Tag Archive | kolom qiyadah

Do’a Memohon Dijauhkan dari Teman Akrab yang Khianat


Do’a Memohon Dijauhkan dari Teman Akrab yang Khianat

 

.
Mari sejenak kita menengadahkan tangan, memohon kepada Allah Ta’ala dengan penuh kesungguhan. Dia-Lah Allah Ta’ala, tempat kita meminta dan memohon pertolongan. Sejenak berdo’a kepada-Nya:
.
اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوْذُ بِكَ مِنْ خَلِيلٍ مَاكِرٍ ، عَيْنَاهُ تَرَيَانِي وَقَلْبُهُ يَرْعَانِي ، إِنْ رَأى حَسَنَةً دَفَنَهَا ، وَإِنْ رَأى سَيِّئَةً أَذَاعَهَا
.
Allahumma inni a’udzu biKa min khaliilin maakir, ‘aynaahu tarayaani wa qalbuhu yar’aani, in ra-aa hasanatan dafanaha, wa in ra-aa sayyi-atan adzaa-‘aha
.
“Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari teman dekat yang makar (suka menipu), matanya melihatku, tetapi hatinya mencurigai aku. Jika ia melihat kebaikanku, ia sembunyikan. Tetapi jika ia melihat kejelekanku, ia sebarkan.”
.
Ini merupakan do’a yang bersumber dari hadits mursal riwayat Ibnu Najjar dari Sa’id Al-Maqburi. Yang dimaksud hadits mursal ialah perkataan yang dinisbahkan kepada Rasulullah shallaLlahu ’alaihi wa sallam, tetapi sanadnya terhenti pada tabi’in. Tidak ada sahabat dalam sanadnya. Jumhur ulama menolak hadits mursal sebagai dasar hukum, tetapi sebagian ulama lain membolehkan dengan syarat yang sangat ketat. Adapun riwayat berupa do’a, sikap ulama jauh lebih longgar dalam soal pengamalannya.
.
Pada do’a tersebut, kita memohon kepada Allah Ta’ala agar dilindungi dari kejahatan teman akrab atau sahabat karib yang khianat dan menipu. Dijauhkan dari keburukannya dapat beragam bentuknya. Terserah kepada Allah Ta’ala bagaimana Ia melindungi kita. Husnuzhan tetap kita jaga, tidak sibuk mencurigai sebagian sahabat dekat kita, tetapi Allah Ta’ala menjauhkannya pelan-pelan. Kita tidak memutus persahabatan, tapi tanpa terasa saling berjauhan. Atau, boleh jadi tetap akrab, tapi Allah Ta’ala singkirkan tipu dayanya dari kita. Dalam ini kita tidak perlu bersibuk menelisik keburukan sahabat kita, yang menjauh maupun yang mendekat.
.
Tetapi adakalanya Allah Ta’ala bukakan keburukan teman akrab tersebut secara terbuka, tanpa kita berusaha mengorek keburukannya maupun bersibuk membuka kelicikannya. Allah Ta’ala bukakan tanpa kita berusaha membuka keburukannya. Boleh jadi kita bahkan tidak memiliki kecurigaan dan kekhawatiran sedikit pun. Tetapi Allah Ta’ala kabulkan do’a kita dengan cara ini disebabkan sahabat dekat kita itu khianat secara luas dengan memanfaatkan kedekatannya dengan kita.
.
Kembali kepada do’a tersebut. Kita bedo’a dengan sungguh-sungguh tanpa menentukan caranya. Kita pasrahkan kepada Allah Ta’ala, sembari di saat yang sama tetap menjaga persangkaan baik kita kepada rekan-rekan kita.

Boleh jadi kawan dekat yang ingin khianat itu, belumlah dekat. Ia baru ingin mendekat. Tapi Allah Ta’ala kabulkan do’a dengan menghalangi seseorang yang ingin mendekat tersebut sehingga tetap tak dapat akrab. Boleh jadi tetap berteman, tetapi tetap tidak dapat akrab dan kita dijauhkan dari sikap khianatnya dia.
.
Yang kita perlu sangat hati-hati adalah persangkaan kita terhadap kawan kita yang jauh maupun sahabat kita yang sekarang agak renggang hubungannya. Sekalipun mungkin saja jauhnya seseorang dari kita karena Allah Ta’ala menghalanginya dari mengkhianati kita, tetapi kita tidak dapat memastikannya sehingga kita hendaknya tidak sibuk dengan persangkaan buruk (su’uzhan) yang boleh jadi salah besar.
.
Wallahu a’lam bish-shawab.

Tilawah Yaumiyah (1 Juz Sehari)


Tilawah Yaumiyah (1 Juz Sehari)

“Hendaklah Anda memiliki wirid harian membaca al-Qur’an
minimal satu juz setiap hari, dan berusahalah sungguh-sungguh agar
jangan sampai mengkhatamkan al-Qur’an melewati satu bulan.”

(Hasan al-Banna dalam Majmu’atur Rasail)

Anjuran Imam As-Syahid Hasan Al-Banna rahimahullah di atas nampaknya merujuk kepada hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dari ‘Abdullah bin ‘Amr, yang pernah berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

« اقْرَإِ الْقُرْآنَ فِى شَهْرٍ » . قُلْتُ إِنِّى أَجِدُ قُوَّةً حَتَّى قَالَ « فَاقْرَأْهُ فِى سَبْعٍ وَلاَ تَزِدْ عَلَى ذَلِكَ »

Bacalah (khatamkanlah) Al Quran dalam sebulan.” ‘Abdullah bin ‘Amr lalu berkata, “Aku mampu menambah lebih dari itu.” Beliau pun bersabda, “Bacalah (khatamkanlah) Al Qur’an dalam tujuh hari, jangan lebih daripada itu.” (HR. Bukhari No. 5054).

Para ulama sebelumnya pun memang selalu menganjurkan kepada orang muslim untuk memperbanyak khatam Al-Qur’an, begitu juga memperbanyak membaca dan mentadaburinya. Karena ia adalah Kalamullah, termasuk beribadah dalam membacanya. Dan Allah Ta’ala senang jika hamba-Nya beribadah kepada-Nya dengan cara tersebut.

Dahulu para ulama salaf rahimahumullah mempunyai semangat tinggi yang berbeda-beda, di antara mereka ada yang mengkhatamkan setiap hari sekali. Ada yang tiga hari, ada yang sepekan dan ada yang mengkhatamkan setiap bulan sekali. Bisa jadi mengkhatamkan sebulan sekali termasuk semangat yang paling rendah. Seyogyanya seorang muslim jangan berkurang darinya.

Ibnu Hazm rahimahullah mengatakan, “Seorang muslim yang ingin selamat, hendaknya melakukan sesuatu yang diharapkan dapat mengalahkan dosa  dan kesalahannya. Hendaknya dia membiasakan membaca Al-Qur’an dan dapat mengkhatamkan setiap bulan sekali. Kalau dapat menghatamkan kurang dari itu, maka hal itu lebih bagus.” (Rasail Ibnu Hazm, 3/150)

Bahkan para ahli fiqih Hanbali menegaskan: “Makruh mengakhirkan khatam Al-Qur’an lebih dari empat puluh hari tanpa uzur.” Ahmad berkata, “Yang paling sering saya dengar, hendaknya seseorang mengkhatamkan Al-Qur’an dalam empat puluh hari. Karena hal itu (tidak khatam lebih dari empat puluh hari) dapat melupakannya dan meremehkannya.” (Kasysyaful Qana, 1/430)

Saudaraku, sadarkah kita bahwa al-Qur’an diturunkan oleh Allah Ta’ala kepada manusia agar menjadi sumber tazwid (pembekalan) bagi peningkatan ruhiy (spiritualitas), fikri (pemikiran) serta minhaji (metode/pedoman)? Sehingga jika sehari saja kita jauh dari al-Qur’an, berarti terputuslah dalam diri kita proses tazwid tersebut? Dalam kondisi seperti itu yang akan terjadi adalah adanya proses tazwid dari selain wahyu Allah Ta’ala; baik itu dari televisi koran, majalah, maupun yang lainnya yang sesungguhnya akan menyebabkan ruh yang ringkih dan keyakinan yang melemah terhadap fikrah dan minhaj? Padahal tiga unsur ini sesungguhnya menjadi sumber energi untuk berdakwah dan ber-harakah. Sehingga melemahlah semangat beramal saleh dan hadir dalam halaqah, padahal halaqah merupakan pertemuan untuk komitmen beramal saleh.
Dapat dibayangkan bagaimana jadinya kalau proses tazwid itu telah terputus sepekan, dua pekan, bahkan berbulan-bulan? Semoga Allah Ta’ala menjaga kita dari sikap menjadikan al-Qur’an sebagai sesuatu yang mahjuran (ditinggalkan).

وَقَالَ الرَّسُولُ يَا رَبِّ إِنَّ قَوْمِي اتَّخَذُوا هَذَا الْقُرْآنَ مَهْجُورً

Berkatalah Rasul: “Ya Tuhanku, sesungguhnya kaumku menjadikan Al Qur’an ini suatu yang ditinggalkan “. (Q.S. Al-Furqan ayat 30)

Sesungguhnya ibadah tilawah Al-Qur’an telah menjadi tuntutan kepada manusia sejak dia menjadi seorang muslim. Oleh karena itu, cukup banyak orang-orang yang tanpa tarbiyah atau halaqah, namun memiliki komitmen tilawah satu juz setiap hari, sehingga setahun khatam 12 kali–bahkan lebih, karena saat bulan Ramadhan dapat khatam lebih dari sekali.

Lalu, bagaimana dengan kita, ashhabul  harakah wad da’wah? Sudahkah keislaman kita membentuk sikap iltizam (komitmen) dengan ibadah ini ? Ketika kita melalaikannya, dapat diyakini bahwa kendalanya adalah dha’ful himmah (lemah dan kurangnya kemauan), bukan karena tidak mampu melafalkan ayat-ayat al-Qur’an seperti anggapan kita selama ini. Yang harus dibentuk dalam hal ini bukanlah hanya sebatas mampu membaca, namun lebih dari itu, bagaimana membentuk kemampuan ini menjadi sebuah moralitas ta’abbud (penghambaan) kepada Allah, sehingga hal ini menjadi sebuah proses tazwid yang berkesinambungan sesuai dengan jauhnya perjalanan da’wah ini!

Dari sini kita menjadi faham, ternyata tarbiyah adalah sebuah proses perjalanan yang beribu-ribu mil jauhnya. Entah berapa langkah yang sudah kita lakukan. Semoga belum mampunya kita dalam beriltizam dengan ibadah ini adalah karena masih sedikitnya jarak yang kita tempuh. Jadi yakinlah, selama kita komitmen dengan proses tarbiyah, dengan seizin Allah kita akan sampai kepada kemampuan ibadah ini. Dan sekali-kali janganlah kita menutupi ketidak mampuan kita terhadap ibadah ini dengan berlindung di bawah waswas syaithan dengan bahasa sibuk, tidak sempat, acara terlalu padat dan lain sebagainya.

Sadarilah bahwa kesibukan kita pasti akan berlangsung sepanjang hidup kita. Apakah berarti sepanjang hidup kita, kita tidak melakukan ibadah ini hanya karena kesibukan yang tak pernah berakhir?

Kita harus berfikir serius terhadap tilawah satu juz ini, karena ia merupakan mentalitas ‘ubudiyah (penghambaan), disiplin dan menambah tsaqofah. Apalagi ketika kita sudah memiliki kesadaran untuk membangun Islam di muka bumi ini, maka kita harus menjadi batu bata yang kuat dalam bangunan ini. Al Ustadz Imam Asy Syahid Hasan Al-Banna rahimahullah begitu yakinnya dengan sisi ini, sehingga beliau menjadikan kemampuan membaca al-Qur’an satu juz ini sebagai syarat pertama bagi seseorang yang berkeinginan membangun masyarakat Islam.

Dalam nasihatnya beliau mengatakan, “Wahai saudaraku yang jujur dengan janjinya, sesungguhnya imanmu dengan bai’at (perjanjian) ini mengharuskanmu melaksanakan kewajiban-kewajiban ini agar kamu menjadi batu bata yang kuat, (untuk itu) : “Hendaklah Anda memiliki wirid harian membaca al-Qur’an minimal satu juz setiap hari, dan berusahalah sungguh-sungguh agar jangan sampai mengkhatamkan al-Qur’an melewati satu bulan.”

Sebagaimana kita saat melakukan hijrah dari kehidupan Jahiliyyah kepada kehidupan Islamiyah harus banyak menelan pil pahit selama proses tarbiyah, maka jika kita sudah ber-‘azam (bertekad) untuk meningkat kepada kehidupan yang ta’abbudi (penuh nilai ibadah), maka kita harus kembali siap menelan banyak pil pahit tersebut. Kita harus sadar bahwa usia dakwah yang semakin dewasa, penyebarannya yang semakin meluas dan tantangannya yang semakin variatif sangat membutuhkan manusia-manusia yang Labinatan Qowiyyatan (laksana batu bata yang kuat). Dan hal tersebut kuncinya terdapat di dalam interaksi dengan al-Qur’an!

Sebuah proses tarbiyah yang semakin matang, dengan indikasi hati dan jiwa yang semakin bersih, secara otomatis akan menjadikan kebutuhan terhadap al-Qur’an mengalami peningkatan. Sejarah mencatat bahwa para sahabat dan salafusshalih ketika mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Bacalah al-Qur’an dalam satu bulan”, maka begitu banyak yang menyikapinya sebagai sesuatu yang minimal.

Bayangkan dengan diri kita yang sering menganggap tilawah satu juz itu sebagai sesuatu yang maksimal! Maka tugas yang sangat minimal ini pun sangat sering terkurangi, bahkan tidak teramalkan dengan baik. Bagaimana mungkin kita dapat mengulang kesuksesan para sahabat dalam membangun Islam ini, jika kita tidak melakukan apa yang telah mereka lakukan (walaupun kita sadar bahwa ibadah membaca Al-Qur’an satu juz ini bukan satu-satunya usaha di dalam berdakwah)?

Sebutlah Utsman Ibn Affan, Abdullah Ibn Amr Ibn Ash, Abu Hanifah dan Imam Asy-Syafi’i Radiyallahu Anhum. Mereka adalah contoh orang-orang yang terbiasa menyelesaikan bacaan al-Qur’annya dalam waktu tiga hari sampai satu pekan. Karena bagi mereka khatam sebulan terlalu lama untuk bertemu dengan ayat-ayat Allah. Jadi, jika seseorang rutin setiap bulan khatam, berarti hanya sekali dalam sebulan ia bertemu dengan surat Maryam, misalnya.

Dapat kita bayangkan seandainya kita berlama-lama dalam mengkhatamkan al-Qur’an. Berarti kita akan sangat jarang bertemu dengan setiap surat dari al-Qur’an!

Kalau saja tarbiyyah qur’aniyyah kita telah matang, kita akan dapat merasakan bahwa sentuhan tarbawi (pendidikan) surat al-Baqarah berbeda dengan surat Ali Imran. Begitu juga beda antara an-Nisaa, al-Maidah dengan surat yang lainnya. Sehingga ketika seseorang sedang membaca an-Nisaa, pasti dia akan merindukan al-Maidah. Inilah suasana tarbiyyah yang belum kita miliki yang harus dengan serius kita bangun dalam diri kita. Kita harus waspada, jangan sampai hidup ini berakhir dengan kondisi kita melalaikan ibadah tilawah satu juz. Sehingga hidup berakhir dengan kenangan penyesalan. Padahal sesungguhnya kita mampu kalau saja kita mau menambah sedikit saja mujahadah (kesungguhan) dalam tarbiyyah ini.

Kiat Mujahadah dalam Bertilawah Satu Juz

  1. Berusahalah melancarkan tilawah jika Anda termasuk orang yang belum lancar bertilawah, karena ukuran normal tilawah satu juz adalah 30 – 40 menit. Jika lebih dari itu, Anda harus lebih giat berusaha melancarkan bacaan. Jika melihat durasi waktu di atas, sangat logis untuk melakukan tilawah satu juz setiap hari dari waktu dua puluh empat jam yang kita miliki. Masalahnya, bagaima kita dapat membangun kemauan untuk 40 menit bersama Allah, sementara kita sudah terbiasa 40 menit atau lebih bersama televisi, ngobrol dengan teman dan lain sebagainya.
  2. Aturlah dalam satu halaqah kesepakatan bersama menciptakan komitmen ibadah membaca Al-Qur’an satu juz ini. Misalnya, bagi anggota halaqah yang selama sepekan kurang dari tujuh juz, maka saat bubar halaqah ia tidak boleh pulang kecuali telah menyelesaikan sisa juz yang belum terbaca. Kiat ini terbukti lebih baik daripada ‘iqob (hukuman) yang terkadang hilang ruh tarbawi-nya dan tidak menghasilkan mujahadah yang berarti.
  3. Lakukanlah qadha tilawah setiap kali program ini tidak berjalan! Misalnya, carilah tempat-tempat yang kondusif untuk konsentrasi bertilawah. Misalnya di masjid atau tempat yang bagi diri kita asing. Kondisi ini akan menjadikan kita lebih sejenak untuk hidup dengan diri sendiri membangun tarbiyyah qur’aniyyah di dalam diri kita.
  4. Sering-seringlah mengadukan keinginan untuk dapat bertilawah satu juz sehari ini kepada Allah Ta’ala yang memiliki al-Qur’an ini. Pengaduan kita kepada Allah Ta’ala yang sering, insya Allah menunjukkan kesungguhan kita dalam melaksanakan ibadah ini. Disinilah akan datang pertolongan Allah yang akan memudahkan pelaksanaan ibadah ini.
  5. Perbanyaklah amal saleh, karena setiap amal saleh akan melahirkan energi baru untuk amal saleh berikutnya. Sebagaimana satu maksiat akan menghasilkan maksiat yang lain jika kita tidak segera bertaubat kepada Allah Ta’ala. Jika kita saat ini sering berbicara tentang ri’ayah maknawiyyah (memperkaya jiwa), maka sesungguhnya pesan Imam Syahid ini adalah cara me- ri’ayah maknawiyyah yang paling efektif dan dapat kita lakukan kapan saja dan dimana saja. Ditinjau dari segi apapun, ibadah ini harus dilakukan. Bagi yang yakin akan pahala Allah Ta’ala, maka tilawah al-Qur’an merupakan sumber pahala yang sangat besar. Bagi yang sedang berjihad, dimana dia membutuhkan tsabat (keteguhan hati), nashrullah (pertolongan Allah), istiqomah, sabar dan lain sebagainya, al-Qur’an tempat meraih semua ini. Kita harus serius melihat kemampuan tarbawi dan ta’abbudi ini, agar kita tergugah untuk bangkit dari kelemahan ini,

Kendala yang Harus Diwaspadai

  1. Perasaan menganggap sepele apabila sehari tidak membaca al-Qur’an, sehingga berdampak tidak ada keinginan untuk segera kembali kepada al-Qur’an.
  2. Lemahnya pemahaman mengenai keutamaan membaca al-Qur’an. Sehingga tidak termotivasi untuk mujahadah dalam istiqomah membaca al-Qur’an.
  3. Tidak memiliki waktu wajib bersama al-Qur’an dan terbiasa membaca al-Qur’an sesempatnya, sehingga ketika merasa tidak sempat ditinggalkannyalah al-Qur’an.
  4. Lemahnya keinginan untuk memiliki kemampuan ibadah ini, sehingga tidak pernah memohon kepada Allah Ta’ala agar dimudahkan tilawah al-Qur’an setiap hari. Materi do’a hanya berputar-putar pada kebutuhan keduniaan saja.
  5. Terbawa oleh lingkungan di sekelilingnya yang tidak memiliki perhatian terhadap ibadah al-Qur’an ini. Rasulullah bersabda, “Kualitas dien seseorang sangat tergantung pada teman akrabnya.”
  6. Tidak tertarik dengan majlis-majlis yang menghidupkan al-Qur’an. Padahal menghidupkan majlis-majlis al-Qur’an adalah cara yang direkomendasikan Rasulullah agar orang beriman memiliki gairah berinteraksi dengan al-Qur’an.

Akibat dari Tidak Serius Menjalankannya

  1. Sedikitnya barokah dakwah atau amal jihadi kita, karena hal ini menjadi indikasi lemahnya hubungan seorang jundi pada Allah Ta’ala. Sehingga boleh jadi nampak berbagai macam produktivitas dakwah dan amal jihadi kita, namun dikhawatirkan keberhasilan itu justru berdampak menjadi hal-hal yang tidak diinginkan.
  2. Kemungkinan yang lain, bahkan lebih besar, adalah tertundanya pertolongan Allah Ta’ala dalam amal jihadi ini. Kalau jihad salafusshalih saja tertunda kemenangannya hanya karena meninggalkan sunnah bersiwak (menggosok gigi), apalagi karena meninggalkan suatu amal yang bobotnya jauh lebih besar dari itu? Oleh karena itu, masalah berinteraksi dengan al-Quran selalu disinggung dengan ayat-ayat jihad, seperti surat al-Anfaal dan al-Qitaal.
  3. Terjauhkannya sebuah asholah (keaslian/orisinalitas) dakwah. Sejak awal dakwah ini dikumandangkan, semangatnya adalah dakwah bil qur’an. Bagaimana mungkin kita mengumandangkan dakwah bil qur’an kalau interaksi kita dengan al-Qur’an sangat lemah ? Bahkan sampai tak mencapai tingkat interaksi yang paling minim, sekedar bertilawah satu juz saja?
  4. Terjauhkannya sebuah dakwah yang memiliki jawwul ‘ilmi (nuansa keilmuan). Hakikat dakwah adalah meningkatkan kualitas keilmuan umat yang sumber utamanya dari al-Qur’an. Maka minimnya kita dengan pengetahuan ke –al-Qur’an- an akan sangat berdampak pada lemahnya bobot ilmiyyah diniyyah (keilmuan agama) kita. Dapat dibayangkan kalau saja setiap kader beriltizam dengan manhaj tarbiyyah yang sudah ada. Lebih khusus pada kader senior. Pasti kita akan melihat potret harokah dakwah ini jauh lebih cantik dan lebih ilmiyyah.
  5. Terjauhkannya sebuah dakwah yang jauh dari asholatul manhaj. Bacalah semua kitab yang menjelaskan manhaj dakwah ini. Khususnya kitab Majmu’atur Rasail! Anda akan dapatkan begitu kental dakwah ini memberi perhatian terhadap interaksi dengan al-Qur’an. Tidakkah kita malu ber-intima’ (menyandarkan diri) pada dakwatul ikhwah, namun kondisi kita jauh dari manhaj-nya ?

Jangan Lupakan Tadabbur!

Mujahadah membaca Al-Qur’an satu juz satu hari, tidak sepatutnya menjadi penyebab terabaikannya Tadabbur Al-Qur’an!

Renungkanlah apa yang dikemukakan oleh Imam Nawawi rahimahullah berikut ini,

وَالِاخْتِيَار أَنَّ ذَلِكَ يَخْتَلِف بِالْأَشْخَاصِ ، فَمَنْ كَانَ مِنْ أَهْل الْفَهْم وَتَدْقِيق الْفِكْر اُسْتُحِبَّ لَهُ أَنْ يَقْتَصِر عَلَى الْقَدْر الَّذِي لَا يَخْتَلّ بِهِ الْمَقْصُود مِنْ التَّدَبُّر وَاسْتِخْرَاج الْمَعَانِي ، وَكَذَا مَنْ كَانَ لَهُ شُغْل بِالْعِلْمِ أَوْ غَيْره مِنْ مُهِمَّات الدِّين وَمَصَالِح الْمُسْلِمِينَ الْعَامَّة يُسْتَحَبّ لَهُ أَنْ يَقْتَصِر مِنْهُ عَلَى الْقَدْر الَّذِي لَا يُخِلّ بِمَا هُوَ فِيهِ ، وَمَنْ لَمْ يَكُنْ كَذَلِكَ فَالْأَوْلَى لَهُ الِاسْتِكْثَار مَا أَمْكَنَهُ مِنْ غَيْر خُرُوج إِلَى الْمَلَل وَلَا يَقْرَؤُهُ هَذْرَمَة . وَاللَّهُ أَعْلَم

“Waktu mengkhatamkan tergantung pada kondisi tiap person. Jika seseorang adalah yang paham dan punya pemikiran mendalam, maka dianjurkan padanya untuk membatasi pada kadar yang tidak membuat ia luput dari tadabbur dan menyimpulkan makna-makna dari Al Qur’an. Adapun seseorang yang punya kesibukan dengan ilmu atau urusan agama lainnya dan mengurus maslahat kaum muslimin, dianjurkan baginya untuk membaca sesuai kemampuannya dengan tetap melakukan tadabbur (perenungan). Jika tidak bisa melakukan perenungan seperti itu, maka perbanyaklah membaca sesuai kemampuan tanpa keluar dari aturan dan tanpa tergesa-gesa. Wallahu a’lam. ” (Dinukil dari Fathul Bari, 9: 97).

Semoga kita tergugah dengan tulisan ini, agar kita lebih serius lagi melaksanakan poin pertama daripada wajibatul akh (kewajiban aktifis muslim) ini.

https://tarbawiyah.com/

Etika Debat dalam Islam


Etika Debat dalam Islam

 

Debat dalam bahasa Arab disebut jadal. Dalam kitab Ihya Ulumuddin, Hujjatul Islam Imam Ghazali member definisi jadal sebagai keinginan untuk saling mengalahkan dan menjatuhkan seseorang dengan menyebutkan kekurangannya. Dengan demikian, tidak jarang debat memunculkan banyak sisi negatif. Misalnya saja, menumbuhkan emosi orang tertentu, lantaran tidak menerima kritik orang lain terhadap dirinya. Dan yang lebih parah, bila forum debat sudah menjadi arena debat kusir yang tak jelas ujung pangkalnya, sehingga semakin jauh dari kebenaran. Itu sebabnya, debat sering dikaitkan dengan salah satu sebab penyimpangan. Banyak umat terdahulu yang tersesat setelah mereka mendapat petunjuk, lantaran perdebatan mereka tentang kebenaran. Seperti yang disabdakan Rasulullah SAW, “Tidaklah sekelompok kaum menjadi sesat kembali setelah memperoleh petunjuk, kecuali mereka melakukan jadal.” Selanjutnya beliau membacakan surat az Zukhruf yang artinya “Mereka tidak member perumpamaan itu padamu melainkan dengan maksud membantah saja. Sebenarnya mereka adalah kaum yang suka bertengkar.” (HR Ahmad dan Turmudzi, hadits hasan shohih).

Karenanya, Rasulullah SAW melarang umatnya untuk terlibat dalam perdebatan. “Saya adalah pemimpin rumah di bawah naungan surge, bagi orang yang meninggalkan debat sekalipun dalam posisi yang benar…” (HR Abu Dawud, dan dicantumkan dalam silsilah hadits shohih oleh Nashiruddin al Abani I/47).

Namun, tidak semua jadal bernilai negative. Jadal pernah disebutkan dalam al Quran sebagai salah satu media dakwah yang cukup efektif. Allah SWT berfirman, “Serulah (mereka) ke jalan Rabbmu dengan hikmah dan nasehat yang baik serta bantahlah(jadal) mereka dengan bantahan yang lebih baik.” (QS. An Nahl: 125). Dalam ayat lain, Allah berfirman, “Janganlah kalian membantah ahlul kitab kecuali dengan bantahan yang lebih baik…” (QS. Al Ankabut: 46).

Islam telah menggariskan sejumlah rambu yang dapat memelihara perdebatan agar tidak keluar dari jalur yang benar.

Pertama, dengan memelihara etika Islam dalam memberi nasehat. Beberapa etika Islam dalam hal ini, misalnya memberi nasehat harus dilakukan dengan rahasia dan tidak di depan orang banyak, menggunakan cara yang sesuai dan waktu yang tepat, harus didorongan dengan niat untuk membenarkan dan mengubah ke arah yang lebih baik, ikhlas karena Allah, menyandarkan semua kemampuan kepada kehendak Allah, dan sebagainya. Bila adab-adab ini dilanggar, maka pemberian nasehat justru berakibat pada timbulnya sikap bangga terhadap dosa atau kesalahan pada diri orang yang dinasehati. Orang tersebut bahkan berupaya untuk terus mengungkapkan bantahan dan perdebatan, agar bebas dari kesalahan, dan cenderung tidak mau menerima nasehat.

Kedua, melenyapkan ambisi selalu ingin menang dan tak mau kalah. Ambisi seperti ini akan menjadikan seseorang tidak mempan dengan segala kritik. Inilah diantara hikmah firman Allah, “Wahai orang-orang yang beriman, jadilah kamu orang yang benar-benar menegakkan keadilan, menjadi saksi karena Allah biarpun terhadap dirimu sendiri atau ibu bapak dan kaum kerabatmu. Jika ia kaya ataupun miskin, maka Allah lebih tahu kemaslahatannya. Maka janganlah kamu mengikuti hawa nafsu karena ingin menyimpang dari kebenaran.” (QS. An Nisa:135).

Ketiga, membentengi diri dengan al Quran dan sunah sebelum mendalami pengetahuan tentang teknik perdebatan. Ilmu tentnag teknik perdebatan dan diskusi, antara lain ilmu mantiq dan filsafat. Mendalami teknik perdebatan dan diskusi memang bisa mendorong seseorang terjerumus dalam perdebatan yang negative. Apalagi, bila hal itu dilakukan sebelum ia memiliki basic moral yang baik terhadap al Quran dan sunah. Itu sebabnya, sebagian ulama melarang mempelajari ilmu filsafat dan mantiq. Di antara mereka ada yang membolehkannya, yaitu Saifuddin al Amidi. Beliau mengemukakan alasan bahwa manusia memiliki potensi akal sebagai anugerah Allah. Potensi itu dapat digunakan sebagai neraca pertimbangan berbagai masalah, membedakan antara yang haq dan yang bathil, yang bermanfaat dan berbahaya.

Di antara ulama yang melarang adalah al Hafizh Abu Amr Ma’ruf Ibnu Sholah. Menurutnya pelarangan disebabkan ilmu-ilmu tersebut akhirnya akan mengantarkan seseorang pada sikap ragu dan bahkan boleh jadi sampai pada tingkat pengingkaran terhadap kebenaran yang sudah ada.

Selain mereka, ada pula diantara ulama yang bersikap mutawasshith (pertengahan). Seorang Muslim dibolehkan mempelajari ilmu filsafat dan matiq dengan catatan telah memiliki benteng al Quran dan sunah. Dan dilarang bagi mereka yang tidak memiliki kriteria tersebut. Pendapat seperti ini dikemukakan oleh Imam Nawawi rahimahullah.

Keempat, menghindari sikap ujub dan takabur. Karena sikap inilah yang menyebabkan orang terjerumus dalam debat kusir. Orang yang menderita ujub dan takabur, cenderung menempuh cara untuk menarik perhatian orang. Miraa’ atau jadal merupakan salah satu cara yang ditempuh. Cara inilah yang pernah dilakukan oleh iblis tatkala menolak perintah Allah SWT untuk bersujud kepada Nabi Adam as. Ketika Allah SWT berfirman, “Apa yang menghalangimu untuk sujud kepada yang Aku ciptakan, apakah engkau takabur atau merasa lebih tinggi?” (QS. Shaad: 75).

Saat itulah iblis menjawabnya dengan konteks kalimat yang menjurus kepada jadal atau perdebatan. Kata iblis, “Saya lebih baik daripada Adam. Engkau ciptakan aku dari api sedang Engkau ciptakan dia dari tanah.” (QS. Shaad: 76).

Inilah salah satu hikmah di balik firman Allah, “Sesungguhnya orang-orang yang memperdebatkan tentang ayat-ayat Allah tanpa alasan yang sampai kepada mereka, tidak ada dalam dada mereka melainkan hanyalah (keinginan akan) kebesaran yang mereka sekali-kali tiada akan mencapainya, maka mintalah perlindungan kepada Allah. Sesungguhnya Dia Maha Mendengar lagi Maha Melihat.” (QS Ghafiir: 56).

Kelima, mengisi hati dengan ma’rifatullah dan taqwa. Hati yang senyap dari ma’rifatullah dan taqwa adalah hati yang kosong dari kesadaran atau rasamuroqobatullah (pantauan Allah). Kondisi hati tersebut (hati yang kosong) akan menyebabkan masuknya ambisi dunia serta was-was setan yang selalu merongrong agar melakukan kejahatan. Dari sinilah, seseorang disibukkan dengan pekerjaan sia-sia, salah satu diantaranya adalah debat. Karenanya Allah SWT menyeru kepada hambanya agar memerangi kekosongan hati dengan melakukan variasi ibadah, sehingga hati tidak bosan atau jenuh dan mendorong seseorang terjerat dalam perdebatan yang sia-sia. Allah berfirman, “Maka apabila kamu telah selesai (dari suatu urusan), kerjakanlah dengan sungguh-sungguh (urusan) yang lain. Dan hanya kepada Tuhanmulah hendaknya kamu berharap.” (QS. Al Insyirah: 7-8).

Al Hafizh Ibnu Katsir memberi komentar terhadap dua ayat tersebut sesuai atsar para salah; “Bila engkau selesai mengerjakan kesibukan urusan dunia, dan engkau telah putuskan ikatan-ikatannya, maka sungguh-sungguh dan giatlah melakukan ibadah dengan pikiran yang kosong.” Seperti ungkapan mujahid rahimahullah dalam ayat ini: “Bila engkau selesai mengerjakan urusan dunia, maka berdirilah melakukan sholat dan bersungguh-sungguh kepada Tuhanmu.”

( mh )

Berjuanglah untuk Islam Walau Anda Pelaku Maksiat


Berjuanglah untuk Islam Walau Anda Pelaku Maksiat

 

Apa yang kau anggap atas dirimu sendiri? Begitu banyakkah dosa dan noda? Ketahuilah, setiap manusia –siapa pun dia- juga memiliki kesalahan, dan sebaik-baik manusia yang membuat kesalahan adalah yang mau bertaubat. Mari jadilah yang terbaik…

Saudaraku …

Apa yang menghalangimu membela agamamu? Apa yang merintangimu beramal demi kejayaan Islam dan kaum muslimin? Dosa, noda, dan maksiat itu? Ketahuilah, jika kau diam saja, tidak beramal karena merasa belum pantas berjuang, masih jauh dari sempurna, maka daftar noda dan maksiat itu semakin bertambah. Itulah tipu daya setan atas anak Adam, mereka menghalangi manusia dari berjuang dan hidup bersama para pejuang, dengan menciptakan keraguan di dalam hati manusia dengan menjadikan dosa-dosanya sebagai alasan.

Saudaraku …

Hilangkan keraguanmu, karena Rabbmu yang Maha Pengampun telah berfirman:

إِنَّ الْحَسَنَاتِ يُذْهِبْنَ السَّيِّئَاتِ

Sesungguhnya kebaikan-kebaikan akan menghapuskan keburukan-keburukan. (QS. Hud: 114)

Hilangkan pula kebimbanganmu, karena kekasih hati tercinta, Nabi-Nya yang mulia –Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam– telah bersabda:

وَأَتْبِعِ السَّيِّئَةَ الْحَسَنَةَ تَمْحُهَا

Ikutilah perbuatan burukmu dengan perbuatan baik, niscaya itu akan menghapuskannya. (HR. At Tirmidzi No. 1987, katanya: hasan shahih. Ahmad No. 21354, 21403, 21487, 21536, 21988, 22059, Ath Thabarani dalam Al Mu’jam Al Kabir No. 296, 297, 298, juga Al Mu’jam Ash Shaghir No. 530, Ad Darimi No. 2833, Al Hakim dalam Al Mustadrak No. 178, katanya: “Shahih, sesuai syarat Al Bukhari dan Muslim.” Disepakati oleh Imam Adz DZahabi dalam At Talkhish. Sementara Syaikh Syu’aib Al Arnauth dan Syaikh Al Albani menghasankannya dalam kitab mereka masing-masing)

Saudaraku …

Tidak usah berkecil hati dan jangan putus asa, sungguh agama mulia ini pernah dimenangkan oleh orang mulianya dan para fajir (pelaku dosa)nya. Semuanya mengambil bagian dalam gerbong caravan pejuang Islam. Imam Al Bukhari telah membuat Bab dalam kitab Shahihnya, Innallaha Yu’ayyidu Ad Diin bir Rajul Al Faajir (Sesungguhnya Allah akan menolong agama-Nya melalui seseorang yang fajir). Ya, kadang ada pelaku maksiat, seorang fajir, justru dia melakukan aksi-aksi nushrah (pertolongan) terhadap agamanya, dibanding laki-laki yang shalih. Semoga aksi-aksi nushrah tersebut bisa merubahnya dari perilaku buruknya, dan dia bisa mengambil pelajaran darinya sampai dia berubah menjadi orang shalih yang berjihad, bukan lagi orang fajir yang berjihad.

Saudaraku … Ada Abu Mihjan!!

Kukisahkan kepadamu tentang Abu Mihjan Radhiallahu ‘Anhu. Ditulis dengan tinta emas para ulama Islam, di antaranya Imam Adz Dzahabi dalam Siyar A’lamin Nubala pada Bab Sirah Umar Al Faruq. (2/448. Darul Hadits, Kairo), juga Usudul Ghabah-nya Imam Ibnul Atsir. (6/271. Darul Kutub Al ‘Ilmiyah)

Beliau adalah seorang laki-laki yang sangat sulit menahan diri dari khamr (minuman keras). Beliau sering dibawa kepada Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam untuk diterapkan hukum cambuk (Jild) padanya karena perbuatannya itu. Bahkan Ibnu Jarir menyebutkan Abu Mihjan tujuh kali dihukum cambuk. Tetapi, dia adalah seorang laki-laki yang sangat mencintai jihad, perindu syahid, dan hatinya gelisah jika tidak andil dalam aksi-aksi jihad para sahabat nabi Radhiallahu ‘Anhum.

Hingga datanglah perang Al Qadisiyah yang dipimpin oleh Sa’ad bin Abi Waqash Radhiallahu ‘Anhumelawan Persia, pada masa pemerintahan Khalifah Umar Radhiallahu ‘Anhu. Abu Mihjan ikut andil di dalamnya, dia tampil gagah berani bahkan termasuk yang paling bersemangat dan banyak membunuh musuh. Tetapi, saat itu dia dikalahkan keinginannya untuk meminum khamr, akhirnya dia pun meminumnya. Maka, Sa’ad bin Abi Waqash menghukumnya dengan memenjarakannya serta melarangnya untuk ikut jihad.

Di dalam penjara, dia sangat sedih karena tidak bisa bersama para mujahidin. Apalagi dari dalam penjara dia mendengar suara dentingan pedang dan teriakan serunya peperangan, hatinya teriris, ingin sekali dia membantu kaum muslimin melawan Persia yang Majusi. Hal ini diketahui oleh istri Sa’ad bin Abi Waqash yang bernama Salma, dia sangat iba melihat penderitaan Abu Mihjan, menderita karena tidak dapat ikut berjihad, menderita karena tidak bisa berbuat untuk agamanya! Maka, tanpa sepengetahuan Sa’ad -yang saat itu sedang sakit, dan dia memimpin pasukan melalui pembaringannya, serta mengatur strategi di atasnya- Beliau membebaskan Abu Mihjan untuk dapat bergabung dengan para mujahidin. Abu Mihjan meminta kepada Salma kudanya Sa’ad yaitu Balqa dan juga senjatanya. Beliau berjanji, jika masih hidup akan mengembalikan kuda dan senjata itu, dan kembali pula ke penjara. Sebaliknya jika wafat memang itulah yang dia cita-citakan.

Abu Mihjan berangkat ke medan tempur dengan wajah tertutup kain sehingga tidak seorang pun yang mengenalnya. Dia masuk turun ke medan jihad dengan gesit dan gagah berani. Sehingga Sa’ad memperhatikannya dari kamar tempatnya berbaring karena sakit dan dia takjub kepadanya, dan mengatakan: “Seandainya aku tidak tahu bahwa Abu Mihjan ada di penjara, maka aku katakan orang itu pastilah Abu Mihjan. Seandainya aku tidak tahu di mana pula si Balqa, maka aku katakan kuda itu adalah Balqa.”

Sa’ad bin Abi Waqash bertanya kepada istrinya, dan istrinya menceritakan apa yang terjadi sebenarnya pada Abu Mihjan, sehingga lahirlah rasa iba dari Sa’ad kepada Abu Mihjan.

Perang usai, dan kaum muslimin menang gilang gemilang. Abi Mihjan kembali ke penjara, dan dia sendiri yang memborgol kakinya, sebagaimana janjinya. Sa’ad bin Waqash Radhiallahu ‘Anhu mendatanginya dan membuka borgol tersebut, lalu berkata:

لا نجلدك على خمر أبدا فقال: وأنا والله لا أشربها أبدا

Kami tidak akan mencambukmu karena khamr selamanya. Abu Mihjan menjawab: “Dan Aku, Demi Allah, tidak akan lagi meminum khamr selamanya!”

Saudaraku ….

Sangat sulit bagi kita mengikuti dan menyamai Abu Bakar, Umar, Utsman, Ali dan para sahabat nabi yang mulia, Radhiallahu ‘Anhum. Tetapi, paling tidak kita masih bisa seperti Abu Mihjan, walau dia pelaku maksiat namun masih memiliki ghirah kepada perjuangan agamanya, dan ikut hadir dalam deretan nama-nama pahlawan Islam. Semoga Allah Ta’ala memasukkan kita ke dalam deretan para pejuang agama-Nya, mengikhlaskan, dan memberikan karunia syahadah kepada kita. Amin.

Wallahu A’lam.

Sumber: ustadzfarid.com

( Farid Nu’man Hasan )

MALAS BERDAKWAH


MALAS BERDAKWAH

بسم الله الرحمن الرحيم

اَلْكَسَلُ اَلدَّعَوِيُّ

Malas Berdakwah

الشيخ: مراد بن أحمد القدسي

Syekh Murad bin Ahmad al-Qudsi

السلام عليكم ورحمة الله

مِنَ الْمَعْلُوْمِ أَنَّ الدَّعْوَةَ إِلَى اللهِ تَعَالَى مِنْ أَعْظَمِ الْقُرُبَاتِ،

Telah diketahui bahwa berdakwah dalam arti mengajak manusia kepada Allah SWT termasuk amal ibadah yang sangat agung,

لِمَا ثَبَتَ فِيْ فَضْلِهَا مِنَ الْفَضَائِلِ وَالْأُجُوْرِ، وَلِمَا فِيْهَا مِنَ النَّفْعِ لِلْمُسْلِمِيْنَ، وَلِمَا فِيْهَا مِنْ تَقْلِيْلِ الشُّرُوْرِ وَالْفَسَادِ فِي الْأَرْضِ، وَلِمَا فِيْهَا مِنْ بَيَانِ فَسَادِ الْمُفْسِدِيْنَ وَتَبْيِيْنِ حَقَائِقِهِمْ لِلنَّاسِ، وَلِمَا فِيْهَا مِنْ تَعْلِيْمِ النَّاسِ أُمُوْرَ الدِّيْنِ، وَلِمَا فِيْهَا مِنْ إِقَامَةِ الْحُجَّةِ وَالْأَعْذَارِ إِلَى اللهِ.

Yang demikian ini karena:

  1. Banyak dalil yang menjelaskan tentang keutamaan dan pahala yang besar dalam berdakwah.
  2. Dakwah juga memberi banyak manfaat bagi kaum muslimin.
  3. Dakwah juga berfungsi meminimalisir keburukan dan kerusakan di muka bumi.
  4. Juga berfungsi untuk menjelaskan kerusakan pihak-pihak yang merusak dan menjelaskan berbagai fakta kepada manusia.
  5. Juga berguna untuk memberi pengajaran berbagai urusan agama kepada manusia.
  6. Dan tentunya, berdakwah merupakan satu bentuk penegakan hujjah dan alasan kepada Allah SWT.

وَفِيْ وَاقِعِنَا الْيَوْمَ نُشَاهِدُ ضَعْفًا وَتَوَانِيَ فِي الدَّعْوَةِ، وَعَدَمَ ابْتِكَارٍ فِيْ وَسَائِلِهَا، وَعَدَمَ مُمَارَسَةِ الدَّعْوَةِ بِشَكْلٍ دَائِمٍ وَمُسْتَمِرٍّ وَفَاعِلِيَّةٍ.

Sayangnya, menyaksikan kenyataan sekarang ini, kita menyaksikan adanya kelemahan dan sikap ogah-agahan dalam berdakwah, tiadanya kreatifitas, dan aktifitas dakwah yang terhenti dan atau tidak lagi efektif.

فَكَانَ الْحَدِيْثُ عَنْ هَذَا الْمَوْضُوْعِ “اَلْكَسَلِ اَلدَّعَوِيِّ” وَفِيْهِ مَبَاحِثُ:

مَفْهُوْمُهُ

مَظَاهِرُ الْكَسَلِ اَلدَّعَوِيِّ

أَسْبَابُهُ

آثَارُهُ

عِلَاجُهُ

Untuk inilah makalah ini hendak berbicara tentang kemalasan dalam berdakwah yang mencakup:

  1. Pengertian malas dalam berdakwah.
  2. Gejala dan tanda-tanda malas dalam berdakwah.
  3. Sebab-sebab malas dalam berdakwah.
  4. Dampak dan pengaruh malas dalam berdakwah.
  5. Terapi terhadap penyakit malas dalam berdakwah.
(1) مَفْهُوْمُهُ:

هُوَ ضَعْفُ الاِنْدِفَاعِ الذَّاتِيِّ وَالْجَمَاعِيِّ فِيْ مَجَالِ الْأَنْشِطَةِ الدَّعَوِيَّةِ الْمُخْتَلِفَةِ.

Pertama: Pengertian Malas dalam Berdakwah

Melemahnya motivasi baik bersifat personal maupun kolektif di berbagai bidang aktifitas dakwah.

(2) مَظَاهِرُ الْكَسَلِ الدَّعَوِيِّ:

Kedua: Gejala dan Tanda-Tanda Malas Berdakwah

– اَلتَّأَخُّرُ عَنْ أَدَاءِ الْمُهِمَّةِ الْمُنَاطَةِ بِنَا

  1. Terlambat dalam mengerjakan tugas dakwah yang diberikan kepadanya

– عَدَمُ الْحِرْصِ عَلَى الدَّعْوَةِ أَوِ النَّدَمُ عَلَى فَوَاتِهَا

  1. Hilangnya semangat berdakwah, atau tidak adanya penyesalan atas hilangnya peluang dakwah

– عَدَمُ الْجِدِّيَّةِ وْالْفَاعِلِيَّةِ فِي الْمَنَاشِطِ الدَّعَوِيَّةِ

  1. Tidak bersungguh-sungguh dan tidak aktif dalam berbagai aktifitas dakwah

– اِخْتِلَاقُ الْأَعْذَارِ فِيْ حَالِ الْمُحَاسَبَةِ

  1. Membuat-buat alasan saat dievaluasi

– اَلتَّفَاعُلُ مَعَ الْحَدِّ الْأَدْنَى مِنَ الْأَنْشِطَةِ اَلْمَطْلُوْبَةِ

  1. Berinteraksi dengan batas minimal terhadap aktifitas yang diminta

– إِهْمَالُ الْأَنْشِطَةِ إِلَّا عِنْدَ اللَّوْمِ

  1. Mengabaikan berbagai aktifitas kecuali saat dicela

– فِي الْأَنْشِطَةِ الَّتِيْ لَا يَعْرِفُهَا الدَّاعِيَةُ لَا يَحْرِصُ بِالسُّؤَالِ عَنْهَا

  1. Terkait berbagai kegiatan yang tidak dikenal, tidak ada semangat untuk sekedar menanyakannya

– عَدَمُ الْحِرْصِ فِي التَّغْيِيْرِ إِلَى الْأَفْضَلِ فِي الْأَنْشِطَةِ غَيْرِ الْمُثْمِرَةِ وَالاِكْتِفَاءِ بِالْقَدِيْمِ الْعَتِيْقِ

  1. Tidak ada semangat untuk melakukan perubahan kepada yang lebih baik, padahal aktifitas yang dilakukan terbukti tidak produktif, dan berpuas diri dengan yang lama yang tidak produktif itu

– تَثْبِيْطُ الْآخَرِيْنَ عَنِ التَّفَاعُلِ مَعَ الْأَنْشِطَةِ.

  1. Menggembosi yang lain agar mereka tidak interaktif terhadap berbagai aktifitas dakwah

(3) أَسْبَابُ الْكَسَلِ اَلدَّعَوِيِّ:

Ketiga: Sebab-Sebab Malas dalam Berdakwah

– اَلضَّعْفُ فِيْ مَعْرِفَةِ فَضَائِلِ الدَّعْوَةِ وَاسْتِشْعَارِ أَهَمِّيَّتِهَا

  1. Melemahnya pengetahuan terhadap keutamaan dan urgensi berdakwah

– غِيَابُ الْأَهْدَافِ الدَّعَوِيَّةِ أَوْ عَدَمُ الْوُضُوْحِ فِيْهَا

  1. Sirnanya tujuan-tujuan dakwah atau minimal ketidak jelasan tujuan-tujuan dakwah

– قِلَّةُ التَّكَالِيْفِ الْمُنَاطَةِ بِالدُّعَاةِ، فَيَجْعَلُهُ يَنْشَغِلُ بِالْمُبَاحَاتِ، مِمَّا يَجْعَلُهُ يَأْلَفُ هَذَا الْوَضْعَ، وَيُشْغِلُهُ عَنِ التَّحَرُّكِ فِيْ أُمُوْرِ الدَّعْوَةِ

  1. Minimnya tugas yang dibebankan kepada para aktifis dakwah, sehingga mereka tersibukkan oleh hal-hal mubah, lalu mereka menjadi terbiasa dengan keadaan ini, selanjutnya mereka lupa untuk bergerak dalam berbagai urusan dakwah

– حُدُوْثُ بَعْضِ النَّتَائِجِ السَّلْبِيَّةِ بَعْدَ أَدَاءِ الْأَعْمَالِ الدَّعَوِيَّةِ تُسَبِّبُ لِلْبَعْضِ إِحْبَاطًا أَوْ عُزُوْفًا عَنِ الْعَمَلِ

  1. Terjadinya hasil-hasil negative dari kerja-kerja dakwah, sehingga menyebabkan sebagian aktifis putus asa, atau ogah-ogahan untuk bekerja lagi

– قِلَّةُ الْمُشَارَكَةِ مِنَ الْكَثِيْرِ مِنَ الدُّعَاةِ، مِمَّا يُشْعِرُ النَّاشِطَ مِنْهُمْ بِثِقَلِ التَّكَالِيْفِ الَّتِيْ يَتَحَمَّلُهَا وَحْدَهُ، مِمَّا يَحْدُوْ بِهِ كَرَدِّ فِعْلٍ لِعَدَمِ التَّفَاعُلِ مِثْلَهُ وَمِثْلَ الْآخَرِيْنَ

  1. Sedikitnya partisipasi aktifis dakwah lainnya, sehingga yang masih aktif merasa keberatan beban, dan sebagai reaksinya, iapun mengikuti yang lain.

– تَعَجُّلُ قَطْفِ الثِّمَارِ يَجْعَلُ الْكَثِيْرَ – وَكَرَدَّةِ فِعْلٍ – يُفَضِّلُوْنَ الاِبْتِعَادَ عَنِ الْمُشَارَكَةِ وَالْعَمَلِ الْجَادِّ

  1. Terburu-buru untuk memetik hasil kerja dakwah, dan sebagai reaksinya, banyak yang memilih untuk menjauh dari partisipasi dakwah dan kerja-kerja serius

– ضَعْفُ الْجَانِبِ الْإِيْمَانِيِّ وَالْقَنَاعَاتِ فِي الدَّعْوَةِ، وَجَعْلُهَا كَأَنَّهَا وَظِيْفَةٌ تُؤَدَّى وَيَتَقَاضَى عَلَيْهَا مُكَافَأَةً أَوْ رَاتِبًا

  1. Melemahnya sisi keimanan dan qana’ah da’awiyah, serta menjadikan dakwah seakan-akan profesi yang menghasilkan uang

– اَلاِنْشِغَالُ بِالدُّنْيَا وَالْإِغْرَاقُ فِيْهَا عَلَى حِسَابِ الدَّعْوَةِ

  1. Tersibukkan oleh urusan dunia dan tenggelam di dalamnya dengan mengabaikan dakwah

– اَلْمَلَلُ مِنَ الرُّوْتِيْنِ اَلْمُتَكَرِّرِ وَعَدَمِ التَّجْدِيْدِ فِي الْمَنَاشِطِ، وَالنَّفْسُ بِطَبْعِهَا تُحِبُّ التَّجْدِيْدَ

  1. Bosan terhadap rutinitas dan tiadanya pembaharuan dalam berbagai aktifitas dakwah, padahal, jiwa manusia menyukai hal-hal baru

– اَلتَّأَثُّرُ بِالْكُسَالَى وَالْمُثَبِّطِيْنَ فِي الدَّعْوَةِ إِلَى اللهِ تَعَالَى

  1. Terpengaruh oleh meraka yang malas dan oleh pihak-pihak yang menggembosi dalam berdakwah

– تَسَنُّمُ الْبَعْضِ قَافِلَةَ الدَّعْوَةِ قَبْلَ النُّضُوْجِ وَتَكْوِيْنِ الْقُدُرَاتِ الْكَافِيَةِ فِي النَّفْسِ لِتَحَمُّلِ أَعْبَاءِ الدَّعْوَةِ

  1. Ada yang “naik pangkat” dalam kafilah dakwah sebelum matang dan sebelum terbentuk berbagai kemampuannya untuk memikul berbagai beban dakwah

– اَلاِخْتِلَافُ وَالتَّفَرُّقُ وَكَثْرَةُ وِجْهَاتِ النَّظَرِ، مِمَّا قَدْ يُسَبِّبُ الاِبْتِعَادَ عَنِ الْعَمَلِ خَوْفًا مِنَ الزَّلَلِ، وَخَوْفًا مِنَ التَّصْنِيْفِ أَوِ الاِتِّهَامِ

  1. Adanya perbedaan, perpecahan dan berbagai sudut pandang, hal yang menyebabkan seorang aktifis dakwah menjauhi kerja dakwah karena takut salah, takut di-tashnif (dikelompokkan) atau takut terkena tuduhan

مِنَ الْأَسْبَابِ مِنْ قَادَةِ الدَّعْوَةِ

Sebab Malas Berdakwah Akibat dari Pimpinan

– ضَعْفُ الْمُتَابَعَةِ مِنْ قِبَلِ الْمَسْئُوْلِيْنَ، مِمَّا يَجْعَلُ الْأَفْرَادَ يَشْعُرُوْنَ بِعَدَمِ أَهَمِّيَّتِهِمْ أَوْ عَدَمِ تَنَبُّهِهِمْ عَلَى الْقُصُوْرِ أَوَّلًا بِأَوَّلٍ

  1. Lemahnya mutabaah para pimpinan, hal yang menjadikan setiap aktifis merasa dirinya tidak penting, atau tidak menyadari adanya kelemahan

– عَدَمُ التَّقْدِيْرِ وَالتَّشْجِيْعِ يَجْعَلُ الْبَعْضَ يَشْعُرُ بِأَنَّهُ سَوَاءٌ عَمِلَ أَوْ لَمْ يَعْمَلْ، فَالْأَمْرُ سِيَانِ

  1. Tidak adanya penghargaan dan motivasi, hal yang menyebabkan sebagian aktifis dakwah merasa bahwa antara dia bekerja dan tidak bekerja sama saja

– اَلتَّصَرُّفُ الْخَاطِئُ فِيْ إِعْدَادِ الْمَنَاشِطِ وَأَسَالِيْبِ تَفْعِيْلِهَا مِنْ قِبَلِ الْقَادَةِ، مِمَّا يَجْعَلُ الدُّعَاةَ لَا يَنْظُرُوْنَ إِلَى قُدْوَةٍ أَمَامَهُمْ يَقْتَدُوْنَ بِهِ.

  1. Adanya perilaku yang salah dari pimpinan dalam mempersiapkan berbagai aktifitas dan cara-cara efektifitasnya, hal yang menjadikan para aktifis dakwah tidak melihat adanya sosok teladan di hadapan mereka

(4) آثَارُ الْكَسَلِ الدَّعَوِيِّ:

Keempat: Dampak dan Pengaruh Malas Berdakwah

– اَلتَّأَخُّرُ فِيْ إِنْجَازِ الْمُهِمَّاتِ الدَّعَوِيَّةِ، مِمَّا يَحْتَاجُ إِلَى جُهْدٍ أَكْبَرَ وَفِيْ وَقْتٍ أَطْوَلَ

  1. Keterlambatan dalam menyelesaikan berbagai tugas dakwah, sehingga memerlukan tambahan tenaga yang lebih besar dan waktu yang lebih lama

– اِخْتِلَاقُ الْأَعْذَارِ عِنْدَ الْمُحَاسَبَةِ مِمَّا يُؤَنِّبُ ضَمِيْرَ الدَّاعِيَةِ مُسْتَقْبَلًا

  1. Membuat-buat alasan saat dievaluasi, hal yang membuat nurani seorang aktifis dakwah terasa tergores di masa depan

– تَوَقُّفُ الدَّعْوَةِ عِنْدَ حَدٍّ مُعَيَّنٍ مِنَ الْوَسَائِلِ وَعَدَمُ ابْتِكَارِ وَسَائِلَ جَدِيْدَةٍ بِسَبَبِ أَنَّ الْوَسَائِلَ الْقَدِيْمَةَ لَمْ تُنَفَّذْ بَعْدُ

  1. Dakwah hanya terpaku pada sarana tertentu dan tidak ada inovasi memunculkan sarana dakwah baru, dengan alasan, sarana yang lama saja belum terlaksana

– سَعَةُ الْهُوَّةِ بَيْنَ الدُّعَاةِ وَبَيْنَ الْجِهَةِ الْمَسْئُوْلَةِ عَنْهُمْ بِسَبَبِ الْمُتَابَعَةِ وَالتَّقْوِيْمِ، مِمَّا يَفْتَحُ الْمَجَالَ لِلتَّرَاشُقِ بِالْكَلِمَاتِ اللَّامَسْئُوْلَةِ

  1. Adanya gap yang terlalu jauh antara aktifis dakwah dengan pimpinanya dikarenakan faktor mutabaah dan evaluasi, hal yang membuka celah untuk saling menyerang dengan tanpa tanggung jawab

– تَأَخُّرُ تَحْقِيْقِ النَّتَائِجِ الْمَرْجُوَّةِ مِنَ الدَّعْوَةِ إِلَى اللهِ تَعَالَى

  1. Terlambatnya perealisasian hasil yang diharapkan dari aktifitas berdakwah

– تَسَلُّطُ أَعْدَاءِ الدَّعْوَةِ عَلَى الدَّعْوَةِ وَالدُّعَاةِ، فَمَنْ لَا يُهَاجِمُ لَا بُدَّ أَنْ يُهَاجَمُ.

  1. Hegemoni musuh-musuh dakwah terhadap dakwah dan para aktifitsnya, sebab “siapa yang tidak menyerang pasti diserang”.

(5) عِلَاجُ الْكَسَلِ الدَّعَوِيِّ:

Kelima: Terapi terhadap Kemalasan Berdakwah

1 – مِمَّا يَجْعَلُ الدَّاعِيَةَ يَتَفَاعَلُ مَعَ دَعْوَتِهِ: مَعْرِفَةُ مَا لَهُ مِنْ أَجْرٍ إِذَا قَامَ بِهَا، أَوِ التَّعَرُّفُ عَلَى أَهَمِّيَّةِ الدَّعْوَةِ.

وَأُجُوْرُ الدَّعْوَةِ تَكْمُنُ فِي الْآتِيْ:

  • Diantara hal-hal yang menjadikan seorang da’i aktif dalam berdakwah adalah mengetahui pahala yang akan didapatnya, atau mengetahui urgensi berdakwah.

Pahala-pahala berdakwah dapat dijelaskan sebagai berikut:

– أَنَّهَا مِنْ هَدْيِ الرَّسُوْلِ – صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – وَأَتْبَاعِهِ، قَالَ تَعَالَى: {قُلْ هَذِهِ سَبِيلِي أَدْعُو إِلَى اللَّهِ عَلَى بَصِيرَةٍ أَنَا وَمَنِ اتَّبَعَنِي} [يوسف: 108]

  • Bahwasanya dakwah itu adalah jalan hidayah para rasul dan para pengikutnya. Allah SWT berfirman: Katakanlah (wahai Muhammad): inilah jalanku, aku dan orang-orang yang mengikutiku mengajak (kamu) kepada Allah dengan yakin (QS. Yusuf: 108).

– أَنَّ فَاعِلَهَا مِنْ أَحْسَنِ النَّاسِ قَوْلًا، قَالَ تَعَالَى: {وَمَنْ أَحْسَنُ قَوْلاً مِّمَّن دَعَا إِلَى اللَّهِ وَعَمِلَ صَالِحاً وَقَالَ إِنَّنِي مِنَ المُسْلِمِينَ} [فصلت:33].

  • Bahwasanya pelaku dakwah adalah orang yang paling baik perkataannya. Allah SWT berfirman: Dan siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah dan mengerjakan kebajikandan berkata: Sungguh aku termasuk orang-orang muslim (yang berserah diri) (QS. Fushshilat: 33).

– رَوَى التِّرْمِذِيُّ مِنْ حَدِيْثِ أَبِيْ أُمَامَةَ: »إِنَّ اللهَ وَمَلَائِكَتَهُ وَأَهْلَ السَّمَوَاتِ وَالْأَرْضِ، حَتَّى النَّمْلَةَ فِيْ جُحْرِهَا، وَحَتَّى الْحُوْتَ، لَيُصَلُّوْنَ عَلَى مُعَلِّمِ النَّاسِ الْخَيْرَ«. وَتَسَاءَلَ أَهْلُ الْعِلْمِ عَنْ سَبَبِ دُعَاءِ هَؤُلَاءِ وَمِنْهُمُ النَّمْلَةُ وَالْحُوْتُ؟ فَأَجَابُوْا: قَالَ ابْنُ قُدَامَةَ: “أَنَّ نَفْعَ الْعِلْمِ يَعُمُّ كُلَّ شَيْءٍ حَتَّى الْحُوْتَ، فَإِنَّ الْعُلَمَاءَ عُرِفُوْا بِالْعِلْمِ وَمَا يَحِلُّ وَيَحْرُمُ، وَأَوْصُوْا بِالْإِحْسَانِ إِلَى كُلِّ شَيْءٍ حَتَّى إِلَى الْمَذْبُوْحِ وَالْحُوْتِ، فَأَلْهَمَ اللهُ تَعَالَى اْلكُلَّ اَلاِسْتِغْفَارَ لَهُمْ؛ جَزَاءً لِحُسْنِ صَنِيْعِهِمْ”.

At-Tirmidzi meriwayatkan dari hadits Abu Umamah (RA): Sesungguhnya Allah SWT, para malaikat, dan seluruh penghuni langit dan bumi, termasuk semut di dalam lubangnya, dan termasuk ikan di lautan, sungguh mereka mengucapkan shalawat kepada orang yang mengajatkan kebaikan kepada manusia.

Para ulama bertanya tentang sebab yang melatar belakangi do’a mereka, termasuk do’a semut dan ikan di lautan?

Ibnu Qudamah berkata: bahwasanya manfaat ilmu itu meliputi apa saja, termasuk ikan di lautan, sebab para ulama dikenal sebagai orang yang berilmu yang mengetahui apa yang halal dan apa yang haram. Merekalah yang selalu berpesan agar berbuat baik kepada segala sesuatu, termasuk kepada binatang yang disembelih dan kepada ikan, oleh karena itu, Allah SWT mengilhamkan kepada semuanya agar mereka beristighfar untuk para ulama’, sebagai balasan atas perbuatan mereka yang sangat baik.

رَوَى مُسْلِمٌ مِنْ حَدِيْثِ أَبِيْ هُرَيْرَةَ – رَضِيَ اللهُ عَنْهُ – : »مَنْ دَعَا إِلَى الْهُدَى كَانَ لَهُ مِنَ الْأَجْرِ مِثْلُ أُجُوْرِ مَنْ تَبِعَهُ«. رَوَى الْبُخَارِيْ مِنْ حَدِيْثِ سَهْلٍ: قَالَ الرَّسُوْلُ – صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – لِعَلِيٍّ: »لَأَنْ يَهْدِيَ اللهُ بِكَ رَجُلًا وَاحِدًا خَيْرٌ لَكَ مِنْ حُمْرِ النَّعَمِ«.

Imam Muslim meriwayatkan dari Abu Hurairah (RA): Siapa yang mengajak kepada jalan hidayah, maka untuknya pahala seperti yang didapat oleh orang-orang yang mengikutinya.

Imam Bukhari meriwayatkan dari hadits Sahl, Rasulullah SAW bersabda kepada Ali bin Abi Thalib (RA): Sungguh, Allah SWT memberikan hidayah kepada satu orang disebabkan olehmu, itu lebih baik bagimu daripada unta merah.

وَأَمَّا أَهَمِّيَّةُ الدَّعْوَةِ فَتَكْمُنُ فِي الْآتِيْ:

Adapun urgensi berdakwah, dapat dijelaskan sebagai berikut:

أ- أَنَّ فِيْهَا تَثْبِيْتَ الدَّاعِيَةِ عَلَى الصِّرَاطِ الْمُسْتَقِيْمِ وَمَا يُحَصِّلُهُ مِنْ أُجُوْرٍ عَظِيْمَةٍ مِنَ الدَّعْوَةِ.

  • Bahwa berdakwah itu memberikan tatsbit (keteguhan) kepada sang da’i untuk tetap berada di atas jalan yang lurus disamping pahala besar yang didapatkannya.

ب- لِأَنَّهَا الطَّرِيْقُ الْأَمْثَلُ فِي الْأَمْرِ بِالْمَعْرُوْفِ وَالنَّهْيِ عَنِ الْمُنْكَرِ

  • Bahwa dakwah merupakan cara paling ideal dalam penegakan amar ma’ruf nahi munkar.

جـ- وَلِأَنَّهَا أَعْظَمُ طَرِيْقٍ لِبَيَانِ مُخَطَّطَاتِ الْأَعْدَاءِ دَاخِلِيًّا وَخَارِجِيًّا حَوْلَ الْإِسْلَامِ وَالْمُسْلِمِيْنَ

  • bahwa berdakwah itu merupakan cara paling agung untuk menjelaskan konspirasi musuh-musuh Islam dan kaum muslimin, baik musuh dari dalam maupun dari luar

د- وَلِأَنَّ فِيْهَا بَيَانَ الشَّرِيْعَةِ لِلنَّاسِ وَأَحْكَامِهَا، وَرَفْعَ الْجَهْلِ عَنْهُمْ، وَرُجُوْعَ النَّاسِ إِلَى الدِّيْنِ وَالْعَمَلِ بِهِ

  • Bahwa dengan berdakwah seorang da’i dapat menjelaskan tentang syari’at Islam dan ajaran-ajarannya, menghapus kebodohan, mengembalikan manusia kepada agama dan pengamalannya.

هـ- وَلِأَنَّهَا مِنَ الطُّرُقِ فِيْ إِقَامَةِ حُجَّةِ اللهِ عَلَى عِبَادِهِ وَالْإِعْذَارِ إِلَيْهِ سُبْحَانَهُ

  • Berdakwah merupakan cara menegakkan hujjah Allah SWT kepada para hamba-Nya, dan merupakan bentuk pembelaan di hadapan Allah SWT

و- وَلِأَنَّهَا مِنْ وَسَائِلِ نُصْرَةِ الْمُسْلِمِيْنَ عَلَى أَعْدَائِهِمْ وَتَلَاحُمِ الصَّفِّ بَيْنَهُمْ.

  • Bahwa berdakwah merupakan satu sarana untuk menolong kaum muslimin dari para musuhnya, juga merupakan satu cara untuk merapatkan barisan kaum muslimin

2 – مِمَّا يُعِيْنُ عَلَى النَّشَاطِ الدَّعَوِيِّ وُضُوْحُ الْهَدَفِ مِنْهَا، وَتَنْقَسِمُ إِلَى قِسْمَيْنِ:

  1. Diantara membantu seorang da’i untuk aktif dalam berdakwah adalah adanya tujuan yang jelas.

Ada dua bentuk tujuan:

أ- اَلْهَدَفُ الْعَامُّ: تَحْقِيْقُ رِضَا اللهِ تَعَالَى، وَهَذَا مِنْ شَأْنِهِ أَنْ يَجْعَلَ الدَّاعِيَةَ لَا يَهْدَأُ أَبَدًا حَتَّى يَتِمَّ هَذَا الْأَمْرُ أَوْ تَحْقِيْقُ الْعُبُوْدِيَّةِ للهِ تَعَالَى

  • Tujuan umum, yaitu mewujudkan ridha Allah SWT, atau mewujudkan penghambaan kepada-Nya.

Tujuan ini, jika sungguh-sungguh dilaksanakan, akan membuat seorang aktifis dakwah tidak akan pernah diam sebelum terwujudnya tujuan ini.

ب- اَلْهَدَفُ الْخَاصُّ “اَلْجُزْئِيُّ”: وَهُوَ الْهَدَفُ الْقَرِيْبُ مِنْ كُلِّ عَمَلٍ دَعَوِيٍّ مَهْمَا كَبُرَ أَوْ صَغُرَ، وَبَذْلُ الْجُهْدِ الْكَافِيِّ لِتَحْقِيْقِ الْوُصُوْلِ إِلَيْهِ

  • Tujuan khusus atau juz’iy, yaitu tujuan jangka pendek dari setiap kerja dakwah, betapapun besar atau kecilnya ia.

Tujuan ini menuntut seorang aktifis dakwah untuk mengerahkan jerih payah yang memadai demi upaya pencapaian dan perwujudannya.

3 – وَضْعُ الْبَرَامِجِ اَلْمُتَنَوِّعَةِ لِلدُّعَاةِ مِنْ قِبَلِ قِيَادَاتِ الدَّعْوَةِ، وَالْمُنَاقَشَةُ الْمُسْتَفِيْضَةِ حَوْلَ جَوَانِبِ الْخَلَلِ وَالْقُصُوْرِ فِيْهَا، وَمُوَاكَبَةُ الْعَصْرِ وَإِعْطَاءُ جَوَانِبَ إِبْدَاعِيَّةٍ مُتَجَدِّدَةٍ حَتَّى لَا نَقَعَ فِيْ قِلَّةِ التَّكَالِيْفِ، وَالَّتِيْ تَدْعُوْ إِلَى الرُّكُوْنِ وَالدَّعَةِ

  1. Perlunya qiyadah menyiapkan berbagai macam program untuk para aktifis dakwah, melakukan berbagai diskusi yang luas dan mendalam untuk melihat berbagai celah dan kelemahan, dan untuk mengikuti berbagai perkembangan zaman, memunculkan berbagai kreasi dan inovasi yang selalu terupdate, agar para aktifis dakwah tidak kekurangan tugas, kekurangan yang dapat membuat mereka bersantai.

4 – لَا تَنْتَظِرِ النَّتَائِجِ: قَالَ تَعَالَى: {وَمَا عَلَيْكَ أَلاَّ يَزَّكَّى} [عبس: 7]، وَقَالَ تَعَالَى: {وَمَا عَلَى الرَّسُولِ إِلاَّ البَلاغُ المُبِينُ} [النور: 54]، وَعَلَيْنَا بَذْلُ كُلِّ الْأَسْبَابِ اَلْمُؤَدِّيَةِ إِلَى الثِّمَارِ الْمَرْجُوَّةِ، فَإِنْ حَصَلَتْ فَلْنَحْمَدِ اللهَ، وَإِنْ تَأَخَّرَتْ أَوْ تَخَلَّفَتْ فَالْأَسْبَابُ يَعْلَمُهَا اللهُ، وَلَسْنَا مُحَاسَبِيْنَ عَلَى ذَلِكَ، وَلَا لَوْمَ عَلَيْنَا

  1. Jangan menunggu hasil. Allah SWT berfirman: Padahal tidak ada (cela) atasmu kalau dia tidak menyucikan diri (beriman) (QS. Abasa: 7). Juga berfirman: Kewajiban Rasul hanyalah menyampaikan (amanat Allah) dengan jelas (QS. An-Nur: 54).

Untuk itu, para aktifis dakwah berkewajiban untuk mengupayakan berbagai sebab yang dapat mengantarkan kepada hasil yang diharapkan. Jika berhasil, Alhamdulillah, dan jika ada kelambatan, atau meleset, maka, sebab dan rahasianya ada di sisi Allah SWT, dan para aktifis dakwah itu tidaklah dihisab atas hal itu dan tidak dicela.

5- فَتْحُ مَجَالَاتِ النَّصِيْحَةِ بَيْنَ الْعَامِلِيْنَ فِيْ حَقْلِ الدَّعْوَةِ لِتَنْشِيْطِ الْكُسَالَى، وَإِعَانَةِ الْعَامِلِيْنَ، وَعَدَمِ الاِرْتِكَازِ عَلَى شَخْصِيَّاتٍ مُعَيَّنَةٍ، فَإِنَّ هَذَا يَتَنَافَى مَعَ التَّجْدِيْدِ فِيْ قِيَادَاتِ الدَّعْوَةِ

  1. Membuka ruang nasihat untuk sesama aktifis dakwah demi menggiatkan kembali mereka yang terkena penyakit malas, menolong dan membantu yang masih aktif serta tidak bertumpu kepada figure-figur tertentu, sebab, figuritas itu bertolak belakang dengan kemestian pembaharuan dalam kepemimpinan dakwah

6- اَلتَّوْبَةُ وَالاِسْتِغْفَارُ مِمَّا يُعِيْنُ الْمَرْءَ عَلَى تَحَمُّلِ مَشَاقِّ الدَّعْوَةِ وَمُمَارَسَةِ الدَّعْوَةِ بِاسْتِمْرَارٍ، فَإِنَّ هَذَا مِمَّا يُقَوِّي الْإِيْمَانَ وَيَزِيْدُهُ؛ لِهَذَا اِعْتَبَرَ عُلَمَاءُ الْإِسْلَامِ أَنَّ الدَّعْوَةَ مِنَ الْقُرُبَاتِ الَّتِيْ تُقَدَّمُ عَلَى الْعِبَادَاتِ الْقَاصِرَةِ كَنَوَافِلِ الصَّلَاةِ، مِمَّا يَدُلُّ عَلَى أَنَّهَا أَهَمُّ مِنْهَا، وَأَنَّهَا مِمَّا تَزِيْدُ الْإِيْمَانَ، ثُمَّ عَلَى الدَّاعِيَةِ أَنْ يَنْظُرَ لِجَوَانِبِ الْقُصُوْرِ عِنْدَهُ مِمَّا يُضْعِفُ إِيْمَانَهُ، فَيَهْتَمُّ بِإِصْلَاحِهِ حَتَّى لَا يَعُوْدَ عَلَى دَعْوَتِهِ بِالْكَسَلِ وَالتَّوَانِيْ

  1. Taubat dan istighfar sangat membantu seorang da’i untuk memikul beban dan kesulitan dakwah dan membuatnya kontinyu dalam menjalani aktifitas dakwah. Sebab keduanya memperkokoh keimanan dan menambahnya. Oleh karena inilah, para ulama Islam memandang bahwa berdakwah merupakan satu bentuk ibadah yang lebih didahulukan daripada ibadah-ibadah personal semisal shalat sunnat. Pandangan mereka ini menandakan bahwa berdakwah lebih penting daripada ibadah personal, dan bahwasanya berdakwah itu menambah keimanan. Lalu, seorang aktifis dakwah hendaklah memandang sisi-sisi kekurangan yang membuat keimanannya melemah, lalu memberi perhatian untuk memperbaikinya, agar tidak memberi dampak negative kepada dakwahnya yang berupa malas dan ogah-ogahan.

7- اَلتَّوَازُنُ بَيْنَ مَطَالِبِ الدَّاعِيَةِ الشَّخْصِيَّةِ وَدَعْوَتِهِ، فَلَا يَخْلِطُ بَيْنَ الْأَمْرَيْنِ، وَيَجْعَلُ لِكُلٍّ وَقْتَهَ الْمُنَاسِبَ، وَعَلَيْهِ أَنْ لَا يَتَطَلَّعَ إِلَى مَا لَدَى أَهْلِ الدُّنْيَا مِنْ تَرَفٍ وَسَعَةٍ فِي الرِّزْقِ. قَالَ تَعَالَى: {وَلاَ تَمُدَّنَّ عَيْنَيْكَ إِلَى مَا مَتَّعْنَا بِهِ أَزْوَاجاً مِّنْهُمْ زَهْرَةَ الحَيَاةِ الدُّنْيَا لِنَفْتِنَهُمْ فِيهِ وَرِزْقُ رَبِّكَ خَيْرٌ وَأَبْقَى} [طه: 131]. رَوَى الْبُخَارِيُّ وَمُسْلِمٌ مِنْ حَدِيْثِ أَبِيْ هُرَيْرَةَ – رَضِيَ اللهُ عَنْهُ – : »اُنْظُرُوْا إِلَى مَنْ هُوَ أَسْفَلُ مِنْكُمْ، وَلَا تَنْظُرُوْا إِلَى مَنْ هُوَ فَوْقَكُمْ، فَهُوَ أَجْدَرُ أَلَّا تَزْدِرُوْا نِعْمَةَ اللهِ عَلَيْكُمْ«.

  1. Tawazun antara kebutuhan pribadi dan tuntutan dakwah, tidak mencampur adukkan urusan keduanya, dan menetapkan waktu yang tepat untuk masing-masing urusan. Untuk itu, janganlah seorang aktifis dakwah mengincar dunia dengan segala gemerlapnya yang dimiliki oleh ahli dunia. Allah SWT berfirman: Dan janganlah engkau tujukan pandangan matamu kepada kenikmatan yang telah Kami berikan kepada beberapa golongan dari mereka, (sebagai) bunga kehidupan dunia, agar Kami uji mereka dengan (kesenangan) itu. Karunia Tuhanmu lebih baik dan lebih kekal (QS. Thaha: 131).

Imam Bukhari dan Muslim meriwayatkan dari hadits Abi Hurairah (RA): lihatlah kepada orang yang lebih rendah daripada kamu, dan jangan melihat yang lebih tinggi dari kamu, sebab, yang demikian ini lebih layak untuk tidak memandang remeh nikmat Allah SWT yang diberikan kepadamu.

8- فِي الْقِيَادَاتِ وَفِيْ أَقْسَامِهَا لَا بُدَّ مِنْ إِيْجَادِ جِهَةٍ، عَمَلُهَا مُتَابَعَةُ مَنَاشِطِ الدَّعْوَةِ وَإِيْجَادِ مَيَادِيْنَ أُخْرَى لِلاِنْطِلَاقِ بِهَا، وَعَدَمِ الاِكْتِفَاءِ بِالْمَنَاشِطِ الْحَالِيَةِ، حَتَّى نَفْتَحَ مَجَالَاتٍ رَحْبَةً لِكَسْبِ الْمَدْعُوِّيْنَ، وَلِإِبْعَادِ النُّفُوْسِ عَنِ الْمَلَلِ وَالسَّآمَةِ

  1. Pada jajaran qiyadah dan bidang-bidang yang ada, perlu ada satu bagian yang kerjanya melakukan:
  • Mutabaah terhadap berbagai aktifitas dakwah.
  • Memunculkan kegiatan-kegiatan dan inovasi baru, serta tidak mengkungkung diri dengan kegiatan-kegiatan yang selama ini sudah ada, demi terbukanya lahan baru nan luas untuk merekrut mad’u-mad’u baru, dan untuk menghindari munculnya kejenuhan dan kebosanan.

9- لَا بُدَّ مِنْ إِيْجَادِ مَحَاضِنَ عَلْمِيَّةٍ لِتَكْوِيْنِ أَعْدَادٍ كَافِيَةٍ وَمُؤَهَّلَةٍ لِلدَّعْوَةِ، وَلَا يُوْضَعُ أَيُّ دَاعِيَةٍ إِلَّا بَعْدَ مَعْرِفَةِ كَفَاءَتِهِ وَقُدْرَتِهِ عَلَى تَحَمُّلِ الْمَسْئُوْلِيَّةِ

  1. Mesti ada mahadhin (lembaga-lembaga, atau wadah-wadah) ilmiah untuk membentuk sejumlah aktifis dakwah yang memenuhi sisi kuantitas dan kualitas yang sesuai dengan tantangan dan peluang dakwah ke depan, dan jangan sampai terjadi penempatan seorang aktifis dakwah pada suatu pos kecuali setelah diketahui kafaah dan kemampuannya dalam memikul beban tanggung jawab dakwah.

10- عَلَيْنَا تَفَهُّمَ أَوْجُهِ الاِخْتِلَافِ، وَمَا الَّذِيْ يَسُوْغُ مِنْهُ وَمَا الَّذِيْ لَا يَسُوْغُ، وَالتَّعَامُلِ مَعَهُ بِحَسَبِ النُّصُوْصِ الشَّرْعِيَّةِ، وَلَا نَجْعَلِ الاِخْتِلَافَ وَسِيْلَةً مِنْ وَسَائِلِ التَّثْبِيْطِ وَالْكَسَلِ فِي الدَّعْوَةِ؛ لِأَنَّهُ طَارِئٌ، وَالدَّعْوَةُ أَصْلٌ وَفَرِيْضَةٌ

  1. Kita perlu memahami berbagai sisi perbedaan, memahami mana perbedaan yang dibenarkan dan mana yang tidak dibenarkan, lalu berinteraksi dengan berbagai perbedaan itu sesuai dengan nash-nash syar’iy, dan janganlah kita menjadikan perbedaan itu sebagai sebab yang mengakibatkan terjadinya penggembosan dan kemalasan dalam berdakwah, sebab perbedaan itu bukanlah masalah pokok dan ia hanyalah hal yang bersifat temporary, sedangkan berdakwah itulah yang bersifat pokok dan merupakan kewajiban agama.

11- وَيَنْبَغِيْ أَنْ نَتَنَاصَحَ فِيْمَا بَيْنَنَا وَبَيْنَ قَادَةِ الدَّعْوَةِ، وَذَلِكَ:

  1. Perlu ada keadaan saling menasehati antara aktifis dakwah dan para qiyadah dakwah,yang demikian ini demi:

– بِإِحْيَاءِ رُوْحِ الْمُتَابَعَةِ وَإِصْلَاحِ جَوَانِبِ الْقُصُوْرِ أَوَّلًا بِأَوَّلِ

  • Menghidupkan spirit mutabaah dan memperbaiki sisi-sisi kelemahan secara dini

– بِضَرُوْرَةِ رَفْعِ الْمَعْنَوِيَّاتِ لِلدُّعَاةِ الْفَاعِلِيْنَ وَمُحَاسَبَةِ الْمُقَصِّرِيْنَ، وَذَلِكَ بِإِحْيَاءِ مَبْدَأِ الثَّوَابِ وَالْعِقَابِ

  • Memenuhi tuntutan kemestian adanya upaya peningkatan ma’nawiyah aktifis dakwah yang aktif dan mengevaluasi mereka yang lemah, dan demi menghidupan prinsip reward and punishment.

– وَبِالنَّظَرِ إِلَى أَنْفُسِهِمْ وَجَعْلِهَا فِيْ مَحَلِّ الاِقْتِدَاءِ لِلدُّعَاةِ، فِي النَّشَاطِ وَالْجِدِّيَّةِ وَالتَّنَوُّعِ فِيْ وَسَائِلِ الدَّعْوَةِ

  • Membangun kesadaran para qiyadah untuk menjadikan dirinya sebagai objek yang diteladani oleh para aktifis dakwah dalam hal semangat, kesungguhan dan kemampuan membuat diversifikasi (keragaman) dalam berbagai sarana dakwah.

– بِإِحْيَاءِ الْجَوِّ التَّنَافُسِيِّ فِيْ حَقْلِ الدَّعْوَةِ، وَإِبْرَازِ الْأَعْمَالِ النَّاجِحَةِ وَالْمُثْمِرَةِ، حَتَّى يَلْتَفِتَ إِلَيْهَا الدُّعَاةُ

  • Menghidupankan nuansa kompetisi positif di lapangan dakwah dan menonjolkan kerja-kerja sukses nan produktif, supaya menjadi titik perhatian para aktifis dakwah.

– إِحْيَاءُ رُوْحِ الْإِخْلَاصِ لله تَعَالَى وَاسْتِشْعَارُهُ بِشَكْلٍ دَائِمٍ يَقْضِيْ عَلَى كَثِيْرٍ مِنَ الْأَمْرَاضِ، وَمِنْهَا الْكَسَلُ، فَذَلِكَ الْمُخْلِصُ لَا يَحْرِصُ عَلَى ثَنَاءِ النَّاسِ عَلَى جُهُوْدِهِ، كَمَا أَنَّ الْإِسَاءَةَ إِلَيْهِ لَا تُثَبِّطُ هِمَّتَهُ فِي الْعَمَلِ وَالنَّشَاطِ، كَمَا أَنَّهُ إِذَا فَرَّطَ الآخَرُوْنَ تَرَاهُ بَاقِيًا عَلَى جُهُوْدِهِ وَبِهِمَّةٍ عَالِيَةٍ؛ لِأَنَّهُ لَا يَرْجُو الْأَجْرَ إِلَّا مِنَ اللهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى.

  • Menghidupkan jiwa ikhlash karena Allah SWT dan bahwasanya mencita rasakan ikhlas secara terus menerus dapat mengikis habis banyak penyakit dakwah, yang diantaranya adalah malas dalam berdakwah. Sebab, seseorang yang ikhlas, ia tidaklah berambisi untuk mendapatkan pujian manusia atas jerih payahnya, sebagaimana sikap dan tindakan buruk yang menimpanya tidaklah akan menggembosi semangatnya dalam kerja dan menjalani berbagai aktifitas. Ikhlas juga yang menjadikan seorang aktifis dakwah tetap mengerahkan seluruh potensinya dengan semangat tinggi meskipun yang lainnya sudah tampak olehnya sebagai orang-orang yang melemah. Yang demikian ini karena ia tidak mengharap upah dan imbalan apapun kecuali dari Allah SWT.

 

Tafsir Ayat Kemenangan


Tafsir Ayat Kemenangan

Oleh: Muhammad Anis Matta, Lc

Interaksi dengan Al-Quran bukan hanya melalui membaca dan mengkhatamkannya saja. Interaksi sebenarnya baru akan terwujud ketika seorang muslim merasa dibimbing Al-Quran dalam setiap interaksinya, termasuk pengalaman dan perjalanan hidup. Pola interaksi dengan Al-Quran itulah yang harus ditingkatkan agar Al-Quran benar-benar memberikan bimbingan dan petunjuk.
Salah satu kandungan Al-Quran adalah sejarah yang berisi fakta-fakta, kemudian ditafsirkan. Tujuan utamanya bukan menguasai fakta-fakta itu, tetapi bagaimana mengambil pelajaran dari fakta-fakta sejarah tersebut.
Di antara kisah Al-Quran yang erat kaitannya dengan kehidupan bernegara adalah kisah Nabi Yusuf AS, Nabi Sulaiman AS, dan Nabi Musa AS.
Nabi Musa memberikan pelajaran bagaimana memposisikan diri sebagai oposisi. Nabi Yusuf memberikan pelajaran bagaimana “musyarakah” sehingga kisahnya yang berawal di penjara dapat berujung di istana. Berbeda lagi kisah tentang Nabi Sulaiman AS, yang bercerita tentang bagaimana jika agama telah mampu menguasai negara. Ketiga cerita tersebut meskipun berbeda, tetapi mempunyai beberapa persamaan. Persamaan tersebut adalah:
1. Konflik
Baik ketika beroposisi, bermusyarakah, maupun menguasai negara, konflik itu selalu ada. Bahkan cikal bakal konflik antara Nabi Musa AS. dan Firaun telah ada jauh sebelum Nabi Musa lahir, yaitu keinginan Firaun melenyapkan setiap bayi laki-laki karena dikhawatirkan akan menyingkirkan kekuasaannya. Konflik adalah salah satu bentuk cobaan Allah kepada manusia. Manusia yang paling keras cobaannya adalah para nabi dan orang-orang yang paling “mirip” dengan para nabi itu, yaitu orang-orang shalih.
Konflik itu biasa, bahkan konflik antara Yusuf dan Benyamin (satu ibu-satu bapak) dengan saudara-saudaranya yang juga anak-anak keturunan Nabi (keluarga Yusuf, 4 generasi ke atas adalah Nabi semua) hingga berujung pada skenario pembunuhan. Apalagi hanya dalam sebuah organisasi atau negara. Sayyid Quthb berkata, “Kita tidak bisa memilih untuk tidak berkonflik, yang bisa kita pilih adalah di kubu mana kita berada.” Khusus cerita Yusuf kita dapati konflik terjadi karena kecemburuan aka kadar keikhlasan saudara-saudaranya. Maka, prinsip dakwah kita yang pertama dan utama adalah salamatush-shadr.
2. Konspirasi
Hal yang patut dicatat adalah ayat-ayat yang berkaitan dengan konspirasi kepada para nabi itu dikaitkan dengan keimanan kepada Allah dan kepada taqdir, agar yakin bahwa Allahlah yang mengendalikan semuanya. Dialah sebaik-baik pemberi tipu daya. Kita lihat bagaimana kisah Nabi Musa AS yang diselamatkan Allah dengan mengantarkan beliau ke istana Firaun melalui Sungai Nil kemudian ditemukan oleh istri Firaun. Siapakah yang mengendalikan pikiran istri Firaun sehingga Musa diselamatkan dan diizinkan menikmati hidup di istana? Bukankah sebelumnya Firaun ingin agar setiap bayi laki-laki dibunuh? Mengapa dia justru setuju untuk membesarkan Musa di istananya? Allah telah mengubah persepsi Firaun dan istrinya sehingga menyelisihi niatnya sendiri.
Ingat pertempuran Firaun dan Nabi Musa AS, ketika Nabi Musa AS terjepit, ia justru lari ke laut. Logika perang modern di mana-mana kalau terjepit larinya ke gunung atau hutan, bukan ke laut. Maka tatkala Firaun mengetahui hal itu, ia dan pasukannya bersorak karena sangat mudah menghancurkan Musa dan pengikutnya. Tapi Allah punya rencana, dan Nabi Musa diperintahkan untuk memukulkan tongkatnya ke laut dan terbelahlah lautan. Firaun pun tak sempat berpikir panjang, mengejar ke tengah lautan yang terbuka, dan ia pun binasa ditelan laut.
Demikian pula, siapakah yang mengendalikan pikiran saudara Yusuf AS sehingga mereka hanya menceburkan Yusuf a.s.ke dalam sumur, dan bukan membunuhnya? Ingat, sebab utama konflik antara Nabi Yusuf AS dan saudara-saudaranya adalah KECEMBURUAN, yang berakhir pada konspirasi untuk membunuh Yusuf AS. Jika kita punya kesadaran tentang kekuasaan Allah, tidak boleh ada ancaman yang membuat kita berhenti bergerak dan berjuang. Maka, jangan pernah memandang musuh kita, besar dan kuat. Allahlah yang memberikan kita kekuatan dan persepsi itu.

3. Jarak
Yang dimaksud di sini adalah jarak antara mimpi dan realisasi atas mimpi itu. Sikap optimisme bahwa mimpi itu pasti terwujud. Harus punya nafas perjuangan yang panjang agar mimpi kita terwujud. Berapa lama jarak antara mimpi Nabi Yusuf dan realisasi kekuasaan beliau? Salah satu riwayat menjelaskan, jarak itu adalah 40 tahun. Kesabaran Yusuf itulah yang menjadikannya dimenangkan Allah Taala.
Kesabaran adalah faktor yang sangat penting dalam suatu perjuangan. Kisah Nabi Yusuf AS antara dibuang saudara-saudaranya dengan realitas mimpi ayahnya nabi Yaqub, bahwa saudara-saudara akan menyembah/sujud kepada nabi Yusuf adalah sekitar 40 tahun. Riwayat lain menyebutkan 80 tahun. Jatuh bangun dalam perjuangan kebenaran adalah biasa dalam pendakian menuju kemenangan. Yang pasti, kita harus terus naik, meskipun dalam perjalanan naik itu kadangkala butuh istirahat. Jadi miliki nafas yang panjang dalam perjuangan, jangan patah arang.
Siapa yang akan menang, adalah mereka yang berumur lebih panjang: stamina tetap, teknik semakin baik. Pemimpin Bosnia kala tahun 1994 diwawancarai oleh Fox News ditanya tentang masa depan Bosnia, beliau mengatakan, “Yang memenangi peperangan ini bukanlah yang membunuh lebih banyak jiwa, tetapi siapa yang bisa hidup lebih lama.” Fakta sejarah menunjukkan bahwa pada akhirnya Serbia pergi dan Bosnia berdiri merdeka.
Yakinlah kapan pun itu kita akan tetap menang pada akhirnya. Mana lebih lama umur negara atau agama? Imperium Romawi-Yunani sekarang mana? Tapi agama yang dulu pernah mereka kalahkan sampai hari ini masih tetap ada. Maka karena hakikat perjuangan adalah perjuangan agama, maka perjuangan ini akan selalu menang! Politisi menciptakan voters, tapi agama menciptakan followers. Kuat mana voters dan followers?
4. Mindset
Baik Nabi Yusuf AS, Nabi Musa AS, maupun Nabi Sulaiman AS, ketiganya punya mindset sebagai PEMENANG, bukan sebagai pengabdi. Doa Nabi Sulaiman AS yang sangat dahsyat, rabbii hablii mulkan laa yanbaghii li ahadin min ba’dii. Nabi Sulaiman AS minta negara dan ia minta negara itu tidak diberikan kepada selainnya. Nabi Sulaiman AS bukan hanya minta negara, tapi negara yang tak diberikan Allah kepada setelahnya. Karena itu, berdoalah seperti doa Nabi Sulaiman AS. Karena doanya, menurut riwayat istri Nabi Sulaiman AS berjumlah 99 orang, bahkan istri Nabi Daud AS sebanyak 1000 orang. Berdoalah kepada Allah agar kita diberikan kekuasaan yang dengannya kita memperbaiki umat dan bangsa ini. Bahkan lebih daripada itu, kita akan tunjukkan peran kita di muka bumi ini. Wallahu a’lam. (dkt-usb)

Jangan Lupakan Target Akhir Dakwah Kita


Jangan Lupakan Target Akhir Dakwah Kita

Target akhir dakwah kita adalah nasyrul hidayah (menyebarkan petunjuk) dan li I’laai kalimatillah (meninggikan kalimah Allah), hatta laa takuuna fitnatun wayakuunaddiinu kulluhu li-Llah (supaya jangan ada fitnah dan supaya agama itu semata-mata untuk Allah). Jangan lupakan target akhir ini.
Amal khoiri yang pendekatannya kesejahteraan, jangan dianggap sebagai ghayah (target akhir), itu sasaran antara saja. Memang dia suatu anjuran dari Allah, tapi dia sasaran antara dari segi dakwah, diharapkan melalui ihsan kita menghasilkan penyikapan dan sambutan yang khoir. Hal jazaul ihsan illal ihsan, tidak ada balasan kebaikan kecuali kebaikan pula. Tapi ihsan kita, operasi mewujudkan kesejahteraan itu jangan dianggap tujuan akhir. Negara-negara Eropa itu adalah Negara yang sejahtera hidupnya. Tapi 50% penduduknya atheis.
Bagi kita, jadi camat, bupati, walikota, gubernur atau presiden, itu sasaran antara. Akhirnya hatta laa takuuna fitnatun wayakuunaddiinu kulluhu li-Llah (supaya jangan ada fitnah dan supaya agama itu semata-mata untuk Allah). Wa kalimatullah hiyal ulya (dan kalimat Allah itulah yang tinggi).
Jadi, amal tsaqafi, orang jadi bertsaqafah; amal khairi, orang jadi sejahtera; itu hanyalah sasaran-sasaran antara kita. Sebab kalau orientasi masyarakat madani itu hanya terdidik, dan sejahtera seperti di Eropa, banyak yang mulhid, atheis walaupun terdidik dan sejahtera. Walaupun bukan atheis terorganisir seperti komunis, style masyarakat sebagai individu itu atheis. Bahkan memandang keagamaan itu merupakan bagian dari budaya.
Di Jepang juga masyarakatnya sangat sejahtera. Tapi bagi mereka agama itu kultur yang terserah selera, boleh berganti kapan saja. Orang Jepang saat lahir umumnya disambut dengan upacara-upacara Budha. Ketika nanti menikah dirayakan dengan upacara Kristen dan ketika meninggal dengan upacara Sinto. Kata ikhwah yang pernah bermukim di Jepang, pernah ada sensus keagamaan, ternyata pemeluk agama di Jepang itu tiga kali lipat dari jumlah penduduk. Jadi mereka sebenarnya sejahtera dan terdidik. Secara fisik, materi, mereka terlihat bahagia. Tapi yabqa ala dhalalah (tetap dalam kesesatan).
Nah kita sebagai partai dakwah tidak begitu. Maksud saya, kalau kita sudah bisa mentau’iyah (menyadarkan), menjadi terbuka, bebas, demokratis, mentatsqif, menjadi terdidik, atau menyejahterakan sekalipun, perjalanan kita masih tetap jauh. Sebab sesudah itu, bagaimana mereka bisa kita konsolidasikan, bisa kita koordinasikan, kita mobilisasikan, litakuuna kalimatulladziina kafaru sulfa wa kalimatullahi hiyal ‘ulya. Ini penting untuk selalu diingatkan dan dicamkan. Apalagi di masa-masa musyarokah (partisipasi politik) ini.
Jangan merasa sukses menjadi pemimpin  Pemda itu ukurannya sekedar telah membangun sekolah sekian, madrasah sekian, kesejahteraan, pertanian subur; sementara hidayah tercecer. Makanya keterpaduan langkah-langkah yang sifatnya tarfih (kesejahteraan), atau tatsqif (mencerdaskan bangsa) harus sejajar dengan upaya-upaya mendekatkan orang pada hidayah Allah. Harus begitu.
Ini saya ingatkan karena ketika kita di masyarakat dituntut di sektor kesejahteraan, di sektor kebijakan, di sektor pendidikan, di sektor kesehatan; maka harus secara menyatu terpadu dengan nasyrul hidayah (menyebarkan petunjuk Islam), nayrul fikrah (menyebarkan gagasan Islam), wa nasyrul harakah (penyebaran gerakan dakwah). Agar mereka akhirnya bergerak bersama-sama li I’lai kalimatillah.
Taujih Ust. hilmi aminuddin