memberi perhatian yang serius dalam semua perkara yang boleh meningkatkan rohnya serta memastikan dia sentiasa berada dekat dengan tuhannya kerana kejayaannya mentarbiyah ikhwannya amat bergantung kepada kejayaannya mentarbiyah dirinya.

 

Di antara wasiat Imam al-Banna ialah;

ميدانكم الأول أنفسكم ، فإذا انتصرتم عليها كنتم على غيرها أقدر، وإذا أخفقتم فى جهادها كنت على سواها أعجز، فجربوا الكفاح معها اولاً

“Medan pertama kamu ialah diri kamu sendiri. Maka apabila kamu berjaya pada medan pertama ini, nescaya kamu akan berjaya di medan yang lain, sebaliknya jika kamu lokek untuk berjihad dengan diri kamu, maka kamu akan lebih lemah di medan yang lain. Ayuh! Singsing lengan kalian untuk memenangi jihad bersama diri sendiri dahulu”…

Apabila seorang murabbi menganggap bahawa dia mampu mengubah ikhwannya sedang dia sebenarnya tidak mampu untuk mengubah dirinya sendiri, maka ia dikira sebagai kealpaan yang membinasakan.

Benarlah pepatah yang mengatakan;

لاتُحسم معارك الميدان قبل حسم معارك الوجدان

“Pertempuran di medan tidak boleh dicapai sebelum pertempuran di dalam jiwa diraih”.

وأول ميادين تربية النفس التربية الإيمانية, فهي المحرك لكل خير والدافع لكل رشد

Ketahuilah bahawa medan pertama tarbiyah diri ialah tarbiyah imaniyah. Ia adalah dynamo segala kebaikan dan menjadi faktor terkuat untuk melakukan sesuatu perkara.

Murabbi mesti tahu bahawa tarbiyah adalah bekalan dan pemberian. Sesungguhnya dia tidak akan mampu untuk sentiasa memberi untuk ikhwannya jika dia tidak memiliki bekalan yang berterusan.

Allah SWT berfirman:

وَتَزَوَّدُواْ فَإِنَّ خَيْرَ الزَّادِ التَّقْوَى

“Dan berbekallah kamu, maka sesungguhnya sebaik-baik bekalan itu ialah taqwa”.

Binaan iman serta ta’abbud (ibadat) seorang murabbi adalah saham terpenting untuk

takwin sahsiah rabbaniyyah yang hatinya tertakluk dengan penciptanya (Allah SWT), dan tidak akan tertipu dengan hiasan dunia berupa kecantikan, pangkat dan gelaran. Iman itu jugalah yang membantunya memperbanyakkan ibadat, solat-solat sunat dengan khusyuk dan khudhu’, memperbanyakkan zikir dan doa, tilawah al-Quran dan

mentadabbur maknanya.

  1. Hendaklah akhi murabbi menghiasi dirinya dengan akhlak yang mulia, menjaga reputasi yang baik dan menjaga muamalah sesuai dengan qudwah yang telah ditunjukkan oleh kekasihNya Nabi Muhammad SAW. Dengan demikian murabbi tersebut mampu membuka ruang/memberi kelapangan kepada ikhwannya dengan akhlaknya.

Di dalam hadis Nabi SAW bersabda:

إِنَّكُمْ لَا تَسَعُونَ النَّاسَ بِأَمْوَالِكُمْ، وَلَكِنْ لِيَسَعَهُمْ مِنْكُمْ بَسْطُ الْوَجْهِ، وَحُسْنُ الْخُلُقِ

“Sesungguhnya kamu tidak mampu memberi kelapangan kepada manusia dengan harta kamu, akan tetapi kelapangan itu boleh kamu lakukan hanya melalui senyuman dan akhlak yang baik”.

Antara akhlak asas yang perlu dimiliki oleh para murabbi ialah akhlak sabar, berlapang dada, lemah lembut, rahmah, rendah diri, suka memaafkan kesalahan.

Firman Allah SWT:

فَبِمَا رَحْمَةٍ مِّنَ اللّهِ لِنتَ لَهُمْ وَلَوْ كُنتَ فَظّاً غَلِيظَ الْقَلْبِ لاَنفَضُّواْ مِنْ حَوْلِكَ فَاعْفُ عَنْهُمْ وَاسْتَغْفِرْ لَهُمْ وَشَاوِرْهُمْ فِي الأَمْرِ فَإِذَا عَزَمْتَ فَتَوَكَّلْ عَلَى اللّهِ إِنَّ اللّهَ يُحِبُّ الْمُتَوَكِّلِينَ

“Maka berkat rahmat Allah engkau (Muhammad) berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya engkau bersikap keras dan berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekitar kamu. Kerana itu maafkanlah mereka dan mohonkanlah keampunan buat mereka, dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam urusan itu, kemudian apabila engkau telah membulatkan tekad, maka bertaqwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakkal”.

(Surah Ali- Imran: 159)

 

Manusia menjadi tawanan perlakuan ihsan (baik) seseorang. Dan hati sentiasa menerima baik para muhsinin (orang baik) dan akan berada di sekitarnya. Lihat saja pengajaran dari kisah teman sepenjara Nabi Yusof alaihissalam, Allah SWT berfirman:

إِنَّا نَرَاكَ مِنَ الْمُحْسِنِينَ

“Sesungguhnya kami lihat kamu adalah tergolong dari kalangan orang-orang yang baik (muhsinin)”.

Sebagaimana kita memberi kelapangan dengan akhlak, kita juga mentarbiyah mereka dengan akhlak secara praktikal melalui pandangan mereka terhadap kecantikan tindaklaku kita. Dengan demikian bolehlah kita simpulkan dengan suatu hakikat bahawa;

“Akhlak murabbi adalah ibadah yang mampu membawanya bertaqarrub kepada tuhannya, ia adalah jalan untuk mentajmi’ semua hati ikhwannya, dan merupakan medan untuk mentarbiyah ikhwannya serta mentakwin muridnya”.

  1. Hendaklah akhi murabbi itu berusaha bersungguh-sungguh menimba ilmu bermanfaat untuk dirinya dan dilimpahkan kepada ikhwannya. Kerana murabbi juga berfungsi sebagai ustaz (guru) dari sudut pengisian ilmu sebagaimana yang dinyatakan oleh Imam al-Banna:

أستاذ بالإفادة العلمية

“Murabbi itu adalah ustaz (guru) dari sudut pengisian ilmu”.

Ilmu yang kita maksudkan bukan hanya ilmu yang dihafal dan menguasai beberapa buah buku –sekalipun ia dianggap penting- Namun yang lebih penting ialah bagaimana ilmu itu boleh dimanfaatkan sebagaimana sepatutnya. Justeru penekanan yang harus diberi kepada setiap bab dari ilmu tersebut ialah tentang kepentingannya di sudut amal tarbawi dan disiplinnya. Paling utama ialah bagaimana ilmu tersebut dipraktikkan. Memanfaatkan ilmu di sini bukan hanya teorinya semata-mata, tetapi ia harus melampaui kepada pengalaman amali yang merupakan terjemahan sebenar kepada hakikat ilmu tersebut.

  1. Hendaklah akhi murabbi berusaha sedaya upaya mengembangkan potensi dirinya sendiri. Antaranya berusaha memahirkan diri dengan beberapa ilmu kemahiran asas seperti; perancangan tarbawi, menyelesai masalah, pembentangan dan penyampaian, berdialog dan berbincang, mutaba’ah dan penilaian tarbawi, pembahagian tugas, menanam nilai, merubah tingkahlaku… dsb. Akhi murabbi juga harus menguasai manhaj marhalah yang dilaksanakannya, bagaimana mengoperasi manhaj agar mencapai objektifnya, bagaimana melaksanakan pelbagai wasail tarbiyah agar mencapai objektifnya masing-masing.

Di antara ilmu tambahan (penyempurna) bagi para murabbi ialah ilmu untuk mengenali sahsiah manusia; ciri-ciri dan cara bagaimana berinteraksi dengan setiap kategori itu, kemudian hendaklah dia menguasai tentang medan-medan amal dakwah dan peluang yang perlu dimainkan agar dia mampu memberi taujihat yang bersesuaian dengan kemampuan mereka (mutarabbi).

  1. Murabbi hendaklah berusaha melaksana dan memperdalamkan mu’ayasyah bersifat tarbawi bersama mutarabbinya sama ada secara fardi atau jamaie. Mu’ayasyah ini tentunya akan membantu untuk merealisasikan tiga rukun usrah (ta’aruf, tafahum dan takaful), memperkasakan hubungan hati dan penyatuan perasaan di antara anggota usrah dan sebagai persediaan membentuk bi’ah (suasana) yang membantu menyuburkan tarbiah. Justeru,  murabbi berpeluang berta’aruf secara dekat dengan mutarabbinya untuk memastikan potensi dan keupayaannya, secara tidak lansung dapat berperanan mengikut kesesuaiannya serta dapat mengenal pasti permasalahan dan kesukaran yang dihadapi selain berusaha mencari titik penyelesaiannya.

Demi merealisasikan mu’ayasyah di antara suasana keterbukaan yang terkawal dan pergaulan tarbawi yang berobjektif, mestilah dipelbagaikan wasilah, aktiviti dan metodologinya agar murabbi dapat melihat mutarabbinya di dalam situasi berbeza. Tujuannya agar mutarabbi mampu membentuk tarbiah yang efektif dan taujih yang diberikan hasil mu’ayasyah secara praktikal dalam realiti mutarabbi tersebut. Kesimpulannya boleh dikatakan bahawa; “Mu’ayasyah yang mendalam adalah asas tarbiah yang sebenar”.

  1. Murabbi hendaklah mentarbiah mutarabbinya di sudut iman dan ibadat melalui tazkiah (pembersihan) jiwa dengan ketaatan dan jenis ibadat yang mendekatkan diri kepada Allah untuk merealisasikan ubudiah kepada Allah. Semua itu mampu dicapai dengan mengikhlaskan hati kepada Allah, membetulkan niat dalam setiap perkataan dan amalan tanpa memandang kepada habuan, gelaran, pangkat dan sebagainya. Selain itu, mutarabbi dapat meningkatkan diri mereka serta menaikkan ruh jihad dan pengorbanan jiwa, harta dan masa di jalan Allah. Allah berfirman dalam Surah At-Taubah ayat 111:

إِنَّ اللّهَ اشْتَرَى مِنَ الْمُؤْمِنِينَ أَنفُسَهُمْ وَأَمْوَالَهُم بِأَنَّ لَهُمُ الجَنَّةَ

Maksudnya : “Sesungguhnya Allah membeli daripada orang-orang mukmin diri mereka dan harta mereka kerana bagi mereka ada balasan syurga”.

Kemudian memperdalamkan di dalam diri mereka perasaan tajarud terhadap dakwah dan fikrah mereka, iaitu Islam yang tulen kerana pengorbanan, jihad dan tajarud menuntut ruh jundi (ketenteraan). Maka menjadi tanggungjawab para murabbi mentarbiah mutarabbinya untuk mendengar dan taat di dalam situasi apa pun; susah, senang, cergas atau terpaksa dalam perkara bukan maksiat di samping membiasakan mereka menunaikan tugasan masing-masing dengan sempurna.

  1. Murabbi hendaklah berusaha menanamkan makna ukhuwah dan kasih sayang kerana Allah di antara ikhwah secara praktikal, bukan teori kerana ukhuwah adalah rahsia kekuatan seperti yang telah dinyatakan oleh Imam Al-Banna. Hendaklah murabbi berusaha menanam prinsip thiqah di jalan dakwah. Perkara paling asas ialah thiqah kepada qiadah, thiqah kepada manhaj, thiqah sesama ikhwah sepanjang jalan dakwah, thiqah kepada pertolongan Allah untuk memenangkan agama ini.

Murabbi juga hendaklah berusaha menanam pengharapan tinggi dengan bantuan Allah kepada hamba-hambaNya yang soleh, sentiasa memberi pencerahan tentang perjalanan dakwah ini dengan menekankan pentingnya thabat walaupun dilanda mehnah, ujian dan fitnah sama ada dalam situasi kesusahan dan kesenangan. Allah berfirman:

وَنَبْلُوكُمْ بِالشَّرِّ وَالْخَيْرِ فِتْنَةً وَإِلَيْنَا تُرْجَعُونَ

Maksudnya: “Dan Kami akan timpakan ke atas kamu ujian dengan keburukan dan kebaikan sebagai fitnah untuk kamu, dan kepada Kami jua kamu dikembalikan”.

Di antara kewajipan murabbi juga ialah menerangkan kepada ikhwan tentang penyelewengan fikrah dan harakah yang akan menjauhkan mereka dari jalan dakwah agar mereka berhati-hati kerana kebiasaannya penyelewengan tersebut bermula dari perkara yang kecil, kemudian bertambah sedikit demi sedikit dengan berlalunya masa.

  1. Hendaklah murabbi mengetahui potensi dan keupayaan ikhwahnya, lalu berusaha sedaya upaya mengagihkan peranan untuk memberi khidmat kepada dakwah serta mengajak mereka agar bergerak dan bekerja. Perkara itu boleh dilaksanakan melalui program secara praktikal. Murabbi qudwah sepatutnya tidak boleh menerima mereka yang tidak menjiwai kepentingan dakwah dan tidak bekerja untuk dakwah. Antara faktor yang boleh membantu murabbi ke arah itu ialah mempergiatkan pergaulan, mu’ayasyah serta memperkenalkan mereka medan dan bidang dakwah yang banyak.

Murabbi hendaklah memberi latihan amali bagaimana cara melaksanakan dakwah dengan betul di pelbagai medan; rumahtangga, jiran tetangga, keluarga terdekat, di tempat belajar, di tempat kerja dengan menfokuskan di medan yang sesuai dengan kemampuan dan situasi mereka. Umpamanya di kalangan remaja, pelajar atau menyebarkan dakwah atau melakukan kebajikan dan khidmat untuk masyarakat dan sebagainya, mengikut struktur jawatankuasa dan unit kerja di dalam Jemaah.

  1. Murabbi hendaklah menyediakan mutarabbinya biah (suasana) tarbawi yang akan menyuburkan tarbiah mereka mengikut manhaj marhalah. Untuk itu aktiviti yang dilaksanakan tidak seharusnya terhad dalam lingkungan usrah sahaja, akan tetapi mestilah menjangkau wasilah-wasilah lain yang tidak kurang pentingnya seperti daurah, nadwah, mukhayyam, katibah dan lain-lain secara jamaie. Penyediaan biah yang kondusif  bagi menyuburkan tarbiah ini hendaklah disusuli dengan mutaba’ah yang akan menilai pertumbuhan mereka berdasarkan manhaj marhalah sesuai dengan prinsip ‘Tarbiah Berdasarkan Objektif’. Justeru mereka yang terkehadapan akan dapat diperkasakan disamping mereka dapat memberi aspirasi kepada mereka yang lemah.

Melalui proses ini juga, murabbi hendaklah menyeimbangkan di antara dua metodologi tarbiah fardiah dan jamaiah berpaksi kepada prinsip ‘perbezaan peribadi’ dalam tarbiah tanpa mengabaikan aspek peningkatan jati diri dalam diri setiap mutarabbinya. Hal ini kerana,  ia adalah salah satu konsep tarbiah fardiah. Tarbiah fardiah itu termasuklah aspek ibadat, kemasyarakatan, dakwah dan sebagainya tetapi dalam lingkungan disiplin harakah dan tanzim.

  1. Murabbi hendaklah mengumpulkan hati ikhwahnya di sekitar dakwah serta thiqah pada jalannya (qiadah – manhaj – individu), disamping mentarbiah mereka agar terlaksana intima’ sebenar kepada dakwah secara (perasaan – fikiran – tanzim). Mutarabbi mesti ditarbiah agar memahami bahawa mereka adalah pendokong dakwah, justeru wajiblah mereka berfikir untuk dakwah, menasihati juga untuk dakwah dan menjunjung cita-cita dakwah. Demikian juga wajib para murabbi membakar semangat ikhwahnya agar sama-sama menyumbang pandapat, pemikiran untuk mengembangkan gerak kerja ini dengan menanamkan prinsip ‘Agama itu adalah nasihat’ secara beradab dan berdisiplin.

Murabbi hendaklah mentarbiah mereka bagaimana untuk bersyura (bermesyuarat) secara ilmiah dan praktikal bertunjangkan adab dan mekanisma yang betul. Kita berdoa kepada Allah SWT supaya DIA menolong memberi kemenangan kepada dakwah kita, menyebarkan fikrah kita, memberkati ukhuwah kita, memberi taufiq pimpinan kita, menghimpunkan kita semua di atas kalimah kita yang benar. Begitu juga kita berdoa kepada Allah SWT agar DIA mengikhlaskan niat kita, menerima amalan kita dan menjadikan semua amalan kita itu pada timbangan kebaikan di hari kiamat nanti… Allah berfirman:

يَوْمَ تَجِدُ كُلُّ نَفْسٍ مَا عَمِلَتْ مِنْ خَيْرٍ مُحْضَرًا

Maksudnya: “Pada hari di mana kamu akan mendapati setiap jiwa memperolehi segala perkara yang dilakukan di dunia dahulu dihidangkan di hadapan masing-masing”.

Hubungan antara Amal Tarbawi dan Amal Siyasi


Hubungan antara Amal Tarbawi dan Amal Siyasi


Oleh: Syeikh Muhammad Abdullah Al-Khathib (Anggota Maktab Irsyad Ikhwanul Muslimin)

Amal Siyasi Islami mempunyai dua titik tolak mendasar:

Pertama: Amal Siyasi Islami adalah amal sepanjang hayat, sebab, medan amal siyasi adalah keseluruhan amal kehidupan dan keduniaan semata, baik sosial, ekonomi, politik dan lainnya. Dan ia tidak mempunyai hubungan dengan urusan-urusan agama murni, semisal ibadah, ritual dan aqidah, di mana medannya adalah amal dakwah dan bukan amal siyasi. Jadi, amal siyasi adalah amal madani, hanya saja, hukum-hukumnya dan berbagai pengorganisasiannya, sumbernya adalah syariat Islam; tercakup di dalam pengertian syariat Islam ini adalah keseluruhan nash-nash ilahiyah dan seluruh ijtihad-ijtihad aqli dan ilmi dari manusia

Kedua: Amal Siyasi Islami adalah bahagian yang tidak dapat dipisahkan dari amal Islami secara umum. Hal ini tercakup oleh Islam yang syumul dan kenyataan bahwa Islam adalah manhaj kehidupan yang lengkap. Dan hal ini merupakan aqidah seorang muslim, di mana keimanannya tidak sah, dan agamanya tidak sempurna kecuali dengan aqidah ini.

Berdasar kepada tabiat “double gardan” seperti ini, dapat dikatakan bahwa amal siyasi Islami tidak lain adalah amal siyasi madani yang:

• Di-shibghah dengan shibghah Islamiyah dan

• Iltizam (komitmen) dengan nilai dan prinsip-prinsip Islam.

Oleh kerana dasar inilah, maka:

1- Kejayaan amal siyasi Islami mewajibkan untuk mengikuti:

a. Manhaj Islam

b. Pokok-pokok dan dasar-dasar ilmu-ilmu politik semasa

c. Prinsip-prinsip amal siyasi pada umumnya, sebagaimana telah dijelaskan di atas

2- Komitmen yang sempurna dengan nilai, prinsip dan akhlak Islam yang mulia serta:

a. Syar’i dalam hal tujuan dan sarana

b. Haram mempergunakan sarana-sarana politik yang menyimpang, seperti: menipu, manuver dan konspirasi, menghalalkan cara-cara menyesatkan dan kemunafikan, tidak kredibel, prinsip “tujuan menghalalkan cara”.

c. Kemahiran dalam mengungkap dan membongkar cara-cara yang tidak bermoral.

Dasarnya adalah ucapan Umar: “Saya bukan penipu, akan tetapi tidak boleh ditipu”.

3- Kemestian memperhatikan hukum-hukum syar’i dan bertitik tolak dari mafahim Islamiyah yang benar dalam khithab siyasi, sikap dan berbagai tindakan politik seluruhnya, serta memperhatikan dengan sungguh-sungguh fakta-fakta dan berbagai situasi semasa, regional dan internasional.

Allah Berfirman:

الم. غُلِبَتِ الرُّومُ . فِي أَدْنَى الْأَرْضِ وَهُمْ مِنْ بَعْدِ غَلَبِهِمْ سَيَغْلِبُونَ . فِي بِضْعِ سِنِينَ لِلَّهِ الْأَمْرُ مِنْ قَبْلُ وَمِنْ بَعْدُ وَيَوْمَئِذٍ يَفْرَحُ الْمُؤْمِنُونَ . بِنَصْرِ اللَّهِ يَنْصُرُ مَنْ يَشَاءُ وَهُوَ الْعَزِيزُ الرَّحِيمُ

“Alif Lam Mim. Bangsa Romawi telah dikalahkan. di negeri yang terdekat, dan mereka setelah kekalahannya itu akan menang. dalam beberapa tahun (lagi), bagi Allah-lah urusan sebelum dan sesudah (mereka menang), dan pada hari (kemenangan Romawi itu) bergembiralah orang-orang yang beriman. karena pertolongan Allah. Dia menolong siapa yang Dia kehendaki, Dia Mahaperkasa, Mahapenyayang”. (Ar-Rum:1 – 5).

4- Memperhatikan kaedah-kaedah siyasah syar’iyyah, mengenal dan memahami realiti (fiqhul waqi’), situasi semasa, kemahiran mengaitkan antara nash dan penerapannya dalam realiti, muwazanah antara kaedah-kaedah Islam dan berbagai perkembangan baru yang menuntut adanya murunatul harakah (kelenturan gerak), serta tathawwur mustamir (pengembangan berterusan) dalam sikap juz`i dan marhali serta dalam sarana untuk merealisasikan tujuan-tujuan strategi.

5- Bertolak dari syumuliyatul Islam dan bahwasanya Islam mengatur segala urusan kehidupan, amal siyasi Islami harus menangani berbagai isu dan problem besar yang sedang dihadapi oleh tanah air kita, serta memandang semua itu sebagai bahagian yang tidak terpisah dari amal Islami…

khususnya masalah:

a. Reformasi politik.

b. Penghapusan segala bentuk korupsi, baik di bidang kewangan, birokrasi dan akhlak dan kebebasan awam.

c. Kestabilan pemerintahan.

d. Penegakan disiplin.

e. Publikasi perilaku peradaban Islami dalam berbagai interaksi kehidupan.

f. Keadilan dalam distribusi kekayaan nasional kepada publik yang miskin.

g. Mengarahkan sumber-sumber kewangan untuk memberikan keadilan kepada kelompok fuqara’ dan papa.

h. Penghapusan jurang pemisah antara kaya dan miskin.

i. Pewujudan prinsip kesempatan yang sama atas dasar kemampuan dan kelayakan, bukan atas dasar lainnya.

j. Menjaga harta awam dari penjarahan dan pemborosan serta memandangnya sebagai milik baitu malil muslimin, di mana setiap penduduk mempunyai hak yang ditetapkan atasnya dan bukannya milik negara atau penguasa yang boleh berbuat sekehendaknya, dan bahwasanya kekuasaan penguasa atas harta tersebut terikat dan bergantung kepada kemaslahatan kaum muslimin.

k. Masalah utama bangsa Arab dan Islam, utamanya masalah Palestin.

Dan bahwasanya solusi kita terhadap semua masalah ini haruslah memiliki keistimewaan shibghah Islamiyah yang jelas, yang berdiri di atas tsawabit yang qath’iy, tujuan dan maqashid Islamiyah dan dengan mempergunakan perangkat, instrumen dan sarana Islam, dan juga berdiri atas dasar ilmiah moden serta bukan merupakan copi paste dari solusi sekuler.

Hubungan Antara Tarbawi dan Siyasi

Hubungan antara tarbawi dan siyasi dapat disimpulkan bahwasanya hubungan di antara keduanya adalah hubungan tarabuth (saling terkait), takamul (saling melengkapi) dan tawazun (keseimbangan). Gambaran dan dimensi hubungan-hubungan ini tampak dalam penjelasan berikut:

1- Amaliyah tarbawiyah (proses tarbiyah) adalah amaliyah ta’sisiyah (proses pembentukan dasar) untuk:

a. I’dad wa takwin al-rijal wa bina’ al-kawadir al-tanzhimiyah (menyiapkan, membentuk dan membina kader-kader struktural).

b. Tazkiyatun nufus wal arwah (mensucikan jiwa dan rohani) agar mereka memiliki kemampuan untuk memikul beban amal siyasi maidani amali (kerja politik praktis lapangan)

c. Gharsu al-iltizam (menanamkan komitmen) dalam diri mereka, kehidupan, perilaku dan segala urusan mereka dengan sekumpulan nilai dan muwashafat khusus yang mengantarkan mereka untuk meningkatkan berbagai kemampuan mereka, memungsikan powernya dalam bentuknya yang sebaik mungkin.

d. Ta’hiluhum ilmiyyan wa amaliyan wa tadriban (meningkatkan kemampuan ilmiah, operasional dan keterampilan) mereka dalam menjalankan tugas yang dibebankan kepada mereka.

Jika amaliyah tarbawiyah menjalankan fungsi takwin dan ta’hil-nya, maka hal ini akan tercermin dalam kualiti pelaksanaan dari sisi ijadah (bagus), itqan dan ihsan yang akan merealisasikan buah yang paling berkat serta hasil yang terbaik dengan jerih payah paling efisien serta penekanan sisi negatif sekecil mungkin. Namun jika pelaksanaan fungsi ini tidak bagus, maka takwin khuluqi nafsi (pembentukan akhlaq dan jiwa) akan melemah, atau jika perhatian kepada aspek ta’hil ilmi amali tidak diperhatikan, maka hasilnya akan berbalik seratus lapan puluh darjah.

2- Mukadimah bagi penegakan daulah Islamiyah yang merupakan tujuan terpenting dari dakwah kita tidak dapat direalisasikan kecuali dengan amal siyasi yang memiliki beragam bentuk dan melalui berbagai tahapan. Bentuk dan tahapan ini mempergunakan berbagai uslub (cara) untuk memunculkan ta’tsir siyasi (dampak politik) di samping ta’tsir da’awi (pengaruh dakwah), sebagaimana nasyath siyasi (aktiviti politik) sendiri dapat memberikan peranan da’awi dalam merekrut personel baru, peningkatan kualiti sosial secara umum, penyebaran wa’yu Islami serta perealisasian dan penegasan syumuliyatul Islam.

3- Jawaban atas pemberian perhatian secara berimbang antara amal tarbawi dan amal siyasi tanpa ada dominasi satu pihak atas pihak lainnya; sebab ajaran-ajaran Al-Qur’an, yaitu tazkiyatun nafs tidak dapat dipisahkan dari kekuasaan iaitu politik, kerana inilah politik merupakan sebahagian dari Islam, dan menjadi kewajiban seorang muslim untuk memperhatikan aspek pemerintahan sebagaimana perhatiannya kepada sudut rohiyah.

Wallahu a’lam

Taujih Asatidz Dakwah


Taujih Asatidz Dakwah

“Ketika orang tertidur kau terbangun, itulah susahnya. Ketika orang merampas kau membagi, itulah peliknya. Ketika orang menikmati kau menciptakan, itulah rumitnya. Ketika orang mengadu kau bertanggung jawab, itulah repotnya. Oleh karena itu, tidak banyak orang bersamamu disini, mendirikan imperium kebenaran” (KH. Rahmat Abdulloh)

“Apa kabar hatimu? Masihkah ia seperti embun? Merunduk tawadhu dipucuk- pucuk daun? Masihkah ia seperti karang? Berdiri tegar menghadapi gelombang ujian. Apa kabar imanmu? Masihkah ia seperti bintang? Terang benderang menerangi kehidupan. Semoga Allah senantiasa melindungi dan menjagamu, saudaraku”.

“Jadi ingat musim, gugur, daun berjatuhan, udara dingin, sepi, tiada interaksi, Pagi berkabut sore mendung,. Kasihan, tersisa semangat dalam himpitan dan senyuman dalam tekanan”.

“Seonggok kemanusiaan terkapar, siapa yang mengaku bertanggung jawab? Bila semua menghindar. Biarlah saya yang menanggungnya. Semua atau sebagiannya.” (KH. Rahmat Abdulloh)

“Suatu hari nanti saat semua telah menjadi masa lalu, aku ingin berda di antara mereka, yang bercerita tentang perjuangan yang indah, dimana kita, sang pejuang itu sendiri. Tak pernah kehabisan energi tuk terus bergerak, meski terkadang godaan tuk berhenti atau bahkan berpaling arah begitu menggiurkan. Keep istiqomah!”

“Jika ku dapat menarik “Pelangi, Mentari dan Bintang”. Maka ku akan membentuk “Namamu” disitu, lalu akan ku kembalikan lagi ia ke “Langit” agar semua orang tahu, betapa bahagianya aku mempunyai “saudara” seperti dirimu. Selamat beraktivitas”.

“Jangan takut untuk mengabil langkah besar hari ini, Jika memang dibutuhkan!! Jurang tak bisa disebrangi hanya dengan 2,3 lompatan kecil!! Nahnu Duat Fii Kulli Zaman“.

“Politik telah membuahkan konsekuensi yang maha dahsyat dalam peradaban manusia. Dalam abad ke-20 saja politik telah membunuh 200 juta jiwa di seluruh dunia. Keep ur soul pure.”

Beban Dakwah hanya dapat diberikan oleh mereka yang memahami dan memeberikan apa saja yang kelak di tuntutnya ; Waktu, Kesehatan, Harta, Bahkan Darah. Mereka Bergadang saat semua tertidur lelap. Mereka gelisah saat yang lain lengah. Seakan-akan lisannya yang suci Berkata , “Tidak ada yang kuharap dari kalian. Aku hanya mengharap pahala Allah” (Hasan Al Banna)

“Ana harap, seperti tulisan antum, militansi dakwah tetap dipegang erat, bagaimana kita sabar, tsabat dengan keadaan yang ada, karena ini ujian, kondisi seperti apapun, saat ikhlas dalam dakwah senantiasa kita pegang, tak akan pernah melemahkan dan menggoyahkan diri kita untuk terus bersamanya, afwan atas segala kata yang kurang berkenan”.

“Insya Allah, masa depan yang gemilang itu, kejayaan yang pernah hilang ditangan kita, akan dapat kita kembalikan lagi. Dan saya berharap Indonesia akan menjadi pemimpin kebangkitan ini”. (DR. Yusuf Al Qardhawi)

“Bukannya seorang dai, mereka yang mengeluh tentang sulitnya merubah kondisi masyarakat. Ia bukannya dokter, ia hanya orang yang berpakaian dokter tapi jijik melihat luka besar yang harus diobatinya”. (KH. Rahmat Abdullah)

“Kalau betul-betul mau melahirkan orang-orang yang menjadi agent of change dalam arti pioneer yang siap menannggung beban yang terberat sekalipun, maka tidak bisa tidak, jalan yang ditempuh adalah kembali kepola Tarbiyah Rasulullah. Kuatnya dakwah bertumpu pada kekuatan Tarbiyah”. (Ust. H.M Ihsan Arlansyah Tanjung)

„Saya akan mengatakan kepada seluruh aktivis muslim, jangan pernah mereka merasa sempurna. Karena stiap kali orang merasa sempurna, saat itu ia berhenti bertumbuh. Dia berhenti berkembang..” (Ust. H.M Anis Matta, Lc)

“Kalau kita punya problem, minta pertolongan kepada Allah dengan sabar dan sholat. Curhat (Utarakan semua masalah)saja kepada Allah, insya Allah akan dikasih jawaban, dikasih Jalan Keluar”. (K.H Ruslan Efendi) Dai itu tentara Allah, Big Boss kita Allah.

“Ada hal yang perlu diingat, bahwa sebuah jamaah atau organisasi dakwah berkembang dengan pesat kalau didalamnya terdapat pribadi-pribadi yang kreatif, Ada pribadi-pribadi yang melakukan sesuatu yang baru”. (Ust. Ahmad Madyani. Lc)

“Dai yang tidak punya bekalan ruhiyah, akan mengalami kelemahan. Jika ia sudah merasa berda’wah namun tidak berhasil, ia akan menganggap dirinya sudah tidak layak lagi berda’wah dan akhirnya berganti arah.” (Ust. Zufar Bawazier, Lc)

“Jelas, kontinuitas dalam melakukan amal sekecil apapun diharapka mampu meredam hal-hal yang cenderung kearah kefuturan. Namun Demikian, ada batasanya seperti yang diwasiatkan oleh Rasulullah saw.” (Ust. Amang Syafrudin, Lc)

“Diharapkan bulan Ramadhan ini bisa kita jadikan untuk lebih mensolidkan kekuatan jama’ah, karena pada bulan ramadhan sebenarnya yang lebih menonjol adalah syahrul jamaah.” (K.H Didin Hafidhudin, MS)

“Yang terpenting, Bukanlah Yahudi hancur atau tidak, tapi yang menghancurkannya kita atau bukan ? Kita khawatir tidak memiliki andil dalam berjuang menegakkan ajaran Allah swt. Jihad solusi utama menegakkan islam” (DR. Ahzami Samiun Jazuli, MA)

Teruntuk mujahid da’wah pilihan : “Terkadang hak-hak pribadi kita tidak dapat kita penuhi. Jangan bertanya kemana yang lain. Jangan bertanya kenapa kita sendiri. Jangan mengingat apa yang telah kita korbankan. Jangan mengharap apa yang akan kita dapatkan. Karena sesungguhnya Allah telah memilih diri-diri ini. Maka ikhlaskanlah”

Saudaraku… “Sungguh.., kekuatan ruhiyah dan jasadiyah serta amanah adalah modal istiqamah dijalan da’wah”

“Segala sesuatu itu memiliki penyerbukan. Kesedihan itu serbuk yang melahirkan ‘amal sholeh. Tidak ada orang yang bersabar atas ‘amal sholeh kecuali dengan kesedihan”. (Malik bin Dinar)

“Hidup seorang mukmin adalah program perbaikan diri yang tertata hingga menemui Allah dalam kondisi yang terbaik”. Semoga Allah memberkahi langkah-langkah kita. Amiin.

“Sungguh beruntung orang-orang yang terus memperbaharui niatnya dalam setiap aktivitas da’wah”.

“Selalu ada harapan dalam keyakinan, selalu ada keteguhan dalam kesabaran, selalu ada hikmah dalam kesyukuran dan selalu ada keniscayaan dalam doa”.

“Untuk saudaraku yang tak pernah lelah dan putus asa. Buat dia tersenyum hingga disyurga kelak ya rabb. Allahlah yang akan menjadi muara segala beban yang menghimpit jiwa kita. Rabb..kutkan pancangan kakinya dijalanMu”.

“Sabar adalah bunga-bunga keimanan. Keharumannya adalah kepasrahan, dan meyakini hikmah dibalik setiap musibah. Kelopaknya adalah ketabahan. Tangkainya adalah keteguhan jiwa”

“Orang yang faham harus ikhlas terhadap kefahaman ilmunya.sedang orang yang ikhlas harus faham dalam mengamalkan apa yang difahaminya. Sehingga akan lahir ‘amal DAHSYAT karena ditopang oleh faham dan ikhlas”.

“Jika da’wah adalah jalan yang panjang, Jangan pernah berhenti sebelum menemukan ujungnya. Jika da’wah adalah bebannya berat Jangan minta yang ringan. Tapi mintalah punggung yang kuat untuk menopangnya. Jika pendukungnya sedikit…maka jadilah yang sedikit itu”.

“Orang sukses mengunakan tubuhnya untuk ikhtiar, otaknya untuk berfikir kreatif dan hatinya untuk bertawakal kepada-Nya”.

“Seorang mujahid adalah mereka yang selalu termotivasi, ketika yang lain berjatuhan maka ia tetap tegar. Sungguh jalan yang ditempuh masih panjang dan banyak aral menghadang. Yakunlah bahwa Allah maha penepat janji. Sekencang aral menghadang tetap Allah didalam hati kita”.

“Orang yang excellent adalah orang mampu memaksimalkan seluruh potensinya, Orang yang tawazun (seimbang) antara urusan dunia dan urusan akhirat”.

“Bersemangatlah pada apa saja yang bermanfaat bagimu, minta tolonglah pada Allah dan jangan merasa tidak mampu.” (HR. Imam Muslim)

” Kehidupan seorang mukmin layaknya mentari. Selalu hidup bersinar dan tak pernah hilang. Ia terbenam disatu wilayah untuk terbit diwilayah berikutnya. Datang menyinari memberi kemanfaatan dan rasa damai”.

“Hanya orang besar yang berani berfikir dan bertindak besar. Maka Allah titipkan amanah dan perkara besar. Mintalah energi besar pada yang Maha besar untuk menyelesaikan semuanya”.

“Jangan pernah berhenti mengepakan sayapmu saudaraku. Biarkan cobaan itu membuatmu kuat, Biarkan derasnya terpaan itu membuatmu gesit berkelit, Biarkan jiwa-jiwa pemenang itu memenuhi hatimu, Biarkan jiwa-jiwa sabar itu menjadi penyejuk bagimu”.

“Ya, Allah tambahkanlah untuk kami keikhlasan niat, kedalaman ilmu, kelapangan hati, kebersihan jiwa, kejernihan pikiran, lautan kesabaran, samudra kelembutan serta indahnya cinta dan kasih sayang dalam ukhuwah…” Tetap semangat Ikhwah!

“Menjadi orang-orang pilihan dalam da’wah, berarti meletakkan pondasi keikhlasan dalam ber’amal. Maka teguhkanlah azzam dalam hati. Berjuang itu indah, Berkorban itu nikmat.” Allah will always with you

“Keberhasilan kita tidak diukur oleh seberapa banyak apa yang kita miliki, melainkan oleh berapa banyak orang yang merasakan manfaat keberadaan kita.”

“Bahkan dalam letihpun para mujahid tetap tersenyum karena apa yang kita tunaikan menjadi jaminan bermaknanya usia. “Semoga awal semester yang diiringi dengan semangat ramadhan, bisa membawa keberkahan untuk usaha dan hasil yang terbaik. New Spirit Be Better Person!”

“Mencari Spirit yang hilang, tertatihku dibelantara dunia, menanti seberkas cahaya, jiwa-jiwa lelah ditengah perjalanan panjang, bilakah kemenangan itu datang?” Sesungguhnya kemenangan selalu seiring dengan pengorbanan,,dan keikhlasan, kesabaran diatas kesabaran adalah kunci kekuatan, sudikah diri menjadi kafilah yang digantikan?”

“Para pemburu syurga tidak akan berhenti pada tahap mimpi. Ada asa yang harus diwujudkan, Ada pengorbanan yang harus dikeluarkan. Ada amal dan karya nyata yang harus dipersembahkan.”

“Sendi-sendi kebahagiaan adalah hati yang selalu bersyukur, lidah yang terus berdzikir dan tubuh yang senantiasa bersabar..”

” Selayaknya bagi jiwa-jiwa yang mengazamkan dirinya pada jalan ini. Maenjadikan da’wah sebagai laku utama, dialah visi, dialah misi, dialah obsesi, dialah yang mengelayuti disetiap desahan nafas, dialah yang mengantarkan jiwa-jiwa ini kepada ridho dan maghfiroh Tuhannya.”

“Ada yang mengeluh, merasa jenuh, ingin gugur dan jatuh ia berkata “lelah!”. Ada juga yang lelah, tubuhnya penat tapi semangatnya kuat. Ia berkata “lillah!”, karena Allah, Ikhlaskanlah. Tetap semangat pejuang-pejuang Allah”

“Memelihara pandangan mata menjamin kebahagiaan seorang hamba didunia dan akhirat. Memelihara pandangan, memberi nuansa kedekatan seorang hamba kepada Allah, menahan pandangan juga bisa menguatkan hati dan membuat seseorang lebih merasa bahagia, menahan pandangan juga akan menghalangi pintu masuk syaithan kedalam hati. Mengkosongkan hati untuk berfikir pada sesuatu yang bermanfaat. Allah akan meliputinya dengan cahaya, itu sebabnya setelah firmannya tentang perintah mengendalikan pandangan mata dari yang haram, Allah segera menyambungnya dengan ayat nur (cahaya)”. (Ibnu Qayyim). Sebuah perenungan untuk diri.

“Suplai bantuan Allah, tidak berlaku bagi orang yang dikuasai hawanafsunya dan mengikuti syahwatnya”. (Fudhail bin Iyadh)

“Bila benar-benar kita mukmin, ikhwah, apalagi qiyadah pasti akan mendasarkan pada paradigma berpikir yang bersifat ketuhanan (manhaj tafkir rabbani) juga. Sehingga sikap al wala wal baro’nya sangatlah jelas, tidak confused dan talbiz. Manhaj Tuhan itu (Islam) telah menyediakan bagi para da’i aktivis satu manhaj tersendiri dalam berpikir dan bertindak, yang mampu menghindarkan keterjerumusan dalam kehidupan jahiliyah. Di manakah posisi kita hari ini? Apakah masih tergolong orang-orang yang tsabat dengan manhaj rabbani atau telah tersungkur ke dalam barisan pengejar rente kekuasaan? dan pasti akan hina di mata manusia dan di sisi Allah” (Ustadz Mashadi)

“Hendaklah mereka malu kepada Allah Ta’ala, dan kalau pun sudah tidak malu kepada Allah Ta’ala, malu-lah kepada malaikat sang pencatat, kalau pun tidak malu kepada malaikat, malu-lah kepada manusia, kalau pun tidak malu kepada manusia, malu-lah kepada keluarga di rumah, kalau pun tidak malu kepada keluarga, maka malu-lah kepada diri sendiri dan hendaklah jujur bahwa apa yang dilakukannya adalah kesalahan, minimal meragukan. Fitrah keimanan akan menolaknya, kecuali jika memang sudah taraf Imanuhum fi Proyekihim” (Ustadz Farid Nu’man)

“Kalau ada orang menceritakan dirinya mendambakan punya rumah mewah, kendaraan mewah, atau apa saja yang menyenangkan dari dunia, sebenarnya dia sedang menceritakan kenaifan dirinya, sekaligus menyingkap keruntuhan ma’nawiyah (jati diri) nya di hadapan orang lain. Apakah pantas seorang pemimpin merangsang anggotanya untuk mengejar harta, sementara Nabi Saw menyuruh ummatnya agar berhati-hati dengan harta dan dunia?” (Ustadz Dr. Daud Rasyid, MA)

“Salah satu faktor yang menyebabkan runtuhnya nilai-nilai perjuangan dalam dunia politik adalah saat materi menjadi tujuan utama dan gaya serta penampilan lebih diutamakan” (Ustadz Didin Hafidhuddin, Republika 7 Agustus 2008)

“Save OUR ASHOLAH DAKWAH..Save OUR ASHOLAH DAKWAH.. Save OUR ASHOLAH DAKWAH! Apa artinya sebuah kekuasaan jika kita telah menggadai keimanan dan aqidah kita?” (Thufail al Ghifari, the munsyid)

“Jamaah itu terdiri dari materi, SDM dan nilai. Jika nilai mejadi orbit materi dan SDM maka jamaah itu sehat. Jika manusia yang jadi orbit nilai dan materi, maka jamaah itu sudah sakit. Jika materi yang yang jadi orbit manusia dan nilai, maka jamaah itu mati” (Ustadz Muin Nudinillah)

“Jangan sampai nanti orang-orang tarbiyah dibenci gara-gara berorientasi kepada kekuasaan. Dia tidak boleh berbangga dengan bangunannya. Lalu tertidur-tidur, tidak pernah mengurus urusan hariannya. Tetap dia harus kembali kepada akar masalahnya, akar tarbiyahnya. Tempat kancah dia dibangun. (Ustadz Rahmat Abdullah rahimahullah, Poster Sang Murabbi)

“Sesunguhnya jamaah, dimaksudkan pertama kali adalah untuk mentarbiyah jiwa, mempengaruhi ruh, menguatkan akhlak, menumbuhkan jiwa kesatria pada jiwa umat dan niatkan sebagai dasar (fondasi) membangun kebangkitan ummat dan masyarakat”. (Imam Hasan Al Banna)

Do’a Memohon Dijauhkan dari Teman Akrab yang Khianat


Do’a Memohon Dijauhkan dari Teman Akrab yang Khianat

 

.
Mari sejenak kita menengadahkan tangan, memohon kepada Allah Ta’ala dengan penuh kesungguhan. Dia-Lah Allah Ta’ala, tempat kita meminta dan memohon pertolongan. Sejenak berdo’a kepada-Nya:
.
اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوْذُ بِكَ مِنْ خَلِيلٍ مَاكِرٍ ، عَيْنَاهُ تَرَيَانِي وَقَلْبُهُ يَرْعَانِي ، إِنْ رَأى حَسَنَةً دَفَنَهَا ، وَإِنْ رَأى سَيِّئَةً أَذَاعَهَا
.
Allahumma inni a’udzu biKa min khaliilin maakir, ‘aynaahu tarayaani wa qalbuhu yar’aani, in ra-aa hasanatan dafanaha, wa in ra-aa sayyi-atan adzaa-‘aha
.
“Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari teman dekat yang makar (suka menipu), matanya melihatku, tetapi hatinya mencurigai aku. Jika ia melihat kebaikanku, ia sembunyikan. Tetapi jika ia melihat kejelekanku, ia sebarkan.”
.
Ini merupakan do’a yang bersumber dari hadits mursal riwayat Ibnu Najjar dari Sa’id Al-Maqburi. Yang dimaksud hadits mursal ialah perkataan yang dinisbahkan kepada Rasulullah shallaLlahu ’alaihi wa sallam, tetapi sanadnya terhenti pada tabi’in. Tidak ada sahabat dalam sanadnya. Jumhur ulama menolak hadits mursal sebagai dasar hukum, tetapi sebagian ulama lain membolehkan dengan syarat yang sangat ketat. Adapun riwayat berupa do’a, sikap ulama jauh lebih longgar dalam soal pengamalannya.
.
Pada do’a tersebut, kita memohon kepada Allah Ta’ala agar dilindungi dari kejahatan teman akrab atau sahabat karib yang khianat dan menipu. Dijauhkan dari keburukannya dapat beragam bentuknya. Terserah kepada Allah Ta’ala bagaimana Ia melindungi kita. Husnuzhan tetap kita jaga, tidak sibuk mencurigai sebagian sahabat dekat kita, tetapi Allah Ta’ala menjauhkannya pelan-pelan. Kita tidak memutus persahabatan, tapi tanpa terasa saling berjauhan. Atau, boleh jadi tetap akrab, tapi Allah Ta’ala singkirkan tipu dayanya dari kita. Dalam ini kita tidak perlu bersibuk menelisik keburukan sahabat kita, yang menjauh maupun yang mendekat.
.
Tetapi adakalanya Allah Ta’ala bukakan keburukan teman akrab tersebut secara terbuka, tanpa kita berusaha mengorek keburukannya maupun bersibuk membuka kelicikannya. Allah Ta’ala bukakan tanpa kita berusaha membuka keburukannya. Boleh jadi kita bahkan tidak memiliki kecurigaan dan kekhawatiran sedikit pun. Tetapi Allah Ta’ala kabulkan do’a kita dengan cara ini disebabkan sahabat dekat kita itu khianat secara luas dengan memanfaatkan kedekatannya dengan kita.
.
Kembali kepada do’a tersebut. Kita bedo’a dengan sungguh-sungguh tanpa menentukan caranya. Kita pasrahkan kepada Allah Ta’ala, sembari di saat yang sama tetap menjaga persangkaan baik kita kepada rekan-rekan kita.

Boleh jadi kawan dekat yang ingin khianat itu, belumlah dekat. Ia baru ingin mendekat. Tapi Allah Ta’ala kabulkan do’a dengan menghalangi seseorang yang ingin mendekat tersebut sehingga tetap tak dapat akrab. Boleh jadi tetap berteman, tetapi tetap tidak dapat akrab dan kita dijauhkan dari sikap khianatnya dia.
.
Yang kita perlu sangat hati-hati adalah persangkaan kita terhadap kawan kita yang jauh maupun sahabat kita yang sekarang agak renggang hubungannya. Sekalipun mungkin saja jauhnya seseorang dari kita karena Allah Ta’ala menghalanginya dari mengkhianati kita, tetapi kita tidak dapat memastikannya sehingga kita hendaknya tidak sibuk dengan persangkaan buruk (su’uzhan) yang boleh jadi salah besar.
.
Wallahu a’lam bish-shawab.

Tilawah Yaumiyah (1 Juz Sehari)


Tilawah Yaumiyah (1 Juz Sehari)

“Hendaklah Anda memiliki wirid harian membaca al-Qur’an
minimal satu juz setiap hari, dan berusahalah sungguh-sungguh agar
jangan sampai mengkhatamkan al-Qur’an melewati satu bulan.”

(Hasan al-Banna dalam Majmu’atur Rasail)

Anjuran Imam As-Syahid Hasan Al-Banna rahimahullah di atas nampaknya merujuk kepada hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dari ‘Abdullah bin ‘Amr, yang pernah berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

« اقْرَإِ الْقُرْآنَ فِى شَهْرٍ » . قُلْتُ إِنِّى أَجِدُ قُوَّةً حَتَّى قَالَ « فَاقْرَأْهُ فِى سَبْعٍ وَلاَ تَزِدْ عَلَى ذَلِكَ »

Bacalah (khatamkanlah) Al Quran dalam sebulan.” ‘Abdullah bin ‘Amr lalu berkata, “Aku mampu menambah lebih dari itu.” Beliau pun bersabda, “Bacalah (khatamkanlah) Al Qur’an dalam tujuh hari, jangan lebih daripada itu.” (HR. Bukhari No. 5054).

Para ulama sebelumnya pun memang selalu menganjurkan kepada orang muslim untuk memperbanyak khatam Al-Qur’an, begitu juga memperbanyak membaca dan mentadaburinya. Karena ia adalah Kalamullah, termasuk beribadah dalam membacanya. Dan Allah Ta’ala senang jika hamba-Nya beribadah kepada-Nya dengan cara tersebut.

Dahulu para ulama salaf rahimahumullah mempunyai semangat tinggi yang berbeda-beda, di antara mereka ada yang mengkhatamkan setiap hari sekali. Ada yang tiga hari, ada yang sepekan dan ada yang mengkhatamkan setiap bulan sekali. Bisa jadi mengkhatamkan sebulan sekali termasuk semangat yang paling rendah. Seyogyanya seorang muslim jangan berkurang darinya.

Ibnu Hazm rahimahullah mengatakan, “Seorang muslim yang ingin selamat, hendaknya melakukan sesuatu yang diharapkan dapat mengalahkan dosa  dan kesalahannya. Hendaknya dia membiasakan membaca Al-Qur’an dan dapat mengkhatamkan setiap bulan sekali. Kalau dapat menghatamkan kurang dari itu, maka hal itu lebih bagus.” (Rasail Ibnu Hazm, 3/150)

Bahkan para ahli fiqih Hanbali menegaskan: “Makruh mengakhirkan khatam Al-Qur’an lebih dari empat puluh hari tanpa uzur.” Ahmad berkata, “Yang paling sering saya dengar, hendaknya seseorang mengkhatamkan Al-Qur’an dalam empat puluh hari. Karena hal itu (tidak khatam lebih dari empat puluh hari) dapat melupakannya dan meremehkannya.” (Kasysyaful Qana, 1/430)

Saudaraku, sadarkah kita bahwa al-Qur’an diturunkan oleh Allah Ta’ala kepada manusia agar menjadi sumber tazwid (pembekalan) bagi peningkatan ruhiy (spiritualitas), fikri (pemikiran) serta minhaji (metode/pedoman)? Sehingga jika sehari saja kita jauh dari al-Qur’an, berarti terputuslah dalam diri kita proses tazwid tersebut? Dalam kondisi seperti itu yang akan terjadi adalah adanya proses tazwid dari selain wahyu Allah Ta’ala; baik itu dari televisi koran, majalah, maupun yang lainnya yang sesungguhnya akan menyebabkan ruh yang ringkih dan keyakinan yang melemah terhadap fikrah dan minhaj? Padahal tiga unsur ini sesungguhnya menjadi sumber energi untuk berdakwah dan ber-harakah. Sehingga melemahlah semangat beramal saleh dan hadir dalam halaqah, padahal halaqah merupakan pertemuan untuk komitmen beramal saleh.
Dapat dibayangkan bagaimana jadinya kalau proses tazwid itu telah terputus sepekan, dua pekan, bahkan berbulan-bulan? Semoga Allah Ta’ala menjaga kita dari sikap menjadikan al-Qur’an sebagai sesuatu yang mahjuran (ditinggalkan).

وَقَالَ الرَّسُولُ يَا رَبِّ إِنَّ قَوْمِي اتَّخَذُوا هَذَا الْقُرْآنَ مَهْجُورً

Berkatalah Rasul: “Ya Tuhanku, sesungguhnya kaumku menjadikan Al Qur’an ini suatu yang ditinggalkan “. (Q.S. Al-Furqan ayat 30)

Sesungguhnya ibadah tilawah Al-Qur’an telah menjadi tuntutan kepada manusia sejak dia menjadi seorang muslim. Oleh karena itu, cukup banyak orang-orang yang tanpa tarbiyah atau halaqah, namun memiliki komitmen tilawah satu juz setiap hari, sehingga setahun khatam 12 kali–bahkan lebih, karena saat bulan Ramadhan dapat khatam lebih dari sekali.

Lalu, bagaimana dengan kita, ashhabul  harakah wad da’wah? Sudahkah keislaman kita membentuk sikap iltizam (komitmen) dengan ibadah ini ? Ketika kita melalaikannya, dapat diyakini bahwa kendalanya adalah dha’ful himmah (lemah dan kurangnya kemauan), bukan karena tidak mampu melafalkan ayat-ayat al-Qur’an seperti anggapan kita selama ini. Yang harus dibentuk dalam hal ini bukanlah hanya sebatas mampu membaca, namun lebih dari itu, bagaimana membentuk kemampuan ini menjadi sebuah moralitas ta’abbud (penghambaan) kepada Allah, sehingga hal ini menjadi sebuah proses tazwid yang berkesinambungan sesuai dengan jauhnya perjalanan da’wah ini!

Dari sini kita menjadi faham, ternyata tarbiyah adalah sebuah proses perjalanan yang beribu-ribu mil jauhnya. Entah berapa langkah yang sudah kita lakukan. Semoga belum mampunya kita dalam beriltizam dengan ibadah ini adalah karena masih sedikitnya jarak yang kita tempuh. Jadi yakinlah, selama kita komitmen dengan proses tarbiyah, dengan seizin Allah kita akan sampai kepada kemampuan ibadah ini. Dan sekali-kali janganlah kita menutupi ketidak mampuan kita terhadap ibadah ini dengan berlindung di bawah waswas syaithan dengan bahasa sibuk, tidak sempat, acara terlalu padat dan lain sebagainya.

Sadarilah bahwa kesibukan kita pasti akan berlangsung sepanjang hidup kita. Apakah berarti sepanjang hidup kita, kita tidak melakukan ibadah ini hanya karena kesibukan yang tak pernah berakhir?

Kita harus berfikir serius terhadap tilawah satu juz ini, karena ia merupakan mentalitas ‘ubudiyah (penghambaan), disiplin dan menambah tsaqofah. Apalagi ketika kita sudah memiliki kesadaran untuk membangun Islam di muka bumi ini, maka kita harus menjadi batu bata yang kuat dalam bangunan ini. Al Ustadz Imam Asy Syahid Hasan Al-Banna rahimahullah begitu yakinnya dengan sisi ini, sehingga beliau menjadikan kemampuan membaca al-Qur’an satu juz ini sebagai syarat pertama bagi seseorang yang berkeinginan membangun masyarakat Islam.

Dalam nasihatnya beliau mengatakan, “Wahai saudaraku yang jujur dengan janjinya, sesungguhnya imanmu dengan bai’at (perjanjian) ini mengharuskanmu melaksanakan kewajiban-kewajiban ini agar kamu menjadi batu bata yang kuat, (untuk itu) : “Hendaklah Anda memiliki wirid harian membaca al-Qur’an minimal satu juz setiap hari, dan berusahalah sungguh-sungguh agar jangan sampai mengkhatamkan al-Qur’an melewati satu bulan.”

Sebagaimana kita saat melakukan hijrah dari kehidupan Jahiliyyah kepada kehidupan Islamiyah harus banyak menelan pil pahit selama proses tarbiyah, maka jika kita sudah ber-‘azam (bertekad) untuk meningkat kepada kehidupan yang ta’abbudi (penuh nilai ibadah), maka kita harus kembali siap menelan banyak pil pahit tersebut. Kita harus sadar bahwa usia dakwah yang semakin dewasa, penyebarannya yang semakin meluas dan tantangannya yang semakin variatif sangat membutuhkan manusia-manusia yang Labinatan Qowiyyatan (laksana batu bata yang kuat). Dan hal tersebut kuncinya terdapat di dalam interaksi dengan al-Qur’an!

Sebuah proses tarbiyah yang semakin matang, dengan indikasi hati dan jiwa yang semakin bersih, secara otomatis akan menjadikan kebutuhan terhadap al-Qur’an mengalami peningkatan. Sejarah mencatat bahwa para sahabat dan salafusshalih ketika mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Bacalah al-Qur’an dalam satu bulan”, maka begitu banyak yang menyikapinya sebagai sesuatu yang minimal.

Bayangkan dengan diri kita yang sering menganggap tilawah satu juz itu sebagai sesuatu yang maksimal! Maka tugas yang sangat minimal ini pun sangat sering terkurangi, bahkan tidak teramalkan dengan baik. Bagaimana mungkin kita dapat mengulang kesuksesan para sahabat dalam membangun Islam ini, jika kita tidak melakukan apa yang telah mereka lakukan (walaupun kita sadar bahwa ibadah membaca Al-Qur’an satu juz ini bukan satu-satunya usaha di dalam berdakwah)?

Sebutlah Utsman Ibn Affan, Abdullah Ibn Amr Ibn Ash, Abu Hanifah dan Imam Asy-Syafi’i Radiyallahu Anhum. Mereka adalah contoh orang-orang yang terbiasa menyelesaikan bacaan al-Qur’annya dalam waktu tiga hari sampai satu pekan. Karena bagi mereka khatam sebulan terlalu lama untuk bertemu dengan ayat-ayat Allah. Jadi, jika seseorang rutin setiap bulan khatam, berarti hanya sekali dalam sebulan ia bertemu dengan surat Maryam, misalnya.

Dapat kita bayangkan seandainya kita berlama-lama dalam mengkhatamkan al-Qur’an. Berarti kita akan sangat jarang bertemu dengan setiap surat dari al-Qur’an!

Kalau saja tarbiyyah qur’aniyyah kita telah matang, kita akan dapat merasakan bahwa sentuhan tarbawi (pendidikan) surat al-Baqarah berbeda dengan surat Ali Imran. Begitu juga beda antara an-Nisaa, al-Maidah dengan surat yang lainnya. Sehingga ketika seseorang sedang membaca an-Nisaa, pasti dia akan merindukan al-Maidah. Inilah suasana tarbiyyah yang belum kita miliki yang harus dengan serius kita bangun dalam diri kita. Kita harus waspada, jangan sampai hidup ini berakhir dengan kondisi kita melalaikan ibadah tilawah satu juz. Sehingga hidup berakhir dengan kenangan penyesalan. Padahal sesungguhnya kita mampu kalau saja kita mau menambah sedikit saja mujahadah (kesungguhan) dalam tarbiyyah ini.

Kiat Mujahadah dalam Bertilawah Satu Juz

  1. Berusahalah melancarkan tilawah jika Anda termasuk orang yang belum lancar bertilawah, karena ukuran normal tilawah satu juz adalah 30 – 40 menit. Jika lebih dari itu, Anda harus lebih giat berusaha melancarkan bacaan. Jika melihat durasi waktu di atas, sangat logis untuk melakukan tilawah satu juz setiap hari dari waktu dua puluh empat jam yang kita miliki. Masalahnya, bagaima kita dapat membangun kemauan untuk 40 menit bersama Allah, sementara kita sudah terbiasa 40 menit atau lebih bersama televisi, ngobrol dengan teman dan lain sebagainya.
  2. Aturlah dalam satu halaqah kesepakatan bersama menciptakan komitmen ibadah membaca Al-Qur’an satu juz ini. Misalnya, bagi anggota halaqah yang selama sepekan kurang dari tujuh juz, maka saat bubar halaqah ia tidak boleh pulang kecuali telah menyelesaikan sisa juz yang belum terbaca. Kiat ini terbukti lebih baik daripada ‘iqob (hukuman) yang terkadang hilang ruh tarbawi-nya dan tidak menghasilkan mujahadah yang berarti.
  3. Lakukanlah qadha tilawah setiap kali program ini tidak berjalan! Misalnya, carilah tempat-tempat yang kondusif untuk konsentrasi bertilawah. Misalnya di masjid atau tempat yang bagi diri kita asing. Kondisi ini akan menjadikan kita lebih sejenak untuk hidup dengan diri sendiri membangun tarbiyyah qur’aniyyah di dalam diri kita.
  4. Sering-seringlah mengadukan keinginan untuk dapat bertilawah satu juz sehari ini kepada Allah Ta’ala yang memiliki al-Qur’an ini. Pengaduan kita kepada Allah Ta’ala yang sering, insya Allah menunjukkan kesungguhan kita dalam melaksanakan ibadah ini. Disinilah akan datang pertolongan Allah yang akan memudahkan pelaksanaan ibadah ini.
  5. Perbanyaklah amal saleh, karena setiap amal saleh akan melahirkan energi baru untuk amal saleh berikutnya. Sebagaimana satu maksiat akan menghasilkan maksiat yang lain jika kita tidak segera bertaubat kepada Allah Ta’ala. Jika kita saat ini sering berbicara tentang ri’ayah maknawiyyah (memperkaya jiwa), maka sesungguhnya pesan Imam Syahid ini adalah cara me- ri’ayah maknawiyyah yang paling efektif dan dapat kita lakukan kapan saja dan dimana saja. Ditinjau dari segi apapun, ibadah ini harus dilakukan. Bagi yang yakin akan pahala Allah Ta’ala, maka tilawah al-Qur’an merupakan sumber pahala yang sangat besar. Bagi yang sedang berjihad, dimana dia membutuhkan tsabat (keteguhan hati), nashrullah (pertolongan Allah), istiqomah, sabar dan lain sebagainya, al-Qur’an tempat meraih semua ini. Kita harus serius melihat kemampuan tarbawi dan ta’abbudi ini, agar kita tergugah untuk bangkit dari kelemahan ini,

Kendala yang Harus Diwaspadai

  1. Perasaan menganggap sepele apabila sehari tidak membaca al-Qur’an, sehingga berdampak tidak ada keinginan untuk segera kembali kepada al-Qur’an.
  2. Lemahnya pemahaman mengenai keutamaan membaca al-Qur’an. Sehingga tidak termotivasi untuk mujahadah dalam istiqomah membaca al-Qur’an.
  3. Tidak memiliki waktu wajib bersama al-Qur’an dan terbiasa membaca al-Qur’an sesempatnya, sehingga ketika merasa tidak sempat ditinggalkannyalah al-Qur’an.
  4. Lemahnya keinginan untuk memiliki kemampuan ibadah ini, sehingga tidak pernah memohon kepada Allah Ta’ala agar dimudahkan tilawah al-Qur’an setiap hari. Materi do’a hanya berputar-putar pada kebutuhan keduniaan saja.
  5. Terbawa oleh lingkungan di sekelilingnya yang tidak memiliki perhatian terhadap ibadah al-Qur’an ini. Rasulullah bersabda, “Kualitas dien seseorang sangat tergantung pada teman akrabnya.”
  6. Tidak tertarik dengan majlis-majlis yang menghidupkan al-Qur’an. Padahal menghidupkan majlis-majlis al-Qur’an adalah cara yang direkomendasikan Rasulullah agar orang beriman memiliki gairah berinteraksi dengan al-Qur’an.

Akibat dari Tidak Serius Menjalankannya

  1. Sedikitnya barokah dakwah atau amal jihadi kita, karena hal ini menjadi indikasi lemahnya hubungan seorang jundi pada Allah Ta’ala. Sehingga boleh jadi nampak berbagai macam produktivitas dakwah dan amal jihadi kita, namun dikhawatirkan keberhasilan itu justru berdampak menjadi hal-hal yang tidak diinginkan.
  2. Kemungkinan yang lain, bahkan lebih besar, adalah tertundanya pertolongan Allah Ta’ala dalam amal jihadi ini. Kalau jihad salafusshalih saja tertunda kemenangannya hanya karena meninggalkan sunnah bersiwak (menggosok gigi), apalagi karena meninggalkan suatu amal yang bobotnya jauh lebih besar dari itu? Oleh karena itu, masalah berinteraksi dengan al-Quran selalu disinggung dengan ayat-ayat jihad, seperti surat al-Anfaal dan al-Qitaal.
  3. Terjauhkannya sebuah asholah (keaslian/orisinalitas) dakwah. Sejak awal dakwah ini dikumandangkan, semangatnya adalah dakwah bil qur’an. Bagaimana mungkin kita mengumandangkan dakwah bil qur’an kalau interaksi kita dengan al-Qur’an sangat lemah ? Bahkan sampai tak mencapai tingkat interaksi yang paling minim, sekedar bertilawah satu juz saja?
  4. Terjauhkannya sebuah dakwah yang memiliki jawwul ‘ilmi (nuansa keilmuan). Hakikat dakwah adalah meningkatkan kualitas keilmuan umat yang sumber utamanya dari al-Qur’an. Maka minimnya kita dengan pengetahuan ke –al-Qur’an- an akan sangat berdampak pada lemahnya bobot ilmiyyah diniyyah (keilmuan agama) kita. Dapat dibayangkan kalau saja setiap kader beriltizam dengan manhaj tarbiyyah yang sudah ada. Lebih khusus pada kader senior. Pasti kita akan melihat potret harokah dakwah ini jauh lebih cantik dan lebih ilmiyyah.
  5. Terjauhkannya sebuah dakwah yang jauh dari asholatul manhaj. Bacalah semua kitab yang menjelaskan manhaj dakwah ini. Khususnya kitab Majmu’atur Rasail! Anda akan dapatkan begitu kental dakwah ini memberi perhatian terhadap interaksi dengan al-Qur’an. Tidakkah kita malu ber-intima’ (menyandarkan diri) pada dakwatul ikhwah, namun kondisi kita jauh dari manhaj-nya ?

Jangan Lupakan Tadabbur!

Mujahadah membaca Al-Qur’an satu juz satu hari, tidak sepatutnya menjadi penyebab terabaikannya Tadabbur Al-Qur’an!

Renungkanlah apa yang dikemukakan oleh Imam Nawawi rahimahullah berikut ini,

وَالِاخْتِيَار أَنَّ ذَلِكَ يَخْتَلِف بِالْأَشْخَاصِ ، فَمَنْ كَانَ مِنْ أَهْل الْفَهْم وَتَدْقِيق الْفِكْر اُسْتُحِبَّ لَهُ أَنْ يَقْتَصِر عَلَى الْقَدْر الَّذِي لَا يَخْتَلّ بِهِ الْمَقْصُود مِنْ التَّدَبُّر وَاسْتِخْرَاج الْمَعَانِي ، وَكَذَا مَنْ كَانَ لَهُ شُغْل بِالْعِلْمِ أَوْ غَيْره مِنْ مُهِمَّات الدِّين وَمَصَالِح الْمُسْلِمِينَ الْعَامَّة يُسْتَحَبّ لَهُ أَنْ يَقْتَصِر مِنْهُ عَلَى الْقَدْر الَّذِي لَا يُخِلّ بِمَا هُوَ فِيهِ ، وَمَنْ لَمْ يَكُنْ كَذَلِكَ فَالْأَوْلَى لَهُ الِاسْتِكْثَار مَا أَمْكَنَهُ مِنْ غَيْر خُرُوج إِلَى الْمَلَل وَلَا يَقْرَؤُهُ هَذْرَمَة . وَاللَّهُ أَعْلَم

“Waktu mengkhatamkan tergantung pada kondisi tiap person. Jika seseorang adalah yang paham dan punya pemikiran mendalam, maka dianjurkan padanya untuk membatasi pada kadar yang tidak membuat ia luput dari tadabbur dan menyimpulkan makna-makna dari Al Qur’an. Adapun seseorang yang punya kesibukan dengan ilmu atau urusan agama lainnya dan mengurus maslahat kaum muslimin, dianjurkan baginya untuk membaca sesuai kemampuannya dengan tetap melakukan tadabbur (perenungan). Jika tidak bisa melakukan perenungan seperti itu, maka perbanyaklah membaca sesuai kemampuan tanpa keluar dari aturan dan tanpa tergesa-gesa. Wallahu a’lam. ” (Dinukil dari Fathul Bari, 9: 97).

Semoga kita tergugah dengan tulisan ini, agar kita lebih serius lagi melaksanakan poin pertama daripada wajibatul akh (kewajiban aktifis muslim) ini.

https://tarbawiyah.com/

Berbekal Takut, Kita Didik Generasi Salimul Aqidah


Berbekal Takut, Kita Didik Generasi Salimul Aqidah

ADALAH Syaikh Ali An Nadawi pernah mengatakan, jika iman bekerja sebagaimana mestinya akan mendatangkan kejayaan, kemenangan, kesuksesan yang sejati (lahir dan batin). Sebaliknya, ketika iman mengalami disfungsi, identik dengan menyediakan diri untuk dijajah (qabiliyyah littaghallub). Dijajah oleh rayuan syubhat (kerusakan pikiran), syahwat (kerusakan hati) dan ghoflah (lalai dari misi kehidupan).

Tidak sebagaimana harta yang mudah diwariskan, mewarisi keimanan memerlukan perjuangan yang tidak ringan. Seorang Nabi (manusia pilihan Allah Subhanahu Wata’ala) tidak otomatis melahirkan keturunan yang memiliki kualitas keimanan seperti orang tuanya. Tidakkah putra dan istri dua hamba pilihan Allah Subhanahu Wata’ala yang shalih (Nabi Nuh, Nabi Luth), berani secara transparan menentang perjuangannya!

ضَرَبَ اللَّهُ مَثَلاً لِّلَّذِينَ كَفَرُوا اِمْرَأَةَ نُوحٍ وَاِمْرَأَةَ لُوطٍ كَانَتَا تَحْتَ عَبْدَيْنِ مِنْ عِبَادِنَا صَالِحَيْنِ فَخَانَتَاهُمَا فَلَمْ يُغْنِيَا عَنْهُمَا مِنَ اللَّهِ شَيْئاً وَقِيلَ ادْخُلَا النَّارَ مَعَ الدَّاخِلِينَ

“Allah membuat isteri Nuh dan isteri Luth sebagai perumpamaan bagi orang-orang kafir. keduanya berada di bawah pengawasan dua orang hamba yang saleh di antara hamba-hamba kami; lalu kedua isteri itu berkhianat kepada suaminya (masing-masing), Maka suaminya itu tiada dapat membantu mereka sedikitpun dari (siksa) Allah; dan dikatakan (kepada keduanya): “Masuklah ke dalam Jahannam bersama orang-orang yang masuk (jahannam).” (QS: At Tahrim (66) : 10).

Bahkan Nabi-nabi sekalipun tidak dapat membela isteri-isterinya atas azab Allah apabila mereka menentang agama.

Merenungkan arahan Allah Subhanahu Wata’ala di atas, semoga kita memilih sekolah kita dengan harap-harap cemas. Karena takut terhadap masa depan anak kita. Berbekal rasa takut, kita siapkan mereka agar tidak menjadi generasi yang lemah dalam keyakinan, lemah dalam ibadah, lemah dalam akhlak, lemah dalam bidang ekonomi, lemah dalam karakter keagamaan.

Berbekal rasa takut, kita tiru Sahab Luqman Al Hakim, agar anak kita kelak memiliki aqidah yang lurus (salimul aqidah), ibadah yang benar (shahihul ‘ibadah), mulai akhlaknya (karimul akhlak), pejuang bagi agamanya (mujahidun fi dinihi), yakin dengan kepemimpinan islam (ats tsiqah bil jamaah), cerdas pikirannya (mutsaqqaful fikr), sholih ritual dan shalih sosial (sholihun linafsihi wa shalihun lighoirihi).

Kita pantau mereka kalau-kalau ada bagian dari fase kehidupan mereka saat ini yang menjadi penyebab datanganya kerumitan dan kehinaan di masa mendatang. Berbekal rasa takut, kita berusaha dengan sungguh-sungguh agar mereka memiliki bekal yang cukup untuk mengarungi samudera kehidupan ini dengan kepala tegak dan iman yang kokoh, serta bermartabat dengan penuh kemuliaan.

Betapa mahalnya membangun keimanan pada diri anak kita. Bukankah dengan aqidah yang kokoh menjadikan anak tegar, teguh dan gigih dalam memegang prinsip yang diyakini. Prinsip itulah yang menjadi landasan yang kuat dalam berpikir dan bertindak. Dengan bekal keyakinan yang terhunjam di dalam jiwa, ia akan tenang, survive dalam menghadapi tantangan kehidupan yang semakin hari tidak bertambah ringan. Bagaikan karang di tengah samudera yang luas tidak bertepi. Kehidupan yang mengalami pasang surut, fluktuatif (naik-turun), timbul dan tenggelam, dan dekadensi moral yang menggurita , tidak mudah dan tidak sederhana ini, mustahil dapat dihadapi oleh seorang anak yang memiliki iman biasa-biasa saja.

Iman itulah yang memberi dorongan internal, motivasi intrinstik (indifa’ dzati), energi pemiliknya yang tidak ada habis-habisnya laksana sumur zam-zam, untuk menyemai kebaikan di taman kehidupan. Dan selalu mencegah kemungkaran dengan segala konsekwensinya, dengan cara bijak hingga ajal menjemput. Tanpa pura-pura dan tanpa pamrih. Tidak mengharapkan balasan dan ucapan terima kasih.

Itulah sebabnya para Nabi dan orang shalih terdahulu tidak mewariskan kepada anak keturunannya dengan dirham, dinar, dan kekayaan duniawi lainnya, tetapi mewariskan nilai-nilai immaterial (keimanan). Pusaka yang tidak ternilai harganya, yang tidak lekang oleh panas dan tidak lapuk oleh guyuran hujan. Dengan iman itulah menjadikan kehidupan mereka bermakna dan prospektif (menjanjikan masa depan yang cerah). Kehidupan tanpa dibekali dengan iman, menjadikan para pemburunya kecewa. Mereka rapuh sikap mentalnya. Mereka

Nasihat Rasululullah untuk Pelajar

Berikut ini adalah hadits yang berisi nasihat Rasulullah kepada sorang anak muda Ibnu Abbas, untuk memperkuat spirit keimanan. Dengan keimanan yang kuat, anak akan merasakan ma’rifatullah (mengenal Allah Subhanahu Wata’ala dengan pengenalan yang benar), muraqabatullah (merasakan pengawasan Allah), ma’iyyatullah (merasa disertai oleh Allah), ihsanullah (dan merasakan kebaikan Allah yang melimpah), nashrullah (pertolongan Allah). Dengan nasihat tersebut diharapkan anak memiliki sandaran spiritual yang kokoh.

“Wahai Abbas, sesungguhnya aku akan mengajarkan kepadamu beberapa kalimat ini sebagai nasihat bagimu. Jagalah hak-hak Allah, niscaya Dia pasti akan menjagamu. Jagalah dirimu dari berbuat dosa terhadap Allah, niscaya Allah akan selalu berada di hadapanmu. Apabila engkau menginginkan sesuatu mintalah kepada Allah. Dan apabila engkau meminta (urusan dunia dan akhirat), mintalah kepada Allah, dan apabila menginginkan pertolongan, mohonlah pertolongan kepada Allah Subhanahu Wata’ala. Ketahuilah, bahwa apabila seluruh umat manusia berkumpul untuk memberi manfaat kepadamu, mereka tidak akan mampu melakukannya kecuali apa yang dituliskan oleh Allah di dalam takdirmu itu. Juga sebaliknya, apabila mereka berkumpul untuk mencelakai dirimu, niscaya mereka tidak akan mampu mencelakaimu sedikitpun kecuali atas kehendak Allah. Pena telah diangkat dan lembaran telah kering.” (HR. Tirmidzi).

Betapa dahsyatnya arahan yang diberikan oleh Rasulullah. Dengan nasihat tersebut anak muda akan memiliki kepribadian yang kuat. Ia kokoh bukan karena kelebihan, harta, kekuasaan, jabatan, potensi, popularitas, dan pengaruh yang dimilikinya, tetapi terhubungnya dirinya dengan Allah Subhanahu Wata’ala. Siapapun yang terhubung dengan Allah, manusia yang tidak diperhitungkan, diangkat dan dimuliakan oleh-Nya dalam sekejab. Demikian pula, manusia yang paling kuat melebihi Fir’aun tidak berdaya menolak keputusan dari-Nya (mati tenggelam di laut merah). Jangankan menghindari datangnya musibah dan kematian, menolak rasa ngantuk saja tidak mampu. Alangkah lemahnya manusia itu. Manusia adalah makhluk yang hina. Makhluk yang faqir. Makhluk yang miskin. Makhluk yang lemah. Seandainya ada kelebihan, itu hanyalah karunia dari Allah.

Dalam riwayat lain selain Imam Tirmidzi sisebutkan, “Jagalah Allah niscaya kamu akan mendapati-Nya di hadapanmu. Ketahuilah bahwa apa yang ditetapkan lolos darimu maka hal itu tidak akan menimpamu, dan apa yang ditetapkan akan menimpamu hal itu tidak akan lolos darimu. Ketahuilah, sesungguhnya pertolongan itu bersama kesabaran, kelapangan bersama kesusahan, dan kesulitan bersama kemudahan.” (HR. Abu bin Humaid).

Nasihat Rasulullah dengan riwayat lain ini pula menggambarkan sebuah arahan yang pendek tapi padat berisi. Dengan nasihat ini anak dididik, dibimbing, dipandu untuk menggantungkan urusan dirinya hanya kepada Allah Subhanahu Wata’ala. Dengan menjaga hukum-hukum Allah SWT seorang akan dijaga, dibela dan diberi pertolongan oleh-Nya. Apa yang menimpa diri sesorang baik yang menguntungkan dan membahayakan, atas izin dan restu Allah belaka. Adakah kekuatan yang dapat mengungguli/melebihi kekuatan yang bersumber dari Zat Yang Maha Perkasa!.

Hadits tersebut pula mengajarkan kita untuk berjiwa besar. Jika dalam kesenangan jangan lupa daratan, tetapi harus pandai bersyukur. Karena kesusahan selalu melambaikan tangan kepadanya. Demikian pula ketika dalam kesulitan jangan larut dalam kesedihan, sesungguhnya kemudahan selalu melambaikan tangan untuknya.

Jika tertimpa sakit yang menahun, bukankah Nabi Ayyub dan beribu-ribu orang sudah merasakan sakit yang sama. Kita bukan orang yang pertama merasakannya. Jika didzalimi, bukankah Nabi Yusuf dipenjara, padahal dia bukan orang yang bersalah. Jika jatuh miskin, bukankah keluarga Ahlul Bait (Ali dan Fatimah) adalah termasuk keluarga sederhana, tetapi keluarga ahlul jannah. Bukan kesuksesan dan kegagalan yang kita takutkan, tetapi apakah kedua kondisi yang kontradiktif itu menambah kebaikan diri dan keluarga kita. Seringkali sesuatu yang kita benci, itu baik untuk kita. Dan sesuatu yang kita senangi, ternyata mendatangkan madharat untuk kita.

Dalam riwayat salafus shalih juga menceritakan anak-anak yang memiliki aqidah yang kuat. Suatu hari khalifah Umar bin Khathab melewati sekumpulan anak-anak sedang bermain. Semua anak berlarian karena takut kepada Amirul Mukminin kecuali satu anak. Dialah Ibnuz Zubair. Umar bertanya kepadanya,”Mengapa engkau tidak lari seperti teman-temanmu, anakku! Dia menjawab, ”Aku adalah anak yang tidak bersalah denganmu, mengapa aku harus lari darimu. Jalan pun demikian luas, mengapa aku harus menepi. Dialah putra Asma binti Abi Bakar. Ketika remaja menjadi seksi logistik, sehingga menyelamatkan Rasulullah Subhanahu Wata’ala dan Abu Bakar dari kelaparan dalam tempat persembunyiannya di Gua Tsur. Dialah saudari Aisyah ra. Istri seorang sahabat yang termasuk 10 sahabat yang dijamin masuk surga, yaitu: Abdullah ibnu Zubair.”

Dalam riwayat lain, ketika Umar bin Khathab mengadakan perjalan di hutan, dia menjumpai seorang anak gembala. Yang menggembalakan 20 ekor kambing. Umar ingin membeli seekor kambing. Ia bertanya dengan penggembala, aku ingin membeli seekor kambingmu !. Ia menjawab, kambing itu bukan milikku. Tetapi, kepunyaan majikanku. Umar melanjutkan, katakan kepada majikanmu, seekor kambing telah di makan kawanan serigala. Anak tersebut menjawab dengan tegas : Dimanakah Allah! Dia bersamamu, di mana pun kamu berada! Benar, majikanku dapat aku bohongi. Tetapi, dapatkah aku menipu Allah. Jawaban anak gembala yang melukiskan kedalaman iman tersebut menyambar hati Umar bagaikan petir. Sehingga menggetarkan hati beliau untuk kontak dan zikir kepada-Nya. Kesadaran iman inilah harta yang paling mahal. Dan kalimat tersebut yang memerdekakannya dari status budak.

Demikian pula cerita masa kecil seorang alim, yang zahid bernama Sahl At Tusturi. Anak ini setiap jam 03.00 bangun dari tidur. Pada saat yang sama, pamannya selalu membisikkan lewat telinganya, Allah Melihatku, Allah Mendengarku, Allah bersamaku. Kata-kata itu diulang-diulang selama bertahun-tahun. Sehingga mempengaruhi struktur kepribadiannya. Pada suatu hari pamannya bertanya, jika Allah Subhanahu Wata’ala selalu menyaksikanmu, tidakkah kamu takut bermaksiat kepada-Nya !. Sejak itu ia terbentuk menjadi remaja yang shalih, alim dan zahid.

Kisah terakhir adalah seorang Kiai lebih mencintai satu santri melebihi yang lain. Sehingga menimbulkan kecemburuan santri yang lain. Maka Kiai tersebut menjelaskan di hadapan mereka. Tahukah kalian mengapa saya mencintai santri yang satu ini mengungguli yang lain !. Baiklah agar kecintaanku ini beralasan, semua santri panggil ke sini. Dan masing-masing saya beri seekor ayam. Kemudian saya memberikan arahan, semua santri dipersilahkan menyembelih di suatu lokasi yang tidak dilihat oleh seorang pun. Semua santri pergi dengan membawa ayam, untuk disembelih di tempat yang sepi. Hanya satu santri yang dicintai Kiai tadi. Akhirnya Kiai bertanya, Mengapa kalian tidak pergi seperti teman-teman kalian. Santri tersebut menjawab, adakah suatu tempat yang disitu tidak dimonitor oleh Allah. Bukankah tidak ada yang tersembunyi bagi-Nya baik di ujung langit maupun di ujung bumi. Dari sini kita dapat memahami, hanya santri yang sudah mengenal Allah Subhanahu Wata’ala.*

Penulis kolumnis hidayatullah.com, tinggal di Kudus, Jawa Tengah