Tag Archive | islami

Do’a Memohon Dijauhkan dari Teman Akrab yang Khianat


Do’a Memohon Dijauhkan dari Teman Akrab yang Khianat

 

.
Mari sejenak kita menengadahkan tangan, memohon kepada Allah Ta’ala dengan penuh kesungguhan. Dia-Lah Allah Ta’ala, tempat kita meminta dan memohon pertolongan. Sejenak berdo’a kepada-Nya:
.
اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوْذُ بِكَ مِنْ خَلِيلٍ مَاكِرٍ ، عَيْنَاهُ تَرَيَانِي وَقَلْبُهُ يَرْعَانِي ، إِنْ رَأى حَسَنَةً دَفَنَهَا ، وَإِنْ رَأى سَيِّئَةً أَذَاعَهَا
.
Allahumma inni a’udzu biKa min khaliilin maakir, ‘aynaahu tarayaani wa qalbuhu yar’aani, in ra-aa hasanatan dafanaha, wa in ra-aa sayyi-atan adzaa-‘aha
.
“Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari teman dekat yang makar (suka menipu), matanya melihatku, tetapi hatinya mencurigai aku. Jika ia melihat kebaikanku, ia sembunyikan. Tetapi jika ia melihat kejelekanku, ia sebarkan.”
.
Ini merupakan do’a yang bersumber dari hadits mursal riwayat Ibnu Najjar dari Sa’id Al-Maqburi. Yang dimaksud hadits mursal ialah perkataan yang dinisbahkan kepada Rasulullah shallaLlahu ’alaihi wa sallam, tetapi sanadnya terhenti pada tabi’in. Tidak ada sahabat dalam sanadnya. Jumhur ulama menolak hadits mursal sebagai dasar hukum, tetapi sebagian ulama lain membolehkan dengan syarat yang sangat ketat. Adapun riwayat berupa do’a, sikap ulama jauh lebih longgar dalam soal pengamalannya.
.
Pada do’a tersebut, kita memohon kepada Allah Ta’ala agar dilindungi dari kejahatan teman akrab atau sahabat karib yang khianat dan menipu. Dijauhkan dari keburukannya dapat beragam bentuknya. Terserah kepada Allah Ta’ala bagaimana Ia melindungi kita. Husnuzhan tetap kita jaga, tidak sibuk mencurigai sebagian sahabat dekat kita, tetapi Allah Ta’ala menjauhkannya pelan-pelan. Kita tidak memutus persahabatan, tapi tanpa terasa saling berjauhan. Atau, boleh jadi tetap akrab, tapi Allah Ta’ala singkirkan tipu dayanya dari kita. Dalam ini kita tidak perlu bersibuk menelisik keburukan sahabat kita, yang menjauh maupun yang mendekat.
.
Tetapi adakalanya Allah Ta’ala bukakan keburukan teman akrab tersebut secara terbuka, tanpa kita berusaha mengorek keburukannya maupun bersibuk membuka kelicikannya. Allah Ta’ala bukakan tanpa kita berusaha membuka keburukannya. Boleh jadi kita bahkan tidak memiliki kecurigaan dan kekhawatiran sedikit pun. Tetapi Allah Ta’ala kabulkan do’a kita dengan cara ini disebabkan sahabat dekat kita itu khianat secara luas dengan memanfaatkan kedekatannya dengan kita.
.
Kembali kepada do’a tersebut. Kita bedo’a dengan sungguh-sungguh tanpa menentukan caranya. Kita pasrahkan kepada Allah Ta’ala, sembari di saat yang sama tetap menjaga persangkaan baik kita kepada rekan-rekan kita.

Boleh jadi kawan dekat yang ingin khianat itu, belumlah dekat. Ia baru ingin mendekat. Tapi Allah Ta’ala kabulkan do’a dengan menghalangi seseorang yang ingin mendekat tersebut sehingga tetap tak dapat akrab. Boleh jadi tetap berteman, tetapi tetap tidak dapat akrab dan kita dijauhkan dari sikap khianatnya dia.
.
Yang kita perlu sangat hati-hati adalah persangkaan kita terhadap kawan kita yang jauh maupun sahabat kita yang sekarang agak renggang hubungannya. Sekalipun mungkin saja jauhnya seseorang dari kita karena Allah Ta’ala menghalanginya dari mengkhianati kita, tetapi kita tidak dapat memastikannya sehingga kita hendaknya tidak sibuk dengan persangkaan buruk (su’uzhan) yang boleh jadi salah besar.
.
Wallahu a’lam bish-shawab.

Tawadhu dan Keberkahan Dakwah


Tawadhu dan Keberkahan Dakwah

salim segaf2

1. Mari kita berharap keberkahan Allah pada dakwah ini. Keberkahan itu datangnya dari keyakinan kita kepada Allah, bahwa semua kekuasaan/kemenangan/kekalahan itu terjadi atas kehendak Allah. Kita tidak sependapat dengan yang mengatakan bahwa konspirasi musuh menyebabkan kekalahan kita. Mau konspirasi apapun kalau Allah tidak berkehendak ya tidak akan terjadi. Mari kita melihat amal ini dengan pendekatan dakwah

2. Evaluasi kita : kita tergiring secara tidak sadar menjadikan politik sebagai panglima. Lalu dakwah dan kaderisasi kita lupakan. Tolonglah slogan OBAH KABEH MUNDAK AKEH itu jangan dimaknai AKEH kursi dan suaranya. Tapi akeh dan mundak keberkahannya. dan itu dengan tetap menjadikan dakwah sebagai misi utama kita. Kursi itu bukan tujuan kita. Kalau kita pantas menerimanya Allah akan berikan. Saya membayangkan andai seluruh anggota dewan kita di indonesia ini di sebar merata ke desa desa yang ada di seluruh negeri. Lalu berdakwah, membina masyarakat dan kita punya kemampuan untuk itu. Insya allah keberkahan akan turun dengan cara itu. Tidak ada urusannya dapat kursi atau tidak.

3. Evaluasi kita : kita sering membuat target target yang sebenarnya tau itu diluar kemampuan kita. Lalu kita terjebak dengan cara cara yang jauh dari keberkahan untuk memaksakan mencapai target itu. Mengumpulkan dana dana syubhat. Bergantung pada konglomerat anu. konglomerat itu. Proyek ini itu.dst. Sekian suara harganya sekian M. Lalu dimana nilai keberkahan dakwah ini? begitu juga dengan perilaku politik kita yang kadang menyalahi sunnatullah. Begadang sampai hampir pagi menjaga suara. Toh tetap jebol juga. Apakah kita ini lebih sibuk dari Rasulullah? beliau selalu tertib dalam hal tidur dan bangun pagi. Di malam hari beliau serahkan dakwah di tangan Allah. Beliau tidur dan qiyamullail. Sesekali bolehlah begadang. Tapi kalau menjadi politic style kita itu sudah salah.

4. Allah hanya ingin kita ini bekerja semaksimal kemampuan kita. Laa yukallifullahu nafsan illa wus’ahaa. Tidak perlu memaksakan pola pola dan cara cara yang diluar kemampuan kita. Jokowi itu sebenarnya contoh dari Allah, bahwa ketika Allah berkehendak, dengan dana pencitraan orang bisa mendapatkan kekuasaan dan Allah juga yang berkuasa menjatuhkannya. Jadi, mari kita semakin tawadhu’ dihadapan Allah. Semakin kita tawadhu’ dan merasa butuh pertolongan-Nya, maka pertolongan akan mendekat. Jangan terlalu ngoyo menampakkaan bahwa kita ini punya kekuatan. Semakin kita berpikir kita punya kekuatan, lalu melupakan Allah, maka justru pertolongan semakin menjauh. (dalam konteks ini, Ust salim menyebut stagnannya suara PKS dari PEMILU ke PEMILU)

5. Itulah sebabnya para ulama mengajari kita doa : Allahummarzuqnaa ma’rifatan yas habuha bil adabi. Ya Allah beri kami ma’rifat kepadamu, yang diiringi dengan adab terhadap-Mu. Kita mengenal Allah tapi kita tidak punya adab dan sopan santun terhadap-Nya. Lalu kita merasa sudah punya kekuatan.dan mulai melupakan-Nya. Ini namanya kita tidak beradab dan sopan santun terhadap Allah.

6. Jangan juga gara gara jabatan politik lantas life style dan perilaku kita berubah. Terbiasa dilayani. Kesenggol dikit marah marah dimana mana seolah ingin menunjukkan kita ini kuat. Kita lupa berapa ton nikmat Allah yang sudah kita makan melalui mulut kita. Mari jadi orang yang biasa biasa saja. dan mengingat bahwa semua ini pemberian Allah yang tidak akan kekal.

7. Pada akhirnya mari memperbanyak dzikrullah. Imam ali berkata :: inna lillahi fil ardhi aaniyatun wa huwa al qolbu. Sesungguhnya Allah itu memiliki tempat di bumi, yaitu dalam hati kita. kita ini standar nya ma’tsurot sughro. Itupun masih suka nanya : ada yang lebih sughro lagi nggak tadz? insya Allah dengan dzikir yang banyak itu keberkahan akan turun.

Wallahu Al musta’aan. (mujahidullah)

Source : pksabadijaya.org

Pondasi Kemenangan adalah Dakwah dan Tarbiyah


Pondasi Kemenangan adalah Dakwah dan Tarbiyah

 

PONDASI KEMENANGAN ADALAH DAKWAH DAN TARBIYAH
(Taujih Habibana Dr Salim Segaf Al-Jufri)

Setelah empat kali kita mengikuti pemilu, kita bisa melihat bagaimana dampak politik terhadap pribadi kita. Politik sungguh sangat dominan dalam kehidupan sehari-hari sehingga hal-hal yang berhubungan dengan da’awi terjadi stagnasi bahkan penurunan.

Politik adalah sarana dan upaya kita untuk memenangkan dakwah kita. Tapi pondasi untuk meraih kemenangan itu adalah tarbiyah dan dakwah.

Kita harus mensyukuri capaian yang telah kita raih. Kita mentargetkan membangun 20 sampai 25 lantai sehingga kita akan masuk 3 besar. Namun Allah baru memberikan kita 7 lantai. Ini harus kita syukuri, karena 7 lantai ini adalah 7 lantai yang kokoh. Lebih baik kita diberi 7 lantai yang kokoh daripada diberi 25 lantai yang rapuh, yang justru itu membahayakan. Menang tapi justru membuat kita terpecah belah dan saling berebut satu sama lain. Tidak ada keberkahan di dalamnya.

Rasulullah mengingatkan, “Sungguh bukan kefakiran yang aku takutkan atas kalian. Tapi yang aku khawatirkan adalah manakala dibukakan pintu dunia ini seluas-luasnya kepada kalian.”

Ikhwah fillah, soliditas kita adalah sesuatu yang tidak bisa ditawar2. Oleh karena itu, dakwah dan tarbiyah harus menjadi panglima dalam kita bergerak dan berpolitik. Keimanan harus menjadi pondasi, karena dengan iman itulah Allah akan membukakan pintu hidayah kepada orang2 yang kita dakwahi.

Kita lihat Asiyah, istri Firaun. Wanita yang hidup ditengah istana kezaliman Firaun, namun dia menjadi beriman kepada Tuhannya Musa dan Harun. Siapakah yang memberikan hidayah kepada istri Firaun tersebut?

Itulah cara-cara Allah memberikan hidayah, melalui cara-cara yang penuh keimanan. Kita ingin membangun perpolitikan yang dibangun dengan keimanan, kejujuran dan amanah.

Kita tidak mengharamkan posisi, jabatan dan kekuasaan. Tapi semua itu untuk membangun negeri dan menegakkan kebenaran. Bukan untuk yang lain.

Firaun memiliki seorang masithoh (tukang sisir) yang tugasnya khusus menyisir rambut anak Firaun. Pada suatu ketika masithoh sedang menyisir rambut seorang anak Firaun, sisir yang digunakan terjatuh dan dia mengambilnya dengan membaca Bismillah. Hal ini lalu dilaporkan kepada Firaun. Lalu apa yang dilakukan oleh Firaun? Dia lalu menyiapkan panci besar berisi minyak yang dididihkan dan memasukkan anak2 masithoh tersebut satu persatu, agar masithoh mengakui Firaun sebagai tuhannya. Namun sampai seluruh anak2nya dimasukkan ke minyak mendidih itu, masithoh tetap teguh dengan keyakinannya. Dan pada akhirnya, setelah seluruh anak2nya selesai, masithoh pun juga dimasukkan ke dalam minyak mendidih tersebut. Dan ketika Rasulullah isra mi’raj, beliau mencium aroma yang sangat wangi, dan Jibril menjelaskan itu adalah wangi masithoh dan anak2nya yang teguh dengan kecintaannya kepada Allah.

Bagaimana dengan kita? Apakah kita tetap teguh dengan keyakinan kita saat lemah maupun saat berkuasa?
Kalau kita rapat sampai jam 1 atau jam 2 malam, apakah kita lebih hebat dari Rasulullah? Kapan kita bermunajat kepada Allah, padahal saat2 itu adalah saat2 Rasulullah bermunajat kepada Allah?

Kita ingin membangun Indonesia yang kokoh, yg solid dan sejahtera. Tapi saat ini Indonesia jauh tertinggal, termasuk dari korea yg kemerdekaannya berbeda 2 hari dari Indonesia. Tapi Indonesia di sana lebih dikenal sbg negara pengirim pembantu RT.

Maka kita harus membangun negeri ini dengan kebersamaan kita dalam keimanan. Tidak ada yang lebih hebat dari Allah. Kita membangun negeri ini utk mendapatkan kecintaan Allah, bukan untuk kepentingan nafsu pribadi. Untuk ikhlas seperti itu memang tidak mudah, tapi jika sudah menjadi kebiasaan, dia mudah saja dan tidak menganggap itu sbg keikhlasan. Itulah seorang mukhlasin, yg iblis pun tidak mampu menggodanya.

Partai ini panglimanya adalah dakwah, panglimanya adalah dzikrullah dan shalawat kepada nabi, panglimanya adalah ibadah kepada Allah. Lakukan dengan itqon dan ihsan. Jazakumullah khoir, terima kasih sudah membantu partai ini. Ucapan seperti ini memberi dampak yg sangat luar biasa dan menjauhkan kita dari keangkuhan.

Darimana kita tahu bahwa seseorang atau partai itu mendapatkan cahaya Allah? Itu terlihat dari hati-hati mereka yg selalu berdzikir kepada Allah. Semoga partai ini mencintai dan dicintai Allah, dan memperoleh kemenangan di dunia dan akhirat. Aamiin.

Waktu Merupakan Bagian Terpenting dari Komponen Dakwah


Waktu Merupakan Bagian Terpenting dari Komponen Dakwah

Oleh: Abu Maryam

Para da’i banyak yang merasa kecewa ketika tengah berdakwah, dikarenakan mereka telah merasa optimal memberikan penyampaian, namun tetap saja tidak mendapatkan respon yang positif dari mad’u. Perasaan kecewa ini muncul karena ketidakcermatan da’i dalam memperhatikan satu komponen penting dalam berdakwah, yaitu terkait proses kontemplasi yang dilakukan mad’u, dan itu membutuhkan waktu yang cukup.

Beberapa hal penting yang harus diperhatikan dalam hal ini, adalah:

Pertama, sadari kita beda ‘dunia.’ Kita harus menyadari bahwa ‘dunia’ tempat berinteraksinya kita dengan mad’u terkadang berbeda, tepatnya tidak berada dalam lingkaran hidup yang Islami. Namun telah bercampur-baur dan terpengaruhi oleh nilai-nilai duniawi, umumnya mereka tumbuh di tengah efek dari materialistis, masyarakat yang ‘sakit’ atau bahkan atheis. Dan karakter seperti ini sudah menyebar banyak di tengah masyarakat, dan para da’i akhirnya berinteraksi dengan sosok yang cara berfikirnya serta kepribadiannya bertolak-belakang dengan mad’u-nya. Sehingga ketidak pahaman kerap menjadi penghalang dalam interaksi seorang da’i dengan obyek dakwahnya.

Karena itu butuh waktu yang panjang untuk mendakwahi mad’u yang seperti ini. Melakukan pendekatan, beradaptasi dengan dunia mereka, sehingga seakan tak ada lagi pembatas dan mad’u pun siap menerima dengan baik perkataan sang da’i.

Kedua, tak ada perkataan yang sia-sia. setiap kata yang terucap dari seorang da’i pada hakekatnya tidaklah pernah sia-sia, melainkan akan terus terngiang dalam fikiran mad’u. Apa yang ia dengar itu sedikit banyak akan merubahnya menjadi pribadi yang lebih baik. Apa yang ditaushiyahkan oleh seorang da’i kepada mad’u-nya saat ini, akan menjadi investasi amal bagi dirinya di beberapa tahun kedepan. Seperti yang sering kita temukan, ketika berjumpa dan memberi pesan kebaikan kepada seseorang, ia terkadang mengatakan, “sepertinya saya pernah mendengar taushiyah seperti yang Anda sampaikan tadi.”

Ketiga, cerdas memilih waktu. Memilih waktu yang tepat dalam berdakwah merupakan hal yang sangat penting. Karena setiap orang memiliki waktu privasi, dan dalam kondisi seperti itu ia tidak ingin diganggu, dan tidak siap menerima arahan.

Maka dari itu, berdakwah sangat dipengaruhi dengan kondisi kedua belah pihak, baik da’i mau pun mad’u-nya, keduanya harus berada dalam kondisi yang siap, siap memberi dan menerima. Terutama bagi sang da’i, hendaknya memilih waktu yang tepat, sehingga mad’unya tidak merasa terbebani dan dapat menerima pesan kebaikan itu dengan hati lapang.

Keempat, tidak bertele-tele. Seorang da’i hendaknya tidak ‘berlama-lama’ dalam berbicara dihadapan mad’u, karena hal itu akan membuatnya jenuh dan bosan. Namun sebaliknya, dengan menyampaikan pembicaraan yang singkat padat dan berbobot, tentunya akan membuat para mad’u ketagihan, dan semangat untuk mengikutinya karena ingin mendapatkan yang lebih banyak lagi.

Kelima, jangan tergesa-gesa. Terburu-buru dalam mendakwahi mad’u tentunya tidak akan memberikan hasil yang maksimal. Karena hal itu justru akan menghadirkan sebuah masalah, bisa jadi mad’u itu menolak, atau menerima tapi tanpa pemahaman. Kedua hal ini seyogyanya diwanti-wanti sebelum terjadi.

Efek dari ketergesa-gesaan dalam berdakwah ini diantaranya adalah mad’u yang menjadi terburu-buru dalam mengambil keputusan, akibatnya ia menolak ajakan sang da’i. Waktu yang singkat memposisikannya tidak secara utuh memahami dakwah itu disampaikan kepada dirinya. Dampak buruknya, ia tidak akan berhubungan lagi dengan dakwah, dan bukan perkara mudah untuk merubah keputusan seseorang. Hal ini terjadi dikarenakan da’i terlalu terburu-buru dalam berdakwah, ibarat memetik buah tapi belum pada waktunya.

Sedangkan bagi mad’u yang terburu-terburu dalam merespon ajakan dakwah, kedepannya mad’u akan terkaget-kaget karena dihadapkan dengan adanya taklif dan kewajiban yang belum pernah ia perkirakan sebelumnya. Sehingga ia merasa ada perang batin dalam jiwanya. Dan bisa berimbas hal negatif terhadap kepribadiannya, berbohong atau bahkan nifak. Seandainya dihadapnnya terdapat peluang untuk kembali memilih, bisa jadi mad’u tersebut tidak memilih untuk bergabung dalam dakwah.

Oleh karena itu, yang selayaknya dilakukan seorang da’i adalah tidak memaksa mad’u-nya terburu-buru dalam mengeluarkan keputusan, namun meminta kepada mad’u untuk berpikir secara perlahan sehingga keputusan yang diambil berdasarkan kemantapan yang lahir dari dalam dirinya. Wallahu al Musta’an

Disarikan dari kitab “Qawaidu ad-da’wah ila Allah” karya Dr. Hamam Abdurrahim Sa’id, cetakan Dârul wafâ’, Manshurah, Mesir.

Pesan Untuk Para Kader Pemimpin Dakwah


Pesan Untuk Para Kader Pemimpin Dakwah

Ada beberapa pesan yang harus saya sampaikan kepada antum sebagai kader pimpinan dan sebagai pemimpin langsung di lapangan, yaitu sebagai berikut:

Pertama, al-istisya’aar bil mas’uliyah ats-tsaqiilah, selalu merasakan dan menghayati adanya tanggungjawab yang berat.

Mengapa? Tak lain karena mata dunia saat ini sudah mulai melihat dan bahkan mengamati kita secara seksama, salban wa ijaban, baik dalam pengertian negative maupun positif. Baik yang pro maupun yang kontra terhadap kita sudah mencermati kita.

Kita terus disorot oleh dunia luar baik dalam arti positif maupun negative. Antum harus bisa merasakan betul harapan-harapan nasional, regional dan bahkan dunia terhadap antum. Hal ini harus direspon secara maknawiyan dengan adanya al-istisya’aar bil mas’uliyahats-tsaqiilah.

Jangan sampai karena sudah menjadi pejabat-pejabat public, baik di legislative maupun eksekutif, antum menjadi lengah atau bersikap santai. Jangan…Saya tidak mengharamkan wasaail (sarana prasarana). Silahkan wasilah modern antum beli dan gunakan, sesuatu yang tidak sempat dilakukan di masa generasi saya. Antum bebas memperoleh danmenggunakannya. Hanyasaja yang penting antum punya tanggung jawab untuk meneruskan perjuangan ini.

Kedua,ats-tsiqahbiwa’dillahiwarasuulihi, selalupercayadanyakinpadajanji Allah danRasul-Nya.
Betapa pun berat tanggung jawab dan tantangan yang kita hadapi, percayalah pada janji Allah dan surgaNya yang demikian banyak disebutkan di dalam Al-Qur’an dan Hadits. Saya tidak akan menyebutkan dalil-dalilnya, karena antum ashabul adillah, orang yang menguasai dalil-dalil. Bahkan di dalam proses takwiniyah ada materi ats-tsiqah. Mulai dari ats-tsiqah billah sampai ats-tsiqah bil qiyadah, biljama’ah dan seterusnya.

Ketiga, al-iltizam bi manhajil islam asy-syamil wal mutakamil, berpegang teguh dengan metode Islam yang komprehensif dan terpadu.

Ketahuilah bahwa syumuliyatul Islam akan semakin mendekat untuk terwujud, bila kita sudah berada di mihwar daulah. Sementara saat ini kita baru berada di mihwar muassasi.

Mihwar muassasi adalah tahapan juz’iyyah menuju syumuliyatul Islam. Dalam perjalanan ini kita menemui kelokan-kelokan yang disebut mun’athafat ‘alaathariiqid dakwah.

Mun’athafat tersebut tidak selalu bermakna negative, melainkan bisa juga positif, yakni berupa jabatan legislative, bupati, gubernur, walikota, dan menteri. Selain itu juga bisa berupa dimilikinya pesantren dan madrasah. Atau bahkan boleh jadi berupa pertanian dan peternakan sapi. Namun semua itu hanyalah sesuatu yang akan kita lalui saja dalam perjalan menuju, insya Allah, I’laai kalimatullahi hiyal ‘ulya.
Hal ini sangat penting di garis bawahi, karena sebagai manusia kadang-kadang kita terjebak pada suatu fenomena fase atau mazhaahir marhaliyah, dan bahkan mungkin berpikir: “Kayaknya sudah enak di sini. Ngapain lagi jauh-jauh?”

Misalkan kita sudah enak mengelola pesantren, lalu ketika ada pilkada maka berpikir: “Wah, uang puluhan milyar dana kampanye kalau digunakan untuk membangun pesantren jadi berapa ya?”

Hal itu bisa menjadi tanda keterjebakan oleh mun’athafat ‘ala athariiqid dakwah, padahal mengelola pesantren, menjadi pejabat di eksekutif, legislative dan yudikatif adalah positif. Tetapi jangan sampai semua itu menjebak kita dalam mazhaahir marhaliyah, karena kita harus tetap berjalan menuju tujuan kita yang sebenarnya yakni menegakkan Islam syamil mutakamil.

Keempat, al-I’timad ‘alaa nizhamis silmi wal dusturi wal qanuni, mengandalkan perjuangan secara damai, konstitusional dan sesuai hukum perundang-undangan.

Kita harus selalu mengingat berada dalam posisi di Indonesia yang merupakan negara merdeka, terbuka, demokratis dan damai—tidak seperti di Afghanistan maupun Palestina—sehingga kita mengandalkan perjuangan damai yang konstitusional sesuai dengan hukum yang berlaku.

Hal ini penting untuk selalu diingat, karena adanya godaan-godaan yang disebut fikrah takfiriyah wa tafjiriyah (ideology pengkafiran dan peledakan). Dewan Pimpinan Tingkat Pusat (DPTP) telah memutuskan bahwa kita tidak boleh mempunyai titik sentuh apapun dengan aliran dan fikrah tersebut, karena I’timad kita‘alannizham as-silmi wal dusturi walqanuni. Jangan sampai tergoda oleh pemikiran dan tindakan radikal seperti itu, kita harus selalu ishbiruu wa shabiruu waraabithu ittaqullaha la’allakum tuflihun.
Kelima, at-tamassuk bil minhaji as siyasi almarin ma’a ‘adami tanaazul ‘anits tsawaabit, berpegang teguh pada konsep politik yang supel tanpa harus mengorbankan prinsip-prinsip. Oleh karena itu ada pesan dari DPTP agar kita tidak tergoda dengan konspirasi-konspirasi ini dan itu di tengah jalan. Biarkan semuanya berjalan dusturi wa qanuni. Kita harus tetap supel tapi tanpa harus mengorbankan prinsip.

Keenam, al-muhafazhah ‘alat tadarruj wat tawazun fi numuwwi wa tathawwuri ufuqiyan wa ’amudiyan, memelihara kebertahapan dan keseimbangan dalam pertumbuhan secara horizontal dan vertical. Posisi kita saat ini adalah hasil kerja keras gerak horizontal ikhwan dan akhwat dalam nasyruddakwah. Gerak itulah yang kemudian menghasilkan mobilitas vertical keatas, sehingga ada yang menjadi menteri, gubernur, anggota legislative, walikota atau pun bupati.

Mereka yang sudah berada di dalam posisi vertical harus selalu menyadari bahwa bisa sampai ke posisi tersebut karena dukungan mobilitas horizontal. Oleh karenanya mereka pun pada gilirannya harus memback up intisyar al-ufuqiy, mobilitas horizontal, sehingga nantinya akan menghasilkan intisyar ‘amudiy, mobilitas vertical yang lebih besarlagi. Dalam dinamika proses tersebut, sifat kebertahapan dan keseimbangan harus tetapdijaga.

Ketujuh, al-ihtimam bir-ri’ayah ‘alaa muktasabaatid dakwah, memperhatikan pemeliharaan atas perolehan-perolehan dakwah. Dahulu kita suka menyebutnya dengan muhafazhah ‘ala muktasabatid dakwah awlaa.

Memelihara perolehan dakwah adalah prioritas, dan sekarang lebih ditekankan lagi dengan memakai istilah al-ihtimam, karena khawatir kita melalaikannya.

Pemahaman sederhananya seperti dialog saya dengan Walikota Depok, akh NurMahmudi Ismail, “Antum menjadi walikota Depok adalah hasil perjuangan ikhwan dan akhwat, maka kini kewajiban antum memenangkanlagi PKS di Depok sebagaimana PKS telah memenangkan antum”.
Begitu juga kepada Gubernur Jawa Barat saya katakan, “Antum bisa sampai ke kursi Gubernur adalah hasil perjuangan ikhwan dan akhwat, maka kewajiban antum sekarang adalah memenangkan PKS sehingga dapat meningkatkan jumlah kadernya yang jadi menteri dari empat menjadi delapan, duabelas, atau tigapuluh.” Tapi ya tidak boleh mengambilsemua, laa yajuz. Harusbagi-bagidengan yang lain.

Jadi, kesadaran timbal balik antara gerak horizontal dan vertical ini sangat penting. Agar kita sadar jangan sampai ada kader-kader kita yang berkorban habis untuk mobilitas horizontal tiba-tiba merasa kecewa oleh ikhwan dan akhwat yang mempunyai posisi vertical yang tidak ingat kepada pengorbanan gerak horizontal mereka. Ini pesan untuk antum semua, apakahbupati, menteri atau para anggota DPR.

(Diringkas dari buku Bekal Untuk Kader Dakwah,BidangArsip&SejarahSekretariatJenderal DPP PartaiKeadilan Sejahtera)

Tawajjuh


 

Tawajjuh

Ada seorang Al Akh akan pergi haji, meminta nasehat lebih dulu kepada saya. Saya katakan kepadanya haji itu merupakan bagian dari ibadah lainnya yang kesemuanya dalam rangka “Faaqim wajhaka liddieni hanifa”. 

Seluruh Ibadah kita sangat tergantung kepada tawajjuh (orientasi) kita terhadap dien secara lurus, hanif. Pertama-tama tentu saja kita harus memiliki tawajjuh aqidi dalam setiap ibadah kita, orientasi aqidah atau menghadapnya kita secara aqidi.

Dalam ibadah haji direflesikan dalam kalimat labbaika Allahumma labbaik, labbaika la syarika laka labbaik. Kita menolak segala sambutan terhadap panggilan selain Allah, dan bila harus menyambut panggilan yang lain, misalnya istri atau anak, tetaplah dalam kerangka menyambut panggilan Allah atau dengan kata lain lillah, karena Allah. Karena kita sudah menegaskan; Labbaika laa syarika laka labbaik, innal hamda wanni’mata laka wal mulk laa syarika lak, aku sambut panggilanMU ya Allah tak ada sekutu bagiMu sesungguhnya segala puji, kenikmatan dan kekuasaan ada di tanganMu. Tak ada sekutu bagiMu.

Setelah tawajjuh aqiditawajjuh atau orientasi yang kedua adalah tawajjuh syar’i. Dalam beribadah kita harus memperhatikan orientasi syar’i, ini karena Allah bukan saja menurunkan mabda’ (prinsip dasar)melainkan juga menurunkan syir’atan wa minhajan, dan dalam melangkah atau beribadah, kita harus melalui koridor tersebut. Misalnya dalam haji, khudzuu ‘anni manasikakum—ambilah / contohlah dariku manasik haji kalian, dan dalam shalat, shallu kama roaitumuni ushalli—shalatlah kalian sebagaimana kalian melihat aku shalat. Sejalan dengan itu tentunya juga terefleksi dalam hal jihad atau bisa diparalelkan, jaahidu kama roaitumuni ujaahid.

Tawajjuh yang ketiga adalah tawajjuh amali (orientasi operasional). Artinya kita harus “wa’aiddu mastatho’tum minquwwah”, segala potensi secara operasianal harus dihimpun dan digabung secara syumul (integral) dan takamul (terpadu) agar bisa merealisir tugas-tugas dan kewajiban-kewajiban dari Allah. Karena segala tugas dan kewajiban dari Allah tidak bisa kita persiapkan secara juz’iyah(parsial). Misalnya untuk sholat kita harus lebih dulu wudhu, dan untuk wudhu tentu saja harus ada air. Kemudian untuk Sholat harus syatrul aurat(menutup aurat), jadi harus ada baju dan mukena. Lalu agar dengkul kita bisa tegak dan kuat berdiri ketika sholat, kita butuh makan lebih dulu. Jadi ada kesyumuliyahan dalam adaa’ish shalah (pelaksanaan shalat).

Ketiga tawajjuh tersebut yakni tawajjuh aqidi, syar’i dan amali harus selalu ada terhimpun secara sekaligus di setiap ibadah yang kita lakukan. Yang jelas kita harus senantiasa mempersiapkan segala sarana dan prasarana serta potensi agar tugas-tugas dari Allah swt dapat kita kerjakan secara baik, karena Allah telah menyuruh kita mengerahkan segenap potensi dan kekuatan “Waa’iddu lahum mastatho’tum minquwwah” (QS 8:60) di sinilah letak ke-syumuliyah-an dan ke-takamuliyah-annya.

sumber : http://www.al-intima.com/taujih-hilmi-aminuddin/tawajjuh

Ada Agama Selain Islam


Suatu ketika seorang guru bertanya setengah mengeluh. Ia sudah berusaha menjadi guru yang baik dan senantiasa melindungi aqidah anaknya agar tak terkotori oleh hal-hal yang merusak. Kepada murid-murid­nya –sebagaimana kepada anaknya sendiri—ia selalu menunjukkan bahwa di dunia ini hanya ada satu agama. Kebetulan ia menjadi kepala sekolah, sehingga “idealismenya” bisa diwujud­kan lebih leluasa. Setiap kali ada hari libur keagamaan non Islam, sekolah tetap masuk dan guru tidak boleh menginformasikan yang sesungguhnya. Guru hanya boleh menginformasi­kan kepada murid dengan satu ungkapan: “hari libur nasional”. Apa pun liburnya!

 

Sungguh, sebuah usaha yang serius!

 

Hasilnya, anak-anak tidak mengenal perbedaan semenjak awal. Dan inilah awal persoalan itu. Suatu ketika anaknya bertemu dengan anak rekannya yang non muslim. Begitu tahu anak itu bukan muslim, anaknya segera bertindak agresif. Anaknya menyerang dengan kata-kata yang tidak patut sehingga anak rekannya menangis. Peristiwa ini menyebabkan ia merasa risau, apa betul sikap anaknya yang seperti itu.

 

Tetapi ini belum seberapa. Ada peristiwa lain yang lebih memilukan. Saya tidak tahu apa yang selama ini ia ajarkan kepada murid-muridnya di sekolah. Tapi suatu hari salah seorang muridnya mengalami peristiwa “mencengangkan”. Ia berjumpa seorang non muslim, yang akhlaknya yang sangat baik. Sesuatu yang tak pernah terduga sebelumnya, sehingga menimbulkan kesan mendalam bahwa ada agama selain Islam dan agama itu baik karena orangnya sangat baik.

 

Apa yang bisa kita petik dari kejadian ini? Semangat saja tidak cukup. Mendidik tanpa semangat memang membuat ucapan-ucapan kita kering tanpa makna. Tetapi keinginan besar menjaga aqidah anak tanpa memahami bagaimana seharusnya melakukan tarbiyah, jus­tru bisa membahayakan. Alih-alih menumbuhkan kecintaan pada agama, justru membuat a­nak terperangah ketika mendapati pengalaman yang berbeda. Beruntung kalau anak mengkomunikasikan, kita bisa meluruskan segera. Kalau tidak? Kekeliruan berpikir itu bisa terbawa ke masa-masa berikutnya hingga ia dewasa.Na’udzubillahi min dzaalik.

 

 

Hanya Islam yang Allah Ridhai

 

Apa yang harus kita lakukan agar anak-anak bangga dengan agamanya sehingga ia akan belajar meyakini dengan sungguh-sungguh? Tunjukkan kepadanya kesempurnaan aga­ma ini. Yakinkan kepada mereka bahwa inilah agama yang paling benar melalui pembukti­an yang cerdas. Sesudah melakukan pembuktian, kita ajarkan kepada mereka untuk percaya pada yang ghaib dan menggerakkan jiwa mereka untuk berbuat baik. Hanya dengan meya­kini bahwa agamanya yang benar, mereka akan belajar bertoleransi secara tepat terhadap pe­meluk agama lain. Tentang ini, silakan baca kembali kolom parenting bertajuk Ajarkan Jihad Sejak Dini yang saya tulis di buku Positive Parenting.

 

Ajarkan dengan penuh percaya diri firman Allah Ta’ala yang terakhir dalam urusan ‘aqidah:

 

حرمت عليكم الميتة والدم ولحم الخنزير وما أهل لغير الله به والمنخنقة والموقوذة والمتردية والنطيحة وما أكل السبع إلا ما ذكيتم وما ذبح على النصب وأن تستقسموا بالأزلام ذلكم فسق اليوم يئس الذين كفروا من دينكم فلا تخشوهم واخشون اليوم أكملت لكم دينكم وأتممت عليكم نعمتي ورضيت لكم الإسلام دينا فمن اضطر في مخمصة غير متجانف لإثم فإن الله غفور رحيم

 

Diharamkan bagimu (memakan) bangkai, darah, daging babi, (daging hewan) yang disembe­lih atas nama selain Allah, yang tercekik, yang dipukul, yang jatuh, yang ditanduk, dan yang diterkam binatang buas, kecuali yang sempat kamu menyembelihnya, dan (diharam­kan bagimu) yang disembelih untuk berhala. Dan (diharamkan juga) mengundi nasib dengan anak panah, (mengundi nasib dengan anak panah itu) adalah kefasikan. Pada hari ini orang-orang kafir telah putus asa untuk (mengalahkan) agamamu, sebab itu janganlah kamu takut kepada mereka dan takutlah kepada-Ku. Pada hari ini telahKusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telahKu-ridhai Islam itu jadi agama bagimu. Maka barangsiapa terpaksa karena kelaparan tanpa senga­ja berbuat dosa, sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Al-Maa’idah, 5: 3).

 

Melalui penjelasan yang terang dan mantap, anak mengetahui bahwa agama di dunia ini banyak jumlahnya, tetapi hanya satu yang Allah Ta’ala ridhai. Baik orangtua maupun guru perlu menunjukkan kepada anak sejarah agama-agama sehingga anak bisa memahami meng­apa hanya Islam yang layak diyakini dan tidak ada keraguan di dalamnya. Jika anak tidak memahami proses terjadinya penyimpangan agama-agama di dunia, mereka dapat mengalami kebingungan mengapa hanya Islam yang Allah ridhai. Pada gilirannya, ini bisa menggiring anak-anak untuk secara pelahan menganggap semua agama benar. Apalagi jika orangtua atau guru salah menerjemahkan. Beberapa kali saya mendengar penjelasan yang mengatakan Islam sebagai agama yang paling diridhai Allah. Maksudnya baik, ingin menunjukkan bahwa Islam yang paling sempurna, tetapi berbahaya bagi persepsi dan pemahaman anak. Jika Islam yang paling diridhai Allah, maka ada agama lain yang diridhai dengan tingkat keridhaan yang berbeda-beda. Ini efek yang bisa muncul pada persepsi anak.

 

Kita perlu memperlihatkan pluralitas pada anak bahwa memang banyak agama di dunia ini, sehingga kita bisa menunjukkan betapa sempurnanya Islam. Mereka menerima pluralitas (kemajemukan) agama dan bersikap secara tepat sebagaimana tuntunan Rasulullah shallaLlahu ‘alaihi wa sallam. Tetapi bukan pluralisme yang memandang semua agama sama.

 

 

Berislam dengan Bangga

 

Setelah anak meyakini bahwa Islam agama yang sempurna dan satu-satunya yang diridhai oleh Allah‘Azza wa Jalla, kita perlu menguatkan mereka dengan beberapa hal. Pertama, kita bangkitkan kebanggaan menjadi muslim di dada mereka. Semenjak awal kita tumbuhkan kepercayaan diri yang kuat dan harga diri sebagai seorang muslim, sehingga mereka memi­liki kebanggaan yang besar terhadap agamanya. Mereka berani menunjukkan identitasnya sebagai seorang muslim dengan penuh percaya diri, “Isyhadu bi anna muslimun. Saksikanlah bahwa aku seorang muslim!”

 

Mereka berani menunjukkan keislamannya dengan penuh rasa bangga. Tidak takut dicela. Tidak khawatir direndahkan.

 

Kedua, kita biasakan mereka untuk memperlihatkan identitasnya sebagai muslim, baik yang bersifat fisik, mental dan cara berpikir. Inilah yang sekarang ini rasanya perlu kita gali lebih jauh dari khazanah Islam; bukan untuk menemukan sesuatu yang baru, tetapi untuk menemukan apa yang sudah pada generasi terdahulu yang berasal dari didikan Rasulullah shallaLlahu ‘alaihi wa sallam dan sekarang nyaris tak kita temukan pada sosok kaum muslimin di zaman ini.

 

Ketiga, kita bangkitkan pada diri mereka al-wala’ wal bara’ sehingga memperkuat per­caya diri mereka. Apabila mereka berjalan, ajarkanlah untuk tidak menepi dan menyingkir karena grogi hanya karena berpapasan dengan orang-orang kafir yang sedang berjalan dari arah lain. Kita tidak bersikap arogan. Kita hanya menunjukkan percaya diri kita, sehingga tidak menyingkir karena gemetar.

 

Sikap ini sangat perlu kita tumbuhkan agar kelak mereka sanggup bersikap tegas terhadap orang-orang kafir dan lembut terhadap orang-orang yang beriman. Ingatlah ketika Allah Ta’ala berfirman:

 

يا أيها الذين آمنوا من يرتد منكم عن دينه فسوف يأتي الله بقوم يحبهم ويحبونه أذلة على المؤمنين أعزة على الكافرين يجاهدون في سبيل الله ولا يخافون لومة لآئم ذلك فضل الله يؤتيه من يشاء والله واسع عليم

 

“Hai orang-orang yang beriman, barangsiapa di antara kamu yang murtad dari agamanya, maka kelak Allah akan mendatangkan suatu kaum yang Allah mencintai mereka dan mereka pun men­cintai-Nya, yang bersikap lemah lembut terhadap orang yang mukmin, yang bersikap keras terhadap orang-orang kafir, yang berjihad di jalan Allah, dan yang tidak takut kepada celaan orang yang suka mencela. Itulah karunia Allah, diberikan-Nya kepada siapa yang dikehendaki-Nya, dan Allah Maha Luas (pemberian-Nya) lagi Maha Mengetahui.” (QS. Al-Maa’idah, 5: 54).

 

Nah.

 

 

Berislam dengan Ihsan

 

Jika percaya diri sudah tumbuh, kita ajarkan kepada mereka sikap ihsan. Kita tunjukkan kepada anak-anak itu bagaimana seorang mukmin dapat dilihat dari kemuliaan akhlak dan lembutnya sikap. Ada saat untuk tegas, ada saat untuk bersikap menyejukkan. Bukan un­tuk menyenangkan hati orang-orang kafir dikarenakan hati yang lemah dan diri yang tak ber­daya, tetapi karena memuliakan tuntunan Allah dan rasul-Nya. Bukankah Rasulullah shalla­Llahu ‘alaihi wa sallam berdiri menghormat ketika jenazah orang kafir diantar ke tanah peku­buran? Bukankah Shalahuddin Al-Ayyubi, salah seorang panglima yang disegani dalam se­jarah Islam, memperlakukan musuh-musuhnya dengan baik dan penuh kasih-sayang ketika musuh sudah tidak berdaya?

 

Pada saatnya, kita ajarkan kepada mereka untuk menghormati hak-hak tetangga, muslim maupun kafir. Kita tunjukkan kepada mereka hak-hak tetangga beserta prioritasnya, mana yang harus didahulukan. Ada tetangga yang dekat pintunya dengan rumah kita, ada pula yang jauh; ada tetangga yang masih memiliki hubungan keluarga, ada pula yang orang lain sama sekali; serta ada tetangga muslim, ada pula yang kafir. Masing-masing memiliki hak yang berbeda-beda.

 

 

Dorongan untuk Berdakwah

 

Ada anak yang menjadi sumber pengaruh, ada yang lebih sering terpengaruh. Anak-anak yang mengarahkan teman-temannya dan menjadi inspirasi bagi dalam berbuat, baik negatif maupun positif, ditandai dengan karakter yang kuat dan menonjol. Umumnya anak-anak yang menjadi sumber pengaruh lebih sedikit jumlahnya. Mereka biasanya bersikap proaktif dalam berpendapat, selalu berusaha meyakinkan temannya, berbicara dengan mantap serta memiliki percaya diri yang tinggi.

 

Agar anak-anak itu memiliki percaya diri yang lebih kuat lagi sebagai seorang muslim, kita perlu tanamkan dorongan untuk menyampaikan kebenaran serta mengajak orang lain pada kebenaran. Ini sangat penting untuk menjaga anak dari kebingungan terhadap masalah keimanan dan syari’at. Tidak jarang anak mempertanyakan, bahkan mengenai sesama muslim yang tidak melaksanakan sebagai syari’at Islam. Misalnya mengapa ada yang tidak pakai jilbab.

 

Melalui dorongan agar mereka menjadi penyampai kebenaran, insya-Allah kebingung­an itu hilang dan berubah menjadi kemantapan serta percaya diri yang tinggi. Pada diri me­reka ada semacam perasaan bahwa ada tugas untuk mengingatkan dan menyelamatkan. Ini sangat berpengaruh terhadap citra dirinya kelak, dan pada gilirannya mempengaruhi konsep diri, penerimaan diri, percaya diri dan orientasi hidup.

 

Wallahu a’lam bish-shawab.