Tag Archive | Kisah

Seni Memperhati


Seni Memperhatikan

 


Kalau intinya cinta adalah memberi, maka pemberian pertama seorang pencinta sejati adalah perhatian. Kalau kamu mencintai seseorang, kamu harus memberi perhatian penuh kepada orang itu. Perhatian yang lahir dari lubuk hati paling dalam, dari keinginan yang tulus untuk memberikan apa saja yang diperlukan orang yang kamu cintai untuk menjadi lebih baik dan berbahagia karenanya.

Perhatian adalah pemberian jiwa: semacam penampakan emosi yang kuat dari keinginan baik kepada orang yang kita cintai. Tidak semua orang memiliki kesiapan mental untuk memperhatikan. Tidak juga semua orang yang memiliki kesiapan mental memiliki kemampuan untuk terus memperhatikan.

Memperhatikan adalah kondisi di mana kamu keluar dari dalam dirimu menuju orang lain yang ada di luar dirimu. Hati dan pikiranmu sepenuhnya tertuju kepada orang yang kamu cintai. Itu tidak sesederhana yang kita bayangkan. Mereka yang bisa keluar dari dalam dirinya adalah orang-orang yang sudah terbebas secara psikologis. Yaitu bebas dari kebutuhan untuk diperhatikan. Mereka independen secara emosional: kenyamanan psikologis tidak bersumber dari perhatian orang lain terhadap dirinya. Dan itulah musykilnya. Sebab sebagian orang besar lebih banyak terkungkung dalam dirinya sendiri. Mereka tidak bebas secara mental. Mereka lebih suka diperhatikan daripada memperhatikan. Itu sebabnya mereka selalu gagal mencintai.

Itulah kekuatan para pencinta sejati: bahwa mereka adalah pemerhati yang serius. Mereka memperhatikan orang-orang yang mereka cintai secara intens dan menyeluruh. Mereka berusaha secara terus-menerus untuk memahami latar belakang kehidupan sang kekasih, menyelidiki seluk beluk persoalan hatinya, mencoba menemukan karakter jiwanya, mendefinisikan harapan-harapan dan mimpi-mimpinya, dan mengetahui kebutuhan-kebutuhannya untuk sampai kepada harapan-harapannya.

Para pemerhati yang serius biasanya lebih suka mendengar daripada didengarkan. Mereka memiliki kesabaran yang cukup untuk mendengar dalam waktu yang lama. Kesabaran itulah yang membuat orang betah dan nyaman menumpahkan isi hatinya kepada mereka. Tapi kesabaran itu pula yang memberi mereka peluang untuk menyerap lebih banyak informasi tentang sang kekasih yang mereka cintai.

Tapi di sini juga disimpan sesuatu yang teramat agung dari rahasia cinta. Rahasia tentang pesona jiwa para pencinta. Kalau kamu terbiasa memperhatikan kekasih hatimu, secara perlahan-lahan dan tanpa ia sadari ia akan tergantung dengan perhatianmu. Secara psikologis ia akan sangat menikmati saat-saat diperhatikan itu. Bila suatu saat perhatian itu hilang, ia akan merasakan kehilangan yang sangat. Perhatian itu niscaya akan menyiksa jiwanya dengan rindu saat kamu tidak berada di sisinya. Mungkin ia tidak mengatakannya. Tapi ia pasti merasakannya. ~ Anis Matta ~

Meraih Barakah Keluarga


Oleh Mohammad Fauzil Adhim

Bukan harta yang menyebabkan duka atau bahagia, tetapi jiwa kita. Bukan sempat yang menyebabkan kita mampu menjalin hubungan yang lebih erat dengan istri atau suami kita, tetapi selarasnya kondisi ruhiyah kita. Sebab sebagaimana diisyaratkan oleh Rasulullah shallaLlahu ‘alaihi wa sallam, ruh itu seperti pasukan. Mereka akan mudah bersatu dan cenderung mendekat dengan yang serupa. Sebaliknya akan mudah berselisih, meski senyum masih mengembang di wajah mereka. Hati gelisah, jiwa resah, ketenangan tak lagi kita rasakan dan pelahan-pelahan kita mulai mengalami kehampaan jiwa. Ketika itu terjadi, banyak hal tak terduga yang bisa muncul. Kita bisa mencari “jalan keluar” yang justru semakin menjauhkan satu sama lain, meski masih tinggal serumah, masih sama-sama aktif di kegiatan dakwah yang sama.

Maka ada yang perlu kita perhatikan. Bukan hanya bagaimana cara berkomunikasi efektif antara suami-isteri; bukan pula semata soal bagaimana kita memberi perintah yang menggugah kepada anak-anak kita. Lebih dari itu, ada yang perlu kita periksa, adakah ruh kita saling bersesuaian satu sama lain ataukah justru sebaliknya saling berseberangan. Boleh jadi kita bertekun-tekun dan saling melakukan kegiatan yang sama-sama penuh kebaikan, tetapi niat yang mengantarkan dan mengiringi berbeda, maka yang kita dapatkan pun akan berbeda. Sesungguhnya tia-tiap kita akan memperoleh sesuatu niat yang menggerakkan kita melakukan sesuatu.

Sama kegiatan yang kita lakukan, beda niat yang senantiasa menyertai, akan membawa kondisi ruhiyah kita pada keadaan yang berbeda. Itu sebabnya, meski sama-sama bertekun dengan kebaikan yang sama, keduanya dapat menuju tataran ruhiyah yang berbeda atau bahkan saling berseberangan.

Sesungguhnya tiap amal atau ibadah yang kita kerjakan, meski cara sama-sama benar sesuai yang digariskan, niat melakukannya dapat termasuk:

1. Ikhlas karena Allah & Hanya Berharap Ridha Allah
2. Ikhlas karena Allah, tapi Tujuannya Dunia (Syirik Niat)
3. Tidak Ikhlas
• Riya’ dan Tidak Mencari Dunia
• Riya’ dan Mengharap Dunia dari Amalnya
4. Tidak karena Allah, Tidak untuk Akhirat, Tidak Pula untuk Dunia

Hanya niat ikhlas karena Allah ‘Azza wa Jalla dan akhirat tujuannya yang dapat menjadikan hidup kita dan keluarga kita penuh barakah. Maka agar rumah-tangga berlimpah barakah, suami-isteri perlu saling mengingatkan untuk senantiasa meluruskan niat dan menjaga amalnya dari cara-cara yang bertentangan dengan tuntunan dienul Islam.

Inilah yang perlu kita renungi. Inilah yang perlu kita telisik dalam diri kita dan keluarga kita. Jika apa yang sepatutnya kita kerjakan telah kita penuhi, jika komunikasi sudah kita jalin dengan baik, teapi hati kita gersang meski tak ada perselisihan, maka inilah saatnya kita menelisik niat dan orientasi kita dalam beribadah, beramal dan menjalani kehidupan rumah-tangga.

Mari kita ingat sejenak ketika Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

Katakanlah: “Sesungguhnya shalat, ibadah, hidup dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam, tiada sekutu bagi-Nya; dan demikian itulah yang diperintahkan kepadaku dan aku adalah orang yang pertama-tama menyerahkan diri (kepada Allah).” (QS. Al-An’aam, 6: 162-163).

Tidak mungkin hidup kita –termasuk keluarga kita—hanya untuk Allah Ta’ala jika shalat dan ibadah kita saja bukan untuk Allah ‘Azza wa Jalla.

Sesudahnya, kita perlu periksa rezeki yang kita dapatkan, adakah ia penuh barakah atau justru sebaliknya tak ada barakah sedikit pun di dalamnya? Atas setiap rezeki yang barakah, bertambahnya membawa kebaikan yang semakin besar, dan berkurangnya tidak menciutkan kebaikan. Mungkin mata kita melihatnya berat, tapi ada ketenangan dan kebahagiaan pada diri mereka, meski mereka nyaris tak pernah bersenang-senang. Sebaliknya jika rezeki tak barakah, bertambahnya semakin menjauhkan hati mereka satu sama lain. Sedangkan berkurangnya membawa hati kita saling bertikai, meski tak ada pertengkaran, atau sekurang-kurangnya menyebabkan terjauhkan dari kebaikan.

Wallahu a’lam bish-shawab.

Bulli


Saya adalah korban bully. Ketika sempat sekolah diluar negri dulu, bully dimulai dari jam 6 pagi, ketika saya naik bis sekolah, sampai jam 3 sore, ketika pulang sekolah. Begitu naik, kita akan segera disuruh duduk oleh supir bis, agar bis bisa bergerak menuju tempat penjemputan berikutnya. Sayangnya, hampir semua tempat duduk terisi satu orang (padahal kapasitasnya utk dua), dan tidak ada satu orangpun yg mau bergeser untuk memberikan saya tempat duduk. Walhasil, saya diteriaki oleh supir bis yg berkulit hitam tsb sambil mencermati kaca spionnya “Girl! SIT DOWN!” perintahya.

😔

cf63b-06072008375

Saya pun meminta minta utk dikasih sedikit spasi agar saya ‘terlihat’ duduk. Yang ada, saya diberi sepotong bagian dr kursi, dimana saya hanya sanggup tertampung sebelah badan, dan sebelah badan lagi, harus saya tahan dengan kaki saya…sepanjang jalan!
Padahal sisa kursinya masih sangat luaaaaasss sekali. Hal ini akan terulang kembali ketika pulang nanti.
Begitu sampai disekolah, sayapun meletakkan tas di kelas pertama. Ketika guru mulai mengajar, dan anak anak diminta untuk ikut berpartisipasi, saya akan berdoa-doa agar nama saya tidak akan dipanggil! 😖

“Rossalina!” ( nama panjang saya, Rossalina A. Risman, wina hanya panggilan saja )
Oh oooo… dalam hati saya, ‘matilah aku.’
Bukan apa – apa, saya sangat mengerti apa yang guru ajarkan, yang saya tidak mengerti adalah bagaimana agar bisa bicara PERSIS seperti orang Amerika. Karena, begitu saya mencoba menjawab “Grrrrrr” maka mengakak lah seluruh kelas mendengar aksen Indonesia saya. Belum lagi, yg mencoba meniru, agar nampak semakin lucu. Sedihnya? Tidak bisa dilukiskan dengan kata kata.
Banyak sekali lainnya setelah itu yg terjadi menahun, yg tidak bisa saya ceritakan semua disini satu persatu. Begitu juga dengan sedikit “ketidak nyamanan”, yg pernah dirasakan oleh putri saya.
Namun, saya belajar kuat, mengumpulkan keberanian, membalas, dan akhirnya sang bully pun menjadi kawan saya. Saya memberhentikan ia dari membuli anak-anak baru seperti saya dulu. Begitu juga yang saya ajarkan kepada putri saya.
Bagaimana caranya?

1. Bertahan
2. Niatkan untuk melawan ( kalau ada anggota keluarga yang senantiasa mendukung, akan lebih mudah )
3. Kumpulkan keberanian
4. Lawan! Apakah itu dengan menjawab balik, melaporkan ke guru dan atau merasa tidak terganggu dengan komentar negatif dan ngeluyur pergi.

Apapun itu, semua ini tidak terlepas dari rahmat Allah dan kasih sayangnya kepada saya. Memiliki orang tua yang hebat? Ya pastilah sangat membantu prosesnya.
Jika bullying itu blm sampe tahap fisik/membahayakan, usahakan orang tua jangan terlalu mencampuri urusannya. Ajarilah anak anada step by step utk menjadi kuat dan berani melawan pembuli-nya. Kuatkan ia, hingga akhirnya ‘hari pembalasan’ tiba! Rasa puas dan gembira itu, tidak ada uang di dunia yang cukup untuk membayarnya!!! Belum lagi senyum sumringah keberhasilan, ingin rasanya menekikkan ‘Allahu Akbar!’

Namun catatan penting : Jika bullying sudah masuk ke tahap FISIKAL dan atau menganggu psikologis anak, SERTA MERTA, jangan tunggu, maju dan menghadaplah ke otoritas yg berwenang. Selesaikan dgn sesegera mungkin. Karena bullying zaman sekarang, taruhannya nyawa.
Selamat mencoba dan share jika bermanfaat.
Wallahu a’lam bis shawab
#winathethinkingcoach
Wina Risman

SHARE AGAR LEBIH BERMANFAAT
=============================
GRIYA HILFAAZ
Pusat Busana Muslim Berkualitas
Diskon setiap hari
Menerima reseller, dropshipper, agen
https://www.facebook.com/hilfaaz/photos/
https://www.tokopedia.com/griyahilfaaz
update stock instagram : griya_hilfaaz
==============================

MINDSET yang SALAH = PENJARA PIKIRAN yang tidak terlihat


MINDSET yang SALAH = PENJARA PIKIRAN yang tidak terlihat

MINDSET yang SALAH = PENJARA PIKIRAN yang tidak terlihat

Mindset ? Apa itu ? Saya yakin, kebanyakan Entrepreneur Indonesia meremehkan hal kecil ini, bahkan, some of us mencibir bila ada yang membicarakan mengenai “mindset”. Yup, tema mindset bisa dikatakan hanya populer di kalangan para MLM-ers. Dan karena populer di kalangan MLM-ers, kebanyakan pebisnis malah enggan alias merasa jijik untuk “menyentuhnya”. Kita2 para pebisnis, seringkali lebih suka tema2 teknis, seperti “bagaimana mengatur karyawan”, “apa saja yang perlu dipersiapkan bila mau memulai bisnis A”, “berapa modal yang diperlukan untuk startup bisnis X”, dan sebagainya.

Saya setuju, hal-hal tersebut sangat penting, dan memang sangat diperlukan, BILA KITA SUDAH MENGUASAI BASICNYA. Lantas apa basicnya ? Yup, basicnya adalah MINDSET itu sendiri. Beberapa tahun yang lalu, di forum ini juga, saya sudah berkoar-koar mengenai mindset ini. Namun saat itu, saya masih pebisnis yang terlalu kecil untuk bicara banyak, alias “belum punya banyak bukti untuk diceritakan”

Nah, kali ini saya mau bicara dengan bukti. Beberapa tahun yang lalu, tepatnya bulan Nov 2010, di saat Gathering pertama Entrepreneur Corner, terkumpul sekitar 60 orang Entrepreneur di Mall Central Park. Dari Gathering tersebut, saya pertama kalinya berkenalan (kopi darat) dengan pebisnis2 dari kaskus ini. Dan sama seperti sekarang, tema “mindset” bukanlah tema yang terlalu populer, karena dianggap sebagai tema “motivasi” yang entah kenapa kebanyakan pebisnis “sok alergi” atau mencibir dengan hal2 seperti ini, padahal tidak ada yang salah koq dengan tema2 seperti ini selama kita menggunakannya dengan benar. Dari sebanyak 60 orang tersebut, yang saat ini menjadi pebisnis yang JAUH LEBIH BESAR atau tumbuh puluhan kali lipat, ternyata hanya segelintir orang saja.

Dan saya pun mulai mencari kesamaan dari orang2 yang berhasil survive dan bertumbuh puluhan kali lipat ini, lalu saya mendapat 3 jawaban, yaitu MINDSET, PASSION, dan ACTION. Yup, bukan “cara Anda handle karyawan”, “bagaimana cara memulai bisnis A”, dsb. Melainkan betul2 MINDSET, PASSION, dan ACTION, karena itu memang basicnya.

Untuk 2 yang terakhir, saya akan bahas di lain thread. Tapi di sini kita akan bahas, apa itu Mindset, dan mengapa hal kecil ini bisa begitu berpengaruh terhadap Bisnis Anda ?

Dilihat dari kata2nya, mind berarti pikiran, dan set berarti mengatur. So, mudahnya diartikan langsung saja, mindset adalah bagaimana cara kita mengatur pikiran. Dan mengapa mindset begitu penting ?
Simple karena semua yang kita lakukan dalam bisnis, dimulai dari pikiran kita.

Saat Anda akan melakukan startup bisnis, mindset Anda diposisikan untuk selalu “takut gagal”, maka batal-lah Anda memulai bisnis.

Saat Anda mengalami masalah di bisnis, mindset Anda diposisikan untuk selalu menyalahkan keadaan, maka bangkrutlah Anda sambil terus menggerutu menyalahkan keadaan. Ini sering terjadi pada Anda toh, ngaku saja d.. saya sering banget koq dengar pebisnis2 yang hobinya menyalahkan pemerintah, menyalahkan kompetitor, menyalahkan karyawan, yang pasti yang salah selalu orang lain. Padahal mindset-nya sendiri lah yang salah, karena mindset Anda “disetting” untuk selalu cari kambing hitam

Saat Anda sudah terlalu sibuk di bisnis dan “menjadi superman”, lalu mindset Anda “Saya tidak pernah percaya orang lain”, maka stuck lah Anda sebagai superman, dan bisnis Anda pun sulit untuk maju.

Saat Anda memiliki mindset bahwa “membaca buku hanyalah teori dan hanya bullshit”, maka itulah yang akan terjadi.

Saat Anda memiliki mindset bahwa Anda sudah cukup dengan bisnis Anda yang sekarang, maka cukuplah Anda dan menjadi stuck.

Saat Anda memiliki mindset bahwa menjadi kaya adalah dosa, maka secara otomatis Anda akan menjauhi kekayaan.

Saat Anda sudah memiliki mindset bahwa “tulisan ini adalah bullshit”, maka jadilah tulisan ini sebuah bullshit yang tidak akan pernah mengubah hidup Anda

Dan masih banyak sekali contoh2 kasus lainnya, yang, disadari atau tidak, bahwa tindakan2 kita sangat dipengaruhi oleh mindset.

Dari beberapa contoh di atas, dapat kita pelajari, bahwa sebuah hal kecil yang sering diabaikan ini, adalah hal yang sangat penting untuk dipahami, oleh siapapun yang mau bertumbuh dalam bisnisnya. Karena mindset inilah salah satu yang membedakan antara, Chairul Tanjung si anak singkong, dengan anak singkong – anak singkong lainnya, yang saat ini tetap saja masih jadi anak singkong. Mindset inilah yang membedakan Dahlan Iskan yang lahir sangat miskin, dengan teman2nya yang lahir miskin juga dan sampai saat masih tetap miskin. Mindset inilah pula yang membedakan, speaker2 di Kaskus Gath 04 kemarin yang bisnisnya sudah jauh sekali bertumbuh, dengan entrepreneur2 yang sepertinya sudah tidak survive lagi.

Dan sebagai pebisnis, tentunya sangat bahaya bila mindset kita saat ini masih “salah setting”.

So…masih mau meremehkan mindset ? Bila jawabannya masih ya, maka ada baiknya Anda undur diri dari dunia Entrepreneur. Karena dalam dunia Entrepreneur, kita mesti paham dengan mindset : “Belajar setiap saat, setiap waktu, dan belajar semua yang bisa dipelajari dari setiap kejadian” alias bahasa kerennya almarhum Steve Jobs “Stay Hungry, Stay Foolish”.

See u at THE TOP !!

Profile Kontributor Subforum Entrepreneur Corner: Chandra Liang

Chandra Liang
SUMBER : http://www.kaskus.co.id

Bunda Tahu Kamu Anak yang Rajin


 

RAJIN

Oleh Ida S Widayanti*

“Aku orangnya pemalas. Jarang belajar. Dari dulu aku suka malas. Ibuku juga bilang begitu. Di antara lima bersaudara akulah yang paling malas.” Itu adalah kalimat yang selalu diucapkan seorang mahasiswi hampir di setiap akhir semester.

Apa yang terjadi ternyata seperti yang diucapkannya. Ia tetap malas belajar, dan nilainya pun pas-pasan.

Teman-teman dekat dan teman halaqah pengajiannya selalu memberi motivasi dan membantunya belajar, agar ia bisa lolos melewati setiap ujian akhir semester. Namun, ia masih yakin dengan kemalasan dirinya dalam mengerjakan tugas dan belajar. Sedangkan teman-temannya menjadi lebih sibuk meyakinkan sekaligus membantunya agar bisa menyelesaikan studinya. Akhirnya, si mahasiswi itu berhasil diwisuda meski hasilnya jauh dari memuaskan.

Rupanya kisah ini belum berakhir. Duapuluh tahun kemudian ketika si mahasiswi itu sudah bekerja, salah seorang temannya bersilaturahim ke rumah petak sewaannya. Mengejutkan, kalimat yang keluar pertama kali dari wanita itu masih sama.

“Aku kan orangnya pemalas. Jadi karierku biasa saja, aku tidak pernah naik jabatan dan gajiku tidak pernah naik.”

Kisah nyata tersebut, menjadi contoh betapa pentingnya orangtua untuk menjaga ucapan kepada anaknya. Kalimat negatif “malas”  yang ia dengar dari orangtua, khususnya ibunya menjadi pembenaran pada anaknya. Sehingga menjadi sebuah keyakinan dan benar-benar menjadi seorang pemalas.

Dalam kasus di atas, ucapan ibu si mahasiswi itu tidak bermaksud agar anaknya menjadi pemalas, tapi supaya anaknya menjadi rajin. Namun alih-alih membangun karakter rajin, ucapan itu justru menjadi label dan memperkuat karakter malasnya.

Busana Muslim Branded Berkualitas

“Aniiiii….belajar! Dasar pemalas, dari tadi kerjanya main terus. Kapan mau belajarnya? Sampai kapan kamu mau malas begini?”

Itulah kalimat yang ia dengar sejak kecil. Oleh para ahli, hal itu dinamakan Program Mental. Ibu anak tersebut tidak bermaksud membuat program negatif bagi mental anaknya. Namun, karena kalimat negatif yang ia ucapkan maka semakin menguatkan kenegatifan anak.

Hasil riset mengatakan bahwa hingga usia 18 tahun seorang anak menerima 150.000 kali ungkapan, “Tidak. Kamu tidak akan bisa!”  Sedangkan ungkapan, “Kamu bisa!” hanya 5.000 kali, berarti hanya sekitar 3% kalimat positif. Hal inilah yang menyebabkan banyak orang tidak bisa melakukan yang terbaik dari dirinya. Penelitian lain menyatakan bahwa sejak lahir hingga usia 7 tahun anak menyerap hampir 100% dari apa yang dilihat dan didengar.

Dengan demikian dalam masa usia 7 tahun sebaiknya lebih menyuburkan kalimat positif, karena hal itu akan menjadi program pikirannya. Karena itu, ketika ada seorang anak yang memanah di masjid Rasulullah SAW lebih mengutamakan memotivasinya daripada melarangnya. “Teruslah memanah wahai keturunan Ismail. Sesungguhnya nenek moyangmu seorang pemanah!”

Pada kasus di atas, jika ibu dari anak wanita itu lebih banyak berkata, “Bunda yakin kamu anak yang rajin, pasti senang belajar!” Tentu anak tersebut akan meyakini bahwa dirinya rajin dan akan menuntun perbuatannya untuk rajin belajar.

Nabi SAW bersabda dalam Hadits Qudsi: Sesungguhnya Allah berfirman: “Aku sebagaimana prasangka hambaku kepada-Ku. Aku bersamanya jika ia berdoa kepada-Ku.” (Riwayat Turmudzi). *

hilfaaz gifPenulis buku Serial Catatan Parenting Mendidik Karakter dengan Karakter. SUARA HIDAYATULLAH-MARET 2016

Ukhuwah antara Syaikh Bin Baz dan Syaikh Al-Qaradhawi


bin baz qaradawi

Salah satu keteladanan yang banyak dipraktikkan oleh para ulama salaf adalah sikap saling menghargai dan menghormati saudara-saudaranya yang berbeda pendapat dengan mereka. Sikap seperti ini juga telah ditunjukkan oleh dua ulama besar di zaman kita ini: Syaikh Abdul Aziz bin Abdillah bin Baz rahimahullah (w. 1420 H) dan Syaikh Yusuf bin Abdillah Al-Qaradhawi hafizhahullah.

Syaikh Al-Qaradhawi berkata: “Syaikh Bin Baz rahimahullah pernah mengirim surat kepada saya lebih dari seperempat abad yang lalu. Dalam surat tersebut, beliau memberitahukan kepada saya bahwa Departemen Penerangan memberikan kitab saya—Al-Halal wa Al-Haram fi Al-Islam—kepada beliau; Apakah kitab tersebut boleh masuk ke wilayah kerajaan Saudi Arabia atau tidak? Beliau menginginkan agar jangan sampai para pembaca di Saudi dilarang membaca kitab-kitab saya yang menurut beliau, ‘mempunyai nilai tersendiri di dunia Islam’. Beliau mengabarkan, bahwa para Syaikh di Saudi mempunyai delapan catatan atas kitab saya tersebut, di mana beliau menyebutkan semuanya di dalam suratnya. Beliau meminta kepada saya agar mau menelaah kembali isi kitab saya tersebut. Sebab, ijtihad manusia itu bisa saja berubah di lain waktu.

Ketika itu saya membalas Syaikh Bin Baz dengan sebuah surat sederhana. Saya katakana di dalamnya, ‘Sesungguhnya ulama umat yang paling saya cintai dimana saya enggan menyelisihinya dalam berpendapat, dia adalah Syaikh Bin Baz. Akan tetapi sunnatullah telah berlaku bahwasanya tidak pernah ada para ulama yang sependapat dalam semua masalah. Para sahabat saling berbeda pendapat satu sama lain. Dan para imam juga berbeda pendapat satu sama lain, namun demikian, hal ini sedikit pun tidak membawa mudharat pada mereka. Mereka memang berselisih pendapat, namun hati mereka tidak berselisih. Dan sebagian dari delapan masalah ini, para ulama sejak dulu memang telah berselisih pendapat di dalamnya…”

Pada akhir surat Syaikh Al-Qaradhawi menyampaikan kepada Syaikh Bin Baz, “Saya berharap agar jangan sampai perbedaan pendapat yang terjadi antara saya dengan para syaikh (di Saudi) dalam sebagian masalah ini menjadi sebab dilarangnya buku saya masuk ke Saudi.”

Syaikh Bin Baz pun kemudian mengabulkan harapan Syaikh Al-Qaradhawi tersebut. Beliau rahimahullah mengizinkan Kitab Al-Halal wa Al-Haram fi Al-Islam dan kitab lainnya masuk ke Saudi.

Sumber: Fi Wada’ Al-A’lam, Yusuf Al-Qaradhawi, hal. 62-63, Penerbit Dar Al-Fikr Al-Mu’ashir, Beirut, Cetakan pertama, 2003 M – 1424 H, seperti dikutip oleh Abduh Zulfidar Akaha dalam buku Belajar dari Akhlaq Ustadz Salafi, hal xxv-xxvi, Penerbit Al-Kautsar, Jakarta, Cetakan Pertama, Februari 2008, dengan sedikit perubahan. 

al-Intima on 18 September 2015.

Yuk, Suami dan Istri Saling Menguatkan


Sabar dan syukur menjadi kunci kebahagiaan keluarga. Dengannya keluarga bisa mengggapai pintu surga kelak.

Selama ini Nani merasa sudah menjadi istri yang banyak bersabar. Ia dijodohkan oleh orangtuanya dengan suami berwajah pas-pasan dan gaji yang juga pas-pasan. Pokoknya semua serba tak ideal menurut cita-citanya semasa gadis dulu.

muslim-couple-and-sunset

Suatu ketika, sang suami pulang tergesa-gesa. Ia membawa uang yang lumayan banyak sebagai bonus dari kantornya. Uang tersebut masih utuh. Hanya disimpan dalam amplop dan berbungkus plastik hitam. Rupanya suami Nani harus berkemas kembali, ada urusan di luar kota yang hendak diselesaikan. Beberapa hari kemudian, suaminya pulang dan menanyakan uang yang diberikan dulu.

“Dik, di mana uang yang ayah titip kemarin?”
“Uang yang mana?”
“Uang dalam plastik hitam yang ayah titip sebelum pergi.”

Sontak Nani tersadar. Ia segera mencari ke setiap sudut rumah. Usai seharian mencari, ia malah kian bingung dan penat. Tiba-tiba ia teringat sesuatu. Ia pernah membersihkan rumah dan membuang sampah-sampah dalam plastik.

“Ayah, aku minta maaf. Uang yang ayah titipkan ikut terbuang ke tempat sampah.”

Suasana hening sejenak. Suami Nani memilih diam. Meski tersentak kaget tapi ternyata ia tidak marah. “Berarti uang itu belum rezeki keluarga kita,” ujarnya datar sambil tersenyum.

Sejak itu, jika selama ini Nani merasa hanya bisa bersabar dengan kondisi pas-pasan suaminya, kini ia bersyukur memiliki suami yang penyayang dan tidak mudah marah. Nani sadar, ia merasa layak dimarahi atas keteledoran sikapnya menyimpan duit. Sebaliknya, suami Nani kini harus bersabar atas istri yang pelupa dan teledor. Selama ini ia hanya bersyukur karena mempunyai istri cantik dan suka merawat tubuhnya.

Minta yang Sesuai, Bukan Sempurna

Imam al-Ghazali berkata, sabar itu separuh keimanan dan setengahnya lagi adalah syukur. Keimanan seseorang berbanding lurus dengan ujian yang Allah Ta’ala berikan. Ujian bisa berwujud kenikmatan yang sejalan dengan kemauan, bisa pula berupa musibah atau hal yang tidak disukai. Inilah keajaiban orang beriman yang mesti mampu mengelola dua “kepang sayap”: bersyukur dan bersabar.

Nabi SAW bersabda, “Sungguh ajaib urusan orang beriman. Sesungguhnya pada setiap urusannya, baginya ada kebaikan dan perkara ini tidak berlaku melainkan kepada orang mukmin. Sekiranya dia diberi dengan sesuatu yang menggembirakan lalu dia bersyukur maka kebaikan baginya. Dan sekiranya apabila dia ditimpa kesusahan lalu dia bersabar maka kebaikan baginya.” (Riwayat Muslim).

Dalam suatu anekdot, seorang santri sedang berkonsultasi kepada sang ustadz. Ia minta dicarikan jodoh yang ideal menurut sangkaannya: cantik, kulit putih, postur tinggi, keturunan orang baik, dan hafizhah 30 juz (penghafal al-Qur’an).

Ustadz itu lalu menjawab, “Alhamdulillah, ada seorang santri putri yang persis sama dengan kriteria idamanmu. Cuma satu saja kekurangannya.”
“Apa satu kekurangan itu, Ustadz?”
“Eh, tapi jangan tersinggung ya!”
“Tidak Ustadz, insya Allah saya siap menerima satu kekurangan tersebut.”
“Kekurangannya, santri putri itu belum mau menerima kamu.”
“Kenapa Ustadz?” santri itu mulai menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
“Karena kamu sendiri belum seideal dia, sebagai penghafal 30 juz.”

Manusia cenderung mengejar sesuatu yang disenangi dan bersyukur jika hal itu sesuai dengan keinginannya. Termasuk dalam perkara mencari calon suami atau istri. Selalu berharap yang ideal terhadap pasangan hidupnya. Bagi seorang Muslim, membangun keluarga bermula dari doa dan harapan terhadap jodoh yang diinginkan.

Sebenarnya, harapan di atas terbilang wajar. Namun, itu belum tentu ada atau mungkin tersedia tapi tidak sesuai dengan kondisi kita sendiri. Untuk itu, seorang Muslim harus selalu membenahi diri, dan tidak melulu menuntut hal yang sempurna dari pasangan sedangkan dirinya luput dari usaha menjadi sosok yang sempurna.

Sejatinya, pasangan yang ideal adalah pasangan yang mampu mensyukuri kelebihan pasangannya dan sanggup menyabari kekurangan pasangannya. Sebab, dua insan bisa berpasangan ketika ada simbiosis mutualisme atau saling menguntungkan, kerja sama, melengkapi dan memahami. Sehingga ada harmonisasi dalam menjalin hubungan dalam rumah tangga.

Sekepang Sayap

Ibarat seekor burung yang terbang ke angkasa dengan nyaman dan indah, karena dua sayapnya yang saling menguatkan dan harmonis antara sayap kanan dan kiri. Meski diterpa angin kencang burung itu bisa bertahan dengan kedua sayapnya yang kokoh. Pun demikian bagi orang beriman, sepatutnya “dua sayap”; sabar dan syukur itu difungsikan secara maksimal dalam mengarungi kehidupan di dunia, khususnya di dalam sebuah keluarga.

Keseimbangan sayap burung di atas menjadi pelajaran jalinan kerja sama yang harmonis antara suami dan istri. Pasangan suami atau istri bukan malaikat atau bidadari yang sempurna dan tidak memiliki cacat. Suami dan istri adalah sepasang manusia biasa yang masing-masing memiliki segudang kelebihan dan kekurangan. Setali tiga uang dengan kehidupan di dunia, ia selalu menyisakan masalah dan ujian yang tiada habisnya. Sebagaimana tak ada keinginan yang langsung terkabul semuanya. Sebab, kita semua masih di dunia yang sarat dengan mujahadah dan perjuangan.

Laksana pelangi yang indah, kehidupan keluarga justru indah ketika ia beruntai dengan ragam warna. Ada kalanya sang suami yang mencintai istrinya dengan sepenuh hati justru tiba-tiba jengkel dan tak suka dengan perbuatan istrinya. Ada masa ketika perbedaan bahkan konflik itu menyeruak dalam keluarga. Tiba-tiba something is error dan miss komunikasi terjadi begitu saja tanpa ada yang menginginkannya.

Dibanding yang lain, manusia adalah makhluk Allah SWT yang paling sempurna. Namun tak seorang pun yang sempurna perbuatannya, kecuali Rasulullah SAW yang telah dijaga oleh Allah dari perbuatan dosa. Kekurangan yang ada bukan untuk dikeluhkan atau sebagai alasan tak mau bersyukur kepada Allah. Ia adalah lahan untuk menyempurnakan keimanan dengan kesabaran. Sebab, terkadang kekurangan itu bersifat bawaan yang tak mudah mengubah atau menghilangkannya.

Sabar dan syukur adalah sekepang sayap yang memberi energi keteguhan, optimisme dan keyakinan dalam menghadapi berbagai persoalan hidup. Keduanya menjadi kunci kebahagiaan keluarga. Dengannya keluarga tersebut bisa menggapai pintu surga kelak. Sebaliknya, tanpa dua sayap tersebut, keluarga itu hanya mampu mengeluh dan mengeluh. Mereka merasa seolah hidup ini hanya untuk mengeluh saja.* Abdul Ghofar Hadi, Ketua Lembaga Pendidikan dan Pengkaderan Hidayatullah Balikpapan. SUARA HIDAYATULLAH-AGUSTUS 2015