Tag Archive | bisnis

Nasihat-nasihat “Sesat” Saat Curhat


Dalam kehidupan sehari-hari, interaksi dan komunikasi manusia modern sangat luas dan bebas. Bukan hanya bertemu secara langsung, namun dengan leluasa bisa terhubung 24 jam sehari semalam dengan semua orang melalui teknologi. Persahabatan tentu banyak memberikan kebaikan dan nilai positif bagi manusia, karena pada dasarnya kita selalu saling membutuhkan satu dengan yang lain. Salah satu manfaat sahabat adalah sebagai teman curhat dan meminta nasehat.

Namun tidak jarang, persahabatan memberikan dampak negatif, terutama ketika menemukan sahabat yang sering menyampaikan nasehat nekat dan sesat. Di saat seseorang curhat, bukannya mendapatkan nasehat yang positif dan konstruktif, justru mendapat inspirasi dan motivasi untuk melakukan perbuatan jahat. Apalagi ketika terkait persoalan rumah tangga, salah-salah mendengar nasehat bisa jadi akan menimbulkan keputusan yang salah dan tidak tepat.

Kadang seorang suami menceritakan masalah keluarga kepada teman kerjanya, atau seorang istri curhat tentang problem keluarga kepada teman dekatnya. Pada kondisi teman curhat adalah orang yeng tepat, maka akan bisa memberikan nasehat yang juga tepat dan bermanfaat. Namun apabila curhat kepada orang yang salah, bisa memberikan nasehat yang salah dan menyesatkan. Belum lagi ketika teman curhat ini memiliki kepentingan dan keinginan pribadi tertentu, akan membuat semakin memberikan nasehat yang sangat subyektif.

Nasehat Nekat dan Sesat dari Sahabat

Ada sangat banyak contoh nasehat yang justru mengarahkan kepada kondisi yang lebih buruk dan lebih parah dari masalah semula. Di ruang konseling kami sering mendapat cerita dari para klien, bahwa mereka mendapat nasehat dari teman-temannya untuk melakukan tindakan tertentu. Sayangnya nasehat itu tidak mengajak mereka kepada kebaikan dan keutuhan rumah, justru sebaliknya. Berikut beberapa bentuk nasehat sesat yang didapatkan saat curhat kepada sahabat yang tidak tepat.

Kamu bodoh mau dibodohi pasangan kamu

“Bodoh benar kamu ini mau dibodohi pasangan kamu…..”

“Jangan mau dibodohi pasangan kamu…”

“Kamu ini benar-benar bodoh di hadapan pasangan kamu….”

Ungkapan-ungkapan seperti ini dari sahabat saat curhat, memberikan sugesti yang kuat, seakan-akan dirinya tengah dibodohi oleh pasangan. Seorang istri merasa dirinya tengah ditipu dan dibodohi oleh pasangan, sehingga ia bertekad tidak akan memaafkan kesalahan suami. Ia percaya perkataan sahabat-sahabatnya yang konsisten menyebut dirinya bodoh, maka ia pun merasa bodoh jika memaafkan suami. Padahal memaafkan adalah ciri orang bertaqwa, bukan ciri orang bodoh.

Seorang suami merasa benar-benar bodoh setelah mendengar nasehat dari sahabat, maka ia menjadi berpikiran sempit dan berniat menghajar sang istri yang telah membuat kesalahan. Di saat ia masih menimbang-nimbang apa yang akan dilakukan terhadap kesalahan istri, mendadak menjadi kalap setelah mendapat ‘pencerahan’ dari sahabat yang menyebutkan dirinya adalah suami bodoh. Hal ini membuat dirinya tidak berpikir panjang untuk mengambil keputusan, karena tidak ingin disebut bodoh dan tidak ingin menjadi bodoh.

Semestinya, suami atau istri yang tengah curhat didinginkan hatinya, ditampung kesedihannya, dihibur dengan kebijaksanaan. Bukannya dipanas-panasi dengan pernyataan kebodohan semacam itu. Satu hal yang harus dipahami adalah, dalam setiap konflik suami istri, selalu ada versi dari kedua belah pihak. Saat menerima curhat dari satu pihak, itu belum cukup untuk digunakan memahami apalagi mengambil kesimpulan dari masalah yang sesungguhnya sedang terjadi. Maka ungkapan yang membodohkan itu menjadi nasehat yang bisa menyesatkan bagi mereka yang mendengar dan mempercayainya.

Balas saja dengan selingkuh

“Suami kamu sudah selingkuh, jangan diam saja, balas dengan selingkuh…”

“Kamu laki-laki, kalau istri kamu bisa selingkuh, kamu pun bisa selingkuh…”

“Kamu biarkan saja dia selingkuh? Balas saja dengan selingkuh, biar dia kapok…”

Nasehat dari sahabat saat curhat, kadang menyemangati seorang laki-laki atau perempuan untuk melakukan balas dendam dengan melakukan kesalahan yang sama dilakukan pasangan. Misalnya ketika seorang suami selingkuh, maka istrinya berhak membalas dengan selingkuh. Jika seorang istri selingkuh, maka suaminya berhak membalas dengan selingkuh pula. Ini tentu sebuah nasehat yang sesat, karena menyuruh orang baik-baik melakukan penyimpangan dengan alasan balas dendam.

Semestinya suami atau istri dinasehati agar introspeksi diri, lalu mengajak pasangannya untuk bertaubat, membuat komitmen bagi perbaikan hubungan mereka di masa sekarang dan yang akan datang. Bukannya dikompori untuk melakukan balas dedam, disemangati untuk selingkuh, karena ini akan semakin membuat rusak keluarga yang tengah ada masalah, ditambah lagi menambah orang yang berbuat salah. Semula yang salah satu orang, lalu pasangannya dikompori melakukan kesalahan, jadilah semua menjadi sama-sama salah.

Nasehat untuk melakukan balas dendam seperti itu jelas-jelas sesat dan menyesatkan. Ajaran agama menyuruh kita untuk mudah memaafkan, sedangkan bagi pihak yang melakukan kesalahan hendaknya dibimbing untuk bertaubat. Jika balas dendam dilakukan oleh istri dengan alasan suaminya selingkuh, nanti suami akan membalas lagi dengan selingkuh berikutnya dengan alasan selingkuh yang dilakukan istrinya lebih parah dibanding yang dia lakukan pertama. Lalu istrinya akan membalas lagi dengan selingkuh lagi dengan alasan karena suaminya sudah selingkuh dua kali, maka iapun harus selingkuh dua kali. Kondisi seperti ini tidak ada selesainya jika dituruti, dan akan menyebabkan kerusakan moral dalam keluarga. Mereka menjadi keluarga rusak dan bejat karena mengikuti nasehat sesat.

Ngapain kamu masih mau bertahan?

“Aku heran, diperlakukan seperti itu oleh suami kamu, kok kamu masih mau bertahan hidup dengannya…”

“Ngapain kamu pertahankan istri seperti itu? Tinggalkan saja…”

“Untuk apa hidup berumah tangga dengan orang seperti itu? Tidak ada lagi gunanya…”

Dalam pandangan agama, pernikahan adalah ikatan sakral (mitsaqan ghalizha) yang harus dijaga keutuhannya. Tidak boleh diceraiberaikan ikatan itu dengan semena-mena tanpa alasan yang bisa diterima oleh pandangan agama. Oleh karena itu, mengompori suami untuk meninggalkan atau menelantarkan istri adalah tindakan yang tidak bertanggung jawab. Sebagaimana memanas-manasi istri untuk lepas dan meninggalkan suami adalah tindakan yang tidak tepat dan tidak benar. Apalagi situasinya hanya sepihak, curhat hanya mendengarkan masalah dari satu versi saja, ini membuat pandangan yang tidak adil dan tidak berimbang.

Semestinya, dalam situasi konflik, yang harus dinasehatkan adalah agar suami dan istri saling mendekat, untuk mencari solusi secara dewasa dan bijaksana. Suami dan istri yang tengah menghadapi konflik diajak dan dinasehati untuk bisa bersabar menghadapi situasi sulit itu dan tetap mempertahankan keutuhan hidup berumah tangga. Nasehat yang mengajak untuk saling menjauh, meninggalkan, menelantarkan pasangan, bertentangan dengan nilai kesakralan sebuah ikatan pernikahan. Bertahan demi keutuhan keluarga, adalah sebuah pilihan dewasa, sambil mencari solusi terbaik atas masalah yang mereka hadapi.

Memilih untuk pergi dari pasangan karena marah, jengkel dan bermasalah, adalah tindakan yang sangat tidak bertanggung jawab dan tidak dewasa. Itu seperti keputusan anak kecil yang lari dari rumah setelah dimarahi ibunya. Sebagai orang dewasa, semua masalah harus diselesaikan dengan dewasa pula. Jika marah, jengkel dan kecewa, bicarakan baik-baik dengan pasangan. Cari solusi bersama pasangan, tetaplah bertahan walau kadang suasana tidak seperti yang diharapkan. Jika merasakan hal yang tidak menyenangkan dalam pernikahan ingatlah bahwa tujuan menikah bukan hanya untuk bersenang-senang. Maka tetaplah bertahan, sambil mencari jalan keluar dari permasalahan.

Tinggalkan saja dia, masih banyak laki-laki/perempuan lainnya

“Cari suami lagi saja, masih banyak kok laki-laki baik yang mau sama kamu…”

“Cari cewek sana, sangat mudah bagi kamu untuk mendapatkan istri baru…”

“Kayak gak ada orang lain saja, banyak tuh orang-orang yang suka sama kamu…”

Nasehat yang mengarahkan suami untuk mencari istri lain dengan meninggalkan istri yang ada, adalah provokasi yang membahayakan. Demikian pula nasehat yang mengajak istri untuk mencari suami lain dengan meninggalkan suami yang ada, adalah provokasi yang semakin merusak kebahagiaan hidup berumah tangga. Semestinya, di saat konflik suami dan istri dinasehati agar mencari solusi yang bisa manyatukan dan mengembalikan keharmonisan keluarga. Bukan dinasehati agar secepatnya mencari suami atau istri baru padahal masalah dengan pasangan belum menemukan titik penyelesaian.

Nasehat seperti itu potensial menimbulkan masalah baru. Masalah pokok dengan pasangan belum terselesaikan, namun sudah ditambah dengan masalah lagi karena suami mulai mencari istri baru, atau si istri mulai mencari suami baru. Bisa jadi kenyataannya memang seperti yang dikatakan para sahabat yang memberi nasehat tersebut, bahwa suami masih memiliki banyak fans yang akan mudah dijadikan istri; dan bahwa istri masih memiliki banyak pemuja yang akan mudah menjadikan dirinya sebagai istri. Namun nasehat itu tidak bisa diterima, karena semestinya suami dan istri dinasehati untuk berpikir keras mencari solusi demi bisa mengembalikan keutuhan keluarga.

Ketika banyak sahabat yang mengompori seorang suami untuk mencari istri baru, dirinya merasa mendapat legitimasi untuk melakukan nasehat itu. Akhirnya ia mulai berulah dengan aktif mencari gebetan yang nanti bisa dijadikan istri apabila sudah bercerai dengan istri yang sekarang. Demikian pula ketika banyak sahabat memanas-manasi seorang istri untuk mencari suami baru, dirinya bisa merasa mendapatkan legitimasi untuk mulai berdekat-dekat dengan laki-laki yang diharapkan akan menjadi suami barunya kelak ketika sudah resmi berpisah dari suami yang sekarang. Tindakan ini membuat semakin parahnya permasalahan, bukan menyelesaikan dan mendamaikan, justri menceraiberaikan.

Sesekali waktu carilah kesenangan di luar rumah

“Ada banyak kesenangan di luar rumahmu, sesekali carilah kesenangan…. Itu adalah hak kamu….”

“Kamu berhak bahagia… Jika suami kamu tidak bisa membahagiakan kamu, masih banyak kok kebahagiaan lain di luar rumah kamu…”

“Kalau istri kamu tidak bisa membahagiakan kamu, cari saja kebahagiaan dari perempuan lain di luar rumahmu….”

Nasehat semacam itu sangat jauh dari nilai kebaikan. Suami dan istri semestinya mencari kesenangan dan kebahagiaan bersama pasangan, bukan bersama orang lain yang tidak halal baginya. Memang benar ada banyak orang bisa dengan mudah diajak bersenang-senang, namun itu sama sekali tidak menyelesaikan persoalan yang sedang terjadi dalam keluarga mereka. Justru akan semakin membuat masalah semakin meluas dan melebar, tidak ada batasnya. Kesenangan yang didapatkan dengan cara tidak halal, adalah kesenangan semu yang justru akan menghantarkan keluarga dalam kehancuran.

Ketika suami dikompori untuk mencari kesenangan lain di luar rumah, mungkin dirinya akan termotivasi untuk melampiaskan hasrat yang selama ini terpendam kepada perempuan lain yang tidak halal baginya. Bahkan mungkin akan ‘jajan’ dengan perempuan penghibur yang bekerja demi bayaran. Demikian pula ketika istri dikompori untuk mencari kesenangan lain di luar rumah, mungkin dia akan termotivasi untuk melakukan selingkuh dengan laki-laki lain sebagai pelampiasan hasratnya. Seakan-akan ini hanya untuk pelampiasan hasrat yang sudah lama tidak tersalurkan kepada pasangan karena sedang ada permasalahan.

Suami atau istri terdorong mencari penyaluran hasrat sesaat tanpa ikatan, karena hanya untuk mencari kesenangan dan pelampiasan. Seakan-akan ini adalah tindakan yang wajar dengan alasan “aku kan berhak bahagia”. Padahal tindakan seperti itu jelas menyimpang dan rusak, dampaknya akan semakin memperparah persoalan hidup berumah tangga. Nasehat yang mendorong munculnya tindakan seperti itu jelas sesat, maka jangan dipercaya dan jangan diikuti.

Cari Sahabat yang Tepat

Nah berbagai contoh nasehat dari sahabat yang didapatkan ketika sedang curhat tersebut, benar-benar bisa membawa kepada mudharat. Tidak memberikan manfaat untuk menjaga kebaikan dan keharmonisan keluarga, justru memprovokasi untuk mengambil sikap serta tindakan yang membahayakan. Hal ini semestinya disaring dan difilter dengan cermat oleh suami dan istri yang tengah menghadapi masalah, agar tidak mudah menerima nasehat sesat dan nekat dari sahabat-sahabat yang menjadi tempat curhat.

Pilih sahabat yang salih dan salihah, yang mengajak kepada kebaikan dan menjaga martabat. Jangan memilih sahabat yang mengajak melakukan perbuatan maksiat. Semua nasehat yang mengarahkan kepada perbuatan bejat, adalah nasehat sesat yang tidak boleh digunakan dalam mengambil keputusan. Keluarga adalah pondasi yang sangat berharga dalam kehidupan manusia, maka jangan menjadikannya sebagai bahan permainan dan bahan percobaan. Keluarga harus dijaga dengan segenap cinta, dirawat dengan segenap tenaga, diarahkan dengan segenap daya, agar tetap harmonis, bahagia dan memberikan ketenteraman dalam kehidupan.

Ada sangat banyak konselor, psikolog atau ulama terpercaya tempat curhat yang bermartabat. Yang bisa memberikan nasehat yang tepat dan membimbing suami serta istri menuju kebaikan dunia maupun akhirat. Jangan dengarkan nasehat sesat yang justru akan membawa kepada maksiat dan laknat.

Di dalam Citilink QG108, Jakarta — Yogyakarta 22 Agustus 2017

Cahyadi Takariawan

Penulis Buku Wonderful Family Series

Penulis Buku Serial “Wonderful Family”, Peraih Penghargaan “Kompasianer Favorit 2014”; Konsultan di “Rumah Keluarga Indonesia” (RKI) dan “Jogja Family Center” (JFC). Instagram @cahyadi_takariawan. Fanspage : https://www.facebook.com/cahyadi.takariawan/

Tidak Perlu Ayah (jika hanya) untuk Cari Nafkah…


 

Maaf, mungkin agak terdengar sombong jika kalimat ini terlontar dari mulut seorang isteri, atau bahkan seorang anak. Karena sesungguhnya, salah satu tugas seorang lelaki adalah menafkahi keluarganya, baik sebagai suami, sebagai Ayah maupun sebagai anak kepada orang tuanya yang sudah sepuh.

Namun faktanya, tak sedikit para lelaki yang menggadaikan kehormatannya lantaran tak menjalankan perannya mencari nafkah. Ini bukan soal besar kecil hasil yang didapat, tetapi soal menjalankan perannya dalam keluarga.

Tak sedikit pula yang perannya mencari nafkah justru tergantikan oleh isteri atau bahkan anaknya. Setidaknya kalaupun bukan tergantikan, ya sedikit tergeser lah. Coba lihat, banyaknya perempuan yang justru “terpaksa” bekerja lantaran peran suaminya dirasa kurang, dalam bahasa yang lebih lugas, uang belanja suami tak mencukupi. Maaf, saya tak bicara soal perempuan yang bekerja karena memang mereka senang dan bagian dari aktualisasi diri. Untuk yang satu ini, saya cukup menghargai.

Kenapa tiba-tiba saya mengangkat tema yang sangat sensitif ini?

Sabar. Bukan tema ini yang saya akan bahas, tetapi tentang peran Ayah yang sebenarnya bukan hanya soal nafkah. Karena kalau cuma soal nafkah, sorry bung, kini peran itu juga banyak dilakukan oleh perempuan (isteri atau ibunya anak-anak), dan bahkan oleh anak-anak. Lihat saja anak jalanan, orang tuanya ada, malah leyeh leyeh di bawah pohon sementara anaknya ngamen di lampu merah dengan resiko tertabrak, atau pelecehan.

Ini sebenarnya gara-gara saya tak sengaja mendengar sebuah percakapan sepasang suami isteri. “Ayah sudah lelah mencari nafkah, urusan sekolah anak-anak itu urusan ibu…” kata si Ayah ke ibunya anak-anak.

Di kesempatan lain, juga pernah dengar seperti ini, “Bu, tolong hargai Ayah, setiap Ayah pulang rumah selalu berantakan. Kamu ngapain aja sih? Ayah capek kerja seharian, sampai rumah lihat rumah berantakan begini…” tanpa peduli lagi pada kenyataan bahwa setiap jam rumah dirapihkan, dan hanya butuh waktu lima menit akan kembali berantakan oleh ulah anak-anak.

Terus? Kalau sudah mencari nafkah, Ayah nggak perlu direpotkan sama urusan pendidikan anak? Belajarnya anak, antar ke sekolah, rapat orang tua murid dan urusan lainnya.

Kalau sudah mencari nafkah, Ayah jadi haram pegang sapu? Bersih bersih rumah, bantu isterinya yang sejak bangun pagi sampai tengah malam sibuk dengan urusan rumah yang (memang) nggak ada habisnya?

Sederhananya, memangnya fungsi Ayah cuma cari nafkah?

Seringkali sosok Ayah ada di rumah, tetapi hanya fisiknya yang hadir, tidak jiwanya, tidak perannya.

Anak bertanya soal pelajaran, lalu dengan enteng berkata, “Tanya ibu sana, Ayah capek…” padahal sedang main gadget.

Sosok Ayah harus hadir secara utuh di rumah, bagi isterinya, bagi anak-anaknya, bagi keluarganya. Keluarga perlu warna seorang Ayah, karena peran Ayah sebagai kepala keluarga, sebagai pemimpin, bukan cuma sebagai pencari nafkah.

Sosok Ayah perlu hadir untuk memberi rasa aman, nyaman, ketenangan dan percaya diri seluruh anggota keluarga. Jangan sampai justru ada Ayah malah bikin nggak nyaman, hati-hati. “Tenang, ada Ayah…” kalimat ini suatu waktu mungkin keluar dari mulut bocah-bocah karena lelaki itu memang benar-benar bisa diandalkan. Tangguh.

Kehadiran Ayah sejatinya dirindukan, oleh isteri maupun anak-anaknya. Jangan abaikan pesan singkat dari anak misalnya, “Ayah jam berapa pulang?” Ada rindu tersirat dari kalimat itu.

Dua tiga hari Ayah tak pulang karena tugas kantor, suasana rumah jadi terasa sepi, isteri dan anak-anak merasa kurang aman dan nyaman. Jika masih seperti ini, tersenyumlah. Artinya sosok Ayah masih sangat dibutuhkan sebagai pelindung, pengayom dan pemberi rasa aman.

Hadirnya sosok Ayah juga menjadi contoh baik bagi anak lelaki, menjadi contekan bagi anak perempuan kelak mencari pasangan. Pernah kah anak perempuan Anda berkata, “Aku ingin punya suami kelak seperti Ayah” … Ah, indahnya kalimat itu terdengar.

Hadirnya seorang Ayah secara utuh, bukan soal seberapa banyak waktu yang dipunyai di tengah kesibukan bekerja. Sebab, nyatanya masih banyak Ayah yang bisa tetap “hadir” di keluarganya meski waktunya tak banyak. Ini soal peran, bukan soal waktu. Ini tentang kesadaran, bukan tentang seberapa sejahteranya sebuah keluarga. Peran ini, tak bicara soal pangkat, status sosial, apalagi soal besar kecilnya gaji sang Ayah.

Satu lagi, lelaki yang dipanggil Ayah ini pun bukan sosok yang bikin suasana rumah jadi tegang, serius melulu, kaku, apalagi angker. Anak-anak nggak hanya butuh Ayah sebagai orang tua, tetapi juga butuh sahabat bercerita, teman bermain, lawan berkelakar, atau “pacar” yang bisa digandeng ke tempat hiburan misalnya.

Ah terlalu panjang rasanya bahas peran Ayah. Bukan kapasitas saya juga bahas parenting disini, belum apa-apa, saya cuma seorang Ayah yang terus belajar untuk menjadi Ayah yang lebih baik.

Agar semoga sosok ini selalu dirindukan, ada dan tiadanya nanti. Tak tergantikan di hati seluruh anggota keluarga, sampai kapanpun, kapanpun.

Eh iya, nafkah dari Ayah tetap perlu kok. Ya kan bu? @bayugawtama

SHARE AGAR LEBIH BERMANFAAT

=============================
GRIYA HILFAAZ
Pusat Busana Muslim Berkualitas
Diskon setiap hari
Menerima reseller, dropshipper, agen

https://www.facebook.com/hilfaaz/photos/

https://www.tokopedia.com/griyahilfaaz

update stock instagram : griya_hilfaaz
==============================

Kenapa Bunda Tak Boleh Memaksa Anak Makan? Ini Alasannya!


 

Dear Bunda,
Ketika anak-anak memasuki masa sulit makan, biasanya Bunda akan memaksa mereka makan dengan berbagai cara. Dengan alasan untuk memenuhi kebutuhan gizi anak, tak jarang Bunda melontarkan paksaan dan ancaman agar anak mau menelan makanannya.

“Pemaksaan sampai ancaman ini seharusnya tidak boleh dilakukan kepada anak, karena akan memengaruhi perkembangan anak,” ungkap pakar nutrisi dan diet dari komunitas Sehati, Emilia Achmadi, MSc, kepada Kompas Female, saat talkshow sebuah merk susu di fX, Jakarta, beberapa waktu lalu. Menurut Emilia, ada beberapa kategori yang tergolong sebagai bentuk pemaksaan kepada anak agar mereka mau makan (dan sebaiknya tidak dilakukan):

1. Memberi makanan sebagai hadiah
Dalam kategori ringan, orangtua akan memberikan berbagai iming-iming agar anak mau makan. “Misalnya, kalau mau makan maka mereka akan mendapat cokelat, es krim, dan aneka makanan lainnya,” tambahnya. Meskipun anak sebenarnya tidak mau makan, namun reward yang ditawarkan akan membuat mereka mau makan demi mendapatkan makanan yang disukainya.
Meski proses iming-iming ini akan membuat anak mau makan saat itu, namun akan selalu tertanam dalam pikiran anak bahwa setelah makan mereka akan bisa menyantap makanan apa saja yang mereka inginkan.
Parahnya lagi, mereka akan beranggapan bahwa makanan reward ini boleh dimakan sebanyak-banyaknya karena mereka sudah makan nasi. Efek yang paling parah, mereka tidak bisa mengontrol asupan makanan ke dalam tubuh, dan berakhir dengan obesitas.

 

Busana Muslim Branded Berkualitas
Busana Muslim Branded Berkualitas

2. Menakut-nakuti anak
Dalam kategori ini, orangtua akan mengancam anak-anaknya untuk mau makan. Biasanya mereka akan mengancam dengan berbagai hal yang tidak disukai anak. Padahal, keengganan anak untuk makan pasti ada sebabnya. Bisa jadi makanan yang disediakan kurang enak dan kurang menggugah seleranya. Namun, biasanya orangtua lebih mementingkan agar makanan yang bergizi ini disantap habis oleh sang anak.
“Yang tak kalah penting dari rasa dalam sepiring makanan adalah tampilannya, khususnya untuk anak. Dengan tampilan yang menggugah selera, anak pasti akan lebih bersemangat untuk makan,” ungkap Executive Chef The Dharmawangsa Hotel, Vindex Tengker, kepada Kompas Female, dalam kesempatan berbeda.
Proses menakut-nakuti agar anak mau makan ini bisa mengakibatkan dampak psikologis berupa serangan anoreksia dan bulimia pada anak. Karena “proses” makan yang mereka lakukan ini hanya dilakukan untuk menyenangkan orangtuanya saja, tanpa perlu dicerna lebih lanjut di dalam perutnya. Bukan tak mungkin anak akan memuntahkan kembali makanan tersebut ketika orangtuanya tidak memperhatikan mereka lagi.

3. Mengancam
Kategori yang paling parah adalah ketika orangtua mulai mengancam anak-anaknya agar mau makan. Misalnya jika anak tidak mau makan, Bunda tidak mau bicara dengannya, anak akan ditinggal sendirian, atau akan dipukul saat tak mau makan, dan lain sebagainya.
Proses ancaman ini ketika dilakukan dalam jangka waktu yang lama terbukti bisa menimbulkan trauma tersendiri dalam diri anak. “Mereka akan mengalami sentimen negatif pada makanan,” tukas Emilia.
Sentimen negatif ini akan berakibat pada adanya rasa takut terhadap makanan, sehingga ketika tiba saatnya makan mereka akan selalu terbayang pada ancaman yang diberikan orangtuanya. “Ada rasa depresi ketika melihat makanan, dan akhirnya makan hanya karena takut akan ancaman orangtuanya. Ini sangat berbahaya,” jelasnya.

Nah Bunda, masih ingin mengancam Si Kecil? Tetap berikan yang terbaik untuk Si Kecil ya Bunda

SHARE AGAR LEBIH BERMANFAAT

=============================
GRIYA HILFAAZ
Pusat Busana Muslim Berkualitas
Diskon setiap hari
Menerima reseller, dropshipper, agen

https://www.facebook.com/hilfaaz/photos/

https://www.tokopedia.com/griyahilfaaz

update stock instagram : griya_hilfaaz
==============================

Tak ada dendam diantara kita.


*Tak ada dendam diantara kita.*

Suatu hari, datanglah seorang mahasiswi IKIP yang memperkenalkan dirinya sebagai putri sulung dari Pramoedya Ananta Toer, menghadap Buya Hamka.

“Oh, anaknya Pram. Apa kabar bapakmu sekarang?” tanya Hamka ramah.

Anak perempuan Pram tersebut mengajak laki-laki seorang keturunan Cina.

Kepada Hamka, si perempuan kemudian memperkenalkan diri. Namanya Astuti. Sedangkan yang laki-laki bernama Daniel Setiawan.

Astuti menemani Daniel menemui Buya Hamka untuk masuk Islam, sekaligus mempelajari agama Islam. Daniel ingin menjadi seorang mualaf.

Menurut Astuti, selama ini, Daniel adalah seorang non muslim. Ayahnya, Pramoedya, tidak setuju jika anak perempuannya yang muslimah menikah dengan laki-laki yang berbeda kultur dan agama.

Setelah Astuti mengutarakan maksud kedatangannya, serta bercerita latar belakang hubungannya dengan Daniel, tanpa ragu sedikit pun, Hamka meluluskan permohonan keduanya.

Daniel Setiawan, calon menantu Pramoedya Ananta Toer, langsung dibimbing oleh Hamka membaca dua kalimat syahadat.

Hamka lalu menganjurkan Daniel untuk berkhitan dan menjadwalkan untuk memulai belajar agama Islam dengan Hamka. Dalam pertemuan dengan putri sulung Pramoedya dan calon menantunya itu,

Hamka sama sekali tidak menyinggung bagaimana sikap Pramoedya terhadapnya, beberapa tahun sebelumnya yang pernah menuduhnya maling. Melalui lembar Lentera di Harian Bintang Timoer, Pram menuduh Hamka plagiat.

Benar-benar seperti tidak pernah terjadi apa-apa di antara keduanya.

Tanpa dendam, Hamka justru memuji karya Pram, antara lain Keluarga Gerilya dan Subuh. Anak perempuan Pram itu akan menikah dan meminta bantuan Hamka untuk meng-islam-kan calon suaminya.

Permohonan ini disambut gembira oleh Hamka. Astuti, anak Pramoedya itu, lantas tak bisa menahan ledakan tangisnya karena sikap manis dari orang yang pernah “diganyang” ayahnya.

Alasan Pram mengutus calon menantunya menemui Hamka cukup unik.

“Masalah faham kami tetap berbeda. Saya ingin putri saya yang muslimah harus bersuami dengan laki-laki yang seiman. Saya lebih mantap mengirim calon menantu saya belajar agama Islam dan masuk Islam kepada Hamka,” ujar Pram.

Kalian boleh berkesimpulan.

Secara tidak langsung, dengan Pramoedya mengirim calon menantunya ditemani anak perempuannya kepada Hamka, adalah bentuk permintaan maaf atas sikapnya yang telah memperlakukan Hamka selama ini.

Hamka juga telah memaafkan Pramoedya dengan bersedia membimbing dan memberi pelajaran agama Islam kepada sang calon menantunya.

***

Tanggal 16 Juni 1970, Buya dihubungi Kafrawi, Sekjen Departemen Agama. Pagi-pagi, sekjen ini datang ke rumah Buya. Kafrawi membawa pesan dari keluarga mantan Presiden Soekarno untuk Buya.

Pesan itu pesan terakhir dari Soekarno. Begini pesannya:

“Bila aku mati kelak. Minta kesediaan Hamka untuk menjadi imam shalat jenazahku.”

Tanpa ragu, pesan yang dibawa utusan itu dilaksanakan oleh Hamka.

Hamka tiba di Wisma Yaso bersama penjemputnya. Di wisma itu telah banvak pelayat berdatangan. Penjagaan pun sangat kuat. Shalat jenazah baru akan dimulai menunggu kehadiran Buya.

Melihat jenazah Soekarno, sahabatnya di masa muda, air matanya mengalir. Ia kecup sang Proklamator, dengan doa. Ia mohonkan ampun atas dosa-dosa sang mantan penguasa. Dosa orang yang memasukkannya ke penjara dan disiksa setiap hari.

Di hadapan jasad Soekarno, dengan takbir, ia mulai memimpin sholat jenazah. Untuk memenuhi keinginan terakhir Soekarno.

Mungkin, ini isyarat permohonan maaf Soekarno pada Hamka. Isak tangis haru, terdengar di sekeliling.

Usai Shalat, selesai berdoa, ada yang bertanya kepada Buya.

”Apa Buya tidak dendam kepada Soekarno yang telah menahan Buya sekian lama di penjara?”

”Hanya Allah yang mengetahui seseorang itu munafik atau tidak. Yang jelas, sampai ajalnya, dia tetap seorang muslim. Kita wajib menyelenggarakan jenazahnya dengan baik,” jelas Buya tanpa ragu.

Buya tidak pernah dendam kepada orang yang pernah menyakitinya. Bagi Buya, dendam itu termasuk dosa.

Selama dua tahun empat bulan ia ditahan. Ia merasa semua itu anugerah dari Allah kepadanya.

Dengan masuk penjara, ia dapat menyelesaikan Kitab Tafsir Al Quran 30 Juz Al Azhar yang monumental itu. Bila bukan dalam tahanan, ia tidak mungkin ada waktu untuk mengerjakan dan menyelesaikannya.

Berkat kekejian PKI dan tangan besi Soekarno kepada Buya, kalian bisa membaca tafsir Al-Azhar dengan sempurna.

Orang-orang besar memang memiliki cara mereka sendiri untuk meminta maaf kepada mereka yang pernah dizalimi. Demikian sebaliknya yang pernah terdzalimi, mereka punya hati seluas samudera untuk memaafkan. (*)

—-

Catatan *Anab Afifi* dalam bukunya *AYAT-AYAT YANG DISEMBELIH*

SHARE AGAR LEBIH BERMANFAAT

=============================
GRIYA HILFAAZ
Pusat Busana Muslim Berkualitas
Diskon setiap hari
Menerima reseller, dropshipper, agen

https://www.facebook.com/hilfaaz/photos/

https://www.tokopedia.com/griyahilfaaz

update stock instagram : griya_hilfaaz
==============================
==============================

Kisah tentang Ridha


Di suatu malam seorang ayah membacakan cerita untuk anak perempuannya.
Setelah membacakan cerita, si ayah bertanya kepada anaknya : “Nak, apa kamu sayang Ayah?”
Si anak menjawab, “Tentu saja aku sayang Ayah”
Ayahnya tersenyum lalu bertanya, “Kalau begitu, boleh Ayah minta kalungmu?”
Lalu si anak menjawab, “Ayah, aku sayang Ayah, tapi aku juga sayang sama kalung ini”
Lalu Ayahnya berkata, “Ya sudah tidak apa-apa, Ayah hanya bertanya saja”
Si ayah lalu pergi.
Di malam berikutnya selama 3 hari berturut-turut, ayahnya menanyakan hal yang sama & si anak pun menjawab degnna kata-kata yang sama.
Si anak berpikir sambil memegang kalung imitasi kesayangannya itu, “Kenapa tiba-tiba Ayah mau kalung ini? Ini kalung yang paling aku sayangi, kalung ini pun pemberian Ayah juga”
Malam berikutnya, sang Ayah menanyakan hal yang sama, lalu si anak berkata, “Ayah, Ayah tahu aku sayang sama Ayah & juga kalung ini. Tapi kalau Ayah mau kalung ini, ya sudah aku berikan ke Ayah”
Si anak memberikan kalungnya & Ayahnya mengambilnya dengan tangan kiri, lalu Ayahnya memasukkan tangan kanannya ke saku kanan & mengambil kalung berbentuk sama namun emasnya asli.
Ayahnya mengenakannya pada leher anaknya, “Anakku, sebetulnya kalung ini sudah ada di saku Ayah sejak pertama kali Ayah meminta kalungmu, tapi Ayah menunggu kamu memberikan sendiri kalungmu itu & Ayah gantikan dengan yang lebih baik & indah”
Si anak menangis terharu.
Seringkali kita merasa Allah tidak adil. Dia yang memberikan tapi kenapa Dia juga yang mengambilnya, kadang kita selalu sakit hati, sedih dan kecewa, tapi tidakkah kita tahu, di saat Allah mengambil sesuatu yang berharga dari kita, ternyata Allah punya rencana lain. Dia mau menggantikannya dengan yang LEBIH BAIK lagi dari apa yang sudah kita miliki sekarang.
Jadi,
* Terimalah apapun yang kita alami (bersabar),
* Berilah apa yang harus kita berikan (beramal),
* Kembalikanlah apa yang diminta oleh Allah (ikhlas), dan
* Tetaplah bersyukur, maka rejekimu akan dilipat gandakan
smoga kita slalu merasa bersyukur dg apa yg sdh kita miliki

 

Busana Muslim Branded Berkualitas
Busana Muslim Branded Berkualitas
SHARE AGAR LEBIH BERMANFAAT
=============================
GRIYA HILFAAZ
Pusat Busana Muslim Berkualitas
https://www.tokopedia.com/griyahilfaaz
update stock instagram : griya_hilfaaz
==============================

Segera Iringi Keburukan Dengan Kebaikan


 

Kau bentak istrimu
Segera beri ia pelukan dan hadiah kejutan
Kau tertinggal subuh berjamaah
Segera shalat dhuha yang lebih banyak
Kau marah berlebihan pada bawahanmu
Segera beri ia bonus
Kau telah berlagak sombong
Segeralah berinfak dan sedekah

Saudaraku
Jangan pernah depresi
Berlarut dalam rasa bersalah
walaupun itu fatal dan memalukan
Segera iringi dengan kebaikan selanjutnya

Seorang muslim tidak pernah
Depresi larut dalam kesalahan
Tapi ia segera bangkit
Dengan membawa kebaikan

ﻭَﺃَﺗْﺒِﻊِ ﺍﻟﺴَّﻴِّﺌَﺔَ ﺍﻟْﺤَﺴَﻨَﺔَ ﺗَﻤْﺤُﻬَﺎ

“Iringilah kejelakan dengan kebaikan, niscaya kebaikan
tersebut akan menghapuskannya (HR. Tirmidzi)

@Bandara Sumbawa Besar

Penyusun: Raehanul Bahraen

Busana Muslim Branded Berkualitas
Busana Muslim Branded Berkualitas
SHARE AGAR LEBIH BERMANFAAT
=============================
GRIYA HILFAAZ
Pusat Busana Muslim Berkualitas
https://www.tokopedia.com/griyahilfaaz
update stock instagram : griya_hilfaaz
==============================

�� Membuat Anakmu Sholat TANPA Debat .. Keringat .. Urat .. & Pengingat .. ��


 

“Bagaimana Membuat Anak2 Anda Sholat dengan
Kesadaran Mereka Sendiri Tanpa Berdebat dan
Tanpa Perlu Diingatkan .. ?

�Anak2 anda tidak mau sholat .. ? atau mereka
sampai membuat anda capek saat mengingatkan
untuk sholat .. ? Mari kita lihat bagaimana kita bisa merubah ini semua ~ biidznillah
“”Seorang sahabat
berkisah : “Aku akan menceritakan satu kisah yg terjadi
padaku ”
“”Saat itu, anak perempuanku duduk di kelas 5 SD
Sholat baginya adalah hal yg sangat berat ..
sampai2 suatu hari aku berkata kepadanya :
“Bangun .. !! Sholat .. !!”,
dan aku mengawasinya ..
“Aku melihatnya mengambil sajadah, kemudian
melemparkannya ke
lantai ..
Kemudian ia
mendatangiku ..
Aku bertanya kepadanya : “Apakah kamu sudah sholat .. ?”
Ia menjawab : “Sudah”
Kemudian aku Mencubitnya.
Aku tahu aku salah.
Tetapi kondisinya mmg
benar2 sulit ..
Aku menangis ..
Aku benar2 marah padanya, aku rendahkan dia
dan aku menakut2inya akan siksa Allah ..
Tapi .. ternyata semua kata2ku itu tidak ada manfaatnya ..

�Suatu hari, seorang sahabatku bercerita suatu kisah
“”Suatu ketika ia berkunjung kerumah seorang kerabat dekatnya, ketika datang waktu sholat, semua anak2nya langsung bersegera melaksanakan sholat tanpa diperintah
⏫Ia berkata :
Aku berkata padanya “Bagaimana anak2mu bisa sholat dg kesadaran mereka tanpa berdebat dan tanpa perlu diingatkan .. ?

“Ia menjawab :
Demi Allah, aku hanya ingin
mengatakan padamu bahwa sejak jauh sebelum aku menikah aku selalu memanjatkan DO’A
ini .. dan sampai saat ini pun aku masih tetap berdo’a dg DO’A tersebut.

✅Setelah aku mendengarkan nasehatnya, aku selalu tanpa henti berdoa dg do’a ini ..
Dalam sujudku ..
Saat sebelum salam ..
Ketika witir ..
Dan disetiap waktu2 mustajab ..

Demi Allah wahai saudara2ku ..
Anakku saat ini telah duduk dibangku SMA ..
Sejak aku memulai berdoa dg doa itu,anakku lah
yg rajin membangunkan kami dan mengingatkan
kami untuk sholat ..
Dan adik2nya, Alhamdulillah .. mereka semua selalu menjaga sholatnya
Sampai2 .. saat ibuku berkunjung dan menginap
dirumah kami, ia tercengang melihat anak perempuanku bangun pagi, kemudian membangunkan kami satu persatu untuk sholat

❇Aku tahu anda semua penasaran ingin
mengetahui doa apakah itu?
Yaaa .. doa ini ada di QS.Ibrahim : 40

رب اجعلني مقيم الصلاة ِﻭَﻣِﻦ ﺫُﺭِّﻳَّﺘِﻲ ﺭَﺑَّﻨَﺎ ﻭَﺗَﻘَﺒَّﻞْ ﺩُﻋَﺎﺀ )

Rabbij’alni muqimas salati wamin zurriyati rabbana wataqobbal du’a

“Ya Robbku, jadikanlah aku dan anak cucuku orang yg tetap melaksanakan
sholat .. Ya Robb kami , perkenankanlah doaku”
(QS. Ibrahim : 40 )

♻Yaa .. Doa .. Doa .. dan Doa ..
Sebagaimana anda semua tahu bahwa doa
adalah senjata seorang mukmin
“Kirimkan tulisan ini agar lebih banyak orang yg mengambil manfaat ..

�”Semoga Allah merahmati orang yang bersedia men-share (tulisan ini), kemudian
menjadikannya pemberat bagi timbangan kebaikannya”

☑Baca selalu doa ini untuk anak2mu, biidznillah mereka akan selalu berada dalam penjagaan dan perlindungan Allah Ta’ala .. Aamiin Allaahumma Aamiin

�Barakallah

Busana Muslim Branded Berkualitas
Busana Muslim Branded Berkualitas
SHARE AGAR LEBIH BERMANFAAT
=============================
GRIYA HILFAAZ
Pusat Busana Muslim Berkualitas
https://www.tokopedia.com/griyahilfaaz
update stock instagram : griya_hilfaaz
==============================