Tag Archive | dokter

KEHIDUPAN KELUARGAKU SETELAH MENIADAKAN TV DI RUMAHKU


 

Suatu ketika saya mendapat kiriman email dari seorang ibu yang mengaku katanya pendengar setia acara Indonesian Strong from Home, yang di tayangkan di Smart FM., beliau juga mengaku pembaca setia dari blog saya yakni www.ayahkita.blogspot.com.

Tak hanya sampai disitu beliau ini juga mengaku pembaca buku yang saya tulis dan telah memraktekkan pesan-pesan yang ada didalamnya satu demi satu…., ini bukan promo lho…tapi memang begitulah pembukaan isi suratnya.

Lalu pada bagian pembukaan kedua surat tersebut beliau juga memberikan beberapa pujian yang tidak perlu saya sebutkan tentunya, karena saya takut kepala saya benjol lagi karena waktu pertama kali saya baca pujian-pujian itu, tubuh saya tiba-tiba melayang ke atas hingga kepala saya sempat beberapa kali membentur atap.

Setelah itu si Ibu ini bercerita tentang bagaimana asyiknya ia membaca buku saya, yang katanya sampai tanpa sadar kepalanya mengaangguk-angguk tanda setuju, karena ternyata buku yang di bacanya ini berjudul 37 kebiasaan orang tua yang telah membuat anaknya suka melawan dan susah di atur. Jadi kelihatannya anggukan kepalanya itu sebagai pertanda setuju kalau beberapa diantaranya atau mungkin malah sebagian besar dari kebiasaan tersebut pernah dilakukannya.

Setelah dua kali menamatkan buku itu, kata si Ibu tadi, lalu ia mulai berusaha untuk mengubah kebiasaannya satu demi satu, tapi sayangnya ternyata itu tidak mudah..lho, selalu saja lupa dan kelepasan katanya….terutama untuk tidak marah dan membentak.

Namun berkat niatnya yang begitu besar dan kerjasama yang erat dengan suami akhirnya beberapa bagian terberat bisa dia lewati dengan baik, artinya kebiasaan buruknya bisa ia ganti dengan yang baik.

Dan ajaib katanya, anak saya prilakunya mulai berubah menjadi lebih baik dari hari ke hari. Wah saya senengnya bukan main, dan jadi semakin tertantang untuk menerapkan semuanya nich…katanya.

Perlahan tapi pasti, si ibu ini terus berusaha untuk merubah kebiasaan buruk satu demi satu. Ibu ini mengatakan, ternyata semakin banyak kebiasaan yang saya perbaiki maka semakin anak saya juga berubah menjadi lebih baik lagi lho. Wow nggak nyangka katanya hampir seperti sulapan.

Busana Muslim Branded Berkualitas
Busana Muslim Branded Berkualitas

Namun sayangnya ketika tiba pada kebiasan yang ke- 36, yakni pada waktu saya berusaha mengikuti kebiasaan untuk tidak menonton tanyangan2 TV yang tidak mendidik dirumah, wah bukan main, rasanya ini sangat berat sekali…sempat terjadi dilema karena saya dan anak-anak saya termasuk penggemar berat TV dengan berbagai tayangannya. yang ternyata baru saya sadari belakangan ini kalau itu sangat berpengaruh terhadap prilaku dan gaya hidup anak-anak saya selama ini.

Namun katanya lagi, karena dia merasa telah berhasil menerapakn poin-poin sebelumnya, si ibu ini yakin di poin inipun ia pasti akan berhasil lagi. Maka dengan modal tekad dan juga nekad, si ibu berusaha mengikutinya, bahkan ia nekad untuk memutus kabel antena saluran TVnya.

Bukan main… Lalu apa yang terjadi katanya; se isi rumah jadi heboh…, si ibu jadi banyak menuai protes dari anak-anaknya. Sudah saya sendiri juga merasa tersiksa tidak bisa melihat TV lagi, ditambah lagi protes dari anak-anak yang sangat keras, jadi memang kali ini terasa sungguh berat buat saya dan juga anak-anak. Tapi apapun yang terjadi saya harus tetap tegar. Kemudian dengan segenap kekuatan dan upaya katanya, saya coba jelaskan pada anak-anaknya mengapa keputusan ini sampai ia lakukan.

Sesuai saran dari buku itu lagi katanya segeralah ia mengajak anaknya untuk mencari kegiatan/aktifitas lain yang menjadi hobi mereka masing-masing, yang selama ini terpendam dan tidak tersalurkan akibat terlalu banyak duduk terhipnotis di depan TV.

Minggu-minggu berikutnya kata si ibu ini lagi, Protes-protes itu mulai mereda setelah anaknya mulai melakukan berbagai macam aktivitas. ada yang ikut kursus beladiri taekwondo, ada yang ikut les nari, ada yang ikut kursus musik dan tarik suara, bahkan ia juga kaget ternyata ada anaknya yang suka melukis dan lukisannya bagus sekali. Ia menceritakan pengalamannya yang katanya sungguh menakjubkan, setelah ia menerapkan kebiasaan tidak menonton TV, dan menggantinya dengan membaca aktif baik dari koran ataupun majalah.

Wah….anak-anak saya sekarang menjadi jauh lebih aktif, kemudian terjadi juga kebiasaan yang menarik dari anak saya yang paling kecil, yang biasanya dia cepat marah menjadi lebih lembut, yang biasanya suka memukul jadi tidak memukul lagi, mereka jadi lebih jarang bertengkar, melainkan lebih banyak diskusi, saya jadi kagum dengan kemampuan anak-anak saya yang selama ini tidak pernah saya ketahui, mereka ternyata sungguh anak-anak yang luar biasa katanya.

Lalu dalam bagian akhir surat si Ibu ini menulis; jika saja kita para orang tua mau merubah kebiasaan-kebiasaan kita dan mau mengambil tanggung jawab sebagai orang tua, tidak hanya melimpahkan pada pengasuh atau para suster atau siapapun, maka kita akan segera menemukan kepuasan tersendiri dalam mendidik anak-anak kita, terutama manakala melihat mereka tumbuh menjadi anak-anak yang luar biasa dan membanggakan.

Para orang tua dan guru yang berbahagia dimanpun anda berada. Dari semua uraian ibu ini saya hanya ingin menambahkan satu kalimat saja:

Mari kita bangun Indonesia yang kuat melalui anak-anak kita tercinta ! kalau bukan kita siapa lagi? kalau bukan sekarang kapan lagi..?

SHARE AGAR LEBIH BERMANFAAT
=============================
GRIYA HILFAAZ
Pusat Busana Muslim Berkualitas
https://www.tokopedia.com/griyahilfaaz
update stock instagram : griya_hilfaaz
==============================

Sungguh, Allah Tak Pernah Tidur!


AKU hanya bisa pasrah memandang Saidah, istriku yang berbaring lemah di sebuah Rumah Sakit (RS) di kota Madinah. Namun, keteganganku mendapati istri yang harus menjalani persalinan di tanah rantau dan jauh dari keluarga rupanya belum cukup. Sebab ternyata, istri telah divonis operasi cesar oleh dokter yang menanganinya.

Sekonyong-konyong, seorang petugas langsung menghampiriku dan menyodorkan secarik tagihan berisi beberapa angka.

“Iya, benar! hanya Rp. 17.000.000 dan harus dibayar cash sekarang,”  kata petugas itu datar.

Tanpa sadar, bola mataku perlahan mulai mengair. Ya Rabb, darimana uang sebanyak itu? Jangankan tabungan atau celengan, handphone pun adalah barang yang sangat mewah bagiku yang masih berstatus mahasiswa Universitas Islam Madinah (UIM).

“Kami baru bisa bertindak jika biaya administrasi itu sudah lunas,” kata- petugas rumah sakit itu terngiang kembali, layaknya palu godam yang menghantam kepalaku.

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ اسْتَعِينُواْ بِالصَّبْرِ وَالصَّلاَةِ إِنَّ اللّهَ مَعَ الصَّابِرِينَ

“Hai orang-orang yang beriman, jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu, sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar.” [QS: Al Baqarah: 153]

Penggalan surat yang sudah lama kuhafalkan itu tiba-tiba berkelebat dalam fikiranku. Seolah ada yang menggerakkan, tanpa fikir panjang aku langsung melangkah mengambil air wudhu dan bersimpuh di hadapan-Nya.

Seolah tanpa jarak, saat itu aku benar-benar menumpahkan segala curhatku kepada Allah Subhanahu Wata’ala. Shalat dan berdoa, itu saja yang kuulang-ulang terus. Entahlah, rupanya beberapa dokter iba melihat perbuatanku. Mereka lalu bersedia membantu proses operasi tanpa perlu dibayar.

“Alhamdulillah, pertolongan Allah mulai terbuka,” demikian batinku dalam diam.

Ibarat pepatah, “Malang tak dapat ditolak, untung tak dapat diraih.” Saat menghadap direktur rumah sakit, para dokter spesialis itu malah langsung kena semprot oleh sang direktur.

“Memangnya ini rumah sakit punya bapak kalian. Semua peralatan dan obat-obat itu harus dibayar? Kalian di sini hanya bekerja menjalankan tugas saja, tidak punya hak untuk  membebaskan biaya pasien cecar, “ demikian direktur yang emosi.

Aku hanya diam membisu di belakang. Dalam hati, aku kasihan juga melihat para dokter itu. Mereka kena marah hanya karena ingin membantu urusanku saja.

Entah mengapa, lagi-lagi aku ingin shalat dan mengadu kepada-Nya lagi. Entah mengapa, tiba-tiba hati ini terasa sejuk dalam lautan doa yang terus kupanjatkan kepada Allah Subhanahu Wata’ala.

Akhirnya, tiba-tiba Allah Subhanahu Wata’ala mempertemukanku dengan salah seorang pengurus rumah sakit.

Uniknya, orang yang baru kukenal itu kaget dan sontak merangkul badanku dengan akrab. Usut punya usut, ternyata ia membaca nama yang tertera di kartu lembaran identitasku, Nashirul Haq al-Bilawi. Rupanya orang itu mengira diriku berasal dari suatu daerah dan semarga dengannya dari dataran Arab, yaitu Alwi atau Alawi. Entah apa karena saya dianggap garis keturunan Alawi dari Hadramaut. Padahal “Bilawi” itu adalah Bilawa,  nama sebuah kampung di pelosok Sulawesi Selatan.

Singkat kata, semua biaya operasi ditanggung olehnya. Subhanallah Wallhamdulillah.

Qaddarallahu, ternyata kisah ketegangan di Rumah Sakit Madinah itu rupanya belum tuntas. Pasca operasi cesar dilakukan, sontak sesaat rumah sakit itu langsung heboh. Ternyata ada inspeksi mendadak (sidak) alias razia bagi penduduk kota Madinah yang tak memiliki identitas lengkap.

Ya Rabb, sekali lagi aku hanya bisa berharap dan meminta kepada-Mu. Sebab wanita yang baru saja melahirkan anak pertamaku itu tak punya identitas sama sekali, kecuali ia adalah istriku yang sah.

Sudah maklum bagi pendatang, pasien gelap atau siapa saja yang ketahuan tak punya identitas terancam dipulangkan dengan paksa. Meski bersama bayi merahnya sekalipun.

Subhanallah. Allah Subhanahu Wata’ala tak pernah tidur dan membiarkan hamba-Nya dirundung kesusahan. Allah berkuasa atas segala tipu daya yang ada.

Saat petugas pemeriksa itu datang, mereka hanya melewati istriku yang masih terbaring lemah. Rupanya petugas itu mengira diriku adalah seorang Tenaga Kerja Indonesia (TKI) alias pembantu dan istriku disangkanya seorang majikan orang Arab yang sedang kujaga. Allahu Akbar!*

/Roidatun Nahdhah, pengajar Sekolah Tinggi Ilmu Syariah (STIS) Hidayatullah Putri. Kisah nyata ini disampaikan oleh Nashirul Haq dalam sebuah kesempatan majelis taklim, di Gunung Tembak, Balikpapan

http://www.hidayatullah.com/feature/cermin/read/2015/02/11/38481/kisah-nyata-sungguh-allah-tak-pernah-tidur.html#.VNwAHizQLZs