Tag Archive | konon

Buat Apa Belajar TIK di Sekolah?


Sebuah artikel ditulis oleh seorang guru TIK, judulnya “Pentingnya Belajar TIK di Sekolah”. Artikel itu diawali dengan keheranan sang penulis, mengapa TIK tidak ada dalam struktur kurikulum 2013, padahal menurutnya TIK itu sangat penting. Alasannya, karena dengan pelajaran TIK, maka anak-anak diajarkan untuk menjadi produsen pengetahuan bidang TIK. Mereka, anak-anak itu, akan mampu memanfaatkan TIK dalam kehidupan sehari-hari. Akan banyak proggamer muda lahir, dan akan banyak anak muda yang mampu menggunakan internet secara sehat. Mereka tidak lagi menjadi konsumen tetapi sudah menjadi produsen. Sampai akhir tulisan, isinya adalah betapa pentingnya TIK diajarkan sebagai sebuah mata pelajaran tersendiri dengan alasan-alasan seperti di atas.

——————


Saya kemudian menanggapinya agak “kejam” (mohon maaf jika mementahkan harapan sang guru), saya katakan bahwa TIK tidak harus jadi mata pelajaran tetapi sebagai media belajar yg “inherent dan exposure” dalam semua pelajaran yg lain itupun apabila diperlukan. Krn prinsip teknologi adalah apabila selaras dengan kebutuhan. TIK konon berkembang setiap 20 menit, biarlah dia menjadi tools yg digunakan sepanjang dibutuhkan.

Kita tdk tahu teknologi apa yg akan ada di masa depan, kita juga tdk harus “up to date” dengan semua teknologi kecuali yg tepat guna saja. Anak2 kita tdk pernah kursus Facebook, twitter dll toh mereka juga relaks saja menggunakannya. Etika dan kedewasaan mensikapi teknologi justru lebih penting.

Saya katakan bahwa saya orang ICT, lebih dari 15 tahun sbg professional ICT, saya kira hanya yg berbakat ICT saja, spt programmer, animator dll itupun terkait skill saja yg perlu mendalami ICT. Bahkan hari ini seorang arsitek ICT (profesi termahal di dunia kerja IT dan abad 21) tdk perlu tahu teknis, hanya memerlukan framework dan metodologi saja.

Yg berbakat dan berminat IT pun tdk perlu belajar di sekolah bahkan tdk perlu kuliah ICT segala. Tinggal ambil kursus dan ikut program sertifikasi profesi internasional. Di Thailand, anak2 SMP banyak yg sdh bersertifikasi java programmer atau java analyst. Sekali dapat sertifikat internasional mereka bisa bekerja dimanapun.

Saya sering bilang ke teman2 sarjana dari fasilkom ui, kalau cuma mau jadi programmer dan analyst ngapain kuliah, hanya menghabiskan uang rakyat saja. Kalau sampai kuliah di fakultas atau jurusan ICT semestinya menjadi seorang perancang strategi ICT bukan pekerjaan teknis lainnya.

Saya tidak bilang TIK tidak penting, tetapi anak2 kita akan menemui masadepannya sendiri yg kita tdk pernah tau TIK itu seperti apa di masadepan. Yg jelas teknologi pasti dibuat semakin mudah dan manusiawi. Anak2 akan mudah beradaptasi dgn teknologi. Hanya yg berbakat saja yg mungkin perlu serius.

Saya tutup tulsan saya, dengan paragraf berikut: Saya teringat, tahun 70an akhir ketika booming kulkas dan mesincuci, ada seorang ibu yg membelikan ke dua orang anaknya yg masih smp dan sma, masing2 sebuah kulkas dan mesin cuci terbaru dgn teknologi terkini. Semuanya masih terbungkus rapih. Ibu itu bilang bhw itu semua dia siapkan utk anak2nya bila kelak berumahtangga. Si Ibu lupa 5 tahun yang akan datang dari tahun itu teknologi pasti sudah berubah.

—————

Lalu tanpa diduga, tulisan saya mendapat tanggapan dari seorang pakar, mas Moko:

Alhamdulilah … ternyata masih ada juga yang ‘sensible’ disini. Thanks,
Harry.

Kemarin topik inilah yang saya bicarakan di Kuliah Sabtu di Comlabs-ITB
(mainly for undergrads): “IT Literacy.” Sengaja saya “cabut” huruf C
(Communication) di posternya tetapi saya kembalikan lagi ke ICT di
kuliahnya. Yup, saya menekankan yang sama, tentang “kesesatan” dalam
pengajaran ICT di sekolah kita, dimana arsitek kurikulumnya seolah lupa
(atau memang tidak memahami) bahwa teknologi itu sebetulnya hanya
sekedar “sarana”, bukan “tuujan” utama. Karena itulah –betapapun
mengiurkannya– IT atau ICT tidak seharusnya menjadi pendukung matpel
inti, bukan matpel tersendiri.

Dalam kuliah tersebut saya mencoba “membuka mata” undergrads dan staff
disitu (ICT centernya ITB) akan framework yang dijabarkan oleh secara
visionaris 14 tahun yang lalu … (1) contemporary ICT skills, (2)
foundational ICT concepts, (3) intellectual capabilities (NRC, 1999,
pp.2-3) … dan sekilas membandingkan betapa miripnya dengan “Bloom’s
Taxonomy” yang masih relevan di jaman ini walau sudah lebih setengah
abad umurnya (1956). Bagaimana tingkat “obsolesence” dari skills itu
paling tinggi karena dengan perubahan teknologi.

Yang belum sempat saya bicarakan (saya hanya dapat waktu dari jam 9
sampai jam 12, teng! barangkali akan ada ‘sequel’ dari kuliah kemarin
adalah apa yang terjadi di negara lain, misalnya Alberta, Canada —
yang saya pilih sebagai contoh karena ini propinsi yang paling makmur
(GDP termasuk yang yang paling tinggi di dnia, lebih tinggi dari semua
states di Amerika), juga karena website mereka paling lengkap dan jelas.
Dan pesan dari departmen pendidikan ALberta tegas (digarisbawahi): “The
ICT curriculum is not intended to stand alone, but rather to be infused
within core courses and programs.”

The Alberta ICT program of studies emphasizes technology as a `way
of doing things’ – the processes, tools and techniques that
alter human activity. As a curriculum it specifies what students from
Kindergarten to grade 12 are expected to know, be able to do, and be
like with respect to technology. This ICT curriculum provides a broad
perspective on the nature of technology, how to use and apply a variety
of technologies, and the impact on self and society.

As technology is best learned within the context of applications,
activities, projects, and problems that replicate real-life situations,
the ICT program of studies is structured as a `curriculum within a
curriculum’, using the core subjects of English Language Arts, Math,
Science and Social Studies as a base.

[go see yourself at
http://education.alberta.ca/teachers/program/ict/programs.aspx ]

Yang menarik untuk diamati adalah perubahan ICT kurikulum di Inggris
(UK) sejak 2012 kemarin. Perombakan drastis dilakukan (dibawah Education
Secretary Michael Gove) — matpel ICT di-scrap, diganti magtpel yang
mengarah ke computer science (i.e. coding or programming).
[https://www.gov.uk/government/news/harmful-ict-curriculum-set-to-be-dro\
pped-to-make-way-for-rigorous-computer-science] Alasannya matpel ICT
yang lama membosankan, hanya membentuk konsumen, bukan produsen (dalma
ICT industry). Tidak heran, karena “promotor” perombakan kurikulum ini
adalah raksasa industri seperti bos-bos dari Games Workshop, Microsoft ,
Google, termasuk Cambridge University dan British Computer Society. Ini
tidak berbeda dengan filosofi pendidikan jaman “british empire” dulu,
yang membuat tujuan sistim sekolah adalah untuk memproduksi tenaga kerja
yang menopang birokrasi kerajaan inggris raya yang mataharinya tidak
pernah tenggelam itu.

Memang pelajaran ICT di UK selama ini membosankan — apa yang menarik
dari pelajaran bagaimana menggunakan ‘powerpoint’ dan ms word’ seperti
yang sebelumnya dilakukan. Tetapi itu kan karena mereka ‘salah arah’
(seperti di negeri kita?)–bandingkan dengan US dan Canada–, tetapi
perubahan drastis ke “sekolah programmer” itu rasanya mengayunkan bandul
ke ektrim yang lain.

Pertanyaan yang perlu direnungkan … [walau diperlukan sekali] apakah
sekolah itu perlu diarahkan menjadi “pabrik programmer” — menuntut
setiap orang fasih dalam ‘coding’ (hanya karena kuatir menajdi ‘sekedar
konsumen’) sementara fokus ke subject core sendiri menjadi kurang atau
terabaikan? Bagusnya (“untungnya” orang Jawa), aturan kurikulum baru ICT
di UK ini masih sedikit “ngambang” … sekolah/guru masih diberi
kebebasan menentukan pesisnya pelajaran ‘coding’ apa yang akan mereka
ajarkan. Well .. time will tell.
——————-

Jadi apa pendapat teman2 di MLC tentang pelajaran TIK di Sekolah ?

Salam Pendidikan Masa Depan

MLC

Harry Santosa