Tag Archive | kenikmatan

Do’a Memohon Dijauhkan dari Teman Akrab yang Khianat


Do’a Memohon Dijauhkan dari Teman Akrab yang Khianat

 

.
Mari sejenak kita menengadahkan tangan, memohon kepada Allah Ta’ala dengan penuh kesungguhan. Dia-Lah Allah Ta’ala, tempat kita meminta dan memohon pertolongan. Sejenak berdo’a kepada-Nya:
.
اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوْذُ بِكَ مِنْ خَلِيلٍ مَاكِرٍ ، عَيْنَاهُ تَرَيَانِي وَقَلْبُهُ يَرْعَانِي ، إِنْ رَأى حَسَنَةً دَفَنَهَا ، وَإِنْ رَأى سَيِّئَةً أَذَاعَهَا
.
Allahumma inni a’udzu biKa min khaliilin maakir, ‘aynaahu tarayaani wa qalbuhu yar’aani, in ra-aa hasanatan dafanaha, wa in ra-aa sayyi-atan adzaa-‘aha
.
“Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari teman dekat yang makar (suka menipu), matanya melihatku, tetapi hatinya mencurigai aku. Jika ia melihat kebaikanku, ia sembunyikan. Tetapi jika ia melihat kejelekanku, ia sebarkan.”
.
Ini merupakan do’a yang bersumber dari hadits mursal riwayat Ibnu Najjar dari Sa’id Al-Maqburi. Yang dimaksud hadits mursal ialah perkataan yang dinisbahkan kepada Rasulullah shallaLlahu ’alaihi wa sallam, tetapi sanadnya terhenti pada tabi’in. Tidak ada sahabat dalam sanadnya. Jumhur ulama menolak hadits mursal sebagai dasar hukum, tetapi sebagian ulama lain membolehkan dengan syarat yang sangat ketat. Adapun riwayat berupa do’a, sikap ulama jauh lebih longgar dalam soal pengamalannya.
.
Pada do’a tersebut, kita memohon kepada Allah Ta’ala agar dilindungi dari kejahatan teman akrab atau sahabat karib yang khianat dan menipu. Dijauhkan dari keburukannya dapat beragam bentuknya. Terserah kepada Allah Ta’ala bagaimana Ia melindungi kita. Husnuzhan tetap kita jaga, tidak sibuk mencurigai sebagian sahabat dekat kita, tetapi Allah Ta’ala menjauhkannya pelan-pelan. Kita tidak memutus persahabatan, tapi tanpa terasa saling berjauhan. Atau, boleh jadi tetap akrab, tapi Allah Ta’ala singkirkan tipu dayanya dari kita. Dalam ini kita tidak perlu bersibuk menelisik keburukan sahabat kita, yang menjauh maupun yang mendekat.
.
Tetapi adakalanya Allah Ta’ala bukakan keburukan teman akrab tersebut secara terbuka, tanpa kita berusaha mengorek keburukannya maupun bersibuk membuka kelicikannya. Allah Ta’ala bukakan tanpa kita berusaha membuka keburukannya. Boleh jadi kita bahkan tidak memiliki kecurigaan dan kekhawatiran sedikit pun. Tetapi Allah Ta’ala kabulkan do’a kita dengan cara ini disebabkan sahabat dekat kita itu khianat secara luas dengan memanfaatkan kedekatannya dengan kita.
.
Kembali kepada do’a tersebut. Kita bedo’a dengan sungguh-sungguh tanpa menentukan caranya. Kita pasrahkan kepada Allah Ta’ala, sembari di saat yang sama tetap menjaga persangkaan baik kita kepada rekan-rekan kita.

Boleh jadi kawan dekat yang ingin khianat itu, belumlah dekat. Ia baru ingin mendekat. Tapi Allah Ta’ala kabulkan do’a dengan menghalangi seseorang yang ingin mendekat tersebut sehingga tetap tak dapat akrab. Boleh jadi tetap berteman, tetapi tetap tidak dapat akrab dan kita dijauhkan dari sikap khianatnya dia.
.
Yang kita perlu sangat hati-hati adalah persangkaan kita terhadap kawan kita yang jauh maupun sahabat kita yang sekarang agak renggang hubungannya. Sekalipun mungkin saja jauhnya seseorang dari kita karena Allah Ta’ala menghalanginya dari mengkhianati kita, tetapi kita tidak dapat memastikannya sehingga kita hendaknya tidak sibuk dengan persangkaan buruk (su’uzhan) yang boleh jadi salah besar.
.
Wallahu a’lam bish-shawab.

Etika Debat dalam Islam


Etika Debat dalam Islam

 

Debat dalam bahasa Arab disebut jadal. Dalam kitab Ihya Ulumuddin, Hujjatul Islam Imam Ghazali member definisi jadal sebagai keinginan untuk saling mengalahkan dan menjatuhkan seseorang dengan menyebutkan kekurangannya. Dengan demikian, tidak jarang debat memunculkan banyak sisi negatif. Misalnya saja, menumbuhkan emosi orang tertentu, lantaran tidak menerima kritik orang lain terhadap dirinya. Dan yang lebih parah, bila forum debat sudah menjadi arena debat kusir yang tak jelas ujung pangkalnya, sehingga semakin jauh dari kebenaran. Itu sebabnya, debat sering dikaitkan dengan salah satu sebab penyimpangan. Banyak umat terdahulu yang tersesat setelah mereka mendapat petunjuk, lantaran perdebatan mereka tentang kebenaran. Seperti yang disabdakan Rasulullah SAW, “Tidaklah sekelompok kaum menjadi sesat kembali setelah memperoleh petunjuk, kecuali mereka melakukan jadal.” Selanjutnya beliau membacakan surat az Zukhruf yang artinya “Mereka tidak member perumpamaan itu padamu melainkan dengan maksud membantah saja. Sebenarnya mereka adalah kaum yang suka bertengkar.” (HR Ahmad dan Turmudzi, hadits hasan shohih).

Karenanya, Rasulullah SAW melarang umatnya untuk terlibat dalam perdebatan. “Saya adalah pemimpin rumah di bawah naungan surge, bagi orang yang meninggalkan debat sekalipun dalam posisi yang benar…” (HR Abu Dawud, dan dicantumkan dalam silsilah hadits shohih oleh Nashiruddin al Abani I/47).

Namun, tidak semua jadal bernilai negative. Jadal pernah disebutkan dalam al Quran sebagai salah satu media dakwah yang cukup efektif. Allah SWT berfirman, “Serulah (mereka) ke jalan Rabbmu dengan hikmah dan nasehat yang baik serta bantahlah(jadal) mereka dengan bantahan yang lebih baik.” (QS. An Nahl: 125). Dalam ayat lain, Allah berfirman, “Janganlah kalian membantah ahlul kitab kecuali dengan bantahan yang lebih baik…” (QS. Al Ankabut: 46).

Islam telah menggariskan sejumlah rambu yang dapat memelihara perdebatan agar tidak keluar dari jalur yang benar.

Pertama, dengan memelihara etika Islam dalam memberi nasehat. Beberapa etika Islam dalam hal ini, misalnya memberi nasehat harus dilakukan dengan rahasia dan tidak di depan orang banyak, menggunakan cara yang sesuai dan waktu yang tepat, harus didorongan dengan niat untuk membenarkan dan mengubah ke arah yang lebih baik, ikhlas karena Allah, menyandarkan semua kemampuan kepada kehendak Allah, dan sebagainya. Bila adab-adab ini dilanggar, maka pemberian nasehat justru berakibat pada timbulnya sikap bangga terhadap dosa atau kesalahan pada diri orang yang dinasehati. Orang tersebut bahkan berupaya untuk terus mengungkapkan bantahan dan perdebatan, agar bebas dari kesalahan, dan cenderung tidak mau menerima nasehat.

Kedua, melenyapkan ambisi selalu ingin menang dan tak mau kalah. Ambisi seperti ini akan menjadikan seseorang tidak mempan dengan segala kritik. Inilah diantara hikmah firman Allah, “Wahai orang-orang yang beriman, jadilah kamu orang yang benar-benar menegakkan keadilan, menjadi saksi karena Allah biarpun terhadap dirimu sendiri atau ibu bapak dan kaum kerabatmu. Jika ia kaya ataupun miskin, maka Allah lebih tahu kemaslahatannya. Maka janganlah kamu mengikuti hawa nafsu karena ingin menyimpang dari kebenaran.” (QS. An Nisa:135).

Ketiga, membentengi diri dengan al Quran dan sunah sebelum mendalami pengetahuan tentang teknik perdebatan. Ilmu tentnag teknik perdebatan dan diskusi, antara lain ilmu mantiq dan filsafat. Mendalami teknik perdebatan dan diskusi memang bisa mendorong seseorang terjerumus dalam perdebatan yang negative. Apalagi, bila hal itu dilakukan sebelum ia memiliki basic moral yang baik terhadap al Quran dan sunah. Itu sebabnya, sebagian ulama melarang mempelajari ilmu filsafat dan mantiq. Di antara mereka ada yang membolehkannya, yaitu Saifuddin al Amidi. Beliau mengemukakan alasan bahwa manusia memiliki potensi akal sebagai anugerah Allah. Potensi itu dapat digunakan sebagai neraca pertimbangan berbagai masalah, membedakan antara yang haq dan yang bathil, yang bermanfaat dan berbahaya.

Di antara ulama yang melarang adalah al Hafizh Abu Amr Ma’ruf Ibnu Sholah. Menurutnya pelarangan disebabkan ilmu-ilmu tersebut akhirnya akan mengantarkan seseorang pada sikap ragu dan bahkan boleh jadi sampai pada tingkat pengingkaran terhadap kebenaran yang sudah ada.

Selain mereka, ada pula diantara ulama yang bersikap mutawasshith (pertengahan). Seorang Muslim dibolehkan mempelajari ilmu filsafat dan matiq dengan catatan telah memiliki benteng al Quran dan sunah. Dan dilarang bagi mereka yang tidak memiliki kriteria tersebut. Pendapat seperti ini dikemukakan oleh Imam Nawawi rahimahullah.

Keempat, menghindari sikap ujub dan takabur. Karena sikap inilah yang menyebabkan orang terjerumus dalam debat kusir. Orang yang menderita ujub dan takabur, cenderung menempuh cara untuk menarik perhatian orang. Miraa’ atau jadal merupakan salah satu cara yang ditempuh. Cara inilah yang pernah dilakukan oleh iblis tatkala menolak perintah Allah SWT untuk bersujud kepada Nabi Adam as. Ketika Allah SWT berfirman, “Apa yang menghalangimu untuk sujud kepada yang Aku ciptakan, apakah engkau takabur atau merasa lebih tinggi?” (QS. Shaad: 75).

Saat itulah iblis menjawabnya dengan konteks kalimat yang menjurus kepada jadal atau perdebatan. Kata iblis, “Saya lebih baik daripada Adam. Engkau ciptakan aku dari api sedang Engkau ciptakan dia dari tanah.” (QS. Shaad: 76).

Inilah salah satu hikmah di balik firman Allah, “Sesungguhnya orang-orang yang memperdebatkan tentang ayat-ayat Allah tanpa alasan yang sampai kepada mereka, tidak ada dalam dada mereka melainkan hanyalah (keinginan akan) kebesaran yang mereka sekali-kali tiada akan mencapainya, maka mintalah perlindungan kepada Allah. Sesungguhnya Dia Maha Mendengar lagi Maha Melihat.” (QS Ghafiir: 56).

Kelima, mengisi hati dengan ma’rifatullah dan taqwa. Hati yang senyap dari ma’rifatullah dan taqwa adalah hati yang kosong dari kesadaran atau rasamuroqobatullah (pantauan Allah). Kondisi hati tersebut (hati yang kosong) akan menyebabkan masuknya ambisi dunia serta was-was setan yang selalu merongrong agar melakukan kejahatan. Dari sinilah, seseorang disibukkan dengan pekerjaan sia-sia, salah satu diantaranya adalah debat. Karenanya Allah SWT menyeru kepada hambanya agar memerangi kekosongan hati dengan melakukan variasi ibadah, sehingga hati tidak bosan atau jenuh dan mendorong seseorang terjerat dalam perdebatan yang sia-sia. Allah berfirman, “Maka apabila kamu telah selesai (dari suatu urusan), kerjakanlah dengan sungguh-sungguh (urusan) yang lain. Dan hanya kepada Tuhanmulah hendaknya kamu berharap.” (QS. Al Insyirah: 7-8).

Al Hafizh Ibnu Katsir memberi komentar terhadap dua ayat tersebut sesuai atsar para salah; “Bila engkau selesai mengerjakan kesibukan urusan dunia, dan engkau telah putuskan ikatan-ikatannya, maka sungguh-sungguh dan giatlah melakukan ibadah dengan pikiran yang kosong.” Seperti ungkapan mujahid rahimahullah dalam ayat ini: “Bila engkau selesai mengerjakan urusan dunia, maka berdirilah melakukan sholat dan bersungguh-sungguh kepada Tuhanmu.”

( mh )

Berjuanglah untuk Islam Walau Anda Pelaku Maksiat


Berjuanglah untuk Islam Walau Anda Pelaku Maksiat

 

Apa yang kau anggap atas dirimu sendiri? Begitu banyakkah dosa dan noda? Ketahuilah, setiap manusia –siapa pun dia- juga memiliki kesalahan, dan sebaik-baik manusia yang membuat kesalahan adalah yang mau bertaubat. Mari jadilah yang terbaik…

Saudaraku …

Apa yang menghalangimu membela agamamu? Apa yang merintangimu beramal demi kejayaan Islam dan kaum muslimin? Dosa, noda, dan maksiat itu? Ketahuilah, jika kau diam saja, tidak beramal karena merasa belum pantas berjuang, masih jauh dari sempurna, maka daftar noda dan maksiat itu semakin bertambah. Itulah tipu daya setan atas anak Adam, mereka menghalangi manusia dari berjuang dan hidup bersama para pejuang, dengan menciptakan keraguan di dalam hati manusia dengan menjadikan dosa-dosanya sebagai alasan.

Saudaraku …

Hilangkan keraguanmu, karena Rabbmu yang Maha Pengampun telah berfirman:

إِنَّ الْحَسَنَاتِ يُذْهِبْنَ السَّيِّئَاتِ

Sesungguhnya kebaikan-kebaikan akan menghapuskan keburukan-keburukan. (QS. Hud: 114)

Hilangkan pula kebimbanganmu, karena kekasih hati tercinta, Nabi-Nya yang mulia –Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam– telah bersabda:

وَأَتْبِعِ السَّيِّئَةَ الْحَسَنَةَ تَمْحُهَا

Ikutilah perbuatan burukmu dengan perbuatan baik, niscaya itu akan menghapuskannya. (HR. At Tirmidzi No. 1987, katanya: hasan shahih. Ahmad No. 21354, 21403, 21487, 21536, 21988, 22059, Ath Thabarani dalam Al Mu’jam Al Kabir No. 296, 297, 298, juga Al Mu’jam Ash Shaghir No. 530, Ad Darimi No. 2833, Al Hakim dalam Al Mustadrak No. 178, katanya: “Shahih, sesuai syarat Al Bukhari dan Muslim.” Disepakati oleh Imam Adz DZahabi dalam At Talkhish. Sementara Syaikh Syu’aib Al Arnauth dan Syaikh Al Albani menghasankannya dalam kitab mereka masing-masing)

Saudaraku …

Tidak usah berkecil hati dan jangan putus asa, sungguh agama mulia ini pernah dimenangkan oleh orang mulianya dan para fajir (pelaku dosa)nya. Semuanya mengambil bagian dalam gerbong caravan pejuang Islam. Imam Al Bukhari telah membuat Bab dalam kitab Shahihnya, Innallaha Yu’ayyidu Ad Diin bir Rajul Al Faajir (Sesungguhnya Allah akan menolong agama-Nya melalui seseorang yang fajir). Ya, kadang ada pelaku maksiat, seorang fajir, justru dia melakukan aksi-aksi nushrah (pertolongan) terhadap agamanya, dibanding laki-laki yang shalih. Semoga aksi-aksi nushrah tersebut bisa merubahnya dari perilaku buruknya, dan dia bisa mengambil pelajaran darinya sampai dia berubah menjadi orang shalih yang berjihad, bukan lagi orang fajir yang berjihad.

Saudaraku … Ada Abu Mihjan!!

Kukisahkan kepadamu tentang Abu Mihjan Radhiallahu ‘Anhu. Ditulis dengan tinta emas para ulama Islam, di antaranya Imam Adz Dzahabi dalam Siyar A’lamin Nubala pada Bab Sirah Umar Al Faruq. (2/448. Darul Hadits, Kairo), juga Usudul Ghabah-nya Imam Ibnul Atsir. (6/271. Darul Kutub Al ‘Ilmiyah)

Beliau adalah seorang laki-laki yang sangat sulit menahan diri dari khamr (minuman keras). Beliau sering dibawa kepada Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam untuk diterapkan hukum cambuk (Jild) padanya karena perbuatannya itu. Bahkan Ibnu Jarir menyebutkan Abu Mihjan tujuh kali dihukum cambuk. Tetapi, dia adalah seorang laki-laki yang sangat mencintai jihad, perindu syahid, dan hatinya gelisah jika tidak andil dalam aksi-aksi jihad para sahabat nabi Radhiallahu ‘Anhum.

Hingga datanglah perang Al Qadisiyah yang dipimpin oleh Sa’ad bin Abi Waqash Radhiallahu ‘Anhumelawan Persia, pada masa pemerintahan Khalifah Umar Radhiallahu ‘Anhu. Abu Mihjan ikut andil di dalamnya, dia tampil gagah berani bahkan termasuk yang paling bersemangat dan banyak membunuh musuh. Tetapi, saat itu dia dikalahkan keinginannya untuk meminum khamr, akhirnya dia pun meminumnya. Maka, Sa’ad bin Abi Waqash menghukumnya dengan memenjarakannya serta melarangnya untuk ikut jihad.

Di dalam penjara, dia sangat sedih karena tidak bisa bersama para mujahidin. Apalagi dari dalam penjara dia mendengar suara dentingan pedang dan teriakan serunya peperangan, hatinya teriris, ingin sekali dia membantu kaum muslimin melawan Persia yang Majusi. Hal ini diketahui oleh istri Sa’ad bin Abi Waqash yang bernama Salma, dia sangat iba melihat penderitaan Abu Mihjan, menderita karena tidak dapat ikut berjihad, menderita karena tidak bisa berbuat untuk agamanya! Maka, tanpa sepengetahuan Sa’ad -yang saat itu sedang sakit, dan dia memimpin pasukan melalui pembaringannya, serta mengatur strategi di atasnya- Beliau membebaskan Abu Mihjan untuk dapat bergabung dengan para mujahidin. Abu Mihjan meminta kepada Salma kudanya Sa’ad yaitu Balqa dan juga senjatanya. Beliau berjanji, jika masih hidup akan mengembalikan kuda dan senjata itu, dan kembali pula ke penjara. Sebaliknya jika wafat memang itulah yang dia cita-citakan.

Abu Mihjan berangkat ke medan tempur dengan wajah tertutup kain sehingga tidak seorang pun yang mengenalnya. Dia masuk turun ke medan jihad dengan gesit dan gagah berani. Sehingga Sa’ad memperhatikannya dari kamar tempatnya berbaring karena sakit dan dia takjub kepadanya, dan mengatakan: “Seandainya aku tidak tahu bahwa Abu Mihjan ada di penjara, maka aku katakan orang itu pastilah Abu Mihjan. Seandainya aku tidak tahu di mana pula si Balqa, maka aku katakan kuda itu adalah Balqa.”

Sa’ad bin Abi Waqash bertanya kepada istrinya, dan istrinya menceritakan apa yang terjadi sebenarnya pada Abu Mihjan, sehingga lahirlah rasa iba dari Sa’ad kepada Abu Mihjan.

Perang usai, dan kaum muslimin menang gilang gemilang. Abi Mihjan kembali ke penjara, dan dia sendiri yang memborgol kakinya, sebagaimana janjinya. Sa’ad bin Waqash Radhiallahu ‘Anhu mendatanginya dan membuka borgol tersebut, lalu berkata:

لا نجلدك على خمر أبدا فقال: وأنا والله لا أشربها أبدا

Kami tidak akan mencambukmu karena khamr selamanya. Abu Mihjan menjawab: “Dan Aku, Demi Allah, tidak akan lagi meminum khamr selamanya!”

Saudaraku ….

Sangat sulit bagi kita mengikuti dan menyamai Abu Bakar, Umar, Utsman, Ali dan para sahabat nabi yang mulia, Radhiallahu ‘Anhum. Tetapi, paling tidak kita masih bisa seperti Abu Mihjan, walau dia pelaku maksiat namun masih memiliki ghirah kepada perjuangan agamanya, dan ikut hadir dalam deretan nama-nama pahlawan Islam. Semoga Allah Ta’ala memasukkan kita ke dalam deretan para pejuang agama-Nya, mengikhlaskan, dan memberikan karunia syahadah kepada kita. Amin.

Wallahu A’lam.

Sumber: ustadzfarid.com

( Farid Nu’man Hasan )

MALAS BERDAKWAH


MALAS BERDAKWAH

بسم الله الرحمن الرحيم

اَلْكَسَلُ اَلدَّعَوِيُّ

Malas Berdakwah

الشيخ: مراد بن أحمد القدسي

Syekh Murad bin Ahmad al-Qudsi

السلام عليكم ورحمة الله

مِنَ الْمَعْلُوْمِ أَنَّ الدَّعْوَةَ إِلَى اللهِ تَعَالَى مِنْ أَعْظَمِ الْقُرُبَاتِ،

Telah diketahui bahwa berdakwah dalam arti mengajak manusia kepada Allah SWT termasuk amal ibadah yang sangat agung,

لِمَا ثَبَتَ فِيْ فَضْلِهَا مِنَ الْفَضَائِلِ وَالْأُجُوْرِ، وَلِمَا فِيْهَا مِنَ النَّفْعِ لِلْمُسْلِمِيْنَ، وَلِمَا فِيْهَا مِنْ تَقْلِيْلِ الشُّرُوْرِ وَالْفَسَادِ فِي الْأَرْضِ، وَلِمَا فِيْهَا مِنْ بَيَانِ فَسَادِ الْمُفْسِدِيْنَ وَتَبْيِيْنِ حَقَائِقِهِمْ لِلنَّاسِ، وَلِمَا فِيْهَا مِنْ تَعْلِيْمِ النَّاسِ أُمُوْرَ الدِّيْنِ، وَلِمَا فِيْهَا مِنْ إِقَامَةِ الْحُجَّةِ وَالْأَعْذَارِ إِلَى اللهِ.

Yang demikian ini karena:

  1. Banyak dalil yang menjelaskan tentang keutamaan dan pahala yang besar dalam berdakwah.
  2. Dakwah juga memberi banyak manfaat bagi kaum muslimin.
  3. Dakwah juga berfungsi meminimalisir keburukan dan kerusakan di muka bumi.
  4. Juga berfungsi untuk menjelaskan kerusakan pihak-pihak yang merusak dan menjelaskan berbagai fakta kepada manusia.
  5. Juga berguna untuk memberi pengajaran berbagai urusan agama kepada manusia.
  6. Dan tentunya, berdakwah merupakan satu bentuk penegakan hujjah dan alasan kepada Allah SWT.

وَفِيْ وَاقِعِنَا الْيَوْمَ نُشَاهِدُ ضَعْفًا وَتَوَانِيَ فِي الدَّعْوَةِ، وَعَدَمَ ابْتِكَارٍ فِيْ وَسَائِلِهَا، وَعَدَمَ مُمَارَسَةِ الدَّعْوَةِ بِشَكْلٍ دَائِمٍ وَمُسْتَمِرٍّ وَفَاعِلِيَّةٍ.

Sayangnya, menyaksikan kenyataan sekarang ini, kita menyaksikan adanya kelemahan dan sikap ogah-agahan dalam berdakwah, tiadanya kreatifitas, dan aktifitas dakwah yang terhenti dan atau tidak lagi efektif.

فَكَانَ الْحَدِيْثُ عَنْ هَذَا الْمَوْضُوْعِ “اَلْكَسَلِ اَلدَّعَوِيِّ” وَفِيْهِ مَبَاحِثُ:

مَفْهُوْمُهُ

مَظَاهِرُ الْكَسَلِ اَلدَّعَوِيِّ

أَسْبَابُهُ

آثَارُهُ

عِلَاجُهُ

Untuk inilah makalah ini hendak berbicara tentang kemalasan dalam berdakwah yang mencakup:

  1. Pengertian malas dalam berdakwah.
  2. Gejala dan tanda-tanda malas dalam berdakwah.
  3. Sebab-sebab malas dalam berdakwah.
  4. Dampak dan pengaruh malas dalam berdakwah.
  5. Terapi terhadap penyakit malas dalam berdakwah.
(1) مَفْهُوْمُهُ:

هُوَ ضَعْفُ الاِنْدِفَاعِ الذَّاتِيِّ وَالْجَمَاعِيِّ فِيْ مَجَالِ الْأَنْشِطَةِ الدَّعَوِيَّةِ الْمُخْتَلِفَةِ.

Pertama: Pengertian Malas dalam Berdakwah

Melemahnya motivasi baik bersifat personal maupun kolektif di berbagai bidang aktifitas dakwah.

(2) مَظَاهِرُ الْكَسَلِ الدَّعَوِيِّ:

Kedua: Gejala dan Tanda-Tanda Malas Berdakwah

– اَلتَّأَخُّرُ عَنْ أَدَاءِ الْمُهِمَّةِ الْمُنَاطَةِ بِنَا

  1. Terlambat dalam mengerjakan tugas dakwah yang diberikan kepadanya

– عَدَمُ الْحِرْصِ عَلَى الدَّعْوَةِ أَوِ النَّدَمُ عَلَى فَوَاتِهَا

  1. Hilangnya semangat berdakwah, atau tidak adanya penyesalan atas hilangnya peluang dakwah

– عَدَمُ الْجِدِّيَّةِ وْالْفَاعِلِيَّةِ فِي الْمَنَاشِطِ الدَّعَوِيَّةِ

  1. Tidak bersungguh-sungguh dan tidak aktif dalam berbagai aktifitas dakwah

– اِخْتِلَاقُ الْأَعْذَارِ فِيْ حَالِ الْمُحَاسَبَةِ

  1. Membuat-buat alasan saat dievaluasi

– اَلتَّفَاعُلُ مَعَ الْحَدِّ الْأَدْنَى مِنَ الْأَنْشِطَةِ اَلْمَطْلُوْبَةِ

  1. Berinteraksi dengan batas minimal terhadap aktifitas yang diminta

– إِهْمَالُ الْأَنْشِطَةِ إِلَّا عِنْدَ اللَّوْمِ

  1. Mengabaikan berbagai aktifitas kecuali saat dicela

– فِي الْأَنْشِطَةِ الَّتِيْ لَا يَعْرِفُهَا الدَّاعِيَةُ لَا يَحْرِصُ بِالسُّؤَالِ عَنْهَا

  1. Terkait berbagai kegiatan yang tidak dikenal, tidak ada semangat untuk sekedar menanyakannya

– عَدَمُ الْحِرْصِ فِي التَّغْيِيْرِ إِلَى الْأَفْضَلِ فِي الْأَنْشِطَةِ غَيْرِ الْمُثْمِرَةِ وَالاِكْتِفَاءِ بِالْقَدِيْمِ الْعَتِيْقِ

  1. Tidak ada semangat untuk melakukan perubahan kepada yang lebih baik, padahal aktifitas yang dilakukan terbukti tidak produktif, dan berpuas diri dengan yang lama yang tidak produktif itu

– تَثْبِيْطُ الْآخَرِيْنَ عَنِ التَّفَاعُلِ مَعَ الْأَنْشِطَةِ.

  1. Menggembosi yang lain agar mereka tidak interaktif terhadap berbagai aktifitas dakwah

(3) أَسْبَابُ الْكَسَلِ اَلدَّعَوِيِّ:

Ketiga: Sebab-Sebab Malas dalam Berdakwah

– اَلضَّعْفُ فِيْ مَعْرِفَةِ فَضَائِلِ الدَّعْوَةِ وَاسْتِشْعَارِ أَهَمِّيَّتِهَا

  1. Melemahnya pengetahuan terhadap keutamaan dan urgensi berdakwah

– غِيَابُ الْأَهْدَافِ الدَّعَوِيَّةِ أَوْ عَدَمُ الْوُضُوْحِ فِيْهَا

  1. Sirnanya tujuan-tujuan dakwah atau minimal ketidak jelasan tujuan-tujuan dakwah

– قِلَّةُ التَّكَالِيْفِ الْمُنَاطَةِ بِالدُّعَاةِ، فَيَجْعَلُهُ يَنْشَغِلُ بِالْمُبَاحَاتِ، مِمَّا يَجْعَلُهُ يَأْلَفُ هَذَا الْوَضْعَ، وَيُشْغِلُهُ عَنِ التَّحَرُّكِ فِيْ أُمُوْرِ الدَّعْوَةِ

  1. Minimnya tugas yang dibebankan kepada para aktifis dakwah, sehingga mereka tersibukkan oleh hal-hal mubah, lalu mereka menjadi terbiasa dengan keadaan ini, selanjutnya mereka lupa untuk bergerak dalam berbagai urusan dakwah

– حُدُوْثُ بَعْضِ النَّتَائِجِ السَّلْبِيَّةِ بَعْدَ أَدَاءِ الْأَعْمَالِ الدَّعَوِيَّةِ تُسَبِّبُ لِلْبَعْضِ إِحْبَاطًا أَوْ عُزُوْفًا عَنِ الْعَمَلِ

  1. Terjadinya hasil-hasil negative dari kerja-kerja dakwah, sehingga menyebabkan sebagian aktifis putus asa, atau ogah-ogahan untuk bekerja lagi

– قِلَّةُ الْمُشَارَكَةِ مِنَ الْكَثِيْرِ مِنَ الدُّعَاةِ، مِمَّا يُشْعِرُ النَّاشِطَ مِنْهُمْ بِثِقَلِ التَّكَالِيْفِ الَّتِيْ يَتَحَمَّلُهَا وَحْدَهُ، مِمَّا يَحْدُوْ بِهِ كَرَدِّ فِعْلٍ لِعَدَمِ التَّفَاعُلِ مِثْلَهُ وَمِثْلَ الْآخَرِيْنَ

  1. Sedikitnya partisipasi aktifis dakwah lainnya, sehingga yang masih aktif merasa keberatan beban, dan sebagai reaksinya, iapun mengikuti yang lain.

– تَعَجُّلُ قَطْفِ الثِّمَارِ يَجْعَلُ الْكَثِيْرَ – وَكَرَدَّةِ فِعْلٍ – يُفَضِّلُوْنَ الاِبْتِعَادَ عَنِ الْمُشَارَكَةِ وَالْعَمَلِ الْجَادِّ

  1. Terburu-buru untuk memetik hasil kerja dakwah, dan sebagai reaksinya, banyak yang memilih untuk menjauh dari partisipasi dakwah dan kerja-kerja serius

– ضَعْفُ الْجَانِبِ الْإِيْمَانِيِّ وَالْقَنَاعَاتِ فِي الدَّعْوَةِ، وَجَعْلُهَا كَأَنَّهَا وَظِيْفَةٌ تُؤَدَّى وَيَتَقَاضَى عَلَيْهَا مُكَافَأَةً أَوْ رَاتِبًا

  1. Melemahnya sisi keimanan dan qana’ah da’awiyah, serta menjadikan dakwah seakan-akan profesi yang menghasilkan uang

– اَلاِنْشِغَالُ بِالدُّنْيَا وَالْإِغْرَاقُ فِيْهَا عَلَى حِسَابِ الدَّعْوَةِ

  1. Tersibukkan oleh urusan dunia dan tenggelam di dalamnya dengan mengabaikan dakwah

– اَلْمَلَلُ مِنَ الرُّوْتِيْنِ اَلْمُتَكَرِّرِ وَعَدَمِ التَّجْدِيْدِ فِي الْمَنَاشِطِ، وَالنَّفْسُ بِطَبْعِهَا تُحِبُّ التَّجْدِيْدَ

  1. Bosan terhadap rutinitas dan tiadanya pembaharuan dalam berbagai aktifitas dakwah, padahal, jiwa manusia menyukai hal-hal baru

– اَلتَّأَثُّرُ بِالْكُسَالَى وَالْمُثَبِّطِيْنَ فِي الدَّعْوَةِ إِلَى اللهِ تَعَالَى

  1. Terpengaruh oleh meraka yang malas dan oleh pihak-pihak yang menggembosi dalam berdakwah

– تَسَنُّمُ الْبَعْضِ قَافِلَةَ الدَّعْوَةِ قَبْلَ النُّضُوْجِ وَتَكْوِيْنِ الْقُدُرَاتِ الْكَافِيَةِ فِي النَّفْسِ لِتَحَمُّلِ أَعْبَاءِ الدَّعْوَةِ

  1. Ada yang “naik pangkat” dalam kafilah dakwah sebelum matang dan sebelum terbentuk berbagai kemampuannya untuk memikul berbagai beban dakwah

– اَلاِخْتِلَافُ وَالتَّفَرُّقُ وَكَثْرَةُ وِجْهَاتِ النَّظَرِ، مِمَّا قَدْ يُسَبِّبُ الاِبْتِعَادَ عَنِ الْعَمَلِ خَوْفًا مِنَ الزَّلَلِ، وَخَوْفًا مِنَ التَّصْنِيْفِ أَوِ الاِتِّهَامِ

  1. Adanya perbedaan, perpecahan dan berbagai sudut pandang, hal yang menyebabkan seorang aktifis dakwah menjauhi kerja dakwah karena takut salah, takut di-tashnif (dikelompokkan) atau takut terkena tuduhan

مِنَ الْأَسْبَابِ مِنْ قَادَةِ الدَّعْوَةِ

Sebab Malas Berdakwah Akibat dari Pimpinan

– ضَعْفُ الْمُتَابَعَةِ مِنْ قِبَلِ الْمَسْئُوْلِيْنَ، مِمَّا يَجْعَلُ الْأَفْرَادَ يَشْعُرُوْنَ بِعَدَمِ أَهَمِّيَّتِهِمْ أَوْ عَدَمِ تَنَبُّهِهِمْ عَلَى الْقُصُوْرِ أَوَّلًا بِأَوَّلٍ

  1. Lemahnya mutabaah para pimpinan, hal yang menjadikan setiap aktifis merasa dirinya tidak penting, atau tidak menyadari adanya kelemahan

– عَدَمُ التَّقْدِيْرِ وَالتَّشْجِيْعِ يَجْعَلُ الْبَعْضَ يَشْعُرُ بِأَنَّهُ سَوَاءٌ عَمِلَ أَوْ لَمْ يَعْمَلْ، فَالْأَمْرُ سِيَانِ

  1. Tidak adanya penghargaan dan motivasi, hal yang menyebabkan sebagian aktifis dakwah merasa bahwa antara dia bekerja dan tidak bekerja sama saja

– اَلتَّصَرُّفُ الْخَاطِئُ فِيْ إِعْدَادِ الْمَنَاشِطِ وَأَسَالِيْبِ تَفْعِيْلِهَا مِنْ قِبَلِ الْقَادَةِ، مِمَّا يَجْعَلُ الدُّعَاةَ لَا يَنْظُرُوْنَ إِلَى قُدْوَةٍ أَمَامَهُمْ يَقْتَدُوْنَ بِهِ.

  1. Adanya perilaku yang salah dari pimpinan dalam mempersiapkan berbagai aktifitas dan cara-cara efektifitasnya, hal yang menjadikan para aktifis dakwah tidak melihat adanya sosok teladan di hadapan mereka

(4) آثَارُ الْكَسَلِ الدَّعَوِيِّ:

Keempat: Dampak dan Pengaruh Malas Berdakwah

– اَلتَّأَخُّرُ فِيْ إِنْجَازِ الْمُهِمَّاتِ الدَّعَوِيَّةِ، مِمَّا يَحْتَاجُ إِلَى جُهْدٍ أَكْبَرَ وَفِيْ وَقْتٍ أَطْوَلَ

  1. Keterlambatan dalam menyelesaikan berbagai tugas dakwah, sehingga memerlukan tambahan tenaga yang lebih besar dan waktu yang lebih lama

– اِخْتِلَاقُ الْأَعْذَارِ عِنْدَ الْمُحَاسَبَةِ مِمَّا يُؤَنِّبُ ضَمِيْرَ الدَّاعِيَةِ مُسْتَقْبَلًا

  1. Membuat-buat alasan saat dievaluasi, hal yang membuat nurani seorang aktifis dakwah terasa tergores di masa depan

– تَوَقُّفُ الدَّعْوَةِ عِنْدَ حَدٍّ مُعَيَّنٍ مِنَ الْوَسَائِلِ وَعَدَمُ ابْتِكَارِ وَسَائِلَ جَدِيْدَةٍ بِسَبَبِ أَنَّ الْوَسَائِلَ الْقَدِيْمَةَ لَمْ تُنَفَّذْ بَعْدُ

  1. Dakwah hanya terpaku pada sarana tertentu dan tidak ada inovasi memunculkan sarana dakwah baru, dengan alasan, sarana yang lama saja belum terlaksana

– سَعَةُ الْهُوَّةِ بَيْنَ الدُّعَاةِ وَبَيْنَ الْجِهَةِ الْمَسْئُوْلَةِ عَنْهُمْ بِسَبَبِ الْمُتَابَعَةِ وَالتَّقْوِيْمِ، مِمَّا يَفْتَحُ الْمَجَالَ لِلتَّرَاشُقِ بِالْكَلِمَاتِ اللَّامَسْئُوْلَةِ

  1. Adanya gap yang terlalu jauh antara aktifis dakwah dengan pimpinanya dikarenakan faktor mutabaah dan evaluasi, hal yang membuka celah untuk saling menyerang dengan tanpa tanggung jawab

– تَأَخُّرُ تَحْقِيْقِ النَّتَائِجِ الْمَرْجُوَّةِ مِنَ الدَّعْوَةِ إِلَى اللهِ تَعَالَى

  1. Terlambatnya perealisasian hasil yang diharapkan dari aktifitas berdakwah

– تَسَلُّطُ أَعْدَاءِ الدَّعْوَةِ عَلَى الدَّعْوَةِ وَالدُّعَاةِ، فَمَنْ لَا يُهَاجِمُ لَا بُدَّ أَنْ يُهَاجَمُ.

  1. Hegemoni musuh-musuh dakwah terhadap dakwah dan para aktifitsnya, sebab “siapa yang tidak menyerang pasti diserang”.

(5) عِلَاجُ الْكَسَلِ الدَّعَوِيِّ:

Kelima: Terapi terhadap Kemalasan Berdakwah

1 – مِمَّا يَجْعَلُ الدَّاعِيَةَ يَتَفَاعَلُ مَعَ دَعْوَتِهِ: مَعْرِفَةُ مَا لَهُ مِنْ أَجْرٍ إِذَا قَامَ بِهَا، أَوِ التَّعَرُّفُ عَلَى أَهَمِّيَّةِ الدَّعْوَةِ.

وَأُجُوْرُ الدَّعْوَةِ تَكْمُنُ فِي الْآتِيْ:

  • Diantara hal-hal yang menjadikan seorang da’i aktif dalam berdakwah adalah mengetahui pahala yang akan didapatnya, atau mengetahui urgensi berdakwah.

Pahala-pahala berdakwah dapat dijelaskan sebagai berikut:

– أَنَّهَا مِنْ هَدْيِ الرَّسُوْلِ – صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – وَأَتْبَاعِهِ، قَالَ تَعَالَى: {قُلْ هَذِهِ سَبِيلِي أَدْعُو إِلَى اللَّهِ عَلَى بَصِيرَةٍ أَنَا وَمَنِ اتَّبَعَنِي} [يوسف: 108]

  • Bahwasanya dakwah itu adalah jalan hidayah para rasul dan para pengikutnya. Allah SWT berfirman: Katakanlah (wahai Muhammad): inilah jalanku, aku dan orang-orang yang mengikutiku mengajak (kamu) kepada Allah dengan yakin (QS. Yusuf: 108).

– أَنَّ فَاعِلَهَا مِنْ أَحْسَنِ النَّاسِ قَوْلًا، قَالَ تَعَالَى: {وَمَنْ أَحْسَنُ قَوْلاً مِّمَّن دَعَا إِلَى اللَّهِ وَعَمِلَ صَالِحاً وَقَالَ إِنَّنِي مِنَ المُسْلِمِينَ} [فصلت:33].

  • Bahwasanya pelaku dakwah adalah orang yang paling baik perkataannya. Allah SWT berfirman: Dan siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah dan mengerjakan kebajikandan berkata: Sungguh aku termasuk orang-orang muslim (yang berserah diri) (QS. Fushshilat: 33).

– رَوَى التِّرْمِذِيُّ مِنْ حَدِيْثِ أَبِيْ أُمَامَةَ: »إِنَّ اللهَ وَمَلَائِكَتَهُ وَأَهْلَ السَّمَوَاتِ وَالْأَرْضِ، حَتَّى النَّمْلَةَ فِيْ جُحْرِهَا، وَحَتَّى الْحُوْتَ، لَيُصَلُّوْنَ عَلَى مُعَلِّمِ النَّاسِ الْخَيْرَ«. وَتَسَاءَلَ أَهْلُ الْعِلْمِ عَنْ سَبَبِ دُعَاءِ هَؤُلَاءِ وَمِنْهُمُ النَّمْلَةُ وَالْحُوْتُ؟ فَأَجَابُوْا: قَالَ ابْنُ قُدَامَةَ: “أَنَّ نَفْعَ الْعِلْمِ يَعُمُّ كُلَّ شَيْءٍ حَتَّى الْحُوْتَ، فَإِنَّ الْعُلَمَاءَ عُرِفُوْا بِالْعِلْمِ وَمَا يَحِلُّ وَيَحْرُمُ، وَأَوْصُوْا بِالْإِحْسَانِ إِلَى كُلِّ شَيْءٍ حَتَّى إِلَى الْمَذْبُوْحِ وَالْحُوْتِ، فَأَلْهَمَ اللهُ تَعَالَى اْلكُلَّ اَلاِسْتِغْفَارَ لَهُمْ؛ جَزَاءً لِحُسْنِ صَنِيْعِهِمْ”.

At-Tirmidzi meriwayatkan dari hadits Abu Umamah (RA): Sesungguhnya Allah SWT, para malaikat, dan seluruh penghuni langit dan bumi, termasuk semut di dalam lubangnya, dan termasuk ikan di lautan, sungguh mereka mengucapkan shalawat kepada orang yang mengajatkan kebaikan kepada manusia.

Para ulama bertanya tentang sebab yang melatar belakangi do’a mereka, termasuk do’a semut dan ikan di lautan?

Ibnu Qudamah berkata: bahwasanya manfaat ilmu itu meliputi apa saja, termasuk ikan di lautan, sebab para ulama dikenal sebagai orang yang berilmu yang mengetahui apa yang halal dan apa yang haram. Merekalah yang selalu berpesan agar berbuat baik kepada segala sesuatu, termasuk kepada binatang yang disembelih dan kepada ikan, oleh karena itu, Allah SWT mengilhamkan kepada semuanya agar mereka beristighfar untuk para ulama’, sebagai balasan atas perbuatan mereka yang sangat baik.

رَوَى مُسْلِمٌ مِنْ حَدِيْثِ أَبِيْ هُرَيْرَةَ – رَضِيَ اللهُ عَنْهُ – : »مَنْ دَعَا إِلَى الْهُدَى كَانَ لَهُ مِنَ الْأَجْرِ مِثْلُ أُجُوْرِ مَنْ تَبِعَهُ«. رَوَى الْبُخَارِيْ مِنْ حَدِيْثِ سَهْلٍ: قَالَ الرَّسُوْلُ – صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – لِعَلِيٍّ: »لَأَنْ يَهْدِيَ اللهُ بِكَ رَجُلًا وَاحِدًا خَيْرٌ لَكَ مِنْ حُمْرِ النَّعَمِ«.

Imam Muslim meriwayatkan dari Abu Hurairah (RA): Siapa yang mengajak kepada jalan hidayah, maka untuknya pahala seperti yang didapat oleh orang-orang yang mengikutinya.

Imam Bukhari meriwayatkan dari hadits Sahl, Rasulullah SAW bersabda kepada Ali bin Abi Thalib (RA): Sungguh, Allah SWT memberikan hidayah kepada satu orang disebabkan olehmu, itu lebih baik bagimu daripada unta merah.

وَأَمَّا أَهَمِّيَّةُ الدَّعْوَةِ فَتَكْمُنُ فِي الْآتِيْ:

Adapun urgensi berdakwah, dapat dijelaskan sebagai berikut:

أ- أَنَّ فِيْهَا تَثْبِيْتَ الدَّاعِيَةِ عَلَى الصِّرَاطِ الْمُسْتَقِيْمِ وَمَا يُحَصِّلُهُ مِنْ أُجُوْرٍ عَظِيْمَةٍ مِنَ الدَّعْوَةِ.

  • Bahwa berdakwah itu memberikan tatsbit (keteguhan) kepada sang da’i untuk tetap berada di atas jalan yang lurus disamping pahala besar yang didapatkannya.

ب- لِأَنَّهَا الطَّرِيْقُ الْأَمْثَلُ فِي الْأَمْرِ بِالْمَعْرُوْفِ وَالنَّهْيِ عَنِ الْمُنْكَرِ

  • Bahwa dakwah merupakan cara paling ideal dalam penegakan amar ma’ruf nahi munkar.

جـ- وَلِأَنَّهَا أَعْظَمُ طَرِيْقٍ لِبَيَانِ مُخَطَّطَاتِ الْأَعْدَاءِ دَاخِلِيًّا وَخَارِجِيًّا حَوْلَ الْإِسْلَامِ وَالْمُسْلِمِيْنَ

  • bahwa berdakwah itu merupakan cara paling agung untuk menjelaskan konspirasi musuh-musuh Islam dan kaum muslimin, baik musuh dari dalam maupun dari luar

د- وَلِأَنَّ فِيْهَا بَيَانَ الشَّرِيْعَةِ لِلنَّاسِ وَأَحْكَامِهَا، وَرَفْعَ الْجَهْلِ عَنْهُمْ، وَرُجُوْعَ النَّاسِ إِلَى الدِّيْنِ وَالْعَمَلِ بِهِ

  • Bahwa dengan berdakwah seorang da’i dapat menjelaskan tentang syari’at Islam dan ajaran-ajarannya, menghapus kebodohan, mengembalikan manusia kepada agama dan pengamalannya.

هـ- وَلِأَنَّهَا مِنَ الطُّرُقِ فِيْ إِقَامَةِ حُجَّةِ اللهِ عَلَى عِبَادِهِ وَالْإِعْذَارِ إِلَيْهِ سُبْحَانَهُ

  • Berdakwah merupakan cara menegakkan hujjah Allah SWT kepada para hamba-Nya, dan merupakan bentuk pembelaan di hadapan Allah SWT

و- وَلِأَنَّهَا مِنْ وَسَائِلِ نُصْرَةِ الْمُسْلِمِيْنَ عَلَى أَعْدَائِهِمْ وَتَلَاحُمِ الصَّفِّ بَيْنَهُمْ.

  • Bahwa berdakwah merupakan satu sarana untuk menolong kaum muslimin dari para musuhnya, juga merupakan satu cara untuk merapatkan barisan kaum muslimin

2 – مِمَّا يُعِيْنُ عَلَى النَّشَاطِ الدَّعَوِيِّ وُضُوْحُ الْهَدَفِ مِنْهَا، وَتَنْقَسِمُ إِلَى قِسْمَيْنِ:

  1. Diantara membantu seorang da’i untuk aktif dalam berdakwah adalah adanya tujuan yang jelas.

Ada dua bentuk tujuan:

أ- اَلْهَدَفُ الْعَامُّ: تَحْقِيْقُ رِضَا اللهِ تَعَالَى، وَهَذَا مِنْ شَأْنِهِ أَنْ يَجْعَلَ الدَّاعِيَةَ لَا يَهْدَأُ أَبَدًا حَتَّى يَتِمَّ هَذَا الْأَمْرُ أَوْ تَحْقِيْقُ الْعُبُوْدِيَّةِ للهِ تَعَالَى

  • Tujuan umum, yaitu mewujudkan ridha Allah SWT, atau mewujudkan penghambaan kepada-Nya.

Tujuan ini, jika sungguh-sungguh dilaksanakan, akan membuat seorang aktifis dakwah tidak akan pernah diam sebelum terwujudnya tujuan ini.

ب- اَلْهَدَفُ الْخَاصُّ “اَلْجُزْئِيُّ”: وَهُوَ الْهَدَفُ الْقَرِيْبُ مِنْ كُلِّ عَمَلٍ دَعَوِيٍّ مَهْمَا كَبُرَ أَوْ صَغُرَ، وَبَذْلُ الْجُهْدِ الْكَافِيِّ لِتَحْقِيْقِ الْوُصُوْلِ إِلَيْهِ

  • Tujuan khusus atau juz’iy, yaitu tujuan jangka pendek dari setiap kerja dakwah, betapapun besar atau kecilnya ia.

Tujuan ini menuntut seorang aktifis dakwah untuk mengerahkan jerih payah yang memadai demi upaya pencapaian dan perwujudannya.

3 – وَضْعُ الْبَرَامِجِ اَلْمُتَنَوِّعَةِ لِلدُّعَاةِ مِنْ قِبَلِ قِيَادَاتِ الدَّعْوَةِ، وَالْمُنَاقَشَةُ الْمُسْتَفِيْضَةِ حَوْلَ جَوَانِبِ الْخَلَلِ وَالْقُصُوْرِ فِيْهَا، وَمُوَاكَبَةُ الْعَصْرِ وَإِعْطَاءُ جَوَانِبَ إِبْدَاعِيَّةٍ مُتَجَدِّدَةٍ حَتَّى لَا نَقَعَ فِيْ قِلَّةِ التَّكَالِيْفِ، وَالَّتِيْ تَدْعُوْ إِلَى الرُّكُوْنِ وَالدَّعَةِ

  1. Perlunya qiyadah menyiapkan berbagai macam program untuk para aktifis dakwah, melakukan berbagai diskusi yang luas dan mendalam untuk melihat berbagai celah dan kelemahan, dan untuk mengikuti berbagai perkembangan zaman, memunculkan berbagai kreasi dan inovasi yang selalu terupdate, agar para aktifis dakwah tidak kekurangan tugas, kekurangan yang dapat membuat mereka bersantai.

4 – لَا تَنْتَظِرِ النَّتَائِجِ: قَالَ تَعَالَى: {وَمَا عَلَيْكَ أَلاَّ يَزَّكَّى} [عبس: 7]، وَقَالَ تَعَالَى: {وَمَا عَلَى الرَّسُولِ إِلاَّ البَلاغُ المُبِينُ} [النور: 54]، وَعَلَيْنَا بَذْلُ كُلِّ الْأَسْبَابِ اَلْمُؤَدِّيَةِ إِلَى الثِّمَارِ الْمَرْجُوَّةِ، فَإِنْ حَصَلَتْ فَلْنَحْمَدِ اللهَ، وَإِنْ تَأَخَّرَتْ أَوْ تَخَلَّفَتْ فَالْأَسْبَابُ يَعْلَمُهَا اللهُ، وَلَسْنَا مُحَاسَبِيْنَ عَلَى ذَلِكَ، وَلَا لَوْمَ عَلَيْنَا

  1. Jangan menunggu hasil. Allah SWT berfirman: Padahal tidak ada (cela) atasmu kalau dia tidak menyucikan diri (beriman) (QS. Abasa: 7). Juga berfirman: Kewajiban Rasul hanyalah menyampaikan (amanat Allah) dengan jelas (QS. An-Nur: 54).

Untuk itu, para aktifis dakwah berkewajiban untuk mengupayakan berbagai sebab yang dapat mengantarkan kepada hasil yang diharapkan. Jika berhasil, Alhamdulillah, dan jika ada kelambatan, atau meleset, maka, sebab dan rahasianya ada di sisi Allah SWT, dan para aktifis dakwah itu tidaklah dihisab atas hal itu dan tidak dicela.

5- فَتْحُ مَجَالَاتِ النَّصِيْحَةِ بَيْنَ الْعَامِلِيْنَ فِيْ حَقْلِ الدَّعْوَةِ لِتَنْشِيْطِ الْكُسَالَى، وَإِعَانَةِ الْعَامِلِيْنَ، وَعَدَمِ الاِرْتِكَازِ عَلَى شَخْصِيَّاتٍ مُعَيَّنَةٍ، فَإِنَّ هَذَا يَتَنَافَى مَعَ التَّجْدِيْدِ فِيْ قِيَادَاتِ الدَّعْوَةِ

  1. Membuka ruang nasihat untuk sesama aktifis dakwah demi menggiatkan kembali mereka yang terkena penyakit malas, menolong dan membantu yang masih aktif serta tidak bertumpu kepada figure-figur tertentu, sebab, figuritas itu bertolak belakang dengan kemestian pembaharuan dalam kepemimpinan dakwah

6- اَلتَّوْبَةُ وَالاِسْتِغْفَارُ مِمَّا يُعِيْنُ الْمَرْءَ عَلَى تَحَمُّلِ مَشَاقِّ الدَّعْوَةِ وَمُمَارَسَةِ الدَّعْوَةِ بِاسْتِمْرَارٍ، فَإِنَّ هَذَا مِمَّا يُقَوِّي الْإِيْمَانَ وَيَزِيْدُهُ؛ لِهَذَا اِعْتَبَرَ عُلَمَاءُ الْإِسْلَامِ أَنَّ الدَّعْوَةَ مِنَ الْقُرُبَاتِ الَّتِيْ تُقَدَّمُ عَلَى الْعِبَادَاتِ الْقَاصِرَةِ كَنَوَافِلِ الصَّلَاةِ، مِمَّا يَدُلُّ عَلَى أَنَّهَا أَهَمُّ مِنْهَا، وَأَنَّهَا مِمَّا تَزِيْدُ الْإِيْمَانَ، ثُمَّ عَلَى الدَّاعِيَةِ أَنْ يَنْظُرَ لِجَوَانِبِ الْقُصُوْرِ عِنْدَهُ مِمَّا يُضْعِفُ إِيْمَانَهُ، فَيَهْتَمُّ بِإِصْلَاحِهِ حَتَّى لَا يَعُوْدَ عَلَى دَعْوَتِهِ بِالْكَسَلِ وَالتَّوَانِيْ

  1. Taubat dan istighfar sangat membantu seorang da’i untuk memikul beban dan kesulitan dakwah dan membuatnya kontinyu dalam menjalani aktifitas dakwah. Sebab keduanya memperkokoh keimanan dan menambahnya. Oleh karena inilah, para ulama Islam memandang bahwa berdakwah merupakan satu bentuk ibadah yang lebih didahulukan daripada ibadah-ibadah personal semisal shalat sunnat. Pandangan mereka ini menandakan bahwa berdakwah lebih penting daripada ibadah personal, dan bahwasanya berdakwah itu menambah keimanan. Lalu, seorang aktifis dakwah hendaklah memandang sisi-sisi kekurangan yang membuat keimanannya melemah, lalu memberi perhatian untuk memperbaikinya, agar tidak memberi dampak negative kepada dakwahnya yang berupa malas dan ogah-ogahan.

7- اَلتَّوَازُنُ بَيْنَ مَطَالِبِ الدَّاعِيَةِ الشَّخْصِيَّةِ وَدَعْوَتِهِ، فَلَا يَخْلِطُ بَيْنَ الْأَمْرَيْنِ، وَيَجْعَلُ لِكُلٍّ وَقْتَهَ الْمُنَاسِبَ، وَعَلَيْهِ أَنْ لَا يَتَطَلَّعَ إِلَى مَا لَدَى أَهْلِ الدُّنْيَا مِنْ تَرَفٍ وَسَعَةٍ فِي الرِّزْقِ. قَالَ تَعَالَى: {وَلاَ تَمُدَّنَّ عَيْنَيْكَ إِلَى مَا مَتَّعْنَا بِهِ أَزْوَاجاً مِّنْهُمْ زَهْرَةَ الحَيَاةِ الدُّنْيَا لِنَفْتِنَهُمْ فِيهِ وَرِزْقُ رَبِّكَ خَيْرٌ وَأَبْقَى} [طه: 131]. رَوَى الْبُخَارِيُّ وَمُسْلِمٌ مِنْ حَدِيْثِ أَبِيْ هُرَيْرَةَ – رَضِيَ اللهُ عَنْهُ – : »اُنْظُرُوْا إِلَى مَنْ هُوَ أَسْفَلُ مِنْكُمْ، وَلَا تَنْظُرُوْا إِلَى مَنْ هُوَ فَوْقَكُمْ، فَهُوَ أَجْدَرُ أَلَّا تَزْدِرُوْا نِعْمَةَ اللهِ عَلَيْكُمْ«.

  1. Tawazun antara kebutuhan pribadi dan tuntutan dakwah, tidak mencampur adukkan urusan keduanya, dan menetapkan waktu yang tepat untuk masing-masing urusan. Untuk itu, janganlah seorang aktifis dakwah mengincar dunia dengan segala gemerlapnya yang dimiliki oleh ahli dunia. Allah SWT berfirman: Dan janganlah engkau tujukan pandangan matamu kepada kenikmatan yang telah Kami berikan kepada beberapa golongan dari mereka, (sebagai) bunga kehidupan dunia, agar Kami uji mereka dengan (kesenangan) itu. Karunia Tuhanmu lebih baik dan lebih kekal (QS. Thaha: 131).

Imam Bukhari dan Muslim meriwayatkan dari hadits Abi Hurairah (RA): lihatlah kepada orang yang lebih rendah daripada kamu, dan jangan melihat yang lebih tinggi dari kamu, sebab, yang demikian ini lebih layak untuk tidak memandang remeh nikmat Allah SWT yang diberikan kepadamu.

8- فِي الْقِيَادَاتِ وَفِيْ أَقْسَامِهَا لَا بُدَّ مِنْ إِيْجَادِ جِهَةٍ، عَمَلُهَا مُتَابَعَةُ مَنَاشِطِ الدَّعْوَةِ وَإِيْجَادِ مَيَادِيْنَ أُخْرَى لِلاِنْطِلَاقِ بِهَا، وَعَدَمِ الاِكْتِفَاءِ بِالْمَنَاشِطِ الْحَالِيَةِ، حَتَّى نَفْتَحَ مَجَالَاتٍ رَحْبَةً لِكَسْبِ الْمَدْعُوِّيْنَ، وَلِإِبْعَادِ النُّفُوْسِ عَنِ الْمَلَلِ وَالسَّآمَةِ

  1. Pada jajaran qiyadah dan bidang-bidang yang ada, perlu ada satu bagian yang kerjanya melakukan:
  • Mutabaah terhadap berbagai aktifitas dakwah.
  • Memunculkan kegiatan-kegiatan dan inovasi baru, serta tidak mengkungkung diri dengan kegiatan-kegiatan yang selama ini sudah ada, demi terbukanya lahan baru nan luas untuk merekrut mad’u-mad’u baru, dan untuk menghindari munculnya kejenuhan dan kebosanan.

9- لَا بُدَّ مِنْ إِيْجَادِ مَحَاضِنَ عَلْمِيَّةٍ لِتَكْوِيْنِ أَعْدَادٍ كَافِيَةٍ وَمُؤَهَّلَةٍ لِلدَّعْوَةِ، وَلَا يُوْضَعُ أَيُّ دَاعِيَةٍ إِلَّا بَعْدَ مَعْرِفَةِ كَفَاءَتِهِ وَقُدْرَتِهِ عَلَى تَحَمُّلِ الْمَسْئُوْلِيَّةِ

  1. Mesti ada mahadhin (lembaga-lembaga, atau wadah-wadah) ilmiah untuk membentuk sejumlah aktifis dakwah yang memenuhi sisi kuantitas dan kualitas yang sesuai dengan tantangan dan peluang dakwah ke depan, dan jangan sampai terjadi penempatan seorang aktifis dakwah pada suatu pos kecuali setelah diketahui kafaah dan kemampuannya dalam memikul beban tanggung jawab dakwah.

10- عَلَيْنَا تَفَهُّمَ أَوْجُهِ الاِخْتِلَافِ، وَمَا الَّذِيْ يَسُوْغُ مِنْهُ وَمَا الَّذِيْ لَا يَسُوْغُ، وَالتَّعَامُلِ مَعَهُ بِحَسَبِ النُّصُوْصِ الشَّرْعِيَّةِ، وَلَا نَجْعَلِ الاِخْتِلَافَ وَسِيْلَةً مِنْ وَسَائِلِ التَّثْبِيْطِ وَالْكَسَلِ فِي الدَّعْوَةِ؛ لِأَنَّهُ طَارِئٌ، وَالدَّعْوَةُ أَصْلٌ وَفَرِيْضَةٌ

  1. Kita perlu memahami berbagai sisi perbedaan, memahami mana perbedaan yang dibenarkan dan mana yang tidak dibenarkan, lalu berinteraksi dengan berbagai perbedaan itu sesuai dengan nash-nash syar’iy, dan janganlah kita menjadikan perbedaan itu sebagai sebab yang mengakibatkan terjadinya penggembosan dan kemalasan dalam berdakwah, sebab perbedaan itu bukanlah masalah pokok dan ia hanyalah hal yang bersifat temporary, sedangkan berdakwah itulah yang bersifat pokok dan merupakan kewajiban agama.

11- وَيَنْبَغِيْ أَنْ نَتَنَاصَحَ فِيْمَا بَيْنَنَا وَبَيْنَ قَادَةِ الدَّعْوَةِ، وَذَلِكَ:

  1. Perlu ada keadaan saling menasehati antara aktifis dakwah dan para qiyadah dakwah,yang demikian ini demi:

– بِإِحْيَاءِ رُوْحِ الْمُتَابَعَةِ وَإِصْلَاحِ جَوَانِبِ الْقُصُوْرِ أَوَّلًا بِأَوَّلِ

  • Menghidupkan spirit mutabaah dan memperbaiki sisi-sisi kelemahan secara dini

– بِضَرُوْرَةِ رَفْعِ الْمَعْنَوِيَّاتِ لِلدُّعَاةِ الْفَاعِلِيْنَ وَمُحَاسَبَةِ الْمُقَصِّرِيْنَ، وَذَلِكَ بِإِحْيَاءِ مَبْدَأِ الثَّوَابِ وَالْعِقَابِ

  • Memenuhi tuntutan kemestian adanya upaya peningkatan ma’nawiyah aktifis dakwah yang aktif dan mengevaluasi mereka yang lemah, dan demi menghidupan prinsip reward and punishment.

– وَبِالنَّظَرِ إِلَى أَنْفُسِهِمْ وَجَعْلِهَا فِيْ مَحَلِّ الاِقْتِدَاءِ لِلدُّعَاةِ، فِي النَّشَاطِ وَالْجِدِّيَّةِ وَالتَّنَوُّعِ فِيْ وَسَائِلِ الدَّعْوَةِ

  • Membangun kesadaran para qiyadah untuk menjadikan dirinya sebagai objek yang diteladani oleh para aktifis dakwah dalam hal semangat, kesungguhan dan kemampuan membuat diversifikasi (keragaman) dalam berbagai sarana dakwah.

– بِإِحْيَاءِ الْجَوِّ التَّنَافُسِيِّ فِيْ حَقْلِ الدَّعْوَةِ، وَإِبْرَازِ الْأَعْمَالِ النَّاجِحَةِ وَالْمُثْمِرَةِ، حَتَّى يَلْتَفِتَ إِلَيْهَا الدُّعَاةُ

  • Menghidupankan nuansa kompetisi positif di lapangan dakwah dan menonjolkan kerja-kerja sukses nan produktif, supaya menjadi titik perhatian para aktifis dakwah.

– إِحْيَاءُ رُوْحِ الْإِخْلَاصِ لله تَعَالَى وَاسْتِشْعَارُهُ بِشَكْلٍ دَائِمٍ يَقْضِيْ عَلَى كَثِيْرٍ مِنَ الْأَمْرَاضِ، وَمِنْهَا الْكَسَلُ، فَذَلِكَ الْمُخْلِصُ لَا يَحْرِصُ عَلَى ثَنَاءِ النَّاسِ عَلَى جُهُوْدِهِ، كَمَا أَنَّ الْإِسَاءَةَ إِلَيْهِ لَا تُثَبِّطُ هِمَّتَهُ فِي الْعَمَلِ وَالنَّشَاطِ، كَمَا أَنَّهُ إِذَا فَرَّطَ الآخَرُوْنَ تَرَاهُ بَاقِيًا عَلَى جُهُوْدِهِ وَبِهِمَّةٍ عَالِيَةٍ؛ لِأَنَّهُ لَا يَرْجُو الْأَجْرَ إِلَّا مِنَ اللهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى.

  • Menghidupkan jiwa ikhlash karena Allah SWT dan bahwasanya mencita rasakan ikhlas secara terus menerus dapat mengikis habis banyak penyakit dakwah, yang diantaranya adalah malas dalam berdakwah. Sebab, seseorang yang ikhlas, ia tidaklah berambisi untuk mendapatkan pujian manusia atas jerih payahnya, sebagaimana sikap dan tindakan buruk yang menimpanya tidaklah akan menggembosi semangatnya dalam kerja dan menjalani berbagai aktifitas. Ikhlas juga yang menjadikan seorang aktifis dakwah tetap mengerahkan seluruh potensinya dengan semangat tinggi meskipun yang lainnya sudah tampak olehnya sebagai orang-orang yang melemah. Yang demikian ini karena ia tidak mengharap upah dan imbalan apapun kecuali dari Allah SWT.

 

Waktu Merupakan Bagian Terpenting dari Komponen Dakwah


Waktu Merupakan Bagian Terpenting dari Komponen Dakwah

Oleh: Abu Maryam

Para da’i banyak yang merasa kecewa ketika tengah berdakwah, dikarenakan mereka telah merasa optimal memberikan penyampaian, namun tetap saja tidak mendapatkan respon yang positif dari mad’u. Perasaan kecewa ini muncul karena ketidakcermatan da’i dalam memperhatikan satu komponen penting dalam berdakwah, yaitu terkait proses kontemplasi yang dilakukan mad’u, dan itu membutuhkan waktu yang cukup.

Beberapa hal penting yang harus diperhatikan dalam hal ini, adalah:

Pertama, sadari kita beda ‘dunia.’ Kita harus menyadari bahwa ‘dunia’ tempat berinteraksinya kita dengan mad’u terkadang berbeda, tepatnya tidak berada dalam lingkaran hidup yang Islami. Namun telah bercampur-baur dan terpengaruhi oleh nilai-nilai duniawi, umumnya mereka tumbuh di tengah efek dari materialistis, masyarakat yang ‘sakit’ atau bahkan atheis. Dan karakter seperti ini sudah menyebar banyak di tengah masyarakat, dan para da’i akhirnya berinteraksi dengan sosok yang cara berfikirnya serta kepribadiannya bertolak-belakang dengan mad’u-nya. Sehingga ketidak pahaman kerap menjadi penghalang dalam interaksi seorang da’i dengan obyek dakwahnya.

Karena itu butuh waktu yang panjang untuk mendakwahi mad’u yang seperti ini. Melakukan pendekatan, beradaptasi dengan dunia mereka, sehingga seakan tak ada lagi pembatas dan mad’u pun siap menerima dengan baik perkataan sang da’i.

Kedua, tak ada perkataan yang sia-sia. setiap kata yang terucap dari seorang da’i pada hakekatnya tidaklah pernah sia-sia, melainkan akan terus terngiang dalam fikiran mad’u. Apa yang ia dengar itu sedikit banyak akan merubahnya menjadi pribadi yang lebih baik. Apa yang ditaushiyahkan oleh seorang da’i kepada mad’u-nya saat ini, akan menjadi investasi amal bagi dirinya di beberapa tahun kedepan. Seperti yang sering kita temukan, ketika berjumpa dan memberi pesan kebaikan kepada seseorang, ia terkadang mengatakan, “sepertinya saya pernah mendengar taushiyah seperti yang Anda sampaikan tadi.”

Ketiga, cerdas memilih waktu. Memilih waktu yang tepat dalam berdakwah merupakan hal yang sangat penting. Karena setiap orang memiliki waktu privasi, dan dalam kondisi seperti itu ia tidak ingin diganggu, dan tidak siap menerima arahan.

Maka dari itu, berdakwah sangat dipengaruhi dengan kondisi kedua belah pihak, baik da’i mau pun mad’u-nya, keduanya harus berada dalam kondisi yang siap, siap memberi dan menerima. Terutama bagi sang da’i, hendaknya memilih waktu yang tepat, sehingga mad’unya tidak merasa terbebani dan dapat menerima pesan kebaikan itu dengan hati lapang.

Keempat, tidak bertele-tele. Seorang da’i hendaknya tidak ‘berlama-lama’ dalam berbicara dihadapan mad’u, karena hal itu akan membuatnya jenuh dan bosan. Namun sebaliknya, dengan menyampaikan pembicaraan yang singkat padat dan berbobot, tentunya akan membuat para mad’u ketagihan, dan semangat untuk mengikutinya karena ingin mendapatkan yang lebih banyak lagi.

Kelima, jangan tergesa-gesa. Terburu-buru dalam mendakwahi mad’u tentunya tidak akan memberikan hasil yang maksimal. Karena hal itu justru akan menghadirkan sebuah masalah, bisa jadi mad’u itu menolak, atau menerima tapi tanpa pemahaman. Kedua hal ini seyogyanya diwanti-wanti sebelum terjadi.

Efek dari ketergesa-gesaan dalam berdakwah ini diantaranya adalah mad’u yang menjadi terburu-buru dalam mengambil keputusan, akibatnya ia menolak ajakan sang da’i. Waktu yang singkat memposisikannya tidak secara utuh memahami dakwah itu disampaikan kepada dirinya. Dampak buruknya, ia tidak akan berhubungan lagi dengan dakwah, dan bukan perkara mudah untuk merubah keputusan seseorang. Hal ini terjadi dikarenakan da’i terlalu terburu-buru dalam berdakwah, ibarat memetik buah tapi belum pada waktunya.

Sedangkan bagi mad’u yang terburu-terburu dalam merespon ajakan dakwah, kedepannya mad’u akan terkaget-kaget karena dihadapkan dengan adanya taklif dan kewajiban yang belum pernah ia perkirakan sebelumnya. Sehingga ia merasa ada perang batin dalam jiwanya. Dan bisa berimbas hal negatif terhadap kepribadiannya, berbohong atau bahkan nifak. Seandainya dihadapnnya terdapat peluang untuk kembali memilih, bisa jadi mad’u tersebut tidak memilih untuk bergabung dalam dakwah.

Oleh karena itu, yang selayaknya dilakukan seorang da’i adalah tidak memaksa mad’u-nya terburu-buru dalam mengeluarkan keputusan, namun meminta kepada mad’u untuk berpikir secara perlahan sehingga keputusan yang diambil berdasarkan kemantapan yang lahir dari dalam dirinya. Wallahu al Musta’an

Disarikan dari kitab “Qawaidu ad-da’wah ila Allah” karya Dr. Hamam Abdurrahim Sa’id, cetakan Dârul wafâ’, Manshurah, Mesir.

Tahun Baru Hijriyah Dan Revitalisasi Semangat Kebangkitan Umat


Tahun Baru Hijriyah Dan Revitalisasi Semangat Kebangkitan Umat

 
Sejarah penetapan awal penanggalan dalam kalender Islam dilatari oleh sebuah momentum sejarah yang sangat monumental. Pertimbangan atas keputusan penetapan awal penanggalan Islam adalah sebuah pilihan yang diwarnai oleh semangat kebangkitan, jauh dari sikap pengkultusan terhadap sosok figure seseorang. Maimun bin Mahran ra meriwayatkan, pada suatu hari khalifah Umar bin khattab ra. mendapat sebuah surat penting dari sahabat yang di dalamnya hanya tercantum bulan sya’ban. Sehingga beliau menanyakan : “bulan Sya’ban yang mana yang dimaksud ?” saat itu tak ada satupun yang bisa menjelaskan.

Beberapa kali pula Umar bin Khotthob mendapati surat-surat pemerintahan maupun diplomatik yang tidak terdapat angka tahunnya. Beliaupun menginisiasi untuk menetapkan awal penanggalan Islam. Kemudian dikumpulkanlah para sahabat untuk membicarakan hal tersebut dan lahirlah keputusan untuk memulai perhitungan awal tahun yakni ketika terjadinya peristiwa Hijrah dari Mekah ke Yatsrib (Madinah) berdasarkan saran yang disampaikan oleh sayyidina Ali RA. Begitulah latar historis yang melandasi penetepan awal perhitungan tahun 1 Hijriyah. Bukan dilatari oleh alasan kelahiran Nabi atau wafatnya Nabi. Menyadari keagungan sejarah “hijrah” ini maka tidak khilaf apabila umat Islam menetapkan tahun barunya dengan merujuk pada sejarah hijriyah. Hal ini memiliki arti bahwa lembaran baru Islam tidak dibuka dengan keagungan seorang tokoh semisal dengan memperingati kelahiran Nabi. Akan tetapi, Islam mengawali setiap lembaran barunya dengan semangat kelahiran peradaban baru Islam di Madinah.

Perlu dipahami bahwa hijrah Rasulullah dan para sahabat ke Madinah pada waktu itu sama sekali bukan karena keinginan untuk sengaja meninggalkan tanah airnya, akan tetapi karena perintah dari Allah SWT sebagai bagian dari strategi dakwah dan sebagai upaya yang sungguh-sungguh untuk melaksanakan ajaran-Nya. Setelah hijrah terbentuklah masyarakat Madinah yang penuh dengan kedamaian, ketenangan, persamaan, kesejahteraan, keadilan, dan penghormatan terhadap hak asasi manusia. Firman Allah SWT dalam Alquran, “Sesungguhnya orang-orang yang beriman, orang-orang yang berhijrah, dan berjuang di jalan Allah, merekalah (orang-orang yang) mengharapkan rahmat Allah, dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS Al Baqarah [2]: 218)

Hijrah makani atau perintah untuk melakukan hijrah dalam arti berpindah secara fisik demi untuk menyelamatkan masa depan Islam yang sedang terancam sudah tidak ada lagi setelah pembebasan kota suci Mekkah 14 abad yang silam. Tetapi hijrah dalam pengertian maknawi, seperti hijrah dari kehiduan yang jahili menuju kehidupan yang madani, hijrah dari sifat malas dan putus asa kepada ketekunan berusaha, hijrah dari perilaku curang dan korup kepada perilaku adil dan jujur, hijrah dari kemaksiatan kepada ketakwaan, serta hijrah dari perangkap kemiskinan yang mendekatkan kepada kekufuran menuju kehidupan yang layak dan bermartabat, tetap relevan sepanjang masa. Berbagai peristiwa dan kondisi memprihatinkan yang bagai benang kusut terjadi dalam kehidupan bangsa kita pada saat ini, hanya dapat diatasi dengan mengimplementasikan ajaran dan nilai-nilai hijrah.

Selain itu pula, perintah Rasulullah untuk mendirikan mesjid Nabawi sesaat ketika beliau tiba di Madinah dapat dimaknai sebagai sebuah pesan bahwa saatnya untuk menggalakkan ibadah serta amal atau kerja jama’I yang akan menggerakkan pembangunan tatanan baru masyarakat muslim di Madinah. Tatanan masyarakat baru dan diklaim oleh para pakar sejarah sebagai tatanan masyarakat paling modern di zamannya. Kemudian pula, tindakan Rasulullah yang telah mempersatukan kaum Anshar dan Muhajirin dalam satu ikatan persaudaraan yang begitu Indah dapat dimaknai sebagai sebuah pesan bahwa persatuan ummat Islam menjadi modal penting dalam rangka perjuangan memenangkan agama Allah di muka bumi. Bila hati ummat Islam tercerai berai tanpa ikatan, maka sebanyak apapun jumlahnya untuk memenangkan risalah Agama ini di muka bumi menjadi perkara yang mustahil. Ummat Islam bukannya saling menguatkan satu sama lain tetapi justeru sebaliknya saling menjatuhkan, sebagaimana peristiwa yang menimpa saudara-saudara kita di Mesir, Syria, Palestina, Afghanistan dan Irak. Olehnya, yang harus melandasi persaudaraan di antara ummat Islam yaitu cinta karena Allah, bukan karena alasan fisik belaka apalagi karena di dorong oleh alasan harta dan kekuasaan.

Sebagai kesimpulan, kita perlu menyadari sepenuhnya bahwa untuk mengembalikan izzatul Islam wal muslimin maka kita wajib merevitalisasi formula kebangkitan yang telah dipraktekkan oleh Rasulullah dalam momentum hijrah tersebut. Ibadah harus melandasi setiap amal dan kerja jama’ah kita dan keabadian persaudaraan ummat Islam hanya dapat dibangun di atas cinta karena Allah. Formulasi cinta, kerja, dan harmonisasi yang terbangun ditengah ummat niscaya akan kembali mengantarkan ummat Islam ke jalan kebangkitan yang dicita-citakannya. Wallahul musta’aan.

Pesan hijrah bernilai abadi karena setiap Muslim dituntut untuk mengupayakan kehidupan diri dan masyarakat di sekitarnya menjadi lebih baik dalam pergantian hari dan tahun.

Oleh karena itu, menyambut pergantian tahun Hijriyah perlu disertai dengan kesadaran yang kuat untuk melakukan upaya-upaya konkret dalam membangun kualitas umat dalam berbagai bidang, termasuk upaya menanggulangi kemiskinan. Esensi hijrah adalah perubahan perilaku ke arah yang lebih baik dan positif, menyingkirkan segala keburukan dan kerusakan serta menghadirkan kemaslahatan dalam kehidupan umat dan bangsa.

Menurut cerita dari Maimun bin mahran ra, pada suaru ari khalifah Umar bin khattab ra. Mendapat sebuah surat penting dari sahabat yang di dalamnya hanya tercantum bulan sya’ban. Sehingga beliau menanyakan : “bulan Sya’ban yang mana yang dimaksud ?” saat itu tak ada satupun yang bisa menjelaskan. Atas dasar hal itulah khalifah Umar bin Khattab ra. Mengumpulkan sejumlah tokoh untuk merumuskannya.

Khalifah Umar ra menetapkan tahun Hijriyah pada tanggal 8 Rabiul Awal tahun ke-17 Hijriyah (638). Adapun penetapan bulan Maharam sebagai awal tahun Hijriyah, karena pada bula itulah Rasulullah saw bertekad untuk hijrah ke Yatsrib (Madinah).sebelumnya, yaitu pada musim haji wada (621-622 M)

Disampaikan pada Risalah Maghrib RRI Gorontali Edisi 3 November 2013/1 Muharam 1435 H

Nanang Masaudi

Menjaga Anak dan Pemuda dari Paham Liberal dan Pluralisme


Menjaga Anak dan Pemuda dari Paham Liberal dan Pluralisme

Orang Tua, Engkau Mempunyai Tugas yang Berat

Tugas terbesar dan terberat orang tua bukanlah menjadikan anaknya semata-mata memiliki banyak harta dan berkedudukan tinggi, tetapi tugas terbesar orang tua adalah menjadikan anak tersebut dekat dengan Allah dan memiliki akidah yang baik dan benar.

Jika ada anak-anak dan pemuda yang memiliki akidah tidak benar, seperti mengarah kepada pemikiran liberal atau pluralisme, sebaiknya jangan menyalahkan mereka secara total, apalagi di-bully habis-habisan. Mereka adalah anak-anak dan pemuda yang sedang mencari jati diri dan lebih banyak butuh bimbingan daripada celaan atau cacian.

Bisa jadi ini adalah kesalahan dan kelalaian kita bersama terhadap pendidikan akidah dasar pada anak-anak dan remaja. Sebagai orang tua bahkan kita sendiripun kadang lalai mempelajari dan mendakwahkan cara beragama yang benar kepada mereka. Jangan sampai buku-buku dan bacaan akidah tersimpan rapi di rumah tetapi sangat jarang bahkan tidak pernah disentuh.

Orang Tua, Jangan Hanya Fokus Pada Pendidikan Dunia Saja

Bisa jadi sebagian orang tua hanya fokus pada pendidikan dunia semata, sedangkan pendidikan agama benar-benar lalai. Bahkan demi mengejar pendidikan dunia tersebut, orang tua sampai mendatangkan guru les matematika atau fisika ke rumah, akan tetapi guru ngaji dan guru agama tidak diperhatikan sama sekali.

Orang Tua, Sadarilah Bahaya Pemikiran Liberal dan Pluralisme pada Anak

Paham liberal dan pluralisme secara sederhana adalah suatu pemikiran yang bebas dalam menafsirkan agama. Mereka beranggapan bahwa semua agama itu sama dan tidak ada kebenaran mutlak pada satu agama. Paham ini tidak hanya menimpa orang dewasa saja, tetapi saat ini mulai memasuki pikiran anak-anak. Padahal  sangat jelas, ajaran Islam menolak dan bertentangan dengan paham ini. dalil-dalilnya sudah sangat jelas dan mudah didapatkan  di dalam ajaran dasar-dasar Islam. Ini bukti bahwa kita benar-benar mulai lalai akan pendidikan akidah dan agama bagi anak-anak dan para pemuda.

Orang Tua, Lebih Awaslah Terhadap Perilaku Anak di Sosial Media

Terlebih di zaman modern sekarang ini, berkembangnya internet dan sosial media akan semakin memudahkan anak dalam  mendapatkan akses berbagai informasi. Orang tua benar-benar harus memperhatikan akidah anak-anak dan para pemuda. Inilah yang dicontohkan oleh nabi Ya’qub, beliau benar-benar memastikan akidah dan agama anak-anak beliau.

Allah berfirman mengenai kisah nabi Ya’qub,

ﺃَﻡْ ﻛُﻨْﺘُﻢْ ﺷُﻬَﺪَﺍﺀَ ﺇِﺫْ ﺣَﻀَﺮَ ﻳَﻌْﻘُﻮﺏَ ﺍﻟْﻤَﻮْﺕُ ﺇِﺫْ ﻗَﺎﻝَ ﻟِﺒَﻨِﻴﻪِ ﻣَﺎ ﺗَﻌْﺒُﺪُﻭﻥَ ﻣِﻦْ ﺑَﻌْﺪِﻱ ﻗَﺎﻟُﻮﺍ ﻧَﻌْﺒُﺪُ ﺇِﻟَٰﻬَﻚَ ﻭَﺇِﻟَٰﻪَ ﺁﺑَﺎﺋِﻚَ ﺇِﺑْﺮَﺍﻫِﻴﻢَ ﻭَﺇِﺳْﻤَﺎﻋِﻴﻞَ ﻭَﺇِﺳْﺤَﺎﻕَ ﺇِﻟَٰﻬًﺎ ﻭَﺍﺣِﺪًﺍ ﻭَﻧَﺤْﻦُ ﻟَﻪُ ﻣُﺴْﻠِﻤُﻮﻥَ

“Adakah kamu hadir ketika Ya’kub kedatangan (tanda-tanda) maut, ketika ia berkata kepada anak-anaknya: ”Apa yang kamu sembah sepeninggalku?” Mereka menjawab:”Kami akan menyembah Sesembahanmu dan Sesembahan nenek moyangmu; Ibrahim, Isma’il, dan Ishak, (yaitu) Sesembahan satu-satu-Nya yang Maha Esa dan kami hanya tunduk kepada-Nya”. (Al-Baqarah/2:133)

Dalam Tafsir Al-Baghawi dijelaskan bahwa nabi Ya’qub benar-benar ingin memastikan anak dan cucunya memiliki akidah yang baik. Beliau mengumpulkan semua anak dan cucunya menjelang kematiannya untuk memastikan hal ini. Al-Baghawi berkata,

ﻓﺠﻤﻊ ﻭﻟﺪﻩ ﻭﻭﻟﺪ ﻭﻟﺪﻩ ، ﻭﻗﺎﻝ ﻟﻬﻢ ﻗﺪ ﺣﻀﺮ ﺃﺟﻠﻲ ﻓﻤﺎ ﺗﻌﺒﺪﻭﻥ ﻣﻦ ﺑﻌﺪﻱ

“Nabi Ya’qub pun mengumpulkan anak  dan cucunya, kemudian bertanya kepada mereka tatkala akan datang ajalnya, apa yang akan mereka sembah setelah kematiannya.” (Lihat Tafsir Al-Baghawi)

Orang Tua, Contohlah Orang-Orang Shalih Terdahulu Dalam Mendidik Anaknya

Demikian juga orang-orang shalih sebelum kita, semisal Luqman yang menasehati anak-anaknya agar menjaga akidah dan agama mereka, jangan sekali-kali menyekutukan Allah atau berbuat syirik. Luqman berkata kepada anak-anaknya

ﻭَﺇِﺫْ ﻗَﺎﻝَ ﻟُﻘْﻤَﺎﻥُ ﻟِﺎﺑْﻨِﻪِ ﻭَﻫُﻮَ ﻳَﻌِﻈُﻪُ ﻳَﺎ ﺑُﻨَﻲَّ ﻟَﺎ ﺗُﺸْﺮِﻙْ ﺑِﺎﻟﻠَّﻪِ ۖ ﺇِﻥَّ ﺍﻟﺸِّﺮْﻙَ ﻟَﻈُﻠْﻢٌ ﻋَﻈِﻴﻢٌ

“Dan (ingatlah) ketika Luqman berkata kepada anaknya, di waktu ia memberi pelajaran kepadanya : “Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah, sesungguhnya mempersekutukan Allah adalah benar-benar kezaliman yang besar.” (Luqman: 13)

Orang Tua, Jangan Takut Menolak Paham Liberal dan Pluralisme

Untuk menolak dan membantah paham liberal dan plutalisme cukup mudah dan jelas, karena ada dalam pelajaran agama yang sangat mendasar. Jika sampai anak-anak dan pemuda kita tidak paham, berarti kita memang benar-benar lalai akan hal ini.

Misalnya untuk membantah paham mereka bahwa semua agama itu sama dan kebenaran pada satu agama itu tidaklah mutlak yang mereka kampanyekan dengan bertopeng toleransi, bijaksana dan merangkul/menyenangkan semua pihak. Sangat jelas bahwa dalam ajaran Islam, agama yang diridhai adalah Islam saja, sedangkan agama selain Islam tidak benar.

Yaitu firman Allah,

ﻭَﻣَﻦْ ﻳَﺒْﺘَﻎِ ﻏَﻴْﺮَ ﺍﻟْﺈِﺳْﻠَﺎﻡِ ﺩِﻳﻨًﺎ ﻓَﻠَﻦْ ﻳُﻘْﺒَﻞَ ﻣِﻨْﻪُ ﻭَﻫُﻮَ ﻓِﻲ ﺍﻟْﺂﺧِﺮَﺓِ ﻣِﻦَ ﺍﻟْﺨَﺎﺳِﺮِﻳﻦَ

“Barangsiapa mencari agama selain agama Islam, maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu) daripadanya, dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang rugi.” (QS. Ali Imran: 85)

Orang Tua, Tanamkan Sejak Dini Bahwa Hanya Islam Agama yang Benar

Hanya Islam agama yang benar, sehingga untuk menyenangkan dan merangkul agama lain bukan dengan membuat pernyataan semua agama sama baiknya dan sama-sama benar, akan tetapi dengan menjelaskan bahwa Islam adalah agama yang adil dan indah, tidak memaksakan ajaran kepada orang lain serta larangan keras menzalimi agama lain tanpa uzur syariat. Oleh karena itu, sebagai bentuk kasih sayang kepada manusia, Islam mengajak agar manusia memeluk Islam.

Contohnya adalah perintah Allah agar adil meskipun kepada orang non-muslim sekalipun

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

لَا يَنْهَاكُمُ اللَّهُ عَنِ الَّذِينَ لَمْ يُقَاتِلُوكُمْ فِي الدِّينِ وَلَمْ يُخْرِجُوكُم مِّن دِيَارِكُمْ أَن تَبَرُّوهُمْ وَتُقْسِطُوا إِلَيْهِمْ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُقْسِطِينَ.

“Allah tidak melarang kamu untuk berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tiada memerangimu karena agama dan tidak (pula) mengusir kamu dari negerimu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berlaku adil.” (Al-Mumtahanah: 8)

Syaikh Abdurrahman bin Nashir  As-Sa’diy  rahimahullah menafsirkan,

لا ينهاكم الله عن البر والصلة، والمكافأة بالمعروف، والقسط للمشركين، من أقاربكم وغيرهم، حيث كانوا بحال لم ينتصبوا لقتالكم في الدين والإخراج من دياركم، فليس عليكم جناح أن تصلوهم، فإن صلتهم في هذه الحالة، لا محذور فيها ولا مفسدة

“Allah tidak melarang kalian untuk berbuat baik, menyambung silaturahmi, membalas kebaikan, berbuat adil kepada orang-orang musyrik, baik dari keluarga kalian dan orang lain. Selama mereka tidak memerangi kalian karena agama dan selama mereka tidak mengusir kalian dari negeri kalian, maka tidak mengapa kalian menjalin hubungan dengan mereka, karena menjalin hubungan dengan mereka dalam keadaan seperti ini tidak ada larangan dan tidak ada kerusakan.” [Taisir Karimir Rahmah hal. 819, Dar Ibnu Hazm]

Demikian juga dasar-dasar Islam lainnya. Satu-satunya kebenaran adalah dari nabi Muhammad shallallahualaihiwasallam dan Al-Qur’an yang diwahyukan kepadanya.

Nabi shallallahualaihiwasallam bersabda,

ﻭَﺍﻟَّﺬِﻱْ ﻧَﻔْﺲُ ﻣُﺤَﻤَّﺪٍ ﺑِﻴَﺪِﻩِ ﻻَ ﻳِﺴْﻤَﻊُ ﺑِﻲْ ﺃَﺣَﺪٌ ﻣِﻦْ ﻫَﺬِﻩِ ﺍﻷُﻣَّﺔِ ﻳَﻬُﻮْﺩِﻱٌّ ﻭَﻻَ ﻧَﺼْﺮَﺍﻧِﻲٌّ ﺛُﻢَّ َﻳﻤُﻮْﺕُ ﻭَﻟَﻢْ ﻳُﺆْﻣِﻦْ ﺑِﺎﻟَّﺬِﻱْ ﺃُﺭْﺳِﻠْﺖُ ﺑِﻪِ ﺇِﻻَّ ﻛَﺎﻥَ ﻣِﻦْ ﺃَﺻْﺤَﺎﺏِ ﺍﻟﻨَّﺎﺭِ

“Demi Dzat yang jiwaku di tangan-Nya, tidak seorangpun dari umat manusia yang mendengarku; Yahudi maupun Nasrani, kemudian mati dan tidak beriman dengan ajaran yang aku bawa melainkan dia adalah penghuni neraka.” (HR Muslim)

Mari kita giatkan  kembali dakwah serta pelajaran akidah kepada anak-anak dan pemuda kita. Semoga Allah menjaga mereka dan kaum muslimin dari akidah dan pemahaman yang rusak seperti pemahaman liberal dan pluralisme.

Yogyakarta tercinta, dalam keheningan jaga malam

Penyusun: dr. Raehanul Bahraen
Artikel Muslim.or.id